Author : Han NN

Tittle : Can't be Love

Cast : Jung Daehyun / Choi Zelo a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae / Moon Jongup

.

Genre : school life, drama, romance, sad dll..

.

A/N : Zelo punya Daehyun tapi Zelo punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.

.

Warning : BOYXBOY, shonen-ai, still have a Typo, Not EYD its yes, don't like with my pair? Dont read.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

Haruskah aku sebut ini...

Sebagai karma?

.

.

.

Himchan keluar dari kamarnya. Memandang langsung pada Yongguk yang saat itu tengah duduk diatas meja yang mengarah ke kebun luas pekarangan belakang rumah mereka. dari tempatnya berdiri pun Himchan dapat melihat kepalan tangan Yongguk yang menembus telapak tangannya.

Rasa tak berhasil untuk menggapai sosok Yongguk yang tak dikenalnya membuat Himchan melangkah mundur. Menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu dan berusaha sekuat tenaga menahan nafasnya yang memburu.

"Kau benar"

Suara berat yang begitu khas ditelinganya bersuara. Membuat Himchan seakan ingin menutup rapat-rapat pintu kamarnya.

"Dunia ini begitu sempit, hingga Zelo saja mengenal Daehyun"

Tercekat. Himchan menggeram pelan sambil menekan kenop pintu kamarnya.

"Kau benar. Jika suatu saat nanti aku pasti akan berhadapan langsung dengannya... kau benar Kim Himchan"

Suara Yongguk semakin mendingin. Bahkan Himchan tak kuasa untuk menghangatkan puncak es dalam mata tajamnya.

"A-apa?"

Yongguk menghela nafas berat. Wajahnya menunduk, memperhatikan bayangan pada keramik dibawahnya.

"Tak akan ku ijinkan sekalipun kau kembali pada Daehyun"

Sungguh. Himchan memang tak berniat kembali.

"Bukan karena aku ingin mempertahankan mu disisi ku"

Rasanya lebih sesak dari apapun. Dari siratan mata Daehyun yang kecewa memandangnya 5 tahun lalu. Dari ucapan menyakitkan Daehyun padanya. dari segala apapun yang telah menyakitinya. Ini.. terasa lebih sakit.

"Bukan karena aku tidak mencintaimu lagi"

Genggamannya pada kenop pintu pun melemas.

"Karena, aku..." suara Yongguk pun sama tercekatnya.

"...tak akan membiarkan mu merusak kebahagiaan Zelo.. dan Daehyun"

Himchan cukup mengerti. Saat tak disadari langkahnya memburu dan memeluk Yongguk dengan erat.

:

:

:

"Jadi ke apartemen ku?"

Daehyun menjepit ponselnya dengan pundak, menutup pintu apartemennya dan langsung bergelung di dalam selimut.

"Jadi jadi, aku akan berada disana... 30 menit lagi" ujar suara Youngjae diujung sana.

"Baiklah, hey.. Yoo, berhati-hatilah. Diluar dingin sekali"

"Ya, aku akan berhati-hati, sayang. Sampai nanti"

Daehyun mendengus.

"Apa-apaan dia" gumamnya dan kembali pada gelungan selimut hangat.

Daehyun mengambil remote televisi dan menekan tombol power. Membuat televisi berukuran 31 inchi didepannya menyala dan menyiarkan berita tentang musim dingin yang mulai datang, juga salju yang sudah mulai turun.

Daehyun hanya memandang datar pada layar televisi. Tak tahu apa yang sedang masuk kedalam otaknya dan membuat dirinya serasa tak berkutik. Seakan dia menyerah dengan segala pemikiran. Seolah jangan biarkan dia sendiri dan dia akan mulai memikirkan pemuda manis yang meninggalkannya tiba-tiba tadi siang.

Saat-saat seperti ini, Daehyun akan beranjak menuju dapur. Membuat segelas kopi untuk membantunya melupakan segala pemikiran didalam otaknya. Daehyun termenung. Memandang pada meja makan didepannya, bayangan tentang sosok manisnya yang tersenyum membuat Daehyun tak sadar jika tengah menarik sudut bibirnya saat ini.

Daehyun menggeleng pelan, tertawa sendiri hingga dia terdiam dengan pukulan telak didadanya. Segalanya berputar ulang. Segala kemanisan dan juga kepahitan. Hingga membuatnya serasa ingin tersenyum dan menangis disaat yang bersamaan.

Bersikap dingin tapi sesungguhnya dia tak bisa. Sesungguhnya dia ingin seperti Youngjae yang bisa langsung menangis jika ada masalah. Daehyun... menyimpan air matanya. Dia lelaki, dia tahu. tapi ada saat dimana dia membutuhkan waktu untuk mengeluarkan sedikit air matanya. Waktu dimana air mata didalam hatinya sudah tak lagi bisa tersimpan.

Wajahnya masih tetap dingin. Tapi... matanya mulai memerah. Daehyun menumpukkan tubuhnya pada telapak tangan diatas meja kayu. Menarik nafas perlahan. dan begitu hening... setetes air mata mengalir dipipinya.

:

:

:

Daehyun benar.

Udara sangat dingin hingga Youngjae berlari-lari kecil agar badannya tetap hangat. Bibirnya bahkan bergetar. Youngjae memang sengaja tak mengendarai mobil pribadinya. Dia memilih naik bus menuju apartemen Daehyun. entah apa yang menariknya untuk tak duduk nyaman di kursi kemudinya daripada berdesakan dengan orang-orang. Tapi, musim dingin membuat bus menjadi agak lengang. Bahkan Youngjae mendapat tempat duduk tanpa melihat seorang pun berdiri.

Waktu yang ditempuhnya untuk ke apartement Daehyun hanya sekitar 30 menit. 15 menit jika dia mengendarai mobilnya. Suasana bus yang sepi membuat Youngjae hanya terdiam memandang lurus dan tak berniat menyetel musik dari ipodnya atau membaca buku yang berada dalam ranselnya.

"Youngjae hyung?"

Manik matanya terangkat. Melihat dengan nyata sosok Jongup yang berdiri disamping kursinya.

"Moon"

Jongup tersenyum tipis. Tapi bisa membuat rasa hangat menyebar luas disekujur tubuhnya yang terada dingin. Jongup mengambil tempat duduk disampingnya. Youngjae seolah tak memperhatikan, lirikan matanya saat hempasan tubuh Jongup terasa dan membuatnya bisa merasakan hangat tubuh Jongup tak membuat Youngjae berkutik.

"Ini sudah malam, kau mau kemana, hyung?"

Youngjae.. merindukan suara manis Jongup. Suara yang sedikit gugup tapi menyenangkan untuk didengar.

"Ke apartement Daehyun" dia menjawab sambil memperhatikan jalan raya melalui jendela disampingnya.

"Tidak mengendarai mobil mu?"

Youngjae tersenyum tipis "Tidak, bagaimana dengan mu? tidak mengendarai burgatti baru mu?"

Sindiran yang cukup telak. Membuat Jongup mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan terdiam.

"Aku sudah menjualnya" cicit Jongup sambil mengalihkan pandangannya pada wajah Youngjae.

"Apa aku perlu tahu?" bersikap tegar seolah kerapuhannya hanya omong kosong.

"A-aku tahu itu tidak penting, apalagi untuk mu" suara Jongup mendalam. Ingin rasanya dia memegang dagu Youngjae dan membuat wajah pemuda itu menghadap ke arahnya.

"Apa kau masih marah?"

Youngjae mendengus, tertawa kecil, mengepalkan tangannya demi manahan segala kepenatan dikepalanya.

"Apa kau perduli jika aku masih marah atau tidak? kau bahkan tidak berhak duduk disamping ku dan bersikap seolah-olah kau mengenal ku!" Youngjae memalingkan wajahnya dan menatap pada wajah Jongup.

Wajahnya yang tetap sama. Rambut halusnya yang tetap menjuntai didepan dahi. Bahkan mata sipitnya yang selalu membuat Youngjae tersenyum.

"Kau... egois hyung" ucap Jongup sambil menatap matanya dengan dalam.

"Apa? Egois?! Dari segi mana aku bersikap egois terhadap mu?!" Youngjae bahkan tak sadar jika nada suaranya sudah meninggi.

"Kau bersikap bisa hidup tanpa ku, tapi sebenarnya kau tidak. kau bersikap mengacuhkan ku tapi, lihat siapa yang selalu memandang ku dan menatap ku diam-diam.. kau..." Jongup mencengkram kuat lengannya.

"..kau bersikap tak mencintai ku tapi nyatanya kau mencintai ku"

Iya... segala yang diucapkan Jongup benar. Itulah dia.. egois. Berpura-pura bahagia tapi nyatanya dia tidak. Nyatanya hatinya sakit saat mengetahui jika Jongup hanya menjadikannya barang taruhan. Nyatanya dia tak henti menangis setiap malam sambil memukul bantal dan meneriaki nama Jongup.

"Lalu, jika kau sudah tahu, kau mau apa?" Youngjae melihat sinar lembut dalam iris mata Jongup.

