Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 6

Langit di luar masih tampak gelap saat Jaejoong mengeluarkan seluruh pakaiannya dari dalam lemari. Ia memasukkan pakaian-pakaian itu kedalam tas yang ia bawa saat tinggal di tempat itu. Dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamar mandi, dan keluar beberapa saat kemudian. Ia memakai baju dan menyisir rambutnya, setelah selesai ia menghela nafas, tekadnya untuk pergi sudah kuat. Ia tidak ingin berurusan dengan siapapun yang ada dirumah ini.

Jaejoong membuka tirai jendela kamarnya, langit masih gelap dan ia menebak sekarang masih sangat pagi dan hal itu membuatnya tersenyum karena akan memudahkannya untuk keluar dari rumah itu.

Kriet..

Jaejoong membuka jendela kamarnya, lalu melihat kearah bawah. Ia berdecak kesal ketika tahu kalau jarak antara kamarnya dengan tanah cukup jauh.

"Aku tidak bisa keluar lewat sini" Katanya. Ia menggigit bibir bawah karena bingung. Jalan satu-satunya adalah lewat pintu depan, tapi jika seperti itu ia akan ketahuan.

"Tidak. Aku harus mencoba" Ia menyemangati dirinya meski dalam hati ia ragu. Apakah akan baik-baik saja?

Dengan langkah berat, ia membawa tasnya yang cukup besar. Membuka pintu secara perlahan. Lampu di luar kamar masih belum menyala dan itu adalah kesempatan bagus untuk Jaejoong.

Dengan agak meraba, ia berjalan kearah yang sudah ia hapal, menuju ke tangga. Ia berjalan melewati ruang makan dan ruang tamu hingga menemukan sebuah pintu yang cukup besar tak jauh darinya. Sebelum ia sempat mendekat, tasnya yang berada di pundak jatuh begitu saja kelantai. Ia membungkuk untuk mengambilnya, ketika akan bangun, matanya menangkap sepasang kaki yang berada di depannya. Dengan perlahan menegakkan tubuhnya, agak terkejut dengan kehadiran Hyunwon.

"Anda mau kemana, Tuan?" Hyunwon berpakaian pelayan, lengkap dengan kain yang selalu tersampir di bahu kanannya. Pria tinggi itu tersenyum seperti biasa.

Jaejoong yang sudah mengambil tasnya, mundur menjauh dari Hyunwon. Ia menggeleng pelan, lalu merasakan punggungnya menyentuh pintu.

"Kemari, Tuan. Ikut saya" Hyunwon mengulurkan tangannya. Jaejoong melihat kearah tangan pucat itu, menelan ludahnya agak susah.

"A-aku harus pergi, Hyunwon-sshi" Kata Jaejoong membuat senyum Hyunwon menghilang.

"Anda tidak bisa, Tuan. Dengan berat hati saya mengatakan, anda harus tetap disini sama seperti yang lain" Kata Hyunwon. Meski wajahnya berubah menakutkan, tapi kata-katanya masih penuh rasa hormat.

Jaejoong menggeleng cepat. Ia tidak ingin berada disini. Tangannya menggenggam erat pegangan tas yang ia pegang. Ia hanya tinggal berbalik dan membuka pintu itu lalu pergi sejauh mungkin.

BRAK..BRAK..

Shit!

Jaejoong kecewa karena pintu itu terkunci.

"Bi-biarkan aku pergi, aku.." Jaejoong berbalik, menghadap Hyunwon sambil memasang wajah memohon. Ekspresi wajah pelayan itu sungguh tak terbaca dan Jaejoong kesal dengan itu.

Tak berapa lama Hyunwon tersenyum, senyum yang berbeda dari sebelumnya.

"Rumah ini lebih aman untuk anda, Tuan"

"A-aku tak peduli! Kalian mahluk apa sebenarnya?" Sergah Jaejoong.

"Kau pernah dengar tentang mahluk bernama malaikat? Jika iya, maka itulah kami"

"Malaikat?" Tanya Jaejoong, "Tidak ada malaikat yang menyekap manusia" Lanjutnya agak kencang.

