Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Lemon Time!
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
_Tiga hari kemudian_
.
_Tokyo, pukul 10.00 Pagi_
.
Tiga buah limousin putih panjang dan mewah menjemput rombongan keluarga kerajaan Korea Selatan di bandara International Narita, Tokyo. Tentu saja penyambutan kedatangan itu dihadiri oleh Perdana Menteri Danzo sebagai wakil tuan rumah. Banyak media massa yang juga hadir disana untuk memotret kedatangan keluarga kerajaan Korea Selatan tersebut.
Semua anggota keluarga kerajaan Korea Selatan memakai pakaian yang sangat mengagumkan, seperti Kaguya dan bibi Mei yang dibalut busana hanbok resmi berwarna merah terang dengan lambang naga yang disulam dengan benang emas yang sangat mempesona, sedangkan para lelaki memakai pakaian tuxedo formal berwarna hitam.
Kaguya tersenyum tipis, memperlihatkan kesan bersahabat di depan awak media. Hashirama dan bibi Mei sibuk melambai pelan dengan senyum yang penuh pesona. Sedangkan Madara dan Sasuke tetap memasang wajah angkuh yang menawan dan Sai tetap menampilkan senyum khasnya.
Naruto sendiri berusaha keras memperlihatkan senyum yang menganggumkan, akan tetapi kecanggungannya malah membuat senyum itu seperti cengiran bodoh.
"Yang Mulia, senang bisa menyambut anda di Jepang." Suara itu keluar dari mulut Perdana Menteri Danzo. Pria itu membungkuk penuh hormat di depan Kaguya.
Wanita itu mencoba terus menampilkan senyumnya. "Tentu saja, Perdana Menteri Danzo. Terima kasih banyak."
Danzo tersenyum dan menjabat tangan Kaguya penuh hormat, kemudian mendekat perlahan ke sisi telinga wanita itu. "Persiapan sudah selesai, Yang Mulia. Kita akan melakukannya besok." Bisiknya lagi, tanpa diketahui oleh mata para pengawal dan reporter.
Kaguya tetap mencoba menampilkan senyumnya. "Jangan sampai gagal atau aku akan menyingkirkanmu dari dunia politik." Desisnya pelan masih dengan senyum palsu. "—Sekarang antar aku ke hotel. Aku cukup lelah meladeni media massa ini." Perintahnya lagi, tetap berbisik dengan nada rendah.
Danzo membungkuk lagi dan menuntun Kaguya ke mobil limousin paling belakang, mobil ketiga.
Hashirama, Mei dan Madara memasuki mobil kedua, sedangkan limousin pertama ditujukan untuk Naruto, Sasuke, serta Sai.
Ketiga mobil itu mulai menjauhi area bandara dan bergerak beriringan menuju Tokyo International Hotel.
Naruto sangat takjub memandang bagian dalam mobil limousin-nya. Ada sofa panjang berbahan beludru dengan beberapa hiasan bulu-bulu putih yang sangat elegan. Di sisi pintu, ada kulkas ukuran kecil yang berisi botol wine dengan kualitas mahal.
"Woow!" Naruto bersiul takjub. "—Baru pertama kali ini aku berada di dalam sebuah limousin." Gumamnya.
"Benarkah? Aku sudah terbiasa menaiki mobil ini." Sai yang berada di sebelah kanannya memotong dengan cepat.
"Aku juga. Jadi ini bukan sesuatu yang baru." Sasuke yang berada di sebelah kirinya ikut menimpali.
Naruto tertawa hambar. Ia baru sadar betapa miskinnya dirinya sekarang.
Sai yang berada di sebelah kanannya menggamit lengan sang Uzumaki dengan manja. "Naruto, bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan untuk mencari 'manga'? Sekaligus menemaniku untuk mencari ide cerita yang baru." Pintanya dengan senyum tipis.
Sasuke yang berada di sebelah kiri sang Uzumaki hanya mendengus kecil. Ia juga tidak mau kalah untuk menggamit lengan Naruto. "Tidak Sai. Naruto akan menemaniku berkumpul dengan komunitas ulzzang di Jepang." Sinisnya lagi.
Naruto yang berada di tengah-tengah hanya tertawa pahit. Tidak tahu harus melakukan apa agar kedua bersaudara itu berhenti main pelotot-pelototan.
'Man, aku berharap bisa satu mobil dengan paman dan bibi saja.' Harapnya dalam hati.
.
Di mobil yang lain, Hashirama dan Mei sedang menikmati segelas wine merah di dalam cangkir piala. Mereka tertawa kecil dengan suguhan kemewahan tersebut. Sedangkan Madara hanya diam sembari melipat kedua tangannya di depan dada, memilih memandang keluar jendela daripada menatap dua saudaranya yang sibuk bersenang-senang itu.
"Hyung, kau ingin mencoba wine ini juga? Rasanya sangat enak. Ini kualitas mahal." Ucap Hashirama seraya menjulurkan sebotol wine ke arah sang kakak.
Madara menepisnya kasar. "Aku tidak ada waktu untuk itu." Ujarnya dingin.
Hashirama terkekeh pelan. "Masih memikirkan soal Naruto, Hyung? Oh ayolah, dia akan baik-baik saja. Kita ada di Jepang sekarang dan seharusnya kita menikmati 'liburan' ini."
"Aku sama sekali tidak memikirkan bocah itu, melainkan ibu." Tukas Madara lagi.
Mei yang berada di tengah-tengah mereka hanya mendengus pelan. "Apa maksudmu dengan memikirkan ibu?"
"Entahlah, Mei—" Ada gurat gelisah di wajah pria itu. "—Aku merasa bahwa ibu sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan." Sambungnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil.
Mei melirik dengan kilat mata tertarik, tidak memperhatikan bahwa ia juga sedang dipandangi oleh Hashirama dengan tatapan yang menyelidik.
"Apa maksudmu dengan merencanakan sesuatu?" Mei membuka suara, berusaha mengendalikan suaranya agar tidak terdengar terlalu 'excited' dengan informasi tersebut.
"Sudah kukatakan tidak tahu, Mei. Seandainya aku tahu, aku tidak mungkin susah payah berpikir seperti ini." Tukas Madara sedikit jengkel.
Hashirama menyesap wine-nya dalam diam sembari mendelik ke arah sang adik dengan pandangan menyelidik. "Kau sepertinya sangat tertarik dengan ibu, Mei. Bisa kau katakan alasannya?" Tanyanya dengan senyuman palsunya.
Mei melirik kecil kemudian tertawa manja. "Kenapa kau bertanya? Tingkahmu sangat mencurigakan, Kak."
"Aku mencurigakan? Bagaimana bisa tingkahku mencurigakan." Sanggah Hashirama dengan tawa kecil. "—Sikapku biasa saja." Lanjutnya lagi.
"Oh—benarkah?" Mei menyambar gelas wine kakaknya itu dan menyesapnya dengan nikmat. "—Sebab aku melihat bahwa kau juga tertarik dengan apa yang dilakukan oleh ibu. Dan apa kau tahu, Kak? Aku tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun yang menggangguku."
Hashirama mendengus pelan. "Hati-hati dengan ucapanmu, Mei." Ia memperingati dengan nada rendah dan berat. "—Kau tidak pernah tahu apa yang ada di otakku."
Madara memutar bola matanya kesal. "Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Berhenti mengatakan hal yang tidak aku mengerti."
Hashirama dan Mei kembali merubah ekspresi mereka menjadi sedia kala, yaitu penuh senyuman lebar. Kemudian menoleh ke arah sang kakak dengan tatapan polos. "Tidak ada. Hanya berbincang." Ucap mereka berbarengan. Yang ditanggapi dengan dengusan malas Madara.
.
.
Di limousin ketiga, mobil paling belakang, Kaguya terlihat diam dengan wajah dingin dan tajam. Dihadapannya, duduk Danzo yang juga menampilkan ekspresi tenang. Mereka saling duduk berhadapan tanpa adanya keinginin dari kedua orang itu untuk membuka pembicaraan.
