Tittle : Can't Be Love

Cast : Jung Daehyun / Choi Junhong (Zelo)

Slight : Yoo Youngjae / Moon Jongup / Kim Himchan / Bang Yongguk / Oh Sehun /Xi Luhan

CHAPTER END.

Sebelum baca aku warn dulu nih ya. ini panjaaaaaaaang banget. Aku aja yang bikin sampe kesel sendiri (?) Dan aku ambil inti dari novel Winter in Tokyo. Jadi buat yang nanya "loh kok ini kayak winter in tokyo?" YESS. But overall aku cuma narik inti dan ambil sedikit scene, engga copy paste secara langsung (?).

terimakasih buat yang udah koment dari awal sampe akhir. I love you so much, kalau bisa udah aku kasih kalian coklat satu-satu.

Thanks buat everysongs yang udah nemenin aku.

Thanks buat kalian yang setiap minggu nagihin CBL biar aku inget dan semangat nulis.

Thanks buat kak nita yang ngasih saran buat baekhyun yang jadi istri jongin. Heheh.

Thanks buat adek aku yang setiap lagi ngetik "teteh ambilin minum dong" "teh anterin kamar mandi dong" "teh mau ini" "teh itu teh" thanks ya udah distrub kakaknya.

Thanks buat notebook aku, tab aku, chargeran, headset.

Ya ampun ini panjang banget. Intinya TERIMAKASIH UDAH NUNGGUIN FF INI END YAAA.

So warning : sorry for the typo, BOYXBOY, if you dont like. Dont read!

.

.

.

HAPPY READING READER-NIM~

.

.

.

Zelo sekali lagi memandangi ponselnya. Lalu mengutuk dalam-dalam pada ponselnya yang tak berdering sedikitpun.

"Dimana kau, bodoh" gumamnya pelan sambil mengetukkan jemarinya pada layar ponselnya, menghadapkan wajahnya pada foto Daehyun yang tersenyum lebar sambil merangkul pundaknya, ini foto saat mereka bersepeda pagi.

"Apakah keponakan ku yang manis ini sedang jatuh cinta?" bibi Anh mengusap pipinya lembut, menghidangkan secangkir teh hijau didepannya.

Himchan duduk didepannya, menggenggam mug berwarna merah, dari harumnya sudah diketahui Himchan sedang meneguk minuman kesukaannya, Americano

"Bibi baru tahu? dia mempunyai kekasih di seoul sana" Himchan tergelak saat melihat raut panik di wajah Zelo.

Zelo menendang kaki Himchan dari bawah meja, menggerutu sambil menggigit bibirnya.

"Ya wajar saja, Junhong kan sudah mulai dewasa"

Zelo tersenyum kecil, menaruh ponselnya di atas meja dan meneguk perlahan teh hijau yang terasa sangat pahit dilidahnya, percakapan demi percakapan hanya membuatnya bertambah hening. Melirik setiap detik pada ponselnya yang seakan mati, lalu menekan tombol kunci disampingnya dan menarik nafas kecewa.

"Apa yang membuat mu resah Junhong-ah?" suara lembut keibuan merasuk telinganya.

"Tentu saja dia sedang menunggu kekasihnya menghubunginya"

"Hyung~" Zelo merengek pelan, dia sungguh ingin menangis, dan digoda seperti ini oleh Himchan membuatnya bertambah sedih.

"Hey, hey jangan menangis" Himchan menaruk mugnya dengan segera, duduk mendekat dan memberikan pelukan pada Zelo yang menarik nafas resah. Begitu resah. Begitu..khawatir.

Sang bibi menatap Himchan, lalu dibalas Himchan dengan tatapan tak tahu. bergumam akan mengambilkan selimut sang bibi meninggalkan mereka berdua.

"Ada apa hm?" Himchan mengusap rambut halus Zelo yang terdiam, tarikan nafas Zelo terasa berat. Ada fikiran yang mengganggunya.

"Apakah.. dia baik-baik saja?" Zelo bergumam rendah. bayang-bayang senyuman Daehyun membuat matanya terasa panas karena tak bisa berhenti memikirkannya.

"Dia berjanji akan menghubungi ku, tapi ini sudah dua hari dan tidak sekalipun menghubungi ku. Apakah jarak stasiun dengan apartemennya sangat jauh huh!" Zelo meremas ujung kemejanya, mengatur nafasnya.

"Dia pasti akan menghubungi mu, tenang saja" Himchan mengelus punggung Zelo.

Membuat hembusan nafasnya menjadi tenang kembali.

Zelo tertawa kecil dan menjauh dari dekapan Himchan.

"Aku berlebihan ya" namun matanya bersinar lain.

"Aku akan kedalam untuk tidur" Zelo bangkit dan menarik ponselnya dari atas meja.

Masuk kedalam rumah dan meninggalkan Himchan yang terdiam.

Dia memikirkan panggilan Youngjae tadi pagi.

.

.

.

"D-Daehyun kecelakaan" suara Youngjae bergetar, Yongguk yang berada disamping Himchan melebarkan matanya terkejut.

"Dia ditemukan di pinggir jalan menuju stasiun, lukanya cukup parah, tempurung kepala bagian belakangnya dihantam sesuatu hingga Daehyun kehilangan kesadara.n.. Y-Yongguk-ah.. aku takut" terdengar bisikan tipis dari Jongup menenangkan Youngjae.

"Dia koma, dia belum sadar" lalu isakan Youngjae menjadi suara satu-satunya selama satu menit.

"Jangan beritahu Zelo" suara Youngjae begitu serak

"Aku memang tidak berniat untuk memberitahunya. B-baik, jaga baik-baik Daehyun, Youngjae-ah"

Himchan tercekat, suara Yongguk berbeda, Himchan menatap Yongguk yang terdiam dengan pandangan kosong. Diapun tak menyangka ini semua akan terjadi, Himchan menyentuh dagu Yongguk.

Mata Yongguk berkejap bingung, dia tersenyum tipis dan meremas jemari Himchan.

"Junhong akan baik-baik saja"

.

.

.

Zelo menyipitkan matanya, tak melihat atau setidaknya mengenali sosok kekasihnya yang berjanji akan menjemputnya di stasiun.

Yongguk menarik koper milik Zelo sampai pada hadapan adiknya, namun Zelo tak bereaksi. dia tetap menunggu.. dia tetap berharap melihat sosok Daehyun berlari kearahnya dengan nafas terengah dan pakaian yang acak-acakan karena telat menjemput.

Sepuluh menit. Tetap tak ada. Zelo menepis rasa kesalnya, meremas erat-erat ponsel dalam genggamannya.

Datanglah.. Cepat.

Tetap tak ada, yang ada hanya percakapan dan bising orang berlalu-lalang. Tidak ada sosok Daehyun yang tersenyum berjalan ke arahnya. Tidak ada pelukan hangat serta bisikan rindu Daehyun ditelinganya.

Sekali lagi.. Datanglah Jung Daehyun..

Yongguk menyentuh pundaknya, setelah tiga puluh menit membiarkan keheningan diantara mereka. Himchan sudah menggerutu pegal lalu terduduk pada bangku didekat mereka.

Yongguk mengajaknya menuju mobil, dan dengan tarikan nafas panjang, Zelo mengangguk, menyeret kopernya dengan wajah tertunduk.

Setidaknya dia akan bertemu Daehyun nanti di apartemen.

.

.

Namun.. Daehyun melupakan dua janjinya..

.

.

.

Youngjae bisa merasakan jantungnya berdegup cepat, dia meremas jemari Jongup dengan erat meminta tumpuan. Jongup memberikannya pelukan ringan, berbisik Daehyun pasti akan baik-baik saja. Youngjae mengangguk kecil, mengelus punggung Jongup yang juga tegang saat melihat tangan Daehyun bergerak.

Mereka sedang menunggu, para dokter itu bergerak masuk kedalam ruangan Daehyun dengan cepat, menutup pintu ruangan Daehyun berada dan membuat Youngjae terpekik ringan karena kesal.

Seorang lelaki berpakaian serba putih keluar, menarik masker yang menutupi bagian mulut hingga hidung.

"Dimana orang tuanya?"

Pertanyaan itu lagi.

"Mereka sedang menuju perjalanan, Inggris dengan Korea itu sangat jauh" gerutu Youngjae tidak sabar.

"Bagaimana keadaan Daehyun?"

Senyuman tipis tersemat pada lelaki itu, gelar tinggi yang sudah disandangnya tak membuat sinar ramah dimatanya meredup.

"Dia sudah sadar. Kalian bisa menemuinya" Youngjae tersenyum lebar, dia menarik lengan Jongup untuk masuk. Namun suara sang dokter menghentikan jemarinya yang sudah menarik kenop pintu.

"Youngjae-shii, katakan padaku jika ada yang aneh dari Daehyun. kepalanya dihantam benda tumpul dengan kuat, aku.. rasa akan ada sedikit ingatan yang akan dia lupakan"

Youngjae tertegun sesaat, dia mengangguk pelan dan membungkuk kecil. Masuk kedalam ruangan dimana Daehyun berada.

Matanya yang sudah tiga hari ini tertutup kini sudah terbuka, Daehyun tersenyum tipis. dan Youngjae menghembuskan nafas lega, hampir menangis dan memeluk Daehyun dengan erat.

"Ya, Youngjae-ya hati-hati!" Daehyun berteriak, suaranya sedikit serak karena lama tak terbuka.

"Daehyun bodooooh, kau membuat ku sangat khawatir kau tahu" jika saja Youngjae tak ingat jika perban melingkar dikepala Daehyun, sudah dipastikan dia akan memukul kepala Daehyun kuat-kuat.

Daehyun terkekeh ringan.

"Apa yang terjadi pada ku?"

Ini yang Youngjae takutkan. Youngjae menatap Daehyun tajam.

"Kau kenal siapa aku kan?"

Daehyun berdecak kesal "Tentu saja, Mr. Yoo Youngjae."

"Dan kau tak ingat apa yang terjadi pada mu?" Youngjae meremas jemari Jongup erat.

Daehyun mengernyit pelan, berusaha bangkit namun ditahan oleh Youngjae mengingat kondisi tubuh Daehyun yang lemah. Daehyun menghela nafas panjang, memandang ruangan dimana dia berada dan menggeleng lemah.

"Apa yang terjadi pada ku?"

Youngjae menolak menatap Daehyun, "Kau mengalami kecelakaan, kau koma selama tiga hari, kau tidak ingat?"

Daehyun menggeleng sekali lagi.

"Kau mengingat ku tapi kenapa kau tidak ingat kecelakaan itu? mana mungkin" Youngjae mendengus tak percaya.

"Bawel, dan wah.. siapa pemuda disamping mu?" Daehyun menatap Jongup dari atas hingga bawah.

Youngjae bangkit, berdiri disamping Jongup dengan pikiran kalut "Ini Jongup, Moon Jongup.. kekasih ku"

Daehyun nampak berpikir sesaat, lalu mengangguk. Tak mau ambil pusing.

Dan detik selanjutnya Youngjae melebarkan matanya, menatap Jongup yang terdiam. Daehyun tengah membenarkan letak selang infusan, menggerutu kesal dan bergumam dia haus.

Youngjae tak mendengar, dia memikirkan..

.

Apakah kemungkinan Daehyun juga akan melupakan... Zelo?

.

.

.

Zelo menatap lift tepat 200 meter dari tempatnya dengan gelisah, khawatir, Zelo bahkan ingin menangis saat ini juga.

Baru kemarin Youngjae memberitahunya jika Daehyun mengalami kecelakaan, dan mendengar itu benar-benar membuatnya kacau. Ini sudah seminggu dia berada di Seoul, mendapati pintu apartment Daehyun terkunci dan tak ada tanda-tanda jika Daehyun berada didalamnya. saat Youngjae menghubunginya, rasanya Zelo ingin menangis sekuat-kuatnya karena lega akhirnya Youngjae membalas pesan suaranya.

Tapi perasaan lega itu terganti oleh khawatir, apalagi dengan kalimat terakhir yang Youngjae ucapkan.

"Jangan menangis saat melihatnya"

.

Zelo menahan nafasnya saat Youngjae keluar dari lift, disampingnya sepasang suami istri nampak membimbing Daehyun berjalan. Perban melingkar dikepala Daehyun, rambutnya yang berwarna coklat tampak kusam karena tak terurus.

Youngjae berjalan disisi Jongup, menggenggam jemari pemuda itu erat-erat seolah Jonguplah sumber kekuatannya. Zelo ingin berlari menuju Daehyun, memukulnya kuat-kuat melampiaskan rasa kesal bercampur lega karena memikirkan keselamatan Daehyun. Namun nyatanya Zelo hanya berdiri, dengan Himchan disampingnya dan Yongguk dibelakangnya yang meremas jemarinya yang gelisah. Kakinya seolah menyatu dengan lantai dibawahnya. Rasa rindu yang membuatnya seakan ingin mencekik dirinya sendiri.

"Apakah tidak apa-apa kau langsung pulang seperti ini? apakah tidak sebaiknya Daehyun kita ajak saja ke inggris, yeobo?" wanita berwajah sejuk itu merapikan sweater Daehyun.

"Ah, mom aku baik-baik saja. Aku tidak mau, ah berenti memperlakukan aku seperti anak kecil" Daehyun meronta saat ibunya merapatkan syal pada lehernya.

"Kau jarang menemui kami saat di inggris, dan sekali aku menemui mu kau dalam kondisi seperti ini" wanita itu terus mengoceh tentang kesehatan Daehyun, sementara Youngjae tersenyum ke arahnya dan melambaikan tangan.

Daehyun melebarkan bola matanya saat melihat tiga orang pemuda berdiri didepan pintu apartemennya. Daehyun menatap Yongguk dengan pandangan dingin, kenapa pandangan itu kembali? pikir Yongguk saat melihat mata Daehyun.

Daehyun tersenyum lebar, berlari ke arah mereka seolah melupakan tatapan matannya yang dingin pada Yongguk.