Hyunwon kembali tersenyum. Ia tidak akan berkata apapun yang bisa menyulut emosi Jaejoong. Pria itu harus tetap berada di Angelos bagaimanapun caranya.

"Anda tidak bisa pergi secara diam-diam seperti ini, setidaknya pergilah saat matahari terbit" Kata Hyunwon. Jaejoong terdiam, berfikir kalau ucapan pelayan itu ada benarnya. Mungkin kalau ia meminta pergi dengan pelan-pelan, ia akan dibiarkan pergi dengan mudah.

"Baiklah. Aku akan pergi nanti setelah diluar terang" Jawabnya. Ia membenarkan letak tas di bahu kirinya, lalu berjalan menuju kearah tangga. Sepertinya ia harus menunggu sebentar.

Dibalik tubuh Jaejoong yang sudah berjalan menjauh, Hyunwon memasang ekspresi datar.

.

.

.

Jaejoong sudah tiba didalam kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir di depan ranjang, menggigiti kuku jarinya sambil berfikir.

Apakah ia akan dibiarkan pergi?

Ia ingat bagaimana sulitnya meminta ijin untuk keluar rumah menemui teman-temannya, lalu bagaimana dengan sekarang?

Bruk..

Tubuh Jaejoong jatuh kebelakang, tepat keatas kasur. Dipandanginya langit-langit kamar yang berwarna biru.

Kenapa ia bisa terlambat menyadari keanehan-keanehan yang terjadi selama ini. Dan semua yang ada dirumah ini jelas-jelas sangat berbeda.

Hahh..

Ia harus segera bertindak. Sekarang atau tidak selamanya.

.

.

.

Krieett..

Jaejoong membuka jendela kamarnya yang setinggi pinggang. Sepertinya cukup sulit untuk bisa melompat kebawah, karena itu Jaejoong menggunakan seprai yang cukup panjang, lalu mengikatnya pada pinggir jendela yang agak berlubang.

Seprai yang cukup kuat itu sudah menjulur kebawah, tidak terlalu dekat dengan tanah tapi cukup untuk membantunya turun.

Saat hendak menaiki jendela, dengan tas yang berada di pundaknya, sebuah tarikan yang kuat membuatnya jatuh kebelakang dan berakhir di lantai.

Jaejoong menoleh cepat, mendapati Taerin dan Jinwoon yang berdiri tak jauh dibelakangnya.

"Kau mau kemana, Jaejoong?" Tanya Taerin dengan wajah yang tak bersahabat. Jaejoong menelan ludahnya. Ia segera bangun, lalu berusaha naik ke jendela tapi tangan Taerin menyentuh kedua bahunya, dan menariknya hingga Jaejoong kembali terjatuh.

Bruk..

Brusshh~

"kau tidak bisa pergi dari sini Jaejoongie! Kau harus tetap disini untuk membantu kami" Kata Taerin setelah menjatuhkan Jaejoong ke lantai. Jaejoong masih terkejut, melihat kearah tasnya yang terbakar di hadapannya. Ia jelas melihat tangan Taerin mengeluarkan api dan hal itu semakin membuatnya takut.

"Hiks..bajuku.." Jaejoong tidak bisa membendung airmatanya. Ia menunduk, membuat airmata jatuh keatas tangannya.

Wajah Taerin yang tadinya diselimuti amarah, kini berubah sendu. Ia sudah terlanjur menyayangi Jaejoong, dan tidak akan tega melihatnya menangis.

Taerin dan Jinwoon saling berpandangan, lalu Taerin berjalan mendekati Jaejoong yang sedang rapuh. Tas yang tadinya terbakar api tiba-tiba kembali seperti semula dan api benar-benar menghilang.

"Ja-Jaejoongie" Panggil Taerin sambil menyentuh bahu Jaejoong yang bergetar.

"Jangan, Ahjumma. Maafkan aku" Jaejoong bergerak menjauh. Ia benar-benar takut dengan wanita dihadapannya ini. Taerin menatap iba pada Jaejoong.

"Mianhae, Jaejoongie. Aku tak akan menyakitimu jika kau menurut" Kata Taerin dengan lembut. Jaejoong yang duduk sambil memeluk lutut, melihat pada Taerin dengan ragu-ragu. Haruskah ia percaya? Haruskah ia menurut?

