Author : Han NN

Tittle : Can't be Love

Cast : Jung Daehyun / Choi Zelo a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae / Moon Jongup/ Bang Yongguk / Kim Himchan

.

Genre : school life, drama, romance, sad dll..

.

A/N : Zelo punya Daehyun tapi Zelo punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.

.

Warning : BOYXBOY, shonen-ai, still have a Typo, Not EYD its yes, don't like with my pair? Dont read.

.

.

.

HAPPY READING

:

:

:

Minuman beralkohol ini terasa pahit. Aku pun merasa pahit.

Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa cocok dengan dirimu yang terasa manis

-After D-100

:

:

:

Zelo menyentuh bibirnya. lalu kembali pada kenyataan jika 5 menit yang lalu bibirnya baru saja menyentuh bibir Sehun.

Zelo menyandarkan tubuhnya pada pintu.. menggigit bibirnya perlahan dan memikirkan kebodohan yang baru saja dia lakukan.

"bodoh.. siapa yang kau suka, Zelo bodoh" tak berhenti untuk memukul kepalanya dengan kepalan tangan.

:

:

:

Daehyun merasakan jika dia serasa kembali pada masa lalu. Masa dimana dia melihat Himchan tengah berciuman dengan Yongguk, menjadi titik dari segala kebohongan mereka selama ini.

Hidupnya.. kenapa dia harus terlibat kisah yang begitu rumit seperti ini? kenapa? Keinginan dia hanyalah melupakan Himchan dan menjalani hubungan dengan Zelo. Tanpa halangan. Tapi entah kenapa ada saja persoalan yang mengganggu mereka.

Daehyun sungguh memegang ucapan Zelo yang akan memutuskan Sehun, namun.. dia berhadapan dengan kenyataan bahwa dia barus saja melihat Zelo berciuman dengan pemuda itu.

Daehyun memijit pelipisnya. Setelah ini terjadi, apa masih sanggup dirinya bertemu dengan Zelo dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja? seolah-olah dia tidak melihat kejadian itu? dia bisa... tapi hatinya yang tak bisa.

Daehyun mengepalkan tangannya, meninjukan kepalan tangannya pada dinding keras dihadapannya.

Nyeri, sakit, tapi tak sepadan dengan sesak didadanya, dan demi melampiaskan sakit didadanya, Daehyun tetap memukul dinding hingga tak sadar jika tangannya sudah mengeluarkan cairan merah pekat yang menodai dindingnya.

:

:

:

"hyung apakah kau pernah menyimpan sebuah rahasia kepada ku"

Tangan Luhan yang sedang menggenggam sumpit mengerat, Sehun sudah membelikannya sekotak besar ice krim sebagai tanda maaf, bahkan adiknya itu sudah mencium pipi dan memeluknya lalu berbisik kata maaf, itu sudah cukup, lebih dari cukup dan Luhan akan memaafkan sang adik.

"Rahasia?"

"Hmn" Sehun mengangkat wajahnya, sejenak memperhatikan wajah Luhan yang nampak kosong.

"Semua orang mempunyai rahasia, Sehun-ah" Luhan mengangkat bahu, seakan bertindak tidak perduli dan melanjutkan makan malamnya.

Makan malam yang sangat telat, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun mereka masih menyantap makanan yang baru saja Luhan hangatkan karena sudah terlalu dingin dihidangkan sejak pukul delapan malam.

Luhan tidak melihat, Sehun yang menekan perutnya karena dia sudah makan malam dan perutnya terlalu penuh, tak ingin membuat raut kecewa bersarang dimata indah kakaknya, Sehun tersenyum, ini hanya pengorbanan kecil untuk kakaknya.

"Kau mau tambah? Kita baru saja makan malam dan aku rasa kau pasti sangat kelaparan"

Sehun membuka mulutnya, ingin berkata tidak, namun melihat mata sang kakak yang berkaca-kaca membuat Sehun bungkam, dia hanya mengangguk dan membiarkan Luhan menambah porsi makanan dimangkuknya.

"Apa yang terjadi, hyung?" sungguh Sehun membenci Luhan yang menangis.

"Entahlah, merindukan orang tua kita mungkin" Luhan tersenyum kasar, menepis keadaan jika baru saja air matanya mengalir.

"Aku kakak disini, tapi mengapa aku begitu mudah menangis sih" Luhan tertawa sambil meringis "Aku lelaki, tapi kenapa aku sangat mudah menangis, ya Tuhan.." Luhan mendongakkan kepalanya, menghadang air mata yang ingin keluar.

Saat Sehun terjatuh dari sepeda tujuh tahun yang lalu, menyebabkan lututnya luka dan harus mengalami luka jahitan, Sehun hanya diam, sedikit meringis saat orang-orang dengan jahil menyentuh bekas lukanya. Tapi Luhan yang menangis, terus menyalahkan dirinya jika itu adalah salahnya, tidak.. tentu saja itu adalah salah Sehun yang terlalu kencang mengendarai sepedanya hingga tidak melihat ada batu yang menghalangi jalannya.

"Aku gagal menjaga Sehun, mama bilang tugas ku kan menjaga Sehun"

Sehun mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Luhan yang begitu hangat. Selain tangan Zelo, tangan Luhan lah yang mampu membuat Sehun merasa tenang.

"Kau tidak gagal, hyung.. kau selalu menjaga ku.. kau tidak gagal" Sehun berucap lirih, bahkan matanya memanas saat melihat Luhan yang menatapnya.

Luhan tersenyum, meremas jemari Sehun dan mengangguk.

"Kita yang gagal, aku dan kamu yang gagal bersikap seperti layaknya adik dan kakak" Luhan bahkan tak bisa melihat Sehun karena air mata yang menutupi.

"Tenang saja, mama akan memarahi kita berdua, bukan hanya kau hyung. ini salah kita. Mama pasti akan menghukum kita. Bukan hanya kau. Tenang.. masih ada aku" Sehun berucap seolah mereka saat ini hanya masih berumur lima tahun. Saling menguatkan satu sama lain.

Luhan menggigit lidahnya, ingin rasanya dia melempar apa saja yang berada dihadapannya. meremas jemari Sehun adalah satu-satunya jalan dia dapat tenang saat ini.

"kau mau tahu rahasia terbesar ku?...

...aku jatuh cinta pada adikku sendiri"

:

:

:

"Selamat pagi"

Daehyun masih cukup mengantuk saat membuka pintu apartementnya dan mendapati Zelo berdiri didepannya.

"Hai"

Oh tidak.. suaranya.

Zelo mengerutkan keningnya, tersenyum kecil lalu mengecup pipi Daehyun dan segera masuk ke dalam apartemen Daehyun tanpa melihat perubahan pada wajah kekasihnya.

"Aku membelikan mu sarapan, kata tetangga disebelah ku, kimchi di ujung jalan sangat enak, jadi pagi-pagi sekali aku kesana dan membelikannya untuk sarapan. Wuah.. kau tahu hyung aku harus mengantri sekitar lima belas menit untuk mendapatkan kimchi ini"

"Tidak selama aku mengantri tadi malam"

Tepat... gerakan Zelo yang saat itu sedang mengambil piring terhenti. Menjilat bibirnya yang kering dan merasakan gelombang aneh diperutnya. Zelo menunduk, mengambil nafas lelah lalu melangkah mendekat ke arah Daehyun yang sedang membuat kopi.

"Maafkan aku"

Daehyun hanya diam, mengaduk kopinya dengan keheningan. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan pinggiran cangkir, menjadi peneman untuk mereka beberapa saat.

"Hyung, maafkan aku" Zelo menarik bajunya, sesekali mengigiti bibirnya karena tidak tahan melihat Daehyun yang mengacuhkannya.

"jadi, kemana kau tadi malam?" Daehyun menghentikan gerakan tangannya dan menghadapkan tubuhnya pada Zelo. Pemuda bertubuh tinggi itu terdiam sesaat, tak berani menatap mata Daehyun dan lebih milih mengetuk-ngetukkan jemarinya pada permukaan piring yang masih digenggamnya.

"Aku semalam bertemu Sehun"

Daehyun hanya tak menyangka jika Zelo akan menceritakan yang sebenarnya padanya.

"Dia mengajakku makan malam, dan aku tak bisa menolaknya"

Mata Zelo masih tak mau menatap mata Daehyun, mengelilingi ruangan dimana mereka berada dengan pandangan gelisah.