"Tak ada yang bisa ku lakukan" cengkraman tangan Jongup pada lengannya mengendur. Bahkan kini melemah dan Youngjae melihat Jongup menarik tangannya.

"Aku sudah menuruti kata-kata mu agar aku tidak lagi mendekati mu, bukan? Anggap saja pertemuan kita saat ini hanya kebetulan, dan lupakan" ujarnya ringan.

"Tak ada yang namanya kebetulan, Moon. Yang ada hanya takdir" jawab Youngjae datar. Berlainan dengan jantungnya dan fikirannya.

"Ini takdir yang tidak kita inginkan" Jongup memandang lurus kedepan. Entah apa yang difikirkan pemuda bermata sipit itu,

"kau yang meminta ku untuk melupakan mu, dan aku menurutinya.." Jongup kembali bersuara. Demi tuhan, Youngjae menahan keinginan untuk menyumpal mulut Jongup dengan sepatunya.

Karena setiap ucapan Jongup.. mengiris hatinya.

"Kau meminta ku untuk tak lagi mencintai mu.. baiklah.. aku sedang berusaha"

Lihat? Ini sangat menyakitinya.

Jongup bangkit. Memencet bel pada penyangga besi didepan dan turun dari bus meninggalkan Youngjae yang mematung.

Bahkan dari tempatnya duduk, melalui jendela yang transparan dia bisa melihat sosok Jongup yang tengah memeluk seorang wanita.

Wanita yang kemarin..

Wanita yang akan Jongup cintai..

:

:

:

Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Daehyun saat melihat sosok Zelo berdiri didepan pintu apartemen dengan pakaian lembab karena salju dan air mata yang mengalir dipipi mulusnya.

"Apa yang terjadi?" Daehyun menuntun tubuh Zelo. Membiarkan sosoknya duduk dan merapatkan kaki. Memeluk lututnya dan menunduk. Isakan lirihnya terdengar, bagaikan sembilu menusuk hatinya.

"Hey, ada apa Zelo-ah?" dengan hati-hati mengusap rambut birunya yang basah. Dan sebelum Zelo membuka suaranya, Daehyun terlebih dahulu pergi kekamar dan mengambil sebuah handuk dan selimut. Membuatkan segelas susu hangat dan menaruhnya diatas meja.

Menyentuh pundak Zelo yang lembab dan menyampirkan selimut tebal. Membiarkan sosok manisnya terus menunduk dan menutup rapat bibirnya.

Mereka tetap terdiam beberapa menit hingga Daehyun tak kuasa mendengar isakan yang lolos dari bibir Zelo. Ingin memeluknya dan membisikkan semuanya baik-baik saja pun tak bisa menggugah tubuhnya untuk menyentuh tubuh Zelo. Daehyun ingin mengeringkan untaian rambutnya yang basah, tapi apa daya.. dia hanya terdiam.

"Aku tidak baik-baik saja" gumaman lirih itu terdengar.

"Jangan katakan jika semuanya baik-baik saja, hyung.. aku tidak baik-baik saja" suara Zelo teredam.

"Apa yang membuat mu tidak baik-baik saja?" tanya Daehyun dengan hati-hati.

"Semuanya tidak membuat ku baik-baik saja. jadi ku mohon... jangan katakan bahwa aku baik-baik saja"

Dan Zelo kembalo terdiam. membungkam bibirnya dan tak ingin bersuara. Daehyun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Zelo. Tubuhnya yang tadi dingin kini sudah mulai menghangat. Mengusuk lembut tengkuk Zelo dan membiarkan dagunya bertumpu pada pundak sosok manis itu.

"Semua akan menjadi baik-baik saja.. percayalah" bisiknya.

:

:

:

"Terimakasih sudah mengantar ku membeli hadiah untuk Jongin" ucap Luhan. senyuman tak berhenti tersungging diwajah manisnya.

"Ya, hyung" Sehun mengusap lembut surai brunette milik Luhan. menghela nafas berat dan merasakan jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi pada hatinya.

Dia... memikirkan Zelo..

Dia telah membatalkan pertemuan mereka. dan bodohnya dia baru ingat untuk mengaktifkan ponselnya yang sengaja dia matikan. Sehun menggenggam ponsel dalam saku mantelnya. Berharap merasakan getaran atau setidaknya nada dering pertanda jika Zelo sedang menghubunginya. Tapi nihil... Sehun tak merasakan apapun.

"Sehun, ada apa? Kau lapar?" Luhan memandangnya dengan lembut.

Dan Sehun akan terpikat. Menyingkirkan segala bayangan rasa bersalahnya dan tersenyum tipis.

"Ya, aku sedikit lapar. Ayo kita cari makan lalu pulang. Udara semakin dingin saja" Sehun mengusap lengan Luhan yang berbalut mantel tebal.

"Ya, baiklah. Ayo.. jangan melamun terus, Oh Sehun" Luhan mencubit pipi Sehun. membiarkan sang adik membalas cubitan dipipi kanannya, tapi sedetik kemudian Sehun mengecup pipi Luhan dengan cepat.

"hng, kau sudah mengecup pipi ku sebanyak 2 dua kali hari ini" Luhan mengusap pipinya yang masih terasa basah akibat tempelan bibir Sehun.

Sehun dengen cepat mengecup pipi kiri Luhan.

"Tiga kali untuk hari ini"

:

:

:

Zelo masih menekuk lutunya, tapi kini tak lagi menyembunyikan wajahnya. Dia menumpu dagunya pada lutut dan memandang lurus tak berkedip. Baju yang dipakainya juga sudah berganti dengan baju yang kering milik Daehyun. Rambutnya yang tadi basah pun kini sudah mulai tertata dan nampak manis.

Daehyun duduk dikursi meja makan, sedangkan Zelo kini bangkit dan berdiri untuk membuat segelas susu hangat lagi, setelah menghabiskan segelas susu buatan Daehyun.

Ponsel disakunya bergetar, Daehyun segera mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Youngjae tertera di layar ponselnya.

"Jung, sepertinya ku tidak jadi ke apartement mu" ucap Youngjae di ujung sana.

"Kenapa? Dimana kau sekarang?" Daehyun khwatir dengan nada lemah Youngjae.

"Aku... dirumah. Udara sangat dingin dan aku malas untuk keluar. Sudah ya, sampai besok"

Daehyun baru mau berkata namun Youngjae sudah terlebih dahulu memutuskan hubungan udara mereka. Daehyun bergumam sambil mencoba menghubungi kembali nomor Youngjae. namun... suara operator yang dia dapatkan. Dan Daehyun menyerah hingga dia bertemu Youngjae besok untuk meminta penjelasan.

Zelo berdiri memandang Daehyun dengan serius. Daehyun menyadari pandangan Zelo dan mengangkat wajahnya. Mempertemukan mata mereka dan membuat Zelo tersenyum tipis.

Tentu saja Zelo sudah menceritakan semuanya padanya dengan sudut mata yang terus mengeluarkan air mata dan bisikan lirih Zelo yang bersuara. Apakah ini pertanda jika Zelo benar-benar menyukai Sehun? benar-benar menutup hatinya untuk Daehyun?

Zelo meminum susu didalam mug berwarna cokate kepunyaan Daehyun. Menjilat bibirnya dan merasakan rasa manis yang masih terasa. Sesaat, dia menunduk. Kenapa seolah dia menjadikan Daehyun pelarian? Kenapa saat dirinya terpuruk oleh Sehun hanya Daehyun yang dia ingat?

"Kau mau sampai kapan berdiri disini?" Daehyun bertanya sambil melangkah mendekat.. berdiri disamping Zelo dan membuat segelas kopi.

"Entahlah" gumam Zelo sambil menatap pundak Daehyun yang menghadap kabinet untuk membuat kopi. Sedangkan dia sendiri membelakangi kabinet dan menyangga tubuhnya pada kabinet.

"Aku selalu merasa nyaman saat bersama mu, hyung" ucap Zelo pelan. Tangan Daehyun yang saat itu tengah mengaduk kopi terdiam sesaat. Merasakan kepala Zelo yang kini sudah bersandar dibahunya. Daehyun sungguh lupa pada kopinya saat jemari Zelo tertaut dengan jari-jarinya. Zelo menggenggam erat jemari Daehyun. Seolah meminta Daehyun untuk tetap disisinya dan menguatkannya.

Daehyun tahu ini salah. Bagaimana pun juga Zelo masih dalam status kekasih Sehun. Tapi dia tidak bisa menghentikan lengannya untuk tidak mengusap punggung Zelo dan memberikan kecupan ringan dipelipis pemuda manis itu.

"Kau tahu jelas jika aku menyukai mu" ucap Daehyun begitu tenang. Mengelus lembut jari-jari Zelo dalam tautan mereka.

"Jadi.. jika kau berniat untuk berlari dari hubungan mu yang sekarang, kau tahu betul kemana kau akan berlari" bisiknya dengan suara yang berat.