"Aku sudah menutupi laporan anggaran biaya negara agar kekaisaran Jepang tidak curiga." Danzo yang pertama kali meruntuhkan suasana hening itu.
Kaguya mendengus pelan dengan sikap angkuh. "Bagus."
"Aku sudah menyiapkan segala sesuatu untuk upacara pengangkatan Naruto sebagai raja Korea Selatan esok hari." Danzo mengambil sebotol wine dingin dan menuangkannya di gelas piala. "—Disana juga dihadiri oleh raja dan ratu kekaisaran Jepang." Lanjutnya lagi.
"Bagaimana dengan rencananya?" Satu alis Kaguya terangkat, penasaran.
Danzo menyeringai tipis sebelum bicara. "Sandiwara pembunuhan calon raja." Ucapnya seraya mengangkat gelas minumannya, tanda bersulang.
"Pembunuhan calon raja?! Apa maksudmu dengan pembunuhan calon raja, Danzo?!" Kaguya menautkan alisnya tajam, marah.
"Aku sudah menyewa sniper untuk membunuh Naruto saat pengangkatannya menjadi raja, kemudian mengkambing hitamkan kekaisaran Jepang. Memperdayai rakyat Jepang seakan-akan kekaisaran Jepang lah yang membunuh Naruto. Dengan begitu kita lebih mudah untuk menguasai negeri ini." Jelas Danzo panjang lebar, sama sekali tidak menghilangkan seringai seramnya.
"Tetapi membunuh Naruto?! Itu sudah keterlaluan!"
"Yang Mulia, untuk mencapai kekuasaaan, kita butuh 'sedikit' pengorbanan." Tegasnya lagi dengan menunjukkan tanda telunjuk dan jempol yang membuat simbol 'kecil' tersebut.
"Itu akan menjadi pemberitaan yang memicu perang!" Kaguya masih menolak dengan keras.
"Tidak jika kita memiliki media massa di sisi kita. Mereka akan mencuri simpati rakyat di dunia untuk menyerang balik kekaisaran Jepang. Bukankah itu ide yang cemerlang, Yang Mulia?" Ujarnya lagi.
Kaguya berpikir sejenak. "Kau benar. Kita memiliki media massa yang akan memberitakan itu semua." Senyum tipis terbentuk. "—Lakukan yang menurutmu bagus, Perdana Menteri Danzo." Sambungnya seraya mengambil gelas piala yang bersisi wine, mengangkatnya dengan penuh rasa puas.
"Demi negara baru kita." Danzo ikut mengangkat gelasnya.
"Demi negara baru kita." Ulang kaguya. Kemudian saling membenturkan gelas mereka, tanda bersulang.
Kaguya menyesap minumannya tanpa menyadari kilatan curang yang terpantul di mata Perdana Menteri Danzo. Kilatan yang menandakan bahwa pria itu memiliki rencana lain yang ada di otaknya.
.
.
.
Rombongan kerajaan Korea Selatan sudah sampai di Tokyo International Hotel. Seluruh anggota keluarga memasuki lobi dengan langkah tegap dan elegan, tidak terkecuali Kaguya yang sekali lagi menampilkan senyum palsunya sembari berjalan dengan anggun.
Para awak media sudah bersiap di depan lobi hotel untuk memotret momen keluarga kerajaan itu disana, tentu saja dengan beberapa pengawalan ketat yang menjaga lingkungan sekitar agar tidak ada kekacauan yang terjadi.
Sasuke, Sai dan Naruto memilih langsung mengambil keycard dari resepsionis dan bergerak menuju kamar mereka. Tidak mempedulikan Kaguya, paman serta bibinya yang sibuk berbicara di depan media massa tentang betapa senangnya mereka berada di Jepang.
Mereka bertiga menuju lift menuju lantai paling atas hotel tersebut, kemudian melangkah sepanjang koridor untuk menuju kamar 'presidential suite' mereka.
Ruangan itu sama sekali tidak mirip dengan kamar hotel pada umumnya, melainkan seperti sebuah apartemen mewah dengan fasilitas mahal yang tertata rapi di setiap pojok ruangan. Naruto bahkan bersiul takjub saat melihat keseluruhan ruangan itu.
Ada sofa beludru mahal yang melingkar di tengah ruangan dan beberapa vas besar yang menghiasi pojokan kamar. Di sisi kanan ada dua buah kamar dengan dua buah ranjang berukuran king size, tentu saja dengan perabotan yang serba mewah dan modern. Sedangkan di sisi kiri ada bar kecil yang penuh dengan bir dan wine berkualitas mahal. Di jendela, terpampang pemandangan kota yang cukup indah. Sang Uzumaki yakin, saat malam hari, suasana akan sangat romantis dengan kerlipan lampu kota.
"Naruto, ayo tidur bersama." Sai membuka suara sembari menggandeng lengan sang Uzumaki.
"Woo—wooo—tunggu dulu." Naruto panik. Ia mundur perlahan dengan mengangkat kedua tangannya. "—Kenapa aku harus tidur denganmu?" Tanyanya lagi.
Sasuke menyeringai tipis dan menggamit lengan Naruto. Pandangannya menatap sang adik dengan tatapan merendahkan. "Yeah, kenapa Naruto harus tidur denganmu?—Naruto akan tidur denganku." Ucapnya.
"What?!" Naruto menoleh kaget. Belum sempat ia protes lagi, Sai menarik lengan satunya lagi.
"Dia akan tidur denganku!" Ucap Sai keras kepala. Ia memandang Sasuke dengan tajam.
"Tidak! Dia akan tidur denganku!" Balas pemuda raven itu dengan tatapan death glare.
"Guys!—Guys!—Please!" Naruto memijat pertemuan mata dan hidungnya. "—Aku akan tidur sendiri dan kalian tidur bersama, oke?! Tidak ada lagi perdebatan! Kasus ditutup!" Tegasnya dengan jelas.
Sasuke dan Sai menekuk wajah sambil melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat sekali keengganan di raut muka mereka, tetapi sama sekali tidak bisa membantah perintah sang Uzumaki.
Sepertinya memang keputusan itulah yang terbaik bagi mereka bertiga.
Sedikit terpaksa, Sasuke dan Sai akhirnya masuk ke dalam kamar mereka untuk berbenah. Meninggalkan Naruto yang memilih bersandar di sofa sejenak untuk beristirahat.
'Man!—Aku benar-benar lelah.' Batin Naruto lagi sembari mendesah pelan. Berharap upacara pengangkatannya menjadi raja esok hari bisa berjalan dengan lancar.
.
.
Di lobi bawah, Kaguya beserta ketiga anaknya masih terlihat sibuk menghadapi para media massa yang tengah melakukan wawancara dengan mereka. Tidak menyadari bahwa Perdana Menteri Danzo bergerak menjauh dari kerumunan itu dan menuju toilet terdekat tanpa diketahui oleh Kaguya.
Ia masuk ke dalam salah satu kabin toilet kemudian menarik sebuah ponsel dari saku celananya. Menekan nomor yang tertera di layarnya untuk menelepon seseorang. Tiga kali deringan terdengar sampai orang diseberang telepon mulai mengangkat sambungan tersebut.
Danzo tidak menyiakan kesempatan tersebut dan langsung mengangkat suara. "Upacara pengangkatan raja dilaksanakan esok hari. Persiapkan dirimu untuk menembak Naruto, mengerti?"
Orang diseberang telepon hanya bergumam pelan yang menandakan dia paham maksud sang Perdana Menteri.
Danzo menyeringai tipis. "Selain itu, aku mempunyai rencana kedua." Ia berdehem sebentar sebelum kembali bicara. "—Culik Sasuke, cucu kedua Kaguya, untuk berjaga-jaga. Pastikan Kaguya tidak akan pernah merubah keputusannya. Kita harus tetap pada rencana untuk membunuh Naruto." Tegasnya lagi.
Sang sniper—pembunuh bayaran—tersebut mengangguk patuh.
