Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
.
Naruto menyadari bahwa kehilangan buku harian sang ayah seperti kehilangan seluruh kesempatannya untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk kenapa kedua orangtuanya pergi ke Jepang. Dan satu-satunya informasi itu sudah dicuri seseorang, bahkan pencurinya memberikan surat ancaman agar dia tetap diam dan jangan pernah mencari masalah.
Tetapi pemuda pirang itu tidak akan menyerah, ia harus mencari cara untuk mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh ayahnya. Karena itu, walaupun ia tidak mempunyai buku harian itu, ia bisa langsung bertanya pada Sasuke dan berharap pemuda itu akan membantunya.
Mungkin kalau Naruto bersujud dengan wajah memohon, Sasuke akan luluh dan bersedia menolongnya. Yeah!—Ide jenius!
Setuju dengan pemikirannya itu, Naruto segera berlari keluar kamar menuju ke kamar sang onyx. Langkah kakinya berdebam di lantai saat ia berlari melewati beberapa pelayan untuk segera sampai disana. Tidak ada waktu yang terbuang, ia harus berbicara secepatnya dengan Sasuke.
"Oh hallo, Naruto~" Alunan manja yang menyapanya itu langsung membuat sang Uzumaki menghentikan langkah. Di depannya, berdiri sosok bibi Mei yang tengah bersandar di pilar sambil melipat kedua tangan di depan dada. "—Sepertinya kau terburu-buru, apa ada masalah?" Tanyanya lagi lembut.
Naruto menggeleng cepat dan menampilkan cengiran lebar. "Uhh—tidak ada." Bohongnya.
Bibi Mei tidak menanggapi ucapan sang Uzumaki, ia mengamati pemuda pirang itu dari atas hingga ujung kaki. Mata yang berkilat menyelidik. "Benarkah? Kau yakin tidak ada apa-apa?" Tanyanya dengan nada curiga.
"Ya, aku yakin sekali." Sahut Naruto cepat dan tangkas. Berusaha menyembunyikan nada gelisah dari suaranya.
"Tapi wajahmu terlihat pucat sekali." Wanita cantik itu bergerak ke arah Naruto dan menarik dagu pemuda itu untuk saling bertatapan dengannya. "—Kau sakit? Mau kuobati?" Godanya dengan tawa manja. Ia semakin mendekat dan menekan dada Naruto dengan dadanya sendiri. Membuat pemuda pirang itu meneguk air liurnya panik.
"Uhh—tapi aku harus menemui Sasuke sekarang." Tolak Naruto dengan halus, mencoba menjauh secepatnya dari wanita penggoda itu.
"Fufufu~ Tentu saja." Mei mengibaskan rambut cokelatnya dengan angkuh. "Tapi kalau Sasuke tidak ada, kau bisa datang ke kamarku." Ia mengedipkan satu mata dengan genit.
Naruto tertawa kering. "Baiklah, sampai jumpa, Noona."
"Tunggu dulu, Naruto—" Mei menghentikan langkah pemuda itu untuk pergi. Naruto menoleh dengan wajah bingung, dan wanita itu kembali bicara lagi. "—Kau harus ingat, dinding kerajaan mempunyai mata."
"Eh?" Raut wajah Naruto masih memperlihatkan ekspresi bingung. Sepertinya ia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan bibinya itu.
Mei tertawa penuh rahasia dan berbalik pergi. "Bye, Naruto~" Ucapnya lagi seraya berlenggang menjauh.
Meninggalkan sang Uzumaki yang hanya bisa terdiam sambil terus memikirkan kata-kata wanita itu
'Dinding kerajaan mempunyai mata?—Apa maksudnya itu?' Tanya Naruto dalam hati.
Enggan berspekulasi lebih jauh, Naruto memilih segera beranjak dari tempatnya dan berlari menuju kamar Sasuke. Ada yang harus diberitahunya pada pemuda raven itu dibandingkan sibuk berpikir mengenai perkataan bibi Mei.
"Sasuke? Kau di dalam?" Naruto meraih pintu kamar Sasuke dan membukanya dengan cepat. Ia ingin segera melangkah masuk, tetapi sosok Madara yang berada di dalam sana membuat langkahnya terhenti. Terlebih lagi saat melihat Sasuke yang duduk bersimpuh di lantai dengan wajah memerah—sepertinya bekas tamparan.
Madara mendelik Naruto dengan bengis kemudian beralih menatap sang anak lagi. "Kita akan membicarakan ini nanti." Ucapnya dengan nada dingin.
Sasuke tidak menjawab dan hanya menunduk diam.
Pria itu melangkah keluar melewati sosok Naruto dengan angkuh, terlihat sekali percikan kemarahan yang terpantul di mata hitamnya saat melihat pemuda pirang itu. Seakan-akan ingin menguliti sang Uzumaki hidup-hidup.
Naruto masuk ke dalam kamar saat Madara sudah menjauh dari jangkauan pandangannya. Ia bergerak cepat menuju sisi sang onyx. "Sasuke, kau tidak apa-apa?" Tangannya terjulur untuk meraih pipi pemuda itu, namun langsung ditepis oleh Sasuke.
"Jangan. Dinding kerajaan mempunyai mata."
"Huh?"
Sasuke menggigit bibir bawahnya dengan getir. "Ayahku tahu semuanya. Dia melihat perbuatan kita."
"Tu—Tunggu dulu! Ayahmu tahu perbuatan kita? Bagaimana bisa?!" Kedua tangan Naruto mencengkram bahu pemuda itu dengan kuat.
Sasuke melirik pemuda pirang itu sekilas sebelum menjawab. "Dinding kerajaan mempunyai mata."
"Berhenti mengatakan kalimat yang tidak aku ketahui, Sasuke! Cukup katakan saja apa maksudnya?!" Raung Naruto semakin kesal dengan ucapan yang berbelit-belit itu.
Sasuke tidak menjawab dan hanya melirik ke seluruh ruangan kamarnya. Kemudian maniknya berhenti di salah satu pojok atas, dekat langit-langit kamar. "Disana." Ia menunjuk dengan dagunya. "—Mata kerajaan melihat kita."
Naruto berbalik menoleh. Iris birunya menangkap sebuah benda berukuran kecil yang tertempel di dinding kamar—hampir tidak terlihat oleh mata. "Itu—"
"—Micro video camera. Kamera berukuran lebih kecil dibandingkan CCTV yang dipasang di setiap ruangan. Ia bisa melihat apa saja namun tidak bisa mendengar." Jelas Sasuke lagi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku daritadi?!" Tukas Naruto cepat.
"Aku lupa."
"LUPA?!" Naruto hampir saja menjambak rambutnya dengan frustasi. "—FOR GOD'S SAKE, SASUKE! KENAPA KAU BISA LUPA HAL PENTING SEPERTI ITU?!"
