Angelos

Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Tan Hankyung, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others

Author : Kim Hyunri aka me

Chapter 8

Setelah acara penyatuan itu, keluarga Jung makan bersama sebagai tanda sebuah peristiwa penting terjadi di rumah ini. Banyak makanan tersaji dimeja panjang itu, dan Jaejoong menatap dengan gembira pada masakan yang begitu menggiurkan.

"Kau harus makan sayur, Jaejoongie..ini daging juga, daging sapi ini sangat baik bagimu" Taerin sibuk memberikan banyak lauk kedalam piring makan Jaejoong, sedang Jaejoong hanya mengangguk. Ia tidak mungkin menolak kebaikan mertuanya itu.

"Makan yang banyak, Jae" Kata Jinwoon. Jaejoong mengangguk. Ia bingung akan memulai makan yang bagian mana. Tapi ia tetap menyuap makanan itu dengan lahap.

Diruangan itu tidak ada yang makan kecuali Jaejoong, karena makanan itu terhidang hanya untuknya.

Yunho duduk disamping Jaejoong sambil tersenyum, memperhatikan sang istri yang makan dengan lahap. Ia tak akan mengganggu, karena jika Jaejoong kurang makan itu akan mempengaruhi malam pertama mereka.

Jaejoong tersadar setelah makanannya habis setengah, melihat keseluruh Jung yang hanya diam sambil melihatnya. Yunho juga, pria itu terus tersenyum sambil melihatnya.

"Kenapa kalian tidak makan?" Tanya Jaejoong dengan polos. Ia menghentikan makannya, merasa tak enak dengan keadaan itu. Apa ia terlihat begitu kelaparan?

"Semua makanan ini memang dimasak untukmu, Jae. Apa kau suka?" Tanya Taerin. Jaejoong mengangguk malu.

"Ta-tapi kenapa?"

"Karena kau membutuhkan tenaga ekstra untuk acara nanti malam" Jawab Yoochun sambil mengedipkan sebelah matanya.

Jaejoong mendelik, "Memang masih ada lagi?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibir mungil Jaejoong.

"Tentu saja. Itu acara penting, Jae. Tapi itu hanya melibatkan kau dan Yunho Hyung" Jawab Yoochun lagi. Jaejoong mengangguk meski tak mengerti. Ia lalu menoleh pada Yunho.

"Memang acara apa, Yun?" Tanya Jaejoong pada Yunho. Ia melupakan fakta tentang pernikahan.

Yunho mengusap rambut Jaejoong perlahan sambil tersenyum, "Selesaikan dulu makanmu. Ini masih siang, Jae" Kata Yunho. Jaejoong kembali fokus pada makanannya, tanpa ambil pusing ia langsung memakan semua makanan yang masih ada di piringnya.

Ia membutuhkan makanan agar energinya cukup untuk acara nanti malam.

.

.

.

Selesai dengan acara makan, Yunho dan Jaejoong berjalan keliling angelos. Mereka saling bergandengan tangan dan Yunho begitu melindungi Jaejoong, seperti saat berada di taman. Meski angelos terlindungi oleh kekuatan yang Hyunwon ciptakan, tapi taman itu luput dari perlindungan. Itu disengaja karena permintaan keluarga Jung. Jika hingga luar rumah pun dilindungi, lalu mereka tidak akan bisa memelihara bunga dan cuaca yang menyelimuti angelos tak akan pernah terganti. Maksudnya adalah, mereka hidup didunia manusia, meski terasingkan tapi mereka ingin merasakan bagaimana musim terganti, bagaimana jika petir menyambar dilangit. Mereka ingin merasakan itu, agar mereka tidak merasa berada dalam pengikatan.

Jaejoong setia menuntun Yunho hingga mereka tiba di depan pohon yang dulu menjadi tempat untuk mereka mengobrol. Jaejoong membantu Yunho duduk dibawah, lalu setelahnya ia ikut bergabung.

"Apa benar tak apa-apa jika kita disini?" Tanya Jaejoong. Ia ingat bagaimana gempa itu terjadi menguncang tanah yang mereka pijak.

Yunho tersenyum, "Tak apa. Hyunwon sudah melindungi taman ini sesuai permintaanku. Aku ingin berdua denganmu, Jae" Kata Yunho. Jaejoong tersenyum, ia selalu merasa nyaman berada disamping Yunho. Perlahan pria itu menyandarkan tubuhnya pada dada Yunho, berusaha agar tak membebani pria itu.

"Apa kau bahagia dengan pernikahan ini, Jae?" Tanya Yunho, sambil memeluk Jaejoong dari belakang.

