Sekolah tampak sepi, ini memang masih pagi. Kyu Hyun mengendarai motor kesayangannya secepat kilat hingga ketika ia sampai di sekolah, penjaga gerbangpun masih merebahkan kepalanya di atas meja pos.

Jika saja ia adalah Kyu Hyun yang dulu, ia akan dengan senang hati mengganggu ketenangan penjaga gerbang itu. Tetapi sekarang ia begitu enggan walaupun hanya sekedar membuat lak-laki paruh baya itu jantungan karena dikagetkan. Ia tak peduli sama sekali dengan laki-laki itu dan memilih melanjutkan langkah menuju ke kelasnya.

Kalimat-kalimat yang Dong Hae katakan tadi, membuat kantuk Kyu Hyun hilang seketika. Niatnya untuk tidur di jam pertama gagal sudah. Entah mengapa, semua pil yang masuk ke dalam perutnya seolah tidak bereaksi sama sekali. Biasanya, ia akan tidur lelap atau setidaknya melupakan sejenak kejadian yang membuatnya geram, atau mungkin pikirannya menjadi lebih tenang dan terkendali setelah mengkonsumsi pil-pil itu.

Mungkinkah pil itu habis khasiatnya? Atau tubuhnya yang mulai imun terhadap pil jenis itu? Entah, Kyu Hyun tak ingin menambah beban pikirannya dengan hal yang menurutnya sepele itu. Ia akan membeli produk lain sejenis pil itu yang dosisnya lebih keras, mungkin?

Kyu Hyun sedikit menggelengkan kepalanya, kembali ke dunia nyata. Ia mempercepat langkah sampai ke ujung koridor gedung itu dan kemudian berbelok masuk ke dalam kelasnya.

Disana ada Henry, namja manis berpipi tembam itu tengah duduk dengan kepala di rebahkan di meja. Namja itu mengangkat kepala dan memberi sapaan singkat kepada Kyu Hyun kemudian kembali ke posisi semula. Kyu Hyun hanya menganggukan kepala sebagai balasan, iapun memilih meja di baris pertama untuk duduk. Sekarang ia sedang ingin dekat dengan guru dan agak menjauh dari Ki Bum.

Biasanya, ia dan Ki Bum akan duduk di belakang dan lebih memilih main game lewat ponsel atau PSP alih-alih menyimak guru yang sedang menjelaskan.

"Kau duduk di depan, Kyu Hyun?"

Kyu Hyun menatap Henry yang bertanya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia mengangguk mantap, "Hm, aku ditawari beasiswa kuliah, kau tahu?" tanyanya sedikit berbangga diri.

Henry mengangkat bahu tak peduli. "Kau kan pintar, wajar saja dapat beasiswa. Ki Bum juga, kan?"

"Ya, dia juga," Kyu Hyun mengangguk. "Kau tahu juga kalau Ki Bum pintar?" tanyanya tak percaya. Tentu saja tak percaya, Ki Bum tidak pernah memperlihatkan kepintarannya kepada orang lain. Iapun tahu setelah dekat lama dengan Ki Bum.

"Tentu saja. Semua orangpun tahu, Kyu Hyun. Hanya kalian saja yang tidak menyadari," ujar Henry dengan semangat. Ia menghampiri Kyu Hyun dan duduk di kursi sebelah Kyu Hyun. Kapan lagi dapat kesempatan berbincang dengan seorang Cho Kyu Hyun?

"Bagaimana bisa?" dahi Kyu Hyun berkerut, kemudian ekspresinya berubah ketika ia melihat Henry tertawa. "Kenapa tertawa?"

"Ini pertama kalinya kita ngobrol, Kyu Hyun. Aku baru tahu, kau itu ekspresif," jelas Henry tanpa menghentikan tawa, membuat Kyu Hyun berdecak sebal.

"Apa kalian semua kira aku begitu angkuh, hm?" tanya Kyu Hyun dengan tatapan kosong. Henry menjadi iba melihatnya. "Kalian bahkan tak ada yang ingin ngobrol denganku," lanjutnya.

Henry menghentikan tawa, ia menggelengkan kepala dengan wajah serius. "Tidak seperti itu, Kyu Hyun-ah. Hanya saja mereka kira kalian berdua yang tak ingin bergabung. Cobalah lebih ramah dan berbaur dengan teman yang lain," sarannya.