Sasuke tidak menjawab dan hanya mendengus pelan. "Percuma menyesal sekarang. Ayahku sudah tahu kalau kita bercinta."
"Yeah—dan aku yakin sekali kalau ayahmu akan membunuhku." Timpal Naruto lagi, penuh dengan nada sinis.
Sasuke mendengus geli mendengar ucapan pemuda itu, sedikit melupakan kesedihannya karena ditampar Madara. "Ayahku bukan pembunuh, Idiot. Tapi mungkin dia akan menghajarmu sampai sekarat."
"Err—itu lebih mengerikan dibandingkan dibunuh." Sahut Naruto seraya menggigil ketakutan. "—Ngomong-ngomong, apakah ayahmu melihat semua kejadian di kerajaan ini?"
"Tidak. Ia hanya mengawasiku dan Sai saja melalui kamera itu." Ucapnya lagi seraya menatap benda kecil yang tertempel di pojok kamarnya. "—Untuk ruangan lain, mungkin nenek yang mengawasinya. Wanita itu melihat segalanya."
"Apakah itu termasuk kamarku juga?"
"Mungkin. Nenek selalu menaruh kamera pengawas di seluruh ruangan untuk memonitor setiap pergerakan keluarganya." Sahut Sasuke.
"Kenapa nenek melakukan hal itu?" Naruto menatap sang onyx dengan raut wajah penasaran.
Sasuke mengedikkan bahunya, tidak tahu. "Entahlah, rumor yang kudengar dari para pelayan adalah nenek mulai meletakkan kamera-kamera itu di beberapa ruangan sejak terbongkarnya aib perselingkuhan ibu dan ayahku. Mungkin ia tidak ingin hal itu terjadi lagi." Pemuda raven itu kembali menatap Naruto. "—Jadi, kenapa kau ke kamarku? Apa ada masalah?"
"Uhh—Soal itu—" Naruto mengeluarkan secarik kertas dari kantong celananya dan menunjukkannya pada Sasuke. "—Surat ancaman itu kuterima di kamarku."
Sang onyx mengernyitkan keningnya heran. "Bagaimana bisa kau menerima surat ancaman ini?"
"Well—sebenarnya aku menemukan jurnal ayahku di perpustakaan dan aku baru membacanya beberapa halaman, lalu aku menyimpannya di laci. Setelah aku kembali ke kamar, buku itu hilang dan hanya ada surat ancaman ini." Jelas Naruto panjang lebar.
"Kau menemukan jurnal ayahmu? Apa yang tertulis disana?" Tanya Sasuke penasaran.
"Sebenarnya lebih mirip buku harian tentang kehidupannya setelah menikah dengan ibuku." Jawab Naruto lagi. Mata birunya menatap sang onyx. "—Dan sekarang aku membutuhkanmu untuk menceritakan semuanya. Buku itu lenyap dan aku tidak bisa menggali informasi apapun."
Sasuke menggigit bibir bawahnya, ragu. "Aku tidak bisa memberitahumu."
"Kenapa?!—Apa karena kamera itu?" Ujar Naruto seraya mendelik ke arah kamera di pojok kamar.
Sang onyx menggeleng. "Bukan. Tetapi karena peraturan kerajaan. Kau harus mengerti kalau aku tidak bisa memberitahumu."
Pundak Naruto merosot kecewa. "Tetapi bisakah kau memberikan sedikit petunjuk saja?" Mohonnya.
"Uhh, aku tidak bisa memberi petunjuk apapun, tetapi kau bisa mencoba menggali informasi melalui internet di perpustakaan. Kebetulan disana ada beberapa komputer yang masih bisa dipakai." Usulnya lagi.
Naruto yang tadinya berwajah murung langsung menyunggingkan senyumnya saat mendengar ide sang onyx. "Benar! Aku bisa menggunakan internet untuk mencari informasi."
Sasuke tersenyum tipis melihat semangat pemuda pirang itu lagi. "Maaf aku tidak bisa membantumu. Membocorkan rahasia kerajaan sama saja dengan melanggar peraturan."
"Iya, aku mengerti." Sahut Naruto lagi. Ia melemparkan cengiran lebar kemudian mengelus lembut kepala Sasuke.
"Lepas, Idiot! Jangan sok akrab!" Sasuke menepis tangan sang Uzumaki dari kepalanya. Kembali ke sifat sinisnya semula.
Naruto tertawa pelan. "Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu. Bye Sasuke."
"Hn—" Jawab Sasuke, tidak peduli. Menatap sosok pemuda pirang itu yang kini menjauh dari kamarnya.
.
.
.
_Pukul 20.00 malam_
.
Kaguya duduk tenang sembari mengetukkan jari telunjuknya di atas meja baca. Sedangkan didepannya duduk Hashirama yang bersimpuh tegak. Menunggu sang ibu untuk mengeluarkan suara.
"Kau mengawasi Naruto, bukan?" Kaguya menghentikan ketukan jarinya dan menatap sang anak.
"Ya, eommonim." Jawab Hashirama sopan.
Wanita itu mendengus sebentar dan menatap sebuah buku tua ber-cover kulit hewan—buku harian milik Minato. "Dan kau mengatakan bahwa Naruto berusaha menggali rahasia ayahnya, begitu?"
"Ya, eommonim." Hashirama mengangguk lagi. "—Aku bahkan memberikan surat ancaman untuknya agar tidak ikut campur dalam rahasia kerajaan."
Kaguya berdecih kesal. Tangannya mengepal erat di atas meja. "Apakah itu akan berhasil? Naruto mempunyai sifat Minato yang keras kepala."
"Tapi ia juga memiliki darah Fugaku yang tenang dan tidak akan mencari masalah." Sela Hashirama cepat.
Kaguya mendongak menatap Hashirama. "Kau benar. Di dalam darah Naruto tidak hanya ada gen pria Jepang itu, melainkan darah putraku juga."
"Eommonim, biarkan aku mengawasi Naruto lagi. Aku akan menghajarnya kalau ia mencari masal—"
"Tidak. Kau tidak akan mengawasi Naruto." Kaguya mengibaskan tangannya dengan kesal. "—Awasi saja Madara. Sepertinya dia masih menyayangi Naruto. Walaupun dihadapanku dia terlihat membenci Naruto, namun aku tahu dia sebenarnya ingin melindungi anak itu."
"Melindungi?" Hashirama menatap sang ibu dengan ekspresi kebingungan.
"Madara ingin melindunginya dari serangan politik pemerintah Jepang. Kau tahu apa yang akan dilakukan pemerintah Jepang kalau menyadari kita akan menggabungkan dua negara Korea Selatan-Jepang?" Tanya Kaguya dengan wajah angkuh menunggu jawaban.
