Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
.
_Kediaman kerajaan, pukul 08.00 pagi_
.
Hashirama terlihat berjalan dengan santai di halaman istana. Ia bersenandung riang sembari menghisap rokok yang terselip di tangan kanannya. Entah kenapa pagi ini ia ingin memulai hari dengan senyuman. Toh tidak ada salahnya 'kan, sesekali refreshing melepas penat? Urusan kerajan dan politik membuat otaknya hampir meledak.
What a nice day!
Pria itu melangkahkan kakinya menuju taman untuk menikmati pemandangan. Ia berdiri di sisi kolam ikan dengan satu tangan yang dimasukkan ke kantong celana dan satunya lagi memegang sebatang rokok.
"Memikirkan sesuatu, Hashirama?" Suara Madara yang berasal dari belakang tubuhnya membuat pria itu langsung menoleh dan tersenyum cerah.
"Ah—hyung, selamat pagi." Hashirama mengangkat satu tangannya, menyapa.
Madara menanggapinya dengan dengusan malas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa yang kau rencanakan?" Ia bertanya langsung ke topik utama.
"Apa maksudmu? Aku tidak merencanakan apapun." Sahut Hashirama dengan cengiran lebar.
"Kau pikir bisa membohongiku dengan senyum menjijikanmu itu, huh?" Madara menyahut ketus.
Hashirama terkekeh sebentar sebelum melepas topeng polosnya dan menampilkan seringai tipis. "Tentu saja tidak... Aku tidak bisa membohongimu, hyung." Ujarnya dengan suara yang agak berat.
Madara menautkan alisnya, tidak suka. "Katakan padaku sekarang, apa yang sedang direncanakan oleh ibu." Itu bukanlah pertanyaan melainkan perintah. Dan Hashirama membenci nada dari kalimat tersebut.
"Apapun yang direncanakan ibu, kau tidak perlu tahu." Sahut Hashirama seraya mengisap rokoknya dengan dalam.
"Dengar, Hashirama—" Madara menyambar batang rokok di bibir pria itu dan membuangnya dengan kasar ke tanah. "—Aku tidak akan memaafkanmu kalau Naruto sampai terluka."
Kilatan dingin terpantul di mata Hashirama. "Kenapa? Apa kau melihat sosok Minato di diri Naruto, begitu? Kau masih mencintai pria itu, Madara?"
"Itu tidak ada hubu—"
"Berhenti bermimpi, hyung." Hashirama mencengkram kasar lengan pria itu, memotong ucapan sang kakak. "—Minato tidak pernah mencintaimu. Naruto adalah hasil cintanya dengan Fugaku." Desisnya lagi.
Madara menggeram kesal dan menepis cengkraman itu. "Sudah kukatakan kalau ini tidak ada hubungannya dengan hal itu!"
"Lalu kenapa kau ingin melindungi Naruto?"
"Karena aku pamannya." Sahut Madara cepat.
Hashirama tertawa pahit. "Kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu itu, huh? Kebohonganmu itu membuatku geli." Sarkastiknya lagi.
Madara tidak menyahut. Wajahnya tetap menampilkan ekspresi dingin. "Kau ingin percaya atau tidak, itu bukan urusanku. Aku disini untuk melindungi Naruto."
Hashirama berhenti tertawa. "Lalu bagaimana dengan Sasuke dan Sai? Kau ingin mengorbankan mereka demi Naruto? Apa karena mereka adalah anak dari wanita itu dan Fugaku, begitu?" Pria itu kembali mengambil rokoknya di saku celana dan kembali menyelipkan di celah bibirnya. "—Kemarin, kau berambisi sekali untuk menjadikan Sasuke sebagai raja. Apakah itu juga demi melindungi Naruto?"
"Aku menyayangi Sasuke dan Sai seperti anakku sendiri. Aku menginginkan Sasuke sebagai raja agar dia bisa mengembalikan segalanya seperti semula. Pemuda itu kuat seperti Fugaku." Jelas Madara lagi.
"Tidak ada yang bisa dikembalikan seperti semula, Hyung." Hashirama menghembuskan asap rokok dengan santai. "—Kebobrokan kerajaan ini sudah mengakar sejak ibu yang memimpin. Kalau kau ingin mengembalikannya seperti pemerintahan sebelumnya, kau harus bisa menyingkirkan ibu." Sahutnya lagi.
Lagi-lagi Madara hanya diam. Ia mendengus pelan. "Apapun itu, aku bersumpah akan mengembalikan kejayaan kerajaan Korea Selatan seperti dulu."
Hashirama bertepuk tangan dengan tempo konstan yang pelan, seolah-olah mengejek. "Bravo!—bravo, Hyung!" Ia kembali menampilkan cengiran riangnya.
Namun senyum Hashirama menghilang saat tepukannya terhenti. Mata hitamnya menatap tajam ke arah sang kakak. "—Tapi melakukannya lebih sulit dibandingkan hanya berbicara mengubar janji." Sambungnya lagi.
Madara terdiam. "Aku tidak butuh nasihat darimu, Hashirama."
"Suka atau tidak, aku akan terus memberimu nasihat." Sela Hashirama cepat. Ia menangkap lengan Madara dan memaksa pria itu untuk saling berhadapan dengannya. "—Sebab aku ingin melindungimu. Aku sangat menyukaimu, hyung."
"Cukup bercandanya, Hashi—Hmphh!" Kalimat Madara terputus saat pria dihadapannya itu langsung membenturkan bibir mereka dalam kecupan yang tiba-tiba. Sanggup membuat mata Madara terbelalak terkejut.
Pria berambut hitam panjang berantakan itu mendorong bahu Hashirama dengan panik. "Apa yang kau lakukan, Idiot?!" Bentaknya kesal.
"Kenapa? Aku hanya ingin memberimu semangat."
"Dengan menciumku, begitu?!"
Hashirama mendengus geli. Kembali ke sosoknya yang ceria lagi. "Well, bukankah aku tadi sudah mengatakan kalau aku menyukaimu? Jadi wajar'kan kalau aku menciummu?"
"Berciuman antar saudara bukanlah hal yang wajar, Hashirama."
"Yeah, begitu juga mencintai suami kakakmu sendiri. Benar begitu 'kan, Hyung?" Hashirama membalikkan pernyataannya. Mengingatkan Madara mengenai Minato.
Sang kakak mematung. Tidak bisa membalas ucapan itu selain mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menelan kekesalan. "Aku ada urusan lain." Ia akhirnya mengalah dan berbalik pergi. Meninggalkan Hashirama yang kembali menghisap rokoknya dalam diam.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di perpustakaan, Naruto dan Sasuke masih sibuk berseluncur di internet untuk mencari informasi tentang NIS; National Intelligence Service. Badan intelijen pemerintahan di Korea Selatan.
