Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
_Chapter sebelumnya_
Mei menunjukkan kebencian yang terpantul jelas di matanya. Ia sudah mengetahui resiko dari pekerjaannya, dan ia sama sekali tidak takut mati. Dirinya bukanlah wanita lemah yang hanya bisa menggigil ketakutan atau berteriak panik saat ada orang yang menodongkan pistol ke arahmu.
Tidak!—Ia adalah wanita kuat yang akan menghadapi apapun. Tidak gentar dan tidak akan mundur.
Hashirama mendengus kecil. "Sepertinya kau memang keras kepala, huh?—Baiklah, aku tidak punya pilihan lain." Ia mundur perlahan untuk mengambil jarak tembak, kemudian terkekeh pelan dengan suara parau.
"—Selamat tinggal, Mei."
.
.
—DOORR!
.
.
.
Suara tembakan terdengar keras. Begitu memekakkan telinga.
Mei bahkan menahan gemetar ketakutan tubuhnya dengan menutup mata saat Hashirama meletuskan pistolnya.
'Aku siap mati.' Mei membatin dalam hati.
'—Aku tidak takut dengan pistol dan ancaman.'
'Aku—
Tunggu!—Masih hidup?'
Sedikit kaget, wanita cantik itu mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia menatap ke arah Hashirama yang terkekeh pelan dengan pistol mainan yang mengeluarkan confetti dan pita, disertai jejeran bendera berbagai macam negara.
"Mei, wajahmu lucu sekali." Hashirama tergelak. Ia melemparkan pistol mainannya ke lantai dan memegangi perutnya menahan tawa.
Mei menggeram kesal. "IDIOT! AKU PIKIR KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUNUHKU!" Wanita itu mulai meraung sembari terisak pelan, cairan bening menumpuk di kelopak matanya. Walaupun ia anggota intelijen pemerintah, tetap saja, dia adalah seorang wanita yang bisa menangis juga. "—Aku pikir—aku benar-benar akan mati." Ia mencoba mengusap air matanya. Tubuhnya tidak berhenti gemetaran.
Hashirama tersenyum teduh dan bergerak untuk memeluk sang adik. "Kau pikir, aku akan membunuhmu, begitu? Kalau kau mati, aku harus kemana lagi mencari adik bodoh sepertimu?"
"Oppa! Kau jahat!" Mei menampilkan wajah kesalnya.
Hashirama melepaskan pelukannya dan menepuk kepala wanita itu dengan pelan. "Aku melakukan ini demi kebaikanmu juga. Bagaimana kalau ternyata aku adalah orang jahat? Atau suruhan ibu yang akan membunuhmu? Mungkin sekarang kau sudah mati." Ujarnya sembari mengambil pistol mainan tadi dan menyelipkannya ke saku celana. "—Lagipula tindakanmu sebagai intelijen pemerintah sangat gegabah."
Mei menjulurkan lidahnya kesal. "Aku iri." Jawabnya. "—Sebab kau yang dipilih sebagai anggota mata-mata pemerintahan yang bertugas untuk mengawasi ibu, dengan berpura-pura menjadi kaki-tangan ibu. Padahal aku ingin sekali posisi itu."
"Tugasmu juga bagus, kok."
"Tidak sebagus kau!" Mei masih kesal, ia melipat kedua tangannya di depan dada. "—Tugasku hanya mencari informasi dan petunjuk. Dan setiap hari berkutat dengan komputer serta rekan bisnis ibu untuk mencari bukti. Ewww—tidak enak, apalagi harus berpura-pura menggoda pejabat negara agar mau berterus terang tentang rencana ibu." Keluhnya panjang lebar.
"Well, kita tidak bisa berganti posisi. Aku sama sekali tidak berbakat menggoda om-om pejabat negara." Gelak Hashirama. "—Tugasku hanyalah menjadi mata-mata."
Tepat ketika Mei ingin mengeluarkan protesannya lagi. Pintu kamar tiba-tiba langsung terbuka. Membuat kedua kakak-beradik itu menoleh dengan sikap waspada.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Sosok Madara terlihat bersender santai di ambang pintu kamar. Mata tajamnya melirik Hashirama dan Mei bergantian. "—Aku mengawasi kalian berdua dan tidak menyangka malah menemukan drama picisan seperti ini." Ujarnya lagi.
Mei bergerak menuju sisi Madara dan menunjuk Hashirama dengan kesal. "Dia yang mulai duluan, Oppa! Aku disini hanya mengendap-endap mencari petunjuk." Tukasnya lagi.
Madara mendelik Hashirama. Pria berambut panjang lurus itu hanya terkekeh pelan. "—Aku hanya main-main. Lagipula ini kesalahan Mei, dia yang seenaknya masuk ke kamar ibu tanpa ijin darimu. Kau 'kan kepala divisi penyelidikan ini." Terangnya.
Madara memijat keningnya yang berdenyut sakit. "Aku memang kepala divisi penyelidikan ini. Tapi membuat kekacauan disini bisa menarik kecurigaan seseorang. Bagaimana kalau suruhan ibu yang masuk? Kalian berdua pasti sudah menjadi mayat sekarang." Jengkelnya.
Hashirama dan Mei saling tertunduk diam, merasa bersalah.
"Tapi—" Wanita itu kembali membuka suara. "—Aku hanya ingin mencari bukti, Oppa!"
"Tanpa seijinku berarti pelanggaran, mengerti? Lagipula mencari bukti bukanlah tugasmu. Kau hanya bertindak sebagai pencari informasi dan data." Sela Madara cepat.
Hashirama terkekeh, senang. "Dengar itu, jangan lakukan hal itu lagi."
"Kau juga sama!" Madara menoleh galak ke arah pria itu, yang langsung disambut tegukan panik Hashirama. "—Apa maksudmu bermain-main dengan pistol?! Bagaimana kalau itu pistol sungguhan?! Kau bisa membunuh adik kita, Idiot!" Raungnya marah.
"Uhm—Ini hanya mainan." Ucap Hashirama membela diri.
"Mainan atau bukan, pekerjaan ini bukanlah sandiwara. Kita harus bekerja sebagai profesional dan berhenti bercanda. Lagipula, aku yang bertanggung jawab dalam penyelidikan ini, apa yang harus kulaporkan pada atasan NIS kalau kedua anggotanya malah bersifat kekanakan seperti ini." Tukasnya sembari melotot galak ke arah Hashirama dan Mei.
"Maafkan kami." Ucap keduanya berbarengan yang ditanggapi helaan berat dari Madara.
"Baiklah, cukup meminta maafnya. Sekarang kembali ke kamar kalian masing-masing setelah membereskan semua kekacauan ini. Aku tidak mau kalau ibu sampai mengetahui tindakan kita." Tegas Madara seraya berpaling pergi. Meninggalkan Hashirama dan Mei yang hanya bisa mengangguk pasrah.
.
.
.
Bruk!—Madara menghempaskan pantatnya di kursi kerja, tepat di depan sebuah meja dengan notebook yang masih menyala. Ia mendesah pelan sebelum mengusap wajahnya dengan letih.
Jujur saja, memiliki dua anggota NIS yang bodohnya minta ampun seperti Hashirama dan Mei membuat penyakit maag-nya kumat. Bagaimana tidak? Mereka lebih suka bermain-main dibandingkan bekerja dengan serius. Hashirama selalu bersenang-senang sendiri seperti orang idiot, sedangkan Mei terus terobsesi menjadi mata-mata yang cantik dan seksi seperti di film action.
For gods' sake! Tidakkah mereka tahu kalau pekerjaan sebagai aggota NIS cukup berbahaya dan bukan candaan? Kadang-kadang, Madara menyesal punya adik seperti mereka.
Letih memikirkan kelakuan dua adiknya, Madara memilih mulai bekerja di depan notebook-nya. Menatap beberapa profil rahasia milik pemerintah mengenai pejabat yang terseret kasus politik.
Tok! Tok!—Ketukan halus di pintu membuat gerakan jari Madara yang tengah mengetik diatas keyboard terhenti sejenak. Ia menoleh dan mendapati sosok Hashirama yang masuk sembari melempar senyuman. Yang ditanggapi oleh sang kakak dengan dengusan malas.
"Masuklah dan tidur. Besok kita ada tugas penting." Ucap Madara seraya mengalihkan pandangan ke arah notebook lagi.
Hashirama berjalan ke sisi ranjang dan mendudukkan pantatnya disana. "Aku sudah berbicara dengan Mei. Dia menduga kalau Perdana Menteri Danzo terikat kasus korupsi anggaran negara."
"Hm—?" Madara melirik dengan ekor matanya, kelihatan tertarik dengan topik yang baru saja disebutkan oleh adiknya itu. "—Bagaimana dengan ibu? Apa ada informasi baru?"
Hashirama mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada. Aku sudah berdiskusi dengan Mei, dan dia mengatakan apapun yang direncanakan ibu, pasti ada kaitannya dengan Perdana Menteri Danzo."
"Danzo, huh?" Madara terlihat berpikir sejenak. "—Aku yakin, dia merencanakan sesuatu besok pagi saat pendaulatan raja." Terangnya lagi.
"Aku juga berpendapat seperti itu, terlebih lagi besok akan ada keluarga kekaisaran Jepang yang turut ikut melihat upacara tersebut. Aku khawatir, rencana ibu dan Danzo akan melibatkan kekaisaran Jepang." Tukas Hashirama cepat.
"Apapun itu, kita harus tetap siaga dan jangan melonggarkan pengawasan kita, mengerti?" Ucap Madara lagi. Yang disambut anggukan paham sang adik.
Madara sedikit lega melihat tanggapan Hashirama. Ia kembali memutar tubuhnya untuk berkutat dengan notebook dan perkerjaannya. Namun kegiatan itu harus terhenti saat Hashirama bangkit dari ranjang dan berjalan ke arahnya.
Tangan pria itu membelai lembut puncak kepala dan pundak Madara. Sedikit membuat pria raven itu risih.
"Mau apa lagi?" Madara membuka suara tanpa mengalihkan perhatiannya dari depan layar bergambar grafik dan tabel tersebut.
Hashirama tidak menjawab. Ia malah mencengkram lengan sang kakak dan menyeretnya menuju ranjang kemudian melemparnya agak kasar ke atas kasur. Membuat Madara terhenyak di pembaringan tersebut dengan mata terbelalak terkejut.
"A—Apa yang kau lakukan, Hashirama?!" Pria raven itu protes keras. Manik hitamnya melempar death glare yang cukup mengerikan. Tapi delikan itu tidak berpengaruh pada Hashirama, malah membuat pria berambut panjang tadi terkekeh kecil.
"Aku hanya ingin bermanja-manja dengan kakak." Ucap Hashirama dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
Ia bergerak naik ke atas ranjang sembari melepaskan baju atasannya. Memperlihatkan tubuh atletis hasil dari latihannya di kemiliteran NIS. Enam otot perut yang membentuk sempurna serta cetakan dada bidang yang sangat menggoda, membuat Madara hanya bisa terbelalak melihat lekuk tubuh itu.
