Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 2

Jaejoong sangat benci karena tiap saat ia pasti selalu mendapati dirinya terbangun dari tidur. Kepalanya selalu berkedut sakit. Ia tak tahu—tidak menyadari tentang apa yang telah terjadi, dan ia tidak berniat untuk tahu.

Ia ingat terakhir kali ia bangun, Taerin baru menceritakan tentang menantu-menantu keluarga Jung, tapi kemana mereka berdua? Kenapa meninggalkan pasangan mereka.

Saat masih bingung, sebuah ketukan pintu terdengar, lalu seorang pelayan masuk, membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

"Anda sudah di tunggu di ruang makan, Tuan" Kata pelayan itu. Jaejoong mengangguk.

"Aku akan kesana" Katanya. Pelayan itu membungkuk lagi, lalu keluar dari sana.

Jaejoong menghela nafas, hidupnya benar-benar berubah. Dulu, meskipun keluarganya bukan orang kaya, tapi hidup mereka penuh kebahagiaan. Rumah mereka selalu ramai, bukan seperti rumah ini yang hanya di penuhi oleh banyak pelayan.

.

.

.

Keluarga Jung sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Yunho dan Yoochun yang tidak lagi sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Jinwoon sedang meminum tehnya—kebiasaan sebelum makan, Taerin asik mengamati kuku-kukunya yang bernail-art baru, Changmin sibuk menghitung jumlah makanan dan memilah makanan apa saja yang akan ia makan pertama kali, Heechul asik membelai surai hitamnya yang panjang, Yoochun menopang dagunya dengan tangan dan memasang wajah malas, sedang Yunho terus melihat kearah tangga.

"Mi-mianhae aku lama" Jaejoong datang dengan tergesa-gesa sambil merapihkan kemejanya. Ia mandi kilat barusan karena tubuhnya terasa lengket.

Taerin tersenyum, "Duduklah, Jaejoongie. Kau harum sekali" Puji wanita itu membuat pipi Jaejoong merona.

Jaejoong duduk di tempatnya—disamping Changmin sambil tersenyum, "Annyeong" Sapanya pada Changmin, tapi pria itu mengacuhkannya. Jaejoong tidak tahu kenapa sikap Changmin berubah padahal sebelumnya pria itu ramah padanya.

Yunho menatap Changmin dengan lekat, pria itu duduk di sebrang meja tepat disamping Heechul.

Changmin yang tahu aura Hyungnya berubah, hanya bisa menunduk.

'Dia malaikatku!' Kecamnya dalam hati.

"Ayo kita makan" Kata Taerin dengan riang. Ketujuh orang yang ada disana memulai kegiatan makan mereka.

Jaejoong selalu bersemangat dalam hal itu karena perutnya sudah bergendang dari tadi. Saat ingin mengambil ayam goreng yang agak jauh, sebuah piring tersodor kearahnya.

Ia mendongak, melihat Yunho yang menunjuk piringnya. Jaejoong paham lalu mengambil nasi serta lauk yang Yunho ingin. Kelima orang lainnya hanya memandang kearah mereka sambil tersenyum kecuali Heechul dan Yoochun—yang belum pulih betul dari mabuknya.

"Mulai besok, kursi Jaejoong akan pindah kesamping Yunho" Kata Jinwoon sambil tersenyum, Jaejoong ingin bertanya tapi pekikan Taerin terdengar.

"Itu ide yang bagus" Serunya menyetujui. Jaejoong hanya diam tak mengerti.

.

.

.

Mereka telah selesai makan, Yunho berniat bangun dari duduknya, berpegangan pada tongkat yang biasa ia pakai, meski agak kesusahan.

Jaejoong yang melihat itu sengaja memutari meja makan agar bisa menolong Yunho. Ia menyampirkan tangan Yunho pada pundaknya, menahan tubuh itu supaya bisa berdiri, lalu mengambil tongkat Yunho dan memberikannya agar Yunho tidak terjatuh.

Jaejoong terus membantu Yunho untuk keluar dari ruang makan, membuat Taerin tersenyum dengan puas.

"Sepertinya mereka akan lebih cepat dari yang kita bayangkan" Katanya senang. Changmin mendengus.

