Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu (sedikit NaruSai)
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
.
Naruto kini berdiri di depan bangunan utama tempat tinggal Yang mulia ibu suri. Ia berada disini karena disuruh oleh bibi Mei yang mengatakan bahwa sang nenek ingin bertemu dengannya. Tentu saja ia tidak ingin membuat neneknya menunggu lama dan sesegera mungkin bertemu dengan wanita itu.
Matanya menengadah menatap bangunan itu. Tempat itu sangat megah dan luar biasa mewah, tanpa meninggalkan kesan tradisional yang artistik. Saat ia membuka pintunya, aroma manis buah menguar keluar. Begitu elegan dan sangat menghipnotis. Tidak banyak perabotan di dalam sana kecuali beberapa pot tumbuhan hijau serta para pelayan yang terlihat sibuk berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka. Ada yang membersihkan debu di langit-langit, mengepel, dan menyirami tanaman. Beberapa dari mereka terlihat membungkuk hormat pada Naruto saat pemuda itu mulai melangkah masuk.
"Uh, permisi—" Naruto menghentikan langkah seorang pelayan yang sedang berjalan di depannya. "—Kalau boleh tahu, kamar nenek Kaguya dimana ya?" Tanyanya lagi ditambah cengiran canggung.
Wanita pelayan tadi membungkuk hormat sebelum menjawab. "Saya bisa mengantarkan Yang Mulia Putra Mahkota ke kamar Yang Mulia Ibu Suri." Jawabnya tegas.
"Ah tidak perlu, aku bisa kesana seorang diri, yang kubutuhkan hanya letak kamarnya." Tolak Naruto dengan halus.
Pelayan tadi terlihat ragu sejenak. "Tapi Yang Mulia, aku bisa mengantarkan—"
"Naruto?" Panggilan seseorang membuat pelayan tadi menghentikan ucapannya dan menoleh sejenak. Sosok Hashirama terlihat berdiri sambil memasang senyum lebar tidak jauh dari tempat mereka berada. "—Kau dipanggil oleh nenek." Ucapnya lagi pada Naruto, sedangkan tangannya terangkat dan mengibas kecil ke arah sang pelayan, tanda agar wanita itu untuk segera menjauh. Pelayan tadi membungkuk patuh sebelum berbalik pergi dari tempat itu.
"Jadi, kenapa aku dipanggil kesini?" Naruto bertanya pada pria murah senyum itu.
Hashirama mengangkat kedua bahunya, tidak tahu. "Entahlah, jangan tanyakan padaku. Tanyakan sendiri pada nenekmu itu." Sahutnya sembari menuntun Naruto menuju ke kamar sang Ibu suri. "—Masuklah, jangan takut. Aku ada diluar kalau kau butuh sesuatu." Lanjutnya lagi seraya mendorong punggung pemuda itu untuk segera masuk ke dalam sana.
Sedikit enggan, akhirnya Naruto melangkahkan kakinya juga ke ruangan itu. Wangi aroma lilin terapi yang pertama kali menguar dari kamar itu, menggelitik sensor penciuman Naruto yang sangat tajam. Mata birunya menatap sang Nenek yang tengah duduk di tengah ruangan dengan hanbok yang melekat di tubuhnya. Rambut putihnya di sanggul sederhana dengan konde panjang berkepala naga yang terbuat dari emas. Sedangkan perhatiannya tidak beralih sama sekali dari buku yang dibacanya.
Naruto membungkuk pelan sebagai penghormatan, kemudian duduk bersimpuh tegak di hadapan wanita itu. Terhalang oleh meja baca kecil yang dipenuh beberapa buku tua, sang Nenek masih tetap enggan mengalihkan matanya dari lembaran kertas itu walaupun Naruto sudah duduk dihadapannya.
"Yang Mulia Ib—"
"Jangan memanggilku seperti itu, Naruto." Akhirnya Kaguya bicara. Ia mengalihkan matanya sebentar untuk menatap sang cucu. "—Cukup panggil aku dengan sebutan 'nenek' saja. Panggilan 'Yang Mulia Ibu Suri' hanya berlaku untuk kalangan para pelayan dan derajatnya yang dibawah kita." Jelasnya lagi.
Naruto mencoba mengangguk paham. "Jadi Nenek, kenapa memanggilku kesini?" Ia menghilangkan sikap dan ucapan formalnya pada sang nenek. Mereka memang tidak dekat dan baru pertama kali bertemu, tentu saja seharusnya sikap canggung yang dikeluarkannya. Namun demi kekerabatan yang dijalin, ia mencoba lebih terbuka dengan tidak memakai bahasa formal, berharap hubungan mereka bisa sedikit membaik.
Walaupum Naruto bertanya dengan suara yang dapat didengar, namun Kaguya terlihat tidak tertarik dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang cucu. Kalimat itu tidak mendapat balasan dari wanita tadi, hanya bergema pelan lalu hilang. Mata Yang Mulia Ibu Suri tengah sibuk menatap lembaran buku yang ada diatas meja bacanya, membalik halaman kertas itu satu persatu.
Naruto duduk di tempatnya dengan gelisah. Ruangan yang hening membuat atmosfir di kamar tersebut semakin berat dan tidak nyaman.
"Nenek..." Sekali lagi sang Uzumaki memanggil wanita itu. Berharap direspon walau hanya dengan delikan saja.
"Naruto, Apa kau tahu perang *Imjin?" Pertanyaan mulus itu meluncur lembut dari bibir sang Ibu Suri. Membuat Naruto tercengang bingung dilempar oleh kalimat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang ditanyakannya.
"—Naruto?" Kaguya memanggil lagi. Matanya menatap lurus ke arah iris biru itu. Meminta jawaban.
Naruto berpikir sebentar, benaknya memutar semua pelajaran sejarah yang tersimpan di otaknya. Hingga akhirnya ia mengangguk sebentar sebelum menjawab. "Itu adalah perang tujuh tahun penyerangan Jepang di wilayah semenanjung Korea pada akhir abad ke-16, tepatnya pada Dinasti Joseon."
Jawaban singkat itu membuat segaris senyum tipis tergambar jelas di wajah Yang Mulia Ibu Suri. Wanita itu menutup buku sejarah yang dibacanya dan lebih tertarik menatap cucunya yang tidak disangka-sangka sangat pintar dalam memahami sejarah.
"Bisa kau jelaskan kenapa Jepang melakukan penyerangan?" Pertanyaan lain lagi.
