Angelos
Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg
Rating : T
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others
Author : Kim Hyunri aka me
Author's Note : Arti dari Angelos dibagi dalam 2 kata yaitu Angel dan House, jadi disingkat biar lebih mudah di ingat. Berarti Angelos itu adalah Rumah Malaikat.
.
.
.
Prev chap
Heechul membukanya, manik matanya bersinar ketika tahu siapa yang mengirim surat itu.
'Dear My Chullie'
'Hampir 2 tahun aku tidak pulang ke Angelos, apakah kau masih ingat aku sebagai suamimu? Haha. Apa kau baik? Makan dengan benar, dan tidur dengan nyenyak? Maaf karena aku buatmu menunggu. Besok pagi, aku akan mengunjungimu. Aku merindukanmu. Annyeong. Hankyung'
Heechul menangis terharu. Ia menjadi sangat lemah jika sudah berhubungan dengan pria cina itu dan dirinya yangg sok cuek hanya sebuah topeng. Ia merindukan suaminya. Ia iri pada Yoochun dan Yunho, itu yang menyebabkan ia bertindak semaunya. Ia juga agak tak setuju saat Hyunwon dulu mengatakan kalau Jaejoong adalah manusia terpilih untuk menyelamatkan Jung.
Ia merasa Tuhan tak adil. Ia dan Hankyung bersama sudah 15 tahun, tapi kenapa bukan Hankyung manusia terpilih itu? Kenapa harus Jaejoong?
Bukan, ia bukan benci pada Jaejoong, ia hanya kecewa. Ia selalu mencari kesalahan Jaejoong agar sebelum waktunya pria itu sudah mengetahui siapa keluarga Jung itu.
Apakah ia jahat? Tidak, ia hanya kesepian, dan hanya Hankyung yang mampu mengendalikannya.
"Bodoh..hiks.." Heechul meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
.
.
.
Chapter 4
Hankyung menghentikan taksi yang ia naiki tepat di pinggir hutan pinus, mengeluarkan koper-koper dari dalam bagasi taksi di bantu oleh si supir. Ia memberikan uang pada supir taksi sambil tersenyum.
Tadi saat di bandara setelah melakukan penerbangan dari cina ke seoul yang begitu melelahkan, ia meminta salah satu taksi bandara dan mengatakan tujuannya, hutan pinus di sebelah selatan seoul. Hal itu membuat si supir mengerutkan keningnya, melihat dari atas hingga bawah penampilan biasa pria itu.
"Anda ingin menemui siapa disana, Tuan?" Tanya si supir bertubuh gemuk itu.
"Tentu saja keluargaku"
"Dihutan?" Tanyanya lagi. Hankyung menggeleng.
"Tentu saja bukan. Aku harus melewati hutan itu agar bisa sampai ke rumahku karena itu jalan terdekat. Taksi milikmu tak akan bisa melewati hutan itu karena yang ada hanya jalan setapak" Jelasnya panjang lebar. Supir itu mengangguk sambil meminta maaf, setelahnya mereka pergi dari bandara itu menuju hutan yang Hankyung maksud.
Setelah perjalanan dan pembicaraan yang melelahkan, akhirnya Hankyung berjalan sambil menyeret kopernya, berjalan di atas kerikil kecil yang memenuhi sepanjang jalan setapak itu.
Pria berusia 32 tahun itu tak tampak berbeda dari siapapun. Meski usianya tak lagi muda, tapi penampilannya yang modern membuat ia cukup menjadi pusat perhatian.
Ia memakai kemeja denim berwarna biru, lalu celana jeans dengan warna yang senada, dan juga kacamata hitam yang menggantung didepan matanya. Ia terlihat cukup tampan.
Seperti seorang turis, selama berjalan ia membaca buku panduan tentang seoul karena ia sudah meninggalkan kota itu selama hampir 2 tahun.
Tanpa sadar kakinya berhenti tepat didepan sebuah gerbang berwarna putih yang tinggi menjulang.
Ia melihat kearah depan, tepat ke sebuah rumah bergaya abad pertengahan yang bercat abu-abu. Angelos.
.
.
.
Jaejoong tidak tahu kalau waktu sudah berlalu dan matahari pagi sudah menembus tirai jendela kamarnya. Ia ingat terakhir kali berada di kamar Yunho setelah sarapan bersama pria itu, ia memijit Yunho, mereka berbicara, lalu...suara Taerin mengagetkan mereka.
