Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 3

Matahari Seoul siang itu begitu menyengat. Jaejoong berjalan mengikuti Junsu yang ada di depannya. Mereka kini sedang melewati pusat kota. Jaejoong cukup bingung karena ia yang mengikuti Junsu padahal ia yang ada urusan. Pria itu selalu bersemangat, padahal udara sedang tidak bersahabat.

Setelah meminta ijin pada Taerin untuk keluar rumah menemani Jaejoong, Junsu keluar setelah berganti pakaian, memakai topi rajut berwarna putih, kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana jeans biru tua. Pria itu selalu menarik perhatian banyak orang dan Jaejoong sangat menyukai aura menyenangkan pria itu.

"Joongie ah, kita naik bus kemana?" Tanya Junsu pada Jaejoong yang berdiri di sampingnya. Mereka telah sampai di depan halte bus.

"Mokpo" Jawab Jaejoong. Junsu tersenyum lalu bus datang menghampiri mereka.

"Ayo naik" Ajak Junsu. Ia menarik tangan Jaejoong.

Di dalam bus itu hanya ada mereka berdua dan seorang pria bertopi hitam yang sedang tertidur.

Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di tempat yang di tuju.

Jaejoong dan Junsu berjalan di sebuah gang menuju perumahan tempat Jaejoong tinggal dulu. Junsu terus bercerita sepanjang perjalanan tentang awal ia memutuskan pergi dari Angelos, dengan tak lupa memotong cerita yang tak perlu dan membicarakan sedikit kebohongan. Ia tidak akan menceritakan apapun yang bisa membuat Jaejoong curiga, itu yang di katakan Taerin padanya.

Jaejoong tiba di depan rumah bibi Choi, ia tampak heran karena tidak ada tanda-tanda wanita itu di rumah, karena biasanya wanita yang hidup sendiri itu berada di perkarangan rumah tiap siang, tapi sekarang, bahkan pintu rumah itu tertutup.

"Kemana Choi Ahjumma?" Gumam Jaejoong mencoba menekan bell. Berulang kali ia menekan tapi tak ada yang membukakan pintu.

"Kau Jaejoong?"

Jaejoong dan Junsu menoleh, seorang pria berdiri di belakang mereka.

Jaejoong menghampiri pria itu, "Iya, apa Choi Ahjumma sedang pergi?" Tanya Jaejoong penasaran.

Pria itu terdiam, ingin bicara tapi pikirannya menolak.

"Choi Ahjumma sudah tidak ada" Kata pria itu dengan ragu.

Jaejoong terdiam, "Maksudmu?"

"Iya, dia meninggal kemarin malam"

"Apa?" Jaejoong terbelalak. Tubuhnya nyaris terjatuh.

"Ia terkena serangan jantung di rumahnya dan tidak tertolong lagi" Jawab pria itu. Ia lalu pamit pergi, meninggalkan Jaejoong yang sangat shock.

Junsu melihat kearah rumah didepannya, lalu memejamkan mata. Ia bisa merasakan aura yang berbeda disana. Dan kesimpulan yang ia tahu, Hyunwon berada disini semalam.

Jaejoong menangis terisak, kenapa semua orang yang ia sayangi pergi begitu cepat? Kedua orang tuanya meninggal karena ayahnya mendapat serangan jantung hingga membuat ia tidak bisa mengendalikan mobil yang di bawa, setidaknya itu yang di katakan dokter dan polisi.

"Hiks Umma, Appa, Choi Ahjumma. Kenapa kalian meninggalkan Joongie? Joongie sendiri sekarang" Jaejoong menangis sambil memukul dadanya yang sesak. Junsu yang melihatnya segera memeluk calon iparnya itu.

"Tenang, Joongie. Kau masih punya aku dan keluarga Jung" Kata Junsu menenangkan. Jaejoong masih terisak dalam pelukan Junsu.

.

.

.

Setelah meredakan tangisnya, kini Jaejoong dan Junsu berada di depan rumah Kibum—sahabat Jaejoong. Tapi lagi-lagi Jaejoong harus kecewa saat orang yang ingin ia temui tidak ada di tempat. Di depan pagar rumah Kibum, terdapat plang berwarna merah dengan tulisan yang menyatakan kalau rumah itu di sita bank karena tidak bisa membayar hutang.