Naruto yakin, kedatangan NIS ke wilayah kerajaan bukanlah hal yang baik. Sebab yang dia tahu, badan intelijen tersebut hanya menangani kejahatan yang bisa membahayakan negara Korea Selatan. Kalaupun mereka ingin melindungi kerajaan, kenapa mereka harus melakukannya secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. Bukankah itu sangat mencurigakan?
"Nihil." Sasuke membuka suara setelah beberapa menit yang lalu terlihat fokus di depan layar komputer. Ia mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "—Tidak ada petunjuk apapun mengenai identitas mereka." Sahutnya lagi.
"Bagaimana dengan bibi Mei? Kau bisa mencari tahu hubungan wanita itu dengan ketiga pria tadi malam?" Tanya Naruto.
"Tidak bisa. Akses internet yang digunakan oleh kerajaan adalah jaringan publik, bukan akses rahasia pemerintahan." Sela Sasuke lagi seraya beralih menatap komputer.
"Adakah cara lain? Misalnya saja meng-hack jalur NIS atau semacamnya?"
Sasuke memutar bola matanya, kemudian menatap pemuda pirang itu dengan tatapan sinis. "Are you fucking moron? Kita bukan mata-mata ataupun hacker, Idiot! Kau terlalu banyak menonton film!" Bentaknya kesal.
"Okay—okay—Jangan marah. Aku hanya mencoba mencari solusi." Sahut Naruto panik seraya mengangkat kedua tangannya.
"Bisakah kau mencari solusi yang lebih pintar?"
"Sorry." Ucap Naruto dengan cengiran salah tingkah.
Enggan berdebat lagi, Sasuke memilih bangkit dari depan komputer sembari melirik jam tangannya. "Aku harus pergi, Naruto. Ada acara yang harus kuhadiri."
"Acara apa? Semacam perkumpulan ulzzang lagi?"
"Yeah—" Sasuke mengambil jaket hitamnya dan memakainya dengan cepat. "—Aku berjanji akan cepat pulang, oke?" Ia mengecup lembut bibir sang Uzumaki.
"Oke, hati-hati di jalan." Sahut Naruto seraya melambai pelan pada sang adik—yang juga merangkap sebagai kekasihnya itu.
Hubungan yang cukup rumit memang, tetapi pemuda pirang itu tidak peduli. Ia mencintai Sasuke dan sekarang mereka pacaran. Habis perkara.
.
Madara terlihat masuk ke perpustakaan setelah berpapasan dengan Sasuke di pintu masuk. Ia hanya ber'Hn' pelan saat sang anak meminta ijin keluar dari kerajaan dengan alasan bertemu teman-teman ulzzang-nya.
"Ya." Hanya kata singkat itu yang keluar dari bibir Madara. Selanjutnya ia memilih masuk ke ruang perpustakaan untuk mencari dokumen serta laporan kerajaan.
Naruto menoleh saat mendengar suara langkah kaki Madara. Ia bangkit dari bangkunya dan membungkuk hormat. "Se—Selamat pagi, Paman." Sapanya agak canggung.
Madara terlihat tidak peduli. Ia hanya melirik sekilas dan mendengus pelan. Kemudian memilih bergerak menuju sisi rak buku di sebelah kanan untuk mencari laporan yang dibutuhkannya. Tangannya bergerak menuju rak paling atas untuk mengambil buku, namun jari-jarinya tidak bisa menggapai benda itu. Sedikit kesal, Madara terpaksa berjingkit untuk meraihnya. Tetapi keseimbangan tubuhnya mulai goyah hingga membuat tubuhnya limbung ke samping.
Naruto yang melihat hal itu dengan sigap langsung bergerak menuju ke arah Madara dan meraih pinggang pria tadi, menahan agar tubuh itu tidak terjatuh ke lantai.
"Paman tidak apa-apa?" Tanya sang Uzumaki lagi. Menatap pria yang berada di lengannya tersebut.
Madara tercengang sesaat sebelum akhirnya menepis pegangan Naruto. "Menjauh dariku, Bocah." Sinisnya sembari merapikan baju. Sikap bermusuhan masih diperlihatkan pria bermata hitam itu. "—Jangan berani mendekatiku." Sambungnya penuh ancaman.
Naruto menggaruk belakang kepalanya, kikuk. "Aku hanya ingin menolong paman." Ia membungkuk untuk mengambil beberapa buku yang terjatuh dan menyerahkannya ke arah pria tadi. "—Apa yang sedang paman cari? Mungkin aku bisa membantu."
Madara mendengus dan menyambar buku di tangan sang Uzumaki dengan cepat. "Aku tidak butuh bantuanmu." Ketusnya seraya menaruh buku-buku tadi ke tempatnya semula. Namun karena rak nya terlalu tinggi, tangannya masih tidak bisa menggapai jejeran rak paling atas.
Mencoba berinisiatif cerdas, Naruto meraih pinggang Madara dan menggendongnya agar pria tadi bisa menaruh kembali buku yang terjatuh. Namun kelakuannya justru semakin membuat Madara panik.
"A—Apa yang kau lakukan, Bocah?! Turunkan aku sekarang!" Bentaknya kesal.
Sang Uzumaki berdecak kecil. "Jangan banyak bertanya, Paman. Cukup letakkan saja bukunya kembali." Perintahnya lagi, membalas delikan sinis Madara dengan pandangan jengkel.
Enggan berdebat panjang lebar, Madara akhirnya menyerah dan memilih meletakkan kembali buku-buku tadi ke susunan semula. Sifat keras kepala Naruto mengingatkannya pada Minato. Tapi siapa sangka kalau pria pirang yang sangat manis itu bisa memiliki anak yang sangat tampan dan juga tegap. Berbanding terbalik dengan sosok Minato yang mungil dan manis.
Madara mendesah pelan, kemudian melirik Naruto. "Aku sudah selesai. Sekarang turunkan aku."
Naruto menurut dan melepaskan gendongannya perlahan. "Maaf kalau kelakuanku agak kurang sopan, Paman. Tapi aku benar-benar ingin membantumu." Ucapnya.
Madara hanya ber'Hn' pelan seraya memeriksa buku yang dibutuhkannya. "Tolong ambilkan buku yang ada disana." Pria itu menunjuk sebuah buku tua berwarna merah di atas rak paling atas. Ia berusaha melunturkan sikap sinisnya dan menerima uluran bantuan sang Uzumaki. Toh dia sendiri tidak akan rugi dibantu oleh pemuda itu, ya 'kan?