"Yunho Hyung itu terlalu posesif, aku tak ingin mati muda karena sayap-sayapku di patahkan olehnya" Kata Changmin, "Baru aku duduk disampingnya saja dia telah mengancamku dengan tatapannya"

Jinwoon tertawa, "Kau bisa pergi ke klinik jika sayapmu patah" Candanya.

Srett..

Terdengar derit kursi yang berasal dari Yoochun, tanpa berkata apapun ia meninggalkan ruang makan.

"Apa anak itu masih patah hati?" Tanya Jinwoon pada Taerin, menunjuk Yoochun dengan matanya.

"Dia hanya bisa di sembuhkan oleh Junsu, Aboji" Jawab Heechul santai. Ia juga berdiri lalu pergi dari sana.

"Haahh, sepertinya hanya aku saja yang aman" Kata Changmin sambil menyeringai.

Plok..

Taerin memukul kepala Changmin, "Suruh malaikatmu cepat besar agar otakmu bisa di perbaiki" Kata Taerin.

"Yah, masih 5 tahun lagi" Sambung Changmin cuek.

.

.

.

Jaejoong ingin menuntun Yunho kekamarnya, tapi pria itu sedang ingin berada di taman, menikmati angin malam yang cukup dingin.

Mereka duduk di bangku taman yang ada di belakang rumah, saling berdampingan dan terdiam. Jaejoong menghitung jumlah bintang di langit, sedang Yunho hanya menatap lurus, tepat ke papan target panah Changmin.

"Yunho Sshi, berapa usia anda?" Tanya Jaejoong memulai pembicaraan.

Yunho tidak bergeming, "26 tahun" Jawabnya singkat. Jaejoong hanya mengangguk mendengarnya.

"Kenapa anda belum menikah seperti Heechul Sshi dan Yoochun sshi?" Tanya Jaejoong lebih pribadi.

'Apa Omoni sudah cerita?' Tanya Yunho dalam hati.

Yunho menoleh pada Jaejoong dan menatapnya lekat. Jaejoong yang dilihat begitu menjadi takut, ia pasti sudah menyinggung.

"Memang siapa yang mau dengan lelaki cacat sepertiku?" Tanya Yunho berlebihan.

Jaejoong merasa tidak enak, ia lalu menggeleng, "Mianhae"

"Aku sedang menunggu seseorang, yang akan aku miliki selamanya" Kata Yunho yang terdengar untuk dirinya sendiri.

Jaejoong mengangguk, orang itu pasti sangat beruntung. Meski terlihat kaku, Yunho memiliki pesona yang tidak bisa di tolak. Sama seperti Heechul, mata Yunho mempunyai daya tarik yang membuat orang lain terpesona dan tidak ingin berpaling.

Meski terlihat rapuh, tapi tubuh Yunho begitu tegap, sama seperti ayahnya, Jung Jinwoon.

"Aku dengar, orang tuamu baru meninggal?" Tanya Yunho membuat Jaejoong menoleh.

"Iya"

"Aku turut berduka cita" Kata Yunho.

Ia sebenarnya tahu semua itu, karena dulu hal itu terjadi pada orang tua Hankyung dan Junsu. Tapi Yunho diam karena itu harus menjadi sebuah rahasia.

.

.

.

Yoochun mendapat surat merpati dari sang istri—Junsu. Pagi itu ia tampak tak bersemangat, kepalanya masih saja sakit. Tapi ketika mendapat surat itu, wajahnya berubah cerah seketika.

'Chunnie, aku akan pulang besok. Tunggu dan sambutlah aku'

"Junsu, malaikatku" Gumamnya sambil tersenyum.

.

.

.

Yoochun baru selesai mandi, ia terus bersiul selama kegiatannya. Wajahnya tak lagi murung seperti hari-hari kemarin. Kepergian Junsu setengah tahun lalu membuatnya kehilangan semangat. Ia bahkan jarang pulang ke Angelos karena akan selalu teringat pada istrinya itu. Ia selalu merasa bau Junsu tertinggal di kamar mereka dan membuat ia semakin merindukan pria manis itu.

Tapi sekarang, setelah surat yang datang dari merpati yang menabrak jendelanya tadi pagi, ia merasa hidupnya bangkit kembali.

"Fufufu..fufu"

Changmin berdecak kesal ketika anak panahnya tidak tepat sasaran, padahal ia sudah membidiknya sejak lama dan hal itu terjadi hanya karena siulan yang cukup keras. Memanah memerlukan konsentrasi yang banyak, dan Changmin membenci jika ada yang mengganggu konsentrasinya.