"Oh ya, satu hal lagi—" Danzo lagi-lagi menyeringai tipis. "—Setelah kau menembak Naruto, tembak juga Kaguya. Aku tidak butuh wanita itu dalam dunia politikku. Kerikil kecil harus segera disingkirkan. Paham?!" Ucapnya dengan kilatan mata yang licik.
Orang diseberang telepon mengiyakan tanpa banyak protes.
"—Bagus. Aku tidak mau ada bukti yang tertinggal. Hapus segala jejakmu setelah membunuh calon raja dan Yang Mulia Ibu Suri, lalu tinggalkan Jepang segera." Perintah pria itu lagi seraya menutup teleponnya tanpa ragu. Seringai seram terus terpasang di bibirnya, membuat wajah itu memperlihatkan kelicikan dan kecurangannya.
"Yang Mulia, aku benar-benar sangat menantikan kematianmu." Desisnya pelan seraya tertawa sinis. Merayakan kemenangannya sebentar lagi.
.
.
.
Bruk!—Hashirama menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk kamar hotel. Ia mengerang kecil seraya menggerakkan otot lengannya yang kaku. Matanya tidak beralih menatap Madara yang tengah merapikan beberapa pakaian di lemari besar. Mereka berdua satu kamar sedangkan Mei dan Kaguya mempunyai kamar sendiri-sendiri.
Sebenarnya Madara meminta pada resepsionis untuk memberikan kamar terpisah untuk mereka berdua, namun Hashirama menolak dan mengatakan ingin tidur bersama kakaknya itu. Tentu saja Madara langsung menolak hal tadi dengan tegas, tetapi Hashirama tidak peduli dan tetap mengekor sang kakak menuju kamar. Hingga akhirnya Madara pasrah dan memilih tidak mempedulikan kelakuan semena-mena adiknya itu.
"Hyung, kau sedang sibuk apa? Ayo kemari, tidur denganku." Panggil Hashirama seraya menepuk kasur disebelahnya dengan alis yang bergerak menggoda.
Madara mendelik sekilas. "Kamar ini hanya memiliki satu ranjang, jadi aku akan tidur di sofa."
"Oh ayolah, Hyung—ini kamar presidential suite, lagipula ranjangnya berukuran king size. Bisa untuk dua orang." Jelas Hashirama seraya memutar bola matanya malas.
"Tetap saja aku tidak ingin tidur satu ranjang denganmu, Hashirama." Tolak Madara lagi, sedikit kesal dengan tingkah sang adik.
Pemuda berambut panjang lurus itu hanya berdecak kecil saat mendengar jawaban sang kakak. "Kenapa kau selalu menolak, Hyung? Apa aku terlihat seperti orang yang akan melakukan tindak kriminal?" Tegasnya lagi.
Madara sekali lagi memutar bola matanya dengan malas lalu menatap tajam ke arah Hashirama. "Maksudmu dengan tidur di atas kasur tanpa baju dan hanya memakai celana boxer saja? Yeah right, sama sekali tidak terlihat tindak kriminal." Ucapnya sarkastik.
"Oh come on, aku memang selalu tidur seperti ini, bukan berarti aku akan menggerayangimu, Hyung."
"Ucapanmu berbelit-belit." Madara bangkit dari sisi lemari menuju sofa. "—Aku akan tidur disini, dan jangan sekali-kali mendekat, mengerti? Atau aku akan membunuhmu." Ancamnya dingin.
Hashirama mendengus kesal. 'Tsk! Kalau tahu begini, lebih baik aku tidur dengan para keponakanku saja.' Ungkapnya dalam hati.
.
.
Di kamar hotel yang lain, Naruto terlihat mengusap wajahnya dengan letih sembari menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Pikirannya kalut mengenai upacara pengangkatannya esok hari. Bisakah dia melaluinya dengan lancar? Ataukah malah berakhir dengan kekacauan?
Jujur saja, ia hanyalah pemuda biasa yang tiba-tiba diangkat menjadi seorang raja oleh neneknya. Kehidupannya benar-benar mirip seperti dongeng cinderella yang langsung menjadi putri raja. Tetapi bedanya, cinderella menikahi seorang pangeran baru menjadi putri, sedangkan dirinya ditunjuk dengan semena-mena oleh Kaguya untuk menjadi raja. Oh, jangan lupakan kalau ia juga sudah menyetubuhi sang pangeran dingin berambut raven alias Sasuke tanpa diketahui oleh siapapun.
Shit! Sekarang dia yang membuat skandal baru di kerajaan tersebut. Bagaimana kalau media massa tahu? Bagaimana kalau seluruh anggota kerajaan tahu? Dia tidak siap kalau harus diusir dari kerajaan tersebut, apalagi terpisah dengan Sasuke.
"Sedang memikirkan sesuatu, Naruto?" Suara Sasuke dari arah samping membuat tubuh Naruto tersentak kaget. Pemuda pirang itu menoleh dan menemukan sosok sang onyx yang berbalut piyama tidur berwarna biru malam sedang melipat kedua tangannya di depan dada. Sikap yang angkuh sekaligus menawan.
Naruto menampilkan cengiran lebarnya. "Tidak ada." Ucapnya lagi. "Ngomong-ngomong, dimana Sai?" Tanyanya heran.
Sasuke memutar bola matanya dengan malas. "Tidur." Jawabnya singkat.
"Oh." Naruto membalas dengan kalimat yang tak kalah singkatnya. Membuat Sasuke mengerang kesal.
"Ayolah Naruto, jangan bohong padaku. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu." Tukas Sasuke lagi seraya duduk di samping pemuda pirang itu. "Sekarang katakan padaku, kau sedang memikirkan apa?" Tanyanya lagi, masih penasaran.
Naruto mengehela napas panjang dan berat, seakan-akan mencoba membuang seluruh bebannya bersamaan napasnya tersebut. "Aku memikirkan tentang upacara pengangkatan raja esok hari. Aku tidak siap." Jujurnya.
Sasuke mendengus pelan. "Siap atau tidak, besok tetaplah hari pengangkatanmu, Naruto. Lakukan yang terbaik dan jangan mengacaukan apapun." Petuahnya lagi.
Bukannya membantu, perkataan sang onyx malah semakin membuat jiwa Naruto terguncang. "Lidahmu itu memang tajam, Sasuke."
"Aku hanya ingin memberi nasihat, bukannya membuatmu tambah depresi." Jelas Sasuke. Tangan putihnya terjulur untuk menggapai rambut pirang sang Uzumaki. "—Tenangkan dirimu, oke? Aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja." Lanjutnya dengan suara yang lembut.
Naruto menoleh dan menatap senyum tipis yang tergantung di bibir pemuda raven itu. Ia sangat menikmati belaian jari-jari ramping itu di rambut pirangnya. Membuat perasaannya mulai hangat dan nyaman, sedikit demi sedikit menghapus keresahannya.
Dibalik lidah tajam serta sikap angkuh sang onyx, tersimpan senyum menawan dan perhatian yang membuat diri Naruto rela bertekuk lutut dihadapan pesona pemuda itu.
Sasuke benar-benar sudah menjerat hati sekaligus otaknya.
Naruto mendengus pelan sembari tersenyum. "Kau tahu, Sasuke?—" Ia mencondongkan tubuhnya ke arah pemuda raven itu. Kedua tangannya menangkap belakang leher sang onyx dan menariknya perlahan. "—Kau membuat otakku gila." Bisiknya pelan dengan suara bariton rendah.
Sasuke mendengus geli, kemudian memejamkan kelopak matanya. "Aku tahu. Sebab aku juga gila karenamu." Sahutnya lagi seraya membiarkan pemuda pirang itu meraup bibirnya dengan lembut.
Benturan bibir terjadi diantara kedua pemuda itu. Memberikan ciuman yang sangat perlahan dengan hisapan dan jilatan kecil. Menyatakan kepemilikan satu sama lainnya. Detak jantung yang berdetak kencang menandakan libido mulai terpompa sedikit demi sedikit, menyisakan dengus napas keras dan cepat.