"Eh?" Naruto sedikit kaget dengan permintaan pria itu. Ia pikir Madara tidak menyukai kehadirannya, namun sifatnya ternyata mirip dengan Sasuke. Tipe tsundere yang sulit sekali didekati.
"Ambilkan buku itu." Madara mengulang perkataannya dengan wajah stoic.
Dengan sigap, Naruto meraih buku di jejeran rak atas dan menyerahkannya ke pria tadi. "Aku pikir paman membenciku, ternyata tidak. Hehehe—terima kasih." Ucapnya dengan cengiran lebar.
Madara terpaku sejenak sebelum memalingkan wajahnya. "Aku tidak pernah membencimu." Ia akhirnya bicara walau dengan nada pelan, mirip bisikan. "—Aku sangat menyukaimu seperti aku menyukai Minato." Lanjutnya lagi.
Naruto menggaruk rambut pirangnya seraya bersender di rak buku. "Aku tahu."
Jawaban pemuda pirang itu membuat Madara menoleh terkejut. "Kau—tahu? Bagaimana bis—?"
"Di paviliun—" Pemuda pirang itu menggaruk pipinya, salah tingkah. "—Kau menciumku sambil menyebut nama ayahku." Ucapnya. Mata birunya berusaha melihat ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan onyx hitam yang sekarang terbelalak lebar dihadapannya itu.
"Kau—"
"Saat itu aku tidak tidur, jadi—" Belum selesai Naruto berbicara, Madara langsung melesat menjauh. Malu akan perbuatannya beberapa hari kemarin.
"—H—Hey! Tunggu!" Naruto segera menyambar lengan Madara sebelum pria itu kabur keluar perpustakaan. "—Kenapa paman lari?! Aku hanya—" Kalimatnya kembali terpotong saat melihat wajah Madara.
Pria itu berusaha menutupi wajahnya yang memerah dengan lengan, sedangkan pandangannya berusaha menatap arah lain agar tidak bertemu dengan iris sapphire yang sedang tertegun menatapnya. "Hentikan—lepaskan aku, Bocah." Sinisnya. Berusaha sekuat mungkin untuk menampilkan ekspresi bengis, namun suara pria itu tidak bisa membohongi pendengaran Naruto. Suara Madara terdengar tercekat dan bergetar.
"Paman?"
"Aku bilang, lepaskan aku." Madara mendesis lagi.
"Maaf—" Naruto melepaskan cengkramannya. Kemudian kembali menatap pria dihadapannya itu. "—Apa aku menyakiti lenganmu?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak. Lenganku tidak apa-apa." Madara menyentuh sikunya dengan canggung. "—Aku hanya merasa malu dan bersalah padamu."
"Kenapa harus malu dan merasa bersalah?"
"Karena aku—" Madara menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "—Masih mencintai ayahmu. Dan aku bertindak memalukan dengan menciummu saat di paviliun itu. Aku merasa hina." Lanjutnya lagi.
Naruto menyentuh tengkuknya, bingung. "Dengar paman, aku sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai ciuman ataupun perasaan paman yang masih mencintai ayahku." Ia mendesah sebelum menatap pria itu. "—Aku bahkan senang bahwa ayahku sangat dicintai oleh semua orang." Ucapnya dengan cengiran yang menawan.
Madara terdiam sejenak kemudian mendengus geli. "Kau benar-benar mirip ayahmu. Benar-benar mempesona." Ia melangkah menuju salah satu bangku dan duduk disana.
Naruto mengikutinya. "Oh ya? Bisa paman ceritakan padaku tentang ayah?"
Pria onyx itu mengangguk. "Dia sangat mengagumkan. Tubuh mungilnya, senyuman lebarnya, dan sifat baik hatinya membuatku jatuh cinta."
"Karena itu paman menyukai ayahku?"
Madara mengangguk pelan. "Ya, dia cukup manis." Sahutnya lagi.
"Jadi, ayahku di bawah atau di atas?" Naruto bertanya dengan pertanyaan yang membuat Madara tersedak. Berbelok dari topik yang dibicarakan.
"A—Apa?"
"Oh ayolah, Paman, kau pasti tahu apakah ayahku merupakan 'seme' atau 'uke'." Ucapnya lagi seraya mengutip kata 'seme' dan 'uke' dengan kedua tangannya.
Madara mendesah pelan. "Haruskah kau mempertanyakan soal itu?"
"Please—" Naruto memohon. Pria itu menggeleng pelan.
"Ayahmu 'uke'. Aku pernah sekali mengintipnya melakukan hubungan badan dengan seseorang." Jelasnya lagi.
"Biar kutebak—" Sang Uzumaki menyela. "—Apakah orang tersebut adalah Fugaku?"
Madara memandang pemuda pirang itu dengan tatapan terkejut. "Darimana kau tahu?"
"Well, Sasuke dan Sai pernah menceritakannya."
"Anak-anak itu memang tidak pernah bisa menyimpan rahasia." Rutuk Madara jengkel. "—Apalagi yang diceritakan mereka selain hal itu?"
Naruto mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada. Hanya itu." Bohongnya. Ia tidak ingin Madara tahu bahwa Sasuke dan Sai juga menceritakan semuanya, termasuk tentang aib perselingkuhan di dalam kerajaan.
Madara menghela napas pelan. "Aku tahu kalau Minato menyukai Fugaku. Mereka saling mencintai. Tetapi aku tidak peduli dan terus mencintainya—sampai sekarang."
Naruto tidak membalas ucapan itu. Ia hanya menyentuh tengkuknya. "Well, aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Jadi, paman bisa sepuasnya menyukai ayahku."
Madara medengus pelan dengan senyum tipis. "Thanks."
Naruto mengangguk dengan cengiran lebar. "Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, paman masih tampan, aku yakin banyak yang menyukaimu."
"Yeah, semoga saja."
"Kalau tidak ada yang menyukaimu. Paman bisa pacaran denganku." Naruto melempar kalimat itu hanya ingin menggoda Madara. Tetapi siapa sangka kalau pria itu langsung tertegun mendengar ucapan sang Uzumaki. Menatap pemuda pirang itu dengan kerjapan tidak percaya.
"Kau ingin pacaran denganku?"
"Hahaha—" Naruto tertawa. "—Aku hanya bercanda, Paman." Sambungnya lagi.
Madara terdiam. Bukannya menampilkan raut wajah kesal, pria itu malah menyentuh lengan sang Uzumaki dengan perlahan. Ia mendongak untuk bisa menatap pemuda pirang yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu. "Bi—Bisakah aku menciummu?"
