Angelos
Genre : Drama, Fantasy, Thriller, Mpreg
Rating : M
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Tan Hankyung, Park Yoochun, kim Junsu, Shim Changmin, Jung Jinwoon, Jung Taerin and others
Author : Kim Hyunri aka me
A/n : Maaf karena kemarin aku lupa mengganti ratingnya dari T ke M, hehe. Dan sekarang sudah aku ganti menjadi M. Jadi selamat menikmati ^_^
Chapter 9
Yoochun menggelengkan kepalanya. Kenapa bisa Jaejoong berada disana?
Pria yang mirip Jaejoong itu mengangkat ujung bibirnya, membentuk seringaian yang Yoochun tahu tak pernah Jaejoong lakukan. Lalu karena penasaran ia pun melangkah mendekati pria itu, tapi baru beberapa langkah tubuhnya terdorong dengan keras, menyebabkannya tersadar dari tidurnya.
"Chunnie..hiks" Suara Junsu terdengar. Yoochun yang sudah sadar sepenuhnya melihat sang istri yang sedang menangis.
"Su-ie" Yoochun bangun dengan cepat. Ia melihat kesekitar dan masih mendapati dirinya berada dikamar. Ia lalu memegang kedua bahu Junsu dengan wajah bingung. Junsu yg masih terisak hanya memandang Yoochun tak mengerti.
Yoochun ingat dengan mimpinya, dengan ekspresi panik ia bangun dari ranjang lalu berjalan cepat meninggalkan Junsu. Junsu cukup bingung dan langsung mengejar langkah suaminya.
.
.
.
Brak..brak..brak..
"Yunho Hyung..buka pintunya!" Teriak Yoochun dari luar kamar Yunho.
Yunho yang sedang berciuman dengan Jaejoong terpaksa harus berhenti. Ia berdecak kesal karena hal itu. Jaejoong yang duduk dipangkuan Yunho tersenyum lalu bangun.
"Masuklah kedalam selimut, Jae. Tidak boleh ada yang melihatmu" Suruh Yunho, Jaejoong mengangguk.
Yunho lalu melangkah kearah pintu karena Yoochun bisa menghancurkan benda itu.
Ceklek..
Yunho membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Ia tidak akan membiarkan kamar itu terbuka lama.
"Ada apa?" Tanya Yunho. Tidak biasanya Yoochun memasang wajah panik begitu, lalu di belakangnya pun Junsu memasang wajah bingung.
Yoochun menghela nafasnya dengan susah, "Hyung.." Ia menatap Yunho dengan tak sabar, "Apa Jaejoong punya tato dipunggungnya?"
Yunho mendelik. Untuk apa adiknya bertanya tentang hal pribadi itu. Karena tak ada jawaban, Yoochun menambahkan.
"Ini penting, Hyung. Aku harus tahu itu!"
"Chunnie, kenapa kau.."
"Cepat jawab, Hyung!" Yoochun mengabaikan Junsu. Ia semakin tak sabar dengan sikap diam Yunho.
"Tidak ada" Jawab Yunho singkat.
"Kau yakin?" Tanya Yoochun lagi. Rahang Yunho mengeras, ia kesal dengan pertanyaan adiknya itu.
"Tentu saja, kau lupa siapa aku?" Nada suara Yunho agak meninggi. Yoochun yang sadar pertanyaannya membuat Yunho marah kembali bicara.
"Tapi mimpi itu.."
"Apa maksudmu?" Tanya Yunho. Kebingungan terlihat jelas di wajahnya.
"Tadi kepalaku sakit dan aku pingsan. Lalu aku bermimpi bertemu seseorang.." Jelasnya, melihat wajah serius Yunho, "Dan orang itu mirip dengan Jaejoong"
"Mwo?"
"Tapi Hyung, orang itu memiliki tato sayap dipunggungnya. Dan jika Jaejoong tak memiliki tato, itu artinya..." Lanjut Yoochun. Diakhir ucapannya ia tampak terkejut, begitu juga dengan Yunho.
Yunho langsung berteleportasi kembali ke kamar, memanggil Jaejoong yang masih dibawah selimut.
"Ada apa, Yun?" Tanya Jaejoong, ia bingung melihat ekspresi Yunho yang panik. Tanpa menjawab perkataan Jaejoong, Yunho langsung membalik tubuh istrinya itu.