Zelo tersenyum tipis, melihat Daehyun yang semakin mendekat membuatnya ingin berteriak agar Daehyun berlari semakin cepat dan memeluknya.

tetapi.. Daehyun tidak menatapnya.

"Aku merindukan mu" suara Daehyun berdengung dikepalanya, tidak.. bukan dirinya yang sedang didekap Daehyun dengan dibisikkan kata-kata indah itu.

Zelo perlahan menolehkan wajahnya, tepat disampingnya..

.

.

Daehyun memeluk Himchan dengan erat.

.

.

.

Dunianya berputar, Zelo seakan berdiri diujung menara dengan satu langkah menuju kematian. Zelo bahkan hanya bisa mendengar deru nafasnya yang tipis. Tatatapan mata Himchan yang terbelalak kaget serta tegukan kasar Youngjae melihat Daehyun memeluk Himchan, dengan lagi jemari Zelo yang diremas kuat kakaknya.

Zelo menyentuh pelipisnya, Yongguk menumpu sikunya dan berbisik menenangkan. Tapi tidak berhasil. Zelo tetap limbung seraya meremas jaket Yongguk.

"Sudah lama kau tidak kesini, aku sangat merindukan mu" suara itu kembali berdengung, berbisik ditelinga Himchan dan mematahkan kerlipan lampu harapan khayalan dipikirannya.

Daehyun melepaskan pelukannya, seiring dengan mendekatnya Youngjae dan Jongup. Kedua orang tua Daehyun meminta Youngjae menjaga Daehyun selama mereka hendak membeli makanan untuk sedikit merayakan kepulangan Daehyun.

"Kapan kau datang, Hime?"

Suara lembutnya kini mendengungkan nama selain selain dirinya, tatapan mata hangatnya kini hanya tertuju pada Himchan, bahkan jemari Daehyun mengusap pipi Himchan dan mengaitkan anak rambut kebelakang telinga Himchan. Zelo mengedarkan matanya kemanapun agar tidak melihat kejadian itu, dia butuh penjelasan, matanya menatap Youngjae dalam. Menanyakan perihal pecahan hatinya yang berserakan melihat kejadian barusan.

Youngjae tersenyum pahit menggumamkan kata dia akan menjelaskannya nanti. Zelo tidak bisa menunggu untuk nanti. Saat ini saja dia bisa merasakan kakinya melemas, jika tidak ada kakaknya yang menumpu tubuhnya Zelo bisa saja langsung terjatuh dilantai.

Daehyun melirik tajam ke arah Yongguk, kata-kata kebenciannya untuk Himchan seolah pergi entah kemana, hanya ada tatapan memuja disana. Himchan tak bersuara, dia dibuat tercengang dengan segalanya yang diluar pemikiran. tak pernah menyangka jika Daehyun akan mengingatnya kembali.. sebagai seorang kekasih jung Daehyun.

Dan mata mereka bertemu, Zelo menekan jemarinya yang hendak menarik kerah kemeja Daehyun dan memeluknya erat. Tak ada apa-apa, hanya senyuman tipis yang datar.

"Kekasih mu?" tanya Daehyun pada Yongguk. Melirik ke arah Zelo dengan malas.

Yongguk menggeleng, menjauh dari tempat Himchan dan berdiri disamping Zelo, meremas jemari adiknya untuk menguatkan.

"Dia adik ku"

Daehyun bergumam tipis, tersenyum ke arah Zelo lalu mengalihkan pandangannya pada Himchan seraya tersenyum lebar.

Dia bahkan tidak mengingat mu sebagai kekasihnya. Zelo memejamkan matanya demi menahan kebiasaannya menangis akhir-akhir ini, lalu merengek dalam tatapannya pada Youngjae agar menjelaskan semua kejadian ini. Sekarang.

.

.

.

Sehun memandang foto Luhan, foto keluarga dengan Luhan berdiri disamping mamanya. Senyuman lembut yang bisa melelehkannya membuatnya tak sadar jika pandangannya mengabur karena tumpukan air mata.

Sehun tersenyum tipis seakan mengejek, mengedipkan mata berkali-kali kala rentetan air mata turun dipipinya, mungkin... ini adalah akhir dari perasaannya.

Sehun tak berniat mencari orang lain untuk menyembuhkan hidupmya, jika Luhan menolak menghidupkan hatinya, maka dia pun akan menolak siapapun menyentuh hatinya lagi.

"Kau puas?" desisnya pada keheningan malam.

"Aku menyerah..."

.

.

.

Baekhyun memberikannya segelas air, pemuda berparas manis itu tersenyum dan mengusap punggungnya dengan lembut.

Luhan membalas senyuman Baekhyun, pemuda itu... pemuda bermata sipit itu adalah kekasih Jongin, suaminya. dia sudah tahu dari awal hubungan mereka, dia sudah tahu semuanya dari awal. Ini.. semua sandiwara yang dia buat sendiri oleh tangannya.

Meminta Jongin untuk mengiriminya surat sebagai tanda jika hubungan pernikahan mereka terlihat baik-baik saja, dengan syarat jika pernikahan meraka tetap terlaksana walau nyatanya Jongin hidup dengan Baekhyun selama ini.

"Kau tidak bisa, Lu" Jongin duduk disampingnya, meremas jemarinya.

Luhan mencoba menyukai Jongin, Luhan mencoba membuka hatinya untuk Jongin. Lalu dia tersadar, itu hanya akan menyakiti hatinya sendiri dan Baekhyun.

Luhan tertawa pahit, meneguk kopi dalam genggamannya. Tenggorokannya terasa kering, semenjak dia meninggalkan Sehun dan memutusakan untuk menyusul Jongin, hidupnya tidak semakin baik. Dia terlalu banyak bersandiwara didepan semua orang.

"Semua akan terbiasa, percaya pada ku. Sehun pasti akan mendapatkan seseorang yang lebih baik"

Jongin menarik nafas lelah, membujuk Luhan untuk berpikir berulang kali tentang perihalnya meninggalkan Sehun. Bagaimanapun Sehun hidup bergantung pada Luhan, seperti Luhan yang bahkan tidak bisa berhenti menggumamkan nama Sehun didalam tidurnya. Luhan bersikap seolah dia kuat, padahal dia sangat lemah dengan titik tumpunya yang hilang.

"Kau mungkin bisa, tapi aku meragukan Sehun. Dia benar-benar butuh kau, Lu"

Luhan menolak mendengarkan Jongin, menggeleng dan bangkit menghindar dari tatapan mata Jongin yang lelah.

.

.

.

Zelo hanya diam, meremas kain linen dibawah tubuhnya dengan kasar, terngiang penjelasan Youngjae tentang kondisi Daehyun membuatnya meraba dadanya dan menekannya kuat, tak menyangka akan terasa sesakit ini. Tak menyangka nafasnya dibuat sesak dengan ucapan singkat Youngjae.

'Dia hanya bisa mengingat kejadian 5 tahun terakhir'

5 tahun yang lalu yang sialnya hanya diingat Daehyun adalah posisinya sebagai kekasih Himchan, pilihan Himchan yang memilih Daehyun sebagai kekasihnya.

"apa penyebab kecelakaannya?" Yongguk bertanya dengan suara berat. Menatap pada pintu kamar Daehyun, Himchan belum keluar, Daehyun meminta kekasihnya untuk mengantarnya sampai kamar dan setelah lima belas menit, Himchan belum juga keluar.

"Pukulan benda keras ditempurung kepalanya, aku tahu ini kurang ajar. Tetapi.. bisakah permainan ini tetap dimainkan?"

Zelo melirik Youngjae, lalu mengalihkan tatapan pada lantai marmer yang dingin, telapak kakinya yang memakai kaus kaki masih bisa merasakan dinginnya udara.

"Permainan?" ulangnya tak percaya.

"Dia hanya mengingat Himchan yang masih sebagai kekasihnya, ingatannya tak bisa dipaksa" jelas Youngjae sambil memandang Zelo dengan tatapan sedih. Kentara sekali rasa sayang yang begitu kuat.

"Kau pikir hati adikku adalah mainan?" Suara Yongguk meninggi, Zelo menahan lengan Yongguk dengan remasan kecil. Meminta kakaknya untuk tenang walau sebenarnya dirinyalah yang membutuhkan ketenangan itu.

"Maaf, tapi untuk saat ini.. kita biarkan ingatan Daehyun dalam lima tahun terakhir, aku akan mencoba memberikannya ingatan tentang apa yang telah terjadi, tapi secara perlahan.." Youngjae menggenggam tangannya "Aku juga butuh dukungan dari mu, Zelo-ah" Youngjae mengusap punggung tangannya dengan lembut

"Dia pasti akan mengingat mu"

.

.

Zelo memejamkan matanya,

Meringis, efek kejadian ini seakan menyentuh rasa lelahnya. Menyesal pada semua kejadian yang sudah berlalu. Menyesal saat membiarkan Daehyun mengantarnya sampai stasiun. Zelo menyesal.

Menyesal karena belum mengucapkan perihal keinginannya untuk membalas pernyataan cinta Daehyun.

.

.

.

"Hai"

Daehyun berdiri didepan pintu apartemennya, dengan rangkaian bunga mawar ditangannya, Daehyun tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya.

"Apakah Himchan sudah bangun?"

Benar.. Daehyun melupakannya.

Zelo mengangguk kecil, membalas senyuman Daehyun sebaik mungkin, Zelo memberikan Daehyun jalan masuk kedalam apartemennya. Zelo memandang punggung itu sambil meremas jemarinya, ingin menarik diri sendiri untuk memeluk sosoknya.

"Dimana Himchan, Zelo-ya?" Daehyun melepaskan mantelnya, lalu berjalan menuju ruang makan dan menemukan sosok Himchan yang tengah meminum segelas kopi dengan Yongguk disebelahnya.

Tatapan matanya tajam, Yongguk menghela nafas dan bangkit, Himchan yang belum sadar akan kehadiran Daehyun menatap Yongguk dengan kening berkerut, lalu lirikan Yongguk pada posisi Daehyun yang berdiri diujung meja makan membuat Himchan sadar.

Zelo tak berniat menyusul Daehyun, dia duduk diruang tengah dengan televisi yang menyala, mencoba mengabaikan suara lembut Daehyun yang menanyakan kabar Himchan.

"Kenapa kau tidak menginap di apartemen ku saja?" tanya Daehyun sembari mengulurkan rangkaian bunga mawar pada Himchan.

Himchan tersenyum sambil bergumam terimakasih "Ada Youngjae dan Jongup disana, dan lagipula disini ada kamar kosong"

"Kau tidak sekamar dengan Yongguk, kan?" Daehyun menatapnya curiga.

Tentu saja, bodoh. Tentu saja aku satu kamar dengannya,

"Tidak, aku dengan Zelo" ujarnya, menghindari mata Daehyun karena tak enak hati dengan tatapan Yongguk yang sudah beranjak menuju kamarnya.

"Kau bisa tidur satu kamar dengan ku" Daehyun mengusap sudut bibirnya, Himchan menghindar sebisa mungkin. Memegangi jemari Daehyun dan menjauhkannya.

"Hum, entahlah" Himchan bergerak gelisah ditempatnya, "Aku mandi dahulu, okay?" Himchan bangkit dan terburu memasuki kamar Zelo.

Daehyun mengangguk, perasaan aneh itu mengganjal dihatinya. Ada yang kurang dari hari ini. Daehyun bangkit menuju ruang tengah, mendapati Zelo sedang menatap layar televisi dengan pandangan kosong.

Pemuda ini memiliki aura yang manis, Daehyun hampir saja menjatuhkan rangakain bunga untuk Himchan saat melihat wajahnya yang lembut. Kenapa... sepertinya Zelo lebih mempesonakannya dari kekasihnya sendiri?

"Kau memiliki harum seperti Lily, kau tahu?" Daehyun duduk tepat disamping Zelo.

Zelo mengerjapkan matanya berulang kali.

DEG

"Hm, benarkah?"

Ini pertama kalinya Daehyun mendengar suaranya, karena semalam Zelo hanya terdiam dan tak bersuara sedikitpun. Daehyun tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup cepat mendengar suara Zelo.

"Ya, lain kali aku akan membawakan mu bunga lily"

Zelo menolehkan kepalanya, dan Daehyun mati-matian mengontrol deru jantungnya.

"Untuk apa?"

Bola matanya jernih, berwarna coklat dan terlihat indah dengan rambut birunya yang kelam.

"Ucapan selamat pagi" Daehyun tersenyum padanya, lalu semu merah dikulitnya yang halus membuat Daehyun seakan ingin menjawil pipinya. Matanya terlihat sendu, lalu teriakan dihatinya seperti mengatakan jika Daehyun.. merindukan sosok ini.

"Zelo-ya"

Zelo menatap Daehyun tepat dimatanya.

"Aku... sangat mengenal mu, bukan?"

.

.

.

Dan benar, keesokan harinya Daehyun membawa dua buah rangkaian bunga ditangannya, Lily berwarna putih itu kini berada digenggamannya, bahagia.. namun melihat bagaimana Daehyun memberikannya secara khusus pada Himchan hanya bisa membuatnya meringis seorang diri dengan masih berdiri diambang pintu.

Ingin melempar bunga itu ke arah Daehyun, biar dia rasakan sakitnya seperti apa, biar dia rasakan segila apa dirinya sekarang dengan posisi menyiksa seperti ini. Zelo menghela nafas panjang, meletakkan Lily di atas meja dengan bunyi keras.

"Aku pergi sekolah" ujarnya datar dengan lirikan tajam ke arah Daehyun.

Yongguk memeluknya sekilas, memberikan usapan ringan di pundaknya dan mengecup pipinya.

Zelo sudah berbalik, memakai sepatunya dengan terburu karena sudah tidak tahan berada diapartemennya sendiri, saat Daehyun berdiri disampingnya, tersenyum seperti biasa tanpa merasakan dia sudah menyakiti banyak hati akan perbuatannya.

"Mau ku antar?" Daehyun mensejajarkan langkahnya pada langkah Zelo yang cepat.

"Tidak"

Daehyun menahan pergelangan tangannya, Zelo tak bisa memberontak, menoleh pun dia tidak bisa, dia takut... dia takut Daehyun akan melepaskan lengannya.