Zelo tak berbohong jika dia mengatakan tubuhnya terasa teraliri listrik saat ini juga. setiap ucapan Daehyun membuatnya memejamkan mata dan menikmati bagaimana tubuhnya menyerap kata demi kata yang Daehyun ucapkan.

Daehyun membawa tangan Zelo mendekat ke dadanya.

"Kau tahu betul siapa yang pemilik detak jantung yang begitu cepat ini.."

Zelo menegakkan tubuhnya, memalingkan wajahnya dan menatap pada Daehyun yang balas menatapnya.

"Dia bernama jung Daehyun.. orang yang akan menerima tangan mu saat kau lelah berlari"

Hangat. Telapak tangannya begitu nyata merasakan detak jantung Daehyun yang cepat. dan dia tidak bisa menghindar, kala Daehyun menarik pinggangnya dan memeluk tubuhnya erat. Dia tidak bisa menolak,aroma menenangkan yang menguar dan memanjakan penciumannya.

Zelo bisa merasakan, dingin bibir Daehyun yang menyentuh lehernya, sapuan lembut Daehyun dipunggungnya. Dan semua ini terlalu indah untuk dia bisa tolak.

Dan pemikiran inipun keluar, hangat nafas Daehyun yang menerpa lehernya dan berlanjut pada dagunya membuat Zelo mencengkram kaus yang dipakai Daehyun.

Dia ingin melupakan sedikit sakit hatinya tentang Sehun..

Siapa yang tidak tahu jika ini salah..

Siapa yang tidak akan sakit hati disini..

Karena mereka semua merasakan sakit hati pada masing masing cara.

Sehun menyembuhkan rasa sakitnya dengan caranya sendiri.

Dan biarkan dia.. menyembuhkan sakit hatinya dengan caranya sendiri.

Melibatkan pemuda yang sudah menarik hatinya dari awal..

Ini bukan salah siapa-siapa. Apakah perlu dia menyalahkan waktu yang mengkhianati mereka? jika dia bisa berandai, dia ingin Daehyun yang mengatakan kata-kata manis di telinganya. Membawanya pada hubungan. Tapi apa? Waktu membuat mereka berulur.. waktu membuat dia menjalin hubungan terlebih dahulu dengan Sehun dan melibatkan... Jung Daehyun didalamnya.

Zelo yang memulainya. Menarik kerah baju Daehyun dan membuat nafas mereka memburu. Merasakan sekali lagi kelembutan bibir pemuda manis yang menarik hatinya. bahkan Daehyun masih bisa merasakan rasa manis susu yang tadi diminum Zelo. Daehyun membiarkan Zelo yang memulai segalanya. Dia sendiri terdiam. lambat laun... Daehyun memegang pinggang Zelo dan membiarkan Zelo memejamkan matanya.

Bahkan Daehyun bisa merasakan air mata yang mengalir dipipi Zelo. Sesak memukulnya. Tapi dia tetap bertahan. Membalas pagutan bibir manis yang seolah menuntutnya.

Apakah... ini rasanya berciuman dengan pelampiasan didalamnya?

:

:

:

Bahkan aku masih ingat

Aroma bunga yang mengiringi perpisahan kita

Bahkan aku masih ingat..

Dahan-dahan kecil yang mengejek kita..

Tapi..

Aku tak mau mengingat..

Kata-kata yang kau ucapkan untuk mengakhiri semua ini.

:

:

:

"Kau terlihat kacau"

Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu kepadanya. Lalu Jongup hanya akan tersenyum dan berkata dia hanya lelah dan butuh banyak istirahat. Tetapi.. dia tidak butuh itu. dia istirahat dengan cukup, makan dengan teratur bahkan terlampau banyak mengkonsumsi makanan akhir-akhir ini.

Jongup selalu menghabiskan masa-masa sendirinya dengan termenung. Membiarkan televisi didepannya menyala dan menemani detik demi detik kesepian yang meresap dan mencekiknya. Bermain dengan kata seandainya dan jika membuat Jongup seolah tak berpijak dan hidup didalam dunianya sendiri. Dan dunianya akan kembali saat matanya melihat sosok Youngjae.

Pemuda manis yang begitu cerewet dan periang. Pria manis yang selalu menemaninya belajar hingga malam. Membuat lelucon aneh lalu membuatkannya segelas teh hijau. Berbagi cerita dimalam hari dibawah selimut dan saling bergenggaman tangan. Diakhiri dengan cumbuan ringan yang membuat Jongup tersenyum tipis saat mengingatnya.

Itu dulu, sebelum dengan bodohnya dia menerima tawaran Kris. bahkan Jongup seakan ingin menjenggut rambutnya kuat-kuat kala mengulang peristiwa bodoh itu. Youngjae yang pertama mengejarnya terus-menerus. Mendatanginya ke ruang dance dan membawakannya minuman. Jongup hanya menyikapinya dengan diam. Sebelum tawaran kris menggugahnya, dan sialnya, hari itu dia tengah mabuk saat kris mengajaknya untuk bertaruh.

Jongup tak tahu jika jadinya dia akan benar-benar menyukai Youngjae, Jongup tak tahu jika dia akan benar-benar terbiasa dengan Youngjae disisinya.

"Jongupp" suara lembut menyapanya. Jongup mengangkat wajahnya dan tersenyum.

"Sun Mi-ah" dia menepuk tempat disampingnya. menyuruh wanita dengan rambut panjang itu duduk disampingnya.

"kenapa melamun? Kau ini tidak bisa dibiarkan sendiri sebentar saja" ujar Sunmi sambil melipat tangannya.

Jongup terkekeh.. Ya. biarpun dia disini, sekarang bersama perempuan yang kini berstatus kekasihnya. Fikiran Jongup entah kemana. Tak berada ditempat dimana dia tertawa dan tersenyum.

Fikirannya terus menerus memutar ulang wajah Youngjae yang menatapnya dengan mata kecewa.

Andai saja.. andai saja waktu dapat dia putar.

:

:

:

Langkah mereka sudah mencapai pada anak tangga tertatas, siap mendorong pintu utama namun terhenti saat ponsel Luhan berdering. Luhan mengambil ponselnya, menatap layar ponselnya dan tersenyum penuh arti. Sehun mengenal senyuman itu.

"aku akan menerima panggilan dahulu, Sehun masuk saja" Luhan berbicara sambil menyunggingkan senyuman yang membuat Sehun lemah dan menurut. Sehun masuk kedalam kamarnya. Memejamkan mata dan merasakan segalanya sangat berat dirasakan.

Luhan sendiri tak henti menyunggingkan senyuman, mendengar suara sang suami diujung sana dan mendapat ucapan selamat tidur membuat Luhan rasanya tak akan tidur karena terus mengingat bagaimana suara lembut Jongin menyerap kedalam fikirannya.

Luhan mendekap ponselnya. Merasakan degupan jantungnya yang cepat, dan Luhan lega akan itu. Setidaknya dia masih menyukai Jongin. Tidak seluruhnya detak jantung cepat ini dimiliki Sehun. Luhan hendak membalikkan tubuhnya saat manik matanya meenemukan sesuatu yang menarik. Luhan menunduk, mengamati sesaat sebelum membungkukkan tubuhnya dan mengambil surat berwarna biru lembut yang berada diatas tempat sampah.

Untuk... Sehun.

Luhan cukup yakin jika ini adalah surat dari Jongin. Membaca dan mengenali benar jika itu adalah tulisan Jongin, Luhan merasakan tenggorokannya tercekat. Rasa bahagia menguap entah kemana..

"Apa yang mereka sembunyikan dari ku?"

:

:

:

"Orang tua ku sudah meninggal. 5 tahun yang lalu, dan kakak ku membawa ku ke amerika untuk melupakan semuanya. Korea itu membuat sebuah kenangan pahit. Kau lihat luka di dahi ku ini?" Zelo mengusap dahinya, tertutupi rambut-rambut nakal dan Daehyun dapat melihat luka goresan diwajahnya yang mulus.

"Itu bekas dari kecelakaan yang aku alami. Dan... aku begitu membenci segala hal yang berada disekitar ku. aku benci orang tua ku, aku membenci dimana aku tinggal, bahkan aku membenci diri ku sendiri" Zelo menyamankan kepalanya dipundak Daehyun. Memainkan jemari Daehyun yang menggenggam jemarinya.

"Aku ingat, aku duduk di jok belakang bersama kakak ku, aku sedang bermain dengan mobil-mobilan milik kakak ku saat kedua orang tua ku mulai berdebat. Kakak memasangkan headset ke telinga ku, hingga aku tidak mengetahui jelas apa yang mereka teriaki. Kakak menyetel volume hingga tinggi sekali. Aku bahkan tak bisa membaca gerak bibir mama yang berteriak. Hingga.. papa tidak melihat ada mobil dari arah yang berlawanan. Kakak memelukku dengan erat, melindungi ku dari pecahan kaca mobil, aku melihatnya.. tubuh kedua orang tua ku yang hancur tepat didepan mata ku" suara Zelo bergetar, bahkan Daehyun bisa merasakan hangat air mata Zelo yang merembas pada kasunya. Daehyun mengelus lembut jari-jari Zelo, membuatnya sedikit tenang dan bernafas teratur.

