Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 1

Changmin meletakkan Jaejoong dengan pelan keatas tempat tidur, menyelimutinya dengan selimut berwarna merah. Di kamar itu sudah berdiri Jinwoon, Taerin, Heechul dan Changmin, menatap kearah Jaejoong yang sedang terlelap.

"Mana Yunho?" Tanya Jinwoon pada Taerin.

"Aku disini" Sebuah suara dari ujung pintu terdengar. Yunho datang dengan piyama biru tua miliknya, berjalan tertatih dengan tongkat di tangan kanannya.

Yunho lebih mendekat kearah tempat tidur, menemukan wajah malaikat cantiknya yang sedang tidur. Semua yang ada di sana menyingkir, memberi ruang pada Yunho yang akan duduk diatas tempat tidur.

Changmin menerima tongkat dari Yunho, lalu membawanya keluar kamar, bersama dengan yang lainnya. Meninggalkan Yunho dan Jaejoong berdua di kamar itu.

Yunho mengambil tangan kanan Jaejoong, mengusap punggung tangan itu lalu menyematkan sebuah cincin di jari manisnya.

"Cincin ini adalah penyatu kita, malaikatku" Kata Yunho, lirih.

.

.

.

Mata Jaejoong mengerjap, menampilkan manik mata hitam miliknya. Ia lalu bangun perlahan, merasakan pusing di kepalanya.

"Uukh, aku dimana?" Tanyanya bingung. Ia mengedarkan pandangan, tidak mengenali tempatnya berada.

Ruangan itu ia ketahui sebagai kamar karena ada tempat tidur di sana. Di samping kiri dan kanan Jaejoong terdapat masing-masing satu lemari, lalu di sudut kanan kamar, ada sebuah meja hias lengkap dengan cermin yang cukup besar. Tempat tidur yang ia duduki sekarang cukup besar, dan kasurnya sangat empuk di bawahnya, juga seprai yang begitu halus berwarna merah satin.

Yang membuatnya bingung, kamar siapa ini? Ia yakin ini bukan kamarnya.

Jaejoong bangun, berjalan kearah cermin besar di atas meja hias. Menatap bayangan dirinya yang begitu berantakan. Ia tersenyum, lalu melihat kearah atas bingkai cermin yang berukir patung malaikat bersayap coklat. Jaejoong terdiam. Ia baru sadar kalau di rumah yang ia datangi semalam, banyak sekali ukiran patung malaikat seperti itu, jadi?

Krieet..

Pintu dari kayu jati itu terbuka, menampilkan sosok wanita berpakaian pelayan. Wanita itu membungkuk, di tangannya membawa sebuah nampan berisi makanan dan air putih.

"Ini sarapan anda, Tuan" Kata pelayan itu, meski bicaranya sopan tapi wajahnya tidak tersenyum. Meletakkan nampan yang ia bawa diatas nakas samping tempat tidur. Setelah itu ia berjalan kearah jendela besar di kamar itu, membuka tirai besar yang menutupi jendela, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan mengenai wajah Jaejoong.

"Saya permisi" Jaejoong mengangguk sambil menutupi wajahnya yang silau.

Pintu kamar itu kembali tertutup, meninggalkan Jaejoong yang terdiam.

"Jadi aku masih dirumah itu?" Tanyanya bingung, "Pasti Appa dan Umma mencariku" Katanya panik.

Kriet..

Pintu itu kembali terbuka, kali ini menampilkan sosok wanita cantik bergaun kuning, dengan rambut yang tergerai di sisi tubuhnya. Wanita itu tersenyum, berjalan masuk kedalam kamar.

"Kau sudah bangun, Jaejoongie?" Tanya Taerin lembut.

"A-ahjumma, aku ingin pulang"

Mendengar itu senyum Taerin menghilang sebentar lalu kembali terlihat, "Lebih baik kau sarapan lalu mandi" Kata wanita bergaun kuning itu.