"Begitukah? Aku hanya lebih nyaman dengan Ki Bum, itu saja. Apa mereka salah paham?"

"Ya, kau tahu kan Ki Bum dan kau itu dua dari beberapa siswa populer disini. Akupun sempat berpikir kalian hanya ingin bergaul dengan siswa populer juga. Tapi sekarang tidak begitu, kau tidak keberatan kan berteman denganku juga?" Henry bertanya dengan mata berbinar. Begitupun Kyu Hyun, anak itu menganggukan kepala dengan semangat.

"Kau juga populer, Henry. Kau tidak tahu? Kau itu pemain violin terkeren disini!"

"Benarkah? Kau tahu aku suka bermain violin?"

"Iya, Ye Sung sunbae yang memberitahuku. Lalu aku melihatmu main violin di ruang kesenian. Sangat indah."

"Tentu saja, aku akan terkenal dengan keahlianku!"

"Kau sombong ya?!"

"Kau Juga, Kyu Hyun!"

Mereka mulai mendebatkan hal tidak penting. Seseorang di ambang pintu yang sejak tadi memerhatikan mereka, hanya tersenyum.

Kim Ki Bum. Dia kemudian masuk ke dalam kelas dan bergabung dengan perdebatan konyol tentang "siapa yang sombong disini". Senyum masih saja terukir di bibirnya. Ia begitu senang dapat melihat Kyu Hyun yang mulai membuka diri. Ia jadi sedikit lega jikapun kepindahan yang direncanakan ibunya benar-benar terjadi. Mungkin iapun akan bersikap sama seperti Kyu Hyun. Membuka diri untuk teman yang lain, mungkin cukup menyenangkan.

.

Empty Heart

Cast:

Cho Kyu Hyun,

Lee Dong Hae,

Kim Ki Bum,

Lee Hyuk Jae,

Park Jung Soo

Brothership Fanfiction

By:

Khy13

.

Hari-hari Kyu Hyun di sekolah mulai membaik setelah itu. Ia dan Ki Bum mulai berbaur dengan teman yang lain. Tetapi tidak dengan hari-harinya di rumah, Kyu Hyun tetap melihat Dong Hae yang sama. Begitupun Dong Hae yang masih melihat Kyu Hyun yang sama.

Mereka semakin terlihat kaku setelah pertengkaran pagi hari itu, Dong Hae lebih sering pulang larut malam atau bahkan menginap di rumah sakit. Dan Kyu Hyun masih menutup dirinya dari Dong Hae, ia masih ingin mengejar beasiswa itu dan memilih menghabiskan waktu di rumah dengan belajar.

Bagaimana dengan Ki Bum?

Setelah susah payah membujuk ibunya, Ki Bum diperbolehkan tetap tinggal sampai ujian kelulusan usai. Sekedar informasi saja, Kyu Hyun dan Ki Bum berada di kelas akselerasi sehingga mereka dapat lulus bersamaan dengan para senior. Termasuk Ye Sung.

Laki-laki yang sering Kyu Hyun sebut aneh itu, telah berubah menjadi teman belajar sekaligus tutor dalam bidang seni bagi Kyu Hyun. Henry-pun belakangan ini lebih memilih bersama Kyu Hyun dan Ye Sung, mungkin dia bisa nyaman bergabung bersama dua orang yang cinta dunia music itu. Berbeda dengan Ki Bum yang lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, mereka memilih ruang music sebagai tempat belajar.

.

.

Ujian telah berakhir. Teman-teman sekelas Kyu Hyun mengadakan acara makan-makan di kantin sekolah sebagai bentuk perayaan. Tapi tidak dengan Kyu Hyun, dia sudah berjanji kepada Dong Hae untuk menemuinya di rumah sakit. Entah untuk apa, dia hanya menjalankan perintah Dong Hae agar Hyung-nya itu tidak marah-marah lagi.

Ia berjalan pelan, mencoba mengingat letak ruangan kerja Park Jung Soo yang tentu saja ada Dong Hae juga disana. Sampai ketika ia menyerah dengan pencariannya, ia memilih menghampiri meja informasi dan menanyakan letak ruangan Park Jung Soo.

