Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 7

Yunho dan Jaejoong sudah duduk di pojok ruang galery Yunho sambil membuka kotak bekal yang dari tadi Jaejoong bawa. Kotak bekal sederhana itu di buat dadakan oleh Jaejoong dengan memasukkan lauk apapun yang ada di dapur.

Yoonbin si kepala koki mengatakan ia bisa memberikan makanan yang enak hanya dalam sekejap mata, tapi Jaejoong menolak dengan alasan ia tak mau makanan hasil kekuatan. Alhasil ia hanya mendapatkan 5 potong telur gulung, 3 udang tepung dan 2 potong daging.

"Aku sengaja memberikan banyak nasi untuk kita berdua" Kata Jaejoong sambil tersenyum.

"Kan sudah aku bilang, malaikat tak perlu makan seperti manusia"

"Tapi kalian ada di negeri manusia, jadi bertingkahlah seperti manusia!" Balas Jaejoong tak mau kalah. Yunho terkekeh mendengar itu dan juga merasa lucu dengan ekspresi wajah yang Jaejoong tunjukkan.

"Oke, baiklah. Ayo kita makan" Akhirnya Yunho mengalah. Ia lalu menunjukkan mulutnya yang terbuka di hadapan Jaejoong.

Untuk beberapa saat, Yunho dan Jaejoong larut dalam acara makan terlambat mereka.

.

.

"Saat itu aku sudah berusia 16 tahun ketika kami berenam di lempar kebumi. Sebelumnya terjadi pertengkaran antara kami dengan 1 malaikat yang nantinya akan menjadi dewa di surga, dan itulah kenapa aku bisa mendapatkan kelumpuhan ini" Yunho menunjuk kaki kanannya yang tak bisa di gerakkan. Jaejoong mendengarkan cerita Yunho dengan penuh perhatian.

"Saat itu diantara kami berenam, hanya aku yang tidak rela di lemparkan kebumi hanya karena kesalahan yang tidak kami perbuat, tapi dia..malaikat itu membuatku tak bisa tinggal diam" Nafas Yunho terengah, ada emosi yang mendalam di antara nada bicaranya.

"Aku berjalan cepat kearahnya untuk mematahkan sayap-sayap emasnya itu, tapi ketika kakiku belum sampai kearahnya yang duduk di singgasana, ia gunakan kekuatan di tangannya untuk menjatuhkan kakiku"

"Aku mengerang terduduk, menatap laknat kearah malaikat yang berwajah busuk itu"

'Lihat! Siapa yang ingin sepertinya? Siapa yang berani melawanku, hah?' Kata malaikat itu, menunjuk pada Yunho yang sedang di hampiri sang ayah.

'Brengsek kau, Hyung!'

'Jinwoon ah! Jaga ucapanmu!' Katanya melihat tajam kearah adik kandungnya itu.

'Dan kau Yunho, saat kita bertemu nanti jadilah Yunho yang kuat. Lawan aku, jika kau menang maka keluargamu itu akan kembali kesini' Katanya pada Yunho, 'Tapi jika tidak, kalian akan hancur seperti debu' Tangannya mengerat didepan dada, seolah sesuatu hancur dalam genggaman tangannya.

Yunho benci itu, sampai sekarang ia tak bisa melupakan tatapan mata yang pernah di layangkan malaikat itu padanya. Ia lalu menoleh pada Jaejoong yang tetap setia mendengar semua ceritanya.

"Jadi selama kakiku tidak merasakan apapun, Dia masih belum datang" Kata Yunho sambil tersenyum.

"Jadi siapa Dia itu, Yunho?" Tanya Jaejoong. Ia sangat penasaran dengan malaikat yang keluarga ini panggil Dia.

Yunho kembali menerawang, mengingat nama Dia hanya akan membuka luka hati keluarga Jung, tapi Jaejoong harus tahu.

"Namanya, Jung Il woo. Kakak kandung dari ayah"

.

.

.

"Jadi manusia itu sudah tahu tentang Jinwoon dan keluarganya?" Tanya pria bersayap emas di punggungnya.

"Benar, My Lord. Apakah harus kita menyerang sekarang?"

"Jangan!" Tangan pria itu terangkat.

"Kita lihat apa yang akan mereka lakukan, dan aku punya rencana untuk mereka" Lanjutnya sambil menyeringai.

.

.

.