Tidak ada yang aneh. Jaejoong menggeleng, ia langsung bergegas ke kamar mandi, karena ia tidak mau bolos bekerja lagi.
Tak berapa lama, Jaejoong keluar dari kamarnya, memakai kaos lengan pendek dan celana bahan warna hitam. Ia yang sudah wangi berjalan kearah ruang makan meski ia tahu ia sudah terlambat untuk sarapan.
"Mianhae, aku terlambat" Jaejoong membungkuk dalam setelah berada di depan pintu ruang makan. Semua orang yang ada di ruang makan itu melihat padanya.
"Ah, ternyata tamu kita sudah datang?" Suara Hankyung yang pertama terdengar. Jaejoong mendongak melihat pemilik suara itu. Alisnya mengernyit ketika melihat wajah asing yang baru ia lihat.
Hankyung tersenyum cukup lebar. Jaejoong melihat kearah seluruh keluarga yang sedang melihatnya juga.
"Sini, Jae" Jinwoon menggerakkan tangannya, memanggil Jaejoong yang tampak bingung.
Jaejoong menghampiri tempat duduknya yang berada disebelah Yunho dan tak cukup jauh dari Hankyung yang duduk di samping Jinwoon.
"Jae, kenalkan, ini Hankyung, menantu pertama keluarga Jung" Kata Jinwoon memulai, "Dia suami dari Heechul"
Hankyung berdiri, menghampiri Jaejoong untuk menjabat tangannya. Jaejoong tersenyum dengan agak gugup karena merasa tatapan tajam Heechul terarah padanya.
"Dia sungguh mempesona ya, Yun?!" Goda Hankyung sambil menepuk bahu Yunho. Yang di goda hanya terdiam, ia tidak tertarik dengan pendapat kakak iparnya itu.
Jaejoong tak mengerti dengan apa yg di bicarakan orang-orang disana.
Changmin terkikik ditempatnya, "Sepertinya aura yang sekarang terbalik" Katanya yang tentu saja karena sebab. Biasanya Yunho yang akan mengeluarkan aura membunuh pada semua orang yang berusaha menciptakan kontak pada malaikatnya, tapi sekarang giliran Heechul yang melakukan itu pada Jaejoong. Kenapa seperti itu? Karena Yunho cukup menghormati dan percaya pada kakak iparnya itu.
Setelah mereka duduk di tempat masing-masing, sarapan kembali di mulai.
Jaejoong secara sengaja menoleh kearah Yunho yang sedang makan dalam diam. Entah apa yang membuatnya ingin melihat Yunho, tapi melihat wajah pria itu dari samping membuat hatinya bergemuruh dan ia sangat menyukai itu.
Yunho yang dari tadi diam, tersenyum samar ketika menyadari itu. Sepertinya kekuatan yang ia pakai kemarin masih berbekas pada Jaejoong. Atau mungkin ada faktor lain yang memang sudah ada di hati Jaejoong? Yunho tak ingin menebaknya.
.
.
.
Changmin menyipitkan sebelah matanya, ia membidik sasaran yang berada tak jauh darinya. Ia sudah pandai memanah sejak lahir. Ia harus selalu melatih kemampuan memanahnya agar menjadi lebih baik dari hari ke hari karena itu adalah tanggung jawab yang di bebankan padanya. Meski kemampuannya tak sebanding dengan para Cupid yang memang sudah di beri bakat memanah yang luar biasa. Setidaknya Hyunwon tidak menertawakannya yang tak becus dalam memanah.
Setelah Changmin selesai mengenai target panahnya, pria itu duduk di bangku taman, membersihkan anak panah yang baru saja ia pakai.
Jaejoong masuk kedalam taman karena merasa suntuk berada di dalam rumah, tak sengaja melihat Changmin yang sibuk dengan kegiatannya.
"Hai" Sapa Jaejoong pada Changmin. Changmin yang mendengar itu segera melihat pada Jaejoong yang sedang tersenyum.
"Apa kau sibuk?" Tanya Jaejoong karena Changmin diam sambil menatapnya terkejut.
Changmin segera tersadar lalu tersenyum kikuk, "Tidak, kenapa?"