"Ruangannya di lantai tiga, kau bisa kesana bersama perempuan itu. Dia juga akan ke ruangan Professor Park."

Wanita di meja resepsionis menunjuk seorang wanita yang berjalan santai menuju lift. Kyu Hyun mengangguk dan berterima kasih kemudian berlari mengejar wanita itu.

Punggung wanita yang sedang berjalan itu begitu familier di mata Kyu Hyun. Karena malu jika hanya bertanya, Kyu Hyun berjalan mendahului wanita itu dan masuk ke dalam lift terlebih dahulu.

Ia membelalakan mata ketika melihat wajah wanita itu yang ternyata adalah guru cantiknya. Wali kelasnya di sekolah.

"Kang ssaem?" tanya Kyu Hyun dengan kening berkerut.

Wanita itu tak beda jauh dengan Kyu Hyun, iapun kaget dengan adanya Kyu Hyun dihadapannya.

"Suster di meja resepsionis bilang kau akan ke ruangan Professor Park?" tanya Kyu Hyun ragu. Iapun bertanya-tanya, apa wanita ini kerabat Park Jung Soo?

"Ah, ya. Kau juga akan kesana, Kyu Hyun-ah? Aku ada sedikit urusan dengan Dong Hae-ssi," jawab wanita itu. Kalimatnya memang lancar, tapi ekspresinya seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

Kyu Hyun hanya menganggukan kepala. Membiarkan pembicaraan itu terhenti jika memang gurunya ini tak ingin melanjutkan.

Mereka sampai di lantai tiga dan berjalan beriringan menuju ruangan Park Jung Soo. Sampai di ruangan itu, mereka disambut dengan ekspresi Dong Hae yang sama kagetnya dengan guru Kang ketika Kyu Hyun mendapatinya di lift tadi.

"Silahkan masuk nona Kang, Kalian sudah janjian makan siang?"

Park Jung Soo buka suara, dengan tatapan lembutnya ia membiarkan guru Kang masuk untuk menghampiri Dong Hae. Setelah itu ia menggandeng tangan Kyu Hyun dan mendudukannya di atas sofa di sudut ruangan.

"Annyeong Kyu Hyun-ah.. kau masih mengenaliku?" tanya Jung Soo dengan senyum menenangkan.

Kyu Hyun sejenak melupakan keanehannya. Ia menjawab pertanyaan Jung Soo, dan kemudian mereka bercakap sebentar. Melupakan Dong Hae dan guru Kang yang sedang berbisik-bisik di bagian lain ruangan itu.

"Kalau ingin minum kau bisa mengambilnya di kulkas, nona Kang."

Pandangan Jung Soo beralih kepada guru Kang, ia tersenyum lagi setelah guru Kang menganggukan kepala.

Perhatian Kyun beralih kepada dua orang lain disana. Ia menajamkan matanya dan menatap Dong Hae penuh kecurigaan. "Kalian berhubungan?" tanyanya to the point.

Dong Hae diam. Kyu Hyun mengambil kesimpulan dengan cepat. "Kalian memang berhubungan," gumamnya.

Jung Soo yang melihat situasi itu menjadi diam. Ia berpikir sejenak kemuidan mengerti situasi apa yang tengah terjadi.

"Mereka pasti berniat memberi kejutan untukmu dengan hubungan mereka itu, Kyu Hyun-ah. Meraka rencananya akan memberi tahumu sebagai kejutan kelulusan, benar kan Dong Hae-ya?" Jung Soo menatap Dong Hae, yang ditatap menganggukan kepalanya ragu.

Tatapan tajam Kyu Hyun beralih kepada Jung Soo. Ia tahu betul, Jung Soo tengah memberi keterangan palsu.

"Kang seonsaeng-nim bilang, berbohong itu tidak boleh, Park ssaem!" ujarnya tegas. "Dong Hae Hyung tidak berniat memberiku kejutan. Tapi aku sekarang terkejut, karena ternyata dia menyebalkan!" desisnya tajam, kemudian pergi.

Jung Soo menatap Dong Hae dan guru Kang bergantian. "Kalian menyembunyikan hubungan kalian dari Kyu Hyun?"

"Aku hanya takut dia iri, Hyung,"

"Iri kenapa?" desak Jung Soo.