"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kau.. mengenal ku bukan?" Daehyun bertanya dengan serius, menarik perlahan pergelangan tangan Zelo hingga bahu mereka bersentuhan.

"Sangat" jemarinya meremas ranselnya, memandang lurus seolah itu adalah pilihan terakhir.

"Seperti apa aku mengenal mu? maaf, kau tahu kecelakaan itu membuat ku sangat lupa tentang segalanya, Youngjae berkata aku mengalami hilang ingatan jangka panjang, aku tidak bisa mengingat kenangan ku lima tahun yang ini.. Kau mengenalku dalam jangka waktu berapa?"

Zelo menunduk, memperhatikan sepatunya dengan seksama.

"6 bulan"

"Hanya 6 bulan?"

Zelo mendengus tak percaya, "Banyak yang terjadi selama 6 bulan, Daehyun-shii"

Zelo memberanikan diri menatap Daehyun, mendapat sambutan terkejut dalam mata coklat Daehyun yang memikat.

"Kau akan buta tanpa kenangan, sedikitpun kenangan yang kau lupa.. kau akan buta"

Zelo menghentakkan tangannya dari genggaman Daehyun, pemuda itu mematung.. berdiam diri seolah sebagian dari dirinya menghilang saat itu juga.. dan tepat pada saat itu..

Dia sadar.. dia telah buta.

.

.

.

Sudah seminggu ini Zelo tak melihat Sehun, pemuda itu sudah seminggu tidak masuk sekolah dan menolak semua panggilan yang Zelo coba. Bagaimanapun dia khawatir, apalagi dengan kondisi terakhir Sehun saat bertemu dengannya. Bibirnya yang mulai menghitam dan ucapannya yang mulai tidak beraturan.

Zelo memandangi wajahnya sendiri, tetesan air menetes didagu lancipnya.

'menilai Sehun tidak beraturan, lalu lihat siapa disini yang sesungguhnya tidak beraturan'

Zelo menyentuh kantung matanya yang tak juga kempis.

Zelo mungkin tinggal menunggu kapan dia akan menyelundupkan sebatang nikotin kedalam kamarnya.

.

.

.

Daehyun masuk kedalam apartemennya, melepas sepatunya lalu terkesiap saat melihat sepasang sandal bergambar stitch berada di rak sepatunya, Daehyun tak pernah, seingatnya dia tidak pernah mempunyai sandal rumah dengan gambar seperti itu.

"Ini punya mu?" Daehyun menunjuk sandal itu pada Youngjae yang baru saja masuk, membawa sekantung buah-buahan dan juga beberapa makanan kecil dengan Jongup dibelakangnya membawa sekotak besar buku-buku Youngjae.

Youngjae melirik sekejap pada sandal tersebut, mengendus "Berapa lama kau bersahabat dengan ku dan mengira aku akan memakai benda seperti itu?"

Daehyun terdiam beberapa saat, lalu memutuskan untuk mengambil sekaleng minuman bersoda. Pergi menuju dapur dan membuka mesin pendingin.

Kini dia dikejutkan oleh berkotak-kotak susu dengan bemacam rasa, Daehyun yakin dirinya tidak terlalu suka mengkonsumsi susu.

"Punya mu?" lagi-lagi dia bertanya pada Youngjae yang sedang menaruh buah-buahan diatas meja.

Youngjae memutar bola matanya malas "Ada apa dengan mu, hah? ini rumah mu dan kenapa kau selalu bertanya 'ini punya mu' aku tidak tahu Jung Daehyun" geram Youngjae kesal.

"Aku merasa asing dengan apartemen ku sendiri" Daehyun duduk didepan Youngjae, menerawang pada bayangan-bayangan mengabur dikepalanya.

"Rasanya kosong, walaupun Himchan berada disisi ku.." Daehyun meraba dadanya, menekannya lalu menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya..

Terlebih.. Ingatannya.

"Jangan dipaksakan, bodoh" Youngjae mengulurkan segelas jus wortel, sesaat menyembunyikan stok berkaleng-kaleng kopi di dalam lemari pendingin Daehyun.

"Aku tidak, kadang.. semuanya seperti kaset kau tahu? dan, yang aku lihat adalah pemuda itu"

Youngjae yang saat itu tengah mengulurkan sebatang coklat ke arah Jongup yang tengah membaca membeku mendengarnya.

"Pemuda itu?"

"Hooh, pemuda berambut biru lembut yang berbaring di tempat tidur ku, lalu.. pemuda yang mengulurkan tangannya demi menangkap daun yang jatuh pada musim semi, lalu... pemuda itu.. pemuda itu" Daehyun menyentuh pelipisnya yang berdenyut, berjongkok diatas lantai dengan satu tangan menahan beban tubuhnya.

Daehyun menjerit tertahan, merunduk semakin dalam saat suara-suara halus itu masuk kedalam telinganya.

.

.

"Karena musim semi membuat ku bertemu dengan mu, Daehyun hyung"

.

"Tunggu aku"

.

.

Dan yang terakhir dilihatnya adalah Youngjae dan Jongup yang berlari ke arahnya dengan pandangan khawatir.

.

.

.

"Nama ku, Zelo"

.

.

.

"Luhan ada disini"

Jongin menelponnya sore itu, Sehun menghembuskan asap rokok dengan perlahan.

"Jemput dia, dan bawa dia" suara Jongin memerintah.

Sehun tersenyum kecil, mematikan puntung rokoknya yang tinggal setengah lalu melemparnya ke sembarang arah.

"Dia memilih mu, Kim Jongin" ujarnya dingin.

"Kau yang jelas tahu aku tidak bisa bersamanya, aku sudah bersama Baekhyun"

"Jadi itu sandiwaranya?" Sehun mendengus "Katakan padanya, dia berhasil membuat ku terkejut"

Jongin terdiam beberapa saat, hembusan nafasnya berat lalu sekali lagi memerintah Sehun untuk menjemput Luhan.

"Tidak, itu pilihannya. Aku tidak akan menyentuhnya lagi"

"Demi Tuhan Oh Sehun, dia kakak mu!" Jongin membentaknya, mungkin jika saat ini mereka bertatap wajah Jongin sudah meremas kerah bajunya.

"Dari awal aku tidak pernah melihatnya dalam sisi seorang kakak. Aku berulang kali meyakinkannya jika aku mencintainya"

"Dan kau bodoh, hanya kau yang mencintai kakak mu sendiri hah?!"

Kini Sehun yang terdiam, dia menyadari air mata dipipinya.

"Apa yang kau pikirkan saat jatuh cinta pada Baekhyun? kau, Kim Jongin pemuda dengan gelar doctor yang mempunya harta kekayaan berlimpah, semua perempuan bersujud dikaki mu demi cinta mu, dan kau jatuh cinta pada Baekhyun.. yang seorang pelacur" Sehun bersuara tajam,

"Apakah kau pernah menyalahkan kenapa kau bisa jatuh cinta pada Baekhyun? bisakah kau mempunyai pilihan lain? aku bahkan bertanya setiap malam, kenapa.. aku? kenapa satu dari seribu orang aku orang yang menyukai kakak ku sendiri?" Sehun tak perduli dengan isakannya yang didengar Jongin.

"Kenapa aku, Jongin-ah. Jika aku mempunyai kesempatan lain untuk bisa jatuh cinta lagi, aku pasti mengambilnya"

Jongin tak memberi respon, Sehun yakin pemuda itu masih mendengarnya,.

"Katakan pada Luhan, aku mencintainya.."

.

.

.

Zelo meremas mug dalam genggamannya, lega.. panggilan Youngjae pada sore hari yang memberitahu jika Daehyun pingsan membuatnya menangis hebat. Zelo memeluk Daehyun saat pemuda itu masih terlena dengan obat bius berdosis ringan yang dokter berikan. Berbisik agar Daehyun kuat dan dia selalu bersamanya.

Dan saat ini bahkan Daehyun sudah tertawa bersama Jongup dan Yongguk, nampaknya Daehyun mulai membuka pikirannya dengan Yongguk.

"Secepanya dia pasti mengingat mu" Youngjae berdiri disampingnya, meneguk jus apel yang dipegangnya.

"Hm?"

"Sebelum dia pingsan, dia memanggil nama mu"

Zelo menatap Youngjae tak percaya.

"Ya, Aku tidak bohong" Youngjae menjawil pipi Zelo yang memerah.

Zelo memeluk Youngjae erat sambil tertawa kecil, Daehyun melihatnya dari tempatnya duduk. Derai tawa Zelo seakan terngiang dikepalanya, tak bisa berhenti berdengung.

.

.

.

"Junhong belum cukup umur" Yongguk menahan jari Himchan yang memegang kotak kartu.

"Hyung, aku sudah delapan belas, tahun ini" protes Zelo sambil menggembungkan pipinya.

Yongguk mengalah, akhirnya membiarkan Zelo mengikuti permainan kartu yang Youngjae usulkan.

"Ya Youngjae-ya kau bermain curang?" Daehyun memberikan protesnya saat melihat Youngjae menarik turun kartu-kartu Jongup dan menelitinya.

"Apa? Jongup kan kekasih ku" Youngjae memeletkan lidahnya ke arah Daehyun.

"Lalu, hubungannya apa?"

"Jongup saja tidak marah, kenapa jadi kau yang marah" kesal Youngjae sambil melipat tangan didada.

"Jadi kau mau permainan curang seperti itu? baiklah, aku akan melihat kartu Zelo, Zelo-ya mana kartu mu" Daehyun menarik paksa kartu dalam genggaman Zelo, pemuda itu hanya mengedipkan matanya tak mengerti.

"Kau dengan Jongup, dan aku dengan Zelo, Himchan dan Yongguk, deal?" Daehyun menantang Youngjae.

"Dengan Zelo?" sangsi Youngjae.

"Ya tentu saja, Zelo kan..." Daehyun terdiam sembari memikirkan kembali ucapan yang ingin keluar dari mulutnya.

"Zelo kan..?" Youngjae tersenyum lebar, Zelo yang disamping Daehyun hanya bisa menanti kelanjutan perkataan Daehyun dengan senyuman tertahan dengan menggigiti bagian dalam mulutnya.

"T-tidak, aku aku.."

TREK

Gelap, mati lampu, Daehyun berdesah kesal, erangan kesal memenuhi ruangan dimana mereka berada, baru saja Daehyun hendak berdiri mengambil senter saat seseorang menahan ujung kemejanya, kemeja bagian kanannya, yang disana duduk Zelo dengan kaku.

"Kau.. baik-baik saja?" Daehyun menahan tubuhnya dan kembali duduk, Zelo meremas kemejanya semakin erat.

"Hyung.. aku takut"

.

'Lagipula aku takut gelap hyung'

.

Denyutan dipelipisnya terasa, tidak.. jangan sekarang.

Zelo refleks memeluknya, harum aroma rambutnya menusuk, membuat denyutan dikepalanya semakin menjadi-jadi, tangan Daehyun yang kaku perlahan bergerak, menuju punggung Zelo dan mengusapnya pelan.

"Aku menemukan senternya" teriak Youngjae.

Daehyun tidak perduli, yang diperdulikan hanya bagaimana membuat Zelo merasa nyaman, yang dipikirkannya adalah degup jantungnya yang menggila, yang dipikirkannya hanyalah kata-kata tertunda dilidahnya yang tak jadi keluar.

.

'Zelo kan... kekasih ku'

.

.

.

Jongup tersenyum, menempelkan dahinya pada Youngjae dan menekannya kuat hingga Youngjae tertawa keras dan menekan dahinya tak kalah kuat.

"Aku tahu kau pasti bisa" Youngjae mengalungkan lengannya dileher Jongup. mengelus tengkuk Jongup dengan lembut.

"Aku bisa" bisik Jongup dan menekan punggung Youngjae agar Jongup bisa memeluknya erat.

"Jarak tak berarti apa-apa jika kau mencintai seseorang" cicit Youngjae, meletakkan kepalanya pada pundak Jongup.

"Jarak berarti aku tidak bisa menyentuh mu" Jongup mengelus pundak Youngjae "Jarak berarti aku tidak bisa mencium mu" Jongup mengecup pundaknya lalu menghirupnya dalam.

Youngjae tertawa geli, mengeratkan pelukannya seakan tak ingin melepas Jongup, tak memerdulikan tatapan orang-orang yang berada disekitar mereka.

"Jangan membuat jarak kalau begitu" ujar Youngjae "Jangan pernah berani membuat jarak dengan ku lebih dari seratus meter mulai saat ini" Youngjae merenggut kerah baju Jongup.

Jongup mengecup hidung Youngjae "Apakah itu ajakan menikah?"

Youngjae mengangguk-angguk semangat. Jongup menjawill pipi Youngjae gemas.

"Ayo menikah, bagaimana jika besok?"

.

.

.

"Mereka membuat ku iri" Zelo terkejut kala Daehyun kini berdiri disampingnya, memilih daging yang sudah masak lalu menaruhnya diatas piring, Zelo yang saat itu tengah membalikkan daging hanya bergumam 'siapa'.

"Youngjae dan Jongup tentu saja" jawab Daehyun cepat, mengambil sepotong daging lalu memakannya.

"Bukankah sudah biasa?"

"Apanya?"

"Mereka, mereka memang sudah biasa berdua seperti itu" jawab Zelo.

"Hm begitukah? ingatan ku buruk sekali"

Sangat buruk, kau bahkan melupakan kekasih mu, gerutu Zelo.

Daehyun menoleh dan meneliti Zelo yang menunduk, rambutnya tersibak angin dia masih sibuk membalikkan potongan daging.

"Apakah kau tidak terlalu banyak memakai baju hangat?" Daehyun bertanya saat melihat berlapis-lapis baju hangat yang tertumpuk pada kerah bajunya, ditambah sebuah jaket sangat tebal dan juga syal melilit dilehernya.

"Ini masih kurang menurut ku, aku tidak suka dingin"

.

"Aku tidak suka musim dingin, itu membuat ku flu"

.