Madara tentu saja iri, sebab ia tidak menyangka kalau sang adik bisa memiliki tubuh atletis yang sangat dipuja kaum hawa, melebihi lekuk tubuhnya sendiri. Sial!
"Kenapa?" Hashirama melempar pertanyaan. "—Kagum dengan bentuk tubuhku, Hyung?" Ucapnya dengan suara bariton rendah yang mengalun manja. Teknik penggoda ciri khas keluarga kerajaan.
'Hmph!—Tidak akan mempan padaku.' Batin Madara sinis.
"Berhenti bercanda dan tid—" Kalimat sang kakak terhenti saat Hashirama memerangkap tubuhnya diantara kedua lengan pria itu dan kasur. Madara kembali mendelik bengis. "—Lepaskan aku, Hashirama."
"Tidak." Jawaban itu tegas dan berat. Madara bahkan bisa melihat kilatan serius di wajah tegas sang adik. Tatapan yang penuh dengan kesungguhan dan—nafsu.
'Shit! Ini tidak bagus.' Batin pria raven itu lagi.
"Hashirama, apapun yang kau pikirkan, hentikan sekarang jug—Hmmph!" Kalimat sang kakak terhenti saat Hashirama membenturkan bibir mereka secara tiba-tiba. Melumat habis mulut Madara dengan jilatan yang tidak sabaran.
Diserang dengan aksi mendadak begitu membuat Madara langsung mencengkram rambut Hashirama, berusaha mendorong wajah itu untuk berhenti melumat bibirnya. Pergulatan kasar terjadi hanya karena masalah ciuman. Madara mencoba menyingkirkan kepala Hashirama dari wajahnya, sedangkan Hashirama berusaha mempertahankan bibirnya di mulut sang kakak.
Cumbuan yang seharusnya menjadi kecupan manis ala sinetron itu harus berubah menjadi ajang kekuatan layaknya film action. Dorong dan tinju terjadi, tak ayal pukulan dan tamparan dilayangkan—tentu saja yang melakukan itu semua adalah Madara, sedangkan Hashirama hanya pasrah saat dihajar, namun tidak jera untuk terus mencium sang kakak.
Sedikit kesal, Madara kembali melayangkan tendangan ke perut Hashirama saat napasnya hampir habis, membuat sang adik tepental jatuh ke lantai.
Hashirama bangkit dengan luapan emosi. "Apa yang kau lakukan, Brengsek!"
"Menyingkirkanmu, Bodoh." Desis Madara tak kalah emosinya. Ia merapikan pakaiannya lagi dan kembali ke wajah stoic-nya. "—Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu." Sinisnya lagi.
Hashirama berdecak kesal dan kembali mencengkram lengan sang kakak untuk kemudian membantingnya—lagi—ke atas kasur.
Madara bisa merasakan tubuhnya terhempas di ranjang sebelum akhirnya Hashirama menindihi badannya. Empat kedutan otot di kepalanya menandakan bahwa Madara sudah mencapai emosi tingkat tinggi, ia menggapai lampu tidur dan melemparkannya ke arah sang adik.
Hashirama berkelit mudah dengan merundukkan kepalanya, membuat lampu malang itu pecah menghantam dinding dengan suara -PRANG!- nyaring. Ia bersiul takjub. "Kau harus mengganti lampu tidur itu, Hyung. Kalau tidak pegawai hotel akan memarahi kita."
"Aku tidak peduli dengan lampu itu! Menyingkir dariku, Bodoh!" Bentak Madara, kesal.
Semakin pria raven itu berontak, semakin erat juga Hashirama menekan tubuhnya. Sadar kalau kekuatannya tidak sebanding dengan sang adik membuat Madara akhirnya menghela napas panjang. Ia mendelik ganas ke arah pria itu.
"Apa maumu?" Tanyanya lagi.
"Bukankah kau sudah tahu mauku?" Hashirama mengeluarkan suara bariton berat yang menggoda. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening sang kakak. "—Tentu saja bersetubuh denganmu."
Madara mendelik sinis, namun akhirnya hanya bisa berdecak kecil. "Baiklah, tapi aku yang mendominasi disini."
"Tidak." Ucapan itu disela dengan cepat oleh Hashirama. Ia menjilat bibir atasnya dengan tatapan kelaparan. "—Aku yang mendominasi." Lanjutnya lagi dengan suara kekeh pelan.
Madara meneguk air liurnya panik. "Ka—Kau pasti bercanda."
"Aku serius." Potong Hashirama lagi. "Jadi cepat mendekat dan kita selesaikan segera." Sambungnya seraya merangkak maju untuk menyergap sang kakak, namun Madara langsung berkelit ke samping dan melempar bantal ke wajah Hashirama.
"Tidak! Aku tidak mau!" Seru Madara lagi, masih melemparkan beberapa bantal ke arah sang adik.
Kesal, Hashirama langsung merobek bantal tadi menjadi dua bagian. Memuntahkan bulu-bulu angsa yang berterbangan di kamar. Ia kembali mendesis. "Jangan main-main, hyung! Cepat kesini dan tunjukkan pantatmu!"
"No fucking way, you dumbass!" Balas Madara, emosi.
Hashirama berdecak, ia kembali bergerak untuk menyambar lengan Madara. Kali ini, sang kakak tidak sempat berkelit dan Hashirama langsung menariknya jatuh ke atas ranjang.
Shit!—Madara mengumpat saat posisinya dalam bahaya. Hashirama kini berada di atas tubuhnya, mengunci seluruh pergerakannya.
"Kau tidak bisa lari lagi." Pria berambut lurus itu menjilat bibir atasnya kelaparan. Ia terkekeh senang saat Madara tidak bisa berkutik di bawah tubuhnya.
"Lepaskan aku, Brengsek! Lep—Hmphh!" Umpatan Madara terhenti saat Hashirama menyumbat mulut itu dengan bibirnya. Memberikan cumbuan yang terkesan tidak sabaran dan juga tergesa-gesa.
Madara kelabakan. Ia mencoba mendorong tubuh itu sekuat tenaga, sayangnya kekuatannya tidak sebanding dengan Hashirama yang tengah terangsang, berlibido tinggi.
"Hashi—Hmphh!—Stop!" Madara sekali lagi masih berusaha mempertahankan kewarasannya. Namun cumbuan itu perlahan demi perlahan menyapu akal sehatnya. Terlebih lagi saat lidah sang adik bergeriliya di dalam mulutnya, menyapa gigi, gusi serta langit-langit mulutnya.
Hashirama melakukan atraksi lidah di dalam mulut sang kakak, menjilat dan menginvasi rongga basah itu dengan keterampilan ciumannya. Pria itu sangat bangga dengan kehebatannya dalam melakukan deep kiss, ia selalu bisa menaklukkan seluruh wanita yang dikencaninya hanya dengan kecupan singkat darinya. Tipe womanizer.
Tetapi cumbuan panas itu harus berhenti saat keduanya membutuhkan asupan oksigen untuk paru-paru mereka. Madara terengah-engah sembari mendelik galak ke arah sang adik, sedangkan Hashirama masih terlihat bergairah sambil menjilat bibir atasnya.
Pria berambut lurus itu mulai melepaskan celana panjangnya dan memperlihatkan kejantanannya yang menegak menantang gravitasi, cukup membuat Madara terbelalak ngeri.
"Hashirama!—Kau tidak bermaksud untuk—"
"Untuk apa?" Sang adik menyela dengan cepat. Ia mendekat dan kembali mengecup pertemuan leher Madara. "—Aku hanya ingin bermanja-manja denganmu, Hyung." Lanjutnya lagi dengan suara bariton rendah.
Hashirama menarik tangan Madara untuk menyentuh penisnya. "Manjakan aku, Hyung." Perintahnya lagi. "—Please." Lanjutnya dengan nada memohon.
Madara berdecak kecil sebelum menuruti permintaan itu. Ia dengan terpaksa menggerakkan tangannya untuk mengelus dan mengocok benda berotot itu. Tetes precum milik Hashirama menetes perlahan dan menodai tangannya, tetapi hal itu sama sekali tidak mengganggu Madara saat ia sendiri sibuk berciuman dengan pria itu.
Tubuh Madara pasrah saat sang adik menindihi badannya, menjatuhkan seluruh berat badan pria itu diatas tubuhnya. Ia tidak meronta juga tidak berontak, rengkuhan dan ciuman Hashirama sanggup membuatnya terbuai untuk sesaat menikmati pergulatan mereka.
"Hyung—hhh—" Hashirama menatap mata onyx Madara dengan tatapan tajamnya. Kilat gairah terpantul disana, menyatakan ketidaksabarannya.
Madara mengerti tatapan penuh nafsu itu. Ia juga pernah memiliki pandangan seperti itu saat menatap Minato. Dulu.
"Hey!—" Hashirama menghentak lengannya. "—Jangan memikirkan pria lain saat bersamaku."
"What? Aku tidak memikirkan pri—"
"Aku tahu, Hyung. Tatapanmu menjadi kosong saat memikirkan Minato." Sela Hashirama cepat dengan suara berat. "—Untuk sekarang, fokuslah denganku." Desaknya lagi.
Madara menghela napas panjang. 'Hashirama benar. Tidak seharusnya aku memikirkan Minato lagi. Pria itu mencintai Fugaku, lagipula ini adalah waktunya untuk move-on dari Minato.' Ucapnya dalam hati.
"Hyung?" Hashirama memanggil lagi.
"Ah, maaf—" Madara mendongak untuk menatap sang adik. Bibirnya yang datar mulai melengkung pelan dengan senyuman teduh. "—Kau bisa mencintaiku sekarang. Mungkin, aku juga akan mencoba mencintaimu, Adik bodoh." Lanjutnya.
Hashirama terpana untuk sesaat. Kemudian menampilkan cengiran lebarnya mendengar ucapan sang kakak. Ia merengkuh Madara dan menjatuhkan kecupannya berkali-kali di wajah putih itu.
"God!—Ucapanmu itu membuatku semakin terangsang, Hyung." Bisik Hashirama pelan.
Madara memutar bola matanya dengan malas. "Idiot." Ucapnya dengan dengus geli.
Hashirama tertawa kemudian menerjang pria dihadapannya itu dengan ciuman bertubi-tubi. Kembali mencumbu bibir Madara dengan jilatan dan hisapan penuh gairah.
"Nghh—Ahhh—" Sang raven mendesah saat Hashirama menyentuh bagian dadanya dan meremasnya dengan lembut. Memainkan dua putingnya yang berada disana.
Dua tubuh yang awalnya bergerak canggung itu mulai saling memberikan pelukan intim yang sensual. Hashirama menjatuhkan kecupan dan kissmark di tubuh Madara, menyatakan dominasinya. Sedangkan pria raven itu menerima setiap cumbuan dengan suara lenguhan yang erotis.