"maafkan karena aku tidak bisa menolaknya, aku meninggalkan mu. aku memang egois, dari awal aku memang egois. Aku sudah mempunyai hubungan dengan Sehun, tapi karena egois aku malah menjalin hubungan dengan mu" Zelo menatap lurus, tapi tidak pada mata Daehyun, menatap pada kaus yang dikenakan Daehyun. "Aku minta maaf"

Daehyun tersenyum kecil, hati kecilnya berkata jika yang dilakukan Zelo semalam adalah keterlaluan, Daehyun hendak menanyakan perihal ciuman itu, namun dadanya yang terasa sesak membuat Daehyun membungkam mulutnya. Ada saat dimana Zelo membutuhkan waktunya bersama Sehun.

"Aku juga egois"

Zelo mengangkat pandangannya, menatap langsung pada mata Daehyun. Hanya terlalu hangat didalam pandangannya.

"Semua orang memiliki sikap egois, bukan hanya kau. Akupun egois, aku menginginkan mu hanya untuk ku. Aku ingin, hanya aku kekasih mu. Itu egois bukan?" lengannya terulur untuk mengusap pipi Zelo yang begitu halus. Sangat halus hingga Daehyun ragu, apakah ada kulit manusia lain yang mempunyai kulit sehalus milik Zelo?

"Jadi kau mau memaafkan ku?" Zelo sedikit tersenyum tipis.

"Hh bagaimana ya" Daehyun mengerutkan keningnya.

"Aku.. aku.. tidak tahan jika ada seseorang yang marah pada ku"

"lalu?"

"Jangan acuhkan aku,hyung. Aku tidak suka ada yang mengacuhkan ku" Zelo kembali menarik baju Daehyun.

"Jangan marah" Zelo berbisik lirih. Dia mengingat Yongguk seketika, kakaknya tak pernah marah sekalipun padanya, mungkin Yongguk pernah membentaknnya jika dia melakukan kesalahan, tapi setelah itu Yongguk akan memeluknya dan mengatakan kata maaf. Zelo selalu mengucapkan kata maaf jika melihat orang lain seolah tak nyaman berada didekatnya, dia tak suka diacuhkan.

"Maafkan aku"

Zelo melebarkan matanya, merasakan kehangatan lengan Daehyun yang mengurung tubuhnya. Daehyun memeluknya, mengusap punggungnya dan memberi kecupan ringan dipundaknya.

"Aku tidak marah, dan aku tidak bisa mengacuhkan mu, maafkan aku"

Zelo seolah menemukan sosok Yongguk. Sosok yang akan menenangkannya saat mati lampu dan memberikannya usapan lembut dikepala, yang akan memeluknya, yang akan mengucapkan..

"Semua akan baik-baik saja"

Kata yang baru saja Daehyun bisikkan padanya.

:

:

:

"Zelo benar-benar membuat mu selalu tersenyum setiap saat. Apa yang dilakukannya hingga sahabat ku yang malang ini begitu terlihat bahagia akhir-akhir ini hmn" Youngjae mengetukkan kepala Daehyun dengan penanya.

"Bisakah kau tidak mengganggu ku?" Daehyun menatapnya kesal dan melempar buku yang dekat dengan jangkauannya.

"Aku mengganggu imajinasi liar mu?" Youngjae tertawa saat Daehyun benar-benar melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah ia duduk.

"Aigo, apakah kau benar-benar mengkhayal yang tidak-tidak dengan Zelo?"

Daehyun mendesis, jika saja mereka saat ini tidak berada diperpustakaan mungkin Daehyun tak akan semalu ini.

"Diam"

Youngjae menarik kursinya mendekat, memasang wajah manis yang membuat Daehyun tak tega untuk melempar sebelah lagi sepatunya.

"Hey Jung, aku merasa pernah melihat Zelo sebelumnya" Youngjae memandangnya.

"Kapan?"

"Entahlah... apakah dia pernah mewarnai rambutnya selain warna biru?"

"Ya, dan aku lupa jadi jangan tanyakan apa saja warna rambutnya sebelum biru"

"Hmn, semalam aku memikirkan sesuatu, lalu merasa jika aku sepertinya pernah melihat Zelo"

"Tidak, kau tidak pernah melihatnya. Yang kau lihat adalah orang lain, habis perkara"

"Uh baiklah, eh ceritakan ceritakan" Youngjae membuka buku didepannya dan menuliskan sesuatu.

"Apa yang kau harus aku ceritakan?" tanya Daehyun sambil memakai kembali sepatunya.

"Kau dan Zelo tentu saja"

Daehyun menatapnya sesaat, ada siratan aneh dalam pandangannya.

"Kau yang seharusnya bercerita pada ku tentang diri mu dan Jongup"

Youngjae tak menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis, mengedikkan bahunya dan menutup pena dalam genggamannya.

"Tidak ada yang perlu aku ceritakan"

"Jangan memendamnya seorang diri" Daehyun mulai serius, menarik buku yang berada dihadapan Youngjae hingga pemuda itu tak bisa mengalihkan perhatiannya untuk menulis.

"Aku sahabat mu, aku menceritakan semua tentang ku dan Zelo, dan begitupun sebaliknya"

Itu membuat sinar dimata Youngjae sedikit meredup. Daehyun tahu ini kejam, saat dia sudah melihat sinar mata Youngjae yang dulu lima menit yang lalu, dan semua itu memudar lalu semakin hancur hanya karena satu nama.

"Aku sudah melupakannya" Youngjae berkata datar "Tak perlu mengkhawatirkan ku"

"Aku baru benar-benar bisa melupakan Himchan selama lima tahun, dan kau hanya sesingkat ini? Kau bohong"

"Tentu saja aku bohong, ayolah, anggap saja aku sudah melupakannya dan jangan ungkit masalah ini lagi" Youngjae sangat lelah. Dia butuh dukungan untuk mengatakan jika dia sudah sejauh ini. Jika dia bisa melupakan Jongup.

"Kau ingat, saat aku ingin melupakan Himchan kau pernah berkata, cinta itu sulit untuk dihilangkan, kau bisa berpura-pura, tapi... itu tidak ada artinya"

Seolah dia termakan sendiri oleh ucapannya. Youngjae menghembuskan nafas lelah.

"Menurut mu aku harus bagaimana?"

Kadang, Daehyun bisa berfikir jernih dalam mengatakan saran.

"Bicaralah padanya."

Terdengar gila.. tapi itu benar adanya. Terdengar bodoh, tapi itu yang memang harus dia lakukan.

"Berpura-pura melupakannya lebih sakit daripada berpura-pura mencintainya"

Benar kan... Daehyun kadang bersikap bijaksana dalam memberikannya saran.

Kadang...

:

:

:

[junhong-ah, aku rasa aku tidak bisa makan siang bersama mu hari, begitu juga rencana kita untuk minum teh bersama sore ini, aku ada jam tambahan, jadi maafkan aku. dan.. tidak juga untuk makan malam]

Zelo tersenyum kecil, entah kenapa dia menyukai saat Daehyun memanggilnya dengan nama aslinya. Sebenarnya, Zelo tak begitu menyukai nama aslinya, entah.. mungkin mengingatkannya akan masa lalunya. Saat kedua orang tuanya berteriak memanggil namanya dan Yongguk saat kejadian itu terjadi.

Yongguk sengaja memberikannya nama Zelo karena saat itu mereka di amerika dan terdengar lebih mudah untuk disebut dan juga karena mungkin Yongguk ingin sang adik melupakan sejenak nama junhong yang mengikatnya

"Zelo, okay, Choi Zelo. kenalkan itu adalah nama mu selama berada disini"

Zelo menepuk keningnya, dia hingga lupa membalas pesan Daehyun.

[baiklah~ hyung hyung, nanti malam Sehun mengajakku untuk makan malam bersama kakaknya, dan aku sudah menjawab iya, tak apa?]

Zelo menggigit sendok kecil yang dia pakai untuk memakan es krim, sebenarnya dia sudah menunggu ditempat dimana dia dan Daehyun akan makan siang, sedikit kecewa namun dia tak terlalu memusingkan hal semacam itu.

[tentu saja, berhati-hatilah]

Zelo kembali tersenyum, membayangkan wajah Daehyun yang membalas pesannya dengan mata menyipit untuk berpikir sesaat. mungkin.. malam ini dia dapat mengatakan jika hubungan dia dan Sehun tak bisa diteruskan.

Zelo benar-benar ingin terbebas dari ini semua..

Dia hanya ingin mempunyai satu kekasih.

Dan itu Daehyun..

:

:

:

Jongup menghentikan langkahnya, membiarkan orang-orang yang baru saja keluar dari gedung kesenian menabrak punggungnya untuk keluar.