"Aku..aku hanya ingin pergi, Ahjumma" Balas Jaejoong dengan ratapan memohon. Jinwoon yang sedari tadi diam, mendekati calon menantu dan istrinya.

"Kau harus tetap tinggal disini, Jae. Kau harus dengar penjelasan kami dulu" Kata Jinwoon. Ia ikut berjongkok, menghadap pada pria ketakutan di depannya.

Taerin tersenyum, senyum yang membuat ketakutan Jaejoong hilang, senyum yang membuatnya nyaman di tempat itu. Bukan senyum menakutkan seperti beberapa saat lalu.

"Tapi kalian bukan..manusia" Katanya agak ragu. Ia tidak tahu pasti, mahluk seperti apa yang ada didepannya ini.

Jinwoon pun tersenyum, "Kau benar, kami malaikat"

.

.

.

"500 tahun yang lalu, kami berenam tinggal dengan damai di Surga, menikmati segala anugrah yang Tuhan ciptakan untuk kami" Jinwoon memulai ceritanya. Kini mereka bertiga sedang duduk diatas kasur, dengan Jaejoong yang berada di tengah.

"Aku dan Taerin saling mencintai. Semua malaikat di surga menyambut pernikahan kami dengan suka cita. Dan memiliki Heechul, Yunho, Yoochun dan Changmin sebagai anak kami.

Tepat setelah kelahiran Changmin, sebuah fitnah datang kepada kami. Taerin memang anak angkat dari ayahku. Tapi saat seseorang berkata bahwa sebenarnya kami mempunyai hubungan darah. Orang itu menghasut semuanya. Ayah kami pun entah kenapa mengatakan kalau berita itu adalah benar" Jinwoon menerawang, mengingat kejadian yang sudah berlalu 5 abad itu.

'Kalian sudah dengar 'kan? Ayahku bahkan mengatakan kalau apa yang aku katakan adalah benar' Kata orang itu dengan angkuh. Jinwoon dan Taerin yang terduduk dilantai hanya memandang penuh kekecewaan pada orang itu.

'Dan seperti yang kalian semua ketahui, malaikat mempunyai hukum terlarang yang tak boleh antara kita menikah dengan saudara sendiri. Tapi dia..' Orang itu menunjuk pada Jinwoon, 'Menikah pada adik kandungnya sendiri'

Seketika semua malaikat yang berdiri di depan istana riuh dengan bisik-bisik yang menyudutkan kedua orang itu.

'Aku hanya ingin menjadi adil sebagai calon penerus ayahku. Dan dengan berat hati aku memutuskan, kalau kalian berdua beserta keempat anak kalian harus di lempar ke bumi'

'TIDAK! Apa yang kau katakah, Hyung? Kenapa kau tega pada kami?'

Orang itu tersenyum, 'Tega? Aku hanya menjalankan apa yang sudah di tugaskan padaku. Kalian itu buruk, sama seperti manusia-manusia dibawah sana jadi kalian harus bergabung dengan mereka' Kata orang itu penuh dengan keangkuhan.

'Tapi, Oppa..kenapa kau tega melakukan ini pada kami? Kalau aku dan Jinwoon Oppa bersaudara, maka kaupun akan begitu denganku' Kali ini Taerin tak bisa terus diam.

Pria bersayap emas itu tertawa dengan angkuh. Matanya menatap Taerin penuh kebencian.

'Lalu apa peduli ku? Kalian adalah sampah!'

'Kalian aku beri waktu untuk bersiap-siap, sebelum besok harus berada di bumi' Pria itu tersenyum, berbalik lalu melangkah menuju tempat ayahnya duduk. Tersenyum penuh penghormatan pada ayahnya yang menatap kesal pada anak pertamanya itu.

"Pada malam harinya, Dia datang kekamar kami, ingin membicarakan sebuah kesepakatan"

'Aku tak akan menghukum kalian jika kalian mau bekerjasama' Katanya, sambil duduk di kursi yang ada di kamar itu. Ditempat itu hanya ada mereka bertiga.