"Sejak saat itu aku membenci korea. Korea membuat ku kehilangan orang tua. Korea membuat ku kehilangan segalanya. Hingga akhirnya kakak lulus Sekolah lalu membawa ku ke amerika dan tinggal dirumah paman kami. Aku tidak mau menginjakkan kaki disini lagi jika karena bukan kemuan kakak. Dan... terimakasih" Zelo meremas lengannya. Ucapan terimakasih begitu lirih diucapkan.

"Terimakasih telah membuat bayangan kelam ini sedikit terhapuskan" bisik Zelo.

Daehyun mengelus rambut birunya dengan lembut. Daehyun mengetahui, jika susah untuk membagi kisah menyakitkan dengan orang lain. Dan Daehyun sungguh merasa bahagia karena Zelo telah mempercayakan dirinya untuk berbagi segala kepahitan itu.

"Perbuatan nakal apa yang kau lakukan hingga kakak mu mengirim mu kesini mm?"

Zelo tertawa kecil, mengusap sudut matanya yang berair.

"hanya kenakalan remaja biasa. Membolos. Berkelahi" Zelo tersenyum kecil. dan Daehyun tak bisa untuk tidak ikut tersenyum melihatnya.

"Dan kau harus membuat kakak mu bangga okay?"

"Tentu saja, kakak segalanya bagi ku" cicit Zelo sambil menyembunyikan wajahnya dipundak Daehyun.

Dari nada suara Zelo pun Daehyun tahu jika Zelo sangat menyayangi kakaknya. Daehyun memandang iris kelam yang tengah menatap lurus ke arah televisi yang menyala. Memantulkan sinar-sinar pelangi pada wajah manisnya.

DEG

Dan mengapa dia selalu merasa jika pernah melihat mata Zelo.

DEG

Dan kenapa dia merasa mata Zelo sangat mirip dengan mata Yongguk.

DEG

Daehyun langsung mengalihkan tatapannya. menatap kosong sambil menarik nafas perlahan. dia terlalu takut.. dia terlalu berfikir jauh.

Jari-jari lembut yang mulai bermain dengan telapak tangannya membuat daaehyun menoleh dan mengecup sekilas puncak kepala Zelo.

Bersikap seolah-olah perasaanya sudah tersampaikan.

Bersikap seolah-olah ada hubungan diantara mereka.

"Hyung... bagaimana dengan masa lalu mu?"

Dan pertanyaan Zelo membuat tubuhnya seakan membeku. Dia berdeham pelan dan mengembalikan tatanan fikirannya.

"Bukankah aku sudah pernah bercerita?"

"mm.. iya sih" Zelo nampak mengingat-ngingat "Lalu... bagaimana kekasih mu?"

"Aku tidak mempunyai kekasih" ucapnya dengan suara pasti.

"Lalu.. yang ditelepon?" Zelo menegakkan tubuhnya tak lagi bersandar pada Daehyun.

"Dia.. mantan kekasih ku" Daehyun menaikkan alisnya.

"Dan kau masih mencintainya?"

"A-a..."

Daehyun terdiam sesaat. Menelaah fikirannya dan tersenyum tipis lalu mengusap dahi Zelo. dia merubah duduknya menjadi menghadap Zelo.

"Tidak... aku kan sekarang mencintai mu"

Semburat merah yang menyebar dipipi putihnya membuat wajah Zelo beribu-ribu kali lipat terlihat manis. Zelo bahkan langsung menundukkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya dikaki Daehyun yang duduk bersila didepannya.

"Berhenti membuat ku malu, hyung" suara Zelo teredam.

Daehyun mengusap punggung Zelo sambil tertawa. Membujukkan kata-kata agar pemuda manis itu mengangkat wajahnya dan duduk tegak.

"Tidak mau.. wajah ku memerah dan aku tidak mau kau melihatnya"

"Hey itu terlihat manis"

"Tidak, Jung Pabo jangan berkata seperti itu"

"Ayolah, jadi apa jawaban mu?"

Daehyun menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada kepala Zelo yang masih menunduk. Mencari dimana letak suara Zelo bertumpu. Dan mendekatkan wajahnya pada telinga Zelo.

"Jawaban apa?"

"Pernyataan cinta ku tentu saja"

:

:

:

Flashback

Daehyun memainkan pinggiran cangkir berwarna putih dengan hiasan indah disisinya. Menyesap kopinya yang tinggal setengah dan mendesah kesal sambil menarik lengan bajunya dan melihat jam dipergelangan tangannya.

Entah sejak kapan Himchan sangat suka mengulur waktu untuk bertemu dengannya. Entah sejak kapan Daehyun selalu menunggu pemuda itu dengan sendiri seperti ini.

Daehyun memejamkan matanya. Rasa kantuk karena baru dua jam tertidur membuat moodnya tidak baik hari ini. jika saja Himchan tak menghubunginya pagi-pagi sekali dan mendesaknya untuk bertemu, sungguh Daehyun tak akan mau keluar rumah dengan keadaan mata setengah tertutup seperti ini.

Suara bel pintu pertanda ada tamu yang datang membuat Daehyun membuka matanya. Melihat sosok Himchan berbalut kemeja putih dengan celana jeans berwarna putih juga. Daehyun tersenyum, melambaikan tangannya pada Himchan.

Himchan bergerak gelisah, wajahnya menunduk. Ada yang berubah dari sosok kekasihnya.

Himchan duduk didepannya. Dengan wajah masih menunduk. Bahkan Himchan tak berniat untuk memesan minuman dan malah membisu.

"Ada apa?" Daehyun membuka suara.

Himchan sedikit menaikkan wajahnya, tak memandang Daehyun tapi menatap serius pada cangkir dalam genggaman Daehyun.

"12 februari aku bertemu dengannya" kalimat awal yang Himchan katakan membuat Daehyun mengetahui kemana dengan jelas arah pembicaraan ini.

"Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku melihatnya. Kita saling berkenalan dan memulai sebuah persahabatan. Awalnya persahabatan, lalu aku rasa.. aku sudah terlanjur masuk kedalam pesonanya. Dan begitupun dengannya. Kita sepakat.. menjalin sebuah hubungan" Himchan menarik nafas. Kembali mengalihkan matanya kepada jemarinya.

"Yongguk.. bukanlah tipe lelaki yang mau mengumbar hubungannya. Berbeda dengan ku yang selalu ingin Yongguk menggenggam tangan ku dan memperkenalkannya pada seluruh temannya. Yongguk menyimpan ku untuk dirinya seorang. Dia memenjarakan ku dibelakangnya"

"Dan kau datang.." Himchan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap mata Daehyun yang kecewa.

"Kau memperkenalkan ku pada sebuah hubungan yang ku inginkan. Kau tertawa bersama ku. Senantiasa disamping ku dan menunjukan jika aku adalah milik mu" Himchan meremas jemarinya yang bertautan.

"Aku menyukai mu.. dan hanya sebatas itu" Himchan bersuara lirih. pandangannya beradu dan menatap dengan tatapan meminta maaf.

Daehyun menarik nafas, hampir tak sadar jika dia menahan nafasnya selama Himchan berbicara. Rasa sakit yang tak dia ketahui berada dimana merayap semakin kentara. Membuat matanya memerah dan genggaman tangannya mengepal.

"tapi.. kau memilih ku" suaranya egois.

Himchan tersenyum "Dan aku membuat keputusan yang salah"

Bahkan dalam keadaan seperti ini, Daehyun masih bisa mengatakan jika sosok Himchan sangat mempesonakan. Benar-benar mengurungnya dan tak membiarkannya lepas. Kurungan ini terlalu sesak. Tapi Daehyun tak mau lepas.

"Lalu kau mau mencampakkan ku dan kembali padanya?" Daehyun menekan nada suaranya.

Himchan membuang wajah. Menatap lalu lalang orang-orang yang berada disekitar mereka. yang dapat didengarnya hanyalah tarikan nafasnya yang memburu. Himchan bahkan mendengar jelas rintihan kecil dalam hatinya yang meminta ini semua bebas.

"Ya. aku memilihnya. Dan aku akan bersamanya. Aku... tidak bisa bersama mu"

Daehyun merasakan sekujur tubuhnya melemas. Matanya mencoba tegar dengan menampilkan sebuah senyuman. Senyuman miris.

"Kau picik, kau tahu"

Himchan bahkan tak berani membantah. Benar.. yang dikatakan Daehyun itu benar.

"Lalu untuk apa kau memilih ku jika kau mencintainya?"

Himchan tak menjawab. Lebih tepatnya dia tidak bisa menjawab.

"kau fikir aku ini mainan, bisa kau mainkan seenaknya, kau fikir hati ku ini apa?! Hah?! kim Himchan jawab aku!" Daehyun bahkan menggebrak meja. Membuat puluhan pasang mata menatap ke arah mereka.