"Huh?" Tawa Naruto terhenti. "—Apa yang paman katakan tadi?" Ia mengorek kupingnya, berharap telinganya salah mendengar ucapan pria itu.
"Bisakah aku menciummu?" Madara mengulang permintaannya.
"Wooo—wooo—tunggu dulu." Naruto mundur ketakutan. Ia tertawa panik. "—Paman pasti bercanda 'kan?"
Madara melangkah maju, memojokan pemuda itu di bagian rak buku. "Hanya satu kali saja. Aku mohon."
Naruto meneguk ludahnya gugup.
Jujur saja, wajah Madara tidak buruk juga, malah terlihat sangat tampan dengan kulit putih dan mata hitam yang jernih.
Damn!—Semua anggota keluarga kerajaan sangat tampan dan cantik, bahkan semuanya memiliki darah awet muda. Sungguh membuat iri.
"Uhh—orang bisa melihat kita, Paman." Naruto beralasan.
"Tidak ada yang melihat. Kita terlindungi oleh rak buku ini." Madara menjulurkan kedua tangannya ke bahu pemuda pirang itu. "—Hanya sebentar saja." Bisiknya pelan.
Naruto panas-dingin. Apakah semua anggota keluarga kerajaan memiliki sifat penggoda seperti ini?
For god's sake!—Kalau semua orang menggodanya dengan suara dan gerakan sensual seperti itu, bisa-bisa Naruto akan langsung kehilangan akal dan memperkosa seluruh anggota kerajaan, tidak terkecuali neneknya sendiri.
'Sadar, Naruto! Kuatkan dirimu!' Batinnya dalam hati.
Namun seberapa keras ia berusaha untuk tidak terjatuh ke dalam godaan setan itu, pesona sang paman tidak bisa dihindari, membuat otak serta tubuhnya menyerah kalah. Pria itu benar-benar mirip dengan Sasuke. Sangat sensual dan mengundang gairah.
Menyerah dengan keimanannya, akhirnya Naruto mengangguk pelan dan mulai mencondongkan tubuhnya untuk menggapai bibir ranum itu.
Persetan dengan perpustakaan! Persetan dengan harga dirinya! Ada hidangan 'menggiurkan' di depan mata, tidak akan dibuangnya dengan percuma!
Habis perkara!
Benturan bibir awalnya hanya sekedar ciuman kecil, tiba-tiba berubah menjadi kecupan panas saat Madara mulai membuka mulutnya. Mengijinkan lidah pemuda itu untuk bergerak di dalam sana. Yang tentu saja, ditanggapi oleh Naruto dengan penuh suka cita. Ia menggapai leher Madara dan menariknya lebih kuat, memaksa mulut tersebut untuk terus melakukan kecupan yang dalam dan panjang.
Bibir saling menggigit pelan, decakan dan hisapan juga dilakukan. Untuk sejenak, mereka tidak peduli lingkungan sekitar. Madara bahkan mencengkram kerah Naruto dan terus melumat habis bibir pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Dengus napas terdengar, benturan punggung Naruto di rak buku menambah intim kegiatan mereka. Ia bahkan tidak peduli pada lembaran kertas dan beberapa buku yang terjatuh ke lantai karena aksi mereka.
Naruto hanya berharap, tidak ada seorang pun yang sedang mengintip mere—
Pikiran sang Uzumaki terhenti sesaat ketika matanya tidak sengaja jatuh pada sosok bibi Mei yang sedang bersandar di balik lemari sambil menghisap rokok. Tepat berada didepannya. Sang sapphire terbelalak lebar.
Bibir merah ber-lipstick itu tersenyum tipis melempar godaan. "Haloo~ love birds~ sepertinya sedang bersenang-senang, huh?"
Kaget dan panik. Naruto dan Madara langsung memisahkan diri saat mendengar ucapan wanita itu. Sang Uzumaki keringat dingin, sedangkan Madara mendelik ke arah wanita itu dengan galak. Sayangnya, tatapan intimidasi seperti itu tidak berpengaruh pada bibi Mei. Wanita itu bahkan melemparkan kikikkan kecil saat diberi death glare oleh Madara.
"Mau apa kau kesini?" Madara mengeluarkan kalimat ketusnya.
"Ada yang perlu kubicarakan padamu. Tetapi sepertinya kau sedang sibuk, jadi—"
"Tidak, jangan pergi. Aku tidak sibuk." Madara menahan kepergian sang adik. Ia menoleh sekilas ke arah Naruto, menampilkan ekspresi normalnya lagi. "Pergilah, aku perlu bicara empat mata dengan bibimu." Perintahnya lagi.
Naruto yang masih terdiam hanya bisa membungkuk canggung, kemudian segera melesat ke luar ruangan. Meninggalkan kedua orang itu di dalam sana.
Sang Uzumaki mendesah lega saat sudah berada di luar, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum menghembuskannya lagi. Jujur saja, berciuman dengan Madara sedikit menggelitik perutnya. Bukan rasa jijik, melainkan rasa yang cukup menyenangkan. Tetapi dibandingkan itu, ia lebih suka mencium Sasuke.
Bibir pemuda raven itu membuat bukan hanya perutnya saja yang tergelitik, tetapi juga sendi di seluruh tubuhnya. Hampir membuat organ dalamnya meleleh layaknya es krim.
Ahh—Naruto benar-benar menyukai Sasuke. Baru saja beberapa menit ditinggal sang onyx, pemuda pirang itu sudah merindukkan keberadaannya. Mungkin sebaiknya ia kembali saja ke kamar dan beristirahat disana sembari melamunkan sosok Sasuke.
Ide bodoh itu membuat Naruto mengulum senyum sendiri.
"Putra Mahkota." Panggilan seorang wanita membuat langkah Naruto terhenti. Ia menoleh dan mendapati sosok Kaguya sedang berjalan ke arahnya bersama para pelayan yang mengekor di belakang. Benar-benar ciri khas seorang ratu.
"Selamat pagi, Nenek." Pemuda itu menyapa seraya membungkuk hormat.
Kaguya membalasnya dengan mengangkat satu tangan, tanda agar sang Uzumaki berhenti bersikap basa-basi. "Bisakah kita bicara di kamarku, Putra Mahkota? Ada yang perlu aku beritahukan padamu." Katanya lagi dengan nada datar.
Naruto berpikir sejenak, kemudian mengangguk tegas. "Ya, Nenek."
Senyum tipis terpasang di wajah Kaguya. "Ikuti aku. Kita perlu bicara secepatnya."