Hashirama mengangguk pelan. "Ya, akan terjadi pemberontakkan dan perang. Dan yang akan disalahkan adalah raja Korea Selatan."
Kaguya menarik salah satu sudut bibirnya dengan senyum tipis. "Benar. Naruto akan kujadikan kambing hitam. Dia akan menjadi raja boneka untuk menggapai tujuanku. Bukankah itu rencana yang cerdas, Hashirama?"
Pria berambut panjang lurus itu mengangguk. "Ya, rencana yang sangat bagus, Eommonim."
Kaguya tertawa kecil. "Aku benar-benar membenci Minato. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam pada anaknya." Ucapnya lagi seraya melemparkan buku harian Minato ke lantai dengan kasar. "—Bakar." Perintahnya dengan dingin.
Hashirama tidak menjawab dan hanya mengambil buku tadi dan memasukkannya ke tong sampah yang ada di pojok ruangan. Kemudian menyulut korek api dan membakar buku itu disana. Disaksikan oleh mata kepala Kaguya sendiri yang menyeringai senang.
"Bagus, Hashirama. Kau anakku yang terhebat." Puji Kaguya lagi dengan nada bangga. Hashirama menyeringai tipis.
"Terima kasih, Eommonim."
"Kalau begitu, teruslah berpura-pura menampilkan sosok 'paman yang baik hati' dihadapan Naruto untuk mencuri perhatiannya. Buat dia percaya padamu dan kemudian hancurkan secara perlahan." Desis Kaguya sinis. "—Dan jangan lupa, awasi Mei juga. Tindak-tanduknya mencurigakan akhir-akhir ini. Aku tidak mau kalau rencanaku gagal hanya karena masalah sepele." Perintah wanita itu lagi.
Hashirama mengangguk tegas sebelum akhirnya berbalik pergi dari kamar wanita itu.
Kaguya menghela napas sejenak setelah kepergian putra ketiganya itu, kemudian segera meraih telepon di samping mejanya. Ia harus menelepon seseorang untuk membicarakan masalah ini. Seseorang yang sangat berpengaruh pada dunia politik Jepang.
Setelah tiga detik menunggu, akhirnya suara seorang pria menjawab panggilan Kaguya. "Hallo?" Suara serak dan berat terdengar.
.
"Perdana Menteri Danzo." Kaguya menyapa dengan kalimat lembut namun dingin.
.
Ada jeda sejenak sebelum terdengar suara kekeh pelan. "Yang mulia, sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa mendapat tel—"
.
"Berhenti berbasa-basi." Kaguya menyela cepat. Jarinya kembali mengetuk diatas meja. "—Katakan situasinya." Perintahnya lagi.
.
Danzo berdehem sebentar. "Kekaisaran Jepang mulai curiga mengenai anggaran negara yang membengkak."
.
"Sudah kukatakan untuk berhenti sejenak melakukan korupsi. Kau tidak bisa terus-menerus menghisap uang tersebut. Tidak, sampai kita berhasil mengendalikan kekaisaran Jepang." Desis Kaguya sinis.
.
"Tetapi uang itu terus memanggil jiwaku, Yang mulia."
.
"CUKUP, DANZO!" Kaguya meraung murka. "—Kalau kau mengacaukan rencanaku, aku tidak akan membantumu menggulirkan keluarga kekaisaran Jepang. Dan kau tidak bisa menguasai kekaisaran tersebut." Ancam wanita itu dengan desisan bengis.
.
Ada suara dengusan kesal dari seberang telepon. "Baiklah, aku mengerti, Yang mulia."
.
"Bagus. Kalau begitu aku akan mempersiapkan upacara untuk mendaulat Naruto menjadi raja tiga hari lagi." Sahut Kaguya lagi.
.
"Lakukan di Jepang." Danzo menyela cepat.
.
Kaguya mengernyitkan keningnya heran. "Apa maksudmu lakukan di Jepang?"
.
"Yang Mulia bisa melakukan pendaulatan raja di Jepang, tentu saja dengan dihadiri oleh kekaisaran jepang serta pejabat pemerintah lainnya. Tentu saja ini termasuk taktik untuk mengeruk perhatian masyarakat Jepang. Seperti tindak saling bekerjasama, menyatakan bahwa Korea Selatan juga bersaudara dengan Jepang." Alasannya panjang lebar.
.
Wanita itu terdiam. Berpikir sebentar. "Ide bagus. Persiapkan tempat dan keberangkatanku. Kita akan lakukan tiga hari lagi."
.
Dibalik telepon, Danzo menyeringai tipis. "Dengan senang hati, Yang Mulia."
.
.
.
Perpustakaan kerajaan saat malam hari sangat mengerikan. Naruto membenci tempat gelap dan sunyi yang penuh susunan buku tua. Matanya mengawasi sekitar, ada beberapa rak dengan ribuan buku dan gulungan dokumen. Kemudian di pojok ruang terdapat meja panjang dengan beberapa komputer yang sepertinya masih bisa digunakan.
Naruto mendongak untuk mencari kamera pengawas. Dan untungnya saja, benda nista kecil itu tidak tertempel di ruang perpustakaan. Lucky him!
Pemuda pirang itu meneguk ludahnya gugup sebelum melangkah masuk ke ruangan itu. Hawa dingin langsung menusuk kulitnya, membuat bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
Damn!—Disaat seperti ini, ia jadi ingat cerita hantu yang pernah diceritakan oleh ibunya. Tentang seorang pemuda yang tidak lulus ujian dan gantung diri di perpustakaan sekolah. Memang itu terdengar seperti cerita yang konyol dan menggelikan, bahkan Naruto sempat menyepelekan cerita sang ibu. Namun sekarang, otaknya jadi mengingat bagaimana Kushina mendeskripsikan cerita hantu itu dengan detail. Seperti tubuh yang tergantung, lidah terjulur, dan mata terbelalak lebar dengan pantulan ketakutan di mata tersebut. Cukup membuat Naruto menggigil ngeri.
"Ayolah Naruto, jangan jadi penakut. Hantu hanyalah makhluk tembus pandang yang tidak bisa menyakitimu." Gumamnya pelan. "—Well, memang tidak bisa menyakiti orang, tetapi wajahnya cukup membuat jantungku copot." Lanjut Naruto lagi dengan nada sarakastik. Seakan-akan sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
Berusaha mengenyahkan pikiran konyol itu dari otaknya, Naruto segera bergegas menuju komputer terdekat dan langsung berseluncur mencari informasi di dalam sana. Tidak ada waktu untuk menjadi pengecut dan penakut, yang terpenting sekarang adalah informasi mengenai kebenaran yang disembunyikan oleh kerajaan ini, dan rahasia yang disimpan oleh ayahnya.