"Awalnya Dia memang tidak menyetujui pernikahan Bumonim tapi dengan berjalannya waktu kami semua merasa dia tidak seperti yang kami pikirkan, lalu ketika ada isu tentang pengalihan kekuasaan, Dia berubah menjadi lebih licik dari sebelumnya"

"Mungkin itulah sifat aslinya selama ini dan bodohnya kami tertipu dengan sifat itu" Yunho menopang tangan kirinya pada lututnya yang di tekuk. Jaejoong memperhatikan Yunho dari samping, mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Yunho.

"Aku tak bisa terima saat keluargaku di rendahkan seperti ini, Dia harus membayarnya, dan kau harus membantuku" Lanjut Yunho membuat Jaejoong mendelik.

Pandangan mata Jaejoong jatuh kearah tangannya yang sedang meremas ujung baju, ia menggigit bibirnya karena gugup. Haruskah ia membantu? Mengingat perkataan Taerin tentang melahirkan anak, membuat bulu-bulu kecil di tengkuknya meremang.

Bagaimana bisa?

"A-apa hanya anak satu-satunya senjata yang bisa melawan Dia?" Tanya Jaejoong ragu.

Yunho menoleh pada Jaejoong lalu tersenyum, "Apa kau takut?" Tanya Yunho tepat sasaran. Jaejoong makin menundukkan kepalanya.

"Saat kami terlempar ke bumi, kami tak tahu harus bagaimana memulai kehidupan. Tapi ditengah kebingungan itu, Hyunwon yang merupakan cupid surga datang melawan takdirnya untuk membantu kami. Ia pandai meramal, mendapat informasi cara apa yang bisa membantu kami kembali ke surga" Jelas Yunho panjang lebar. Ia menatap mata ragu Jaejoong.

"Dan caranya adalah harus lahir seorang anak yang mempunyai darah manusia dan malaikat. Beratus-ratus tahun kami menunggu, lalu datang masa 15 tahun yang membuat kami tak henti menunggu, hanya anak yang kami butuhkan, Jae" Lanjut Yunho. Jaejoong mengangguk paham.

"Aku tahu, hanya saja..." Jaejoong menjeda ucapannya, "Bagaimana bisa aku melahirkan? Aku pria, dan aku tak punya rahim"

Yunho tersenyum, "Lalu apa alasan kami menahanmu selama beberapa bulan ini?"

"Kau punya rahim, Jae..disini" Yunho perlahan mengusap perut Jaejoong lembut.

.

.

.

Yunho dan Jaejoong keluar dari ruang galeri Yunho setelah selesai mengobrol tentang banyak hal. Baru akan menjauh, mereka melihat Heechul berjalan mendekati mereka. Yunho dengan refleks menarik tangan Jaejoong agar berdiri di belakang tubuhnya.

Heechul berhenti di depan Yunho, merasa aneh dengan wajah tegang Yunho. Ia lalu melihat kearah belakang tubuh Yunho dan tersenyum pada Jaejoong.

"Hai, Jae" Sapa Heechul. Jaejoong merasa heran dengan sikap Heechul yang berbeda akhir-akhir ini, dan lagi ia baru sadar kalau manik mata pria itu tak lagi berwarna hijau.

"Menjauh darinya, Hyung!" Kata Yunho ketus. Heechul melipat tangan didada, tersenyum manis pada adik keduanya itu.

"Hei, aku bukan Dia, Yunho. Berhenti menganggapku seperti seorang penjahat" Kata Heechul dengan tatapan memohon. Yunho terdiam, lalu merasakan baju belakangnya ditarik.

"Kau kenapa?" Bisik Jaejoong. Yunho tidak menjawab, ia kembali melihat Heechul.

"Aku tidak suka sikapmu yang selalu seenaknya. Aku masih menghormatimu sebagai seorang kakak, tapi kau juga harus menghormatiku "

Heechul mengangkat kedua tangannya, "Baiklah, aku tak akan ikut campur. Lagipula aku tak peduli dengan apapun rencana kalian. Kau tahu, menunggu selama 500 tahun membuat tubuhku pegal" Katanya, tersenyum tipis pada sang adik.

Plashh~

"Hah?" Jaejoong terlonjak ketika tiba-tiba Heechul menghilang dari hadapan mereka.

Yunho menyadari keterkejutan Jaejoong dan ia hanya tersenyum, "Aku juga bisa melakukan itu jika kau mau"

"Apa?" Tanya Jaejoong pelan, ia masih shock dan masih berlindung dibelakang tubuh Yunho.