Ia hampir mengumpat ketika melihat siapa yang lewat tepat di depannya, dengan santai, wajah yang bersinar dan wangi yang menyerbak ke seluruh taman.

Yoochun yang seperti itu membuat Changmin memasang ekspresi datar.

"Hei, Hyung. Kedatanganmu membuat bunga-bunga itu layu" Sindir Changmin menghampiri Yoochun yang sedang menyentuh bunga-bunga peliharaan sang ibu.

Yoochun tak menjawab, hanya mengeluarkan senyum menawan yang bisa menjerat kucing-kucing di luar sana.

"Dia sedang bahagia" Ucap Heechul yang sudah duduk di bangku taman, mengelus kucing persia miliknya. Pria itu memakai kemeja berwarna hitam, dan juga celana tidur miliknya. Heechul selalu tampak berbeda dengan pakaiannya, tapi rambut hitam sebahunya selalu rapih dan wangi.

Yoochun dan Changmin menoleh kearah Heechul, merasa heran kapan kakak tertua mereka berada di situ.

"Kau bahagia karena malaikatmu akan datang, iya kan?" Tanya Heechul yang sudah berdiri di depan kedua adiknya.

Changmin melihat pada Yoochun, "Benarkah? Junsu Hyung akan pulang?"

Yoochun tersenyum, tak ada yang membuatnya ingin hidup kecuali Junsu. Ia meninggalkan kedua saudaranya, berjalan sambil bersiul kembali.

"Ckck, membuatku iri saja" Cibir Changmin. Heechul menepuk dada adik bungsunya itu.

"Kau dan malaikatmu harus cepat besar, tunggulah 5 tahun lagi" Katanya lalu pergi meninggalkan Changmin yang menggerutu sebal.

.

.

.

Jaejoong baru selesai mandi. Ia sedang membereskan pakaian yang masih berada di dalam koper, tak sengaja menjatuhkan ponsel miliknya. Ia baru ingat kalau masih mempunyai benda mungil itu. Ia menyalakan ponselnya, berniat menghubungi sahabatnya, Kibum.

Jaejoong menggerutu sebal ketika ponselnya tak mendapat sinyal, ia memutar tubuh berharap sinyal datang kedalam ponselnya.

"Aish, kenapa di rumah ini tak ada sinyal?"

Ia pun baru ingat kalau belum mengabari bibi Choi dan teman-teman sekolahnya kalau ia pindah kerumah itu.

Ia berniat ijin keluar untuk menemui teman-temannya agar mereka semua tidak khawatir. Ia akan minta ijin setelah sarapan.

.

.

.

Jaejoong mengetuk pintu kamar Yunho, tak begitu lama pintu jati itu terbuka, menampilkan sosok Yunho yang sudah rapih dengan baju santainya.

"Mari saya bantu, Yunho sshi" Jaejoong segera mengapit tangan pria tampan itu, memapahnya berjalan menuju ruang makan.

Didalam ruang makan semua orang sudah menunggu. Taerin tersenyum melihat putranya dekat dengan Jaejoong.

Seperti usul Taerin, Jaejoong duduk disamping Yunho, menggeser Heechul yang tidak protes.

"Hei, kalian tidak berniat mengenalkanku pada pria manis disana?" Tanya Yoochun dengan kecewa. Ia lalu berjalan menghampiri Jaejoong.

"Kenalkan, aku Jung Yoochun. Pria tampan dan mempesona dari keluarga Jung" Kata Yoochun sambil mengulurkan tangannya. Jaejoong tersenyum lalu menyambut tangan Yoochun.

"Kim Jaejoong"

Yoochun melihat pada Yunho yang meliriknya tajam. Ia mengerti dan segera melepaskan tangan Jaejoong.

"Wow, aura disini mencekam sekali" Kata Yoochun, menjauhkan diri untuk kembali ke tempat duduknya.

"Hahahaha" Changmin tertawa, "Aku saja yang tidak melakukan apa-apa hampir terbunuh" Kata Changmin berlebihan.

Jaejoong yang tidak mengerti hanya diam, lalu ia ingat tentang rencananya.

"Mianhae, Jung Ahjumma. Nanti setelah sarapan, aku minta ijin untuk keluar menemui teman-teman dan tetanggaku, aku takut mereka khawatir" Kata Jaejoong membuat semua orang terkejut.