Ia mengintip lewat kerah baju belakang Jaejoong dan apa yang ia katakan tadi adalah benar. Jaejoong tak memiliki tato apapun.
"Kau kenapa?" Tanya Jaejoong. Yunho menggeleng lalu kembali menghilang. Jaejoong bingung melihat wajah panik suaminya.
Dan Yunho sudah kembali kehadapan Yoochun dan Junsu.
"Tak ada. Tidak ada tato apapun di punggung Jae" Kata Yunho yakin. Yoochun menunduk, lalu siapa yang ia lihat dalam mimpi itu?
"Aku rasa ini hal penting, Hyung. Apalagi pria itu tampak menyeringai. Aku yakin dia bukan Jaejoong" Kata Yoochun. Kekuatannya adalah membaca pikiran, bukan membaca masa depan.
"Aku rasa Dia mulai beraksi"
Ketiga orang itu menoleh kearah suara itu, melihat Heechul yang berdiri angkuh.
"Apa maksudmu, Hyung?" Tanya Yoochun. Heechul tersenyum lalu melipat tangannya didepan dada.
"Aku rasa apa yang ada di otak kalian sama seperti maksudku. Iya 'kan?" Kata Heechul sambil tersenyum, lalu berjalan meninggalkan ketiga adiknya.
"Aku rasa apa yang Heechul Hyung katakan adalah benar" Kata Junsu, dari tadi pria itu hanya menyimak.
Yoochun dan Yunho saling berpandangan, semoga apa yang mereka takutkan tidak akan terjadi, tapi benarkah?
.
.
.
Jaejoong menatap bingung kearah Yunho yang baru masuk kedalam kamar. Wajah pria itu terlihat muram. Jaejoong mendekati Yunho yang langsung duduk diatas kursi di depan meja lukisnya.
"Kenapa, Yun?" Tanya Jaejoong. Yunho menarik Jaejoong agar lebih mendekat dan Jaejoong langsung mengalungkan tangannya pada leher Yunho.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir" Yunho memeluk Jaejoong, mengusap rambut halus istrinya itu. Jaejoong tersenyum, entah kenapa pelukan seperti ini begitu menenangkan.
"Katakan kau mencintaiku, Jae" Kata Yunho setelah melepas pelukannya. Jaejoong memandang dengan polos, raut wajah Yunho begitu serius.
"A-aku.." Jaejoong terbata. Ia malu untuk mengucapkannya terlebih Yunho terus memandangnya begitu. Yunho memegang dagu Jaejoong, menarik wajah Jaejoong agar mendekat kearahnya, berbicara dalam jarak yang begitu dekat.
Yunho mengecup bibir sang istri lalu melumatnya hingga Jaejoong membuka bibirnya. Mereka berciuman beberapa detik sebelum Yunho melepaskannya.
"Aku mencintaimu, Jae. Sangat-sangat mencintaimu" Kata Yunho lalu kembali menarik kepala Jaejoong hingga wajahnya terselip dileher istrinya itu. Ia mengecup disana membuat Jaejoong mendesah. Yunho terus melakukan itu sambil meremas lembut punggung Jaejoong.
Setelah puas bermain dileher, Yunho menjauhkan tubuh mereka. Jaejoong terengah-engah, seburat merah nampak diwajahnya. Yunho tersenyum, istrinya itu begitu manis.
"Eungh.." Jaejoong mengerang ketika dengan cepat Yunho merunduk dan meraup nipplenya yang tertutup pakaian transparan.
Yunho memutar lidahnya ketika menjilat benda mungil itu, membuat baju Jaejoong basah dibagian itu. Jaejoong yang tak tahan, memeluk kepala Yunho sedang suaminya memeluk pinggangnya.
Mereka kembali larut dalam percintaan yang begitu memabukkan.
.
.
.
"Mwo? Apa Yunho sudah tahu?" Tanya Jinwoon yang terkejut. Ia baru saja diberitahu oleh Yoochun tentang mimpi itu.
"Sudah, Aboji. Bahkan aku langsung memastikannya" Jawab Yoochun yakin. Saat ini mereka duduk diruang tamu, bersama dengan Junsu dan Taerin.
"Apa benar yang kau lihat itu adalah Jaejoong?" Tanya Taerin yang masih belum percaya. Yoochun beralih pada sang ibu.
"Iya, Omoni. Aku kenal betul dengan wajah Jaejoong, dan aku tak mungkin salah"
"Tapi Jaejoongie tidak punya tato itu" Kata Taerin lagi.