Jaejoong menggeleng, "Aku mau pulang"

Senyum Taerin benar-benar menghilang, "Iya, tapi setelah kau makan dan mandi" Katanya dengan suara yang lebih tegas. Jaejoong tidak membantah lagi dan ia mengambil makanan yang dibawa pelayan tadi lalu memakannya dalam diam. Ia tersenyum memakan sarapan yang terasa enak di mulutnya, membuat dia ingin lagi dan lagi.

Taerin diam, memperhatikan Jaejoong yang sedang makan, lalu melihat kearah cincin yang melingkar di jari manis pria itu. Ia tersenyum, tampaknya ia tak perlu khawatir lagi karena sejauh apapun ia pergi, pasti rumah ini tempatnya kembali.

'Sama seperti Hankyung dan Junsu' Kata Taerin dalam hati.

.

.

.

Jaejoong sudah selesai makan dan mandi, bahkan ia sempat takjub melihat bajunya yang kotor, di cuci saat ia mandi, tapi sudah kering saat ia selesai. Yang membuatnya bingung, ia mandi tak lebih dari 10 menit.

Taerin, Jinwoon dan Changmin sudah menunggu di ruang tamu, dan saat Jaejoong keluar bersama seorang pelayan, mereka tersenyum pada pria itu.

Jaejoong balas tersenyum, tapi agak tak enak juga karena harus menginap disini. Ia lupa bagaimana bisa ia tidak pulang padahal seingatnya ia hanya makan malam.

"Aku harus pulang, terima kasih untuk semuanya" Jaejoong membungkukkan tubuhnya lebih dalam.

Taerin mengangguk, lalu berjalan mendekat kearah Jaejoong untuk memeluk, "Aku senang kau ada disini, Jaejoongie" Kata Taerin sambil menepuk punggung pria dalam pelukannya.

"Gomawo" Jawabnya, "Aku pergi"

Jaejoong berjalan kearah pintu keluar bersama Hyunwon, meninggalkan tiga orang yang tersisa.

Tanpa Jaejoong sadari, seseorang sedang berdiri di lantai atas, menatapnya dengan pandangan dingin.

"My angel" Lirihnya.

.

.

.

Setelah mengantar Jaejoong, Hyunwon kembali kehadapan ketiga majikannya.

"Apa kau sudah mengerjakan pekerjaanmu dengan baik?" Tanya Jinwoon pada pelayan terbaiknya itu.

Hyunwon mengangguk hormat, "Sudah, Tuan"

Jinwoon, Taerin dan Changmin tersenyum puas.

.

.

.

Jaejoong berjalan dengan langkah pasti di kompleks perumahannya. Ia sempat heran ketika pulang ke rumah tadi, jalan yang kemarin tidak terlihat, siang itu terlihat jelas.

Ketika sampai di dekat rumahnya, ia melihat banyak orang berkumpul, berpakaian serba putih khas pemakaman. Ia mempercepat langkahnya, mendekati kerumunan itu.

"A-ada apa ini?" Tanya Jaejoong pada seorang wanita yang merupakan tetangganya. Wanita itu terkejut melihat Jaejoong, lalu menangkup kedua pipi mungil itu dengan tangan.

"Joongie.." Kata wanita itu sambil terisak, "Kau harus tabah, nak"

Jaejoong segera melepaskan pelukannya, lalu berjalan lebih mendekat kearah rumahnya.

Brak..

Piala kebanggaan yang selalu ia bawa, yang dengan usahanya ia dapatkan, yang akan di persembahkan pada orang yang ia cintai, jatuh kelantai yang dingin saat melihat kearah depan, dua figura yang berisi foto dua orang yang sangat ia kenal berjejer di atas meja persembahan.

Bruk..

Jaejoong terjatuh di depan pintu, airmata mengalir deras membasahi pipinya, tanpa bisa ia cegah, tanpa ingin ia hentikan.

"U-umma...A-appa"

.

.

.

"Semalam, kedua orang tuamu pergi keluar dari rumah. Hujan turun begitu deras, belum sampai mereka pergi menjauh, mobil yang mereka gunakan menabrak sebuah pohon di ujung jalan sana" Jelas wanita bermarga Choi tadi. Ia menunjuk kearah ujung gang yang tak bisa terlihat dari tempatnya duduk.