"Sudah hampir 1 bulan aku disini, tapi kita belum pernah mengobrol" Jawab Jaejoong yang berdiri di samping Changmin.
Changmin balas tersenyum, tapi matanya mengarah pada jendela di atas taman. Disana berdiri seseorang yang tengah mengawasi mereka. Changmin tidak ingin mengambil resiko kalau orang itu marah, karena itu ia siap-siap menolak Jaejoong.
"Mungkin lain waktu, aku.." Tapi kalimatnya terhenti ketika tidak melihat siapapun berada di jendela tadi dan itu membuatnya menghela nafas.
Jaejoong mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Changmin yang terus melihat pada jendela. Ia mengikuti arah mata Changmin tapi tak menemukan sesuatu yang aneh disana.
"Kenapa?" Tanya Jaejoong bingung, Changmin mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Tidak, hanya sesuatu yang tak penting" Kata Changmin di akhiri dengan tawa khasnya. Jaejoong ikut tertawa meski tak tahu apa yang lucu.
Di tempat lain..
"Sudah lama aku tidak mengunjungi kamarmu ini, Yunho" Kata Hankyung yang sudah berjalan di dalam kamar Yunho. Ia melihat sekitar kamar yang agak berantakkan itu. Hankyung paham, ia sudah sangat tahu bagaimana sifat Yunho untuk kamar tidurnya. Ia hanya perlu tempat tidur dan meja kanvas untuk membuat banyak lukisan. Itulah dunia Yunho, simple tanpa ada pernak-pernik pemanis lainnya.
Hankyung sudah 15 tahun bersama dengan keluarga Jung, ia cukup paham dengan karakter seluruh penghuni rumah ini, termasuk Changmin—anak bungsu keluarga Jung.
Yunho cukup menghormati Hankyung yang auranya hampir mirip dengan sang ayah, bahkan Hankyung dipilih langsung oleh Jinwoon untuk di jadikan menantu keluarga Jung, itulah sebabnya Yunho tak marah saat Hankyung menyentuh Jaejoongnya.
"Karena kau terlalu sibuk dengan dunia luar" Kata Yunho yang sudah duduk di kursi depan lukisannya.
Hankyung bersandar pada lemari pakaian yang ada di kamar Yunho, menghadap pada adik iparnya itu.
"Haha, meski begitu aku akan kembali ke Angelos 'kan?" Tanyanya tanpa perlu di jawab.
Yunho tersenyum, "Dan aku cukup penasaran dengan calon pengantinmu itu, Yunho" Kata Hankyung sambil menunjuk lukisan wajah Jaejoong dengan dagunya.
"Jaejoong?"
"Apa dia tahu siapa keluarga Jung dan Angelos?" Tanya Hankyung sambil memainkan kuas yang terjatuh didekat kakinya.
"Seperti kau dan Junsu, usianya belum 17 tahun" Jawab Yunho cuek. Ia kembali sibuk membuat sketsa dengan pensilnya.
Hankyung mengangguk paham, lalu berjalan kearah jendela besar yang mengarah tepat kearah taman. Ia melihat Changmin dan Jaejoong yang duduk berdampingan di kursi taman.
"Dia pria yang menarik, ramah, baik, dan penuh keyakinan. Dia mencintai orang-orang yang pernah ada di hidupnya dengan tulus" Kata Hankyung yang bisa membaca kepribadian Jaejoong. Yunho diam, tentu ia sudah tahu itu sejak awal.
"Hatinya tidak ada kebencian, Yunho. Hal itu yang dimanfaatkan banyak orang termasuk Dia" Kalimat terakhir Hankyung itu membuat Yunho melepaskan pensil yang ia pegang begitu saja. Sudah lama tak ada yang menyebut tentang Dia. Yunho tahu, keluarganya berusaha melupakan Dia hingga waktunya tiba.
"Kita tak boleh pesimis, kita..."
"Aku tak bicara tentang kepesimisan" Hankyung memotong ucapan Yunho, "Tapi kita sedang bicara tentang kemungkinan. Ingat Yunho, semua tak mudah seperti yang kau harapkan"
Yunho terdiam. Hankyung benar. Selama ini, beratus-ratus tahun telah berlalu, keluarga Jung berusaha menyimpan fakta tentang Dia yang membuat semua ini terjadi.
