Last chapter (Maybe).

makasih yg udh review/s :)

Warning : Lemon for SasuNaru

Tanpa perlu basa-basi lagi. Selamat membaca :)


Chapter 5 – HADIAH TERINDAH

Sejak kepergian Sasuke ke Indonesia, aku pun kembali menjalani kehidupanku seperti biasa. Pergi ke sekolah bersama para sahabatku, bermain, dsb. Kepergian Sasuke pun sudah diketahui oleh seluruh siswa di sekolahku. Ya, Kakashi sensei menyebarkan berita itu setelah aku menceritakan kepergian Sasuke padanya. Semua kembali ke kehidupan awalnya selama dua tahun dan sekarang, sudah bulan Januari, dan aku sudah resmi menjadi siswa kelas 3 di SMA Konohagakure hingga…

"Oi Naruto! Aku heran padamu. Sudah dua tahun semenjak kau menyatakan bahwa kau sama seperti kami, mencintai seorang pria, dan pria itu adalah Sasuke Uchiha. Tapi kau tau kan, dia tidak bisa menerima cintamu karena dia harus tinggal sangat jauh darimu, lalu kenapa sampai saat ini kau belum mempunyai pasangan? Memangnya kau mau sendirian terus?" Tanya Shikamaru. Semua sahabatku sudah tahu tentang kejadianku dengan Sasuke. Semua sudah kuceritakan pada mereka, semuanya.

"Shika benar Naruto. Sebaiknya kau mulai mencari pasanganmu sekarang." Saran Kiba padaku.

"Iya iya…" Itulah jawaban yang selalu keberikan pada mereka setiap mereka menanyakan tentang pasanganku.

"Hey Naruto. Kau tau tidak? Di kelas A ada yang suka padamu lho. Kalau tidak salah namanya Neji. Kenapa kau tidak mencoba dengannya Naruto?" Saran Choji padaku.

"Maksudmu Neji yang itu? Neji Hyuga yang saat ini menjabat sebagai siswa terpintar di SMA ini? Bukankah dia pria yang normal?" Tanya Kiba.

"Tidak. Dia sama dengan kita yang suka dengan pria. Aku tahu ini karena waktu itu tak sengaja aku dan Choji menemukan dompetnya yang terjatuh. Dan kalian tahu apa? Di dompetnya itu terdapat banyak sekali foto Naruto." Cerita Shikamaru.

"Kau serius Shika?" Tanya Kiba penasaran.

"Ya aku serius." Balas Shikamaru.

"Hey Naruto. Bagaimana jika kau mencobanya. Ini kesempatan besar untukmu." Ucap Kiba.

"Kiba, Shika, Choji, aku berterima kasih kepada kalian, tapi biarlah aku sendiri yang menjalani hidupku. Biarkan aku sendiri yang mengurus masalah cintaku." Ucapku kepada para sahabatku yang langsung membuat para sahabatku terdiam.

"Yosh… Pelajaran akan kita mulai. Silahkan kembali ke tempat duduknya masing-masing." Ucap seseorang yang sudah sangat kukenal, Kakashi sensei. Aku kembali kepada tugasku saat ini yaitu belajar, belajar, dan belajar. Targetku saat ini adalah Universitas Tokyo. Aku akan membahagiakan kedua orang tuaku.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku bergegas keluar kelas menuju loker sepatuku. Ketika aku membuka loker sepatuku, aku dikejutkan oleh sebuah surat berwarna pink di lokerku. Segera saja langsung kumasukkan surat itu ke dalam tasku kemudian memakai sepatuku dan berlari menuju gerbang sekolah dimana Kiba dan yang lainnya sudah menunggu di dalam mobilnya. Ya aku tetap berangkat dan pulang bersama mereka.

''Aku cinta kamu. Aku sudah mencintaimu semenjak aku bertemu denganmu di ruang ujian penentuan kelas sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi aku takut. Aku takut karena seorang pria mencintai seorang pria adalah hal yang sangat tabu saat itu, tapi tidak saat ini. Sebulan sejak diresmikannya pernikahan sesama oleh negeri kita, aku pun memberanikan diri untuk menulis surat ini. Aku menunggu jawabanmu besok pagi di depan gerbang sekolah. Namaku Neji Hyuga dari kelas 3A''

'A… apa apaan dia? Menyerang langsung seorang pria dengan surat macam ini. Apa yang harus kulakukan besok?' Batinku. Aku pun terus memikirkan apa yang akan kulakukan hingga pagi pun tiba. Sesampainya di gerbang sekolah setelah memarkir mobil Kiba (Gedung parker berseberangan dengan gedung sekolah) …

"Na… Naruto-sang? Apa kau sudah membacanya? Jadi apa jawabanmu?" Tanya seseorang tiba-tiba didepanku yang dapat kuyakinkan bahwa dialah Neji Hyuga. Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi dengan ucapannya barusan tentu sudah dapat dipastikan.

