Angelos
Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg
Rating : T
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others
Author : Kim Hyunri aka me
Chapter 5
Sore ini langit masih di selimuti awan hitam, meski hujan turun di luar sana, tidak mampu menghilangkan gelap yang menyelimutinya.
Saat ini keluarga Jung sedang berkumpul di ruang keluarga, bersama dengan Jaejoong yang sedang terlelap diatas sofa. Mereka berdiri mengelilingi pria itu, sedang Yunho berdiri di depan jendela besar, mengdongak kearah langit yang tampak tak bersahabat.
"Bagaimana bisa Dia tahu tentang Jaejoong?" Tanya Yoochun memulai pembicaraan.
"Kita memang tidak menyembunyikan Jaejoong secara benar" Jawab Jinwoon.
"Tapi Jaejoong tidak pernah keluar dari Angelos sejak pertama kali ia datang, lalu bagaimana Dia bisa tahu tentang Jaejoong?" Tanya Yoochun lagi. Yunho membenarkan perkataan adiknya itu dalam hati. Ia menoleh kearah Jaejoong, menatap sendu sang malaikat hatinya tersebut.
"Sudahlah, tidak perlu membicarakan tentang itu. Sekarang yang terpenting apa yang akan kita lakukan, bahkan Jaejoong saja belum tahu tentang kita" Kata Taerin yang dari tadi diam.
"Ta-tapi dia nyaris tahu tadi" Kata Junsu dengan gugup.
Changmin berdecih, "Junsu Hyung berkata tentang sayap dan Jaejoong penasaran tentang itu" Kata Changmin menjawab kebingungan semua orang. Junsu menunduk sambil bergumam kata maaf.
Yoochun maju selangkah, "My Su-ie tidak bersalah, ia hanya kelepasan bicara"
"Sudah lah, jangan di bahas. Mungkin memang sudah waktunya Jaejoong tahu" Kata Jinwoon menengahi.
"Apa?" Pekik Taerin tak setuju, "Usianya masih kurang 17 tahun"
"Kita bisa memberitahunya sekarang dalam keadaan mendesak" Kata Jinwoon kemudian.
"Biar aku yang mengurusnya" Semua orang menoleh pada Yunho yang berbicara. Pria tampan itu mendekat kearah sofa dengan perlahan, lalu duduk di tepinya, mengusap pipi halus Jaejoong dengan lembut.
"Kita tak harus mengatakannya sekarang. Angelos bisa melindungi Jaejoong dan aku rasa Dia tidak akan bertindak sekarang" Kata Yunho penuh keyakinan. Firasatnya yang kuat mengatakan itu. Bahkan kakinya tak terasa apapun yg berarti kehadiran 'Dia' bukan sekarang.
"Kenapa kau yakin, Yunho?" Tanya Jinwoon.
Yunho tersenyum, "Kaki ini tak menunjukkan rasa apapun dan aku yakin ini hanya peringatan pertama untuk kita" Katanya penuh keyakinan.
Seluruh Jung hanya bisa percaya perkataan dari sang putra kedua, Jung Yunho.
.
.
.
Jaejoong mengerjapkan matanya berulang kali. Ia terbangun di atas tempat tidur yang tak asing, tapi itu bukan tempat tidur kamarnya.
"Eungh" Ia mengeluh sambil berusaha bangun, mengusap wajahnya yang terlihat berantakan.
"Sudah bangun?"
Jaejoong terperanjat mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh kesamping dan mendapati Yunho sedang duduk di pinggir tempat tidur, menghadap kearahnya.
"Yu-Yunho sshi"
Yunho mengangkat tangannya, mengusap dengan perlahan poni Jaejoong yang menutupi mata. Hal tersebut membuat Jaejoong terdiam. Matanya menatap Yunho yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi biasa.
"Kau begitu manis, Jae" Kata Yunho, membuat pipi Jaejoong merona. Yunho tersenyum, wajah Jaejoong yang seperti itu membuat hatinya bergetar.
"Yu-Yunho sshi, aku.." Jaejoong ingin berkata entah apa, bahkan dirinya sendiri bingung ingin mengatakan apa. Tatapan tajam namun lembut dari Yunho membuat persendiannya melemas. Ia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya, jadi ia tak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Yunho yang tahu apa yang sedang Jaejoong pikirkan hanya tersenyum, ia sudah membuat malaikatnya gugup.