Daehyun hampir saja menjatuhkan piring ditangannya, suara lembut itu kembali terngiang.. suara lembut yang sangat mirip dengan suara Zelo.

Daehyun melepaskan syal dilehernya, melilitkannya pada leher Zelo yang membuat pemuda itu terdiam tak bergerak.

"Jangan sampai tekena flu, kau tidak menyukainya"

Daehyun langsung melangkah meninggalkan Zelo yang terpaku, meremas syal berwarna putih yang melilit dilehernya, Zelo sungguh berharap Daehyun segera mengingatnya.

Zelo mengangkat wajahnya, lalu seakan semua harapannya terhempas dan runtuh saat melihat Daehyun duduk didepan Himchan yang sedang mengupas buah, meletakkan piring berisi daging yang tadi dibawanya dihadapan Himchan, lalu mengulurkan tangan menyuapi Himchan..

Zelo tertawa kecil menyadari sakit dihatinya.

.

.

.

Daehyun menatap taat pada wajah Himchan, rambutnya yang merah kelam terasa halus dalam pandangannya, dia sibuk dengan buah-buahan didepannya, merasa diacuhkan Daehyun menarik tatakan tempat Himchan mengupas buah hingga membuat gumaman protes keluar dari mulutnya.

"Yang kekasih mu sebenarnya buah itu atau aku?" Daehyun menahan tangan Himchan.

"Daehyun~ jangan bermain-main, cepat berikan"

"Beritahu aku satu hal sebelum aku melepaskan tangan mu" Daehyun menatap Himchan serius.

"Apa?" Himchan meremas gagang pisau dengan erat.

Merasa risih, Daehyun mengambil pisau ditangan Himchan dan meletakannya menjauh, Daehyun menyingkirkan piring sertas barang-barang yang menghalangi mereka. menggenggam jemari Himchan, ingin mencari dimana letak degup jantungnya yang dulu, nihil.. Daehyun tak merasakan apapun.

"Kau mencintai ku?" cukup membuat mata itu melebar karena kaget, Himchan menolak menatap matanya.

"Kau tahu jawaban ku" gumam Himchan lirih. Tentu saja, Daehyun tidak cukup bodoh untuk melihat mata Himchan dan Yongguk saat mereka bertatapan.

"Lalu katakan, buat aku yakin.. Kau masih memilih ku, bukan? hingga saat ini setelah lima tahun berlalu, kau masih kekasih ku?"

Jika Himchan mengatakannya sekarang, akankah ini menjadi akhir dari semua sandiwaranya, akankah dia bisa kembali pada Yongguk tanpa takut Daehyun melihatnya dan membuat luka dikepala Daehyun semakin parah?

"Kau tahu jawabannya" menolak memberikan jawaban jelas.

"Kau tidak perlu bertanya pada ku, karena yang tahu adalah diri mu sendiri" Himchan membalas remasan pada jemari Daehyun.

"Aku menyayangi mu Daehyun-ah, tapi rasa sayang ku tidak ada apa-apanya jika aku bandingkan dengan kekasih mu. Kekasih mu sebenarnya"

.

.

.

Pandangannya tertutup sebuah piring, Zelo mengerjapkan matanya, Jongup berdiri disampingnya sembari terkekeh pelan, membantu Zelo membalik-balikkan daging sesekali memasukannya kedalam mulut.

"Jangan dilihat" ujar Jongup sambil menutup wajah junhong dengan telapak tangan, membuatnya tak bisa melihat Daehyun dan Himchan lagi.

Zelo meringis kecil, menaruh potongan daging pada piring yang dibawa Jongup.

"Kenapa kau selalu melihat mereka, yang sakit kan dirimu" Jongup menaruh beberapa sosis keatas panggangan.

"Aku tidak memperhatikan mereka" Zelo tersenyum tipis, tetapi sedikit gelisah.

"Aku memperhatikan Daehyun hyung" jelasnya, Zelo melirik sekali lagi pada sosok Daehyun yang masih berbincang dengan Himchan.

Jongup menelan air liurnya, lalu bergumam tentang sebuah kontes dance didaerah Gwangju, berbincang kesana-kemari hanya untuk mengalihkan sesaat pikiran dan mata Zelo dari Daehyun, tidak.. Dari Daehyun dan Himchan.

"Aah dingin sekali" Zelo memasukkan jemarinya kedalam saku jaket. Bergidik karena angin malam yang semakin menusuk.

"Memangnya, acara ini dalam rangka apa?" Zelo memakan sepotong daging dengan campuran saus keju.

"Aku lulus tes"

"Tes?"

"Hm, tes beasiswa ke Australia"

Zelo berdecak kagum, memberikan ucapan selamat tanpa menyadari ada senyuman resah dibalik wajah Jongup. Dia tidak mungkin melakukan ini dengan kehendaknya sendiri, baginya lulus dan mendapat gelar sarjana saja sudah cukup, tapi benar-benar, pengaruh Youngjae bahkan bisa menggerakan sifat malasnya.

"Dengan Youngjae juga?" Zelo semakin berdecak kagum, Jongup seakan bisa melakukan apapun untuk Youngjae.

"Kau sangat mencintainya hm?" ada nada iri dinadanya.

Jongup terkekeh "Sangat, didunia ini tidak ada yang bisa mencintainya seperti aku"

Zelo tertegun, merasa kecil dengan ucapan Jongup. Merasa, tidak ada apa-apanya, seperti perasaannya sangat dangkal bila dibandingkan dengan mata bersinar Jongup saat mengatakan perasaannya padaa Youngjae.

"Saat dulu kami sempat berpisah seseorang berkata seperti ini pada ku 'jika kau mencintainya maka kau harus berjuang untuknya'" Jongup tersenyum kecil seraya menatap matanya.

"Youngjae sudah berjuang untuk membuat ku menyukainya lalu giliran ku yang berjuang untuk mempertahankannya" Zelo menatap lurus ke arah Daehyun

"Menjalin hubungan itu adalah sebuah ukuran tentang keberanian, menjalin sebuah hubungan itu harus mempunyai keberanian, keberanian untuk mengambil keputusan apakah hubungan itu layak dipertahankan atau tidak"

Zelo tertawa kecil, sadar akan perjuangan yang tak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan perjuangan untuk Daehyun memilikinya.

Langit malam semakin gelap, rintikan hujan membuat Zelo dan Jongup terkesiap, menutupi daging panggang yang sudah siap saji, Zelo menutupi kepalanya dengan telapak tangan, hendak berlari menuju kedalam rumah Youngjae saat pandangannya tertuju pada Daehyun yang membuka jaketnya dan menudungi tubuh Himchan dari hujan.

Tak mengerti kenapa hatinya terasa nyeri, dia berdiam diri seperti orang bodoh, menatap keduanya walau mereka tak akan menyadarinya. Jongup menutupi kepalanya dengan sweaternya, berteriak agar Zelo berlari menuju rumah dan tak berdiam diri.

Zelo melangkah cepat, sedikit lebih lambat untuk mengklamufase air matanya dengan rintikan hujan.

.

.

.

Tentu saja Himchan melihatnya, matanya masih cukup bagus untuk melihat Zelo yang berlari memeluk Yongguk dan menangis dipundak kakaknya, rasa bersalah ini akan terus menerus menghimpit dadanya, Himchan menepis lengan Daehyun.

"Aku akan berkata jelas"

"Hm?"

"Aku memilihnya, aku memilih Yongguk, dan kekasih mu yang sekarang.." Himchan lelah bersandiwara.

Daehyun menunggu dengan sedikit sangsi dihatinya.

"Zelo, kekasih mu adalah Zelo"

.

.

.

Daehyun memperhatikan seorang pemuda berkulit putih yang mengenalkan dirinya sebagai 'Oh Sehun' teman satu sekolah Zelo.

Zelo, dengan persetujuan Youngjae mengajak Sehun untuk datang kerumah Youngjae, harusnya Daehyun melarang Youngjae mengiyakan.

Sehun duduk disamping Zelo, sesekali berbisik hingga lengkungan dibibir Zelo terbentuk, Daehyun mengira.. Apakah dia juga bisa membuat Zelo tersenyum?

Meja makan terasa sangat meriah dengan berbagai makanan yang sudah disiapkan, rencana untuk makan ditaman belakang gagal karena hujan lebat yang masih turun.

Daehyun ingin mengusir Sehun dari samping Zelo, apalagi dengan ucapan Himchan perihal Zelo sebagai kekasihnya.

Daehyun sungguh ingin mengingatnya, segalanya..

"Berikan untuk ku" Sehun mengulurkan piringnya, Zelo memindahkan kuning telur dari piringnya ke piring Sehun.

Yongguk sibuk dengan Himchan, dan Daehyun tak berniat untuk mengganggunya, karena kenyataan jika Himchan dan Yongguk masih berhubungan tak dapat dicegahnya, Jongup dan Youngjae sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri,

"Apa itu?" tanya Daehyun pada Sehun dan Zelo.

Zelo menatap matanya, menyikut Sehun "Zelo tidak suka kuning telur" jawab Sehun.

Zelo mengangguk-angguk setuju, menggigiti sumpitnya lalu meminta Sehun untuk mengambilkannya sepotong daging.

Sehun mendekatkan saus keju ke piring Zelo, menjauhkan saus kecap dan Daehyun hanya memperhatikan itu dengan wajah kesal.

"Kau akan menyesal karena tidak menyukai kecap" ujar Sehun, Zelo hanya memeletkan lidahnya ke arah Sehun dan terus makan sembari sesekali mengajak Sehun berbincang.

Daehyun kehilangan nafsu makannya.

Entah kenapa... Dia tidak suka Zelo terlihat akrab dengan Sehun.. Tidak.. Sangat tidak suka,

.

.

.

"Apakah aku juga tahu tentang itu?" tanya Daehyun saat mereka sedang menaiki tangga, lift di gedung apartemen mereka sedang rusak, dan berakhir dengan menaiki tangga menuju masing-masing kamar.

"Apa?" Zelo menyingkirkan anak rambut yang menusuk kelopak matanya.

"Kau tidak menyukai kuning telur dan juga kecap" Daehyun berucap resah

Zelo mengangguk, sangat yakin.

"Kau tahu segalanya tentang aku" jawab Zelo.

"Kau menyukai susu, sesuatu tentang stitch, benarkah?"

Zelo menghentikan langkahnya tiba-tiba, bersikap biasa saja lalu melanjutkan kembali langkahnya.

Daehyun menahan lengan Zelo, bibirnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu.

"Aku mungkin belum bisa mengingatnya.. Choi Junhong"

Daehyun memanggilnya dengan nama aslinya, nama yang hanya Daehyun ucapkan bila mereka sedang berdua.

"Aku mencoba mengingatnya.." Daehyun menarik nafas panjang, menaiki satu undakan tangga hingga tubuhnya kini dalam posisi seimbang dengan Zelo.

"Bantu aku mengingat mu, sebagai kekasih ku"

Daehyun memeluknya dengan hati-hati, jantungnya berdegup tak karuan, aliran listrik yang selama ini menghilang kini seakan menjalari tubuhnya, mendesak matanya yang memanas untuk merengkuh Daehyun erat-erat.

Zelo bersumpah dia tidak mau melepaskan Daehyun.. dia akan memperjuangkan Daehyun, dia akan mempertahankan Daehyun.

"Kau alergi acar dan udang, hm benarkan?" bisik Daehyun lirih, junhong mengangguk cepat "Wah.. ingatan ku kenapa menjadi bagus seperti ini" ujar Daehyun sambil tekekeh.

"Mungkin itu karena pelukannya" Zelo meremas semakin kuat kemeja Daehyun, menghirup aroma tubuhnya yang segar.

"Pelukan bisa membuat memori seseorang menjadi kuat" jelas Zelo lirih.

Daehyun bernafas ditelinganya..

"Kalau begitu... peluk aku setiap hari"

.

.

.

.

.

.

Daehyun kembali memberikannya rangkaian bunga lily, tetapi tak ada lagi mawar merah ditangannya, hanya ada lily..

"Mau ku antar?" aju nya sambil mengulurkan lengannya, yang dengan canggung Zelo langsung menggapainya. Menaruh bunga lilynya diatas meja dekat dengan pintu dan bergegas keluar dengan senyuman.

Pagi dingin ini menjadi sedikit hangat dengan genggaman tangan Daehyun, dia bahkan tidak masuk kedalam apartemennya hanya untuk mencari kabar tentang Himchan. Zelo memandangi wajah Daehyun, mengira jika apakah ini benar-benar Daehyun? Daehyun-nya?

"Aku tahu aku tampan" ucapnya sambil tersenyum, kembali menuruni tangga karena fasilitas lift yang masih rusak.

"Zelo-ya pernah kah aku marah pada mu?" tanya Daehyun

Zelo menggeleng, "Kau terlalu baik, hyung"

"Kau ingin aku marah?" Zelo bertanya dengan alis terangkat.

"Kau bisa marah?"

"Tentu"

"Tentang?"

"Kau melupakan ku, aku punya alasan kuat untuk marah pada mu" jelas Zelo sambil bersidekap.

"Baiklah marah jika begitu"

"Apa untungnya jika aku marah pada mu?"

Daehyun tiba-tiba menggenggam tangannya, dengan halus mengelusnya.

"Aku mempunyai tantangan untuk membuat mu tidak lagi marah pada ku"

Zelo hanya diam, mengontrol mati-matian senyuman diawajahnya, Zelo menarik garis bibirnya untuk bersikap datar.

"Ada acara nanti malam?"

Zelo menggeleng dan dengan enggan melepas jemari Daehyun karena dia harus duduk dikursi disamping Daehyun sedangkan pemuda itu sudah duduk dikursi kemudinya.

"Mau makan malam?"

Zelo menggaruk pelipisnya, lalu mengangguk semangat, Daehyun membantunya memasang sabuk pengaman, tersenyum saat wajah mereka begitu dekat dan menyentuh hidung Zelo dengan ujung jari telunjuknya.

"Peluk?"

Zelo menggigit bibirnya, mengulum senyuman dan memeluk Daehyun dengan posisi Daehyun yang sedang memegang sabuk pengaman.

