Soulmate Timer

A Kagerou Project / Mekakucity Actors fanfiction by Chikara Az

KagePro / MekakuCA © Jin

This fanfiction © Me

Rating : T untuk amannya uwu

Warning : ShinKono, possibly (very) OOC, slash/BL/shounen-ai dan semacamnya, mengikuti route di novelnya

Happy ShinKono Day! \ ;w; /

Enjoy~


Matanya melebar dalam ketidakpercayaan. Beberapa kali ia harus mencubit dirinya sendiri dan berharap ini bukan mimpi. Bahwa pemandangan di depannya ini benar-benar "kenyataan".

Saat ini Shintarou sedang berdiri sambil mematung di depan sebuah vending machine yang tulisan "Jackpot!"-nya menyala-nyala dengan cahaya warna-warni. Sekalipun langit masih dipenuhi semburat oranye, lampu-lampu di jalanan sudah mulai menyala, menerangi jalan-jalan yang tadinya hanya ditimpa sinar redup matahari di sebelah barat. Udara terasa semakin lama semakin dingin, namun perhatian Shintarou sepenuhnya terpaku pada vending machine di depannya.

Markas Mekakushi Dan terletak tidak jauh dari sana, namun Shintarou tidak terburu-buru. Dia masih dengan takzim mengamati vending machine itu. Seumur-umur, ia selalu mengira tulisan-tulisan di setiap vending machine yang berbunyi "Dapatkan dua botol jika kamu beruntung!" itu hanya omong kosong. Sebuah urban legend yang dibuat untuk mempromosikan mesin yang banyak ditemukan di setiap sudut Negeri Sakura. Rasa ketidakpercayaannya tambah menguat karena jelas-jelas hari ini ia sama sekali tidak beruntung. Namun, vending machine di depannya ini sedang membuktikan bahwa legenda itu bukan fiksi.

Shintarou menjulurkan tangannya ke tempat keluarnya kaleng soda di mesin tersebut, dan telapak tangannya merasakan permukaan licin nan dingin—memang ada dua. Ketika dia mengeluarkan kedua botol itu—matanya tidak ditipu. Shintarou berusaha untuk tidak menangis bahagia, sekalipun tubuhnya mau tidak mau tetap bergetar karena rasa estatik yang kini mengalir deras di dalamnya.

"Gak harus beli dua deh..."

Sebenarnya ia ingin untuk segera membuka kedua botol itu dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Dirinya sunguh lelah setelah perjalanan pulang dari rumah Marry dan apa yang terjadi di sana. Namun kali ini dirinya tidak bisa egois. Ia teringat sebuah janji yang dibuatnya ketika dia masih di rumah Marry, dan ia bertekad memenuhi setengah janji itu. Setengah karena... niatnya yang sesungguhnya sih untuk mentraktir makan, tapi kali ini soda dulu mungkin cukup.

"Nih, Konoha."

Shintarou menyodorkan sebotol soda berwarna hitam kecoklatan itu pada pemuda jangkung yang sedari tadi berdiri diam di sampingnya. Pemuda bermanik pink kemerahan itu mengangguk, mengucap sebuah kata terima kasih yang tak terlalu jelas sebelum menerimanya.

Kemudian, Shintarou membuka botol bagiannya sendiri dan mengambil sebuah tegukan. Cairan karbonasi yang menyegarkan itu mengaliri tubuhnya, membuat saraf-sarafnya terasa dimanjakan. Rasa manis yang agak menyengat dicecapnya dengan penuh nikmat. Ini dia. Ini dia. Sebuah situasi paling menyenangkan yang dialaminya setelah menjalani "Pendakian Mematikan di Tengah Terik Matahari". Ia merasa jiwanya terhubung dengan botol soda di tangannya, sebuah minuman yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Soda memang sebuah tiket menuju surga yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia.

"Semoga soda bisa abadi..."

"Apa yang kau bicarakan?"

Sial.

Shintarou terlalu tenggelam dalam kenikmatannya mengonsumsi soda sampai hampir melupakan keberadaan Konoha yang kini memandangnya dengan pandangan heran. Namun, botol soda yang kini sedang digenggamnya di tangan kanan masih tersegel rapi, belum dibuka. Apalagi diteguk.