"Maaf…a…"

"Ma… maaf? Apakah itu artinya kau menolakku? Apakah maksudmu kau sudah mempunyai pasangan? Siapa? Aku ingin bertemu dengannya? NARUTO-SANG! AKU MENCINTAIMU!" Teriak Neji yang sontak langsung membuat seluruh siswa dan guru yang sedang berada di sekitar gerbang menoleh ke arah kami. Semenjak itu, kami pun menjadi Hot News di Koran sekolahku hingga sampai-sampai kami berdua diwawancarai dan entah sejak kapan, setiap istirahat di selalu berkumpul denganku dan para sahabatku.

"Jadi, kau tetap keukeh ingin menjadi pasangannya?" Tanya Shikamaru pada Neji.

"Tentu saja." Jawab Sasuke.

"Aku sudah punya." Ucapku.

"Itu yang dikatakannya Neji. Menyerah saja." Ucap Kiba yang sepertinya mengerti bahwa aku tidak menyukainya dan berusaha membuat agar Neji menyerah.

"Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku juga yakin kalau Naruto-sang masih sendiri. Itu hanya alasanmu untuk menghindar dariku kan?" Ucap Neji. Bel istirahat telah berakhir berbunyi. Kami berempat + orang baru itu kembali ke kelas masing-masing hingga berakhirnya jam sekolah untuk hari ini. Setelah berakhinya jam sekolah, aku dan para sahabatku kembali ke rumah masing-masing.

Sesampainya di depan rumahku, aku tetap berdiri di depan rumah hingga para teman-temanku menghilang dari pandanganku. Kemudian seperti biasa, aku pergi ke rumah orang itu untuk sekedar menyapu lantai serta mengelap kaca dan perabotan di rumah itu. Ya, dia adalah Sasuke Uchiha. Dan tanpa kusadari seseorang sudah mengikutiku...

Seminggu telah berlalu sejak kejadian ''pernyataan cinta di gerbang sekolah'' itu. Sudah berulang-ulang kali pula aku menolak orang itu. Mulai dari cara halus hingga cara yang kasar pun sudah kulakukan agar orang itu menyerah mengejarku. Ya, Neji Hyuga namanya, orang yang baru kukenal satu minggu itu terus-terusan mendekatiku dan para sahabatku guna mendapatkankan hatiku.

Waktu terus berlalu, aku kembali kepada kehidupanku. Setiap pulang sekolah aku akan selalu sempatkan diri untuk kerumah Sasuke hanya untuk sekedar menyapu-nyapu. Hingga tanpa aku sadari tibalah hari dimana aku berulang tahun. Aku resmi bertambah tua pada hari itu. Kuundang teman-temanku untuk datang ke pesta ulang tahun di rumahku. Sudah pasti para sahabatku akan kuundang. Namun entah mengapa, orang dari klan Hyuga juga ikut datang. Apa yang bisa kulakukan? Mengusirnya? Tidak mungkin kan? Jadi kubiarkan saja dia ikut serta.

Di pesta ulang tahunku kali ini, terdapat beberapa orang yang jarang sekali kulihat. Kulihat beberapa orang itu datang bersama Choji. Ya, orang-orang yang jarang kulihat itu adalah Bee, Kankuro, dan Shino, kekasih dari para sahabatku. Namun ada yang mengganjal hatiku saat itu. Mengapa Bee, Kankuro, dan Shino datang bersama Choji saja? Kemana Shikamaru dan Kiba? Aku pun tidak tahu hingga aku menanyakannya pada Choji.

"Otanjoubi omedetou gozaimasu, Naruto-sang. Kurasa kau sudah mengenalku, tapi ada baiknya jika aku memperkenalkan diri kembali kepada bintang pesta malam ini. Namaku Kankuro dari SMA Sunagakure. Saat ini aku menjabat sebagai kekasih dari salah satu sahabatmu yang bernama Shikamaru. Salam kenal naruto-sang." Ucap Kankuro padaku.

"Arigatou, Kankuro-sang." Balasku.