"Aku bisa kekamarmu saat kau tidur dengan menggunakan kekuatan itu, tanpa harus repot-repot berjalan dengan kaki lumpuh ini" Kata Yunho sambil terkekeh.

"Ta-tapi aku baru melihatnya"

"Memang selama kau disini, kami hanya menggunakan kekuatan telepati saja. Tidak untuk yang lain" Jelas Yunho. Jaejoong mengangguk, sandiwara para malaikat itu sungguh sempurna.

.

.

.

Jaejoong bosan jika tinggal seharian di kamar, disana tidak ada yang bisa ia kerjakan selain tidur dan berguling-guling tak jelas. Seperti sekarang, rambutnya sangat berantakan karena kegiatan itu. Dengan malas ia berjalan kearah meja hias, menyisir rambutnya dengan jari.

Ia meletakan kedua telapak tangannya di pipi, mengukur seberapa besar ukuran bentuk wajahnya. Ia merasa, selama berada di rumah ini, tubuhnya mengalami peningkatan berat badan. Ia tidak tahu karena apa, makannya biasa saja dan ia tidak minum susu.

Tangannya lalu beralih ke pinggang, turun sedikit kepinggul. Bagian itu menurutnya lebih berisi.

Ia tidak ingat memiliki pantat yang gemuk seperti itu, tapi sekarang semuanya jelas ia lihat. Maka kesimpulannya adalah, ia semakin gendut.

.

.

.

Junsu dan Taerin sibuk menata bunga-bunga yang baru saja mereka petik dikebun. Mereka menghiasi vas-vas bunga yang ada di tiap ruangan dengan bunga beraneka warna.

Sebenarnya jarang sekali mereka menggunakan bunga sebagai hiasan, terlebih rumah itu dilindungi oleh kekuatan dan akan membuat bunga-bunga cepat layu. Itu juga yang membuat tak ada jam yang berfungsi dengan baik dirumah ini, termasuk televisi, AC, atau alat elektronik apapun. Semua benda hidup dirumah itu akan rusak.

"Kapan kau akan kembali kuliah, Junsu?" Tanya Taerin pada menantu keduanya itu. Junsu tetap sibuk memotong tangkai bunga mawar.

"Aku libur 3 bulan, Umma. Dan aku masih ingin bersama Chunnie" Jawab Junsu. Taerin mengangguk.

Saat ini mereka sedang duduk di lantai, merangkai bunga diatas meja ruang keluarga. Kedua menantu dan mertua itu memang selalu kompak, selain karena Junsu menantu yang berperan sebagai wanita, ia juga tidak pernah mau mengajak Heechul. Anaknya itu terlalu senang menyendiri saat tak ada Hankyung.

Nanti jika Jaejoong sudah resmi menjadi menantunya, ia akan mengikut-sertakan pria itu kedalam teamnya—ia, Junsu dan Jaejoong. Membayangkannya saja membuat ia tak henti tersenyum.

"Kalian sedang apa?" Suara itu menginterupsi kegiatan kedua orang itu. Keduanya menoleh dan mendapati Jaejoong berdiri di pintu masuk ruang keluarga.

"Kemarilah, Jaejoongie" Panggil Taerin. Jaejoong tersenyum lalu mendekati kedua orang yang duduk dilantai itu dan bergabung bersama mereka.

"Kalian juga merangkai bunga?" Tanya Jaejoong yang sudah duduk disamping Junsu.

"Sebenarnya tidak, kami hanya membutuhkan wanginya saja. Dalam beberapa jam saja mereka akan layu" Jawab Taerin.

"Wangi mawar? Bukankah seharusnya melati?" Tanya Jaejoong lagi, ia lalu mengambil 1 tangkai bunga mawar putih.

"Aww.." Tanpa sengaja jari telunjuk Jaejoong tertusuk duri, ia hampir menghisap darah yang keluar tapi tangan Junsu menghentikannya.

Jaejoong mengernyit bingung, Junsu tersenyum lalu menunjuk jari Jaejoong dengan matanya. Jaejoong pun mengikuti Junsu dan ia kembali terkejut ketika darah yang keluar dari jarinya perlahan masuk kembali.

"Da-darahnya" Jaejoong tergagap. Ia meminta penjelasan dari Junsu dan Taerin.

