Soulmate Timer

A Kagerou Project / Mekakucity Actors fanfiction by Chikara Az

KagePro / MekakuCA © Jin

This fanfiction © Me

Rating : T untuk amannya uwu

Warning : ShinKono, possibly (very) OOC, slash/BL/shounen-ai dan semacamnya, mengikuti route di novelnya

Happy ShinKono Day! \ ;w; /

Enjoy~

Kali ini sengatan listrik yang jauh lebih menyakitkan dari pada yang sebelumnya menyerang kepala Shintarou, membuat pemuda berambut gelap itu mengerang tertahan dan mencengkeram kepalanya. Pemuda berambut putih di depannya mengalami hal yang sama, bahkan pemuda itu sampai jatuh terlutut.

"Goshujin!?" seru Ene panik dari ponselnya. Shintarou nyaris tidak mempercayai nada khawatir dari suara energik gadis itu.

"A-apa yang terjadi..."

Lelaki di depannya menggumam, keringat dingin mengalir di wajah lelaki itu. Shintarou berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan lelaki itu, mengabaikan rasa sakit yang masih tersisa di kepala. Ketika ia melirik jam di tangan kanannya, angkanya semua sudah menjadi nol.

Jangan bilang—

"Kau, hei, kau tidak apa-apa?" kata Shintarou pada lelaki itu. Yang ditanya mendongakkan kepalanya dan Shintarou merasakan desiran aneh di hatinya. Kata 'manis' ia kira tidak akan pernah ia gunakan untuk mendeskripsikan seorang lelaki, namun entah kenapa kata itulah yang terlintas di kepalanya ketika memandang wajah lelaki itu.

"T-tidak apa-apa..." tempo suara lelaki itu sangat lambat. Bahkan untuk mengatakan kalimat pendek tadi ia membutuhkan waktu hampir sedetik. Sekalipun masih agak terhuyung, lelaki itu bangkit berdiri. Shintarou mengikuti dalam diam.

Ia hampir-hampir melupakan keberadaan ambulan di depannya. Petugas berseragam putih menurunkan tandu, membawa anak lelaki tadi memasuki rumah sakit. Lelaki itu kemudian mengikuti petugas-petugas rumah sakit itu, membuat Shintarou tidak memiliki pilihan selain mengikuti mereka.

Shintarou sungguh yakin kakinya memerlukan istirahat. Minimal selama sebulan.

Petugas itu membawa anak lelaki di tandunya ke ruang pemeriksaan. Saat mereka memasuki ruang itu, lelaki berambut putih yang seperti karakter game tadi menghentikan larinya dan ia berbicara sedikit dengan petugas tadi. Petugas itu memberikan pandangan seolah mengatakan "apa-maksudmu-berikan-cerita-yang-jelas" namun sepertinya lelaki yang belum Shintarou ketahui namanya itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

Ketika mereka selesai bicara, ponselnya bergetar.

"Goshujin! Biarkan aku bicara dengan pemuda itu!"

Shintarou menghela napas. Ia berdiri dan menghampiri lelaki yang baru selesai bicara dengan petugas tadi. Lelaki itu memiringkan kepalanya bingung, namun gurat kecemasan masih terlihat di sana.

"Em, ini, temanku di dalam sini," Shintarou menunjuk ponselnya. "ingin bicara denganmu, jadi, yah kutinggalkan kalian berdua, oke?"

Lelaki itu diam saja ketika menerima ponsel dari Shintarou, yang langsung mencari tempat untuk duduk. Ia berusaha tidak menangis bahagia ketika akhirnya menemukan sebuah bangku tak jauh dari sana. Biasanya bangku itu digunakan oleh pasien yang menunggu giliran untuk diperiksa, tapi sekarang ini tidak ada satu pun pasien. Shintarou pun duduk di sana dengan senang, kakinya mendesah lega.

Ketika duduk itulah, ia mengulang kembali apa yang terjadi di ingatannya. Saat dia kabur dari taman hibiran, Ene mengajaknya berjalan tanpa arah sampai mereka melihat ambulan dan dengan sebuah alasan konyol, Ene memaksanya mengikuti ambulan itu. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan bertemu seorang lelaki jangkung berambut putih.

Kesadaran menamparnya keras-keras.

Ia ingat ketika dirinya merasakan sengatan listrik menyakitkan ketika matanya bertemu pandang dengan lelaki itu. Shintarou mengecek soulmate timer di tangan kanannya, dan angka nol berjajar rapi di sana.

Jadi—mana mungkin, lelaki jangkung yang penampilannya seperti karakter game itu soulmate-nya?!

Tapi soulmate timernya berhenti ketika Shintarou bertemu pandang dengan lelaki itu. Ya. Dan ia baru menyadari, setiap ia melihat lelaki itu saat jamnya masih berdetak ia merasa disengat listrik juga. Dan jamnya baru benar-benar berhenti ketika pandangan mata mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Walaupun begitu, ketidakpercayaan masih memenuhi dirinya. Pertama dan yang paling penting, lelaki itu adalah—yah, LELAKI. Bukan berarti Shintarou tidak pernah jatuh cinta pada lelaki sebelumnya (hell, bahkan dia menganggap Seto lumayan tampan saat pertama bertemu dengan pemuda kodok itu), tapi tetap saja—menghabiskan sisa hidupmu didampingi seorang lelaki lagi—bukankah itu aneh?

Menghabiskan sisa hidupmu...

Shintarou merasa wajahnya memanas. Kalimat tadi terdengar ambigu. Tapi memang itulah yang ia pikirkan ketika mendengar kata "soulmate". Seseorang yang akan menemanimu menghabiskan sisa hidupmu. Pendampingmu. Orang yang kau cintai.

Oke, pikirannya kacau saat ini. Namun imajinasi liar yang dia miliki mulai bekerja...


Malam sudah merambat ketika ia sampai di rumah. Merasa kelelahan karena urusan-urusan di tempat kerja sudah menjadi santapan sehari-hari, namun tetap saja ia lelah. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah bersantai di rumah bersama 'istri'-nya.

Ketika ia membuka pintu dan mengucapkan "Tadaima,", seorang lelaki yang sedikit lebih jangkung darinya berdiri di sana. Rambut sewarna saljunya yang biasa diikat itu kini digerai, berjatuhan di bahunya yang telanjang. Tubuh langsing berkulit putih itu mengenakan sebuah apron berwarna merah muda. Di balik apronnya, tidak ada sehelai benang pun lagi.

"O-okaeri..." wajah pemuda itu memerah, manis sekali. "Um, apa yang kamu inginkan terlebih dahulu? Makan, mandi, atau... aku?"


OY, DIRIKU! SADAR!

Shintarou menampar pipinya keras-keras. Ia bahkan belum tahu nama pemuda yang adalah "soulmate"-nya itu, dan ia sudah memikirkan yang tidak-tidak tentangnya. Sungguh hebat.

Pemuda ber-jersey itu menghela napas.

Dan rasanya ia akan jungkir balik ketika mendengar suara helaan napas lain di sampingnya.

Lelaki yang baru saja menjadi korban imajinasi liarnya kini duduk di tepat di sebelahnya. Dan Shintarou nyaris ketakutan ketika kemungkinan kalau lelaki ini mengetahui apa yang ia pikirkan melintasi kepalanya.

"W-woooahh! K-kau, apa yang kau lakukan!? Sejak kapan kau di sini!?"

Namun, sepertinya kemungkinan yang sempat melintasi kepala Shintarou itu tidak benar, karena lelaki itu malah terlihat bingung dan agak ketakutan ketika mendengar bentakan Shintarou.

"M-maaf, aku..."

Sepertinya lelaki ini mengira Shintarou marah padanya. "Ah, tak apa-apa. Bukan salahmu, kok." Ujarnya sambil melirik keki gadis yang berada di dalam ponsel yang ada pada genggaman lelaki berambut putih itu.

"Ya? Apa ada yang salah, Goshujin?" ucap Ene ketus. Wajahnya terlihat kesal.

"Jadi, keperluanmu dengannya sudah selesai kan? Siapa sih dia ini?"

"Maaf, aku ternyata salah orang. Dan maaf karena sudah membuatmu berlari-lari seharian ini. Sekarang bagaimana kalau kita pulang?" Ene masih terdengar kesal. Bahkan ada nada sedih sedikit dari suara itu. Pandangan yang ia berikan pada Shintarou sama sekali tidak sama dengan pandangan jahil yang biasa, yang belum pernah Shintarou lihat darinya. Namun entah kenapa Shintarou merasa ia... pernah melihatnya. Di suatu tempat.

Ekspresi lelaki berambut putih di sampingnya memuram. Seakan dia merasa kalau ini lagi-lagi salahnya.