"Tentu" Jaejoong menoleh pada Yunho.

"Aku sempat khawatir kau akan membatalkan pernikahan ini" Kata Yunho sambil menghela nafas.

"Hehe, Mian. Aku tadi sedang mengingat ulang awal kedatanganku kesini, dan memang sempat ragu. Aku ragu apakah aku bisa membantu kalian melawan malaikat itu"

"Kau tak boleh ragu, Jae. Terlepas dari misi kita, aku memang ingin menikah denganmu" Kata Yunho. Jaejoong menjauhkan tubuhnya lalu menoleh pada Yunho.

"Sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Jae" Jelas Yunho sambil tersenyum, ia ingat bagaimana dulu ia terpukau saat Hyunwon menunjukkan foto Jaejoong.

"Apa kau juga mencintaiku?" Tanya Yunho perlahan. Jaejoong diam, menggigit bibirnya gugup.

"A-apa aku harus bilang?" Tanya Jaejoong gugup. Ia malu untuk menjawabnya.

Yunho terkekeh sambil menarik pelan hidung Jaejoong, "Aku sudah tahu. Semua yang kau pikirkan terbaca jelas olehku"

"Semuanya?" Tanya Jaejoong tak percaya.

"Tidak sih, kadang berwarna abu-abu. Tidak setiap saat aku bisa membaca pikiranmu, aku bukan Tuhan, Jae" Jawab Yunho. Jaejoong mengangguk paham.

Yunho menarik tubuh Jaejoong, kembali memeluknya dari belakang, "Yang terpenting, aku tahu kalau kau mencintaiku" Kata Yunho.

.

.

.

Saat ini Jaejoong sedang berendam didalam bathup yang penuh dengan kelopak bunga mawar beraneka warna, sebelumnya Hyunwon meneteskan sesuatu kedalamnya dan mengatakan kalau itu adalah percampuran darah antara Yunho dan Jaejoong tadi.

Jaejoong tersenyum, merasa nyaman dengan aroma terapi yang juga ditambahkan Hyunwon. Ia merendahkan tubuhnya hingga hanya kepalanya saja yang terlihat, lalu meniupi air yang ada disekitar kepalanya.

Jaejoong sempat heran kenapa ia harus mandi dikamar Yunho, tapi melihat kamar itu sudah rapih dan kamar mandinya lebih bagus dari di kamarnya, maka ia pun menyetujui untuk mandi disana.

Saat dia masuk kekamar untuk mandi, Yunho sedang berkumpul bersama keluarganya di ruang tamu.

Saat ini pria tampan itu duduk di sofa bersama saudara-saudaranya.

"Aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan malam ini, jadi aku hanya memberitahu peraturannya" Kata Jinwoon, "Kau butuh waktu 5 hari untuk membuahi Jaejoong, tidak membiarkan pria itu keluar dari kamarmu menjaga agar benih itu tidak mati. Hyunwon sudah melindungi kamarmu agar benih itu cepat hadir dan menjadi benih yang unggul"

"Apa kau mengerti?" Tanya Jinwoon. Yunho mengangguk.

"Dan masalah kakimu itu, apa tidak apa-apa?" Tanya Jinwoon lagi, cukup khawatir dengan kaki Yunho yang lumpuh dan takut membuat anaknya itu tidak nyaman.

Yunho tersenyum, "Bagaimana prosesnya hanya kami yang tahu, Aboji. Kalian hanya perlu menunggu bagaimana anak itu tumbuh didalam rahim Jaejoong"

Jinwoon mengangguk paham. Ia tidak boleh khawatir, anaknya itu selalu bisa diandalkan.

.

.

.

Jaejoong selesai dengan acara mandinya. Ia menarik sebuah bathrope yang tergantung tak jauh darinya, memakai benda itu untuk menutupi tubuhnya. Ia akan memakai baju yang tadi ia letakkan diatas tempat tidur.

Jaejoong pun keluar dari kamar mandi, tapi menjadi heran ketika tidak ada satu pakaiannya yang tersisa di tempat tidur. Ia berdecak kesal.

"Sudah selesai, Jae" Jaejoong tersentak mendengar suara yang tiba-tiba dari belakang. Ia menoleh lalu melihat Yunho yang sedang bersandar pada pintu.

Jaejoong mengangguk, "Sudah. Ah, Yun. Apa kau melihat pakaianku disana?" Tunjuk Jaejoong kearah tempat tidur.

"Mungkin Hyunwon membuangnya saat kau mandi" Jawab Yunho santai.

"Mwo?" Jaejoong terkejut, "Lalu aku harus keluar dalam keadaan begini" Lihat Jaejoong pada bathrope pendeknya.