Jaejoong ingin menangis lagi, percuma ia pergi ketempat itu karena tidak bisa menemui siapapun. Ia langsung melihat pada Junsu dengan pandangan kecewa, pria itu hanya tersenyum berusaha menenangkan.

"Kita pulang, Jae" Ajak Junsu.

.

.

.

Taerin tersenyum puas mendengar laporan Hyunwon tentang tugas yang ia selesaikan tadi malam. Memang sedikit kejam tapi itu adalah satu-satunya cara. Jaejoong tidak boleh menceritakan tentang Angelos pada siapapun.

Hyunwon membungkukkan tubuhnya, lalu pergi dari ruang kerja rumah itu.

"Kau benar-benar serius tentang Jaejoong?" Tanya Jinwoon dari sofa samping perapian. Taerin menghampiri sang suami yang sedang membaca buku.

"Tentu saja. Kau kan tahu kalau Hyunwon tak pernah salah, ia selalu bisa di andalkan. Dan juga cupid cinta itu sudah memberitahu kita tentang Jaejoong" Kata Taerin, "Dan lagi, usianya akan menuju 17 tahun dalam 2 bulan. Itu saat yang tepat untuknya menikah dengan Yunho"

"Lalu bagaimana caramu memberitahu Jaejoong tentang semuanya?" Tanya Jinwoon lagi.

Taerin berfikir, "Yang itu belum aku pikirkan. Hehe"

Jinwoon hanya menghela nafas, istrinya itu terlalu bersemangat hingga melupakan hal-hal penting.

.

.

.

Selama di perjalanan Jaejoong tampak begitu murung. Ia hanya menatap jendela bus yang menampilkan jalanan kota. Junsu meliriknya, merasa bersalah karena tidak bisa menceritakan yang sebenarnya.

Ia hanya tidak ingin semua rencana keluarga Jung di ketahui oleh Jaejoong atau siapapun, dan jika itu terjadi maka semuanya akan hancur berantakkan.

'Ini semua adalah takdir kita, Jae. Takdir seorang pengantin Jung' Kata Junsu dalam hati, 'Kau boleh kecewa, boleh menolak, tapi kau tidak bisa melarikan diri. Karena kita telah di tandai'

Jaejoong sekarang merasa hidupnya tidak sebahagia dulu. Dulu ia selalu di kelilingi oleh orang-orang yang ia cintai, tapi sekarang? Dunianya sepi, yang terlihat hanya sebuah tembok tinggi yang menghalangi langkahnya. Kalau sekarang ia tidak tinggal di Angelos, ia pasti akan menderita di luar sana. Ia masih berumur 16 tahun, siapa yang akan menampungnya tanpa imbalan?

"Aku turut berduka cita, Jae" Kata Junsu mulai bersuara. Jaejoong menoleh lalu tersenyum lemah.

"Gomawo"

.

.

.

Jaejoong dan Junsu tiba di Angelos saat sore hari. Hyunwon menyambut mereka dengan senyum seperti biasa. Junsu balas tersenyum, tapi Jaejoong memutuskan untuk masuk terlebih dahulu membuat Junsu bingung.

"Kasihan sekali anak itu, kau membuat hidupnya kesepian"

Hyunwon tersenyum "Aku hanya menjalankan tugas, Tuan. Itulah alasan kenapa aku berada disini" Katanya dengan rasa hormat pada pria di hadapannya itu.

.

.

.

Didalam kamar Jaejoong menangis tersedu-sedu. Ia merasa kesal kepada dirinya. Kenapa orang yang ia cintai satu persatu menghilang? Ia benar-benar sendirian di dunia ini.

"Kau masih punya kami, Jaejoongie" Jaejoong cukup tersentak mendengar suara itu dari belakang. Ia yang berhadapan dengan kepala ranjang tidak tahu jika Taerin dan Junsu sudah berada di kamarnya.

Kenapa ia tidak tahu? Kenapa kedua orang itu bisa masuk? Seingatnya tadi pintu kamar ia kunci.

"Kau tidak menguncinya dengan benar, Jae" Kata Junsu sambil tersenyum.

