Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
(Don't Like Don't Read)
Royal Kingdom in Seoul
.
By: CrowCakes
~Enjoy~
.
.
_Pukul 08.00 Pagi, Tokyo International Hotel_
.
Naruto bangun pagi-pagi dan langsung membersihkan dirinya. Ia harus bersiap untuk melakukan upacara pendaulatan raja pagi hari ini. Untungnya saja, tadi malam Sai sudah mengobati dan memperban lukanya, walaupun terasa nyeri tapi ia masih sanggup menahan sakitnya.
Luka ini tidak apa-apa dibandingkan kekhawatirannya dengan keadaan Sasuke. Apakah pemuda itu baik-baik saja? Ataukah—
Tidak!—Naruto tidak ingin berpikiran negatif.
"Naruto, kau sudah siap?" Sai bergerak ke arah pemuda pirang yang kini tengah berpakaian rapi di depan cermin. Tangan putih itu membantu Naruto untuk merapikan ikat dasinya. "—Aku benar-benar khawatir padamu. Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit dulu?" Tanyanya masih cemas.
Naruto berusaha menampilkan senyum tipisnya. "Aku baik-baik saja, Sai." Sahutnya lembut.
Pemuda pemilik senyum palsu itu masih menatap dengan raut wajah cemas. "Aku tahu kau masih mengkhawatirkan Sasuke, tapi untuk sekarang fokuslah pada upacara pendaulatanmu, oke?" Ucapnya sembari membantu Naruto memakai jas hitam formalnya.
"Aku tahu. Kau tidak perlu cemas." Balas Naruto cepat. "—Ngomong-ngomong, bagaimana dengan nenek?"
Sai melipat kedua tangannya di depan dada sebelum menjawab. "Nenek sekarang berada di bawah pengawasan NIS, dia ditahan dan langsung dibawa ke Korea Selatan kemarin malam."
"Benarkah? Tidak akan terjadi apa-apa 'kan pada nenek?" Tanya Naruto masih penasaran.
"Tidak perlu khawatir, bibi Mei ikut ke Korea untuk mengawasi nenek. Jadi hanya tinggal Paman Hashirama dan Madara yang menjaga kita." Sela Sai lagi.
"Bagaimana dengan Sasuke? Apakah mereka sudah menemukannya?" Tanya Naruto dengaan nada penuh pengharapan. Namun tanggapan Sai hanyalah menundukkan kepala seraya menggigit bibir bawahnya.
"Belum. Tetapi aku yakin paman Hashirama dan Madara akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan Sasuke." Kata Sai lagi, berusaha menghibur pemuda pirang itu walaupun dia sendiri tidak yakin .
Naruto mencoba menyembunyikan raut wajah cemasnya dengan senyuman tipis. "Ya, aku harap mereka segera menemukannya."
Tok!—Tok!—Ketukan halus di pintu depan membuat percakapan Naruto dan Sai terhenti. Mereka bergerak cepat untuk membuka pintu kamar mereka.
Sosok Hashirama dan Madara yang berpakaian tuxedo hitam formal terlihat berdiri gagah di ambang pintu dengan senyum tipis.
"Kau sudah siap, Naruto?" Madara membuka suara sembari merapikan kerah jasnya.
Pemuda pirang itu menarik napas pelan sebelum menghembuskan dengan kuat. Ia mendongak dan menatap kedua pamannya dengan kilat cerah, kemudian menarik sudut bibirnya menjadi senyuman tipis.
"Ayo kita lakukan."
.
.
.
Upacara pendaulatan raja Korea Selatan dilakukan di gedung Tokyo International Hotel, tepat di ruang aula yang berada di lantai paling atas bangunan tersebut. Ruangan luas dan megah tersebut sudah didekorasi dengan beberapa perabotan yang cukup fancy, dengan podium tinggi yang berada di tengah, sedangkan di belakang podium tersebut terhampar pemandangan indah kota Tokyo dari jendela kaca yang cukup besar.
Kalau boleh jujur, tempat itu merupakan ruangan yang sangat besar dan cukup elegan. Di sisi kiri dan kanan berjejer sofa serta meja mewah yang digunakan untuk tamu penting keluarga kekaisaran Jepang serta keluarga kerajaan Korea Selatan. Dan di tengah-tengah ruangan tersebut sudah tersusun rapi kursi yang tak kalah mewahnya yang dibalut kain putih berpita untuk tamu-tamu pejabat negara lainnya.
Para penyambut tamu sudah stand-by di depan pintu ruang aula dengan pakaian rapi, sedangkan para satuan polisi juga berada di sana untuk menjaga ketertiban dan keamanan di setiap pojok dan di luar ruangan.
Di sisi lain, Naruto mencoba mengatur napasnya untuk tidak gugup saat melihat para pejabat negara mulai memasuki ruang aula tersebut dan duduk di kursi mereka masing-masing. Mata birunya beralih ke arah meja jamuan kekaisaran Jepang, disana sudah duduk raja serta ratu Jepang dengan pakaian formal mereka, tentunya bersama dengan keluarga mereka sambil tersenyum penuh kharisma.
Jantung sang Uzumaki semakin berdebar tidak karuan. Kegugupan mulai menjalar ke sendi-sendinya, keringat dingin terus mengucur tanpa henti dari keningnya, dan tegukan air liur membuat tenggorokannya semakin kering. Sudah dipastikan ia akan pingsan nantinya.
Tanpa sadar, tangannya meremas jari Sai yang berada disebelahnya semakin erat. Membuat pemuda berambut hitam itu melirik sang kakak dengan pandangan heran.
"Hyung, wajahmu pucat pasi. Kau yakin kau tidak apa-apa?" Tanya Sai dengan nada cemas.
"Aku baik-baik saja—uuhh—aku hanya gugup." Jelasnya lagi sambil meneguk air liur. Ia melemparkan senyum canggung pada Sai untuk jangan mengkhawatirkannya lagi.
Sai menggenggam tangan Naruto semakin erat sekaligus lembut. "Kalau saja Sasuke-hyung disini, mungkin ia bisa membantu mengatasi kegugupanmu." Matanya melirik ke arah sang Uzumaki. "—Aku benar-benar tidak berguna, huh?"
Naruto tersenyum teduh dan menepuk puncak kepala pemuda itu dengan penuh sayang. "Kau sangat berguna, Sai. Terima kasih sudah menemaniku hari ini, aku berjanji akan menemukan Sasuke secepatnya."
Sai terdiam sejenak, kemudian membalas ucapan itu dengan senyuman tulus. "Terima kasih, Hyung." Sahutnya singkat. Ia mendorong pundak Naruto dengan pelan untuk segera naik ke atas podium, memulai upacara pendaulatannya. "—Good luck." Bisiknya lagi.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di kamar penyekapan, Sasuke terlihat duduk di pojok ruangan dengan tangan dan kaki diikat oleh tali tambang, sedangkan mulutnya dibungkam dengan lilitan kain. Mata hitamnya menatap berkeliling ruangan itu; ada dua sofa yang saling berhadapan dengan meja kecil di tengahnya, televisi ukuran besar yang tertempel di salah satu tembok dengan perlatan karaoke, serta jendela kaca yang menghadap ke bangunan di depannya, gedung Tokyo International Hotel.
Mata onyx Sasuke beralih menatap sosok Danzo yang tengah duduk di salah satu sofa dengan ekspresi dinginnya, sedangkan di bagian jendela, sudah bersiap seorang sniper dengan persenjataan di tangan. Mata pria itu mengawasi gedung sebelah dari bidikan teleskop senjatanya. Ia menunggu dengan tenang layaknya singa yang sedang berburu. Sedangkan dari teleskop kecilnya, terpampang punggung Naruto yang tengah berpidato dari gedung sebelah. Pemuda pirang itu tengah berbicara untuk pendaulatannya dan tidak menyadari ancaman yang mengintai di belakang. Ruangan aula itu memang besar dan dilengkapi sistem keamanan yang ketat, sayangnya seluruh satuan polisi tidak menyadari bahwa ancaman tidak datang dari dalam, melainkan dari gedung sebelah; bangunan hotel lain dengan tempat karaoke yang berada di lantai paling atas. Tepat bersebelahan dengan ruang aula yang sekarang digunakan oleh Naruto untuk berpidato.
Menyewa satu lantai ruang karaoke dan membawa Sasuke ke tempat itu sangatlah sulit dan mahal, Danzo bahkan harus menyuap beberapa pegawai hotel dengan jumlah nominal yang cukup tinggi, namun sangat sesuai dengan hasilnya. Mereka jadi bisa melihat pergerakan Naruto dengan mudah dan gampang dari ruangan ini.
Danzo menatap televisi di depannya yang menayangkan siaran langsung pendaulatan Uzumaki Naruto di Tokyo International Hotel. Mata tuanya menatap dengan dingin namun bibirnya menyeringai kecil saat ia menyadari bahwa pemuda pirang itu akan mati sebentar lagi.
