Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya

Pairing: Always NaruSasu (sedikit NaruSai)

Rated: M for Mature and Sexual Content

(Don't Like Don't Read)

.

Lemon time!


Royal Kingdom in Seoul

.

By: CrowCakes

~Enjoy~


.

Mencari kebenaran tentang masa lalu kedua orangtuanya tidaklah semudah mencari jodoh di acara televisi. Naruto perlu berpikir dan mengumpulkan petunjuk agar ia bisa menguak aib yang dilakukan Minato serta Kushina. Serta hubungan ayahnya dengan Madara.

Jujur saja, saat ini otak sang Uzumaki tidak bisa berpikir jernih karena kejadian beberapa menit yang lalu, yaitu Madara yang mencium keningnya.

For fuck's sake! Itu memori yang cukup mengerikan untuk diingat. Naruto tidak yakin apakah otaknya sanggup menghapus kenangan yang membuat hatinya ketar-ketir tidak karuan. Tetapi sekarang, ia mencoba melupakan hal itu untuk sejenak. Naruto perlu memulai investigasinya sekarang.

"Hmm—Sebaiknya aku mulai darimana ya?" Pemuda pirang itu bergumam sendiri, berpikir keras. "—Mungkin perpustakaan. Disana tempat yang cocok untuk menggali informasi." Sahutnya lagi dengan sumringah lebar.

Ia mulai beranjak dari paviliun secepat mungkin. Ia tidak ingin Sai mengetahui bahwa dirinya kabur dari sesi pelajaran mereka.

'Hanya lima menit saja. Aku harap Sai tidak akan marah.' Doanya dalam hati. Kemudian bergegas menuju perpustakaan kerajaan yang tidak jauh dari bangunan utama.

.

Sai sudah kembali dari kesibukannya mengembalikan buku sketsa. Namun ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam paviliun, matanya langsung membelalak terkejut saat sosok sang Uzumaki sama sekali tidak terlihat. Hanya meninggalkan onggokan beberapa buku yang berserakan di sana. Bahkan sang ayah yang bertugas untuk mengawasi pemuda pirang itu pun lenyap.

Sial! Seharusnya ia tidak meminta bantuan ayahnya, pria itu sama sekali tidak berbakat untuk menjaga Naruto.

"Aku harus menemukan Naruto sebelum makan siang." Gumam Sai pelan seraya berbalik untuk memulai mencari pemuda itu. Ia berlari cepat melewati beberapa para pelayan yang sedang sibuk melakukan tugasnya. Mereka membungkuk hormat saat Sai lewat, namun pemuda itu tidak membalas sama sekali. Prioritasnya sekarang adalah mencari Naruto. Mungkin saja pemuda itu sekarang berada di kamarnya.

"NARUTO!—" Sai berteriak memanggil. "—KAU DIMANA?!" Ia lari berkeliling dari bangunan utama hingga bangunan khusus untuk para pelayan, namun pemuda itu sama sekali tidak kelihatan. Setiap ruangan sudah dijelajahinya kecuali kamar dan ruang perpustakaan kerajaan.

"NARUTO!—" Sekali lagi pemuda itu berteriak memanggil. Matanya berkeliling menatap sekitar.

"Apa yang kau lakukan, Sai?" Suara Sasuke terdengar malas-malasan saat melihat sang adik terlihat panik dan bingung.

"Naruto hilang. Aku tidak tahu dimana dia." Lapor Sai dengan napas tersengal-sengal, kelelahan.

Sasuke mendengus pelan. "Dia tidak mungkin hilang. Dia itu sudah besar."

"Tapi dia tidak ada dimanapun, hyung."

"Mungkin sedang jalan-jalan?" Sahut pemuda raven itu lagi.

Sai berdecak kesal sembari memijat keningnya. "Sial, padahal dia harus belajar."

"Baiklah, akan kubantu kau mencari si idiot itu." Sasuke menepuk pundak sang adik dengan pelan. "—Kau cari di kamar dan aku akan mencari tempat lain."

Sai mengangguk cepat. "Cari dia di perpustakaan. Cuma tempat itu saja yang belum aku periksa."

"Oke, kalau menemukannya, aku akan meneleponmu." Ujar Sasuke seraya bergerak menuju perpustakaan kerajaan.

.

.

Di perpustakaan kerajaan, Naruto terlihat mengobrak-abrik beberapa dokumen serta perkamen tua yang tersimpan di beberapa rak buku. Tidak ada orang lain disana kecuali dirinya. Jadi dia bebas mengobrak-abrik seluruh buku sejarah hingga ke dokumen penting kerajaan. Namun satu hal yang lupa disadari oleh Naruto, semua tulisan di sana berhuruf hangul. Ia bahkan tidak bisa membaca satu huruf pun.

"Fuck!" Naruto membanting lembaran dokumen ke lantai dengan kesal. Marah pada dirinya sendiri karena tidak mengerti tulisan Korea. "—Kalau tahu begini, aku belajar bahasa Korea saja sejak masih kecil." Sungutnya lagi.

Naruto mendesah panjang, tubuhnya disenderkan ke sisi rak buku sembari memijat pertemuan pelipisnya dengan lelah.

'Usahaku percuma saja. Aku tidak akan bisa mengetahui sejarah orangtuku kalau tidak bisa membaca huruf hangul... Motherfu—!' Sumpah serapahnya terhenti saat matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah buku usang yang teronggok di lantai bersama dokumen yang dibantingnya itu.

Sedikit penasaran, Naruto berjongkok untuk mengambil buku yang mirip catatan harian tadi. Benda tadi memiliki cover tebal dari kulit hewan dan lembaran kertas yang sudah menguning dengan beberapa robekan disana-sini. Pemuda pirang itu membuka buku tadi dan menemukan tulisan Jepang dengan nama 'Minato' tertera disana.

"I—Ini buku harian ayah." Gumam Naruto pelan dengan nada kaget namun juga senang karena berhasil menemukan satu petunjuk. Setidaknya dengan ini, ia berharap bisa sedikit memahami kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu.

.

"Apa yang kau lakukan, Idiot?" Suara Sasuke di ambang pintu mengagetkan Naruto. Pemuda pirang itu dengan sigap langsung menyembunyikan buku harian sang ayah di balik jaketnya, kemudian menoleh dengan cengiran canggung.

"Oh, hai—" Sapanya.

"Jangan meng-'oh, hai' padaku. Katakan apa yang kau lakukan disini?" Tegas pemuda raven itu dengan nada kesal.

Naruto menggaruk belakang kepalanya, mencari alasan. "Uh—belajar?" Bohongnya.

"Disini? Dengan buku bertulisan hangul?" Sarkastik Sasuke.

"Oh ayolah, aku mencoba belajar bahasa Korea juga." Alasan Naruto lagi.

"Yeah, whatever. Kau dicari oleh Sai. Cepat temui dia dan belajar." Ujar Sasuke dengan nada malas seraya beranjak dari perpustakaan. Meninggalkan Naruto yang langsung bernapas lega.

Tangan tan-nya menyentuh buku yang berada di balik jacket. Ia harus segera membaca buku harian sang ayah. Hanya ini satu-satunya cara mengetahui kenapa Madara memanggil nama Minato saat menciumnya. Apa yang terjadi diantara dua pria itu? Dan apa hubungannya ini semua dengan Fugaku? Kenapa ayah dan ibunya pindah ke Jepang?

Terlalu banyak pertanyaan yang berlalu-lalang di otaknya, namun tidak ada satu pun jawaban rasional yang bisa menjelaskan itu semua. Setidaknya satu petunjuk ini akan memberitahu segalanya walaupun hanya sedikit informasi, setidaknya itu lebih baik dibandingkan tidak ada petunjuk sama sekali.

.

.

Belajar dengan Sai membuat Naruto menekuk wajahnya dengan suntuk. Ia ingin cepat-cepat selesai dan membaca buku harian milik ayahnya. Namun sekarang yang harus dilakukannya adalah bersabar dan membiarkan pemuda itu menjelaskan seluruh sejarah Korea—yang bagi Naruto sama sekali tidak penting untuk dihapal—hingga ke pelajaran matematika.

