Lalu lalang kendaraan kota Seoul tampak ramai. Hampir semua orang bergegas pergi untuk usrusannya masing-masing. Tapi tidak dengan Kyu Hyun, anak itu masih saja duduk santai di halte terdekat dari rumahnya dengan headphone berwarna hitam terpasang di kepalanya. Lagu-lagu penyanyi ibu kota melantun bergiliran, mengusir sepi yang sejak tadi dirasakannya.
Sekitar dua puluh menit lagi, pintu kelas akan di tutup dan itu berarti ia tak boleh mengikuti pelajaran pertama hari ini. Dan mengapa Kyu Hyun masih duduk santai di sini? Padahal bus yang akan melewati halte dekat sekolah telah lewat dari beberapa menit yang lalu.
Suara klakson mobil terdengar nyaring. Inilah alasan mengapa Kyu Hyun bertahan berdiam diri di sana padahal ia hampir terlambat. Dong Hae yang memiliki jadwal kerja tadi malam berjanji akan mengantarnya ke sekolah. Dan disinilah Kyu Hyun sekarang, di samping Dong Hae yang dengan serius mengendarai mobil.
"Bisa lebih cepat, Hyung?" pinta Kyu Hyun. Dong Hae menatap Kyu Hyun, dan adiknya itu terlihat memejamkan matanya.
"Tidak boleh ngebut, Kyu Hyun-ie," jelas Dong Hae dengan sabar.
Kyu Hyun menghembuskan napas dengan kasar, "Aku hanya punya waktu kurang dari dua puluh menit sebelum aku benar-benar terlambat, Hyung. Kapan kau benar-benar hapal jadwal sekolahku?" Mata Kyu Hyun terbuka, menatap Dong Hae dengan tatapan kecewa.
"Mianhae, tadi aku harus—"
"Menangani pasien," potong Kyu Hyun cepat. "Aku tahu Hyung. Kau tak usah menjelaskannya lagi. Sekarang, aku hanya harus sampai di sekolah sebelum terlambat."
Dong Hae tak merespon, ia tahu disini dialah yang bersalah. Jadi ia hanya harus mempercepat laju mobil agar bisa segera sampai di Kyung Hee high school dalam waktu sesingkat ini.
Mereka sampai tepat di parkiran utama Kyung Hee setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Kyu Hyun segera turun dari mobil dan kemudian berlari menuju sekolahnya.
"Hyung tak akan menjemputmu, Kyu Hyun-ie!" teriak Dong Hae sebelum Kyu Hyun benar-benar menjauh.
Melihat adiknya yang begitu tergesa-gesa membuat Dong Hae mendesah pelan. Sejak kemarin, perilaku Kyu Hyun selalu saja membuatnya khawatir. Anak itu begitu berbeda, tak ada lagi Kyu Hyun yang selalu berteriak jika marah, tak ada lagi Kyu Hyun yang selalu merajuk manja jika keinginannya tidak dikabulkan, dan tak ada lagi Kyu Hyun yang selalu mendebatnya. Seperti pagi ini, Dong Hae kira Kyu Hyun tak akan menunggunya. Kyu Hyun akan lebih senang pergi dengan motor kesayangannya dan membiarkan Dong Hae kalang kabut karena tak mendapati Kyu Hyun di tempat yang telah mereka janjikan untuk bertemu.
"Ada apa denganmu, Kyu Hyun.."gumam Dong Hae entah pada siapa.
.
Empty Heart
Cast:
Cho Kyu Hyun,
Lee Dong Hae,
Kim Ki Bum,
Lee Hyuk Jae,
Park Jung Soo
Brothership Fanfiction
By:
Khy13
.
Ki Bum tersenyum cerah ketika melihat Kyu Hyun berjalan tergesa kemudian duduk di sampingnya. Kemarin, satu hari tanpa Kyu Hyun membuatnya bosan. Tidak ada teman membolos dan tidak ada partner untuk melawan guru.
"Kau menatapku seperti ingin memakanku," ucap Kyu Hyun dengan mata mendelik. Sedikit ngeri dengan tatapan Ki Bum kali ini.
Ki Bum merubah senyumnya menjadi seringaian. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kyu Hyun. mengalungkan tangan kanan di leher Kyu Hyun dan sedikit mencekiknya membuat Kyu Hyun berteriak protes.
"Kau kabur begitu saja dari rumahku, dan kemudian tidak masuk sekolah? Dasar bodoh! kau kira aku tidak tahu apa-apa, huh?" desis Ki Bum dengan rahang mengeras. Sedikit kesal mengingat sikap Kyu Hyun dua hari yang lalu.
Akhirnya Kyu Hyun berhasil menjauhkan Ki Bum. Ia sedikit mendorong Ki Bum untuk kembali duduk di kursinya ketika guru telah datang.
Pelajaran pagi itu berlangsung tenang. Kyu Hyun yang begitu serius memperhatikan guru mata pelajaran ekonomi itu membuatnya heran. Kapan terakhir ia melihat Kyu Hyun menyimak dengan sangat serius? Entah, yang pasti ini adalah kali pertama lagi baginya.
