2nd Bus Stop.
Bus for Spring
Cast :
Kim Jongdae
Kim Minseok
Genre : Romance, Humor maybe
Rating : T
Disclaimer : Alur cerita milik Dae, cast milik tuhan dan SM Ent.
DON'T COPAS!
Summary :
WARNING! GS! GENDERSWITCH! DON'T LIKE DON'T READ! SIMPLE RULE! NO BASH! REVIEW PLEASE! NO SIDERS!
Summary gagal
Note : ff ini terinspirasi dari komik yang berjudul sama, bukan berniat copas, alur diubah sesuai pemikiran Dae.
Ngerti ga?
Dae juga engga ngerti.
Dae newbie di sini, jadi maaf kalau alur kecepetan, cerita pasaran, tidak sesuai EYD, dan typos everywhere.
.
.
.
.
Enjoy~
.
.
.
.
"Ya! Kujelaskan peraturanya ya hobae kotak!"
Saat istirahat kedua, Xiumin malah membawa—ah lebih tepatnya menyeret Chen ke atap sekolah.
Sejak kejadian ahjussi mesum, Xiumin membuat peraturan diantara mereka berdua,
"Berhubungan kau malu berdekatan dengan perempuan, kita tidak boleh saling menyentuh oke?"
"M—mwo?"
"A—ani! Bukan menyuntuh—YA! Pokoknya kita tidak boleh!"
Chen terkekeh karena kelakuan sunbaenya. Muka Xiumin merah karena salah tingkah. Xiumin memainkan ujung jarinya.
Chen berdehem, "Ne, aku mengerti sunbae."
Lalu namja kotak itu tersenyum, tersenyum sangat manis—menurut Xiumin.
Ah! Pabbo! Jangan tersenyum di hadapanku! Aish eottokhe? Kenapa malah berdebar semakin kencang?
"Bae… Sunbae!"
Xiumin tersentak. Rupanya dia sudah terbuai oleh senyuman Chen.
"a—ah? Ne? kenapa Chen?"
"Ani, latihan basket hari ini akan selesai sore. Sebaiknya sunbae pulang saja duluan. Jangan tunggu aku."
Xiumin hanya menganggukan kepalanya imut. Chen lama-lama jadi gemas dengan tingkah Xiumin yang imut. Ah~ ingin rasanya Chen menyubit pipi Xiumin yang mirip dengan bakpau. Tapi karena adanya peraturan tadi, Chen mengurungkan niatnya.
"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya sunbae!"
Chen tersenyum sembari melambaikan tanganya, ketika namja bersurai hitam itu hendak menuruni tangga, Xiumin berteriak sekencang-kencangnya,
"KIM JONGDAE! TERIMA KASIH ATAS BANTUANMU TEMPO HARI!"
Nafas Xiumin tersenggal, mukanya memerah.
Aish! Apa yang tadi kulakukan? Ahh eottokhe? Bagaimana kalau Chen—
Namja kotak itu hanya melambaikan tanganya lalu bergegas ke kelasnya. Xiumin berani bertaruh tadi Chen tersenyum sekilas lalu mengedipkan matanya jahil.
"YA! BERANI-BERANINYA KAU! NAMJA KURANG AJAR! PABBO!"
Tapi Xiumin tidak dapat berbohong, dia suka dengan sikap Chen yang seperti ini. Jahil dan kekanak-kanakan.
Eh? Apa? S—suka? Andwe! Mana mungkin aku suka dengan hobae kotak itu!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"KYAAAA CHEN! FIGHTING!"
"CHEN! NOONA AKAN MENDUKUNGMU!
"KYAAAA EOTTOKHE? DIA MELIHAT KE ARAHKU!"
"CHEN-AH! SARANGHAE!"
"CHEN! LIHAT SINI!"
Lagi-lagi fansnya Chen. Tidak bisakah mereka diam sebentar? Cih, tak tahu tempat.
Xiumin yang baru saja mengantar Luhan ke lapangan basket, menutup telinga sepanjang perjalanan ke ruang ganti lelaki.
"Ya, Lulu. Kenapa kita ke sini? Apakah namjachingumu sedang ganti baju dan kau ingin mengintip?"
Xiumin langsung berlari ketika Luhan memasang kuda-kuda untuk berkelahi.
"Aish, yeoja china itu selalu saja! Haahh~ enak yah Luhan sudah punya namjachingu, aku juga ingin~" Xiumin mengerucutkan bibirnya lucu. Tak heran banyak laki-laki yang berjalan melewatinya menatapnya gemas.
Xiumin yang tengah berjalan mengitari lapangan basket, seketika berhenti ketika melihat sosok namja yang berpostur tubuh tegap, tinggi rata-rata, bersurai hitam dengan eyesmile nya yang menawan.
Bagaimana namja itu melakukan slam dunk, bagaimana namja itu berlari kecil dengan keringat mengalir dari dahinya menjalar ke bawah ke pipinya, bagaimana namja itu bercanda dengan teman-temanya.
Xiumin suka semua apa yang dilakukan oleh namja kotak itu.
Dan dia tidak dapat membohongi hatinya, dadanya terus berdebar keras.