Sasuke mengerang kecil saat Naruto menjilat bibir atasnya dengan sapuan lembut, lalu masuk perlahan ke rongga mulutnya. Menyapa gigi serta lidahnya.
Jemari sang onyx terbenam di surai pirang itu, menjambak pelan untuk menunjukkan sisi agresif-nya. Ia berdecak kecil memainkan lidahnya saat Naruto sibuk menjilat air liurnya. Detak jantungnya menggedor brutal tulang rusuknya, menandakan gairahnya ikut meningkat seiring kecupan Naruto di bibirnya.
Kedua tangan putih Sasuke begerak turun dari rambut spiky pirang Naruto menuju leher kokoh sang Uzumaki, kemudian terus bergeriliya menuju dada bidang berbalut kulit tan eksotis hingga berakhir di perut dengan enam otot yang terbentuk sempurna disana. Sasuke sangat menyukai tubuh pemuda dihadapannya itu. Benar-benar pahatan sempurna layaknya patung dewa Yunani.
Naruto mengerang kecil saat jari-jari nakal putih itu mulai bergerak menelusup ke dalam celana panjangnya. Bergerak di dalam sana untuk mengelus kejantanannya yang setengah menegak. Iris birunya menatap tajam sang onyx.
Sasuke menyeringai tipis dengan lidah yang menjilat bibir atasnya. "Terangsang, huh? Sungguh memalukan bagi seorang pendominasi harus terangsang oleh sentuhan pasangannya." Ejeknya.
Naruto terkekeh dengan suara berat. Maniknya memandang lekat dan lurus ke mata hitam itu. "Jangan menantangku, Sayang. Sebab aku tidak akan ragu untuk 'menghukum'mu." Sahutnya.
Sasuke lagi-lagi hanya menyeringai tipis. Ia mengecup dagu dan leher sang Uzumaki kemudian berbisik dengan suara menggoda. "Hukum aku. Buat aku berteriak memohon ampun."
"As your wish, My prince." Sahut Naruto cepat seraya membuka baju dan menurunkan celananya. Memperlihatkan tubuh tan yang sangat menggiurkan untuk dikecup dan dijilat.
Yang tentunya, membuat Sasuke tidak sabar untuk segera tenggelam ke dalam pesona pemuda pirang itu. Terlebih lagi melihat kejantanan sang dominan yang sudah menegak sempurna menantang gravitasi dengan otot yang berdenyut tidak sabaran. Tetes precum diujungnya menambah sensualitas seorang Uzumaki.
Naruto menyeringai tipis melihat ekspresi kelaparan di wajah pemuda raven itu. "Terangsang, Sasuke?" Godanya, membalikkan kalimat sang onyx beberapa menit yang lalu.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya mendengus pelan kemudian memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Aku tidak terangsang sama sekali, Idiot."
"Oh benarkah?" Naruto mulai memerangkap tubuh ramping itu diantara tubuhnya dan sofa. "—Tapi sepertinya yang bagian ini sangat terangsang." Ucapnya lagi sembari mengelus kejantanan sang onyx dari balik kain celana.
Sasuke mendesah kecil saat jari-jari nakal itu menggerayangi selangkangannya dan menurunkan celana tidurnya. Membuat batang penisnya yang sudah menegang keras terekspos sempurna.
Naruto tersenyum simpul kemudian mencondongkan kepalanya untuk meraup bibir tipis sang onyx, kembali melakukan kecupan manis yang memabukkan. Sedangkan ujung jari telunjuknya sibuk menepuk-nepuk lubang urin di ujung kejantanan Sasuke, membasahi jarinya tersebut dengan precum pemuda raven itu.
Selangkangan sang onyx bergetar hebat saat jari Naruto terus bermain di ujung penisnya. Menggelitik organ vitalnya yang terus meneteskan precum basah. "Naru—hmmph!—ahhn—" Ia mendesah disela ciuman mereka.
Naruto melepaskan kecupannya di bibir pemuda raven itu kemudian bergerak menuju leher putih tadi untuk meninggalkan kissmark disana. Lalu beralih lagi untuk mengecup dada sang raven. Sedikit tidak sabaran, Naruto melepaskan baju Sasuke kemudian segera meraup dua puting yang menonjol disana.
Jilatan dan hisapan dilakukan, membuat tubuh Sasuke bergetar menahan rangsangan yang memabukkan itu.
Naruto bisa melihat wajah sensual sang onyx saat ia menggigit lembut puting pemuda raven itu. Ia memainkan tonjolan tadi dengan gigi dan lidahnya, kemudian menghisapnya dengan rakus.
Sasuke menekan kepala pirang itu untuk terus memanja area dadanya. Tubuhnya bergetar tidak terkendali saat sang Uzumaki mulai menarik putingnya dengan keras lalu memuntirnya. Membuat kedua nipples nya memerah.
"Ahhkk!—Naruto!—Nghhh—" Sasuke mendesah, tubuhnya menggelinjang hebat saat sang dominan tidak berhenti menggodanya. Ia bahkan dengan berani menyambar kejantanan Naruto dan mengocoknya pelan, membuat pemuda pirang itu menggeram kecil disela kulumannya di dada sang onyx.
"Ahhh—hhh—" Naruto mendesah. Ia melepaskan bibirnya dari puting Sasuke dan memilih meraup bibir pemuda raven itu, sedangkan kedua tangannya sibuk mengelus batang kejantanan Sasuke. "Kau manis—hmphh!—mengagumkan—Hmph!" Pujinya di sela ciuman mereka.
Sasuke membalas pujian itu dengan kecupan serta lumatan sayang di bibir Naruto. Sedangkan pinggulnya dinaikkan dengan gerakan sensual agar bisa saling menggesek dengan kejantanan sang dominan.
Naruto mengelus paha dan pinggul ramping Sasuke, menawarkan sensasi menggelitik dari tangannya. "Ingin menjilat penisku, Sasuke?" Ia berbisik nakal di telinga sang onyx. Yang disambut dengan desahan manja.
Naruto mengerti arti desahan itu, suara yang tidak bisa menolak pesonanya. Dengan perlahan ia bergerak ke atas tubuh Sasuke dan melebarkan pahanya tepat di atas kepala pemuda raven itu. Kejantanannya yang penuh precum digesekkan secara lembut ke bibir Sasuke. "Buka mulutmu." Ucapnya dengan tegas.
Sang onyx menurut. Ia membuka celah bibirnya dan menunjukkan rongga mulut serta lidahnya yang basah oleh air ludah.
Dengan perlahan, Naruto memasukkan organ vitalnya ke mulut Sasuke. Sensasi basah dan hangat di rongga mulut tersebut membuat sang dominan mendesah keras saat merasakan kulit penisnya bergesekan dengan lidah licin sang onyx.
Naruto mulai menggerakkan pinggulnya turun-naik di dalam mulut Sasuke dengan ritme konstan dan lambat. Menikmati gua basah yang sedang memanja kejantanannya itu.
Decakan air liur terdengar saat Sasuke menjilat dengan rakus batang kelamin sang dominan. Lidahnya meliuk kecil dan bermain di lubang urinal pemuda pirang itu, mengecap rasa asin yang ada disana. Menggerakkan otot lidahnya untuk menggeliat di batang kejantanan sang dominan. Kemudian menyeruput ujungnya dengan keras seakan-akan ia kehausan dan butuh cairan precum untuk memenuhi dahaganya.
Naruto mengelus rambut hitam itu dengan lembut lalu menarik kepala Sasuke untuk terus mengulum penisnya. Ia bahkan bisa merasakan jari-jari nakal sang onyx yang sedang bermain dengan dua buah bola testikelnya. Meremas dan mencubit dengan lembut.
"Ahh—yeah—hhh—" Naruto menjilat bibirnya. Mata birunya memantulkan wajah sensual Sasuke yang tengah mengocok kejantanannya dengan mulut mungil itu. Sosok yang sangat erotis. Benar-benar membuat kewarasan sang Uzumaki tersapu bersih.