Jaejoong meletakkan kepalanya pada paha wanita tua yang merupakan tetangganya itu. Airmata masih terus mengalir membasahi wajahnya, bahkan ketika ia memejamkan mata, airmata itu jatuh tepat ke tangannya.

Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Dua orang yang ia cintai, yang ia punya, pergi meninggalkannya tanpa sebuah pelukan.

Ia sebatang kara, ia tak punya tempat untuk meminta, karena orang tuanya telah tiada.

.

.

.

Ada banyak pelayat yang datang ke pemakaman orang tua Jaejoong. Rekan kerja ayahnya juga teman akrab ibunya. Jaejoong membalas tiap uluran tangan dan ucapan belasungkawa dengan setengah hati. Ia serasa nyawanya tidak berada di tubuhnya saat itu. Pikirannya kosong dan ia tidak tahu harus bagaimana melanjutkan kehidupannya.

Tak jauh di belakang Jaejoong, seorang wanita bergaun hitam, memakai topi dan kacamata hitam, memperhatikan Jaejoong yang terlihat rapuh. Disampingnya berdiri seorang pria, tinggi dan sangat menawan, berpakaian dan kacamata yang sewarna dengan wanita tadi.

"Hyunwon melakukan pekerjaannya dengan sangat baik" Kata wanita yang ternyata Taerin itu sambil tersenyum. Pria disampingnya adalah Jinwoon-sang suami, hanya mengangguk.

"Ya, dan kita hanya tinggal menunggu calon menantu kita datang ke Angelos" Kata Jinwoon ikut tersenyum.

"Aku tak sabar, Yeobo. Yunho sudah menunggu cukup lama dan aku tak bisa menahan keinginanku untuk menjadikan Jaejoongie sebagai menantuku" Kata Taerin bersemangat.

"Dan aku tak ingin ia seperti Hankyung dan Junsu yang meninggalkan rumah untuk sekolah" Lanjutnya posesif. Jinwoon hanya tertawa, istrinya yang sedang kesal seperti itu terlihat lucu.

.

.

.

Jaejoong mengelap foto ayah dan ibunya di ruang tamu dengan malas. Pandangan matanya hanya mengarah kosong. Sejak kepergian kedua orang tuanya, ia seperti kehilangan hidup, dan ketika mengingat tentang itu, airmatanya mengalir begitu banyak.

"Hiks, mianhae Umma..Appa hiks" Ia terus meminta maaf untuk ketidak-hadirannya pada malam kejadian itu.

"Kenapa hiks kenapa kalian tidak menunggu Joongie..hiks Joongie ingin ikut hiks" Jaejoong hanyalah seorang anak berusia 16 tahun. Ia anak tunggal dan hanya memiliki kedua orang tua dalam hidupnya. Dan sekarang ia hidup seorang diri, yang membuatnya sedih, apakah bisa ia sendiri?

"Hiks Joongie takut.." Jaejoong memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya pada tangannya.

.

.

.

Dua hari kemudian..

Entah apa yang membuat Jaejoong berada disini, berdiri di depan sebuah gerbang putih yang sangat tinggi, bahkan untuk memanjatnya saja mungkin ia tidak bisa.

Jaejoong melihat kearah belakang gerbang, ada sebuah rumah bernuansa klasik yang pernah ia datangi beberapa hari lalu.

Ia ragu dengan keputusannya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Uang asuransi orang tuanya mungkin hanya cukup untuk beberapa bulan saja dan ia harus hidup lebih dari bulan-bulan itu, jadi ia disini sekarang, di depan gerbang dari rumah yang berjuluk 'Angelos'

.

.

.

Taerin segera berlari dari dalam rumah ketika pelayan memberitahukan kalau Jaejoong datang kembali. Wanita tengah baya yang terlihat belia itu mengangkat gaun hijau panjangnya, menghampiri Jaejoong yang sedang duduk di ruang tamu.

"Jaejoongie.." Panggil Taerin dengan senyum lebar di wajahnya, memeluk pria yang lebih kecil darinya.

"Aku merindukanmu" Taerin memeluk Jaejoong dengan kuat hingga membuat sesak.