"Ya, Moon Jongup jangan melamun ditengah jalan" Taemin mengetukkan kepalanya dengan buku. Jongup terkesiap, membungkukkan tubuhnya meminta maaf.

Jika saja Jongup tak melihat sosok Youngjae yang kini tengah berdiri didepan pintu utama Jongup tak akan menghentikan langkahnya. Sekelebat bayangan masa lalu menari, mengingatkannya jika dulu Youngjae selalu menunggunya disana dengan swetaer abu-abu dan wajah manisnya. Pemikiran tentang untuk apa Youngjae berada disana tak membuat ia melangkahkan kakinya.

"Hey, tak baik membuat kekasih mu menuggu" salah satu temannya menepuk pundaknya dan mengisyaratkan dengan dagu ke arah Youngjae berdiri.

"Dia bukan kekasih ku" ucap Jongup lirih.

"Setidaknya, jangan biarkan dia menunggu seperti itu"

Youngjae sudah terbiasa bearada disini, hingga teman-temannya sangat tahu jika Youngjae selalu menunggunya untuk pulang berama, Youngjae selalu menemaninya latihan menari dan tersenyum saat Jongup melirik kearahnya, senyum manis yang mampu membuat Jongup kehilangan segala gerakannya dan berakhir dengan terjatuh karena menginjak kakinya sendiri. Lalu sosok Youngjae hanya akan tertawa dan meringis melihat Jongup yang mendapat teguran dari seniornya.

Pemikiran itu membuat Jongup tak sadar jika dia sudah melangkah mendekat, bahkan dari jaraknya saat ini Jongup bisa merasakan hangat tubuh Youngjae.

"Hyung, mencari ku?"

Mata indah yang selalu Jongup kagumi menatapnya, tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Youngjae menyembunyikan tangannya pada kantung swetaer yang dikenakan, berwarna merah, dan Jongup bisa melihat inisial YJ didada kiri Youngjae. Apakah itu pertanda jika Youngjae masih mengingatnya?

"Diluar atau didalam?"

"Diluar saja"

Youngjae berjalan mendahului, mungkin menutupi rona merah yang bodohnya terlihat hanya karena melihat tatapan sayu Jongup.

Jongup menutup pintu kesenian, melihat masih ada beberapa seniornya yang berada didalam ruangan mungkin itu yang menyebabkan Youngjae ingin berbicara diluar.

Jongup mengikuti langkah Youngjae, berjarak sekitar 5 langkah dari pemuda didepannya.

Tiba-tiba saja Youngjae menghentikan langkahnya membuat Jongup ikut menghentikan langkahnya.

"Bodoh, jalan disamping ku" Youngjae berbalik.

Jongup hanya mengerjapkan matanya. Seakan memproses terlebih dahulu perkataan Youngjae yang seolah merupakan lampu hijau bagi dirinya untuk dapat mendekat.

Youngjae masih terdiam, mengamati bayangannya pada kaca disampingnya. Jongup melangkah ragu, menghampiri Youngjae dan berdiri disamping pemuda itu.

Haruskan Jongup mengatakan jika dia sangat merindukan lengan Youngjae yang menggamit lengannya, mendorongnya berjalan. Dan rasa panas menyapa tubuhnya, rasa panas hingga mencapai pipi dan matanya.

"Untuk apa mencari ku?"

Jongup duduk disisi Youngjae, menghadap langsung pada taman universitas mereka, langit senja yang mulai turun membuat biasan indah. Jongup mengalihkan tatapannya, menatap pada wajah Youngjae yang sedang menatap lurus.

Jongup bergumam kata indah kala melihat wajah Youngjae, memandang Youngjae sedekat ini dan setenang ini, apakah ini hanya khayalan saja?

"Bisakah aku menarik semua kata-kata ku?"

Jongup terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.

"Bisakah kau jangan menjauhi ku dan berusaha melupakan ku?"

Apakah ini mimpi? Itu kalimat pertama yang melintas difikirannya. Jongup masih tak tahu harus menjawab apa. Rasa rindu yang teramat menyiksanya seolah menabur kembali garam, membuatnya semakin perih dan membungkam mulutnya.

"Katakan sesuatu.. masih bisakah aku menarik kata-kata ku?"

"Apa yang membuat mu menjadi seperti ini?"

"Kelemahan ku" Youngjae menjawab sangat cepat.

"Kelemahan ku yang membuat ku menjadi seperti ini. Aku lemah, kau tahu itu. aku bersikap kuat tapi ternyata sisi lemah ini begitu bodoh menyiksa ku dan berkata jika aku memang lemah"

"Kau tidak lemah hyung:"

"Lalu apa?" Youngjae manghapus nada kesal disuaranya.

"Buktinya aku tidak bisa apa-apa tanpa mu. Aku yang meminta mu menjauh tapi aku sendiri yang tidak bisa menjauh dari mu. Aku yang berkata untuk tidak lagi mencintai ku, tapi kenyataanya aku sendiri yang semakin mencintai mu, lalu ini semua apa?"

Jemari Jongup bergerak, mengusap lembut lengan Youngjae yang tertutup sweater.

"Aku yang menginginkan kita pisah, tapi kenapa aku yang merasakan sakitnya"

Lirih ucapan Youngjae membuat dadanya terpukul keras, seakan udara tak menolong sedikitpun pada tarikan nafas yang meminta lebih.

Keadaan yang semakin gelap membuat Jongup tak bisa melihat wajah Youngjae yang menunduk. Lalu, apa yang harus dia lakukan?

Jongup membuka resleting tas yang dikenakan, mengeluarkan kalung berinisial YJ, dia menggenggamnya erat, lalu perlahan memberikannya pada genggaman tangan Youngjae.

"kau masih mau memakainya,hyung?"

Kepala Youngjae terangkat, kilauan putih dari kalung tersebut membuat tangisnya mereda. Youngjae mengelus inisial nama mereka yang dingin dan halus.

"aku masih mengenakannya sampai sekarang, saat orang lain melihatnya mereka bilang aku kejam. Aku masih mengingat mu sedangkan aku sudah mempunyai kekasih. Aku melepasnya, namun tak sampai dua jam aku langsung berlari ke apartemen ku dan memasang kembali kalung ini" Jongup mengeluarkan kalung dengan bentuk dan inisial yang sama dilehernya.

"apakah itu membuktikan jika aku tidak bisa untuk tidak mencintai mu? tanpa nama mu yang melekat didadaku dan merasakan degup jantung ku.." Jongup tertunduk "entahlah.. kau begitu... melengkapi ku"

"aku memutuskan untuk berjuang seorang diri mulai saat ini. Tanpa tameng dari orang lain, tanpa status kepalsuan yang mengikat ku. Aku mulai berjalan sendiri, tanpa seseorang disamping ku yang hanya akan merasakan sakit bila mengetahui aku tidak mencintainya seperti aku mencintai mu" Jongup kini menegakkan kepalanya, memandang kilau senja yang menimpa wajahnya. Memberikan seulas sinar hangat yang membuat matanya panas.

"Ku mohon...," Jongup menggantung kata-katanya.

"Jangan ada lagi kata berpisah setelah ini"

Youngjae memandang kosong, entah apa yang dapat dia katakan saat ini. Youngjae kembali mengingat, saat dia melempar kalung ini keluar dari jendela pada keadaan mereka berada ditingkat delapan apartemen Jongup.

"Kau menemukan kalung ini?"

Jongup tersenyum tipis "Ini hanya kalung, jika kau pergi pun aku pasti akan menemukan mu, hyung"

Youngjae menghapus jejak air mata dipipinya. Mengaitkan ujung-ujung kalung tersebut hingga melingkar dilehernya, kemilaunya yang ditempa sinar bulan membuat Youngjae tersenyum. rasa hangat jika Jongup berada disisinya membuat Youngjae benar-benar lemah.

"Jangan pernah lepaskan lagi. jangan pernah mencoba untuk membuangnya lagi" ucap Jongup hampir berbisik.

"Terimakasih" Youngjae berucap pelan, seolah takut jika angin akan menguping pembicaraan mereka.

"Ayo kita buka kesempatan kedua untuk hubungan kita"

:

:

:

"Apakah kakak mu galak?"

Sehun tertawa, "Tidak, dia sangat lembut"

"Apakah benar jika aku hanya harus membawakannya es krim?" Zelo mengangkat dua kotak es krim ditangannya.