Tanpa banyak bicara dan protes, Naruto mengekor di belakang sang nenek menuju ke bangunan utama. Sedangkan para pelayan diusir dengan sopan oleh Kaguya untuk membiarkan mereka berdua saja di dalam kamar.
Kaguya duduk di depan meja baca dengan elegan. Mata dinginnya menatap Naruto dengan lekat. "Duduklah." Perintahnya lagi pada sang cucu.
Naruto membungkuk sebentar sebelum menuruti ucapan Kaguya. Ia duduk bersimpuh di depan wanita itu. "Jadi, apa yang ingin nenek bicarakan?" Tanyanya langsung.
Kaguya tidak langsung menjawab. Ia mendesah pelan sebelum menatap lekat iris biru didepannya itu. "Kita akan segera melangsukan pendaulatanmu di Jepang sebagai raja Korea Selatan."
Naruto membelalak terkejut. "Je—Jepang? Pendaulatan raja? Apa maksudnya ini?"
"Seperti yang kau ketahui—" Kaguya meraih teko teh yang terbuat dari porselin dan menuangkannya di gelas cawannya sendiri. "—Kau telah dipilih menjadi putra mahkota, jadi tidak ada alasan lagi untuk mundur dari pendaulatan menjadi raja."
"Tapi, Nek!—Ini tidak semudah itu. Maksudku, menjadi raja dari Korea Selatan?! Itu mustahil!" Naruto berteriak frustasi, hampir menjambak rambutnya sendiri.
Kaguya berhenti menuang teh dan kembali menatap pemuda itu dengan delikan tajam. "Setuju atau tidak, mustahil atau tidak, kau tetap akan didaulat menjadi raja."
Naruto menggigit bibirnya menahan emosi. Ia tidak suka dikekang, terlebih lagi diharuskan menjadi raja.
Semua ini tidak masuk akal. Beberapa hari yang lalu dia masih tinggal di Jepang dengan kehidupannya yang menyenangkan, kemudian sebuah surat menghancurkan seluruh hidupnya. Menyuruhnya ke Korea Selatan hanya untuk didaulat menjadi raja? What the fuck with that?! Naruto tidak ingin menjadi raja! Ia hanya ingin kehidupan normal!
"Aku tidak bisa, Nek." Naruto akhirnya bicara.
Wajah Kaguya mengeras, namun masih menampilkan ekspresi datarnya. "Kenapa kau menolak? Menjadi raja sangat menyenangkan. Semua orang ingin melakukannya. Tetapi kaulah yang terpilih dan seharusnya kau bangga." Ucapnya dengan nada yang mengalun lembut namun penuh penegasan di setiap katanya.
Wajah sang Uzumaki meragu. "Aku tidak tahu. Aku hanya tidak sanggup menanggung tanggung jawab itu."
Kaguya mencoba menghela napas berat. "Dengar, Putra Mahkota, apapun yang kau lakukan, setiap tindakanmu akan dipertanggung jawabkan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalah disini—" Wanita itu menghentikan kalimatnya sejenak dan menyesap cairan teh dari cawannya sebelum kembali bicara. "—Menjadi raja adalah takdirmu sejak lahir. Kau tidak bisa menolak hal yang sudah digariskan oleh Tuhan." Nasihatnya lagi.
Naruto menunduk. Kedua tangannya terkepal erat diatas paha. "Apakah menjadi raja adalah takdirku, Nek?" Ia bertanya lirih. Mulai goyah.
Kaguya mengangguk tanpa ekspresi. "Itu adalah takdirmu, Putra Mahkota. Dan keputusanmu itulah yang akan membawa nasib rakyat Korea Selatan." Ujarnya lagi, berusaha merebut empati sang Uzumaki.
Ia harus meyakinkan Naruto untuk menerima jabatan seorang raja. Dengan cara itulah ia bisa menguasai Jepang dan membangun negara kedaulatan sendiri di bawah pimpinan Korea Selatan. Ia tidak peduli dengan Perdana Menteri Danzo. Pria itu hanyalah bidak catur yang akan dibuangnya ketika sudah tidak berguna lagi.
Kaguya kembali menyesap tehnya dengan seringai licik saat menatap anggukan lemah sang cucu.
"Aku mengerti, Nenek. Aku akan menjadi raja." Lirihnya dengan wajah tertunduk. Sama sekali tidak melihat kilatan misterius yang terpantul di mata sang nenek.
Kaguya berdehem sebentar. Mencoba mengembalikan ekspresinya ke raut wajah stoic dan dingin. "Aku senang mendengar keputusanmu, Putra Mahkota." Sahutnya.
"Jadi kapan akan dilakukan ritual pengangkatan raja itu?" Naruto menatap sang nenek dengan serius.
"Tiga hari lagi. Di Jepang."
"Ti—Tiga hari?!" Ludah Naruto tercekat di tenggorokan. Tidak menyangka pengangkatannya sebagai raja hanya hitungan hari saja—atau mungkin hitungan jam.
Kaguya mengangguk tenang. "Semakin cepat semakin baik, Putra Mahkota. Tidak akan ada lagi kekosongan pemerintahan di kerajaan, lagipula aku sudah tua untuk mengatur negara ini."
Naruto lagi-lagi hanya bisa menggigit bibir bawahnya, bingung dan ragu. "Tapi, Nek, aku masih penasaran kenapa kita harus melakukannya di Jepang?"
Untuk sedetik, Kaguya terlihat panik harus menjawab pertanyaan itu. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa itu keinginan Perdana Menteri Danzo agar upacara tersebut dilihat oleh kekaisaran Jepang sehingga mereka tidak mencurigai tindak-tanduk rencananya dan Danzo. Tapi ia tidak boleh mengatakan yang sejujurnya, ia tidak ingin Naruto curiga padanya.
Rencananya tidak boleh gagal!
Kaguya berusaha tenang dan mulai berbicara. "Hal itu dilakukan untuk menjalin kekerabatan antar negara, Putra Mahkota. Kau masih muda jadi tidak begitu paham dunia politik." Bohongnya dengan suara mulus tanpa ada keraguan sedikit pun. Membuat Naruto akhirnya mengangguk percaya.
"Lalu siapa saja yang ikut ke Jepang?"
"Seluruh anggota keluarga, termasuk para sepupumu juga." Tegas Kaguya lagi. Ia kembali meraih cawan tehnya dan menyesapnya dengan nikmat. "—Kau boleh keluar sekarang, Putra Mahkota. Pembicaraan kita sudah selesai" Usirnya secara halus.
Naruto mengangguk, kemudian berbalik pergi dengan helaan napas panjang dan berat.