Jinwoon menatap murka pada pria yang memasang wajah tak bersalah itu.

'Cih, kau pikir kami takut padamu?!'

Pria itu tertawa kencang, merendahkan malaikat yang merupakan adik kandungnya itu, 'Lalu kau pikir aku main-main? Kau akan aku kutuk Jinwoon-ah'

Kedua mata Jinwoon dan Taerin terbelalak, 'Apa?'

'Haha. Memang kau pikir aku akan berbaik hati dengan hanya melempar kalian ke bumi?'

Pria itu menggelengkan kepalanya, 'Kalian tidak akan bisa kembali ke surga, dan anak kalian akan menikah dengan laki-laki'

'Aku rasa itu terlalu baik untuk kalian' Lanjutnya sambil mengangguk berulang kali, lalu berdiri dari duduknya. Melangkah kearah Jinwoon dengan pandangan menghina.

'Tentu aku tak akan melakukan itu, jika kau mau memberikan Taerin padaku' Katanya tepat di hadapan Jinwoon. Jinwoon yang mendengar itu tak mampu mengendalikan emosinya. Ia memegang leher pria itu dengan kedua tangan, mendorong dengan cepat hingga terduduk kembali kekursinya yang tadi.

'Aku membencimu, Hyung!' Jinwoon mengeratkan cekikannya pada leher pria itu. Meski cekikan Jinwoon terasa menyakitkan, tapi pria itu tetap tertawa, seolah tangan adiknya tidak menyakitinya.

'Kau akan menyesal, Jung Jinwoon!'

'Yeobo! Hentikan, jebal!' Taerin mencoba melepaskan tangan suaminya itu.

'ARRGH!' Jinwoon pun melepaskan cekikannya dari leher pria itu.

'Gomawo, Taerin ah. Kau memang gadis yang baik' Pria itu menyentuh pipi Taerin Meski harus mendapatkan tepisan dari wanita itu.

'Jangan sentuh aku. Kau menjijikkan' Sergah Taerin marah. Pria itu kembali tertawa.

'Nikmati hukuman kalian'

Plassh..

Pria itu menghilang. Jinwoon jatuh kebawah, meremas rambutnya kesal. Taerin yang melihat itu tak tega, ia pun memeluk Jinwoon penuh kelembutan.

'Apa salahku, Taerin ah? Apa salah kalau kita saling mencintai?' Tanya Jinwoon, memandang istrinya yang tampak bersedih.

'Ini takdir kita, Yeobo. Kita harus menerimanya'

"Kutukan?" Jaejoong menatap bingung kearah Jinwoon. Taerin menyentuh bahu Jaejoong lalu tersenyum.

"Kami terasingkan, Jaejoongie. Tak ada yang bisa membantu kami kembali ke surga, kecuali 1 hal" Perkataan Taerin membuat Jaejoong bertambah bingung.

"Anak"

"Mwo?"

"Kau tahu kenapa anak-anakku menikah dengan manusia?" Tanya Jinwoon. Jaejoong menggeleng polos.

"Karena harus lahir seorang anak dari hasil pernikahan antara kami para malaikat dan manusia"

Jaejoong cukup terkejut. Ia jadi berfikir siapa yang akan melahirkan anak. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh dipikirannya.

"Tapi anak kalian menikah dengan pria, lalu bagaimana.." Jaejoong bertanya dengan terburu-buru.

Taerin tersenyum sebelum menjawab, "Pria memang tak bisa melahirkan anak, tapi itu pengecualian...untukmu"

"MWO?"

.

.

.

Junsu berdiri didepan pintu kamar Jaejoong. Ia sudah mengetahui kalau Jaejoong sudah tahu semuanya. Keluarga Jung yang lain sempat bingung kenapa Jaejoong tidak lupa padahal Changmin berhasil menghapus ingatan Jaejoong.

Junsu ingin berbicara dengan Jaejoong karena saat sarapan pria itu tidak ada di ruang makan. Mungkin Jaejoong masih takut dengan yang lainnya.

TOK...TOK..

Junsu mengetuk pintu kamar Jaejoong, lalu suara dari dalam terdengar.