Naruto kembali mengangguk pelan. "Jepang ingin menginvasi Cina dan meminta Korea memberikan jalur untuk pergerakan tentara mereka ke dinasti Ming. Namun Istana Joseon menolak dan akhirnya—"
"Aku berpikir—" Kaguya memotong ucapan Naruto dengan cepat. "—Kenapa Jepang tidak mencoba bekerjasama dengan Korea? Dengan begitu tidak akan ada lagi perang yang percuma." Lanjutnya sembari mengelus buku sejarah itu dengan pelan, seakan-akan benda tadi akan tergerus waktu kalau tidak diperlakukan dengan lembut.
Naruto terdiam. Ia sadar arah pembicaraan ini. Kalimat Kaguya menandakan maksud terselubung hubungan Jepang dan Korea untuk saling bekerjasama, yang artinya wanita itu ingin Naruto menjadi putra mahkota dan didaulat untuk menjadi raja kerajaan Korea Selatan.
"Bila Korea bekerjasama dengan Jepang, maka perang yang terjadi akan lebih besar. Mungkin saja akan ada pemberontakkan maupun pertentangan." Ucap pemuda pirang itu dengan tegas namun juga bernada pelan penuh hormat. Menyadarkan wanita itu mengenai pernikahan kedua orangtuanya yang sama mengerikannya dengan perang *Imjin. Walaupun mereka sudah menikah, tapi Kaguya masih saja menentang hubungan itu, bahkan tidak mengijinkan Kushina untuk kembali ke negara kelahirannya sendiri.
Sang Ibu Suri terdiam. Ia paham betul maksud dibalik perkataan itu. "Jadi, kau masih menolak untuk menjadi putra mahkota?"
Naruto membungkuk dalam-dalam, bermaksud meminta maaf dan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi putra mahkota Korea Selatan. Namun saat bibirnya berusaha membuka untuk mengatakan seluruh pikirannya, tangan kanan sang nenek langsung terangkat pelan, menahan pemuda pirang itu untuk tidak mengeluarkan ucapannya.
"Pikirkanlah dulu, Naruto. Ini bukan saja demi diriku sendiri, melainkan juga demi seluruh rakyat Korea Selatan." Ucap Kaguya lagi. Mencoba menarik empati dari sang Uzumaki.
Naruto sadar kalau kalimat yang dikeluarkan sang nenek bukanlah permohonan, melainkan perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. Apapun caranya, ia tetap tidak bisa mengalahkan kekuasaan wanita itu. Seluruh kalimat yang meluncur dari bibir Kaguya adalah hukum, yang berarti semua dibawah kendali sang Ibu Suri.
Apa yang dia katakan, itu yang harus dilakukan.
"Aku mengerti. Aku akan memikirkannya lagi." Ucap sang Uzumaki akhirnya, sembari membungkuk hormat.
Mendengar kalimat itu, sebuah senyum tipis tergantung di bibir sang Ibu Suri. "Aku benar-benar mengharapkan kesuksesanmu, Putra Mahkota."
.
.
.
Brak!—Naruto melempar tas kopernya di lantai kamar dengan malas. Kemudian menaiki ranjang dan mengistirahatkan dirinya disana. Ranjangnya yang berukuran king size dengan seprei sutera putih dan selimut tebal warna merah bercorak naga emas sama sekali tidak bisa membantu meringankan rasa stresnya, kalimat sang nenek masih terngiang-ngiang di otaknya. Naruto menghela napas pelan sembari berbaring disana. Mata birunya mencoba melirik ke seluruh ruang kamar itu.
Sebuah ruangan yang cukup besar dan sangat dekoratif. Ada telivisi berukuran besar di sisi dinding, lemari kecil di sisi dinding yang lain, ranjang king size di tengah-tengah ruangan dengan kelambu putih tipis diatasnya, serta karpet tebal berbulu yang sangat mahal. Tidak terlihat kesan tradisionalnya sama sekali, kecuali beberapa dekorasi lampu lilin dan corak naga emas di beberapa perabotan yang mengindetifikasikan bahwa itu adalah kamar raja. Malah sepertinya, ruangan itu lebih mirip kamar para raja-raja di kerajaan Eropa sana.
"Kau suka dengan kamarmu?" Sasuke bersandar di ambang pintu sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Pemuda raven itu yang membantu Naruto menemukan kamarnya setelah sang Uzumaki menyelesaikan urusannya dengan Kaguya.
"Ya, suka. Kamar ini sangat—uh—bergaya Eropa." Sahut Naruto lagi.
"Kata nenek, ini adalah kamar ibumu. Sengaja dibiarkan seperti ini setelah kepergiannya dari Korea." Sasuke meneliti setiap sudut ruangan itu. Neneknya pernah bercerita kalau 'Kushina' adalah wanita yang sangat menyukai kerajaan-kerajaan di negeri dongeng dengan istana yang megah. Terlebih lagi alasan wanita itu menyukai kerajaan Eropa adalah karena arsitekturnya yang keseluruhan dibangun dengan batu kokoh membentuk benteng tinggi.
"Benarkah? Jadi ibuku menyukai gaya Eropa, huh?" Ada sirat sedih yang tergambar jelas di wajah tan itu. Membuat Sasuke sadar bahwa seharusnya ia tidak mengungkit tentang sosok wanita yang sudah meninggal tersebut.
"Maaf." Sasuke menundukkan wajah, menyesal. Naruto membalasnya dengan cengiran lebar.
"Tidak apa-apa, Sasuke. Jangan bertampang seakan-akan kau mau menangis seperti itu." Goda Naruto, berusaha menghibur sang onyx.
Pemuda raven itu mendengus kecil, kemudian kembali menampilkan tampang stoic-nya. "Aku harus kembali ke kamarku. Kau bisa beristirahat disini dan nyamankan dirimu sendiri."
"Tunggu, Sasuke—" Naruto memanggil Sasuke, menghentikan langkah pemuda itu.
"Ada apa?"
"Uh—aku ingin berbicara denganmu mengenai status 'Putra Mahkota' ini."
Sasuke kembali melipat kedua tangannya di depan dada. "Go ahead. I'm listening."
"Kau pernah bilang bahwa kau ingin sekali menjadi 'Putra Mahkota' dan kemudian didaulat menjadi raja." Pemuda itu bangkit dari kasur dan duduk ditepi ranjang. "—Kenapa? Bukankah seharusnya kau tahu bahwa memimpin sebuah negara tidak semudah yang dibayangkan?" Tanyanya lagi dengan pandangan serius.
Sasuke berjalan masuk ke dalam kamar, menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan sang Uzumaki. "Memang itu benar. Tetapi yang sebenarnya, kekuasaan bukanlah tujuan awalku." Jawabnya sembari melipat kedua kakinya dan menatap Naruto dengan angkuh. "—Tujuanku hanya satu, yaitu mendapat perhatian Madara-san."