Suara becek dari mulut sang onyx terdengar, campuran antara ludah dan precum. Bunyi erotis itu meramaikan ruang tengah yang tadinya sunyi senyap menjadi pesta persetubuhan antara kedua pemuda yang dimabuk kepayang.
"Hmmphh!—Nghmmp!" Sasuke mengerang saat penis sang dominan terus bergerak tanpa henti menghajar tonsilnya. Membuat lambungnya menggelegak ingin muntah. Kedua tangan rampingnya berusaha keras menahan pinggul pemuda pirang itu agar berhenti meyiksa tenggorokannya untuk sesaat. Namun Naruto tidak peduli dan terus menghentakkan batang kejantanannya yang berdenyut itu ke dalam mulut Sasuke.
"Ahhh!—hhh—nikmat—" Naruto mendesah keras. Jemarinya menyisir surai hitam itu dan kembali menyodok mulut sang onyx. Menenggelamkan seluruh batang kelaminnya hingga ke pangkal.
Sasuke panik. Ia berusaha mendorong pinggul Naruto, namun kedua tangannya langsung ditangkap oleh sang Uzumaki dan ditahan ke sisi sofa. Membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah saat rongga mulutnya terus disodok tanpa henti.
"Ghkk!—Nghmmp!—Mpphh—Hhhggk!" Sasuke tersedak saat merasakan benda besar berotot milik Naruto itu menyumbat jalur pernapasannya. Onyx Sasuke terbalik dengan air liur yang menetes disela dagunya. Kerongkongannya disodok tanpa henti oleh sang dominan, membuat tubuhnya bergetar hampir sekarat.
"Nar—Ghhk!—Hmphh!—Naru—Ghok!" Sasuke terbatuk kecil saat ia mencoba berbicara disela-sela sodokan sang dominan di mulutnya. Tangannya masih berusaha menggapai pinggul Naruto untuk menghentikan genjotannya.
"Ahhh!—hhh—" Naruto mendesah. Kenikmatan itu menguaasai akal sehatnya. Selangkangannya menggesek apapun yang ada di rongga mulut sang onyx, hingga akhirnya cairan putih kental itu mulai menggelegak ingin menyembur keluar. Dengan sekali hentakkan yang dalam, pemuda pirang itu membenamkan seluruh batang kejantanannya ke mulut Sasuke kemudian menyemburkan spermanya di dalam sana. Memenuhi lambung sang raven dengan benihnya.
Sasuke tersedak dan terbatuk keras saat harus menegak cairan getir milik Naruto. Ia mulai mengambil napas yang dalam ketika sang dominan membebaskan mulutnya dari organ vital yang berdenyut itu. "Ghok!—Hhok!—hhh—hhh—" Sasuke tersengal-sengal sembari menyeka cairan putih yang mengotori bibirnya.
Naruto menjilat bibir bawahnya dengan senyuman puas. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih bibir sensual itu dan mengusapnya pelan. "Ini baru pemanasan, Sasuke. Ayo kita masuk ke hidangan utama." Sahutnya.
Sasuke tidak menjawab dan hanya mengikuti perintah pemuda itu. Ia membuka lebar pahanya dan menunjukkan benda miliknya yang sudah menegak keras dengan lubang anus yang berkedut meminta dijamah.
Naruto menyeringai tipis, senyum khas pendominasi yang puas melihat pemandangan indah tersebut. Ia mendekatkan bibirnya di lubang anal sang onyx, kemudian mengecup dan menjilat lingkaran liang tadi dengan lembut.
"Ahh—Nghhh—" Sasuke mendesah pelan saat lidah Naruto bergerak masuk ke anusnya, menjilat kelaparan dinding rektumnya. "—Jangan—hhh—itu kotor, Idiot." Ucapnya, berusaha melempar death glare galak. Sayangnya, tatapan itu hanya dianggap angin lalu oleh sang Uzumaki. Pemuda pirang itu bahkan semakin gencar menyeruput anal Sasuke dengan kelaparan.
"Kau—Nghmmph!—manis." Sahut Naruto lagi.
"Ahhh—hhh—" Sasuke mendesah semakin hebat. Ia bisa merasakan dua jari sang Uzumaki mulai bergerak masuk ke analnya, mengelus dan menekan dinding rektumnya, kemudian bergerak seirama gunting yang membuka dan menutup.
Selangkangan Sasuke bergetar hebat dengan pinggul terangkat saat dua jari Naruto mengocok dengan cepat lubang anusnya. Lagi-lagi memperdengarkan suara erangan sang raven yang tenggelam oleh bunyi becek dari lubang anal itu.
Siksaan itu berhenti saat Naruto melepaskan jari-jarinya dari lubang itu. Sasuke pikir, ia akan diberi kesempatan untuk bernafas sejenak demi mengembalikan oksigen ke paru-parunya. Nyatanya tidak, Naruto malah mengganti pekerjaan kedua jarinya dengan benda yang lebih besar dan berotot.
"Aku akan masuk." Ucap Naruto seraya menggesekkan ujung kejantanannya ke lubang yang berkedut itu. Dengan sodokan dan hentakan yang lembut, seluruh batang kemaluannya dihisap habis oleh anal sang onyx. Meremas organ vitalnya dengan sensasi yang hangat dan basah.
"Ahhh—hhh—" Naruto mendesah. Selangkangannya bergetar saat penisnya terus dipijat oleh dinding rektum Sasuke.
"Ahhhk!—Naruto!—Sakit!" Tubuh putih itu gemetaran menahan perih saat sang dominan mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur menyodok lubang analnya. Napasnya terengah-engah dan tangannya mencengkram bahu pemuda pirang itu dengan keras. Berusaha menyingkirkan rasa sakitnya.
Naruto mendesah pelan kemudian mecondongkan tubuhnya untuk memagut bibir sang onyx. Membungkan erangan pemuda raven itu dengan kecupan yang lembut dan menenangkan.
Sasuke membalasnya dengan lenguhan kecil. Jemarinya mencengkram surai pirang dihadapannya dengan gerakan sensual, memaksa Naruto untuk terus memberikannya ciuman yang erotis.
Lidah saling bergulat dengan jilatan dan hisapan. Diiringi oleh decakan air liur yang memeriahkan suasana.
Naruto melepaskan ciumannya saat paru-parunya berteriak meminta oksigen. Iris birunya menatap lekat manik hitam di depannya itu dengan pandangan tajam namun juga lembut. "Aku—hhh—mencintaimu—" Bisiknya pelan sembari terus menggerakkan batang kejantanannya keluar-masuk ke anus Sasuke.
Sang onyx mendesah, tangannya terjulur untuk membelai lembut pipi tan itu. "Aku tahu—Ahhhk!—aku juga—nghh—mencintaimu." Balasnya pelan. Ia merangkulkan kedua tangannya ke leher pemuda pirang itu sembari mendesah hebat, menikmati permainan panas sang dominan.
Naruto menggeram kecil, keringat membanjiri tubuh berbalut kulit tan-nya saat ia terus bergerak menghajar anal sang onyx. Sodokan dilakukan dengan tempo yang konstan dan tetap. Ia bisa merasakan ujung penisnya menghantam dinding rektum Sasuke, mengobrak-abrik lubang basah dan hangat itu. Begitu nyaman dan nikmat, membuat kesadarannya tersapu bersih dengan nafsu dan birahi.
"Ahhh!—Hhhh—Naru!" Sasuke mendesah. Ia mencengkram lengan sang dominan saat pantatnya terus digenjot tanpa henti. Tubuhnya tersentak dengan cepat saat sodokan itu semakin lama semakin kasar.
Penis sang Uzumaki menusuk liang surgawi itu bertubi-tubi, memberikan hentakan keras tepat di prostat sang raven. Naruto mendesah, menggeram dan mendengus saat rasa nikmat menghantarkan sensasi remasan di kejantanannya.
Naruto mengelus lembut paha Sasuke sebelum melebarkannya, memberikan akses bagi organ vitalnya untuk menginvasi lubang itu semakin dalam. Remasan dinding dalam Sasuke membuat organ vital Naruto berdenyut nyeri dan nikmat. Menghantarkan gairah persetubuhan mereka.