"Aku Junsu. Jae, boleh aku masuk?" Lama tak terdengar apapun dari dalam, hingga sebuah kunci yang diputar terdengar.

"Masuklah" Wajah Jaejoong terlihat membuat Junsu tersenyum.

"Eum, Jae. Apa kau marah padaku?" Tanya Junsu agak ragu. Mereka sudah duduk diatas ranjang Jaejoong.

Jaejoong melihat pada Junsu sebentar sebelum tersenyum, "Awalnya iya, karena kalian membohongiku. Tapi setelah tahu semuanya, kalian tidak berlaku buruk padaku" Jawaban Jaejoong membuat Junsu menghela nafas.

"Hyung, apa kau memang manusia?" Tanya Jaejoong.

"Iya sampai 5 tahun yang lalu, dan sekarang aku hanya setengah manusia" Kata Junsu. Jaejoong mengangguk.

"Lalu apa orang tuamu juga meninggal?" Tanya Jaejoong lagi. Ia sudah berpikir tadi, apakah kematian orang tua dan bibi Choi ada hubungannya dengan ini.

"Menurutmu? Aku sedih saat mengetahui kedua orang tuaku meninggal tapi setelah tahu semuanya, aku pun bersyukur"

"Maksudmu?"

Junsu menghadap Jaejoong, memegang kedua bahu calon kakak iparnya itu, "Ingat, Jae. Keluarga Jung adalah malaikat, mereka baik dan tidak pernah membunuh siapapun" Mendengar itu mata Jaejoong terbelalak.

"Ta-tapi"

"Kau pasti berfikir kalau apa yang kau lihat saat itu adalah benar?! Apa kau melihat mayat mereka?" Jaejoong menggeleng.

Junsu tersenyum, "Kau tidak pernah keluar dari Angelos. Mereka hanya membuat kau bermimpi tentang kematian itu"

"Tapi waktu denganmu itu?"

"Iya, Jae. Aku hanya masuk kedalam mimpimu" Kata Junsu. Jaejoong meremas tangannya.

"Jadi mereka belum meninggal?" Tanya Jaejoong pada dirinya sendiri, lalu saat kemudian ia tersenyum. Ada perasaaan senang yang memuncak ketika mengetahui kalau semua orang yang ia cintai masih hidup.

Wajah Junsu sedih seketika, "Mereka memang belum meninggal, tapi kau...mereka pikir kau sudah meninggal"

"MWO?" Pekik Jaejoong. Ia menutup mulutnya.

"Tempat ini adalah hutan belantara, tak ada yang bisa melihat Angelos kecuali orang yang terpilih. Jadi kau di anggap hilang di hutan, dan dimakan hewan buas" Jelas Junsu.

Tentu Jaejoong bersedih, tapi ia harus menerimanya. Ini takdirnya.

Junsu menepuk bahu Jaejoong lalu berdiri, "Seharusnya kau tahu ini saat usiamu 17 tahun, Jae"

"Memang kenapa kalau aku tahu lebih awal?"

Wajah junsu berubah datar, "Dia akan datang lebih cepat"

Hal itu membuat Jaejoong menelan ludahnya.

.

.

.

Yunho meletakkan kuas yang ia gunakan keatas meja di samping kanvas. Ia bangun dari duduk, mengambil tongkatnya lalu berjalan kearah jendela besar kamarnya. Ia bersandar di jendela, menatap langit yang hampir gelap. Ia suka dengan cuaca di dunia manusia. Dulu, tugas para malaikat di surga adalah mengubah cuaca dan tugas-tugas lainnya.

Ceklek..

Yunho menoleh ketika pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok cantik sang ibu. Taerin tersenyum, ia menutup pintu lalu berjalan kearah Yunho.

"Bagaimana dengan Jaejoong, Omoni?" Tanya Yunho penasaran sekaligus khawatir.

"Dia sudah tahu semuanya, tentang kita. Juga tentang penyatuan yang akan kalian lakukan" Jawab Taerin.

"Lalu apa katanya?"

"Eum, bagaimana ya.." Taerin menyisir rambutnya, "Dia hanya merona"

Mendengar jawaban itu membuat Yunho diam, tapi detik kemudian terkekeh. Ia merasa lucu dengan Jaejoong yang seperti itu.