"Perhatian ayahmu? Kenapa?"
Sasuke mendengus pelan. "Dia bukan ayahku yang sebenarnya. Aku dan Sai diadopsi olehnya." Matanya bisa melihat jelas tatapan terkejut Naruto.
"K—Kau diadopsi?" Naruto mencondongkan tubuhnya dengan antusias dan penasaran. Menunggu kelanjutan cerita pemuda raven itu. Siapa sangka kalau Sasuke dan Sai adalah anak adopsi, mereka berdua benar-benar sangat mirip dengan Madara.
"Ayahku adalah anak kelima. Nama Jepangnya adalah Fugaku. Dia meninggal karena kecelakaan." Sahut Sasuke cepat.
Naruto tercengang. Matanya mengerjap tidak percaya. "A—Anak kelima? Tapi kenapa nenek tidak mengatakan bahwa ia mempunyai lima anak?"
"Sebab itu aib keluarga kerajaan. Lebih memalukan dibandingkan aib kedua orangtuamu." Sasuke memijat keningnya sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "—Ayahku terpaksa menikah dengan ibuku karena politik. Tetapi bukan itu saja permasalahan yang terjadi di dalam istana, melainkan aib lain yang menyusul." Ia berhenti sebentar untuk menatap mata biru dihadapannya itu. Kilat penasaran masih terpasang di sana, menunggu Sasuke untuk terus mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
"Madara berselingkuh dengan ibuku. Setiap malam, saat pelayan lewat di kamar Madara, desahan ibuku selalu terdengar dari balik pintunya." Sasuke menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ada percik kemarahan dari manik hitam itu. "—Aku membenci wanita jalang itu. Dan untungnya ayahku mengetahui perselingkuhan itu hingga akhinya nenek memutuskan untuk mengusir ibuku dari kerajaan, tentu saja setelah wanita itu melahirkan kami."
"Bagaimana kau bisa mengetahui semua ini?"
"Ini rahasia umum di lingkungan kerajaan. Banyak mata dan mulut disini, dan beberapa pasang telinga yang mendengarkan, termasuk aku... Jadi bisakah aku melanjutkan ceritaku?" Sinis Sasuke lagi.
Naruto mengangkat kedua bahunya. "Oke, teruskan—Lalu bagaimana dengan Madara? Maksudku, seharusnya—"
"Seharusnya dia dihukum juga begitu? Tidak—ia tidak dihukum, sebab nenek sangat menyayangi Madara melebihi anaknya yang lain." Sasuke menyamankan posisi duduknya sebelum kembali berbicara. "—Tapi bukan itu saja yang membuatku terkejut, melainkan ada aib lain yang juga dilakukan oleh ayahku dan menjadi alasan kenapa ibu dan ayahmu pergi ke Jepang." Kalimatnya terhenti saat Naruto tiba-tiba mencengkram kedua lengannya secara tiba-tiba.
"Tu—Tunggu dulu! Apa maksudmu ayah dan ibuku pergi ke Jepang? Bukankah mereka diusir dan terpaksa menikah disana?"
"Tidak ada pengusiran, Naruto. Menikah karena 'kecelakaan' adalah skandal biasa yang sering terjadi. Nenek bahkan tidak peduli dengan kehidupan glamour bibi Mei yang sering melakukan hubungan intim dengan cowok lain di hotel berbintang." Sasuke melepaskan pegangan pemuda itu dari lengannya. "—Ini skandal yang lebih besar dari itu." Lanjutnya lagi.
"Skandal apa?!" Naruto kembali mendesak dengan keras. "—Apa yang sudah dilakukan kedua orangtuaku, Sasuke?!—Katakan yang sebenarnya!"
.
"Membongkar rahasia kerajaan hukumannya bisa digantung lho~" Suara mengalun manja itu keluar dari bibir merah milik Bibi Mei. Wanita cantik itu berdiri di ambang pintu Naruto dengan tangan terlipat di depan dada. "—Aku tadinya bermaksud menyapa 'Putra Mahkota' kita ini, dan tidak menyangka mendengar pembicaraan yang sangat menarik."
Sasuke melirik wanita itu dan mendengus pelan. "Aku heran kenapa bibi selalu muncul di tempat dan waktu yang salah."
"Oh, benarkah?" Bibi Mei berpura-pura terkejut sambil menyentuh pipinya dengan kedua tangan. Tetapi detik selanjutnya sikapnya berubah menjadi seringai tipis. "—Apa aku mengganggu waktumu dengan Naruto, Sasuke? Oh my~ Oh my~ Aku tidak menyangka kalau keponakan manisku ini ingin sekali berduaan dengan putra mahkota." Usilnya dengan nada jahil.
"A—Apa?!" Sasuke menyahut galak. Semburat merah lagi-lagi terbentuk di pipi putihnya. "—Jangan bercanda, Bibi Mei! Hentikan omong kosongmu itu!"
"Baiklah, baiklah, aku akan berhenti menggoda kalian. Tapi ingat, rahasia kerajaan harus tetap menjadi rahasia, mengerti?" Ucapnya lagi, kemudian berjalan pergi dari sana.
Sasuke yang melihat kepergian Bibi Mei kembali menoleh ke arah sang Uzumaki. "Kau dengar ucapan bibi Mei? Kita tidak diperbolehkan bicara lebih dari ini." Pemuda raven itu bangkit perlahan dari bangkunya. "—sebaiknya kau istirahat, perjalan dari Jepang ke Korea cukup melelahkan."
"Tidak, Sasuke!" Sang Uzumaki menggapai lengan Sasuke dengan cepat. "—Kau harus mengatakan seluruhnya! Sekarang juga!" Bentaknya lagi dengan nada keras, agak memerintah. Ia sangat penasaran dengan cerita kehidupan kedua orangtuanya itu. Selama ini Kushina selalu menceritakan hal biasa tentang nenek yang galak dan pengusiran, tetapi tidak pernah menjelaskan satu pun kenapa mereka harus pergi dari Korea. Mereka hanya bilang bahwa hal itu dikarenakan Kushina yang hamil di luar nikah. Tetapi kenyataannya, aib seperti itu lumrah di keluarga kerajaan. Jadi sebenarnya, aib apa yang membuat kedua orangtunya memilih pergi dari Korea?
Sasuke menepis pegangan pemuda pirang itu dengan marah, matanya menatap tajam. "Jangan pernah berani membentakku seperti itu, Idiot!" Desisnya.