Jari tan itu mulai menari di atas keyboard, mengetik semua kata kunci yang berhubungan dengan kerajaan Korea Selatan. Banyak hasil yang keluar, tetapi tidak ada yang mengungkap mengenai apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.
'Ini akan menjadi pencarian yang sangaaat panjang.' Batin Naruto dalam hati.
Ia kembali memasukkan kata kunci seperti; kerajaan Korea Selatan, ilmuwan Korea Selatan; bahkan Fugaku. Hasilnya tetap sama, tidak ada satu artikel bahkan berita pun yang dapat memberitahunya informasi mengenai kedua orangtuanya.
Nihil!
Naruto menggeram kesal. Ia hampir saja menggebrak meja kalau tidak mengingat bahwa dirinya sedang dalam misi penting dan berusaha agar tidak mengeluarkan satu bunyi pun yang membuat orang curiga. Motherfucker!
Tidak!—Ia tidak boleh menyerah sama sekali, ia baru mencoba satu kali. Kalau perlu ia akan mencoba beribu-ribu kali hingga otaknya menyerah atau sampai kepalanya meledak.
Naruto tersenyum lebar dengan semangatnya sendiri. "Baiklah, kita akan lihat siapa yang lebih pintar disini." Gumamnya pelan, antusias. Ia memutar kembali informasi yang sudah diterimanya dari buku sang ayahnya. Ada beberapa petunjuk penting yaitu; yang pertama, sang ayah bekerja sebagai ilmuwan. Dan yang kedua, ayahnya bekerja di laboratorium pemerintah Korea Selatan. Jadi, ia akan memulai mencari bukti dari tempat ayahnya bekerja.
Naruto merenggangkan otot-otot jarinya sebelum mulai mengetik di atas keyboard. Ia memasukkan kata kunci tentang laboratorium pemerintahan Korea Selatan dan banyak hasil yang keluar dari pencarian tersebut. Beberapa diantaranya tidak berguna, bahkan tidak cocok dengan kata kuncinya. Namun ada satu artikel yang membuatnya tertarik, terlebih lagi dengan judul yang—sangat ekstrim.
.
Seorang pria ilmuwan asal Jepang membuat penemuan yang mengejutkan warga Korea Selatan. Putra kelima dari kerajaan Korea Selatan mendukung penemuan tersebut.
.
"Hmm—apakah ini membicarakan tentang ayahku dan Fugaku?" Gumam Naruto. Bertanya pada dirinya sendiri.
Ia meng-klik artikel tersebut dan mulai membacanya dengan rasa penasaran yang kuat.
.
Ilmuwan asal Jepang, bernama Uzumaki Minato berhasil membuat penemuan yang mengejutkan dunia. Pria yang merupakan menantu dari Ratu Korea Selatan itu menciptakan obat yang dapat membuat seorang pria untuk hamil, disebut sebagai Male Pregnancy Pill atau disingkat MPP merupakan suatu jenis obat yang sudah diteliti dengan akurat untuk membentuk rahim dan sel telur yang kemudian di tanam di dalam perut seorang pria.
Minato mengatakan, ia membuat obat tersebut tidak sekedar untuk pria saja, melainkan juga untuk kesejahteraan umat manusia yang ingin punya anak dari pasangan sejenis, termasuk juga didalamnya untuk mendukung isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang masih kontroversi sekarang ini.
Putra kelima kerajaan Korea Selatan mendukung hal itu seratus persen. Ia mengatakan bahwa ini akan menjadi era baru dimana isu seksual LGBT bisa diterima oleh dunia.
Pro dan kontra bermunculan. Pihak kontra menentang hal itu dengan membawa nama agama, sedangkan pihak pro berlindung dibawah naungan hak asasi manusia dan keadilan.
Kontroversi penelitian itu tidak berhenti sampai disitu saja. Yang mulia ratu Korea Selatan ikut menentang hal tersebut, beliau angkat bicara mengenai peradaban manusia yang sekarang mulai jauh dari hal yang wajar dan rasional. Namun sejujurnya, ia menentang hal tersebut dikarenakan Minato sudah melakukan hal yang tidak pantas—atau lebih tepatnya ekstrim— untuk dilakukan oleh seorang ilmuwan.
Minato mencoba penemuannya pada tubuhnya sendiri, dan sperma yang ditanam di dalam perutnya adalah sperma milik putra kelima dari kerajaan Korea Selatan.
Istri Minato, putri mahkota kerajaan Korea Selatan, tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sudah lama menginginkan seorang anak, namun kemandulan rahimnya membuatnya tidak bisa hamil. Sehingga dengan penemuan suaminya tersebut, mereka dapat memiliki anak walaupun harus dari perut sang suami.
Setelah putra kelima kerajaan Korea Selatan wafat pun, kontroversi itu masih belum reda. Sehingga Ratu memutuskan untuk menutup laboratorium pemerintah dan mengubah tempat itu menjadi markas besar militer. (2/5/xxxx)
.
.
Naruto terdiam. Jari-jemarinya yang tadinya bergerak mulus di atas keyboard langsung terhenti seketika saat kenyataan menampar pipinya dengan keras. Mata birunya terbelalak lebar, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Tu—Tunggu dulu. Kalau ayahku 'hamil' berarti—" Pemuda itu tidak melanjutkan gumamannya. Ia mencengkram rambut pirangnya dengan tangan gemetaran. "Tidak... Tidak... Itu tidak mungkin terjadi." Napasnya tersengal-sengal karena panik. Ia mencoba tertawa kaku dan menganggap bahwa artikel itu adalah palsu. Namun suara tawa keringnya semakin membuat kesadaran otaknya ketakutan. Di dalam hatinya, ia tahu betul kalau pemberitaan itu adalah murni tanpa ada campur tangan orang yang iseng untuk menambahkan bumbu konyol tersebut.
Namun karena enggan menyerah begitu saja, Naruto kembali mengetik di layar komputer dengan kata kunci Male Pregnancy Pill di internet, berharap menemukan kebenaran yang disimpan beberapa tahun yang lalu. Tetapi percuma saja, hasil yang didapat sama sekali tidak menunjukkan bahwa dulu pernah ada obat untuk membuat pria hamil.
Apakah artikel tersebut hanya isapan jempol saja? Atau hanya sebuah pemberitaan yang mencari sensasi dan pencitraan?
.
"Kau sedang apa?" Suara seseorang di belakangnya, membuat Naruto tersentak kaget dan langsung terjatuh dari kursinya dengan suara -BRUAKK!- yang cukup nyaring.
Mengesampingkan rasa sakitnya, Naruto langsung menoleh ke asal suara dan menemukan sosok Sai yang tengah berdiri di belakangnya dengan wajah penasaran.