Ekspresi wajah Yunho berubah, ia menatap tajam kearah Jaejoong yang sibuk dengan baju mandinya, menyeret kakinya mendekat kearah Jaejoong.

Setelah tiba di depan Jaejoong, Yunho merendahkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Jaejoong terkejut dengan kehadiran Yunho yang tiba-tiba.

Cup

Yunho mengecup bibir Jaejoong lalu menegakkan tubuhnya. Jaejoong lebih terkejut dari sebelumnya. Itu adalah ciuman pertamanya dan Yunho baru saja mencurinya, padahal sebelumnya Yunho berhasil mencurinya lebih awal.

"Kau tidurlah disini, aku mandi dulu" Kata Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong masih terkejut dan berdiam diri.

.

.

.

Yunho keluar dari kamar mandi dengan bathrope yang serupa dengan Jaejoong. Ia melihat Jaejoong sedang duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong.

"Jae" Yunho menyentuh Jaejoong.

"Hah..apa?!" Tanya Jaejoong dengan nada suara yang berlebihan. Yunho terkekeh.

"Kau kenapa?"

"A-aku..aku harus kembali kekamarku" Jawabnya cepat. Ia bangun tapi Yunho segera menariknya hingga terjatuh ke tempat tidur.

Jaejoong ingin bangun tapi tangan Yunho menahan kedua bahunya, "Kau harus aku buahi, Jae"

Jaejoong takut, sebenarnya ia terlalu gugup hingga bertingkah seperti itu. Ia baru menyadari kalau jika setelah menikah, pengantin harus menghabiskan malam pertama.

"A-aku.."

"Apa kau ingin aku membuatmu tidur lalu menyetubuimu dalam keadaan tak sadar? Aku bisa melakukan itu dengan mudah, Jae" Kata Yunho dengan pandangan mata yang tajam. Ia tidak peduli jika Jaejoong menolak, ia harus tetap melakukan pembuahan itu.

Hiks

"Ja-jangan, Yun. A-aku takut hiks" Kata Jaejoong. Ia menutup matanya rapat, tak mau melihat Yunho yang terlihat menyeramkan.

Yunho seperti tertarik oleh sesuatu, langsung mengubah raut wajahnya menjadi lebih lembut. Ia melihat pada Jaejoong yang bergetar ketakutan.

"Mi-mian. Aku membuatmu takut, aku hanya tidak ingin kau menolakku" Kata Yunho. Jaejoong masih terisak meski sudah tak menangis. Yunho sudah tak lagi menahan tubuhnya, pria itu sudah bangun dan duduk disamping Jaejoong.

"Aku hanya takut, Jae. Aku membutuhkan seorang anak dan jika hal itu tidak terlaksana, aku menjadi tak berguna" Kata Yunho lalu menutupi wajahnya dengan tangan.

Jaejoong bangun perlahan, lalu memeluk Yunho dari samping.

"Aku hanya terkejut, Yun. Kau membuatku takut" Kata Jaejoong, menempelkan pipinya pada bahu Yunho.

"La-lakukanlah dengan lebih lembut, aku suka hal yang perlahan begitu" Kata Jaejoong malu, menyembunyikan wajahnya pada lengan Yunho.

Yunho tersenyum, "Tentu"

.

.

.

Yunho menggulirkan bibirnya diatas dada telanjang Jaejoong, mengecup dipertengahan.

"Yunh.." Jaejoong memanggil nama Yunho sambil mendesah. Yunho tak peduli, kini bibirnya meraup nipple kanan Jaejoong membuat si empunya menaikkan dadanya. Tangan Yunho memeluk dada Jaejoong lewat sela di belakang pria manis itu. Ia semakin memperdalam kulumannya pada dada Jaejoong membuat pria dibawahnya menggeliat.

"Akh ohh.." Jaejoong menggelengkan kepalanya, lidah basah Yunho memutari benda kecil itu lalu mengecup dan menariknya membuat Jaejoong meremas rambut pria tampan itu.

Jaejoong belum telanjang sepenuhnya, hanya dadanya saja yang terekspos, sedang bathrope Yunho hanya merosot dibagian bahu saja.

Puas pada nipple Jaejoong yang kanan, bibir Yunho beralih pada yang kiri dan kembali membuat Jaejoong mendesah.

"Yunhoo..."

Yunho tidak bermain lama didada sebelah kiri Jaejoong, ia mengangkat tubuhnya dan melihat Jaejoong yang sedang melihatnya dengan sayu.

Yunho memberikan senyuman manis pada istrinya lalu membuka tali bathropenya yang masih terikat rapih.