"Eh? Kenapa belum minum? Cobalah, enak kok!" ujar Shintarou, setengah berniat untuk membuat Konoha lupa akan apa yang dikatakannya tadi. Konoha harus bisa merasakan kenikmatan mengonsumsi soda juga, kenikmatan nomor satu di dunia bagi Shintarou.

"Eh? Ah, umm... ba-baik..."

Shintarou memerhatikan ketika Konoha membuka tutup botolnya perlahan, kemudian membawa mulut botol itu mendekati mulutnya sendiri. Bibirnya menyentuh ujung botol itu... bibirnya yang berwarna merah pucat... bibirnya yang tidak terlalu tebal, justru cenderung agak tipis...

Untunglah, dorongan untuk menampar dirinya sendiri bisa Shintarou pendam dalam-dalam. Pemuda itu memalingkan pandangannya dan wajahnya terasa menghangat. Apa tadi yang ia lakukan? Memerhatikan bibir Konoha yang menggoda itu?!

Hei, tinggalkan kata 'menggoda'-nya!

"Shintarou, ada apa?"

Pikiran-pikiran yang tadi memenuhi kepalanya menguap begitu ia mendengar suara Konoha dan gaya bicaranya yang lambat. Ia menoleh ke arah pemuda jangkung itu, yang kini memandangnya dengan wajah datar seperti biasa. Wajah datar yang menyembunyikan perasaan-perasaannya yang sebenarnya. Menyembunyikan sifatnya yang sebenarnya sangat baik hati dan perhatian.

"Ehem, tidak ada kok."

Konoha mengangguk kecil mendengar jawabannya. Dan saat itulah Shintarou menyadari kalau botol di tangannya sudah kosong.

"Bagaimana? Enak bukan?" ujarnya dengan antusias yang tidak biasa. Konoha mengangguk dua kali secara cepat, mengiyakan.

Langit semakin lama semakin menggelap, udara dingin serasa menemani keheningan yang tiba-tiba jatuh di antara kedua insan tersebut. Keheningan yang terasa agak canggung, namun Shintarou menikmatinya. Dia mengamati langit dengan tajam, memerhatikan bintang-bintang kecil yang perlahan menghiasinya. Walaupun sekarang musim panas dan matahari sudah menerangi bumi selama hampir seharian, tetap saja bulan harus datang dan menggantikan tugasnya.

"Waktu berlalu dengan cepat, ya..." celetuknya.

Konoha ikut memandang langit dengan pandangan kosongnya yang biasa. Ia mengangguk kecil, tak banyak bicara. Konoha tidak mengekspresikan emosinya dengan kata-kata, tapi lebih banyak dengan aksi. Emosi yang kuat bahwa dia memiliki kepedulian besar pada orang lain. Kepribadiannya yang pendiam itu memiliki daya tarik tersendiri.

Pandangan Shintarou tertuju pada lubang besar di bajunya yang sekalipun berusaha disembunyikan oleh Konoha dibalik botol sodanya, tetap bisa kelihatan. Lubang yang ada belum lama ini. Tempat di mana ular-ular itu keluar dari tubuhnya...

Shintarou meneguk sisa sodanya dan melempar botolnya yang telah kosong ke tempat sampah terdekat.

"Hey, Konoha..."

"Apa?"

Konoha memandangnya dengan ekspresi datar yang sama. Shintarou pun balas memandangnya. Manik hitam obsidian dan iris rubi pucat bertemu pandang, dan Shintarou merasakan sebuah déjà vu. Ia teringat akan pada pertemuan mereka yang pertama kali, di mana soulmate timer keduanya berhenti.

Darah Shintarou serasa berdesir ketika ia mengamati wajah Konoha yang mau tidak mau ia sebut cantik di kepalanya.

"Saat itu... kau bilang kalau kau adalah temanku, kan?"

Konoha terlihat berusaha mengingat-ingat, lalu mengangguk kecil, "Mm."

"Kalau begitu," Shintarou menghela napas. "jangan pendam hal-hal menyakitkan pada dirimu sendiri. Tidakkah kau merasa kesepian?"

