A/N : Lohaaaa... i'm coming again. Pasti readers semua rindukan ama author yang 'kece' ini? ngakuuu... #PD tingkat akut. Ya sudah, abaikan. Caya datang lagi membawa epep chapter 2 dari "You Can Do That!" wokokokokkookk... J#narik xiumin main di taman bermain... *hubungannya?*. oh yah dan terima kasih masih mau menerima epep yang gaje ini, daripada nunggu lama lagi karena baca celotehan dari si author. LET'S READ! #selamat membaca ^_^ jangan lupa "RCL" yah...
Warning : typo bertebaran, banyak kekurangan dan gaje? Entahlah. Kalo udah ngga tahan baca saking gajenya, silahkan tekan 'Back' atau 'Close'. NO BASH! NO PLAGIAT!
Desclaimer : EXO milik kita semua J(tapi Xiumin hanya milik daku seorang ^_^). "the story is original from me _ "
Summary : mengatakan "saranghae" itu sangatlah mudah dikatakan. Tetapi mengatakannya didepan orang yang kamu suka? Bagiku itu sangatlah sulit untuk ku lakukan...
CAST : "Kim Min Seok" a.k.a "Xiumin" (EXO/EXO-M)
"Park Jiyeon" a.k.a "You" (OC)
"Xi Luhan" a.k.a "Luhan" (EXO/EXO-M)
Cast lainnya akan bermunculan sesuai dengan jalannya cerita...
Gendre : Romance, Friendship
You Can Do That!
Chapter 2:
Jiyeon's POV:
Aaarrrrggghhhh... kenapa aku harus bertemu dengan dirinya! aku mengacak rambutku dengan kesal dan menendang-nendang batu atau pun kaleng yang ada dihadapanku. Hmmm... sekarang aku harus kemana? Kalau kembali ke rumah pasti appa marah dan kalau aku kerumah teman-temanku pasti ada suruhan appa yang berjaga-jaga atau mereka akan membawaku kembali kerumah. aku berjalan sambil memikirkan apa yang akan terjadi padaku. Tiba-tiba dari arah seberang datang sebuah mobil dengan berkecepatan tinggi dan "aaaarrrrggghhh..." aku tidak sadarkan lagi.
Luhan's POV:
Aku harus menemuinya tidak peduli apa pun itu, kenapa dia pergi meninggalkanku? Aku benar-benar frustasi dibuatnya, dia menghilang secara tiba-tiba dan muncul kembali dihadapanku lalu kabur?
*flashback*
" 2 mangkuk jajamyeon, di meja nomor 3!" teriak seorang yeoja. Sepertinya aku mengenal suara itu?. Aku pun menoleh kebelakang dan mendapatkan seseorang yang selama ini kucari "seohyun?" aku tidak percaya, aku bertemu lagi dengan dirinya. Yeoja yang selama ini aku cintai. Aku pun berlari menghampirinya dan sepertinya ia terkejut melihatku lalu mengambil sesuatu dari temannya dan keluar dari kafe kemudian pergi. Ada apa dengannya?. Aku pun mengejarnya, mobil yang ia kendarai sangat cepat hingga aku hampir saja tidak menemukannya.
*flashback end*
Sepertinya dia menambah kecepatan mobilnya lagi, hingga aku juga harus menambah kecepatan mobilku juga. Aiiissshhh... jebal, jangan seperti ini. tiba-tiba seorang yeoja menyeberang dan aku tidak sempat lagi me-rem mobilku. "aarrrrgghhh" teriak yeoja itu dan aku hanya pasrah atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seohyun's POV:
Kenapa dia muncul lagi? Kenapa kamu kembali muncul dalam kehidupanku? Wae? Aku menyeka kembali air mataku yang sedari tadi mengalir dari pelupuk mataku. Mianhae Luhan. Aku menambah kembali kecepatan mobilku hingga aku merasa sepertinya Luhan tidak dapat menemukanku lagi dan ternyata benar, aku tidak lagi melihatnya dibelakangku. "Mianhae Luhan, aku tidak pantas bersamamu".
*flashback*
Aku berjalan menyusuri trotoar yang dekat dengan tempat ku bekerja, tiba-tiba suara dari handphoneq tanda ada seseorang yang menelponku membuatku berhenti untuk sekedar menerima panggilan itu. "yoboseyo?", "seohyun, datanglah kekantorku sekarang juga" kemudian orang yang menelponku menutup telponnya dan tak lain adalah appa dari namja chinguku. Luhan.
Kenapa appa Luhan memanggilku? Hmm... mungkin dia sudah merestui hubunganku dengan Luhan, yeaaahhh... akhirnya. Dengan senang hati aku pergi ke kantor appa Luhan. Tetapi, dibalik itu semua aku tidak tahu akan terjadi hal yang menyakitkan untukku.