Menyerukkan wajahnya pada rambut Daehyun yang halus, senyuman yang tak kunjung hilang diwajahnya membuatnya terasa sangat mabuk oleh senyuman Daehyun, Daehyun mengusap tengkuknya lalu perlahan menjauh.

"Wah, aku yakin ingatan ku akan cepat pulih"

Zelo tertawa mendengarnya.

.

.

.

"Junhong sudah berangkat?"

Yongguk keluar kamar dengan handuk kecil berada dilehernya, kebiasaannya untuk mengeringkan rambut.

Himchan mengangguk, menepuk tempat disampingnya dan menyiapkan kopi untuk Yongguk.

"Daehyun tidak kemari?" Yongguk duduk disamping Himchan, mengecup pipi pemuda itu sekilas.

"Aku mendengar suaranya tadi, tapi entahlah"

Yongguk melihat rangakain bunga lily diatas meja di dekat televisi, dari jauh saja sudah terlihat jika bunga itu baru saja diberikan, terlihat segar..Zelo menaruh lily yang diberikan Daehyun didalam kamarnya.

"Daehyun tidak memberi mu mawar?"

"Hm, benarkah? baguslah" Himchan tersenyum, menaruh roti bakar diatas piring didepan Yongguk. Yongguk menatap Himchan dengan sebelah alis terangkat, meminta penjelasan.

Himchan meringis dalam senyumannya, berniat pergi namun Yongguk dengan segera menarik pinggangnya untuk tetap duduk.

"Katakan atau aku akan membatalkan pesta pertunangan kita" ancam Yongguk sambil menarik lebih dekat pinggangnya.

Himchan merenggut, memukul mukul lengan Yongguk yang berada dipinggangnya, Himchan sudah sangat menanti acara pertunangan yang Yongguk rencanakan akan diselenggarakan bulan ini, dan Himchan sungguh tidak ingin acara itu batal.

"Aku semalam memberitahu Daehyun" Himchan memainkan pinggiran gelasnya.

"Tentang Zelo.." lanjutnya hati-hati.

Yongguk menahan tangannya yang sudah memegang roti panggang, jadi apakah ini penyebab Daehyun nampak biasa saja saat Himchan dan dirinya mengobrol juga pergi sesaat ke supermarket?

"Dia baik-baik saja?"

Himchan mengangguk "Ku rasa, dia tampak nyaman setelah aku memberitahunya"

"Tidak terjadi apapun?"

Himchan menggeleng dan menggamit lengan Yongguk.

"Dia mengenal Zelo bukan dengan ingatannya" menaruh dagunya di pundak Yongguk. "jadi saat aku beritahu... sepertinya bukan otaknya yang memerintah.. tapi hatinya" kekeh Himchan dengan bahagia.

"Hm..baguslah"

Ada naga lega disana, Yongguk mendekat dan memberikan kecupan ringan dipipi Himchan.

"Ini mungkin akan berakhir, dan kembali mulai seperti semula"

mereka berharap sama..

"Jadi warna apa yang mau kau pilih untuk setelan jas mu?" Tanya Yongguk yang dihadiahi jeritan senang Himchan.

.

.

Tetapi.. siapa yang tahu?

.

.

"Berhenti merokok"

Zelo mengambil puntung rokok yang berada disela-sela bibir Sehun, membuangnya sejauh mungkin dan berkacak pinggang didepan pemuda itu.

"Itu tidak baik untuk kesehatan mu" renggut Zelo sembari duduk disamping Sehun, mengeluarkan sebuah kotak makan dan mengulurkannya pada Sehun.

"Untuk ku?"

"Hm" angguk Zelo "sebagai tanda terimakasih karena kau sudah mau datang semalam, maaf mengganggu waktu mu"

Sehun berdecih "Aku hanya berdiam diri dirumah"

Zelo baru bisa menghubungi pemuda itu kemarin pagi, lalu mengajaknya makan malam bersama dirumah Youngjae semalam dan hari ini, Sehun kembali masuk sekolah.

"Jangan terlalu baik pada ku, nanti aku bisa-bisa jatuh cinta" canda Sehun sambil membuka kotak makan yang dibawa Zelo.

"Maaf Tuan Oh. Sehun hati ku sudah dipunyai seseorang"

"Hati ku juga" Zelo menggigiti bibirnya.

"Bagaimana kabarnya?"

Sehun mengangkat bahunya acuh "Ku rasa baik"

"Jika dia tidak?"

"Satu sama, kita tidak sama-sama baik. Bahkan saat kami disekolah dasar, saat Luhan pergi berekreasi selama seminggu dia jatuh sakit karena tidak bisa jauh dari ku, dan ini hampir dua minggu.. dia baik-baik saja" ujar Sehun sambil tersenyum tipis.

"Jika dia kembali pada mu?"

"Tentu saja aku akan menerimanya" Sehun memasukkan sepotong cumi kedalam mulutnya.

Sehun memperhatikan wajah Zelo yang muram, menepuk pundaknya pelan sambil mengangkat alisnya samar.

"Aku mempunyai firasat yang tidak enak"

"Kau selalu seperti itu" cibir Sehun

"Ck"

mereka terdiam, Sehun nampak menikmati makanan yang dibawakan junhong, menawari pemuda itu namun hanya mendapat balasan gelengan kepala.

"Bagaimana.. jika dia tidak juga kembali?"

Sehun menaruh sumpitnya..

"Aku akan menunggunya"

.

.

.

Zelo mengulum sumpitnya sembari bergumam tentang makanan didepannya, Zelo mengambil pisau disisi kirinya, berniat memotong daging panggang dipiringnya saat Daehyun menarik piringnya.

Zelo menatap Daehyun dengan renggutan samar, namun tertegun saat Daehyun menaruh piring miliknya dengan daging yang sudah diiris beraturan oleh Daehyun. Zelo bergumam terimakasih, memasukkan daging panggang kedalam mulutnya yang tak henti tersenyum.

"Senang rasanya bisa membuat mu tersenyum"

"Hm?"

"Kemarin, saat Sehun berada disamping mu. Kau tidak berhenti tersenyum setiap kali pemuda itu berbisik pada mu, lalu aku berpikir.. apa aku juga bisa melakukan itu?"

"Lalu jawabannya?"

Daehyun menyangga sikunya pada meja. "Ternyata mudah, menatap mu selama tiga detik saja kau sudah tersenyum"

Zelo tertawa ringan, Daehyun menatapnya tak berkedip.

"Suara tawa mu bagus"

"Apa?" Zelo menutupi mulutnya yang masih tertawa.

"Sudah jangan tertawa lagi" Daehyun masih menatapnya, seolah makanan didepannya tak berarti apa-apa jika sudah ada Zelo bersamanya.

"Kenapa?" cicit Zelo sambil merenggut.

"Kau lihat pemuda diujung sana?"

Zelo menuruti arah tunjukan tangan Daehyun, melihat seorang pemuda berjas coklat sedang bersama seorang wanita didepannya.

"Ya, ada apa? dia teman mu?"

"Bukan, pemuda itu sedari tadi memperhatikan mu"

Zelo melebarkan matanya, menatap Daehyun dengan pandangan tak percaya.

"Maka dari itu jangan tertawa" ujar Daehyun.

"Apa hubungannya?"

"Aku tidak mau pemuda itu jatuh cinta pada mu karena mendengar mu tertawa"

Zelo terdiam, Tersenyum tipis menyadari pipinya yang bersemu. Zelo menutup mulutnya dengan telapak tangan.

"Ya, tapi jangan membuat ku berbicara seorang diri"

Zelo melepaskan telapak tangan dari mulutnya dan kembali makan, mereka berbincang ringan lalu saat makanan penutup Zelo nampak sangat bersemangat sambil tersenyum lebar.

"Kau sangat suka makanan manis?"

"Hum hum" Zelo mengangguk.

Daehyun tersenyum memandang wajah Zelo yang bahagia, lalu perasaan ini lengkap, tidak ada lagi perasaan aneh, hanya ada perasaan.. Daehyun harus mempertahankan pemuda didepannya.

"Peluk aku"

"Hah?"

Mereka kini berada diparkiran, Zelo sudah membuka pintu mobil saat Daehyun tiba-tiba berdiri disampingnya dan berbicara seperti itu.

"T-tapi.."

"Peluk. Kau harus memeluk ku Zelo-ya"

Daehyun sudah merentangkan kedua tangannya, Zelo menyipitkan matanya. Menganalisa apa yang terjadi dengan Daehyun yang dengan tiba-tiba meminta sebuah pelukan.

Zelo maju mendekat dan memeluk Daehyun, Daehyun bergumam kecil sambil membenturkan kepalanya dengan kepala Zelo.

Daehyun melepaskan pelukannya, tersenyum dan membuka pintu mobil untuk Zelo. Zelo menggigiti bibirnya dan bertanya-tanya akan kondisi Daehyun saat ini.

Aneh.. tapi.. menyenangkan.

.

.

.

.

"Aku tidak mau pulang" terpaan hangat nafasnya menyapa kulit.

"Kemanapun tapi tidak kembali kesana, aku ingin bersama mu, tanpa ada siapa-siapa"

Daehyun mengusap rambut Zelo, menatap ke arah kegelapan malam. Dia menutup matanya dan mengecup puncak kepala Zelo.

"Baiklah, hanya kita"

.

.

.

Sinar bulan yang berwarna keperakan menyatu dengan kulitnya yang seputih salju, membuat penyatuan yang tak kalah indah daripada langit siang dan pelangi. Zelo tersenyum dan menarik lengan Daehyun, membawanya berlari bersama sapuan angin. Rambutnya tersapu keatas, senyuman cerah dan cahaya indah di kedua matanya.

"Indah bukan?" ujarnya, membenarkan rambutnya yang acak-acakan dan mengertakan pelukan pada lengannya.

"Kau pernah kesini sebelumnya?"

Zelo mengangguk, mengerjapkan matanya saat angin malam terlalu jahat.

"Sehun pernah mengajakku kesini"

Satu nama itu membuat dagu Daehyun mengeras, tak sadar jika dia meremss jemari Zelo dan menatap lurus pada gulungan ombak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Ingat? Hanya kita"

Zelo tertawa ringan, membuat pundaknya terasa merasakan keringanan itu.

Zelo merunduk dan membuka ikatan tali sepatunya. Dia menggenggam lengan Daehyun sebagai tumpuan.

"Mau apa?" Daehyun menyipitkan matanya. Gelap. Hanya terlihat rambut Zelo yang berkibar lembut

"Ayo hyung lepaskan sepatu mu" jemari Zelo bergerak membuka ikatan sepatu Daehyun.

"Tidak, Zelo tidak" Daehyun melangkah mundur.

"Ini hampir tengah malam, kau bisa sakit"

Zelo tak mendengar, lebih memilih berlari dan menghilang pada gelapnya malam.

Daehyun menarik nafas panjang. Namun senyuman tipis terbentuk. Inikah rasanya bersama Zelo? Sesuatu yang terasa tak mungkin bisa menjadi kenyataan.

Daehyun berjalan menghampiri asal suara air yang beradu dengan telapak kaki. Sosoknya yang memakai kemeja berwarna putih sangat mudah dikenali. Daehyun tak bisa merasakan dinginnya air laut, berbeda dengan Zelo yang tersenyum senang, memainkan jari-jari kakinya pada pasir dan sapuan ombak yang mencapai kakinya.

Daehyun berdiri disamping Zelo, mereka terpana pada bulan yang sangat indah. Jemari Zelo mencari letak dimana jari Daehyun berada, lalu meremasnya kuat dan menahan nafas.

"Hyung, bagaimana rasanya?" Bisik Zelo. Mengagumi angin yang menerbangkan rasa sakitnya.

"Apa?" Daehyun membalas remasan jemari Zelo.

"Apakah kau bisa merasakan ku?" Gumam Zelo rendah, jemari Zelo yang dingin merayap pada matanya yang terasa kebas.

Daehyun tertegun.

Daehyun terkejut kala telapak tangan Zelo menutupi matanya, kegelapan yang semakin menjadi.

"Kau tahu apa yang membuat ku berani berada dikegelapan?" Zelo berbisik di telinganya.

"Kau"

"Jika kau memang tidak bisa mengingatku, maka rasakan keberadaan ku" Zelo menyentuh dadanya, yang disana jantungnya berdegup begitu cepat.

Daehyun memejamkan matanya, saat Zelo bergerak mundur, membiarkan sosok Daehyun berdiri tanpanya, tangannya ingin merengkuh sosoknya. Yang begitu mengambil hatinya, yang telah...melupakannya.

Daehyun menyentuh dadanya, hangat... tak ada Zelo disisinya namun dia bisa merasakan jantungnya berdegup cepat.. apakah karena saat ini dia tengah memikirkan pemuda itu?

"Zelo-ya" Daehyun membuka matanya, tak melihat ataupun merasakan kehangatan tubuh Zelo.

"Aku tidak bisa merasakannya, maukah kau tetap disini dan memberi ku waktu untuk merasakannya?" Hening. Hanya terdengar gulungan ombak dan rintihan ranting-ranting kayu.

"Zelo.. tetaplah disini"

Dan kata itu berhasil membuat Zelo memburu dan memeluk Daehyun erat, membenamkan wajahnya pada bahu Daehyun.

"Aku disini hyung"

Ini adalah saatnya posisi berganti. Saat yang berucap kini berganti, saat yang berjanji kini melupakan, sosok lain mengharapkan kata-kata menenangkan. Dan disinilah kekuatan itu ada, membalikkan penjanji menjadi yang berjanji.

.

.

.

"Ah baju ku basah" gerutu Youngjae, menepuk bahunya yang basah sambil menatap Jongup polos.

"Ck bandel, sudah ku katakan agar memakai sweater" ucap Jongup sambil membuka sweaternya dan menaruhnya dipundak Youngjae

Youngje terkekeh, mencubiti pipi Jongup karena gemas dengan nada marah Jongup

"Kau sudah siap-siap?" Youngjae menggapai jemari Jongup dan meremasnya.