Shintarou tahu bahwa ia benar-benar tidak berada dalam posisi untuk bisa memberitahukan Konoha tentang ini, namun ia benar-benar tidak ingin Konoha memendam seluruh perasaan sakitnya pada dirinya sendiri. Memendam seluruh perasaannya yang sesungguhnya di balik topeng wajah datarnya. Jika saja Konoha sedang kesakitan dan Shintarou sama sekali tidak menyadari hal itu karena selalu tertipu oleh wajah datar Konoha, ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Hidupnya sudah diselamatkan oleh lelaki ini.

Konoha mengerti akan perkataannya atau tidak, Shintarou tidak tahu. Yang jelas, ketika ia mendengar jawaban "Mm," lagi dari bibir Konoha, ia merasakan bahwa jawabannya itu mengandung lebih banyak emosi dari jawaban "Mm,"-nya yang pertama. Pikiran itu membuatnya merasa senang.

Oke, sekaranglah inti dari permasalahannya. Hal yang sudah ingin Shintarou bicarakan sejak kemarin. Hal yang krusial, sebab berhubungan dengan masa depan keduanya.

Tentang soulmate timer mereka yang berhenti di pertemuan pertama mereka.

"Dan..."

"Hm?"

"...kau juga bilang kalau kita soulmate, bukan?"

Shintarou agak kaget ketika melihat Konoha melonjak dan mengeratkan genggamannya pada botol soda yang kini kosong itu, seolah ia merasa gugup. Ia menundukkan wajahnya, membuat poninya yang lumayan panjang menutupi wajahnya dari pandangan, namun tetap saja Shintarou menyadari ada rona kemerahan yang kontras dengan kulit wajah lelaki jangkung itu.

"Konoha?"

"I-iya... aku berkata begitu..." ujar Konoha pelan. Sangat pelan.

"Lalu, bagaimana menurutmu?" kata Shintarou akhirnya. Jantungnya berdebar karena gugup.

"Eh...?"

"Yah... apa yang akan kau lakukan setelah ini? Mau merencanakan tentang apa yang akan kita lakukan bersama? Kau tahu... aku belum pernah memiliki seorang kekasih sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan... hahahah..." Shintarou tertawa garing sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "...tapi, di tengah-tengah situasi seperti ini... sepertinya susah juga ya..."

"K-kukira kau tidak suka mendapatkan soulmate sepertiku...?"

Shintarou mematung.

"Maksudmu apa?"

"Eh iya, itu... um..." Konoha terlihat salah tingkah. Sebelah tangannya menggenggam segumpal kaos putih yang dikenakannya. Ia memalingkan kepalanya dari Shintarou seolah tidak sanggup menatap lelaki itu. "...kau tahu, kan seharusnya... lelaki itu berpasangannya dengan perempuan. Tapi... kita—kita sama-sama lelaki, kan... jadi, kukira... kau tidak suka akan ini..."

Terdiam, Shintarou menatap lawan bicaranya lekat-lekat.

"Kenapa kau berpikiran begitu?"

"Ah! Um..." ujar Konoha pelan. "M-marry bercerita kalau teman-teman kita sudah memiliki soulmate... dan soulmate mereka tidak ada yang sejenis. Se-sensei pun bilang kalau lelaki berpasangan dengan perempuan. M-maafkan aku..."

"..."

"...maaf karena aku bukan perempuan..."

Perlu beberapa saat bagi Shintarou untuk mencerna perkataan Konoha tersebut. Otak jeniusnya mendadak korslet, mungkin karena terlalu lelah oleh perjalanan dari rumah Marry. Setelah beberapa detik, otaknya berhasil membuat kesimpulan akan perkataan Konoha dan Shintarou pun melakukan hal pertama yang ia pikirkan.

Ia tertawa keras-keras.

Konoha terlonjak bingung. Ia memandang Shintarou seolah HikkiNEET satu itu kehilangan akal sehatnya. Shintarou tertawa sampai-sampai ia terbungkuk dan memegangi perut.

"S-shintarou?"

"Ahahah.. oh ya ampun, sori—pff—hahahah!"

Susah payah Shintarou menghentikan tawanya yang terbahak, karena ia tahu Konoha pasti tidak nyaman. Siapa sih yang suka lawan bicaramu tiba-tiba tertawa tanpa sebab setelah kau berbicara? Mau tidak mau yang tidak tertawa akan mengira lawan bicaranya menertawakannya.

Well, memang Shintarou menertawakan perkataan Konoha sih.