"annyeonghasseyo, aboenim" aku membungkukkan badan sedikit kemudian menghampiri appa Luhan yang kini sedang berdiri menatap cerahnya langit hari ini. "duduklah" aku segera duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari tempat appa Luhan berdiri. Kemudian appa Luhan berbalik ke arahku dan mengatakan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya "jauhi anakku dan jangan pernah muncul dihadapannya, kalau kamu tidak menjauhi anakku segera maka kamu tidak akan selamat". "tapi kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun" dengan menahan air mata yang siap jatuh aku menatap appa dari namjachinguku.
"kamu masih tidak mengerti? Luhan tidak pantas untukmu, kamu adalah yeoja yang tidak sebanding dengan anakku" ucap appa Luhan dengan sinisnya. "aku tahu, aku hanya seorang pelayan di sebuah restoran tapi aku mencintai Luhan" aku tidak dapat lagi menahan air mataku yang kini sudah jatuh membasahi kedua pipiku. "kalau kamu tidak menjauhi Luhan segera, bukan hanya kamu yang akan celaka tapi keluargamu juga akan menerimanya" setelah mengatakan itu appa Luhan memanggilku security dan menyeretku keluar. Aku tidak sanggup melangkahkan kakiku, aku lemas dan tak berdaya. Tidak apa-apa jika dia ingin mencelakaiku, tapi eomma dan appa? Aku tidak akan rela. Mianhae Luhan, mianhae. Aku memang bukan yeoja yang pantas untukmu. Dengan susah payah aku melangkahkan kakiku menjauh dari tempat itu.
*flashback end*
Xiumin's POV:
Dari arah kejauhan aku melihat sebuah mobil yang melaju dengan cepat, kulihat jiyeon yang sedang menyeberang jalan. Oh tidak! Aku segera berlari dan mendorong jiyeon dengan keras menjauh dari mobil yang kini sudah sangat dekat. Aku tidak bisa lagi berlari menjauh dan kecelakaan itu tidak dapat lagi terelakkan. Tubuhku terhantam dengan kerasnya dan tidak sadarkan lagi.
AUTHOR's POV:
Eomma jiyeon mengkhawatirkan anaknya yang sudah 2 hari semenjak suruhan suaminya memberi tahu bahwa jiyeon berada didaerah Gangnam dan setelah itu tak ada lagi kabar keberadaannya. Eomma Jiyeon terus menangis dan itu membuat appa jiyeon menjadi resah.
Di Rumah Sakit, Jiyeon baru saja sadar kemudian memegangi kepalanya yang masih dibalut dengan perban. Jiyeon mengerang kesakitan saat dia menyentuh kepalanya kemudian datanglah beberapa orang yang berpakaian putih menghampirinya dan mengecek keadaannya tetapi jiyeon meronta-ronta, lalu salah satu orang yang berpakaian putih itu menyuntikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu, jiyeon mulai mengantuk dan tak sadarkan lagi.
Tepat di sebelah kamar jiyeon dirawat, terdengar suara elevator yang menandakan seseorang masih hidup. Orang itu adalah tak lain xiumin. Saat kecelakaan itu terjadi, dia terhantam dengan keras dan terlempar 24 meter dari lokasi kejadian menyebabkan dia KOMA. Keajaibanlah yang membuat dia masih bertahan hingga sekarang. Dan disebelah kamar xiumin dirawat, terbaring Luhan dengan balutan perban di kepala dan kaki kirinya. sungguh mengenaskan.
Keesokan harinya jiyeon tersadar dari ketidaksadarannya(?), bau asli dari rumah sakit langsung menyapa jiyeon yang baru saja sadar dengan tertatih-tatih ia beranjak dari kamarnya dan keluar dari kamarnya. Sekilas ia melihat sosok yang dikenalnya saat ia melewati kamar yang berada tepat disebelah kamar dirinya dirawat. Jiyeon mulai memasuki kamar itu, tetapi tiba-tiba datanglah dokter dan seorang suster memasuki kamar itu dan itu membuat jiyeon membatalkan untuk memasuki kamar itu.
Jiyeon terus melangkah dengan susah payah lalu datanglah seorang suster yang sepertinya mengawasi jiyeon saat keluar dari kamar dimana ia dirawat. Suster itu membawakan kursi roda untuk jiyeon. Dengan dibantu suster itu, jiyeon duduk dikursi roda kemudian didorong oleh suster itu. Suster dengan tag name Jessica.