"Aku pun tak mengerti, Omoni. Tapi..." Yoochun menggantungkan ucapannya, ia tampak ragu. Jinwoon dan Taerin menjadi lebih penasaran.
"Tatapan mata dan seringai itu bukan milik Jaejoong" Lanjut Yoochun.
Jinwoon langsung bersandar pada kursinya, sedang Taerin semakin tertarik.
"Apa Jaejoong berdarah manusia murni?" Tanya anak ketiga keluarga Jung itu.
"Tentu. Sama seperti Junsu dan Hankyung, mereka murni darah manusia" Jawab Taerin. Yoochun mengangguk.
Junsu terus diam sejak kedatangan mereka didepan orang tua mereka. Ia mulai mengerti apa yang akan terjadi, dan ia menjadi khawatir dengan apa yang akan terjadi 4 bulan lagi.
.
.
.
Yunho menepuk-nepuk lengan Jaejoong sehabis mereka bercinta. Jaejoong sudah tertidur dipelukan sang suami. Yunho memandang langit-langit kamarnya, masih memikirkan percakapan dengan Yoochun tadi, dan perkataan Heechul menambah tingkat kecemasannya.
'Siapa pria itu? Tidak mungkin Yoochun salah lihat' Kata Yunho dalam hati. Ia menoleh pada Jaejoong yang tidur dengan tenang. Ia harus membuat Jaejoong hamil dalam waktu 5 hari dan ini baru hari ketiga.
'Anakku, cepatlah datang, kami menantimu' Katanya dalam hati sambil mengusap perut rata Jaejoong.
.
.
.
Didalam ruangan yang gelap itu tidak ada cahaya apapun tapi orang yang berada didalam sangkar dapat melihat apapun. Matanya yang berwarna abu-abu terlihat menyala ditengah kegelapan.
Tato dipunggungnya perlahan mulai timbul, lalu menjadi nyata. Tato itu berubah menjadi sayap yang berwarna abu-abu, membentang didalam sangkar yang tidak terlalu besar. Tak ada yang tahu kalau ia tengah menyeringai.
.
.
.
Ini hari keempat Jaejoong berada didalam kamar Yunho. Ia dijelaskan oleh suaminya itu tentang peraturan pembuahan. Ia tidak boleh keluar dari kamar Yunho selama 5 hari dan Hyunwon sudah melindungi kamar itu agar tak dapat dimasuki orang lain selain Yunho. Pada hari kelima ia akan hamil, yang tentunya setelah pembuahan yang terus Yunho lakukan. Saat ini ia sedang berdiri didepan cermin, tersenyum pada pantulannya disana. Tangannya mengusap perut ratanya. Apakah benar ia memiliki rahim? Orang tuanya tak pernah cerita, atau belum, ia tak tahu. Tapi mengingat tugasnya disini, ia menjadi Yakin kalau ia bisa hamil.
Hamil? Ia terkekeh tiap mengingat kata itu. Ia lelaki dan ia hamil? Apakah itu lelucon?
"Itu bukan lelucon, sayang" Kata Yunho yang sudah ada dibelakang Jaejoong sambil memeluknya. Jaejoong tersenyum, ia sudah terbiasa dengan teleportasi yang Yunho lakukan.
"Kau selalu membaca pikiranku" Kata Jaejoong pura-pura kesal. Yunho mencubit hidung bangir Jaejoong.
Yunho tertawa, semakin mengeratkan pelukkannya pada Jaejoong.
"Heum, rambutmu harum, Jae. Kenapa semua yang ada padamu begitu memabukkan?" Tanya Yunho sambil mengendus leher Jaejoong.
Jaejoong mengusap kepala Yunho dari posisinya, "Kau selalu menggodaku, Yun"
"Lalu apa kau keberatan?"
Jaejoong mendengus, "Huh, sudah 4 hari aku selalu luluh oleh godaanmu, kau masih bertanya"
"Haha, aku mencintaimu, Jae"
"Aku juga"
.
.
.
Yoochun terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Ia baru saja bermimpi buruk. Saat ia ingin meraih gelas diatas nakas, ekor matanya melihat seseorang yang berdiri disudut kamarnya.
"Hah, siapa kau?" Tanya Yoochun pada orang itu. Orang itu tetap diam dan tak merespon pertanyaan Yoochun. Yoochun turun dari tempat tidurnya, mendekati orang itu hingga mereka saling berhadapan.