"Ma—Maaf, aku hanya—" Naruto memijat keningnya yang berdenyut sakit, ekspresi putus asa dan kebingungan tergambar di air mukanya. "—Aku hanya ingin tahu semua tentang kedua orangtuaku. Selama ini aku tidak sadar bahwa pernikahan mereka tidak hanya semata karena 'accident' melainkan karena aib yang lebih besar." Ucapnya lirih.
Sasuke menghela napas pelan melihat wajah frustasi yang ditampilkan sang Uchiha, namun ia sama sekali tidak bisa menceritakan detail kejadiannya lebih dari ini. Hukum kerajaan yang mengekangnya untuk mengatakan yang sebenarnya. "Naruto, aku minta maaf tidak bisa menceritakan semuanya. Sebaiknya sekarang kau beristirahat, oke?"
Naruto tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. "Mungkin kau benar, aku memang harus istirahat. Semua ini membuat kepalaku sakit." Ucapnya lagi seraya berbaring di atas kasur. Sedangkan Sasuke memilih keluar dari kamar itu tanpa banyak bicara, membiarkan pemuda itu untuk tidur, walaupun ia yakin sekali bahwa Naruto tidak akan bisa tidur nyenyak setelah apa yang diceritakannya tadi.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di kamar Yang Mulia Ibu Suri, sosok Madara terlihat duduk dihadapan ibunya itu dengan wajah keras dan tatapan tajam. Sama sekali bukan raut muka yang bersahabat. Disebelahnya, Hashirama duduk dengan tenang tanpa sekalipun terganggu dengan sikap sang kakak.
"Eommonim, apakah keputusan itu tidak bisa diubah lagi? Maksudku—kenapa tidak Sasuke saja yang menjadi putra mahkota dan menjadi raja kerajaan ini? Kenapa harus Naruto?" Perkataan Madara itu membuat Kaguya mendongak sebentar.
"Apa kau meragukan keputusanku, Madara?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Kaguya, terdengar lembut dan halus tetapi di lain pihak juga terkesan dingin.
"Tidak, eommonim. Aku hanya—"
"Kalau begitu tidak ada perdebatan lagi, bukan? Kau bisa keluar sekarang." Sahut Kaguya memotong ucapan pria bermata onyx itu.
"Eommonim..." Madara mencoba sekali lagi memohon untuk mendengarkan ucapannya. Tetapi Kaguya sudah menghentikannya terlebih dahulu dengan mengangkat satu tangan. Tanda agar pria itu berhenti menggagunya.
"Madara, kau bisa pergi sekarang." Kaguya mengulang perkataannya, kali ini dengan tatapan yang tajam. Yang berati tidak ada kalimat protes lagi.
Wajah Madara mengeras jengkel, namun sama sekali tidak berani membantah ucapan ibunya itu. Dengan terpaksa, ia akhirnya membungkuk dalam-dalam dan mulai berbalik pergi tanpa mengucapkan satu patah kata apapun. Seharusnya sikap itu sangat kurang ajar untuk diperlihatkan, namun Madara sekarang marah dan tidak peduli dengan segala tetek-bengek ketentuan itu.
Kaguya juga tidak terlalu mempedulikan kekesalan sang anak. Matanya kini beralih untuk menatap Hashirama. "Jadi, apa kau juga punya perdebatan mengenai Naruto yang kuangkat menjadi putra mahkota, begitu?"
"Sama sekali tidak, eommonim—" Hashirama membungkuk hormat. "—Aku hanya ingin mengatakan bahwa menjadikan Naruto sebagai putra mahkota adalah hal yang benar, namun menjadikannya raja kerajaan ini merupakan hal yang sulit diterima."
"Jadi kau memang menolak keputusanku, begitu?"
"Eommonim, sudah kukatakan kalau aku sama sekali tidak menolak. Aku hanya tidak mengerti kenapa harus Naruto? Apakah eommonim bermaksud untuk bekerja sama dengan Jepang setelah ini?"
Kaguya tidak menjawab. Ia mengetuk meja bacanya dengan jari, terlihat berpikir keras. "Ya, tentu saja. Kita akan bekerja dengan Jepang dan menggabungkan dua negara untuk menguasai pasar dunia. Bukankah itu bagus? Maksudku, Korea dan Jepang merupakan salah satu negara maju selain Amerika. Dengan bergabungnya kita dengan Jepang, maka militer, ekonomi, dan politik dunia akan berubah."
"Eommonim, kita masih tidak tahu apakah perubahan ini akan membawa dunia ke arah yang lebih baik ataukah malah terjadi perang. Seperti yang kita tahu, Jepang tidak semudah itu bekerjasama, dan lagi pemerintahan kita belum tentu menyetujuinya." Jelas Hashirama dengan suara yang tenang dan berat, namun dibalik itu semua terdengar ketakutan kalau rencana ibunya malah akan membuat Korea hancur.
Kaguya mengibaskan tangannya, tidak peduli. "Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatur urusan pemerintahan ini." Ujarnya lagi.
Hashirama masih terlihat tidak setuju dengan keputusan itu. "Eommonim..."
"Cukup Hashirama, urusan negara dan kerajaan serahkan saja pada ibumu ini. Keluarlah sekarang." Kaguya lagi-lagi tidak tertarik mendengarkan protesan kedua anaknya itu. Ia harus fokus untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
Hashirama menghela napas pelan dan menyerah dengan keegoisan ibunya itu. "Baik, eommonim. Aku akan pergi sekarang." Ujarnya sembari membungkuk dalam dan bergerak keluar ruangan.
Hashirama hanya mendesah lelah dan mulai beranjak pergi menuju paviliun di taman samping. Berharap bisa menjernihkan pikirannya di tempat hijau yang penuh bunga serta kolam teratai itu. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya menuju jembatan yang menghubungkan taman serta bangunan itu, sosok Madara sudah terlebih dahulu berada disana sembari memandang kolam yang jernih. Beberapa percikan air terlihat saat segerombolan ikan melompat riang di kolam tersebut.
"Sedang memikirkan sesuatu, Madara-chan?" Hashirama melambai riang dengan senyuman lebar.
Tampang bodoh adiknya itu membuat Madara hanya mendengus sinis, tidak tertarik untuk membalas sapaan pria tadi.
Hashirama berdiri di samping Madara. Ia membungkuk mengambil batu dan melemparkannya dengan kuat ke arah kolam. Membuat riak besar yang langsung membubarkan gerombolan ikan disana.