"Uhuk..uhuk" Baru setelah suara batuk terdengar, Taerin melepaskan Jaejoong.

"Mianhae.." Kata Taerin agak bersalah.

Jaejoong menggeleng lalu tersenyum. Ia menggigit bibirnya—kebiasaan jika ia sedang gugup. Taerin melihat itu, terlebih saat tangan Jaejoong saling meremat.

"Ada apa?" Tanya Taerin bingung.

"Eum, Ahjumma..a-aku.."

Taerin mengangkat alisnya, "Katakan, Jaejoongie"

"A-aku butuh pekerjaan" Jawab Jaejoong membuat Taerin tercengung.

"Apa?"

"Kedua orang tuaku meninggal tiga hari yang lalu, dan aku butuh pekerjaan juga.." Jaejoong menunduk, tak berani melihat Taerin yang sedang mendengarkannya.

"Aku butuh tempat tinggal" Lanjutnya semakin menunduk.

Taerin tersenyum, 'Aku tahu' Katanya dalam hati, lalu ekspresi wajahnya terlihat penuh penyesalan.

"Mianhae. Aku turut berduka cita atas meninggalnya orang tuamu..tapi untuk mempekerjakanmu disini aku tak bisa" Taerin berekspresi sesedih mungkin. Jaejoong melemas, rasanya ia ingin menangis.

Taerin yang melihat mata Jaejoong berair, segera memegang bahu anak itu.

"Pelayan di rumah ini cukup banyak, Jaejoongie. Dan aku tidak tega menjadikanmu sebagai pelayan" Kata Taerin. Jaejoong mengangguk, ia tidak bisa memaksa karena ia memang tak harus berada disini. Kejadian tiga hari lalupun hanya kebetulan. Ia tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Jung.

Jaejoong berdiri, mencoba untuk pamit. Ia tidak mau mempermalukan dirinya lebih dari ini.

"Tak apa, Ahjumma. Aku mengerti" Kata Jaejoong sambil tersenyum lemah.

"Tapi aku punya satu pekerjaan untukmu" Potong Taerin sebelum Jaejoong pergi. Pria manis itu segera melihat Taerin lagi.

"Menjadi perawat anakku yang sakit" Sambung Taerin. Jaejoong mengangkat alisnya, anak yang mana?

Taerin tersenyum lalu memberikan pandangan yakin pada Jaejoong.

.

.

.

Yunho menggoreskan pensil gambar keatas kanvas, membuat sebuah pola lukisannya yang baru. Mata musangnya melihat kedalam sketsa yang ia buat, terlihat serius mengamati tiap lekukan yang tergambar di sana. Kali ini ia akan menggambar seorang malaikat yang bermain harpa.

Tok..tok..tok

Yunho terdiam, menoleh kearah pintu kamar yang ada dibelakangnya. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak.

"Yunho, ini Omoni" Suara Taerin terdengar dari luar kamar.

Yunho meletakkan pensilnya begitu saja keatas meja, lalu bangun dari duduknya dengan bantuan tongkat.

Ceklek..

Mata coklat Yunho bertemu pandang dengan mata hitam milik Jaejoong, lalu segera beralih pada sang ibu.

"Yunho, kenalkan. Dia Kim Jaejoong, perawatmu yang baru" Kata Taerin sambil mengambil tangan Jaejoong untuk meminta jabatan tangan.

Yunho terdiam, menatap tangan yang masih terselip cincin pemberiannya.

"Yunho" Yunho menjabat tangan Jaejoong, membuat Jaejoong merasakan tangannya seperti tersengat listrik namun tak menyakitkan.

"Jaejoongie, Yunho adalah anakku yang kedua" Kata Taerin memperkenalkan, Jaejoong mengangguk.

"Nah, sekarang kalian akrabkan diri dulu. Bye" Lanjut Taerin yang langsung pergi.

Yunho membalikkan tubuhnya, lalu berjalan pelan kearah tempat duduknya. Ia kembali melakukan kegiatan sebelumnya.