Taerin tersenyum, "Itulah kenapa Angelos aman untukmu, Jaejoongie. Di tempat ini kau tak akan mati meski terbelah menjadi 8 bagian. Luka-luka itu akan menghilang dengan sendirinya"

Penjelasan Taerin membuat Jaejoong terperangah. Banyak rahasia tentang rumah dan keluarga Jung, dan kenyataan dari itu semua tak henti-hentinya membuat ia terpukau.

"Tapi kenapa kaki Yunho sshi tetap lumpuh?" Tanya Jaejoong. Kedua orang di depannya terdiam.

"Sebenarnya pertarungan yang akan terjadi nanti hanya antara Yunho dan Dia. Bukan yang lainnya" Jawab Taerin akhirnya.

Junsu tersenyum, "Maka itu kami membutuhkan anak darimu dan Yunho Hyung. Mungkin panah Changmin, kekuatan membaca pikiran Chunnie, dan kekuatan mata Heechul Hyung hanya pelengkap, tapi yang bisa membantu kami hanya anak itu, Jae" Tambah Junsu.

Jaejoong menunduk, "Separah itu kah?" Gumam Jaejoong. Ia tidak menyangka perannya sangat penting.

"Hari penyatuan semakin dekat. Kau akan hamil setelah 5 hari pembuahan dan melahirkan pada bulan kedua kehamilan" Kata Taerin membuat Jaejoong terbelalak.

"Apa? Secepat itu?"

"Tentu Jae, pertarungan itu akan terjadi saat bulan purnama pada bulan kelima dan kita harus cepat"

"Tapi...itu cepat sekali" Jaejoong lebih shock dari yang tadi. Ia tidak bisa membayangkan hal-hal itu terjadi dalam jangka waktu 4 bulan.

.

.

.

Hari-hari berlalu dengan kejutan-kejutan yang membuat Jaejoong berteriak bahkan nyaris pingsan. Dan seiring perjalanan itu membuat Jaejoong semakin yakin untuk membantu keluarga Jung.

Jaejoong mulai terbiasa berada di tempat itu beserta dengan kenangan-kenangan manis yang tercipta.

Saat ini Angelos di penuhi dengan kesibukan para maid yang membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah. Memang tiap hari rumah itu selalu di bersihkan tapi tidak selalu mendetail, bahkan tidak sampai ke bawah lemari, atau kebelakang tirai jendela.

Taerin mengomandai semua itu dengan memperhatikan seluruh pekerjaan para maid. Seperti sekarang ia berdiri sambil melipat tangannya di dada.

Lalu kenapa keadaan Angelos hari ini berbeda?

Jawabannya tentu saja karena 3 hari lagi upacara akbar akan kembali terjadi. Maksudnya adalah, 3 hari lagi tepat 17 tahun usia Jaejoong dan itu berarti hari penyatuan akan datang pada hari itu.

Jauh lebih keatas, tepatnya didalam kamar Jaejoong, pria itu sedang duduk pasrah diatas tempat tidur, memperhatikan Junsu yang sejak tadi sibuk di hadapannya.

"Kau harus memakai gaun ini, kemeja ini, atau yang ini?" Tanya Junsu, memperlihatkan 1 persatu pakaian yang akan di pakai Jaejoong pada prosesi pernikahan antara Yunho dan Jaejoong.

"Gaun ini adalah gaun yang di pakai Umma saat menikah dengan Jung Appa, kau bisa menebak kalau umur gaun ini lebih dari 500 tahun" Junsu menjelaskan 1 gaun berwarna kuning yang panjangnya hanya selutut. Meski sudah terlampau lama, tapi gaun itu masih tetap berkilauan.

"Gaun itu masih bagus, Hyung" Komentar Jaejoong. Junsu mengangguk, membenarkan perkataan Jaejoong.

"Waktu menikah dulu, Umma Jung memaksaku memakai gaun ini, tapi karena risih aku pun menolaknya" Kata Junsu. Ia tertawa ketika mengingat itu.

"Lalu kenapa kau menunjukkannya padaku? Aku juga tidak mau memakainya" Timpal Jaejoong sedikit cemberut. Junsu tersenyum, melempar gaun yang ia pegang kearah kursi depan meja hias, bersama dengan pakaian yang lain. Ia mendekati Jaejoong lalu duduk disamping pria manis itu.