"Buka mata mu jung Daehyun!" Himchan balas berteriak. Matanya melirik pada keadaan sekitar yang kini memperhatikan mereka "untuk apa aku masih disisi mu jika aku mencintainya" suaranya tercekat.

"Setidaknya.. kau disisi ku"

Himchan menggeleng pelan. "Dengarkan... kita berakhir"

Dan itu adalah kata terakhir dari sosok mantan kekasihnya yang berjalan menuju pintu keluar dan tak pernah dia temui lagi.

Matanya masih menatap pada pintu keluar dimana Himchan lewati. Bahkan Daehyun masih mencari bayangan tubuh Himchan sebelum dia benar-benar membenci pemuda itu. dan saat bayangan itu benar-benar tak dilihatnya.

Daehyun terduduk. Mencengkram dadanya kuat dan berjanji jika dia tak akan memaafkan mereka.

:

:

:

"Benar kan hyung lampu dikamar duduk ku sudah menyala?" Zelo memastikan sambil menatap Daehyun yang berjalan disampingnya.

Daehyun mengangguk "Tentu, saat kemarin kau pergi aku sudah meminta resepsionis untuk mendatangkan tukang listrik kesini, untuk apa aku bohong?"

"Ya.. mungkin saja kau berbohong dan membiarkan lampu duduk ku padam terus hingga aku harus menginap apartement mu" Zelo tersenyum tipis saat mengatakannya.

Daehyun terkekeh, mengacak rambut Zelo dan mengecup sekilas pipi Zelo.

"Tanpa itupun aku rasa aku bisa mengajak mu untuk menginap di apartemen ku"

Obrolan ringan itu terhenti kala mereka tiba didepan pintu apartemen Zelo. Mereka berdiri berhadapan. Tak ada kata yang keluar. Hanya mata yang saling menatap dan seulas senyuman.

Daehyun mengacak kembali rambut Zelo. Mendapat desisan tak senang dan Zelo memukul lengan Daehyun.

"Saat kau tidur.. coba untuk matikan lampu kamar mu, okay?"

Zelo melebarkan matanya "Tidak, oh.. tidak akan hyung"

Daehyun tertawa kecil. mendekatkan tubuhnya dan menarik pinggang Zelo. Membawa tubuh ramping pemuda manis itu dalam sebuah pelukan hangat.

"Sekali ini saja.. matikan. Hanya 5 menit dan setelah itu kau boleh menyalakannya kembali" Daehyun berbisik.

Dan Zelo hanya mengangguk, membalas pelukan Daehyun dan membenamkan kepalanya pada pundak Daehyun.

:

:

:

Youngjae berjalan dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa sangat sakit. bahkan saat Youngjae menggerakkan wajahnya walau hanya untuk tersenyum, dia bisa merasakan rasa ngilu yang menyebar ditubuhnya.

Jalan 309

Persimpangan jalan dimana dia pertama kali bertemu Jongup. Pemuda itu tak sengaja menumpahkan minumannya pada baju Youngjae. Youngjae masih mengingat jelas, bagaimana gugupnya Jongup saat melihat noda merah dibajunya yang berwarna putih.

"Ah.. maafkan aku" pemuda itu membungkukkan tubuhnya, dan jemarinya berusaha membersihkan noda di baju Youngjae.

"Kau ini! jalan itu ya pakai mata!" Youngjae sungguh kesal saat itu.

"Maafkan aku, sunbaenim"

Mendengar kata sunbaenim yang keluar dari bibir Jongup membuat Youngjae sadar jika pemuda ini mengenalnya.

"Aku akan membersihkan nodanya, uh tapi bagaimana caranya. Ah.. kau bisa memakai baju ku kebetulan aku membawa baju cadangan"

Youngjae tersenyum miris. Dan saat itulah seluruh rasa sakit menyebar dan membuatnya meringis. Segalanya terasa sakit.

Sejak saat itu, semenjak dia memakai baju Jongup. dia mengatahui, jika Moon Jongup adalah pemuda manis yang selalu gugup apabila ditatap dengan dalam olehnya. Moon Jongup selalu membawa baju cadangan untuk berlatih dance. Dan Youngjae benar-benar jatuh cinta saat melihat pemuda itu meliukkan tubuhnya.

Youngjae kembali meringis. Membiarkan kakinya melangkah semakin lurus. Mereka sering berjalan di jalanan ini. saling menggenggam tangan dan tertawa. Youngjae berdiri tepat dibawah lampu jalan. Menatap pada warna hijau yang menyala.

Youngjae melangkah.. dan saat itulah. Dia benar-benar merasa hancur saat matanya menatap ke arah yang berlawarnan.

Jongup.. berjalan dengan wanita disampingnya. saling bergenggaman dan tertawa, bahkan Jongup mengacak rambut wanita itu dengan lembut. Itu.. biasanya yang Jongup lakukan padnaya.

Youngjae memutar tubuhnya. membiarkan tubuhnya terbawa aliran manusia, menghendaki tubuhnya berjalan ke arah yang seharusnya tak dia lewati. Langkahnya mengecil, membiarkan punggungnya tertabrak dengan pundak pemuda yang dirindukannya.

Dan saat matanya terangkat. Dia melihat genggaman tangan Jongup yang mengerat pada sosok wanitanya. Berjalan tak henti dan membuat Youngjae kehilangan nafasnya sesaat.

Seakan ingin menarik sosok Jongup yang semakin jauh...

Tapi... tangannya sudah tak mampu.

Rasa sakit disekujur tubuhnya menjadi penentu, jika dia menyerah...

:

:

:

"Aku dengar kau sudah mempunyai kekasih"

"Ah?"

Zelo tertawa kecil, membawa bantal sofa kepangkuannya.

"Apakah, Yongguk hyung yang menceritakannya?"

"Tentu saja, kau fikir siapa lagi yang akan menceritakannya"

Zelo menggigir bibirnya.

"Tapi... aku.. mm"

"Kau tidak mencintainya?"

Tepat. Zelo meremas bantal sofa dalam pangkuannya, membenamkan kepalanya dan menarik nafas panjang.

"Aku..tidak tahu nuna"

Sosok yang dipanggil 'nuna' menghela nafas diujung sana.

"Lalu kalau memang kau tidak mencintainya untuk apa kau berhubungan?"

"Aku fikir aku bisa mencintainya"

"Dan kau tak bisa?"

"Ya.. aku tidak bisa"

Hening. Zelo masih meredakan kepanatan di kepalanya. Untung baginya, karena kini sedang libur sekolah hingga dia tak perlu bertemu Sehun. entahlah... memikirkan Sehun membuat kepalanya pusing dan hatinya berdenyut nyeri.

"Tapi aku benci melihatnya bersama orang lain" Zelo mengeluarkan isi hatinya

"Aku tak suka melihatnya memperhatikan orang lain selain aku"

"Itu hanyalah perasaan egois semata" suara lembut Himchan membuat Zelo terhenyak.

Egois semata?

"Yang harus kau lakukan hanyalah memilih salah satu diantara mereka"

"Namanya jung Daehyun,bukan?"

Kenapa dia merasakan suara Himchan bergetar saat menyebut nama Daehyun?

"Ya. kau mengenalnya bukan?"

Hening, dan entah bagaimana Zelo merasakan sesak menghimpitnya.

"Ya, dia teman sekolah ku dulu"

Terlalu mencurigakan.

"Hanya teman?" Zelo berharap, sangat berharap Himchan menjawab ya.

"Mungkin"

"Ah.. aku harus membangunkan Yongguk, jadi sampai bertemu minggu depan, Zelo-ie"

Zelo diam tak bergerak dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya. Saat semuanya hening. Zelo berfirasat akan terjadi sesuatu.. sesuatu yang akan melibatkan semua orang yang dikenalnya.

Tidak..

Zelo mengusir segala bayangan buruk dalam fikirannya.

:

:

:

"Sehun, apa menurut mu Jongin berselingkuh disana?"

"uhuk!"

Pertanyaan Luhan membuat Sehun yang saat itu sedang meminum susu tersedak. Memukul dadanya dan menghindar gerak mata Luhan yang mengulurkan segelas minuman.

"Kau ini, minum saja bisa tersedak" Luhan mengelus punggung Sehun.

Sehun mengelap bibirnya dengan serbet, masih tak mau menatap pada mata Luhan.

"Bagaimana, jika pertanyaan mu itu benar, hyung?"

Luhan yang saat itu tengah menabur kismis diatas roti panggangnya membeku. matanya terpejam, memaksakan senyuman dan menggeleng kecil.

"Itu tidak akan terjadi"

"Jika terjadi?" Sehun memandang lurus kedepan. Melirik untuk melihat perubahan pada mimik wajah kakaknya.

"Hey.. bagaimana jika kau mengundang kekasih mu untuk makan malam?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan"

Terkadang, sosok manis adiknya akan menjadi sosok Sehun yang tegas. yang memandangnya serius dan membuatnya tak bisa bernafas.