"Hgghhk!—Agghh—" Sang Uzumaki mengerang keras. Hentakan dan sodokan terus dilakukannya dengan cepat, membuat sang onyx mendesah hebat dibawah tindihannya.
Dua tubuh menyatu, bergerak seirama desahan dan erangan mereka. Sasuke melenguh penuh kenikmatan saat lubangnya terus dihajar tanpa ampun oleh sang dominan.
"Ahhhk!—Naruto!—Nghhh!" Paha sang onyx dilebarkan, sedangkan kedua tangannya berpegangan pada punggung lebar Naruto. Sesekali mencakar dengan kasar saat penis pemuda pirang itu menyakiti lubangnya dengan sodokan yang keras, membuat sang Uzumaki menggeram sakit dan nikmat sekaligus.
Naruto menggapai penis Sasuke dan menggodanya dengan kocokan lembut yang membuat selangkangan itu semakin bergetar hebat. Menawarkan sensasi yang sangat memikat. "Sasuke—hhh—kau membuatku gila—Hghh!" Sang dominan memuji pasangannya disela-sela desahan mereka.
Sasuke melenguh kecil. "Ya—Ahhhk!—Nikmat, Naruto—hhh—" Ia menengadah, membuka mulutnya untuk menghirup oksigen. Membiarkan lidahnya terjulur keluar dengan tetes liur. Memberikan pemandangan yang cukup erotis untuk dilihat. Hanya dengan Naruto saja ia memperlihatkan sisi 'pelacur'nya seperti ini. Dan hanya dengan Naruto saja, ia rela digagahi seperti binatang. God! Sasuke benar-benar menyukai gerakan yang dilakukan sang dominan. Benar-benar tipe pendominasi yang hebat di atas ranjang.
Naruto menarik tubuh sang raven untuk duduk di atas tubuhnya, sedangkan dia sendiri berbaring di atas sofa. "Bergerak—hhh—buat aku puas—" Perintahnya, dengan suara bariton rendah.
Sasuke tidak membantah dan hanya menurut. Ia menempatkan lubang pantatnya tepat di atas kejantanan Naruto kemudian menurunkan pinggulnya dengan pelan. Memakan habis penis yang memiliki urat-urat berdenyut itu hingga ke pangkal.
"Ahhk!—Hghhh!—Ahhhn!" Sasuke mulai bergerak ke atas dan ke bawah dengan tempo konstan. Menghempaskan pantatnya di atas selangkangan pemuda pirang itu.
Bunyi becek dari arah lubang analnya memperdengarkan suara yang sangat mengundang birahi. Ia bahkan bisa melihat tetes precum Naruto yang mengalir keluar dari analnya dan menetes di paha pemuda pirang itu. Sungguh menggoda. Ia tidak pernah menyangka kalau bersenggama dengan sang Uzumaki bisa membuat otak serta organ dalamnya meleleh. Larut dengan tarian setan.
Kedua tangan Sasuke mencoba berpegangan pada perut Naruto sembari terus menghempaskan pantatnya turun-naik. Ia mendongakkan wajah dan membuka mulutnya yang penuh dengan tetes air liur, memperlihatkan ekspresi yang sangat sensual. Bahkan Naruto yakin semua orang pasti akan terangsang melihat raut wajah kekasihnya itu.
"Ahhk!—Ahhkk!" Sasuke terus mendesah hebat. "—Penismu nikmat—Ahhhk!—Anusku disodok!" Ia meracau membangkitkan gairah.
"Sasu—hhh—lubangmu nikmat—hhh—" Naruto mencengkram pinggul ramping itu dan membantu pemuda raven tadi menghempaskan pantatnya. Memanja penisnya yang terus berdenyut liar.
Salah satu tangannya bergerak menuju punggung Sasuke dan menarik tubuh itu untuk mendekat agar ia bisa menghisap puting di dada sang onyx.
"Ahhhk!—Naru—nghhh!" Sasuke mendesah sembari mencengkram surai pirang itu dengan erat. Merasakan jilatan lidah di dua tonjolan pink nya. Sedangkan pantatnya terus bergerak dengan hempasan yang kuat dan dalam.
"Hhh—fuck!—Khh!—" Naruto menggeram kecil saat penisnya terus diremas dan dipijat oleh dinding rektum sang raven. Denyutan di alat kelaminnya semakin tidak terkendali saat anus Sasuke meremas miliknya lebih kuat, menawarkan sensasi yang cukup memabukkan. Ia kembali merengkuh tubuh ramping itu dengan kedua lengannya sembari meraup habis nipples Sasuke.
Genjotan dan sodokan dilakukan dengan cepat, pinggul ramping itu terus bergerak naik-turun memanja kejantanan sang dominan. Merasakan prostatnya dihajar tanpa henti oleh ujung penis Naruto.
Suara erangan dan lenguhan saling bersahutan, menambah panas gerakan intim mereka.
Peluh menetes dari kening Sasuke, membasahi tepi rambutnya, membuat sosok itu semakin menggoda untuk dilihat. Mulutnya terbuka menjulurkan lidahnya yang basah dan licin, sedangkan matanya mengerjap sayu dan kabur. Kenikmatan itu membuat tenaganya menghilang dan pandangannya mulai tidak fokus. Ia bergerak limbung naik-turun dengan napas yang tersengal-sengal.
Naruto menangkap dagu sang raven dan menatapnya tajam. "Kau—hhh—hampir pingsan—hhh—" Bisiknya dengan suara rendah.
Sasuke tidak menjawab dan hanya menatap sang dominan dengan pandangan buram.
Mungkin, ia memang akan pingsan.
Sadar dengan kondisi kekasihnya, Naruto langsung menggendong tubuh ramping itu untuk menjauh dari sofa. Ia bergerak menuju kamarnya masih dengan kejantanannya yang menusuk anal sang onyx.
Sasuke hanya berpegangan pada bahu pemuda pirang itu saat tubuhnya di bawa ke kamar sang Uzumaki. Ia pikir Naruto akan menidurkannya di kasur dan melanjutkan kegiatan panas mereka di ranjang. Namun nyatanya tidak, Pemuda pirang itu malah membawa tubuh Sasuke ke dinding dan menahan punggung sang raven disana, sedangkan kedua tangannya membuka lebar kedua paha Sasuke. Memperlihatkan tubuh putih tadi dengan selangkangan yang terbuka menggoda, punggung Sasuke bersandar di dinding kamar sedangkan bagian pantatnya digendong oleh Naruto.
"Nar—hhh—" Sasuke mencoba mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup lagi. Namun sang Uzumaki terlihat tidak peduli dan malah kembali menusuk lubang itu dengan gerakan yang tiba-tiba. Sanggup membuat napas Sasuke tercekat di tenggorokan. "Khh! Aghh!—Naru—stop!—Khhgg!" Kedua tangannya mencengkram bahu lebar itu, berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak limbung ke lantai.
Naruto mendengus keras. Jari-jemarinya mencengkram pantat kenyal sang raven. "Berpegangan padaku—hhh—kalau tidak, kau bisa terjatuh—Ahhk—" Perintahnya lagi.
Sasuke tidak menjawab dan hanya menuruti permintaan sang dominan. Ia pasrah saat kedua kakinya diangkat dan pahanya dilebarkan oleh Naruto. Memberikan akses bagi organ vital itu untuk menghantam lubangnya lebih keras dan dalam.
Naruto menggeram dengan lenguhan yang berat saat batang penisnya terus menggagahi liang anal sang Uchiha, membuat rasa nikmat itu merayap hingga ke sel-sel otaknya. Memenuhi kepalanya dengan keerotisan pemuda raven tersebut.
Sang Uzumaki menikmati kegiatan seks yang mereka lakukan. Persetubuhan yang intim dan sedikit brutal. Namun sepertinya, Sasuke sudah terlihat kepayahan dengan mata yang berkunang-kunang hampir pingsan.