Jaejoong memperhatikan Yunho yang membuka bathrope itu, pria itu membukanya perlahan hingga seluruh tubuhnya terlihat.

"Eungh.." Jaejoong mengerang lalu menolehkan kepala kesamping, mencoba tidak melihat kearah Yunho.

Yunho menyeringai, ia merendahkan tubuhnya kembali dan bertahan pada kedua tangannya untuk menyanggah, berbisik pada Jaejoong dengan lembut.

"Kenapa, sayang eum?" Pertanyaan Yunho itu membuat Jaejoong mengeratkan matanya. Yunho tersenyum lalu mencium leher Jaejoong, mengecup dan sedikit menggigitnya. Sambil melakukan hal itu, tangan Yunho perlahan menurunkan bathrope Jaejoong membuat tubuh mulusnya terlihat jelas. Ciuman Yunho beralih kebawah, terus kebawah hingga wajahnya berhadapan dengan kemaluan Jaejoong.

Jaejoong menjadi panik melihat itu lalu menggeleng, "Ja-jangan, Yunho. Itu..ooh" Ucapan Jaejoong berhenti saat Yunho mengulum benda dibawah tubuhnya itu.

Kepala Yunho terus bergerak maju mundur, menciptakan sensasi aneh yang baru pertama Jaejoong rasakan.

"Ahh, Yun..s-sudah" Jaejoong berusaha mendorong kepala Yunho agar terlepas dari kemaluannya. Yunho mengerti, ia mengusap saliva yang ada dibibirnya, menaikan tubuhnya keatas hingga sejajar kembali dengan Jaejoong.

"Kalau begitu, lakukan padaku" Kata Yunho dengan lembut, Jaejoong tak mengerti dan hanya menatap Yunho dengan wajah polosnya.

.

.

"Ah..ohh..eungh..yah" Yunho memejamkan matanya ketika merasakan nikmat saat Jaejoong mengoral kemaluannya. Ia tadi mencontohkan apa yang harus Jaejoong lakukan dan alhasil Jaejoong begitu semangat melakukannya. Ia seperti menemukan mainan baru, meski aneh pada awalnya tapi cukup mengasikkan.

Yunho menegakkan tubuh bersandarnya, lalu mengangkat kepala Jaejoong agar melepas kemaluannya. Nafas mereka memburu. Jaejoong menatap sayu kearah Yunho, melihat itu membuat Yunho menciumnya.

Mereka berciuman dengan tak beraturan, terutama Yunho yang sudah diselimuti nafsu.

Ciuman basahnya terlepas dari bibir Jaejoong lalu bergulir kearah dagu pria manis itu. Yunho mengangkat Jaejoong agar berada diatasnya lalu tersenyum.

"Acara pembuahan akan dimulai, malaikatku" Katanya sambil mengusap bibir bawah Jaejoong yang memerah. Ia langsung menarik leher Jaejoong dan kembali berciuman. Saat itu tanpa Jaejoong sadari, tangan Yunho tengah menjalar ke bokongnya, meremas bagian itu dengan gemas.

"Akh.."

.

.

Jaejoong berpegangan pada kepala ranjang, kepalanya menoleh kebelakang untuk melihat apa yang akan Yunho lakukan. Posisi Jaejoong agak menungging, sedang Yunho duduk tepat dibelakangnya. Pria tampan itu mengurut kemaluannya lalu mengusap punggung Jaejoong.

Jaejoong memejamkan mata saat dengan perlahan Yunho menarik pinggangnya. Ia merasakan sesuatu yang keras menusuk belahan bokongnya.

"Akh Yunn..eummh" Desah Jaejoong. Yunho yang sudah tak sabar, menarik pinggang Jaejoong dengan cepat hingga tubuh pria itu terduduk diatas kemaluannya.

"Sa-kit, Ahh.."

Yunho menciumi belakang leher Jaejoong lalu tangannya meremas dada dan mencubit nipple sang istri. Jaejoong menggeliat, sambil mendesah ia menoleh kebelakang hingga wajahnya berhadapan dengan Yunho. Mereka berciuman lagi, dengan penuh perasaan. Lalu tangan Yunho terselip dibawah bokong Jaejoong dan langsung menggerakkannya keatas dan kebawah.

"Mmpphh..ahh" Jaejoong mendesah, merasakan sakit dan nikmat yang datang bersamaan. Yunho masih menciumnya penuh nafsu, sambil menggerakkan tubuhnya.