Jaejoong memperhatikan cara berjalan Yunho. Bunyi ketukan terdengar ketika tongkat yang Yunho pakai beradu dengan lantai. Ternyata ia tidak bisa berjalan dengan baik, pikir Jaejoong.

Yunho sangat serius di tempatnya, mengabaikan Jaejoong yang tak tahu harus melakukan apa.

"Siapa namamu?" Tanya Yunho, sambil tangannya tak berhenti menari di atas kanvas.

Jaejoong menelan ludahnya, suara Yunho terdengar dingin, membuatnya agak gugup. Ia melihat tubuh belakang Yunho yang tegap.

"Ki-kim Jaejoong" Jawabnya. Untuk beberapa lama suara Yunho tak terdengar.

Jaejoong merasa canggung berada disini—yang ia tahu adalah kamar Yunho. Kamar itu lebih sempit dari kamar yang pernah ia tempati di rumah itu, dan lagi itu lebih pantas di sebut gudang daripada sebuah kamar.

Terdapat 1 tempat tidur yang tidak terlalu besar, di ujung sebelah kanan terdapat meja yang di penuhi oleh buku-buku dan majalah, serta di sudut kiri terdapat lemari dua pintu yang lumayan besar.

Sekarang di tengah kamar itu terpasang sebuah meja kanvas. Jaejoong maju sedikit untuk melihat apa yang sedang Yunho lukis.

Malaikat lagi? Jaejoong bingung kenapa semua yang ada di rumah ini berhubungan dengan malaikat.

"Sampai kapan kau akan berdiri di situ?" Tanya Yunho mengagetkan Jaejoong.

"A-ah itu, eum.." Jaejoong tergagap, "Panggil aku Yunho" Sambung Yunho yang tahu kalau Jaejoong bingung harus memanggil apa.

"Yu-yunho sshi, anda perlu sesuatu?" Tanya Jaejoong yang sudah berdiri di samping Yunho.

Yunho sama sekali tidak menghentikan kegiatannya, lalu melirik Jaejoong.

"Duduk disana" Perintah Yunho dengan matanya. Jaejoong berjalan kearah tempat tidur, lalu duduk di sana, mengamati tuannya yang sedang asik melukis.

Mereka terdiam selama waktu tersisa, dengan Jaejoong yang mengitari isi ruangan dengan matanya. Tanpa di ketahui pria itu, Yunho menatapnya penuh kekaguman.

Malaikatku~

.

.

.

Yunho menyelesaikan sketsa yang ia buat ketika hari menjelang siang, menoleh ke tempat dimana Jaejoong duduk beberapa jam lalu. Manik mata musangnya melihat Jaejoong sedang tertidur di atas tempat tidurnya, menyamping dengan kaki yang menjuntai ke lantai.

Yunho berdiri lalu berjalan dengan bantuan tongkatnya, menghampiri Jaejoong yang tak bergerak. Ia duduk di samping tubuh Jaejoong, mencondongkan tubuhnya kearah pria manis itu. Ia tersenyum perlahan, melihat wajah terlelap Jaejoong yang begitu menawan. Ia telah menunggu ini cukup lama, menunggu hingga Jaejoong benar-benar menjadi pria berusia 16 tahun.

"Aku tak akan melepaskanmu, malaikatku" Kata Yunho terdengar egois. Ia sudah mendapatkan takdirnya, ternyata cupid cinta itu selalu bisa di andalkan.

.

.

.

Jinwoon dan Taerin sedang bergelut siang itu, pindah secara cepat dari tempat tidur, sofa hingga permadani di atas lantai. Keduanya saling mencium, menjilat dan mengecup, tak peduli jika kegiatan mereka membuat sang anak bungsu mengeluh di luar kamar.

"Aboji, Omoni, sampai kapan kalian akan seperti kucing begitu?" Tanya Changmin sebal, menyandarkan tubuh pada pintu. Ia sudah berdiri sejak 5 menit yang lalu.

Brak..

"Kau berisik sekali, Jung Changmin!" Desis Taerin. Ia sudah memenuhi panggilan anaknya yang begitu cerewet, tak menyangka jika Jung mempunyai keturunan seperti Changmin.

Changmin menatap datar pada sang ibu yang sedang membenarkan gaun kamarnya.

