Author : Han NN
Tittle : Can't be Love
Cast : Jung Daehyun / Choi Zelo a.k.a Zelo / Oh Sehun / Xi Luhan / Yoo Youngjae / Moon Jongup/ Bang Yongguk / Kim Himchan
.
Genre : school life, drama, romance, sad dll..
.
A/N : Zelo punya Daehyun tapi Zelo punya saya, Yongguk punya Himchan tapi Himchan punya saya.
.
.
.
Then just give me one day, even its in my dream, just one day..
i can have you with no-load feels.
.
.
Youngjae melemparkan kaleng kopi ke arah Daehyun yang dengan sigap menangkapnya. Youngjae duduk disamping Daehyun, sapuan angin malam yang menerpa rambutnya sedikit membuat matanya menyipit.
Youngjae membuka tutup botol minuman rasa buah yang dibelinya, lalu mendengar bunyi tutup kaleng yang dibuka. Youngjae menoleh ke arah kanan, mendapati Jongup yang duduk diatas kap mobil sambil menikmati sekelang cola ditangannya.
"aku mengira kau akan bereaksi lebih dari ini" Youngjae mengernyit saat rasa asam menyapa lidahnya.
Daehyun mendengus "aku akan bunuh diri maksud mu?"
"tidak, yeah.. mungkin menabrakan diri ke rel kereta"
"apa bedanya dari bunuh diri"
Youngjae tertawa kecil, memukul lengan Daehyun lalu menumpukkan dagunya pada pembatas jalan.
"Himchan sudah terlebih dahulu memberitahu ku, seharusnya aku memberitahu mu ya" suaranya terdengar menyesal.
"itu akan jauh lebih kacau"
Entah darimana Youngjae mengetahui tempat ini. sebuah flyover yang tidak lagi digunakan, jalanan sepi dengan beberapa segerombolan anak-anak muda di ujung jalan yang bernyanyi tidak jelas.
"setelah ini terjadi, bagaimana?" Youngjae melirik ke arah Daehyun.
Pemuda itu mengusap hidungnya yang dingin, lalu menarik nafas panjang.
"kacau"
Satu kata itu sudah mendeskripsikan segalanya. Raut wajahnya yang lebih dari kata kacau. senyuman paksaan setiap kali Youngjae memberikan lelucon konyol.
"kacau.."
Pengulangan kata itu sudah benar-benar menunjukkan bagaimana rasa dalam hati Daehyun.
"k-kacau kau tahu?"
Daehyun menundukkan wajahnya, seolah tak membiarkan angin untuk melihat wajahnya yang muram.
"entah bagaimana aku harus bersikap saat ini" suara Daehyun serak.
"bersikap seperti Jung Daehyun" ujar Youngjae.
"Jung Daehyun sudah kacau Youngjae-ya.. kacau"
Kata yang diulang dan terus diulang semakin menjerat segalanya. Sesakit itukah?
Youngjae menarik tisu yang sengaja dibelinya di supermarket , mengusap air mata yang dengan tenangnya mengalir di pipi sahabatnya.
Tak ada isakan..
Tenang..
Daehyun hanya membenturkan kepalanya ke pembatas jalan lalu tertunduk , tubuhnya perlahan merosot lalu tertumpu pada lututnya.
"kacau"
Lima kali..
.
.
Zelo memandang lurus, sesekali mengusap air matanya atau meminum segelas susu yang dibuatkan Himchan untuknya.
Tak ada kata yang diucapkan, mengedipkan matanya berkali kali untuk mereda air mata yang terus ingin keluar. Susu yang manispun terasa hambar, Zelo mendengarnya, penjelasan Yongguk yang diselingi Himchan. Zelo tak mampu berkata, meremas jemarinya yang sangat dingin dan menatap kosong.
"junhong-ah" sang kakak menyentuh jemarinya namun Zelo menariknya perlahan, tak mengijinkan kehangatan merayap sedikit saja pada kulitnya.
"jika kau marah katakanlah" Himchan bersuara.
"a-aku tidak" suaranya terbata, lalu dengan ringkih bangkit berdiri.
Yongguk menyangga sikunya, namun Zelo segera menepis tangan Yongguk.
Dengan langkah lunglai berjalan menuju kamarnya, bahkan Zelo harus meraba pada dinding agar kakinya mampu untuk melangkah, diiringi rasa sesak akan tatapan sang kakak yang terluka.
Yongguk menatap punggung ramping adiknya yang menghilang di balik pintu kamarnya. Kosong mata Zelo yang menatapnya membuat hatinya teriris, Yongguk menutup wajahnya dengan tangan.
"harusnya kita tidak berbuat ini. harusnya kau tetap bersama Daehyun dan jangan pilih aku. harusnya ini tidak terjadi, harusnya Zelo tak bertemu dengan Daehyun"
"sudahlah" Himchan mengelus punggung Yongguk.
"kau dengar?" Yongguk membentaknya, menghadapkan wajahnya pada Himchan.
"kau seharusnya tidak bersama ku, Kim Himchan"
Himchan hanya diam, memandang mata Yongguk yang terasa menusuk.
"sudah?"
Tatapannya melunak.
"kau menyalahkan ku?"
Yongguk menggapai jemarinya.
"jadi ini semua karena aku?"
Yongguk memeluknya. Erat. membiarkan mata dingin Himchan mencair dengan sendirinya.
"maafkan aku"
"ini sudah terjadi, dan yang kau lakukan hanya menyalahkan ku" teriak Himchan dipundak Yongguk.
"yang seharusnya kau takutkan adalah diri mu sendiri" bisik Himchan. "bukan aku.."
"yang akan hancur dan memaki semuanya bukan aku, tapi kau" lanjut Himchan, membenamkan wajahnya pada pundak Yongguk.
Himchan benar..
Yang akan menyesal adalah dirinya sendiri..
.
.
"hyung akan menginap dirumah Daehyun hyung?"
Youngjae mengangguk "sepertinya iya, aku tidak bisa meninggalkannya dengan kondisi yang kacau seperti itu"
Jongup mengangguk paham "baiklah, jaga kesehatan mu hyung"
"Jongup"
Youngjae memanggilnya kala tubuh Jongup sudah separuh hilang dibalik pintu.
"Ya?" Jongup dengan segera menepis pintu yang hendak tertutup.
Youngjae memeluk tubuhnya. Erat. sangat erat.
Jongup mengusap punggung Youngjae yang hangat. Mengecup pundak Youngjae dan berbisik tentang keadaan Youngjae.
"tetap disisi ku ya?".
.
.
Jongup tercekat, lengan Youngjae semakin mengurungnya, lalu semua rasa dingin pergi entah kemana, tergantikan hangatnya deru nafas Youngjae.
"saat ini, aku membutuhkan mu.."
Jongup tersenyum tipis.
"aku disini,hyung.. dan akan tetap disini" Youngjae tertawa kecil, lalu memukul kecil dadanya.
"berhati-hatilah"
Jongup mengusap rambut Youngjae.
Youngjae memajukan tubuhnya, lalu mengecup pipi Jongup dengan cepat.
"aku mencintai mu"
Youngjae langsung membalikkan tubuhnya, menolak memperlihatkan pipinya yang memanas.
Jongup hanya berdiri mematung, dengan jemari yang mengusap pipinya.
Hangat...
.
.
"sudah kukatakan, bangunkan aku jam 8" Daehyun memakai kemejanya dengan gusar.
"jangan salahkan aku, siapa yang membuat ku berjaga sampai jam dua pagi hah?" Youngjae berkacak pinggang diambang pintu kamar Daehyun. memperhatikan sahabatnya yng sibuk memakai sepatu.
"memangnya ada apa sih? ini hari sabtu" Youngjae membantu Daehyun yang kesulitan dengan kerah kemejanya.
"aku ada janji. Nanti aku ceritakan" Daehyun mengusap rambut Youngjae.
Entah bagaimana hidupnya tanpa ada Youngjae. sahabatnya yang benar-benar menumpu tubuhnya saat limbung. Jika tak ada Youngjae, dipastikan dia tidak akan baik-baik saja saat ini.
"Daehyun-ah, jangan berbuat macam-macam"
Daehyun berdiri tegak di depan lemari pendingin, mengambil sekaleng kopi.
"apa yang kau khawatirkan?"
"kau"
Youngjae duduk di ruang makan.
"kau. Kau sedang kacau. jadi jangan memikirkan hal-hal buruk. Jangan terlalu mengambil keputusan dengan sepihak. Bicarakan dahulu"
Wajar jika Youngjae khawatir. Kehilangan Himchan dulu sudah menjadi pelajaran sekacau apa jung Daehyun. dan kini, kekacauan itu hinggap kembali. Kini, Youngjae bertekad akan mengawasi Daehyun dengan seksama.
"aku tidak akan berbuat macam-macam, tenang saja"
"kau ingat saat aku bertanya tentang Zelo?"
Youngjae menatap Daehyun yang meneguk kopi dengan pelan.
"kau tidak akan meninggalkan Zelo, aku memegang ucapan mu" lanjut Youngjae.
Youngjae bangkit berdiri.
"ini bukan salah Zelo" ucap Youngjae tenang. Dia butuh Daehyun yang diam untuk mengatakan hal ini. Daehyun kini terlihat baik-baik saja "Zelo tidak tahu apa-apa"
Youngjae bergerak meninggalkan Daehyun "jangan salahkan Zelo" lanjutnya.
"cepat pergi, ini sudah hampir jam 9"
.
"aku keluar sebentar"
Zelo menunduk, memperhatikan jari-jari kakinya yang tertutup kaus kaki.
"mau kemana?" Himchan bertanya dengan senyuman.
"membeli sikat gigi baru"
"mau ku temani?" aju Yongguk.
Zelo menggeleng cepat "tidak usah, lagipula supermarket hanya didepan jalan, sepuluh menit lagi aku kembali"
Zelo terus menunduk, memakai sepatunya dan terus menunduk saat keluar dari apartemennya. Zelo tidak ingin Yongguk dan Himchan tahu jika matanya bengkak. Dia tidak ingin Yongguk merasa bersalah akannya. Zelo semalam mendengar, pertengkaran sang kakak dengan Himchan. Dan itu membuat Zelo semakin bingung. Tak ada yang bisa disalahkan disini.