"Aku belum pakcing" ujarnya sambil menggosok rambutnya dengan jemari yang basah.

"Mau ku bantu?"

"Kau sudah beres?"

"Tentu saja"

Ya seharusnya dia tahu jika Youngjae adalah seseorang yang merencakan segalanya dengan sangat baik.

"Jika tidak merepotkan"

"Tidak. Kita akan ke apartemen mu sehabis bertemu Daehyun" Youngjae tersenyum. Menekan dagu Jongup dan memberi sekilas kecupan dipipi Jongup.

Youngjae memasukkan kunci cadangan apartemen Daehyun yang memang dipegangnya setelah insiden kecelakaan itu. Tertawa kecil akibat lelucon yang dibisikkan Jongup. Youngjae kembali mematung diambang pintu kamar Daehyun, membuat Jongup menggeser tubuh Youngjae dengan gemas.

"Apakah ini kebiasaan baru mu? Berdiri tak bergerak diambang pintu?"

Youngjae terkekeh pelan, menepuk pipi Jongup. Takjub Daehyun dan Zelo yang sedang tertidur dengan saling bersandar pada kepala masing-masing. Televisi didepan mereka masih menyala. Daehyun masih menggenggam remote control ditangannya lalu satu tangannya menggenggam jemari Zelo erat.

"Apa yang aku lewatkan selama ini astaga" Youngjae memijit keningnya.

"Kau sibuk dengan australia. Dimana kita akan tinggal. Dimana kita akan makan. Dimana kita akan menghabiskan sore hari sambil minum teh" jelas Jongup berdiri disamping Youngjae. Bergerak ke depan Youngjae dan membenturkan dagunya pada kening Youngjae yang termangu.

"Ah aku?" Tunjuknya pada diri sendiri. Jongup mengangguk.

"Kau harus banyak beristirahat"

Youngjae menganguk, memikirkan bagaimana cara membangunkan Daehyun tanpa membangunkan Zelo.

"Jung" Youngjae menepuk pipi Daehyun samar. Kerutan didahi Daehyun akibat acara tidurnya yang tertunda membuat matanya terbuka. Sedikit terkejut lalu menyadari jika Zelo tengah bersandar pada kepalanya.

Daehyun dengan hati-hati menurunkan kepala Zelo, mengambil bantal sofa dan membuat tubuh Zelo berbaring sempurna. Mengamati sesaat wajah Zelo lalu mencubit pipinya gemas.

Daehyun bangkit dan menyusul Youngjae yang berada didapur, bersama Jongup sedang berbisik sambil tertawa kecil.

"Ada apa?" Tanya Daehyun sambil berkacak pinggang.

Youngjae duduk dikursi meja makan. Jongup tersenyum padanya dan berkata akan membaca komik diruang tengah.

"Kau baik-baik saja?" Youngjae memandangnya khawatir.

"Aku baik. Aku akan ceritakan perihal Zelo nanti. Beritahu aku dahulu apa yang kau khawatirkan?" Daehyun duduk didepannya.

"lusa aku akan mulai pindah ke Australia. mau menemani ku sampai bandara?"

Daehyun mengangguk cepat "Tentu saja"

Youngjae tiba-tiba memeluknya. Terisak penuh dipundak Daehyun.

"Jangan berbuat macam-macam. pikirkan dahulu saat kau hendak berbuat sesuatu" gumam Youngjae.

"kau tidak perlu khawatirkan aku" Daehyun mengusap punggung Youngjae.

"bagaimana bisa? aku hampir tertabrak bus saat mendapat telpon dari rumah sakit perihal keadaan mu. kau tahu bagaimana sekhawatir aku hah?!"

"maafkan aku. aku akan baik-baik saja" tenang Daehyun.

"berjanji?"

"aku berjanji, ada Zelo disamping ku" pasti Daehyun. mengejek mata Youngjae yang sembab lalu mendapat cubitan kesal dari sahabatnya itu

Youngjae sangat menyayanginya..

Sahabat yang tidak akan bisa kau temui dimanapun.

Tangan kanan seorang Jung Daehyun adalah Yoo Youngjae.

Daehyun sadar jika dia sedikit mengorbankan dirinya tidak sebanding dengan pengorbanan yang Youngjae lakukan untuknya.

Karena tanpa tangan kanan kau tidak akan bisa melakukan apapun.

.

.

.

.

Zelo menggerutu kesal pada soal-soal perhitungan yang sedang dia selesaikan. Mengurut keningnya untuk sesaat lalu meremas pensilnya. Tetap memikirkan bagaimana keadaan Daehyun saat ini menjadi nomor satu dikepalanya. Zelo mendesah kesal, himchan masuk dan menaruh segelas susu hangat disamping meja belajar. Menepuk halus kepala junhong dan berlalu pergi

Hujan.. diluar hujan lebat.

Ponsel atas mejanya berdering, mengambilnya dengan jangkauan tangan lalu terkejut saat melihat nama Daehyun tertera disana.

"Hyung!" Panggilnya bersemangat.

"Hay cantik, bisa tolong aku?" Suara Daehyun teredam oleh bunyi berisik disekitar Daehyun.

"Tolong apa?" Zelo mengerutkan keningnya.

"Bisa tolong antarkan payung ke halte?" Sengau suara Daehyun.

"Halte mana?"

"Halte mana lagi. Hanya ada satu halte didekat apartemen kita" jelas Daehyun. Terdengar suara bersin lalu gerutuan samar Daehyun.

"Kau tidak membawa mobil?" Zelo berharap Daehyun tidak sedang mengerjainya.

"Tidak! jemput aku, cepatlah ini semakin dingin."

Zelo bergegas memasukkan ponsel kedalam saku celana, mengambil jaketnya dan keluar kamar. Membalas jika dia ada sedikit keperluan saat yongguk menanyakannya. Zelo mengambil payung, berlari menuju lantai bawah dan dengan segera menerjang hujan dengan tuduhan payung.

Zelo mengerjap-ngerpkan matanya, terkena sedikit sapuan halus hujan hingga merasa jika matanya tidak salah lihat.

Daehyun disana...

Berdiri menanti Zelo dengan tangan dimasukkan kedalam saku mantel.

Zelo melangkah mendekat, masih mengira jika dia bermimpi saat ini. Namun mata mereka yang bertatapan juga senyuman Daehyun yang tertuju padanya meyakinkan dirinya jika dia tidak bermimpi. baru 4 jam Daehyun meninggalkanya untuk mengantar Youngjae dan Jongup, namun Zelo sudah sekhawatir ini

Daehyun memeluknya saat dia sudah berada disampingnya.

"Jangan menangis, cantik" bisiknya.

"Tidak, aku tidak menangis. Ini hanya air hujan" ucapnya sambil menyeka air mata dipipinya.

Daehyun tertawa, mengeratkan pelukan. Zelo sungguh tidak apa, bila ingatan Daehyun memang tidak bisa dikembalikan. Zelo sungguh baik-baik saja. Dengan Daehyun yang memeluknya dan bisikan lembut namanya ditelinga yang Daehyun dengungkan.

Tetapi sudah sifat manusia untuk selalu tidak puas, Zelo menginginkan Daehyun secara utuh. Utuh dalam artian segala ingatan dan kenangannya bersama Zelo. Zelo butuh Daehyun yang mengingatnya.

"Aku kedinginan" cicit Zelo. Daehyun melonggarkan pelukan. Menarik jemari Zelo agar mereka bergenggaman.

"Kau hanya membawa satu payung?" Tanya Daehyun. Zelo mengangguk

"Aku.. terlalu bersemangat" aku Zelo.

Daehyun terkekeh, "yasudah satu payung lebih bagus, rapatkan tubuh mu dengan ku agar kau tidak terkena hujan"

Zelo kembali mengangguk, menggamit lengan Daehyun sambil berjalan menyusuri hujan.

"Ingatan mu bagaimana?" Tanya Zelo.

"Baik-baik saja"

"Belum mengingat ku?"

"Tentu saja aku mengingat mu Choi Junhong"

"Tidak seperti itu.."

Daehyun menarik nafas panjang. Meremas jemari Zelo erat.

"Aku sadar, saat kau bersama sehun.. aku tidak menyukainya" ucap Daehyun "aku ingin mengingat mu. Aku sangat ingin.. tapi.."

Zelo membekap mulut Daehyun, membuatnya tak bisa melanjutkan perkataannya .

"Lupakan!" Zelo menghentikan langkahnya. Memeluk Daehyun dengan tiba-tiba hingga membuat tubuh Daehyun limbung sesaat. payung dalam genggaman mereka terlepas. Membuat tubuh mereka basah.

"Jika aku harus memeluk mu setiap hari agar kau mengingat ku.. maka akan aku lakukan" bisiknya.

Daehyun tersenyum, mengelus punggung Zelo.

Keheningan diantara keduanya buyar saat decitan sebuah mobil audi berhenti tepat dihadapan mereka. Refleks, Daehyun mendorong tubuh Zelo untuk berada dibelakangnya.

Lima orang pemuda turun dari mobil. Daehyun meneguk air liurnya kasar sembari menjaga Zelo tetap dalam penjagaannya.

"Siapa kalian?" Tanya Daehyun bersikap tenang.

Salah satu pemuda berwajah kasar dengan topi hitam mendekat. Menyipitkan mata memandang Daehyun dan juga Zelo. Zelo meremas mantel Daehyun erat. Daehyun tahu, Zelo sedang ketakutan saat ini.

"Kau tidak mengingat ku?" Tanyanya dengan suara seperti ditarik. Pemuda itu menyeringai.

"Mungkin kekasih mu mengingat ku" ujarnya sambil menunjuk Zelo dengan dagunya.

Zelo semakin mengeratkan pegangannya. Tentu saja. Pemuda itu adalah yang dahulu mengganggunya dan dipukuli oleh Daehyun. Astaga.. Zelo ingin sekali mengajak Daehyun berlari jauh dari sini. Namun dua orang yang berada dibelakang dan disampingnya tak bisa membuat mereka melakukan pergerakan untuk lari.

Jalanan ini biasanya memang sepi, namun seringkali dua atau tiga orang melewatinya, namun kali ini sepi.. tak ada yang bisa membantunya.

"Harusnya ku habisi saja kau saat dijalanan itu" ujar pemuda itu lagi.

Zelo melebarkan bola matanya. Jadi segerombolan pemuda inikah yang membuat Daehyun hilang ingatan.

"Telpon.. telpon siapa saja" bisik Daehyun.

"S-siapa?"

"Siapa saja!"

Zelo mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan hati-hati.

"Serang!"

Dan saat itulah Daehyun melindungi tubuhnya dari pukulan beruntun orang-orang bertubuh kekar disekitar mereka. Zelo dengan kalut menghubungi siapapun yang berada dalam kontaknya.

"Hallo?" Suara himchan

Zelo bernafas lega "hyung! Bantu k-kami" suaranya bergetar. Seseorang mendorongnya hingga jatuh, membuat ponselnya menjadi terlempar. Rintik hujan membasahi tubuhnya. Zelo bergerak bangkit, tersaruk menggapai ponselnya dan menatap pada Daehyun yang sudah kepayahan melawan empat orang sekaligus.

"Halte! Halte apartmen ku hyung! Tolong kami!" Zelo tidak sadar jika salah satu dari mereka bergerak menuju tempatnya. Menarik ponselnya lalu membantingnya ke tanah, Zelo mencoba melawan. Namun tamparan keras dipipinya membuatnya terjatuh.

Nyeri. Pening merasuk kedalam sela-sela kepalanya. Orang itu memberi pukulan beruntun dipipinya. Zelo tak bisa lagi melihat jelas kedepannya. Pukulan itu berhenti. Memberi denyutan nyeri diwajahnya.

Orang itu tidak lantas pergi, dia mengambil sebuah bangku kayu yang entah darimana dia dapat. Zelo menangis, bersiap mengangkat lengannya sebagai bentuk pertahanan diri walau itu tidak ada artinya.

Zelo merapatkan matanya saat orang itu mengangkat bangku tersebut.

BRAK

Zelo merasakan seseorang memeluknya. Mengukungnya diantara tanah. Zelo memberanikan membuka matanya. Daehyun berada diatasnya. Tersenyum dengan bibir penuh darah dan wajah lebam. Daehyun menahan sikunya pada tanah. Melindunginya dari pukulan beruntun yang dilayangkan orang-orang tersebut.

"Hentikan!" Teriaknya saat merasakan kepala Daehyun yang mulai terkulai menahan kesadaran. Zelo tidak tahu Daehyun masih sadar atau tidak jika Daehyun memeluknya erat.

"Hentikan! Ku mohon hentikan!" Zelo berteriak hebat.

"Aku memeluk mu" ucap Daehyun dengan terbata. "Selama aku memeluk mu, aku pasti akan mengingat mu"

Zelo bisa melihat air mata dipelupuk Daehyun, terjatuh tepat diwajahnya. Zelo mengusap air mata diwajah Daehyun dengan jarinya yang bergetar.

"Aku pastikan kau tidak hidup lagi" suara itu sambil mengambil sebuah tongkat kasti dari dalam mobil.

Zelo melebarkan matanya.

"Tidak! Jangan lakukan itu!" Zelo memeluk Daehyun erat.

BUGH.

tubuh Daehyun terjatuh diatas tubuhnya. Daehyun mengangkat kepalanya yang terasa sakit. Memeluk Zelo dan membuat kepala Zelo dalam pelukannya.

"Jangan lakulan ini" isaknya tanpa tahu kesiapa.

BUGH

Zelo menutup matanya erat. Berharap ini adalah mimpi yang tadi dia tidak ingin ada.

"A-aku... me..melukmu"

BUGH

dan itu adalah pukulan terkhir sebelum terdengar suara sirene polisi. Daehyun kehilangan kesadarannya. Matanya tertutup sembari memeluk Zelo erat.

"Sadar... sadarlah" pintanya dengan terbata.

"Astaga Zelo kau tidak apa-apa?" Himchan berlari kearahnya. Yongguk dengan hati-hati mengangkat tubuh Daehyun. Membawanya ke mobil, Himchan membantunya berdiri.