"Ya, dia sangat suka es krim. Dia juga takut gelap seperti mu, dia menyukai warna biru juga seperti mu, tangan dia juga hangat seperti diri mu"

Zelo terdiam mendengar penuturan Sehun, dia memandang lampu-lampu jalanan. Apakah dia berharap dia bisa melihat Daehyun sesaat? hari ini dia hanya melihat Daehyun saat mereka sarapan. Sapuan rindu yang membuat emosinya memburuk hingga Zelo merasa jangan ada orang yang mendekatinya selain Daehyun saat ini.

"Sudah sampai"

"Ah, benarkah?"

Bahkan dia tidak sadar jika mobil yang dikendarai Sehun sudah berhenti lima menit yang lalu. Zelo merapikan rambutnya, namun berikutnya dan mengaduh karena rambut depannya yang mencolok matanya.

"Aku rasa aku butuh potong rambut" Zelo mengusir anak rambut didahinya.

"Ide bagus, rambut mu sudah terlalu panjang, lihat ini sampai kelopak mata mu" Sehun menyingkirkan anak rambut yang menusuk matanya.

"ahaha, sudah hentikan, aku akan memotongnya nanti"

Zelo keluar dari mobil, merapikan bajunya yang sedikit berantakan.

"Apakah penampilan ku masih bagus?"

"Tentu, kau selalu terlihat manis kapan pun"

Zelo tersenyum kecil sebagai tanda ucapan terimakasih. Sehun mengajaknya masuk, melalui pintu beronamen emas yang begitu mewah.

"Aku hanya tinggal berdua dengan kakak ku, kedua orang tua kami berada di inggris saat .. kakak ku sudah menikah"

Ada nada paksa saat Sehun mengatakan hal itu, hingga Zelo langsung memandang wajah Sehun yang muram.

Jadi permasalahannya adalah Sehun menyukai kakaknya, dan yang lebih parah adalah kakaknya sudah menikah. Zelo mengelus punggung Sehun. Sehun memikul beban lebih berat dari dirinya. Sangat berat, apakah Sehun bisa bernafas lega saat melihat Luhan. mencintai orang yang sampai kapan pun tak akan bisa bersatu.

Zelo melihatnya. Sosok pemuda bertubuh langsing dengan rambut brunette yang lembut. Senyumnya yang menawan membuat Zelo mengerti mengapa Sehun bisa jatuh cinta pada kakaknya sendiri.

"Zelo-ah, ini kakak ku, Oh Luhan"

Zelo mengulurkan lengannya, dibalas dengan uluran tangan Luhan yang begitu lembut.

"Hai, kau sangat manis" Luhan mencubit pipinya, dan Zelo hanya tersenyum canggung saat itu.

"Pantas saja Sehun menyukai mu, uh.. kau manis sekali"

Luhan tak berhenti mengatakan jika Zelo manis. Bahkan saat mereka duduk dan bersiap hendak makan Luhan masih sempat mengatakan jika Zelo terlihat sangat manis dengan rambut birunya.

"Apakah kau suka mengubah warna rambut mu?" Luhan bertanya sambil menaruh lauk pauk di mangkuk Sehun.

Zelo tersenyum samar sebelum mengangguk dan mengalihkan perhatiannya dari Sehun yang tengah memandang kakaknya dengan dalam.

"Tahun lalu aku mewarnai rambut ku dengan warna blonde, lalu biru tua dan sekarang baby blue" Zelo memasukkan makan kedalam mulutnya. Perutnya terasa melilit, melihat keakraban Sehun dan Luhan yang begitu kental.

"Cobalah warna merah, itu sepertinya cocok untuk mu. Kau akan terlihat semakin manis"

Zelo mengangguk, berfikir jika memang sudah dari dulu dia menginginkan rambutnya berwarna merah.

"Sehun juga sangat suka berganti warna rambut, waktu dia berada di tingkat dua, dia pernah mewarna rambutnya dengan warna pelangi" Luhan tertawa saat mengatakannya, dan Sehun nampak mendesis malu karena Luhan membeberkan tentang dirinya.

"Tapi Sehun terlihat sangat tampan saat ini" lanjutan suara Luhan membuat Zelo mengangkat wajahnya, menatap pada perubahan wajah Sehun. Rahang tegasnya seolah tajam mengunyah makanan didalam mulutnya.

"Ya, Sehun sangat tampan"

Kini berganti Luhan yang mengangkat kepalanya, melihat Zelo yang tengah memperhatikan Sehun dengan seksama membuat dadanya terasa sesak, Luhan terburu mengambil segelas air yang berada didepannya. Kenapa rasanya sesak? lebih sesak dari apapun.

Pandangan Zelo beralih menuju Luhan, pemuda yang sama manis dengannya, pemuda yang memiliki senyuman menawan dan sungguh memikat. Mereka.. sangat sempurna satu sama lain. Mengapa Sehun mencari sosok lain jika sosok Luhan sudah sangat menyerap dengannya. Menyadari ikatan darah yang mengikat keduanya, Zelo tak bisa berfikir banyak.

Ada satu cacat dalam kesempurnaan Sehun dan Luhan.

Mereka adik kakak.

:

:

:

Daehyun menghabiskan 8 kaleng kopi dan 5 bungkus makanan ringan, dia juga sudah tiga kali bolak balik ke supermaket terdekat hanya untuk melepas kebosanannya. Daehyun menatap jam tangannya, jam 8 malam. Dan apa yang dilakukan Youngjae dengan Jongup didalam sana?

Daehyun memang sengaja menunggu diparkiran, sebenarnya kalau bukan karena mata memohon Youngjae yang memintanya untuk menunggu ia berbicara dengan Jongup, Daehyun sudah pulang dari tiga jam yang lalu. Tapi karena Daehyun takut terjadi sesuatu yang tidak didiinginkan, Daehyun menetapkan diri untuk menunggu Youngjae.

Daehyun menatap layar ponselnya. Tak ada tanda-tanda Zelo menghubunginya. Mungkin dia harus ke apartemen Zelo sehabis ini.

"Hai jung"

Daehyun hampir saja menjatuhkan kaleng kopi kesembilannya.

"Astaga, kau aish" Daehyun memberikan tempat bagi Youngjae untuk duduk.

Mengulurkan sekaleng kopi kearah sahabatnya itu.

"Kau menghabiskan kopi sebanyak ini? dan masih ada lagi? Jung Daehyun kopi itu tidak bagus untuk kesehatan mu" Youngjae sangat terkejut melihat begitu banyak kaleng kopi berada disekitar Daehyun.

"Siapa bilang kopi tidak sehat untuk kesehatan? Aku akan tidak sehat tanpa kopi" Daehyun membela diri, merampas kaleng kopi dari tangan Youngjae lalu membuka penutupnya.

"Untuk mu. Minum"

Youngjae tak punya pilihan lain selain meminum kopi yang Daehyun ulurkan.

"Daripada meminum bir, lebih baik kopi bukan?"

Youngjae mengangguk paham, senyuman yang terukir diwajahnya membuat Daehyun tahu jika pemuda itu sudah menyelesaikan masalahnya dengan Jongup.

"Jadi bagaiamna?" Daehyun mengulurkan makanan ringan kepada Youngjae.

Youngjae menolak makanan ringan yang ditawarkan Daehyun dengan alasan makanan ringan itu tidak baik bagi kesehatan.

"Ya, kau sebut saja semua makanan tidak baik untuk kesehatan" cibir Daehyun lalu mengulang kembali pertanyaan tentang permasalahan Youngjae dengan Jongup.

Youngjae merogoh sisi dalam sweaternya, mengeluarkan kalung berwarna putih bagai berlian dengan inisial namanya dengan Jongup.

"Happy ending"

Suara Youngjae terdengar begitu bahagia, dia memeluk lengan Daehyun dan tertawa.

"Terimakasih Jung"

Daehyun menepuk punggung Youngjae, mendengar tawa Youngjae yang sangat bahagia membuat rasa bahagia itu menyambar pada dirinya. Rasa ingin tertawa bersama dan berteriak puas akan semuanya.

"Pergunakan kesempatan kedua kalian ini dengan baik, okay?" Daehyun mengacak rambut Youngjae.

"Ya tentu saja, ahaha, ohiya, aku lupa Jongup sedang menunggu ku"

Youngjae berdiri dan merapikan barang-barang yang tadi dia titipkan kepada Daehyun.

"Kau akan pulang bersama Jongup?"

"Tentu saja, pabo"

"Lalu aku?"

"Ah.." Youngjae melempar kunci mobilnya ke arah Daehyun.

"Bawa mobil ku dan jemput aku besok"

Daehyun menggenggam kunci mobil milik Youngjae.

"Wah, bagus.. aku bisa menjemput Zelo dirumah Sehun"

:

:

:

"Apakah Sehun pernah menceritakan hal tentang ku?"