"Umma bilang, ia menjaga gaun itu untukmu. Setelah tahu kalau kaulah calon menantu ketiga, ia membayangkan apa-apa saja yang bisa kau gunakan, termasuk gaun itu"

"Dia terlalu terobsesi padaku"

"Memang. Makanya ia yang terjun langsung di persiapan menuju hari pernikahanmu" Jelas Junsu, "Yunho Hyung itu anak kesayangan keluarga Jung, karena hanya dia satu-satunya malaikat di keluarga Jung yang memiliki sayap berwarna emas" Tambah pria itu.

"Dan Dia juga sih" Gumam Junsu pelan.

"Maksudmu, Yunho dan Dia itu memiliki warna sayap yang sama?" Tanya Jaejoong terkejut.

Junsu mengangguk, "Malaikat memiliki warna sayap yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan mereka" Kata Junsu mulai menjelaskan. Dulu ia juga di beritahu oleh Yoochun tentang itu.

"Semakin tinggi tingkat kemahiran seorang malaikat terhadap kekuatan yang ia miliki, maka semakin bagus juga sayap yang ia punya. Meski terlihat biasa dan tak punya kemampuan lebih, tapi Yunho Hyung satu-satunya yang bisa mengalahkan Dia.

Salah satu alasan Dia melempar keluarga Jung kebumi adalah membuat Yunho Hyung menjauh darinya" Jelas Junsu panjang lebar.

Junsu menghela nafas, "Dulu, Dia berusaha keras agar Umma Jung dan Appa Jung tidak menikah, karena ramalan seorang cupid yang bilang bahwa akan lahir seorang anak yang mampu menjadi raja di surga. Tentunya Dia menjadi murka. Dialah yang akan menjadi raja di kerajaan surga, bukan siapapun. Begitu ikrarnya"

Jaejoong menutup matanya sebentar, lalu kembali membukanya.

"Jadi itu alasannya?" Tanya Jaejoong, ia melihat lurus kedepan, kearah cermin yang menampilkan sosoknya dan Junsu.

"Hyung" Jaejoong menoleh pada Junsu, "Begitu istimewahnya kah seorang Jung Yunho?"

Junsu terdiam, ia menatap Jaejoong dalam, "Tapi ia bukan apa-apa tanpa kau" Lalu memegang kedua tangan Jaejoong.

"Kau beruntung, Jae. Kau yang bisa menyelamatkan Jung, tapi kau harus ingat, kalau kau adalah salah satu kelemahan terbesar Yunho Hyung" Kata Junsu perlahan, mencoba mendalami ekspresi Jaejoong. Ada banyak perasaan dimata pria itu, antara senang, sedih, takut dan khawatir. Dan yang terpenting, ada cinta di hati Jaejoong untuk Yunho.

.

.

.

Jaejoong keluar dari kamarnya pada siang hari, berniat mencari Taerin. Tapi saat baru akan keluar, ia melihat Yunho keluar juga dari kamar pria itu.

Dengan langkah tertatih, Yunho berjalan menuju ruang galerinya. Di tangan pria itu terdapat sebuah lukisan yang berhasil ia selesaikan.

Seperti seorang stalker, Jaejoong membuntuti Yunho dari belakang. Pria manis bersweather rajut soft pink itu mengendap-endap di belakang Yunho.

Yunho sudah masuk kedalam ruang galeri, dan Jaejoong pun mengikuti pria itu. Jaejoong menjaga jarak antara mereka agar Yunho tak curiga dengan kehadirannya. Jaejoong tertawa tanpa suara, ia sudah seperti penguntit saja.

Jaejoong berdiri di ujung lorong ruangan itu, menyembunyikan tubuhnya pada tiang. Dari tempatnya ia bisa melihat Yunho sedang meletakan lukisan yang tadi dibawa ke meja di tengah ruangan. Jaejoong tahu kalau tempat itu hanya berjejer lukisan dirinya.

Itu artinya, tanpa harus melihat pun ia tahu lukisan siapa itu.

Yunho berhasil meletakan lukisan itu dalam posisi berdiri. Sepertinya ia membutuhkan meja yang lebih panjang lagi. Karena semenjak Jaejoong ada di Angelos, keinginannya membuat lukisan wajah pria itu selalu menggebu-gebu.

Yunho menundukkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan lukisan itu, lalu mendekatinya dan mencium lukisan itu. Ia tersenyum dalam kegiatannya, lalu setelah itu ia kembali menegakkan tubuh.

"Sampai kapan tikus putih harus terus bersembunyi?" Tanya Yunho. Hal itu membuat Jaejoong tersentak. Yunho tahu kehadirannya!