"Ia sering mendiamkanku hanya karena aku lebih banyak merawat pasien. Aku tak mau dia mendiamkanku lagi karena aku telah memiliki kekasih," jelas Dong Hae.

Jung Soo mengusap wajahnya kasar. "Kau sering bilang padaku, kau ingin Kyu Hyun lebih terbukan padamu? Bagaimana mungkin Kyu Hyun bisa seperti itu sedangkan kau sendiripun tak terbuka padanya, Lee Dong Hae! Aku telah lama mengenalmu, dan aku mengenal Kyu Hyun dari sudut pandangmu. Ternyata bukan Kyu Hyun yang aneh disini, tapi kau, Dong Hae-ya.."

"Mianhaeyo, Hyung.."

"Nona Kang, bisakah aku mengandalkanmu untuk menangani Kyu Hyun?"

Guru Kang mengangguk, ia mengusap pipi Dong hae dengan lembut, mencoba memberi ketenangan kepada namjanya itu dan kemudian pergi setelah pamit kepada Jung Soo.

Niatnya untuk mengajak makan siang bersama Dong Hae gagal sudah, ia harus segeraa menyelesaikan kekacauan akibat berbuatannya ini.

.

.

Guru Kang memacu mobilnya dengan sangat cepat, ia yakin Kyu Hyun masih di sekita sini. Jarak rumah sakit dengan halte cukup jauh, dan ia yakin masih dapat mengejar Kyu Hyun sebelum anak itu menaiki bus.

Benar saja. Ia melihat Kyu Hyun tengah berjalan tergesa menuju halte. Segera ia menepikan mobilnya dan berlari mengejar Kyu Hyun.

"Tunggu, Kyu Hyun-ah!" serunya sambil menggenggam erat pergelangan tangan Kyu Hyun, takut-takut jika Kyu Hyun memberontak.

Tapi ternyata tidak. Kyu Hyun malah terjatuh dan terduduk lemas dihadapannya. Napasnya sedikit tersenggal. Mungkin karena lelah berlari.

"Gwaenchana , Kyu Hyun-ah?" tanyanya panik, ia menyeka keringat di dahi Kyu Hyun dengan tangannya dan kemudian merangkul Kyu Hyun, membantu anak itu berdiri.

"Aku tak apa, Seonsaeng-nim," jawab Kyu Hyun sambil melepaskan rangkulan tangan guru itu dari bahunya.

"Ayo, mobilku disana."

Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Kyu Hyun tak memberontak sama sekali, sangat tidak diduga. Guru Kang pikir anak itu akan lari ketika melihatnya.

"Aku tak ingin pulang, ssaem.." Kyu Hyun bergumam sambil memejamkan mata dan menyamankan diri di sebelah kanan kursi kemudi.

"Mau kerumahku? Kau harus makan siang, kau merasa tidak enak badan?" Guru Kang bertanya dengan nada khawatir. Ia belum menjalankan mobilnya, malah menatap Kyu Hyun dari ujung rambut sampai ke kaki.

"Tidak. Aku hanya lemas. Mungkin kau benar, aku harus makan."

Guru Kang mengangguk dan segera membawa Kyu Hyun ke rumahnya.

.

.

Dong Hae menutup telepon dengan perasaan lega. Baru saja ia dihubungi kekasihnya, memberi tahunya mengenai keberadaan Kyu Hyun.

"Dia ada di rumah Hye Hoon, Hyung. Dia baik-baik saja."

Jung Soo yang sedang duduk di kursi miliknya hanya mengangguk. Ia membiarkan Dong Hae sendiri dalam keadaan khawatir. Bukan tak ingin menenangkan Dong Hae, tapi ia ingin Dong hae menyadari sendiri kesalahannya.

"Aku tahu, aku yang salah disnini," Dong hae menghampiri Jung Soo. "Aku seharusnya memberi contoh kepada Kyu Hyun, dan setelah itu aku boleh mengajarkan Kyu Hyun untuk terbuka."

"Dan bukan memaksanya," tambah Jung Soo. Dong Hae mengangguk.