Zelo tengah membantu Luhan untuk membereskan meja makan, sedangkan Sehun sendiri hanya duduk sambil menonton televisi diruang sebelah.

"Iya, dia bercerita kalau kau manis hingga saat dia minum teh dia tidak perlu gula untuk penambah manis"

Zelo tertawa, berada didekat Luhan sangat membuatnya nyaman.

"Hyung, bolehkah aku jujur pada mu?" Zelo menggigit bibirnya waktu melihat Luhan yang mengangguk.

"Aku.. a-aku tidak sepenuhnya menyukai Sehun"

Gerakan Luhan yang sedang menumpuk piring terhenti, dia nampak mencerna perkataan Zelo sebelum terduduk dengan wajah pucat.

"Apa maksud mu?"

"Kita sama-sama menyukai orang yang berbeda, walau aku tidak bisa berbohong jika aku sangat merasa nyaman bila berada didekat Sehun. tapi.. ada seseorang yang membuat ku lebih bisa berdiri disampingnya"

Luhan menggeleng lemah.

"Begitupun kau, hyung. saat ini kau bisa berdiri tanpa suami mu karena ada Sehun disamping mu. Lalu, apakah kau bisa berdiri tanpa ada Sehun disamping mu?"

Luhan tahu jawaban yang mencekik hatinya adalah tidak.

"Maaf jika aku terlihat sok tahu, aku masih pemuda berumur delapan belas tahun, aku masih egois, aku masih menangis jika ada seseorang yang membentak ku. tapi, hyung... pemuda berumur delapan belas tahun inipun tahu kalau Sehun sangat mencintai mu"

"Bagaimana bisa kau mengatakan ini? kau kekasih..."

"Mantan kekasih" Zelo menyela.

"Aku tidak lagi bisa berdiri diantara dua pemuda. Aku hanya bisa berdiri dengan satu pemuda, maaf..." Zelo melanjutkan suaranya

Benar.. Luhan tidak bisa berdiri dengan jongin dan Sehun disampingnya. Luhan harus memilih untuk dapat dia tegakkan tubuhnya dan rengkuh lengannya pada satu pemuda.

"Ini tidak semudah dalam bayangan mu" Luhan berkata datar. Bangkit berdiri dan menaruh piring-piring yang menumpuk didekat wastafael.

"Kau tidak tahu sesulit apa posisi ku. apa yang akan kau lakukan jika kau berada diposisi ku? membiarkan adik mu sendiri mencintai mu dan menyadari jika kau juga mencintainya?"

Zelo terdiam. suara Luhan yang bergetar membuat kerongkongannya terasa kering. Luhan yang seolah berbisik dan tak ingin seorangpun mendengarkan percakapan mereka.

"Saat mama mengatakan aku dijodohkan, Sehun marah pada ku yang tak berbuat apa-apa. dia tidak mau berbicara pada ku selama satu minggu. Aku sengaja.." Luhan mengepalkan tangannya "Aku sengaja menerima perjodohan itu karena ingin menjauhkan perasaan ku darinya"

"Jika ada yang berkata Sehun yang pertama kali menyukai ku. Mereka salah, aku yang pertama kali menggenggam tangan mungilnya. Merasakan jatuh cinta dari pertama kali melihatnya. Aku yang gagal sebagai seorang kakak"

Zelo menahan nafasnya. Cerita Luhan menyesakkan dadanya, hingga tak sadar Zelo berjalan mendekat dan memeluk sosok Luhan. Mengelus punggung pemuda yang tengah menunduk.

"Itu sebabnya aku sangat bahagia saat tahu Sehun sudah mempunyai kekasih. Aku merasa dia sudah melupakan rasa cintanya yang berlebihan pada ku. tetapi... ternyata tidak"

Luhan mengelus lengan Zelo, tersenyum tipis seolah mengajak Zelo untuk berbicara melalui senyuman itu.

"Lepaskan Sehun jika kau tidak menyukainya sebanyak kau menyukai orang lain"

"Menahannya sama saja dengan kau menahan jodoh Sehun mendekat dengan dirinya" Luhan menarik nafas, terasa berat.

Zelo mengangguk, hatinya tidak semakin lemah, tapi semaki kuat. Jika..

Dia hanya butuh satu pemuda dihidupnya.

:

:

:

"Ada yang ingin aku bicarakan"

Entah mengapa perkataan Zelo membuat Sehun susah untuk bernafas, melihat Zelo yang tengah berdiri dipintu menuju taman belakangnya, Sehun hanya bisa memaksakan langkahnya mendekat. Namun Sehun melihat siratan yang lain pada pandangan Luhan kepadanya. Entah apa yang mereka bicarakan sewaktu Sehun tak ada.

"Ada apa?"

Zelo menarik nafas, mata indahnya berpencar mencari fokus, seolah mata Sehun adalah pilihan terakhir untuk dia tatap.

"Harusnya aku jujur dari awal" Zelo melipat kedua tangannya didepan dada "Aku.. tak bisa lagi bersama mu"

Dan saat itulah mata indah Zelo menatapnya, meminta maaf pada binarnya dan rasa menyesal pada siratannya.

"Aku minta maaf"

"Kenapa?" Sehun tak bisa bohong, jika ada sekelebat rasa nyeri mencubit hatinya.

"Kau masih bertanya kenapa?" Zelo mendengus sambil melirik ke arah ruang tamu dimana Luhan duduk menatap televisi "Dia" Zelo menunjuk Luhan.

"Kau mencintai dia. Dan akupun mencintai orang lain" entah kemana semua kunci dimulutnya hingga Zelo seakan bebas mengatakan resahnya selama ini.

"Kita sama-sama sadar jika kita mencintai orang yang berbeda. Antara aku dan kau hanya perasaan sebatas suka saja. aku tidak mau... aku tidak mau menjauhkan mu dari jodoh mu yang sebenarnya" Zelo mengutip kata-kata Luhan yang begitu menusuk hatinya.

Sehun tahu benar apa yang dimaksud oleh Zelo.

"kau berkata jika Luhan hyung takut gelap seperti ku, menyukai warna biru seperti ku, semuanya seperti ku, itu merupakan tanda jika kau mencintai Luhan bukan aku. Kau mencari sosok Luhan didalam diri ku, dan kau temukan lalu kau nyaman bersama ku. Tapi sosok yang asli lebih memenjarakan mu, Sehun-ah" Zelo memegang dada Sehun, merasakan irama degup jantung Sehun yang teratur.

"Bahkan jantung mu berdetak seperti biasanya, tidak seperti kau sedang jatuh cinta pada ku"

Zelo menghembuskan nafas kasar "Lalu untuk apa diteruskan?"

Suara Zelo lirih, begitu lirih hingga Sehun tak ingin mendengarnya.

"Ini hanya pelampiasan, ku mohon.. biarkan kita memilih jalan masing-masing mulai sekarang" Zelo kini bergerak menggenggam jemarinya.

"Aku masih sahabat mu, Sehun.. ceritalah jika kau mengalami kesulitan"

Sehun masih terdiam, dia tersenyum lalu mengangguk pelan. Sangat samar.

"Daehyun bukan?"

Zelo tersenyum tipis sebagai jawaban. Sehun meremas jemari Zelo dan menghembuskan nafas lega.

"Baiklah.. mungkin ini yang lebih baik"

Perasaan lega, perasaan ingin tersenyum dan berteriak senang memenuhi rongga dadanya. Zelo memeluk Sehun. Menghirup aroma tubuh Sehun yang begitu khas.

"aku masih sahabat mu, ingat itu"

Sehun hanya mengangguk dan menepuk punggung Zelo.

Ini yang terbaik.. Sehun sadar. Matanya tak melirik pada posisi Luhan. sang kakak yang masih menatap kosong ke arah televisi didepannya.

Satu perasaan tak nyaman masih memenuhi hatinya. Satu lagi. dan jika dia memiliki keberanian untuk berkata.. maka beban itu akan semakin ringan.

:

:

:

"Kau terlihat sangat bahagia"

Daehyun menatap pada wajah Zelo yang sedaritadi tersenyum, mereka sedang diperjalanan pulang, setelah Daehyun menjemput Zelo dirumah Sehun.

"Tebak apa yang membuat ku bahagia" Zelo memperhatikan lalu lalang kendaraan dengan senyuman merekah.

"Apa memangnya?"

"Aku mau waffle"

Zelo menunjuk toko waffle disamping jalan.

"Aku mau waffle"

"Iya iya aku sudah dengar"

Daehyun menepikan mobilnya, baru saja mematikan mesin mobil saat Zelo menghentikan gerakan tangannya.