"Kau sedang apa?" Pemuda yang mempunyai senyum palsu itu mengulang pertanyaannya. Ia mencondongkan tubuhnya untuk menatap layar komputer yang digunakan oleh Naruto.
"Uhh—hanya sedikit mencari infromasi." Ucap sang Uzumaki seraya bangkit perlahan.
Sai hanya diam dan terus membaca artikel yang tertera di layar komputer tersebut. "Kau ingin mencari tahu mengenai kedua orangtuamu, begitu?" Ia selesai mengamati komputer dan beralih untuk menatap pemuda pirang itu.
Naruto menggaruk rambut spiky-nya dengan canggung. "Uhh—begitulah." Jawabnya singkat.
Sai menghela napas panjang, kemudian duduk di salah satu kursi. "Akan kuceritakan semuanya."
"Huh?"
"Aku bilang, akan kuceritakan semuanya. Jadi duduklah dan dengarkan." Ulang Sai lagi.
Naruto langsung mengambil kursi di samping pemuda itu. "Tunggu dulu, bukankah kau akan dihukum kalau memberitahu rahasia keraj—"
"Kau sudah tahu semuanya dari artikel ini. Aku hanya ingin menambahkan sedikit saja." Tukas Sai cepat.
Pemuda pirang itu tidak membantah lagi dan menunggu cerita yang sebenarnya dari Sai.
Pemuda berwajah dingin itu menarik napas panjang sebelum mulai bicara. "Kedua orangtuamu merupakan pasangan yang sangat romantis di kerajaan. Para pelayan bahkan iri dengan kemesraan mereka berdua. Tetapi semuanya berubah saat ayahmu bertemu dengan ayahku—" Ia menghentikan sejenak ucapannya dan memandang lekat ke arah Naruto. "—Minato jatuh cinta pada Fugaku. Dan Fugaku juga menyambut cinta itu dengan sepenuh hati. Mereka melakukan hal terlarang setiap harinya tanpa diketahui siapapun. Tetapi lagi-lagi semua berubah saat nenek menyuruh ayah untuk menikah dengan ibu, yang kemudian dikenal sebagai 'Pernikahan Politik Korea'."
"Pernikahan politik Korea?" Naruto membeo, tidak mengerti.
"Pernikahan yang hanya semata untuk status hubungan politik. Well, ibu merupakan anak pejabat negara yang cukup berpengaruh di Korea dan nenek selalu menginginkan kekuasaan." Jelas Sai dengan putaran bola mata yang malas saat mengatakan 'kekuasaan'.
"Ah! Yeah, right. Haus kekuasaan."
"Ayah awalnya tidak setuju, namun ia terpaksa melakukannya saat nenek terus menyuruhnya untuk menikah." Sai kembali bercerita. "—Kau tahu apa yang terjadi? Tidak ada keharmonisan dalam pernikahan kedua orangtuaku. Hubungan mereka sangat buruk."
"Lalu Madara berselingkuh dengan ibumu, begitu?" Naruto menyahut. Sai menoleh terkejut.
"Darimana kau tahu kalau Madara berselingkuh dengan ibuku?"
"Well, Sasuke pernah menceritakannya, namun tidak menjelaskan detailnya." Ungkap pemuda pirang itu lagi.
Sai mendesah pelan. "Kau benar. Madara berselingkuh dengan ibuku." Ia menyamankan posisi duduknya sebelum kembali berbicara. "—Tetapi bukan karena Madara mencintai ibuku, melainkan karena disuruh oleh ayahmu."
"Huh?!—Apa maksudmu disur—"
"Madara menyukai Minato. Ia akan melakukan apa saja untuk ayahmu. Dan Minato tahu itu, jadi ia mengambil kesempatan itu untuk meminta Madara menghancurkan rumah tangga Fugaku. Dan kau tahu? Madara setuju. Ia bahkan tidak peduli dengan harga dirinya sendiri." Sai berhenti bicara sejenak saat memandang wajah murung Naruto.
"Aku tidak menyangka kalau ayahku—"
"Tidak ada manusia yang baik, Naruto. Semua manusia memiliki iblis di hati masing-masing." Potong Sai cepat. "—Dan karena perselingkuhan itu, ibuku dilecehkan masyarakat. Saat itu ibuku sedang mengandung aku dan Sasuke, jadi nenek memberikan hukuman 'pengusiran' pada ibuku setelah kami lahir."
"Lalu bagaimana dengan pengusiran kedua orangtuaku?" Naruto bertanya dengan nada tidak sabar.
Sai menatap sejenak kemudian menghela napas. "Tidak ada pengusiran. Kedua orangtuamu lari ke Jepang karena suruhan ayahku sebelum meninggal." Pemuda itu memijat kelopak matanya. "—Nenek membunuh ayahku dengan menyabotase mobil yang digunakannya."
"A—Apa? Tidak mungkin. Maksudku—wanita itu adalah ibunya dan—"
"Yang dipikirkan nenek hanyalah kekuasaan, Naruto. Ia tidak peduli dengan darah daging." Sai menyamankan posisi duduknya sebelum kembali bicara. "—Artikel ini memuat kebenarannya. Minato berhubungan badan dengan Fugaku untuk mendapat keturunan. Nenek yang tidak setuju mencoba menutupi aib itu, namun ayahku menolak. Ia bahkan ingin mengakui pada dunia kalau ia mencintai Minato."
"Lalu apa yang terjadi?" Naruto menyela.
"Seperti yang kau ketahui. Kalau aib itu diketahui publik, riwayat kerajaan akan hancur. Maka nenek menyuruh bawahannya untuk menyabotase mobil yang digunakan oleh ayahku. Kemudian berpura-pura menyuruh Fugaku untuk pergi jalan-jalan keluar." Ada nada tercekat dari suara Sai. Tubuhnya bergetar menahan amarah.
Naruto menjulurkan tangannya ke bahu pemuda itu. "Teruskan."
Sai mengangguk pelan. "Ayah tahu rencana busuk nenek. Jadi sebelum pergi, ia menelepon Minato untuk mengucapkan selamat tinggal dan menyuruh pria itu untuk pergi ke Jepang. Menyelamatkan anak mereka."
"Bagaimana dengan ibuku? Apakah dia tahu perselingkuhan yang dilakukan ayahku?"
Sai menggeleng. "Entahlah, aku tidak tahu."
Naruto berpikir sebentar. "Kalau benar aku adalah anak dari Minato dan Fugaku, berarti kau dan Sasuke adalah saudaraku? Atau kau benar-benar anak dari Madara?"
Sai tersenyum tipis. "Walaupun ayah dan ibuku saling benci, tetapi mereka pernah sekali melakukan hubungan badan. Jadi ibuku hamil karena ayahku dan bukan Madara." Jelasnya lagi.