"Apa kau tidak ingat kalau masih mempunyai anak bernama Jung Yoochun?" Tanya Changmin malas. Taerin memutar bola matanya, merapihkan rambut lalu menggeser tubuh Changmin agak menjauh dari pintu kamar.

"Memang dia kenapa? Bukankah dia sedang bersenang-senang dengan banyak wanita?" Taerin sangat tahu kebiasaan putra ketiganya itu.

"Kau tahu, dia sangat depresi setelah di tinggal oleh Junsu Hyung, jadi sekarang ia mabuk di kedai orang" Jawab Changmin serius. Ia sebal karena beberapa kali telepon berdering dan maid bilang itu dari sebuah kedai pinggir kota, apalagi kalau bukan melaporkan tentang kebodohan Hyungnya itu.

"Ckck, anak itu. Dari luar saja ia sok kuat, padahal ia sama seperti manusia-manusia di luar sana" Kata Taerin mencibir. Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan Changmin yang hanya bisa mendengus.

.

.

.

Jaejoong mengerjapkan matanya berulang kali, menyesuaikan dengan lampu yang temaram. Ia bangun perlahan dari tidurnya, mengusap wajah lalu melihat ke sekitar. Lagi, ia mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar seperti beberapa hari lalu.

Jaejoong menghela nafas, lalu ketika ingat sesuatu, tubuhnya kembali tegak.

"Omona, aku kan sedang bekerja" Jaejoong segera bangun dari duduknya, merapihkan rambut juga pakaiannya, lalu berjalan tergesa keluar kamar.

Ketika keluar dari kamar, matanya di suguhkan oleh beberapa pelayan yang sedang berlalu lalang, membawa beberapa nampan berisi makanan dan buah-buahan.

Jaejoong melewati banyak pelayan yang bekerja sesuai jalur—terlihat seperti robot yang sudah tahu pekerjaannya.

Ia berjalan lurus, menemukan sebuah ruangan yang cukup besar, yang didalamnya ada 2 buah pendingin yang cukup besar, meja pecincang daging, lemari pendingin dengan kaca transparan, beberapa buah kompor berwarna silver lalu sebuah meja panjang yang berada di tengah ruangan, yang diatasnya terdapat banyak makanan. Kini ia berada di dalam dapur.

Penghuni utama rumah ini hanya 6 orang yang beberapa diantaranya terlalu sibuk bahkan hanya untuk sekedar makan malam, tapi dapur yang di punya rumah ini seperti dapur yang ada di restoran mewah. Semua itu yang membuat Jaejoong takjub.

Sempat berfikir mungkin saja para maid makan dari masakan yang di masak dirumah ini, tapi saat ia melihat jenis makanan apa yang tersaji di meja panjang dalam ruangan itu, ia jadi tidak yakin.

Jaejoong lahir dalam keluarga yang sederhana, tak pernah makan dengan pilihan yang begitu banyak seperti di rumah ini, dan ia menjadi senang karena itu, meski itu akan mengingatkannya pada kedua orang tuanya.

"Apa yang di lakukan tamu sepertimu di depan pintu dapur?" Jaejoong agak terkejut mendengar itu, ia menoleh, melihat Heechul yang sedang bersandar di tembok samping Jaejoong.

Pria berambut panjang itu sibuk mencium ujung rambutnya yang hitam. Jaejoong tidak tahu kapan Heechul datang, mungkin ia terlalu asik dengan pemikirannya tentang dapur itu.

Heechul melihat pada Jaejoong dengan lekat, mengarahkan manik mata hijaunya pada manik hitam milik Jaejoong. Jaejoong ingin mengalihkan pandangannya dari mata Heechul, tapi warna hijau kelam dari manik mata Heechul membuatnya tak bisa beralih. Heechul mempunyai aura yang indah namun mencekam.

"A-aku hanya melihat saja" Kata Jaejoong gugup.

"Ada banyak tempat di rumah ini yang tidak boleh kau lihat, Jae" Kata Heechul memberitahu. Jaejoong mengangguk.