"Apa?" Taerin begitu terkejut mendengarnya.

"Kenapa?" Jaejoong bingung dengan wajah orang-orang itu. Memang apa yang mengejutkan dari perkataannya tadi.

"Tidak bisa, Jae" Jawab Taerin, "Kau tak boleh pergi"

"Ta-tapi, aku hanya sebentar" Wajah Taerin jauh dari senyuman.

Jinwoon mulai mengeluarkan suaranya, "Tapi Jae, hari ini Angelos akan kedatangan seseorang"

"Aku hanya sebentar, Ahjussi" Jaejoong ingin sekali menangis.

Srek!

Kursi Yunho terdorong kebelakang, nafsu makan pria itu hilang dengan cepat. Ia berjalan dengan tongkatnya meninggalkan ruang makan itu.

Semua orang disana tahu jika Yunho marah, kecuali Jaejoong.

"Kau tak boleh pergi, Jaejoongie. Tidak akan pernah" Taerin bangun dari duduknya, pergi menyusul Yunho.

Jaejoong tidak mengerti, apa salahnya? Kenapa ia tidak boleh pergi?

.

.

.

Taerin berhasil mengejar Yunho yang belum menjauh, mengajak putra keduanya itu menuju ke perpustakaan.

"Jaejoong tak akan bisa pergi, Omoni! Aku tak mengijinkan malaikatku pergi, tidak akan!" Yunho melempar tongkatnya kelantai.

Taerin paham, ini juga yang di lakukan Heechul ketika Hankyung memaksa pergi dulu.

"Aku tahu, tapi dia akan lebih cepat tahu jika kita menahannya begini" Kata Taerin. Yunho tak peduli lalu berjalan agak pincang kearah sofa.

"Memang kenapa jika dia tahu? Toh dia akan tetap menjadi pengantinku" Kata Yunho.

"Usianya belum 17 tahun!" Taerin agak bersikeras agar Yunho mengerti.

Yunho menutupi wajahnya, "Terserah Omoni" Kata Yunho pasrah.

Taerin terdiam, satu ide melintas di otaknya.

Tok..tok..tok..

Hyunwon berdiri di depan pintu perpustakaan. Ia membenarkan letak selendang di bahunya sambil membungkuk hormat. Pria tinggi itu selalu tahu saat ia di butuhkan.

"Aku tahu kau bisa mengerjakan pekerjaanmu dengan baik, Hyunwon ah"

Hyunwon tersenyum, "Terima kasih sudah menyanjungku, Nyonya"

.

.

.

Jaejoong takut keluar dari kamarnya. Ia baru melihat wajah marah Taerin, padahal wanita itu selalu tersenyum padanya. Ia juga tidak berani bertatap muka dengan yang lainnya karena merasa tak enak. Tapi, sampai sekarang ia tak tahu apa salahnya.

Ia hanya ingin menemui orang-orang yang dekat dengannya, memang akan kemana ia kalau tak kembali ke rumah ini. Rumah kontrakannya sudah di tempati oleh orang lain karena ia tak punya uang sewa, bahkan ia berhenti sekolah karena kematian orang tuanya. Ia sendiri di dunia ini, ia tak akan tega meminta kepada nenek Choi atau sahabatnya, Kibum. Ia tidak ingin merepotkan orang lain, itu yang di ajarkan oleh orang tuanya.

.

.

.

Seorang pria berkacamata hitam, kaos putih, celana jeans dengan kemeja motif kotak yang di ikat di pinggangnya, berjalan di jalan setapak sambil menyeret kopernya. Ia melewati pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang. Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya menemukan tempat yang di tujunya, mana lagi kalau bukan Angelos.

"Welcome back, Junsu" Gumamnya sambil tersenyum.

.

.

.

Yoochun sedang meminum wine di mini bar yang ada di dalam kamarnya, meminum dengan perlahan hingga habis setengah gelas, lalu di letakkannya gelas itu ke atas meja kaca di depannya. Ia lalu tersenyum, melihat kearah lemari kaca tempat penyimpanan wine yang ada di depannya. Wajah tampannya terbayang di kaca itu membuat senyumnya semakin mengembang.

"Malaikatku telah kembali"

.

.

.