Jujur saja, semua masalah ini membuat kepalanya pusing. Naruto sama sekali tidak ada rencana bahkan keinginan sama sekali menjadi raja. Ia hanya ingin kehidupan normal tanpa adanya konflik politik ini. Tetapi ucapan sang nenek adalah perintah yang mutlak, bahkan ia tidak mempunyai satu kesempatan pun untuk mengeluarkan pendapatnya sama sekali.
Son of a bitch!
Naruto terus menggerutu sepanjang jalan menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti saat mata birunya jatuh pada sosok bibi Mei yang bergerak menuju taman. Wanita itu terlihat banyak pikiran dengan wajah yang sangat kusut. Apakah ia bertengkar dengan Madara di perpustakaan? Ataukah sedang ada masalah? Mungkin ini ada hubungannya dengan NIS.
Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Naruto mengikuti bibinya menuju taman. Berharap bisa menguak sedikit rahasia wanita itu dengan badan intelijen pemerintah Korea Selatan.
Mei berdiri di sisi kolam seraya menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya tidak beralih dari air kolam, menatap beberapa ikan yang ada disana dengan pandangan kosong. Seakan-akan pikirannya sedang melayang ke dimensi lain. Wajah wanita itu bahkan tidak menunjukkan raut muka yang sensual seperti sebelumnya, hanya ekspresi datar layaknya sang nenek.
'Apakah ekspresi asli keluarga kerajaan adalah wajah datar dan masam seperti itu?' Batin Naruto dalam hati.
"Noona? Kau sedang apa?" Naruto menyapa terlebih dahulu.
Wanita itu menoleh ke belakang dengan tubuh tersentak kecil, terkejut melihat keberadaan Naruto. "Oh!—keponakanku tersayang~" Ia membalas sapaan itu dengan senyuman sensual. Kembali ke sikap penggodanya seperti biasa. "—Aku hanya menikmati pemandangan." Sahutnya lagi.
Naruto membalas dengan senyuman lebar. "Yeah—pemandangan yang sangat cantik."
Bibi Mei mendengus pelan. "Kau benar. Lebih cantik dibandingkan kerajaan ini." Gumamnya, membuat Naruto menatap wanita itu dengan bingung.
"Apa maksudnya lebih cantik dibandingkan kerajaan ini? Menurutku seluruh tempat ini sangat indah."
"Kau hanya melihat luarnya saja, Naruto. Di dalamnya, penuh dengan kebobrokan pemerintahan." Sinis bibi Mei lagi dengan nada ketus yang mengalun lembut.
Naruto tidak menanggapi ucapan bibinya itu. Ia memilih meraih batu kerikil dan melemparkannya ke kolam. Cipratan air terbentuk saat batu tadi menghantam permukaannya. "Kebobrokan pemerintahan karena ulah manusia, bukan karena bangunannya. Kau tidak bisa merubah sifat dasar manusia itu sendiri, kalaupun ingin merubahnya, itu perlu proses dan waktu." Ujarnya lembut.
Mei melirik ke arah pemuda pirang itu. "Apa kau sedang menasihatiku, Tampan?" Godanya dengan kerlingan genit. "—Sebab kata-katamu membuat jantungku berdebar."
Naruto tertawa kecil. "Noona memang cocok dengan sifat penggoda. Itu membuatmu lebih cantik dibandingkan harus berwajah murung seperti tadi."
Wanita itu terdiam sejenak. Kemudian mendengus pelan. "Kau benar-benar mirip ayahmu, Naruto. Suka menggoda orang lain dengan senyumannya."
"Apa senyumanku sangat mirip dengan ayah?"
"Yup! Benar-benar mirip." Mei menjawab dengan cepat. "—Aku bahkan pernah berdebar-debar saat ayahmu tersenyum padaku." Ucapnya dengan senyuman tipis. Mengingat masa lalu.
"Wow, aku tidak menyangka ternyata ayahku banyak disukai orang." Naruto melempar kerikil lagi ke arah kolam, membuat beberapa ikan melesat pergi. "—Apakah ia pernah melakukan kesalahan yang membuat orang lain membencinya?"
Mei menghisap batang rokoknya sebelum menjawab. "Ia pernah melakukan kesalahan fatal yang membuat ibuku marah."
'Pasti soal aib perselingkuhannya dengan Fugaku.' Kata Naruto dalam hati. Namun enggan mengungkit hal itu dengan bibinya.
Kesunyian menjalar diantara mereka. Tidak ada lagi yang membuka obrolan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya sebuah pernyataan keluar dari mulut sang Uzumaki.
"Aku melihat noona kemarin malam." Naruto melirik ke arah wanita itu. Sang bibi tidak menjawab dan hanya menunggu kelanjutan ucapan pemuda pirang itu. "—Kau bersama dengan tiga orang pria. Siapa mereka?"
Mei mendengus pelan dengan senyum menggodanya. "Kau menginterogasiku, Detektif? Ingin bermain permainan polisi-kejar-penjahat, begitu?"
Naruto tidak menjawab dan hanya menatap wanita itu dengan pandangan tajam. "Ada tulisan NIS di jaket mereka." Ucapnya lagi. Berusaha menemukan setitik petunjuk dari raut wajah sang bibi.
Mei kembali mengalihkan pandangannya ke tengah kolam seraya menghisap rokoknya lagi. "National Intelligence Service. Itu adalah singkatan dari NIS, badan intelijen pemerintah Korea Selatan yang menangani tindak kejahatan."
Naruto memasukkan kedua tangannya di saku celana dan memandang sang bibi dengan tatapan serius. "Apa hubunganmu dengan mereka?"
Wanita itu mendengus geli sembari melempar senyuman penggoda. "Kau masih ingin menginterogasiku, Tuan detektif?"
Naruto tidak menyahut candaan bibi Mei. Ia masih menunggu jawaban dari wanita itu.
"Aku bekerja di NIS; menjadi salah satu anggota yang bertugas mencari informasi di dalam kerajaan." Akhirnya bibi Mei membuka suara. Ia menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu hak tingginya. Matanya jernihnya melirik Naruto. "—Jadi, sekarang gantian aku yang bertanya. Apa kau mengintip kami kemarin malam, Naruto?"
Naruto bergerak panik seraya menggaruk belakang kepalanya. "Bukan mengintip. Hanya tidak sengaja melihat." Kilahnya lagi.
"Alasan yang klise sekali, Tuan detektif. Setidaknya carilah alasan yang masuk akal." Sahut bibi Mei dengan kekeh pelan.
Naruto menekuk wajahnya, jengkel. "Alasan tidak penting sekarang ini. Yang ingin aku tahu, kenapa bibi bisa menjadi anggota NIS?"