"Mianhae"

Heechul tersenyum angkuh, di lipat tangannya di depan dada, melihat pada Jaejoong yang terlihat canggung.

"Dan ada banyak tempat atau rahasia di rumah ini yang harus kau tahu, termasuk..."

"Heechul!" Ucapan Heechul terhenti ketika mendengar bentakkan itu dari belakang tubuhnya.

Disana, Taerin menatap murka pada anaknya itu. Di belakang Taerin, ada Hyunwon yang sedang memapah seseorang.

Heechul mengalihkan pandangannya, meski takut tapi ia tidak pernah terlihat gentar.

"Aku harap kau tidak lupa dengan perjanjian kita" Kata Taerin mengingatkan. Ia memang harus waspada pada mulut anak pertamanya yang kurang kontrol itu.

Heechul berdiri tegak, tidak bersandar seperti tadi. Ia lalu tersenyum pada Jaejoong, dan berlalu dari sana.

Seperginya Heechul, Taerin tersenyum pada Jaejoong, "Apa kau lapar, Jaejoongie?" Tanya wanita bersurai hitam itu.

Jaejoong menggeleng, "A-aku tadi ketiduran di kamar Yunho sshi, tapi entah kenapa aku sudah berada di kamarku"

Taerin kembali tersenyum, "Oh tidak apa, Yunho pasti mengerti" Kata Taerin, "Ah iya, Jaejoongie. Tunggulah aku diruang tamu, aku harus mengurus anak ini dulu" Tunjuk Taerin pada Yoochun yang mabuk.

Jaejoong mengangguk, lalu melihat Taerin, Hyunwon dan orang yang tidak ia kenal itu pergi dari hadapannya. Ia segera pergi ke tempat yang Taerin suruh.

.

.

.

Bruk..

Hyunwon menaruh Yoochun keatas ranjang, membiarkan pria tampan itu merapat pada kasur. Taerin melipat kedua tangannya di depan dada, menatap penuh kekesalan pada sang anak.

"Kau liat, Hyunwon ah. Anak ini semakin menjadi"

Hyunwon mengangguk, "Apa tidak sebaiknya anda menyuruh Tuan Junsu agar kembali ke Angelos?" Tanya Hyunwon sopan. Taerin tampak berfikir, lalu berdecak kesal.

"Mereka berdua itu sama-sama keras kepala. Aku pikir hanya Heechul yang menjadi berbeda setelah Hankyung pergi, sekarang giliran Yoochun" Taerin pernah marah saat menantu pertamanya itu memutuskan untuk keluar dari angelos, dan ia melakukannya lagi saat Junsu—Menantu keduanya memutuskan hal yang sama. Tapi mau bagaimana, takdir tidak bisa di ubah. Meski ada pepatah dalam keluarga Jung berbunyi 'Sejauh apapun pergi, anggelos adalah tempat kembali' tetap saja membuat Taerin tak tenang, karena itu ia memutuskan bahwa Jaejoong tidak akan pernah boleh keluar dari angelos.

.

.

.

Jaejoong menunggu lama di ruang tamu, ia berjalan mengelilingi ruangan besar itu, melihat tiap foto yang berjejer pada meja-meja hias yang ada di sudut-sudut ruangan.

Ia melihat ada foto yang berukuran besar menempel di dinding, terdapat foto Jinwoon dan Taerin. Mereka berdua terlihat cocok dengan gaun dan tuxedo berwarna merah. Mereka saling tersenyum, melihat kearah kamera dengan pandangan bahagia. Jaejoong ikut tersenyum melihatnya.

Lalu tepat di bawahnya, diatas sebuah meja dari kayu jati, berjejer figura yang lebih kecil. Ada foto Heechul di sebelah paling kiri, lalu foto Yunho di baris kedua, foto Yoochun dan Changmin di baris berikutnya.

Jaejoong berjalan lebih ke ujung, melihat beberapa figura yang tersisa.

Ia tidak mengenal foto siapa yang ada di dalam figura itu, dua orang pria yang tak berwajah pucat, berbeda dari 6 orang lainnya.

Jaejoong sempat berfikir, tapi segera teralihkan ketika menemukan dua figura yang masih kosong.