Selama beberapa saat Yunho mengambil alih. Jaejoong terus mendesah dan mengerang, membuat Yunho tak kuat untuk bergerak pelan. Ketika Jaejoong mulai terbiasa, tanpa sadar ia menggerakkan pinggulnya. Yunho memeluk Jaejoong, mengecupi punggung mulus itu sambil ikut mendesah.

Malam itu terus di iringi oleh desahan keduanya, hingga Yunho mengeluarkan banyak benihnya pada rahim Jaejoong.

.

.

.

Matahari pagi bersinar di luar angelos, sinarnya masuk kesela-sela tirai sebuah kamar. Kicauan burung terdengar begitu jelas membuat siapapun merasa nyaman dengan suaranya.

Diatas tempat tidur dikamar itu, terbaring seseorang yang tidur bergelung selimut, hingga hanya mata dan hidungnya saja yang terlihat.

Ceklek..

Seorang pria lain keluar dari dalam kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Manik matanya menangkap sosok ditempat tidur itu, lalu tersenyum lembut.

Yunho—pria itu, merasa semalam adalah pengalaman yang luar biasa untuknya. Ia tidak tahu jika rasanya begitu menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana tubuh mereka bersatu dan suara lembut yang Jaejoong keluarkan menjadi melodi indah yang tak terlupakan.

Yunho melempar handuk yang ia pakai lalu berjalan menuju lemari, memilih pakaian yang akan ia gunakan hari itu. Ia melirik kekanan, melihat sebuah kemeja transparan yang membuat ujung bibirnya terangkat.

Yunho membuka bathrope yang ia pakai hingga jatuh kebawah, menampilkan tubuh sempurnanya. Ia menoleh, melihat sebuah sayap dipunggungnya yang mengembang. Semalam sayap itu menutupi pergumulan mereka membuat terasa lebih romantis.

Pria tampan itu memakai celana panjangnya, lalu mengusap lembut sayapnya agar sayap itu mau mengecil kembali. Dan setelahnya ia langsung memakai baju. Setelah selesai, Yunho berteleportasi ke ruang makan.

.

.

.

"Jadi, Jaejoong belum bangun, Hyung?" Tanya Yoochun dengan nada menggoda.

"Belum"

"Waah, kau membuatnya lelah sekali ya?" Tanyanya lagi, Yunho mengeluarkan aura mencekam pada adiknya itu dan langsung membuat Yoochun diam.

"Dasar, Chunnie. Kau iseng saja" Junsu ingin tertawa melihat perubahan sikap suaminya.

"Apa semuanya berjalan lancar, Yun?" Kali ini sang kepala keluarga yang bertanya.

Yunho mengangguk, "Iya, Aboji"

Jinwoon tersenyum, tidak sabar menunggu kehamilan Jaejoong. Sudah banyak rencana yang tersusun, dan kemenangan ada di pihak mereka.

"Yun, nanti maid akan membawakan sarapan kedalam kamarmu lalu bangunkan Jaejoongie agar ia makan. Aku tak mau cucuku tidak berkembang dengan baik" Kata Taerin. Yunho mengangguk. Dan Jaejoong harus banyak makan.

.

.

.

Jaejoong menggeliat dalam tidurnya, menggelung pada selimut yang sudah membungkusnya menjadi seperti kepompong. Kedua matanya masih tertutup dan gurat lelah masih terlihat di wajah putihnya. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka perlahan, mengernyit karena cahaya lampu kamar yang menyilaukan.

Hah!

Jaejoong langsung duduk, begitu sadar dimana ia berada. Selimut masih menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya terlihat kepala, mata dan sedikit batang hidungnya saja, benar-benar seperti kepompong.

"Kau sudah bangun?"

Jaejoong berbalik, menemukan Yunho duduk bersandar pada kepala ranjang, menghadap kearahnya. Pria tampan itu tersenyum pada Jaejoong yang kemarin telah menjadi istrinya.

Jaejoong masih terpaku, melihat kearah Yunho, lalu tiba-tiba wajahnya memerah mengingat kejadian semalam.

"Yu-yu..Yunho..." Jaejoong tergagap. Ia tidak tahu bagaimana harus menyapa Yunho, sedang lawan bicaranya hanya tertawa ringan. Yunho bangun perlahan, berjalan dengan tongkatnya. Suara benda kayu itu terbentur dengan lantai menjadi melodi tersendiri untuk Jaejoong.

Yunho duduk diatas kursi di depan meja kanvas, kembali dengan rutinitasnya seperti biasa yaitu melukis.

Jaejoong mengikuti Yunho dengan matanya, lalu menggeleng untuk menghilangkan kejadian-kejadian semalam di memori otaknya, sepertinya ia butuh siraman air yang dingin.