Danzo bangga dengan rencananya sendiri. Ide yang sangat brilian!
"Apakah aku harus menembaknya sekarang?" Sang sniper berbicara dengan nada rendah, matanya tetap mengawasi mangsa tanpa menoleh sedikitpun.
Danzo melirik sekilas. "Belum waktunya. Kita harus membuat pertunjukkan yang cukup menarik untuk kematian sang raja." Jelasnya lagi.
Sasuke yang mendengar hal itu mendelik bengis ke arah Danzo. "Mphh!—Gmphh!" Ia mengerang marah dengan mulut yang terbungkam. Tubuhnya berusaha berontak dari ikatan yang melilitnya, namun tali itu membelitnya dengan erat, membuatnya tidak bisa melepaskan diri dengan mudah.
Danzo melirik ke arah Sasuke. "Kenapa princess? Sudah bosan dengan permainanku? Langsung ingin melihat kematian rajamu?" Ucapnya dengan kekeh serak.
"Hmphh!—Mphh!—Ghmphh!" Sasuke terbelalak ngeri dengan kepala menggeleng cepat. Ia tidak ingin Naruto mati di tangan pria tua yang gila kekuasaan itu. Tidak!
Danzo bangkit dari sofa dan bergerak menuju ke arah Sasuke. Ia berjongkok di depan pemuda raven itu, kemudian menarik dagu sang onyx untuk saling bertatapan dengannya. Pandangan mata hitam itu menampilkan delikan tajam dan kemurkaan, membuat Danzo menyeringai kecil. "Lihat dirimu sekarang, Sasuke. Pangeran angkuh yang tidak tahu diri." Ia melempar dagu itu ke samping dengan kasar. "—Aku penasaran, apakah kau akan merindukan rajamu kalau dia kubunuh?"
"Hmphh!—Ghhmp!" Sasuke mengerang keras.
"Hm? Kau bilang apa?" Danzo mengangkat satu alisnya, berpura-pura tidak mengerti.
Sasuke hanya membalasnya dengan geraman benci. "Hmph!—Ghmph!"
"Ah!—Maaf aku lupa melepaskan bungkaman mulutmu." Sahut Danzo lagi seraya melepaskan kain penutup di mulut Sasuke. Setelah bungkaman itu terlepas dari mulutnya, sang raven langsung berteriak memaki pria dihadapannya dengan kata sumpah serapah.
"DASAR BAJINGAN! BEDEBAH! LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!" Teriak Sasuke, murka.
Danzo tertawa kecil. "Berteriaklah sesukamu, Sasuke. Tidak ada yang akan mendengarkanmu." Ucapnya sinis. "—Lantai ini sudah kusewa dan pegawainya sudah kusuap, jadi percuma saja kau berteriak keras seperti itu." Lanjutnya lagi.
Sasuke menggeram kecil, matanya berkilat dan bibirnya saling menggigit untuk meredam amarahnya. "Aku bersumpah akan membunuhmu, Bajingan." Desis sang raven dengan nada rendah penuh ancaman.
Pria itu hanya mendengus pelan. Ia kembali menarik dagu Sasuke dengan kasar. "Sepertinya kau tidak mengerti posisimu sekarang, huh?" Ia mengangkat satu tangannya, memberi perintah pada sang sniper. "Tembak Naruto seka—"
"JANGAN!" Sasuke berteriak keras, menghentikan perintah Danzo. "Aku mohon, jangan tembak Naruto." Mohonnya lagi dengan suara tercekat di tenggorokan.
Danzo menarik bibirnya menjadi seringai kecil. "Akhirnya kau mengerti juga posisimu, Sasuke. Good boy." Balasnya, puas. "Sayangnya, aku sama sekali tidak menerima permohonan apapun dari bocah sepertimu." Sambungnya lagi seraya bangkit dari depan Sasuke dan berbalik.
"Tunggu! Aku mohon!" Sasuke memanggil lagi.
"Apa maumu?" Tanya Danzo, bengis.
Sang raven menggigit bibirnya dengan kuat, mencoba mengulur waktu untuk menghentikan Danzo menembak Naruto. "Ke—Kenapa kau ingin membunuh Naruto? Ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun padamu." Katanya lagi.
Danzo terdiam sebentar kemudian menyeringai penuh cemooh. "Kau menanyakan hal bodoh seperti itu? Pantas saja kau tidak diinginkan oleh nenekmu." Hinanya lagi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sebelum menjawab. "—Tidak peduli siapapun itu, aku akan menyingkirkan orang yang menghalangiku menggapai kekuasaan." Jelasnya singkat dengan rasa bangga.
Sasuke menautkan alisnya tajam, sama sekali tidak menyukai jawaban itu. "Kenapa kau harus menculikku? Apakah itu juga semua bagian rencanamu?"
"Tepat sekali, Pangeran." Danzo kembali berjongkok di depan Sasuke, mencengkram lengan pemuda itu dengan kuat. "—Jadi, kalau kau ingin Naruto selamat, kau harus bekerjasama denganku." Tukasnya lagi.
"A—Apa maksudmu?"
Danzo tidak menjawab. Ia menjulurkan tangannya untuk mengelus lembut pipi dan leher sang raven. "Kau tahu apa maksudku, Pangeran." Bisiknya lagi dengan mata berkilat penuh ketertarikan.
Sasuke mundur ketakutan hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Tubuhnya gemetaran dan bulu kuduknya meremang saat melihat seringai menjijikan itu.
Danzo mencengkram kedua pipi sang raven dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tengah mengelus surai hitam itu. "Kau terlalu tampan untuk dibiarkan begitu saja, benar 'kan, Pangeran? Bagaimana kalau aku memberikan kasih sayangku padamu? Mungkin kalau kau beruntung, kau akan kujadikan anak adopsiku." Wajahnya mendekat untuk memberikan kecupan singkat di kening Sasuke, membuat pemuda itu menatap dengan jijik.
"Maaf saja, tetapi aku lebih suka pemuda tampan dibandingkan pria tua tidak tahu diri macam kau!" Desis Sasuke, membalas dengan kata-kata yang menusuk.
Danzo menggeram dan melayangkan tamparan di pipi putih itu dengan suara -PLAKK!- yang cukup keras. Membuat Sasuke tersungkur di lantai dengan tanda merah di pipinya.
"Bocah brengsek!" Pria itu bangkit dengan penuh amarah. "Akan kuberi kau pelajaran yang membuatmu sadar posisimu sekarang." Desisnya lagi seraya melepaskan ikat pinggangnya.
Sasuke menatap dengan bola mata bergetar, ketakutan. "A—Apa yang akan kau lakukan?!"
Danzo tidak menjawab dan langsung menahan tubuh ramping itu di lantai. Meremas selangkangan sang raven dengan kuat. "Tentu saja memperkosamu." Sahutnya dengan seringai yang cukup menjijikan.
Pemuda raven itu meludah ke arah Danzo. "Jangan harap aku akan menyerahkan tubuhku pada manusia sampah sepertimu!"
PLAAK!—Pria itu menampar Sasuke lagi dengan keras, kemudian menarik kerah bajunya dengan kuat. "Suka atau tidak, kau tidak punya pilihan lain." Sinisnya seraya menjatuhkan ciuman di leher jenjang sang raven.
"STOP! HENTIKAN! DASAR BAJINGAN!" Raung pemuda itu seraya berontak keras. Namun lilitan di tubuhnya membuat pergerakannya terbatas. Shit!
Pria diatasnya itu tidak peduli dan mulai menggapai dada Sasuke serta meremasnya dengan kuat. "Kau akan menjadi milikku, Sasuke. Selamanya." Bisiknya seraya menjilat telinga sang raven penuh nafsu.
"AKU BILANG HENTIKAN, MANUSIA MENJIJIKAN! DASAR SAMPAH! BAJINGAN!" Sasuke berteriak keras dengan sumpah serapah. Ia benar-benar jijik disentuh oleh pria tua itu. Sasuke memilih mati daripada harus diperkosa oleh Danzo. Tubuh dan hatinya hanya milik Naruto seorang.
Danzo menghentikan jilatannya dan menyeringai tipis. Ia bangkit seraya menurunkan retsletingnya, mengeluarkan miliknya tepat di depan wajah Sasuke. "Jilat." Perintahnya. Sama sekali tidak mempedulikan sang sniper yang berada satu ruangan dengan mereka. Sepertinya pria itu sama sekali tidak peduli dengan tindakan bosnya, ia masih sibuk mengawasi sosok Naruto.
Sasuke menggeram. "NO FUCKING WAY!"
Pria itu menatap Sasuke dengan pandangan dingin. Ia menjambak rambut sang onyx dan memaksanya untuk mengulum habis kejantanannya. Membuat Sasuke tersedak karena diserang secara tiba-tiba seperti itu.