Zelo tetap menunduk, menyapa anak kecil yang tinggal disamping apartemennya.
Suara denting lift yang ditunggunya membuat Zelo sedikit mengangkat wajahnya.
.
DEG.
.
Daehyun didalam sana, menatap Zelo dengan diam.
Zelo terdiam, dia menelan kasar air ludahnya.
Bergerak, ayo bergerak..
Tapi dia tetap terdiam. saat pintu lift hendak tertutup., dengan cepat Daehyun menyentuh tombol didalamnya hingga terbuka kembali.
"Ayo masuk"
Daehyun tersenyum. Zelo tak bisa untuk tak membalas senyuman Daehyun.
Dia melangkah ragu, berdiri dengan jarak pada posisi Daehyun.
"mau kemana?"
Sejak kapan dinding canggung ini terbentuk? Sejak kapan Daehyun tak berani mendekat dan dirinya juga tak berani mengambil langkah?
"membeli sikat gigi" jawabnya pelan.
Daehyun tak bisa menahan senyum, dia mengusap rambut biru Zelo yang lembut.
"Bukannya baru dua minggu kemarin kau menggantinya?"
"terjatuh kedalam closet"
Daehyun tertawa kecil, memang Zelo yang bisa membuatnya seperti ini. pagi hari yang suram pun seakan bersinar jika ada Zelo disisinya. ceroboh.
"Ayo"
Daehyun menggenggam jemarinya, mengajaknya keluar dari lift.
Zelo tak bisa.
Apakah.. dia merasa bersalah?
Apakah kesalahan Yongguk membuatnya tak berani untuk menatap Daehyun?
Bisakah dia mengatakan beribu maaf untuk kesalahan yang sudah Yongguk lakukan?
"mau ku temani?"
Daehyun mengusap pipinya yang dingin.
Zelo menggeleng. Dia tidak bisa..
.
.
dia yang tidak bisa bertemu Daehyun.
.
.
Dia yang tidak bisa melihat tatapan Daehyun.
.
.
Dia yang tidak bisa memaafkan Yongguk.
.
.
Dia.. yang menjauh dari Daehyun.
.
.
"jangan" Zelo menahan dada Daehyun yang mendekat.
Terpaan hangat nafas Daehyun membuat tubuhnya menolak.
Zelo melangkah mundur. Memberikan jarak yang cukup bagi Daehyun untuk tertegun.
.
.
"jangan... dekati aku"
Setelahnya.. sosoknya yang indah pergi bersama biasan matahari pagi pada wajahnya.
...
"Jung, kau kenapa?"
Youngjae melepaskan lengan Jongup yang melingkar di lehernya.
Daehyun berjalan menuju kamarnya, lunglai. Tas dipunggungnya begitu saja lepas, bahkan Daehyun tak melepas sepatunya dan tetap berjalan.
Jongup memandang Youngjae, dan Youngjae mengangkat bahunya tak mengerti.
"aku akan menyusulnya" Youngjae menepuk pipi Jongup. pemuda itu mengangguk dan kembali fokus pada layar televisi, tapi diam-diam, matanya menatap sosok Youngjae yang masuk kedalam kamar Daehyun.
Ayolah, moon Jongup. Daehyun sahabatnya.
"Hey, ada apa dengan mu?"
Daehyun langsung berbaring di tempat tidurnya, menyembunyikan wajahnya di atas bantal.
"Nyatanya dia yang menjauhi ku"
Suara Daehyun teredam, tetapi Youngjae masih bisa mendengarnya. Daehyun tetap bertahan pada posisinya.
"Dia yang menjauhi ku Youngjae-ya. bukan aku. dia"
Youngjae duduk disisi tempat tidur Daehyun. mengusap punggung Daehyun yang tak bertenaga.
"dia... menjauhi ku"
Youngjae tak mampu berkata apa-apa. hanya bisa menemani Daehyun yang semakin kacau.
.
.
Yongguk masuk kedalam kamar Zelo. kamar dengan dominasi biru. Adiknya itu sedang duduk diatas tempat tidur, memandangi jendela dengan pandangan kosong.
Dia ingin mendengar suara bahagia Zelo. suaranya yang ceria saat menceritakan tentang Daehyun.
Dia menghancurkan semuanya.
Bahkan Zelo kini lebih buruk dari keadaan tujuh tahun lalu.
Yongguk membenci matanya yang kosong. Mata indahnya tak seharusnya terlihat suram. Yongguk teringat poto yang dikirimkan Zelo padanya seminggu yang lalu, sebuah poto Zelo dengan Daehyun yang sedang memegang es krim di kedua tangan masing-masing.
Sinar mata itu..
Sinar mata Zelo yang bersama Daehyun..
Mata itu yang ingin sekali Yongguk lihat.
"waktunya makan malam"
Yongguk duduk ditepi tempat tidur Zelo. sang adik terkejut, dia memundurkan tubuhnya sedikit.
Menjauhi..
"aku tidak lapar"
Yongguk mengulurkan tangannya. Zelo menatap telapak tangan Yongguk dengan pandangan bingung.
"Ayo makan"
Ini cara Yongguk membujuknya, dulu.. sang mama sering melakukan hal itu. mengulurkan tangan dengan senyuman dan ajakan makan malam.
"hanya ada kau dan aku sekarang" Yongguk bergerak mendekat. Mengusap punggung tangan Zelo yang dingin.
"jika kau bersikap seperti ini, siapa lagi yang aku punya?"
"aku bahkan bukan.."
"jangan pernah mengatakan hal itu" Yongguk meremas jemari sang adik.
"maafkan aku"
Zelo tertunduk, memainkan jemari sang kakak.
Bagaimanapun Zelo tak bisa marah ataupun menyalahkan Yongguk. Ini bukan kemauan siapapun. Ini berlalu.. berlalu tetapi sulit untuk menyatukannya seperti semula.
"Himchan sudah memasakkan masakan kesukaan mu, ayo"
"baiklah baiklah.. kita lihat apakah Himchan hyung masih bisa membuat ku terkesan"
Zelo mengikuti langkah Yongguk.
Kakaknya benar..
Hanya tinggal Yongguk lah yang dia punya.
.
.
Daehyun... haruskah dia melepaskannya?
"waktunya makan malam. Ya, jung Daehyun!"
Youngjae mengikuti arah matanya pada sosok Daehyun yang masuk kedalam kamar.
"apa-apaan dia, keluar hanya untuk mengambil kopi lalu masuk kembali"
Youngjae melempar apron yang dipakainya.
"Hyung, mau kemana?" Jongup menahan lengan Youngjae.
"aku akan menyeret si Jung bodoh itu"
"Hyung, biarkanlah"
"apa yang biarkan? Dia bahkan belum makan sejak tadi pagi. Yang di minum hanya kopi. Akan kubakar kopi-kopi itu"
"Hyung"
Suara Jongup yang terdengar lelah membuat Youngjae menatap wajah kekasihnya itu.
"Daehyun hyung butuh waktu sendiri. temani dia itu lebih baik dari memarahinya"
Ya. Jongup benar. Daehyun butuh waktu sendiri.
"t-tapi.."
"ayo kita makan" Jongup menarik lengan Youngjae hingga pemuda itu terduduk.
"makan, aaaa buka mulut mu"
Dan Youngjae tersenyum lalu membuka mulutnya.
...
Daehyun meneguk kopi ke lima nya.
Mengunci pintu kamarnya rapat-rapat hingga suara Youngjae tak terdengar kembali.
Sesuatu mendesaknya.
Suara alunan musik memenuhi ruangan kamarnya.
Alunan... sendu.
Peneman sepi pada hatinya yang sesak.
Ingin lepas...
Rasa sesak.. bagaimana membuatnya pergi?
Bagaimana membuatnya hilang?
Ini tidak semakin jelas. Ini..semakin buruk.
Daehyun menyapukan telapak tangannya pada wajah.
"kenapa bersama mu sesulit ini?"
"kenapa kau harus adik nya?"
.
.
"kenapa.. kau menjauhi ku?"
.
.
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.
..
"kau pernah berkata tak ada yang perlu aku takutkan dari korea" Zelo memainkan mug berisi cola didalamnya.
Tawaran Himchan akan segelas susu coklat pun ditolaknya. Ada yang salah dengan lidahnya. Tidak... yang lebih salah ada didalam hatinya.
"lalu?" Yongguk menjadi peneman. Pemuda itu duduk disamping Zelo.
Cahaya televisi beradu dengan sinar mata Zelo yang redup. Matanya tetap menatap lurus.
"aku tidak takut pada korea, yang ku takutkan hanyalah kenangannya" Zelo menarik nafas panjang.
"kini aku sudah bisa mengatasi kenangan itu, aku sudah bisa melangkah di jalanan saat orang tua kita meninggal. Aku sudah bisa menatap matahari pagi Seoul yang indah, aku sudah bisa mengangguminya. Kau benar hyung.. tak ada yang perlu aku takutkan dari Korea" Zelo tersenyum tipis, matanya seolah berbicara.
"tapi kini.. Korea kembali memberi sebuah kenangan" suara Zelo kini semakin mengecil.
"dan jika kau membawa ku pergi sejauh apapun, kenangan itu tidak bisa lepas dengan mudah. jadi, jangan bawa aku pergi lagi" Zelo menunduk.
"bairkan aku disini, bersama kenangan yang sudah aku buat. Jangan cegah aku. jangan ajak aku lari lagi dari semua kenangan"
Matanya memanas, Yongguk tak berkata apapaun. Tertegun. Ternyata adikknya berfikir jauh seperti itu.
"membawa mu pergi dari sini adalah keputusan yang berat. Dan mungkin juga salah. Kau masih kecil. kenangan itu tidak bisa kau tampung sendiri disini" Yongguk mengetuk pelipis Zelo.
"dan untuk kenangan yang sekarang.. cobalah simpan disini.." Yongguk menyentuh dadanya "simpan di hati mu jangan simpan di dalam kepala mu"
"aku berjanji tidak akan membawa mu lari kembali. Aku akan berdiri disamping mu, dan menggenggam tangan mu seperti ini" Yongguk menggenggam erat tangan Zelo.
"ini semua salah ku" Yongguk menatap sang adik dengan sedih.