Bahkan ketika jam istirahat tiba, Ki Bum melihat Kyu Hyun datang ke ruang guru untuk menemui Kang seonsaengnim kemudian setelah itu Ki Bum tak menemukan Kyu Hyun dimanapun. Banyak yang ingin ia tanyakan kepada Kyu Hyun, tapi anak itu seolah sengaja menghindar darinya. Membuat Ki Bum sangat kesal!
"Kim Ki Bum!"
Ki Bum mendongak, PSP yang sejak tadi dimainkannya disimpan begitu saja di atas meja miliknya. Kang seonsaengnim yang tadi ditemui Kyu Hyun sekarang telah berdiri dihadapannya.
"Ini untukmu," ujar Kang seonsaengnim sambil menyerahkan sebuah berkas beramplop cokelat berukuran sedang. "Kyu Hyun sudah terlebih dahulu menerimanya, dan tadi dia sudah mengkonfirmasi keputusannya. Kau harus memikirkannya baik-baik, arra?" Kemudian guru itu melangkah pergi.
"Kang ssaem!" seru Ki Bum. Guru itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ki Bum. "Kau tahu dimana Kyu Hyun?" tanya Ki Bum, ia agak ragu apa guru ini tahu mengenai keberadaan Kyu Hyun atau tidak.
Guru itu mengangkat bahu. Ia menjawab dengan agak ragu juga. "Mungkin di perpustakaan?" Dan setelah itu Kang seonsaengnim benar-benar pergi dari hadapan Ki Bum.
"Perpustakaan?"
Ki Bum langsung berlari. Menuju satu-satunya tempat yang belum ia kunjungi untuk mencari keberadaan Kyu Hyun tadi. Perpustakaan sekolah.
.
.
Ki Bum tersenyum tipis ketika mendapati Kyu Hyun yang sedang duduk dengan menatap sebuah buku tebal yang telah terbuka hampir setengahnya. Kyu Hyun tak berekspresi apapun, membuat Ki Bum ragu apakah anak itu benar-benar membaca bukunya?
"Memutuskan untuk menjadi kutu buku, eoh?" goda Ki Bum. Ia menarik Kursi di hadapan Kyu Hyun dan duduk manis disana dengan pose "tumpang kaki"
Kyu Hyun tersenyum sekilas dan menutup buku tebalnya, sehingga menimbulkan bunyi yang membuat seluruh penghuni perpustakaan menoleh kearahnya. "Pustakawan yang cantik itupun tercengang melihat kedatanganku," kata Kyu Hyun. Ki Bum mengikuti arah pandang Kyu Hyun dan ia baru menyadari ada orang yang duduk manis dibalik meja yang terletak terpisah di samping pintu masuk. "Jangan bilang kau baru menyadari keberadaannya?" tanya Kyu Hyun dengan tampang sok kaget.
Ki Bum mengangkat bahu tak peduli, "Ayo pergi dari sini. Kau pasti sudah gila datang ke tempat ini!" ejek Ki Bum, membuat Kyu Hyun tertawa kecil.
Merekapun pergi dari tempat itu. Ki Bum kira Kyu Hyun benar-benar gila karena memilih menghabiskan waktu berkunjung ke perpustakaan dan mengabaikannya yang ingin segera bertanding PSP.
Ki Bum mengajak Kyu Hyun makan siang di kantin sekolah yang mulai terlihat sepi. Tentu saja, jam istirahat akan berakhir beberapa menit lagi. Tapi Ki Bum tak peduli itu.
"Ada yang salah denganmu hari ini!" tuduh Ki Bum langsung.
Kyu Hyun tersenyum dan melipat tangannya di depan dada. "Apa yang salah, hm? Aku hanya ingin menjadi siswa yang baik. Apa itu salah?"
"Nah!" seru Ki Bum tiba-tiba. "Itu yang salah! Sejak kapan kau perpikiran seperti itu? Otakmu tertukar dijalan, huh?"
Kali ini Kyu Hyun tertawa. "Yang salah itu kau! sejak kapan kau menjadi orang yang sok perhatian seperti ini, huh? Kepribadianmu tertukar juga?"
Ki Bum berdecak kesal. "Aku hanya aneh dengan sikapmu belakangan ini."
"Kenapa harus aneh?" Kyu Hyun kembali serius. "Kau harus tahu, Ki Bum-ie… Menjadi nakal itu melelahkan."
"Apa maksudmu? Yang melelahkan itu menjadi sipenurut. Kau akan kehilangan dirimu yang sebenarnya jika terus seperti ini."
"Apa sebegitu menyebalkannya menjadi sipenurut? aku sedang mengejar beasiswa Kuliah yang ditawarkan Kang seonsaengnim. Kau juga ditawari, kan? Ingin pergi denganku?"
"Kau seperti mengajaku kencan," dengus Ki Bum.