"Terimakasih sudah datang, hyung" isaknya.

"Kau baik-baik saja?" Ulang Himchan.

"D-Daehyun.. Daehyun hyung.."

Dan Zelo pingsan dalam rengkuhan Himchan.

.

.

.

Sakit, denyutan tak biasa seakan menggantung tarikan nafasnya, mencari udara sebaik mungkin lalu mengontrol tarikan nafasnya, sakitnya mencapai ubun-ubun. Hidungnya seolah lelah berfungsi dan hanya mengijinkannya menyaring udara melalui mulut. namun denyutan itu menguasai telinga dan tenggorokannya, menerpa langit-langit mulutnya yang kaku.

Daehyun mencoba membuka matanya, lalu sinar putih yang memekakkan mata membuatnya menutup mata dengan cepat, menghalau sinar itu masuk kedalam matanya dan memilih membuka mulut dalam-dalam mencari udara.

"Kau sudah sadar?" Suara Youngjae berbisik ditelingnya, usapan lembut dipipinya membuat Daehyun perlahan membuka kelopak matanya. Putih, wajah Youngjae terlalu dekat, mata halus yang memandangnya penuh kekhawatiran, senyuman gelisah seraya mengusap rambutnya yang basah oleh keringat.

"Dimana aku?" Bahkan tak mengenali suarnya sendiri, sadar akan selang infusan yang tertanam dipunggung tangan kanannya, membuat denyutan kecil saat lengannya coba dia gerakkan untuk memijit pelipisnya yang sakit.

"Kau dirumah sakit" jawab Youngjae hati-hati, "Mau minum?"

Daehyun mengangguk, tenggorokannya terasa kering, kejadian itu terulang didepan matanya saat kelopaknya tertutup. Wajah Zelo dalam pelukannya disertai sudut bibirnya yang berdarah membuatnya lupa akan tubuhnya yang kaku, serentak duduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.

"D-dimana Zelo?" berontak pada genggaman Youngjae dilengannya, Youngjae menangkup pipinya, berkata jika ia harus banyak istirahat untuk saat ini, namun Daehyun terlalu khawatir, berontak sekuat tenaga hingga selang infusan itu terlepas dari punggung tangannya, darah segar membuatnya mual, lalu detik beikutnya, suntikan bagai gigitan semut tertancap dilengannya.

Dan semua gelap..

.

.

.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Himchan, dia berdiri didepan pintu rawat inap Daehyun, memandang pemuda itu yang berbaring dengan wajah tenang.

"Dia sudah sadar" jawab Youngjae, menyuruh Jongup masuk untuk menjaga Daehyun.

"Maaf membuat mu khawatir dan kembali ke korea secepat ini" sesal Himchan

Youngjae menggeleng dan memijit batang hidungnya "Aku akan semakin kacau jika kau memberitahu ku sekitar seminggu kemudian"

Himchan mengangguk pelan, "Bagaimana Zelo?" Tanya Youngjae

"Dia baik-baik saja, dia sudah sadar, tapi Yongguk belum mengijinkannya untuk keluar dari kamar" jelas Himchan.

melihat wajah Youngjae yang lelah membuat Himchan mengelus punggung pemuda itu.

"Pasti berat bukan?"

Youngjae menggeleng "Dia sudah menjaga ku saat kami di tingkat sekolah menengah, kini aku yang perlu menjaganya"

Himchan tersenyum "baiklah, aku ke Zelo dahulu"

Youngjae membalas senyuman Himchan, berballik untuk menyusul Jongup yang sudah berada didalam.

.

.

.

Daehyun terbangun pada tengah malam, mencoba duduk dan melihat Jongup yang membaca komik disalah satu sofa dengan Youngjae yang tertidur dipangkuan Jongup, begitu Jongup melihat Daehyun yang terbangun, dengan hati-hati menurunkan kepala Youngjae dan menghampiri Daehyun.

"Kau butuh sesuatu, hyung?"

Daehyun mengangguk "Zelo, aku butuh melihatnya"

"T-tapi.."

"Hanya melihat, melihatnya saja" Daehyun tersenyum mengiba, bersikap seolah dirinya baik-baik saja dengan luka jahitan dikepalanya.

"Aku akan mengantar mu" Jongup mengambil kursi roda, membantu Daehyun duduk dan mulai mendorong kursi roda menuju ruangan dimana Zelo berada, hanya berjarak lima kamar dari tempat Daehyun berada, dengan hati-hati membuka pintu rawat inap Zelo.

Menemukan sosok kekasihnya terbaring dengan infusan dilengan kirinya, wajahnya yang tenang membuatnya yakin jika Zelo baik-baik saja, Yongguk tertidur pada tempat duduk disamping adiknya, dengan lengan sebagai tumpuan dan jemari menggenggam jemari Zelo. kentara, wajah lega Yongguk dalam tidurnya.

Daehyun ingin memeluk Zelo, berbisik jika ini semua telah berakhir, namun janjinya pada Jongup membuatnya mengangguk pada pemuda itu hingga Jongup kembali mendorong kursi roda yang dinaikinya menuju ruangannya lagi.

"Aku akan mentraktir mu bir karena sudah mengijinkan diam-diam melihat Zelo" gumam Daehyun.

Jongup tersenyum lebar "Aku tidak mau jika harus melihat mu mabuk lagi, hyung" balasnya yang membuat Daehyun terkekeh kecil.

"Kau bisa mengubungi Youngjae, agar dia membantu ku untuk pulang ke apartemen"

Jongup yang saat itu tengah membantu Daehyun berbaring ditempat tidurnya mendadak kaku, menatap tak berkedip pada Daehyun yang menaikkan sebelah alisnya.

"Hyung, ingatan mu kembali?"

.

.

.

Zelo tersenyum cerah saat dia keluar dari ruangan yang seakan mengurungnya.

"Kau yakin sudah sehat?" Yongguk menahan sikunya.

"Ya, hyung.. aku boleh melihat Daehyun hyung, kan?" pintanya, menangkup telapak tangannya dengan mata bening yang membuat Yongguk lemah.

"Baiklah, aku dan Himchan akan pulang, hubungi aku jika kau ingin pulang"

Zelo mengangguk semangat, mengecup pipi Yongguk dan melambaikan tangan pada sosok kakaknya yang mulai berjalan menjauh.

Daehyun sedang tertidur, sepi.. kamarnya sepi. Tak ada keberadaan Youngjae dan Jongup disana. Zelo duduk tepat disamping tempat tidur Daehyun, perlahan mengangkat tangan Daehyun dan menggenggamnya.

Tangannya.. masih sama, hangat. menetralisir jemarinya yang dingin, Zelo membawa jemari Daehyun menuju pipinya, menatap seksama pada wajah damai Daehyun dalam tidurnya. Dia tidak ingin melepaskan jemari Daehyun, dia ingin terus menggenggamnya, jika diijinkan.. Zelo tak ingin sedikitpun lepas dari sentuhan Daehyun jika mereka sedang bersama.

Seolah waktu hanya tameng, detak jarum jam tak akan berarti, matanya tak lelah memandang hembusan nafas teratur dari pemuda didepannya.

Daehyun perlahan membuka matanya, rasa dingin yang menyentuh jemarinya membuat dia menjatuhkan pandangan pada mata coklat indah yang membalas tatapannya. Senyuman tipisnya yang cerah terbentuk, mengusap lengan Daehyun dan meremas jemarinya lebih erat.

"Kenapa pipi mu dingin sekali?" tanyanya dengan suara serak.

Zelo mengangkat bahunya, "Sejak kapan kau berada disini?" mengusap pipi Zelo yang pucat dengan ibu jarinya.

"Sekitar jam satu"

Daehyun melirik jam dinding disudut ruangan, jam 7 malam.

"Kau pasti lelah, kau harus banyak beristirahat" mencoba duduk dan tak mengijinkan genggaman tangan mereka terlepas.

"Aku baik-baik saja, kau yang butuh banyak istirahat" ujar Zelo.

Mata Daehyun menerawang, tak berhenti memainkan jemari Zelo sambil bergumam kecil.

"Aku masih mengingatnya" ujarnya dengan perlahan mencari letak mata Zelo.

"Apa?"

"Hari itu, kau memakai sweater biru yang menanyakan ku tentang letak apartemen mu, hari itu.. aku masih menyimpan sapu tangan mu.. hari itu, hari dimana aku pertama kali mencium mu" mengusap dagu Zelo yang terdiam, terlalu kaku untuk menjawab setiap perkataan Daehyun. Hanya desakan aneh didadanya yang membuat matanya memberat.

"Aku berjanji akan mengingat mu, dan sekarang aku mengingat mu"

Zelo membuang pandangannya, menolak memperhatikan matanya yang berair, namun jemarinya meremas erat jemari Daehyun.

Berakhir dengan pelukan kilat dari Zelo, merengkuh tubuh Daehyun kuat-kuat seakan takut apa yang terjadi sekarang hanya ada dalam khayalannya saja. Menggapai pundak Daehyun dengan gemetar karena takut Daehyun akan berkata dia hanya bercanda saat ini.

"Jangan berani lagi untuk melupakan ku, Jung Daehyun" suaranya bahkan bergetar.

Daehyun merengkuh pinggangnya, mengusap punggung Zelo dan menghirup pundaknya.

"Tidak akan.."

"Ups~" Zelo serentak melepas pelukannya, menepuk pipinya sendiri yang memerah saat Youngjae dan Jongup membuka pintu ruang inap Daehyun.

"Ah, apakah kami datang di waktu yang tidak tepat?" Youngjae meringis kecil saat melihat tatapan Daehyun.

"Ya, cepat keluar dan jangan ganggu kami lagi" pemilihan kata 'kami' hanya membuat Zelo merunduk dan bergerak menjauh, mendapat tatapan protesan dari Daehyun yang menyuruhnya untuk mendekat.

"Aku rasa aku harus pulang" merogoh handphone dalam saku celana dan melihat pesan dari Yongguk.

"Yongguk hyung sudah dibawah, aku.." Zelo memberikan Daehyun pelukan ringan "aku pulang" bisiknya sambil berlalu dari sana.

Youngjae tertawa keras, melempar Daehyun dengan sebuah apel yang langsung ditangkap sigap olehnya.

"Hah, aku ingin bertanya pada mu, Jongup-ah"

"Hm?" Jongup yang saat itu tengah mengupas kulit jeruk mengangkat wajahnya.

"Bagaimana bisa kau menyukai pemuda seperti young-"

"Si jung Daehyun ini cari mati ternyata" beruntun melempari Daehyun dengan buah-buahan didekatnya.

.

"Karena jatuh cinta itu sederhana hyung" Youngjae menghentikan gerakan tangannya.

"Aku tidak memerlukan harta banyak atau deretan mobil untuk mendapatkan hati Youngjae, cukup membuatnya indah dimata ku, dia membuat ku sederhana dengan pesonanya"

Youngjae menaruh buah apel ditangannya, menatap Jongup yang tersenyum tipis padanya.

"Cepat berdiri dan peluk aku" geramnya, mengulurkan tangan saat Jongup berdiri dan memeluknya erat.

"Kenapa? kenapa kau selalu membuat ku ingin memeluk mu:" gumam Youngjae.

.

Daehyun tersenyum tipis.

.

"Karena cinta itu sederhana, aku memulainya dari semua kesederhanaan. Yaitu, mata mu.."

.

.

.

Perban dikepala Daehyun sudah bisa dibuka, ditemani Zelo, pemuda itu membuka perban serta mengecek kondisi kepalanya, sudah 98% mencapai sembuh total, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan Daehyun selama proses penyembuhan.

Zelo tengah menatap langit-langit kamarnya saat Daehyun menaruh dagunya dipundak Zelo, ikut mengamati bintang-bintang kecil buatan yang bercahaya.

Keheningan itu pecah saat ponsel Zelo berbunyi nyaring, menggapai letak ponselnya dan mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera dilayarnya.

"Ya, Sehun?"

"Hai" suara Sehun sengau, terdengar isakan lirih sebelum tawa mengejek terdengar ditelinganya.

"Kau sakit?" tanya Zelo sambil melepas lengan Daehyun dari pinggangnya dan berjalan menjauh.

"Tidak" suara Sehun semakin mengecil "Aku tidak tahu" lanjutnya.

"Ada apa?"

"Entahlah, kau ingat saat kau berkata kau mempunyai firasat buruk?"

Zelo bergumam Ya, kini beralih menuju balkon kamarnya dan menatap bintang dengan nyata dilangit malam.

"Aku juga merasakannya, seperti ada yang akan terjadi"

"Tidak ada yang terjadi, jangan pikirkan" cegah Zelo sambil merunduk, suara Sehun terdengar sangat sedih, Zelo tak kuasa untuk tidak memeluk Daehyun dan menyembunyikan wajahnya dipundak Daehyun, dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.

"Bisakah kau datang?" Sehun meminta dengan suara sendu "Aku ingin memberikan mu sesuatu"

.

.

.

Berita baik selalu diiringi berita buruk, pagi itu, Zelo masih bergelung dalam selimutnya, mengusir jemari Daehyun yang memintanya bangun untuk sarapan. Namun akhirnya menyerah saat Daehyun sudah mulai menggelitik pinggangnya, menggerutu kesal sambil mengecup pipi Daehyun kilat dan berlari menuju kamar mandi.

Mereka memang memutuskan untuk tinggal dalam satu apartemen mulai saat ini, Yongguk dan Himchan sudah pulang ke amerika dan seminggu kemudian, undangan berbentuk indah datang kedepan pintu apartemen mereka dengan nama Yongguk dan Himchan tertera disana.

"Junhong-ah, ada telpon" teriak Daehyun dari luar pintu, mengetuk pintu kamar mandi sambil membawa ponselnya yang terus berdering.

"Dari siapa?" teriak Zelo.

"Sehun" jawab Daehyun tepat saat Zelo membuka pintu kamar mandi.

Menggeser layar ponselnya hingga kini tersambung pada jeritan ponsel yang memekakkan telinga.

"Ya, Sehun?"