"jangan terlalu berlembut hati"
Mereka satu. Saat mereka sakit. mereka akan terlihat sakit keduanya. Saat yang lain bersalah, maka yang lain akan meminta maaf.
"kau mencintainya kan?"
Tentu saja Zelo mengangguk.
.
.
Aku seorang kakak yang buruk.
...
"hentikan" suara Sehun sangat tajam.
"apa?" sahut suara diujung sana.
"hentikan semuanya, Jongin-ah" Sehun meremas ponselnya terlampau erat.
"bilang padanya jika kau tidak mencintainya. lepaskan dia.. biar dia untuk ku" Sehun meremas rambutnya.
"bilang padanya kau punya orang lain disana" lanjut Sehun. tubuhnya terjatuh, bersandar pada pintu kamarnya. Gelap. Sehun tak berniat untuk membuatnya terang.
.
.
"Ceraikan.. dia"
...
Kau terus menjauh..
Semakin hari...dan terus menjauh...
Bahkan tangan ku terlalu jauh untuk mencapai mu..
Kau menjauh..
...
Himchan bersandar pada dinginnya dinding.
Dia masih mendengar, derai tawa ringan Yongguk dan Zelo. sebelumnya, percakapan mereka yang sebelumnyalah yang membuat tubuhnya lemas.
Anggukan Zelo.
Pertanyaan Yongguk.
Zelo.. mencintainya dengan sangat.
Demi tuhan, rasanya untuk Daehyun tak sebesar itu. ini yang membuatnya lemas. Fikiran bodohnya.. semua kata 'andai' bermain.
Andai dia tidak bertemu Daehyun..
Andai dia tidak menerima Daehyun..
Andai dia tidak dengan bodoh bermain semuanya dengan mudah..
Andai dia memilih Daehyun..akankah Zelo tetap bertemu Daehyun..
Andai.. andai..
Himchan mengambil Coat-nya. memakainya dengan terburu.
"aku keluar sebentar, membeli minuman"
"berhati-hatilah" Yongguk memberinya senyuman, dan Zelo bahkan tak mau menatap matanya.
Andai..
Andai..
Andai...dia bertemu Daehyun sekarang?
...
"Daehyun-ah, ayo keluar.. makan malamnya sudah dingin, Daehyun-ah" Youngjae tetap mengetuk pintu kamar Daehyun dengan kesal.
Jongup berdiri tak jauh dari Youngjae, memperhatikan wajah Youngjae yang khawatir. Jongup menarik nafas panjang, berlalu dari tempatnya dan memilih untuk menonton televisi.
Entah kenapa sejak kemarin.. ada yang berbeda dengan dirinya.
Mungkin.. karena perhatian Youngjae yang terlalu berlebih?
Entahlah..
"Jongup-ah.. bantu aku merayu Daehyun untuk makan" Youngjae menggoyangkan lengannya.
"kalau lapar dia pasti akan makan hyung" Ujar Jongup malas.
"kenapa kau terlihat santai seperti ini? dia belum makan dari pagi.."
"siapa aku?" Jongup bertanya dengan cepat. memandang Youngjae dengan dingin.
"hah?"
"yang kekasih mu itu sebenarnya siapa?"
DEG
Youngjae terpaku.
Dia... separah itukah dia mengabaikan Jongup?
"k-kau" jawab Youngjae terbata.
"Kau tidak melakukannya. Aku? jangan menangis.." Jongup bangkit berdiri dan memeluk Youngjae.
"sudahlah jangan menangis hyung. maaf. Aku tahu kau lelah, Ya, aku tahu Daehyun hyung sedang kacau." Jongup menarik nafas panjang "tidak apa-apa lupakan apa yang aku katakan" Jongup mengusap punggung Youngjae.
"bodoh, Jongup bodoh. Jangan pernah berkata seperti itu lagi. kau dan Daehyun tentu saja berbeda. rasa khawatir ku karena dia adalah sahabat ku sejak kecil. aku menangis di dadanya sebelum ada kau, tentu saja aku mengkhawatirkannya" Youngjae memukul lengan Jongup "dia yang lebih tahu banyak tentang diri ku, dia seperti bayangan ku.. karena dia benar-benar sahabat ku"
"sudah.. kukatakan, tetap disisi ku" Youngjae berbisik lirih.
"iya aku mengerti"
Rasa cemburunya memang tak beralasan. Rasa kesalnya tak tahu harus ditunjukkan kepada siapa.
Dia hanya menginginkan.. Youngjae seutuhnya.
Sejak hubungan mereka membaik, hubungan Daehyun lah yang tidak baik-baik saja. Jongup hanya perlu menunggu hubungan Daehyun membaik, dan semua.. akan baik seperti semula.
Suara ketukan di pintu apartemen membuat Youngjae melonggarkan sedikit dekapannya pada Jongup.
"mau aku bukakan?" Jongup bertanya.
"tidak, biar aku saja"
Youngjae mengecup pipi Jongup sekilas, beranjak menuju pintu.
"Ya?" Youngjae membuka pintu.
Youngjae mengeratkan dagunya.
Sosok Himchan berdiri didepannya.
Rambutnya yang merah kelam.
Senyumannya yang manis..
Itu tetap seperti semula.
"Himchan-ah" Youngjae tersenyum tipis.
Himchan membalas senyuman Youngjae, mata Himchan menelusuri ruangan dimana Jongup tengah duduk..
"mencari Daehyun?"
Youngjae menebaknya dengan sangat tepat. Himchan mengangguk kecil.
"dia ada?"
"tentu saja, tapi semenjak sore ini dia tidak keluar dari kamar" Youngjae mempersilakan Himchan masuk, melemparkan bantal sofa ke arah Jongup yang memandang tak mengerti.
"bangun" desis Youngjae.
Jongup mengerti, tatapan Youngjae seperti itu.. sangat mengerti. Jongup berdiri disamping Youngjae dan menggenggam erat jemarinya. Youngjae sedang butuh tumpuan..
"apakah menurut mu dia akan keluar jika aku yang memintanya?"
Youngjae menatap pintu kamar Daehyun.
"mungkin saja, mau mencoba?"
Himchan mengangguk, dia melangkah mengikuti Youngjae. berdiri didepan pintu kamar Daehyun yang terbuat dari kayu berat. Berwarna coklat, Himchan membayangkan.. setiap hari Daehyun menyapa dinginnya pintu kayu ini.
"Daehyun-ah, ada..seseorang" Youngjae mempererat genggaman tangannya pada Jongup.
"siapa?" suara Daehyun didalam sana.
"keluar saja nanti kau akan tahu"
"tidak mau. Bilang saja aku sudah tidur"
Youngjae menepuk keningnya. Himchan disampingnya hanya tersenyum tipis.
Tetap...jung Daehyun. suaranya tetap sehangat dulu.
"dia berdiri didepan pintu kamar mu, bodoh. Dia mendengar mu"
"siap-?"
Daehyun tertegun, melihat Himchan berdiri tepat didepannya.
Apa yang bisa dilakukannya kini?
Membanting pintu tepat dihadapan Himchan? Mengurung dirinya kembali? Atau.. merayapkan jemarinya pada pipi Himchan yang halus?
"kau.. kenapa.." Daehyun melayangkan tatapan protes ke arah Youngjae.
Youngjae mengangkat bahunya. Bersembunyi dibalik punggung Jongup.
"mungkin.. kau bisa berbicara. meluruskan semuanya"
Youngjae menarik Jongup menjauh dari Daehyun dan Himchan yang hanya bisa bertatapan.
...
"apa yang bisa aku lakukan?"
Luhan melirik ke arah Sehun duduk. Wajah adiknya terlihat pucat.
"tidak ada"
"hyung... jongin.."
"cukup"
Luhan meremas pundak Sehun, adiknya tetap terkulai. Bahkan tak berani menatap mata Luhan.
Sehun hanya tak mau terjatuh kembali pada Luhan.
"itu tak merubah apapun" Luhan berujar lembut.
"cinta mu tak merubah apapun, Sehun-ah. Kau tetap adik ku. dan aku, tetap menunggu jongin"
Tidak bisa, Luhan sebenarnya tidak bisa melihat wajah Sehun yang sakit. jangan.. Oh Sehun jangan membuat hatinya lemah seperti ini.
"tidak ada yang perlu kau lakukan, setidaknya untuk ku. tapi lakukanlah untuk diri mu sendiri. misalnya, mencari orang lain" Luhan tersenyum tipis. Senyuman kebohongan.
"carilah orang lain untuk kau cintai"
"tidak bisa" Sehun menggeram dan melepaskan jemari Luhan di pundaknya.
"berkata mencari orang lain memang mudah, tapi menjalankannya yang tidak mudah" Sehun benar-benar ingin menyadarkan Luhan.
sadarlah.. aku sangat mencintai mu, hyung..
"lebih baik aku mati, daripada harus menjalin hubungan yang selama ini kau inginkan. Aku tidak mencintai mu. aku kakak mu.. dengarkan aku sekali lagi" Luhan menahan pundak Sehun yang hendak berdiri, menghempaskan tubuh Sehun yang sudah lemah.
"aku tidak mencintai mu"
Keras kepala..
...
"kau butuh bertemu Daehyun"
Zelo tertawa kecil.
"tidak juga, aku baik-baik saja" Zelo tersenyum ke arah sang kakak.
"bercerminlah dan katakan itu dengan baik" Yongguk menarik nafas "lihat wajah mu, bagaimana bisa kau katakan itu baik-baik saja. aku yakin, Daehyun tak menyalahkan mu, dia masih mencintai mu" Yongguk mengelus pipi sang adik.
"aku meyakinkan diri ku seperti itu juga,hyung" Zelo menumpukan dagunya pada bantal sofa "lalu tiba-tiba pertanyaan itu timbul. Apa yang akan aku lakukan jika aku berada diposisinya? Apakah aku akan marah? Kecewa? Tentu saja kan?"
Maaf apa lagi? berapa kali lagi Yongguk harus menggumamkan kata maaf dalam setiap kata yang diucapkan Zelo.
"itu yang membuat ku menarik diri. Aku pasti akan menjauhinya jika aku berada diposisinya, hanya orang bodoh yang berfikir akan baik-baik saja"
Yongguk tertawa, "bukannya itu memang Daehyun?"
Zelo memandang Yongguk dalam.