Dua jam berlalu dan Sai masih berceloteh panjang lebar. Naruto menguap pelan, tidak terlalu memperhatikan. Pikirannya melayang untuk menerka apa yang ada di dalam buku harian sang ayah. Mungkin rahasia kerajaan? Atau juga hubungan rahasianya dengan Madara?

Yang terakhir itu sukses membuat Naruto bergidik jijik. Demi jagat raya, Naruto bakal menolak dengan sepenuh hati kalau Minato berhubungan dengan pria mengerikan itu. For god's sake! Kalaupun ayahnya gay, bisakah ia mencari pria yang lebih tampan? Mungkin selevel Johnny Deep atau Robert Downey Jr? Atau mungkin Orlando Bloom dan Jensen Ackles? Setidaknya orang-orang itu sangat tampan dan kaya.

"Baiklah, kita belajar sampai disini saja." Ucap Sai seraya melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu makan siang. "—Kau istirahatlah dulu. Setelah makan siang, kau ada pelajaran lagi dengan Sasuke."

Naruto yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya dengan semangat. Ia tersenyum riang sembari bangkit dari meja baca. "Kalau begitu aku pergi dulu, Sai. Bye—" Ucapnya cepat seraya beranjak keluar dari paviliun dengan tergesa-gesa.

"Ingat, kau ada pelajaran dengan Sasuke setelah makan siang!" Seru Sai lagi, terakhir kali sebelum pemuda pirang itu berlari semakin jauh.

"OKE! SAMPAI JUMPA!" Balas Naruto lagi sembari melambai antusias. Ia berlari cepat melewati halaman depan bangunan utama, berbelok ke samping bangunan untuk menuju tempatnya yang berada di kediaman putra mahkota dan pangeran.

Langkah kakinya berdebam semangat menuju kamarnya. Dengan cepat ia menutup pintu setelah masuk ke dalam, kemudian melemparkan tubuhnya di ranjang dengan tidak sabaran.

Tangannya merogoh jaket untuk mengambil buku tadi. Dengan wajah sumringah lebar, jarinya mulai bergerak untuk membuka lembaran pertama buku tersebut. Tinta yang terlihat disana cukup buram termakan usia, namun masih dapat dibaca. Naruto mulai meneliti setiap huruf yang tertera di lembaran kertas itu.

.

4 Januari xxx

Ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Korea. Suasana yang nyaman membuatku ingin berlama-lama disini. Namun yang lebih penting adalah aku kuliah disini karena dibiayai pemerintah. Beasiswa lebih tepatnya.

.

Naruto mengangguk pelan. Ia sadar kalau ayahnya memang lulusan terbaik saat kuliah dulu. Jarinya kembali membuka lembaran kedua.

.

29 Januari xxxx

Aku melihatnya. Gadis berambut merah itu selalu duduk di taman sambil memakan bekal kotaknya. Aku mencoba mengajak mengobrol dan saat itulah aku jatuh cinta. Saat aku bertanya namanya, ia hanya memberitahuku marganya sajaKim. Well, gadis misterius sangat menarik bukan?

.

Pemuda pirang itu semakin tidak sabaran untuk membuka lembaran selanjutnya. Ia tidak menyangka kalau ayahnya seperti gadis belia yang suka menulis diary.

Pffft—lucu sekali.

.

27 April xxxx

Hanya dalam empat bulan kami pacaran dan kami sudah berada di atas ranjang. Jangan menyalahkanku kalau ia hamil, aku sama sekali tidak bisa mengontrol libidoku. Tapi apapun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab. Sayangnya, semua itu tidak berjalan mulus. Terlebih lagi saat aku mengetahui kalau ia adalah putri dari kerajaan Korea Selatan.

Fuck man! Ini bukan lagi masalah besar, ini adalah BENCANA!

.

"Dude, you're really fucked up." Gumam Naruto pelan sambil tertawa kecil. Tidak menyangka kalau ayah dan ibu mereka sangat liar dan suka menentang peraturan. Ia kembali membuka lembaran lain.

.

15 Juni xxxx

Aku sudah membulatkan tekadku untuk melamarnya. Aku membungkuk dalam-dalam di hadapan ibu pacarku. Mengatakan bahwa aku ingin menikahinya. Wanita itu mengangguk setuju dan menerimaku sebagai suami dari anaknya.

Tentu saja aku senang. Kami melangsungkan pernikahan yang lumayan megah dan besar. Semua berjalan seperti rencana. Aku dan istriku bahagia, namun masalah datang setelahnya.

Aku jatuh cinta dengan orang lain. Adik dari istriku. Sifat lembutnya membuatku luluh. Aku sadar ini salah, tapi aku tidak peduli. Mungkin aku terlalu muda dan sangat gampang terjatuh ke dalam konflik rumah tangga.

Ya!aku selingkuh dengan 'orang itu'.

.

Naruto terdiam kaku. Ia menatap kalimat itu dengan mata membelalak lebar.

'Selingkuh? Dengan orang itu? Siapa orang itu? Madara kah?' Terka Naruto dalam hati. Mengingat bahwa Madara mengecup keningnya sembari memanggil nama sang ayah membuat pemuda pirang itu yakin kalau 'orang' yang dimaksud Minato adalah Madara.

'Kenapa harus dengan si sombong angkuh itu?! Kenapa harus dengan Madara?! Setidaknya Hashirama lebih baik dibandingkan orang itu.' Rutuk Naruto lagi dalam hati.

Dengan kekesalan yang melimpah, Naruto kembali membuka lembaran selanjutnya.

.

2 Desember xxxx

Aku bekerja sebagai ilmuwan di salah satu laboratorium pemerintah Korea Selatan. Melakukan beberapa eksperimen manusia. Mereka bilang hal itu untuk masa depan umat manusia. Dan aku setuju. Tetapi Yang mulia ibu suri menolak ide gila itu, ia mengatakan bahwa hal itu menentang kekuasaan Tuhan dan tidak saharusnya manusia melakukan itu. Wanita itu menginginkan bahwa tempat itu harus dimusnahkan dan dijadikan markas militer saja.

Aku curiga bahwa wanita itu ingin membangun pasukan militer untuk menjajah Jepang. Ia dari dulu berambisi untuk menyatukan Korea selatan dan Jepang untuk keuntungannya dengan menjadi pimpinan pasar perekonomian dunia.

Aku akan menghentikannya apapun yang terjadi!

.

Naruto menghela napas lelah. Ia memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Ia memang menyadari bahwa sang nenek berambisi untuk menyatukan Korea selatan dan Jepang kemudian membangun negara baru. Tapi ia tidak menyangka bahwa rencana itu sudah dipikirkannya sejak dulu.

Wow! Kalau saja ada pemilihan peran antagonis terbaik, mungkin sang nenek akan memenangkan penghargaan tersebut.

Tok!Tok!—Suara ketukan di pintu langsung mengalihkan perhatian sang Uzumaki. Ia menutup buku tadi dengan cepat kemudian menoleh ke ambang pintu.

"Ya, masuk." Jawab Naruto dari dalam.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Sasuke yang terkesan malas-malasan. "Ini sudah waktunya makan siang. Kau kemana saja? Semua orang menunggumu." Ucapnya ketus.

Naruto melirik jam di kamarnya. "Ah, iya—aku lupa. Baiklah, aku akan segera kesana." Jawabnya dengan senyum tipis. Sasuke hanya mendengus pelan lalu berbalik menjauh.

Naruto menunda membaca buku tadi dan memilih untuk menyimpannya dulu di balik laci lemarinya. Ia perlu memikirkan fakta-fakta yang baru saja diketahuinya, yaitu bahwa neneknya sama sekali tidak pernah menolak pernikahan kedua orangtuanya, dan juga ternyata ayahnya berselingkuh dengan adik ibunya—yang diperkirakan oleh Naruto adalah Madara—dan kenyataan lain bahwa sang nenek dari dulu menginginkan Jepang dan Korea selatan bekerja sama, atau istilah lainnya—'menjajah' Jepang untuk dipaksa bergabung dengan Korea Selatan.