"Kenapa kau tidak menyadari semuanya sejak dulu, Dong Hae-ya. Satu lagi yang ingin kukatakan padamu. Kyu Hyun tertekan karena sikapmu. Dia pasti berpikir kau membatasi ruang geraknya. Mulai dari dia tidak boleh bergaul dengan Ki Bum, dia tidak boleh memabangkang, dia harus berprestasi, dan lalu kau selalu berbicara mengenai ibunya. Kau harsu tahu, Dong Hae-ya.. kehilangan seorang ibu itu sangat menyakitkan."

Dong Hae diam, ia melihat kesedian di wajah Jung Soo. Ibu Jung Soo memang telah tiada, Jung Soo pasti merasakan hal yang sama dengan Kyu Hyun.

Ah, dia tiba-tiba merindukan ibunya di Mokpo.

"Kapan kau akan mengatakan mengenai ayahnya kepada Kyu Hyun, Dong Hae?" Jung Soo bertanya tiba-tiba membuat Dong Hae kaget dan tidak sempat memikirkan jawaban. Dong Hae hanya menggelengkan kepalanya.

Jung Soo menghela napas. Pertanyaan itu ia tanyakan hanya untuk mengetahui apa Dong Hae masih saja menjadi orang tidak mengenal dunia luar. Sejak awal, ia tahu kalau Dong Hae adalah orang yang professional dam bekerja, sampai-sampai Dong Hae sering melupakan hal lain demi pekerjaannya, termasuk hiburan.

Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Dong Hae tidak tahu mengenai beredarnya kabar bahwa ayah Kyu Hyun telah menjadi Ayah Ki Bum? Dong Hae masih saja menganggap Kyu Hyun tak tahu apapun.

"Kau tidak pernah melihat berita? Kau tak punya televisi di rumah, Dong Hae? Atau tak sempat bahkan untuk sekedar membaca koran pagi?"

Dong Hae menjadi heran dibuatnya, ia mengernyitkan dahi, meminta penjelasan dari pertanyaan Jung Soo.

Sebuah majalah diletakn Jung Soo di atas meja. Dong Hae mengambilnya dan membaca berita utama di majalah itu.

"Hyung.." gumamnya.

Jung Soo menghela napas dan berjalan mendekati Dong Hae. "Kesalahan terbesarmu adalah, kau tidak pernah peka dengan keadaan sekitar. Termasuk Kyu Hyun," ujarnya. "Kau tahu bagaimana perasaan Kyu Hyun sekarang? Dia harus menanggung tatapan sebelah mata dari orang lain akibat berita itu. Dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya kini telah menjadi ayah sahabatnya. Lalu dia harus menghadapimu yang selalu menekannya, menginginkannya berbuat sesuai dengan keinginanmu. Sekarang, hari ini, dia mendapati dirinya menjadi orang lain dihadapanmu hanya karena seorang kekasih yang kau sembunyikan."

"Aku memang selalu menekannya untuk terbuka. Tapi itu karena aku takut, aku takut jika Kyu Hyun benar-benar menderita SPD, Hyung!"

"Dia tidak menderita SPD, Dong Hae-ya. Aku selalu mendengarkan ceritamu. Dan sekarang aku mengambil kesimpulan bahwa Kyu Hyun hanya tidak ingin kau kembali mengungkit masalah ibunya hanya karena dia melawan keinginanmu. Kau lihat hasilnya sekarang? Dia menjadi penurut karena kau terus mengungkit tentang ibunya.."

Dong Hae menatap Jung Soo tak percaya. "Kenapa kau seolah tahu semuanya, Hyung?"

"Karena aku lebih "merasa". Kau seharusnya seperti itu. Kau harus berpikir seolah kau yang berada diposisi Kyu Hyun. Sekarang, kau hanya harus menjadi sesorang yang bisa Kyu Hyun andalkan. Termasuk untuk semua masalahnya, mulai dari kau sendiri yang harus terbuka kepada Kyu Hyun. Lalu, kau harus melupakan janjimu kepada ibu Kyu Hyun. Jangan jadikan itu beban, Hae-ya.. Aku tahu, aku menyayangi Kyu Hyun bukan karena janji itu. Tapi Kyu Hyun tidak akan percaya jika kau terus mengulang hal itu dihadapan Kyu Hyun."

Air mata Dong Hae mulai menetes. Percakapan yang didominasi penjelasan Jung Soo itu diakhiri dengan isak tangis penyesalan Dong Hae.

.

.