Jessica mengajak jiyeon berjalan-jalan disekitar taman rumah sakit lalu ia berhenti didekat sebuah pohon yang rindang. Ia duduk dikursi yang ada disana. "nama kamu siapa?" tanya jessica dan kemudian dibalas senyuman dari jiyeon yang sejak tadi hanya murung "namaku jiyeon, park jiyeon" yang membuat jessica lega untuk terus bertanya kepada jiyeon. "kamu pasti jessica" lanjut jiyeon. Dengan wajah pura-pura tidak tahu jessica menjawab "eh? Kok tahu?". "tag name-mu" jiyeon menunjuk tag name yang ada dibaju jessica dan itu membuat jessica menunduk kemudian memegangi tag namenya "eh, iya. Aku lupa kalau aku memakai tag name".
Jiyeon dan jessica terus mengobrol hingga jessica merasa cukup berbicara dengan jiyeon kemudian membawa jiyeon kembali kekamarnya lalu pergi. Jessica dan jiyeon menjadi sahabat sejak pertemuan pertama mereka dan beberapa hal yang didapatkan jessica dari jiyeon adalah jiyeon orangnya ceria, baik, ramah, dan juga sedikit cerewet itu menurut jessica. Sedangkan jiyeon merasa bahwa jessica itu baik, ramah, sabar (mendengarkan cerita jiyeon), dan setia. Jessica juga mengetahui apa yang menyebabkan jiyeon berada di rumah sakit.
Luhan's POV:
Perlahan-lahan aku membuka mataku dan mengerjap-ngerjap untuk membiasakan mataku dengan cahaya yang ada diruangan ini. tunggu dulu, aku ada dimana? Terakhir kali yang aku ingat, aku mengendarai mobil mengejar seohyun dan terjadi kecelakaan. Kecelakaan? Mungkinkah aku berada di rumah sakit? Hmm... lebih baik aku keluar dulu. Aku mencoba untuk duduk tetapi tidak bisa. Sudah berapa hari aku tidak sadar hingga membuat tubuhku kaku seperti ini?. pintu ruangan kamar rawatku terbuka menampakkan dua orang yang memakai pakaian serba putih. Aku kaget. Apakah mereka akan mencabut nyawaku? Tapi mana mungkin pencabut nyawa membawa alat-alat medis? Hahahh... jangan berprasangka buruk, Luhan.
Dua orang itu yang diketahui Luhan sebagai dokter dan suster memeriksa Luhan kemudian pergi. Eh? Cuma segitu doang? Cepat banget, nggak tau apa kalau badanku kaku semua. Hmm... aku ingin keluar, setidaknya untuk mencari udara segar. Kok aku Cuma sendirian disini ya? Apa mungkin aboeji belum tahu kalau aku kecelakaan dan dirawat di rumah sakit? Tapi kalaupun aboeji tahu, dia juga tidak akan peduli. Haaaahhh... malangnya nasibku. Aku menaruh tanganku dibawah kepalaku sebagai bantalan. Eh? Apa ini yang seperti kain? Apa kepalaku di perban? Separah itukah hingga membuat kepalaku harus di perban? Mungkin sudah nasibku.
Jiyeon's POV:
Besok aku boleh pulang, tapi kemana? kalau aku pulang kerumah mugkin appa masih marah, kalau ke apartemen namja yang kekanak-kanakan itu, mungkin bisa. Tapi eh? Kemana namja itu? Aahh... mungkin dia pergi meninggalkanku saat kecelakaan itu. Dasar namja tidak bertanggung jawab, jelas-jelas dia yang membawaku ke taman bermain itu dan membuatku berada ditempat ini. apa dia sekarang ada di apartemennya? Hmm.. mungkin saja. kalau aku mendatanginya dan memohon ke dia agar aku bisa tinggal di apartemennya, tidak apa-apa lah. Kenapa aku harus memohon? Kan aku sudah tau password apartemennya dan bisa lansung masuk saja. untung aku sempat membobol password apartemennya dan tahu apa passwordnya, hahhhahahhh... daebak!. Aku tertawa sendiri di kamar.
Tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku "kamu kenapa jiyeon-ssi?". Ooohh.. ternyata jessica. "gwenchana, aku hanya memikirkan apa yang akan aku lakukan saat keluar nanti" ucapku sambil memandang pemandangan halaman rumah sakit dari jendela. "tapi aku akan mengunjungimu kalau aku ada kesempatan" aku melanjuti kalimatku yang sempat tertunda oleh pemandangan yang ku lihat dari jendela. "jeongmal?" jessica terdengar sangat gembira.