"Kau juga ingin bermain melempar batu, hyung? Kita bisa berlomba, siapa yang paling jauh melempar batu, dialah pemenangnya." Tawarnya seraya menjulurkan batu berukuran yang tidak lebih besar dari kerikil ke arah sang kakak.
"Aku tidak tertarik dengan permainan konyol itu." Madara meraih sebungkus rokok dari saku celananya. Mengambil sebatang dan menyelipkannya di bibir. "—Apa yang kau bicarakan dengan ibu?"
Hashirama melempar batu lagi dan tersenyum. "Tidak ada, hanya pembicaraan biasa mengenai buku dan hobi lainnya." Ucapnya asal-asalan.
"Hashirama, jangan membohongiku. Aku bukan anak kecil dan aku malas untuk menerka-nerka." Ucapnya ketus.
Hashirama mendesah lagi dan mulai menatap Madara dengan tajam. "Ibu ingin Korea Selatan dan Jepang bersekutu."
"Hmph!—" Madara mendengus geli sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "—Ide yang cukup konyol dan sangat beresiko."
"Dia sepertinya ingin menyatukan dua negara sehingga menjadi negara baru yang berkuasa."
"Well, itu lebih konyol lagi." Ucap Madara lagi, namun sama sekali tidak mengubah ekspresi kakunya.
Hashirama memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, entah kenapa udara diluar selalu membuatnya kedinginan. "Aku sudah mengatakan pada ibu kalau rencana itu akan gagal total. Jepang sudah merdeka, begitupun Korea Selatan. Kita tidak mungkin memancing perang dunia ketiga." Kakinya menendang batu ke hingga benda kecil tersebut jatuh ke dasar kolam. "—Sebenarnya apa yang dipikirkan ibu sih?"
"Apapun yang dipikirkan ibu, dia telah salah memilih putra mahkota. Seharusnya ia memilih Sasuke sebab ia mempunyai sikap tegas dan memimpin. Bukannya anak idiot itu." Kesal Madara lagi.
Hashirama menoleh. "Kau menyetujui rencana gila ibu?"
"Aku tidak peduli dengan rencana atau ide gila milik ibu mengenai pemerintahan kerajaan. Yang kupedulikan hanyalah Sasuke yang seharusnya menjadi raja." Sela pria bermata onyx itu dengan cepat sembari menjatuhkan puntung rokoknya di tanah dan menginjaknya.
"Kenapa kau sangat berambisi agar Sasuke menjadi putra mahkota? Dia bahkan bukan anakmu, Hyung. Dia anak dari adik kita dan kau hanyalah pamannya." Jelas Hashirama lagi.
Madara tidak menjawab. "Tapi mereka sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Mereka berdua mirip dengan wanita itu."
Hashirama sangat paham sekali maksud dari ucapan yang dilontarkan sang kakak. "Aku benci dengan sikapmu yang suka mengambil istri orang lain, Hyung." Tukasnya sembari mengambil kerikil dan kembali melemparkannya ke kolam.
"Hmph!—Aku tidak butuh nasihat darimu, Hashirama." Sahut Madara lagi seraya beranjak pergi dari sana. Tidak mempedulikan sang adik yang masih sibuk melempar batu ke kolam. Terlihat bosan dan banyak pikiran.
.
.
Makan malam di keluarga kerajaan sangat ketat dan menaati tata krama. Seluruh anggota keluarga diwajibkan untuk makan bersama di ruang makan, tidak ada satu pun yang tidak hadir. Semuanya disana menikmati makanan yang disajikan oleh para pelayan.
Naruto yang duduk di samping kanan sang nenek hanya bingung menatap beberapa hidangan makanan yang masih asing di matanya. Tetapi sebenarnya, bukan itu yang membuat tubuh sang Uzumaki bergerak gelisah di kursinya sejak tadi. Melainkan hawa berat yang ada di ruang makan tersebut. Semua orang hening dan makan dalam diam, sama sekali tidak ada obrolan ringan atau candaan seperti yang dilakukannya di rumah saat kedua orangtuanya masih hidup. Benar-benar situasi yang canggung. Bahkan Hashirama dan Bibi Mei yang biasanya ceria dan banyak bicara kali ini makan dalam keheningan. Terlihat sekali wajah mereka yang sangat suntuk.
"Uhm—sup ini benar-benar enak. Aku suka. Apa namanya?" Naruto membuka suara dengan nada ceria, berharap bisa menetralisir suasana yang seperti kuburan itu.
Semua mata langsung memandang sang Uzumaki dalam hening. Tidak ada satu orang pun yang menanggapi ucapan itu, terlebih lagi ekor mata Kaguya mendeliknya dingin dan tajam, seakan-akan menyiratkan pesan bahwa ia tidak suka sang cucu berbicara saat makan, karena itu merupakan hal yang sangat tabu dilakukan bagi calon seorang raja.
Naruto meneguk air liurnya gugup, sangat paham sekali dengan tatapan sinis yang diberikan oleh wanita itu. Ia menunduk malu. Ingin rasanya menggali tanah sekarang dan berbaring di dalam sana sampai tahun depan.
Sial!—Aku gagal total. Batin Naruto dalam hati. Merutuki kebodohannya sendiri.
"Itu samgyetang—" Sai meletakkan sumpitnya sejenak dan menatap Naruto dengan senyuman kecil. "—Sup ayam ginseng yang sangat enak dan juga sehat. Cocok untuk memulihkan tenaga setelah beraktifitas." Jelasnya lagi.
Pemuda pirang itu tersenyum lebar, senang bahwa perkataannya ditanggapi walaupun hanya satu orang saja. Setidaknya itu sudah menyingkirkan rasa malunya yang sejak tadi ditatap seperti orang idiot.
"Aku lebih suka sup rumput laut." Suara lain menimpali ucapan Sai. Naruto menoleh dan mendapati Sasuke yang sedang menatapnya. "—Kau harus mencobanya juga Naruto."
Senyum Naruto semakin lebar. Bersyukur bahwa Sasuke juga ikut bicara. "Ya, aku pasti akan mencobanya, Sasuke." Sahutnya dengan nada antusias. Tidak mempedulikan bahwa wajah sang nenek semakin keras.
Wanita itu sepertinya tidak suka kalau peraturan yang sudah ada sejak turun temurun—yaitu untuk tidak mengobrol saat makan—hancur karena ulah Naruto.
"Kalau aku lebih suka bulgogi." Hashirama yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara. "—Daging sapi pilihan yang diiris tipis-tipis lalu di panggang merupakan makanan yang paling lezat." Ia tersenyum ke arah Naruto.