Tak terasa sudah dua jam Xiumin berdiri di pinggir lapangan basket SM Highschool, ketika Xiumin hendak pulang mengejar bis terakhir,
"Sunbae!"
Suara yang Xiumun hafal.
Xiumin menghentikan langkahnya. dia berbalik ke arah namja kotak yang memanggilnya tadi.
"Wae?"
singkat, padat, jelas.
Xiumin memang berlagak sangar ketika di hadapan Chen. Dia bisa mengelak ketika Luhan, atau bahkan Kyungsoo menanyakanya apakah dia suka hobae kotaknya atau tidak. Tapi hati tidak dapat berbohong. Jantungnya sedari tadi memompa darah dua kali lebih cepat.
Aish jinjja?! Kenapa malah berdebar sangat kencang? Bagaimana kalau Chen mendengarnya, eottokhe~?
"Sunbae menungguku?"
Xiumin melebarkan matanya. Rahangnya hampir jatuh.
Percaya diri sekali dia! Ya—walaupun benar sih. Hehe.
"A—aniya! Aku tidak sudi menunggumu! Membuang waktuku saja menunggumu selesai latihan!"
Yap! Xiumin berbohong. Sebenarnya, tidak disuruh pun Xiumin mau menunggu Chen selesai latihan bahkan sampai ketinggalan bus terakhir pun. Mungkin Xiumin gengsi , jadi dia malu mengungkapkanya.
"Tapi, aku melihat sunbae di pinggir lapangan sejak dua jam yang lalu."
Checkmate.
"Aish, sudahlah aku lelah—"
"Sunbae, bagaimana kalau pulang besama? Lagipula kita satu arah. Tunggu sini ya, aku akan segera ganti baju dan kita akan pulang."
Xiumin tidak tahu apakah dia sedang bermimpi atau tidak, tapi yang pasti dia sangat senang. Pertama kali diajak pulang bersama dengan cinta pertamanya.
"YA! Menurutmu aku akan menerima tawaranmu? Lalu apa kau punya alasaan kuat agar aku menerima tawaranmu eoh?"
Lagi-lagi berbohong.
Xiumin merutukki bibirnya yang tidak bisa diajak berkompromi.
Chen menoleh ke belakang lalu tersenyum,
"Karena sunbae suka padaku?"
"YA—JAGA UCAPAMU! AKU TIDAK SUDI BERPACARAN DENGAN NAMJA KURANG AJAR SEPERTIMU—"
belum sempat Xiumin menyelesaikan makianya, Chen memotong perkataanya dengan senyuman manis,
"Kita lihat saja nanti."
Diselesaikan dengan kedipan yang mampu membuat lutut Xiumin lemas seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aish benar-benar namja ini! Begitu sampai di bis langsung tertidur pulas!
Setelah mengejar bis yang hampir tertinggal karena Chen lama sekali di dalam ruang ganti lelaki.
Entah apa yang dilakukanya disana.
Ketika bokong Chen menyentuh kursi yang tersedia didalam bis, namja itu langsung tertidur pulas, menggagalkan rencana Xiumin.
Sebenarnya Xiumin ingin sekali berbincang-bincang dengan Chen. Hanya berdua saja. Biasanya disekolah, mereka selalu dibuntuti fans-fans lunatik.
Aish jinjja! Eoh? Ternyata dia imut sekali ketika sedang tidur! Neomu kyeopta~!
Xiumin ingin sekali merapikan poni Chen yang berantakan akibat berlari tadi, tapi karena adanya peraturan bodoh yang dia buat sendiri. Lagi-lagi Xiumin merutuki kebodohanya sendiri, kenapa seenak jidat menentukan peraturan.
Ah masa bodoh dengan peraturan. Toh, aku yang membuatnya kan? Jadi tidak masalah hehehehehehe.
Xiuxiu-,-
Ragu-ragu tangan Xiumin terangkat ke arah kepala Chen. Namja kotak tersebut masih tertidur sangat pulas. Ah, untung saja Chen tertidur kalau tidak dia bisa mendengar dada Xiumin berdebar sangat, sangat, keras dan cepat.
Rambutnya halus sekali…
Berhasil! Xiumin akhirnya menyentuh rambut Chen. Walaupun hanya ujung rambutnya yeoja berpipi bulat itu tetap puas.
Ah, aroma maskulin mengguar begitu Xiumin menyandarkan kepalanya di bahu Chen. Xiumin terkekeh, pasti sekarang mereka mirip sepasang kekasih.
O—omo?! Aish aku sudah melewati batas! Eottokhe?
Xiumin segera turun dari bis ketika sudah sampai di perumahanya, tanpa mempedulikan Chen yang masih tertidur pulas.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Xiumin berhasil mencapai pintu rumahnya. Xiumin berani bertaruh tadi Chen sempat tersenyum. Xiumin tidak yakin Chen tertidur sepenuhnya.
Aish! Eottokhe?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Haihai.
Dae udah update ni ff(?)
Maaf kalau banyak typo ya hehe.
Sekali lagi tolong tinggalkan jejak. Jangan jadi hantu yah hehe
tar di datengin HEHE.
Mungkin next chap udah selesai yah.
Di tunggu responya!
Terima kasih!
Xoxo.