"Menurut mu aku bisa apa? Perlukah aku menangis? Atau bisakah aku menjadikan mu pelarian dan meminta mu untuk mencintai ku lebih?"

Mata Luhan berair. Tapi air mata tak kunjung mengalir, menumpuk dikantung matanya yang membengkak. Sehun membenci air mata, apalagi jika itu Luhan.

"Katakan, jika itu semua benar terjadi mana yang harus aku pilih?" suara Luhan bergetar. dan getaran itu sampai pada tubuh Sehun.

"Kau... kau... harus mulai memandang ku, hyung"

Satu tamparan telak menyakiti pipinya. Membuat pipinya memanas dan ada yang lebih sakit dari tubuhnya.

Hatinya..

"Jika kau bukan adik ku aku tak akan sebingung ini Oh Sehun! nyatanya ada marga Oh didepan nama mu. Nyatanya kita hidup satu rumah semenjak kau lahir. Nyatanya kau adalah adik ku.. adik bungsu ku" Luhan berdiri, menggebrak meja dan menuding Sehun dengan jari telunjuknya.

Luhan tak pernah semarah ini sebelumnya. Mengapa kata-kata Luhan bagaikan api yang membakar seluruh tubuhnya, hingga Sehun bahkan tak bisa berkata apa-apa.

Sehun tak kunjung berkata, hanya ada tarikan nafas yang tak teratur. Luhan pun berlari, menuju kamarnya dan meninggalkan Sehun terdiam sambil menggenggam sumpit ditangannya.

Tangannya bergetar, dan dengan air mata yang dengan hening turun dipipinya, Sehun menggerakan jemarinya untuk mengambil makanan dan memasukannya kedalam mulut.

Rasanya hambar. Dia tetap adik Luhan. yang akan menangis jika dibentak oleh sang kakak. Dulu, biasanya Luhan akan langsung meminta maaf, membujuk Sehun dengan mainan dan membuat tangisan sang adik mereda.

Tapi kini, Sehun tak butuh mainan yang biasa Luhan berikan padanya.

Dia.. butuh Luhan.

:

:

:

Daehyun langsung melepas ranselnya dan duduk disamping Youngjae. melihat wajah Youngjae yang penuh lebam. Daehyun tak mampu berkata apa-apa sebelum menarik nafas panjang dan memegang dagu Youngjae.

"Ya! bodoh itu sakit, kenapa kau memegangnya" racau Youngjae sambil meringis.

"Apa yang terjadi dengan mu? hah. Aku sudah menduga ada yang tak beres sejak semalam kau menghubungi ku" Daehyun terus memperhatikan wajah Youngjae yang biasanya bersih dan mulus kini penuh lebam berwarna kebiruan.

"Aku tidak apa-apa"

Daehyun menekan lebam di bawah mata Youngjae "Ini yang kau katakan tidak apa-apa?!" Youngjae meringis, dia memukul lengan Daehyun dan membuang wajahnya.

"Jangan tanya keadaan ku" suara Youngjae nampak memerintah.

Daehyun terhenyak, Youngjae sangat jarang bersikap seperti ini. apakah luka di hatinya begitu dalam hingga membuat sosoknya yang ceria menjadi sosoknya yang tak Daehyun ketahui.

Daehyun mengelus rambut Youngjae. pemuda baik hati yang membuat Daehyun nyaman bersenda gurau dengannya. Yoo Youngjae yang bermulut pedas kini bagaikan sebuah daun layu yang siap terbang terbawa angin kapan saja.

"Jung... apakah aku egois?"

"Jung, apakah jatuh cinta harus selalu seperti ini?"

"J,jung.. apakah sakit hati ini tidak bisa diobati?"

"Jung... bisakah aku mendapatkannya kembali?"

Dan Youngjae terus bertanya, tak memberikan jeda pada Daehyun untuk menjawab. Daehyun membiarkannya. Hanya menatap pada wajah Youngjae. Mengamati air mata yang terus menerus menetes dan mengalir dipipinya. Tak ada yang bisa Daehyun lakukan selain menutupi tubuh Youngjae agar tak terlihat oleh teman-teman diruangan mereka.

Daehyun mengulurkan sapu tangannya, dan Youngjae tetap terdiam.

"J-jung... kenapa rasanya sakit?"

Daehyun menghela nafas.

"karena tak ada cinta yang tak sakit"

:

:

:

Jam 8 malam.

Zelo berbaring ditempat tidurnya. Mengamati layar ponselnya, membaca berkali-kali pesan yang Daehyun kirimkan kepadanya 2 jam yang lalu.

Sebuah poto dengan keadaan gelap dan sinar bintang menyelimutinya

Dan sebuah pesan.

[jangan lupa padamkan lampunya]

Dia penasaran, mengapa sepertinya Daehyun ingin sekali dirinya memadamkan lampu kamarnya. Dan demi melampiaskan rasa penasarannya. Zelo menguatkan hati. Menyentuh saklar lampu didekat nakas dan membuat ruangan kamarnya gelap gulita,

Zelo menarik selimut hingga dagunya. Mengerjapkan mata dan terkesiap. Langit-langit kamarnya bertabur bintang. Bintang-bintang besar dan kecil yang memancarkan cahaya kekuningan yang samar.

"Astaga.. bagaimana bisa"

Kini Zelo sadar, jika foto yang dikirimkan Daehyun adalah langit-langit kamarnya. Zelo masih menatap takjub ke arah langit-langit kamarnya. Mungkin, Daehyun sengaja saat mengawasi tukang listrik dia melukis langit-langit kamarnya dengan cat khusus yang bisa memancarkan cahaya bila keadaan gelap.

Zelo menggapai ponselnya dan menghubungi nomor Daehyun.

"Hyung kau apakan langit-langit kamar ku. Astaga ini indah sekali" Zelo berucap masih terkesiap takjub.

[hahaha, kau sudah melihatnya? Baguslah, jadi jangan takut gelap lagi, okay?]

Zelo mendengus "huh, yah... itu sulit. Tapi.. terimakasih"

Daehyun menggumamkan beberapa kata. Sebelum memutuskan hubungan udara diantara mereka. Zelo masih saja menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang terus merekah.

Indah..

Sangat indah..

Zelo merasakan ponselnya kembali bergetar, membuka pesan yang Daehyun kirimkan padanya.

Ini..

Adalah poto yang sama yang Daehyun kirimkan, tetapi ada sebaris kata dibawahnya. Dan Zelo memeluk erat ponselnya bagaikan ia memeluk Daehyun saat itu.

'kenapa harus takut gelap jika ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?'

;

:

:

Zelo menghindarinya. Ya.. Sehun sadar itu. Zelo tak lagi menghubunginya. Seharian penuh. Astaga.. Sehun memijit pelipisnya. Mengapa ini terjadi bergitu berurutan dan menimpanya seketika.

Sehun mencoba menghubungi nomor Zelo. tapi tak sedikitpun pemuda manis itu mengangkat panggilannya.

Sehun meremas ponsel dalam genggamannya. Membanting benda itu ke tempat tidur. Duduk ditepi tempat tidur dan meremas rambutnya.

Bodoh.. oh Sehun. pilih salah satu.

Luhan.. atau Zelo.

:

:

:

"Bagaimana masih takut gelap?"

"Mm... tentu saja. kau hanya melukis bintang-bintang itu dikamar ku"

"Jadi aku harus melukisnya diseluruh langit-langit apartement mu?" Daehyun mendekatkan wajahnya. Mengamati wajah manis pemuda yang menarik hatinya.

"Ya.. seluruh tempat" Zelo membalas tatapan Daehyun dan memundurkan tubuhnya.

"Dikamar mandi juga?"

"Aish tidak perlu dikamar mandi" Zelo menahan tubuh Daehyun yang terus mendekat.

"Kau bilang diseluruh tempat" Daehyun menaikkan alisnya.

"Hyung.. tidak ada orang yang mandi dalam keadaan gelap" Zelo meletakkan telapak tangannya didada Daehyun.

"Jika sedang mati lampu?"

"Aku lebih memilih memakai lilin atau senter"

Daehyun terkekeh, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zelo yang sudah hampir berbaring karena terus didesak olehnya.

"Tapi terimakasih"Zelo menggamit lengan Daehyun dan menumpukkan dagunya dipundak Daehyun.

Daehyun membalas ucapan terimakasih Zelo dengan sebuah kecupan ringan dibibirnya. Dengan spontan menutup matanya dan membiarkan rasa hangat bibir Daehyun terus menyapu wajahnya.

Hanya tak disadari jika lengannya kini menekan leher Daehyun untuk semakin tak berjarak dengannya. Merasakan kehangatan yang sangat dia inginkan ada melingkupi tubuhnya.

Rasa panas yang semakin menyerbu wajahnya tak membuat Zelo menarik kepala Daehyun untuk menjauh. Dia memang telah memilih..

Menjalin hubungan dengan Daehyun diatas hubungannya dengan Sehun.