Taerin maju selangkah, "Aku dengar dari Junsu, tetanggamu yang dulu meninggal?" Tanya Taerin dengan wajah sedih. Jaejoong menunduk, airmata kembali mengalir.

"Tenanglah, Jaejoongie. Kau sudah tinggal dirumah ini. Aku bisa menemanimu selamanya" Kata Taerin. Ia duduk disamping Jaejoong, menerima gelas teh yang di sodorkan Junsu.

"Minumlah teh ini, dia akan membantumu lebih tenang" Lanjut Taerin. Jaejoong mengambil teh itu lalu meminumnya.

Ia meminum teh itu sampai habis, memberikan gelasnya kembali pada Taerin. Ia menunduk, merasakan kantuk yang teramat sangat, lalu kemudian jatuh tertidur.

"Apa Umma terus membuatnya tertidur begitu untuk menenangkannya?" Tanya Junsu. Taerin membersihkan kedua tangannya dengan tisu yang ia bawa, lalu tersenyum.

"Dulu kau pun begitu" Jawab Taerin.

Junsu cemberut, "Lalu berapa lama lagi dia akan dinikahkan dengan Yunho Hyung?"

"Sekitar 2 bulan lagi" Jawab Taerin setelah menghitung jarinya.

Jaejoong dan Yunho harus segera menyatu, sebelum malaikat lain menyadari keberadaan pria itu. Taerin memantapkan hatinya, ia harus melindungi Jaejoong sebelum hari penyatuan.

.

.

.

Yunho baru menyelesaikan lukisan malaikat yang ia mulai beberapa hari lalu. Ia tersenyum, lalu menutupi gambar itu dengan kain. Suatu hari ia akan menunjukkannya pada Jaejoong.

Yunho berdiri dari duduknya, bunyi tongkat terdengar ketika ia berjalan. Yunho membuka tirai jendela kamarnya, saat melukis, ia lebih suka cahaya temaram daripada yang menyilaukan. Ia membuka sebuah diary berwarna merah yang terletak di meja dekat jendela, menuliskan sesuatu disana.

26 november 2013

Masih dua bulan lagi saat yang Yunho tunggu-tunggu, tapi ia sudah tak sabar.

.

.

.

Jaejoong terbangun tengah malam karena tenggorokannya terasa kering. Ia melihat jam meja diatas nakas, tapi merasa heran saat jarum jam itu berhenti di angka 2. Ia mengambil jam itu, lalu memukul-mukulkan dengan tangannya.

"Aish, jam ini rusak" Gerutu Jaejoong kesal. Ia melempar jam itu keatas kasur.

Ia lalu turun dari tempat tidur, merasa selain haus ia pun lapar, jadi ia memutuskan untuk mencari makanan instans untuk makan malam tertundanya.

Ketika keluar kamar, kegelapan menyelimutinya. Hanya beberapa lampu dinding yang temaram yang menerangi jalannya. Ia berjalan kearah dapur sesuai dengan feelingnya. Ia menjadi kikuk karena selama berada disini baru sekarang ia keluar malam hari.

Berjalan kearah yang ia yakini, tapi ia menghela nafas ketika yang ia temukan bukan dapur tapi taman.

"Seingatku, arahnya benar kesini, tapi...huwaaa" Jaejoong belum sempat selesai karena terpukau dengan sesuatu di depannya.

Taman yang gelap itu di terangi oleh banyak kunang-kunang. Jaejoong masuk kedalam taman, memutar tubuhnya untuk mengikuti kunang-kunang itu terbang.

Hal tersebut terjadi beberapa saat sebelum satu kunang-kunang hinggap di tangannya.

"Tuan Jaejoong"

Jaejoong tersentak. Ia jatuh terduduk. Ia yakin mendengar kunang-kunang itu berbicara.

"Ti-tidak mungkin" Jaejoong bangun dengan cepat, ingin lari tapi sebuah tubuh menahannya.

"Kau terlalu jauh melangkah, Jae"

Jaejoong mengerjapkan matanya, wajah Heechul begitu dekat dengannya. Ia menjauh. Mata hijau Heechul bersinar di dalam gelap. Jaejoong menggelengkan kepalanya, sebelum seseorang mengusap kepalanya dari belakang, membuat ia kembali tertidur.