"Pergi? Tapi—hey, kau mengganggunya saat seorang temannya masuk ke rumah sakit, bagaimana kau bisa salah orang dan pergi begitu saja?"

"Aah kau ini berisik sekali! Yang penting sekarang kita pulang saja!" Ene berteriak.

Kemudian Shintarou dan Ene pun bertengkar lagi seperti biasa. Saling berteriak satu sama lain. Namun Shintarou merasakan ada yang aneh, Ene tidak menampakkan kejahilan seperti biasanya, yang kini tampak di wajahnya adalah kekesalan dan kekecewaan mendalam. Biasanya Shintarou lah yang akan memasang ekspresi kesal itu, tapi kini Shintarou merasakan ada yang disembunyikan sang gadis cyber. Lelaki di sampingnya diam saja, sesekali berjengit ketakutan ketika salah satu dari keduanya menaikkan suara mereka.

Seolah mencoba untuk mengalahkan suara Shintarou dan Ene yang semakin lama semakin meninggi, suara kelontangan alat-alat metal yang terjatuh terdengar dari ruang pemeriksaan tempat anak kecil yang ditemani lelaki bersurai putih itu berada. Kemudian suara debam keras terdengar. Ene dan Shintarou menghentikan perdebatan mereka dalam persetujuan tak terucap.

"Go-goshujin, ini buruk!"

"A-aku tahu!"

Shintarou berdiri. Setengah berlari, ia menghampiri pintu ruang pemeriksaan yang ada tepat di seberangnya. Ketika ia membuka pintu itu, jantungnya berdegup kencang.

Seorang anak kecil berambut coklat, mengenakan hoodie putih tanpa lengan dan kaus biru muda, berdiri di ambang pintu. Wajahnya memerah, sepertinya ia baru menangis. Anak kecil itu duduk di lantai, sepertinya baru jatuh dari kasur.

"Aku harus pergi... Hiyori... aku harus menyelamatkan Hiyori..."

Anak lelaki itu menggumam seperti sedang berhalusinasi, dan Shintarou seolah tahu kalau anak lelaki ini sudah melalui banyak hal mengerikan.

"Hey, kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau berbaring lagi oke?"

"Jangan halangi aku!"

Pemuda yang tadi duduk di samping Shintarou menerobos masuk dan menghampiri anak lelaki itu. Ekspresi cemas di wajahnya sangat kentara.

"Hibiya..."

Namun sepertinya anak lelaki itu sama sekali tidak menyukai kekhawatiran yang diberikan pemuda yang jauh lebih tinggi darinya ini. "Ini semua salahmu! Jika kau tidak ada, semua ini tidak akan terjadi!"

Shintarou melihat bahu pemuda itu bergetar sedikit.

"Aku harus pergi.. aku harus pergi..."

Anak lelaki itu melepaskan dirinya dari pemuda berambut putih dan berlari menjauhi mereka. Pemuda berambut putih itu seolah terlalu merasa bersalah sampai tidak bisa menghentikan anak lelaki itu.

"Go-goshujin! Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padanya jika dia berlari seperti itu—kejar dia!"

"Apa?! Kau pikir sudah selelah apa kakiku setelah berlari-lari atas suruhanmu tadi hah?!"

"Ya ampun! Kenapa kau sangat tidak berguna di saat-saat seperti ini?!"

Shintarou bertengkar lagi—sigh, dengan Ene. Saat mereka bertengkar, Shintarou yakin anak lelaki itu semakin jauh dan jauh dari tempat mereka berada. Seolah ingin menyadarkan mereka kalau pertengkaran mereka sama sekali sia-sia, pemuda berambut putih tadi menghampiri mereka. Dan untuk kedua kalinya pertengkaran mereka teredam.

"Hibiya marah karena aku... aku harus melakukan sesuatu... bisakah kau ikut denganku?" nada lelaki itu terdengar lebih mantap walaupun temponya masih lambat. Shintarou menyimpulkan dua hal : sepertinya nama anak lelaki tadi adalah Hibiya. Dan nada lelaki ini ketika mengucap "bisakah kau ikut denganku?" terdengar agak senang, sepertinya ia lega ada yang menemani.

"Ah ya, aku sih mau, tapi kakiku sepertinya tidak kuat buat berlari."

"Itu karena kakimu jarang digerakkan, Goshujin."

"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku tidak bisa la—wooahh!?"

Shintarou merasakan tiba-tiba kepalanya berputar dan kakinya tidak lagi menjejak tanah. Rasa mual perlahan memenuhi dirinya ketika ia membuka mata dan melihat lantai di depannya.

Lelaki berambut putih itu menggendongnya seperti sedang menggendong karung beras di bahunya.

"M-maaf, ini akan terasa agak sakit, mungkin..."

Shintarou tidak sempat menjawab ketika lelaki itu melompat setinggi hampir 1,5 meter dengan hanya kedua kakinya.


.

.

"E-ene?!"

"Bukan Ene, ini Kido."

Terbangunkan oleh seorang gadis setelah mimpi aneh di pagi hari termasuk hal terabsurd yang pernah dialaminya.

Ia terbiasa dibangunkan oleh teriakan nyaring Ene dari komputer di kamarnya, dan mendapati seorang gadis dengan rambut masih basah dan hanya mengenakan T-shirt dan celana panjang menghasilkan perasaan yang aneh. Aroma harum sampo yang pasti baru saja digunakan Kido menelusupi indra penciumannya, dan Shintarou langsung duduk di sofa tempat ia tadi tertidur. Sesaat bingung kenapa dirinya ada di sini.

Kemudian lintasan kejadian yang sudah berlalu menghantam ingatan Shintarou. Ia bertemu lelaki berambut putih di rumah sakit yang menemani seorang anak kecil di sana. Anak kecil itu kabur dan lelaki itu mengejarnya, dengan Shintarou ada di gendongannya. Dia melompat dan berlari dalam kecepatan tidak manusiawi dan Shintarou dengan sukses muntah begitu mereka mendarat.

Tapi, untung saja, dia berhasil menelpon Momo dan anggota Mekakushi Dan lain pun datang membantunya. Mereka berhasil mengejar anak kecil itu. Kido menyimpulkan kalau anak kecil yang bernama Hibiya itu sama seperti mereka, memiliki kekuatan mata merah dan memutuskan tidak akan melepaskannya sebelum mereka tahu kekuatan Hibiya seperti apa. Dan mereka semua pun kembali ke markas bersama Hibiya dan lelaki jangkung tadi yang bernama Konoha.

Konoha... yang ternyata adalah soulmate Shintarou.

"B-benar... bukan Ene, sori." Kata Shintarou pelan.

"Aku tak peduli mimpimu apa, tapi sudah pagi. Sudah saatnya bangun."

Setelah mengucapkan itu, Kido berbalik menuju pintu depan rumah. Shintarou sejenak mengira gadis itu akan keluar ketika Kido berhenti di dekat pintu dan membungkuk. Rupanya ia mengguncang sesosok manusia yang terbaring dengan damainya di lantai dekat situ.

"Hey, udah pagi. Bangun, kau pikir kau sedang tidur di mana?"

Shintarou tercengang. Seharusnya tadi malam Konoha tertidur di sofa juga, tapi saat Shintarou dan Kido sedang mengobrol hingga larut, ia ingat Konoha terjatuh dari sofa dan tidak terbangun sama sekali.

"Eh? Ah, di mana ini?" Shintarou mendengar suara Konoha yang bertempo lambat itu berucap. Kemudian Kido menjawabnya dan bangkit, mengira Konoha sudah benar-benar bangun. Gadis itu pun pergi menuju dapur. Menilai dari keheningan dan tiadanya pergerakan di tempat Konoha berada, sepertinya pemuda itu tidur kembali.

Omong-omong tentang tadi malam, ia ingat Kano yang berubah menjadi adiknya, lalu berubah menjadi... Ayano. Seingat Shintarou, ia belum menceritakan sepatah kata pun tentang Ayano, lalu kenapa Kano bisa mengetahuinya? Kemudian mimpi aneh yang tadi dialami Shintarou pun melibatkan Ayano. Akhir-akhir ini mimpinya dipenuhi gadis itu, rasanya sama seperti saat ia baru pertama kali bertemu dengan Ene, mimpi-mimpinya pun dipenuhi Ayano.

Shintarou mencoba berdiri dan merasakan nyeri di kakinya. Mendesah, dia pun berbaring lagi.