"Ahahah, uhuk! Sori, Konoha..." Shintarou terbatuk-batuk. Karma sih. "...menurutku yang kau katakan itu konyol."

"Hah?"

"Begini ya..." Shintarou menegakkan badannya sambil memandang Konoha. Diam sejenak untuk mengelap air mata yang keluar dari matanya karena terlalu banyak tertawa. "...kau tahu, sungguh, aku tidak peduli soal gender. Aku pernah menyukai perempuan, dan aku pun pernah menyukai laki-laki. Yah walaupun aku tidak pernah punya kekasih, sih...

"Jadi tenang saja, aku sama sekali tidak keberatan kau menjadi soulmate-ku kok. Aku tidak peduli bahwa kau bukan perempuan. Kau berpendapat seperti itu karena perkataan Marry dan Sensei-mu itu, kan? Bukan karena aku terang-terangan menolakmu?"

"Tapi... kukira..." Konoha terlihat kaget dan lagi-lagi salah tingkah. Ia berusaha menyusun kata-kata, walaupun degup jantungnya yang cukup cepat membuatnya nyaris kehilangan konsentrasi. "...kau tidak bicara apa pun soal soulmate kepadaku sejak kemarin... kan aneh... jadi aku mengira—kau... tidak suka dengan semua ini...?"

"Ah." Shintarou diam. Ia kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal dalam gestur salah tingkah. Sebuah perasaan bersalah menghinggapi hatinya. Siapa pun yang melihat mereka saat ini, pasti akan mengira bahwa mereka sedang menyatakan perasaan masing-masing. Yah, dugaan itu tidak akan terlalu salah sih. "M-maaf soal itu... habis aku bingung bagaimana membicarakan soal ini—kau tahu. Bahkan aku sempat ragu kalau kau menyadari bahwa kita adalah soulmate..."

"Tentu saja aku menyadarinya..." gumam Konoha, kini ia mengelus-elus punggung tangannya yang menggenggam botol kosong dengan tangan yang lain. "aku... sejak lama aku sudah menunggu-nunggu hari di mana aku bertemu soulmate-ku..."

"Eh? Benarkah?"

Konoha mengangguk kecil. "Jadi mana mungkin aku tidak tahu... aku hanya takut kau tidak bisa menerimaku..."

Yang benar saja.

Shintarou menahan dorongan kuat untuk menarik lelaki yang lebih jangkung sepuluh senti darinya itu pada sebuah pelukan erat.

Dirinya sungguh bodoh karena baru menyadari perasaannya pada Konoha beberapa waktu lalu. Ia sungguh bodoh karena baru menyadari kalau dia jatuh cinta pada Konoha tepat pada pandangan pertama saat ia nyaris kehilangan Konoha.

Ia baru menyadari, betapa ia mengagumi kecantikan wajah Konoha, betapa ia menikmati dan membiarkan Konoha tertidur di pelukannya, perasaan aneh yang dirasakannya ketika memerhatikan tiap tingkah laku Konoha... hell, bahkan dia merasa cemburu ketika Konoha terus menggumam soal Hiyori dan terlihat akrab dengan Marry!

Dia jatuh cinta, head over heels, pada seorang Konoha. Pemuda polos yang ditakdirkan menjadi soulmate-nya.

Shintarou tersenyum tipis.

"Kau terlalu mencemaskan soal yang tidak penting, Konoha. Zaman sekarang pasangan sejenis sudah tidak aneh lagi kok."

Konoha diam saja ketika Shintarou mendekatinya, menarik sebelah tangan Konoha yang bebas pada sebuah genggaman hangat. Shintarou menyadari kalau wajah Konoha memerah, dan ia cukup yakin kalau wajahnya sendiri tidak berbeda jauh.

"Um, ini mungkin memalukan... tapi... sebenarnya aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu."

"'Menyukai'...?"

"Mencintai, jatuh hati, terserah kau mau menyebutnya apa." Shintarou semakin mendekat, dan sebelah tangannya yang tidak menggenggam tangan Konoha ia gunakan untuk menyentuh ujung dagu lelaki itu. "Perasaan di mana kau ingin selalu bersama seseorang."

"Mm..." Konoha menutup matanya rapat-rapat, menikmati sentuhan tangan Shintarou di wajahnya. "k-kalau begitu... aku juga..."

"Eh?"