Yunho membalikkan tubuhnya kearah Jaejoong, lalu tersenyum pada pria yang sudah tak lagi bersembunyi itu.

"Aku ketahuan. Hehe" Jaejoong menggaruk kepalanya.

Yunho tersenyum, "Kau bahkan sudah ketahuan sejak mengikutiku dari awal tadi" Kata Yunho. Jaejoong mendesah kecewa.

"Tapi kenapa waktu itu kau tidak tahu kehadiranku di kamarmu?" Tanya Jaejoong.

"Itu karena Heechul Hyung menggunakan kekuatannya untuk menahan kekuatanku" Jawab Yunho kesal.

"Ooh"

"Eum, Jae. Kau sudah memilih pakaian untuk hari pernikahan kita?" Tanya Yunho tanpa ragu. Jaejoong terkejut, bagaimana bisa Yunho berbicara biasa seperti itu? Tidak tahu kah kalau ia malu membicarakan pernikahan?

"Te-tentu saja aku memilih tuxedo. Aku tak mau pakai gaun"

"Kenapa? Kau akan tambah cantik dengan gaun. Seperti Omoni yang selalu memakai gaun" Kata Yunho dan hal itu membuat pipi Jaejoong bertambah merah.

"Jadi kalau aku tak memakai gaun, berarti tak cantik?" Meski malu tapi Jaejoong tetap memasang wajah kesal. Yunho terkekeh, lalu berjalan mendekat kearah Jaejoong.

Yunho merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Jaejoong, lalu berbicara dalam jarak yang dekat. Ia berkata dengan pelan, hal itu membuat Jaejoong menjauhkan wajahnya.

"A-ah..hahaha" Jaejoong ingin tertawa tapi wajahnya merah sekali. Melihat itu membuat Yunho tak mampu berhenti tertawa.

"Wajahmu lucu, Jae" Goda Yunho. Jaejoong menutupi wajahnya lalu memukul dada Yunho.

"Kau mesum" Katanya kemudian. Yunho menarik Jaejoong untuk memeluknya. Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa saat.

.

.

.

'Kau akan lebih cantik jika tidak memakai baju, Jae'

.

.

.

Pria bersayap itu duduk di tepi kolam, menjulurkan kedua kakinya kedalam kolam. Ada 3 bidadari yang sibuk memijat dan membersihkan kaki pria itu. Tidak ada pakaian yang melekat pada ketiga bidadari itu, dan bagian bawah tubuh mereka terendam oleh air yang berasap.

Bunyi air yang mengalir terdengar begitu jelas, di kejauhan terlihat asap berwarna-warni mengepul di sekitar kolam itu.

"Apa yang bisa kami lakukan lagi, My Lord?" Tanya salah satu dari 3 bidadari itu.

Pria yang tengah menikmati buah-buahan yang di sodorkan padanya itu melihat kebawah.

"Diam dan terus lakukan tugas kalian" Katanya tanpa ekspresi. Semuanya terdiam, tak ada yang berani membantah pria yang lebih tinggi drajatnya dari mereka.

"Maaf mengganggu kesenangan anda, My Lord" Seorang pria bersayap putih datang terburu-buru ke area kolam. Pria yang berjuluk Lord itu menoleh. Ia tak bisa marah pada orang kepercayaannya itu.

Pria di kolam itu menyuruh ketiga bidadarinya untuk pergi dari tempat itu, menyisakan kedua orang tadi.

"Saya mendapat informasi dari penjaga kalau 3 hari lagi penyatuan itu akan terlaksana, My Lord. Apa yang akan kita lakukan?"

"Kau tahu kan kalau kita tak bisa menembus Angelos, semua ini gara-gara cupid sialan itu!" Wajah pria yang bernama lengkap Jung il wo itu mengeras.

"Pokoknya kita serang mereka 4 bulan lagi, saat kekuatanku bertambah dan mampu menghancurkan rumah itu" Katanya lagi. Ia begitu marah. Kalau begini terus, semua rencana selama berabad-abad akan hancur.

Ia tahu jika akan hadir seorang anak yang akan menjadi senjata menghancurkannya, ia tidak bisa mencegahnya selama Angelos belum hancur. Dan tepat bulan purnama di bulan kelima, saat kekuatannya bertambah ia baru bisa menyerang.

"Aku akan menghancurkanmu, Yunho" Ikrarnya dalam hati.