Yunho masih berkutat dengan pemikirannya ketika Hankyung berkata, "Dan kakimu menjadi bukti, karena ia telah bersamamu selama ratusan tahun"
.
.
.
"Taerin Ahjumma bilang, kau bersekolah di tempat yang sama denganku?" Tanya Jaejoong dengan kepala miring kearah Changmin.
"Oh ya?" Changmin berfikir agak singkat karena Jaejoong kembali berkata.
"Tapi aku tidak pernah melihatmu"
"Itu karena aku siswa pandai" Kata-kata itu yang terlintas dengan cepat dipikirannya. Ia tidak siap dengan pertanyaan Jaejoong karena Taerin juga tidak mengatakan seluruh pembicaraan mereka padanya.
"Ooh.." Hanya itu yang bisa Jaejoong katakan. Ia tersenyum miris setelah itu.
"Aku jadi rindu sekolah" Katanya sedih. Changmin tidak bisa melakukan apapun termasuk memeluk Jaejoong. Ia tahu pria di sampingnya ini sangat bersedih selain tentang sekolah.
"Kau tak perlu khawatir, Jae. Aku..aku bisa mengajarimu banyak hal" Kata Changmin yang hanya bisa melakukan itu. Ia menepuk bahu Jaejoong dengan jarinya.
"Gomawo" Kata Jaejoong sambil tersenyum manis. Changmin berpaling, ia tidak boleh terpesona oleh calon kakak iparnya.
.
.
.
Hankyung masuk kedalam kamarnya setelah Jinwoon selesai mengambil alih dirinya. Mertuanya itu mengunci diri mereka di perpustakaan, berbicara tentang banyak hal termasuk apa yang telah dilakukannya selama keluar dari Angelos.
Hankyung tak pernah menolak semua yang di inginkan oleh Jinwoon karena pria cina itu menaruh hormat pada mertuanya itu.
Alhasil, pada hampir tengah malam ia baru bisa kembali kekamar, menemui sang istri yang dari tadi terus mengirimi telepati padanya. Tapi ketika ia sudah berada di dalam kamar, ia tidak menemukan Heechul dimanapun.
Ia berjalan lebih dalam, meraba kontak lampu agar ruangan itu tidak terlalu gelap.
Tekk..
Lampu menyala tapi tetap tidak menemukan siapapun disana.
"Chullie ah, kau dimana?" Tanya Hankyung sambil terus berjalan. Ia membuka tirai tembus pandang yang menutupi sekitar ranjangnya tapi seperti yang lain, tempat itu pun tidak ada siapapun bahkan sepray berwarna putih masih rapih seperti tak pernah di duduki oleh siapapun.
Hankyung terkekeh. Ia menggelengkan kepalanya. Ia lupa jika malaikatnya itu sangat menyukai kejutan. Ia lalu melangkah tanpa suara kearah kamar mandi yang terdengar suara percikan air dari dalamnya.
Brak..
"KAU di..sini..?" Hankyung terkejut dengan suaranya. Ia juga tidak menemukan siapapun disana. Alisnya mengernyit, lalu dimana Heechul?
"Ternyata kau masih belum mahir, Gege ah" Hankyung tersentak. Ia berbalik cepat dan menemukan Heechul yang sudah berbaring diatas tempat tidur, memakai bathrope berwarna putih dengan kaki yang terekspose. Pose itu membuat Hankyung menelan ludahnya.
Ia berjalan perlahan kearah Heechul lalu merayap diatas kasur untuk berada diatas pria cantik itu.
"Kau masih suka mengerjaiku, Chullie?!" Kata Hankyung yang sudah memenjarakan Heechul di bawah tubuhnya. Heechul tertawa begitu manis, manik matanya yang berwarna hitam setelah kedatangan Hankyung itu memandang sang suami dengan mendamba.
Tatapan lembut Hankyung membuat hatinya berdesir dan tanpa sadar airmata mengalir menuruni pelipisnya. Hankyung yang melihat itu segera menghapusnya dengan jari.
"Maaf membuat airmata ini sempat mengalir dari mata indahmu, aku memang bodoh" Kata Hankyung dengan menyesal.