Naruto mengangguk paham. Ia kembali berpikir sejenak. "Jadi, ayahku sudah hamil saat pergi ke Jepang. Dan ibumu juga hamil saat nenek mengetahui perselingkuhannya dengan Madara, begitu? Lalu kita lahir di dua tempat berbeda. Aku di Jepang dan kalian di sini?" Ucap Naruto, masih dengan wajah bingung.
"Seperti itulah. Rumit, bukan?" Sai berusaha menampilkan senyumnya. "—Aku sudah selesai menceritakaan segalanya. Aku harap ini bisa membantumu." Ucapnya lagi sebelum beranjak pergi dari perpustakaan. Meninggalkan Naruto yang masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
Bukan!—Ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang hubungan ayahnya dengan Fugaku atau tentang ayahnya yang hamil. Melainkan hubungannya dengan Sasuke.
Demi jagat raya! Ia dan Sasuke sudah bercinta! BERCINTA!—Dan ia baru tahu kalau Sasuke adalah adiknya!
FUUUCK!
Naruto menjambak rambut pirangnya semakin frustasi. "Oh God! Ini lebih mengerikan daripada mengetahui rahasia kerajaan." Rutuknya dengan nada kesal.
"Tunggu—" Naruto berhenti menjambak rambutnya. "—Kalau Sasuke mengetahui segalanya, seharusnya ia tahu kalau kami adalah bersaudara. Tetapi kenapa dia diam saja saat aku—" Pemuda itu menghentikan gumamannya ketika mengingat kembali adegan persetubuhan mereka. Naruto mengusap wajahnya dengan letih.
'Sebaiknya aku bertanya langsung pada Sasuke daripada menerka-nerka sendiri.' Katanya dalam hati seraya mematikan komputer dan melangkah keluar dari perpustakaan.
Naruto berjalan cepat menuju bangunan tempat tinggalnya, melewati halaman yang cukup luas. Tidak ada pelayan yang berlalu-lalang, mungkin karena sekarang adalah jamnya tidur. Dan ia berharap kalau Sasuke masih terbangun saat ini.
Pemuda pirang itu berdiri tepat di depan kamar Sasuke. Ia mengetuk daun pintu dengan pelan sebelum membukanya. "Sasuke? Kau ada di dalam?"
"Ya. Masuklah." Sasuke menyahut. Ia menoleh dan mendapati sosok Naruto yang berwajah pucat di hadapannya. "—Kenapa kau? Habis dikejar hantu?"
"Tidak! Ini lebih mengerikan dari hantu." Naruto masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintunya dengan cepat. Seakan-akan takut kalau ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Ia bahkan menatap kamera yang terpasang di pojok kamar pemuda raven itu dengan waspada. "Bisakah kita bicara di luar? Di tempat yang aman?" Pintanya lagi.
Sasuke mengikuti arah pandangan Naruto yang tertuju ke kamera pengawas sebelum akhirnya berbalik dan mengangguk setuju. "Baiklah, ikuti aku." Pemuda itu bangkit seraya mengambil ponselnya.
"Kita kemana?" Tanya Naruto yang mengekor sang onyx keluar dari kamar.
"Ke taman. Disana tidak ada kamera. Atau kau mau di perpustakaan?"
"Ke taman saja." Sahut sang Uzumaki cepat. Trauma harus kembali ke ruangan mengerikan itu.
Sasuke hanya mengangguk pelan, setuju. Mereka kemudian bergerak cepat menuju tempat tujuan. Berjalan melewati halaman terbuka hingga akhirnya tiba di sebuah taman yang cukup cantik dan rapi dengan lampu taman yang cukup terang.
Sang onyx tepat berhenti di pinggir kolam, lalu berbalik untuk menatap Naruto. "Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
"Apa kau sudah tahu kalau kita adalah kakak-adik?" Naruto langsung bertanya ke topik utama tanpa membuang waktu. Wajahnya menyiratkan ekspresi menuntut meminta jawaban.
Sasuke tidak menjawab. Ia bahkan terkesan santai dengan wajah yang menampilkan raut stoic-nya. "Ya, aku tahu."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?!" Naruto mencengkram pundak sang onyx dengan kuat. "—Kita sudah melakukan hal tersebut! Seharusnya kita tidak—!"
"Bercinta maksudmu?" Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menyembunyikan kulitnya dari hembusan angin malam yang entah kenapa terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya. "—Itu bukan salahku. Kau yang memaksaku." Tegasnya lagi.
"Ta—Tapi kau bisa menolaknya?! Kau bisa menghajarku atau memukulku atau—"
"Atau apa?" Sasuke lagi-lagi menyela dengan cepat. Ia berdecak kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "—Aku tidak bisa menghentikan libidoku. Aku tidak bisa menahan nafsumu. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, Naruto. Semua sudah terjadi."
Naruto kembali menjambak rambutnya dengan jengkel. "Arrgh!—Seandainya saja aku tahu kalau kau dan Sai adalah adikku. Aku pasti tidak akan berbuat macam-macam, terlebih lagi padamu."
Sasuke mendengus pelan. "Apa kau menyesal karena aku adalah adikmu?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" Naruto menggeleng cepat. "—Aku senang mempunyai adik. Tetapi yang aku sesali adalah tindakanku. Tidak seharusnya aku 'memperkosamu' seperti itu." Lanjutnya dengan penekanan pada kata 'memperkosa'.
"Kau tidak memperkosaku. Kita melakukannya tanpa ada paksaan siapapun." Sahut Sasuke lagi seraya memijat tengkuknya, bingung dan canggung.
Naruto mengerang keras sebelum berjongkok dengan lesu. "Maaf, Sasuke. Aku sangat menyesal." Lirihnya.
Sasuke yang berada dihadapan pemuda pirang itu hanya mendengus pelan. "Kau benar-benar idiot, huh? Bukankah sudah kukatakan, itu bukan salahmu. Kau tidak perlu menyesal." Sahut sang onxy lagi. "—Lagipula aku juga ingin minta maaf. Kau tahu yang kau katakan sebelum kita bercinta?"
Naruto mendongak heran. "Uhh—tentang melupakan segalanya? Dan menganggap tidak pernah terjadi?"
"Ya, tentang itu. Dan sejujurnya, aku tidak bisa melakukannya." Sasuke memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah di pipinya. "—Well, sepertinya aku akan terus mengingat hal itu."
Naruto tercengang untuk sesaat sebelum bangkit berdiri. "Kau—Apa? Kenapa?"
"Haruskah aku memiliki alasan untuk itu? Maksudku, aku sudah mencoba melupakan segalanya dan berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi. Tetapi tubuhku mengingat semuanya. Dan itu membuatku kesal." Ungkap Sasuke dengan nada jengkel.