"Suara aneh apa yang kau buat?" cela Kido dari dapur, dan Shintarou memutuskan untuk berpura-pura tak mendengarnya. Sepertinya Kido akan membuat sarapan... seorang gadis yang ada seatap denganmu membuatkanmu sarapan... gadis yang bukanlah adik apalagi Ibumu... pikiran itu membuat jantung Shintarou berdegup dengan antusias, sebelum ia menendangnya jauh-jauh.

Kali ini ia mencoba berdiri lagi, dengan lebih hati-hati. Nyeri di kakinya akibat kemarin berlari-lari lebih banyak dari biasanya tidak terlalu menyengat seperti tadi. Ia pun menghampiri Kido di dapur. Dirinya berniat membantu Kido, sekalipun ia tidak memiliki bakat memasak. Kido sepertinya menyadari hal itu dan menolak bantuannya, membuat dia merasa sakit hati karena merasa tak dibutuhkan. Mencoba mengalihkan pembicaraan, ia menanyakan soal apa Kano membencinya pada Kido karena kejadian tadi malam, dan Kido mengatakan kalau Kano tidak membencinya, justru dia merasa Kano cukup menyukainya.

Kendati pun masih merasa kurang yakin, ia akhirnya meninggalkan Kido. Ada sedikit perasaan lega di hatinya saat ia menunggu sarapan sambil duduk lagi di sofa. Kemudian ia ingat akan Konoha, yang masih tertidur dengan damainya di lantai dekat pintu depan. Shintarou pun memutuskan untuk membangunkannya, dan ia sendiri kaget dirinya memiliki keinginan seperti itu.

"Konoha, oy, bangun. Sudah pagi." Shintarou mengguncang bahu Konoha, dengan agak hati-hati tentunya. Konoha menggeliat sedikit tapi tidak terbangun.

"Oh ayolah, hey, bangun." Shintarou mencoba lagi. Kali ini lelaki bersurai putih itu membuka matanya perlahan dan mendudukkan dirinya.

Rambut putihnya agak berantakan. Dari jarak sedekat ini, Shintarou menyadari kalau bulu mata Konoha sangat panjang untuk ukuran seorang lelaki. Dan dibalik bulu mata itu, manik sewarna rubi nampak mengantuk, namun indah. Kulit Konoha sangat pucat sekaligus sangat halus. Mau tidak mau, kata "cantik" pun melintas di benak Shintarou.

"Mmm... iya..." ujar Konoha pelan. Dan ia menguap lebar-lebar.

"Nah, berdirilah. Jangan tidur di lantai begitu saja."

Konoha mengangguk kecil, namun dia tampaknya masih sangat mengantuk dan lelah. Tanpa aba-aba, tubuhnya oleng kembali seolah akan terlelap lagi.

Namun kali ini tubuh Konoha mendarat di tubuh Shintarou. Kepalanya tersandar di bahu sang HikkiNEET, cukup untuk membuat pria berjersey itu mematung di tempat selama sesaat.

"K-konoha?! Oy—j-jangan tidur di sini juga—" ujar Shintarou salah tingkah. Ia meletakkan tangannya di sekitar pinggang lelaki jangkung itu dan mencoba membantunya berdiri, namun tidak kuat. Ia memang kurang berolahraga. Mengangkat seseorang yang—memang jangkung sih, tapi kurus, jadi beratnya pasti tidak terlalu besar— saja Shintarou tidak kuat.

Konoha tertidur dengan damainya di pelukan Shintarou dan nafas hangatnya membelai leher Shintarou dengan lembut, membuat degup jantung Shintarou tidak beraturan. Ia lagi-lagi mematung dengan posisi masih memeluk Konoha. Entah kenapa dia merasa ada bagian di dalam dirinya yang menikmati hal ini.

"Shintarou—ke mana gadis biru di ponsel ini?"

Marry, gadis berambut putih panjang yang keberadaannya seperti domba kecil polos mendekati mereka entah dari mana. Ponsel yang berwarna kontras dengan rambutnya ia genggam di sebelah tangan. Layar ponsel itu hitam.

"Eh?"

Ditemukan dalam posisi memeluk seorang lelaki oleh seorang gadis kecil nan polos merupakan hal yang tidak Shintarou inginkan, namun sepertinya Marry tidak mempersalahkan hal itu dan duduk dengan santainya di samping Shintarou. Gadis kecil itu menunjukkan ponsel Shintarou ke empunya. Shintarou baru tahu kalau ponselnya ada di tangan Marry.

Melepaskan sebelah tangan dari Konoha, Shintarou mengambil ponsel dari tangan gadis itu. Jempolnya menekan tombol power beberapa kali namun benda berbentuk persegi panjang itu tidak menyala.

"Ah aku lupa—sepertinya baterai ponselku memang sudah habis." Kata Shintarou pelan.

"Eh? Apakah itu berarti gadis biru di dalamnya mati?"

Sungguh kepolosan tinggi yang menggemaskan. Shintarou berniat melindungi gadis ini dari marabahaya apa pun yang mengancamnya.

"Tidak, tentu saja tidak. Kurasa ia tak akan mati hanya karena baterai ponselnya habis."

Wajah Marry yang semula dipenuhi raut cemas perlahan digantikan ekspresi lega. Ia tersenyum lebar dengan manisnya. "Begitu ya, syukurlah… tapi bagaimana caranya agar dia bisa muncul lagi?"

"Aku harus mengisi baterai ponselnya lagi. Kebetulan aku tidak bawa charger ponselku, apa di sini ada charger ponsel?"

"Eh? Charger…?"

"Iya… kau pasti sering melihat Kido atau yang lain mengisi baterai ponselnya dengan charger, kan?"

Kini ekspresi bingunglah yang tampak di wajah gadis itu. "Apa… benda kotak dengan tali panjang itu?"

Shintarou tidak tahu apa yang dimaksud Marry dengan benda bertali itu, namun ia tanpa ragu mengangguk. Mungkin saja yang Marry maksudkan memang charger ponsel. "Iya. Bisa kau ambilkan itu untukku?"

"Baiklah!"

Setelah berkata begitu, Marry segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari kecil tak jauh dari sana. Ia membuka lemari itu dan kemudian mencari di sela-sela benda yang memenuhinya, sambil bergumam pelan, "Tali~ tali~"

Melihat pemandangan itu, sebuah senyum terbentuk di wajah Shintarou tanpa bisa ditahan. Wajar saja sih, Momo tidak pernah bertingkah seimut ini. Melihat seorang gadis kecil normal yang polos nan ceria bertingkah laku sungguh membuat hati hangat.

Shintarou terus memerhatikan Marry mencari-cari charger ponsel, sampai ia lupa posisinya memeluk Konoha yang terlelap. Baru ketika ia mendengar Marry bergumam kesal ("Di mana sih benda itu?"), Shintarou seolah sadar. Pikiran pertamanya adalah melepas pelukannya dari pemuda bersurai putih itu, dan membiarkannya tidur kembali di lantai. Namun, sebagian kecil hatinya tidak tega akan pemikiran tersebut, dan sebagian kecil itulah yang mempengaruhi keputusannya dan membatalkan niat untuk menidurkan kembali Konoha di lantai.

Kepalanya kembali mencari solusi lain. Solusi yang paling masuk akal tentu membangunkan Konoha, namun setelah usaha Kido dan usaha pertamanya tadi membangunkan lelaki itu, Shintarou pesimis akan bisa membangunkannya tanpa membuat Konoha tertidur kembali. Ia menghela napas, pada akhirnya tidak ada pilihan lain selain membiarkan Konoha tetap tidur di pelukannya.

Toh di hari-hari mendatang juga sepertinya aku akan sering tidur bersamanya.

Pikiran yang sempat melintasi kepala Shintarou itu membuat wajah sang HikkiNEET menghangat.

Oke, mungkin dia berpikiran seperti ini karena dia tahu— lelaki di pelukannya ini adalah soulmate-nya. Orang yang ditakdirkan untuk menjadi bagian kehidupannya yang paling penting di kemudian hari. Jadi wajar saja ia berpikiran begitu. Dan Shintarou sempat heran, tidak ada rasa keberatan di hatinya memikirkan kemungkinan itu. Justru yang ada adalah rasa senang dan tidak sabar menunggu saat di mana ia akan menghabiskan hari-hari bersama soulmate-nya datang.

Omong-omong, apakah lelaki di pelukannya ini sudah sadar kalau mereka adalah soulmate?

Konoha sepertinya adalah lelaki polos dan kuper yang masih salah tingkah jika bergaul dengan orang-orang, sekalipun ia tampaknya senang jika mendapat seorang teman baru. Cara bicaranya yang lambat menunjukkan sifat pendiamnya. Bahkan, sejak Shintarou bertemu dengannya kemarin, wajahnya tidak menampakkan ekspresi apa pun selain ekspresi bingung atau menerawang kosong, membuatnya terlihat seperti orang bodoh.