Heechul menggeleng, ia mendorong tubuh suaminya hingga sedikit terangkat, lalu mengubah posisi menjadi berada di atas tubuh pria tampan itu. Ia duduk diatas perut Hankyung tanpa membebani suaminya, menurunkan bathrope yang ada di tubuhnya hingga sebuah sayap yang tadinya berukuran kecil perlahan mengembang menjadi lebar hingga menutupi tubuh kedua pria itu.
"Tapi aku mencintaimu, malaikatku" Kata Heechul sebelum memulai percumbuan mereka.
.
.
.
Jaejoong bangun pagi ini dengan semangat. Wajahnya bersinar di warnai oleh senyum manisnya. Selesai mandi ia merapihkan tempat tidurnya sendiri. Ia membuka tirai jendela kamarnya, memperlihatkan pemandangan yang masih agak gelap. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, tapi tampaknya matahari masih enggan keluar dari peraduannya. Jaejoong membuka jendela besar itu hingga angin pagi berhembus membelai tubuhnya. Ia mendongak kearah langit, sepertinya akan turun hujan.
Ia masuk kembali kedalam kamar setelah menutup jendela lalu menguncinya, sepertinya membantu para maid tak ada salahnya juga.
Ia membuka pintu kamarnya, melihat lampu rumah sudah menyala. Karena rumah itu terlalu minim dengan cahaya matahari maka lampu rumah itu hanya mati pada malam hari.
Jaejoong melihat para pelayan sibuk membersihkan rumah dan ia tidak akan mengganggu pekerjaan mereka. Jaejoong berjalan kearah dapur berharap ada yang bisa ia kerjakan disana.
Setelah sampai didepan pintu dapur, ia tersenyum melihat Hyunwon dan Taerin sedang berbicara dengan seorang pria bertopi tinggi.
Hyunwon dan Taerin berdiri membelakangi Jaejoong, dan yang pertama kali menyadari kehadiran Jaejoong adalah pria bertopi itu. Ia membungkuk kearah Taerin lalu kembali bekerja.
Taerin menghampiri Jaejoong, wanita bergaun putih pendek itu tersenyum manis padanya.
"Kau sudah bangun, Jaejoongie?" Tanya Taerin. Jaejoong mengangguk.
"Aku bangun cukup pagi dan tidak bisa tidur lagi, jadi.."
"Oh tak apa" Taerin lalu menyuruh Hyunwon pergi dengan matanya.
"Ayo kau ikut aku" Taerin menarik tangan Jaejoong untuk pergi dari sana. Jaejoong hanya bisa menurut hingga Taerin berhenti di depan sebuah ruangan yang cukup besar.
"Tara.." Taerin menyingkirkan tubuhnya agar Jaejoong bisa melihat keseluruhan ruangan itu.
Yang Jaejoong lihat didepannya adalah sebuah ruangan berisi 4-5 kandang berukuran lumayan besar. Jaejoong mengerutkan keningnya, untuk apa semua itu?
"Apa ini, Ahjumma?" Tanya Jaejoong bingung. Taerin tersenyum.
Plok..plok..plok
Tepat setelah tepuk tangan Taerin, beberapa kucing berbulu tebal keluar dari kandang-kandang itu, membuat mulut Jaejoong terbuka cukup lebar.
"Woah~"
"Nah Jaejoongie, kucing-kucing ini milikmu" Kata Taerin membuat Jaejoong makin terkejut.
"Aku?" Tunjuk Jaejoong pada wajahnya. Taerin mengangguk mantap membuat senyum Jaejoong lebih lebar dari sebelumnya.
Meow~
Jaejoong berjinjit ketika kakinya terasa geli akibat kucing-kucing itu mendekati kakinya.
"Apa kau menyukai mereka?" Tanya Taerin. Jaejoong mengambil 2 kucing berjenis persia itu lalu menggendongnya seperti bayi.
"Mereka lucu. Hihi" Katanya menggemaskan.
.
.
.
"Apa Omoni sudah memberikan kucing-kucing itu?" Tanya Changmin pada Hyunwon yang sibuk melihatnya membidik sasaran.
"Beliau sedang melakukannya, Tuan"
Changmin tersenyum, setidaknya Jaejoong tidak terlalu kesepian. Ternyata usulnya semalam tidak buruk juga.
"Aku harap kau tak berniat merebut perhatian Jaejoongku" Kata Yunho yang sudah berada disana. Panah Changmin meleset karena itu. Ia menyengir sambil melihat kearah Yunho yang ada disampingnya. Ia kesal karena Hyunwon tak memberitahukan kedatangan Yunho.