"Tubuhmu mengingat semuanya?" Naruto membeo dengan nada tidak percaya. "—Apakah itu artinya kau menyukaiku?" Pertanyaan sang Uzumaki menohok tepat di jantung Sasuke. Membuat wajah putih itu semakin merah padam.
"Kenapa kau harus mengatakannya sejelas itu, Idiot?!" Sasuke menendang tubuh Naruto dengan kesal. Membuat pemuda pirang itu langsung tersungkur di tanah.
"Gah! Kenapa kau menendangku, Brengsek?! Aku kan hanya bertanya saja!"
"Tetapi pertanyaanmu itu sangat menjebak!"
"Dimananya yang menjebak, Brengsek?! Aku hanya bertanya apa itu artinya kau menyukaiku atau tidak?!" Naruto membalas sengit.
"Kenapa aku harus menjawabnya?!" Sasuke meraung kesal.
"Cukup jawab saja! Ya atau tidak!" Naruto mulai emosi.
"Ya, aku menyukaimu! Apa kau puas sekarang?!" Napas Sasuke tersengal-sengal setelah menumpahkan seluruh isi hatinya. Wajahnya memerah karena kesal dan matanya menatap tajam ke arah pemuda pirang yang kini hanya bisa ternganga kaget mendengar jawabannya. "—Cih, meyebalkan." Ia memalingkan wajah dengan cepat. Menyembunyikan rona merah yang sudah menggelantungi wajah dan telinganya.
Naruto cukup lama mematung kaku sebelum akhirnya bangkit dari tanah, masih dengan wajah tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda raven itu. "Kau benar-benar menyukaiku?"
"Aku tidak perlu mengulang perkataanku, Idiot." Sasuke mendecih. Ia kembali memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Berusaha bersikap angkuh dan dingin, namun semua itu gagal saat Naruto mulai mendekat dengan senyuman tipis. Membuat wajah Sasuke kembali memerah. "—Kenapa kau tersenyum? Wajahmu itu menjijikan." Sinis sang onyx lagi.
"Aku hanya senang kita memiliki pemikiran yang sama." Naruto berhenti tepat di hadapan Sasuke. Ia menyentuh tengkuknya, salah tingkah. "—Well, aku juga tidak bisa melupakan tubuhmu—uh maksudku, sosokmu." Ia membenarkan kalimatnya dengan panik.
Sasuke mendengus geli. "Idiot tetaplah idiot."
"Setidaknya, idiot sepertiku sangat beruntung disukai oleh net idol sepertimu." Ucap Naruto dengan senyuman lebar. Ia meraih tangan sang onyx dan saling menautkan jari dengan genggaman lembut. "—Sepertinya aku menyukai adikku sendiri."
"Hmph!—Idiot." Sahut Sasuke lagi dengan senyum tipis.
Naruto menanggapinya dengan kekeh pelan kemudian mulai mencondongkan tubuhnya ke arah pemuda raven itu. "Can i kiss you?"
"Do whatever you like, Idiot." Balas sang onyx. Berpura-pura bersikap sinis. Namun ia sama sekali tidak menolak saat pemuda pirang itu mulai mengecup bibirnya dengan perlahan. Menikmati benturan bibir yang dilakukan oleh Naruto. Hisapan dan lumatan kecil dilakukan hanya untuk menggoda pasangan, sesekali gigitan gemas juga ikut meramaikan suasana. Namun ciuman itu berakhir saat keduanya saling membutuhkan oksigen untuk paru-paru mereka.
Naruto terkekeh sejenak sebelum menyatukan kening mereka. "God, bibirmu sangat lembut."
Sasuke mendengus kesal. "Berhenti mengatakan hal yang bodoh. Lepaskan aku." Ia mendorong tubuh tegap itu dari jaraknya. Kemudian merapikan bajunya lagi dan bersikap angkuh seperti biasa. "—Ini sudah malam, sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing. Aku tidak mau kalau nenek sampai mengetahui kita ada disini." Ucapnya lagi sembari menatap berkeliling. Memastikan bahwa tidak ada yang melihat kelakuan mereka tadi.
Naruto mengusap tengkuknya. "Yeah—aku setuju. Lagipula disini sangat dingin."
"Kalau begitu, sampai jumpa besok." Sasuke melambai pelan dan berjalan menjauh dengan sikap cool-nya lagi. Membuat Naruto mendengus geli, menahan tawa.
"Dasar manusia sok keren." Gumam pemuda pirang itu yang mulai bergerak mengikuti sang onyx. Tetapi langkahnya langsung terhenti saat mendengar gemerisik semak yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Sedikit penasaran, Naruto berbalik arah untuk bergerak menuju semak-semak di sisi pagar tembok taman. Tidak mempedulikan Sasuke yang telah melewati sisi halaman untuk menuju bangunan tempat tinggal mereka. Dan sepertinya pemuda raven itu tidak mengetahui bahwa Naruto sudah menjauh darinya untuk mengikuti asal suara yang membuat pemuda pirang itu penasaran.
Naruto bergerak pelan menyisir pagar dengan langkah hati-hati untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Samar-samar, telinganya bisa mendengar percakapan beberapa pria dengan seorang wanita yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Dengan gerakan perlahan, Naruto berusaha menjulurkan kepala dari tempat persembunyiannya di semak-semak untuk melihat siapa orang-orang itu.
Ada tiga orang pria dan satu wanita.
Naruto mengenali wanita berpakaian dress hitam seksi dan modis itu.
"Bibi Mei—" Ia bergumam pelan seraya terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Sang bibi melipat kedua tangannya dengan angkuh di depan dada. "Sudah kukatakan, ini tidak akan berhasil." Ia mendesis sinis ke arah salah seorang pria.
"Tapi kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Pria tadi mendengus kesal.
"Benar, semua bukti sudah ada dan kita—" Pria kedua berusaha menyahut, tetapi langsung terhenti saat wanita itu mendeliknya tajam.
"Bukti masih samar, Bocah." Bibi Mei menyela cepat ke arah seorang pria yang terlihat lebih muda tadi. "—Kau itu masih baru. Jadi jangan seenaknya menarik kesimpulan." Ketusnya lagi.
Pria ketiga yang mempunya tubuh lebih besar dibandingkan yang lain hanya bisa mendesah lelah. "Sekarang bukan waktunya bertengkar. Pemerintah butuh alasan yang jelas."
"Yeah—yeah—santai saja. Akan kulakukan sebisaku." Potong wanita tadi seraya mengibaskan tangannya dengan malas. "—Jadi pulanglah dan tidur. Biarkan aku bekerja."
Ketiga pria tadi saling tatap kemudian mengangguk pelan menuruti perintah wanita seksi itu.
Naruto hanya menatap pemandangan itu dalam diam dengan wajah yang menampilkan ekspresi heran. Ia sama sekali tidak mengerti situasi yang ada dihadapannya sekarang. Siapa ketiga pria itu dan apa hubungannya dengan bibinya?