"Aku serius Ki Bum-ie, orang tuamu…" Kyu Hyun menghentikan kalimatnya sesaat untuk menghela napas, dadanya agak sedikit sesak mengingat sebuah kenyataan pahit. "Orang tuamu pasti bangga, bukan?" lanjutnya tanpa ragu.
Ki Bum menyeringai puas. Kyu Hyun membuka arah pembicaraan lain.
"Ayahku…Ayahmu, kan?" tanyanya tanpa basa basi.
Kyu Hyun tersenyum pahit. "Dia ayahmu, kau tak perlu memikirkan hal lain tentang itu."
"Tak perlu memikirkan?" ulang Ki Bum. "Kau benar-benar gila! bagaimana bisa seperti itu, bodoh!"
"Terserah kau sebut aku gila atau bodoh. Bersikaplah seperti biasa, seperti ketika aku dan kau tak tahu apapun."
"Tidak bisa begitu. Aku rasa ada yang harus kalian selesai—"
"Jebal.."
"Tidak!"
"Ki Bum-ie.. Jebal.." mohon Kyu Hyun lagi. Ki Bum tak bergeming, ia menghela napas kasar sebelum berucap, "baiklah.."
"Tapi selesaikan masalah kalian, aku tak akan ikut campur." lanjutnya dengan nada tegas.
Kyu Hyun tersenyum lega. "Gomawo, aku tak ingin persahabatan kita kacau gara-gara masalah itu."
"Aku mengerti."
.
.
Orang itu belum datang.
Kyu Hyun berdecak kesal, sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya untuk melihat berapa lama orang yang dia tunggu datang terlambat.
Satu gelas cokelat panas di hadapannya hampir habis, dan Kyu Hyun juga telah menyelesaikan beberapa game dalam PSPnya.
Sekarang ia hanya diam, memikirkan kembali beberapa pertanyaan yang akan ia berikan kepada orang yang akan ditemuinya sekarang.
Lonceng berbunyi, tanda seseorang tengah memasuki café. Kyu Hyun menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya yang selalu terlihat cantik itu berjalan dengan anggun menghampirinya, kemudian duduk di hadapannya dan memangku sebuah tas mewah yang Kyu Hyun kira berharga sangat mahal.
"Mianhae, aku harus menyelesaikan beberapa urusan," ujar wanita itu, setelah itu mengangkat tangan dan seorang pelayan menghampirinya. "Coffee latte," pesannya. Pelayan itu mengangguk dan kemudian pergi.
"Langsung saja, nyonya. Apa hubunganmu dengan ayahku?" tanya Kyu Hyun langsung.
Wanita itu sontak tertawa lepas. "Kau tak bisa berbasa-basi, nak?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek. Membuat Kyu Hyun kesal setengah mati. "Dan apa tadi kau bilang? Ayahmu eoh?" wanita itu tertawa lagi.
"Kau bisa langsung menjawab!" seru Kyu Hyun tak sabaran. Ia cukup kesal dengan acara menunggunya, dan sekarang wanita ini berubah menyebalkan!
"Baiklah," tawa wanita itu terhenti. Mulai serius sepertinya.
Seorang pelayan datang, menyajikan apa yang tadi dipesan wanita itu. Ia mengucapkan terimakasih dan meminum minumannya kemudian melanjutkan, "Aku memberikanmu nomor ponselku adalah untuk bersenang-senang, Kyu Hyun-ssi."
Mata Kyu Hyun memicing, menilai wanita itu dari perkataannya. "Kau.."
"Ya," potong wanita itu cepat. "Tapi kau menghubungiku untuk urusan yang lain. Baiklah, tak apa. Kau ingin tahu hubunganku dengan ayahmu? Atau ayah yang tidak kau akui?" wanita itu tertawa lagi. Kali ini Kyu Hyun hanya menghela napas. "Takdir begitu kejam, Kyu Hyun-ssi," Wanita itu mengambil napas berat. "Kau hanya perlu tahu, aku dinikahi olehnya karena masalah keluarga kami dan perusahaan. Aku bertemu dengan ayahmu dalam keadaan yang sama-sama mabuk. Saat itu aku depressi karena diceraikan suamiku, ayah Ki Bum. Kemudian..kau juga mungkin mengerti apa yang terjadi saat itu antara aku dan ayahmu."
"Kau tidak berbohong?" Mata Kyu Hyun memicing. Penuh kecurigaan
"Untuk apa aku berbohong?" jawab wanita itu santai. " Aku juga seorang wanita, dan aku merasakan apa yang ibumu rasakan, Kyu Hyun-ssi. Aku tidak tahu apa permintaan maaf saja cukup untukmu, tapi akan tetap kulakukan. Aku benar-benar minta maaf atas semua hal yang menyakitimu, Kyu Hyun-ssi."
"Kau tahu, kata maaf tak bisa mengembalikan ibuku," lirih Kyu Hyun
"Waktu itu aku hamil. Keluargaku tentu saja mendesak ayahmu untuk menikahiku, dengan ancaman pemutusan kekerabatan antar perusahaan."