Pemuda pirang itu mendesah. Ia hanya mengetahui tiga hal itu, masih ada hal-hal lain yang tidak di mengertinya, seperti kenapa kedua orangtuanya lari ke Jepang dan apa maksud Sasuke yang mengatakan bahwa aib Fugaku-lah yang menyebabkan kedua orangtuanya pergi, serta rahasia lain yang masih belum terkuak.

'God! Sebenarnya apa yang terjadi di kerajaan ini?! Apa yang terjadi 20 tahun yang lalu?! Gah! Ini membuat kepalaku sakit saja!' Gerutu Naruto dalam hati sembari mengacak rambut pirangnya dengan frustasi.

.

Makan siang di keluarga kerajaan masih terlihat kaku seperti biasa. Naruto enggan membuka suara untuk meramaikan suasana seperti yang dilakukannya kemarin malam. Pikirannya tengah sibuk memahami kenyataan yang baru ditemukannya. Ia bahkan memakan hidangan yang disediakan tanpa nafsu sama sekali. Sumpitnya hanya mengaduk-ngaduk mie dihadapannya dan memakannya sedikit. Pandangannya kosong seakan-akan tengah menerawang ke dimensi lain.

"Kau tidak suka makanannya, Naruto?" Suara dari Kaguya membuyarkan lamunan pemuda pirang itu. "—Aku memang tidak suka ada yang bicara saat makan, tetapi melihatmu seperti itu membuatku penasaran." Jelasnya lagi.

Naruto sedikit tersentak kaget dan menggeleng pelan. "Aku hanya—err—mengulang pelajaran di otakku saja." Bohongnya.

Kaguya menatap tajam, berusaha mengetahui apakah pemuda itu sedang berbohong atau tidak. Namun sepertinya Naruto hebat dalam merubah raut wajahnya ke ekspresi santai, seakan-akan ia menikmati hidangan makanan dihadapannya.

"Ngomong-ngomong, paman Madara dan paman Hashirama kemana?" Tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Entahlah, mungkin sedang bertemu dengan Perdana Menteri. Mereka mengatakan ada rapat penting dengan pejabat negara." Sahut Sai cepat.

"Lalu bibi Mei? Aku tidak melihatnya seharian ini." Tanya sang Uzumaki lagi.

Sasuke mendengus kecil. "Dia sibuk bersenang-senang diluar. Jangan pedulikan wanita itu. Cepat makan dan setelah itu kita akan memulai pelajaran kita."

Naruto meringis pelan saat mendengar kata 'pelajaran'. Ia membenci satu hal itu. Seandainya saja otaknya mempunyai tangan dan kaki, mungkin otaknya akan memilih kabur dari rongga kepala daripada harus menjejalkan ilmu-ilmu itu ke dalam sana. Namun ia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak perintah itu saat melihat delikan tajam sang onyx.

Damn! Kalau Sasuke terus melotot seperti itu terus, mungkin saja matanya akan melompat keluar dan menggelinding jatuh.

Naruto menggelengkan kepala saat membayangkan hal mengerikan itu. Dan kembali makan dengan tenang. Setelahnya, ia langsung mengekor Sasuke ke dalam kamar untuk melanjutkan sesi pelajaran mereka. Yaitu—

"Style and fashion." Sasuke membuka suara saat keduanya sudah berada di dalam kamar pemuda raven itu.

Naruto mengerjap satu-dua kali. "Apa?"

"Kau tadi bertanya tentang pelajaran hari ini kan? Well, aku jawab 'style and fashion'." Ulang Sasuke lagi seraya membuka lemari pakaiannya.

"Wooo—Wooo—tunggu dulu. Kenapa aku harus belajar style and fashion? God, itu pelajaran yang paling mengerikan."

"Jadi kau lebih suka belajar kimia dan fisika, begitu?" Sela Sasuke lagi seraya mengambil dua buah buku yang mematikan itu dari laci mejanya.

"NOOO!" Naruto meraung keras sembari memegangi tangan sang onyx. "Tidak! Jangan! Please! Apa saja selain dua mata pelajaran itu. Aku mohon padamu." Rengek pemuda pirang tadi.

"Bukankah kau bilang tidak ingin belajar style and—"

"Aku salah, Sasuke! Aku yang salah!" Potong Naruto dengan lolongan miris yang sangat berlebihan.

Sasuke mendengus kesal. "Baiklah, hentikan wajah menangismu yang menjijikan itu. Kita akan belajar style and fashion." Ia mengambil dua baju. Satu berwarna putih biasa, satu lagi berwarna hijau cerah dengan model yang sangat—unik.

"Kalau kau disuruh memilih, kau akan memilih baju putih atau berwarna hijau cerah ini?" Tanyanya pada sang Uzumaki.

Naruto berpikir sejenak. "Tentu saja warna putih. Yang hijau sangat norak."

Plak!—Sasuke menggampar kepala pirang itu. "Salah!" Ia berseru keras. "Pilih yang benar!" Kesalnya.

"Uh—warna hijau?" Jawab Naruto lagi, tidak yakin.

Sekali lagi sang onyx menggampar kepala pirang itu dengan jengkel. "Salah, Idiot!" Sasuke melempar kedua baju itu dengan rasa jijik. "—Yang satu sangat kuno dan satu lagi norak. Kau tidak bisa memilih salah satunya. Kau harus berpikir, jangan asal berpakaian." Petuahnya panjang lebar.

Naruto mengelus kepalanya sembari meringis pelan. "Uhh—okay? Jadi aku harus memilih apa?"

Bukannya menjawab, Sasuke malah membuka lemari pakaiannya dan menunjukkan beberapa koleksi pakaiannya yang menggunung. Naruto bahkan tidak menyangka kalau di balik lemari berukuran biasa itu tersimpan ruang rahasia yang menampilkan ribuan koleksi baju. Damn! Ini seperti film Men In Black, hanya saja yang dibalik lemari bukanlah senjata, melainkan beberapa model baju yang berkualitas mahal.

Bibir Sasuke menyeringai puas saat melihat wajah tercengang sang Uzumaki. "Kau yang pilih. Dan aku yang akan menilai."

"Huh? Aku yang memilih? Dari ribuan koleksimu ini?"

"Cepat pilih, Idiot. Jangan banyak bertanya." Ketus pemuda raven itu lagi.

Dengan pasrah dan terpaksa, Naruto akhirnya menuruti ucapan Sasuke. Ia meneliti sejenak dan mengambil beberapa pakaian yang dilihatnya menarik. Namun tanggapan sang onyx hanyalah gelengan kepala yang menyatakan bahwa pilihan Naruto sama sekali tidak bagus. Bahkan Sasuke tidak segan-segan menggampar kepala pirang itu dengan gulungan buku tebal kalau yang dipilih Naruto hanyalah kaos putih oblong yang sama sekali tidak menarik.

Dua jam berkutat dengan pakaian itu, membuat jiwa raga sang Uzumaki lelah. Ia bahkan bolak-balik berganti baju hanya untuk melihat penilaian Sasuke—yang tentu saja, semua pilihan Naruto ditolak mentah-mentah oleh pemuda raven itu. Apapun yang dipilihnya, semuanya salah dimata Sasuke. Walaupun ia berusaha keras, tetap saja pemuda onyx itu mengatakan bahwa Naruto masih kurang style.

For god's sake!—Naruto sama sekali tidak mengerti sentuhan fashion Sasuke. Haruskah ia memakai baju berlapis-lapis atau bergaya robek-robek? Atau mungkin berpakaian ala rocker lalu berkata 'Yo, 'sup bitch.' dan sejenisnya?

Fucking hell! Ia benar-benar buta dalam berpakaian.

"Sasuke, bisakah kita berhenti sejenak? Badanku pegal-pegal kalau harus berganti baju lagi." Mohonnya dengan suara lirih. Membuat Sasuke terpaksa setuju dengan decakan kesal.

"Baiklah, kita istirahat 30 menit." Perintah sang onyx lagi.