"Kau punya waktu 24 hari lagi sebelum penyatuan. Dekati Jaejoong dan buat dia memberikannya padamu dengan senang hati" Perkataan Taerin yang membuat Yunho malu kali ini.

.

.

.

Malam sudah menjemput, kini seluruh keluarga Jung makan malam bersama, termasuk Jaejoong yang hanya bisa menunduk. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Memang ia sudah tidak marah atau takut, tapi dirinya menjadi canggung.

"Apa makanannya enak, Jae?" Tanya Jinwoon. Jaejoong mengangguk sambil tersenyum.

"Sebenarnya kami tak perlu makan untuk tetap hidup, tapi moment seperti ini kami butuhkan" Lanjut Jinwoon. Jaejoong mengangguk. Ia mengerti perbedaan mereka.

"Jae, maafkan aku" Jaejoong melihat kearah Changmin. Wajah pria itu menunjukkan penyesalan.

Jaejoong sudah memaafkan semuanya. Ia sudah memutuskan untuk membantu keluarga ini.

.

.

.

Heechul duduk diatas tempat tidur Yunho. Beberapa saat lalu pria itu mengetuk kamar sang adik, lalu duduk diatas tempat tidur, berhadapan dengan Yunho yang masih sibuk melukis.

Sebenarnya ini pertama kali Heechul masuk kekamar adik keduanya. Pria itu lebih senang menghabiskan waktu dikamar atau dimanapun yang tidak ada banyak orang. Ia benci keramaian, juga benci pembicaraan yang memakan waktu lama. Yunho tahu tentang itu.

Ketika membukakan pintu tadi, ia cukup kaget melihat sosok Heechul yang tersenyum kecil. Ia berfikir, untuk apa kakaknya itu menemuinya.

"Apa kau tak bosan dengan kegiatan melukis itu, Yunho ah?" Tanya Heechul, menggoyangkan kedua kakinya yang menjuntai di lantai. Yunho menghentikan kegiatannya sesaat, melirik pada Heechul yang memasang ekspresi biasa.

"Ada apa Hyung kesini?" Tanya Yunho tanpa melepaskan pandangannya pada lukisannya.

Heechul tertawa mendengar itu, "Memang tidak boleh aku mengunjungi adikku?" Tanya Heechul kembali.

"Aku tahu sifatmu yang lebih suka menyendiri itu. Dan jika kau berada disini, pasti ada hal yang ingin kau katakan" Kata Yunho dengan malas. Heechul menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menyisir rambutnya yang berwarna gelap.

"Aku hanya ingin menyampaikan ucapan selamat karena Jaejoong sudah tahu siapa kita, dan aku suka responnya yang akan membantu kita" Yunho mendelik. Dulu saat Yoochun menemukan Junsu dan pria itu tahu siapa mereka, Heechul tak pernah mendatangi Yoochun.

"Aku merasa senang, seharusnya aku melakukan ini sejak awal"

"Apa maksudmu?" Tanya Yunho melempar kuas ditangannya keatas meja.

Heechul terkekeh, "Kau tahu, ramalan Hyunwon itu terlalu lama untuk kita dan aku sudah tak sabar ingin kembali ke surga" Katanya tanpa rasa bersalah.

Brak..

"Jadi kau yang menahan kekuatan Changmin pada Jaejoong?" Yunho berdiri, menyeret sebelah kakinya untuk berada di depan Heechul. Tatapan marah Yunho terlihat jelas, tapi Heechul tidak pernah takut.

"Seharusnya kau berterima kasih padaku, aku mempercepat keadaan ini agar rencana kita berhasil"

Buagh..

Yunho meninju wajah Heechul hingga pria itu terjatuh kebelakang, "Kau membuat semuanya menjadi kacau. Kau tahu akibatnya kalau Jaejoong tahu rahasia kita sebelum waktunya?!" Kata Yunho murka. Heechul menyentuh bibirnya yang terasa sakit, lalu menyeringai.