Mata Kyu Hyun terbelalak. "Seperti itu?" tanyanya tak percaya
"Ya, aku tak bisa berbuat apapun saat itu. Akupun masih mencintai suamiku yang dulu."
Tatapan wanita itu berubah kosong. Mungkin tengah membayangkan masa indah bersama suaminya. Sedangkan Kyu Hyun? Anak itu diam, suatu hal yang lain tentang ayahnya berkecamuk dalam pikirannya. Meninggalkan ibunya demi perusahaan? "Ini Gila!" desisnya tajam. Kemudian beranjak pergi.
"Ya, hidup memang membuat gila," gumam wanita itu.
.
.
"Kau harus bisa menilai apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan. Kau harus tahu, orang tuamu tidak akan marah dengan pilihanmu, sayang. Mereka hanya akan marah jika kau melakukan hal yang melanggar hukum dan agama. Kau mengerti?"
Senyum terukir di bibir Dong Hae, matanya masih menatap seorang anak laki-laki yang duduk di pangkuan Hyuk Jae. Anak itu hanya menganggukan kepala ketika menerima beberapa pepatah dari dokternya. Entah benar-benar mengerti atau hanya ingin dokternya itu segera menyelesaikan ceramahnya yang membosankan.
Ini adalah hari ketiga Lee Hyuk Jae bekerja di rumah sakit. Bukan untuk menjadi asissten dokter seperti Dong Hae, tapi dalam rangka kerja praktek dari kampus.
Anak itu keluar ruangan dengan di tuntun ibunya, sekarang hanya ada Hyuk Jae disana. Dong Hae pun masuk dan duduk di kursi pasien. "Aku sudah mengerti, paman dokter. Dan kau harus tahu, ceramahmu tadi begitu panjang dan membosankan," guraunya diiringi tawa mengejek.
"Kau menertawakanku, huh?" protes Hyuk Jae.
"Haha. Baru kali ini aku melihat kau berlaku manis seperti itu, Hyuk."
Hyuk Jae berdecak sebal. "Bagaimana? Keren tidak, hm?"
"Lumayan…" Dong Hae mengangguk. "Yah, untuk ukuran pemula itu sudah lumayan."
"Hanya lumayan eoh? Menyebalkan sekali!"
Melihat raut wajah Hyuk Jae yang "minta dikasihani" Dong Hae pun tertawa dan berkata, "Baiklah, sangat keren!"
"Tentu saja aku keren!" saeru Hyuk Jae dengan semangat.
"Anak itu sudah sembuh?" tanya Dong Hae tiba-tiba.
Hyuk Jae mengangguk. "Secara fisik sudah, tapi dia masih harus konsultasi dengan dokter bagian Psikologi. Anak itu mengidap Schizoid Personality Disorder. Sebenarnya aku kurang tahu apa itu. Dokter Lee bilang, itu adalah suatu kelainan dimana terjadi keterbatasan emosi."
"Shizoid Personality Disorder?"
"Ya, wae?"
"Dokter Lee? Lee Sung Min?"
"Ya, ada apa Hae?"
"Aku ada urusan, Hyuk."
Dong Hae segera pergi. Hyuk Jae menatapnya dengan tampang kesal. "Kau kira aku apa eoh? Pamit bisa, kan?" gerutunya.
.
.
Suara ketukan pintu terdengar sangat keras. Sung Min berdecak dan berjalan lambat-lambat menuju pintu. Ini jam istirahatnya, pasien terakhir sudah ditangani Hyuk Jae dan ia harus tidur sekarang. Tapi ketukan pintu itu membuatnya harus mengurung keinginannya.
"Sung Min Hyung.."
Pintu terbuka, sebelum Sung Min membukanya. Kepala Dong Hae yang pertama terlihat olehnya, kemudian seluruh badanya terlihat dan orang itu menutup pintu rapat-rapat.
"Aku kira kau tak keberatan jika aku langsung masuk?" tanyanya penuh rasa bersalah. Melihat ekspresi yang ditunjukan Sung Min, membuat Dong Hae sedikit ngeri.
"Kau memang sudah kuanggap adik, Hae. Tapi tidak seharusnya kau mengganggu jadwal tidurku seenaknya. Kau tahu aku tidur jam berapa? Aku bahkan tidak tidur sama sekali tadi malam, semua kasus kesehatan yang baru masuk membuatku gila!" Gerutunya, tidak sadar mengutarakan apa yang membuatnya kesal setengah mati.
Dong Hae hanya mengangguk, seperti tidak tertarik dengan curhatan Sung Min. Hei! Sung Min itu seorang Psikolog, tidak mungkin kan Dong Hae menceramahi seorang psikolog dan dengan ancaman dibalas dengan istilah-istilah psikologi yang membuatnya bingung?
"Duduklah, apa yang akan kau tanyakan? Dan jangan terlalu banyak!"
"Kau tahu aku akan banyak bertanya kali ini, Hyung?" tanya Dong hae takjub. Ia mendudukan diri di hadapan Sung Min dan mulai bertanya, "Schizoid Personality Disorder itu seperti apa, Hyung?"