"GHKK!—HMPHH!—NGHMPH!" Sasuke mengerang keras. Tubuh pemuda itu bergetar saat Danzo menenggelamkan seluruh batang penisnya di rongga mulut sang raven. Mata onyxnya terbelalak dan terbalik, hampir sekarat saat harus menelan habis kejantanan tersebut.
Danzo menyeringai tipis. "Lihat wajah pelacurmu itu, Sasuke. Aku akan membuat lubangmu robek sebentar lagi." Desisnya, seraya menyodok mulut Sasuke dengan cepat dan dalam.
Sasuke menatap Danzo dengan kilatan benci dan amarah. Tanpa aba-aba, ia langsung menggigit penis pria itu dengan cukup kuat, sanggup membuat Danzo berteriak kesakitan.
"FUCK! BOCAH BRENGSEK!" Danzo berseru marah. Ia melayangkan tamparan dan pukulannya ke wajah pemuda raven itu berkali-kali, membuat sudut bibir serta kening Sasuke robek mengeluarkan darah. "—Akan kupastikan kau menyesali perbuatanmu ini!" Desisnya lagi seraya bangkit dan merapikan celananya.
Danzo beralih menatap sang sniper. "Tembak Naruto sekarang."
"TIDAK! JANGAN!" Sasuke meraung ketakutan. "—Aku mohon, jangan bunuh Naruto. Aku mohon." Ucapnya dengan kalimat penuh penyesalan. "Ka—Kau bisa memperkosa, aku tidak akan berontak. Jadi aku moh—"
"Terlambat." Danzo menyela cepat. Ia mendelik dingin dan tajam. "—Aku sudah tidak bernafsu lagi padamu. Yang kubutuhkan adalah kematian pemuda pirang itu." Lanjutnya sembari menyeringai licik.
"Tidak!—Tidak!" Sasuke panik. Suaranya bergetar ketakutan. Namun pria itu sama sekali tidak mempedulikan sang onyx.
Danzo menepuk pundak sang sniper. "Bersiaplah." Perintahnya. "—Pertunjukkan sebentar lagi akan dimulai." Sambungnya dengan seringai tipis yang mengerikan.
Sang sniper mulai menyalakan sinar infra red di senjatanya, dan mulai membidik ke arah sasaran.
.
.
.
Ruang aula pendaulatan raja Korea Selatan penuh dengan tamu-tamu penting Negara. Di sisi kiri ruangan, duduk para anggota keluarga kekaisaran Jepang yang penuh wibawa dan kharisma. Sedangkan di sisi kanan, duduk Sai beserta Paman Hashirama dan Madara yang menyaksikan pidato Naruto dengan tatapan takjub.
Sai yang terlihat paling terpesona dengan sosok pemuda pirang itu. "Aku tidak menyangka kalau Naruto-hyung benar-benar mengagumkan." Ucapnya dengan mata yang sama sekali tidak beralih dari sang Uzumaki.
Hashirama terkekeh kecil. "Ya, dia mengagumkan sepertiku, benar 'kan, Sayang?" Godanya sembari melirik Madara. Pria raven itu mendelik galak seraya menyikut perut sang adik dengan jengkel.
"Shut your mouth, Idiot." Desisnya sinis. Sama sekali tidak mempedulikan Hashirama yang mengaduh kesakitan seraya mengusap perutnya.
Sai tidak mempedulikan pasangan lovey-dovey disebelahnya itu, ia masih sibuk terpana memandangi Naruto. Cuaca cerah dan sinar matahari yang masuk dari jendela kaca yang cukup besar di belakang sang Uzumaki membuat sosok itu semakin memukau. "Aku penasaran—" Sai membuka suara setelah ia menghentikan tatapan kagumnya pada Naruto dan beralih menatap kedua pamannya. "—Apakah kalian sudah memiliki petunjuk dimana Sasuke berada?"
Madara melipat kedua tangannya di depan dada sebelum menghela napas berat. "Tidak. Para polisi belum menemukan dimana Sasuke serta Danzo berada." Jelasnya.
"Ngomong-ngomong soal Danzo, aku juga sama sekali tidak melihat sosoknya disini." Sahut Hashirama lagi seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. "—Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu."
"Tentunya kekuasaan dan sejenisnya." Sela Madara cepat.
"Yeah, kau benar." Jawab sang adik. "Tetapi bukankah Danzo ingin sekali membunuh Naruto? Jadi seharusnya ia disini sekarang."
"Apa kau idiot?" Madara mendelik jengkel. "Ia tidak mungkin menunjukkan wajahnya setelah menculik Sasuke, orang licik sepertinya pasti memiliki rencana yang tidak terduga." Jelasnya.
Hashirama terlihat mengusap dagunya, berpikir keras. "Maksudmu dengan menyewa pembunuh bayaran begitu?"
Pria raven itu mendengus mencemooh. "Jangan samakan realita dengan film action-mu itu. Apa kau pikir Danzo akan menyewa sniper untuk menembak Naruto, begitu?—Hmph! Menggelikan." Sinisnya.
"Uhm—ngomong-ngomong soal sniper—" Sai menyela seraya menunjuk Naruto. "—Apa kalian tahu sinar merah yang ada di punggung, Hyung? Seperti infra red yang digunakan untuk senjata sniper yang ada di film-film action." Ucapnya.
Madara dan Hashirama menoleh dengan cepat dan langsung terkesiap saat sinar tipis kecil itu terlihat menembus kaca jendela dan bersarang di punggung Naruto, bersiap melakukan penyerangan. Apapun itu, pastilah bukan hal yang menyenangkan.
"Naruto! Merunduk!" Madara bangkit seraya berteriak dari tempat duduknya dengan panik.
Seluruh tamu terkejut, tidak terkecuali Naruto yang menatap pamannya itu dengan pandangan bingung. "Apa maksud—"
"MERUNDUK! CEPAT!" Raung Madara.
.
Di tempat lain, sang sniper hanya bisa melihat kekacauan di pertemuan pendaulatan raja tersebut dari scope sniper rifle-nya. Ia melirik ke arah pria yang berada di sampingnya. "Haruskah aku menembak sekarang?"
Danzo terkekeh. "Tembak sekarang." Perintahnya.
Sang sniper yang mendapat jawaban tegas seperti itu langsung menarik trigger senjata dan memuntahkan satu peluru yang menembus udara dengan kecepatan kilat.
Slow motion terjadi, peluru tersebut melesat di garis lurus infra merah dan siap menyerang menembus kaca besar gedung Tokyo International Hotel di ruang aula bangunan tersebut.
Naruto menoleh ke belakang dengan mata birunya yang terbelalak lebar saat jendela di belakangnya pecah dengan suara-PRAANG!- yang nyaring. Meledakkan kaca bening tersebut menjadi ribuan pecahan beling yang berjatuhan di lantai. Sedangkan peluru timah itu tetap melesat, tidak bisa dihentikan. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi sebelum benda kecil itu siap meledakkan otak Naruto.
"HYUNG, AWAS!" Sai berlari secepat kilat dan menabrakan tubuhnya ke arah sang Uzumaki, menjatuhkan tubuh mereka berdua ke lantai. Membiarkan peluru tadi yang melesat cepat menembak podium kayu, menyisakan retakan besar dengan suara -KRAK!- keras.
"A—Apa yang tadi itu?" Tanya Naruto, masih terkejut dengan kejadian barusan.
Sai berdiri dan menarik lengan pemuda pirang itu. "Ayo kita pergi! Disini tidak aman!"
"Apa maksudmu tidak aman?! Apa yang tadi itu?!" Desak Naruto tidak sabaran.
Belum sempat Sai menjawab, sosok Madara dan Hashirama langsung menarik dua pemuda itu untuk menjauh dari jendela.
"Kau tidak apa-apa, Naruto?" Tanya Madara khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Tapi apa yang tadi itu?" Ulang Naruto, sedikit kesal karena tidak ada satu orang pun yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Madara tidak langsung menyahut, matanya menyisir terlebih dahulu ke seluruh penjuru aula. Semua tamu berteriak ketakutan dengan ekspresi ngeri, anggota keluarga kekaisaran Jepang segera diamankan ke luar ruangan, sedangkan para polisi mengevakuasikan para tamu dari hotel tersebut dengan cepat. Keadaan sekarang cukup kacau balau dan berantakan.
"Tidak ada waktu untuk penjelasan, Naruto! Kita harus segera pergi dari sini!" Perintah Madara. Namun Naruto menolak untuk bergerak satu inchi pun dari tempatnya.
"Beritahu aku sekarang, Paman Madara! Atau aku akan tetap disini sampai aku ditembak lagi!" Ancamnya.
Madara mengerang jengkel. "Fine! Fine!—Sepertinya suruhan Danzo ingin membunuhmu. Dan kalau spekulasiku tidak salah, sudah dipastikan kalau penembakmu berada di gedung sebelah dari hotel ini." Pria itu menunjuk sebuah gedung yang tak kalah megahnya dari Tokyo International Hotel. "—Dari arah infra red, aku tebak ia berada di lantai tertinggi yang sejajarnya dengan ruang aula ini." Jelasnya lagi.