"Ah, itu.." Jaejoong tersadar, ia melihat sekitarnya. Ternyata ia ada di kamar Yunho. Bagaimana bisa? Seingatnya tadi ia ada di taman, berbicara dengan Yoochun, Changmin dan Junsu, lalu tiba-tiba langit menghitam seperti akan turun hujan. Tapi tidak, Jaejoong ingat kalau saat itu tanah pun bergetar.
Ia menatap Yunho khawatir. Apakah ia pingsan? Apakah terjadi apa-apa setelahnya?
Yunho yang melihat wajah panik Jaejoong mengerutkan keningnya, "Wae?"
"Apa baru saja terjadi badai? Kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Jaejoong agak terburu-buru.
"Badai? Tidak, di luar hanya hujan" Jawab Yunho sambil menoleh kearah jendela kamarnya. Jaejoong mengikuti Yunho, melihat air hujan yang berembun di kaca jendela.
Langit tak hitam lagi setelah 3 jam berlalu dan hal itu membuat Yunho bersyukur. Kejadian tadi tak pernah terjadi sebelumnya dan tak wajar. Ia yakin kalau tadi bukan mendung biasa.
"Hah, syukurlah" Kata Jaejoong menghela nafas, tapi detik kemudian ia tersentak, "Lalu sayap?" Tanyanya bingung.
"Sayap apa? Burung?"
"Tadi Junsu Hyung bilang tentang sayap Changmin, apa maksudnya?"
Yunho tersenyum, "Mereka hanya bercanda. Sayap apa? Mana mungkin Changmin punya sayap" Jawab Yunho dengan wajar. Untuk alasan itu tak perlu pusing ia pikirkan.
Jaejoong terdiam, merasa ada yang janggal di hatinya, entah karena apa.
Ia melihat kesekitar kamar Yunho, tempat itu cukup nyaman meski terasa hawa yang begitu pekat. Ia bisa merasakannya. Rumah ini sudah berbeda sejak awal dan Jaejoong baru menyadarinya.
"Yunho sshi, keluarga Jung punya usaha apa?" Tanya Jaejoong membuat Yunho mengangkat sebelah alisnya.
"Rumah ini besar, dan kalian merupakan orang-orang berwajah bangsawan. Pasti perusahaan kalian banyak" Kata Jaejoong dengan wajah polos. Ia merasa sudah lancang berkata seperti itu, kesan ucapannya begitu meragukan.
"Kami punya perusahaan dan kekayaan nenek moyang, jadi kau tak perlu khawatir, kami cukup kaya untuk membeli rumah" Jawab Yunho datar, Jaejoong merasa tak enak, pasti perkataannya tadi sangat menyinggung.
"Ma-maksudku.."
"Berwajah bangsawan? Benarkah? Aku rasa hanya Heechul Hyung yang seperti itu karena ia memang penggemar hal-hal seperti itu" Lanjut Yunho. Jaejoong diam. Ia juga merasa seperti itu.
"Sudahlah, Jae. Sepertinya kau baik-baik saja" Kata Yunho lalu berdiri dengan perlahan. Jaejoong yang melihat itu segera melompat lalu membantu Yunho berdiri.
Saat sedang memegang tangan Yunho, wajah mereka begitu dekat. Yunho menyadari itu untuk pertama kali dan tetap diam hingga Jaejoong menoleh.
Mata mereka begitu dekat, Jaejoong bisa merasakan nafas hangat Yunho. Mereka tertahan dalam posisi itu untuk beberapa saat hingga Yunho mengaduh sakit.
"Ka-kau kenapa, Yunho sshi?" Tanya Jaejoong. Yunho kembali duduk sambil memegangi kakinya. Jaejoong yang masih gugup tak tahu harus berbuat apa.
"A-aku pijat kakimu" Jaejoong berjongkok didepan Yunho, lalu memijat perlahan kaki kanan Yunho. Selama kegiatan itu di lakukan Jaejoong, Yunho hanya diam. Ia ingin tertawa. Kakinya sakit? Bahkan ia tidak merasa memiliki kaki disana.
Jaejoong tipe yang bertanggung jawab, ia melakukan pekerjaannya dengan benar dan taat. Yunho begitu menyukai sifat Jaejoong yang itu.
.
.
.
Sejak kejadian hujan hari itu, waktu berjalan cukup cepat. Dan tak terasa Jaejoong sudah melewati masa 2 bulan tinggal di Angelos.