"Aku bekerja bertahun-tahun disana tanpa ketahuan oleh keluarga kerajaan. Kau tahu, jiwaku sangat bebas dan menginginkan tantangan, jadi aku masuk ke badan intelijen pemerintah. Well, ujiannya sangat sulit sekali." Jelasnya panjang lebar. "—Memangnya kau pikir, kenapa aku mau bersusah payah pergi malam-malam hanya untuk bersama pria-pria hidung belang itu di hotel? Tentu saja untuk menjalankan misi rahasia, mengorek beberapa petunjuk dari rekan politik ibuku." Lanjutnya lagi.
"Lalu soal NIS yang berkeliaran di sekitar kerajaan? Kenapa mereka disini?"
Mei mengambil rokok lagi di saku bajunya dan menyulutnya sebelum menghisapnya dalam-dalam. "Seperti yang kukatakan tadi, aku dan anggotaku mencari informasi mengenai politik pemerintahan kerajaan. Aku mencium bau peperangan disini."
"Apakah itu artinya ada yang merencanakan tindak kejahatan di kerajaan?" Naruto bertanya dengan ekspresi bingung. Satu-satunya rencana yang paling jahat adalah rencana yang dimiliki oleh neneknya.
Tunggu!—Jangan bilang kalau—
Naruto tersentak kaget. Kenyataan langsung menampar pipinya saat sebuah pemikiran melintas di kepalanya. "Apakah nenek yang—"
"Itu masih belum pasti, Naruto." Mei menyela dengan cepat. "—Aku membutuhkan lebih banyak bukti untuk mengetahui rencana apa yang sedang disusun ibuku."
"Ta—Tapi, nenek tidak mungkin jahat. Maksudku, ia memang ingin menguasai Jepang tetapi—"
"Aku menemukan lembaran surat perjanjian di perpustakaan." Mei mengeluarkan sebuah kertas kumal dari sakunya. "—Ini perjanjian rahasia ibuku dengan Perdana Menteri Danzo tentang pengalihan kekuasaan Jepang ke tangan Korea Selatan. Bahkan mereka juga merencanakan untuk menggulirkan kekaisaran Jepang." Jelasnya panjang lebar.
"Bagaimana bisa disimpan di perpustakaan? Kalau itu penting seharusnya disimpan di tempat yang tidak diketahui." Potong Naruto lagi. Masih bersikeras membela neneknya.
"Menyimpan di tempat yang mencolok mata tidak akan dicurigai sama sekali dibandingkan menyimpan di dalam peti harta karun. Siapa sangka kalau perpustakaan menyimpan hal yang menakjubkan seperti ini? Lagipula aku adalah anak dari Kaguya, aku mengetahui semua sifat ibuku." Sahutnya lagi.
Naruto kalah berdebat. Ia hanya menunduk diam. "Jadi, nenek adalah otak rencana kejahatan ini, huh?"
"Seharusnya kau juga tahu sejak awal mengenai obsesi nenekmu yang ingin 'menjajah' Jepang." Ucap Mei.
"Aku pikir itu hanya kelakar dari seorang wanita tua. Aku tidak menyangka kalau setiap kata yang diucapkan adalah obsesi terselubungnya." Naruto menggigit bibir bawahnya dengan kesal. "—Dammit! Kalau tahu begini seharusnya aku tidak menyetujui untuk menjadi raja, terlebih lagi melakukan upacara pengangkatan raja di Jepang."
Mei membelalakkan matanya dengan lebar. "Tunggu—kau bilang apa? Pengangkatan raja? Di Jepang? Apa maksudnya itu?"
"Nenek memintaku untuk segera menjadi raja, jadi aku langsung menyetujuinya. Dia juga bilang upacara pengangkatan raja akan dilakukan di Jepang karena permintaan Perdana Menteri Danzo." Sahut Naruto, membeberkan semuanya.
"Kapan berangkat?"
"Tiga hari lagi. Seluruh anggota keluarga kerajaan juga akan berangkat ke Jepang." Jawab sang Uzumaki.
Bibi Mei terdiam sejenak. Keningnya berkerut memikirkan sebuah rencana, namun kemudian mendesah lelah saat tidak ada satu petunjuk maupun sebuah rencana yang tersusun di otaknya itu. Lebih baik ia segera menghubungi markas besar.
"Naruto, terima kasih atas informasinya. Tetapi bisakah kau merahasiakan identitasku dari semua orang? Gerak-gerikku harus tetap menjadi rahasia." Pinta wanita itu dengan tatapan memohon.
Naruto mengangguk tegas. "No problem."
Mei langsung tersenyum senang mendengar ucapan Naruto. "Terima kasih banyak, Keponakanku tersayang. Kau memang yang terhebat." Pujinya lagi seraya menjatuhkan kecupan ringan di pipi tan itu. Membuat mata Naruto membelalak kaget dengan serangan mendadak tersebut.
Sang bibi hanya terkikik genit melihat tubuh Naruto yang kaku karena ciumannya. Ia kembali mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke telinga sang Uzumaki dan berbisik dengan suara manja. "Kalau kau merasa bosan, kau bisa ke kamarku malam ini. Mungkin kita akan bermain permainan yang kau sukai."
Naruto meneguk air liurnya saat merasakan dua bongkahan kenyal milik sang bibi menekan dadanya. Sedikt gugup, pemuda pirang itu mencoba mendorong bahu wanita tadi dengan sopan. "Uhh—aku—uhh—"
Mei tertawa kecil kemudian menepuk puncak kepala sang Uzumaki dengan lembut. "Aku hanya bercanda. Jangan terlalu dianggap serius, Naruto."
Naruto menekuk wajahnya, kesal. 'Sial, ternyata hanya candaan.' Batinnya dalam hati.
Wanita itu menghisap rokoknya lagi dan berbalik pergi. "Kalau kau punya infromasi lain, kau harus memberitahuku, oke?"
"Oke, Noona." Sahut Naruto lagi. Yang disambut lambaian pelan dan senyuman kecil bibinya sebelum wanita itu menjauh. Meninggalkan Naruto sendirian di tepi kolam sambil menikmati pemandangan.
.
"Naruto, sedang apa kau disini?" Suara Hashirama membuyarkan lamunan pemuda pirang itu yang sedang menatap lingkungan sekitar.
Naruto menoleh dan tersenyum. "Paman Hashirama, selamat pagi." Sapanya. Tidak menyangka kalau pria itu datang setelah kepergian bibi Mei. Kebetulan yang aneh.