"Te-tentu tidak, Hyung. Kau terlalu khawatir. A-aku hanya membuat Jaejoongmu nyaman berada disini. Hehe" Kata Changmin gugup. Yunho tersenyum, sebenarnya ia tidak curiga atau marah pada Changmin karena dekat dengan Jaejoong, karena ia tahu takdir mereka tak akan tertukar. Tapi ia hanya senang saja menggoda adik bungsunya itu.
"Tak apa, malaikatku memang manis jadi itu wajar" Kata Yunho sambil menepuk bahu Changmin.
"Ah, Hyung. Kau duduklah, jangan banyak berdiri" Kata Changmin yang khawatir dengan kaki Yunho. Ia paham jika berjalan dengan satu kaki cukup melelahkan.
Yunho tertawa, Changmin selalu saja seperti itu. Mereka pun duduk di kursi taman.
"Aku rasa Jaejoong menyukai kucing-kucing itu" Kata Yunho sambil tersenyum. Kebahagiaan Jaejoong akan membuat hatinya berdesir halus.
"Aku tak tahu Hyunwon mendapatkan kucing-kucing itu dimana, yang pasti mereka bukan berasal dari dunia Jaejoong" Jelas Changmin membuat Yunho mengangguk paham.
Sedangkan di tempat Jaejoong, kucing itu begitu dekat dengan pemilik baru mereka. Ia duduk di lantai di kelilingi oleh kucing-kucing berwarna putih dengan bola mata berwarna kuning.
Jaejoong tertawa karena merasa lucu dengan hewan gembul itu, tanpa menyadari mata mereka bersinar disekitarnya.
.
.
.
Ceklek..
Jaejoong menutup pintu kamar tempat kandang-kandang kucingnya berada. Ketika ia berbalik, tubuhnya bertabrakan dengan Yoochun yang entah kenapa sudah berdiri dibelakangnya.
"Ah, mianhae" Jaejoong membungkuk berulang kali pada Yoochun yang hanya terkekeh.
Jaejoong berhenti, lalu mendongak kearah Yoochun yang sedang tersenyum manis padanya.
"Ternyata kau lebih tinggi dari my su-ie" Kata Yoochun sambil menepuk kepala Jaejoong berulang kali.
"Dan kau juga sama manisnya dengan my su-ie" Lanjutnya. Jaejoong ikut tersenyum, ternyata Yoochun sama dengan keluarga Jung lainnya yang begitu ramah, kecuali Heechul tentunya. Jaejoong cemberut, entah kenapa hanya pria bermata hijau itu yang begitu menyakitkan.
Yoochun ingin tertawa karena mendengar pikiran Jaejoong tentang Hyung tertuanya tersebut, tapi ia hanya diam.
"Apa kau sudah berkeliling Angelos?" Tanya Yoochun. Ia memang sengaja mendekati Jaejoong atas permintaan Junsu. Tentu saja mereka tahu akibat dari hal itu, dan Yoochun menolaknya untuk pertama kali, tapi Junsu terus berkata akan menjamin kalau Yunho marah padanya.
Junsu tahu kalau Yunho akan marah pada siapapun yang mendekati Jaejoong, tapi bagi Junsu itu tidak berlaku karena Yunho tahu kalau Junsu tak akan merebut Jaejoong.
Yoochun berdecih, memang siapa yang ingin kehilangan kepala karena sudah melanggar takdir masing-masing Jung?
Alhasil, dengan pasrah pada akhirnya ia pun berada disini, tepat didepan Jaejoong.
Jaejoong mengerutkan keningnya, sepertinya pertanyaan Yoochun ada benarnya juga. Ia sudah sebulan berada disana, tapi tempat yang ia tahu dirumah ini hanya kamarnya, kamar Yunho, dapur dan taman, juga kamar kucing-kucingnya yang baru hari ini ia datangi. Padahal rumah ini begitu besar.
"Aku mau" Kata Jaejoong dengan senyum lebar.
.
.
.
"Ini ruang tamu. Meskipun Angelos jarang kedatangan tamu tapi ruangan ini selalu rapih dan tak ada debu" Kata Yoochun memulai tournya dari ruang tamu. Jaejoong mengangguk disampingnya, mengikuti Yoochun yang mengelilingi ruang tamu itu.