Hari ini tepat pergantian tahun. Keluarga Jung—atas usul Changmin melakukan kegiatan yang bahkan jarang mereka lakukan. Dalam beratus tahun bisa di hitung mereka merayakan pesta tahun baru seperti ini. Memang peduli apa mereka dengan waktu? Bahkan untuk Jung yang sedang menunggu tamu 5 tahun sekali, menginginkan waktu berlalu lebih cepat.
Malam ini mereka melakukan barbeque. Jaejoong dan Junsu begitu antusias. Mereka memilih bahan apa saja yang di perlukan di dapur, membawa semua itu ke taman belakang.
Jaejoong terlihat bersemangat memotong tomat, paprika dan bawang merah yang akan di gunakan sebagai pelengkap. Sedang Junsu sibuk memotong daging sapi dan babi untuk selanjutnya bisa di bakar oleh siapapun.
Saat kedua sedang sibuk sambil berceloteh, ketujuh Jung lainnya hanya duduk malas di kursi yang sudah di siapkan. Taman belakang di sulap menjadi seperti cafe dengan 4 meja dan banyak kursi yang cukup untuk semua. Hyunwon yang menyiapkan itu atas perintah Jaejoong.
"Betapa imutnya My Su-ie kalau sedang seperti itu" Kata Yoochun sambil memandang penuh kebanggaan pada Junsu yang masih sibuk dengan dagingnya.
Changmin berdecih, "Dasar manusia. Walau Junsu Hyung sudah setengah malaikat, tapi jiwa manusianya masih dominan" Cibirnya. Junsu dan Changmin tak pernah akur, semua tahu itu.
"Jangan menggerutu tentang malaikatku!" Desis Yoochun pada adik bungsunya itu. Changmin hanya terkekeh, tak takut dengan ucapan Yoochun tadi.
"Jaejoongku sudah semakin gemuk" Gumam Yunho yang berada di tengah-tengah Changmin dan Yoochun, menatap penuh cinta kearah Jaejoong.
Yoochun tergelak, "Hari penyatuan sebentar lagi akan datang, Hyung. Dulu My Su-ie yang sudah montok itu pun lebih berisi menuju hari penyatuan" Katanya sambil tertawa.
Yunho ikut tertawa, "Bagaimana saat dia hamil nanti? Calon anakku akan membuatnya semakin gendut" Sambung Yunho. Kedua Jung itu saling tertawa, melupakan Changmin yang belum ada pasangan.
"Persiapan selesai~" Seru Jaejoong pada semuanya. Seluruh Jung berdiri, menghampiri Jaejoong dan Junsu, kecuali Heechul yang tak berminat sejak awal.
Tadi Hankyung sempat di tarik oleh Heechul agar tetap menemaninya, tapi pria cina itu langsung mencium sang istri lalu tersenyum.
"Ini moment langka, baby. Di dunia luar aku jarang melakukannya" Katanya kemudian. Heechul tak bisa melakukan apapun selain melepaskan Hankyung.
.
.
.
Semua orang tampak menikmati malam ini. Semua bersenang-senang, saling bergurau sambil membakar daging satu persatu. Junsu tampak lucu ketika Changmin terus menggodanya, Jaejoong sibuk membolak-balikkan daging bersama dengan Yunho yang akan menunjuk mulutnya sesekali agar di suapi sepotong daging matang. Jaejoong melakukannya dengan senang hati.
Jinwoon dan Taerin berpisah agak menjauh dari anak-anaknya, saling menyuapi dan tertawa bersama.
Yoochun sibuk mengurusi Junsu yang merajuk karena Changmin, sedang Hankyung hanya menggelengkan kepalanya sambil meminum wiski ditangannya.
Dibalik kesenangan itu, ada wajah Heechul yang tampak murung. Ia melihat kearah Jaejoong yang sangat bahagia bersama Yunho.
.
.
.
Tak terasa hari sudah semakin malam. Semua orang di taman itu menikmati kebersamaan mereka. Membuat pesta tahun baru ini menjadi lebih berkesan. Jaejoong biasa melakukan itu bersama kedua orang tuanya, atau kibum—sahabatnya. Tapi untuk malam ini ia agak bersedih karena tidak melakukan itu bersama orang-orang yang ia cintai.