Cengkraman tangan putih itu mulai mengendur perlahan, ia bahkan tidak bisa bertahan dari sodokan yang dilakukan oleh sang dominan. Hanya alat kelaminnya saja yang menandakan bahwa ia masih menikmati persenggamaan itu. Cairan precumnya terciprat kecil saat tubuhnya terhentak ke atas dan ke bawah karena genjotan Naruto yang cepat dan brutal. Mengobrak-abrik dinding rektumnya dengan kuat.
Sasuke yakin, lubang anusnya tidak bisa kembali ke ukuran semula setelah disetubuhi oleh Naruto. Organ vital pemuda pirang itu sangat besar dan berotot.
"Hhh—hhh—hhh—" Sasuke tidak sanggup mengerang lagi. Ia terlalu lelah dan capek. Hanya napasnya saja yang tersengal-sengal tidak karuan. "—Aku—hhh—hampir keluar—" Ucapnya lagi.
Naruto yang mendengar hal itu hanya bisa menyeringai senang. "Belum, sayang—hhh—masih belum cukup." Balasnya dengan bisikan pelan.
Ia membawa tubuh Sasuke ke arah ranjang dan menidurkannya disana.
Tangan tan nya kembali melebarkan paha putih itu dengan tidak sabaran. "—Kau tidak boleh keluar sampai aku puas." Lanjut sang Uzumaki lagi seraya menghentakkan pinggulnya dengan keras.
Sasuke tersedak saat sodokan di lubangnya lebih barbar dan brutal, membuatnya mencengkram seprei dengan kuat. "Ghhk!—Agghh!—" Lidahnya terjulur dengan saliva yang menetes sedangkan matanya terbalik penuh kepuasan. "—Naru!—Agghh!—aku hampir kelu—GGHHKK!" Kalimat Sasuke terhenti saat Naruto langsung mencengkram dua bola testikelnya. Meremasnya dengan kuat.
Naruto menyeringai tipis. "Tidak—hhh—kau tidak boleh keluar—" Ia mendesis rendah. Tangannya meremas dua bola itu semakin kuat, membuat selangkangan sang onyx bergetar karena rasa sakit. "—Buat aku puas. Kalau tidak, aku akan menghancurkan testikelmu." Ancamnya lagi.
Sasuke menanggapi ucapan Naruto dengan tatapan galak, namun sepertinya hal itu percuma saja sebab pandangannya terlalu buram. Tubuhnya terlalu lelah dan capek. Jadi ia hanya bisa membalas dengan suara lemah. "Stop!—hhh—aku akan membunuhmu." Balasnya.
Naruto hanya tersenyum tipis. "Membunuhku?—hhh—jangan bercanda, sayang."
"Berhenti—hhh—memanggilku 'sayang', Idi—AGHHK!" Suara Sasuke tercekat dengan teriakannya sendiri saat sang Uzumaki meremas kedua bola testikelnya lagi, kali ini semakin kuat. Memberikan sensasi nyeri dan sakit, tetapi juga nikmat disaat bersamaan.
Tubuh Sasuke mengejang hebat. Ia melempar kepalanya ke belakang, menghantam bantal. Kemudian menjerit sunyi ketika Naruto memulai sodokannya lebih cepat dan kasar. Tangan pemuda raven itu menggapai punggung sang Uzumaki kemudian mencakarnya dengan dalam, berusaha menahan gemetar tubuhnya.
Naruto meringis kecil saat kuku-kuku sang onyx terbenam di punggungnya, menyisakan cakaran yang cukup panjang menggores kulitnya. Namun ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, semakin kasar dan liar permainan ranjang mereka, semakin membuat libidonya terpompa.
Selangkangan Naruto bergerak menghantam liang basah Sasuke, menginvasi anus tersebut. "Ahhh—hhh—fuck!—sempit!" Ia meracau. Keringat membanjiri kulit tan-nya. Menambah sensual tubuh tegap nan atletis tersebut.
Naruto menggapai batang kejantanan sang onyx dan mengocoknya dengan cepat. Ujung telunjuknya bermain-main di lubang urin Sasuke. Menggesek dan menepuk-nepuk precum yang berada di sana.
Punggung Sasuke melengkung, sedangkan pahanya terbuka lebar dengan getaran yang hebat. Napasnya tersengal-sengal tidak karuan. "Naru—Ahhhk!—aku keluar!"
Naruto yang menyadari hal itu semakin menggenjot lubang tadi dengan gerakan liar. Tangannya terus meremas bola testikel sang onyx. Menikmati persenggamaan yang mereka lakukan.
"Sasu—Aghh!—aku juga—hhh—hampir keluar—" Balasnya dengan dengus napas cepat. Otot perutnya mengejang, bersiap memompa cairan spermanya untuk segera menyembur keluar.
Sasuke tidak tahan lagi. Tubuhnya gemetaran dengan mata yang terbalik. "Naru!—Ahhk!—keluar!—KELUAR~!" Pinggulnya terangkat tinggi-tinggi kemudian menyemprotkan cairan putih kentalnya keluar dari ujung penis. Terciprat ke bagian perut hingga dadanya. Menyelimuti tubuhnya dengan spermanya sendiri.
Naruto mengerang keras. Ia menyodok terakhir kali sebelum menenggelamkan dalam-dalam seluruh batang penisnya ke dalam lubang anus tersebut. "Agghhh!—FUCK!—ARGGHH!" Spermanya terpompa dari bola testikel dan bergerak cepat melalui saluran urin sebelum akhirnya menyemprot dengan ganas ke dinding rektum sang onyx. Memenuhi anus tersebut dengan benihnya.
Sasuke tersengal-sengal setelah puncak kenikmatan itu berhasil dicapainya. Ia menatap sekilas ke arah sang dominan yang juga sedang mengatur napas di atas tubuhnya.
"Minggir—hhh—" Sasuke mendorong tubuh Naruto menjauh. Membuat penis yang tertancap di lubangnya terlepas dengan suara -Plop!- kecil. Menyisakan tetes sperma yang mengalir dari analnya ke kain seprei.
Naruto terjatuh ke sisi ranjang, tepat di sebelah tubuh Sasuke. "Oh god—hhh—aku tidak menyangka kalau bercinta denganmu bisa senikmat ini." Ucapnya dengan napas pendek-pendek.
Sasuke hanya mendengus pelan. "Idiot." Balasnya lagi. Tangannya meraih selimut dan menutupi tubuh telanjang mereka berdua. Ia tidak berniat membersihkan sisa sperma di tubuhnya. Sasuke cukup kelelahan dan malas untuk mengambil tissu di atas meja.
Naruto tidak mempermasalahkan hal itu. Ia juga sebenarnya cukup capek dan memilih mengikuti jejak Sasuke yang mulai memejamkan matanya untuk tidur. Jujur saja, menggerakkan pinggul untuk menyodok anus sang onyx membuat pinggangnya hampir copot.
Well, ternyata olahraga malam hari cukup menguras tenaga dan spermanya. Ia ragu, apakah besok kondisinya akan baik-baik saja? Semoga saja pinggangnya tidak patah. Untuk sekarang, sebaiknya ia beristirahat saja.
Setuju dengan pemikiran tersebut, Naruto menggapai tubuh Sasuke dan memeluknya dari belakang. Membiarkan otak serta tubuh mereka untuk beristirahat sejenak di alam mimpi.
.
.
.
Di tempat lain, bibi Mei terlihat keluar dengan baju dress hitam panjang yang memiliki belahan rendah di bagian dada, memperlihatkan setengah bongkahan kenyalnya yang hampir menyembul keluar. Wanita seksi dan modis itu bersender di sisi tikungan koridor seraya menghisap rokoknya dengan nikmat.
Mata jernihnya tidak lepas dari kamar sang ibu yang berada di belakang tempatnya berdiri sekarang.
Bersembunyi di balik dinding koridor adalah hal yang tapat kalau ingin mengawasi seseorang. Ia menunggu dengan bosan, hak tingginya mengetuk-ngetuk lantai dengan tidak sabaran.