"Kau akan menakutinya, Hyung" Kata Changmin yang menangkap tubuh Jaejoong. Heechul mengangkat bahunya tak peduli.

"Suruh para pelayan itu kembali ke kandang mereka, dan untuk beberapa hari kedepan tidak di perbolehkan berkeliaran di taman" Kata Heechul. Ia meninggalkan Changmin yang sedang menggerutu.

"Dia selalu seenaknya, huh"

Changmin mengangkat tubuh Jaejoong, menopangnya di bahu lalu terbang dari taman itu menuju kamar Jaejoong.

.

.

.

"APA?" Taerin terkejut ketika mendengar cerita semalam dari Changmin. Ia menatap Heechul tajam.

"Seharusnya Omoni menghukum pelayan-pelayan itu, bukan menghakimiku dengan matamu" Kata Heechul membela diri.

"Sudahlah, Yeobo. Kita pikirkan alasan yang tepat untuk Jaejoong" Kata Jinwoon menengahi.

"Itu tidak perlu. Aku sudah membuatnya tertidur dan ia akan berfikir kalau yang semalam itu mimpi" Kata Changmin yang sudah memulai sarapannya.

Taerin menghela nafas, semoga saja Jaejoong tidak curiga.

.

.

.

"TIDAAK!" Jaejoong terbangun dari tidurnya, memegang kepala karena terasa pusing. Nafasnya terengah dan keringat mengalir dari dahinya.

Ia melihat kesekeliling, lalu menghela nafas, ternyata ia berada di dalam kamarnya. Tirai di kamar itu masih tertutup hingga cahaya matahari tak bisa masuk.

"Se-semalam itu..."

Tok..tok

Jaejoong tersentak ketika mendengar itu. Karena semalam ia jadi takut berada di rumah ini.

"Jaejoongie, kau belum bangun? Ini sudah siang" Suara Taerin terdengar dari luar.

"Ma-masuk saja"

"Tapi pintu ini terkunci" Mendengar itu membuat Jaejoong bingung. Bukankah semalam ia sudah keluar kamar? Tapi kenapa pintunya terkunci?

"Tunggu.."

Ceklek

Jaejoong membuka pintunya sedikit, membuat Taerin mengerut bingung.

"Kau kenapa? Belum pakai baju?"

Jaejoong menggeleng. Pintu yang terbuka hanya cukup menampilkan kepalanya saja.

"A-ahjumma, semalam aku..itu makhluk apa?" Jaejoong ragu untuk bertanya.

Taerin bingung, alisnya terangkat, "Kau bicara apa? Semalam kenapa? Dan makhluk apa yang kau maksud?" Taerin balik bertanya.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, bingung bagaimana menjelaskannya.

"Semalam aku haus, aku pergi kedapur, tapi karena gelap entah kenapa aku malah berada di depan pintu taman. Di taman itu banyak kunang-kunang, tapi kenapa hewan itu bisa bicara?" Jelas Jaejoong panjang lebar.

Beberapa detik wajah Taerin masih di selimuti kebingungan, tapi ia langsung tertawa setelahnya.

"Hahaha, kau lucu Jaejoongie. Mana ada hewan yang bisa bicara, aduh perutku.." Taerin memegangi perutnya. Jaejoong baru melihat Taerin yang seperti itu.

"Tapi dia tahu namaku, Ahjumma! Dia memanggilku!" Jaejoong mengabaikan tawa Taerin. Ia yakin dengan apa yang di dengarnya.

Taerin menghentikan tawanya lalu tersenyum, "Mungkin kau hanya bermimpi, Jaejoongie. Dirumah ini tak ada kunang-kunang apalagi yang bisa bicara"

Jaejoong menggeleng cepat, "Tapi aku bertemu Heechul sshi"

"Apa?" Tanya Taerin terkejut.

"Dia bilang aku sudah salah melangkah"

"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Taerin lagi. Dalam hati ia kesal pada anak tertuanya itu.

"Setelah itu..setelah itu.." Jaejoong bergumam. Ia pun tak tahu apa yang terjadi setelahnya, karena begitu sadar ia sudah berada di tempat tidur.