Lalu aku berbalik menghadapnya "ne, dan gomawo untuk selama ini karena sudah mau menemaniku. Tetapi aku tidak pernah melihatmu mengobrol dengan suster lain, mengapa?" tanya jiyeon berharap kali ini jessica yang akan bercerita. "hmm.. karena aku..." jessica menggantungkan kalimatnya dan aku dibuatnya sangat penasaran. "kenapa berhenti?" aku sudah tidak sabar lagi ingin mengetahuinya. "Cuma ingin membuatmu penasaran saja, hehehh..." jessica hanya tertawa renyah. "yaakk.. jessica! Kamu membuatku geregetan saja, aiish" aku melipat tanganku di dada dan menampilkan wajah cemberut. "iya iya aku akan melanjutkannya. Itu karena mereka membenciku" jessica kemudian tersenyum. "tapi kenapa?" aku memasang wajah penasaran "entahlah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa" kalimat dari jessica membuatku semakin penasaran "kenapa kamu tidak mencari tahu?". "aku malas untuk mencari tahu, lagi pula aku tidak apa-apa kok" ."aigoo... kamu memang pemalas!" ."kalau aku pemalas, mana mungkin kamu bisa sembuh secepat ini dan merawat lukamu? Hayoooo...". "iya juga sih? Tetapi aku khawatir kamu kesepian" .
jessica lama terdiam kemudian ia tertawa, "hahahhh... ternyata kamu mengkhawatirkanku? Hahahh... seorang park jiyeon yang tidak peduli dengan keadaan orang lain mengkhawatirkanku? Heheh... tapi nggak apa-apa aku malah senang karena ada orang yang masih perhatian terhadap diriku, gomawo. Dan jangan khawatir, aku sudah biasa sendiri." Jessica mengukir senyum diwajahnya dengan terpaksa, ya, dan itu sangat mudah dikenali Jiyeon sehingga Jiyeon turut tersenyum tetapi yang ia rasakan sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan.
Jessica's POV:
Aku sangat sedih. Sebentar lagi Jiyeon akan keluar dari Rumah Sakit ini. teman yang selalu menemaniku, tertawa bersama, dan juga saling bercerita walaupun Jiyeon lah yang paling sering. "oh yah setelah keluar dari sini, kamu mau kemana?" aku melihat matanya yang terlihat sedih itu kemudian berubah kembali ceria. "ke apartemen teman lalu aku mau pulang ke rumah" Jiyeon terlihat sangat bahagia. "waaahhh... senangnya. Tunggu dulu! Pulang ke rumah? Memangnya kamu sudah tidak takut lagi?" aku melihat mimik wajah Jiyeon berubah, tetapi dengan cepat ia kembali ceria, "tidak, lagipula eomma pasti mengkhawatirkanku". "oohh... kata dokter besok kamu boleh pulang yah?". "ne, apakah kamu tahu kenapa aku bisa sembuh secepat ini?" Jiyeon tampak penasaran. "luka yang kamu dapatkan ringan" "eh? Apa yang tadi kamu katakan?". "ringan, memangnya kenapa?" aku menjawab dengan sekenanya. "ringan? Padahal kecelakaan yang aku alami sangat parah... bahkan kamu bilang ada yang koma" tampak raut wajah prihatin di wajah Jiyeon.
Aku juga ikut prihatin saat aku mengetahui orang yang juga kecelakaan di tempat kecelakaan Jiyeon. "yah... kau sangat beruntung... tapi kata polisi yang datang, kamu ditemukan di pinggir jalan dan tidak menyentuh badan dari mobil yang kecelakaan itu sedikitpun". "hah!? Benarkah? Tetapi yang aku ingat, aku berada di tengah jalan lalu aku seperti terdorong dan aku sudah tidak ingat lagi setelah itu" Jiyeon mengedikkan bahunya tanda ia tidak tahu. "sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang kamu sudah sembuh dan besok bisa pulang, yeeaaahh...". "mmm... baiklah". "oh yah, ini baju yang kamu kenakan saat kecelakaan itu terjadi" aku memberikan Jiyeon bungkusan yang berisi baju. Jiyeon perlahan membukanya dan terlihat bingung "pakaian namja?".
TBC
A/N : hehehhhh... fanficnya kepanjangan apa kependekan? Author rasa sih masih kepanjangan. * memangnya rasa apa thor? Rasa asin? Manis? Pahit atau asem? Yang mana nih thor?* rasa apa aja boleh, tapi yang khusus sih rasa cintaku kepada Xiumin oppa. Wkwkwk.. #kumat. Bagi yang mau ngasih ide atau kritik juga bisa di fauziah_ifha sih author yang kece ini, hehehh.. ^_^ Gomawo untuk readers yang bersedia baca nih epep and the last...
Ppaiii...~~~