"Aku juga menyukai... Shintarou..."

Dorongan itu tidak bisa ditahan lagi.

Shintarou tertawa, namun kali ini bukan tawa geli seperti tadi, melainkan tawa bahagia. Ia menarik Konoha pada sebuah pelukan erat, seolah-olah enggan melepasnya sampai kapan pun. Konoha mengeluarkan pekik kaget kecil sebelum ia menjatuhkan botol sodanya ke sembarang tempat dan membalas pelukan Shintarou, sekalipun masih agak canggung. Shintarou meletakkan daunya di bahu Konoha, masih tertawa. Sejenak, ia mencium aroma tubuh Konoha yang menyenangkan, dan ia menyukainya.

Perlahan, Konoha ikut tertawa kecil. Rona merah di wajahnya semakin pekat, membuatnya sungguh terlihat manis.

Tawa mereka perlahan mereda, dan Shintarou diam sambil terus memeluk Konoha. Ia benar-benar enggan melepasnya.

"Jadi, Konoha, um..."

"Ya?"

"Maukah kau menjadi soulmate-ku?"

Konoha kembali tertawa kecil.

"Bukankah aku memang sudah menjadi soulmate-mu?"

Shintarou nyengir. Ia kemudian melepas pelukannya dari Konoha, untuk memerhatikan wajah lawan bicaranya yang dihiasi senyuman manis dan rona kemerahan, bukan ekspresi datar seperti biasanya. Hal yang membuat Shintarou untuk sekian kali mengagumi kecantikannya. Hei, saat wajahnya datar saja dia sudah imut apalagi saat tersenyum?

"Mm, kalau begitu pertanyaannya kuganti deh." Ujar Shintarou. Ia mendekatkan wajahnya pada Konoha, hingga jaraknya hanya sebatas tiga sentimeter. "Maukah kau menjadi kekasihku?"

"Kekasih...?"

"Orang yang kucintai dan mencintaiku."

Konoha tidak bisa menahan tawanya... ia tidak pernah tertawa sebanyak ini sebelumnya...

"T-tentu saja..."

Shintarou tersenyum lebar.

"Oh ya, satu lagi."

"Mm?"

"Bolehkah aku menciummu?"

"Menci—mm?"

Shintarou tidak pernah memberikan kesempatan bagi Konoha untuk menyelesaikan perkataannya. Ia menutup sedikit jarak yang tersisa di antara kedua bibir mereka. Bibir Konoha terasa lembut dan sedikit manis akibat soda yang tadi diminumnya, membuat Shintarou menyukainya. Meskipun kebingungan, Konoha mencoba menekan bibirnya sedikit, semakin memperjelas betapa tidak berpengalamannya lelaki jangkung itu terhadap hal seperti ini. Well, bukan berarti Shintarou lebih berpengalaman, ini pun ciuman pertamanya.

Meskipun begitu, keduanya menikmatinya. Bahkan saat Shintarou menjilat ujung bibir Konoha, meminta izin untuk masuk, Konoha tanpa ragu membuka mulutnya dan menyambutnya dengan senang hati.

Tiadanya orang-orang di sekitar mereka membuat Shintarou merasa leluasa. Ia terus mencium Konoha, sekalipun desakan akan oksigen mulai terasa. Konoha tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Shintarou, membuat lelaki berambut gelap itu semakin mudah memperdalam ciuman mereka.

Konohalah yang melepas ciuman mereka, itu pun karena ia kehabisan napas. Wajahnya memerah, lebih pekat daripada yang tadi. Ia langsung melepas pelukan Shintarou dan berjalan mundur beberapa langkah.

"Eh? Konoha? Kau tak apa-apa?" ujar Shintarou. Kenapa? Apa Konoha tidak menyukai ciuman tadi itu? Well, memang Shintarou terlalu nafsu kali ya, baru pertama ciuman udah langsung french kiss

"T-tak apa-apa..." Konoha menunduk, ia meraba-raba bibirnya yang terasa hangat. "h-hanya saja.. tadi itu... mm, tidak buruk, kurasa."

Shintarou nyengir lebar. Ia mendekat ke arah Konoha dan menggenggam tangannya. Konoha mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, rona merah seakan-akan sudah permanen pada pipinya karena dia terus-menerus merona sejak mereka membicarakan soal soulmate timer mereka.