Lelaki ini mungkin tidak mengerti akan apa yang terjadi dengannya ketika ia bertemu Shintarou. Ya, Konoha juga sepertinya merasakan aliran listrik menyengat yang sama dengan yang dirasakan Shintarou kemarin, namun itu sepertinya tidak membuat Konoha menyadari kalau ia sudah bertemu soulmate-nya. Heck, bahkan Shintarou tidak yakin Konoha mengerti tentang soulmate timer yang terus berdetak hingga kemarin itu di tangannya.

Atau mungkin—kemarin itu Shintarou sama sekali salah orang dan soulmate-nya bukan Konoha? Mungkinkah orang lain yang kebetulan ada di sana?

Kemungkinan terakhir itu ia tendang jauh-jauh dari pikirannya. Itu konyol. Ia jelas-jelas tersengat listrik ketika matanya bertemu pandang dengan manik rubi Konoha (yang terlihat sangat indah, ia akui). Ibunya memberitahunya kalau saat beliau bertemu dengan Ayahnya pertama kali, keduanya terasa seperti disengat listrik. Dan itulah juga yang dirasakan dua orang kakak kelasnya di SMA yang menempati kelas khusus karena penyakit mereka.

Omong-omong, salah satu kakak kelas itu juga sempat mencuri hati Shintarou, dan membuat Shintarou patah hati habis-habisan ketika mereka menyatakan kalau mereka adalah soulmate.

Shintarou mengerang dan mengutuki pikirannya yang melantur ke sana ke mari, membuat dirinya teringat akan luka hati lama.

"Oh, ketemu!"

Marry berseru kecil sambil menarik kabel berwarna hitam dari lemari, di saat ia berhasil benar-benar menariknya lepas, sebuah benda ikut terlepas juga dan terjatuh ke lantai. Benda yang membuat Kido yang berjalan melewati Marry dari dapur menjerit kemudian hilang dari pandangan begitu saja.

"Kido? Eh? Kido? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau terlihat ketakutan?" kata Marry sambil menghampiri tempat Kido tadi berada—sepertinya Kido hanya tidak terlihat untuknya, tidak untuk Marry. Sebelumnya Marry mengambil benda yang terjatuh tadi bersama dengan charger. Shintarou menyadari dengan lega kalau benda yang dimaksudkan dan digenggam Marry kini memang charger ponsel, sementara benda satu lagi—bentuknya seperti kulit kering ular yang bersisik. Dari mana benda itu berasal?

"M-marry, sepertinya ia takut dengan kulit ular yang kau pegang itu— jadi singkirkan saja deh." Ucap Shintarou pelan, ia sudah memaklumi sifat penakut Kido sejak mereka memasuki rumah hantu di taman hiburan kemarin.

"Eh? B-benarkah? Um, oke…" ucap Marry, ia pun segera menyingkirkan benda itu dengan menaruhnya kembali di lemari.

Setelah Marry menyingkirkan benda itu, Kido pun muncul kembali. Shintarou menerima charger ponsel dari Marry dan mengucap terima kasih, sebelum gadis itu berjalan menuju meja makan dengan semangat.

"Shintarou, sebaiknya kau segera ke meja makan juga, sarapan sudah siap. Jangan… ehem, berpelukan terus dengan Konoha itu." Kata Kido yang masih mencoba menjadi sok cool walaupun dia sudah ketakutan akan sebuah benda kecil remeh berupa kulit ular tadi. Gadis itu mendehem sambil memalingkan muka, ekspresi wajahnya sama dengan orang-orang di jalanan yang melihat pasangan muda sedang berciuman mesra di gang-gang sempit.

"E-eh?!" kehangatan serasa merambati wajah Shintarou lagi.

"P-pokoknya, aku sungguh tidak peduli jika kalian memutuskan untuk menjadi kekasih—walaupun baru bertemu kemarin. Tapi lebih baik kalian sarapan dulu deh." Kido berkata lagi sebelum mendehem— lagi, dan meninggalkan ruang depan menuju dapur.

Shintarou mematung—dengan Konoha masih berada di pelukannya. Kesadaran segera menamparnya untuk kesekian kali dan ia pun segera melakukan hal pertama yang dia pikirkan.

"K-konoha! Sarapan sudah siap, cepat bangun!" ujarnya di headphone pemuda beriris rubi itu.

Berbeda dari sebelumnya, Konoha dengan sigap langsung terbangun, saking cepatnya ia nyaris menabrakkan ujung kepalanya ke dagu Shintarou.

"S-sarapan…? Apa itu berarti makanan…?" katanya polos sambil memandang Shintarou dengan berbinar.

"Iya, tentu saja. Ayo cepat ke meja makan." Kata Shintarou sambil bangkit berdiri, berdoa sepenuh hati wajahnya yang memerah lagi ketika melihat ekspresi berbinar Konoha (yang terlihat sungguh imut) tidak disadari sang pemuda jangkung.

"Eh? I-iya—" Konoha mengikuti langkah Shintarou menuju meja makan. Shintarou melirik sekilas ke arahnya, dan dia merasa ilusi cahaya mempermainkan matanya saat melihat semburat pink tipis di pipi Konoha.

Marry sedang membantu Kido meletakkan hidangan-hidangan ke meja makan, dan Shintarou tertegun melihat meja itu. Dia jarang sekali menyantap sarapan bernutrisi penuh dan lengkap seperti ini, apalagi sejak dia mengasingkan dirinya di kamar. Ada telur orak-arik, ikan salmon bakar, nori panggang, dan natto—sungguh sarapan yang bergizi dan sempurna. Ia lebih suka sarapan bergaya Western, tapi rasanya semua pikiran itu menguap begitu melihat hidangan sempurna di meja itu.

"Sarapan yang terlihat sangat normal ini terasa luar biasa…" ucap Shintarou sambil masih bengong memperhatikan hidangan di meja. Konoha yang berdiri tak jauh darinya langsung mengambil tempat begitu melihat hidangan menggoda itu.

"Eh? Kita setiap hari makan seperti ini kok." Ucap Kido santai sambil duduk di samping Marry.

Shintarou pun duduk di bangku tersisa—di samping Konoha. Kido hanya menyiapkan empat porsi untuk semua hidangan ini, membuat dahinya mengernyit.

"Um… apa tidak apa-apa tidak membangunkan yang lain?"

"Kalau yang kau maksud Kisaragi, Hibiya, dan Seto, mereka bertiga sudah pergi. Seto mungkin berangkat ke tempat kerja paruh waktunya. Kalau Kisaragi…"

Kido menyerahkan sebuah kertas pada Shintarou. Pada awalnya lelaki berambut gelap itu mengira kalau kertas itu berisi coretan asal yang dimaksudkan untuk menjadi lukisan abstrak, namun saat Kido berkata, "itu pesan dari Kisaragi,", Shintarou baru bisa membacanya.

'Aku keluar bersama Hibiya-kun mencari Hiyori. -Momo'

"Hiyori kan gadis yang disebut-sebut Hibiya kemarin? Dan mereka pergi pagi-pagi sekali…"

"Mereka kan tidur awal agar bisa pergi pagi." Kido mengangkat bahu. "Nah, berarti sudah semua kan. Kalau begitu ayo makan."

"Itadakimasu!"

Mereka makan dalam diam. Shintarou mencomot daging salmon dan—rasanya sangat enak. Kido tidak diragukan lagi memang ahli memasak, walaupun penampilannya seperti laki-laki. Sambil makan, Shintarou mengamati tiga orang di sekelilingnya.

Marry sedang mengupas kulit salmon dari dagingnya secara hati-hati, supaya kulitnya tetap utuh. Konoha makan dalam kecepatan tidak manusiawi. Kido makan seperti orang-orang normal pada umumnya.

Shintarou baru sampai ke suapan kelima saat Konoha sudah minta tambah.

"Tentu saja boleh." Ujar Kido dengan senyum lembut sambil menuang dua porsi nasi ke mangkuk Konoha. "Segini cukup?"

"Mm." Konoha mengangguk.

"Shintarou! Lihat, aku mengupas kulitnya dengan sempurna kan?" Marry memamerkan hasil kerjanya selama beberapa menit terakhir. Kulit ikan salmon yang dikupasnya terlihat menyerupai kulit ular tadi, membuat Kido meringis.

"Jangan melakukan hal itu saat makan, Marry…" kata Kido sambil menggelengkan kepala.

"Eh? Tapi aku sudah melakukannya dengan sangat baik…" ujar Marry kecewa sambil menyisihkan kulit salmonnya ke ujung piring.