Yunho tersenyum, melihat Jaejoong berlari kekamar mandi masih dengan selimut yang melilit tubuhnya. Yunho bingung kenapa Jaejoong malu, padahal semalam ia sudah melihat semuanya.

Tubuh Jaejoong cukup ramping, kecil dan tak bisa disebut sebagai tubuh pria, dan yang paling Yunho ingat dari semua itu, tubuh Jaejoong begitu menggoda.

"Ahh.."

Yunho mendapatkan ide. Ia mencoret sketsa yang hampir selesai lalu beralih pada kanvas yang baru.

Melukis tubuh Jaejoong tak ada salahnya 'kan?

.

.

.

Jaejoong mengusap wajahnya berulang kali dengan air shower yang jatuh dari atas, membasahi wajah hingga ujung kakinya. Ia memejamkan mata, lalu melihat ada Yunho yang sedang menatapnya penuh nafsu.

"Andweeee..." Jaejoong kembali mengusap wajahnya tak beraturan. Ia kesal karena bayangan itu dan lainnya tak mau hilang. Tiap ia menutup mata, pasti penggalan kejadian semalam terlihat jelas di matanya.

"Aku bisa gila"

.

.

.

Yunho tersenyum saat tangannya menari diatas kertas kanvas, membayangkan keindahan tubuh Jaejoong, ia sudah sampai pada sketsa bahu Jaejoong, menuju kebawah dan itu membuat ia semakin tak sabar, tapi suara berbisik membuatnya berhenti.

Yunho menoleh, kearah pintu kamar mandi yang sekarang menampilkan sebagian kepala Jaejoong. Pria itu memanggil nama Yunho dengan suara pelan. Yunho bangun dengan tongkatnya, berjalan kearah Jaejoong yang menunggunya.

"Ada apa?" Tanya Yunho penasaran.

"Tolong ambilkan bathrope-ku" Jawab Jaejoong dengan memohon. Yunho mendelik. Saat Jaejoong mandi tadi maid datang membawa sarapan dan ia menyerahkan bathrope mereka agar bisa di cuci.

"Maid sudah membawanya, Jae"

"Apa? Lalu aku pakai apa?" Tanya Jaejoong dengan wajah sedih. Yunho tersenyum.

"Tidak memakai apapun tak masalah, Jae. Aku suka" Jawaban Yunho membuat wajah Jaejoong memerah.

"Tunggulah, aku akan carikan pakaian yang cocok untukmu" Yunho lalu berjalan kearah lemarinya, mengambil sebuah kemeja panjang berwarna putih dan hotpants lalu kembali kehadapan Jaejoong.

"Ini pakailah" Jaejoong menerimanya lalu masuk kedalam kamar mandi.

Ah, Jaejoongnya terlalu polos.

.

.

.

Yunho sudah kembali pada sketsa yang tadi ia tinggalkan, dan sudah lebih dari 10 menit Jaejoong dikamar mandi. Yunho khawatir, berulang kali menoleh kearah pintu kamar mandi. Kenapa istri cantiknya tidak keluar? Apa terjadi hal yang buruk? Apa Jaejoong pingsan?

Pertanyaan terakhir itu membuat Yunho semakin tak bisa tenang. Ia segera bangun dan mengetuk pintu itu.

Didalam kamar mandi, Jaejoong duduk dipinggir bathup, meletakkan kedua tangannya diatas paha dan wajahnya menunduk. Ia malu, pakaian yang ia pakai semakin membuatnya malu dan tak mau keluar dari kamar mandi.

Ia pun mengabaikan ketukan pintu kamar mandi.

Plasshh..

"Jae!" Karena terlalu khawatir, Yunho melakukan teleportasi kedalam kamar mandi. Jaejoong terkejut, melihat suaminya yang tiba-tiba muncul tak jauh darinya.

Yunho mendekati Jaejoong lalu berjongkok, mensejajarkan tubuh mereka.

"Kau kenapa, sayang? Sakit?" Yunho terus bertanya pada Jaejoong yang hanya menatapnya.

"Yun.." Jaejoong memanggil Yunho perlahan, "Pa-pakaian ini transparan" Lanjutnya. Yunho langsung melihat kearah kemeja yang Jaejoong pakai.

"H-hanya karena itu?" Yunho hampir tergelak karena ucapan Jaejoong.

"Ya Tuhan, Jae. Hanya karena itu kau membuatku khawatir?"

"Kau ini bagaimana?! Jelas saja aku malu. Aku tidak pernah memakai pakaian seperti ini didepan orang lain dan sekarang..." Jaejoong menutupi wajahnya dengan tangan.