"Selamat ulang tahun Naruto-sang. Namaku Shino, Shino Aburame, kekasih dari Kiba, Kiba Inuzuka. Salam kenal." Ucap seorang pria tanpa ekspresi bernama Shino.

"Terima kasih Shino-sang." Balasku pada Shino

"Happy ~ Birthday ~ to ~ you ~ Na ~ Ru ~ To ~ sang. Yeahhh… Kenalkan ~ aku ~ Bee, ~ Beenya Choji. Yeahhh… " Ucap seseorang sambil ngerap yang dapat kupastikan dia adalah kekasih Choji.

"Selamat ulang tahun ya Naruto." Ucap Choji kemudian.

"Terima kasih Bee, Choji. Oh iya Choji, Kiba dan Shika mana?" Tanyaku pada Choji penasaran karena Kiba dan Shikamaru tidak bersamanya.

"Mereka sedang melakukan persiapan Naruto. Tunggu saja ya." Ucap Choji.

"Persiapan? Persiapan a…" Belum sempat aku melanjutkan bertanya, seseorang sudah kembali mengucapkan selamat ulang kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya Naruto" Ucap seseorang dari belakang yang pastinya sudah dapat kupastikan siapa dia.

"Ya, terima kasih Neji." Balasku pada pria bernama Neji. Entah apa yang terjadi dengannya, dia sedikit lebih pendiam

Kemudian beberapa yang lain pun mulai menghampiriku dan saling mengucapkan selamat ulamat ulang tahun padaku sambil memberikan kado ulang tahun padaku. Sejujurnya aku sangat tidak suka dengan pesta ulang tahun, hal ini hanya membuang-buang waktuku saja. Apalagi jika pesta ulang tahunku, selain membuang-buang waktuku, hal ini juga membuang-membuang tenagaku dan uang. Meskipun memang bukan uangku, aku tetap merasa merugi. Tapi pada hari ini semua hal itu berubah ketika mereka datang

"Baik semuanya, sekarang kita akan memulai acara ulang tahunnya. Harap semuanya berkumpul ya." Ucap Ayahku dengan suara lantangnya. Semua orang yang hadir dalam pestaku itu berkumpul dan memulai acara pesta ulang tahunku. Pesta ulang tahunku sangatlah berbeda dengan pesta ulang tahun orang lain. Di pesta ulang tahunku ini, tidak akan ada acara tiup lilin dan pemotongan kue. Hal ini karena dalam tradisi keluargaku, acara tiup lilin dan potong kue hanya boleh diadakan di dalam rumah dan hanya bersama-sama orang yang tinggal serumah. Tradisi yang aneh bukan?

Meskipun tidak ada acara tiup lilin atau potong kue, pesta ulang tahunku tetap memiliki susunan acaranya sendiri. Acara yang pertama kali kami lakukan adalah pidato terima kasihku kepada teman-temanku yang telah hadir dalam pestaku ditambah dengan membuka satu buah kado di hadapan teman-temanku dan membacakan pemberinya. Menarik bukan?

"Selamat malam semuanya. Saya Naruto Namikaze mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian disini, saat ini. Tanpa kalian, mungkin acara ini akan sangat membosankan dan tidak bermutu. Dan sekarang saya akan membuka salah satu kado dari kalian. Saya mau…" Belum selesai aku berbicara, seseorang berteriak kepadaku.

"NARUTO! HAPPY BIRTHDAY! M AAF KARENA KAMI TELAT." Teriak dua orang yang hampir bersamaan yang dapat kupastikan mereka adalah Kiba dan Shika.

"Naruto! Kado yang besar ini dan dua kado kecil ini adalah hadiah kami. Terimalah!" Ucap Kiba.

"Naruto. Aku sarankan sebaiknya kau membuka kado yang besar itu." Ucap Choji kepadaku. Aku pun menyetujui usulan Choji.

"Sa… saya rasa saya akan membuka kado yang besar itu." Ucapku kepada para tamu kemudian menghampiri kado besar itu dan membukanya. Alangkah terkejutnya mendapati apa yang terdapat di dalam sana.

"SASUKE!" Teriak para hadirin bersamaan. Penampakan di depanku ini sontak langsung membuatku menangis tersedu-sedu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kerinduanku padanya yang selama ini selalu kupendam tiba-tiba keluar dengan sendirinya.

*Neji POV*

'I… inikah Sasuke? Sasuke Uchiha yang itu? Mana mungkin aku bisa mengalahkan ketampanannya? Sial…' Batinku.