"Biar aku saja yang beli, hyung tunggu dimobil"

Daehyun hanya bisa mengangguk, mengamati sosok Zelo dari dalam mobilnya. Dan Daehyun begitu mengagumi sosok Zelo yang begitu manis. Entah mengapa matanya tak berhenti menatap pinggang ramping dan wajah Zelo dari kejauhan.

"Astaga.. apa yang baru saja aku fikirkan" Daehyun membenturkan kepalanya ke stir mobil. Mungkin, tidak menatap Zelo sejenak bisa membuat fikirannya jernih kembali.

"Aku kembali~"

Daehyun mengangkat wajahnya, mendapati Zelo yang sudah duduk sambil mengangkat waffle ditangannya.

"Ayo kita pulang, dan aku akan menceritakan tentang makan malam ku"

Daehyun diam, sejak kapan dia terlihat seperti ini. saat tangannya selalu ingin menyentuh kulit halus milik Zelo. sejak kapan pula matanya seolah hanya ingin menatap Zelo tanpa berkedip dan tanpa halangan.

"Hyung" teguran halus serta Zelo yang menyentuh lengannya membuat Daehyun tersadar dari lamunannya.

"Ahya.. kita pulang"

Mengapa akhir-akhir ini Daehyun sering memikirkan hal-hal hubungan yang lebih jauh dengan Zelo.

"Hyung, dua hari lagi kakak ku dan kekasihnya akan ke korea"

"Benarkah? Wah..."

"Seharusnya besok pagi, tapi kata kakak ku mereka kehabisan tiket dan baru dua hari lagi sampai disini"

"Aku menunggu, mungkin saja aku bisa langsung melamar mu"

"Ap-apa?"

:

:

:

"ketakutan membunuh segalanya.."

"..akal,hati, juga fantasi"

-Inkheart

:

"Sehun kau baik-baik saja?"

Sehun mengangkat sebelah tangannya, Luhan terdiam, dia tak berani melangkah mendekat pada wajah Sehun yang terlihat dingin dan gelisah.

"Sehun?"

"Aku baik-baik saja hyung"

"Lalu Zelo?"

"Apa?"

Sehun mengangkat kepalanya untuk menatap Luhan. Yang ditatap hanya bisa terpaku. Tak menyangka jika Sehun akan menatapnya sedingin itu.

"Jika kau memang benar-benar menyukainya, aku rasa masih ada kesempatan untuk.."

"Hyung" Sehun menyela dengan suara lirih.

"Kau tahu siapa yang aku suka"

Cukup untuk membuat Luhan terdiam. semakin takut untuk melangkah mendekat ke arah Sehun, entah dia takut menyerah mungkin. Takut jika pesona sang adik begitu kuat hingga melumpuhkan dirinya.

"Kau butuh sesuatu?"

Sehun berdiri, mendesah kesal lalu menatap Luhan dengan pandangan sedih.

"Aku hanya butuh kau, hyung" Sehun berbisik pelan "Jangan tanyakan apakah aku membutuhkan sesuatu, yang aku butuhkan hanya kau"

Saat bayangan Zelo sudah tak nampak didalam mata sang adik, Luhan sadar... hanya ada bayangan dirinya dalam mata adik yang begitu dia jaga.

"Sehun.. pikirkan tentang kedua orang tua kita"

Luhan sungguh berharap jika perasaannya hanyalah mimpi.

"Mereka juga harus memikirkan perasaan anak mereka"

Luhan bergerak mundur.

"Jangan bodoh" desis Luhan.

"Aku memang bodoh.." Sehun menarik nafas dalam "aku menyukai kakak ku sendiri, aku memang bodoh"

:

:

:

:

"Kau tidak membuang barang-barang ku kan?"

Youngjae menyipitkan matanya pada sosok pemuda yang berjalan disampingnya.

Jongup menggeleng "tidak, aku bahkan kemarin malam mencuci sweater abu-abu milik mu"

"Ah... kau pasti merindukan ku kan kemarin malam hingga menelpon ku?"

Jongup tersenyum tipis dibalik bahu Youngjae, melihat pemuda itu berdiri didepan apartemennya dan langsung menekan kode sandi otomatis untuk membuka apartemennya.

"Kau masih ingat kata sandinya?"

Youngjae memalingkan wajahnya ke arah Jongup "Tentu, tanggal lahir kita berdua kan?"

Jongup mengangguk.

"Kau tidak berniat menggantinya?"

"Tidak"

"Kenapa? Mungkin saja aku akan berbuat jahat pada mu?"

Jongup mendengus dan mendorong pintu apartemennya lalu membiarkan Youngjae berjalan masuk kedalam.

"Apa yang akan kau lakukan? Menatap ku saja kau langsung pergi apalagi mendatangi apartemen ku"

"Mungkin saja aku akan mencuri" Youngjae tersenyum lebar.

"Kau mau mencuri, mencuri hati ku?"

"Hah?"

Dan berikutnya Youngjae bisa terdiam tak bergerak mendengar ucapan Jongup yang menggeletik perutnya.

:

:

:

:

:

Himchan memperhatikan Yongguk yang sedang memakai jaket tebal, udara dingin diluar sana membuat Himchan saja yang tetap didalam rumah memakai pakaian super tebal untuk menghindari hidungnya keluar darah, karena Himchan tak bisa bertahan terlalu lama diudara dingin.

"Kau mau kemana?" Himchan bertanya sambil memperhatikan gerakan Yongguk yang memakai sepatu.

"Aku mau keluar sebentar, Zelo menitip beberapa barang untuk dibawa ke korea" Yongguk tak menatapnya kala berkata.

Himchan mengatupkan bibirnya rapat, rasa resah yang menghampiri hatinya membuat Himchan menarik jaket tebal Yongguk dan membuat langkah Yongguk terhenti.

"Kau marah?"

Sudah dua hari ini Yongguk jarang berbicara padanya, sedikit mengacuhkannya dan berkutat pada kertas-kertas yang menumpuk dimeja kerjanya.

"Jangan memperburuk keadaan, Bbang"

Entah mengapa Himchan sangat suka memanggil Yongguk dengan sebuatn 'bbang'

"Apakah kita akan bersikap saling menjauh seperti ini saat datang ke korea?"

Yongguk hanya terdiam, helaan nafasnya yang berat membuat Himchan memejamkan matanya.

"Aku hanya terlalu gelisah, apa yang akan aku jelaskan pada Zelo, apa yang akan aku katakan pada Daehyun. Aku gelisah jika Daehyun masih membenci ku"

"Kau bersama ku" Himchan memegang pundak Yongguk.

"Biarkan kita yang menjelaskan semuanya nanti" Himchan berkata dengan penuh percaya diri.

"Aku hanya tidak mau melihat Zelo menangis lagi"

Sosok Yongguk yang memang akan lemah pada adiknya. Bertumpu pada wajah cerah sang adik dan tak bisa bersandar jika melihat pemuda manis itu menangis.

"Aku harus menunggu hingga tujuh tahun untuk mendengar suaranya sebahagia sekarang. saat dia menceritakan tentang Daehyun, aku tahu kita akan menghancurkan suara bahagianya dengan sekejap" Yongguk memandang lampu hiasan disamping pintu utama "Saat kita tak disampingnya mungkin dia sudah memangis tentang banyak hal, hanya saja.. aku tidak bisa melihatnya menangis didepan ku"

Himchan tak bisa berkata banyak. Jika satu hal yang harus Yongguk pilih yaitu antara dirinya atau Zelo, Himchan pasti akan mundur perlahan karena sangat tahu jika Yongguk pasti akan memilih adiknya.

Menyesal bukan jalan yang bagus untuk mereka saat ini. merutuki masa lalu yang bodoh mereka lakukan bukan cara ampuh untuk membuat semuanya baik-baik saja.

Menghadapi apa yang sudah mereka lakukan, mungkin jalan terbaik saat ini.

:

:

:

"Aku hanya kekasih Jung Daehyun sekarang"

Ucapan Zelo cukup pelan, tapi masih sampai ketelinga Daehyun. dia bahkan terdiam sejenak dan merasakan seperti ada bom besar yang meletup didadanya. Memberikan gelombang indah yang melilit perutnya.

"A-apa?"

"Aku tidak mau mengulangnya" Zelo memalingkan wajahnya, menyembunyikan semu merah dipipinya.

"Benarkah itu?"

Zelo mengangguk pelan.

"Aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Sehun tadi. Dan.. ya.."