Taerin membuka pintu kamar Jaejoong agak lebar, ia memegang bahu Jaejoong lalu tersenyum seperti biasa, "Jaejoongie, kau pasti sedang bermimpi semalam. Dirumah ini tidak ada kunang-kunang yang bisa bicara, kalaupun tentang Heechul, dia tidak bisa melihat dalam kegelapan karena gangguan dari matanya"

Jaejoong menunduk sesaat lalu mendongak kembali, "Tapi Ahjumma.."

"Kau sedang sedih karena kehilangan orang yang kau sayang. Kau bahkan tahu sendiri pintu kamar ini terkunci, bagaimana bisa seseorang menguncinya dari luar, kalau bukan kau sendiri" Untuk bagian pintu terkunci itu Jaejoong pun merasa heran, dan apa yang dikatakan Taerin ada benarnya.

Taerin mengusap bahu Jaejoong, "Sebentar lagi pelayan akan membawakan makanan untukmu"

Jaejoong mengangguk, kemudian Taerin pergi dari hadapannya. Seperginya wanita itu, Jaejoong menghela nafas. Sepertinya apa yang dikatakan Taerin benar, ia sedang bersedih jadi bermimpi yang macam-macam.

.

.

.

Tok..tok.

"Yunho Hyung~" Changmin berada di depan kamar Yunho.

"Masuk"

Didalam kamar, Changmin melihat Yunho sedang melakukan hobinya yaitu melukis. Ia sedang membuat lukisan baru, itu artinya dalam 1 bulan ia hampir membuat 3 lukisan. Changmin duduk diatas tempat tidur Yunho, menghadap kearah Hyungnya yang sedang serius.

"Semalam, kalau kau tak mengirim telepati, aku tak tahu kalau Jaejoong sshi berada di taman" Kata Changmin. Yunho masih serius dengan sketsa didepannya.

"Dan Heechul Hyung selalu saja mengganggu. Coba kalau ia juga tak datang, Jaejoong sshi tak akan lebih curiga" Changmin mencibir, ia selalu kesal dengan kakak tertuanya itu.

Yunho tersenyum, "Dia hanya sedang butuh perhatian saja, kau tahu kan Hankyung Hyung sudah lama pergi" Kata Yunho menanggapi.

Changmin merebahkan tubuhnya diatas kasur, menatap langit kamar Yunho yang berwarna biru.

"Hyung, apa benar yang Hyunwon katakan tentang Jaejoong sshi?" Tanya Changmin, Yunho menoleh sebentar.

"Hyunwon tidak pernah salah dalam melakukan tugas. Dan aku sudah terlanjur menyukai Jaejoong"

"Tapi kalau kau terus mengurung diri seperti ini, mana mungkin Jaejoong sshi mengenalmu?" Tanya Changmin yang sudah bangun dari kasur.

Yunho tersenyum dengan tenang, "Memang apa yang bisa aku lakukan dengan kaki ini?"

"Aku tak ingin merepotkannya. Jika malam penyatuan itu tiba, ia akan menyerah padaku dengan sendirinya. Kau tak usah Khawatir" Lanjut Yunho. Changmin membenarkan dalam hati, dulu Junsu pun begitu. Tak pernah sekalipun ia menyukai Yoochun, tapi ketika waktunya tiba mereka saling mencintai.

.

.

.

Jaejoong baru selesai menghabiskan sarapan tertundanya. Ia menghela nafas, memikirkan kejadian semalam yang ternyata hanya mimpi. Yang membuatnya bingung, ia sangat yakin kalau semalam itu bukan mimpi. Ah, kepalanya sakit.

"Daripada pusing, nanti malam aku akan ke taman lagi" Ikrarnya dalam hati.

.

.

.

Tepat jam 2 malam, sama seperti keluarnya semalam. Jaejoong berjalan dengan mengendap-endap dari kamar. Melihat kesekitarnya yang sepi, lalu setelah yakin hanya ia yang masih terbangun, ia mengambil langkah untuk ke taman sesuai perkiraannya.