"Sekarang kita keruang keluarga" Mereka berpindah keruangan yang ada di samping ruang tamu. Yoochun menyalakan lampu dinding karena ruangan itu mempunyai lampu yang tidak terlalu terang.
"Ini ruang keluarga. Kami pernah berkumpul disini untuk beberapa waktu, sampai My Su-ie pergi 1 tahun yang lalu" Kata Yoochun. Ia berkata jujur untuk itu.
Jaejoong mendekati sebuah meja di sudut ruang keluarga itu yang berjejer figura-figura yang dulu pernah ia lihat.
"Dulu aku pernah menunggu Ahjumma disini lalu di beritahu tentang foto-foto ini dan.." Jaejoong bersemangat menceritakannya, dan ia menjadi ingat tentang pertanyaan yang entah kenapa ia lupakan dulu.
Jaejoong menoleh pada Yoochun, "Kenapa figura itu kosong?" Tanyanya sambil menunjuk 2 figura kosong yang ada di ujung.
Yoochun menaikkan alisnya, sepertinya dulu sang ibu pernah menahan pertanyaan Jaejoong. Ia jadi bingung harus menjawab apa.
"Ya itu karena foto keluarga Jung sudah cukup" Jawab Yoochun asal.
Jaejoong terdiam. Jawaban Yoochun ada benarnya, tapi yang membuatnya bingung kenapa figura itu masih di letakan disitu.
Jari telunjuk Yoochun berada di kening Jaejoong membuatnya terkejut, "Kau ini terlalu memikirkan hal-hal yang tak penting" Kata Yoochun. Ia lalu berjalan meninggalkan Jaejoong.
"Tempat selanjutnya adalah dapur" Kata Yoochun sebelum pergi.
Jaejoong tersadar lalu segera menyusul Yoochun.
.
.
.
"Namanya Yoonbin, kepala koki keluarga Jung. Dia bisa mengolah semua makanan agar bisa dimakan oleh seluruh Jung" Kata Yoochun memperkenalkan seorang pria bermata sipit.
Yoonbin membungkuk, "Salam kenal, Tuan" Katanya sopan. Jaejoong mengangguk. Pria didepannya itu bertubuh serupa dengan Hyunwon, tinggi besar, tapi yang berbeda adalah ekspresi wajah mereka. Yoonbin tak pernah tersenyum.
"Koki utama di dapur ini ada 3 orang berikut Yoonbin, dan hanya mereka yang mengurus dapur ini" Lanjut Yoochun. Jaejoong cukup takjub, ia melihat kesekitar dapur itu dan semua orang yang ada disana tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Sudah selesai?" Tanya Yoochun pada Jaejoong dan dibalas dengan anggukan bersemangat oleh pria itu.
"Selanjutnya adalah perpustakaan yang berada di lantai 2" Kata Yoochun sambil tersenyum.
.
.
.
"Woah~" Jaejoong terperangah melihat ruangan besar didepannya. Ada banyak rak-rak tinggi yang saling berhimpitan, memutari ruangan yang memang berbentuk bulat itu.
Jaejoong memegangi keningnya lalu melihat sekelilingnya yang penuh dengan buku-buku. Tepat ditengah ruangan terdapat 4 meja dan kursi yang berjejer agak berjauhan.
"Aboji senang membaca, jadi tempat ini adalah ruangan favoritenya" Yoochun bersandar pada salah satu meja. Jaejoong melihat sebuah meja yang cukup besar lengkap dengan kursinya di pojok ruangan.
Jaejoong tidak tahu kalau rumah ini memiliki ruangan yang bahkan 2 kali lebih besar dari rumah kontrakannya.
"Lantai bawah terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan ruang makan. Lantai 2 terdapat perpustakaan, ruang musik, kamar Yunho Hyung, galeri Yunho Hyung, dan kamarmu, sedangkan lantai 3 hanya ada kamar Bumonim, kamarku, kamar Heechul Hyung, dan kamar Changmin. Sedang taman ada di lantai bawah tepat dibelakang" Jelas Yoochun panjang lebar. Jaejoong hampir terjatuh ketika mendengar itu, ternyata rumah ini memang besar dan banyak ruangan menakjubkan baginya.