Kening Yunho mengerut, "Aku bukan orang lain, Jae. Aku suamimu. Kenapa kau malu padaku? Apa aku tak boleh melihat tubuhmu? Bukankah semalam kita ummhh.."

"Sudah jangan di ucapkan" Jaejoong menutupi mulut Yunho agar berhenti bicara. Yunho yang tak terima menarik tangan Jaejoong lalu mereka terjatuh karena Yunho tak kuat menahan tubuh mereka.

Jaejoong melekat pada tubuh Yunho, masih terkejut dengan kejadian cepat tadi, wajahnya pun jatuh keperpotongan leher dan bahu Yunho.

Yunho menyentuh punggung Jaejoong lalu sedikit meremasnya, tangan yang satunya mngusap kepala Jaejoong lembut.

"Aku ingin, Jae" Kata Yunho lembut. Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap Yunho yang balas menatapnya.

"A-apa?"

"Bercinta denganmu"

.

.

.

Tubuh Jaejoong terlonjak-lonjak, berpegangan pada pinggir bathup. Dibelakang tubuhnya, Yunho memeluk Jaejoong.

"Akh akh Yun eumhh ahh" Jaejoong mendesah, penis panjang Yunho terus menusuk-nusuk lubang bokongnya.

"Jae oohh.." Yunho mengecupi bahu dan punggung Jaejoong sebagai rasa senang atas kenikmatan yang Jaejoong beri.

"Akh akh.."

.

.

.

Splasshh..

Yunho berteleportasi kembali ketempat tidur bersama dengan Jaejoong yang menggantung seperti koala. Yunho dan Jaejoong sudah memakai baju seperti sebelum mereka bercinta.

Jaejoong lelah, mereka menghabiskan 1 jam untuk bercinta di kamar mandi dan kini ia sudah terlelap. Yunho meletakkan Jaejoong dengan perlahan, merapihkan selimut supaya menutupi tubuh istrinya. Yunho memperhatikan Jaejoong, membenarkan rambut yang menutupi mata Jaejoong.

"Kau tahu, Jae. Kau adalah mimpi terindah yang selama ini hadir di mimpiku dan kini mimpi itu menjadi nyata. Kau adalah yang terindah. Saranghae" Kata Yunho sambil mengusap lembut pipi Jaejoong. Ia lalu mengecup bibir Jaejoong, membuat si empunya mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Yunho.

"Malaikatku gemar tidur" Gumam Yunho sambil menggeleng gemas.

.

.

.

Jung Il Woo berdiri didepan sebuah kandang berbentuk bulat memanjang yang tertutup oleh tirai transparan berwarna emas. Dibelakangnya, sang malaikat penasehat berdiri sambil mengikuti arah pandang sang tuan.

"Junjin ah, apa ideku ini luar biasa?" Tanya Ilwoo pada sang penasehat. Malaikat bernama Junjin itu terdiam, berfikir apa hal itu bisa menjadi senjata yang hebat.

"Tapi My Lord, apakah tidak ada ide lain?"

Ilwoo menoleh, menatap tajam pada bawahannya itu, "Apa maksudmu? Dia adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan para Jung sialan itu"

"Tapi hanya 1 malaikat saja aku rasa tidak akan mampu mengalahkan mereka"

Ilwoo kini berbalik sempurna, "Kau tak tahu, Junjin ah. Aku menjaga dia selama berabad-abad, mengubah banyak wajah untuknya dan aku rasa memanfaatkan kelemahan Yunho adalah ide yang tepat" Ilwoo bicara dengan menggebu-gebu, melihat itu membuat Junjin menunduk.

"Kau memang penasehatku, Junjin. Tapi semua keputusan kembali padaku" Kata Ilwoo angkuh. Ia tersenyum, senyum jahat yang pernah ia perlihatkan pada Yunho dulu.

Junjin melihat sekali lagi kearah kandang yang berdiri tak jauh didepannya, dan saat itu matanya menangkap mata lain yang begitu kelam. Ia tidak yakin, apa yang ia yakini selama ini adalah benar, tapi pengabdian yang panjang membuat ia terikat pada benang tebal yang tak terlihat.

.

.

.

Changmin seperti biasa melakukan kegiatan rutin di taman yaitu memanah. Mungkin hidupnya didedikasikan untuk memanah, terlebih sejak Hyunwon memilihnya sebagai malaikat panah. Ia akan membantu Yunho nanti.

"Sepertinya keahlian memanahmu bertambah, Changmin ah"

Changmin tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. Ia lalu melepaskan semua peralatan memanahnya dan ikut duduk disebelah Yunho yang sibuk dengan tehnya.