:

:

:

Zelo menolak setiap panggilan dengan nama Sehun tertera dilayar ponselnya. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Rasa sakitkah? Atau apa? Atau dia hanya ingin Sehun merasakan sakitnya dinomorduakan?

Namun harusnya pertanyaan itu ditunjukkan untuk dirinya. Dia yang selalu menomorduakan Sehun. menempatkan Daehyun di posisi utama. Tetapi begitu juga Sehun. dan ya., Zelo sadar jika mereka sama sekali tak pernah menomorsatukan satu sama lain.

Zelo menarik nafas. Sekali lagi menatap layar ponselnya, Zelo menatap lurus ke atas, mungkin mencoba agar nafasnya berhembus teratur. Dan Zelo menekan layar berwarna merah sambil menggigit bibirnya dan merasakan sesuatu seperti mencubit hatinya.

Pelukan hangat yang dia terima dari belakang tubuhnya membuat sebentuk senyuman. Menyandarkan leher belakangnya pada pundak pemuda yang akhir-akhir ini begitu menyita perhatiannya. Juga dirinya.

"Jadi mencari makan malam?" Daehyun berbisik sambil memegang dagu Zelo .

"Tentu, ayoo" Zelo melepas pelukan Daehyun dan menarik Daehyun menuju ke luar dari gedung apartemen mereka..

:

:

:

Jongup menatap ruang apartemennya yang sangat berantakan.

"Astaga.. apa saja yang ku lakukan" Jongup bahkan tak mengetahui bagaimana bisa apartemennya begitu berantakan seperti ini.

Jongup menarik baju-baju kotor yang bergelantungan di rak televisinya. Memunguti sampah-sampah bekas makanan dan berbagai DVD playstation yang menyebar diseluruh kamar apartemennya.

Jongup baru saja meletakkan baju kotornya diatas mesin cuci saat sebuah sweater berwarna abu-abu menarik perhatiannya. Seingatnya.. dia tidak punya sweater seperti ini,

Jongup tertegun sejenak. Tentu saja.. ini punya Youngjae. Jongup meremas sweater dalam genggamannya. Mendekatkan pada wajahnya dan menghirup aroma Youngjae yang masih melekat di sweater itu. Matanya tak sengaja menatap pada rak sepatu. Tumpukan sepatunya yang begitu banyak, namun ada dua sepatu yang lagi-lagi menarik perhatiannya.

Sepatu berwarna merah dan berwarna hitam yang jelas-jelas terdapat inisial YJ disampingnya.

YJ..

Youngjae.. Jongup..

"kau yang berwarna hitam, aku yang berwarna merah. Aku sengaja membuat inisial nama kita berdua disini. Bagaimana? Bagus bukan? Kau harus sering-sering memakainya saat sedang latihan dance, agar kau semangat terus dan selalu mengingat ku" dan setelahnya Youngjae tertawa. Bahkan suara tawa Youngjae masih terngiang jelaas ditelinganya.

Jongup terduduk, lemas.. mengambil ponselnya dan entah mendapat keberanian darimana menekan nama Youngjae untuk dihubungi.

[hallo?]

Jongup membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. Seolah tenggorokannya terbakar dan terasa sangat sakit untuk berbicara.

[hallo? Siapa disana?]

Jongup merindukan tawanya, suaranya yang selalu memarahinya karena pulang malam dan telat makan.

"Hyung"

Dan Youngjae diujung sana terdiam.

Tak lama kemudian, nada sambung yang terputus membuat Jongup meremas kuat rambutnya.

Youngjae sudah sangat membencinya. Harusnya dia tahu itu..

:

:

:

"Aku mau waffle, aku mau yang disana itu, lalu aku mau banana milk, aku mau tomato, aku mau.."

Daehyun menutup mulut Zelo dengan telapak tangannya. memandang dengan kening berkerut, dan Zelo membalas tatapannya dengan mata beningnya.

"Kau baru saja menghabiskan seporsi roasted duck, kimchi, japchae dan bulgogi juga sup rumput laut. Dan kau masih mau itu semua?"

Zelo mengangguk tetap membiarkan telapak tangan Daehyun menutupi mulutnya,

"Aku masih lapar hyung" suara Zelo teredam. Dan tak ada yang bisa Daehyun lakukan selain mengangguk dan tentu saja mengabulkan keinginan Zelo.

Mereka sedang mengantri waffle yang Zelo inginkan. Sebenarnya hanya Daehyun yang berdiri diantrian, sedangkan Zelo sendiri berdiri agak jauh sambil memakan es krim ditangannya. Dia menyemangati Daehyun saat antrian semakin maju. Dan tentu saja itu adalah penyemangat tersendiri bagi Daehyun. ingin rasanya menggigit pipi Zelo yang menggemaskan,

Zelo memperhatikan Daehyun yang semakin maju dan hampir tak terlihat oleh matanya. Zelo melangkah mundur dan menyangga tubuhnya pada tiang jalan, dia ingin duduk. Zelo mencari tempat dimana dia bisa duduk. Tak jauh dari tempatnya ada sebuah tempat duduk dari kayu yang ditempatkan disisi pertokoan bila ada yang mau sekedar bersitirahat. Zelo melangkah kecil menuju bangku panjang itu dan memantapkan fikirannya jika dari tempatnya dia duduk dia masih bisa melihat Daehyun jika pemuda itu keluar dari kerumunan antrian.

"Zelo?"

Tubuhnya membeku. dia mengenal suara ini..

Suara...

"Sehun?"

"Sedang apa disini?" Sehun duduk disamping Zelo dan memandang Zelo meminta jawaban.

"Eng.. itu.. aku hanya sedang berjalan-jalan" kenapa dia berbohong?

"Ah.. sendiri?"

Matanya melirik sesaat diantara kerumunan antrian dimana Daehyun berada, beralih menatap mata Sehun dan merasakan denyutan dihatinya.

"Ya, aku sendiri" dan Zelo langsung merutuki suara yang keluar dari mulutnya.

"Mau menamani ku makan malam?" tawar Sehun sambil menunjukan senyuman manisnya. mungkin.. acara makan malam bersama dapat membuat hubungan mereka sedikit membaik. Bagaimanapun Zelo tetap kekasihnya.

Zelo tergagap. Dan sudut matanya mencari, mungkin ingin menemukan sosok Daehyun yang bisa mengangkatnya keluar dari kegelisahan ini. dia berharap Daehyun ada disini. Mengatakan pada Sehun jika mereka berhubungan dan meminta Sehun untuk menjauhinya, tapi apa daya? Zelo menemukan dirinya mengangguk dan membalas uluran tangan Sehun yang hangat, menuntunnya menuju tempat Sehun ingin makan malam.

Bahkan Zelo masih berharap. Daehyun dapat menahannya..

:

:

:

"Jadi kemana saja tiga hari ini?"

Zelo terdiam, mengaduk-ngaduk makanan didepannya. Dia tidak lapar, entah kenapa dia hanya selalu lapar bila berdekatan dengan Daehyun.

"Aku di apartement" Zelo menjawab dengan ketus.

Sehun menghentikan kunyahannya. Menatap dalam pada sosok Zelo didepannya yang hanya mengaduk-ngaduk makanan dengan tak berselera dan wajah tertunduk. Sehun akui, dia merindukan Zelo.

"Kau marah? Ada sesuatu yang aku lakukan yang membuat mu seperti ini?"

Ini pertama kalinya Zelo terlihat kesal dengannya. Hubungan mereka yang baru berjalan beberapa bulan sungguh membuat Sehun ingin mengenal lebih dalam bagaimana jika pemuda manis ini bersikap kesal, atau marah padanya.

"2 jam yang lalu aku menghubungi dan kau sama sekali tak meresponnya"

"Anggap saja aku sedang kesal pada mu" jawab Zelo sambil mengunyah makanannya dengan malas.

"Kesal karena?" Sehun menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Zelo.

"Siapa pemuda itu?"

Zelo menanyakannya dengan pandangan kosong.

"Pemuda mana?"

"Yang membuat mu membatalkan janji mu pada ku tiga hari lalu"

Sehun terkesiap. Apakah... Zelo melihatnya?

"Maksud mu Luhan?"

Zelo mengangkat bahunya "Mana kutahu jika namanya adalah Luhan. yang pasti kau menggandeng tangannya lalu mengecup pipinya"

Sehun tersenyum kecil. tak ada lagi pemuda lain yang digandeng tangannya selain Luhan dan Zelo.

"Dia kakak ku.."

Dan ucapan Sehun membuat Zelo menghentikan sumpitnya yang sudah didepan mulut. Memandang Sehun tak berkedip dan memastikan apakah Sehun bohong atau tidak padanya saat ini.

"Oh Luhan.. dia kakak ku" Sehun tersenyum melihat Zelo yang mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.

"Benarkah?" Zelo menaruh sumpitnya dan memandang Sehun dengan tatapan bersalah.

"Ya.. aku pernah bercerita pada mu bukan?"

"Tidak.. kau tidak menyebut namanya. Kau hanya mengatakan jika..." Zelo menelan salivanya susah payah ".. kau menyukainya" suaranya bercicit pelan.