*Normal POV*

"Hei hei hei. Kenapa kau menangis? Ini pesta ulang tahunmu kan? Bergembiralah! Dan Selamat Ulang Tahun ya Naruto." Ucap Sasuke padaku sambil ciuman ulang tahun di bibirku.

'Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena telah mempertemukanku dengannya.' Batinku.

"Ba… Baiklah semuanya, mari kita lanjutkan ke acara selanjutnya. PESTA!" Teriak Ayahku.

"AYE SIR." Teriak para tamu undangan. Pestapun kembali berlanjut. Setelah ini, para tamu undangan yang ingin kembali ke rumah masing-masing pun dipersilahkan hingga pada jam 10 malam, semua tamu undangan sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

"Naruto-kun, Sasuke-kun, kemarilah!" Panggil Ibuku pada kami berdua.

"Ada apa Ibu?" Tanyaku.

"Ibu dan Ayah sudah tahu kalau kau menyukai Sasuke sejak 2 tahun yang lalu. Ibu dan Ayah juga tau kalau kau setiap hari pergi ke rumah Sasuke. Ibu dan Ayah sudah tau semuanya" Ucap Ibu padaku.

"Ja… jadi… Ibu dan Ayah melarang kami?" Tanyaku cemas.

"Tidak Naruto. Semua tergantung pada dirimu sendiri. Hidupmu hanyalah milikmu seorang. Terserah apapun yang ingin kau lakukan, tetapi… Ayah belum mengizinkan kalian untuk menikah saat ini." Ucap Ayahku.

"AYAHHH!" Teriakku pada Ayah.

"Ibu juga sependapat dengan Ayahmu." Ucap Ibuku

"IBUUU!" Teriakku untuk yang kedua kalinya.

"Tapi ingat nak! Jika suatu hari kalian menikah, kami sangat mengharapkan seorang anak dari kalian." Ucap Ibu.

"IBUUU!" Teriakku untuk yang ketiga kalinya. Setelah itu, Sasuke meminta izin pada Ayah dan Ibuku agar Naruto dapat menginap di rumahnya karena banyak hal yang ingin dibicarakan padanya. Tentu saja Ayah dan Ibuku pun mengizinkan kami. Di sana…

"Wah… rumahku masih tetap rapi dan bersih ya. Padahal sudah 2 tahun aku tinggal. Terima kasih ya Naruto." Ucap Sasuke padaku.

"Kenapa kau kembali kemari Sasuke? Bukankah kau berencana akan menetap disana selamanya?" Tanyaku membuka percakapan.

"Untuk kuliah lah. Kau pasti masih kelas 3 SMA ya? Aku sudah lulus SMA bulan lalu. Kau tau? Sekolahku di sana memiliki suatu hal yang special. Jika kau bisa menguasai seluruh pelajaran dalam waktu kurang dari 2.5 tahun, maka kau dapat diluluskan oleh sekolah. Yah, tapi hanya sekolah saja sih. Hahaha." Cerita Sasuke sambil tertawa.

"Wah… hebat ya… Lalu, bagaimana kabarmu Sasuke? A… apakah… kamu… telah menemukan… cintamu?" Tanyaku dengan perasaan yang sedikit khawatir. Lama Sasuke tidak menjawab pertanyaanku.

"Sasu…"

"Ya." Ucap Sasuke yang sontak membuatku terkejut.

"Hahaha begitu ya. Siapa dia? Boleh aku mengenalnya tidak?" Tanyaku dengan senangnya. Meskipun saat ini hatiku terasa sangat sakit.

"Maaf Naruto, kamu tak bisa. Karena orang itu adalah dirimu, Naruto." Ucap Sasuke yang langsung membuatku bingung

"Ma… maksudmu?" Tanyaku bingung.

"Naruto, aku mencintaimu. Apa kau mau menjadi pasanganku?" Ucap Sasuke sambil menyodorkan sebuah kotak yang ternyata… CINCIN. Apakah ini artinya dia melamarku?

"Sa… Sasuke…"

"Apa jawabanmu Naruto?"

"Ya. Aku juga mencintaimu Sasuke. Aku mau menjadi pasanganmu." Balasku. Setelah itu, Sasuke memakaikan sebuah cincin padaku dan dia memintaku untuk memakaikan sebuah cincin yang lain padanya. Kemudian setelah itu, bibir kami saling bertemu, mencium pasangannya masing-masing.

Lima menit sudah kami berciuman. Entah sejak kapan ciuman kami mulai saling menyerang. Kedua lidah kami saling mengaitkan lidahnya satu sama lain. Terlihat jelas air liur kami menyambung sesaat ketika kami melepas ciuman karena membutuhkan oksigen.