Sebentuk senyuman tersemat di wajah manisnya.
...
Mata indahnya masih tetap sama. Menghipnotis siapa saja yang nelihatnya. Tajam. Namun lembut. Daehyun menurunkan pandangannya. Tidak. Dia memutar tubuhnya hingga menyamping. Tak ingin lebih jauh mengaggumi sosoknya yang memang sangat indah.
"Ada apa?" Bersuara sedingin mungkin. Gagal. Daehyun memang sangat menyayangi sosoknya.
"Berbicara dengan mu" Himchan tersenyun tipis. Berani mengangkat wajahnya demi menyapu angin malam. Kering. Beradu dengan nafasnya yang sesak.
"Bagaimana kabar mu?" Suara Himchan tetap semanis madu.
"Masih bertanya bagaimana kabar ku? Tidak lihat?"
Himchan tertegun. Dilihat dari posisinya kinipun dia sudah tahu. Tubuh Daehyun yang kurus, pipinya yang semakin tirus. Jangan lupakan kantong matanya.
"Kau berjanji akan hidup baik" Himchan tak berani melawan suara angin. Berhembus kencang hingga menerbangkan rambutnya yang rapi.
"Akankah kau hidup baik jika tiba-tiba saja Yongguk meninggalkan mu demi sahabat mu?"
Telak. Himchan tak bisa menjawab
namun dia juga tidak mau keheningan menyelimuti keduanya.
"Telatkah jika aku mengatakan...maaf?"
Daehyun membiarkan angin menusuk wajahnya. Menyembunyikan luapan rindu yang mencapai tenggorokan dan terasa sakit hingga ke jantungnya.
"Sangat"
Himchan tersenyum tipis. Tak sadar Daehyun melihatnya
Senyumannya.. tetap sama. Tetap memabukkan. Wajar saja jika Daehyun bertarung mati-matian untuk sosok Himchan disampingnya. Wajar jika Yongguk bersikukuh mengharap Himchan saat dirinya memiliki Himchan.
Himchan berharga.
"Kau boleh marah pada ku. Tapi tidak dengan junhong" Himchan bersuara dengan tenang. Namun matanya memerah.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mau memaafkan ku. Tapi jangan bersikap jauh dari junhong"
Ya... tidak ada yang bisa menolak diri untuk melindungi sosok malaikatnya. Semua orang menyukainya. Semua orang terpesona akan senyumnya.
"Aku tidak Himchan-ah"
Daehyun menyebut namanya. Perasaan bahagia tak bisa dicegah. Rasa ingin memeluk. Tidak. Oh tidak. Daehyun pasti akan mendorongnya.
"Dia yang menjauhi ku" Daehyun menarik nafas panjang.
"Aku bersedia menantang Yongguk untuk mendapatkan mu, mengkhianati segala persahabatan yang sudah ada. Tapi aku rasa itu tidak cukup untuk mempertahankan Zelo. Aku butuh perjuangan yang lebih. Dirinya... entahlah" Daehyun tersenyum "terlalu indah. Pengorbanan ku terasa kecil sekali untuknya"
Sama-sama berhati lemah.
Daehyun dan Zelo sama-sama tak mau menyakiti. Mereka berdiri di area aman tanpa menyadari jika itu menyakiti hati masing-masing.
Daehyun tak tahu. Berbincang seperti ini dapat membuatnya nyaman. Apa karena memang dia sudah terbiasa berbicara dengan Himchan? Sudah saling mengetahui hal apa yang disuka hingga tak ada batasan untuk diam.
Daehyun ingin tertawa bersama bayangan indahnya yang berpendar. Daehyun sekali saja. Mungkin untuk terakhir kalinya. Meremas jemari Himchan yang halus.
"Apakah sekarang kau bisa memposisikan diri sebagai diriku?"
Daehyun mengerutkan keningnya.
"Apa yang ingin kau lakukan untuk junhong, itu yang kurasakan untuk Yongguk. Berani melakukan apapun. Rasakan?"
Himchan menarik tangannya. Menyentuhnya pada detak jantungnya sendiri.
"Ini pertanda jika kau memang bukan untuk ku"
Daehyun menarik nafas panjang. menatap pada sinar bulan yang berwarna keperakan.
"jadi kau masih tak mau memaafkan ku?" tanya Himchan dengan pandangan mata yang begitu bening.
Daehyun hening.
"juga Yongguk?"
Daehyun terdiam. persahabatan mereka begitu beharga, kenapa semua harus berakhir dengan saling mengkhianati? apa yang Daehyun fikirkan hingga dia memutuskan tali persahabatan itu.
"jujur, aku merindukan persahabatan kami. aku ingat percakapan kecil kami tentang sebuah keluarga. kadang, aku menyalahkan mu. kenapa kau hadir diantara kami? lalu aku menyalahkan Yongguk, kenapa dia bisa mencintai mu melebihi aku? lalu.. kesimpulan yang kudapat, adalah.. ini kesalahan ku, kesalahan seorang Jung Daehyun" Daehyun merasakan udara kering yang mengusap pipinya.
"jika aku tak menyukai mu, ini tak akan sulit, apakah.. ini juga kesalahan ku untuk menyukai Zelo?"
Himchan mencubit pinggangnya.
"Tentu saja tidak. kau tidak bisa menyalahkan cinta!" Himchan bersungut.
Daehyun tertawa kecil. Himchan masih sama. sosok pemuda bermulut pedas yang manis.
"dan ini bukan salah mu. bukan salah siapa-siapa. yang mungkin bisa kau salahkan.. adalah waktu" Himchan menepuk pelan pundak Daehyun.
Daehyun menarik siku Himchan dan memeluknya erat. pelukan menguatkan. Daehyun masih tidak bisa menerima kenyataan Zelo menjauhinya.
Dan untuk kali ini. Malam ini. Angin malam menusuk tulang menjadi pengaruh. Malam ini. Untuk malam ini.
Dia memeluk tubuh Himchan dengan erat.
"Malam ini saja"
...
Zelo terpaku pada tempatnya. Bersuaralah. Namun segalanya tetap bisu. Tenggorokannya begitu kering tak ingat jika dia sudah menghabiskan empat kaleng soda.
Jika tidak.. bergeraklah.
Tetapi tidak.
Panas.
Matanya memerah. Zelo menyentuh batang hidungnya. Terlalu banyak menangis. Nafas pun dia sulit. Yang ada hanya irisan bagai pisau yang menyayat segala sarafnya. Baik tubuhnya dan merambat pada organ paling sensitive, hati.
"Zelo ada apa? Sudah bertemu Daehyun? Dia tadi dibalkon bersama..." Youngjae menutup mulutnya. Dia menepuk keningnya. Terlalu senang bertemu Yongguk membuatnya lupa kehadiran Himchan tigapuluh menit yang lalu
Yongguk mengerti. Dia melangkah cepat ke arah Zelo,menutup mata Zelo dengan telapak tangannya.
Sial.
"Kau tidak lihat apa-apa. Okay, Junhong ah?"
Zelo menggeleng. Telapak tangan Yongguk basah. Tidak jangan menangis.
"Kau tidak lihat apa-apa" Yongguk berbisik dengan penuh keyakinan.
"Kau tidak melihat apapun"
Yongguk menatap tak berkedip, pada jemari Himchan yang meremas punggung Daehyun, mungkin..terlalu rindu.
Zelo mengangguk pelan.
"Aku tidak melihat apapun"
...
Daehyun menyapukan lidah pada bibirnya. Tubuhnya terasa lemas, setelah penjelasan Youngjae.
Daehyun meneguk kembali bir langsung dari botolnya.
Saat seperti ini, dia tidak bisa tenang dengan kopinya. Dia butuh yang lain.
Merutuki kebodohannya.
Bodoh.
"Dia.. melihat mu memeluk Himchan"
Lagi. Kesalahapahaman ini terus terjadi. Kenapa waktu tak bisa sedikit saja memihak pada dirinya dan Zelo. Kenapa waktu seolah membuat ini semua sulit.
Waktu..
Sial.
Daehyun meneguk kembali birnya.
"Dia menangis"
Cukup.
Daehyun menarik rambutnya.
Dia tidak bisa. Ini semua salahnya.
...
Hari ini Zelo sudah mulai masuk sekolah. Memulai ajaran baru dengan segudang pelajaran yang akan dilaluinya. Zelo membenarkan tasnya yang melorot. Beberapa temannya menyapa, kadang terhenti dahulu untuk mencubit pipinya.
Zelo merasa wajahnya sangat buruk tetapi mengapa teman-temannya berkata dia terlihat manis hari ini. Huh.. Zelo merapikan rambutnya dengan jemari. Bahkan dia belum mensisir rambutnya.
Zelo benar-benar tidak tidur. Dia keluar dari apartemen pagi sekali untuk menghindari Himchan. Zelo menemukan dirinya berdiri di loby cukup lama. Memandangi tempat dimana biasa Daehyun meminum kopi.
Dia merindukan sapaan pagi Daehyun..
Senyuman hangat Daehyun..
Zelo menggeleng cepat. Bayangan Daehyun yang tengah memeluk Himchan membuat nyeri merambat pada tubuhnya.
Zelo menatap pada sosok Sehun yang masuk kedalam kelas. Pemuda itu tersenyum dan membalas sapaan beberapa temannya.
Mungkinkah Sehun akan tetap duduk disampingnya?
"Selamat pagi" Sehun tersenyum. Dingin. Wajahnya sangat dingin.
Zelo menyipitkan matanya. Sehun meletakkan tasnya disamamping Zelo. Lalu tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuan Zelo.
"S-Sehun.."
"Aku mengantuk. Aku tidak bisa tidur. Please..."
Zelo akhirnya mengangguk. Ada yang aneh dari tatapan Sehun. Aneh. Mata yang berbinar itu kini benar-benar meredup seolah pemiliknya tak menginjinkan cahaya merambat memasuki matanya.
"Kau baik-baik saja?" Zelo mengusir anak rambut Sehun yang menutupi wajahnya.
Sahabat..
Hubungan mereka kali ini berdasarkan hal itu.
Sehun terdiam. Tak menjawab.
Mungkin tidur. Zelo mengangkat bahunya. Dia memainkan rambut Sehun yang berwarna pirang. Hampir menyerupai kulitnya yang putih.