Naruto menatap gedung sebelah dengan pandangan tajam. "Apakah disana tempat penyekapan Sasuke?" Tanyanya.
Madara menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tetapi aku yakin, penembakmu masih ada disana." Jelasnya lagi. "Naruto, apapun yang kau pikirkan, jangan pernah bertindak send—" Belum sempat sang paman menyelesaikan kalimatnya. Naruto sudah lebih dulu melesat pergi dengan kecepatan tidak terduga. Melewati kerumunan dan penjagaan para polisi.
"NARUTO, BERHENTI SEKARANG JUGA!" Madara meraung jengkel, berusaha mengejar keponakan idiotnya itu.
Naruto berbalik sekilas. "JANGAN IKUTI AKU, PAMAN! CUKUP SIAPKAN HELIKOPTER UNTUK BERJAGA-JAGA!" Perintahnya lagi sebelum menghilang dari balik kerumunan orang-orang.
Madara menghentikan langkah seraya berdecak kesal. Sedangkan Hashirama menatap pria raven itu dengan alis yang terangkat bingung. "Kau tahu apa maksudnya dengan menyiapkan helikopter?"
"Yeah, aku tahu." Sahut Madara cepat seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Naruto berencana untuk melakukan penyelamatan ala film action dengan menggunakan helikopter."
Hashirama mengerjap satu-dua kali dengan mata terbelalak lebar. "Kau pasti bercanda 'kan? Penyelamatan dengan helikopter? Man!—Dia pikir kita apa? Kru film, begitu?!" Kesalnya.
Madara hanya memutar bola matanya dengan malas. "Lakukan saja apa yang dia minta, aku sudah tidak peduli lagi. Kekeras kepalaannya itu benar-benar mirip dengan Minato."
Hashirama mendesah. "Dan jangan lupa, kekuatan serta keberaniannya juga mirip dengan Fugaku." Tukasnya lagi. "—Aku benar-benar tidak percaya kalau kombinasi Minato dan Fugaku menghasilkan pemuda yang berani mati seperti itu. Mungkin dia cocok menjadi anggota NIS, bagaimana menurutmu, Madara?" Tanyanya dengan seringai kecil.
Madara mendelik jengkel. "Berhenti bicara dan lakukan saja seperti yang diperintahkan oleh Naruto." Sinisnya.
Hashirama mengangkat tangan kanannya untuk melakukan penghormatan ala tentara. "Siap, Komandan!" Jawabnya dengan tegas dengan cengiran lebar. Membuat Madara hanya bisa mengerang jengkel dengan sikap kekanakan sang adik.
.
.
Naruto berlari kencang melalui kerumunan orang-orang dan para polisi untuk menggapai lift terdekat.
Ia keluar dari kotak besi itu saat sudah mencapai lantai bawah hotel, kemudian kembali berlari melewati lobi untuk keluar dari gedung tersebut.
Kepalanya mendongak dengan tatapan tajam saat menatap bangunan yang berada di sebelah Tokyo International Hotel, gedung yang diduga sebagai tempat penembaknya berada.
Ia yakin sekali kalau Danzo serta Sasuke juga berada di sana. Tempat yang pintar untuk bersembunyi. Siapa yang menduga kalau tempat penyanderaan berada tepat di sebelah gedung kejadian perkara. Benar-benar ide brilian serta licik!
'Aku bersumpah, kali ini aku pasti akan membunuhmu, Danzo!' Batin Naruto dalam hati seraya berlari memasuki gedung tersebut.
Pemuda pirang itu menerjang masuk ke bangunan tadi kemudian menggebrak meja resepsionis dengan kasar. Membuat beberapa pegawai yang ada disana terlonjak kaget, terlebih lagi saat mata biru itu menatap nyalang ke arah mereka dengan tatapan bengis.
"Danzo." Naruto membuka suara. "—Dimana Danzo sekarang." Itu sama sekali bukan pertanyaan melainkan perintah yang tegas.
Salah seorang pegawai pria meneguk air ludah sebelum menjawab ucapan sang Uzumaki. "Ma—Maaf, Tuan, tetapi tidak ada yang namanya Danzo di daft—"
BRAKK!—Naruto menggebrak meja lagi, kali ini ia mendesis dengan nada rendah. "Jangan menguji kesabaranku, Brengsek." Tukasnya kesal. "—Dimana. Danzo. Sekarang." Ulangnya dengan penegasan pada setiap kata.
Sang pegawai menggigil ketakutan, tidak berani membuka suara sepatah kata pun.
Naruto berdecak sinis dan mengganti kalimatnya. "Lantai paling atas." Telunjuk kanannya mengarah ke atas. "—Tempat apa itu?" Tanya lagi.
Pegawai pria tadi menjawab dengan terbata-bata. "La—Lantai karaoke. Te—Tempat itu sudah disewa seluruhnya, jadi anda tidak bisa kesan—" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sang Uzumaki sudah melesat pergi menaiki lift tanpa mempedulikan teriakan pria tadi yang ingin menghentikannya.
"BERHENTI, TUAN! ANDA TIDAK BOLEH KESANA!" Larang sang pegawai dengan teriakan keras. Sayangnya, perintah itu hanyalah angin lalu di telinga Naruto, sebab kini pintu lift sudah menutup dan membawa sosok sang Uzumaki ke lantai paling atas bangunan.
Pegawai tadi berdecak kesal dan segera menyambar telepon terdekat untuk menghubungi seseorang. Tiga kali deringan terdengar hingga sambungan itu terangkat, tanpa membuang waktu lagi sang pegawai langsung membuka suara dengan cepat.
"Tuan Danzo, ada seorang pemuda berambut pirang sedang menuju lantai atas untuk menemui anda. Saya khawatir kalau keberadaannya membuat anda susah. Jadi, haruskah saya menelepon polisi untuk mengusirnya?" Jelas pria tadi panjang lebar.
.
Di seberang telepon. Danzo tidak menyahut apa-apa selain hembusan napas panjang. Ia sadar kalau Naruto—cepat atau lambat—pasti akan mengetahui tempat persembunyiannya. "Tidak perlu memanggil polisi, hal itu hanya akan membuat masalahku bertambah runyam. Aku akan menghadapi pemuda itu seorang diri." Jawabnya tegas kemudian segera mematikan sambungan telepon.
Danzo mendelik ke arah sang sniper. "Pergilah dari sini. Aku tidak membutuhkanmu lagi." Ucapnya dingin. "—Bocah itu akan kuhadapi sendiri." Lanjutnya angkuh.
"Maaf soal kegagalanku untuk menembaknya." Sang sniper mengambil sebuah pistol dan menyerahkannya pada Danzo. "Ambil senjata ini untuk berjaga-jaga."
Danzo mengangguk dan mengelus benda itu dengan pandangan tertarik. "Tentu saja, jangan permasalahkan kegagalan kecil itu." Ucapnya lagi.
Sang sniper membungkuk kecil memberikan salam hormat sebelum keluar dari ruangan ters—
DOORR!—peluru dimuntahkan secara tiba-tiba. Menembus punggung sang sniper dengan cepat, bahkan tanpa pria itu sempat untuk mengelak. Ia mencengkram dadanya yang berlubang mengucurkan darah, berbalik dengan tatapan ngeri saat melihat seringai licik Danzo.
"Kau—" Sang sniper berusaha bergerak untuk menggapai pria pengkhianat itu, namun tubuhnya mulai limbung saat kegelapan menyapu mata dan otaknya. Hingga akhirnya terjatuh di lantai, tak bergerak.
Sasuke menatap kejadian itu dengan tubuh menggigil ketakutan. Bola matanya melebar saat mayat itu terus membasahi lantai dengan rembesan darah. "K—Kau membunuhnya." Suaranya bergetar saat mengatakan hal itu.
Danzo mengelus pistol ditangannya dengan seringai tipis. "Manusia tidak berguna sepertinya memang harus disingkirkan dari dunia."
Sasuke menoleh ke arah Danzo dengan geram dan mulai meraung. "KAU BINATANG! PEMBUNUH!"
Pria itu terdiam dengan mata yang menatap tajam ke arah Sasuke. "Apa aku tidak salah dengar?" Ia mencengkram lengan Sasuke dengan kuat. "—Apa kau merasa kasihan dengan pembunuh ini?—Hmph! Bocah idiot." Ucapnya lagi dengan nada mencemooh.
"Aku tidak kasihan pada siapapun!" Sasuke menyela dengan cepat. "—Kau membunuh seseorang seakan-akan nyawa orang lain itu hanyalah mainan! Kau sama sekali tidak mengerti arti kehidupan!"