Junsu agak bingung saat tak ada yang menyambutnya di depan gerbang, karena biasanya Hyunwon akan selalu ada di depan saat ada yang datang.

Junsu menekan bell rumah, lalu tak lama seorang pelayan membukakan pintu dan menyambutnya.

"Selamat datang, Tuan" Kata pelayan itu sopan. Junsu melepas kacamata hitamnya. Pria berambut blonde itu tersenyum.

"Junsu-ya~" Teriak Taerin dari dalam rumah. Ia selalu bersemangat saat menantunya datang ke Angelos. Ia memeluk Junsu erat membuat pria itu sesak.

"Aku kira kau melupakan rumah" Kata Taerin setelah melepas pelukannya.

Junsu tersenyum lalu menunjukkan jari manis tangan kanannya, "Aku masih memakainya, Umma"

Cincin di jari Junsu akan selalu membuatnya kembali ke Angelos.

Taerin tersenyum puas, "Haha, kau benar"

"Oh iya, mana Chunnie? Apa surat merpatiku sampai?" Tanya Junsu sambil melihat sekitarnya.

"Kau harus tahu bagaimana Angel mu itu menjadi gila tanpamu" Cibir Taerin kesal. Ia benci dengan kebiasaan mabuk Yoochun setelah Junsu pergi.

Junsu memasang wajah bersalah, "Aku tahu, Umma. Maka itu saat libur aku pulang kesini"

"Jja, temuilah Angel mu di kamar" Kata Taerin sambil memukul punggung menantunya.

Junsu mengangguk, lalu menyeret kopernya kearah tangga rumah yang bercabang dua.

Taerin menepuk tangannya, ia selalu senang saat menantunya pulang. Ia merapihkan rambut dan gaun kuningnya lalu pergi dari ruang depan.

.

.

.

Junsu sudah mengetuk pintu kamar Yoochun berulang kali tapi tidak ada yang membukakan pintu. Ia heran, tadi mertuanya tidak bilang kalau Yoochun sedang pergi, tapi kenapa tidak ada tanda-tanda dari dalam.

Ceklek..

Ah bodohnya ia, kenapa tidak mencoba membuka pintu sejak tadi, ternyata pintu tak terkunci.

Junsu masuk kedalam kamar, berjalan dengan langkah pelan karena takut terjatuh. Lampu kamar tidak menyala dan ia hanya melihat gelap di sekitarnya.

"Chu-chunnie.."

"Kau dimana?" Junsu terus berjalan, sambil terus memanggil Yoochun. Tapi tak ada sahutan atau pergerakan apapun kecuali langkahnya sendiri.

Dukk..

Junsu menabrak sesuatu, seingatnya dulu tidak ada apapun di sepanjang jalan lurus dari arah pintu kamar. Ternyata kepergiaannya selama 6 bulan membuat ingatannya tentang kamar berkurang.

"Kau dimana, Chunnie? Aku datang" Suara Junsu bergetar, kenapa Yoochun tak menyambutnya? Apa pria itu marah padanya?

Grepp..

"Malaikatku harum" Junsu hampir memukul orang yang memeluknya dari belakang, namun ia tersenyum setelah mendengar suara itu. Ia memegang tangan Yoochun yang melingkar di pinggangnya, ia menoleh, menemukan wajah tersenyum suaminya.

"A-aku pulang" Bisik Junsu sambil tersenyum.

.

.

.

Hari sudah beranjak malam, Jaejoong menghabiskan sisa siangnya di dalam kamar dan ia sekarang tidak berani untuk keluar. Pelayan sudah mengetuk pintunya berulang kali, tapi ia mengunci pintu itu dari dalam. Hingga suara Taerin terdengar dari luar kamar.

"Jaejoongie, sudah waktunya makan malam" Kata Taerin dengan suara biasa. Jaejoong ragu, tapi ia tetap berjalan kearah pintu, membukanya hingga menampilkan wajah tersenyum wanita cantik itu.

"Apa kau sakit?" Tanya Taerin khawatir. Ia tahu Jaejoong ketakutan, tapi ia tidak benar-benar marah tadi pagi. Ia hanya terkejut dan sangat takut karena permintaan wajar Jaejoong itu.