Jaejoong menghela nafas di tempatnya. Ia memperhatikan satu persatu Jung yang tampak bahagia. Mereka adalah keluarga barunya, mereka yang ia punya di dunia ini dan tak tahu harus kemana jika tak bertemu mereka.
Jaejoong tersenyum, bersyukur ia masih diberi kebahagiaan. Ia berjanji, suatu hari nanti akan membalas kebaikan keluarga Jung.
Wusshhh~
Angin berhembus di sekitar wajah Jaejoong, mengibaskan poninya dengan lembut. Ia memejamkan matanya seraya tersenyum.
"Kau sudah kenyang, Jae?" Tanya sebuah suara membuat Jaejoong terkejut. Ia menoleh cepat kearah samping.
"Yu-Yunho sshi" Yunho tersenyum, "Mau bicara denganku dibawah pohon itu?" Tunjuk Yunho pada sebuah pohon yang berada tak jauh dari tempat barbeque.
Jaejoong mengangguk, ia membantu Yunho untuk berjalan. Setibanya di tempat itu, Yunho mengajak Jaejoong untuk duduk dibawah. Berdiri dengan satu kaki normal membuatnya kesulitan.
"Anda ingin bicara apa?" Tanya Jaejoong, menoleh pada Yunho yang duduk disampingnya.
"Tidak ada" Jawab Yunho membuat Jaejoong mengernyit. Yunho hanya menyukai moment mereka berdua, meski itu hanya duduk berdampingan seperti ini.
Tak berapa lama, angin kembali berhembus di sekitar mereka, membuat kebersamaan mereka menjadi lebih nyaman.
"Kau sudah punya kekasih, Jae?" Tanya Yunho setelah lama diam.
Jaejoong berfikir, "Tidak. Usiaku bahkan baru 16 tahun"
Yunho tersenyum, ia tentu tahu itu, "Kau cukup manis dan aku rasa banyak yang menyukaimu"
"Mungkin, tapi aku tak menyukai mereka. Wanita selalu banyak tuntutan akhir-akhir ini dan aku tak punya apa-apa untuk mereka" Jaejoong terus bicara dan kata wanita membuat Yunho berekspresi datar.
"Kenapa kau tak mencoba dengan laki-laki?" Tanya Yunho dengan nada dingin.
Jaejoong tertawa mendengar itu, "Aku rasa itu ide baik. Memang ada lelaki yang mau denganku?" Kata Jaejoong balik bertanya.
"Ada"
Jaejoong cukup terkejut dengan jawaban itu. Ia menatap miring kearah Yunho.
"Apa?"
"Iya, ada lelaki yang tertarik padamu, apa kau tak tahu?" Jaejoong menggeleng. Ia tipe orang yang tidak memperhatikan siapa orang yang mencoba menarik perhatiannya.
"Kau harus lebih peka pada orang disekitarmu, Jae" Kata Yunho sambil menepuk-nepuk kepala Jaejoong. Jaejoong terdiam, ia merasa dadanya berdesir.
Sudah cukup lama ia sering merasakan hal itu ketika bersama dengan Yunho, tapi ia baru menyadarinya.
Yunho melihat kearah jam tangannya. Hyunwon baru memberikan jam yang sudah di sesuaikan dengan jam di dunia Jaejoong.
"Jae, pukul 12 malam 2 menit lagi. Apa kita harus menyalakan kembang apinya?" Tanya Yunho membuat Jaejoong tersadar dari lamunan.
"Ah, iya. Ayo" Jaejoong berdiri lalu membantu Yunho dan mereka bersama-sama berjalan kearah yang lainnya.
"Junsu Hyung, cepat nyalakan kembang apinya. Sudah hampir jam 12 malam" Kata Jaejoong pada Junsu. Junsu terkejut lalu mengangguk.
"Biar aku saja!" Pekik Changmin yang berlari mengambil kembang api itu dari Junsu.
Dzing..
DUAR DUAR DUAR
DOOR..
Setelah perebutan antara Junsu dan Changmin akhirnya kembang api itu meluncur dengan indah keatas langit. Jaejoong terpukau melihat kembang api beraneka warna itu.
"Indahnya" Gumam Jaejoong bahagia.
.
.
.
"Jadi, namanya Kim Jaejoong?" Tanya seseorang bersayap keemasan, didepan sebuah kaca yang tak terlalu besar. Disana terdapat wajah Jaejoong yang sedang tersenyum.
"Betul, My Lord"
"Cukup manis juga" Gumamnya sambil tersenyum.