Tanpa kusadari, Sasuke mulai menyapu leherku dengan lidahnya. Tidak ada seinchi pun di leherku yang tidak disapu oleh lidahnya. Berpindah ke pipiku, telingaku, kemudian kembali ke leherku dan memberikan tanda-tanda merah di sekitar leherku. Tangan kirinya mulai menyusup ke dalam bajuku dari bawah bajuku mulai memilin-milin sebuah tonjolan yang berada di dadaku.

"Ahhh… Sasuke…" Ucapku. Ya, itulah kata-kata yang keluar saat Sasuke mulai memilin-milin putingku. Sambil tetap menyapu di sekitar leherku, tangan kanannya mulai membuka kemejaku. Sastu persatu kancing kemejaku dilepasnya hingga akhirnya bagian atasku tidak tertutup sehelai benangpun.

"Naruto… Sudah 2 tahun aku tidak melihatmu badanmu, tetapi badanmu masih tetap bagus saja ya." Puji Sasuke padaku. Kemudian, lidah Sasuke mulai turun ke dadaku, dan lalu kemudian dia mengemut putting kiriku. Tidak berhenti sampai disitu, tangan kanannya pun mulai memilin-milin putingku yang di sebelah kanan. Perasaan apa ini? Sungguh nikmat sekali.

"Ahhh… Sasuke… Ahhh…" Ucapku. Hanya itu yang keluar dari mulutku. Apa yang aku ucapkan? Aku tidak tahu. Apakah ini yang namanya mendesah? Aku tidak tahu, tapi sepertinya ini memang yang namanya mendesah. Ini sangat nikmat.

Tangan kiri Sasuke kemudian turun menuju perutku dan mulai mengelus-elus perutku dengan lembutnya. Setelah itu, tangan kirinya itu kemudian mulai menyusup ke dalam celanaku. Aku semakin mendesah ketika tangan kiri Sasuke mulai mengelus-ngelus penisku di dalam sana. Lidahnya pun mulai berganti-gantian mengulum putingku. Kanan kiri kanan kiri. Dikulumnya, dijilatnya, dan sesekali Sasuke menggigit putingku yang membuat desahanku semakin kencang. Dan apa yang terjadi? Entah mengapa penisku terasa membesar dan mengeras

"Ahhh… Ahhh… Sasuke…" Desahku semakin kencang. Kedua tangan Sasuke kemudian mulai berusaha membuka celana panjang yang aku kenakan. Berhasil melepaskan celana panjangku, Sasuke kemudian mulai membuka celana dalamku yang berwarna oranye itu hingga terlihatlah jelas penisku saat ini. Semua pakaian yang tadi sedang kukenakan saat ini telah lepas dari tubuhku. Ya, saat ini tubuh tidak tertutup sehelai benang apapun. Dan satu hal yang membuatku terkejut untuk yang pertama kalinya, saat ini penisku dalam keadaan tegak berdiri seperti halnya sebuah tiang listrik. Apakah ini yang namanya ereksi? Aku pun tetap tak tahu.

Sasuke kemudian memainkan lidahnya kembali lalu menyapu semua tubuhku. Dari putingku, dia kemudian turun ke perutku. Disapunya perutku oleh lidahnya yang basah itu, dan tak lupa ia sesekali memberikan tanda-tanda di sekitar dada dan perutku. Lidahnya kemudian semakin menuju kakiku sebelah kanan semakin turun sampai ke betisku sambil sesekali pula memberikan tanda-tanda kemerahan di kaki kananku. Kemudian lidahnya kembali naik menyusuri kakiku sebelah kiri dan berhenti di sekitar area selangkanganku. Tak lupa pula dia meninggalkan beberapa tanda di kaki kiriku. Apakah tanda ini yang namanya Kissmark? Tetap tidak tahu. Sasuke kemudian tiba-tiba memasukkan penisku dan menyedotny kuat-kuat.

"AHHH…" Desahku semakin kencang. Perasaan nikmat apa ini? Nikmat sesekali. Disedotnya penisku kuat-kuat olehnya, lalu dikulumya bola-bola di sekita penisku, disapunya penisku mulai dari pangkal sampai ke ujung dengan lidahnya yang basah dan licin itu. Kemudian Sasuke mulai memasukkan kemaluanku kembali ke mulutnya dan berhasil membuatku semakin mendesah. Kemudian kepalanya mulai digerakkan. Naik turun naik turun. Sesekali penisku mengenai giginya yang runcing dan membuatku sedikit kesakitan. Namun hal ini tetap tidak bisa menandingi perasaan nikmat yang sedang kurasakan ini.