Jaejoong menggeleng, mengigit bibirnya hingga merah, "Ma-maafkan aku, Ahjumma"

Taerin tersenyum lalu mengusap kepala Jaejoong lembut, "Aku hanya terkejut, aku tidak marah"

"Tapi, permintaanku hal yang wajar, Ahjumma. Aku tidak berniat pergi dari sini, aku hanya ingin menemui teman-temanku" Kata Jaejoong sedih.

Taerin mengerti. Semua yang Jaejoong katakan adalah benar, tapi keluar setelah dinyatakan sebagai calon menantu Jung sangat tidak di anjurkan. Mungkin Hankyung dan Junsu terkecuali, tapi Jaejoong, Taerin tidak ingin mengambil resiko. Jaejoong jauh lebih berharga dari kedua menantunya yang lain.

"Aku tahu, nanti kita bicarakan ini lagi. Sekarang waktunya makan malam, kita kedatangan seseorang" Kata Taerin. Jaejoong bingung, siapa yang datang?

.

.

.

Jaejoong masuk kedalam ruang makan bersama Taerin. Semua mata tertuju pada pria manis itu. Jaejoong menunduk, lalu berjalan kearah tempat duduknya.

"Sekarang semuanya telah berkumpul. Mungkin untuk kita semua sudah tahu siapa yang datang hari ini, tapi tidak bagi Jaejoong" Kata Jinwoon memulai. Mereka senang berbicara apapun di awal acara makan keluarga seperti ini, karena mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing dan sangat jarang berkumpul.

Jaejoong mendongak, ia melihat seseorang yang duduk di samping Yoochun, dan ia baru menyadarinya.

"Namanya Kim Junsu, istri dari Yoochun" Lanjut Jinwoon. Jaejoong terpaku, ternyata ini yang namanya Junsu? Pikirnya dalam hati.

"Hai!" Junsu melambai pada Jaejoong dengan semangat. Ia sudah mendengar tentang Jaejoong dari ayah mertuanya.

Jaejoong tersenyum. Junsu begitu ceria, wajahnya begitu manis dan sama persis dengan di foto. Tapi Jaejoong bisa merasakan tak ada aura yang berbeda dari pria itu, berbeda dengan keenam orang lainnya yang berada disana.

"Dia manis ya, Yunho Hyung?" Tanya Junsu pada Yunho. Yunho melirik Junsu, meminta adik iparnya itu diam. Junsu bingung tapi Yoochun langsung membisikkan sesuatu dan ia tersenyum menyesal.

"Mianhae" Junsu membentuk tanda V dengan jarinya. Ia hampir lupa dengan ketentuan keluarga Jung.

"Baiklah, sekarang kita mulai makan" Kata Jinwoon akhirnya. Mereka berdelapan makan dalam ketenangan.

.

.

.

Setelah selesai makan, Junsu menyeret Jaejoong keluar terlebih dulu, ia ingin lebih dekat dengan calon iparnya itu.

Mereka pergi ke taman, karena hanya tempat itu yang tidak banyak di lewati orang. Taman itu begitu luas hingga jika ingin bermain bola, tempat itu adalah tempat yang pas.

Tepat di tengah taman itu terdapat dua papan berbentuk tubuh manusia yang merupakan target panah Changmin. Jauh lebih kebelakang, berderet bunga-bunga berbagai jenis dan warna yang melingkari taman itu. Dan di ujung sebelah kanan taman, terdapat kursi untuk bersantai. Junsu mengajak Jaejoong duduk di sana. Jaejoong awalnya tampak ragu karena ia baru mengenal Junsu. Tapi pria berwajah imut itu sangat ramah dan ceria.

"Siapa namamu?" Tanya Junsu pada Jaejoong.

"Kim Jaejoong"

Junsu tersenyum, "Berapa umurmu?"

"16 tahun"

Senyum Junsu makin mengembang. Usia Jaejoong sama sepertinya ketika datang ke rumah ini. Saat itu, 5 tahun lalu, Junsu tersesat di sebuah hutan, ketika bingung harus kemana, tiba-tiba ia sudah berada di depan gerbang Angelos.

"Apa kau betah di rumah ini, Jae?" Tanya Junsu lagi. Jaejoong terdiam, bingung harus menjawab apa. Junsu tahu, pertanyaan itu pula yang dulu sempat di tanyakan hatinya.