Matanya terbelalak melihat wajah orang itu. Orang yang hanya memakai kain dibagian bawah tubuhnya itu hanya tersenyum.
"Jaejoong?"
Orang yang mirip Jaejoong itu mengulurkan tangannya, memberikan sebuah kertas coklat pada Yoochun.
Yoochun menerimanya dengan wajah bingung, tapi bertambah bingung saat tak menemukan tulisan apapun disana.
"Apa in-" Yoochun ingin bertanya tapi pria mirip Jaejoong sudah tak ada.
Yoochun memutar tubuhnya, mencari pria itu tapi tak menemukan siapapun kecuali dirinya.
"Hahh..hhh..hh" Setelahnya Yoochun kembali terbangun dari keadaan yang ternyata mimpi itu.
"Kau kenapa, Chunnie?" Junsu bertanya dengan nada khawatir. Ia ikut terbangun saat mendengar suara suaminya.
Yoochun menggeleng, "Aku haus"
Junsu segera meraih gelas diatas nakas lalu memberikannya pada Yoochun. Saat Yoochun ingin memegang gelas dengan kedua tangannya, ia merasakan ada sesuatu yang ia genggam di tangan kirinya.
Ia melihat pada Junsu dengan wajah tak sabar, tapi entah kenapa ia merasa tak perlu memberitahu Junsu.
"Ada apa?" Tanya Junsu bingung, Yoochun menggeleng kembali.
Yoochun meminum air dalam gelas hingga habis, "Tidurlah lagi, aku kekamar mandi dulu" Pamit Yoochun, setelahnya ia berjalan menuju kamar mandi. Junsu melihat kearah pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
.
.
.
Didalam kamar mandi, Yoochun mengambil kertas yang ia genggam tadi dari dalam kantung celana pendeknya.
Ia kembali meneliti kertas itu. Kertas berwarna cokelat itu tak menampakkan tulisan apapun.
Yoochun hampir membuangnya ketika satu persatu huruf timbul diatasnya.
Yoochun tersentak, menatap takjub kearah kertas itu. Ia membaca tulisan yang tampak nyata itu.
"Anggap aku tak pernah ada. Cukup kau katakan pada yang lain tentang mimpi pertamamu. Pertemuan kita adalah rahasia, maka itu aku datang hanya di mimpimu. Jika kau memberitahu semua mimpimu, maka aku tak bisa datang lagi.
Tak penting siapa aku, yang pasti aku hanya mengatakannya sekali, musuh bisa datang bahkan dari bawah selimut sekalipun. Jadi, lebih waspadalah"
Yoochun bingung pada kata-kata terakhir itu, musuh? Apa maksudnya?
"Chunnie, gwenchana?" Tanya Junsu dari luar kamar mandi. Yoochun melipat kembali kertas itu lalu memasukkannya kedalam saku celananya lagi. Setelahnya ia baru keluar.
.
.
.
Seperti biasa ruang makan keluarga Jung terlihat sepi, tak ada suara lain kecuali alat makan yang saling beradu. Yoochun tampak diam ditempatnya. Ia memperhatikan Yunho yang sedang makan dengan tenang.
Ia ragu, benarkah tak ada yang boleh tahu tentang mimpinya semalam? Termasuk pada Yunho? Ia tak yakin harus menyembunyikan ini dari Yunho, apalagi ini berhubungan dengannya.
Ia tak tahu mahluk apa yang semalam datang kemimpinya, yang ia tahu wajah orang itu mirip Jaejoong meski banyak bagian yang berbeda.
Manik mata Jaejoong tak berwarna abu-abu, melainkan hitam, dan tatapan mahluk itu lebih tajam dari Jaejoong.
"Ini sudah hari keempat, apa Jaejoong sudah menunjukkan gejala hamil?" Tanya Jinwoon setelah mereka selesai makan.
Yunho melihat pada ayahnya, "Belum" Jawabnya.
Jinwoon menghela nafas, "Apa perlu Hyunwon membuatkan obat untuk kalian?"
"Tenanglah, Aboji. Bukankan masih ada satu hari lebih sesuai peraturan?" Kata Yunho. Ia sebenarnya sangat risih ketika membicarakan masalah itu. Ia hanya ingin kalau yang terlibat hanya ia dan Jaejoong, tidak ada campur tangan orang lain.