Zelo tak bisa berkata karena Daehyun segera memeluknya. Sangat erat, seperti Daehyun tak akan mau melepas tubuhnya.

"Hyung.. aku tidak bisa bernafas"

Zelo menepuk-nepuk punggung Daehyun karenanya. Daehyun tertawa sebelum melepas Zelo dalam rengkuhannya.

"Aku hanya terlalu bahagia"

Daehyun menatapnya lembut. Dan Zelo merasakan pipinya langsung memanas saat itu juga. uh.. kenapa dengan hal kecil seperti ini saja Zelo sangat mudah terlihat malu.

"Sudah. Hentikan jangan melihat ku seperti itu. Hentikan" dan Zelo langsung berjalan keluar dari kamar Daehyun untuk mengalihkan tatapan mata Daehyun darinya.

Daehyun hanya tertawa, berlari mengejar Zelo dan memeluknya dari belakang.

:

:

:

Daehyun hanya bisa terkekeh kala melihat Youngjae yang tengah menatap papan tulis dengan senyuman.

"Kau bisa merasakan bukan apa yang kurasakan jika tiap hari aku selalu tersenyum?"

Youngjae tertawa pelan, menepuk kursi kosong disampingnya sambil membuka tas dan mengeluarkan buku-bukunya.

"Jung.. entah kenapa tiba-tiba aku berfikir seperti ini"

Youngjae menelan salivanya kasar, antara ragu hendak bertanya atau tidak.

"Apa?" Daehyun mengeluarkan buku-buku tebal dan mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut.

"Apa yang akan kau lakukan jika Himchan tiba-tiba kembali pada mu?"

Terkejut. Jelas. Bahkan Daehyun langsung kehilangan fokus pandangannya dan mengerjapkan matanya sesaat.

"Untuk apa kau mempunyai fikiran seperti ini?" Daehyun bertanya gusar, tak mengenakkan dan membuat Youngjae menyesal telah bertanya.

"Aku hanya bertanya, dan aku hanya butuh jawaban" Youngjae bersuara sedingin es. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya.

Daehyun terdiam sesaat, memandang kosong lalu menarik nafas panjang. Kenapa rasanya masih sesesak dulu? Kenapa hatinya masih bereaksi ketika mendengar nama Himchan.

"Yang pasti, aku tidak akan kembali padanya" suara Daehyun meyakinkan.

"Benarkah? Kau tidak akan meninggalkan Zelo bukan?"

"Tentu saja tidak, mana mungkin aku melakukannya" Daehyun menggeleng tegas. Tanda dia sama sekali tak akan melakukan hal gila semacam itu.

"Mendapatkan Zelo itu sangat sulit, lebih sulit dari melupakan Himchan. Dan aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu hanya untuk kembali pada masa lalu yang pernah membuat luka" Daehyun kembali menggeleng pelan. Menguatkan jika apa yang dia katakan adalah beanr adanya.

"Meskipun Zelo yang membawa mu kembali mengingat Himchan?"

"Apa?"

"Tidak, lupakan.. aku hanya bergumam tentang cucian kotor dirumah ku"

hanya itu yang Youngjae ucapkan sebelum menghindar kontak mata dengan Daehyun dan menjauhkan pertanyaan-pertanyaan Daehyun yang mencekiknya.

Kalau saja semalam tidak terjadi, Youngjae tak akan menanyakan hal ini.

:

:

:

Flashback

Youngjae saat itu tengah merapikan meja makan saat merasakan ponselnya bergetar. Tanpa melihat display nama yang tertera, pemuda itu langsung menekan tombol hijau tanpa perasaan gelisah seikitpun.

"Hallo?"

"Youngjae"

Youngjae tidak lupa, bahkan hampir lima tahun tidak mendengar suaranya, Youngjae tetap mengenalnya.

"Himchan"

"Iya, ini aku. bagaimana kabar mu?"

Daehyun dulu sangat suka menggenggam jemari Himchan, membawanya ke kelas Youngjae dan selalu membawa Himchan kemanapun Daehyun pergi, hingga.. Youngjae terbiasa dengan kehadiran Himchan.

"Aku baik-baik saja" Youngjae berdiri, meminta waktu dengan berbicara tanpa suara pada Jongup yang tengah mencuci piring sehabis mereka makan malam. Jongup mengangguk, mengikuti Youngjae yang berjalan ke arah balkon rumahnya melalui sudut matanya.

"Ada apa?"

Youngjae tidak terlalu dekat dengan Himchan, entahlah... ada aura yang berbeda saat Youngjae berdekatan dengan Himchan. Apalagi saat lirikan tajam Himchan yang mengarah ke Yongguk saat tangannya masih bergenggaman erat dengan Daehyun.

"Aku akan ke korea. Secepatnya. Menurut mu, apakah Daehyun masih membenci ku dan Yongguk?"

"Tentu" Youngjae tersenyum miris.

Persahabatan mereka benar-benar hancur. Dan akan sulit menyatukan kembali keping-keping yang sudah hancur karenanya.

"Kau benar-benar menyakitinya. Aku rasa.. jika kau jujur dari awal tentang hubungan mu dengan Yongguk, Daehyun akan mengerti, tetapi kau lebih memilih hubungan dibelakang punggungnya. Kau fikir.. itu mudah untuk dimaafkan. Dengan lagi.." Youngjae menarik nafas panjang, mengingat kejadian saat Daehyun benar-benar terpuruk karena Himchan dan Yongguk membuat Youngjae sangat marah Kau memilihnya.. tapi, kau meninggalkannya. berkata kau telah salah memilih. Oh ayolah Kim Himchan.. jika aku menjadi Daehyun aku akan membunuh mu saat itu juga"

"A-aku.."

"Jika memang kau akan kembali ke korea, tidak untuk kembali menemui Daehyun. dia sudah bahagia" Youngjae memperingatinya dengan suara tipis penuh peringatan.

"Itu dia yang menjadi masalahnya.." suara Himchan tetap menjadi suaranya yang memikat.

"Mau tidak mau aku harus bertemu Daehyun" suara Himchan bergetar.

"Apa? apa yang terjadi?" Youngjae mulai gelisah, berjalan mondar mandir untuk mencari udara demi tenggorokannya yang tercekat.

"Apakah kau tahu, jika Zelo adalah adik Yongguk"

Tidak... Youngjae memegang kepalanya yang seketika pening. Tidak.. dia saja yang hanya sahabat Daehyun bisa merasakan bagaimana reaksi Daehyun jika sampai itu terjadi.

Jongup memegang sikunya, untung.. karena Youngjae benar-benar tak bisa menahan berat tubuhnya saat ini.

"Hyung, ada apa dengan mu?" bisikan Jongup yang khawatir melihat wajah Youngjae yang memucat tak membuat pemuda itu tenang. Dia mengangkat sebelah tangannya dan berbisik baik-baik saja sambil berjalan sedikit menjauh.

"Katakan itu bohong"

"Jika saja aku bisa berkata seperti itu. tapi nyatanya tidak.. dan, jangan beritahu Daehyun tentang ini"

Youngjae ingin berteriak, marah. Namun dia hanya mengepalkan tengannya kuat-kuat dan mengangguk pelan.

"Baiklah.. Beri aku satu alasan kuat kenapa aku tidak bisa memberitahu Daehyun"

Himchan terdiam, hanya terdengar hembusan nafasnya.

"Karena itu akan menghancurkan Daehyun. dan aku tahu bagaimana kau yang menganggap Daehyun seperti keluarga mu. Biarkan aku dan Yongguk yang menjelaskan. Lagipula.. Yongguk yang meminta ku menceritakan hal ini pada mu. Kalian masih satu ikatan persahabatan. Yongguk masih sangat menyayangi mu. Dia berharap kau masih mau mengulurkan lengan dan memeluknya erat sebagai sahabat"

Tidak... Youngjae sudah cukup banyak menangis hari ini. Yongguk.. si pemuda dingin yang tak berekspresi itu. Namun, Yongguk adalah sosok yang lembut. Sangat lembut, yang membuat Youngjae nyaman bersamanya. Yang selalu merangkul pundaknya jika nilai-nilai pelajarannya menurun, yang akan berdebat dengannya dan tak mau mengalah, namun Yongguk.. adalah orang pertama yang memeluknya saat dia kehilangan ibunya, Yongguk juga yang mempercayakan Youngjae untuk tahu tentang hubungannya dengan Himchan.