"Hyung tidak menemani Jaejoong?" Tanya Changmin sambil membersihkan anak panahnya.

Yunho menyeruput tehnya lagi, "Dia sedang tidur dan tidurnya itu lama sekali"

"Tentu saja, kau membuatnya lelah" Cibir Changmin. Yunho terkekeh lalu menepuk bahu si adik bungsu.

"Aku tahu kau ingin cepat kembali ke surga untuk menunggu malaikatmu, jadi apa kau sudah tak sabar?" Tanya Yunho. Changmin tersenyum, diantara kakak-kakaknya hanya Yunho yang dekat dengannya. Pria itu cukup mengerti dirinya.

"Tapi tidak dengan mempercepat keadaan seperti Heechul Hyung" Jawab Changmin. Yunho berdecak, membicarakan Heechul membuatnya sebal. Lusa Hankyung akan kembali ke China dan itu artinya akan mengembalikan sifat Heechul yang dulu, angkuh, pendiam, seenaknya, cuek.

"Aku percaya padamu, Changmin" Kata Yunho sambil menepuk bahu Changmin.

"Jadi, apa Jaejoong sudah hamil, Hyung?" Tanya Changmin kembali pada topik sebelumnya.

Sekali lagi Yunho terkekeh, "Aku rasa belum. Kau tenang saja" Yunho bangun dari duduknya, "Sepertinya Jaejoong akan segera bangun"

Yunho lalu menghilang, meninggalkan Changmin yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.

.

.

.

Yoochun sedang bergurau dengan Junsu diatas tempat tidur, menindih istrinya yang sudah lemas. Ia baru saja menggelitiki Junsu yang kalah bermain tebakan dengannya.

"Kau tak akan bisa mengalahkanku, My Suie" Kata Yoochun, Junsu terkekeh mendengarnya.

"Hahaha..."

"Akhh.." Junsu terkejut mendengar pekikan itu. Ia lalu melihat pada Yoochun yang sedang memegangi kepalanya.

"Kau kenapa, Chunnie?" Tanya Junsu Khawatir. Yoochun berguling ditempat tidur sambil mengaduh sakit, ia terus memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sakit.

"C-chunnie.." Junsu hampir menangis melihat itu. Yoochun tak meresponnya, ia tetap mengerang sakit lalu perlahan suaranya menghilang, Yoochun pingsan.

.

.

.

Yoochun berada disebuah taman surga yang indah. Disebelah kanannya mengalir sebuah sungai berair bening lalu disebelah kirinya terhampar berbagai bunga warna-warni. Sedang ia berdiri dijalan setapak yang berbatu koral.

Matanya memandang jauh kedepan, disana hanya ada kabut, tapi perlahan kabut itu terbang tertiup angin hingga Yoochun bisa melihat jelas jalan didepannya.

Yoochun terlonjak, ia melihat seseorang duduk diujung jalan itu, tanpa memakai apapun kecuali kain putih yang menutupi bagian private-nya. Orang itu adalah pria karena Yoochun tak melihat dada wanita. Pria itu memeluk kakinya yang menekuk, menyembunyikan wajah diantaranya.

Yoochun melihat pria yang duduk menyamping itu berbalik membelakanginya, memperlihatkan sebuah punggung berukir tato sayap malaikat. Lalu tak berapa lama pria itu mengangkat kepalanya dan menoleh.

Mata Yoochun terbelalak, ia kini beradu pandang dengan pria itu. Kedua mata, hidung, bahkan bibir pria itu sangat ia kenal. Pria itu seperti..

"Jaejoong?"

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Jaejoong? Yoochun ketemu Jaejoong? Wah apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah jadi Chunjae? #ngaco

Annyeong~

Apakah aku pergi cukup lama? Maaf readerdeul, aku kena typus dan harus dirawat selama 6 hari. Pas aku terakhir ngetik sebelum di opname, ini baru 6 page dan aku sebenernya gak boleh banyak ngetik dulu karena pas sakit tanganku kram, tapi berhubung kalian udah nunggu lama, jadi aku ngetik ff ini diam-diam. Haha.

Apakah alurnya jadi aneh? Gimana NC-nya? Si Ilwoo sudah mulai bertindak nih, tapi senjata dia apa ya..ada yang mau tebak? Nanti dikasih cipok hiro XD

Chap depan kapan tayang aku gak mau janji ah nanti kayak chap ini yang PHP. Pokoknya doain aku cepet sembuh biar bisa aktif update seminggu 2 kali ^_^

halah malah curhat, okelah, berikan kesan dan pesan kalian dikotak review~

See You Next Chap ^_^