Yoochun memandangi Yunho yang sedang bicara dengan ayah mereka. Raut wajahnya begitu ragu dan hal itu terlihat jelas oleh Junsu. Pria manis itu berbisik pada suaminya.
"Chunnie, kau kenapa? Wajahmu pucat, apa kau sakit?" Tanya Junsu. Yoochun menggeleng lalu tersenyum.
"Ah Yoochun, apa kau bermimpi lagi tentang pria asing itu?" Tanya Jinwoon yang kini beralih pada anak ketiganya tersebut.
Yoochun terdiam, ia ingat dengan tulisan dikertas itu, tak boleh ada yang tahu.
"Tidak, Aboji" Gelengnya.
"Ah syukurlah" Kata Jinwoon.
Yoochun kembali terdiam, melihat satu persatu anggota keluarganya. Musuh? Yang memiliki kandidat itu mungkin hanya Heechul, tapi apa benar?
Ia tak mau gegabah, semua orang selain orang tuanya dan Yunho, memiliki kesempatan yang sama. Yoochun menoleh pada Junsu. Bahkan istrinya itu pun masuk sebagai salah satu yang dicurigai.
.
.
.
Jaejoong terbangun dari tidurnya, menguap dan mengusap wajah mengantuknya. Ia melihat kearah bajunya yang dua kancingnya terbuka, pasti setelah 'menyusu' tadi pagi, Yunho lupa mengancingkannya kembali.
Ckck. Suaminya mesum sekali.
Tapi ia tersenyum, ia selalu di perlakukan lembut oleh pria yang berstatus suaminya itu. Yunho selalu mengajaknya bercinta dengan diawali ciuman dan kecupan yang memabukkan. Ia sungguh menyukainya.
Ini sudah hari keempat Jaejoong menempati kamar Yunho. Ia sudah cukup bosan berada didalam sana. Ia ingin keluar tapi larangan itu membuatnya memutuskan harapannya. Ia tak boleh keluar selama 5 hari dari kamar Yunho. Ia tak masalah, asalkan dirahimnya hadir seorang anak yang dinantikan seluruh Jung.
Jaejoong tersenyum, lalu mengelus perut ratanya. Akan sangat aneh jika perutnya membuncit karena ada janin didalamnya, tapi itu sudah resiko. Apakah ia akan gendut dan jelek?
"Istriku tak akan pernah jelek" Suara Yunho terdengar di ujung pintu, tersenyum manis pada Jaejoong yang memandangnya dengan pandangan polos.
"Yunho.." Gumam Jaejoong sambil ikut tersenyum. Yunho berjalan dengan perlahan kearah Jaejoong, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Yunho mengecup bibir merah Jaejoong, "Apakah istriku ini sudah hamil?" Tanya Yunho. Jaejoong menggeleng.
"Apa aku gagal, Yun?" Tanya Jaejoong dengan wajah sedih. Yunho mengusap pipi Jaejoong lalu memeluknya, mengusap surai hitam sang pujaan hati.
"Kau tidak gagal, sayang. Masih ada 1 hari lebih lagi, dan itu artinya masih banyak lagi waktu untuk kita bercinta" Diakhir ucapannya Yunho tertawa.
Jaejoong mencubit dadanya gemas.
"Kau mesum, apa kau tak kasihan padaku, eoh?"
"Itu gunanya kau dikurung dikamar ini, Jae. Hanya untuk menerima benih dariku" Kata Yunho sambil tersenyum. Jaejoong mengeratkan pelukannya.
Saat sedang berpelukan, Jaejoong melihat bayangan orang yang sedang mengintip.
"Hah, siapa itu?" Jaejoong langsung melepaskan pelukan Yunho dengan tiba-tiba, membuat Yunho heran.
Yunho segera membalikkan tubuhnya, melihat kearah jendela yang Jaejoong lihat dengan wajah terkejut.
Ia tak menemukan siapapun disana, lalu kenapa Jaejoong memekik?
"Siapa maksudmu?" Tanya Yunho heran.
"Ta-tadi ada yang mengintip, Yun"
"Apa?" Yunho bertambah bingung. Mengintip? Bagaimana bisa, sedangkan kamar itu berada dilantai 2?
Yunho berjalan kearah jendela itu, melihat kearah bawah dan sekitar dari jendela yang masih tertutup. Ia tidak akan membukanya karena itu akan berakibat pada benih yang ada didalam perut Jaejoong.