Ia seperti melihat bayangan masa lalu saat melihat Jaejoong. Ia dulu yang masih berusia 16 tahun, terpaksa harus tinggal di Angelos. Ia pernah di ijinkan pergi, tapi saat rumahnya terbakar hingga membuat orang tuanya meninggal, ia tidak punya pilihan kecuali kembali kerumah mewah ini.

Ia sudah di tandai, dan terpaksa harus menjalani hidup di rumah yang penuh kesepian ini.

"Keluarga Jung begitu baik, Jae. Mereka menyayangi ku seperti keluarga mereka. Meski awalnya penuh dengan keterpaksaan, tapi seiring waktu berjalan kau akan merasa nyaman" Jelas Junsu memberi nasehat.

Jaejoong menatap Junsu, seperti ingin bertanya, "Aku ingin menemui teman-temanku, tapi mereka tidak mengijinkannya" Adu Jaejoong hampir menangis.

"Mereka hanya takut kau pergi"

"Tapi aku hanya sebentar, aku tak berniat pergi dari sini" Tambah Jaejoong penuh emosi.

Junsu tersenyum, "Mungkin aku bisa meminta ijin pada mereka agar membiarkanmu pergi, tapi dengan satu syarat"

"Apa?"

"Aku harus ikut denganmu" Lanjut Junsu membuat Jaejoong terdiam.

.

.

T

B

C

.

.

Junsu telah tiba ^_^ tinggal lakinya si Heechul yah~

Apakah kedatangan Junsu akan membawa angin segar? Iya bagi Yoochun. Hoho.

Review chapter 1 kemarin lumayan banyak, aku seneng deh ngetik lanjutannya kalo begini. Hehe.

Ini dia jawaban untuk review chapter sebelumnya ^^

Nabratz : iya mereka angel. Ini udah update.

Lipminnie : iya, jahat yak hiks

SexYJae : nanti dia bakal tau kok, doain aja biar jj gak demo (?)

Everadit : annyeong ^^ mirip yah? Hehe

Summer cassie : konflik bakal ada setelah Jj tahu tentang semuanya ^^

YunJae24 : hi, silahkan. Makasih.

Akiramia44 : di chapter ini dapet pencerahan gak? Nanti bakal terungkap semuanya kok.

MaxMin : iya, tiap dia pengen tahu langsung deh dibuat teler :D habis dia kepo sih :-P

Mimi2608 : iya, keren kan? Biar Yunho gak jadi perfect terus. Haha. 17 tahun? Nanti Yunhonya ketuaan.

Zheyra sky : Changmin kan msh muda, dia aja masih sekolah. Hehe.

Dea : mereka gak abadi kok, cuma mrk emang bkn manusia.

Clein cassie : dia emang cacat begitu #dibom hehe

Ai rin lee : Iya mereka malaikat, pengen Yunjae cepet nikah atau cepet NC? Hehe

Haruka elf137 : makasih ^^ mereka berdua emang posesif ma jj.

Alby : iya, mereka angel. Mereka bukan jahat, tapi authornya yg jahat :-P

Azahra88 : iya ^^

.96 : ff ini emang bakal Mpreg kok. Yunho gak nunggu selama itu, cuma 5 tahun aja kok, karena itu ketentuan tamu di angelos.

: iya. Yunho emang pincang gitu perannya. Mian. Hehe.

ShinJiWoo920202 : iya mereka malaikat. Kenapa Yunho pincang nanti bakal di kasih tahu kok ^^ iya, Hanchul udah nikah selama itu, kan mereka emang udah tua juga. Buat sejak kapan junsu pergi udah ada di chap ini.

Vic89 : Iya, selamanya ^^

Buat Jongindo, meyfa, Yoon Hyunwoon, Misschokyulate2, Lee Muti, oktavian, Dewi15, ini chapter 2nya sudah tersaji. Review lagi tentang ff ini yah ^_^ makasih.

Ada pertanyaan kalian yang belum ke jawab? Next chap bakal lebih jelas yah. Jj juga bakal tahu semua rahasia di chap-chap selanjutnya. Untuk konflik, mungkin akan muncul di chapter 5 atau 6, atau mungkin lebih. Ff ini InsyaAllah cuma berisi 15 chapter. Gak banyak kan? Kalo bisa sih lebih sedikit, biar gak kayak sinetron :-P

Ff ini updatenya cepet kan? Mood author lagi bagus, next chap juga paling lama update 3-4 hari, tergantung review sih. Hehe