Naruto mendesah lega dan membaringkan tubuhnya di lantai dengan posisi nyaman. Sedangkan matanya tidak beralih dari sosok Sasuke yang tengah merapikan beberapa pakaian yang berserakan di lantai. "Katakan Sasuke, apa kau dan Sai sangat pintar dalam pelajaran?"

"Ucapan apa itu? Penghinaan gaya baru?" Sinis sang onxy lagi dengan delikan tajam.

"Aku tidak menghina. Aku hanya penasaran. Kita sama-sama berumur 20 tahun namun sepertinya kau dan Sai sangat pintar." Ucap Naruto lagi.

Sasuke mendengus pelan sebelum menjawab. "Kami berdua sudah lulus kuliah di luar negeri dengan nilai cumlaude, tentu saja kami pintar."

"Woow! Serius?! Kuliah diluar negeri dan lulus dengan nilai cumlaude semuda ini?—Damn! Kalian benar-benar jenius." Puji Naruto seraya menatap sang onyx dengan tatapan kagum.

Pemuda raven itu mendengus geli. "Bagaimana denganmu? Aku dengar kau juga lulus dengan cepat dari universitas Jepang. Itu sangat hebat."

"Yeah—tapi tidak sehebat kalian." Sahut Naruto lagi sembari menyangga belakang kepalanya dengan kedua lengan. Menatap langit-langit kamar. "Uhm, Sasuke? Kenapa kau menjadi ulzzang? Apakah ada alasan khusus?"

"Tidak. Aku hanya ingin bersenang-senang saja." Jawab Sasuke cepat.

Naruto bangkit dari lantai dan bergerak untuk mengambil salah satu lipstick di atas lemari. "Apakah kau juga memakai lipstick ini, Sasuke?"

Sasuke menoleh kemudian menggeleng. "Tidak. Aku tidak memakai lipstick. Itu punya bibi Mei. Wanita itu suka seenaknya sendiri dengan kamarku.

Sang Uzumaki terkekeh sebentar. "Mungkin kau akan terlihat cantik kalau memakai lipstick, Sasuke." Godanya lagi dengan seringai jahil.

Pemuda raven itu mendelik galak saat Naruto bergerak ke arahnya dengan persenjataan sebuah lipstick. "Jangan macam-macam, Idiot!"

"Oh ayolah, aku ingin melihatmu memakai lipstick. " Tukas sang Uzumaki lagi seraya menyambar pergelangan tangan Sasuke sebelum pemuda raven itu kabur.

"Lepas!" Sasuke berontak, berusaha menendang dengan brutal.

"Hey! Jangan main tendang! Itu licik!"

"Lepaskan aku! Aku tidak ingin memakai lisptick!"

"Kalau begitu, aku akan mencoret-coret tubuhmu saja dengan lipstick." Balas Naruto sembari mendorong tubuh ramping itu ke lantai dan menindihinya dengan badannya. Tangan kirinya menahan kedua pergelangan tangan Sasuke ke atas kepala, sedangkan yang kanan berusaha melepaskan baju yang dipakai pemuda raven itu.

"Naruto, lepaskan aku! Atau aku akan menghajarmu!"

Naruto menyeringai jahil saat melihat korbannya sudah telanjang dada di hadapannya. Ia menggigit tutup lipstick dan membukanya dengan gigi, kemudian meludahkan benda itu ke lantai. "Waktunya mencoret-coret." Kekehnya licik.

Sasuke kembali protes saat ujung lisptick berwarna merah itu mulai menari di atas tubuhnya. Menggambar beberapa lingkaran di bagian dada dan wajah tersenyum di bagian perut. Naruto terlihat menikmati lukisannya di kanvas kulit itu. Ia menggambar dua gunung dengan matahari di tengah-tengahnya. Tipikal gambaran anak SD.

Sasuke yang tadinya meronta keras, kini hanya bisa menghela napas lelah saat menyadari tingkah kekanakan pemuda pirang itu. "Apa kau sudah selesai bersenang-senang? Kalau begitu, lepaskan aku sekarang."

Naruto terlihat tersinggung mendengar ucapan pemuda raven itu. Dengan kesal, ia memuntir dua puting milik Sasuke hingga pemuda itu mengerang kesakitan. Membuat sang onyx menghentikan ucapannya.

"Diam, Brengsek! Aku masih ingin mencoret-coret tubuhmu."

Sasuke menanggapi perkataan itu dengan tatapan death glare. "Aku bersumpah akan menghajarmu, Idiot." Desisnya lagi sembari meronta keras.

"Menghajarku?" Naruto terkekeh pelan. "—Coba saja kalau kau bisa." Tantangnya lagi seraya menggapai dua puting Sasuke dan memuntirnya—lagi—dengan keras.

Tubuh ramping itu tersentak kecil. "Nyaahh~" Ia mengerang, namun langsung menutup mulutnya saat menyadari bahwa erangannya terlalu—

"Imut." Naruto bergumam pelan dengan mata terbelalak lebar menatap wajah sang onyx. Ia tidak menyangka bahwa Sasuke—si manusia angkuh dan galak—bisa mengeluarkan desahan yang sangat sensual. "Mengerang lagi, Sasuke. Ayo mendesah." Paksa pemuda pirang itu dengan mata berbinar kagum.

Sasuke mendelik sinis. "Tidak mau! Lepaskan ak—Nyaah~" Ia mendesah lagi saat Naruto kembali memilin dua tonjolan pink di dadanya itu. Wajah sang onyx memerah dengan cepat, menampilkan wajah yang sangat erotis dan menakjubkan. Benar-benar membuat pemuda pirang itu meneguk air liurnya dengan tatapan lapar.

"Hentikan, Naruto. Tubuhku sangat sensitive dengan sentuhan." Mohon Sasuke seraya mendorong tangan pemuda pirang itu dari dadanya. Namun Naruto tidak terlihat akan menuruti ucapan Sasuke. Ia bahkan semakin gencar memainkan dua puting yang mulai mengeras itu. Mencubitnya lembut dan memilinnya pelan. Sesekali menariknya kuat untuk memberikan sensasi sengatan listrik statis yang membuat tubuh ramping itu bergetar.

"Ahhhn—nyahhh~" Desahan Sasuke terlalu manis. Seperti suara kucing yang ingin dimanja. Ditambah lagi wajah erotisnya dengan mulut membuka penuh cairan saliva, membuatnya semakin menggairahkan. Siapa sangka kalau manusia paling angkuh dan galak di seluruh dunia adalah orang yang sangat sensitif. Hanya dengan belaian kecil saja sudah membuatnya mendesah hebat.

Naruto meneguk air liurnya lagi. Padahal ia hanya bercanda dengan Sasuke, namun candaannya seperti boomerang untuknya sendiri. Tepat menghantam akal sehat dan libido remajanya.

"Ahhnn—Ahhh—" Tubuh Sasuke menggelinjang saat Naruto sama sekali tidak berhenti mempermainkan dua nipples-nya itu. Kedua tangannya berontak untuk melepaskan remasan Naruto di dadanya. "—Ahh! Lepas! Nghh!"

Naruto tidak mempedulikan permohonan itu. Ia masih terus memainkan dua tonjolan pink tadi. Memilinnya, memuntir dan mengelusnya dengan hati-hati, seakan-akan tubuh Sasuke terbuat dari porselin mahal yang akan hancur kalau ia memperlakukannya kasar. Ia tidak pernah sangat terangsang seperti ini saat bersama cowok lain, bahkan Sai yang pernah menyelinap ke kasurnya pun tidak bisa membuatnya bergairah. Tetapi Sasuke berbeda, hanya dengan melihat pemuda raven itu saja sudah membuat libido Naruto terpompa hebat.

Apakah ia mulai menyukai cowok? Apakah orientasinya berubah karena Sasuke? Ini tidak bagus. Naruto harus membuktikan bahwa dirinya masih straight. Dan satu-satunya cara untuk menunjukkan dirinya normal adalah dengan mencium Sasuke. Kalau ia jijik, berarti ia masih menyukai cewek.

'Benar! Hanya itu satu-satunya jalan.'—Setuju dengan pemikiran konyolnya tadi, Naruto mulai mencondongkan tubuhnya. Membawa wajahnya untuk mendekat ke bibir sang onyx.