.
.
Kyu Hyun masuk ke dalam ruang kesehatan dan membanting pintunya keras-keras, kemudian duduk di atas ranjang kecil di sudut ruangan.
Ia mengeluarkan sebuah botol plastic kecil berwarna putih dari dalam sakunya dan mengeluarkan satu butir pil dari dalam botol itu dan langsung memasukannya ke dalam mulut. Menelan pil itu bulat-bulat, tanpa air.
Diam sesaat, merasa tak ada yang berubah, ia mengeluarkan satu butir lagi dan kemudian langsung menelan pil itu lagi.
"Kyu…"
Itu suara Ki Bum, anak itu mengetuk pintu dua kali kemudian langsung masuk dengan sebotol air mineral di tangan kanannya. "Kau sakit?" tanyanya dengan nada cemas. Kyu Hyun langsung merapikan seragamnya setelah menyimpan botol plastic kecil itu di dalam saku seragam.
"Tidak," bantah Kyu Hyun. "Itu air untukku? Kebetulan sekali, aku haus."
Ki Bum membukakan tutup botol air yang dipegangnya kemudian menyerahkannya kepada Kyu Hyun. "Ini."
Kyu Hyun mengambilnya, dan meneguknya hingga habis setengah. Perutnya terasa mual setelah menelan obat itu.
"Jangan dengarkan mereka," Ki Bum duduk di samping Kyu Hyun. "Orang-orang bodoh memang senang bergosip."
Kyu Hyun tersenyum tenang. "Tentu saja aku tahu. Mereka hanya tak tahu apa apa yang sebenarnya terjadi, kan? Mereka benar-benar bodoh!" Ia tertawa hambar. Ki Bum juga sama. Mereka terdiam sesaat, merenungi nasib dilahirkan oleh keluarga terpandang yang memang bisa dipandang dengan pandangan apa saja. Termasuk dengan pandangan menjijikan.
Pagi tadi, sekolah ramai dengan desas desus hubungan Kyu Hyun dan Ki Bum. Tentang keluarga mereka, dan tentang perusahaan mereka. Ki Bum dan Kyu Hyun tentu saja sangat tertekan dengan hal itu, apalagi jika mengingat bahwa kabar yang beredar menyebutkan bahwa ibu Kyu Hyun lah yang bersalah dan tidak bisa mengurus suaminya, serta ibu Ki Bum yang katanya menjadi "sipenggoda". Benar-benar berita bodoh!
"Kyu Hyun-ah, Mianhae.." Ki Bum bergumam lirih. Kyu Hyun mendelik, menatap Ki Bum dengan tatapan heran. "Mianhae, karena eomma, ayahmu—"
"Tidak, Ki Bum-ie," sela Kyu Hyun. "Sudah kubilang, jangan membahas masalah itu lagi. Tidak ada yang bersalah disini. Mungkin semuanya hanya masalah takdir, takdir yang mempermainkan kita."
Ki Bum menatap Kyu Hyun iba. Sahabatnya ini terlihat sangat tertekan.
"Aku ingin tidur saja, Ki Bum-ie. Bisakah kau membantuku untuk bolos?" pinta Kyu Hyun sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa lemas dan melayang-layang, sepertinya obat yang diminumnya mulai bereaksi.
Ki Bum menarik selimut sampai ke dada Kyu Hyun. "Tidurlah, Shin seonsaeng tak masuk."
"Baguslah.."
.
.
Satu jam berlalu. Kyu Hyun yang terlelap di atas kasur di ruang kesehatan itu meninggalkan Ki Bum sendiri dalam sepi.
Sejak tadi, Ki Bum duduk bersandar di sebuah Kursi yang ada di ruangan itu, memejamkan matanya tapi tak pernah benar-benar tertidur. Pikirannya terlalu penuh. Bukan hanya Kyu Hyun yang tertekan disini, iapun sama. Terlebih, dari semua desas desus yang beredar, ibunyalah yang menjadi tersangka.
Tok! Tok!
Ki Bum terperanjat, sontak ia bangkit berdiri ketika seseorang masuk.
Oh, rupanya Kang Seonsaeng yang datang.
"Ki Bum, Kyu Hyun sakit?" tanya Kang Seonsaeng syarat kekhawatiran.
Ki Bum menggelengkan kepala. "Tidak, dia hanya ingin tidur, dan aku juga. Tapi anda datang."
"Aku mencarimu," Kang seonsaeng menarik kursi yang lain, menyuruh Ki Bum duduk kembali dan kemudian iapun duduk. Meraka sekarang duduk berhadapan. "Kemarin aku sudah menerima berkas pengajuan beasiswa darimu, Ki Bum. Kukira kau akan berangkat bersama Kyu Hyun, tapi baru saja ibumu datang dengan surat pengunduran dirimu dari sekolah. Apa maksudnya?"
Dia diam. Kang Seonsaeng yang menatapnya dengan tatapan kecewa membuat Ki Bum gugup. Apa yang harus kukatakan?
