Karena saya sedang belajar bikin fanfic chapter, langsung aja ya chapter 2 nya diupload

Happy read minnaswang


Chapter 2 – KEBENARAN YANG MULAI TERUNGKAP

"NARUTOOO!" Teriak seseorang di dekat telingaku.

"A… ada apa sih? Berisik tahu! Kenapa?"Ucapku kepada seseorang yang meneriakiku, Kiba.

"Kau tahu tidak Naruto? Kabarnya Lee kemarin telah menjadi korban pemerkosaan lho. Mungkin itu mengapa dia tidak masuk di kelasnya hari ini." Cerita Shikamaru. Meski aku mendengarkan, aku mengabaikan mereka.

"Kau kenapa sih Naruto. Dari pagi tadi kau melamun mulu. Kami ajak bolos pelajaran kau tetap diam, kami ajak main doubt kau tetap diam. Kau kenapa Naruto? Apakah terjadi sesuatu setelah kau turun dari mobilku?" Tanya Kiba. Ya, kejadian semalam takkan kulupakan. Kejadian dimana aku melihat sosok teman masa kecilku, Sasuke, sedang berada diatas tubuh Lee yang dalam keadaan babak belur dan telanjang bulat.

"Ma… maaf Kiba. Aku belum bisa menceritakannya sekarang." Ucapku seraya pergi meninggalkan sahabat-sahabatku.

"Ada apa ya dengan Naruto? Aku penasaran. Apa sebaiknya kita ikuti dia ya. Mungkin saja kita akan tahu penyebab mengapa Naruto begini." Ucap Choji.

"Bagaimana? Mau kita ikuti dia?" Tanya Shikamaru.

"Aku rasa memang hanya itu caranya. Ayo kita ikuti dia terus." Ucap Kiba.

Kiba, Shikamaru, dan Choji mulai memata-matai diriku. Mulai dari aku keluar rumah di pagi hari, hingga aku masuk kembali ke rumahnya di malam hari. Yah… mereka bukan tipe pemata-mata yang handal. Akupun sudah sadar dari awal bahwa mereka membuntutiku. Toh buatku mereka tidak mengganggu, jadi aku biarkan saja tindakan mereka. Sudah seminggu mereka memata-matai kegiatanku. Sepertinya mereka mulai menyerah untuk mencari tau penyebab aku mulai dari minggu lalu hingga saat ini suka menyandiri. Hingga suatu hari…

"Ayolah Naruto… ceritakan pada kami. Kenapa kau melamun melulu semingu ini?" Tanya Kiba padaku.

"Maaf Kiba. Aku masih belum yakin cerita." Balasku padanya. Akupun memutuskan untuk keluar dari kelas itu. Berjalan mengelilingi sekolah hingga sampailah aku di tempat kejadian seminggu yang lalu. Tiba-tiba…

"Kemari dobe!" Ucap seseorang yang ternyata adalah Sasuke. Aku yang menolak untuk ikut bersamanya kemudian ditarik oleh Sasuke menuju ke depan sekolah. Jujur, aku meskipun aku memiliki tubuh yang lebih kuat dibandingkan Sasuke. Keberanianku tidaklah dapat melebihinya. Dengan sigap, aku melepaskan cengkraman tangannya dan kabur darinya.

Tanpa disadari, aku sudah berlari cukup jauh darinya. Saat ini aku sedang berada di tempat pembuangan sampah sekolah. Tiba-tiba…

"Hai hai hai anak manis. Kau sendirian hah?" Ucap seseorang terhadapku.

"Kau menemukan seorang korban ya Suigetsu? Ucap seseorang yang lainnya.

"Ya Jugo. Sepertinya aku menemukan cowo pria yang manis disini." Ucap Suigetsu.

"Hei, jangan lupa perjanjian kita. Korban minggu yang lalu kan kau yang paling mendominasi Suigetsu. Sekarang adalah giliranku" Ucap seseorang yang lainnya.

"Terserah siapa yang paling mendominasi saat ini, tapi pemimpin kalian ini harus tetap menjadi yang pertama. Jangan lupakan itu Sakon." Ucap seseorang yang lain lagi.

"Ma… maafkan saya Kabuto-sang." Ucap Sakon.

"Cepatlah Kabuto-sang. Aku sudah tidak sabar ingin menyemburkan laharku di dalam pria cantik ini." Ucap Jugo.

'Bukankah Kabuto adalah senior kelas 3 di sekolah ini? Apa yang sedang mereka bicarakan? Korban? Minggu lalu? Dominasi? Lahar?... Tidak mungkin… jadi selama ini aku telah salah paham terhadap Sasuke. Lebih baik aku kabur dari sini' Pikirku dalam hati. Sesaat aku ingin kabur…

"Upss… kau mau kabur ya? Sayang sekali ya. Aku memiliki mata medusa. Semua yang aku dapat dapat membuatnya berhenti bergerak seperti batu" Ucap Sakon.

"Suigetsu, Jugo, lepaskan semua pakaiannya. Kemudian taruh pakaiannya di tempat yang jauh. Aku tidak ingin pakaiannya kotor dan rusak akibat terkena semburan lahar kita." Ucap Kabuto.