"Naruto!—Ahhn!—apa yang kau lakukan, Idiot?!" Sasuke menggeleng panik saat wajah pemuda pirang itu semakin mendekat. Ia mendorong kepala Naruto dengan kasar.

Dengan decakan kesal, Naruto langsung menangkap kedua tangan Sasuke dan menahannya di lantai. "Aku harus menciummu, Sasuke."

"What?! Are you crazy?!—Kenapa kau ingin menciumku?!"

"Untuk membuktikan bahwa aku masih straight." Sahut pemuda pirang itu dengan tampang serius. Cukup membuat Sasuke tercengang tidak percaya.

"What?!"

"Dengar, Sasuke—" Naruto mulai bicara lagi. "—Mungkin ini terdengar sangat tidak masuk akal. Tetapi saat bersamamu gairahku langsung meluap, dan itu tidak pernah terjadi saat aku bersama Sai."

"Kau—apa? Bersama Sai?!"

"Itu bukan masalah sekarang. Yang terpenting adalah orientasiku."

"Tentu saja itu adalah masalah, Idiot! Apa yang kau lakukan dengan Sai?!—Kau apakan adikku?!" Seru Sasuke mulai emosi.

"Hey! Jangan menatapku seakan-akan aku ini penjahat kelamin. Sai yang masuk sendiri ke dalam selimutku dan—"

"Sai masuk ke dalam selimutmu?! No fucking way?!—Pasti kau yang memaksanya!" Sahut Sasuke setengah berteriak.

"For god's sake! Kenapa aku harus memaksanya?! Dia sendiri yang menyelinap masuk ke dalam selimutku saat aku tidur!" Balas Naruto dengan erangan kesal. "—Jadi diamlah dan biarkan aku menciummu!" Ucapnya lagi.

Belum sempat Sasuke kembali memprotes ucapan pemuda pirang itu, Naruto sudah lebih dulu menggapai belakang leher pemuda raven itu dan menariknya dengan cepat. Membenturkan kedua bibir mereka dengan kuat namun juga lembut.

Manik onyx Sasuke terbelalak lebar saat merasakan sentuhan di bibirnya. Kecupan singkat yang basah dan lunak. Ia kembali berontak dengan mendorong tubuh dan kepala Naruto untuk menjauh.

"Hmphh!—Stop!—Nghmphh!"

"Jangan—mphh—bergerak—mmphhmm—" Naruto menahan kedua tangan pemuda raven itu untuk tetap berbaring di lantai. Sedangkan dirinya sendiri sibuk membenturkan bibir ke mulut Sasuke.

Memang niat awal Naruto berciuman hanyalah karena rasa penasaran semata, namun akhirnya malah tergoda untuk melakukan lebih. Ia terus meraup bibir itu tanpa henti, menikmati mulut yang mengeluarkan saliva manis tersebut. Oh god! Naruto memang sering berciuman dan melakukan hal 'di atas ranjang' dengan beberapa cewek, tetapi tidak pernah seintim sekarang ini. Seakan-akan jantungnya ingin melompat keluar dari balik rongga dada, membuat libidonya terpompa secara perlahan.

Naruto melepaskan kecupannya dengan napas tersengal-sengal. Mata birunya menatap lekat ke arah manik hitam itu, mencari sedikit percikan kemarahan atau kebencian. Namun yang ada disana hanyalah tatapan erotis dan sensual yang mengundang gairah. Pemuda raven itu berusaha menyembunyikan wajahnya di balik lengan, menutupi rona merah yang merambat di pipinya.

"Cukup, Idiot! Sekarang lepaskan aku." Perintah Sasuke lagi.

Namun Naruto tidak menjawab dan hanya terpana memandang sikap angkuh pemuda raven itu yang entah kenapa sangat imut untuk dilihat. "Belum. Aku ingin mencoba satu hal lagi."

"A—Ap—hmphh!" Kalimat Sasuke lagi terhenti saat pemuda pirang itu kembali meraup bibirnya. Kali ini bukan hanya ciuman biasa, melainkan deep kiss yang menggunakan lidah.

Sasuke panik dan kelabakan saat benda lunak dan basah itu merayap ke celah bibirnya, meminta ijin untuk mengakses rongga mulutnya. "Nghmphh!—Hnnmph!" Ia mengerang keras, mencoba menolak lidah sang Uzumaki yang sudah menginvasi mulutnya.

Naruto menjilat lidah Sasuke dan menghisap bibir itu dengan kuat, seakan-akan ingin menyatakan dominasinya. Sedangkan kedua tangannya bergeriliya masuk ke dalam baju pemuda raven itu. Menangkap dua puting yang sudah mengeras di dalam sana. Jarinya mencubit dan memuntir dengan lembut, memberikan sensasi yang menakjubkan pada seluruh tubuh Sasuke.

"Ahhn!—Nghhh!" Sang onyx mendesah, tubuhnya menggelinjang pelan saat sang dominan terus mengelus dua tonjolan pink di dadanya itu.

Naruto yang melihat betapa menggodanya tubuh putih itu hanya bisa meneguk ludah karena terangsang. Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau dihadapannya adalah seorang cowok—pemuda yang juga memiliki kelamin sama dengannya. Sayangnya, otaknya sama sekali tidak peduli dan terus menghantarkan aliran darah untuk memenuhi selangkangannya hingga benda itu menegak.

Celana sang Uzumaki menyempit saat merasakan benda yang berada di dalam sana mulai membesar dan berdenyut-denyut. Ia melepaskan pegangannya di dada Sasuke dan membuka retsletingnya, mengeluarkan kejantanannya yang licin penuh precum.

Sasuke membelalak terkejut. Raut wajahnya berubah ngeri saat melihat betapa besar dan berototnya milik pemuda pirang itu. "Na—Naruto, apa yang kau lakukan?! Ini sudah kelewatan! Hentikan sekarang jug—Hmmphh!" Mulut pemuda itu langsung dibungkam oleh bibir sang dominan. Lagi-lagi ciuman yang menyatakan perintah untuk berhenti berontak dan tetap diam.

Sayangnya, Sasuke lahir untuk menjadi pemberontak. Ia meronta sekuat tenaga untuk membebaskan dirinya dari jamahan pemuda pirang itu. Tangan dan kakinya berusaha keras memukul dan menendang tubuh sang Uzumaki, namun sosok itu sama sekali tidak goyah, bahkan langsung mengunci seluruh pergerakan Sasuke dengan kedua tangannya. Membuat pemuda raven itu tidak bisa bergerak saat tubuhnya ditindihi semakin kuat.

"Nghmphh!—sesak—hmphh!" Sasuke mengerang pelan disela cumbuan mereka. Membuat Naruto langsung menghentikan ciuman dan melonggarkan tindihannya.

"Ma—maaf." Ucap sang Uzumaki lagi. "—Apakah ciumanku membuatmu tidak bisa bernapas?" Tanyanya khawatir.

Sasuke tidak menjawab dan hanya melirik celananya sendiri. Selangkangannya mulai mengeras hanya karena ciuman panas itu, membuat harga dirinya langsung runtuh, sebab yang menciumnya adalah si idiot Naruto. "Lepas—hhh—aku tidak ingin lagi berciuman." Pintanya.

Naruto yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh arti. "Tapi milikmu sudah menegang, Sasuke." Ucapnya dengan suara bariton yang menggoda. Jarinya merayap untuk menyentuh selangkangan sang onyx.

"Jangan sen—!"

"Aku bisa membantumu—" Naruto menyela dengan cepat. "—Kita bisa saling menikmati dan menganggap semua ini hanyalah mimpi. Tidak pernah terjadi." Bisiknya lagi di telinga pemuda raven itu.

Sasuke terdiam. Mata hitamnya menatap ragu ke arah iris sapphire tersebut. "Menganggap mimpi dan tidak pernah terjadi?" Ulangnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Naruto mengangguk dan mencium kening sang onyx. "Ya—" Kecupan dijatuhkan ke hidung dan pipi. "—Kita anggap tidak pernah terjadi." Kemudian bibirnya bergerak mengecup mulut yang sensual itu. "—Jadi nikmatilah sebentar."