"Tak ada siapapun, Jae"
Jaejoong menggeleng, "Tapi aku melihatnya, Yun. Orang itu..orang itu mempunyai sayap sepertimu"
Yunho terkejut, malaikat? Siapa?
"Kau tunggu disini!" Suruh Yunho, ia akan berteleportasi, tapi sebelum itu tangan Jaejoong mencegahnya.
"Jangan, Yun. Aku takut" Jaejoong menggeleng dengan wajah takut.
Yunho memegang tangan Jaejoong, "Kau masuklah kedalam selimut, aku harus mencari tahu siapa orang itu" Kata Yunho dengan wajah serius, "Tidak ada yang bisa masuk kesini kecuali aku" Lanjutnya.
Dengan terpaksa Jaejoong melepaskan tangan Yunho. Yunho mengangguk lalu menghilang dari sana.
Jaejoong yang tinggal sendiri melihat kesekitar kamar, pandangan matanya terhenti pada jendela tempat bayangan tadi berdiri.
Dengan ragu Jaejoong berjalan kearah Jendela itu, melihat kebawah. Dari jendela itu Jaejoong bisa melihat taman.
Jaejoong ingin berbalik sebelum melihat sebuah bulu yang mirip dengan bulu burung, tapi yang saat ini Jaejoong pegang cukup panjang dan berwarna abu-abu.
"Dari mana bulu ini datang? Apa milik Yunho?" Gumamnya. Ia bingung karena tadi benda itu tak berada disana. Tak mau ambil pusing, ia pun menjauh dari jendela dengan membawa bulu tadi.
.
.
.
Yunho berteleportasi ke ruang tamu setelah mengirimkan telepati kepada semua Jung. Sejak datang tadi wajah Yunho sudah sangat serius, membuat yang lainnya bingung.
"Ada apa, Yunho?" Tanya Jinwoon. Yunho tidak duduk disofa seperti keluarganya yang lain, tapi berdiri menghadap mereka.
"Tadi Jaejoong melihat sosok asing di jendela kamarku"
"Apa?" Jinwoon, taerin dan beberapa lainnya terkejut, termasuk Yoochun. Pria itu berwajah tegang, seolah-olah ia yang sedang dibicarakan.
"Dan sosok itu bersayap seperti kita" Kembali ucapan Yunho membuat yang lain terkejut.
"Tunggu, Hyung. Apa maksudmu, sosok itu ada diantara kita?" Tanya Changmin. Yunho menggeleng.
"Kau lupa, Changmin. Tidak ada yang bisa mendekati kamar itu karena pengaruh kekuatan Hyunwon. Dan kamarku dilantai 2, juga tidak ada pijakan didekat jendela itu" Jelas Yunho.
"Apa yang Jaejoong lihat benar-benar seseorang? Mungkin hanya pantulan sinar matahari" Sahut Heechul yang bersandar pada Hankyung. Wajahnya tak menampilkan keterkejutan sama sekali.
"Jaejoong tak mungkin berbohong"
"Lalu siapa sosok itu? Apakah malaikat sama seperti kita?" Tanya Changmin.
Malaikat? Bersayap?
Dua kata itu membuat Yoochun takut memikirkannya. Tiba-tiba terlintas sosok malaikat yang datang dalam mimpinya. Yoochun ingat sekali dengan tarikan bibir orang yang mirip Jaejoong itu.
"Apa kau tahu sesuatu, Yoochun?" Tanya Yunho. Ia ingat dengan mimpi Yoochun kemarin. Ia punya firasat kalau masalah ini berkaitan.
"A-aku tak tahu" Dari nada bicaranya jelas sekali ia gugup. Duduknya sudah mulai tak nyaman.
Yunho menghela nafas. Ia begitu penasaran dengan sosok yang dilihat Jaejoong. Tidak mungkin istrinya salah lihat.
.
.
.
Jung Ilwoo duduk dikursi kebesarannya, tangannya mengusap dagunya dengan berulang. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya setelah mendengar laporan penasehat andalannya. Ia berbangga hati sekarang, perkiraannya tak pernah salah.
"Kau lihat, aku sudah sering bilang, Jung Ilwoo tak pernah salah. Hahaha" Selanjutnya ia tertawa angkuh.
.
.
.