Ketika ia berada di depan pintu taman, angin malam menerbangkan rambutnya, membuat ia memeluk tubuhnya sendiri.

Ia berjalan masuk kedalam taman itu. Ia yakin kalau kemarin ia melihat banyak kunang-kunang disana. Tapi kenapa sekarang tidak ada apapun, hanya deru angin yang terdengar.

"Jadi, yang kemarin itu memang mimpi?" Jaejoong masih tak percaya, tapi kenyataan membuatnya tidak bisa menolak.

Dari dalam rumah, tepat diatas. Seseorang berdiri di depan jendela yang menghadap ke taman.

Orang itu tersenyum, "Malaikatku" Gumamnya.

.

.

.

Keesokkan harinya Jaejoong menjalankan tugasnya sebagai pelayan Yunho. Karena Yunho tidak ingin makan di meja makan, jadi ia membawakan sarapan Yunho kedalam kamar.

Mereka duduk diatas kasur, memakan sarapan masing-masing. Beberapa kali Jaejoong melirik Yunho yang tampak tenang. Pria itu diam, namun aura yang terpancar membuat Jaejoong tersenyum.

"Uhuk..uhuk.." Ditengah-tengah, Yunho terbatuk karena tersedak. Spontan Jaejoong meraih gelas yang ia letakan di atas nakas, lalu memberikannya pada Yunho. Yunho meminum air itu hingga batuknya reda. Setelah itu mereka kembali makan hingga habis.

Yunho mengelap mulutnya dengan serbet, lalu memberikan piring yang telah kosong pada Jaejoong. Jaejoong menumpuk piring itu, lalu membawanya, tapi sebelum sempat melangkah, Yunho memanggilnya.

"Biar saja pelayan yang membawanya, kau temani aku" Kata Yunho.

Jaejoong tidak bisa membantah, diletakannya kembali piring itu keatas nakas lalu kembali kearah Yunho.

"Pijat kakiku" Suruh Yunho sambil menunjukkan kaki kirinya yang tak lumpuh. Jaejoong mengangguk, lalu berjongkok di hadapan Yunho.

Pria berusia 16 tahun itu memijat kaki Yunho perlahan, dimulai dari pergelangan kaki yang ia angkat dan letakkan keatas pahanya.

Yunho mengamati Jaejoong dari atas, dulu ketika Hyunwon menyebut dan menunjukkan foto Jaejoong, hatinya sudah bergetar. Bertahun-tahun ia menanti dan memanggil nama Jaejoong dalam tidurnya. Ketika berlalu masa setelah Heechul dan Hankyung menikah, lalu datang masa saat Junsu datang ke Angelos, ia merasa waktunya sangat lama. Ia menunggu selama 15 tahun hingga Jaejoong beranjak dewasa.

'Tuan Yunho, ini foto calon pengantin anda' Kata Hyunwon memperlihatkan foto Jaejoong yang baru berusia 1 tahun. Yunho melihat pada bayi mungil itu, tersenyum seraya berkata, "Malaikatku"

Saat itu Taerin, Jinwoon dan Changmin berebut untuk melihatnya lalu tersenyum bersama.

'Hidungnya mungil, bibirnya merah, uuh menggemaskan' Komentar Taerin saat itu. Changmin mengangguk, pria tinggi yang seharusnya berusia 2 tahun itu mengambil foto Jaejoong dari tangan Taerin.

'Kau pasti terobsesi padanya, Umma'

Jinwoon mengabaikan istri dan anaknya yang sedang berebut foto Jaejoong, lalu bertanya pada Hyunwon.

'Apa kau yakin dia bisa?' Tanyanya masih kurang yakin. Hyunwon tersenyum.

'Iya, Tuan. Anda tidak akan kecewa padaku'

Mendengar itu Jinwoon yakin kalau Jaejoong adalah pilihan yang tepat.

"Tuan" Yunho tersentak, ia menunduk, menemukan wajah khawatir Jaejoong.

"Anda kenapa? Aku memanggil berulang kali tapi kau hanya diam" Tanya Jaejoong. Yunho menggeleng.

"Tidak, kenapa kau memanggilku?"

"Tadi aku bertanya kenapa dengan kaki anda, tapi kau tidak menyahut" Jelas Jaejoong. Yunho melihat pada kakinya yang tak bergerak.