"Katakan.. lengan ku selalu terbuka untuknya"

Gumaman maaf dan terimaksih yang Himchan ucapkan memberikan sedikit senyuman dibibirnya. Youngjae merindukan, saat-saat mereka bertiga bersepeda dan saling bertaruh. Youngjae dan Daehyun sama sekali tidak mengetahui tentang keluarga Yongguk. Pemuda itu selalu menutupinya dan berkata jika urusan keluarganya tidak ingin diketahui oleh siapapun, termasuk oleh dirinya dan Daehyun.

Youngjaa memejamkan mata, sekelebat masa lalu tentang pertama kali dia mengunjungi rumah Yongguk membuatnya meringis. Tentu... itu sebabnya dia seakan mengenal Zelo. apakah anak kecil berambut blonde dengan tubuh pucat itu adalah... Zelo?

[Yongguk hyung sedang tidak dirumah, dia sedang berlatih sepak bola dengan temannya]

Suara gagap khas anak kecil membuat Youngjae ingin mencubit pipi anak itu.

Pelukan Jongup dipingganya membuat Youngjae sadar. Dia tertawa kecil kala gumaman resah Jongup menggelitik telinganya.

Mereka manusia biasa, tapi masa lalu dan kenangan membuat mereka tak bisa menjadi biasa.

End

:

:

:

"Hyung hati-hati"

Zelo menahan lengan Daehyun yang sedang memegang gunting.

"Percayalah pada ku"

"Hh baiklah"

Zelo memandang Daehyun yang mengangkat guntingnya dengan hati-hati.

"Tenang saja, ini adalah gunting khusus untuk rambut" jelas Daehyun sambil merapikan rambutnya.

"Jangan sampai kau salah memotong, dan malah menggunting bulu mata ku" Zelo mengerjapkan matanya dan mendongak menatap Daehyun yang menyipitkan matanya.

Kebiasaan Daehyun, menyipitkan matanya saat sedang berfikir.

"Tenang, dan duduk manis, adik kecil"

Daehyun masih sempat mencubit pipinya, membuat Zelo mendesis dan meninju dada Daehyun pelan.

"Pejamkan mata mu"

"Untuk apa?" Zelo menaikkan pandangannya ke arah Daehyun.

"Kau mau bulu mata mu terpotong?"

Zelo menggeleng.

"Turuti, ayo turuti" Daehyun menepuk kepalanya bagaikan menepuk anjing pudel milik tetangga sebelahnya.

Zelo memejamkan matanya, merasakan tubuh Daehyun yang semakin mendekat dan terpaan nafasnya yang hangat. Diam-diam Zelo tersenyum, membayangkan sedekat apa wajahnya dan Daehyun saat ini. Ingin rasanya dia tiba-tiba membuka matanya dan membuat Daehyun terkejut. Ya.. Zelo tahu jika Daehyun sangat lemah dengan matanya.

Bunyi irirsan rambutnya yang terpotong tajam sisi-sisi gunting menjadi irama selama hampir sepuluh menit. Mereka diam, tak membuka suara sedikitpun, hanya menyapa lewat rasa hangat sapuan nafas yang mereka hembuskan.

Sebenenarnya, Zelo bersikeras agar Daehyun menemaninya ke salon terdekat untuk memotong rambutnya, dia juga ingin mewarnai rambutnya dengan warna yang berbeda, tetapi kekasihnya itu malah mendorong tubuh Zelo agar duduk dan berkata jika dia yang akan menggunting rambut Zelo.

"Hyung, kau tidak berbuat yang aneh-aneh kan pada rambut ku?"

"Tidak, aku hanya perlu memotong sedikit poni dan merapikannya sedikit"

"Kau mungkin berbakat menjadi tukang cukur rambut" gumam Zelo.

Daehyun tertawa kecil.

"Tapi aku lebih berbakat menggambar rancangan suatu gedung"

Lima belas menit kemudian Daehyun melepaskan kain tipis yang berada dipundaknya, mencegah tajamnya rambut-rambut kecil menusuk kulitnya.

"Apakah sudah selesai?"

"Ya, tapi jangan buka mata mu"

"Eh, kenapa?"

Daehyun tak memberi jawaban, membuat Zelo sedikit gelisah dan mengulurkan tangannya untuk mengetahui dimana Daehyun berada, dan Zelo terkejut kalan jemarinya menabrak dada Daehyun yang ternyata begitu dekat dengan tubuhnya.

"Hyung?"

"Kau tahu, kau terlihat sangat sangat sangat manis jika dilihat sedekat ini?"

Oh tidak.. apakah Daehyun tengah memperhatikan wajahnya.

"Tidak, jangan buka mata mu" ucap Daehyun saat melihat kelopak mata Zelo yang terangkat sedikit.

"Lalu aku harus apa?"

"Diam"

Zelo menuruti kata-kata Daehyun, terdiam sambil memejamkan matanya. Tangannya masih berada didada Daehyun, dan semakin mengerat pada kemeja Daehyun saat merasakan tubuh pemuda itu semakin mendekat. Sapuan hangat nafasnya kembali lagi menyapa wajah Zelo.

Daehyun mengecup bibirnya. Hanya sesaat, terasa daehyun menggigit bibirnya pelan lalu menjauhkan tubuhnya. Zelo tersenyum tipis.

"Kau mencuri ciuman dari seorang anak kecil"

Daehyun tertawa dan membersihkan potongan rambut-rambut kecil yang berada dipundaknya.

"Aku mencuri ciuman dari kekasih ku"

:

:

:

:

[kami sudah di korea, nampaknya jadwal penerbangan sedang tidak teratur dan mempercepat penerbangan kami. Maukah kau menemui kami?]

Youngjae menatap ponselnya.

Harusnya besok, bukan malam ini. Youngjae mendesah kesal, menyambar jaketnya dan mengetikkan alamat dimana mereka akan bertemu

:

:

:

"Kau yakin tidak mau menginap di apartemen ku?"

Zelo menggeleng.

"Aku akan membersihkan apartemen ku sebelum kakak ku datang besok"

Daehyun mengangguk paham.

"Kau benar-benar berbakat sebagai tukang cukur rambut hyung"

Zelo memegang rambutnya dan merasakan jika tatanan rambutnya agak rapi dengan sentuhan tangan Daehyun.

"Ya, keahlian ku satu ini hanya akan aku pergunakan untuk mu"

Denting lift yang menyatu dengan derai tawa mereka seolah tak berarti, pintu lift yang semakin terbuka lebar dan membuat langkah mereka menyatu seakan tak menyadari jika ada dua sosok pemuda diujung sana yang tengah memperhatikan mereka.

"Eh?"

Zelo menghentikan langkahnya, membuat Daehyun yang saaat itu menggenggam tangan Zelo ikut berhenti. Zelo tersenyum senang.

"Bukankah kalian akan datang besok?"

Suara ceria Zelo yang menyapa pada kedua sosok yang berdiri didepan pintu apartemen kekasihnya membuat Daehyun mengalihkan tatapannya sesaat dari wajah Zelo dan memandang lurus.

Bahkan lengannya terlalu lemas untuk mencegah Zelo yang sedang berlari lalu memeluk sosok berwajah tegas yang amat dikenalnya. Yang dapat didengarnya hanyalah suara nafasnya yang terputus, memandang wajah Zelo yang bahagia dan tatapan pemuda berambut merah gelap yang gelisah berbalik memandangnya.

"Hyung.. perkenalkan ini kakak ku. Bang Yongguk"

Bahkan suara Zelo seakan terdengar buram. Daehyun hanya dapat melangkah mundur. Wajahnya sekerasa batu. Batu yang menimpa hatinya dan mendengungkan bunyi yang memekakkan.

Daehyun terhuyung jika tidak ada Youngjae dibelakangnya yang menyangganya. Semua seolah mengkhianati.

Daehyun hanya dapat membalikkan tubuhnya, menubruk pundak Jongup yang berdiri disamping Youngjae lalu berlari.

"Daehyun hyung"

Panggilan itu tak membuat Daehyun sadar..

Dia hanya ingin menghapus suara manis Zelo yang mengenalkan sosok Yongguk sebagai kakaknya, dan tatapan hangat milik Himchan yang memenjarakan matanya..

:

:

:

TBC

:

:

Mereka ketemua yeay~

Ini udah yaaaa mungkin chapter lagi kali ya ending. Maaf ya agak lama (lagi) mengapdetnya. Entah ini dua chapter lagi bakalan kapan aku post karena UN yang semakin dekat aaaaaaa.

Terimakasih buat yang udah review, aku sayang kalian.

Terimakasih buat yang udah nunggu FF ini (kalo ada), aku sayang kalian juga.

Maaf kalo chapter ini agak-agak ngebosenin ya. Hampura..

:

:

:

RnR Juseyoo~