Yoochun tersenyum bangga, "Aku yakin rumah ini adalah yang terbesar yang pernah kau tempati" Katanya. Jaejoong mengangguk-angguk lucu.
"Sekarang kita ke taman. My Su-ie ada disana bersama dengan Changmin" Ajak Yoochun.
.
.
.
Plok..plok..plok..
"Ternyata kemampuan adik iparku ini bertambah baik" Seru Junsu bersemangat. Changmin menatap angkuh kearahnya sambil melipat tangan di dada.
"Tentu saja, Jung Changmin" Katanya bangga.
"Yah walaupun kemampuanmu hanya itu" Cibir Junsu membuat Changmin menatap tajam kearahnya. Junsu memang seperti itu jika berhadapan dengan Changmin.
"Apa? Aku salah?" Tantang Junsu pada Changmin yang lebih tinggi darinya itu.
"Kau akan tahu kalau suatu hari nanti kemampuan memanahku ini berguna melebihi kemampuan membaca pikiran suamimu itu" Ejek Changmin membuat Junsu mengerucutkan bibirnya.
"Huh"
"Wah wah, kalian terlihat akrab sekali" Kata Yoochun yang baru datang. Junsu memekik senang melihat suami tampannya itu, tapi yang ia hampiri dan peluk adalah Jaejoong yang berada disamping Yoochun.
"Jae, aku merindukanmu" Kata Junsu agak berlebihan, ia memeluk Jaejoong erat.
"I-iya, Hyung"
"Sudah My Su-ie" Yoochun sengaja memisahkan Jae-su sebelum Jaejoong tewas di pelukan sang istri.
Junsu hanya terkekeh setelahnya, "Dia memang suka heboh sendiri" Cibir Changmin membuat Junsu mengeluh kesal.
"Yeobo, bakar saja sayap Changmin. Dia membuatku..." Junsu berbicara dengan kesal hingga tak menyadari kalau Jaejoong ada bersama mereka.
"Sayap?" Pertanyaan Jaejoong itu membuat semua yang ada disana terkejut, termasuk Junsu. Ia menutup mulutnya dengan tangan.
"Cha-Changmin sayap?" Ulang Jaejoong. Ia butuh penjelasan tentang itu, tapi ketiga orang yang ada di taman itu hanya diam.
BRUUUUUSSHH~
Dengan cepat langit diatas Angelos berubah hitam, angin berhembus kencang menerbangkan bunga-bunga peliharaan Taerin, mengibas rumput hijau yang menjadi pijakan Jaejoong, Junsu, Changmin dan Yoochun.
Tanah dibawah mereka bergetar membuat tubuh mereka oleng lalu terjatuh. Junsu dan Jaejoong saling berpelukan dan berteriak membuat Yoochun dan Changmin panik.
Dari depan pintu taman seseorang berteriak, "CEPAT BAWA JAEJOONG PERGI!"
Changmin dan Yoochun tersentak ketika mendengar perintah Yunho itu. Changmin merangkak kearah Jaejoong, mengusap wajah pria itu hingga mata bulatnya terpejam.
Yoochun mengepakkan sayap dipunggungnya, mengangkat Jaejoong lalu terbang dari taman itu sedang Changmin menyelamatkan Junsu.
"Gawat Yunho, Dia mulai mengetahui tentang Jaejoong" Kata Hankyung yang berdiri disamping Yunho.
Yunho mendongak, wajahnya mengeras menatap langit yang tetap hitam. Ia benci situasi ini.
.
.
T
B
C
.
.
Bagaimana dengan chap ini? Panjang kan? Terus bikin mules kan? Haha..
Chap depan bakal ketahuan kenapa Jaejoong gak boleh keluar dari angelos, kenapa dia berbeda dari Hankyung dan Junsu, kenapa kaki Yunho lumpuh, kenapa, kenapa dan kenapa?
Penasaran? Tunggu chap selanjutnya ^_^
Aku butuh Jung lain untuk peran antagonis di ff ini tapi aku tidak punya pilihan tentang itu. Aku gak mau masukin nama khayalan biar ff ini berasa di drama-drama yang ada orangnya, walaupun OOC yang penting orangnya itu benar-benar ada. Apa kalian punya usul orang bermarga Jung? Aku butuh 2 yah. Gomawo ^_^