Naruto menanggapinya dengan anggukan senang. "Aku ingin sekali menco—"
Brak!—Kaguya menggebrak meja makan. Ia tidak bicara namun matanya memandang seluruh orang dengan tatapan dingin dan kilat tajam. Terlihat sekali bahwa wanita itu benar-benar marah karena semua anggota keluarganya sama sekali tidak mempedulikan tata krama yang sudah dibina selama puluhan tahun itu.
"Aku sudah selesai." Kaguya bangkit dari tempat duduknya dengan angkuh dan berbalik menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Para pelayannya dengan sigap langsung mengekor wanita itu dibelakang, mengantarkan sang Yang mulia ibu suri kembali ke kamar.
"Ughh—finally! I can breathe now. Gosh!" Bibi Mei mendesah lega sembari mengendurkan otot bahunya yang kaku, sebab sejak tadi ia duduk dengan tegak. Mata jernihnya mengedip genit ke arah Naruto. "—Terima kasih, Yang Mulia Putra Mahkota. Kau menyelamatkan otot bahuku." Ucapnya dengan kikikkan manja.
Naruto meringis canggung saat wanita itu memanggilnya dengan sebutan 'Yang Mulia Putra Mahkota', ia merasa tidak pantas menyandang gelar itu. "Err—cukup panggil aku Naruto saja, Noona."
Bibi Mei terkikik geli. "Oh my~ Kau benar-benar polos. Tentu saja aku akan memanggilmu 'Naruto'. Yang tadi itu hanya bercanda, kau sama sekali tidak terlihat seperti 'Yang Mulia Putra Mahkota'." Ucapnya lagi.
Daaamn, guurrll!—Dihina seperti itu seperti menumpahkan cuka ke luka terbuka. Sakitnya itu bukan hanya di dada, tapi juga di kepala. Naruto hanya tersenyum masam menangapi ucapan bibinya itu. Mungkin lain kali ia akan memanggil wanita itu dengan sebutan 'Bibi' daripada 'Noona'.
"Tapi menurutku, Naruto sangat pantas untuk menyandang gelar itu." Hashirama membuka suara, membuat sang Uzumaki terharu senang. "—Ya 'kan, hyung?" Hashirama meminta pendapat dari Madara.
Namun berbeda dengan Hashirama, Madara hanya mendengus kecil saat mendengar ucapan sang adik. Wajahnya menyiratkan ekspresi tidak suka.
Senyum Naruto berubah jadi ringisan pahit. Ia sadar sekali kalau pria bermata hitam tajam itu sangat tidak menyukai kehadirannya disini.
"A—Anyway, apakah menjadi putra mahkota harus belajar juga atau langsung bertugas?" Naruto mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan lain.
Hashirama berpikir sejenak. "Setahuku kau harus belajar cukup banyak mengenai budaya Korea Selatan. Mungkin Sai bisa menjadi guru private-mu, dia cukup pintar dengan sejarah dan lainnya."
Sai menanggapi dengan anggukan senang. "Tentu saja, aku sangat senang bisa belajar dengan Naruto-hyung." Sahutnya antusias.
"Dan untuk penampilanmu yang kumuh itu—" Bibi Mei kembali berbicara. "—Kau bisa belajar tentang style and fashion dengan Sasuke." Lanjutnya lagi dengan kerlingan genit ke arah pemuda raven itu.
Sasuke mendongak kaget. "Kenapa harus aku?! Kenapa tidak make-up artist atau perancang busana yang sudah terkenal saja?! Mereka lebih bepengalaman." Tukasnya.
Wanita itu mengibaskan tangan dengan malas. "Menyewa mereka cukup mahal, lagipula kau yang paling hebat dalam hal fashion dan make-up, bukan?"
"Aku tetap menolak! Kenapa tidak bibi Mei saja?!"
"Fufufu~" Wanita itu tertawa dengan angkuh. "—Aku tidak ingin membuang waktu berhargaku bermain dengan alat make-up bersama para bocah seperti kalian. Para lelaki tampan dan kaya diluar sana lebih menarik minatku." Ucapnya tanpa malu-malu.
Sasuke mendengus jengkel. "Dasar wanita gendut tidak berguna." Gumamnya pelan.
"Hey! Aku tidak gendut!" Bibi Mei mulai meradang. "—Dada besarku ini yang membuat tubuhku kelihatan gemuk. Itu saja." Ucapnya sembari memperbaiki letak dadanya di dalam bra.
Kalau bukan bibinya, mungkin saja Naruto sudah tergiur melihat dua bongkahan kenyal yang lumayan besar itu. Namun sayangnya, bibinya itu mempunyai sifat dan sikap yang buruk. Membuat rasa sukanya langsung jeblok ke angka nol persen.
"Hentikan bercandanya." Madara mulai naik pitam. Ia mendelik ke arah Mei dengan galak. "—Berhenti bersikap murahan dan kembali ke kamarmu. Kalian juga Sasuke, Sai, dan Naruto, pergi ke kamar dan tidur." Perintahnya tegas.
Sasuke dan bibi Mei bersungut kesal dan kemudian bangkit perlahan dari bangkunya, diikuti oleh Sai serta Naruto. Mereka berempat kembali ke kamar masing-maisng tanpa banyak protes. Sedangkan Madara memijat keningnya yang berdenyut sakit.
"Kau tahu, hyung. Kalau kau sering marah-marah, kerutan di wajahmu akan semakin banyak." Goda Hashirama.
"Diamlah. Kau juga kembali ke kamar."
"Tidak. Aku masih ingin makan." Tolak pria berambut panjang lurus itu sembari menelan habis daging di piringnya.
Madara sekali lagi mendesah lelah. Nafsu makannya hilang seketika saat melihat betapa rakusnya Hashirama menghabiskan hidangan itu. Menatap pria itu makan dengan lahap dan berantakan membuat perutnya tiba-tiba kenyang.
.
.
.
Pukul 07.00 pagi—Naruto sudah mengulet manja di ranjang empuknya. Walaupun matanya bisa melihat bahwa sinar matahari masuk melalui celah jendelanya, namun tubuhnya sama sekali enggan untuk bangkit dari kasur. Ia masih suka menenggelamkan dirinya di tumpukan selimut hangat itu.
Tok!—Tok!—Tok!— "Yang Mulia Putra Mahkota, saya membawakan sarapan anda." Itu suara pelayan wanita yang sedang mengetok pintu kamarnya. Naruto sama sekali tidak tertarik untuk menanggapinya. Perjalanannya kemarin membuat seluruh ototnya lelah dan membutuhkan lebih lama lagi untuk beristirahat.