"Lalu langkah apa yang akan anda ambil, My Lord?"
Orang itu tersenyum, "Menurutmu? Kita biarkan mereka bahagia dulu" Katanya kemudian.
.
.
.
Mereka selesai dengan acara pergantian tahun tepat pukul 1 pagi. Junsu sudah di bawa kekamarnya oleh Yoochun dalam keadaan tidur. Sedang Jaejoong juga dibawa oleh Yunho kekamarnya. Pria itu lama berada di kamar Jaejoong, memandang wajah pulas pria itu yang menurutnya begitu manis. Ia hanya memandang jauh, berdiri di samping tempat tidur, lalu bergumam, "Selamat tidur, Malaikatku"
Setelah itu Yunho keluar dari kamar Jaejoong agar pria manis itu bisa tidur dengan nyenyak.
Ceklek..
"Yunho, aku ingin bicara" Ketika Yunho baru menutup pintu kamar Jaejoong, suara Hankyung mengejutkannya.
"Bicara apa, Hyung?" Hankyung tak menjawab, ia menepuk bahu Yunho lalu beranjak pergi dari hadapannya.
Yunho mengikuti Hankyung perlahan. Kakak iparnya itu berjalan menuju perpustakaan.
"Duduklah, Yunho" Hankyung menunjuk kursi di belakang Yunho lalu di ikuti oleh adik iparnya itu.
Setelah Yunho duduk, Hankyung menarik kursi yang berada tak jauh darinya, lalu duduk berhadapan dengan Yunho.
"Mungkin aku tak punya hak langsung pada keluarga Jung ini, tapi aku peduli padamu" Kata Hankyung memulai, Yunho diam sambil mendengarkan perkataan suami dari kakak tertuanya itu.
"Aku sudah tau sejarah tentang kalian, dan ramalan Hyunwon itu akan segera terjadi. Apa kau sudah siap untuk itu, Yunho-ya?" Tanya Hankyung. Yunho melihat tangannya diatas paha. Ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu.
Apakah dirinya siap? Apa yang pernah Hyunwon katakan dulu tentang keluarga Jung akan benar-benar terjadi?
"-Dan aku menghargai keputusan kalian untuk tidak memberitahu Jaejoong, tapi mengenai kejadian kemarin, aku rasa kau harus cepat memberitahunya"
"Aku akan menunggu 26 hari lagi saat Jaejoong berusia 17 tahun. Tidak sekarang. Ia belum cukup umur untuk mengetahui tentang kita dan aku butuh waktu untuk menyelami perasaannya" Jelas Yunho, diakhir kalimatnya, ia memandang jauh kedepan, kearah pintu bercat coklat.
Hankyung menghela nafas. Tanggung jawabnya hanya menasehati. Sebagai kakak tertua, ia harus ikut campur karena ini sudah menyangkut keluarganya. Ia tak pernah menganggap keluarga Jung sebagai orang lain. Sejak ia mencintai Heechul, ia sudah menjadi bagian keluarga Jung.
Hankyung berdiri, menepuk bahu Yunho dan memberi senyum penyemangat padanya. Yunho balas tersenyum dan memandang Hankyung yang berjalan menjauhinya.
.
.
.
Keesokan harinya menjadi hari yang menyenangkan untuk Jaejoong. Ia bangun dengan senyum yang mengembang di wajahnya, mengingat moment semalam yang menyenangkan.
"Selamat pagi" Sapanya saat tiba diruang makan. Ia tersenyum pada semua orang yang berada disana.
"Pagi, Jaejoongie" Balas Taerin yang senang melihat wajah bahagia calon menantunya.
Jaejoong duduk di tempatnya, mengernyit heran ketika tidak mendapati Yunho duduk di kursi makan. Taerin yang melihat itu tersenyum.
"Kau mencari Yunho?" Tanya Taerin. Jaejoong terdiam, ia menyingkirkan poninya kebelakang telinga.
"Mungkin ia kelelahan. Ia tidur cukup pagi jadi mungkin masih mengantuk" Jaejoong melihat jam ditangannya yang tak berfungsi. Ia mendesah kesal. Ia selalu lupa jika semua jam yang ia punya rusak.
"Apa di rumah ini tidak ada jam?" Tanya Jaejoong pada semuanya. Yang berada di dalam ruang makan itu saling berpandangan.