Hye Hoon menutup pintu kamar dengan pelan. Membiarkan Kyu Hyun tidur didalamnnya dengan nyaman. Ia menatap pigura kecil di atas meja telepon yang menampilkan foto dirinya dan mantan suaminya dengan senyum manis.

Tadi Kyu Hyun begitu kaget ketika tahu kalau dirinya pernah menikah. Tapi akhirnya anak itu menerima dan memberi tanda-tanda bahwa Kyu Hyun tidak begitu menolak mengenai hubungannya dengan Dong Hae, kecuali tentang aksi bungkam keduanya.

Helaan napas terdengar pelan, Hye Hoon mengambil pigura itu dan menyimpannya di dalam gudang. Menyimpan kenangan terakhirnya bersama suaminya yang telah meninggal.

"Dong Hae akan mengantikanmu, Oppa. Aku mencintainya, dan aku tahu diapun mencintaiku," gumamnya sebelum menutup pintu gudang.

"Kau sakit, Kyu Hyun-ie? Obat apa itu?"

Hye Hoon kembali mengingat pertanyaannya ketika melihat Kyu Hyun meminum sebutir obat setelah makan siang tadi. Anak itu menjawab dengan ragu bahwa itu hanya obat tidur.

"Obati tidur? Kau sulit tidur?"

"Ya, beberapa kali. Ini tidak berbahaya, Ssaem. Aku sudah menanyakannya kepada Dokter sekolah."

Setelah itu Kyu Hyun berkata bahwa ia ingin tidur. Hye Hoon tidak menanyakan apapun lagi setelahnya

.

.

Musik yang berdentum nyaring seperti bukan apa-apa di telinga Ki Bum. Ia masih asyik memainkan gelas di tangannya tanpa menghiraukan suara berisik itu. Seolah yang ada disana hanyalah dia, gelas berisi wine di tangannya, dan juga semua pikirannya yang sekarang seperti melayang-layang mengelilingi kepalanya.

Hyuk Jae berdiri di seberang meja bar dengan mentapnya sambil berdecak kesal. Berbeda dengan Kyu Hyun yang lebih memilih menikmati malam dengan wanita-wanita cantik di lantai dansa ditemani beberapa botol minuman, Ki Bum lebih memilih menghabiskan malam penatnya dengan duduk diam menikmati minumannya seperti minuman itu adalah minuman ter-enak diseluruh dunia.

Apa anak remaja masa kini sebegitu anehnya?

Hyuk Jae bertanya-tanya dalam hati. Satu persamaan antara Kyu Hyun dan Ki Bum adalah, sama-sama tak pernah bicara di saat-saat seperti ini. Selama ia kuliah di kedokteran, ia tak pernah menemukan kasus seperti "bisu tiba-tiba akibat memikirkan sesuatu".

"Astaga, aku jadi ketularan aneh!"

"Kau memang aneh, Hyung!" sahut Ki Bum tiba-tiba. Hyuk Jae membelalakan matanya. Apa ia benar-benar terlihat eneh?

"Kau seperti anak kecil yang lupa mengerjakan tugas sekolah," komentar Ki Bum pedas.

Jitakan mendarat di kepala Ki Bum. "Kau seperti tidak disekolahkan," balasnya tak kalah pedas.

Ki Bum mendesis kesal. Menyimpan gelas di atas meja kemudian berjalan ke lantai dansa, membuat Hyuk Jae membelalakan matanya sempurna.

Malam ini Ki Bum berubah. Dia berbicara, kemudian dia pergi berbaur dengan pengunjung lain? Sungguh luar biasa!

Hyuk Jae menyerahkan pekerjaannya kepada salahsatu pekerja, kemudian segera mengikuti Ki Bum. Menemani anak itu menikmati dentuman music yang memekakan telinga. Ia menunjukan beberapa gerakan dance kepada Ki Bum, kemudian mereka menari bersama. Malam ini, tidak sia-sia dia mengisi libur lembur pekerjaannya untuk datang ke bar.

Ki Bum tersenyum manis. Perpisahan yang cukup sempurna, pikirnya.

.

.

Angin bertiup kencang. Kyu Hyun menarik selimut di pinggangnya hingga ke kepala, membenamkan diri disana mencoba meraih kehangatn. Apa Kang seonsaeng tidak menyalakan penghangat ruangan?