Sasuke seakan-akan terhipnotis oleh perkataan dan kecupan yang diberikan oleh sang dominan. Tanpa sadar ia mengangguk pelan dan menerima cumbuan itu. Hanya untuk hari ini dan kali ini saja ia menuruti perkataan Naruto, setelahnya, ia akan mencoba melupakan semuanya.

Menganggap semua ini adalah mimpi dan tidak pernah terjadi. Toh dia sendiri juga tidak rugi 'kan? Jadi Sasuke hanya diam dan menikmati setiap jengkal sentuhan sang dominan di tubuhnya.

Kedua tangan Sasuke bergerak untuk melingkar ke leher Naruto, menarik tubuh itu untuk terus memberikan pagutan yang dalam dan penuh gairah. Lidah bertaut, bibir saling menghisap dan saliva bercampur dengan ganas, memeriahkan pergulatan intim yang terjadi di kamar sepi itu.

Naruto merengkuh tubuh ramping itu tidak sabaran. Otaknya tidak peduli lagi dengan alasan orientasi seksualnya. Untuk apa memikirkan straight atau gay saat dihadapanmu terhidang santapan lezat yang sangat menggiurkan. Bahkan akal sehat pun menyerah dan memberikan kekuasaan penuh pada libido yang berada di selangkangan.

Kedua tangan tan itu melepas baju Sasuke dengan tidak sabaran. Kemudian meremas dada pemuda itu dan memainkan kedua putingnya, membuat sang onyx mengerang keras. Nafsu tercampur menjadi satu dengan yang lainnya, libido terpompa hebat meningkatkan keintiman tersebut, hingga akhirnya dua tubuh yang saling bertentangan itu kini melekat layaknya magnet. Kecupan, pelukan dan gerakan sensual dilakukan Sasuke untuk menambah gairah mereka.

Tangan putih Sasuke melepaskan celananya sendiri dan menunjukkan kejantanannya yang sudah menegak menatang gravitasi. Tetes precum terlihat di ujung penisnya, sangat menggoda untuk dijilat.

Naruto tersenyum senang menerima undangan sensual itu. Ia bangkit perlahan dan juga melepaskan bajunya sendiri. Enam otot terlatih di perutnya membuat Sasuke meneguk air liur antara tergoda dan iri, ditambah dada bidang pemuda pirang itu yang membingkai badan atletisnya, membuat sosok itu sangat menakjubkan. Belum lagi kulit tan yang eksotis dan rambut spiky pirang pendek yang berantakan, benar-benar wujud sempurna seorang penakluk wanita.

Ah!—Bukan hanya penakluk wanita, melainkan juga pria.

"Kau suka tubuhku?" Suara bariton rendah bernada menggoda itu keluar dari bibir Naruto. Siapa sangka suara yang biasanya cempreng dan suka berteriak tidak karuan itu ternyata menyimpan melodi yang memabukkan. Bahkan pesonanya tidak dapat ditolak oleh si angkuh Sasuke.

"—Kalau begitu jilatlah." Naruto menggoda lagi. Ia menarik dagu Sasuke dan membiarkan sang onyx menjilat enam otot di perutnya itu dengan gerakan menggoda. Lidah basah dan licin Sasuke merayap untuk merasakan perut atletis tersebut. Turun perlahan ke bagian pinggul dan berhenti tepat di selangkangan sang dominan yang terekspos sempurna.

Iris hitamnya bisa melihat penis Naruto yang sudah menegak sempurna dengan precum basah yang ada diujungnya. Denyutan otot benda keras itu seakan-akan menggoda mulut Sasuke untuk segera menyantapnya.

Seakan dihipnotis, Sasuke mulai mendekatkan bibirnya dan membuka celah mulutnya untuk melahap benda besar dan berotot itu. Rasa yang dikecapnya pertama kali adalah getir dan asin, bukan rasa yang disukai oleh pemuda raven itu. Ia mengernyit sejenak sebelum memulai jilatannya, memerangkap libido sang dominan di bawah kendalinya.

"Ghhk!—Ahhh—hhh—" Naruto mendesah kecil saat merasakan sensasi hangat dan basah dari mulut Sasuke. Ia menikmati saat rongga kecil itu terus mengulum kejantanannya—walau tidak sehebat cewek yang pernah dikencani olehnya. Skill blowjob Sasuke masih dibawah rata-rata, dan itu membuat kulit penisnya ngilu saat tergesek oleh gigi. Tapi disanalah sensasinya saat bercinta dengan seseorang yang masih amatiran, membuatnya bergairah dan merasa superior.

Jari-jemari Naruto menyisir surai hitam sang onyx dengan lembut sebelum menarik kepala itu untuk terus mengulum selangkangannya lebih dalam."Ghhk!—hhh—Sasuke—" Ia mengerang pelan. Menikmati lidah yang terus memanja organ vitalnya itu.

Sasuke berusaha sekuat tenaga mengulum benda besar itu di mulutnya. Cairan precum getir milik Naruto terus membasahi kerongkongannya dan meluncur pelan ke lambungnya. Kepalanya maju-mundur di alat kelamin pemuda itu, ia bahkan bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari benda tegak dan bulu pubis milik sang Uzumaki. Menggelitik sensor penciumannya sampai membuatnya mabuk kepayang.

Sang onyx melepaskan bibirnya dari benda itu dan beralih ke dua bola testikel milik Naruto. Menjilat dan menghisapnya dengan hati-hati, membuat paha sang dominan langsung bergetar nikmat.

"Hhh—kau hebat—" Naruto memuji. Ia mengelus bibir mungil yang kini sibuk mengecup dua bolanya.

Sasuke menanggapinya dengan erangan pelan. Kemudian kembali beralih ke ujung kejantanan pemuda pirang itu, lidahnya bermain dengan lubang urinal yang terus meneteskan precum. Menjilat dan menghisap lubang tadi dengan rakus. Menyeruput layaknya sedang menyedot minuman kesukaannya.

Naruto menggeram pelan, berusaha menguasai gerakan dan sikapnya. Seorang dominan tidak boleh terbuai oleh sentuhan pasangannya. Ia harus tetap tenang dan bersikap seolah-olah dirinya memang patut mendapat kenikmatan itu.

"Cukup—hhh—" Naruto menghentikan kuluman Sasuke saat merasakan alat kelaminnya berdenyut keras, hampir keluar. Kalau ia kalah dalam pergulatan panas yang singkat ini, dirinya akan malu menyandang gelar penakluk wanita di ranjang.

Sasuke menurut, ia melepaskan hisapannya dan berbaring di lantai dengan pose yang sangat sensual. Pahanya membuka, menunjukkan kejantanannya yang menegak. Wajahnya memerah dan mata sayunya memercikan gairah yang meluap-luap. Ia ingin segera bersetubuh sekarang juga, layaknya kucing di masa kawin. Tidak sabaran dan tergesa-gesa.

Naruto mengerti bahasa tubuh yang diberikan oleh Sasuke. Ia memulai aksinya dengan menindihi pemuda raven itu dan memberikan ciuman yang panjang dan penuh nafsu. Sedangkan tangannya yang sudah dibasahi oleh air liur mulai bergeriliya menuju lubang anal sang onyx. Membuat Sasuke mencengkram bahu sang dominan dengan kuat saat merasakan jari tan nakal itu mulai menusuk anusnya dengan hati-hati.

"Ahhnn!—Ahhk!—Sakit—" Sasuke masih mengerang keras. Tubuhnya bergetar ketika jari telunjuk Naruto mulai bergerak di dalam sana dengan perlahan.

"Sabarlah—hhh—ini untuk melonggarkan jalanku agar bisa memasukimu." Ucap Naruto lagi seraya mengecup bibir ranum itu untuk meredam erangan Sasuke.

"Apa maksudmu—hmmph!—dengan memasukiku?—Nghmph!" Tanya Sasuke disela cumbuan mereka.

Naruto tidak menjawab dan mulai memposisikan pinggulnya di pantat sang onyx. "Jangan khawatir—hhh—ini akan nikmat." Ujarnya lagi.