Hawa panas mulai merayap di kamar tersebut, decakan lidah berbaur dengan desahan dua pria yang ada di atas ranjang itu. Meningkatkan gairah dengan saling menyentuh satu sama lainnya. Hingga akhirnya Madara harus pasrah dengan membuka lebar kedua pahanya, kalah akan dominasi yang dilakukan oleh Hashirama.
"Kau yakin ini akan baik-naik saja?" Tanya Madara agak ragu saat pria didepannya itu mulai menjilat lubang anusnya. Melicinkan jalan masuk.
"Apa maksudmu?" Tanya Hashirama. Menghentikan jilatannya dan menatap sang kakak dengan bingung.
"Uh—aku tidak pernah melakukannya dengan pria, jadi aku agak takut." Jujur Madara lagi.
"Oh ayolah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Lubang pantatmu tidak akan robek, uhm, mungkin akan luka sedikit." Sahut Hashirama lagi, sama-sama tidak yakin.
Madara hanya meneguk air liurnya semakin panik saat mendengar pernyataan Hashirama. "Aku harap kau tidak akan melukaiku." Ucapnya lagi dengan suara tercekat ketakutan.
Hashirama tertawa. "Tenang saja, aku cukup berpengalaman." Balasnya cepat. "—Well, bersama wanita." Sambungnya dengan deheman canggung.
"Bagaimana dengan pria?"
"Bersyukurlah, Hyung. Kau adalah pria pertamaku."
"Oh god!—I'm pretty sure, i'm gonna die." Madara menyahut sarkastik.
"Oh shut up will you? Aku akan berusaha selembut mungkin." Tegas Hashirama lagi sembari mengelus lubang anal itu sebelum memasukkan dua jarinya ke dalam sana, tentu saja setelah dilumuri air liurnya.
Madara tercekat sesaat, berusaha menahan sensasi perih saat jari-jari itu mulai bergerak menyentuh dinding dalam organnya. Menginvasi tubuhnya dengan sentuhan dan sodokan yang halus dan lembut.
Tangannya mencengkram bahu Hashirama, sedangkan kepalanya berusaha menggeleng ke kiri dan ke kanan untuk mengusir rasa sakit yang menghantam tubuh bagian bawahnya itu.
"Hashi—hhh—ini sangat tidak nyaman." Madara berbicara disela napasnya yang tersengal-sengal. Sejujurnya, ia sama sekali tidak punya pengalaman untuk bercinta dengan pria, ia hanya tahu menyetubuhi para wanita-wanita seksi di luar sana. Dan ia tidak menyangka kalau peran 'wanita' bisa sangat menyakitkan seperti ini.
Apakah ini rasanya kalau gadis perawan sedang digagahi oleh para lelaki? Benar-benar tidak nikmat sama sekali.
Hashirama mengecup bibir Madara, mencoba menenangkannya. "Sedikit lagi, aku harus membuka jalurnya agar kau tidak merasakan sakit." Ucapnya lembut.
"Cepatlah, ini terlalu menyakitkan." Desak Madara lagi sembari mengigit bibir bawahnya. Ia terengah-engah dengan dada naik-turun mempertahankan napasnya.
Hashirama mendengus geli mendengar ucapan sang kakak. Siapa sangka kepala divisi penyelidikan NIS bisa kesakitan hanya dengan dua jari yang ada di anusnya? Well, that's funny.
"Apa yang kau tertawakan, Brengsek? Cepat lakukan dan berhenti menyiksaku." Potong Madara sinis.
"Baiklah kalau kau memaksa, tapi jangan menyalahkanku kalau kau pingsan setelah ini." Ucapnya dengan nada bariton berat sembari menjilat bibir atasnya dengan tatapan lapar. Ia mulai mendekatkan ujung penisnya di depan lubang anal Madara. Bersiap melakukan penyerangan.
Sebelum Madara sempat berbicara lagi, Hashirama sudah terlebih dahulu menghentak pinggulnya ke liang anus tadi tanpa aba-aba. Membenamkan seluruh batang kejantanannya ke anal Madara dengan sekali sodokan. Membuat pria raven itu tersedak dengan tubuh yang mengejang keras. Matanya terbelalak dengan mulut terbuka mengeluarkan jeritan sunyi. Sedangkan pahanya bergetar tidak terkendali saat rasa sakit itu mulai merambat ke seluruh pinggulnya.
"Ahhhk!—Sakit!" Madara mengerang keras. Tangannya mencengkram seprei dengan kuat, membuat jari-jemariinya terasa sakit.
Hashirama benapas berat saat liang tadi meremas kejantanannya cukup kuat. "Stop!—Kau akan menghancurkan penisku." Erangnya.
"Kau yang akan menghancurkan tubuhku, Bodoh!" Balas Madara sama kesalnya. Wajahnya memerah dengan air liur yang menetes di sela dagu. Ekspresi yang cukup sensual, sayangnya Hashirama tidak melihat raut wajah itu sebab ia sendiri terlalu fokus pada kejantanannya yang terasa sakit karena diremas otot rektum pria raven itu.
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk cepat-cepat?! Jadi jangan salahkan ak—Arrghh!" Kalimat protesnya terhenti saat dinding rektum tadi semakin mencengkram organ vitalnya dengan kuat, tanda Madara yang kesal dan sengaja menghimpit kejantanan Hashirama dengan cengkraman anusnya yang kuat. "—Ma—Maaf, Hyung. Tolong jangan hancurkan asetku yang berharga ini." Mohon Hashirama dengan napas terengah-engah.
Madara memutar bola matanya dan melonggarkan cengkraman analnya. "Oke, cukup bermain-mainnya dan mulai serius." Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Hashirama. "—Bergeraklah, aku sudah tidak apa-apa lagi." Sambungnya dengan bisikan pelan serta napas pendek-pendek.
Hashirama tersenyum tipis dan memulai pergerakan pinggulnya. Sodokan dan hentakan dilakukan dengan perlahan untuk memanja lubang itu. Madara yang awalnya terlihat menahan sakit mulai menikmati permainan mereka saat ujung kejantanan Hashirama menyentuh prostatnya, menyalurkan aliran listrik statis yang membuat organ vitalnya semakin menegang keras.
"Ahhhk!—Hhh—Kenapa rasanya nikmat? Ahhh—Padahal tadi sangat menyakitkan." Ucap Madara dengan napas tersengal-sengal.
Hashirama menanggapinya dengan kecupan ringan di kening pria itu. "Sudah kukatakan ini akan nikmat—hhh—jadi buka lebar pahamu dan biarkan aku menggagahimu, Hyung."
Madara mengikuti permintaan itu tanpa protes apapun. Ia melebarkan pahanya dan membiarkan pria dihadapannya itu untuk memanja lubang analnya dengan sentakan yang kuat dan dalam.
Erangan bersahutan di kamar tersebut, meningkatkan suhu ruangan yang awalnya dingin menjadi panas dengan gairah mereka. Ranjang berderit keras saat dua tubuh itu terus melakukan gerakan liar diatas sana. Menyatu dengan irama sodokan pinggul sang dominan.
Madara mendesah hebat saat rasa nikmat itu terus menghantam titik sensitifnya di bagian bawah tubuhnya. "Ahhk!—Hashi—Nghh!—nikmat—" Tangannya menarik wajah sang dominan untuk melakukan pagutan bibir. Hashirama menyambut dengan senang hati dan mulai meraup mulut pria itu dengan rakus.
"Ahhh—Hyung—Khhh!" Pinggulnya maju-mundur semakin cepat. Genjotan dilakukan terus menerus tanpa henti.
Jujur saja, menyetubuhi Madara merupakan hal diluar pemikirannya. Ia tidak menyangka kalau tubuh pria itu lebih menganggumkan dibandingkan para wanita-wanita penggoda di luar sana. Erangan sang kakak, desahannya, liukkan tubuhnya, benar-benar menggerus otaknya dengan nafsu birahi.
Madara benar-benar berkualitas dan menggairahkan. Lihat saja wajah putih yang merona itu, belum lagi keringat yang membanjiri tubuh tadi, sangat eksotis dan sensual.
Hashirama menyukai ekspresi yang ditampilkan sang kakak. Sedikit tidak sabaran, pria itu terus menggenjot lubang anus Madara bertubi-tubi tanpa henti. Suara becek dari anal tersebut menambah sensasi tersendiri untuk persenggamaan mereka.
"Hyung—Ahhk!—aku tidak tahan." Hashirama mencengkram pinggul Madara, menghentakkan organ vitalnya lebih dalam dan kuat.
Madara mengangguk mengiyakan. Tangannya sendiri sibuk mengocok penisnya yang terus mengeluarkan precum. "Aku—hhh—juga ingin keluar." Sahutnya.
Mereka bergerak semakin liar dan panas.
Hashirama dengan sodokannya dan Madara dengan lenguhan sensualnya. Kolaborasi permainan intim yang menakjubkan.
Hingga akhirnya otot perut Hashirama mengejang dan bersiap menumpahkan seluruh benihnya keluar. "—Hyung!—Ahhhk!—Tidak sanggup lagi!—ARGHHH!" Dengan sekali hentakan yang dalam, ia membenamkan seluruh batang ereksinya ke dalam anus Madara, detik selanjutnya cairan spermanya menyemprot keluar dengan ganas, memenuhi dinding rektum itu dengan benihnya.
Madara sendiri mulai mengocok penisnya semakin kuat dan cepat, selanjutnya puncak kenikmatan itu terus menggumpal di ujung alat kelaminnya dan menyembur keluar bersamaan dengan cairan putih kental miliknya. Membasahi perut dan tubuhnya sendiri dengan cairan tersebut.
Mereka tersengal-sengal untuk sesaat, sebelum akhirnya Hashirama melepaskan tubuhnya dari atas Madara dan menjatuhkan diri di samping sang kakak. "Hhh—aku capek."
Madara mendengus kecil. "Aku juga, Bodoh." Tukasnya cepat sembari berbaring terengah-engah di atas ranjang.
Hashirama mendelik sekilas dan memeluk tubuh pria itu penuh sayang. "Hyung, aku mencintaimu." Bisiknya pelan.
Pria raven itu tidak menjawab dan hanya tersenyum teduh. "Aku tahu." Sahutnya pelan sembari bergelung di dalam pelukan sang dominan. Saling menikmati kehangatan tubuh pasangan masing-masing.
.
.
.
Riiing!—Riiing!—Telepon dari ruang tengah kamar Naruto berbunyi keras.
Sasuke yang sedang tertidur diatas ranjang membuka kelopak matanya saat dering itu tidak juga berhenti. Ia melirik sekilas ke arah sang Uzumaki yang berada di samping tubuhnya.
Pemuda pirang itu tertidur dengan nyenyak. Bahkan suara berisik telepon tadi sama sekali tidak membangunkan sang Uzumaki. Sasuke pernah membaca di salah satu buku kalau orang bodoh memang agak sulit dibangunkan saat tertidur.
'Hmph—Ternyata cerita itu benar.' Batinnya dalam hati.
Sedikit malas, Sasuke bangkit dari ranjang dan segera memakai baju serta celana panjangnya kemudian bergerak ke ruang tengah untuk mengangkat telepon tadi.