"Tepat setelah pintu masuk, berjejer 4 jam yang cukup besar, Jae" Jawab Jinwoon. Jaejoong mengangguk. Ia ingat pernah melihat jam itu.
"Apa aku boleh ke supermarket sebentar?" Pertanyaan Jaejoong kali ini membuat semuanya kembali diam.
"Untuk apa?" Tanya Changmin.
Jaejoong tersenyum, "Keperluan bulananku habis jadi.."
"Katakan saja apa itu, nanti Hyunwon yang akan membelinya" Potong Taerin. Ia mengusap mulutnya dengan serbet. Perkataan Jaejoong membuat nafsu makannya menghilang.
"A-aku..." Jaejoong ragu karena ia malu.
"Kami semua yang disini juga sama, Jae. Ketika aku di Angelos, semua kebutuhanku Hyunwon yang mencarikan" Sambung Junsu. Jaejoong ingin menjawab tapi suara Heechul terdengar lebih awal.
"Lebih baik kau sarapan dengan Yunho, mungkin dia ingin makan di kamar"
"Oh iya" Jawab Jaejoong yang merasa usul Heechul ada benarnya. Sesaat kemudian Jaejoong pergi kedapur untuk mengambil makanan.
Seperginya Jaejoong, Taerin tersenyum, merasa terbantu oleh Heechul. Anak pertamanya yang tampak cuek dengan sekitarnya itu hanya fokus pada makanannya. Ia tersenyum, senyum yang hanya ia sendiri yang tahu artinya.
.
.
.
Seperti aktifitas Yunho tiap paginya, ia bangun lalu mandi di kamar mandinya yang kecil. Seperti saat ini ia baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan tertatih kearah lemari tanpa menggunakan tongkat. Ia sudah memakai celana panjang bahan berwarna coklat, tapi belum memakai baju.
Sreek..
Yunho menoleh, sayap di punggungnya yang berwarna perak, berubah besar dari bentuknya yang semula kecil. Ia tersenyum, menyentuh lembut bulu-bulu sayapnya.
Ceklek..
"Yunho sshi-"
Brak..
Yunho berbalik cepat, matanya terbelalak melihat Jaejoong yg berdiri dengan wajah terkejut, kedua tangannya menutup mulut.
"I-itu..ANDWE!"
PRANK..
Jaejoong berjalan mundur hingga tanpa sadar menyenggol vas bunga di pinggir pintu. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru ia lihat.
Mendengar suara pecah itu, semua orang di ruang makan—kecuali Heechul mendatangi Yunho.
Jaejoong menggeleng, ia terus berjalan mundur, "Ka-kalian siapa? Apa kalian?!" Tanya Jaejoong, suaranya bergetar.
"Ja-Jaejoongie!" Taerin mendekati Jaejoong tapi pria itu segera berlari cepat dan berakhir dengan mengunci pintu kamarnya.
"Ini celaka. YUNHO!" Jinwoon berteriak memanggil anaknya, Yunho berjalan tertatih keluar kamar. Ia sudah berpakaian lengkap.
"Kenapa kau ceroboh Yunho? Lihat! Jaejoong tahu siapa kita" Jinwoon memarahi Yunho. Ia tak habis pikir kenapa hal ini bisa terjadi. Yunho hanya diam, wajahnya cemas. Ia melihat kearah Ibu, dan saudara-saudaranya berada di depan pintu kamar Jaejoong. Yunho sama sekali tak menyangka Jaejoong akan datang kekamarnya.
.
.
BRAK BRAK BRAK
"Jaejoong! Buka pintunya" Suara Taerin terdengar bersamaan dengan gedoran pintu yang kencang. Jaejoong takut mendengarnya. Ia hanya duduk diatas tempat tidurnya, membuat selimut menutupi tubuhnya. Ia sangat ketakutan hingga wajahnya pucat.
"U-umma..Joongie takut. Hiks" Jaejoong tak lagi bisa menahan airmatanya. Ia benar-benar takut. Ia melihat sekitar, rumah macam apa yang ia tinggali ini.
Diluar kamar, Taerin terus memanggil nama Jaejoong. Otaknya buntu. Seharusnya tadi ia langsung membuat Jaejoong tertidur agar melupakan semuanya, tapi kepanikan membuat semuanya terlambat.
"Menyingkirlah, Omoni" Kata Changmin. Ia akan membuka pintu kamar itu.
Brak..