"Tu—Tunggu dulu—" Sasuke panik. Matanya terbelalak lebar saat merasakan lingkaran anusnya di gesek oleh ujung penis sang Uzumaki, seakan-akan memberi salam perkenalan terlebih dahulu sebelum memasuki lubang hangat itu.

Naruto membelai paha sang onyx dengan lembut sebelum melebarkannya, memberikannya akses untuk menatap lubang anal yang berkedut itu. "Aku akan masuk—hhh—tahan, oke?" Pintanya lagi sembari menggerakkan pinggulnya maju.

Sasuke tersentak. Tubuhnya mengejang saat penis sang Uzumaki mulai memasuki bagian bawah tubuhnya dengan perlahan. Menginvasi lubang analnya dengan perlahan. Kedua tangannya mencengkram bahu Naruto dengan kuat, sedangkan mulutnya terbuka mengeluarkan jeritan sunyi. "Ahhk!—Ahhhkk!—" Rintihan sakitnya membuat sang dominan yang sedang menatapnya langsung cemas.

"Sasuke?—Hhh—kau tidak apa-apa?"

"Sakit, Naruto!—Ahhkk!—" Sasuke menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat, berusaha mengusir rasa perih di lubang analnya.

Iris biru Naruto melirik sekilas ke bagian bawah Sasuke dan mendapati lubang itu agak berdarah karena luka. Sepertinya ia belum cukup melebarkan liang tadi. "Shit—hhh—" Ia merutuki kebodohannya sendiri karena terlalu tergesa-gesa dan tidak sabaran. "—Aku akan bergerak pelan—hhh—bersabarlah oke?" Ucapnya lagi dengan lembut.

Sasuke mengangguk susah payah. Lengannya melingkar di leher Naruto dan membiarkan pemuda pirang itu memulai sodokannya. "Bergeraklah seperti biasa—Ahhhk!—buat aku nikmat—"

Naruto mengangguk. Ia menarik pinggang ramping itu untuk semakin mendekat, kemudian mencumbu bibir itu dengan kecupan panjang. Sedangkan pinggulnya mulai bergerak keluar-masuk dengan ritme konstan. "Hhh—ahhh—Sasuke—hmphh!—"

Sasuke menanggapi desahan sang dominan dengan erangan yang sangat menggoda. Wajahnya menampilkan ekspresi erotis yang tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain. Mata sayu dengan cairan airmata, bibir terbuka dengan lidah terjulur meneteskan saliva, serta pipi merahnya yang sangat menawan, membuat siapa saja yang melihat sosok Sasuke sekarang akan langsung terangsang—tidak peduli apakah orang itu cowok atau cewek—mereka pasti akan 'memakan' habis sang onyx.

Seperti sekarang yang dilakukan oleh Naruto. Otaknya berusaha keras berteriak mengatakan bahwa yang sedang bersenggamanya dengannya ini adalah seorang pemuda yang sangat angkuh—bahkan termasuk kategori manusia yang dibenci oleh Naruto—akan tetapi bagian selangkangannya tidak peduli dan terus menghantam lubang anus itu tanpa ampun. Seakan-akan kejantanannya punya pemikiran sendiri bahwa gender tidak akan menjadi masalah kalau sudah menyangkut nafsu birahi. Tipikal nafsu manusia.

Naruto mendongakkan kepala dengan mulut terbuka, berusaha menangkap oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan pinggulnya terus menggagahi anal sang onyx dengan hentakan keras dan dalam. Kedua tangannya mencengkram pinggang Sasuke agar terus bergerak untuk memanja penisnya. Ia menyukai sensasi hangat dan remasan dinding rektum pemuda raven itu. Sangat berbeda saat ia bercinta dengan cewek. Lubang anal Sasuke lebih ketat dan hangat, membuat kewarasannya menghilang total. Tergantikan oleh gairahnya.

"Ahhhk!—Naruto!—Nghhh!" Sasuke melenguh. Tubuhnya terhentak seirama oleh sodokan sang dominan di bagian pantatnya. Ia menarik kepala Naruto ke dadanya dan membiarkan pemuda pirang itu menghisap putingnya layaknya bayi yang baru lahir. Sasuke menyukai saat Naruto menjilat tonjolan pink di dadanya itu sembari menyodok lubangnya tanpa henti.

Gerakan mereka terkesan liar dan brutal. Seolah-olah mereka sudah tidak sabar untuk mencapai puncak kenikmatan bersama.

Jantung Naruto berpacu kencang. Menggebu-gebu saat melihat keerotisan yang ditampilkan tubuh putih dihadapannya itu. Ia meninggalkan kissmark di dada dan bagian leher Sasuke, menyatakan dominasinya. "Hhh—nikmat—fuck!—hhgg! Sasuke—" Ia memanggil dengan suara rendah bernada parau. Sepertinya rangsangan libido itu membuat pita suaranya hampir rusak karena terus mendesah hebat. Well, Naruto tidak peduli. Asalkan anus hangat itu terus memanja penisnya, ia tidak masalah kalau harus kehilangan suaranya.

"Berbalik—hhh—" Naruto memberikan perintah. Ia memutar tubuh ramping Sasuke untuk bertumpu dengan kedua tangan dan lutut, sedangkan pantatnya ditunggingkan menghadap pemuda pirang itu.

"—Aku akan masuk—ghhkk!" Pinggul Naruto bergerak maju dan mulai menggenjot lubang itu dengan cepat. Berusaha menghantam prostat sang onyx.

"Ahhhk!—Ahhh!—Naruto!" Sasuke mendesah hebat saat merasakan bagian dalam tubuhnya diobrak-abrik oleh kejantanan pemuda itu. Ia bisa merasakan gerakan penis Naruto yang menyodoknya dengan kuat dan diselingi gerakan memutar di dalam sana. Menambah sensasi sengatan listrik statis ke seluruh organ dalamnya. Begitu nikmat.

Naruto menggeram rendah, berusaha menahan pinggulnya agar tidak menggenjot lebih brutal. Ia harus bisa menguasai gerakan hentakkannya dengan tempo tetap. Namun keerotisan tubuh Sasuke membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan lebih memilih mengikuti hawa nafsunya.

Sang Uzumaki mencengkram pinggul Sasuke dengan kuat, dan kembali menyentakkan batang kejantanannya ke dalam lubang anus itu dengan kuat dan cepat. Tubuh Sasuke melengkung dengan pantat yang ditunggingkan tinggi ke arah sang dominan, memberikan akses lebih bagi organ vital tadi untuk menyodoknya.

"Ahhhk!—Naruto—Nghhhh!" Pemuda raven itu kembali melenguh keras. Menambah ramai bunyi di kamar yang sebelumnya sunyi itu. Suara becek dari arah lubangnya membuat telinga mereka tuli dengan bunyi yang sangat menggairahkan.

Hentakkan dan sentakkan dipercepat. Dengus napas Naruto yang berat menyatakan bahwa pemuda pirang itu sedikit lagi hampir mencapai puncak kenikmatannya.

"Ghhk!—Sasuke—aku tidak tahan—Ahhh!" Naruto terengah-engah pelan disela ucapannya. Sedangkan pinggulnya terus melakukan genjotan di anus basah itu.

"Ahhh!—Aku juga, Naruto—Ahhnn!" Balas Sasuke seraya menoleh ke belakang, meminta ciuman. Naruto mencondongkan wajah untuk menggapai bibir sensual tadi. Mereka melakukan pagutan dan cumbuan yang memabukkan dengan saliva yang saling terjalin satu sama lainnya.

Naruto menyodok lubang anus itu semakin brutal dan tidak sabaran. Otot perutnya mengejang saat merasakan pijatan dan remasan yang dilakukan dinding rektum sang onyx pada penisnya. Ia menggeram keras saat kenikmatan itu sedikit lagi membuatnya melayang ke surga. "Aku—Aghhk!—Keluar!" Pinggulnya menghentak terakhir kali sebelum membenamkan seluruh batang kemaluannya itu ke dalam anus Sasuke. Memenuhi liang hangat itu dengan semburan spermanya.