"Ya hallo?" Sang onyx membuka suara.
.
"Selamat malam, saya dari resepsionis depan ingin mengatakan kalau ada seorang petugas kantor pos mengirimkan sebuah paket kepada tuan Sasuke di kamar 301. Apakah anda yang bernama Sasuke?" Tanya seorang wanita dengan tutur kata halus.
.
Sasuke menguap sejenak. "Ya, aku Sasuke, tetapi aku sama sekali tidak memesan apapun melalui paket."
.
"Begitukah? Aneh sekali." Wanita tadi terdengar bingung."—Petugas kantor pos tadi mengatakan padaku bahwa anda memesan sebuah paket dan sekarang barang anda menunggu diluar. Dia bilang, paketnya hanya bisa diserahkan langsung kepada anda tanpa perantara." Jelas resepsionis tadi panjang lebar.
.
Sasuke mengerutkan alisnya tak kalah heran. "Hmm—baiklah, aku akan ke lobi bawah sekarang untuk mengambil paketku. Terima kasih." Sahutnya lagi seraya menutup sambungan itu dengan cepat.
"Paket, huh? Aku tidak pernah ingat memesan apapun." Gumam sang onyx pelan. Ia melangkah perlahan menuju kamar Naruto untuk meminjam jaket pemuda pirang itu. Udara diluar saat malam hari pasti sangat dingin.
"Naruto, aku pergi dulu." Sasuke melirik sang Uzumaki yang tengah tertidur di atas kasur. Pemuda pirang itu hanya menjawab dengan gumaman tanpa arti. Sang raven hanya mendengus geli. "—Dasar idiot." Lanjutnya lagi seraya bergerak cepat keluar kamar dengan memakai kaos putih yang dilapisi jaket black-orange milik Naruto, celana jeans hitam melekat di kaki jenjangnya dengan sepatu sport warna silver.
Langkah kakinya menggema di sepanjang lorong koridor hotel. Ia memeluk tubuhnya sendiri saat masuk ke dalam lift. Jujur saja, ia paling malas harus keluar malam hari seperti ini. Sangat dingin dan melelahkan. Tetapi di lain pihak, ia juga penasaran dengan paket yang diantarkan kepadanya.
Dari siapa?—Dan apa isinya? Apakah dari salah satu fans-nya atau teman komunitasnya? Lagipula kenapa harus di antar ke hotel dan bukan ke alamatnya di Korea?
Pertanyaan itu berloncatan di kepala Sasuke, namun sama sekali tidak menemukan jawaban yang cocok. Sangat misterius dan membuat penasaran.
Enggan berspekulasi lebih jauh lagi, pemuda raven itu memilih segera mengambil paketnya di resepsionis.
"Maaf, aku Sasuke dari kamar nomor 301. Apakah ada sebuah paket yang diantarkan kesini?" Tanya sang raven langsung pada salah satu pegawai yang bekerja di meja resepsionis.
"Oh, Tuan Sasuke dari kamar 301." Salah seorang wanita resepsionis menyapa dengan senyum cerahnya. "—Soal paketan anda, sebaiknya anda langsung mengambilnya pada orang itu." Wanita tadi menunjuk salah seorang pria bertopi merah dan berseragam kerja yang juga berwarna merah sedang berdiri di luar pintu hotel dengan gelisah. Sepertinya dia salah satu pegawai dari kantor pos.
"Oh baiklah, terima kasih." Sahut Sasuke melempar senyum ke resepsionis sebelum bergerak ke arah pria tadi.
.
.
.
Di tempat lain, Naruto mulai terbangun saat tangannya tidak menemukan sosok Sasuke di sampingnya. Ia membuka kedua kelopak matanya dan menengok ke arah samping, namun sosok Sasuke yang seharusnya tertidur disebelahnya menghilang. Lenyap tanpa jejak.
Sedikit bingung, ia bergegas bangkit dari kasur sembari memakai celana dan kaos hitamnya. Matanya melirik ke sekitar untuk mencari jaketnya, namun benda itu juga menghilang bersamaan dengan sang kekasih.
'Ada apa ini?' Batinnya dalam hati.
"Sasuke!" Ia berseru memanggil. Berharap Sasuke berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Nyatanya, ruang tengah sama kosongnya dengan kamar yang ditempatinya.
Ia bergegas menuju kamar Sai. Mungkin saja pemuda raven itu tidur dengan adiknya.
Tetapi sekali lagi, sosok sang onyx tidak ada. Hanya ada Sai yang tengah terlelap di atas kasurnya.
Naruto menggaruk rambut spiky pirangnya dengan bingung.
"Dia kemana sih? Apa ke tempat paman Madara? Atau mungkin ke kamar bibi Mei?" Gumam pemuda pirang itu seraya berpikir.
Sedikit cemas, sang Uzumaki bergegas memakai sepatu sport-nya dan bergerak ke luar untuk mencari pemuda raven itu.
Kamar yang ditujunya terlebih dahulu adalah kamar bibi Mei. Mungkin saja Sasuke sibuk berbincang dengan wanita itu tentang alat make-up dan cara berdandan yang baik dan benar. Well, siapa tahu?
Tok!—Tok!—Dua kali ketukan di pintu tersebut membuat bibi Mei yang tengah memakai lingerie pendek berbahan sutera tipis dan transparan itu langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat.
Ekspresinya sedikit kaget melihat sang keponakan berdiri di ambang pintunya dengan raut wajah gelisah. "Oh, Naruto." Ucapnya. Kemudian tersenyum menggoda sembari bersender di ambang pintu, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang dibalut underwear lace thong dari balik lingerie seksinya.
Sanggup membuat Naruto meneguk air liurnya berkali-kali saat melihat dada padat yang menggelantung disana.
'Mungkin Sasuke akan se-seksi ini kalau memakai lingerie seperti itu.' Batin Naruto lagi.
"Naruto, ada apa? Kau ingin tidur dengan noona ya?" Ucapnya dengan suara menggoda manja.
"Ahaha—" Naruto tertawa panik. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "—Uhmm, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah Sasuke kesini, Noona?"
"Sasuke?" Bibi Mei membeo. "—Tidak. Ia sama sekali tidak kesini." Jawabnya lagi.
"Oh, okay. Kalau begitu aku mencari di kamar paman Madara dulu." Sahutnya lagi sembari berjalan menjauh.
Mei melambai genit. "Kalau tidak ketemu juga, noona yang akan menggantikan Sasuke untuk menemanimu tidur!" Serunya centil.
Naruto lagi-lagi hanya tertawa kering.
Damn! Bibi Mei sanggup membuat pria gay di dunia menjadi normal dengan tubuh menggoda itu. Benar-benar kekuatan yang mengerikan.
Mengesampingkan pikiran kotor dari otaknya, kini Naruto sudah berdiri di depan pintu kamar Madara. Ia ragu apakah harus mengetuk dulu atau langsung masuk? Well, terserahlah. Masuk tanpa mengetuk pun tidak masalah, toh dia kesini bukan untuk mencuri.
Setuju dengan pemikiran tersebut, ia langsung melangkah masuk ke kamar sang paman. Matanya berkeliling ruangan tersebut. Hanya ada ruang tengah yang sama mewahnya dengan ruangannya. Kemudian sebuah bar kecil di sisi kiri dan satu kamar tidur di sisi kanan.
Naruto meraih gagang pintu kamar yang berada di sebelah kanan dan memutarnya perlahan, kemudian mendorong pelan daun pintu tersebut dengan deritan kecil.
"Paman Mada—" Ucapannya terhenti saat manik birunya terbelalak lebar menatap adegan yang disuguhkan di depan matanya.
Hashirama dan Madara sedang terengah-engah di atas kasur dengan cairan putih kental yang sangat dikenalnya. Naruto tidak perlu tes laboratorium untuk mengetahui cairan apa itu. Sudah dapat dipastikan kalau itu adalah sperma.
Mata birunya kembali menjelajah; Seprei berantakan, lampu meja yang pecah di lantai, serta bantal dan guling yang hampir terkoyak.
Naruto bersiul takjub. Daaamnn!—Permainan kedua pamannya lebih liar dibandingkan yang dilakukannya dengan Sasuke. Mungkin lain kali, ia harus belajar teknik bercinta yang hebat dengan Hashirama dan Madara.
"Na—Naruto!" Madara menyambar selimut terdekat untuk menutupi selangkangannya. Sedangkan Hashirama menoleh dengan senyuman lebar, menyapa pemuda pirang itu. Seakan-akan melakukan persetubuhan di hadapan keponakannya sendiri adalah hal yang wajar.
Untungnya, Naruto sudah terbiasa dengan kegilaan yang dilakukan anggota keluarga kerajaan, kalau tidak, mungkin saat ini ia sudah menjerit pilu melihat kedua pamannya—yang seksi dan tampan tersebut—melakukan hal yang nista tadi.
"Maaf mengganggu kegiatan intim kalian. Tetapi aku ingin bertanya, apakah tadi Sasuke kesini?" Tanya Naruto sembari bersender di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Sasuke?" Hashirama menyahut dengan raut wajah bingung. "—Tidak. Ia tidak kesini. Memangnya ada apa?" Tanyanya lagi sembari turun dari ranjang dan memakai celana boxer nya. Sedangkan Madara langsung menyambar pakaian lengkapnya dengan wajah merah padam. Ia bangkit untuk mengambil tissu dan membersihkan pantatnya dengan cepat.
Naruto melirik sekilas ke arah Madara. "Hey, nice ass." Pujinya dengan seringai tipis. Madara mendelik ganas, namun kalah ganas dibandingkan tatapan Hashirama saat ia tahu kalau Naruto masih memperhatikan lekuk tubuh kekasihnya.
Hashirama menyambar bantal terdekat dan melemparkannya sepenuh hati ke arah kepala pirang itu. Menghantam kuat ke kening sang Uzumaki dengan suara -BUK!- yang nyaring.
"Hey!—" Naruto protes. Namun ucapannya terhenti saat melihat aura kemarahan menguar dari tubuh paman Hashirama.
"Matamu lihat kemana, Bocah?" Desis Hashirama sinis.
Naruto meneguk ludah. "Uhhh—maaf, maaf—" Ia memalingkan wajah, menatap tembok. Setidaknya bidang datar itu lebih menarik dibandingkan melihat wajah mengerikan Hashirama.
"Jadi, sebenarnya ada apa?" Hashirama kembali bertanya setelah emosinya mulai mereda. Ia mengambil rokok di atas meja dan menyelipkannya di mulut sebelum membakar ujungnya.
Naruto menoleh ke arah pria itu. "Sasuke hilang. Saat aku terbangun, ia tidak ada disampingku. Kalian tahu dia ada dimana?"
"Kalau di kamar bibi Mei?" Madara menyahut setelah ia berpakaian lengkap dengan celana panjang dan baju kemejanya.
"Aku sudah kesana, dan bibi Mei mengatakan kalau ia tidak melihat Sasuke." Sahut Naruto cepat.