"Marry tidak takut hal seperti itu, ya? Padahal dia perempuan." celetuk Shintarou.

"Tentu saja. Dia tidak akan bisa bertahan hidup sendirian di gunung jika dengan ular saja dia takut."

Shintarou nyaris menjatuhkan sumpitnya. "Dia hidup sendiri di gunung?!"

Pembicaraan itu pun dilanjutkan dengan Marry yang bercerita tentang kehidupannya sebelum bergabung dengan Mekakushi Dan. Tentang dirinya dan sang Ibu yang ditinggal Ayahnya, lalu menghilangnya sang Ibu, dan bagaimana Marry menghabiskan hari-harinya seorang diri di rumah dengan membaca buku dan sesekali meminum teh hingga Seto menemukannya dan membawanya ke sini. Marry pun menyebutkan kalau dia dan Ibunya adalah keturunan medusa dan sudah menghabiskan waktunya di sana selama lebih dari 100 tahun.

Shintarou tersentak mendengarnya. Dari wajah Marry yang terlihat seolah ia tidak mengatakan hal yang mustahil, jelas kalau gadis kecil itu tidak berbohong. Tapi apakah ini mungkin? Apa kekuatan mata Marry adalah keabadian? Kemudian, semua kisah Marry ini serasa memiliki hubungan dengan kekuatan-kekuatan mata yang dimiliki anggota Mekakushi Dan, namun informasi yang terlalu sedikit membuat Shintarou sulit menghubungkan semua itu.

"Umm… aku ada ide." Konoha yang sedari tadi hanya terdiam sambil menyimak (sepertinya ia sangat tertarik dengan kisah Marry sampai-sampai ia berhenti makan) mengacungkan tangan secara takut-takut. Dia terlihat meringis ketika melihat tiga pasang mata terarah padanya, jelas-jelas tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.

"Uh… ide apa?" Tanya Kido. Ia terlihat kaget, tidak mengira Konoha akan bicara.

"Mungkin ini tidak begitu penting… tapi, kenapa kita tidak coba ke rumah Marry?"

Jawaban yang tidak kunjung datang dari tiga lawan bicaranya membuat Konoha merasa harus menjelaskan. "K-kau tahu, bukan rumah yang di sini—maksudku, rumahnya dulu itu—"

Kata-kata Konoha terpotong saat Shintarou dan Kido mengatakan "Itu dia!" secara bersamaan. Jika Marry dan Ibunya benar-benar keturunan medusa, dan Ibunya tahu tentang itu, mungkin mereka bisa mendapat informasi di sana. Sekecil apa pun informasi itu.

"Bagaimana menurutmu Shintarou, bukankah ini layak dicoba?" ucap Kido.

"Ya. Mungkin jika kita ke sana kita bisa menemukan informasi tentang semua yang terjadi pada kita."

Mendengar hal itu, Konoha melonjak semangat. "A-apa itu berarti kita bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Hiyori?"

"Aku tidak tahu, tapi setidaknya kita bisa mencoba."

Wajah Konoha terlihat semangat mendengarnya.

Ah, gadis yang hilang itu. Shintarou teringat akan kejadian kemarin, di mana Hibiya menyalahkan Konoha dan bertindak kasar padanya karena Hiyori hilang. Sepertinya Konoha merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan Hiyori karena Hibiya kerap menyalahkannya. Entah kenapa Shintarou merasa agak kesal memikirkan itu.

Maka, setelah makan mereka pun bersiap-siap ke sana. Marry merasa tidak masalah mereka mengunjungi rumahnya dulu itu. Shintarou sempat sport jantung saat tahu kalau rumah Marry lumayan jauh dan membutuhkan waktu 2 jam ke sana dengan jalan kaki dari stasiun, namun dia tidak bisa membatalkan rencana ini, tentu saja. Apa boleh buat. Sepertinya kedua kakinya akan berjuang lagi hari ini.

Shintarou mengambil ponselnya yang sedang ia isi baterainya. Baterainya hampir penuh, namun, saat Shintarou menyalakannya, Ene tidak muncul-muncul.

'Mungkin dia bersama Momo…' batinnya dalam hati. Lalu segera melanjutkan persiapannya ke rumah Marry.


.

.

Shintarou memutuskan ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia akan mengikuti kegiatan hiking.

Mengenakan baju khusus untuk mendaki (oh ya, Shintarou ogah jersey merahnya yang berharga kotor hanya karena pendakian konyol ini) ternyata tidak selamanya memudahkan perjuanganmu mendaki gunung, jika kakimu saja sudah terasa seperti agar-agar saat mereka baru menempuh jarak sepuluh meter.

Kido yang berjalan tak jauh darinya terlihat tidak akan memberikan kesempatan untuk istirahat sebentar saja. Déjà vu. Baru kemarin dia tidak dibiarkan istirahat oleh Ene saat berlari-lari itu.

Alih-alih, gadis berambut hijau yang kini menaikkan hoodie ungunya hingga menutupi sebagian besar kepalanya itu mensejajari langkahnya dengan Shintarou. Sementara Konoha yang menggendong Marry dan membawa perbekalan mereka berjalan di depan. Sempat terbersit keinginan untuk meminta Konoha menggendong Shintarou juga (mengingat sepertinya ia tidak kerepotan membawa Marry dan perbekalan mereka), namun Shintarou cukup tahu diri untuk segera menghapus ide itu.

"Shintarou."

"Tolong jangan ajak aku bicara. Aku harus menghemat tenaga." Kata Shintarou datar sambil mengelap peluh di dahi. Kido yang ada di sampingnya menaikkan sebelah alis.

"Sepertinya perkataan Ene kalau kau adalah HikkiNEET benar ya." Ujar gadis itu, disusul oleh dengus menahan tawa.

"D-diam kau!" perlu diingatkan, Shintarou sangat sensitif dengan topik seperti ini.

Kido tersenyum kecil. Mereka tidak saling bicara lagi selama beberapa langkah kemudian. Sebelum—

"Shintarou, kau dan Konoha adalah soulmate, kan?"

Shintarou nyaris terpeleset jatuh.

"Aku benar ya..." dengus Kido kemudian. "Tidak kusangka. Selamat."

"B-bagaimana kau tahu?!" Shintarou nyaris tersedak ludah sendiri saat mengatakannya.

"Hm... susah menjelaskannya. Tapi, karena jamku sendiri sudah berhenti, jadi aku bisa merasakan aura seseorang yang jamnya juga sudah berhenti. Mungkin begitu."

"Eh—kau sudah menemukan—siapa?!"

Wajah Kido memerah. Ia memalingkan muka sambil menggumam kecil, tidak terdengar oleh Shintarou.

"Kido?"

"I-itu bukan urusanmu tahu..."

"Kano, ya?"

Shintarou nyaris terkena pukulan Kido jika saja ia tidak menghindar pada tepat waktunya.

"Wow. Tidak kusangka..."

"B-berisik!" semburat kemerahan di wajah Kido terlihat sangat kentara.

"Bagaimana ceritanya saat kalian pertama kali bertemu?"

"K-kami saat itu masih sangat kecil dan baik aku ataupun dia tidak bisa menerima itu pada awalnya... namun, seiring berjalannya waktu—yah... begitulah." Kido menghela napas, berusaha menenangkan dirinya. "Lagipula, Seto pun sudah bertemu soulmate-nya, kau tahu. Soulmate pemuda kodok itu adalah Marry. Aku terkejut bukan kepalang saat mengetahuinya."

Kalimat terakhir yang dikatakan Kido cukup merangkum reaksi Shintarou akan berita itu. Dia mengernyitkan dahi sambil membatin betapa beruntungnya pemuda jangkung bermata coklat kekuningan yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu.

"Selain itu, bukankah soulmate timer Kisaragi juga sudah berhenti kemarin?"

"Eh? Momo?" Shintarou memastikan pendengarannya.

Kido tampaknya terkejut Shintarou tidak tahu. "Ah, Kisaragi tidak memberitahumu? Soulmate timer-nya berhenti saat dia bertemu dengan Hibiya. Dan aku agak kasihan pada Kisaragi—dia membantu soulmate-nya sendiri untuk menemukan seorang gadis lain. Tapi sepertinya ia senang melakukan itu."

Sebuah amarah tidak terima membuncah di dada Shintarou. Tidak. Soulmate Momo adalah anak ingusan yang sudah bertindak kasar pada Konoha kemarin?! Begini-begini, Shintarou masih peduli pada Momo. Dia sudah meniatkan dalam hati, kalau ada yang ingin memacari Momo, orang tersebut harus menghadapinya terlebih dahulu. Dengan sepenuh tekad, Shintarou memutuskan untuk mengajak Hibiya 'bicara' mengenai ini. Dan kenapa pula Momo tidak memberitahukannya?!