Hashirama menampilkan cengiran cerah. "Pagi—uhh—sejujurnya ini sudah siang." Jelasnya sembari melirik jam tangannya.
Sang Uzumaki tertawa. Ia sangat nyaman bersama pamannya yang sangat ramah itu. "Paman dari mana? Sedang sibuk?"
"Tidak. Hanya berkeliling di lingkungan kerajaan dan menggoda para pelayan." Jawabnya seraya berdiri di samping Naruto. "—Aku sempat berpapasan dengan Mei, apa kalian sempat berbincang?"
"Ya. Pembicaraan yang cukup rahasia." Ucap Naruto sambil melempar kerikil ke arah kolam. Sama sekali tidak melihat kilatan kecil di mata Hashirama.
Pria itu berdehem sebentar, kemudian menampilkan cengiran lebarnya. Berusaha bersikap normal. "Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat menyenangkan. Apakah mengenai makanan atau gadis-gadis montok?" Tanyanya, berpura-pura bersikap bodoh.
"Tidak keduanya. Ini pembicaraan rahasia mengenai pemerintahan." Ucap Naruto lagi.
Hashirama mendelik dengan tatapan tertarik. "Pemerintahan? Yang seperti apa?" Tanyanya lagi, berusaha menguak rahasia Naruto dan Mei.
Naruto menoleh kemudian menutup mulutnya dengan gerakan tangan seakan-akan sedang mengunci bibirnya. "Sorry, these lips are sealed."
Ada decakan kesal dari Hashirama, namun ia menyembunyikannya langsung dengan senyuman ramah. "Oh ayolah, Naruto. Aku berjanji tidak akan membocorkan pada siapapun." Sahut pria itu lagi seraya merangkulkan lengannya ke bahu sang Uzumaki. "—Apa kau tidak percaya pada pamanmu yang baik hati ini?"
Raut wajah Naruto terlihat ragu. "Aku percaya pada paman, tetapi kata bibi Mei—"
"Dengar, Naruto—" Hashirama menatap berkeliling sebelum kembali mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke arah Naruto. Ia mulai bicara dengan suara berbisik pelan. "—Aku bersumpah ini akan menjadi rahasia kita berdua, oke? Lagipula aku tidak mungkin mencelakakan bibi Mei, dia adalah adik kesayanganku." Rayunya lagi, mencoba berbicara dengan lembut untuk mengambil kepercayaan sang Uzumaki.
Gejolak batin Naruto terombang-ambing tidak karuan. Ia ingin memberitahu Hashirama mengenai semuanya, tetapi di lain pihak ia juga berjanji pada bibi Mei untuk tetap menjaga rahasia.
'Apakah paman Hashirama bisa dipercaya? Well, dia memang baik tetapi—' Pikiran Naruto berkutat bingung. Ia bahkan mengerang kecil sembari menggaruk rambutnya frustasi.
Hashirama bisa melihat keraguan di hati pemuda itu. Sedikit rayuan lagi maka ia bisa mengetahui rahasia yang disimpan oleh Mei.
Hanya perlu bersabar sedikit lagi.
"Naruto—" Hashirama berusaha mengeluarkan suara terluka. "—Aku kecewa karena kau tidak bisa mempercayakan rahasia itu padaku. Padahal aku pikir kita bisa menjadi sahabat antara paman dan keponakannya." Lirihnya lagi.
Nauto merasa bersalah melihat wajah murung pria yang selalu ramah padanya itu. Ia akhirnya menghela napas panjang sebelum membeberkan segalanya. "Bibi Mei bekerja di NIS; badan intelijen pemerintah Korea Selatan sebagai agent pencari informasi. Ia mengatakan bahwa ada rencana mencurigakan di dalam kerajaan."
Mata Hashirama berkilat tertarik. Namun ia menampilkan wajah berpura-pura bingungnya, berusaha untuk tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan. "Bekerja di NIS? Kau pasti bercanda."
"Aku tidak bercanda! Aku bahkan melihat sendiri bibi Mei bersama tiga pria berseragam NIS kemarin malam." Sahutnya cepat.
Hashirama berpikir sejenak. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan rencana mencurigakan itu? Apakah bibi Mei mengatakan sesuatu?"
"Ya, dia mengatakan bahwa neneklah yang ada dibalik ini. Dan sepertinya itu benar, maksudku, beberapa jam lalu nenek bicara denganku dan mengatakan akan melakukan pengangkat raja di Jepang tiga hari lagi." Jelas Naruto panjang lebar. Mengungkapkan semua yang diketahuinya.
Tubuh Hashirama menegang. Matanya berkilat tajam. "Jadi nenek merencanakan untuk melakukan upacara pengangkatan raja di Jepang dan Mei mengetahui hal itu, begitu?"
"Benar sekali. Bibi Mei mengetahuinya. Dia benar-benar wanita yang hebat 'kan, Paman?" Kata Naruto sembari melemparkan senyuman.
Hashirama berpura-pura tersenyum, namun wajahnya terlihat sekali menggambarkan raut muka yang gelisah. "Dia memang menakjubkan. Wanita yang menjadi mata-mata, huh? Seperti di film action saja." Kilahnya dengan tawa kecil.
Naruto menanggapinya dengan senyuman. Saat ia ingin mengobrol lagi, suara dering ponsel membuat pemuda itu segera merogoh kantong celananya dengan cepat. Mata birunya menatap nama Sasuke yang tertera di layar handphone-nya.
"Uhmm—Paman, aku permisi pergi sebentar. Sasuke meneleponku." Ujar Naruto lagi.
"Oke." Sahut Hashirama cepat sembari melempar senyuman.
Saat Naruto menjauh dan sudah tidak terlihat lagi, Hashirama mulai melepaskan topeng cengirannya dan merubah raut wajahnya menjadi keras, tanda ia mulai serius. Kilatan tajam dan dingin terpantul di mata jernihnya itu. "Jadi Mei tahu semuanya, huh? Benar-benar buruk." Gumamnya pelan sembari menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
'Sebaiknya aku mulai mengawasi gerak-gerik Mei.' Batin Hashirama dalam hati. Masih dengan wajah mengeras.
.
.
.
TBC
.
.
Yuhuuu~~ Karena banyak yang minta NaruSasu aja, jadi kemungkinan chap depan hanya ada lemon NaruSasu... hehehe, maaf... Mungkin threesome-nya bisa di fic lain...
Aku harap fic ini bisa selesai di chap 7 atau di chap 8... doain ya sahabat :D
Btw, sekali lagi terima kasih banyak buat Reviewer, Readers, dan Silent-reader... I LOVE YOU ALL!
.
RnR Please!