"Masuklah, taruh saja di meja." Sahut pemuda pirang itu dengan suara sengau akibat bangun tidur. Ia kembali mengulet di ranjang tanpa menatap pelayan yang mulai masuk ke kamarnya.
Saat pelayan tadi menaruh nampan di meja terdekat, suara langkah kaki lain juga masuk ke dalam kamar sang Uzumaki. Orang tersebut mendekatkan jarinya di bibir, menyuruh sang pelayan tetap diam dan cepat keluar. Pelayan wanita tadi membungkuk pelan dan segera menjauh pergi.
Orang tersebut mulai mendekat ke arah Naruto dan secara perlahan naik ke atas ranjang sang Uzumaki tanpa diketahui. Ia masuk ke dalam selimut dan merayap diatas tubuh Naruto.
Pemuda pirang itu bergumam pelan saat merasakan sebuah sentuhan di bagian selangkangannya. Belaian yang membuatnya hampir saja ejakulasi—tunggu!—Ejakulasi?!
Sadar bahwa sentuhan itu bukanlah mimpi, Naruto segera membuka lebar matanya dan menepis selimut dari atas tubuhnya. Mata birunya terbelalak horror saat melihat sosok Sai yang tengah bermain dengan kejantanannya yang setengah berdiri. Pemuda pemilik senyum palsu itu menatap Naruto dengan pandangan sensual serta diiringi senyum yang menawan.
"Selamat pagi, Chagiya." Sapanya dengan suara manja.
"FUCKING HELL!" Naruto berteriak kaget sembari mundur dengan panik. Tidak sadar bahwa ia sudah berada di tepi ranjang dan akhirnya terjatuh ke lantai dengan suara -Bruak!- yang nyaring.
"Hyung, kau tidak apa-apa?" Sai menengok dengan cepat. Dan menemukan sang Uzumaki sedang berusaha bangkit sembari mengusap punggungnya yang nyeri.
"Fuck!—Ini baru pagi hari dan kau sudah mencari gara-gara denganku, Sai." Rutuknya kesal.
"Aku hanya ingin membangunkanmu."
"BANGUNKAN DENGAN SIKAP YANG WAJAR!" Raung Naruto emosi. Ia merapikan boxer-nya dengan cepat, kalau tidak, Sai akan terus menatap selangkangannya dengan pandangan kelaparan. Ternyata tidur dengan hanya mengenakan boxer saja sangat berbahaya di kerajaan ini. Padahal hobinya adalah tidur tanpa pakaian sama sekali. Sial!
"Menurutku itu sudah wajar." Sai berpendapat dengan wajah stoic.
"Otakmu yang tidak wajar, Sai." Ketus Naruto lagi. Pemuda berambut hitam itu menanggapinya dengan kekeh pelan.
"Ngomong-ngomong, Bibi Mei menyuruhmu untuk belajar denganku pagi ini." Sai turun dari ranjang. "—Jadi cepat cuci muka, sarapan dan ke ruang belajar."
Naruto mengerang keras. "Bisakah kita belajar di tempat yang lebih tenang?"
"Tempat yang tenang? Hmm—" Pemuda pemilik senyum palsu itu berpikir sejenak. "—Bagaimana kalau di paviliun taman? Disana cukup tenang dan pemandangannya juga indah."
Naruto menoleh cepat, kemudian mengangguk antusias. "Oke, setuju!"
.
Belajar ternyata tidak seindah yang didengar, walaupun tempat yang dipilihnya untuk belajar sangat indah dan menakjubkan, tetap saja otaknya tidak bisa diajak berkompromi. Naruto sama sekali tidak bisa memasukkan seluruh ilmu yang dijelaskan oleh Sai ke otaknya.
Masuk kuping kanan keluar lagi kuping kiri. Sial!
Sai mendesah. "Aku sudah menjelaskan halaman ini sampai tiga kali, Naruto. Kenapa kau tidak paham juga?" Ucapannya memang datar, tapi raut wajahnya memperlihatkan kalau ia benar-benar bosan.
Naruto menundukkan kepala dalam-dalam. "Maaf, Sai. Aku memang payah dalam hitung-hitungan." Ucapnya dengan nada yang sangat menyesal.
Sai menghela napas. "Baiklah, sebaiknya kita istirahat untuk sejenak." Usulnya lagi.
Naruto mengangguk setuju kemudian menaruh dagunya di atas meja. Mirip anak anjing yang terlihat suntuk.
Sai merapikan buku pelajaran dan mengeluarkan kertas sketsa yang sudah dibawanya.
Naruto memandang pemuda itu dengan pandangan tertarik. "Kau sedang apa?"
"Menggambar. Mencari inspirasi untuk 'manga' ku."
"Hmm—boleh aku bertanya sesuatu, Sai?"
"Tentu." Sai menoleh dengan senyuman.
"Kenapa kau mem-publish manga-mu di Jepang dan bukan di Korea?"
"Well, di Korea 'manga' berjenis 'hentai' masih dianggap tabu, tidak sebebas di Jepang. Karena itu, keuntungan menjualnya di negaramu lebih besar dibandingkan disini." Jawabnya.
"Hmm—Masuk akal." Naruto kembali menidurkan kepalanya di atas meja.
"Sekarang aku yang bertanya." Sai menghentikan gerak jarinya untuk melukis dan menatap sang Uzumaki. "—Diantara aku dan Sasuke, kau akan memilih siapa?"
"Huh?" Naruto mendongak dengan wajah heran.
"Kau pilih aku atau Sasuke?" Sai mengulang kalimatnya lagi.
"Tentang apa? Kenapa aku harus memilih salah satu diantara kalian?" Tanya pemuda pirang itu dengan raut wajah tidak mengerti.
"Entahlah, mungkin untuk dijadikan kekasih?" Sahut Sai lagi, masih dengan wajah datarnya.
"Woo—wooo—tunggu dulu." Naruto menegakkan tubuhnya kaget. "—Kenapa aku harus menjadikan salah satu dari kalian kekasihku? Dude, i'm straight."
"Itu bukanlah alasan, Naruto. Aku juga straight."
"Lalu kenapa kau—"
"—Sampai kau datang dan menjungkir balikkan kewarasanku." Sai memotong lebih cepat.
Naruto terdiam. "Apa maksudnya itu?"
Pemuda pemilik senyum palsu itu menoleh ke arah sang Uzumaki. "Tidak apa-apa. Lupakan perkataanku yang tadi." Sai merapikan buku sketsanya dan bangkit berdiri. "—Tunggu disini, aku mau menaruh buku sketsa-ku ini ke kamar."