Mei selalu mengetahui kelakuan ibunya yang sering keluar kamar pada malam hari untuk menghirup udara sejenak. Dan seharusnya, ibunya itu sudah pergi sekarang dan membiarkannya menyelidiki kamar tersebut. Ia harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tanpa diketahui siapapun. Menjadi anggota intelijen pemerintah memang sangat sulit dan perlu kerja keras, ia bahkan kagum pada dirinya sendiri yang masih betah berada di organisasi tersebut.
Cklek!—Terdengar pintu kamar yang terbuka. Mei langsung waspada sembari menjatuhkan rokoknya ke lantai dan menginjaknya dengan pelan. Ia melirik dari balik tembok dan menemukan Kaguya dengan pakaian hanbok sederhana, tengah keluar dari kamar menuju lobi bawah.
Mei tidak menyia-nyiakan hal tersebut dan langsung melesat masuk ke pintu kamar sang ibu.
Matanya bergerak berkeliling ruangan. Tidak ada yang berbeda dari kamar hotel 'presidential suite' lainnya, tetap terlihat mewah dan megah. Namun sekarang bukan waktunya untuk menganggumi kamar hotel tersebut. Ia harus bergerak cepat mencari petunjuk apapun yang bisa membantunya mengetahui rencana yang sedang dilakukan oleh Kaguya.
Mei melesat menuju kamar sang ibu untuk mencari bukti dan petunjuk. Ranjang king size itu masih rapi belum tersentuh. Namun meja di samping kasur tersebut penuh dengan kertas berserakan dan notebook yang menyala. Sepertinya, Kaguya langsung memulai pekerjaannya tanpa berisitirahat terlebih dahulu. Hmm—tipikal wanita pekerja keras.
Tanpa menyiakan waktu lagi, Mei bergerak menyisir lusinan kertas tersebut. Hanya ada beberapa laporan kemiliteran, undang-undang baru dan anggaran biaya negara Jepang.
Tunggu!—Anggaran biaya Jepang?!
Sedikit tertarik, Mei langsung memeriksa dokumen tersebut dengan teliti. Matanya bergerak perlahan menyisir setiap deret angka yang ada disana. Kebanyakan tertera dalam grafik dan tabel.
"Hmm, aneh sekali—" Mei bergumam pelan. "—Setiap hitungan yang ada sama sekali tidak sesuai dengan jumlah dan lainnya. Seakan-akan laporan ini sudah dimanipulasi. Jangan-jangan—"
.
"Korupsi." Sebuah suara di belakang Mei membuat wanita itu berpaling dengan mata yang terbelalak terkejut. Tanpa sadar, ia menjatuhkan laporan yang ada ditangannya ke lantai dengan suara -Bruk!- nyaring. Menghempaskan beberapa lusinan kertas tersebut.
Mei menatap kaget saat Sosok Hashirama berdiri angkuh dihadapannya sembari mengacungkan sebuah pistol. Seringai tipis terbentuk di bibir pria itu. "Bravo!—Bravo, adikku sayang! Penciuman anggota NIS benar-benar tajam." Pujinya dengan suara bariton rendah penuh ancaman.
Mei mengertakkan giginya, marah. "Apa yang kau lakukan disini?!"
"Seharusnya aku yang bertanya—" Hashirama maju perlahan masih dengan sebuah pistol yang teracung. "—Apa yang kau lakukan di kamar ibu." Tegasnya lagi. Itu bukan pertanyaan, itu adalah pernyataan yang harus dijawab.
Mei mundur dengan panik sampai pinggangnya menyentuh sisi meja. "Tidak ada. Ibu ingin aku mengambilkan laporannya." Bohongnya lagi.
Hashirama mendengus sinis. Tidak ada senyum ramah di wajah pria itu. Hanya tatapan dingin khas keluarganya. "Kau pikir aku sebodoh itu untuk mempercayai perkataanmu? Aku selalu mengawasimu, Mei."
"Mengawasi?" Mei membeo, berusaha mengulur waktu selagi tangannya merayap di atas meja untuk mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata.
"Ya, aku memperhatikan gerak-gerikmu yang sedang menunggu di balik koridor. Rencana yang cerdas tapi tidak cukup pintar." Sahutnya tenang. "—Lagipula Naruto juga memberitahuku semua tentang identitasmu. Tidakkah menurutmu kau terlalu gegabah menceritakan jati diri pada orang lain, Mei?" Sahut Hashirama lagi.
'Si bocah ingusan itu! Akan kuhajar dia nanti!' Kesal Mei dalam hati.
"Kau adikku, tetapi kau membuat semua ini menjadi rumit." Hashirama bersuara lagi. Ia melangkah maju dengan perlahan.
Mei menggeram, matanya menunjukkan sikap ancaman. "Minggir. Jangan mengganggu tugasku." Desisnya sinis seraya meraih lampu meja dengan gerakan perlahan.
"Eits—" Hashirama mendekatkan moncong senjata ke tengah kening Mei. Matanya melirik tangan wanita itu. "—Jangan macam-macam. Lepaskan benda itu." Perintahnya.
Mei berdecak kesal. Dengan perlahan ia melepaskan pegangannya dan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Aku bisa membongkar rahasia ibu. Aku sendiri yang akan menangani ibu. Jadi lepaskan ak—"
"Tidak secepat itu." Hashirama memotong dengan cepat. "—Kau terlalu gegabah dan bodoh. Orang sepertimu akan mati dengan mudah." Ungkapnya pria itu dengan nada dingin.
"Jangan seenaknya bicara! Aku tidak akan mati!" Mei meraung galak.
"Benarkah?" Hashirama menarik pelatuk diatas pistol. "—Kau tidak bisa bicara sombong saat dalam keadaan terjepit seperti sekarang ini." Ujarnya lagi.
"Kau tidak akan berani menembakku. Kau itu pengecut!" Mei kembali berteriak dengan murka.
Hashirama hanya diam. Matanya berkilat dingin dan tajam. Kemudian bibirnya tertarik membuat seringai licik. "Jangan kau pikir karena aku adalah kakakmu, maka aku tidak berani menembakmu. Kau salah besar, Adikku tersayang." Moncong pistol yang dingin menyentuh kening wanita itu. "—Jadi mari kita bernegoisasi, katakan apa yang kau sudah kau ketahui sampai saat ini." Lanjutnya dengan alunan serak.
"Aku tidak akan mengatakan apapun." Sahutnya tegas.
Hashirama menyeringai tipis. "Aku menghargai pekerjaanmu sebagai anggota NIS. Tetapi jawaban itu bukanlah jawaban yang bijak, Adikku tersayang. Jadi cepat beritahu aku sebelum aku meledakkan kepalamu dengan timah panas." Desak pria tadi, mulai tidak sabaran.
Mei menunjukkan kebencian yang terpantul jelas di matanya. Ia sudah mengetahui resiko dari pekerjaannya, dan ia sama sekali tidak takut mati. Dirinya bukanlah wanita lemah yang hanya bisa menggigil ketakutan atau berteriak panik saat ada orang yang menodongkan pistol ke arahmu.
Tidak!—Ia adalah wanita kuat yang akan menghadapi apapun. Tidak gentar dan tidak akan mundur.
Hashirama mendengus kecil. "Sepertinya kau memang keras kepala, huh?—Baiklah, aku tidak punya pilihan lain." Ia mundur perlahan untuk mengambil jarak tembak, kemudian terkekeh pelan dengan suara parau.
"—Selamat tinggal, Mei."
.
DOOORR!—
.
.
.
TBC
.
.
Yuhuuu~~ Maaf kalau update-nya lama, author keasikan nyemilin kue nastar di hari lebaran... Huahahaha I LOVE CAKES!
Ngomong-ngomong, author pengen ngucapin minal aidzin wal faidhin, mohon maaf lahir dan batin ya teman-teman... Khususnya buat reader, silent-reader dan reviewer, tanpa kalian aku tidak akan bisa menjadi seperti ini... Terima kasih untuk segala support-nya guys! Semoga kedepannya, aku bisa memberikan fic-fic yang lebih bagus lagi untuk kalian :D
.
RnR please!