"Sejak aku lahir kakiku sudah seperti ini" Kata Yunho kemudian, untuk yang itu ia tidak berbohong.

"Ooh, lalu kenapa anda tidak operasi saja? Sekarang banyak dokter yang hebat" Kata Jaejoong yang masih mengurut kaki Yunho.

Yunho terdiam, ia tidak membutuhkan dokter dan operasi. Selama sayap dipunggungnya masih kokoh, ia tidak ingin kesembuhan kakinya. Lagipula ada Jaejoong yang membuatnya sembuh perlahan.

"Entahlah, aku tak ingin itu. Aku sudah hidup bertahun-tahun dengan kaki ini" Jawabnya. Jaejoong mengernyit, lelaki di depannya itu sungguh aneh.

Tak ingin memperpanjang masalah, Jaejoong pun berhenti bertanya.

"Jaejoong ah, apa kau betah tinggal di sini?" Tanya Yunho sambil melihat mata Jaejoong. Jaejoong menyukai warna hitam manik mata Yunho.

"I-iya. Aku tak punya tempat tinggal dan siapapun" Kata Jaejoong gugup.

"Kau tak punya hubungan apapun dengan keluarga Jung, kalau bukan karena Omoni yang menyukaimu, mungkin semua tidak akan mengijinkanmu tinggal disini" Kata Yunho dengan tenang. Jaejoong menunduk, apa yang Yunho katakan memang benar. Ia ingin menangis, tapi sebuah tangan menyentuh dan mengangkat dagunya, ia melihat pada Yunho yang menatapnya datar.

"Kau hanya orang lain Jaejoong sshi dan kau hanya tamu dirumah ini jadi kau harus bertingkah selayaknya seorang tamu"

"Angelos punya peraturan dan kau tak boleh melanggarnya jika kau masih ingin berada disini" Jujur Yunho marah saat malam dimana Jaejoong pergi ke taman.

Jaejoong terisak, airmata mengalir dari kedua matanya. Ternyata ia tak di inginkan tinggal di rumah ini, lalu ia harus pergi kemana?

"Ssstt.." Yunho mengusap bibir merah Jaejoong yang bergetar. Didekatkan wajahnya pada Jaejoong yang tidak mengelak.

Yunho menekan bibir Jaejoong, memiringkan kepalanya untuk bisa melumat bibir bawah pria itu. Jaejoong tak sadar, ia membiarkan Yunho menikmati bibirnya.

Yunho memegang kedua bahu Jaejoong, menyuruh pria itu untuk bangun lalu duduk diatas tempat tidur, mendesak tubuh itu hingga terbaring keatas kasur.

"Uugh.." Jaejoong melenguh, karena ciuman Yunho menuntut dan membuatnya tidak berdaya.

Jaejoong ingin menolak, tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya.

"Yunho!"

Taerin datang sambil memukul kepala anaknya hingga mengaduh sakit dan melepaskan ciumannya dari Jaejoong.

Jaejoong mengedip-kedipkan mata bulatnya. Ia tidak sadar apa yang sudah terjadi.

"Dasar Kau! Kalau Omoni tidak berniat memanggilmu, kau pasti sudah memperkosa Jaejoong!" Kata Taerin bergebu-gebu. Ia menatap kesal pada Yunho yang hanya diam, lalu melihat pada Jaejoong yang belum sadar.

"Ooh lihat Yunho, kau menggunakan kekuatanmu pada Jaejoong. Kasihan Jaejoongie ku" Taerin menghampiri Jaejoong yang masih tak berdaya. Ia mendudukkan Jaejoong yang masih menatap kosong.

"Kau berlebihan, Omoni. Mana mungkin aku memperkosanya" Yunho bangun lalu berjalan perlahan kearah kursi tempatnya biasa melukis dan duduk disana.

Taerin mencibir, ia kesal pada anaknya itu yang masih bisa bersantai. Ia menggendong Jaejoong bridal style, lalu membawanya keluar dari kamar Yunho.

.

.

.

Sepanjang hari Taerin terus mengomel, menyalahkan Yunho yang membuat Jaejoong tak sadarkan diri. Yang membuatnya kesal adalah Yunho tidak merasa bersalah sedikitpun.