Suara pintu di buka terdengar. Tak ingin menghiraukan suara itu, Kyu Hyun tetap memejamkan matanya.

"Ya Tuhan, jendelanya terbuka."

Itu suara gurunya, Kyu Hyun tahu betul. Oh ternya jendela terbuka, pantas saja terasa sangat dingin bagi Kyu Hyun. Setelah itu terdengar suara jendela ditutup dan udarapun menjadi sedikit lebih hangat.

"Sejak kapan dia tidur?" tanya seorang laki-laki. Kyu Hyun mengerucutkan bibirnya kesal. Itu suara Dong Hae, dan ia sangat tak ingin mendengar suara itu sekarang. Mendengar suara guru Kang yang cerewet sepertinya lebih menyenangkan.

"Setelah makan siang dia langsung tidur. Oh ya, dia minum obat tidur tadi. Kau seharusnya membuatkannya susu hangat sebelum tidur agar tidurnya lebih nyenyak."

Dong Hae terkesiap mendengarnya. Ia mendapatkan fakta menyakitkan lagi hari ini. Kekasihnya ini bahkan lebih memahami Kyu Hyun daripada dia sebagai orang yang serumah dengan Kyu Hyun.

"Hye-ya, setelah menikah nanti kau harus bersedia merawatnya," ucap Dong Hae dengan tatapan lurus, memandang tubuh yang bergelung di dalam selimut.

Hye Hoon tertawa renyah. "Akupun menyayanginya, Dong Hae-ya.. dia anaku di sekolah."

"Dia akan menjadi keponakanmu kalau kau menikah denganku," gurau Dong Hae sambil tersenyum jahil. Mencoba melamar, eoh?

Di balik selimut, Kyu Hyun tersenyum miring. Hyung-nya itu begitu buruk dalam mengutarakan permintaan. Kenapa tidak langsung saja bilang "ingin menikah denganmu" atau "Ayo kita menikah". Astaga, apa cinta penuh basa-basi seperti itu?

"Kita akan memikirkannya itu nanti. Sekarang, kau harus membawa Kyu Hyun pulang. Ini sudah malam, Sayang.."

"Dia tidur seperti orang mati," komentar Dong Hae. Jika saja Kyu Hyun tidak sedang berpura-pura tidur. Ia akan menjitak kepala Dong Hae.

"Tadi siang dia begitu lemas. Mungkin dia lelah pasca ujian? Apalagi kau membebani pikiranya tadi, Hae-ya.."

Lemas? Ya, Kyu Hyun memang sangat lemas tadi. Beberapa hari ini dia tidak menyentuh pil-pil antidepresannya. Sepertinya ia mengalami efek putus obat. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Dokter sekolahnya semasa awal masuk sekolah di Kyung Hee, memberinya obat itu untuk di konsumsi sementara, sampai rasa cemasnya pasca kehilangan sang ibu, mereda. Dokter itu memberikannya supaya Kyu Hyun lebih tenang, kala itu ia menangis sampai terserang demam di ruang kesehatan ketika Dong Hae mengabari bahwa ibunya telah meninggal. Tapi Kyu Hyun menjadi ingin terus mengkonsumsi obat itu, karena ia dapat menjadi lebih tenang ketika masalah datang.

Kyu Hyun bergidik ngeri mengingat asal-usul obat itu. Aku seperti pecandu narkoba saja! Keluhnya dalam hati. Aku harus berhenti! Tekadnya, masih dalam hati.

"Kyu Hyun-ah, kkaja kita pulang."

Kyu Hyun berdecak kesal dan membuka selimutnya. Beranjak dari tempat tidur kemudian melangkah ke luar kamar tanpa memedulikan Dong Hae dan Hye Hoon yang menatapnya bingung.

Dong Hae hanya menghela napas dan segera mengikuti langkah Kyu Hyun.

"Datang lagi ke ruamah sakit siang esok, oke? Makan siang kita yang gagal tadi akan ku ganti," ujar Dong Hae ketika ia akan pulang. Kyu Hyun sudah menunggunya di halaman.

"Hm, maaf atas kejutanku tadi," ucap Hye Hoon tulus. Dong Hae menganggukan kepala, tangannya terangkat mengusap kepala Hye Hoon dengan lembut.