Yoochun pergi kekamarnya lebih dulu tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun. Ia mengunci pintu kamarnya, lalu berlari kearah lemari pakaiannya. Terdapat banyak baju yang menggantung, lalu ia langsung merogoh salah satu kantung baju yang tidak pernah ia pakai, untuk menemukan kertas berwarna coklat yang diberikan pria itu dalam mimpinya.
"Apa orang yang Jaejoong lihat itu sama seperti yang aku temui semalam?" Tanyanya entah pada siapa. Ia meremat kertas itu dalam genggamannya, mulai sekarang ia harus mencari tahu siapa pria itu dan juga maksud perkataannya dalam mimpi semalam.
Musuh? Yoochun bahkan tak menyangka ada musuh disekitarnya, tapi siapa?
.
.
.
Jaejoong memejamkan kedua matanya erat, tubuhnya sesekali terangkat dan menggeliat. Tubuhnya sudah tidak tertutupi apapun kecuali selimut yang menutupi bagian bawahnya. Dari selimut itu tersembul rambut yang bergerak naik turun, dan rambut itu tentunya milik Yunho.
"Akhh..Yuunn.." Jaejoong mendesah karena kegiatan yang Yunho lakukan pada kemaluannya, membuatnya terus mendesah. Jaejoong meremas rambut Yunho, memegangi leher pria tampan yang sedang bergerak mengoral dibawah sana.
Yunho membuka selimut yang menutupi tubuhnya, melihat kearah Jaejoong yang sedang terpejam dengan mulut yang terbuka. Ia tersenyum, bahkan istrinya berkali-kali lebih seksi dari sebelumnya.
Yunho melepaskan kulumannya, dan digantikan oleh tangannya. Ia lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Jaejoong, mengecup hidung sang istri.
"Sayang, malam ini adalah malam terpanjang. Jadi, lihat apa yang bisa aku lakukan padamu, Jung Jaejoong" Kata Yunho dengan tatapan tajam, membuat Jaejoong tak bisa melakukan apapun. Dan apa yang Yunho katakan terbukti, malam itu Jaejoong terus menerima benih Yunho hingga ia tertidur saat fajar menyingsing.
.
.
.
Jaejoong meminum teh hijau yang baru dibuatkan oleh Hyunwon, dan itu atas perintah Yunho yang khawatir dengan kondisi istrinya setelah semalam ia lakukan pembuahan terakhir.
Tubuh Jaejoong terasa patah semua, lubang belakangnya terasa perih. Meski ia sudah lelah semalam, tapi ia tidak membiarkan Yunho berhenti menyetubuinya.
Ahh
Jaejoong mendesah setelah selesai meminum teh hijaunya. Seketika rasa pegal yang tadi ia rasakan pun menghilang, tubuhnya jauh lebih segar.
Jaejoong mengambil guling yang ada disebelahnya, memeluk benda itu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yunho mana sih?" Tanya Jaejoong putus asa. Sejak pagi ia bangun, ia sudah tak melihat Yunho, bahkan teh hijau itu sudah ada diatas nakas dengan tulisan 'Minumlah ini, Jae. Ini akan baik untuk tubuhmu, saranghae' Tanpa menyebutkan nama pun, Jaejoong sudah tahu siapa yang menulisnya.
.
.
.
Ditaman, Yunho sedang berlatih pedang bersama ayahnya. Jinwoon adalah ahli pedang dan Yunho belajar banyak darinya. Sedang Changmin disisi lain taman sedang melatih keahliannya memanah tanpa melihat. Enam target panah terlihat cukup jauh didepannya, seorang maid memakaikan penutup mata berwarna hitam pada pria tinggi itu. Lalu Changmin terdiam, ia sedang mengingat bagaimana bentuk target itu dan jarak antara satu target ke target yang berikutnya. Setelahnya ia mulai mengangkat busur panah sejajar dengan dadanya, bergerak sedikit kekiri atau kebeberapa arah yang menurutnya pas. Cukup lama ia melakukannya hingga merasa sudah pas baru ia melepaskan anak panah itu. Dan 1 target terkena oleh anak panah yang baru saja Changmin lepaskan.
"Kau akan mati dibunuh musuh kalau harus berdiam lama seperti itu, Tuan" Suara Hyunwon terdengar dari belakang, Changmin menoleh lalu tersenyum pada kepala pelayan keluarga Jung itu.
"Tapi aku butuh waktu yang cukup lama sebelum bersiap memanah" Kata Changmin. Hyunwon semakin mendekat pada pria tampan itu, sambil mengambil busur panah dari tangan Changmin.