"Kenapa.."

"Itu foto orang-orang yang pernah tinggal disini" Taerin memotong ucapan Jaejoong. Pria itu menoleh lalu tersenyum canggung.

"Termasuk dua orang itu?" Jaejoong menunjuk pada dua foto yang menarik perhatiannya.

Taerin tersenyum lalu mengangguk, wanita berwajah belia itu mengambil dua figura yang di tunjuk Jaejoong tadi.

"Yang ini bernama Tan Hankyung, dia merupakan menantu pertama keluarga Jung" Kata Taerin, meletakkan salah satu foto kembali ke meja.

"Menantu? Maksudmu, dia..?" Jaejoong cukup bingung dengan perkataan Taerin.

Taerin mengangguk sambil tersenyum, "Dia adalah suami dari Heechul" Jawaban Taerin itu sukses membuat Jaejoong terbelalak.

Wanita itu bisa menebak jika ekspresi itu yang akan Jaejoong tunjukkan ketika salah satu rahasia keluarga Jung ia ceritakan.

"Keempat anakku akan menikah dengan pria, Jaejoongie"

Kenyataan itu membuat Jaejoong hampir terjatuh.

"La-lalu, kemana Hankyung?" Tanya Jaejoong bingung.

"Dia melanjutkan sekolahnya ke amerika, meninggalkan Heechul yang jauh lebih arogan dari sebelumnya" Jawab Taerin dengan ekspresi kesal.

"Lalu yang ini bernama Kim Junsu" Taerin meletakkan satu figura yang ada di tangannya keatas meja.

"Dia menantu kedua keluarga Jung" Sambung Taerin. Jaejoong cukup terkejut, tidak menyangka jika Yunho sudah menikah.

"...dia istri dari Yoochun"

"Apa?!" Jaejoong hampir memekik. Ternyata tebakkannya salah.

"Kau pasti bingung kan? Sini aku jelaskan" Taerin menuntun Jaejoong kearah sofa lalu duduk disana.

Jaejoong agak merinding saat tangan Taerin yang dingin itu menyentuh tangannya. Ia melihat wanita itu sedang mengusap punggung tangannya dengan lembut.

"Kau pasti bertanya kenapa Junsu menjadi menantu kedua dengan Yoochun sebagai pasangannya, bukan Yunho?"

Jaejoong mengangguk, "Karena Junsu bukan takdir Yunho"

Jaejoong tak mengerti maksud Taerin, ia tak bisa menebak apapun.

"Keluarga Jung berbeda, Jaejoongie. Kami berbeda" Kata Taerin sambil mengusap kepala Jaejoong.

Bruk..

Dalam sekejap, Jaejoong pun jatuh tertidur.

Taerin tersenyum, lalu seorang pelayan menghampirinya, "Bawa dia kekamarnya" Suruh wanita itu. Ia menatap puas pada Jaejoong yang tak bergerak.

"Tidur adalah cara terbaik untukmu melupakan segala kebingungan itu, Jaejoongie" Gumamnya sambil tersenyum.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Hoho ff ini suka-suka lah pokoknya, gak tau jalan ceritanya nyambung atau engga. Buat yang tanya-tanya, ini aku jawab sekalian karena pertanyaan kalian hampir sama ^_^

Q : Kenapa Jae jadi menantu ketiga? Terus yang 1 dan 2 siapa, mereka kemana?

A : iya yah, kan Yunho anak kedua #samaBingung nah di chap ini udah aku jawab, menantu pertama Hankyung, kedua Junsu, mereka pergi dari angelos buat sekolah.

Q : Mereka itu vampire ya?

A : Hehe nanti kayak GGS dong ^^v mereka itu bukan vampire, dari judulnya aja udah jelas,

Tolong support aku ya readerdeul, ini ff fantasi pertamaku karena aku gak terlalu pintar berkhayal tentang hal fantasi begini, aku lebih suka suspence dan sebangsanya. Jadi kalau aku salah jalan tolong di benarkan, tapi pakai kata-kata yang sopan ^_^

Oh iya, Angelos itu nama rumah keluarga Jung yah ^_^