Naruto mengangguk dan memandang kepergian pemuda itu dalam diam. Sang sapphire menguap dengan malas, ia masih mengantuk dan butuh istirahat.
'Mungkin tidur selama lima menit tidak akan dimarahi oleh Sai', batinnya dalam hati.
Setuju dengan pemikirannya itu, Naruto kembali meletakkan kepalanya di atas meja dan menutup mata. Membiarkan dunia mimpi sekali lagi membungkus kesadarannya.
.
Di tempat lain, Sai masih berjalan menuju bangunan tempat tinggalnya, namun langkah kakinya langsung terhenti saat Madara memanggilnya. Ia menoleh ke belakang dan menemukan pria itu datang menghampirinya.
"Sai, kau tahu dimana Sasuke sekarang?" Tanya Madara.
"Dia pergi bertemu teman-teman 'ulzzang'nya." Ucapnya dengan memberi penegasan pada kata 'ulzzang'. "Memangnya ada apa ayah mencarinya?"
"Hanya ingin mengingatkannya mengenai tugasnya untuk mengajari Naruto." Ucap pria itu lagi. "—Lalu kau habis darimana?"
"Dari paviliun, masih mengajari Naruto tentang sejarah dan matematika." Ujar Sai lagi. "—Ngomong-ngomong Ayah, bisakah kau mengawasi Naruto selagi aku menaruh buku sketsa-ku? Aku khawatir kalau dia melarikan diri dan memilih jalan-jalan dibandingkan belajar."
Madara mendengus pelan. Terlihat sekali keengganan di raut wajah itu. "Aku masih banyak urusan jadi—"
"Ayolah Ayah, cuma sebentar." Pinta pemuda itu dengan tatapan memohon.
Madara mengalah dan akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, ayah akan melihat keadaan Naruto. Cepat kembali, oke?" Perkataan itu ditanggapi dengan anggukan senang Sai.
Sang pria berambut panjang berantakan itu langsung berbalik arah menuju ke arah paviliun dekat kolam. Sepanjang jalan ia hanya menggerutu pelan karena harus mengawasi pemuda pirang itu.
God! Yang benar saja?! Dia tidak ada waktu untuk mengasuh Naruto dengan segala tetek-bengeknya itu.
Madara menendang krikil dengan jengkel. Ia masuk ke dalam paviliun hanya untuk menemukan pemuda pirang itu sedang tertidur menelungkup di meja baca.
How fucking great!—Sia-sia saja dia mengawasi Naruto kalau ternyata pemuda itu memilih tidur dibandingkan melarikan diri.
"Hmph!—Dasar anak tidak berguna. Benar-benar mirip sekali dengan ayahmu." Gumam Madara pelan seraya bergerak menuju sisi tubuh Naruto untuk menatap betapa bodohnya wajah itu sekarang.
Manik hitam Madara bisa melihat kalau wajah sang Uzumaki benar-benar mirip dengan Minato. Rambut pirangnya, senyumnya, bahkan hidungnya, semua itu tidak terlepas dari gen sang ayah. Sangat menawan dan mempesona. Bahkan ia yakin kalau seluruh wanita di dunia rela bertekuk lutut di hadapan Naruto. Seperti Kushina yang rela membuang gelar 'Ratu' kerajaannya hanya untuk bersama Minato.
Madara menjulurkan tangan untuk menyisir rambut pemuda pirang itu. "Kenapa kau harus mirip dengan Minato? Kau benar-benar membuatku kesal, Idiot."
Dengan gerakan perlahan pria itu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening Naruto. "Aku menyukaimu, Minato." Ia berbisik pelan. "—Sangat menyukaimu."
Madara kembali menarik tubuhnya dari sang Uzumaki setelah puas menatap wajah itu dalam diam. Ia kemudian bergerak menjauh karena tugasnya untuk mengawasi pemuda itu sudah selesai, jadi sekarang ia tidak perlu berlama-lama di tempat ini. Lagipula Naruto masih tertidur dan sepertinya pemuda pirang itu tidak berniat sama sekali untuk melarikan diri.
Puas dengan kesimpulan itu, pria onyx tadi langsung melangkah menjauh dari paviliun sembari mengeluarkan rokok dari saku celana dan meletakkannya di sela bibir. Membakar ujungnya, kemudian menghisapnya dalam-dalam.
"Ini melelahkan, Minato." Ia bergumam pelan sambil menatap langit. "—Kalau Naruto bukan anakmu, mungkin aku sudah mengusirnya sejak awal." Bisiknya lagi. Meninggalkan Naruto yang masih tertidur di meja.
Tepat setelah kepergian Madara. Kelopak mata Naruto langsung terbuka lebar, wajahnya terlihat pucat pasi sembari bangkit perlahan. Sedangkan tangannya menyentuh kening tepat dimana Madara menciumnya. Sejak tadi, ia tidak tertidur dan hanya mengistirahatkan kepalanya saja. Namun saat pria itu mendekat, sang Uzumaki berpura-pura tidur agar tidak kena marah. Namun nyatanya, ia lebih suka dimarahi daripada dicium seperti itu.
Rasanya cukup menjijikan.
"A—Apa yang tadi itu?" Kalimatnya terbata-bata. "—Kenapa Madara-san menciumku?"
"Ha. Ha. Ha. Ia pasti bercanda. Ia pasti ingin menggodaku saja." Lanjut Naruto dengan tawa pahit. Jelas sekali kepanikan dan ketakutan terpasang di raut mukanya.
'Tapi tunggu—apa yang tadi dia bilang? Mencintai Minato? Mencintai ayahku?' Pikirnya dalam hati. 'Apakah ini ada hubungannya mengenai kepergian kedua orangtuaku ke Jepang?'
'—Sepertinya aku memang harus mencari tahu apa yang terjadi disini beberapa tahun lalu, serta hubungan Madara dengan ayahku.'
.
.
TBC
.
Yuuhuuu~ Chap 2 dah update... maaf klo agak telat ya minna-saan.. dan maaf juga klo belum ada adegan lemonnya, mungkin bakal ada di chap 3... hehehe
Btw, terima kasih banyak buat yang sudah baca dan review fic saya ini... aku benar-benar terharu (T_T)... Reader, silent-reader dan juga reviewer, kalian benar-benar yang terhebat *peluk semuanya*... Makasih guys/girls..
Konflik masih berlanjut di chap 3 guys... aku harap kalian gak bosan baca fic-ku...
Hyung: kakak (Panggilan adik cow ke kakak cow)
Noona: kakak (panggilan adik cow ke kakak cew)
Eommonim: ibu
.
RnR please!