Namun bukan suara berat Sehun yang menyapanya balik, suara seorang wanita yang mengabarkan jika Sehun sedang berada dirumah sakit akibat kecelakaan mobil..

.

.

.

Luhan menatap kosong, lalu lalang manusia dalam pandangan mengaburkan matanya, dingin.. Luhan bahkan tak bisa menyadari apapun selain suara serak ibunya yang mengabarkan tentang kecelakaan Sehun. Luhan tak sadar, Jongin menariknya keluar rumah dan segera memesan tiket pesawat menuju korea. Bahkan malas untuk mengingat bagaimana dia menangis hebat didalam pesawat hingga membuat anak kecil disampingnya mengulurkan tissu dengan wajah polos.

Luhan bahkan tak sadar, Jongin menepuk pundaknya dan berbisik jika mereka sudah sampai dirumah sakit tempat Sehun berada, Luhan berjalan dengan langkah tersaruk, matanya menangkap pada orang tuanya yang segera memeluknya erat dan berbisik menenangkan. Luhan tidak perlu, satu-satunya yang bisa disalahkan adalah dirinya sendiri.

Menatap kaca kecil yang melekat bersama pintu, membuatnya bisa melihat tubuh Sehun yang terkulai tak berdaya disana, selang menghubungkan daerah mulutnya, membantu Sehun untuk bernafas. Bunyi lemah yang menandakan detak jantung Sehun semakin menipis, menguak jika Sehun tinggal menunggu kapan gelombang-gelombang naik turun itu akan menjadi sebuah garis panjang dengan bunyi menyakitkan.

"Dia sudah koma selama tiga hari" bisik ibunya. "Dia hanya menunggu mu" Luhan merangsek mundur, namun tertahan dengan lengan ibunya.

"Aku tidak mau bertemu dengannya" lirih Luhan.

"Adik mu harus bebas, Luhan. Apa kau tega melihatnya seperti itu?"

Berada diambang kematian. Seseorang menahan lengannya halus, menatap pada Zelo dengan wajah membisu, mengulurkan sebuah surat, Luhan menanyakannya dengan matanya.

"Dari Sehun" gumamnya, seorang pemuda berwajah tampan berada dibelakang Zelo dan menariknya lembut demi sebuah pelukan dan bisikan lemah. Zelo menangis..

Luhan bergerak masuk, tak bisa menahan matanya yang semakin mengabur.

"Kau ingat? saat kecil kau berjanji untuk tidak meninggalkan ku. Kau berjanji untuk selalu menjaga ku" ujar Luhan "Lalu aku menagih janji mu sekarang juga" melangkah mendekat, wajah Sehun pucat.

"Cepat bangun dan katakan jika ini hanyalah lelucon mu saja" suaranya mulai bergetar.

"Aku.." menumpu tubuhnya pada pinggiran dimana tempat Sehun berbaring "Aku mencintai mu" bisiknya lemah. "Aku tidak akan meninggalkan mu lagi"

Hanya keheningan, jeritan menyakitkan menerpa tak ampun pada dadanya.

"Tidak apa-apa" bisik Luhan lirih "Jika ini menyakitkan mu, kau boleh pergi" tersenyum pahit, dengan tangannya yang bergetar mengelus rambut Sehun.

"Lepaskan Oh Sehun, kau boleh pergi sekarang" Luhan meremas surat yang tadi diberikan oleh Zelo, membukanya perlahan namun terhenti saat melihat air mata turun pada sudut mata Sehun.

Dan detik berikutnya.. dengungan panjang itu menjadi nyata. Garis lurus yang membuat Luhan lemas dan menutup matanya kuat-kuat. Kedua orang tuanya berhambur masuk dan memeluk tubuh Sehun yang kaku. Luhan membuka surat itu dengan hati-hati..

.

'Hyung.. Aku selalu mencintai mu'

.

Luhan menangis, adiknya.. pemuda yang dicintainya.. sudah tidak ada lagi.

.

.

.

EPILOG

.

.

.

Kerlipan lampu sepanjang sungai firenze memanjakan matanya. menyapa beberapa wanita dengan pipi memerah akibat musim semi yang akan segera datang. Zelo memasukkan jemarinya kedalam kantung mantel. menutup mata dan membiarkan cahaya matahari menghangatkan wajahnya. angin senja meniupkan bisikan lembut, tersenyum cerah saat lengan kokoh itu memerangkapnya erat.

"Sendiri saja, cantik?"

"Aku sedang bersama tunangan ku" memutar cincin bertahta berlian biru dijari manisnya. merasakan dinginnya pinggiran cincin yang dipakai Daehyun mengenai punggung tangannga.

"Suami. Calon suami" hendak menggigit pipi Zelo yang memerah, namun tertahan oleh gelak tawa menakjubkan yang berakhir dengan memberi kecupan kecil dipipi Zelo.

"Rasanya baru tadi pagi aku berada di firenze" ujarnya. Menggenggam jari-jari Daehyun dengan erat.

Zelo memejamkan mata dan mengulang kembali ingatannya tentang pagi dihari ini.

.

.

.

"uncleee~"

"no! Dayoung, you jangan berlari teriak Youngjae, terbawa tarikan kecil dari bocah perempuan yang menggenggam jari telunjuknya erat-erat.

Zelo terpekik gemas. meremas lengan Daehyun karena menatap pada anak kecil yang berlari menujunya. Younha yang berada dalam gendongan Jongup berteriak senang sambil menandang nendang kakinya, meminta Jongup untuk menurunkannya.

"aaaah, kau merindukan ku, Dayoungiee?" memeluk Dayoung yang mengangguk kecil dalam pelukannya. lalu Younha memeluknya dengan erat dari samping, Zelo memeluk kedua anak kecil itu sambil menjawil lembut pipi keduanya.

"give me a kiss pleasee" Zelo menunjuk kedua sisi pipinya. Dayoung dan Younha serentak mengecup pipinya bersamaan.

Youngjae dan Jongup tersenyum kecil. mendudukan dirinya didepan Daehyun dan Zelo. Jongup menurunkan tas besar berisi keperluan Dayoung dan Younha dibahu Youngjae dan meletakkannya dibawah meja.

"are you guys didnt miss me?" Daehyun melebarkan kedua tangannya. menangkap dua anak kecil yang berebut masuk kedalam pelukannya.

"we're miss uncle to buy us some of the newest toy at the town.. my cars was broken. can you buy one for me?" Younha mengangkat wajahnya dan naik keatas paha Daehyun.. merayu Daehyun agar membelikannya mainan baru. Younha memang terbilang sangat dekat dengan Daehyun. berlainan dengan Dayoung yang langsung mengangkat tangannya untuk dapat duduk dipangkuan Zelo.

"Dayoung sangat bersemangat bertemu dengan mu, Zelo-ah" ujar Youngjae. mengangkat tangan untuk memesan minuman.

"hm?" menggelitik pelan dagu Dayoung yang tersipu.

"apa yang kau katakan tadi pagi hm? ingin bertemu siapa?" pancing Jongup pada putrinya yang manis.

"siapa? dia memanggil ku apa?" tanya Zelo penasaran.

sementara Younha masih merayu Daehyun untuk membelikannya mainan, dengan syarat satu kecupan dipipinya.

"siapa, dear?" Youngjae tersenyum pada putrinya yang menatap malu ke arah Zelo.

Zelo merendahkan kepalanya, membiarkan Dayoung berbisik ditelinganya.

"princess"

"wah... kau memanggil ku princess?" Zelo memeluk Dayoung sembari menggoyang-goyangkan tubuh kecilnya "sayang sekali aku ini seorang lelaki, manis. tapi tidak apa-apa. huhu kau sangat manis. mau es krim?"

"no, Zelo-ah. Dayoung tidak bolah makan es krim pagi hari. aku sudah membawakannya roti panggang. dia baru sembuh dari sakitnya" larang Youngjae.

"hm~ apakah repot hyung?" Dayoung menggenggam jari gelunjuknya. bermain dengan Jongup yang menggelitik dagunya.

Younha nampak sudah bersama dunianya sendiri bersama Daehyun. "kau mau apa?" Daehyun merendahkan kepalanya.

"i want milk" Younha menyingkirkan anak rambut yang menusuk kelopak matanya dengan menggemaskan.

"tidak.. kau akan merasa sempurna jila sudah memiliki malaikat kecil seperti mereka" Youngjae menatap sayang pada Dayoung dan Younha "come to daddy, Dayoungie. you should eat and take your medicinie"

Dayoung menyambut uluran tangan Youngjae. dari cara Youngjae mengurus Dayoung sangat kentara sekali jika Youngjae sangat menyayangi mereka. walau judul 'anak adopsi' masih tertera. namun ada marga 'moon' yang terdapat didalam nama keduanya.

"jadi, kapan kalian menyusul?"

Zelo tersedak lemon tea yang dipesannya. Daehyun berdecak sambil mengulurkan tissu kearahnya.

"secepatnya hyung" jawab Daehyun. menahan tubuh Younha yang melompat-lompat dipangkuannya.

"bulan ini? bulan depan?" goda Youngjae sambil merayu Dayoung untuk meminum obatnya.

"besok" jawab Daehyun.

"jangan bercanda" Zelo mencubit pinggang Daehyun yang tertawa.

"mereka belum datang?"

"sebentar lagi, dalam perjalanan" jawab Zelo sambil mengecek pesan dari kakaknya.

Younha merengsek melepaskan diri dari Daehyun dan memilih berlari menuju Jongup, berbisik jika dia ingin ke kamar mandi, menuntun jemari mungil younha yang menggerakan tubuhnya semangat menuju toilet.

"hyung, apakah dua anak tidak merepotkan?" tanya Zelo, memberikan Youngjae tissu untuk mengusap jejak obat dimulut Dayoung.

"tidak, Jongup sangat tahu bagaimana cara merawat anak kecil. tapi.." Youngjae menyipitkan matanya ke arah Daehyun "untuk kalian, aku rasa satu saja cukup"

"kenapa?" protes Daehyun.

"ck, aku tau bagaimana sifat Daehyun. dia bahkan akan bersikap lebih manja dari anak kalian nanti" jelas Youngjae.

Zelo diam-diam membenarkan ucapan Youngjae.

"ah, maaf kami terlambat" suara Himchan. menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun dalam genggaman tangannya. dan sosok Yongguk dibelakang mereka.

Zelo bersemangat mengulurkan tangannya, menyambut maggie -anak Yongguk dan Himchan- untuk masuk kedalam pelukannya.

Himchan memeluk Zelo ringan, lalu Yongguk mengecup pipinya dan mengacak rambutnya gemas.

"dimana Jongup dan younha?" tanya Himchan sambil duduk disisi paling ujung dan membiarkan maggie duduk dipangkuan Zelo.

"ah itu" tunjuk Youngjae, melihat Jongup dan younha yang baru saja dari toilet.

mereka langsung memesan makanan. berbincang segala hal yang dapat dibicarakan.

"hyung, maggie berkata kau sangat tampan" bisik Zelo kepada Daehyun.

Daehyun menunjuk pipinya, namun maggie langsung menyembunyikan wajahnya yang malu-malu pada dada Zelo. gemas, Daehyun berlagak hendak menggigit lengan maggie.

"Junhong-ah, ayo kita cari yang seperti ini" aju Daehyun.

"nah! apakah itu sebuah ajakan pernikahan?" Youngjae menatapnya dengan senyuman jahil.

"aish! Zelo masih kuliah, dia berkata hendak bekerja dahulu baru menikah" ujar Daehyun frustasi "aku sudah setiap hari mengajaknya menikah asal kau tahu"

Zelo berlagak tak mendengar, lebih memilih mendengar maggie yang berbisik padanya. Younha menusuk udang dan mendongak untuk menyuapinya pada Jongup.

"mashita?" tanya younha. Jongup terkekeh dan mengangguk "very good"

Zelo memang belum siap. mentalnya belum cukup untuk mengurusi anak. apalagi ditambah Daehyun yang jika dibiarkan akan sangat bawel jika sedang sakit .

"aku hanya sedang mencari waktu yang tepat" mengusap bibir maggie yang tersisa susu.

"hubungan ku dengan Daehyun belum selama kalian"

Yongguk mengelus lengannya "aku akan menabrak Daehyun hingga mati kalau dia memaksa mu untuk menikah"

menimbulkan gelak tawa diantara mereka.

"ah hyung~ jika Daehyun hyung tidak ada lalu siapa yang akan menikahi ku?"

"Ya, aku jodohnya hyung" Daehyun merangkul Zelo. yang langsung disikut oleh Zelo karena malu.

gelak tawa memenuhi ruangan dimana mereka berada. langit senja menjadi bukti.. jika cinta yang mereka pastikan akan berakhir tragis.. kini berakhir dengan pandangan memuja satu sama lain.

ini memang 'tidak bisa menjadi cinta..' namun lambat laun.. kata tidak bisa dapat berubah menjadi 'akan bisa menjadi cinta'

.

.

.

Daehyun masih memeluknya. kerlipan sungai firenze seolah merefleksi pantulan tubuh mereka yang tak berjarak.

"kau tahu, selain bisa meningkatkan daya ingat. pelukan juga mempunyai fungsi lain" bisik Daehyun.

"apa?" tersenyum, puncak bahagianya berada dalan keagungan.

"pelukan juga bisa membuat sebuah hubungan menjadi awet, karena saat berpelukan.. aku bisa merasakan detak jantung mu. milikku disebelah kiri, lalu detakan milik mu disebelah kanan, dan lambat laun detakan kita akan seirama"

mencoba merasakan detak jantung Daehyun, namun detak jantungnya sendiri sudah berdentam sangat gila.

"baiklah, kalau begitu peluk aku setiap hari" seru Zelo.

"tanpa kau pinta pun aku akan memeluk mu setiap hari"

"berjanji?"

"janji?"

sungai firenze tersenyum mendengar janji mereka.

.

.

.

since love cant be perfect, so it became a puzzle. therefore with that puzzle piece we will one by one make it complete. - Jung Joon Young

.

.

.

Can't be love..

END..

.

.

You can know me here ; (twitter : zeloficent)