Beberapa temannya tersenyum sambil menggoda Zelo perihal Sehun yang tertidur dipangkuannya. Zelo hanya menggeleng dan berkata agar jangan berisik.
Ada sesuatu yang terjadi...
Dengan Sehun... dan mungkin...Luhan?
..
"Hyung, kau yakin?"
Youngjae meringis pelan.
"Lebih baik melihatnya seperti ini daripada dia terus menerus meneguk bir"
Kini Jongup yang berganti meringis. Suara adu kulit yang memekakkan benar benar membuatnya tak tahan.
"Hey percaya tidak aku pernah berada disana?" Youngjae menunjuk arena ring tinju.
Jongup tertawa namun berikutnya langsung berdesis melihat tubuh Daehyun yang jatuh.
"Jangan bercanda"
"Lalu menurut mu waktu itu wajah ku babak belur karena apa?"
Jongup memandang Youngjae dengan serius.
"Kau.."
Youngjae mengangkat bahunya. Mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas untuk menyemangati Daehyun.
"Hidup kadang butuh pelampiasan, dan sakit fisik lebih baik daripada menyakiti nurani" Youngjae menarik nafas "sakit nurani akan lama untuk sembuh"
"Hei hentikkan Harry! Teman ku sudah payah" Youngjae berteriak ke arah arena ring tinju.
Jongup terdiam di posisinya.
Youngjae memang manis.
Tetapi dibalik manisnya, terdapat dirinya yang seteguh batu karang. Bahkan Jongup tak akan bisa meruntuhkan sikapnya.
Manis... keras kepala.
"Aku mencintaimu hyung"
Jongup berbisik sambil menyerahkan swetear pada Daehyun yang tengah memegang pipinya, mengelap sisa darah di sudut bibirnya.
Youngjae tersenyum lalu memukul lengannya.
"Tak bisakah kau mengatakannya dengan cara yang lebih manis?"
Jongup terkekeh. Mengusap rambut kekasihnya.
"Ku anggap itu ajakan kencan. baiklah, lusa pukul 5"
...
Youngjae memperhatikan Daehyun didepannya.
Pemuda itu tengah memasukkan makanan kedalam mulutnya. Memar biru terlihat dipipi,pelipis, juga sudut bibirnya. Youngjae merasa bersalah. Dia mengelap mulutnya dengan tissu.
"Apakah masih sakit? Aku akan menyiapkan batu es untuk mu"
Youngjae bangkit berdiri. Daehyun meringis tiap kali sumpit mengenai sudut bibirnya yang terluka.
"Sedikit. Tapi sudah berkurang"
Youngjae berdiri didepan mesin pendingin, mengambil beberapa batu es. Youngjae terduduk di samping Daehyun. Mengeluarkan sapu tangan dari kantung celana.
"Butuh bantuan atau sendiri?"
Youngjae meletakkan beberapa bongkahan es di atas sapu tangan
"Aku sendiri saja" Daehyun merebut sapu tangan yang berisi bongkahan batu es dari tangan Youngjae. Menempelkannya dengan hati-hati pada sudut bibirnya.
"hng.. Daehyun.. aku akan pergi malam ini bersama Jongup. jangan berbuat yang macam-macam, okay?" Youngjae menyipitkan matanya.
"kau fikir aku masih anak kecil?" gusar Daehyun.
"Ya, sakit hati membuat mu bertingkah seperti anak kecil" Youngjae mencubit lengan Daehyun.
"Jangan sentuh, tak kau lihat tubuh ku memar semua?" jerit Daehyun.
Youngjae tertawa ringan dan bergumam maaf.
kapan.. kapan ini semua, berakhir dengan mulus.
..
Daehyun memesan secangkir americano dan seperempat potong cheescake. Dia duduk ditempat biasa dia dan Youngjae berada. Memandang lurus pada kerumunan orang yang bercengkrama dengan sahabat, keluarga, maupun..kekasih. Daehyun menjilat bibirnya yang kering. Lalu mencengkram cangkir dalam genggamannya.
Daehyun tak mengerti apa yang harus dia tata dalam dirinya. Seakan dia tidak tahu apa yang telah hilang atau bahkan hancur dalam dirinya. Sesuatu dalam dirinya telah berubah, membuat segala pandangannya juga berubah.
Derai tawa ringan, namun mampu membuat Daehyun mengangkat wajahnya. Terlalu peka bahkan untuk suara kecil sekalipun. Daehyun menahan nafas.
Zelo. Masih mengenakan seragam sekolah, jas almamater berwarna biru tersemat di pundaknya, menggulung kemejanya hingga batas siku.
Matanya mengikuti setiap pergerakan Zelo. Dagunya mengetat saat melihat sosok pemuda bertubuh tinggi dengan kulitnya yang putih berjalan tak jauh dibelakang Zelo. Oh Sehun.
Daehyun menggeram kecil, tetap memperhatikan setiap gerakan yang kekasihnya buat. Ya. Bagaimanapun Zelo masih kekasihnya. Namun tawa kecil tiapkali Sehun berbisik ke arah Zelo membuatnya gerah. Daehyun bangkit, berjalan dengan tergesa ke arah mereka yang sedang memesan minuman. Daehyun menepuk pelan bahu Zelo. Pemuda itu membalikkan tubuhnya, wajahnya terkejut.
"D-daehyun...hyung"
Daehyun tersenyum tipis. "Ini sudah malam kenapa belum pulang?" Nadanya tak ramah, melirik tajam ke arah Sehun yang menjilat bibir bawahnya gugup.
"A-aku.."
"Dia menunggu ku" Sehun mendahului Zelo berbicara. Dia mengangkat bahunya acuh "Aku tertidur diatas pangkuannya, dia sangat baik hati bukan?" Sehun menepuk kepala Zelo yang terdiam.
Matanya tak lepas dari wajah Daehyun, bagaimana luka lebam berada diwajahnya, bagaimana senyuman Daehyun terasa sangat menyakitkan untuk dilihat. Kenapa...dia juga sakit?
"A-aku"
Daehyun mengulurkan lengannya. Zelo sungguh tak tahu harus berbuat apa. Dilain sisi dia merindukan Daehyun tapi berkelainan dengan otaknya yang terus mengulang bagaimana jemari Daehyun mengusap punggung Himchan dalam pelukan.
"Jika kau tidak bisa menjaganya, aku bisa merebutnya" suara ringan Sehun membuat Daehyun berdesis tertahan.
"Diamlah Oh Sehun" gerutu Daehyun. Zelo masih terlarut dalam fikirannya sendiri.
"Ini belum sebulan aku melepasnya dan kau sudah menyakitinya seperti ini, bukankah lebih baik dia bersama ku?" Sehun menarik pundak Zelo.
"Lepaskan tangan mu" Daehyun memandangnya tajam.
"Hentikan!" Zelo mendorong tubuh Sehun menjauh. Namun tak kunjung menjawab uluran tangan Daehyun.
"Yongguk hyung akan menjemputku nanti, tidak usah khawatir" bahkan Zelo enggan menatap mata Daehyun.
Tapi Daehyun seolah tak mendengar, menarik lengan Zelo dan membawanya keluar dari cafe. Zelo terpekik pelan, dia menatap Sehun meminta maaf, Sehun mengangkat bahunya dan tertawa pelan.
"Harus dipancing dahulu baru bergerak, tck"
...
Youngjae menatap lilin-lilin kecil tengah mejanya. Mengamati bagaimana lelehan lilin merah itu turun dan menumpuk didasarnya. Youngjar tersenyum tipis, memanjangkan lehernya dan mendapati Jongup tengah berjalan ke arahnya.
"Kau yakin baik-baik saja" Youngjae memberikan Jongup tissu.
"Hum.. aku baik. Hanya sedikit lelah" Jongup tersenyum dan mengelap dahinya dengan tissu.
"Tidak usah dipaksakan" Youngjae menggapai jemari Jongup dan meremasnya pelan.
"Apakah kau yakin aku bisa tanpa mu?" Jongup ikut meremas jemari Youngjae yang dingin.
"Hanya dua tahun, dan aku akan kembali ke Seoul"
Jongup memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Bagaimana jika aku gagal?" Gumam Jongup.
"Its okay, kita bisa terus berkomunikasi bukan?" Youngjae tersenyum.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah bagaimana bisa Jongup memesan khusus lantai dua sebuah restoran hanya untuk mereka berdua. Dengan lilin-lilin kecil disekeliling mereka. Hanya mereka berdua.
Jongup membuka matanya. Terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna biru tua yang dipakainya. Jongup bergumam kecil.
"Hyung, jika aku gagal. Itu berarti aku tidak bisa bersama mu untuk waktu yang cukup lama, ah sangat lama bagi ku" Youngjae tertawa kecil "A-aku.."
Youngjae menaikkan sebelah alisnya. Jongup dengan gugup menggapai kantung celananya, mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih bersih.
"Apakah ini bisa mengikat mu dengan ku?"
Cincin platina dengan tahta berwarna hijau zamrud.
"Mungkin memakai ini bisa membuat mu ingat jika kau memiliki ku" Jongup menggenggam jemarinya dan memasukkan cincin itu kedalam jemari manisnya.
Youngjae mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Bahkan indahnya zamrud hijau tak terlihat pada matanya yang berair.
Youngjae menarik tissu dan mengusap matanya.
"Bodoh, kenapa membuat ku menangis" Youngjae tak bisa menghentikan luapan gembira dihatinya, yang malah mendesaknya untuk menangis. Jongup mengusap punggung tangan Youngjae.
"A-aku salah h-hyung.."
"Tentu!" Youngjae membuang tissu dengan sembarang "Tentu saja aku akan selalu memakainya. Jika kaupun ikut bersama ku. Aku tidak akan melepaskannya" Youngjae terisak pelan "dan mana cincin milikmu, sini berikan padaku, aku akan memakaikannya dijari mu"
Jongup tersenyun kecil, tertawa bagaimana pipi Youngjae terlihat begitu menggemaskan saat menangis. Jongup sedikit memajukan wajahnya dan mengecup kening Youngjae.
"Aku mencintai mu" bisiknya pelan.
...
"Hyung lepaskan" gumam Zelo sambil menarik berlawanan arah pada gerak Daehyun. Membuat mereka terhenti sesaat.