Dari cara berpakaian mereka, Naruto yakin kalau pria-pria itu bukanlah orang biasa. Terlebih lagi saat sang Uzumaki menatap tulisan dan lambang yang ada di belakang jaket mereka.
Naruto memicingkan matanya untuk membaca tulisan itu lebih jelas.
"NIS—?" Pemuda pirang itu bergumam pelan saat membaca huruf tersebut. Sepertinya ia pernah membaca singkatan dari NIS itu. Kalau tidak salah itu adalah—
.
"National Intelligence Service." Suara Sasuke yang berada di sebelahnya sukses membuat Naruto melompat kaget.
"Fucking hell!"
"Ssstt—ssstt—Diam, Idiot! Kita bisa ketahuan kalau kau berteriak seperti itu!" Sasuke mendesis galak sembari menutup rapat mulut pemuda pirang itu. Membungkam sang Uzumaki dengan cepat, kemudian melirik ke arah gerombolan itu.
Ketiga pria tadi serta bibi mereka langsung tersentak terkejut dan menoleh ke asal suara dengan sigap. Raut wajah mereka terlihat waspada.
"Suara apa tadi?" Salah seorang pria menatap berkeliling, mencari sumber keributan. Tidak ada sahutan apapun selain hembusan angin yang menerbangkan dedaunan serta gemerisik semak.
"Mungkin hanya angin." Ucap pria lainnya. Mengendurkan sikap waspada mereka.
"Man, aku sampai kaget. Aku pikir kita ketahuan." Pria yang terlihat masih muda itu mendesah lega.
Bibi Mei ikut menghela napas juga, lalu pandangannya beralih ketiga pria tadi. "Cepat pergi. Aku tidak mau ada yang melihat kalian." Usirnya sembari mendorong pria-pria itu menjauh dari gerbang kerajaan.
"Baiklah, baiklah, kami pergi. Tapi ingat, cepat selesaikan urusanmu." Ucap pria berbadan besar. Mei menanggapinya dengan anggukan tegas.
"Ya, aku mengerti. Sekarang pergilah." Perintah wanita itu seraya menatap sekitar, berharap tidak ada yang mencurigai tindak-tanduk mereka.
Setelah kepergian ketiga pria tadi, bibi Mei mulai bernapas lega dan bergerak memasuki kerajaan dengan santai. Seakan-akan ia baru saja bersenang-senang dengan mengencani banyak pria.
Naruto dan Sasuke yang bersembunyi di balik semak hanya menatap sosok wanita itu hingga menjauh ke balik bangunan utama, sebelum akhirnya melonggarkan kecemasan mereka.
"Hampir saja kita ketahuan." Gumam Sasuke pelan.
Naruto mendeliknya galak. "Apa yang kau lakukan disini, Brengsek?! Aku pikir kau sudah kembali ke kamarmu." Desisnya dengan berbisik pelan.
Sasuke bangkit dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu. Apa yang kau lakukan disini? Aku pikir kau mengikutiku di belakang, ternyata malah memata-matai bibi Mei." Sinisnya lagi.
Naruto menarik tangan sang onyx untuk kembali berjongkok di hadapannya. Ia mengedarkan pandangan sebelum mulai bicara. "Aku tadi dengar gemerisik semak dan suara orang. Jadi kuikuti saja. Aku tidak menyangka kalau melihat segerombolan orang itu bersama dengan bibi Mei." Bisiknya misterius. "—Lalu soal NIS tadi. Kau tahu apa itu?" Tanyanya dengan nada penasaran sekaligus antusias.
Sasuke mengangguk. "National Intelligence Service atau yang dikenal sebagai NIS adalah badan intelijen pemerintah Korea Selatan dengan tugas untuk menjaga keamanan nasional sekaligus sebagai badan investigasi kejahatan di Korea Selatan."
"Apakah seperti badan CIA di Amerika, begitu?" Tanya Naruto lagi. Ia cukup tahu dengan badan intelijen pemerintahan dari film-film action yang sering di tontonnya di bioskop.
"Tepat sekali." Sasuke mengangguk. "—Tetapi yang aku bingungkan adalah apa hubungannya NIS dengan bibi Mei?"
"Jangan-jangan bibi Mei adalah mata-mata yang bertugas mengawasi kerajaan." Sahut Naruto dengan nada antusias layaknya seorang bocah yang bertemu tokoh superhero-nya.
Sasuke terdiam. Mereka saling pandang sebelum akhirnya menggeleng bersamaan. "Imposibble... Bibi Mei sama sekali tidak pantas menjadi mata-mata." Ucap mereka berbarengan, kompak.
"Pokoknya, apapun itu, bibi Mei mempunyai hubungan misterius dengan ketiga pria tadi." Jelas Sasuke seraya mengelus dagunya seperti seorang detektif yang tengah berpikir.
"Benar. Kita harus mencari tahu besok." Usul Naruto lagi. "—Malam ini sebaiknya kita kembali ke kamar dan tidur. Aku lelah sekali." Lanjutnya seraya menguap lebar.
Sasuke menanggapinya dengan anggukan setuju. Mereka bergerak menjauh dengan sosok Naruto yang mengekor di belakang sang raven untuk menuju ke kamar mereka masing-masing. Pemuda pirang itu terlihat berpikir keras. 'NIS, huh?—Sebenarnya apa yang dilakukan badan intelijen pemerintah di wilayah kerajaan?' Batinnya dalam hati.
'—Terlebih lagi, kenapa bibi Mei terseret dalam hal ini?'
'Aku HARUS mencari tahu informasi ini besok. Atau sebaiknya aku memberitahukan hal ini kepada paman Hashirama? Well, pria itu cukup baik dan mungkin dia mengetahui jawabannya.' Batin sang Uzumaki lagi seraya tersenyum lebar. Senang dengan keputusan yang dibuatnya.
.
.
.
TBC
.
.
Yuhuuu~ rahasia kerajaan sudah terkuak di chap ini... masih banyak konflik yang terjadi dan bibi Mei mulai eksis... huahahaha...
Yup! Naruto dan Sasuke adalah kakak beradik, congrats for you guys! #plak *dihajar Naruto dan Sasuke*
Dan yang nebak kalau Hashirama yang mencuri buku diary itu, kalian memang berbakat jadi dukun O.o Hebat banget... #plak XD
Aku pengen bikin threesome NaruSasuSai... Ada yang setuju? Kalau gak, paling cuma NaruSasu aja nanti... huehehehe
Sekali lagi terima kasih banyak untuk kalian yang udah baca fic aku... I LOVE YOU! KALIAN SAHABATKU YANG TERHEBAT! *peluk haru*
.
RnR please!