Tidak tinggal diam, kedua tangannya kembali memilin-milin kedua putingku membuatku mendesah semakin kencang. Perasaan nikmat ini semakin menjadi-jadi. Kujambak rambutnya dengan kedua tanganku sembari Sasuke tetap dengan kegiatan kepala naik turunnya dan kedua tangannya. Lama Sasuke melakukan hal itu hingga penisku mulai berdenyut dengan kencang dan dirasa sesuatu akan keluar dari penisku.

"Sa… Sasuke… Lepas… Aku… Kencing… Ahhh…" Pintaku di sela-sela desahanku. Sasuke yang tidak mendengarkan peringatanku, malah semakin cepat mengerakkan kepalanya naik turun. Semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat hingga..

"Sasuke… Aku… AHHH…" Sesuatu keluar dari penisku. Cairan apa itu? Bukankah itu air kencing? Kenapa beda sekali? Warnanya putih seperti susu. Apakah ini yang dimaksud lahar (Baca chapter 1) itu? Setelah cairan putih itu menyembur keluar, tanpa ragu-ragu Sasuke menelan semua cairan berwarna putih susu itu tanpa merasa jijik.

"Sperma sangat enak Naruto. Aku menginginkannya lagi." Ucapnya. Sperma? Jadi lahar ini namanya sperma? Satu hal lagi aku mengerti. Setelah mengucapkan itu, Sasuke kemudian memasukkan kembali penisku yang entah kenapa saat ini terkulai lemas. Saat Sasuke mulai memasukkan kembali penisku ke dalam mulutnya, aku menahan kepalanya.

"Kau curang Sasuke. Aku sudah telanjang begini, tapi kau masih berpakaian lengkap seperti itu. Jadi ini ya yang namanya sex itu? Jika kau ingin melanjutkannya, buka dulu semua pakaianmu." Pintaku. Kemudian Sasuke mulai membuka seluruh pakaiannya. Mulai dari kemeja, celana panjang, hingga celana dalam berwarna merah yang dia pakai itu hingga terpampanglah jelas penisnya yang sedang berdiri tegak saat ini.

"Badanmu juga bagus Sasuke. Penismu juga besar dan panjang. Aku juga mau mengemut penismu Sasuke. Bagaimana kalau kita melakukannya bersama saja Sasuke." Ucapku.

"Baiklah kalau itu maumu." Balasnya. Sasuke kemudian merebahkan dirinya disampingku lalu kemudian mengangkat badanku hingga badanku berada di atas badan Sasuke. Sasuke kemudian memberikan isyarat padaku untuk memulai. Aku kemudian mulai membalikkan badanku hingga posisi mukaku tepat menghadap dengan penis Sasuke. Begitu juga dengan Sasuke.

Aku pun memulai aktivitasku. Mula-mula aku mulai menjilati seluruh bagian penis Sasuke, mulai dari kedua bijinya, lalu beralih ke pangkalny, kemudian menjalar terus hingga sampailah di kepala penis Sasuke. Puas dengan menjilati seluruh bagian penis Sasuke, aku pun mulai mengulum penisnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Sasuke sepertinya tidak mau kalah, Sasuke semakin keras menyedot penisku. Membalas perbuatan Sasuke, aku mulai gerakkan kepalaku naik turun naik turun di penis Sasuke. Terdengar Sasuke mulai mendesah dan menghentikan aktivitas Sasuke sejenak.

"Ahhh…" Desahnya. Mendengar desahan Sasuke untuk yang pertama kalinya, penisku perlahan tapi pasti mulai kembali berdiri. Menyadari hal itu, Sasuke pun kembali melanjuktan aktivitasnya. Akan tetapi, aktivitas menyedot Sasuke kini sudah berubah menjadi aktivitas mengulum, sama seperti yang aku lakukan pula padanya saat ini. Naik turun naik turun. Lama sudah kami saling menggerakkan kepala masing-masing. Sasuke akhirnya mengeluarkan spermanya di dalam mulutku. Sebagian spermanya aku telan, namun sebagian lagi keluar dari mulutku karena saking banyaknya. Rasanya tidak bisa kuceritakan, tapi ini nikmat. Sambil menunggu penisku yang hingga mengeluarkan spermanya, aku mulai mengocok kembali kejantanan Sasuke. Selang beberapa menit kemudian, aku mengeluarkan spermaku tepat saat penis Sasuke kembali berdiri. Tanpa ragu, Sasuke kembali menelan cairan spermaku yang tidak kalah banyak dari sebelumnya.