"Omong-omong, apa kau sudah membicarakan soal ini dengan Konoha?"

Pertanyaan yang diajukan Kido tersebut membuat semua pikiran tentang bagaimana cara yang akan dilakukannya untuk menginterogasi Hibiya lenyap dari kepalanya. Pertanyaan yang sama juga membuat dirinya terdiam sambil memandang sosok lelaki jangkung yang berjalan tak jauh darinya sedang mengobrol dengan Marry di gendongannya.

"Entahlah." Akhirnya Shintarou menjawab setelah terdiam sesaat. "Aku... belum menemukan saat yang tepat. Dengan semua yang terjadi ini, susah rasanya. Apalagi dia terlihat memusatkan seluruh perhatiannya untuk menyelamatkan gadis bernama Hiyori itu... aku bahkan tak tahu apakah dia sudah menyadari kalau kami soulmate."

Mata Kido sepertinya meneliti Shintarou, berusaha membaca ekspresinya, sebelum gadis itu menghela napas. "Begitu..."

Hening lagi. Shintarou merasakan perih di kakinya dan baru menyadari pembicaraan dengan Kido tadi membuatnya lupa akan sakit itu.

"Oh ya, Shintarou, kubilang tadi aku bisa merasakan apakah jam seseorang sudah berhenti atau tidak sehingga aku bisa mengetahui kalau kau dan Konoha soulmate, kan?"

"Mm. Kenapa memangnya?"

"Sebenarnya, alasan lain aku mencurigai kalian karena tadi pagi kau memeluk Konoha dengan sangat lembut dan tampaknya kau menikmatinya. Konoha pun terlihat nyaman di pelukanmu. Jadi... yah, tidak mengherankan kalau kalian ditakdirkan bersama."

Kali ini wajah Shintarou yang memerah.

.

Jika kalian mau tahu bagaimana rasanya neraka, Shintarou rasa perjalanan dari markas menuju rumah Marry mampu memberitahumu sebagian kecilnya.

Pada awalnya, mereka menggunakan kereta dari stasiun terdekat dengan markas selama satu jam, dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua setengah jam. Perjalanan selama itu, ditambah terik matahari musim panas yang tidak kenal situasi, cukup untuk membuat Shintarou muntah dan lemas setibanya di rumah Marry. Apalagi dia memakai pakaian yang cukup tebal, membuat panas semakin menjadi-jadi.

Shintarou terbaring di tanah berumput, terengah seraya mengeluh soal aroma rumput-rumput tak berdosa tersebut. Kido menyindirnya, mengatakan kalau dirinya malah memiliki aroma yang lebih parah. Bau muntah. Mereka belum bisa memasuki rumah Marry karena gadis itu bersikeras untuk merapikan rumahnya yang sudah lama ditinggalkannya. Omong-omong, Shintarou baru menyadari kalau rumah ini berada cukup jauh dari peradaban manusia, bagaimana gadis itu makan sehari-hari?

Ketika ia menanyakan soal itu pada Kido, Kido menjawab kalau Marry sepertinya tidak makan. Bahkan dia terkaget ketika pertama kali diajak makan saat tiba di markas.

Siapa gadis berambut putih itu sebenarnya? Penyihir?

Shintarou baru memutuskan untuk tidur sejenak sambil menunggu Marry selesai ketika Konoha menghampirinya, duduk di samping dirinya yang terbaring. Tas berisi perbekalan yang dibawanya sama sekali tidak dilepas.

"W-woah, ada apa?" kata Shintarou dengan agak kaget. Tidak menyangka kalau pemuda bersurai putih itulah yang menghampirinya.

"Ah, um..."

Konoha merogoh tasnya, dan menarik keluar sebuah kemasan minuman bersoda sambil menyerahkannya pada Shintarou.

"Kulihat kau letih, jadi kalau kau mau..."

Tercenung, Shintarou memandang lawan bicaranya dengan pandangan kaget. Sekali lagi tidak menduga kalau itulah yang akan dilakukan Konoha. Dia mengerjapkan matanya dan menerima minuman itu. Ternyata Konoha cukup baik dan perhatian...

"Ah, makasih. Kalau kau mau, kau bisa ambil juga kok." Ucap Shintarou. Ia merasakan sebuah rasa senang yang aneh di hatinya.

Konoha hanya mengangguk.

"Jangan minum kebanyakan, nanti kayak dia lho." Kido memperingati Konoha sambil menunjuk ke arah Shintarou. Membuat sang HikkiNEET yang sensitif itu terluka hatinya.

Mengabaikan Kido, Shintarou duduk dan meneguk sodanya. Sekali, ia melirik Konoha yang terdiam sambil memandang lurus-lurus ke depan. Konoha tidak terlihat kelelahan dan berkeringat setelah perjalanan yang panjang ini. Toh, kemarin saat Shintarou dibawa meloncati gedung-gedung oleh Konoha pun pemuda jangkung itu tidak kelelahan sama sekali.

Ah... apa kata Kido tadi? Shintarou sama sekali belum membicarakan soal soulmate timer mereka dengan Konoha karena belum ada waktu yang pas. Tapi... bukankah sekarang mereka santai dan kelihatannya Kido sedang memerhatikan sekeliling sehingga tidak akan mendengarkan mereka kan? Ini kesempatan bagus.

"Hey, Konoha..."

"M-maaf menunggu lama! Kalian bisa masuk sekarang!"

Baru saja Shintarou mengucapkan dua kata tadi, pintu rumah Marry menjeblak terbuka dan gadis itu berdiri di sana. Rupanya sudah selesai membersihkan rumahnya itu. Shintarou menghela napas, mungkin tidak sekarang.

Mereka pun memasuki rumah Marry. Konoha sempat menggumamkan apa mereka bisa mendapat informasi mengenai di mana Hiyori berada... membuat Shintarou merasakan sedikit rasa tidak senang di hatinya. Kido terlihat takjub ketika memasuki rumah Marry dan memperhatikan sekeliling, sempat-sempatnya dia berkata kalau dia ingin tinggal di sini. Rumah Marry memang unik dan terlihat nyaman. Hal yang paling menyolok dari bagian dalamnya adalah banyaknya buku yang berjajar di rak kayu di sana.

"Kau berlaku seperti kau baru pertama kali ke sini, Kido."

"Saat pertama kali ke sini aku tidak pernah memasuki rumahnya, Shintarou."

Mereka mulai mencari-cari tentang sesuatu yang berguna di sini. Menelusuri tiap buku, mengharapkan informasi tentang kekuatan mereka, tentang "dunia lain" yang menelan mereka sehingga bisa mendapatkan kekuatan itu, tentang semua yang sudah terjadi pada mereka selama ini.

Konoha sempat menemukan sebuah gambar naga yang sangat disukainya. Shintarou menemukan sebuah buku bertuliskan 'Secret' yang terlihat mencurigakan, namun ternyata isinya adalah gambaran-gambaran Marry yang menceritakan petualangannya mengalahkan seekor naga, membuat Kido terbahak dan Marry menjerit malu. Gadis itu langsung merebut buku itu darinya.

"Apa ada sebuah diari di sini, Marry?" akhirnya Shintarou bertanya.

"Aku tidak memiliki benda yang lebih aneh dari ini!" Marry menatapnya tajam, terlihat tersinggung.

"B-bukan punyamu! Tapi punya Ibumu! Mungkin dia menulis sesuatu yang penting di sana?"

Terdiam, Marry tidak terlihat tersinggung lagi. "Um, ya... kurasa dia memang menulis diari..."

"Kalau begitu di mana?"

Marry terlihat berpikir keras, berusaha mengingat. Wajar saja sih, mengingat dia sudah lama meninggalkan rumah ini. "Di atas rak buku, kurasa..."

"Konoha! Mungkin ada di sana!" kata Shintarou semangat.

Konoha yang sedari tadi diam menyimak pun bergerak cepat, mencari di atas rak buku.

"B-bukan! Kurasa ada di taman depan rumah!"

"Konoha!"

"B-baik!"

Konoha berlari dengan tergesa keluar rumah, menuju taman.

"...eh, mungkin bukan juga." Kata Marry setelah beberapa saat.

Shintarou menghela napas, merasa kasihan pada Konoha. 'Aku harus mentraktirnya sesuatu,' batinnya. Kido yang sedari tadi tertawa dan menggoda Marry soal bukunya mulai mendeham dan menenangkan diri.

"Oya, Marry, kunci yang kau kalungkan itu... itu kunci rumahmu kan?"

"Um? Iya."