"Apakah ada petunjuk?" Tanya Hashirama lagi seraya menghisap rokoknya dalam-dalam. "—Dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit." Ujarnya lagi.
"Well, kalau soal petunjuk, mungkin hilangnya jaketku." Jawab Naruto cepat. "—Jaketku sudah tidak ada di kamar, dan aku yakin sekali kalau Sasuke yang membawanya."
"Jaket, huh?" Hashirama berpikir keras sembari mengelus dagunya. "—Aku rasa dia berencana keluar dari hotel. Kalau begitu, satu-satunya cara adalah bertanya pada resepsionis. Mungkin mereka tahu kemana Sasuke pergi." Ujarnya, mengemukakan pendapat. "—Aku harap ini tidak ada hubungannya dengan rencana ibu dan Danzo." Kata Hashirama lagi dengan kekeh pelan.
Madara menoleh galak ke arah Hashirama. "Apa mulutmu sama bocornya dengan mulut Mei?"
Hashirama meneguk liurnya. "Ups—"
Naruto memandang Hashirama dan Madara bergantian. "Apa maksud kalian dengan rencana nenek dan Danzo?! Siapa Danzo?!"
Madara mengibaskan tangannya. "Lupakan soal itu."
"Tidak! Kalian harus mengatakan sejujurnya sekarang juga! Siapa kalian sebenarnya?! Kenapa kalian seakan-akan tahu segalanya!" Raung Naruto kesal.
"Dengar, Naruto—" Madara memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. "—Kau tidak perlu tahu apapun. Kami bisa mengatasi hal ini. Lagipula, mungkin saja Sasuke sedang menghirup udara malam. Kau hanya terlalu khawatir." Ucapnya lagi.
"Aku tidak peduli! Katakan padaku sekarang, Paman! Aku harus tahu!" Desak sang Uzumaki, tidak sabaran.
Tepat ketika Madara ingin mengatakan sesuatu, suara Hashirama langsung menginterupsi mereka.
"Sebaiknya, kita ceritakan saja informasi yang kita ketahui. Lagipula Naruto adalah calon raja Korea Selatan. Ia harus tahu segalanya." Ucap Hashirama sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap sang kakak dengan lekat.
Madara mendesah pelan sebelum akhirnya setuju dengan ucapan Hashirama untuk membeberkan semua. "Aku, paman Hashirama dan bibi Mei adalah anggota NIS. Kami menyelidiki rencana ibu yang ingin menguasai Jepang. Selain itu, kami menduga kalau Perdana Menteri Danzo ikut terlibat dalam hal ini. Aku yakin sekali dia bergabung dengan ibu hanya untuk menghindar dari kejahatan korupsinya, meminta perlindungan di bawah kerajaan Korea Selatan." Jelasnya.
"Jadi, apakah ini ada hubungannya dengan Sasuke?" Naruto menyela. "—Kau tidak mungkin mengatakan kalau Danzo menculik Sasuke agar ia bisa mengancam nenek 'kan?" Ucapnya lagi dengan kekeh pelan. Berusaha mengeluarkan lelucon bodoh.
Namun suara tawanya langsung terhenti saat Hashirama dan Madara menatapnya dengan pandangan terkejut, seakan-akan keduanya baru saja menyadari satu kenyataan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka.
"Apa?" Naruto menatap Hashirama dan Madara bergantian.
Bukannya menjawab, Madara malah bergerak panik menyambar jaketnya. "Hashirama, panggil Mei! Dan cepat pergi ke kamar ibu!" Perintahnya tegas.
Sedikit kelabakan, Hashirama menyambar celana jeans-nya dan langsung melesat keluar kamar dengan bertelanjang dada. Tidak mempedulikan ekspresi Naruto yang memucat.
"Ada apa ini?! Kenapa?!" Seru Naruto yang sama sekali tidak mengerti situasinya sekarang.
"Berhenti bertanya dan ikuti aku!" Teriak Madara sembari menarik lengan pemuda pirang itu untuk segera bergegas pergi.
Mereka berlarian di sepanjang koridor dan memasuki lift dengan cepat. Madara menekan tombol satu untuk menuju lantai pertama. "Dengar, Naruto—" Pria itu mendelik sang Uzumaki dengan tatapan cemas. "—Aku takut kalau ucapanmu itu benar. Maksudku, Danzo akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, walaupun dengan cara licik seperti itu." Jelasnya.
Naruto pucat pasi. "Ka—Kau pasti bercanda 'kan? Sasuke tidak mungkin—" Suaranya tercekat di tenggorokan saat memikirkan hal itu. Ia mengepalkan tangannya dan menghantam dinding lift dengan suara -BRAK!- keras. Meluapkan emosinya.
"—Sial!—Sial!" Naruto menyumpah serapah. Matanya menaut tajam dengan bibir yang menggigit gelisah. Madara tidak kalah gelisahnya juga, namun ia tetap berusaha tenang dan berpikir jernih. Mungkin mereka masih bisa menemukan Sasuke dan berharap kalau dugaannya salah.
Lift berbunyi nyaring saat sampai di lantai satu. Pintunya terbuka perlahan dan Naruto langsung melesat cepat dari kotak logam tadi. Berlari menuju meja resepsionis dengan langkah tergesa-gesa, diikuti oleh sang paman yang mengekor dibelakangnya.
Naruto terengah-engah panik di depan meja resepsionis. "Sasuke!—Hhh—apa kalian melihat Sasuke?!" Ucapnya tidak sabaran.
Beberapa pegawai wanita yang berada di balik meja hanya bisa saling berpandangan dengan heran.
Naruto mengerang kesal. Ia hampir menggebrak meja dengan kesal kalau saja tindakannya tidak dihentikan oleh sang paman. Madara mencoba mengambil alih situasinya.
"Maaf, tapi apakah kalian melihat pemuda berambut gelap dan memakai jaket black-orange? Wajahnya putih dengan mata tajam sepertiku." Ujar Madara lagi.
Salah seorang resepsionis wanita terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Apakah orang itu adalah tuan Sasuke dari kamar nomor 301?"
"Ya! Itu dia!" Sahut Naruto cepat. "—Dimana dia sekarang?!" Tuntutnya tidak sabaran.
Wanita itu mundur dengan wajah ketakutan dan panik. "Uhh—dia keluar hotel bersama pria petugas kantor pos. Dia mengatakan ingin mengambil paketnya."
"Paket?—Paket apa?!" Naruto membentak.
Wanita itu menggeleng panik. "A—Aku tidak tahu."
BRAKK!—Naruto menghantam meja resepsionis dengan sangat keras. Sanggup membuat beberapa pegawai wanita itu mundur ketakutan.
"Shit!" Sang Uzumaki menggeram. Pria raven disebelahnya hanya menghela napas pelan kemudian menyentuh pundak pemuda pirang itu.
"Naruto, tenangkan dirimu. Meluapkan emosi seperti itu sama sekali tidak memban—"
"Lepas!" Naruto menepis sentuhan Madara di bahunya. "—Aku harus mencari Sasuke." Desisnya lagi seraya berlari di lobi kemudian melesat keluar hotel.
"Bocah itu—" Madara tak kalah kesalnya, tetapi tak ayal mengikuti pemuda pirang itu juga.
.
.
Di tempat lain, tepatnya sebuah lorong gang tepat di samping bangunan hotel. Sasuke dan seorang pegawai kantor pos berjalan disana. Sang onyx mengikuti pria itu di belakang sembari mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan. Ia kedinginan sekaligus bingung. Saat Sasuke mengatakan ingin mengambil paketnya, pria itu mengatakan kalau paket yang diterimanya masih di dalam mobil yang diparkirkannya di ujung lorong gang. Namun Sasuke tidak melihat mobil apapun di ujung lorong, hanya jalanan kosong dengan lampu jalanan yang menyorot remang-remang.
Sedikit heran, Sasuke mulai membuka suara. "Uhh—sebenarnya paketku dimana?" Tanyanya.
Pria dihadapannya hanya menyeringai tipis. "Sebentar lagi sampai." Sahutnya sembari berhenti tepat di ujung lorong. Ia berbalik dan menatap sang onyx dengan tajam. "—Paketmu disini." Tepat ketika ucapannya itu, sebuah mobil limousin putih datang dengan cepat dan berhenti tepat di ujung lorong gang. Tiga orang pria berjas hitam keluar dan menangkap tubuh Sasuke dengan sigap.
"A—Apa yang kalian lakukan?!—LEPAS!" Teriaknya nyaring sembari berontak keras.
Pria petugas pos itu melepaskan topi yang menutupi wajahnya. Memperlihatkan raut wajah Danzo yang angkuh. "Masukkan dia ke dalam mobil." Perintahnya tegas.
Beberapa pria suruhan Danzo langsung mengangguk bersamaan dan menyeret Sasuke untuk memasuki limousin.
"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!" Sasuke menyikut salah satu pria tersebut kemudian menendang kakinya. Pria tadi tersungkur di tanah sembari mengerang kesakitan.
Melihat kesempatan itu, Sasuke segera membebaskan tubuhnya dari cengkraman dua pria lainnya dan berbalik kabur.
Danzo menggertakkan giginya murka. "TANGKAP DIA, BODOH!" Raungnya keras.
Pria berjas tadi dengan cepat berlari untuk mengejar Sasuke dan menangkap jaket pemuda raven itu. Kemudian membantingnya ke tanah dengan suara -BRUAKK!- nyaring. Cukup untuk mengunci pergerakan sang onyx di tanah.
"LEPASKAN AKU!" Sasuke berteriak nyaring. Meronta saat tubuhnya diseret dengan kasar oleh ketiga pria suruhan Danzo.
"Diam." Danzo mendesis seraya menangkap wajah sang onyx. "—Aku tidak segan-segan menghajarmu kalau kau berontak." Lanjutnya lagi.
Mata onyx itu berkilat marah. "Aku bersumpah akan membunuhmu." Gertakkan gigi menandakan bahwa Sasuke benar-benar murka.
Danzo tertawa mengejek. "Well, aku tidak yakin akan hal itu. Sebelum kau membunuhku, aku yang terlebih dahulu membunuh calon raja dan nenekmu."
Sasuke terbelalak lebar. "Kau—apa?"
Pria itu terkekeh serak. "Upss—sepertinya aku banyak bicara." Ia mengedikkan dagu, menyuruh para anak buahnya untuk segera memasukkan Sasuke ke dalam mobil.
Ketiga suruhannya mengangguk dan langsung mendorong tubuh pemuda raven itu. Sekali lagi sang onyx berontak. "LEPAS! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!" Raungnya.
.
"SASUKEEE!" Di ujung lorong lain, teriakan Naruto menggema. Sepertinya pemuda itu mendengar teriakan kekasihnya dan langsung menuju ke arah asal suara. Namun ia langsung terbelalak saat ada empat orang pria yang menculik Sasuke tepat di hadapannya. Salah satunya adalah orang yang sangat di kenal oleh Naruto. Pria itu juga yang menyambut kedatangan keluarga kerajaan Korea Selatan saat di bandara.