"Choi Junhong, jangan macam-macam"
Zelo menyerah, membiarkan Daehyun terus menarik tubuhnya.
Mereka tiba disebuah flyover yang kosong, seperti belum dibuka untuk fasilitas umum. Sepi. Hanya ada mobil Youngjae - yang dipakai Daehyun - disisi kanan.
Daehyun memegang kedua bahunya. Menatap langsung pada mata Zelo.
"Kau membenci ku?"
Zelo melebarkan matanya. Dengan cepat menggeleng.
"Kau sudah tidak menyukai ku?"
Zelo dengan cepat menggeleng kembali.
"Lalu kenapa kau menjauhi ku?"
Telak. Zelo memalingkan wajahnya dan menggigit pelan bibirnya. Semilir angin membuat wajahnya kebas. Dia menggeliat pelan dan membuat cengkraman jemari Daehyun dipundaknya terlepas.
"Beri aku waktu" ucapnya pelan "Beri aku waktu untuk menerima masa lalu mu, hyung" Zelo meneguk air ludahnya kasar "Kau pun butuh waktu untuk menerima jika aku adalah adik Yongguk"
"Kau memerlukannya? Kau...apakah kau hidup baik-baik saja tanpa..ku?"
Tidak.
Jelas tidak.
Tak sadarkah Daehyun jika disekitar matanya terlihat lingkarang hitam karena kurang tidur? Bergelung didalam selimut namun tak kunjung tertidur. Hanya satu. Pemikiran yang membuatnya lelah mencoba untuk tidur dan berakhir dengan membuat segelas kopi.
.
Haruskah...dia mengakhirinya?
.
Lalu dia akan terduduk didepan televisi. Menutupi wajahnya yang merah karena menangis dengan pantulan sinar televisi.
"Aku tidak baik-baik saja" bisik Daehyun pelan. Merapatkan tubuh keduanya.
Namun Zelo menghindar. Mengangkat telapak tangannya agar Daehyun menjauh.
"Kau begitu kacau, saat kau menceritakan masa lalu mu, kau sangat membenci kakak ku. Lalu kemana perginya semua itu?"
Daehyun membeku. Perkataan Zelo memang benar.
"Aku memang membenci Yongguk. Sangat" suara Daehyun sedingin sapuan angin yang mengusap wajahnya.
"Kau"
Daehyun meremas pundak Zelo "kau yang membuat ku paham arti kehilangan yang sebenarnya. Kau. Kau menyadarkan ku... tentang bagaimana perasaan Yongguk terhadap Himchan. Aku... aku bahkan akan memperjuangkan mu lebih dari aku memperjuangkan Himchan"
Perkataan Daehyun menyerap. Namun.. ada apa? Apa yang dinantikan Zelo? Apa yang membuatnya bebas. Apa...yang membuatnya merasa kurang.
"Aku butuh waktu" Zelo menarik tas nya yang berada diatas kap mobil.
"Untuk apa lagi?! Choi Junhong!"
Daehyun mengejar sosok Zelo yang sudah berjalan menjauh darinya. Menggenggam pergelangan tangan Zelo agar pemuda itu berhenti melangkah.
"Lepaskan aku!"
"Tidak. Setidaknya biar aku yang mengantar mu"
"Aku bisa sendiri! Umur ku 18 tahun aku bukan anak kecil"
Mata Zelo berair. Dan itu adalah kelemahan Daehyun. Dia melepas pergelangan tangan Zelo dan membiarkan pemuda melangkah cepat meninggalkan dirinya.
"Ternyata benar... kau hidup baik-baik saja"
...
Zelo menghapus air mata dipipinya.
"Cengeng, jangan menangis lagi Choi Junhong"
Namun setetes air mata turun dipipinya dengan tenang. Ini ternyata menyakitkan. Dia tidak pernah menangis sesering ini dalam hidupnya. Saat menghadiri pemakaman orang tua nya Zelo selalu bersembunyi dibelakang tubuh Yongguk, tak ada air mata. Saat kenyataan pahit itu terus menerus menimpa hidupnya. Zelo tak bisa menangis. Untuk apa dia menangis?
Karena kehilangan memang sudah nyata akan dialami oleh setiap manusia.
Lalu kini... apa yang kau tangisi?
Kau..menangisi Daehyun?
Dia menangisi.. tak berdayanya ia tanpa Daehyun.
Lemahnya ia tanpa seorang Jung Daehyun.
...
Daehyun mengamati sosok Zelo yang terduduk ditepi trotoar. Sepi. Hanya beberapa sepeda motor dan mobil yang lewat. Zelo menghapus air mata dipipinya. Daehyun tersenyum miris.
Jangan menangis.
Aku membencinya.. karena aku tidak bisa berada disamping mu saat ini.
DEG
Daehyun melebarkan bola matanya. Dengan cepat turun dari mobil dan berlari ke arah Zelo.
"Lepaskan akuu" jerit Zelo sambil memukul lengan kekar yang menggenggam lengannya dengan tas.
Daehyun panik. Dia berdiri didepan Zelo setelah Zelo berhasil melepaskan lengannya. Menghalangi dua pemuda yang sepertinya terpengaruh dengan alkohol didepannya.
"Adik manis itu harus menemani kita malam ini" suara pemuda berambut tipis itu terasa seperi ditarik.
"Maaf, dia harus pulang saat ini" Daehyun menarik jemari Zelo dengan erat.
"Hey hey! Tidak bisa secepat itu" salah satu dari mereka menarik bahu Daehyun kasar.
Zelo tertegun, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia bodoh. Harusnya Zelo menurut saat Daehyun hendak mengantarnya.
"Masuk kedalam mobil" desis Daehyun.
Zelo menggeleng kuat.
"Untuk kali ini saja, turuti perintah ku"
Dan dengan tangan bergetar dan lututnya yang terasa lemas dia berlari menuju mobil Youngjae.
...
"Aku pul-"
Youngjae terhenti diambang pintu, tubuhnya didesak Jongup yang berdiri dibelakangnya.
"Hyung kenapa kau diam?"
Jongup memeluk pinggang Youngjae dan menggeser tubuh Youngjae yang membeku.
Jongup menyipitkan matanya.
"Itu Zelo dan Daehyun, bukan? Mata ku tidak salah bukan?" Bisik Youngjae padanya.
"Kau tidak salah" bisik Jongup sambil mencuri kecupan di pipi Youngjae. Dan dengan sukses dihadiahi cubitan kecil diperutnya.
Youngjae melepas sepatunya, lalu melangkah masuk kedalam ruang duduk.
Disana. Zelo tertidur bersandar disofa panjang dengan kepala Daehyun bertumpu pada pangkuan Zelo. Jemari panjang Zelo berada diantara rambut Daehyun. Daehyun meringkuk, menghadapkan wajahnya pada perut Junhong dan memeluk pinggang pemuda itu.
Youngjae baru saja hendak membangunkan Zelo saat bel apartemen Daehyun berbunyi.
Jongup dengan segera membuka pintu. Melihat Yongguk dan Himchan berdiri diambangnya.
"Aku kesini untuk mengantarkan baju tidur untuk Junhong" ujar Yongguk.
"Ah..silahkan masuk"
Yongguk tertegun. Melihat wajah tenang adiknya yang tertidur dengan kepala Daehyun dalam pangkuannya.
Adiknya memang sudah beranjak dewasa.
"Hey" youngjae tersenyum kecil.
"Uhm merela terlihat menggemaskan" ucap Himchan sambil meremas lengan Yongguk.
"Aku membawakan Zelo baju tidurnya. Dia berkata akan menginap disini karena sedikit kecelakaan kecil" jelas Yongguk.
Youngjae mengerutkan keningnya.
"Kecelakaan kecil?"
"Daehyun tidak memberitahu mu?" Tanya Himchan.
"Tidak. Sebenarnya, aku baru saja sampai disini" jawab Youngjae sambil meremas jemari Jongup.
"Yah.." Yongguk menggaruk tengkuknya "tadi Zelo menelpon ku dan berkata dia ganggu dua orang pria. Lalu Daehyun menolongnya"
Youngje mengerutkan keningnya.
"Yah.. kau tahu, berkelahi?"
Youngjae terperanjat. "Berkelahi?" Suaranya meninggi "astaga bahkan luka di wajahnya belum sembuh benar"
Suara melengking Youngjae sukses membangunkan Zelo. Pemuda itu bergumam kecil dan sadar jika dipangkuannya terdapat Daehyun. Daehyun bahkan tak terganggu sedikitpun. Tetap nyaman dan tertidur pulas.
"Hey, kau tidak apa-apa?"
Yongguk duduk disamping Zelo dan mengelus pipi adiknya yang lembut. Zelo mengangguk. Kakaknya terlihat begitu khawatir.
"T-tapi Daehyun hyung..."
Rasa bersalah kembali menguasainya, dia menunduk dan melihat sudut bibir Daehyn yang sedikit robek.
"Dia menolak saat aku ajak kerumah sakit" Suaranya menipis.
"Apakah lukanya parah?" Ingin rasanya Youngjae menarik kepala Daehyun yang tersembunyi dari perut Zelo untuk melihat bagaimana bentuk wajah Daehyun saat ini.
"Sepertinya begitu. A-aku harus bagaimana, hyung?"
Zelo menatap kakaknya dalam. Raut cemas di kedua bola mata Zelo tak bisa ditepis. Ada yang mengikatnya kuat... Jung Daehyun.
"Aku rasa yang terpenting bagi Daehyun adalah keselamatan mu" ucap Youngjae sambil tersenyum tipis ke arah Zelo.
"Jika dia berkata baik-baik saja. Itu berarti dia bahagia melihat mu tidak apa-apa. Si bodoh ini memang sok puitis, tapi dia tulus akan perkataannya"
Zelo terhenyak. Dia menatap kakaknya yang tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Mau ikut pulang atau tetap disini? Aku sudah membawakan piyama mu"
Zelo memutuskan untuk menginap diapartemen Daehyun. Sekali lagi menatap wajah Daehyun yang masih tertidur. Zelo memberikan kecupan ringan di pipi kakaknya sebelum pergi dan melayangkan senyuman kecil ke arah Himchan.
Youngjae duduk disisinya. Dan memintanya menceritakan perihal kejadian itu.