Marry melepas kalungnya dan memperlihatkan itu pada Shintarou. Sebuah kunci rumah yang diikat tali hitam tipis, namun ada lagi sebuah kunci yang lebih kecil. Marry bilang ia sendiri tidak tahu itu kunci apa.

Shintarou meneliti sekeliling ruangan, mencari sebuah benda yang kiranya bisa cocok dengan kunci itu. Ia menemukannya. Sebuah meja berlaci yang dikunci, tak jauh dari mereka.

Ketika Marry membukanya, kunci yang lebih kecil tadi ternyata cocok. Dia mencari sejenak, dan mengeluarkan sebuah buku bersampul biru tua yang sangat tebal. Sangat tidak wajar untuk menjadi diari. Seolah diari yang ditulisi beratus tahun. Dia mengatakan... itulah diarinya.

Mereka baru akan membuka halamannya ketika Konoha memasuki rumah lagi.

"M-maaf, aku tidak menemukannya..." ujarnya sambil terengah.

Shintarou menelan ludah. "Kau tahu, Konoha... kami sudah..."

Namun pandangan Konoha sudah menumbuk ke buku bersampul biru yang tergeletak di meja. Shintarou sudah menyiapkan diri untuk keluhan dari mulut Konoha, namun bukan itu yang datang.

"Oh, sudah ketemu ya... syukurlah."

Cowok ini baik banget.

Shintarou benar-benar berniat mentraktirnya makan. Sekalian mungkin membicarakan soal soulmate timer mereka... omong-omong, Shintarou semakin lama semakin lupa akan hal ini. Dia terlalu semangat untuk mencari informasi di rumah Marry. Entah bagaimana dengan Konoha.

Ketika Konoha mendekat, mereka mulai membaca diari tersebut.

.

.


Diari itu menceritakan tentang keseharian seorang "monster" yang memiliki kekuatan-kekuatan yang dihasilkan ular-ularnya. "Monster" itu ditakuti oleh semua orang, namun datanglah seorang lelaki yang sama sekali tidak takut dengannya. Lelaki yang menyatakan kalau dia ingin menemani sang "monster", bahkan bersedia membuat sebuah rumah untuk sang "monster" dengan kedua tangannya sendiri. Bertahun-tahun berlalu, mereka terus bersama. Lelaki itu membangun rumah, sang "monster" mengamatinya. Perlahan, rasa suka pun tumbuh di hati monster itu terhadap lelaki tersebut.

Ketika rumah tersebut baru setengah jadi, sang "monster" nyaris kehilangan lelaki yang selama ini menemaninya, membuat dirinya sadar akan perasaannya dan bersedia menjadi istri lelaki itu.

Waktu berlalu, rumah itu sudah jadi... mereka tinggal bersama hingga dianugerahi seorang putri yang sangat manis... mereka menamainya sesuai nama bunga yang disukai keduanya...

Lalu sebuah bencana terjadi... membuat sang "monster" ingin membuat dunia lain, yang bisa ia tinggali sendiri bersama keluarganya, bersama... dengan bantuan ular-ularnya, ia mulai membuat "dunia" tersebut...

Namun semua tidak berjalan sesuai yang ia rencanakan... sesuatu terjadi, dan kemudian ia harus meninggalkan suami dan anaknya... demi kebaikan mereka sendiri...

Ia sendiri, di dunia buatannya. Dunia di mana semuanya terjadi berulang-ulang tanpa henti.


.

.

"Kenapa kau bilang begitu?!"

Marry berseru. Matanya berkilau oleh kemarahan dan air mata. Rambut panjangnya mengembang, seolah menunjukkan emosi yang dirasakannya.

"M-marry, Shintarou tidak bermaksud buruk. Lagipula itu hanya dugaan, bukan yang sebenarnya kan..." Kido berusaha menenangkan gadis itu. Shintarou diam saja, sekalipun apa yang dikatakannya tadi tidak dia anggap sebagai dugaan, tapi kenyataan.

"Uuhh..." Marry menggeram, air mata yang sedari tadi ditahannya pun luluh, berjatuhan dan membasahi pipinya.

"A-aku mau keluar!"

"Marry!"

Mengabaikan panggilan Kido, gadis kecil itu berlari keluar rumah.

Konoha terlihat gugup, memandang bergantian antara Marry dan Shintarou.

"A-aku akan mengejarnya!"

Konoha pun keluar juga, menyusul Marry. Menyisakan dua orang di dalam rumah. Kido menghela napas dan duduk di kursinya.

"Yah, bagaimana menurutmu?" ujar Shintarou akhirnya setelah beberapa detik keheningan.

"Sebenarnya aku juga berpendapat sama denganmu." Ujar Kido akhirnya.

"Tapi, jika dilihat dari sudut pandang Marry, sepertinya ia tidak senang kalau ternyata Neneknyalah yang menyebabkan semua ini pada kita."

"Yah, mau bagaimana lagi. Di kesempatan lain, kau bisa membicarakan soal itu baik-baik dengannya. Mungkin dia bisa mengerti. Tapi nanti."

Shintarou diam lagi, ia berusaha mengaitkan setiap informasi yang didapatkannya dari diari itu, namun informasi yan terlalu banyak membuat otaknya bingung. Lelaki berambut gelap itu duduk di kursi bekas Marry, agar bisa bicara empat mata dengan Kido. Mereka mulai berdiskusi, tentang kekuatan mata mereka kebanyakan. Hampir semua kekuatan yang disebutkan di diari itu mereka kenali dan sudah ada di dunia ini, terdapat di sebagian besar anggota Mekakushi Dan. Namun, ada satu yang belum mereka ketahui keberadaannya, satu kekuatan yang juga sepertinya menjadi sumber dari semua bencana ini. Clearing Eyes.

Mereka harus bisa menemukan seseorang yang memiliki kekuatan itu, yang mungkin memiliki informasi lebih mengenai "dunia lain" itu. "Dunia lain". Kido memiliki ide untuk memberinya nama, dan nama usulannya adalah "Kagerou Daze" atau "Heat-Haze Daze". Dia begitu semangat membicarakan soal nama pemberiannya hingga Shintarou baru bisa menghentikannya ketika dia mengajak mereka pulang. Sudah jam segini, dan dia tidak mau menempuh perjalanan pulang ketika sudah gelap. Meskipun begitu, Kido bertekad untuk membicarakannya lagi di markas.

Mereka akan pulang. Namun Marry dan Konoha masih di luar. Keduanya pun memutuskan untuk mencari mereka. Baru beberapa menit berlalu sejak Marry keluar, jadi mereka tidak akan jauh, sepertinya.

Ketika Kido melihat-lihat sekitarnya dengan agak bergetar, Shintarou melihat sebuah siluet putih yang gemetaran di sisi lain rumah ini, jauh di belakang semak-semak.

"Oh dia di sana. Oi, Marry, maaf soal yang tadi! Cepat kembali ke sini!"

Shintarou mendengar Marry meneriakkan sesuatu, tapi jaraknya membuat suara itu tidak terdengar jelas.

"Dia bilang sesuatu?"

Tidak ada pilihan lain, Shintarou pun berjalan menembus semak-semak, diikuti Kido di belakangnya. Ketika Shintarou sudah berada cukup dekat untuk memastikan sosok di seberang sana memang Marry, tiba-tiba semak-semak yang mengelilinya menghilang begitu saja. Seolah tidak pernah ada.

Kedua kaki Shintarou berhenti melangkah.

Kali ini dia bisa mendengar Marry menjerit "Tolong akuu!", membuat siapa saja yang mendengarnya merasa kasihan.

Shintarou melangkah maju lagi, kali ini dengan takut-takut. Namun langkahnya lagi-lagi harus terhenti karena di depannya, sebuah jurang dalam yang lebarnya kira-kira mencapai 5 meter membentang. Dan kemungkinan besar Marry ada di sisi lain jurang tersebut.

"K-kenapa kamu bisa ada di sana, Marry?!" teriak Shintarou.

"T-tadi a-a-a-a-ku di-dikejar lebaah!"

Dia mungkin bilang, "Tadi aku dikejar lebah!"

Shintarou melihat sekeliling, ada sebuah kayu besar yang menghubungkan sisi jurang yang dipijaknya dengan sisi jurang tempat Marry berada. Pertanyaan bagaimana caranya Marry mencapai sana terjawab sudah. Namun baik Shintarou maupun Kido tidak berani untuk menyebrangi kayu tersebut. Marry yang tadi dikejar lebah semata-mata bisa menyebrangi kayu tersebut karena ketakutan. Takut bisa memberimu kekuatan untuk melakukan hal yang tidak akan kau lakukan jika dalam keadaan biasa. Dan dia tentu saja tidak bisa dan tidak tega untuk meminta Marry menyebrangi kayu itu lagi agar bisa kembali.