"Tentu saja. Kau tak perlu khawatir, Yunho. Semua akan baik-baik saja" Kata Heechul sebelum menghilang dari hadapan Yunho. Seperginya Heechul ia menonjok kasur yang tak bersalah.

.

.

.

Heechul sampai di kursi yang ada didalam perpustakaan, membuka buku yang tadi sudah ia letakan di atas meja. Ia terus tersenyum, membayangkan kekesalan Yunho tadi saat ia mengatakan semuanya.

Ia tidak ingin berniat jahat, ia hanya ingin permasalahan ini cepat selesai. Ramalan Hyunwon tentang kedatangan Dia terlalu lama untuknya. Ia ingin cepat membawa Hankyung pergi ke surga. Apa ia egois? Sebut saja seperti itu.

"Aku tak menyangka kau melakukannya, Hyung" Heechul sedikit tersentak, lalu menoleh kesamping. Ia tidak menyadari kehadiran Changmin yang duduk menghadap kearahnya.

"Apa maksudmu?"

"Aku dengar percakapanmu dengan Yunho Hyung tadi, dan aku tak menyangka kau mampu melakukan itu" Jelas Changmin. Ia memandang Heechul tajam.

SREETT..

Heechul bangun dari duduknya, lalu menghampiri Changmin, berdiri di hadapan adik bungsunya itu.

"Hei bocah, kau tahu apa selain memanah? Yang ada di otakmu hanya bagaimana membidik panah tepat sasaran" Kata Heechul dengan nada mengejek.

Changmin yang mendengar itu menjadi emosi, bangun dari duduknya dengan mendadak hingga kursi yang ia duduki jatuh keatas lantai.

"Jaga bicaramu, Hyung!" Desis Changmin tepat di depan wajah Heechul.

"Kalian semua tak usah munafik! Jika Jaejoong tahu lebih awal dan kedatangan Dia lebih cepat maka akan lebih cepat juga kita kembali ke surga" Kata Heechul dengan tajam.

Changmin mengeratkan kedua tangannya disamping tubuh, "Tapi rahim Jaejoong belum kuat untuk dibuahi, dan lagi kalau Dia datang sedangkan kita tidak punya senjata, kita akan hancur lebih awal" Kata Changmin bertambah kesal. Ia muak pada Hyungnya yang selalu bertindak semaunya ini.

"aku rasa Dia bisa menunggu jadi kau tenang saja, jangan seperti Yunho yang lumpuh itu begitu juga dengan keberaniannya" Heechul melipat tangannya, lalu tersenyum meremehkan.

.

.

.

Pagi ini Jaejoong bangun lebih awal, ia membuka jendela kamarnya lalu menghirup udara yang masih sangat sejuk. Ia memejamkan mata, wajahnya terasa segar sehabis mencuci muka tadi.

"Tuan, anda di tunggu di ruang makan" Panggil seorang pelayan dari luar kamar.

"Iya" Sahut Jaejoong, lalu menutup kembali jendela kamarnya untuk bergegas keluar kamar.

.

.

Sesampainya di ruang makan, sebelum duduk Taerin sudah memanggilnya, "Tolong panggilkan Yunho, Jae"

"Hah, aku?"

"Memang kenapa? Kau takut? Haha" Tanya Hankyung sambil tertawa.

Jaejoong menggeleng cepat, "Tidak. A-aku akan memanggilnya" Jaejoong keluar ruang makan sambil menunduk, mengundang tawa seluruh yang ada disana.

Lalu setelah berjalan agak lambat, Jaejoong tiba juga di depan pintu kamar Yunho. Ia ingin segera mengetuk pintu itu, tapi bayangan tentang kejadian hari itu membuat tubuhnya bergetar. Bayangan saat melihat dari punggung Yunho muncul sebuah sayap besar. Tapi ia harus bisa menyesuaikan diri. Berfikir kalau semua orang di rumah ini pasti mempunyai sayap, jadi ia tak perlu takut lagi.

Jujur, selain itu ia pun gugup untuk bertemu dengan Yunho. Ini pertama kalinya mereka akan bertemu setelah kejadian itu, dan ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada Yunho.

Ceklek..

Belum selesai dengan pikirannya, pintu di depan Jaejoong terbuka, menampilkan Yunho dengan wajah terkejut sama sepertinya.