"Sa.. Sasuke…" Panggilku.

"Ada apa Naruto." Jawabnya.

"Aku… ingin membalasmu… Sasuke…" Ucapku.

"Balas? Balas apa maksudmu?" Tanya Sasuke bingung. Aku yang telah mendengar pertanyaan Sasuke itu tidak langsung kubalas.

"2 tahun yang lalu kau telah menolongku dari para senpai brengsek itu, oleh karena itu, izinkanlah aku membalasmu." Tanpa melanjutkan pembicaraan, aku bangun dari tubuhku Sasuke dan mulai membimbing penis Sasuke agar masuk ke lubang anusku. Saat ini posisiku seperti sedang duduk, sedangkan Sasuke tetap terlentang.

"Tu… tunggu dulu Naruto… Jangan lakukan! Ini akan sangat menyakitimu. Aku tidak ingin menyakitimu." Ucap Sasuke.

"Tidak apa-apa Sasuke. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan saat itu Sasuke. Aku tidak mau kalau hanya kau yang menderita setelah itu. Lagipula… karena kau adalah orang yang kucintai." Ucapku. Tanpa perlu mendapat persetujuan kembali dari Sasuke, aku mulai memasukkan penis Sasuke perlahan-lahan ke dalam lubang anusku. Baru saja aku kepala penis Sasuke masuk, aku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Ada apa ini? Mengapa sakit sekali? Bukankah penis Sasuke sudah cukup licin untuk memasukiku akibat telah terlapisi oleh spermanya?

"He… hentikan saja Naruto… Kau… sudah kesakitan… bukan?" Ucapnya.

"Tidak Sasuke. Sakit ini tidak ada apa-apanya ketimbang sakit yang telah kau rasakan sejak 2 tahun lalu." Balasku. Aku kemudian kembali menurunkan pinggangku hingga saat ini sudah setengah penisnya tertanam di lubang anusku. Sakit sekali adalah yang saat ini aku rasakan.

"He… Hentikan Naruto." Pinta Sasuke. Tak memperdulikannya, aku melanjutkan kegiatanku menurunkan pinggangku, hingga tertanamlah sudah seluruh penis Sasuke di lubang anusku. 2 perasaan yang saat ini aku rasakan. Rasa yang sakit sekali dan perasaan yang lega karena sudah berhasil memasukkan penis Sasuke ke lubang anusku. Perlahan tapi pasti, aku mulai menggerakkan pinggangku naik turun naik turun. Rasa sakit tetap mendominasi. Meski begitu, aku tidak ingin menunjukkan rasa sakitku padanya. Perlahan tapi pasti, pingganggku bergerak naik turun dengan pelan-pelan. Sasuke kembali mulai mendesah akibat perlakuanku ini.

Desahan Sasuke semakin keras dikala aku mulai mempercepat gerakan naik turunku. Rasa sakit yang menjalar di sekitar tubuhku, kini mulai berganti menjadi nikmat. Meski rasa sakit masih dapat kurasakan, namun rasa itu mulai berganti menjadi nikmat. Penisku pun kembali tegak akibat perasaan ini. Setelah rasa sakit itu mulai tidak terasa, entah kenapa penis Sasuke yang saat ini hanya kepalanya saja yang berada di lubangku, aku masukkan penis Sasuke dalam sekali hentakan. Rasa sakit yang sangat itu kembali menjalar, tapi tidak dengan Sasuke. Sasuke semakin mendesah dengan keras.

Entah sadar atau tidak, sekarang Sasukelah yang mengontrol gerakanku. Di menggerakkan pinggulnya melakukan gerakan naik turun sambil tangan yang satunya membantuku melakukan gerakan naik turun juga. Hanya sakit yang saat ini sedang kurasakan, namun Sasuke tidak boleh tau. Hentakan demi hentakan dilakukannya dengan keras hingga...

"AHHH…" Desahku kerasku. Tiba-tiba aku mendesah dengan sangat keras seketika itu pula saat penis Sasuke menyentuh suatu bagian di dalam lubang anusku. Kini rasa sakit itu benar-benar hilang seutuhnya akibat kejadian itu. Sekarang hanya perasaan nikmat saja yang menerpa kami berdua.