"JANGAN SOK MENGGURUIKU!" Danzo membentak nyaring, melempar tubuh Sasuke ke lantai dengan kasar. "—MEMANGNYA BOCAH SEPERTIMU TAHU APA TENTANG KEHIDUPAN?! JANGAN MEMBUATKU TERTAWA!" Raungnya kesal.
Sasuke yang tersungkur di lantai mendelik tajam ke arah Danzo. "Aku memang tidak mengerti apapun, tetapi aku yakin kalau binatang sepertimu tidak pantas untuk hidup!"
"DIAM!" Danzo melayangkan tamparannya ke pipi kanan sang raven, membuat Sasuke kembali tersungkur di lantai.
Pria itu menggertakkan giginya dengan murka. "—Aku benar-benar akan membunuhmu, Bocah sialan." Desisnya seraya mengarahkan moncong pistol ke kepala Sasuke. "—Ada kata terakhir, Pangeran?" Sinisnya lagi.
Sasuke terdiam. Mata onyxnya melirik seseorang yang berada di balik punggung Danzo, kemudian sang raven menyeringai tipis. "Aku tidak punya kata terakhir, tetapi mungkin kau bisa bertanya dengannya." Sahutnya enteng seraya menunjuk sosok di belakang Danzo dengan ujung dagunya.
Mata Danzo terbelalak terkejut. Ia segera berpaling untuk melihat sosok yang berada dibelakangnya, namun gerakannya kurang cepat dibandingkan tinju yang sudah melayang di wajahnya. Suara -BUAGH!- keras dari pukulan tadi membuat Danzo tersungkur di lantai dengan sela bibir yang meneteskan darah. Ia menoleh untuk mendelik ke arah sang pemukulnya.
Sosok Naruto berdiri angkuh dengan napas terengah-engah—hasil dari berlari kalap menuju asal suara pistol. Ia melirik ke arah pipi Sasuke yang memerah kemudian beralih menatap Danzo dengan pandangan bengis. "Berani sekali kau menampar Sasuke." Ia maju perlahan, menciptakan aura hitam yang menguar di seluruh tubuhnya.
Danzo beringsut mundur sembari terus melemparkan tatapan dingin dan tajamnya. "Kenapa? Pelacur itu memang pantas di tampar." Sahutnya lagi dengan berani.
Mata Naruto berkilat semakin tajam. "Pelacur, katamu?"
Sasuke beringsut ke arah mayat sang sniper. Mengambil pisau untuk memotong tali yang membelit tubuhnya. "Danzo hampir memperkosaku." Sang raven membuka suara dengan tenang dan bangkit dengan angkuh setelah tali terlepas dari tubuhnya. "—Ia juga memaksaku untuk mengulum penisnya yang kecil itu." Tambahnya lagi, memanasi amarah sang Uzumaki.
Kilatan mata Naruto semakin bengis, detik selanjutnya ia meraung murka ke arah Danzo. "BAJINGAN!" Tubuhnya menerjang ke depan, melayangkan sebuah tinju ke arah pria tersebut.
Danzo bangkit berdiri dengan gerakan kilat dan menahan tinju itu dengan satu tangan kanannya. "Hmph!—Bocah bodoh sepertimu tidak akan bisa melawanku."
"Grrr!—" Gigi Naruto menggertak penuh ancaman. Ia kembali melayangkan bogem mentah dari tangan kiri. Danzo kembali berkelit, membiarkan tinju itu menghantam tembok dengan suara -DUAGH!- nyaring. "—JANGAN MENGHINDAR, BAJINGAN!" Amuk sang Uzumaki, kalap. Ia tidak terima kalau kekasihnya diperkosa seperti itu. Yang menyentuh Sasuke harus mati. Mati. MATI!
BUAGH!—Naruto berhasil menjatuhkan bogemnya ke wajah Danzo. Pria itu terhuyung mundur dengan kepala yang pening, kemudian kembali melakukan sikap siaga untuk menahan serangan kedua yang dilakukan pemuda pirang itu.
Sasuke menatap perkelahian tersebut dengan tenang. Ia sendiri tengah bersender santai di sisi tembok saat sang kekasih sibuk memberi pukulan ke arah Danzo. Mata onyx nya menatap benci ke arah pria tua itu. Mungkin sedikit memanasi Naruto akan membuat amarah pemuda itu meningkat.
"Naruto, ia juga meremas selangkanganku." Sasuke mengeluh sembari menyentuh selangkangannya. "—Ini sakit sekali." Lanjutnya dengan mata sendu ke arah pemuda pirang itu.
Naruto melirik sekilas ke arah sang pacar kemudian beralih menatap bengis ke Danzo. "Kau menyentuh selangkangan Sasuke juga?!" Ia mengeratkan kepalan tangannya. "—KUBUNUH KAU!" Ia meraung lagi. Menjatuhkan tinjunya membabi buta.
Sasuke menyeringai tipis. Menikmati Danzo yang sedikit kewalahan menahan serangan yang dilakukan Naruto.
Tinju dilakukan dengan brutal, pukulan dilayangkan bertubi-tubi, kedua orang itu membuat ruangan karaoke yang tadinya aman dan tentram menjadi berantakan dan kacau. Vas serta perabotan pecah, sofa mewah robek, dan jangan tanyakan soal televisi besar yang tertempel di dinding, benda itu sudah terhempas di lantai dengan sangat mengenaskan.
Danzo sudah terdesak di pojok ruangan. Mata tuanya waspada saat bogem mentah Naruto mulai melesat ke arahnya, ia dengan cepat berbalik dan menyambar pistolnya di lantai, detik selanjutnya, tangannya meraih Sasuke dan menyandera pemuda raven itu ditangannya.
"JANGAN BERGERAK!" Danzo mendekatkan moncong pistol di sisi kepala Sasuke. "—Atau aku akan menembaknya." Ucapnya lagi.
Naruto berhenti melakukan pergerakan, dan Sasuke menggeram kesal saat Danzo menahan tubuhnya dengan rengkuhan yang kuat.
"Lepaskan aku, Bajingan." Desis sang raven seraya berontak.
Danzo mengeratkan pegangannya. "Berhenti meronta! Atau aku akan menembakmu!" Ancamnya lagi seraya menarik pelatuk atas pistol.
Sasuke mendelik bengis dan berhenti melakukan rontaan.
"Lepaskan Sasuke, Brengsek!" Naruto berseru marah.
Danzo menyeringai. Kakinya mundur perlahan seraya menarik Sasuke di tangannya, menuju lift terdekat. "Melepaskan dia katamu?—Hmph! Aku tidak akan melepaskan Sasuke." Sahutnya dingin seraya masuk ke kotak besi tersebut. "—Aku menunggumu di atas." Lanjutnya lagi dengan seringai tipis, kemudian menekan tombol untuk menuju atap gedung.
Naruto berdecak kesal saat pintu lift tertutup rapat. Tanpa membuang waktu lagi, ia melesat berlari di tangga darurat untuk menuju atap gedung. Tangannya lagsung menyambar kenop pintu besi dan membukanya dengan suara -BRAK!- keras.
Mata birunya nyalang menyisir setiap sisi atap gedung hingga akhirnya pandangannya terjatuh pada sosok Danzo yang menyeret Sasuke ke tepi bangunan. Salah satu langkah saja, maka mereka berdua akan terjatuh dari sana.
"DANZO! LEPASKAN SASUKE!" Naruto meraung keras sembari berlari ke arah mereka, namun langkahnya langsung terhenti saat Danzo mengarahkan moncong pistol ke kepala Sasuke.
"Sudah kubilang jangan bergerak!" Pria itu mundur lagi. Matanya melirik ke arah bawah gedung. Di bawah sana, terlihat kerumunan warga yang menyaksikan kejadian tersebut dengan panik. Orang-orang menunjuk ke arah Danzo dan Sasuke dengan wajah ketakutan saat dua orang itu sudah berada di ujung gedung. Beberapa satuan polisi langsung dikerahkan memasuki gedung tersebut untuk menyelamatkan sandera dengan persenjataan lengkap.
"—Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Rencanaku gagal karena bocah sepertimu." Lanjut Danzo sinis.
"Kalau kau dendam padaku, seharusnya kau membunuhku! Jangan bawa Sasuke dalam hal ini!" Bentak Naruto kesal.
Danzo mendengus dengan tatapan dingin. "Membunuhmu?—Hmph! Hal itu terlalu gampang bagimu." Ucapnya dengan nada rendah. "—Yang kuperlukan adalah membunuh Sasuke bersamaku." Lanjutnya.
Naruto mengepalkan tangannya erat. "Kenapa kau ingin membunuh Sasuke?! Dia tidak ada sangkut pautnya dalam hal in—!"
"DIAM!" Danzo meraung keras, menyela perkataan sang Uzumaki. "—Aku akan membunuh Sasuke seperti kau menghancurkan rencanaku, Bocah sialan!" Desisnya penuh amarah. "—Gara-gara kau, aku kehilangan kekuasaan serta jabatanku."