"I-itu.."

"Jae.."

"Ya?" Jaejoong melihat pada Yunho yang tampak ragu, pria itu menggaruk belakang telinganya, membuat Jaejoong bingung.

"Aku ingin bicara padamu" Kata Yunho yang sudah bisa menguasai kegugupannya.

"Ta-tapi sarapan kita?" Tanya Jaejoong sambil menunjuk kearah belakang.

Yunho tersenyum, "Aku tidak membutuhkannya, dan kau bisa membawanya untuk dimakan di tempat itu"

"Dimana? Di taman?"

"Tidak, taman itu tidak aman untukmu, Jae" Kata Yunho sambil tersenyum.

"Lalu?"

.

.

.

Jaejoong membawa kotak bekal di tangannya, setelah tadi menyiapkan makanan agar bisa ia bawa. Kini ia dan Yunho sedang berjalan di lorong yang ada didalam ruangan berpapan nama 'Galery Yunho'.

Jaejoong pikir saat berada di depan pintu ruangan itu, tempat didalamnya hanya ruangan kecil yang berisi lukisan-lukisan karya Yunho, tapi saat pintu dibuka, ia bisa melihat lorong panjang menuju kesebuah tempat yang lebih besar. Baru di dalam tempat itu berjejer dengan rapih lukisan-lukisan karya Yunho.

Didinding persegi empat yang mengelilinginya, terdapat banyak bingkai berisi berbagai macam lukisan, meski temanya satu yaitu malaikat, tapi tetap saja bagi Jaejoong itu tetap menarik.

Dulu ia tak pernah menganggap malaikat nyata, tapi setelah mengetahui fakta tentang keluarga Jung, ia baru yakin kalau pikirannya selama ini salah.

Setelah memutari lukisan didinding, Jaejoong beserta Yunho berjalan kearah tengah ruangan. Ada sebuah meja besar, diatasnya berdiri empat bingkai yang disanggah oleh kayu agar tidak jatuh dibagian belakangnya.

Lukisan itu membuat Jaejoong terkejut lalu menoleh pada Yunho, "Lukisan ini mirip denganku?" Tanya Jaejoong bingung.

"Itu memang kau, Jae. Jika kau punya sayap seperti kami, begitulah penampilanmu"

"Aah, keren~" Seru Jaejoong senang. Ia tersenyum lalu menyentuh permukaan kaca yang melindungi lukisan itu.

"Semua ini kau yang melukisnya?" Tanya Jaejoong dengan senyum manisnya.

"Tentu. Memang siapa yang di ijinkan melukis malaikatku" Jawab Yunho agak ketus, terselip nada protektif pada ucapannya dan itu membuat dada Jaejoong berdesir.

"Eum, Yunho. Jelaskan padaku tentang semua ini? Apa yang sudah terjadi dalam keluarga Jung? Dan apakah.." Jaejoong ragu menyelesaikan kalimat terakhirnya.

"Kita akan menikah?" Lanjutnya setelah diam beberapa saat.

Yunho mendelik mendengar itu.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Chap ini lumayan panjang ^_^

Ngertikan tentang sejarah keluarga Jung? Kalau masih bingung, chap depan bakal di perjelas sama Yunho. Tentang siapa si 'Dia', hubungannya sama keluarga Jung, dan alasan kenapa dia melakukan itu.

Yg nanya Heechul jahat apa engga, bagaimana pendapat kalian tentang pengakuannya di chap ini? Kalo Hankyung sih dia baik.

Terus..terus siapa yang nebak ortu Jaejoong gak mati? Selama Jj mikir ortunya mati, dia kan taunya dari orang lain, bukan ngeliat sendiri mayat ortunya. Jadi kesimpulannya, yg di anggap mati ya malah si Jaejoongnya, hehe.

Aku mau ff ini cepet ke inti, biar gak kayak sinetron, jadi aku mutusin potong adegan yang gak penting dan chap inilah hasilnya ^_^

Apa mulai disini sudah ada yang bisa nebak jalan cerita ff ini? Kita main teka-teki yah ^_^

See You Next Time~