"Lakukan itu dengan cepat, Tuan. Jeda dalam pertempuran akan membuat kita lengah, musuh bisa menyerang kapan saja dan dari mana pun" Kata Hyunwon lagi. Changmin mengangguk yakin. Ia melihat Hyunwon sedang mengelus busur panahnya.
"Hyunwon ah, kenapa kau tidak menunjukkan padaku cara memanah yang benar?" Tanya Changmin. Hyunwon melihat pada Changmin dengan ragu.
"Tentu"
.
.
.
Crassh..
Crack..
Bruk..
Yunho menebas ketiga target yang disiapkan sang ayah, sama seperti Changmin ia pun melakukannya dengan mata tertutup. Jinwoon yang melihat kemampuan anaknya itu tersenyum. Yunho benar-benar mirip sepertinya dulu.
"Itu bagus, Yunho" Kata Jinwoon bangga. Yunho tersenyum mendengar pujian singkat sang ayah.
.
.
Hyunwon menutup matanya dengan kain hitam seperti Changmin tadi, lalu mengangkat busur panahnya sejajar dada. Changmin merasa ragu karena arah bidikan Hyunwon jauh dari arah target, tapi tanpa Changmin sadar, anak panah meluncur tepat kearah target setelah Hyunwon mengganti arah bidikannya dengan cepat.
Changmin sedikit tercengang, tanpa melihat dan tanpa bidikan yang tepat tapi panah itu bisa mengenai target.
Hyunwon tersenyum setelah membuka penutup matanya, melihat wajah Changmin yang sedang terpesona.
"Anda melupakan takdir saya, Tuan. Meski saya tak bisa berubah wujud, tapi saya tetap cupid" Kata Hyunwon.
"Ternyata kemampuan memanahku belum baik" Changmin menghela nafasnya.
"Tenang, Tuan. Masih ada waktu 4 bulan lagi sebelum pertempuran. Saya akan mengajari anda"
.
.
.
Yunho sedang melakukan gerakan menebas ke udara saat tiba-tiba sebuah teriakan Jaejoong terdengar tepat ditelinganya.
"Ada apa, Yunho?" Jinwoon merasa heran dengan Yunho yang tiba-tiba berhenti.
"Jaejoong.." Yunho tak mempedulikan ayahnya, ia segera berteleportasi ke kamarnya.
Didalam kamar, Jaejoong tengah merunduk sambil memegangi perutnya. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Jelas sekali kalau ia sedang menahan sakit.
Yunho datang tepat setelah Jaejoong berteriak tadi. Pria tampan itu khawatir melihat Jaejoong yang begitu kesakitan.
"Jae, kau kenapa?" Yunho bertanya dengan wajah panik. Jaejoong mengangkat wajahnya perlahan.
"Akh, pe-rutku sa-kit" Keluhnya. Yunho bertambah panik ketika Jaejoong tak sadarkan diri dipelukannya.
.
.
.
Yunho berteleportasi kedepan Hyunwon dan meninggalkan Jaejoong yang masih pingsan.
Belum Yunho bertanya, Hyunwon langsung menjabat tangan Tuannya itu, "Selamat, anda berhasil, Tuan" Kata Hyunwon penuh dengan senyuman.
Yunho mengerutkan keningnya. Selamat?
"Tuan Jaejoong sudah hamil dan akan tertidur selama 1 bulan"
"Mwo?"
Yunho memang tahu tentang peraturan pembuahan itu, tapi apa yang terjadi setelah bisa hamil, tak ada yang ia ketahui.
.
.
T
B
C
.
.
Huray huray chapter 9 kelar. Huhu..
Berkat do'a kalian aku udah sembuh walaupun gak total, buat yang sudah mendo'akan makasih ^_^
bagaimana dengan chapter ini? Makin tegang (?) gak? Bukan menyelesaikan masalah malah nambah masalah -,- Jj punya kembaran, terus yang dimaksud musuh dalam selimut itu siapa ya? Ayo siapa kandidat kalian? XD
Penambahan karakter dan teka-teki bukan buat ff ini jadi lama ya, emang udah konsepnya gitu, nah selama menunggu anak Yunjae lahir dan pertempuran inti, boleh lah Jung il Woo eksis XD
Nah, silahkan reviewnya ^_^
See You Next Chapter~