Sasuke menggeram. "Kau memang pantas mendapatkan itu, Bedebah!"
Amarah pria itu sudah memuncak. Ia menghentak lengan sang raven dengan kasar. "BOCAH SIALAN!" Moncong pistol terarah ke kepala Sasuke. "Aku bersumpah akan membunuhmu kali in—"
"JANGAN BERGERAK!" Suara Hashirama menggelegar. Ia keluar dari pintu atap dengan kedua tangan memegang pistol yang terarah ke Danzo. Para satuan polisi sudah bersiap dibelakangnya dengan posisi bertahan menggunakan tameng. "—Danzo, lepaskan senjatamu sekarang." Hashirama mencoba menegoisasi. "Kita tidak ada yang ingin saling terluka disini." Jelasnya lagi seraya beringsut maju perlahan.
Danzo kembali menarik lengan Sasuke. "Jangan ada yang bergerak! Atau kepala bocah ini kutembak!" Ancamnya dingin.
Naruto menahan pergerakan Hashirama. "Jangan maju, Paman. Situasi akan semakin berbahaya kalau kau memaksa mendekat ke arahnya." Ujarnya lagi, dengan bisikan pelan.
Hashirama setuju, dan memilih berdiri di samping Naruto dengan sikap waspada. Matanya masih terarah ke Danzo. "Bisakah kita bicarakan soal ini? Kau tidak perlu menyandera anak itu."
Pria tua itu mendengus. "Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku tidak akan termakan omong kosongmu!"
"Dengar—" Naruto menyela. "—Kau berurusan denganku, jadi biarkan aku yang menggantikan Sasuke utnuk kau bunuh." Ucapnya lagi.
Hashirama menoleh kaget. "Apa yang kau katakan, Idiot?!" Bisiknya, kesal.
Naruto membalas dengan bisikan yang tak kalah kesalnya. "Diam dan biarkan aku menangani hal ini." Iris birunya melirik ke arah pistol yang dipegang sang paman. "—Berikan aku pistolmu."
"Apa?"
"Cepat berikan saja! Sembunyikan di belakang punggungku tanpa diketahui olehnya." Perintah Naruto lagi.
Sedikit jengkel, akhirnya Hashirama menuruti keegoisan pemuda pirang itu. Lagipula ini menyangkut nyawa Sasuke, bagaimanapun juga ia harus mempercayakan hal ini pada Naruto. Mungkin saja kalau ada Madara disini, dirinya bakal digampar karena meminjamkan senjata api pada remaja seperti Naruto. Well, he doesn't have any choice tought.
Naruto bergerak maju perlahan dengan kedua tangan terangkat di udara, tanda menyerah. "Dengar, Danzo, kau bisa membunuhku sekarang, tapi lepaskan Sasuke, oke?" Ia menawarkan negosiasi. Kakinya bergerak maju dua langkah.
"Hmph!—Membunuhmu?! Sudah kubilang itu tidak ada gunanya lagi!" Geram Danzo, masih dengan moncong pistol yang menempel di sisi kening Sasuke. Ia mencoba mundur, namun sudah tidak ada pijakan lagi di sisi gedung. Membuat tubuhnya hampir limbung saat melihat ke bawah.
"Danzo, aku tahu kau membenciku." Naruto maju lagi. Kali ini mereka berhadapan dengan jarak 4 meter. "—Kenapa tidak aku saja yang kau bunuh? Lihat? Aku disini tanpa pertahanan apapun." Jelasnya.
Danzo terdiam sejenak. Moncong pistolnya beralih dari kening Sasuke ke arah kepala Naruto. Bibirnya menyeringai licik. "Kau benar, kenapa aku tidak membunuhmu saja?"
Sang Uzumaki berhenti bergerak. Ia menatap pria itu tajam, tidak mengatakan apapun.
"Tapi—" Danzo kembali berbicara, masih dengan seringai liciknya. "—Aku lebih suka menghancurkan sesuatu yang berharga bagimu dibandingkan membunuhmu." Tepat ketika ucapnya itu selesai, Danzo langsung mendorong tubuh Sasuke tanpa aba-aba, membuat pemuda raven itu terjun dari atas gedung dengan mata terbelalak kaget.
"SASUKE!" Naruto melesat cepat. Ia meloncat dari atas gedung untuk menyambar lengan sang kekasih.
Waktu seakan berputar lambat saat Naruto berada di udara. Ia menggeram seraya menarik pistol dari belakang punggungnya, memutar tubuhnya dan mengarahkan moncong senjata ke kepala Danzo.
Pria tua itu juga sama-sama mengarahkan pistol ke arah sang Uzumaki. Pistol saling beradu dalam jarak 6 meter, kemudian—
—DOORR!
Letusan timah panas keluar dari masing-masing pistol.
Peluru Danzo melesat cepat membelah udara dan kemudian menggores lengan kanan Naruto. Sedangkan peluru sang Uzumaki melesat lurus ke kening Danzo, menembus tengkorak kepala pria itu. Melewati otak dan sel-sel kepala, hingga akhirnya keluar dari belakang kepala bersamaan dengan muncratan darah.
Dalam keadaan satu detik tersebut, Danzo terbelalak ngeri saat rasa panas dan terbakar melewati kepalanya. Matanya bisa melihat seringai dan gerakan bibir pemuda itu.
"Selamat tinggal, Danzo."
.
BRUK!—Tubuh pria itu terjatuh di lantai atap gedung tanpa nyawa dengan mata terbelalak dan kepala yang merembeskan darah.
Di sisi lain, Naruto memeluk tubuh sang raven saat mereka terjatuh dengan cepat dari atas gedung. Ia bisa merasakan Sasuke yang ketakutan dengan tangan mencengkram bajunya.
"MADARAAA!" Naruto berteriak keras, hampir membuat paru-parunya sakit.
Detik berikutnya, sebuah helikopter melesat dari samping gedung bangunan itu dengan sosok sang paman yang mengemudikan benda besar tersebut. Tangan Madara mencengkram kendali helikopter dan menukik turun untuk menyelamatkan kedua keponakannya.
Dalam jarak yang sempit. Naruto mencoba sekuat tenaga menggapai tangga darurat yang tergantung di sisi helikopter.
"Khhh!—" Sang Uzumaki menggeram kesal saat jarinya masih tidak bisa menggapai tangga tali tersebut. Ia melirik ke bawah dimana tanah aspal siap menyambutnya dengan sangat menyakitkan. Beberapa orang dan satuan polisi menyingkir saat tubuh mereka meluncur turun dengan cepat.
"Shit!—" Naruto mengumpat. Tangannya bergerak panik untuk kembali menggapai tangga tersebut.
.
30 meter—
.
"NARUTO! CEPAT TANGKAP TALINYA!" Madara berteriak keras dari dalam helikopter. Suara gemuruh baling-baling membuat suaranya teredam.
"Sedang aku coba, Paman!" Jawab sang Uzumaki lagi. Keringat dingin terlihat di pelipisnya saat tangga tali tersebut bergerak tidak karuan tertiup angin, membuat Naruto sulit untuk menggapainya.
.
20 meter—
.
Tidak ada waktu lagi. Naruto harus secepatnya meraih tangga tersebut, kalau tidak mereka berdua akan—
GREB!—Tangan putih Sasuke ikut terjulur untuk menangkap sisi tangga tali itu. Ia melirik ke arah Naruto. "Kau sama sekali tidak berguna, Idiot. Menangkap tangga saja tidak bisa." Cemoohnya.
Naruto berdecak kesal. Kalau mereka tidak tergantung seperti ini, mungkin pemuda itu sudah memberikan pukulan yang telak ke arah sang kekasih. "Tanganku licin." Alasan sang Uzumaki seraya ikut memegang tangga itu.
Sasuke mendengus. "Yeah, right." Sarkastiknya. Ia mendongak ke atas. "—KITA PERGI DARI SINI, AYAH!" Serunya memberi perintah. Madara menanggapinya dengan anggukan tegas dan langsung berbelok menikuk ke arah landasan helikopter yang berada di atas gedung Tokyo International Hotel.
TAP!—Naruto dan Sasuke mendaratkan kakinya di sana dengan selamat. Ia bisa melihat beberapa satuan polisi dan petugas ambulans menuju ke arah mereka dengan khawatir.
Sasuke membantu Naruto untuk berjalan. Ia melirik ke arah lengan sang Uzumaki yang terluka. "Lenganmu terus mengeluarkan darah."
"Oh, tenang saja Sasuke aku tidak apa-apa. Ini hanya goresan kecil, bukan masalah besar untukku." Sahutnya lagi. Mata birunya beralih menatap gedung sebelah, tempat mayat Danzo tergeletak. "Dia sudah mati. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan." Ucapnya pelan namun masih dapat didengar oleh sang raven.