"Ki Bum?" Kang Seonsaeng menepuk pundaknya pelan. "Aku sudah mendengar berita hari ini. Sangat mengejutkan. Jangan katakan bahwa apa yang dilakukan ibumu karena berita itu, Ki Bum."
Ki Bum tetap diam. Memang benar, sejak tadi malam keluarga mereka telah merencanakan kepindahan. Pasalnya, tadi malam rumahnya dikerumuni banyak wartawan yang berlomba ingin memberitakan tentang penghianatan ibu Ki Bum keapada suaminya, Tuan Kim yang terkenal dengan perusahaan elektroniknya itu.
"Kau akan pindah kemana, hm?" Kang seonsaeng angkat bicara lagi.
Kali ini Ki Bum menjawab. "Ke Ottawa, ssaem-nim."
Helaan napas terdengar setelahnya. Ki Bum tahu, guru dihadapannya ini ingin melarang, tapi tak bisa.
"Aku tak bisa tetap disini dengan semua kekacauan yang terjadi, ssaem-nim. Keluarga kami terlalu pengecut untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada media."
"Lalu bagaimana dengan Kyu Hyun?"
Seonsaeng benar, bagaimana dengan Kyu Hyun? Aku bisa saja menghindar dari semua ini. Tapi Kyu Hyun? Dia akan sendirian..
"Bujuklah ibumu, Aku tahu faktanya tidak seperti yang diberitakan di semua media, kan? Seharusnya kalaian menjelaskan yang sebenarnya."
Kang seonsaeng bangkit berdiri dan mengajak Ki Bum ke ruangannya untuk melengkapi berkas pengunduran dirinya.
Piuntu tertutup rapat sestelah mereka pergi. Kyu Hyun membuka matanya dan setetes air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya.
.
.
Perkataan Sung Min berulang di kepalanya. Dong Hae seperti terus mendengar Sung Min yang berbicara panjang mengenai Schizoid Personality Disorder yang tadi siang ia tanyakan.
Sekarang ia menjadi resah. Bagaimana tidak, ia terlalu takut jika harus menyebutkan bahwa Kyu Hyun memiliki ciri-ciri pengidap kelainan seperti itu. Ia terus menyangkal, mensugesti pikirannya dengan kalimat "Kyu Hyun baik-baik saja".
Tapi beberapa kejadian belakangan ini menunjukan hal yang sama, Dong Hae melihat Kyu Hyun yang lain. Kyu Hyun yang berubah menjadi lebih dingin dan lebih penurut. Anak itu selalu melakukan apa yang ia perintahkan, anak itu tak pernah marah dengan apapun, bahkan hanya diam jika terjadi seseuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Kyu Hyun lebih terlihat seperti robot, akan makan jika Dong Hae menyajikan makanan, akan tidur jika Dong Hae menyuruhnya istirahat, bahkan anak itu tak pernah menyentuh semua peralatan gamenya jika bukan Dong Hae yang mengajakanya bertanding.
Seperti kali ini. Kyu Hyun tengah berkutat dengan semua file kesehatan yang Dong Hae bawa dari rumah sakit. Adik tersayangnya itu langsung membawa semua file kesehatan itu dan membacanya ketika Dong Hae mencoba bergurau dengan mengatakan "Kau harus membaca semua ini, Kyu Hyun-ie. Agar kau tahu apa-apa saja yang terbaik untuk kesehatanmu."
Dong Hae mencoba tenang, sesuai perintah Sung Min.
"Kyu Hyun-ie.." panggilnya pelan, Kyu Hyun mendongak menatapnya.
"Waeyo, Hyung?" tanyanya. Dong Hae melihat mata adiknya sedikit memerah.
"Kau mengantuk?" Kyu Hyun mengangguk ragu. "Tidurlah," perintahnya, tangannya langsung bergerak membereskan file-file yang berserakan dia atas meja. "Ini pekerjaanku, kau tak perlu mempelajarinya."
Kyu Hyun hanya menghela napas. "Tadi kau yang menyuruhku, Hyung."
"Ani, aku hanya bergurau."
"Baiklah, aku akan tidur. Annyeonghi jumuseyo Hyung-ie," kemudian ia pergi.
Jangan sembarangan mengambil kesimpulan Hae-ya. Bisa saja Kyu Hyun hanya ingin berubah. Anak itu akan marah besar jika kau membawanya ke psikiater sedangkan dia merasa dirinya baik-baik saja. Cobalah menuruti keinginanya, atau pancinglah ia untuk menceritakan hal yang memberatkan pikirannya.
Kalimat Sung Min kembali terulang di benaknya, senyum terukir di bibir Dong Hae. Kau benar Sung Min Hyung, aku tidak boleh berpikiran buruk. Dia akan baik-baik saja.
.
.
Ki Bum duduk bersila di lantai dengan alas karpet berbulu yang membuatnya sedikit hangat. Ia sedang membereskan kaset-kaset game dan alat elektroniknya yang akan ia bawa pindah.