Setelah pintu terbuka, semua masuk kedalam kamar Jaejoong, terkejut melihat pria itu meringkuk di pojok tempat tidur.
"Jaejoongie.." Taerin mencoba mendekati Jaejoong, tapi Jaejoong terus menghindar.
"Ja-jangan..Hiks" Meski belakangnya tembok, tetap saja Jaejoong terus menghimpit tubuhnya ke belakang.
Taerin mengangkat tangannya untuk membuat Jaejoong tertidur, tapi pria manis itu menepisnya dengan cepat.
Taerin terkejut melihatnya, lalu menoleh kearah Changmin, menyuruh anaknya itu melakukannya.
Changmin duduk dekat Jaejoong, menggantikan posisi Taerin sebelumnya. Ketika Changmin ingin menyentuh kepala Jaejoong dengan tangannya, ia juga mendapat penolakan yang sama seperti ibunya.
"Jangan menyentuhku! Kalian menakutkan!" Sergah Jaejoong, tapi disaat Jaejoong lengah, Changmin mengangkat tangan yang berbeda dan mengusap kepala Jaejoong. Dalam sekejap pria malang itu pun tertidur.
Semua orang di kamar itu menghela nafas, termasuk Yunho.
Di depan kamar, sambil bersandar pada daun pintu, Heechul melipat tangannya di depan dada sambil menyeringai melihat Jaejoong yang sudah tertidur. Rencananya berhasil.
.
.
.
Tepat tengah malam, setelah jam di ruang tamu berdentang, Jaejoong terbangun dengan terengah. Nafasnya tak beraturan dan keringat membasahi wajah dan tubuhnya.
Ia baru saja melewati mimpi buruk, bertemu dengan hewan berwarna hitam, bermata kuning dan bertaring. Ia bagai ada disebuah labirin, disekitarnya hanya tanaman berwarna hijau yang tinggi. Dan ia terus berlari, meski hewan itu sudah tak terlihat tapi suara gaumannya terdengar di telinganya.
Jaejoong takut, ia ingin keluar dari tempat itu tapi tak bisa. Ia merasa harus menemukan sesuatu. Hatinya begitu menginginkannya, tapi jika ia terus berada disana, ia akan dimakan hewan buas itu. Ia terus berlari hingga didepannya terhalang sebuah pintu. Ia tersenyum, berfikir mungkinkah itu adalah jalan keluar, kalau iya maka ia harus segera membukanya dan pergi dari tempat itu.
"JANGAN JAEJOONG!"
Suara itu terdengar cukup keras, Jaejoong melihat kesekitar dan tak menemukan siapapun selain ia disana. Tapi ia yakin suara itu tak begitu jauh dibelakangnya. Haruskah ia kembali? Tapi bagaimana jika ia mati dimakan binatang itu?
Dalam kebingungannya, tiba-tiba ia terbangun, mengakhiri mimpi yang tak ia tahu baik atau buruknya.
"Mimpi apa itu?" Tanyanya entah pada siapa. Ia mengusap peluh diwajahnya, setelah selesai ia terdiam, melihat kesekelilingnya.
"A-aku masih disini?" Tanyanya bingung. Ia mendadak takut kembali. Ia ingat bagaimana Yunho mempunyai sayap dipunggungnya, sayap itu bergerak ketika tangan Yunho menyentuhnya.
"Mereka mahluk apa? Malaikat?"
"Yeobo, bakar saja sayap Changmin. Dia membuatku..." Junsu berbicara dengan kesal hingga tak menyadari kalau Jaejoong ada bersama mereka.
"Sayap?"
Aah,
Jaejoong baru ingat, Junsu pernah berkata tentang sayap Changmin tapi karena angin kencang itu ia tak mendapat jawabannya.
Jaejoong berfikir keras, mencoba mengingat hal-hal aneh yang ia dapatkan dirumah ini.
"A-ahjumma, semalam aku..itu makhluk apa?" Jaejoong ragu untuk bertanya.
"Hahaha, kau lucu Jaejoongie. Mana ada hewan yang bisa bicara, aduh perutku.." Taerin memegangi perutnya. Jaejoong baru melihat Taerin yang seperti itu.
"Tapi dia tahu namaku, Ahjumma! Dia memanggilku!"