"Hn—" Sasuke menjawab singkat. "—Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan setelah ini?" Tanyanya lagi.
"Apa maksudmu setelah ini? Tentu saja aku akan menjadi raja korea Selatan." Jawab Naruto semangat. "—Lagipula aku ingin melanjutkan pekerjaan ayahku."
"Pekerjaan ayahmu?"
"Ya, aku akan membangun laboratorium pemerintahan untuk kembali meneliti dan memproduksi Male Pregnancy Pill."
Sasuke mengerjap satu-dua kali. "K—Kau serius? Itu akan sangat sulit, maksudku penelitian tersebut masih tabu. Pasti akan banyak menuai skandal pro dan kontra."
"Ya, aku tahu." Naruto menoleh untuk menatap Sasuke. "—Tapi aku akan tetap melakukannya, sebab itu merupakan penelitian ayahku."
Sasuke menghela napas pasrah. Sama sekali tidak bisa melawan keegoisan sang kekasih. "Baiklah, aku mengerti. Sebagai percobaan awal, aku tidak keberatan menjadi bahan ujimu."
Naruto membelalak lebar. "Kau bilang apa?"
"Well—" Sasuke menggaruk pipinya yang memerah, kemudian mengelus perutnya dengan pelan. "—Maksudku, aku tidak keberatan kalau harus mengandung anakmu." Ucapnya lagi, kali ini dengan suara berbisik yang sangat pelan, namun masih dapat didengar oleh Naruto.
Sang Uzumaki mengerjap tidak percaya. Detik selanjutnya ia bersorak keras dengan gelak tawa. "Aku mencintaimu, Isitriku!" Teriaknya senang.
Sasuke mendelik bengis. "Shut up, Idiot! Suaramu terdengar keras!" Bentaknya kasar sembari menatap beberapa orang yang berada di sekitar mereka dengan canggung dan malu.
Naruto meraih pinggang sang kekasih dan menyatukan kening mereka. "Aku serius, Sasuke. Aku benar-benar mencintaimu."
Sang raven mendengus geli. "Aku tahu, Idiot." Ia meraih pipi pemuda pirang itu dengan kedua tangannya. "—Aku juga serius untuk setuju mengandung anakmu."
Naruto menanggapi ucapan malu-malu Sasuke dengan tawa renyah. Ia benar-benar bahagia sekarang. Sama sekali tidak bisa menutupi senyum lebarnya.
PLAK!—Madara menampar belakang kepala Naruto dengan kasar. Ia mendelik dingin dan tajam. "Apa maksudmu itu, Bocah?! Kau ingin menghamili anakku?! Sebagai seorang ayah, jangan harap aku setuju dengan ide gilamu itu!"
"Ehhh?!" Wajah gembira Naruto berubah menjadi raut kecewa. "—Ayolah, Paman. Aku berjanji akan membahagiakan Sasuke." Mohonnya lagi.
"Tidak! Pokoknya tidak boleh!" Ketus Madara.
Bibir Naruto melengkung ke bawah. Ia melirik ke arah Sasuke, meminta bantuan. Pemuda raven itu mendengus geli kemudian bergerak menuju samping Madara. "Ayah, biarkan aku menikah dengan Naruto. Lagipula aku yakin, dia akan melindungiku dan membuatku bahagia."
Madara melirik ke arah sang anak. "Apa kau yakin?! Yang akan kau nikahi ini adalah bocah pirang idiot macam Naruto!" Sinisnya lagi.
Naruto terlihat tersinggung. "H—Hey! Apa maksudmu dengan bocah pirang idot! Aku ini sudah menjadi raja Korea Selatan!"
Pria raven itu melemparkan death glare. "Bagiku, kau masih bocah tidak tahu diri."
Sasuke hanya mengulum senyum melihat pertengkaran dua orang itu. Mereka berdua memang tidak akur tetapi Sasuke yakin kalau Madara tidak pernah menolak permintaannya.
"Ayolah, Paman, aku benar-benar mencintai Sasuke. Jadi aku mohon, biarkan aku menikahinya dan memiliki anak dengannya." Mohon Naruto sembari membungkuk hormat, bahkan hampir bersujud.
Madara yang berada dihadapannya hanya melipat kedua tangan di depan dada dengan angkuh. "Hmph!—" Ia mendengus kecil. "—Baiklah, aku mengerti. Tetapi kalau kau menyakiti anakku, akan kupastikan kepalamu itu terpenggal." Sambungnya lagi.
Naruto tersenyum lebar kemudian menarik sang kekasih kepelukannya. "Sasuke, kita sudah direstui! Ayo menikah!" Teriaknya senang.
Sang raven mendelik galak. "Sudah kubilang, berhenti berteriak seperti itu, Idiot! Kau membuatku malu!"
.
.
.
_4 Tahun Kemudian_
.
_Kerajaan di Korea Selatan, Seoul_
.
.
Naruto terlihat bersantai di paviliun taman sembari menikmati suasana tenang kolam ikan dihadapannya. Wajahnya tersenyum teduh saat ikan-ikan tersebut berloncatan ke atas untuk meraih makanan yang dilemparkannya.
Ia melamun sembari memikirkan sang istri; Sasuke. Pemuda raven itu masih angkuh dan cantik seperti sebelumnya, tidak ada perubahan. Sudah 4 tahun mereka menikah dan semua benar-benar berjalan dengan baik. Tidak ada lagi kejahatan politik di kerajaan, tidak ada lagi manusia sampah seperti Danzo, dan tidak ada lagi penyulut peperangan antara Jepang dan korea Selatan. Terakhir kali ia di Jepang adalah saat ada pertemuan penting dengan kekaisaran Jepang mengenai kerjasama dalam perdagangan Male Pregnancy Pill—sekitar satu tahun yang lalu. Well, siapa sangka kalau penelitiannya itu diterima dengan baik di beberapa negara maju. Naruto cukup berbangga diri dengan kerja kerasnya itu.
"Selamat pagi, Yang Mulia." Suara mengalun manja dari bibi Mei membuat Naruto harus mengalihkan tatapannya dari kolam ikan ke arah wanita seksi berpakaian gaun hitam malam dengan belahan tinggi di paha itu.
"Selamat pagi, Noona." Naruto menyapa lembut dengan senyuman teduh. Membuat sang bibi bersemu merah mengulum senyum.
"Apa kau sedang sibuk? Aku kesini untuk memberikan laporan pengawasan NIS." Ujarnya seraya menyerahkan beberapa lembaran kertas ke tangan Naruto.
"Pengawasan NIS?" Sang raja membeo.
"Pengawasan nenekmu yang berada di tahanan khusus." Jelas Mei lagi.
"Oh—Bagaimana keadaannya?" Tanya Naruto sembari membolak-balikkan lembaran itu.
"Baik. Dia sekarang sudah bisa tersenyum dan tertawa saat bercanda denganku. Aku rasa tahanan khusus bagus untuknya. Dia juga menitipkan permintaan maaf untukmu." Sahut wanita itu.
Naruto lagi-lagi hanya tersenyum kecil. "Aku sudah memaafkan nenek. Jadi katakan padanya bahwa aku menunggunya kembali kesini untuk menjadi bagian dari keluarga lagi."
Mei tersenyum. "Kau tahu, Yang Mulia?" Ia bergerak mendekat dengan pose yang menggoda. "—Aku rela menjadi selirmu kalau kau bosan dengan Sasuke." Ujarnya lagi.
Naruto tertawa canggung. "Hahaha—Noona selalu bisa membuatku terkejut. Tapi tidak terima kasih , aku masih menyukai Sasuke."
Mei mendengus kecil. "Tsk!—Tipe suami setia itu membosankan tahu!" Cibirnya kesal.
"Tipe penggoda sepertimu itu yang mengerikan, Bibi." Suara itu bukan keluar dari bibir Naruto, melainkan dari mulut Sai yang berada di ambang pintu paviliun. Ia menampilkan senyum palsu andalannya. "—Lagipula, Yang Mulia Raja sepertinya tidak suka dengan tante-tante menor seperti bibi." Ucapnya tenang namun menusuk
Mei mendelik galak. "Lihat siapa yang bicara. Bukankah kau juga suka menggoda Yang Mulia Raja?"
"Memang benar. Tapi gaya menggodaku lebih elegan dibandingkan wanita paruh baya sepertimu." Sela Sai lagi, masih tenang. Sama sekali tidak mempedulikan wajah Mei yang sudah memerah karena marah.
"Kau masih menyebalkan seperti biasa, Sai. Awas kau!" Ketus Mei seraya berbalik pergi dengan langkah berdebam kesal. Yang ditanggapi oleh Sai dengan senyum palsunya.
Pemuda berambut hitam itu bergerak untuk duduk di samping Naruto setelah kepergian bibi Mei. Ia menggamit lengan pemuda pirang itu dengan lembut. "Aku kangen padamu, Hyung." Ucapnya dengan nada manja. "—Perjalanan dari Jepang kesini sangat menguras tenaga dan waktu." Keluhnya lagi.