Perdana Menteri Danzo.
Naruto menggeram, kilatan tajam terpecik di matanya. "Kau—" Ia mendesis.
Danzo menyeringai kejam. Ia menarik jaket Sasuke dari tubuh pemuda raven itu kemudian melemparkannya ke tanah. "Kenang-kenangan untukmu." Ucapnya singkat seraya menginjak jaket tadi sebelum masuk ke dalam mobil.
Naruto meraung. "KUBUNUH KAU!"
Madara yang berada di belakang Naruto hanya terengah-engah tidak karuan. "Tunggu Naruto! Kita tidak bisa—" Belum sempat kalimatnya selesai, Naruto sudah berlari lagi ke arah depan. Siap menerjang mobil tadi. Meninggalkan Madara yang—sekali lagi—berdecak kesal karena tidak dipedulikan.
"—Bocah idiot itu. Sebaiknya aku segera menghubungi Hashirama." Tukasnya sembari menarik ponsel dari saku celana.
.
Naruto menyambar jaketnya yang teronggok di tanah sebelum berlari membelah jalan mengejar mobil limousin putih tadi. Jarak awal memang tidak terlalu jauh, tetapi kekuatan kakinya dan kecepatan mobil sangatlah berbeda. Seiring tancapan gas mobil, Naruto yakin ia tidak sanggup mengejar kendaraan mewah itu.
Sang Uzumaki terengah-engah sebentar saat limousin putih tadi bergerak menuju jalan raya. Naruto menoleh berkeliling untuk menemukan jalan pintas.
Ada!—Lorong gang di samping kanannya.
Dengan berlari secepat kilat, ia langsung melesat melewati gang di lorong tersebut. Jangan remehkan atlet kampus seperti Naruto. Ia tidak mungkin memiliki otot six pack tanpa alasan yang jelas, bukan? Bentuk tubuhnya adalah hasil latihan menjadi atlet lari di universitasnya.
Crank!—Naruto menyambar pagar kawat besi dan melompatinya dengan mudah. Napasnya berusaha menyesuaikan dengan irama jantung serta kakinya.
Pemuda itu terus berlari melewati jalanan becek. Cipratan air sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Tubuhnya menerobos angin malam yang membekukan sendi, namun ia sama sekali tidak kedinginan. Mata birunya berkilat tajam, deru napasnya membelah udara, dan kakinya tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan Sasuke kembali.
Beberapa orang yang berlalu lalang di depannya langsung didorong dengan cepat dan kasar. Kata umpatan dan cacian mengikuti langkahnya saat menerobos pasar malam yang penuh dengan kerumunan orang.
Naruto berhenti sejenak di pinggir jalan. Terengah-engah dengan mata nyalang mengamati setiap mobil yang lewat. Hingga akhirnya sebuah limousin mewah sengaja memelankan lajunya di hadapan Naruto. Kaca hitam turun perlahan, menampilkan sosok Danzo yang tengah menyeringai licik ke arahnya. Seakan-akan meminta pemuda pirang itu untuk terus mengejarnya.
Naruto menggeram, ia menggertakkan giginya dengan kuat. Saat ia menerjang, mobil tadi sudah menancapkan gas dan kembali berbelok ke jalan utama. Naruto tersungkur ke aspal, namun langsung bangkit dan kembali berlari.
Sekali lagi, permainan kejar-lari itu terus berlanjut. Naruto menerobos jalan pintas dan gang kecil untuk memotong jalan. Ia berlari cepat layaknya orang gila, sama sekali tidak mempedulikan tubuhnya yang kotor dan tergores.
Kalau sampai Sasuke terluka seujung jari saja, Naruto bersumpah akan membuat pria jahanam itu membayar sepuluh kali lipat dari perbuatannya.
Sang Uzumaki terus berlari menembus kerumunan orang-orang yang berdesakan di jalan utama. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari limousin Danzo. Matanya menangkap gerakan kecil dari mobil mewah itu yang tengah melaju kencang melewati jalan raya.
Naruto berbalik cepat dan berlari di sepanjang trotoar untuk mencapai jembatan gantung yang melintang di atas jalan utama. Dari sana, ia akan melompat untuk menerjang mobil tersebut.
Yakin dengan keputusannya itu, Naruto segera menaiki tangga jembatan gantung dengan cepat. Ia berdiri di tengah-tengah seraya mengatur napas, menunggu mangsa untuk lewat di bawahnya.
Mobil limousin itu hampir mendekat dengan jarak 100 meter lagi. Naruto melilitkan jaketnya di sekitar pinggang dan mengikatnya dengan kencang.
80 meter—Naruto mengepalkan tangannya bersiap.
40 meter—Sang Uzumaki mengambil ancang-ancang. Matanya berkilat tajam dan dingin. Ia akan memastikan bahwa Danzo menyesal bermain-main dengannya.
10 meter—Dengan jarak dan kecepatan yang sudah di perhitungkan, Naruto berlari dengan sigap kemudian detik selanjutnya langsung melompat tinggi dari atas jembatan gantung. Membiarkan gaya gravitasi menarik tubuhnya ke bawah.
Sekilas tindakan gila itu membuat beberapa orang yang berada disekitar area tersebut berteriak ngeri saat melihat seorang pemuda tanggung melompat tanpa pikir panjang dari atas jembatan gantung yang tingginya hampir 4 lantai bangunan.
Tapi tidak dengan sang Uzumaki, tubuhnya sudah dilatih untuk melakukan hal gila seperti ini. Percuma saja mempunyai tubuh tegap kalau memiliki nyali kecil.
Tidak!—Naruto bukanlah pengecut!
Kalau perlu ia akan melompat dari Tokyo Tower untuk menyelamatkan sang kekasih. Jembatan setinggi 4 lantai itu bukanlah apa-apa bagi seorang Uzumaki.
BRUAAKKH!—Tubuh pemuda pirang itu terhempas di atas limousin putih Danzo, mendarat dengan kedua kakinya yang ditekuk dan tangan yang berpegangan pada kedua sisi atap mobil, cukup membuat kaget beberapa orang yang ada di dalamnya.
Danzo menengadah dengan terkejut saat melihat atap mobilnya agak penyok akibat benturan sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya. "Apa itu?!" Tanyanya panik.
Salah seorang anak buahnya langsung menjulurkan kepala untuk melihat ke atas mobil, namun tindakan itu justru membuat nyawanya hampir melayang. Sebab tanpa pikir panjang, Naruto langsung memukul wajah menjijikan itu. Tangan tan nya meraih gagang pintu, membukanya dan melempar tubuh pria tadi ke jalan raya. Membiarkan pria tersebut terseret beberapa meter yang menyebabkan kekacauan lalu lintas.
Danzo mengumpat. "Shit!—Ambil senjata! Tembak dia!" Perintahnya lagi pada kedua anak buahnya.
Sasuke menjerit histeris. "JANGAN!"
"DIAM!" Danzo melayangkan tinjunya ke rahang pemuda raven tadi dengan suara -BUAGH!- keras. Membuat Sasuke tersungkur di jok sembari meringis kesakitan.
Tindakan yang salah, Bung! Benar-benar salah!
Sebab Naruto bisa mendengar jeritan Sasuke dan suara pukulan yang menandakan sang kekasih sedang di hajar.
Mata Naruto semakin berkilat tajam, giginya bergemertak penuh kemurkaan. Detik selanjutnya, saat kedua anak buah Danzo menjulurkan setengah badannya untuk menembak Naruto. Pemuda itu dengan sigap berdiri di atas atap mobil dan menendang salah satu pria tepat di hidung dengan keras. Kemudian melakukan tendangan lagi ke pria kedua sebelum orang tersebut sempat menembak.
Danzo yang melihat kedua anak buahnya pingsan hanya bisa berdecak kesal. Ia menoleh ke arah sopir. "Belok dengan cepat!" Perintahnya lagi.
Sang sopir langsung membanting setir ke arah kanan, melempar tubuh Naruto yang berada di atas mobil ke aspal jalanan. Menghantam bidang keras itu dan terguling disana dengan suara -BRUAKKH!- yang sangat nyaring. Naruto bahkan bisa merasakan beberapa tulang rusuk dan lengannya retak karena benturan tersebut.
Namun hal itu tidak menghentikan niatnya. Ia menyeka darah dari keningnya dan menatap nyalang ke sekitar, berusaha mencuri salah satu mobil untuk mengejar limousin Danzo.
Seorang turis Amerika berbaju rapper dan berkulit hitam menjadi targetnya. Baru saja ia ingin berlari kesana, teriakan Madara langsung menghentikan langkahnya.
"NARUTO! STOP!"
Sang Uzumaki menoleh ke belakang dan mendapati sosok Madara dan Hashirama di dalam mobil.
Madara menjulurkan kepalanya dari jendela mobil. "—JANGAN BERTINDAK GEGABAH!" Serunya lagi.
Naruto mulai panik. Shit!—Kalau ia dihentikan sekarang, ia akan kehilangan jejak Danzo. Naruto tidak ingin hal itu terjadi, jadi dengan cepat ia berlari menuju turis tersebut dan menarik tubuh itu dari mobil.
"FUCK OFF!" Raungnya keras sembari masuk ke dalam mobil sport hitam tadi dengan cepat.
Sang turis bangkit dengan marah dengan gaya khas rapper-nya. "What the fuck, Man!"
Madara yang melihat hal itu hanya bisa berdecak kesal sembari keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah Naruto. "Naruto! Tunggu!"
Namun ucapannya hanya angin lalu bagi Naruto, sebab sang Uzumaki segera menancap gas sebelum pria raven tadi menggapai pintu mobil.
Madara meninju udara dengan penuh amarah. "FUCK!"
Sang turis beralih ke arah Madara. "Hey!—Hey, Man!—He's stole my fucking car, Man! Now i want it back or i'll call the police!"
Madara segera mengambil lencana NIS dan menunjukkannya di hadapan turis tersebut. "Nantional Inteligence Service. I'm sorry about your car, but i will return it soon. So calm down and let me handle this, okay? So, do you have car insurance?"
"Fuck that!—I don't give a shit, Man!" Jelas turis tadi dengan wajah angkuh. "I just want my c—!"
BRUAKH!—Belum sempat turis tadi menyelesaikan kalimatnya, Ia sudah terpelanting dan terguling di aspal setelah di tabrak Hashirama dari arah samping. Sanggup membuat Madara tercengang kaget.
"Masuk!" Hashirama membuka pintu sampingnya, menyuruh sang kakak untuk segera masuk ke dalam mobil.
Madara terdiam. Masih shock dengan kejadian barusan.
Hashirama berdecak dan menarik tangan pria itu. "Cepat masuk! Kita harus mengejar Naruto!"
Patuh dengan ucapan sang adik, Madara dengan sigap langsung masuk ke dalam mobil.
Hashirama segera menancap gas dan mengejar mobil yang dikendarai Naruto. Tidak mempedulikan turis yang kembali mengomel di belakangnya.