"NARU... TO… HAH HAH HAH…BAGAI… MANA?...HAH HAH HAH…" Ucap Sasuke di sela-sela desahannya.

"LEBIH… DALAM… HAH HAH HAH… LEBIH… CEPAT… AHHHHHH….." Desahku dengan sangat keras saat penis Sasuke kembali menyentuh titik itu untuk kesekian kalinya. Sasuke kemudian semakin mempercepat gerakan keluar masuknya di lubang anusku.

"AHHH… AHHH… AHHH… NA… RU… TO… AHH…"

"SA… SU… KE… AHHHHHH…" Desahan kami saling bersahut-sahutan, terus menerus hingga penis kami berdua mulai kembali berdenyut cepat yang memberikan tanda bahwa kami akan mengeluarkan sperma kami. Sesaat kemudian…

"AHHHHHH…" Desah kami berdua dengan sangat kerasnya ketika penis kami mengeluarkan spermanya untuk yang kesekian kalinya pada malam itu. Sasuke mengeluarkan spermanya di dalam lubang anusku hingga sebagian ada yang keluar dari lubang anusku, sedangkan aku menyemburkan spermaku hingga seluruh tempat tidur dan badan Sasuke terkena spermaku. Aku kemudian bangun dari posisiku saat ini dan duduk di samping Sasuke.

"Sasuke…" Panggilku.

"A… ada apa Naruto." Jawabnya.

"Terima kasih." Ucapku.

"Terima kasih untuk?" Tanyanya.

"Terima kasih karena sudah melakukan sex denganku. Jadi saat ini aku sudah resmi menjadi milikmu. Sehingga nanti tidak aka nada ada lagi yang mengejarku. Ini adalah sex pertamaku. Hahaha." Ujarku.

"Kalau begitu, aku juga berterima kasih padamu. Karena kamu telah bersedi menyerahkan keperjakaanmu kepada orang yang keperjakaannya telah direnggut 2 tahun lalu. Meskipun ini adalah sex pertamaku dengan orang yang benar-benar aku inginkan." Ujarnya sambil menitiskan air mata.

"Tidak Sasuke. Aku tidak pernah menganggap kalu keperjakaanmu telah hilang. Aku tetap menganggap keperjakaanmu hilang olehku saat ini." Ucapku.

"Te… terima kasih Naruto… Terima kasih…" Ucapnya.

"Mala mini kita tidur ruang tamu saja ya. Kamar tidurmu kotor soalnya." Ucapku. Sasuke hanya mengangguk setuju.

"Lain kali jika kita melakukan sex lagi, aku ingin kau memasukkan penismu ke lubang anusku ya Naruto." Ucap Sasuke kemudian. Setelah itu, kami pun tertidur hingga keesokan paginya. Di sekolah…

"Hoi Naruto! Aku punya sesuatu yang menarik untukmu. Lihatlah!" Kiba memanggilku. Aku pun mengalihkan perhatianku ke benda yang Kiba suruh aku lihat. Ternyata itu adalah sebuah rekaman video, namun…

"WAAA! Darimana kau dapat ini?" Teriakku. Terkejut aku di buatnya karena video itu adalah videoku dengan Sasuke saat berhubungan sex tadi malam.

"Padahal kami sudah lebih lama memiliki kekasih dari pada kau, tapi mengapa kau sudah melakukan kegiatan ini?" Tanya Shikamaru padaku.

"Lubang anusmu masih sakit Naruto? Memangnya sakit sekali ya? Soalnya aku lihat kamu jalannya seperti agak ngangkang gitu." Ujar Choji yang sontak membuatku malu.

"WAAA! HENTIKANNN!" Teriakku sambil kemudian memasukkan video rekaman milik Kiba ke dalam tasku. Ya, aku mengambil hak miliknya secara paksa, meskipun ternyata aku belum tahu kalau ternyata Kiba sudah memiliki banyak cadangan di rumahnya.


Terima Kasih kepada semuanya yang telah membaca dan mereview ff saya. Saya tau saya masih banyak kekurangan, Jadi untuk yang kali ini, minnaswang bolem memflame saya sepanas apapun.

Saya lebih suka kepada reviewer/s yg ngeflame, tapi pas udh complete.

Sekali Arigatou minna :')

*NOTE : TOLOG PENDAPATNYA YA. APAKAH CERITA INI HARUS YANG COMPLETEKAN DI CH 5 INI, ATAU MINTA DILANJUT LAGI DI CH 6? KALO MINTA LANJUT, TOLONG USUL JUDUL CHAPTERNYA YA :* #PLAK