"Oh ya, aku lupa mengucapkan sesuatu."

"Apa?"

"Terima kasih..." kata Shintarou akhirnya. Ia memalingkan wajahnya dengan salah tingkah.

Konoha memasang wajah bingung. Terima kasih untuk apa?

Seolah bisa membaca pikiran Konoha, Shintarou pun menjelaskan. "Terima kasih karena saat itu... kau melindungiku. Sungguh, aku pasti tidak ada di sini jika kau tidak melakukannya."

"Oh." Konoha tertegun. Kemudian ia meremas tangan Shintarou dengan lembut, dan ekspresi wajahnya memuram. "Tidak usah berterima kasih, kau tahu... um, saat itu aku takut sekali kalau kau akan terluka jadi—aku... tanpa pikir panjang..."

"Tapi, lain kali jangan lakukan itu, Konoha."

"Eh?"

Shintarou memasang wajah serius. "Kau nyaris membuatku jantungan dan menyalahkan diri sendiri karena kau terluka alih-alih aku. Lain kali, aku yang akan melindungimu, oke?" ujarnya. Saat ia mengatakan hal itu, ia nyaris mengira orang lainlah yang mengendalikan bibirnya. Karena hal semacam itu sungguh tidak pernah ia kira akan dikatakannya.

Konoha tertawa kecil. "I-iya, kurasa..."

"Kalau begitu, ayo kita kembali ke markas. Kido pasti akan marah jika kita terus di luar seperti ini."

"Mm."

Tanpa melepas pegangan tangan mereka, Shintarou dan Konoha berjalan beriringan ke markas Mekakushi Dan. Mereka disambut oleh ucapan "Okaeri" bersamaan dari Marry dan Kido yang ada di sana begitu mereka membuka pintu berplat "107" itu. Marry membelalakkan matanya begitu melihat tangan mereka yang saling bertaut, sementara Kido menaikkan sebelah alis, tanpa suara mengatakan "Yang bener aja nih?" pada Shintarou, yang menjawab dengan mengangkat bahunya, "Iya, ada masalah?".

"A-ah... Konoha-san, lubang di bajumu itu... mau kujahit?" ujar Marry pada Konoha. Mata gadis itu berbinar-binar ceria ketika melihat mereka berdua.

"Eh? Tak apa-apa?"

"Bukan masalah kok. Sini, lepaskan bajumu!"

Konoha melepaskan pegangan tangan Shintarou dengan lembut, membuat Shintarou merasakan ada kehangatan yang hilang. Namun semua itu dibayar lunas ketika ia memerhatikan Konoha melepas baju bagian atasnya, membuat dia dapat melihat tubuh langsing berkulit pucat yang bertelanjang dada. Shintarou akan terus mengamati tubuh itu sambil terbengong seandainya Kido tidak mendeham keras-keras.

"Jadi... kukira kalian sudah membicarakan soal itu, hm?" ujar Kido. Nadanya yang sarkastis membuat Shintarou merasakan ada kalimat tersembunyi yang tidak diucapkannya. Seperti—"Kalian sudah membicarakan soal soulmate timer kalian dan langsung terang-terangan bertindak sebagai kekasih, ya?"

Shintarou mendengus. Ia memerhatikan Konoha yang sedang mengamati Marry mengeluarkan peralatan menjahitnya. Wajah lelaki jangkung itu terlihat penasaran. "Ya, kurasa begitu."

"Selamat, Shintarou! Konoha-san!" ucap Marry ceria sambil memegang sebuah jarum yang sudah dipasang benang putih tipis. Konoha terlihat merona akan ucapan Marry, reaksi yang tidak jauh berbeda dengan yang ditunjukkan Shintarou. Namun Shintarou menampakkan reaksi kaget juga.

"Eh? Kau sudah tahu bahwa kami—?"

"Oh ya! Konoha-san sudah menceritakan soal itu padaku kemarin, saat di perjalanan ke rumahku, Shintarou! Dia bilang kalau dia takut kau tidak menyukainya! Semacam itu deh... syukurlah kalian sudah menyatakan perasaan masing-masing!" Marry dengan semangat menjelaskan, mengabaikan Konoha yang terlihat malu dan berusaha mencegah Marry mengucapkan semua itu. Gadis itu ternyata tidak sepolos yang Shintarou kira.