Sehun tersenyum. entah, Zelo selalu bisa membuatnya tersenyum. melupakan sedikit masalahnya dengan Luhan saat ini. Sehun memanjangkan lengannya dan menyentuh jemari Zelo, menggenggamnya dengan lembut.

"Maka dari itu.. buat aku tidak jatuh cinta lagi" Sehun mengatakannya dengan penuh rasa percaya.

Dan itu membuat Zelo tercekat. Apakah disini hanya dia yang tidak punya hati? Memainkan begitu banyak hati sedangkan dia sendiri seakan bingung hatinya ingin berlabuh kemana. Tangannya berkeringat. Mengingat Daehyun yang seenak hati dia tinggalkan.

Daehyun mengantri lama hanya untuk membelikannya waffle.

Dan Zelo tak sadar jika sudut matanya mengalirkan air mata.

Betapa dia bodoh. Mengingat wajah Daehyun yang mungkin kecewa membuat hatinya semakin sakit. lalu menatap wajah Sehun yang berharap padanya semakin membuat hatinya terhimpit.

Zelo tak bisa bernafas. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Sehun. ingin mengatakan jika antarkan dia saat ini juga kemana Daehyun berada. Tapi apa? Dia hanya mampu membuka mulutnya tanpa sedikitpun suara yang keluar.

Dia malah menangis semakin dalam saat Sehun pindah duduk menjadi disampingnya dan memeluknya erat.

Zelo merasa dirinya begitu bodoh..

Memainkan banyak hati yang mempunyai rasa kepadanya.

:

:

:

Daehyun menghembuskan nafas lega. Akhirnya. Setelah sekitar 30 menit di berhasil mendapatkan waffle yang Zelo minta. Daehyun keluar dari antrian yang semakin panjang. mungkin karena cuaca yang dingin membuat begitu banyak orang yang ingin menikmati waffle hangat.

Daehyun terdiam sesaat ditempat tadi dia melihat Zelo berdiri.

"dimana dia?"

Daehyun mengedarkan pandangannya. memanjangkan lehernya diantara kerumunan orang yang semakin banyak. Padahal ini musim dingin, ditambah langit malam yang semakin larut tapi orang-orang terlihat bersemangat berlalu-lalang. Sosok Zelo yang tinggi dan berkulit sangat putih Daehyun rasa akan mudah ditemukan. Tapi setelah 10 menit dia mengitari tempat itu, dia tak menemukan kekasihnya itu.

"apa dia sudah pulang? atau bagaimana? Atau dimana dia sekarang?"

Daehyun terus menggumamkan kata-kata yang tak akan terjawab. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Zelo. Nihil. Suara operator yang menjawabnya.

Daehyun meremas kantung plastik ditangannya.

Dia khawatir. Tapi.. disudut kecil hatinya..

Dia.. kecewa..

:

:

:

Genggaman tangan Sehun yang hangat entah kenapa semakin membuat Zelo resah. dia mengingat kembali percakapannya dengan Daehyun saat mereka sedang makan bersama.

"aku rasa... aku akan memutuskan Sehun"

Wajar jika Daehyun langsung tersedak saat itu. dia mengangkat wajahnya dan memandangi Zelo dengan dalam. Mencari kebohongan dalam mata beningnya.

"kenapa kaget seperti itu?" Zelo mengambil tissu dan memberikannya pada Daehyun.

"terkejut" Daehyun masih menetralkan dagupan jantungnya. Dia menerima uluran tissu Zelo dan mengelap sudut bibirnya.

"kau yakin?" Daehyun meminta kepastian dengan menggenggam jemarinya.

Zelo tersenyum, sebelum mengangguk "yakin"

Tapi nyatanya apa, dia hanya terdiam. tak berani membuka mulut sedikitpun untuk mengatakan kata-kata itu. dia merasa semakin jahat pada Daehyun.

Apakah dia harus berpura-pura putus dengan Sehun? Zelo langsung menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa dia membohongi Daehyun sebanyak ini?

"kau terlihat seperti memikirkan sesuatu?" Sehun mengayunkan lengannya ke depan dan kebelakang.

Zelo tersenyum tipis lalu menggeleng, dia masih belum siap membuka mulutnya untuk berbicara.

Sehun memaksa untuk mengantarnya sampai depan pintu apartemennya. Padahal Zelo berencana hendak menunggu Daehyun di lobi. Tapi dia tidak bisa menolak, Sehun terus menggenggam tangannya. seolah tak ingin melepaskan Zelo barang sedetik saja.

Siapa sebenarnya yang Sehun sukai?

Namun fikirannya terlalu lelah untuk mencari jawaban. Dia sangat lelah. Padahal dia sendiri yang memulainya.

"Sehun.."

Zelo memandang Sehun yang berdiri dihadapannya. Satu langkah kesamping adalah letak pintu apartementnya. Zelo berniat untuk mengatakannya sekarang. tapi.. lagi-lagi bibirnya terasa terkunci.

"Sehun.."

"ya?"

"a-aku.."

"oh iya aku mau mengajak mu makan malam dengan kakak ku"

"hah?"

Zelo lupa dengan kata-kata yang sudah dirangkainya. Tergantikan dengan kerutan samar dikeningnya.

"aku mengundang mu untuk makan malam bersama kakak ku, jelas?"

Sehun mencubit pipinya, dan Zelo hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Tidak.. mungkin bukan saatnya. Bukan hari ini dia mengatakannya pada Sehun.

"bisa kan?"

"bisa. Jam berapa?"

"aku akan menjemputmu pukul 7 malam"

Zelo mengangguk setuju. Dan keheningan sesaat diantara mereka terhapus saat Zelo mengucap kata.

"baiklah, Sehun aku masuk dulu"

Sehun mengangguk, namun baru saja jemari Zelo menempel pada kenop pintu, Sehun menarik sikunya. Menghadapkan pemuda manis itu tepat dihadapannya.

Zelo tak bisa berbuat apa-apa..

Saat Sehun semakin mendekatkan wajahnya padanya,

:

:

:

Pintu lift didepannya baru saja terbuka, dan Daehyun sudah siap melangkah keluar dari ruangan persegi empat itu. namun...

DEG

Apakah dia salah lihat?

Atau...

Tidak... kemeja putih dengan syal berwarna kuning yang bergantung dileher jenjangnya menjadi bukti jika memang itu adalah Zelo.

Daehyun seakan terpaku. Tubuhnya membeku dan sangat sulit digerakkan, bahkan ia seakan sulit untuk bernafas.

Daehyun mengerjapkan matanya. Menyangkal jika ada air mata terkumpul di kantung matanya.

"apakah sulit mengatakan jika kau memilih ku?"

Daehyun menatap pada sosok Sehun yang kini sedang menarik pinggang ramping itu mendekat. Dan Demi Tuhan, sesak ini begitu menghimpitnya.

Sadar jika bibir itu bukan hanya pernah dikecup olehnya.

Dan Daehyun tertatih meraba dadanya yang terasa begitu sesak, dengan tangan bergetar dia menekan tombol di lift menuju lantai apartementnya.

Sebelum pintu lift itu tertutup, dia masih bisa melihat.. jemari lentiknya yang bergerak ke arah kerah Sehun dan menariknya mendekat,

Hatinya.. seakan ada tukang pukul yang kini sedang bersemangat memukulkan palu pada hatinya.

Sangat sakit..

:

:

:

Sehun baru kali ini merasakan jika ada yang beda dari diri Zelo. dan Sehun tak tahu apa itu.

Saat dia mengecup bibir Zelo. hanya sekedar kecupan ringan. Zelo menahannya. Dan sungguh, Sehun tak paham. Dia memperhatikan pada mata Zelo yang tetap terbuka. seolah mengajaknya berbicara lewat mata indah itu.

Sehun menggeleng lemah, menarik pinggang Zelo untuk memberikan sedikit kenyamanan pada sosoknya yang gelisah. Lalu, saat Zelo menarik kerah bajunya dan menciumnya lebih dalam.

Sehun sadar..

Ada yang aneh dari ciuman mereka.

Aneh..

Apa karena Zelo menciumnya dengan pelampiasan didalamnya..

:

:

:

HAAAIII

Ff pertama dengan 8k word yang full isinya story semua. hahaha.. ini chapter terpanjang yang pernah aku buat di CBL.

Bisa dibilang ngebut sih bisa. dan aku berniat untuk mempercepat endingnya. Hakhak, pasti seneng kan? Mungkin satu atau dua chapter lagi bakalan ending.

Dan ugh thanks you so much buat yang udah review, faforit, follow dan semangatin aku dalam membuat FF ini.

Dan oh iya, aku ambil beberapa scene dan kata-kata di novel Winter in Tokyo, karena demi apa aku inget daelo terus kalo baca novel itu. eh jadi curhat..

Saranghae bangetsih ya buat kalian semua daelo shippehh~

Let's be friend~

:

:

:

RnR juseyoooo~