Jaejoong ingat tentang itu, ia yakin kalau saat itu tidak sedang bermimpi. Tapi kenapa pagi setelahnya ia bangun didalam kamar yang terkunci. Benar kata Taerin, tak mungkin ada orang lain yang mengunci pintu kamarnya kecuali dia, karena saat itu tak ada siapapun.
Taerin membuka pintu kamar Jaejoong agak lebar, ia memegang bahu Jaejoong lalu tersenyum seperti biasa, "Jaejoongie, kau pasti sedang bermimpi semalam. Dirumah ini tidak ada kunang-kunang yang bisa bicara, kalaupun tentang Heechul, dia tidak bisa melihat dalam kegelapan karena gangguan dari matanya"
Jaejoong menunduk sesaat lalu mendongak kembali, "Tapi Ahjumma.."
Ia juga yakin melihat Heechul malam itu. Mata hijaunya bersinar menakutkan dan Jaejoong tak pernah melupakan itu.
Ia selalu merasa aneh sejak awal, tapi entah kenapa tiap pertanyaan yang ada di otaknya, terlupakan begitu saja. Tentu ia juga merasa aneh karena sejak tinggal di rumah ini, ia selalu terbangun dari tidur padahal seingatnya kegiatan terakhir yang ia lakukan bukan tidur. Seperti sekarang, sebelumnya ia masih menangis dan ketakutan didepan keluarga Jung, tapi sekarang ia sudah bangun diatas tempat tidurnya.
"Jadi, Rumah apa ini dan siapa keluarga Jung?" Tanyanya pada diri sendiri. Ia harus mencari tahu tentang semua pertanyaannya.
.
.
.
Heechul terus bersiul, ia menyisir rambutnya di depan kaca hias. Hankyung baru saja keluar kamar mandi.
"Sepertinya suasana hatimu sedang baik" Kata Hankyung sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Heechul tersenyum, menatap Hankyung lewat kaca didepannya, "Memang kenapa?"
Hankyung mendekati sang istri, lalu memeluknya dari belakang.
"Aku tahu tentang rencanamu, Chullie" Bisik Hankyung lalu mengecup telinga Heechul.
Heechul terkekeh, "Rencana apa?"
"Kau mungkin bisa membohongi Yoochun dan Jung lainnya, karena kau seorang Jung yang tak bisa dibaca pikirannya. Tapi tidak untukku" Jawab Hankyung. Heechul masih tertawa. Ia memang tak bisa membohongi suaminya itu.
"Lalu kenapa kau tak menghentikanku?" Tanya Heechul sambil mendelik.
"Aku rasa, Jaejoong tahu lebih awal akan jauh lebih baik. Semua demi Jung" Kata Hankyung penuh keyakinan. Heechul tersenyum, benarkah niatnya sama dengan Hankyung? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Dan besok pagi, semua akan bingung karena Jaejoong masih mengingat kejadian tadi" Sambung Heechul, mereka berdua saling melempar senyum.
.
.
T
B
C
.
.
Chap depan
Bruk..
"kau tidak bisa pergi dari sini Jaejoongie! Kau harus tetap disini untuk membantu kami" Kata Taerin setelah menjatuhkan Jaejoong ke lantai. Jaejoong masih terkejut, melihat kearah tasnya yang terbakar di hadapannya. Ia jelas melihat tangan Taerin mengeluarkan api dan hal itu semakin membuatnya takut.
.
.
.
Chap 5 selesai. Bagaimana? Chap ini Jaejoong udah tahu siapa keluarga Jung dan adakah yang tidak suka dengan pasangan Hanchul disini? Padahal niat mereka baik loh, kayaknya :p
Setelah aku telaah lebih jauh, rahasia ff ini dibongkarnya pelan-pelan yah, soalnya kalo langsung sekalian jadi kesannya kisi-kisi dong XD Biar aja ff ini kayak TTS yang keisinya satu-satu. Setuju?
Pokoknya mulai chap ini dan seterusnya, teka-teki ff ini bakal terungkap. Ada yang gak sabar? Nebak pasti ff ini panjang? Haha, tenang. Aku udah punya full plot, jadi gak bakal kayak sinetron kok. Paling banyak cuma 15 chap.
Siapa yang nunggu Yunjae NC? Bentar lagi kok ^_^
Ah iya, untuk polling chap kemarin, setelah memilih-milih, akhirnya aku dapat 1 nama yaitu Jung il woo yang bakal dapet peran selanjutnya. Dia jadi siapa? Tebak dong XD
See You Next Chapter ^_^