"Tidak… Tunggu… Jangan… Berhenti…" Teriakku dengan sekuat tenaga. Tapi apa daya? Aku tidak bisa menggerakkan bibirku. Aku benar-benar seperti menjadi batu.

"Mwahahaha… liat Kabuto-sang! Badannya bagus sekali ya, lebih dari pada yang minggu lalu, lebih kotak-kotak. Sepertinya kita akan sangat menikmatinya." Ucap Suigetsu setelah menelanjangi tubuh bagian atasku yang kemudian pergi sesaat setelah menjilat perutku yang membuatku merasa aneh.

"Hei… lihat ini! Kontolnya besar juga ya. Padahal masih tidur lho. Coba coba… ummm… wow hebat! 14 cm dalam keadaan tidur." Ucap Jugo sambil mengukur panjang penisku dengan penggaris yang ia bawa setelah ia menelanjangi bagian bawahku. Dengan keadaan yang tanpa sehelai benangpun, hawa dingin mulai menusuk tulangku. Sangat dingin.

"Baiklah. Mari kita mulai." Ucap Kabuto.

BRUAK…

'A… apa itu? Hah? Aku bisa bergerak.' Ucapku dalam hati. Tampak Sasuke memukul para senior itu dengan tongkat baseballnya dan tampak pula Sakon, pemilik mata medusa, telah tersungkur di atas tanah.

"Naruto kesini!" teriak Sasuke. Aku pun pergi menuju Sasuke.

"Kau tidak akan bisa kabur bocah Uchiha. Berubahlah kau menjadi batu!" Teriak Sakon.

"Aku tidak akan kalah. SHARINGGAN!" Balas Sasuke.

"A… apa ini… waaaaa…" Teriak Sakon.

"Cepat Jugo kita kejar mereka!" Teriak Suigetu.

"Tahan. Kita tidak perlu mengejar mereka. Cukup mereka yang mengejar kita." Ucap Kabuto.

Di lain pihak…

"Sepertinya kita sudah aman." Ucap Sasuke terengah-engah.

"Hah hah hah… terima… kasih…" Ucapku terengah-engah kepada Sasuke yang telah menyelamatkannku.

"Kau pikir aku ya pelaku pemerkosaan itu?" Tanya Sasuke kepadaku.

"Ma… maaf. Aku kira kau memang pelakunya. Habis waktu minggu lalu, aku melihatmu menindih Lee yang dalam keadaan telanjang bulat. Jadinya aku berpikir kau pasti pelakunya." Ucapku.

"Yah… aku tidak aneh jika kau berfikiran begitu, tapi biar aku luruskan. Waktu itu aku sedang menuju ke belakang sekolah untuk latihan baseball sambil membawa batku sendiri. Ketika di perjalanan, fisikku mulai melemah lagi dan aku kehilangan keseimbangan dan penglihatan sehingga aku terjatuh di atas tubuh Lee yang sedang bugil itu, dan lanjutannya sesuai yang kau lihat. Tapi mengapa kau kabur dariku saat itu?" Tanya Sasuke padaku.

"A… aku takut… Aku takut kalau kau benar-benar pelakunya." Ucapku.

"Hahaha… bodoh. Mana mungkin aku memperkosa temen baikku sejak kecil." Jelas Sasuke.

"Ma… maaf." Ucapku pada Sasuke.

"Yah… yang sudah terjadi biarlah terjadi… Tetapi Naruto, ada satu hal yang harus kuberitahukan padamu." Ucap Sasuke.

"Apa?" Tanyaku heran.

"Melihat gerakan mereka tadi yang tidak berusaha mengejar kita, sepertinya mereka berniat ingin menjebak kita dengan perangkap mereka. Jadi, hati-hatilah saat pulang dobe. Pulanglah dengan ketiga temanmu itu selalu karena jika kau pulang bersama, jumlah aliansimu dan musuhmu akan sama dan lagi mata medusa Sakon hanya dapat membekukan seorang musuhnya dalam satu waktu saja, hal ini dapat memungkinkan aliansimu menang. Atau minimal pulanglah bersamaku. Meskipun kita hanya berdua, tapi aku memiliki mata Sharinggan ini, dimana mata ini tidak akan terkena efek oleh mata medusa si Sakon sialan itu." Jelas Sasuke panjang lebar.

"I… iya… Makasih ya Sasuke." Ucapku.

"Sasuke? Kau yakin memanggilku seperti itu? DO… BE…" Ucap Sasuke.

"TEME…!" Teriakku. Teriakanku tersebut bertanda berakhirnya perbincanganku dengan Sasuke hari itu. Aku pun pulang ke rumah bersama Sasuke dengan perasaan yang tenang tanpa mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Semua hal tentang hari ini pun akhirnya dapat aku ceritakan ke para sahabatku.

Next Chapter : TERJEBAK, MENJEBAK, DAN KEBENARAN YAN SESUNGGUHNYA


Reviewnya jangan lupa ya minnaswang. Nex chapter is lemon :3