"Bagaimana ini..." gumam Kido.

"Kurasa kita tunggu saja Konoha. Dia pasti bisa menyebrangi jurang ini hanya dengan melompat." Kata Shintarou sambil menghela napas. Omong-omong, ke mana Konoha? Apa dia tersesat? Sungguh timing yang tepat, hilang saat dia dibutuhkan.

Ketika Shintarou membuka matanya yang sempat terpejam karena menghela napas tadi, sebuah serangga berwarna kuning dan hitam terbang tepat di depannya. Sayap serangga tersebut mengepak-ngepak cepat, siap menghinggapinya kapan saja.

Shintarou menjerit, dan yang ada di pikirannya hanya untuk menjauh dari serangga itu. Sejauh-jauhnya. Ia berlari tanpa memerhatikan arah, barulah ia sadar kalau dia sudah bertindak bodoh ketika kakinya menjejak udara, bukan tanah.

Ia sempat melihat Kido menjerit juga ketika dia jatuh, jatuh... rasanya semua itu terjadi sangat lambat.

Shintarou terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, ke dalam jurang yang ia tidak tahu kedalamannya berapa.


.

.

Dirinya baru saja menemukan kedua temannya yang lain. Kedua temannya yang tadi ia tinggalkan di rumah demi menemukan seorang gadis berambut putih. Ia baru saja menemukan mereka. Namun, salah satu dari temannya, seorang lelaki ber-jersey merah, dilihatnya sedang berlari... sebelum akhirnya jatuh ke jurang itu.

Sebuah kepanikan menjalari hatinya. Temannya terjatuh ke jurang... itu berbahaya. Dan orang itu bukan sekedar temannya.

Lelaki itu soulmate-nya. Soulmate yang kehadirannya sebenarnya sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.

Tanpa pikir panjang, kedua kakinya melompat. Siapa saja yang melihat dapat mendapati kalau matanya menyala merah. Ketika kakinya menjejak tanah di dekat jurang selama sepersekian detik, ia dapat mendengar suara seorang gadis berambut hijau menyebut namanya dengan nyaring, sebelum dia menjatuhkan diri ke jurang.

Tangannya menggapai ketika tubuhnya terjatuh mengikuti gravitasi. Mulutnya menyebut nama lelaki berambut gelap yang terjatuh lebih dulu darinya, namun sepertinya suaranya yang terlalu kecil atau lelaki itu tidak mendengarnya. Wajah lelaki itu terlihat pasrah, seolah-olah ia menganggap kalau hal ini pantas diterimanya.

Yang benar saja. Dia tidak akan membiarkan temannya, soulmate-nya, terluka atau lebih buruk lagi, mati begitu saja. Ia tidak peduli walaupun nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.

Tubuh lelaki itu terus meluncur ke bawah. Dan dirinya menyadari dalam kepanikan, lelaki berambut gelap itu sepertinya kehilangan kesadaran. Selain itu, sebuah pohon menjulang di dekat mereka, rantingnya akan menusuk tubuh itu, jika saja dia terus terjatuh...

Semuanya terjadi begitu cepat... bahkan apa yang persisnya terjadi ia tidak tahu. Yang jelas, ia akhirnya dapat mencegah lelaki itu terluka, dan sebagai gantinya, ranting pohon yang lumayan besar itulah yang menembus tubuhnya... rasa sakit dan perih segera menjalari sarafnya, tapi tidak masalah.

Tubuh mereka berdua menghantam tanah, dan dia bisa merasakan darahnya sendiri membasahi tanah itu... tidak masalah. Apalagi ketika dilihatnya tubuh temannya bangkit. Temannya masih hidup... dan sekalipun pandangannya mulai agak memburam, ia tahu kalau temannya tidak terluka.

Sebuah rasa lega menghinggapi hatinya, sekalipun hanya sesaat, karena kesakitan dari luka di tubuhnya yang gemetaran segera memenuhi otaknya lagi.

Ia melihat temannya mendekat, wajah temannya itu memucat, ketakutan. Ia tidak tahu separah apa kondisinya sekarang, yang jelas, mungkin dia akan segera pergi dari dunia ini... apa namanya... mati? Ya, sepertinya begitu.

Mulutnya terasa asin, dan dia baru sadar ada cairan semerah mawar yang menetes keluar dari sana. Ketika itulah, lelaki berambut gelap yang baru saja diselamatkannya itu mengatakan, "Kenapa kau melakukannya...?"

Ia berusaha tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu. Kemudian, dia mencoba bicara...

"Karena kita adalah teman..."

Saat ia mengatakan itu, ia terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. Namun ia sungguh berharap lelaki di depannya dapat mendengar perkataannya... tapi dia belum selesai...

Dilihatnya tubuh lelaki di depannya bergetar, dan mata gelapnya itu mulai mengeluarkan air mata.

Oh tidak, tidak, kau tidak bisa menangis karena ini... kalau kau menangis... kalau kau sedih... aku juga akan sedih nantinya...

Sekali lagi, dia berusaha tersenyum, dan meneruskan perkataannya. Pandangannya semakin memburam... memburam... walau begitu, ia berusaha memfokuskan matanya pada wajah lelaki itu...

"...dan karena... kau a-adalah... s-soulmate-ku..."

Ia tersedak darahnya sendiri ketika mengatakan itu.

Ia mendengar suara isakan yang semakin keras, namun ia tidak bisa mencegah tangisan itu, sekalipun sungguh, ia tidak ingin mendengar orang di depannya ini menangis.

Lalu... semuanya gelap...


.

.

Cahaya seakan lenyap dari kedua manik rubi itu.

Shintarou panik, ia mengisak. Mencoba mencari cara untuk menyelamatkan lelaki di depannya, sekalipun ia tahu dirinya sudah terlambat. Ia tidak bisa membawa Konoha ke rumah sakit dan ponselnya tidak memiliki sinyal.

Dia tidak bisa melakukan apa pun, pada temannya—soulmate-nya—yang tubuhnya sudah tidak bergerak dan darah bersimbah di sekitarnya.

"...dan karena... kau a-adalah... s-soulmate-ku..."

Hatinya terasa sangat sakit. Ia merasa sesuatu sudah direbut darinya... belahan jiwanya sudah direbut darinya. Bukankah menyakitkan saat kau kehilangan sebuah belahan jiwa?

Oi, kumohon, lakukan sesuatu. Kau ada di tubuh Konoha, kan? Kami adalah teman. Dia adalah soulmate-ku. Aku ingin dia selamat. Kumohon, kumohon, tolonglah...

Dan setelah Shintarou merapal kalimat itu di hatinya, berdoa sepenuh hati demi keselamatan lelaki di depannya, udara serasa membeku. Dia merasa dirinya dipandang oleh sebuah binatang kecil...

Dan saat Shintarou memikirkan itu, tiba-tiba ular hitam yang banyak jumlahnya keluar begitu saja dari tubuh Konoha yang tak bergerak, kemudian mengikat tubuh itu penuh-penuh. Shintarou melihat iris merah yang baru saja terlihat mati itu bersinar redup, warna merah gelap. Jantungnya berdetak kembali, suaranya sungguh nyaring hingga Shintarou bisa mendengarnya.

Tak bisa melakukan apa pun, Shintarou hanya bisa duduk dan mengamati dengan tercengang, bagaimana tubuh temannya—soulmatenya tersusun kembali tepat di depan matanya.


~ TBC ~


A/N :

Oke, chapter ini panjang banget.

Saya merasa kesusahan juga nulis chapter ini. Bolak-balik baca novel terjemahan inggrisnya. Walaupun saya merasa agak maksa juga masukin semua scene di novel ke sini, jadi ada beberapa yang saya Cuma jelasin aja. Kan ga asyik kalau bener-bener mirip novel.

Karena itulah, saya baru bisa update sekarang. Maaf ya u_u saya suka gitu sih. Ada ide, tapi bingung gimana cara menuliskannya, itu aja /ngek.

Terima kasih untuk Adelia-chan yang sudah menyempatkan nge-review chapter kemarin! Sama nak, saya juga benci banget yang namanya TBC, terlebih kalau apdetnya lama kayak fanfic ini /plak. Tapi mau bagaimana lagi... pasti ada yang seperti itu di dalam beberapa fanfic :'D semoga chapter yang panjang ini bisa memuaskanmu, ya... Hehehe...

Ah sudah begitu aja. Saya menargetkan untuk mempublish chapter terakhir tanggal paling lambat 24-25 Juli, jadi tunggu saja ya!

Terima kasih sudah membaca sampai sini! Kritik sarannya ditunggu! uwu

Azu