"Aku tidak menyangka Daehyun lumayan hebat bela diri" ucap Zelo sambil memainkan rambut Daehyun.
"Waktu masih sekolah kami ikut Hapkido. Hehehe. Lumayan, jika Jongup berani macam-macam aku bisa menendang tulang keringnya"
Jongup berdecih pelan "Jangan percaya, Youngjae bahkan tak berani membunuh semut"
Youngjae lalu mencubit pinggang Jongup, dan mereka saling menarik pipi masing-masing sambil bertengkar kecil.
Zelo tertawa, sudah lama dia tidak tertawa seperti ini.
"Berisik! Pergi kalian ke kamar"
Itu suara Daehyun. Zelo menatap pada Daehyun yang semakin mendesak wajahnya pada perut Zelo, tangan Daehyun mencari letak jemari Zelo dan membawanya menuju pipinya.
Zelo menepuk pipinya. Pipinya memerah.
Youngae terkekeh kecil dan menyandarkan tubuhnya pada dada Jongup.
"Baiklah baiklah, aku akan pergi mandi"
Youngjae bangkit bediri dan mengacak surai biru rambut Zelo.
"Ayo jonguppie" Youngjae menarik kerah baju Jongup.
Jongup tersenyum tipis pada Zelo, dan merelakan kerah bajunya ditarik Youngjae sampai dalam kamar tamu.
"Jadi, kau sudah bangun?" Zelo sedikit merendahkan wajahnya.
"Belum, aku mau tidur lagi" gumam Daehyun. Menggelitik perut Zelo akibat getaran suara Daehyun.
"Lagi?" Zelo mengerutkan keningnya.
"Hm, seminggu ini aku tidak bisa merasakan tidur dengan lelap"
Zelo bisa lihat senyuman tipis diwajah Daehyun.
"Biarkan hari ini, jika kau menginjinkan... tidurlah bersama ku"
"Hng?"
"M-maksud ku bukan tidur bersama dalam hal seperti itu" Daehyun bangkit dari kenyamanannya berbaring dipangkuan Zelo.
"Lalu?" Zelo mengedipkan matanya.
"Yah, seperti dulu"
Zelo mengerti arti kata 'seperti dulu'. Noda darah disudut bibir Daehyun membuatnya bungkam. Lihat? Apa yang telah kau lakukan pada orang yang kau kasihi Choi Junhong?
"Tentu"
Zelo tersenyum dan meremas jemari Daehyun.
"Seperti dulu"
...
Sehun membuka pintu rumahnya dengan perlahan, sepi. Tak ada lagi teriakan Luhan yang menyambutnya. Atau pelukan ringan Luhan saat bahunya terkulai.
Sendiri.
Sehun menyalakan lampu ruang tengah. Benar. Dia sendiri. Kenapa Sehun seakan tak mau menyadari itu.
Sehun mengangkat figura fotonya dengan luhan.
"Kau bilang ini akan mudah?" Bisiknya pelan.
"Mudah? Ini.. tidak mudah"
Sehun tak kuasa. Tubuhnya terkulai beserta figura dirinya dengan Luhan yang berbenturan dengan lantai.
"Ini tidak mudah hidup tanpa mu"
...
Sehun membuka matanya, berat. Saat kepalanya terangkat, Sehun mengaduh pelan ketika botol berisi wine terantuk kepalanya.
Ya. Tentu saja Oh Sehun siapa yang akan membangunkan mu lagi. Karena tak ada dia kini.
Sehun beranjak dari posisinya yang duduk dan membuat kepalanya bersandar pada lengannya yang terjulur diatas meja makan.
Jam 6 pagi
Ponsel disakunya bergetar. Dengan malas merogoh sakunya dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Sehunna~? Sudah bangun, pangeran?"
"Ya sudah" Sehun menguap.
"Baiklah, bisa datang ke kesini minggu depan? Kau tahukan besok adalah hari ulang tahun papa"
"Ya, aku usahakan" ucapnya dingin.
"Okay, semoga hari mu indah, Pangeran"
"Mah, sebentar" Sehun menjilat bibirnya.
"Mah...dimana Luhan?"
Sehun yakin sekali jika mama-nya tahu dimana Luhan berada kini
Hening. Wanita itu terdiam cukup lama.
"Biarkan dia sendiri untuk saat ini, dear. Dia butuh berfikir. Dan.. begitupun kau. Aku tidak mencegah untuk kalian saling menyayangi. Tapi untuk lebih dari itu, aku rasa Luhan bisa berfikir dewasa. Dan kuharap kau juga" sang mama berbicara dengan lembut.
"Mungkin ini cara Luhan menjawabnya. Semoga hari mu indah, Pangeran"
Sehun meremas ponselnya erat.
Cara
Dan..itu berarti..tidak
...
"Dia pergi tiga hari lalu" Sehun menendang bebatuan kecil.
"Pergi begitu saja. Mengirimi ku selembar surat dan berkata dia hidup baik-baik saja" Sehun mengeratkan dagunya.
"Zelo-ah, genggam terus tangannya selama dia berada disamping mu" Sehun melayangkan senyuman tipis pada Zelo yang tengah mengunyah rotinya pelan.
"Jangan biarkan dia pergi. Kau akan merasakan menyesal di diakhirnya" Sehun merasakan matanya memanas.
"Apapun masalah mu dengan mu. Bicarakanlah baik-baik. Sungguh, kehilangan itu menyakitkan Zelo-ah"
Sehun tak bisa mencegahnya. Sehun menggeram karena kesal air mata turun dipipinya yang pucat. Dengan cepat menghapusnya sebelum angin membuatnya tercekat.
"Aku... akan mempertahankannya" bisik Zelo pelan. Dia mengulurkan selembar tissu pada Sehun.
Sekacau ini Sehun ditinggalkan Luhan. Bahkan bibirnya kini mulai menghitam akibat nikotin yang menjadi jalan segala kepenatan di fikirannya.
Zelo menggigit roti pangganggnya.
Dia pasti akan sekacau ini..
...
Daehyun tertegun, dia hendak memutar arah. Namun dia tidak bisa terus menghindar. Daehyun merapikan alat tulisnya. Lalu menghembuskan nafas panjang.
"Yongguk?"
Yongguk menoleh. Senyuman khasnya tetap sama tak menghilang. Mungkin yang menghilang adalah tali persahabatan mereka.
"Ada waktu?"
Daehyun mendengus pelan.
"Himchan menyuruhku kesini. Semua harus dijelaskan"
"Baiklah, kita jelaskan semua" Daehyun melepas ranselnya lalu duduk dibangku panjang ruangan kesenian.
Yongguk duduk disisinya. Canggung..
"Junhong... bukan adik ku"
Daehyun melebarkan bola matanya. Dia menatap Yongguk yang tengah menatap lurus. Matanya memutar kilasan sedih masa lalunya.
"Saat orang tua kami meninggal. bam! Semuanya terbongkar. Junhong bukan bagian dari keluarga kami"
Ya. Kenapa Daehyun tidak sadar jika nama Junhong bermarga Choi sedangkan Yongguk sendiri bermarga Bang.
"Apakah menurut mu aku tega untuk melepas anak kecil yang saat menatap mata ku dia seperti menangis. Demi Tuhan Jung Daehyun dia setiap hari menangis karena kenyataan sepahit ini! Diumurnya yang muda." Yongguk menarik nafas panjang
"Aku memutuskan untuk pindah ke America. Dia hampir setiap saat menangis. Hingga tiga tahun lalu, akhirnya kami mengetahui siapa orang tua Junhong yang sebenarnya. Keluarga Choi. Yang sekarang disematkan pada namanya"
"Jika kau membenci ku, kau tidak punya alasan untuk membenci Junhong karena statusnya sebagai adik ku. Ini menyakitkan tapi.. aku bukan kakaknya. Kakak kandungnya. Tapi.. jika kau terus menyakitinya dan membuatnya tak tidur seperti ini. Kau akan berurusan dengan ku" Ucap Yongguk tegas.
"Dan untuk Himchan.."
"Tidak" Daehyun memotong ucapan Yongguk. Dia bangkit berdiri dan mengambil ranselnya.
"Mari jangan ungkit masa lalu dan biarkan kini aku bersama Zelo dan kau bersama Himchan"
Daehyun tersenyum tipis.
"Aku berjanji akan menjaganya" ujar Daehyun sebelum pergi dari hadapan Yongguk.
"Kau akan mati jika tak menjaganya Jung Daehyun"
...
Zelo berdiri didepan apartemen Daehyun. Mengangkat tangannya untuk memencet bel namun kembali diurungkannya saat merasakan jemarinya terasa dingin.
Sepuluh menit. Hingga Zelo merasakan kakinya sedikit pegal. Ayoo.. dimana keberanian mu.
"Butuh bantuan?"
Zelo terperanjat. Dia menoleh dengan cepat kebelakang dan mendapati Daehyun dibelakangnya. Dengan senyuman yang membuat Zelo menunduk karena semu merah dipipinya.
"A-aku"
"Ya?"
"Itu hm.."
Daehyun terkekeh kecil, membuka kunci apartememennya dan menarik Zelo masuk.
"Jadi mau apa?"
"Tentang semalam?"
Daehyun mengerutkan keningnya.
"Semalam? Yang mana? Mengukur tinggi badan?"
"Bukan"
"Membuat susu lima rasa?"
"A-ah tidak"
"Menghitung bintang atau membuat kopi dengan campuran madu? Atau menghitung bulu mata?..
"Makan malam!" Zelo berseru kesal.
"Makan malam, hyung! Kau melupakan itu. Ajakan mu makan malam" Zelo menyilangkan tangannya didepan dada.
Daehyun tersenyum "Kau menyetujuinya?"
Zelo memggembungkan pipinya, lalu mengangguk tipis.
"Jam tujuh malam okay?"
...
Zelo sangat manis.
dengan kemeja berwarna putih dan syal berwarna merah marun. sangat manis. apalagi senyuman cerahnya yang seakan membuat Daehyun melangkah tegar menjemput sosoknya yang berdiri dilobi apartemen.
"bagaimana penampilan ku?"
Daehyun berdecak ringan "Ratu Inggris kalah cantik dari mu"
Zelo tertawa dan memukul ringan lengan Daehyun. mereka melangkah beriringan menuju mobil.