Sebelum pergi sore tadi, ibunya sudah berpesan agar ia segera berkemas dan membereskan apa-apa saja yang akan dibawa. Ibunya bahkan tak menghiraukan teriakan ayahnya yang membujuknya untuk tetap tinggal. Keputusan ibunya sudah bulat. Ibunya bilang, Korea tidak cocok untuk keluarga mereka.
Ki Bum beberapa kali mendesah, cemas dengan semua yang terjadi. Pindah ke Kanada? Hei, Ki Bum tak bodoh. Ia tahu persis kenapa ibunya memilih Kanada sebagai tujuan. Bukan hanya karena sebagian besar keluarga ibunya tinggal disana, tapi karena manatan suami yang masih dicintai ibunya itu telah merintis usaha baru di Negara itu.
Bagaimana perasaan ayah barunya? Bagaimana perasaan Kyu Hyun yang akan ditinggalkan ayahnya lagi?
Ki Bum bukan tipe orang yang senang memikirkan perasaan orang lain, tapi kali ini ia begitu pusing dengan semua itu. Bukan ia tak ingin pindah, ia akan dengan senang hati meninggalakan Negara ini jika ibunya akan bahagia, dan iapun yakin akan lebih tenang dengan hidup di tempat baru tanpa banyak desas-desus menyebalkan tentang keluarganya.
"Oppa.. dimana semua orang?"
Ki Bum terperanjat. Sejak kapan adiknya ada di sini?
Ia memerhatikan adiknya yang berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan polosnya. Senyum otomatis terukir di bibirnya, ia memanggil adiknya dan kemudian mendudukan adik kecilnya itu di pangkuannya.
"Oppa.. dimana semua orang?" tanya adiknya lagi, mengulang persis seperti yang ditanyakannya tadi. Ki Bum tidak kunjung menjawab, ia memikirkan jawaban yang tepat untuk adiknya itu.
"Bibi shin juga tidak ada?" Ki Bum balik bertanya. Adiknya menggelengkan kepala dan menunduk kecewa, membuat Ki Bum malah lebih menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
Pengidap autisme jarang menunjukan ekspresi yang menggambarkan isi hatinya, tapi sekarang ia melihat adiknya menampakan wajah kecewa dengan tidak adanya bibi Shin disini. Ini suatu kemajuan pesat.
"Oppa akan menemanimu bermain, eotthae? Eomma dan Appa harus bekerja, dan bibi Shin juga harus istirahat, dongsaengie," jelas Ki Bum dengan sabar. Adiknya hanya menganggukan kepala dan kemudian turun dari pangkuan Ki Bum untuk mengambil beberapa kaset game dihadapannya.
"Ini film?" tanyanya sambil menunjukan sebuah kaset yang bergambar monster. Ki Bum mengambil semua kaset di tangan adiknya dan kembali menunmpuknya dengan rapi.
"Bukan, dongsaengie. Kau ingin nonton film? Kartun, eotthae? Kkaja, Oppa temani."
Ki Bum menuntun adiknya turun ke ruang santai, disana mereka menonton semua koleksi film kartun yang dimiliki adiknya. Jika saja bukan adiknya yang ia temani, Ki Bum sudah akan pergi dari rumah daripada harus menonton kartun-kartun kesukaan anak-anak perempuan seperti ini. Tapi Ki Bum begitu menyayangi adiknya, adik hasil hubungan ayah barunya dan ibunya. Atau bisa dibilang adiknya ini juga adalah adik Kyu Hyun? Ki Bum tersenyum jika mengingat itu, keberadaan adiknya ini seperti mengingatkan bahwa hubungannya dan Kyu Hyun begitu dekat. Tapi sayang, ibunya malah menganggap keberadaan adiknya ini sebagai penyebab kacaunya kehidupan mereka, ia bilang kalau saja ia tak hamil ia tidak akan dipaksa menikah dengan suami barunya itu.
Sters berat yang dialami ibunya ketika hamil-lah yang menyebabkan adiknya mengidap autisme, apalagi ibunya selalu berusaha menggugurkan kandungan. Akibatnya, adiknya ini sering sakit-sakitan dan pertumbuhannya tidak seperti gadis-gadis seusianya. Adiknya telah menginjak usia 12 tahun beberapa bulan yang lalu, tapi sikapnya masih saja seperti anak berusia enam tahun.
Ki Bum percaya, dari semua peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya pasti Tuhan menyelipkan sebuah pembelajaran berharga. Ia sempat berpikir jauh ke masa depan, jika akan mencari pasangan, ia akan memilih yang terbaik dan tidak akan gegabah dalam urusan itu agar kehidupan anak-anaknya kelak tidak sekelam kehidupannya sekarang. Yah, setidaknya ia dapat menjadi lebih dewasa dengan semua kejadian pahit selama ini.
.
.