.

.

.

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, semua orang dibuat sibuk mempersiapkan acara pernikahan antara Yunho dan Jaejoong. Karena ini acara yang terjadi hanya 5 tahun sekali, maka segala persiapan harus di kerjakan dengan baik. Makanan terhidang dengan benar di meja makan yang panjang, penuh dengan warna-warna yang membuat perut tak sabar untuk menunggu. Lalu banyak terhias bunga di tiap sudut ruangan, bahkan ruang tamu yang biasanya gelap kini menjadi terang. Meski sejak semalam hujan terus turun dan membuat langit menjadi gelap, tapi tak mengurangi kegembiraan para penghuni Angelos.

Berbeda dengan pernikahan sesama manusia, pernikahan para malaikat hanya perlu saksi dan janji sakral pernikahan yang di ucapkan oleh si manusia, tanpa harus ada pastur atau segala yang berhubungan dengan pernikahan. Hyunwon bertugas sebagai penyatu darah Yunho dan Jaejoong, menandakan kalau keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Jaejoong keluar dari kamarnya, di tuntun oleh Junsu yang menjadi best men-nya. Pria manis itu memakai tuxedo berwarna putih, dengan kemeja biru di dalamnya. Ia memakai dasi yang cukup panjang, dan sebuah bunga mawar merah terselip pada kantong jas indahnya.

Rambutnya di tata keatas oleh Junsu, membuat kening mulusnya terlihat. Ia memakai bedak tipis, juga sebuah eyeliner di sepanjang garis matanya. Tak ada kesan feminim, tapi ia tetap pria yang manis. Bibirnya terpoles sebuah lipblam tak berwarna agar bibirnya terlihat lebih segar.

Semua orang yang ada diruang tamu itu terpukau, oleh keindahan sempurna seorang Kim Jaejoong.

"Duduk disini, Jaejoongie" Suruh Taerin, menunjukkan sebuah kursi berwarna merah. Kursi yang sama seperti yang ada di foto pernikahannya dengan Jinwoon.

Jaejoong menuruti perkataan Taerin dan duduk dikursi itu dengan senyum yang mengembang.

Tak berapa lama, Yunho memasuki ruang keluarga bersama Yoochun yang merupakan best men-nya. Pria itu tampak casual dengan dengan tuxedo yang sama seperti Jaejoong. Rambut pria itu di potong sedikit, dan memilih belah pinggir untuk menjadi gayanya hari ini. Rambut hitamnya terasa pas di wajahnya yang tampan.

Yunho duduk dikursi sebelah Jaejoong, sengaja tidak menoleh ke pria itu. Jaejoong pun sama, ia selalu malu jika berhadapan dengan Yunho.

"Pernikahannya bisa segera di mulai, Yunho" Kata Jinwoon memberitahu. Yunho mengangguk lalu berdiri, menghadapkan tubuhnya kearah Jaejoong, mengambil tangan pria itu dengan lembut.

"Kim Jaejoong, apakah kau mau berjanji, untuk memberikan segala yang kau punya padaku?" Tanya Yunho, menatap lembut ke bola mata Jaejoong yang tengah menatapnya juga.

Jaejoong terdiam. Junsu sudah memberitahu apa yang harus ia ucapkan saat Yunho bertanya, tapi lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus bagaimana.

Semua orang menunggu, termasuk Yunho yang berekspresi datar. Ia tahu Jaejoong ragu, tapi apa berkata 'Aku berjanji' adalah sesuatu yang sulit?

Tidak ada yang bersuara, atau memaksa Jaejoong untuk menjawab, karena semua harus di jawab Jaejoong tanpa paksaan. Tapi hal itu membuat yang lain tak sabar. Yunho mengerti, ia tahu Jaejoong masih ragu tapi apakah pernikahannya tak berjalan seperti seharusnya?

Perlahan, tangan Yunho yang memegang tangan Jaejoong mengendur, pikiran Jaejoong tampak abu-abu, membuat ia tak bisa menebak lagi.

Jaejoong masih tak bergerak, otaknya secara sengaja mengingat kejadian beberapa bulan ini. Saat ia pertama tersesat, menemukan tempat ini lalu terjebak didalamnya. Terpaksa harus hidup bersama orang-orang yang tidak ia kenal, dan terakhir adalah fakta mengejutkan yang ia tahu tentang orang yang ada di hadapannya ini, tengah menatapnya dan bertanya padanya. Apa yang harus ia jawab?