"Ini bukan mobil Youngjae hyung, kan?" Zelo bergumam terimakasih saat Daehyun membukakan pintu mobil untuknya.
"tentu saja bukan"
"hng, lalu?" Zelo memalingkan wajahnya saat Daehyun memakaikan sabuk pengaman.
"kau tidak tahu jika aku memiliki mobil?"
"kau punya?" Zelo mengerutkan keningnya.
"tentu saja aku punya, hanya terlalu malas untuk memakainya"
Daehyun mencubit pipi Zelo yang terdiam karena terkejut.
"lupakan masalah itu, aku dengar malam ini kau akan pergi, benar?" Daehyun menelan air ludahnya kasar saat menanyakannya.
Daehyun mulai menjalankan mobilnya, menyeruak pada lalu lintas Seoul yang begitu padat.
"hum.. aku akan berkunjung ke makam orang tua ku di Busan" Zelo memainkan jari-jarinya gelisah.
"berapa lama?" Daehyun mencoba memfokuskan untuk menyetir.
"tiga hari" Zelo membasahi bibirnya yang kering.
"jadi katakanlah, malam ini.. sampai jam berapa?"
"hm, kereta ku berangkat pukul sepuluh"
"bersama Yongguk dan Himchan?"
Zelo mengangguk.
hening, Daehyun tak bisa melepaskan Zelo setelah jarak cukup membuatnya jauh dari Zelo seminggu terakhir ini. dengan gerakan pelan, Daehyun menggenggam jemari Zelo yang dingin.
"malam ini, ayo bersikap seperti kita yang dahulu" seru Daehyun, dia tak berani menatap Zelo.
Zelo tertawa kecil "hyung, aku hanya pergi tiga hari"
Daehyun menarik nafas kasar, Dia mencengkram kemudinya erat-erat.
"banyak yang bisa terjadi dalam tiga hari Zelo-ya"
dan Zelo membalas genggaman tangan Daehyun. Tersenyum begitu lembut hingga Daehyun hampir saja kehilangan konsentrasinya mengemudi.
"tidak akan terjadi apa-apa mulai saat ini"
tapi... siapa yang tahu?
...
mereka membicarakan banyak hal. dan Zelo benar-benar merindukan tawa bodoh Daehyun saat mengeluarkan lelucon. Zelo terlalu banyak tertawa, hingga dia rasa pipinya pegal karenanya. Daehyun memesan Wine. namun Daehyun segera menyingkirkan gelas dihadapan Zelo.
berkata Zelo belum cukup umur dan memesankan segelas jus Strawberry.
"aku sudah 18 tahun" Zelo menyilangkan lengannya didepan dada.
"itu masih kecil"
menyerah, lalu akhirnya menyeruput Jus nya, Zelo menceritakan masa-masanya di Amerika, bagaimana dia beradaptasi disana, dan Daehyun terus-menerus mendesaknya untuk mengajarinya memperdalam bahasa inggrisnya.
"tidak, aku buruk dalam mengajari"
"lalu apa cita-cita mu?"
Ya. Daehyun tidak pernah tahu cita-cita Zelo, sementara dia, sudah setiap hari berceloteh tentang keinginanya membuat rumah hasil rancangannya sendiri.
"aku ingin menjadi penulis"
Daehyun mengetahui keinginan Zelo yang lainnya. tentan ingin pergi ke jepang dan melihat bunga sakura, juga ingin pergi ke sungai Arno di Firenze.
Daehyun menumpukan dagunya pada telapak tangan, sikunya menekan meja makan yang sudah bersih, hanya tersisa sepotong Blueberry Cheesecake ditengah dan gelas berisi setengah jus Strawberry milik Zelo.
ponsel di saku Zelo berbunyi, dia menjauh sebentar saat mengangkat panggilan.
dua menit kemudian dia kembali duduk, wajahnya gelisah. dia menatap jam tangan dipergelangan tangannya.
"kenapa waktu cepat sekali" ujarnya sambil tersenyum tipis.
Daehyun melihat jam besar diruangan mereka berada, setengah sepuluh.
"Ayo aku antar sampai stasiun"
Zelo mengangguk dan merapikan kemejanya, Yongguk memberitahunya untuk segera menuju statsiun.
mereka diam selama perjalanan, Daehyun tak membayangkan, setelah mereka akur kembali, jarak ini sedikit mencekik lehernya.
Daehyun menatap kaca spionnya, dia merasakan mobil Audi dibelakang mereka terlihat seperti mengikuti mobil mereka. Daehyun menggeleng, dia hanya banyak fikiran karena Zelo hendak pergi.
Daehyun memberanikan diri menggenggam jemari Zelo saat mereka berjalan masuk menuju stasiun. sepi. hanya beberapa orang termasuk Yongguk dan Himchan yang berdiri di peron dengan tiga koper disamping mereka.
"Aku mencintai mu"
kata itu dengan mulus keluar dari bibir Daehyun, Yongguk dan Himchan memberikan tanda jika mereka masuk terlebih dahulu pada kereta yang sudah berhenti. Zelo mengangguk, jemarinya dingin.
Daehyun menarik Zelo lembut kedalam pelukannya, mengusap punggungnya yang halus.
"kita sudah melalui ini, jadi... be mine again Zelo-ya" Bisik Daehyun begitu lirih.
Zelo menggigit bibirnya. jadi inikah yang dia tunggu selama ini? ungkapan Daehyun, pengulangan pernyataan cinta dari Daehyun?
Zelo tertawa dan melepaskan pelukan Daehyun.
"aku harus pergi, Hyung"
pengeras suara sudah memberikan tanda, Daehyun mengangguk dan benar-benar mengantarkan Zelo sampai ambang pintu kereta.
"hubungi aku saat kau sudah sampai diapartemen" pinta Zelo.
Daehyun mengangguk mantap, itu arti dari Zelo mulai membuka hatinya kembali untuk Daehyun.
"Aku akan menjawabnya"
kereta mulai berjalan, Daehyun berlari kecil, menggapai jemari Zelo dan meremasnya.
"Tunggu aku, hyung. aku pasti akan menjawabnya" ujar Zelo ikut meremas jemari Daehyun.
"Aku pasti akan menunggu, hanya tiga hari bukan?" Daehyun tersenyum kecil.
"hanya tiga hari" pasti Zelo membalas senyuman Daehyun.
jemari mereka terpisah, mata mereka tetap menatap dalam.
"aku mencintai mu" gumam Daehyun pada sosok Zelo yang semakin menjauh.
'aku tahu'
dan itu adalah balasan sebelum Zelo masuk kedalam kereta, menghilang dari pandangannya.
tiga hari..
...
Daehyun tergesa menuju mobilnya, memainkan kunci mobilnya dan masuk kedalamnya. dia harus cepat sampai ke apartemen dan menghubungi Zelo.
Daehyun berkali-kali melirik kaca spionnya. lagi-lagi Audi itu mengikuti arah Daehyun berbelok. Daehyun mengerutkan keningnya, dia sedikit was-was.
dan saat itulah, jalanan yang cukup sepi membuat mobil itu melaju kencang dan menghalangi mobilnya, Daehyun mendadak menginjak remnya.
"apa-apaan ini" desis Daehyun.
dia turun, berniat menegur siapa saja yang berada di dalam mobil tersebut.
"Hey, kau tidak punya mata?" teriak Zelo sambil mengetuk pintu kemudinya.
sesosok lelaki turun, berpakaian hitam dengan hidungnya yang dilapisi perban, terlihat jika hidung pemuda itu patah.
sebentar..
Daehyun bergerak mundur.
"kau?"
"masih ingat pada ku?" suaranya serak seakan ditarik.
Daehyun bergerak panik, lalu sekitar lima orang lainnya bergerak turun. dia adalah pemuda yang mengganggu Zelo malam itu.
lelaki berjas dan berkemeja merah memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"jadi pemuda ini yang membuat hidung mu patah, Jun-ah?" suaranya menyeramkan.
"Ya, Hyung" ucap lelaki dengan hidungnya yang bengkok.
"cih! pemuda seperti ini saja kau tidak bisa mengatasinya. habisi dia!"
dan itu adalah kata terakhir, sebelum lima orang disekitar mereka segera berlari menuju Daehyun. menghindar adalah hal terakhir yang ada di otaknya. Daehyun mencoba sebisa mungkin.
tiga orang diantara mereka terjatuh akibat tendanganya, namun dia tidak melihat.
pemuda berhidung bengkok itu menatapnya benci, selagi Daehyun sibuk menahan dirinya. dia mengambil sebilah balok kayu dan bergerak perlahan menuju ke arah belakang Daehyun.
BUGH.
Daehyun berteriak keras, sakit. berdenyut. pemuda itu memukul keras tempurung kepala Daehyun sekali lagi.
tubuhnya tumbang, dia merasakan aliran darah mengalir diwajahnya.
Daehyun meringis pelan, dia mengingat janjinya dengan Zelo.
"Hubungi aku kau sudah sampai diapartemen"
Dan sekali lagi balok kayu itu menghantamnya,, hingga kesadaran Daehyun berada diambang.
air mata mengalir disudut matanya, bercampur darah yang mencapai jemarinya yang lemah.
"Zelo-ya" dia bersuara lemah.
derai tawa disekelilingnya, Daehyun menggigit bibirnya.
dia sendiri, hingga matanya tertutup karena rasa sakit yang mendera kepalanya dengan kuat.
"tunggu aku, hyung"
maaf
.
.
.
"banyak yang bisa terjadi dalam tiga hari Zelo-ya"
.
.
TBC
AAAAA maafkan aku yang lamaaaa sekali apdetnya ya hehehehe, semoga puas ya sama chap ini. dan TRENG,, satu chap lagi. TRENG..
terimakasih buat yang baca, i love you bangetlah. terimakasih buat yang review dan awal sampe akhir. aduh aku cinta kalian bangetlah, kalo bisa pengen rasanya meluk kalian satu-satu.
terimakasih buat yang udah nunggu, yang tiap mentionan "CBL NYA MANAAA" heheh love bangetlah.
maaf kalo chap ini kurang... greget. HUFT aku sebisa mungkin bikin ini GREGET. tapi ternyata ya menurut aku segini aja lumayan GREGET.
.
RnR juseyooo~