Pagi ini, pertengkaran terjadi lagi di kediaman Dong Hae dan Kyu Hyun. Ah tidak, tepatnya Dong Hae lah yang tidak bisa berhenti menyalurkan amarahnya kepada Kyu Hyun. Sejak bangun tidur, Kyu Hyun sudah menyodorkan sebuah berkas perizinan mengajukan beasiswa agar segera di tandatangani Dong Hae. Anak itu bilang kalau berkas lain sudah di urusnya dan sudah di serahkan kepada wali kelasnya, hanya yang harus di tandatangani Dong Hae ini lah yang belum ia serahkan.
Dong Hae kaget dengan keputusan Kyu Hyun yang tida-tiba itu, ia pikir Kyu Hyun ingin menghindar dari kehidupannya sekarang dengan mengambil beasiswa itu. Ia ingat perkataan sungmin mengenai Schizoid Personality Disorder, bahwa pengidap kelainan mental itu akan lebih senang mengasingkan diri. Kyu Hyun sudah menjelaskan bahwa ia benar-benar ingin mengambil beasiswa itu agar kehidupannya menjadi lebih baik, tanpa membebani Dong Hae. Tapi Dong Hae tak menerima penjelasan apapun, kepalanya sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran negative tentang Kyu Hyun. Apalagi sekarang ia sudah tidak pernah menerima surat teguran dari sekolah lagi. Ia pikir Kyu Hyun telah berubah menjadi anak yang "anti social" sehingga tidak melakukan kenakalan lagi, atau Kyu Hyun menyembunyikan surat itu karena tak ingin Dong Hae ikut campur dalam kehidupannya.
Rasa takut dan cemas selalu menghampiri Dong Hae, terlebih kali ini. Ia berbicara mengenai janjinya untuk menjaga Kyu Hyun dan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Kyu Hyun kesal dengan hal itu, tak suka jika Dong Hae terus saja mengungkit janji kepada ibunya untuk selalu menjaganya. Apalagi kali ini Dong Hae mengingatkannya kepada kejadian kelam beberapa waktu lalu dengan mengatakan, "Kaupun tahu, Kyu Hyun-ie. Ibumu memilih mengakhiri hidupnya karena terlalu lelah menanggung beban hidup sendiri. Ayahmu memilih wanita lain dan meninggalkan ibumu sendiri. Dan sekarang kau bersikap seolah kau hidup sendiri, kau jarang berkomunikasi denganku kemudian dengan tiba-tiba mengambil keputusan seperti ini dan memilih pergi dariku? Apa yang akan terjadi padamu jika kau sendiri, Kyu Hyun-ie.. kau harus tetap bersamaku sampai semuanya menjadi beres."
Kesabaran Kyu Hyun habis. Ia menyimpan berkas yang seharusnya di tandatangani Dong Hae di atas meja. Ia kemudian pergi ke kamarnya dan segera menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Ia terlalu kesal denga kalimat terkahir Dong Hae. Apa Dong Hae kira ia akan mengambil jalan yang sama dengan ibunya? Sampai sekarang bahkan ia masih menyesali tindakan ibunya, untuk apa ia meniru perilaku buruk tersebut. Memang ia merasa berat dengan semuanya, tapi ia benar-benar ingin pergi. Apalagi jika mengingat bahwa Dong Hae juga ingin dia meraih mimpinya dengan kuliah di luar negeri. Apa Dong Hae melupakan itu? Dan apa tadi Dong Hae bilang "sampai semuanya beres"? Apa Dong Hae mengira ada yang tidak beres dengan dirinya?
"Kau yang tidak beres, Hyung!" gumam Kyu Hyun kesal sambil mengacak isi tasnya, membereskan buku-buku yang akan dibawanya ke sekolah hari ini.
"Kyu Hyun, dengarkan Hyung! Hyung tidak akan menandatangani berkas ini, dan kau jangan coba-coba pergi dari rumah atau merajuk dengan cara mabuk-mabukan!"
Dong Hae Berteriak setelah menggedor pintu kamar Kyu Hyun. Kemudian suasana menjadi hening. Kyu Hyun tahu Dong Hae telah pergi. Ia menghentikan kegiatannya, menjatuhkan dirinya di lantai dan terdiam beberapa saat tanpa melakukan apapun. Tangannya bergetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun menahan kekesalan yang begitu menyesakan. Kemudian ia berdiri, mengambil beberapa pil di dalam tabung pelastik kecil di laci mejanya dan meminumnya dalam sekali tegukan dengan bantuan segelas air yang selalu tersedia di meja samping tempat tidurnya. Ia memejamkan mata sesaat, merasakan sakit di tenggorokannya karena menelan terlalu banyak pil.
Sepertinya ia akan tidur di ruang kesehatan lagi di jam pertama hari ini.
TBC~~
Annyeong~ tepat waktu kan, tidak lebih dari dua minggu^^
Silahkan review Chingudeul, kritik dan saran benar-benar diterima. Dan khamsahamnida bagi yang udah review di chapter sebelumnya. Mianhae belum bisa balas reviewnya, mungkin di cahpter depan bisa dibalas.
Untuk chapter 4nya 3 minggu lagi, Eotthae?