"FUCKING ASS-IAN!" Teriak turis tadi, murka.
Hashirama tidak mempedulikan sumpah serapah itu. Ia hanya menurunkan kaca jendela mobil, menjulurkan tangan dan mengacungkan jari tengah seraya memacu kencang laju mobilnya.
Pria berambut lurus panjang itu terkekeh pelan.
God!—Baru kali ini seumur hidup menjadi anggota badan intelijen pemerintah, Hashirama bisa menikmati aksi kejar-kejaran seperti di dalam film action. Membuat jantungnya berdegup senang.
Madara melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau menabrak turis." Ia berbicara tanpa memandang sang adik.
"Yeah, aku tahu."
"Ini akan menjadi masalah dan kerugian yang besar."
Hashirama membetulkan letak kaca spion tengah sebelum menjawab. "Aku tahu."
Madara mendengus kecil, kemudian memalingkan wajah menatap keluar jendela. "Aku suka." Ucapnya lagi.
Hashirama terbahak lagi, kali ini lebih keras. Ternyata mereka benar-benar menikmati aksi kejar-kejaran ini.
.
.
Naruto memainkan persneling mobilnya. Matanya lurus tajam memandang mobil limousin yang melaju cepat di hadapannya. Meliuk-liuk dengan sigap dan tangkas. Untungnya saja, Naruto pernah belajar mengendarai mobil saat ia kuliah dulu, jadi mengebut di jalanan adalah hal yang biasa baginya.
Sang Uzumaki mencengkram setir lebih erat. "Kau tidak akan kubiarkan lolos." Gumamnya dengan geraman rendah.
Ia menginjak gas dan mempercepat laju mobilnya. Menyelip beberapa truck dan motor yang menghalangi jalannya.
Otak dan pikirannya hanya terfokus pada keselamatan Sasuke. Apapun yang terjadi, ia pasti akan menyelamatkan kekasihnya itu, walaupun harus dibayar dengan nyawa.
Pantang menyerah, sang Uzumaki terus mengebut untuk mensejajarkan mobilnya dengan limousin putih itu. Ia melirik ke samping kemudian menubrukkan badan mobilnya ke mobil Danzo, menciptakan suara gesekan besi yang memekakkan telinga.
Danzo menggeram marah saat Naruto masih belum menyerah dengan usahanya. "Tabrak mobilnya!" Perintahnya tegas.
Sang supir mengangguk dan menubrukkan badan mobil berkali-kali ke arah Naruto. Sang Uzumaki masih berusaha bertahan sembari mencengkram erat setirnya.
Melihat kalau pemuda pirang itu masih bersikeras untuk tidak menyerah, Danzo segera mengambil pistol dan mengarahkannya ke ban depan Naruto.
"Selamat tinggal, calon raja." Ucapnya pelan dengan geraman rendah.
DORR!—Pistol memuntahkan timah panas yang langsung menembus ban depan mobil Naruto. Membuat benda beroda itu mulai goyah dan berputar tidak karuan di tengah jalan.
Naruto berusaha mengusai mobilnya, namun dengan kecepatan setinggi itu sulit baginya untuk mengendalikan mobil tadi. Ia menginjak rem berkali-kali, namun sepertinya rem sama sekali tidak berfungsi. Membuat pemuda pirang itu memilih membanting setir ke arah kiri dengan panik.
Mobil terbalik dan tergulung di jalanan aspal kemudian terseret sejauh 7 meter hingga akhirnya menabrak dinding pembatas jalanan dengan suara -BRUAAKHH!- yang nyaring.
Naruto meringis sejenak saat keningnya berdarah menghantam setir dan terkena pecahan kaca mobil. Ia mencoba bergerak perlahan untuk keluar dari puing mobil tersebut. Kakinya menendang pintu berkali-kali hingga akhirnya benda logam itu terlepas dari engselnya, membiarkan sosok sang Uzumaki merayap keluar dari timbunan besi panas yang siap meledak kapan saja.
Naruto menjauh dari sana secepatnya. Napasnya terengah-engah tidak karuan saat kakinya mencoba melangkah menyusuri jalanan sembari mencengkram tulang rusuknya yang patah.
Tubuhnya terlihat kepayahan dengan pakaian yang kotor dan tubuh penuh luka. Matanya mulai memburam seiring rasa pening yang mulai merayap di kepalanya.
"NARUTO!" Teriakan Madara membuat kesadaran Naruto berangsur-angsur kembali. Ia mencoba mendongak, menatap pria raven yang tengah keluar dari mobil dan berlari ke arahnya dengan raut wajah cemas.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" Madara membantu tubuh pemuda pirang itu untuk berdiri, memapahnya menuju mobil Hashirama yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Tulang rusukku patah." Sahut Naruto.
"Kita akan ke rumah sakit sekarang jug—"
"TIDAK!" Naruto meraung seraya menepis pegangan Madara dengan kasar, membuat tubuhnya terhuyung mundur. "—Aku ingin menyelamatkan Sasuke! Aku harus menyelamatkannya!"
Madara membalas dengan tatapan bengis. "Kau tidak bisa menyelamatkannya dengan tubuh seperti itu, Naruto!"
"Aku tidak peduli!" Naruto bergerak terhuyung-huyung menuju mobil Hashirama. "—Pinjamkan aku mobil. Aku akan mengejarnya lagi." Ucapnya keras kepala.
Madara menarik lengan pemuda itu dengan cepat. "Jangan bodoh! Apa kau ingin mati konyol!"
"Kau tidak mengerti! Sasuke diculik!" Bentak Naruto lagi seraya menunjuk arah mobil limousin itu pergi. "—Kalau aku tidak mengejarnya sekarang, Sasuke bisa—" Ia tidak melanjutkan ucapannya. Bibirnya digigit kuat-kuat, berusaha menyingkirkan pikiran negatif dari kepalanya.
"Aku yakin Sasuke tidak akan dibunuh oleh Danzo." Madara mengetahui ketakutan terbesar Naruto, dan ia mencoba memberi pengertian yang bijak. "—Danzo menginginkan sesuatu dari ibu, jadi sampai saat itu datang, Sasuke akan selamat." Ucapnya lagi.
"Darimana kau yakin itu?" Naruto menatap sang paman dengan pandangan tajam.
Madara membalasnya dengan tatapan serius. "Aku tahu, sebab aku kepala divisi penyelidikan NIS ini. Dan kau harus percaya padaku." Ujarnya lagi.
Naruto menilai tatapan Madara, ia masih ragu, tetapi dalam kondisinya sekarang, tidak mungkin ia bisa mengejar mobil tadi.
"Aku mengerti, kita kembali ke hotel. Aku perlu bicara dengan nenek." Tegas Naruto.
Madara terlihat tidak setuju dengan ide itu. "Tidak, Naruto. Kita akan ke rumah sak—"
BRAKK!—Naruto menghantam atap mobil sembari mendelik Madara dengan tatapan bengis. "Ini perintah." Desisnya lagi, mengeluarkan kekuasaan jabatannya.
Madara tidak langsung menanggapi permintaan pemuda itu. Ia terlebih dahulu melirik Hashirama yang berada di depan setir, meminta bantuan agar Naruto mau diajak ke rumah sakit. Namun tanggapan pria itu hanyalah helaan napas panjang.
"Turuti saja permintaannya, hyung. Kalau tidak, bocah itu akan mengamuk lagi." Sahut Hashirama tenang. "—Aku tidak mau ia mengacak-acak kota dengan kekuatan hulk-nya itu."
Kalah berdebat, Madara akhirnya berdecak kecil dan memilih mengikuti kemauan Naruto.
Merepotkan dan keras kepala. Benar-benar mirip seperti Minato.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di Tokyo International Hotel, Kaguya terlihat duduk tenang di sofa ruang tengah kamarnya. Sedangkan dihadapannya, duduk Mei dan juga Sai dengan raut wajah cemas.
Mereka terlihat gelisah, terlebih lagi Mei yang sibuk merokok sembari mengetuk-ngetukkan tumit high heels-nya ke lantai. Ia sempat diberitahu Hashirama untuk mengawasi Kaguya sedangkan pria itu sendiri mengejar Madara dan Naruto. Secara garis besar, Mei sudah diceritakan oleh kakaknya bahwa Sasuke kemungkinan besar diculik oleh Danzo, dan hal tersebut ada hubungannya dengan rencana sang ibu.
Mendengar hal itu, Mei langsung membangunkan Sai dan menjelaskan situasinya secara detail sebelum akhirnya mereka berada disini. Mengawasi Kaguya yang masih terlihat santai dengan raut wajah stoic-nya.
Sai meremas buku jarinya dengan kuat. Ia benar-benar khawatir dengan keselamatan sang kakak serta Naruto. Namun ia sangat pintar menyembunyikan sikap gelisahnya dengan ekpresi dingin khas keluarganya. Begitu pula Mei yang sibuk merokok sejak dua jam lalu untuk mengalihkan otaknya dari pikiran negatif.
Kesunyian terus menggantung di ruangan itu tanpa seorang pun yang berencana untuk menetralisirnya. Sai sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Mei berkutat dengan rokok ke-sepuluhnya.
BRAKK!—Pintu kamar hotel menjeblak terbuka dengan suara keras. Mei dan Sai menoleh cepat hanya untuk melihat pintu malang itu hampir lepas dari engselnya saat didobrak oleh Naruto.
Mata biru pemuda pirang itu berkilat tajam. Giginya bergemertak penuh amarah saat menatap ekspresi tenang Kaguya. Ia melangkah masuk tanpa mempedulikan tatapan terkejut Mei serta Sai saat melihat tubuhnya penuh luka dan kotor. Dibelakangnya, sosok Madara dan Hashirama ikut mengekor masuk dengan sikap waspada.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" Mei menghampiri pemuda pirang itu dengan perasaan cemas.
"Hyung, ada apa denganmu? Dimana Sasuke?" Sai tak kalah khawatirnya saat memandang sosok Naruto.
Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut sama sekali tidak digubris oleh Naruto. Ia memilih berdiri dihadapan Kaguya dengan sikap mengancam. Tangannya terkepal erat ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah wanita itu, namun ia berusaha keras mengontrol emosinya.
Kaguya sendiri hanya diam. Pandangannya beralih dari Naruto ke arah Hashirama yang berada di sisi pintu bersama Madara. Matanya seakan-akan tidak terkejut saat melihat sang kaki-tangan berada di seberang kubu untuk melawannya.
'Jadi, selama ini Hashirama berpura-pura menjadi kaki-tanganku, begitu? Hmph! Aku benar-benar bodoh mempercayainya.' Batin wanita itu dalam hati seraya meremas buku jarinya.
"Apa yang direncanakan Danzo?" Naruto langsung bertanya dengan nada mendesis rendah. Tidak mempedulikan raut wajah Kaguya yang masih terlihat kalut karena dibohongi oleh Hashirama.
Wanita itu mendongak menatap sang cucu dengan pandangan stoic-nya lagi. "Membunuhmu." Jawabnya singkat dan jelas.