"Apa kau tak bisa menunggu 2 bulan untuk menyentuhnya, Yunho?"

"Bagaimana kalau ia sadar dan mengingat semuanya?"

"Kau seperti manusia diluar sana yang mesum"

Itulah omelan Taerin pada Yunho yang hanya bisa diam dengan ekspresi tak bersalah.

"Sudahlah Omoni, dia kan hanya mencoba malaikatnya" Kata Heechul seraya menutup buku yang di bacanya. Saat ini mereka berada di perpustakaan.

Taerin menghela nafas berat, percuma ia marah-marah seperti ini karena hanya akan mengurangi sisa umurnya saja.

.

.

.

Heechul duduk di perapian yang ada di ruang santai, membaca buku tebal yang di bawanya dari perpustakaan. Kakinya bersilang dan ia tampak santai dengan kaos berwarna biru dan celana tidur warna putih. Pria berambut sebahu itu sedang menikmati sisa malamnya yang membosankan seperti biasa.

Cit..cit..

Heechul berhenti membaca buku, di belakangnya, tepat diatas lemari yang sama tinggi dengan sofa yang ia duduki, terdengar bunyi dari hewan perekat berwarna putih.

Tikus itu hanya diam ketika Heechul mengangkat buntutnya. Heechul menggantung tikus itu di depan wajahnya lalu memperhatikan mata hewan itu.

Cit..citt..

Heechul baru sadar kalau tikus itu membawa sesuatu di punggungnya. Sebuah kertas berwarna putih di ikat dengan benang, membuat Heechul tidak menyadarinya tadi.

Ia melepaskan kertas itu dari punggung si tikus, dan membiarkan hewan itu untuk pergi.

Heechul membukanya, manik matanya bersinar ketika tahu siapa yang mengirim surat itu.

'Dear My Chullie'

'Hampir 2 tahun aku tidak pulang ke Angelos, apakah kau masih ingat aku sebagai suamimu? Haha. Apa kau baik? Makan dengan benar, dan tidur dengan nyenyak? Maaf karena aku buatmu menunggu. Besok pagi, aku akan mengunjungimu. Aku merindukanmu. Annyeong. Hankyung'

Heechul menangis terharu. Ia menjadi sangat lemah jika sudah berhubungan dengan pria cina itu dan dirinya yangg sok cuek hanya sebuah topeng. Ia merindukan suaminya. Ia iri pada Yoochun dan Yunho, itu yang menyebabkan ia bertindak semaunya. Ia juga agak tak setuju saat Hyunwon dulu mengatakan kalau Jaejoong adalah manusia terpilih untuk menyelamatkan Jung.

Ia merasa Tuhan tak adil. Ia dan Hankyung bersama sudah 15 tahun, tapi kenapa bukan Hankyung manusia terpilih itu? Kenapa harus Jaejoong?

Bukan, ia bukan benci pada Jaejoong, ia hanya kecewa. Ia selalu mencari kesalahan Jaejoong agar sebelum waktunya pria itu sudah mengetahui siapa keluarga Jung itu.

Apakah ia jahat? Tidak, ia hanya kesepian, dan hanya Hankyung yang mampu mengendalikannya.

"Bodoh..hiks.." Heechul meremas kertas itu hingga tak berbentuk.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Viola, chapter ini keluar juga. Fuih, di tengah-tengah typus ini aku berusaha untuk mengetik chapter ini. Buat nulis 1 page aja lama banget, untung udah libur kerja.

Apa di chap ini kalian menemukan fakta baru tentang keluarga Jung atau pun ff ini?

Bagi yang minta Hankyung di munculin, chap depan dia baru eksis :D Pawangnya Heechul muncul . .

Bagi yang nanya kenapa JJ spesial karena dia jual martabak #plak hehe

1 atau 2 chapter lagi bakal muncul tokoh baru. Siapa dia? Dan apakah masalah utama ff ini sudah terlihat? Karena genre ff ini fantasy, aku berusaha membuatnya menjadi fantasy tapi masuk akal. Hehe.

Di tunggu pendapat kalian di review ^_^