"Begitukah, Konoha?" Shintarou nyengir, membuat Konoha memalingkan wajahnya yang memerah. "Ternyata sejak awal pun kau menyukaiku yah..."

"Iya! Sepertinya ia sangat suka!" kata Marry, untuk kedua kalinya mengabaikan wajah Konoha yang rona merahnya sudah permanen.

Shintarou berjalan ke sofa yang berseberangan dengan Marry dan Konoha. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa remuk, namun senyuman senang tidak bisa meninggalkan wajahnya begitu saja. Marry mulai menjahit baju Konoha, sesekali mengatakan sesuatu pada lelaki berambut putih itu, sesuatu yang membuatnya salah tingkah. Kido berdiri tak jauh dari mereka, menggumamkan kata "Kagerou Daze, Kagerou Daze" yang sangat ia sukai.

"Ah, Konoha, kemarilah." Ujar Shintarou. Ia memberikan gestur pada Konoha untuk duduk di sampingnya. Marry mendehem keras-keras sambil tertawa geli, sementara Konoha mengabaikannya, walaupun ekspresi malunya sangat kentara.

"A-apa?" gumam Konoha pelan begitu ia duduk di samping Shintarou sambil meletakkan kedua tangannya di lutut. Dengan lembut, Shintarou melepaskan tangan Konoha dari sana dan sebagai gantinya, ia meletakkan kepalanya di pangkuan Konoha. Mencari posisi nyaman, ia terbaring di pangkuan soulmate-nya, rasanya nyaman dan hangat. Shintarou menutup matanya, menikmati sensasi tersebut.

Konoha mengeluarkan suara kebingungan, namun tidak mencegah Shintarou melakukan hal tersebut. Akhirnya, lelaki itu malah menunduk dan menatap wajah Shintarou yang tertutup matanya, sebelah tangan mengelus lembut rambut Shintarou. Dia menyadari kalau Shintarou lelah dan sepertinya tidak apa-apa seperti ini juga, toh Konoha pun menikmatinya.

Keduanya seakan lupa keberadaan dua gadis lain di ruangan itu. Marry bengong dan menghentikan kegiatan menjahitnya demi mensyukuri pemandangan fanservice di depannya, sedangkan Kido memalingkan wajahnya dengan malu—dia merasa dirinya sedang memergoki sepasang kekasih yang melakukan 'hal itu' di kamar.

Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dan pintu markas pun terbuka, membiarkan dua orang sosok memasuki markas dan mengatakan "Tadaima!" berbarengan. Seorang gadis berambut oranye yang sebagiannya diikat ke sebelah kanan dan seorang anak lelaki berambut coklat. Keduanya bengong melihat sepasang lelaki yang terang-terangan menampakkan kemesraannya di sofa.

Shintarou nyengir ketika mendengar jeritan tak percaya adiknya, dan, tanpa membuka matanya demi menikmati elusan lembut di kepalanya, dia berkata singkat.

"Okaeri."


~ FIN ~


A/N :

INI OOC SYEKALEH HAHAHAH /duak

Aduh gimana ya, saya malu banget udah nulis fanfic ini sebenernya—di mana pasangannya nge-lovey-dovey di sembarang tempat. Serius, tokoh-tokoh yang ngeliat mereka aja malu sendiri apalagi saya yang nulisnya /ngek

Ahahahahahah yang penting sudah beres deh. Fanfic MC pertama sayaa—selesai dalam kurun waktu hampir satu bulan padahal jumlah chapternya cuma tiga— /ming

Sekali lagi terima kasih pada Adelia-chan yang udah menyempatkan diri untuk nge-review chapter kemarin! Gimana, apakah ini termasuk angst? Atau malah fanfic bertingkat OOC tinggi? Kalau kamu milih yang terakhir saya ga heran kok—www—

Terima kasih juga saya ucapkan untuk yang sudah nge-follow, nge-favorite, ataupun yang sekedar meluangkan waktunya untuk membaca fanfic ini. Saya minta maaf seandainya chapter final ini mengecewakan kalian—ahahahah /guling-guling salting

Umm, udah segitu aja... terima kasih bagi yang sudah menyempatkan diri untuk membaca sampai sini... sampai jumpa lagi di fanfic berikutnya!

Azu