Naruto sama sekali tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh neneknya. Beberapa jam yang lalu dia melakukan aksi yang hampir membuat nyawanya melayang, jadi mendengar ucapan wanita itu sama sekali tidak membuatnya gentar. Ia bahkan menatap tajam ke arah Kaguya dengan pandangan dinginnya. "Kenapa Danzo menculik Sasuke?" Tanyanya lagi.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap sang cucu. "Aku tidak tahu. Kami hanya merencanakan akan membunuhmu saat upacara pengangkatanmu menjadi raja esok hari. Penculikan Sasuke sama sekali diluar dari ren—"
PRANGG!—Naruto menghantamkan tinjunya ke vas bunga yang berada di samping tempat duduk Kaguya bahkan sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Rahang kokohnya mengeras saat pemuda pirang itu menatap sang nenek. Matanya berkilat penuh kebencian dan bibirnya mengeluarkan desisan bernada rendah. Lebih mirip geraman binatang yang haus akan darah. "Diluar rencana katamu? Apa kau sama sekali tidak peduli dengan keselamatan cucumu, begitu?"
Kaguya tidak menjawab pertanyaan bernada ancaman itu. Ia hanya memandang dengan dingin wajah murka Naruto.
Mata biru itu entah kenapa mengingatkannya dengan ekspresi Fugaku saat ia mengatakan akan membunuh Minato beserta anaknya. Tentu saja hal itu tidak dilakukannya, sebab Fugaku sudah menyetujui negosiasi yang mereka buat, yaitu Kaguya akan membebaskan Minato dan anak yang dikandungnya kalau Fugaku rela mati demi mereka.
Dan nyatanya, Fugaku akan melakukan apa saja untuk orang yang dikasihinya. Ia bahkan rela menyerahkan nyawanya dengan sengaja menaiki mobil yang sudah disabotase oleh bawahan Kaguya hanya untuk melindungi Minato serta Naruto.
Benar-benar anak yang bodoh.
"Aku tidak peduli dengan nyawa siapapun." Akhirnya Kaguya berbicara, pelan dan rendah. "—Yang kupedulikan hanyalah kekuasaan semata." Ujarnya lagi.
Kalimat itu membuat gigi Naruto bergemertak penuh amarah. Wajahnya berubah keras dan bengis, siap untuk melemparkan tinjunya ke arah sang nenek.
Kaguya hanya diam, siap menerima pukulan ataupun tamparan dari sang cucu. Tetapi Naruto masih tidak bergerak dari tempatnya.
"Aku kecewa padamu." Akhirnya Naruto bicara, berusaha menelan seluruh kemarahannya. Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuh, menahan diri untuk tidak melukai sang nenek. "—Aku pikir kau benar-benar wanita terhormat, nyatanya tidak. Kau bahkan lebih hina dari sampah."
Naruto berbalik dan berjalan menjauh. "—Aku bahkan tidak sudi untuk memukulmu." Desisnya lagi.
Kaguya terdiam seraya menunduk dalam. Ia mengeratkan cengkraman pada kedua tangannya yang bergetar. "Danzo licik. Apapun yang kau lakukan besok, dia tetap pada rencananya untuk membunuhmu."
Naruto berhenti melangkah, ia melirik sang nenek dengan ekor matanya. "Aku tidak peduli dengan nyawaku. Apapun akan kulakukan untuk melindungi orang yang kusayangi."
Wanita itu mendongak tercengang mendengar kalimat yang dilontarkan Naruto. Ia menatap pemuda itu dengan bola mata yang melebar.
Kata-kata itu benar-benar mirip dengan perkataan Fugaku. Ia bahkan masih bisa mengingat tatapan benci sang anak. Raut wajah getir yang ditampilkannya dan senyum tipis saat nama Minato dan anaknya disebut. Semua itu bagaikan potongan gambar buram yang diputar berkali-kali di dalam otaknya.
.
"Aku akan memberikan nyawaku untuk melindungi orang yang kucintai, Ibu. Hanya itulah satu-satunya agar mereka tetap selamat."
.
Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Fugaku saat mereka bernegoisasi. Ucapan itu meluncur tanpa adanya getar ketakutan. Sang ibu tahu kalau Fugaku serius. Mata tajam itu terus memperlihatkan tatapan tegas namun juga lembut. Mirip seperti tatapan Naruto sekarang.
Dalam diam, Kaguya menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar kuat menahan cairan bening yang menumpuk di kelopak matanya.
Selama ini ia bertahan untuk tidak menampilkan emosinya, berlaku layaknya ibu yang gila kekuasaan untuk anak-anaknya. Membangun negara sendiri agar dirinya diakui sebagai wanita hebat yang bisa membuat seluruh anaknya bangga. Namun semua itu salah, ia tahu segala yang dilakukannya adalah salah.
Kaguya berusaha membutakan mata dan pikirannya dengan kesalahan itu. Seorang ibu tidak pernah salah. Ia selalu benar, bahkan saat harus membunuh anaknya sendiri.
"Fugaku..." Kaguya memanggil nama sang anak setelah dua puluh tahun lamanya tidak mengucapkan nama itu.
"Fugaku..." Bibir merahnya yang pucat melantunkan nama yang membuat jantungnya seakan-akan diremas dengan kuat oleh dosa. Nama yang sangat dirindukannya.
"Fugaku... Anakku... Maafkan ibu."
.
.
Cklek!—Naruto menutup pintu kamar sang nenek. Ia keluar dari ruangan tersebut bersama bibi, Sai dan kedua pamannya. Mereka sepakat untuk memberikan waktu bagi wanita itu menyesali perbuatannya.
"Ughh!—" Naruto meringis memegangi rusuknya, membuat Sai langsung sigap untuk memegangi lengan pemuda pirang itu.
"Hyung, kau benar-benar harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Sai, khawatir.
Naruto mencoba meringis pelan, tersenyum tipis. "Tidak perlu. Aku harus menyelamatkan Sasuke."
"Jangan bodoh, Naruto." Madara menyela dengan cepat. "—Bagaimana kau akan menyelamatkan Sasuke kalau kau sendiri tidak tahu posisinya dimana."
Sang Uzumaki menampilkan raut wajah terluka. "Tetapi, Paman—" Kalimatnya terpotong saat ia bingung harus mengeluarkan alasan apa agar pria itu mau mengerti.
Madara memijat keningnya yang berdenyut sakit. "Kau tidak perlu khawatir dengan Sasuke. Ponselnya memiliki sensor GPS yang akan menuntun kita ke markas Danzo." Pria itu mengeluarkan ponselnya yang terhubung dengan ponsel Sasuke. Ada titik merah yang berkelip di peta daerah Tokyo. "—Aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan penjagaanku lengah. Aku memasukkan sensor GPS ke seluruh keluarga kerajaan termasuk kau dan Sai." Ucapnya lagi yang sanggup membuat Naruto merubah raut wajahnya menjadi kagum.
'Anggota NIS memang hebat.' Batin Naruto dalam hati.
Sang bibi menepuk lembut bahu pemuda pirang itu. "Kau bisa tenang sekarang dan istirahatlah. Besok kau harus melakukan upacara pendaulatan raja. Aku beserta kedua pamanmu ini akan mengerahkan seluruh pasukan kepolisian Jepang untuk melindungimu."
"Bagaimana dengan Sasuke?" Naruto melempar pertanyaan lagi, masih cemas.
Hashirama tersenyum tipis. "Untuk sekarang, kami sudah melaporkan hal ini pada badan intelijen pemerintah Korea Selatan dan aku yakin mereka akan segera bertindak setelah kita memberitahu markas Danzo." Jelasnya panjang lebar.
Naruto terlihat tersenyum lega. "Terima kasih." Ucapnya tulus.
Madara hanya mengangguk diam. "Sai, kau jaga Naruto dan bantu dia memulihkan luka-lukanya." Perintahnya, yang disambut anggukan patuh pemuda pemilik senyum palsu itu. Ia bergegas membantu Naruto untuk berjalan menuju kamar mereka. Meninggalkan ketiga orang tersebut di belakangnya.
Hashirama mendesah, ia bersender di sisi tembok sembari memijat pertemuan pelipisnya. "Sensor GPS di ponsel, huh? Kau benar-benar tidak berbakat untuk berbohong, Hyung." Ujarnya. "—Aku tahu sekali kalau map yang kau tunjukan itu hanyalah map GPS biasa."
"Aku terpaksa berbohong, kalau tidak bocah tadi akan bersikeras untuk mencari Sasuke lagi." Sahut Madara dingin, kemudian melirik ke arah Mei. "—Apakah kau sudah memberitahu markas besar mengenai penculikan ini?"
Wanita seksi itu mengangguk. "Aku sudah melaporkan detailnya dan mereka langsung mengirimkan pasukannya kesini. Sekarang mereka sedang menyisir daerah Tokyo bersama satuan polisi Jepang untuk menemukan Sasuke."
"Bagus, aku harap Sasuke segera di temukan. Untuk saat ini sebaiknya kita beristirahat. Besok kita memiliki tugas yang cukup berat untuk menjaga Naruto." Perintah Madara lagi seraya berbalik menuju ke arah kamarnya.
Hashirama dan Mei hanya menatap kepergian sang kakak dalam diam. Walaupun nada suara dan raut wajah Madara tetap tenang tanpa ekspresi, namun getar tangannya tidak bisa membohongi kedua adiknya itu. Mereka tahu, kalau yang paling ketakutan dan cemas saat ini adalah Madara. Sasuke bukan hanya keponakannya saja, melainkan sudah dianggapnya sebagai anak. Penculikan ini pasti membuat emosi Madara terguncang.
"Kau sebaiknya menemani dia." Mei membuka suara sembari melirik Hashirama. "—Aku yakin kakak pasti menangis sekarang di dalam kamar." Lanjutnya lagi.
Hashirama mengusap wajahnya yang letih. "Aku tahu. Aku akan menemaninya."
Mei tersenyum tipis dan menepuk pundak Hashirama dengan lembut. Ia memilih berjalan menjauh menuju kamarnya untuk berendam air panas. Setidaknya hal itu bisa sedikit menghilangkan stres-nya karena permasalahan ini.
Mei berharap Sasuke baik-baik saja. Ia tahu pemuda itu mempunya sifat yang kuat dan pantang menyerah, jadi ia tidak terlalu cemas dengan kondisi Sasuke.
.
Semoga saja.
.
.
TBC
.
.
Yuhuuuu~~ Maaf kalau lemon HashiMada nya cuma setengah (atau bisa disebut segelintir doank) huahahaha, memang sadis ya dapet peram figuran, bahkan adegan lemonnya pun sedikit banget XD #plak *dihajar HashiMada*
Btw, maaf kalau lama, author lagi kena Writer's block (Alias malasnya kumat) mungkin chap 8 agak lama... maaf ya teman T_T
Kalau ada typo dan sejenisnya tolong beritahu ya, hehehe... Terima kasih!
*Oppa= kakak
.
RnR Please!