Naruto tertawa kecil. "Bagaimana pertemuan dengan para penggemar? Bukankah kau ke Jepang untuk merayakan keberhasilan manga-mu?"
"Ya, sangat banyak penggemar dan aku cukup lelah." Ujar Sai lagi. Ia kembali bergerak untuk duduk di pangkuan Naruto, saling berhadapan dengan kedua tangan yang merangkul leher sang Uzumaki. Ia tersenyum dengan pose sensual. "—Hyung, apa kau ingin mencoba tubuhku? Jujur saja, aku sama sekali tidak keberatan menjadi selirmu." Ucapnya dengan bisikan lembut nan menggoda.
Naruto meneguk air liurnya panik. "Uh—err—Aku sudah memiliki Sasuke."
"Oh ayolah, seorang raja bisa mempunyai banyak istri. Hal itu sudah biasa." Jelasnya sembari mengelus pundak dan dada tegap pemuda pirang itu.
"A—Aku—" Suara Naruto tercekat. Ia sedikit kelabakan saat Sai terus mendekat dengan gerakan yang cukup sensual.
.
"Ayah, sedang apa dengan Paman Sai?" Suara bocah laki-laki berpakaian tradisional Korea berdiri di ambang pintu dengan mata hitam cerahnya. Menatap dua pria yang tengah berangkulan dihadapannya itu dengan pandangan polos.
Sai menoleh kemudian tersenyum. "Menma, apa kau ingin punya ibu baru?" Tanyanya tiba-tiba.
Anak laki-laki berumur 4 tahun itu menatap heran. "Ibu baru? Siapa ibu baruku?"
Sai tertawa kecil. "Tentu saja aku yang akan menjadi ibu barumu, Menma. Ayahmu ini akan menghamiliku."
Naruto panik. "H—Hey, apa yang kau katakan, Sai?! Jangan seenaknya berbohong dihadapan anakku!" Ia kembali berpaling ke arah bocah laki-laki berambut raven itu. "—Menma, jangan hiraukan perkataan Paman Sai. Ucapannya tidak seri—"
"HOREEE!—Ibu baru! Ibu baru!" Menma tidak mempedulikan perkataan sang ayah, malah bersorak riang dengan tawa kerasnya. Pipi gempalnya memperlihatkan lesung pipi yang manis dengan tiga goresan di masing-masing sisinya.
Saat Sasuke bergerak menuju paviliun untuk menjemput bocah itu, Menma langsung melambai ke arah ibunya dengan semangat sembari berteriak, "—MAMA, MENMA PUNYA IBU BARU! AYAH AKAN MENGHAMILI PAMAN SAI!"
"Oi! Oi!—Menma, kau salah bicara!" Naruto bangkit dari tempat duduknya dengan panik sembari membungkam mulut sang anak dengan tangan kanannya. Namun sepertinya hal itu percuma, sebab Sasuke sudah mendengar semua dan kini ia menatap bengis ke arah Naruto.
"Kau akan menghamili Sai?" Nada suara Sasuke terdengar rendah dan tajam. Seakan-akan bisa memutilasi Naruto hanya dengan perkataannya saja.
Keringat dingin melintas di pelipis pemuda pirang itu. "K—Kau salah paham, Sayang. Sai berbohong pada Menma. Aku tidak ingin menghamilinya sama sekali. Sumpah!" Ucapnya seraya menunjukkan tanda 'V' dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Sasuke mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah Sai. "Apa maksudmu berbohong didepan anakku seperti itu?" Tanyanya dingin.
Sai terkekeh kecil. "Oh ayolah, aku yakin Menma juga ingin punya ibu baru. Lagipula bukankah wajar bagi seorang raja memiliki istri lagi?"
"Tanpa seijinku, Naruto tidak akan bisa menikah dengan orang lain." Tegasnya.
Sai mendengus kecil. "Baiklah, baiklah, aku mengerti." Ia bangkit berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. "—Tetapi kalau Naruto ingin menikah lagi, aku bersedia menjadi istri keduanya." Godanya dengan seringai tipis, kemudian berjalan pergi menjauhi paviliun. Meninggalkan Naruto, Sasuke dan Menma disana.
"Jadi—" Naruto menggaruk tengkuk lehernya, canggung. "—Kau habis darimana, Sasuke?" Tanyanya, seakan-akan kejadian 'akan mengahamili Sai' beberapa detik yang lalu tidak pernah terjadi.
"Perkumpulan komunitas ulzzang." Sahut Sasuke enteng. "Ngomong-ngomong, Paman Hashirama menyerahkan ini padaku." Ia menarik sebuah surat dari kantong celananya.
"Apa itu?" Naruto menyambutnya dengan bingung.
"Surat ijin cuti. Paman Hashirama dan ayahku akan bulan madu ke Hawaii."
Naruto tertawa kecil. "Ternyata anggota NIS butuh liburan juga rupanya. Apa mereka ingin mempunyai anak juga seperti kita? Aku bisa memberikan MPP-nya dengan gratis." Sahut pemuda pirang itu lagi.
Sasuke tersenyum kecil. "Paman Hashirama ingin sekali punya anak, tetapi ayahku menolak hal itu mentah-mentah. Dia bilang kalau anaknya cukup aku dan Sai saja."
"Ah, tipe ayah yang baik rupanya." Naruto tertawa kecil.
"Ya, begitulah." Sahut Sasuke singkat. Ia mendekat ke arah sang suami dan bersandar di dada bidang Naruto sembari memeluknya. "—Naruto, aku mencintaimu." Bisiknya pelan.
Sang Uzumaki tersenyum tipis. Kemudian membalas pelukan sang istri dengan rengkuhan erat. "Aku juga mencintaimu, Sasuke." Ia meraih dagu pemuda raven itu untuk saling bertatapan dengannya. "—Bagaimana kalau kita memberikan Menma adik baru?"
Sasuke memutar bola matanya malas dan mendorong tubuh Naruto. "Aku tidak ingin hamil lagi. Lagipula aku harus mempertahankan ketampananku."
"Kau itu cantik bukannya tampan." Tukas Naruto cepat yang langsung disambut death glare galak dari Sasuke.
"Ugh—sudahlah, aku ingin pergi lagi." Kata sang raven sinis. Tidak mempedulikan omongan pemuda pirang itu.
"Pergi kemana?" Tanya Naruto, heran.
Sasuke tidak langsung menjawab. Ia menggendong Menma dan menyerahkannya pada sang suami. "Pergi ke pertemuan ulzzang lagi." Sahutnya.
"Hah? Lagi? Kenapa tidak mengurus Menma saja sih?"
"Aku bukan ibu-ibu rumah tangga. Lagipula kau bisa mengurus Menma menggantikanku."
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak para pelayan saja?" Naruto protes.
Sasuke mendelik galak. "Para pelayan itu sangat ceroboh. Aku tidak bisa membiarkan anakku ditangani oleh mereka. Jadi kau yang harus melakukan semuanya. Tidak ada bantahan." Ia beranjak dari paviliun sembari merapikan pakainnya. "—Jangan lupa memberi makan Menma tepat pukul 1 siang, sore sudah harus mandi, pakaiannya ada di kamar kita laci teratas, dan jangan lupa, berikan dia perawatan kulit khusus bayi agar kulitnya tetap kenyal." Jelas Sasuke panjang lebar.
Naruto tidak bisa berkutik dan hanya mengangguk pasrah pada perintah sang istri. Menma yang berada digendongannya tertawa senang sembari bersorak kecil.
"Ayah? Kapan Menma punya ibu baru?" Bocah itu menarik-narik baju Naruto dengan tidak sabaran. "—Apakah paman Sai akan menjadi ibu baru, Menma? Ayah?—Ayah kok diam? Ayah?"
'ARGGHH!—AKU STRES!' Naruto berteriak dalam hati, frustasi.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau menjadi raja Korea Selatan benar-benar sulit seperti ini. Terlebih lagi harus merawat anak saat ibunya sibuk tebar pesona di luar sana.
DAMN!—Mungkin lain kali, Naruto harus mengundurkan diri menjadi raja Korea Selatan.
.
.
The End!
.
.
.
Yuhuuu!~~ Akhirnya tamat juga *tepar di lantai kamar*
Maaf soal update yang ngaret, hahaha... Ini semua gara-gara WB #plak *malah nyalahin WB* huehehehe... Kalau ada typo dan sejenisnya tolong beritahu ya... hehehe...
Btw, terima kasih banyak pada reviewer, reader dan silent-reader, kalian yang terhebat! I LOVE YOU ALL! *kecup satu-satu*
Oke, CrowCakes pamit guys! Sampai jumpa di fic selanjutnya... Byee~~ *Crow terbang sambil makan cakes* :3
.
RnR Please!