Sasuke juga hampir mencapai titik puncak kenikmatannya. Ia mengocok organ vitalnya sebelum selangkangannya bergetar dengan hebat. Dengan napas tercekat, pemuda raven itu mengerang keras. "Ahhhk!—Naruto!—Aku keluar!—AHHKK!" Cairan putih kental itu tersemprot keluar dengan ganas dari ujung penisnya. Membasahi lantai kamarnya yang semula bersih.

Mereka berdua terengah-engah untuk sesaat setelah kepuasaan itu berhasil dicapai.

Sasuke terbaring telungkup di lantai dengan tubuh penuh sperma dan keringat. Sedangkan Naruto mencoba melepaskan organ vitalnya dari lubang itu dengan suara -Plop!- kecil sebelum berbaring disamping sang onyx. Membiarkan cairan spermanya merembes dari lubang anal Sasuke ke lantai kamar.

"Ini—hhh—melelahkan." Sasuke bergumam pelan seraya bangkit dari lantai. Mengambil selimutnya dan menutupi tubuh telanjangnya.

"Cukup melelahkan—hhh—tapi juga menyenangkan." Sahut Naruto dengan kekeh pelan. Suaranya kembali berubah normal—bukan lagi bariton rendah yang menggoda, tetapi lebih ke arah cempreng.

Sasuke mendengus pelan sembari tersenyum tipis. Ia melirik sang Uzumaki dengan ekor matanya. Pemuda pirang itu masih berbaring di sebelahnya tanpa pakaian sehelai pun. Sepertinya ia kelelahan dan ingin berisitirahat sejenak. Melihat hal itu, Sasuke langsung bergerak untuk mengambil bantalnya dan menaruhnya di bawah kepala sang Uzumaki.

Naruto menatapnya dengan lekat saat Sasuke menaruh bantal itu di bawah kepalanya. "Aku tidak menyangka kalau kau bisa bersikap manis seperti itu." Godanya dengan cengiran lebar.

"Diam atau aku akan menghajarmu." Ketus Sasuke lagi.

Pemuda pirang itu terkekeh pelan. Namun langsung terdiam saat sang onyx hanya duduk memeluk lutut di sampingnya sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut. Sama sekali tidak menanggapi tawa sang Uzumaki.

"Ada yang kau pikirkan, Sasuke?" Naruto bangkit perlahan. Ia menyangga tubuhnya dengan kedua siku tangan.

"Tidak ada. Hanya mencoba melupakan 'mimpi' ini." Ucapnya pelan.

"Oh—" Naruto menjawab singkat. "—Yeah, kita harus menganggap semua ini mimpi. Tidak pernah terjadi." Lanjutnya dengan suara yang hampir berbisik.

Atmosfir canggung merambat diantara keduanya. Membuat hawa kamar itu menjadi berat. Naruto membuyarkannya dengan berdiri dan segera memakai pakaian.

"Aku harus kembali ke kamarku dulu." Pemuda pirang itu berusaha melemparkan senyum canggung. Sasuke tidak membalas, malah terkesan mendengus pelan sembari memalingkan wajah. Enggan menatap wajah tan itu.

Sang Uzumaki menggaruk rambut spiky pirangnya dengan kikuk dan segera beranjak keluar dari kamar pemuda itu setelah mengucapkan 'sampai jumpa'. Meninggalkan Sasuke dengan dunianya sendiri.

.

.

.

Naruto berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Ia terlihat berpikir keras sambil mengabsen beberapa daftar masalah di otaknya, dari masalah aib kedua orangtuanya sampai hubungan ayahnya dengan Madara. Tetapi masalah yang paling mengganggunya adalah sosok Sasuke.

Walaupun ia mengatakan akan melupakan segalanya dan berpura-pura bahwa diantara mereka tidak pernah terjadi apa-apa. Tetap saja, ia dan Sasuke sudah melakukan hal diluar kewajaran—yang entah kenapa membuatnya menyadari orientasi seksualnya.

Naruto masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan dirinya di atas ranjang. Bergelung dengan selimut empuknya. Pikirannya terus melayang pada sosok Sasuke yang tengah mendesah hebat di bawah tindihannya. Erangannya, lenguhannya, wajahnya, dan tubuhnya, semua itu membuat Naruto tidak bisa melupakan begitu saja keindahan tersebut.

"Uggh!—Ini membuatku gila!" Rutuknya kesal sembari mengacak-acak rambut pirangnya dengan frustasi.

"—Jangan-jangan aku benar-benar bukan straight." Gumamnya lagi dengan helaan napas panjang saat menyadari bahwa otaknya di penuhi oleh sosok pemuda raven itu.

Jujur saja, Sasuke seperti narkoba yang akan membuatnya kecanduan terus-menerus. Kalau kau tidak punya iman yang kuat, maka kau akan terjerumus semakin dalam. Dan seperti itulah Naruto sekarang. Ia tidak mempunyai kekuatan apapun untuk menyingkirkan Sasuke dari kepalanya dan itu membuatnya semakin depresi, sadar bahwa dirinya tidak akan bisa kembali menjadi normal lagi.

"Fuck!" Ia mengutuk pelan sembari meninju ranjang. Kesal dengan dirinya sendiri. "—Daripada aku stres, lebih baik aku melanjutkan membaca buku ayahku." Lanjutnya lagi.

Setuju dengan pemikirannya itu, Naruto bergegas menuju laci lemarinya untuk mengambil buku harian sang ayah yang disembunyikannya disana. Namun saat laci itu terbuka, buku yang seharusnya teronggok disana malah hilang.

Lenyap tanpa jejak.

Naruto tersentak kaget, matanya membelalak lebar. Kedua tangannya dengan panik mencari di setiap laci lemari.

"Dimana?!—Dimana aku meletakannya?!" Ucapnya dengan nada yang hampir histeris.

Lelah mencari di dalam lemari, Naruto bergerak cepat menuju ranjang. Mencari di setiap sudut dan bahkan di balik kasur. Hasilnya tetap sama.

Nihil.

"Tidak!—tidak!—tidak!" Ia mencengkram rambutnya dengan panik. "—Aku tidak mungkin menghilangkannya. Pasti ada seseorang yang mencur—" Kalimatnya terhenti saat matanya tanpa sadar tertumbuk pada selembar kertas yang terletak di atas meja baca.

Dengan rasa penasaran, Naruto langsung menyambar kertas tadi dan membacanya dalam hati.

.

Cukup lakukan tugasmu, dan jangan mencari masalah. Aku mengawasimu!

Ini peringatan!

.

Kalimat singkat namun penuh ancaman itu sukses membuat iris sapphire Naruto melebar terkejut. Ia yakin surat ini dari seseorang yang telah mencuri jurnal ayahnya. Tetapi siapa? Siapa yang mencurinya dan kenapa? Apa alasannya?

"SHIT!" Naruto meremas kertas tadi dan melemparnya dengan kesal ke lantai. Ia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan yang saling menyilang di bawah dagu, kaki kanannya mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah.

Kenyataan yang seharusnya sudah ada di depan mata, kini malah menghilang dalam sekejap. Usahanya kembali ke titik nol.

Tidak!

Masih ada satu cara lagi.

Naruto bangkit dari kasur dengan tangan terkepal erat dan mata berkilat nyalang. "Aku harus menemui Sasuke. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa memberitahuku." Gumamnya pelan. Kemudian bergegas keluar kamar setelah menyimpan surat ancaman tadi di saku celananya.

Ia harus secepat mungkin menemui Sasuke. Pemuda itulah satu-satunya harapan yang tersisa.

.

.

.

TBC

.

.

Yuhuuuu~ Maaf telat update minna-saan! *bungkuk badan* Aku nulis lemonnya cuma bisa pas habis buka puasa, jadi agak berantakan dan updatenya pun ngaret... hehehe...

Btw, terima kasih banyak buat reviewer, reader dan silent-reader... I LOVE YOU GUYS/GIRL! *hug erat* KALIAN YANG TERHEBAT! :D

.

RnR please!

exile.