"A-aku ulangi lagi, Kim Jaejoong. Apakah kau mau berjanji memberikan semua yang kau punya padaku?" Tanya Yunho lagi. Jaejoong memejamkan mata.

"Ya, aku berjanji" Katanya lancar.

Semua yang di sana menghela nafas. Hanya berkata seperti itu saja sulit sekali. Yunho tersenyum tipis lalu berubah menjadi lebar. Hatinya bergejolak. Ia sempat takut tadi, kini Jaejoong tengah menatapnya sambil tersenyum.

Setelah itu Yunho berjongkok, hingga tubuhnya sejajar dengan Jaejoong.

"Berikan tangan kananmu" Pintanya. Jaejoong menuruti permintaan Yunho itu, lalu Hyunwon mendekat, membawa sebuah pisau tipis tak bergagang dan mendekatkannya pada telapak tangan Jaejoong.

"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Jaejoong, menarik tangannya dengan cepat.

Hyunwon tersenyum, "Kami membutuhkan darah manusia anda, Tuan"

"Tidak! A-aku bisa kehabisan darah" Pekik Jaejoong, menyembunyikan tangannya didepan dada. Mendengar itu semua yang disana tertawa.

"Kau pikir kami vampire, Jae?" Tanya Changmin sambil terkekeh.

Yunho tersenyum, "Hyunwon hanya menggores telapak tanganmu sedikit, menuangkannya kedalam cawan dan aku akan melakukan hal yang sama" Jelas Yunho.

Jaejoong ragu, lalu melihat Junsu tajam. Tadi pria itu tidak memberitahukan tentang hal ini. Yang di lihat hanya tersenyum tanpa dosa.

"Tapi.."

"Kau ingat 'kan, Jae. Tiap yang terluka di Angelos, luka itu akan hilang tak berbekas" Sambung Taerin. Jaejoong ingat pada Tangannya yang tertusuk duri mawar.

Perlahan-lahan tangannya terulur kearah Yunho, setelah tangannya di balik, Hyunwon menempelkan pisau itu secara lurus, tanpa perlu menekan terlalu keras, darah sudah keluar dari telapak tangan Jaejoong.

"Akhh.." Jerit Jaejoong. Tangannya terasa perih sekali. Ia meringis melihat darah yang keluar begitu banyak.

Hyunwon mengambil cawan perak yang diberikan maid lain. Yunho mengarahkan tangan Jaejoong ke cawan itu lalu membaliknya. Darah menetes cukup banyak, tercampur dengan air.

Setelah selesai, luka goresan itu perlahan menutup dan tak ada lagi darah yang menetes.

Jaejoong menghapus airmatanya, luka goresan itu perih sekali seperti tertusuk sangat dalam n mmbuat ia sampai menangis.

Setelah selesai dengan Jaejoong, sekarang giliran Yunho. Sebuah darah putih mengalir dari telapak tangan Yunho dan menetes ke dalam cawan yang sama. Jaejoong cukup terkejut melihatnya.

"Percampuran darah inilah yang disebut dengan penyatuan yang terjadi pada pasangan malaikat yang baru berusia 17 tahun dan untuk itu di perbolehkan tinggal dalam 1 kamar dengan malaikatnya, tapi khusus untuk Tuan Jaejoong, di usia yang ke 17 ini anda sudah siap untuk di buahi" Jelas Hyunwon panjang lebar. Jaejoong menunduk, ia merasa seperti sawah yang siap panen saja.

Dan setelah itu acara pernikahan pun selesai. Untuk yang ketiga kalinya, keluarga Jung menikah dengan manusia.

Apakah Jaejoong seorang penyelamat?

.

.

T

B

C

.

.

Fuih, ritual penyatuannya panjang yah? Nah itu yang disebut hari penyatuan, maksudnya bukan penyatuan yang itu, tapi yang darah Yunjae jadi satu. Haha. Jadi gak ada NC yah. Hoho

Ah iya, mau nanya. Emang malaikat punya darah yah? Mereka kan makhluk halus XD

Chap depan datangnya seminggu lagi ya readers, dan sekarang aku update tiap hari minggu untuk Angelos sama ff baru ku 'King 2 Hearts' dan sekalian promosi, bagi yang suka angst dengan JJ yang nelangsa, silahkan baca itu. Baru prolog sih, makanya mau lihat respon kalian dulu.

Okelah..

See You Next Week~