"Kau lama, Hyung!" seru Kyu Hyun dari halaman.

"Selamat malam, Chagiya…" pungkas Dong Hae kemudian pergi.

Hye Hoon tersenyum, melambaikan tangannya sebagai pengantar kepulangan Dong Hae dan laki-laki itu membalasnya sebelum masuk ke dalam mobil.

"Terimakasih makan siang dan kamarnya, Noona!" teriak Kyu Hyun. Hye Hoon membelalakan matana. Noona? Ya Tuhan.. perasaan apa ini? Kenapa terasa begitu hangat.

Hubungannya dan Dong Hae baru beberapa minggu saja. Kunjungannya ke rumah Kyu Hyun ketika menyerahkan berkas beasiswa itu membuatnya mengenal sosok Dong Hae sampai akhirnya laki-laki itu menyatakan perasaannya, dan ia balas dengan setulus hati.

Ia baru merasakan lagi hal seperti ini setelah suaminya meninggal. Keinginan hidup bersama Dong Hae selamanya, tumbuh begitu saja ketika Kyu Hyun memanggilnya dengan sebutan "Noona". Tapi, Dong Hae masih muda, bagaimana jika Dong Hae belum siap? Bagaimana jika Dong Hae masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia pernah menikah? Dong Hae memang pernah berbicara menegenai hal itu dan menegaskan bahwa tidak ada masalah tentang statusnya itu, tapi kenapa Hye Hoon begitu ragu?

.

.

Sepanjang perjalanan, Kyu Hyun hanya tidur di dalam mobil. Dong Hae tidak berani membangunkannya kerena takut anak itu merajuk lagi.

Tunggu, merajuk? Hei, Dong Hae baru saja menyadari satu hal. Kyu Hyun masih bisa merajuk, setidaknya itu adalah salah satu alasan bahwa kata-kata Jung Soo benar. Kyu Hyun baik-baik saja, hanya dia saja yang begitu khawatir.

Helaan napas lega Dong Hae hembuskan. Seperti baru saja melepas bebean berat yang sejak beberapa minggu yang lalu di tanggungnya. Kyu Hyun ini, Cho Kyu Hyun-nya memang baik-baik saja. Ya, dia hanya perlu menjadi orang yang lebih peka terhadap situasi apapun termasuk dengan tingkah Kyu Hyun yang memang tidak dapat ditebak.

"Kyu Hyun-ie..kita sudah sampai."

Kyu Hyun membuka matanya, kemudian langsung keluar dari mobil. Masuk ke dalam rumah melalui pintu kecil dari garasi menuju dapur. Dong Hae tahu, Kyu Hyun tidak benar-benar tidur selama perjalanan. Anak itu akan sulit dibangunkan jika telah benar-benar terlelap.

"Kau masih marah, eoh?" tanya Dong Hae, entah pada siapa. Ia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah melalui pintu yang sama dengan Kyu Hyun.

Langkahnya terhenti, ketika melihat Kyu Hyun berdiri di depan meja makan, ditangannya ada gelas yang setengahnya terisi air putih. Mungkin Kyu Hyun baru saja minum.

Dong Hae menghampirinya, mengusap bahu Kyu Hyun yang sedikit tegang. "Kau masih marah, Kyu Hyun-ie?"

Kyu Hyun tak menjawab, ia meneguk habis air putihnya kemudian melangkah hendak pergi. Tapi Dong Hae segera menggenggam pergelangan tangannya.

"Mianhae, Kyu Hyun-ie.." ujarnya tulus. Ia tetap menggenggam tangan Kyu Hyun walaupun adiknya itu berusaha melepaskan.

"Lepaskan, Hyung. Aku ingin tidur," desis Kyu Hyun, tajam.

"Tidak, Hyung benar-benar minta maaf. Maaf atas semuanya, maaf telah menekan hidupmu, Kyu Hyun-ie."

Genggaman tangan Dong Hae terlepas, Kyu Hyun berbalik dan menatapnya tajam. Seolah akan membunuh Dong Hae dengan tatapan itu. Kyu Hyun seperti tengah menunjukan betapa marahnya ia kali ini.

Dong Hae tak kalah dengan tatapan itu, ia tetap menatap Kyu Hyun dengan lembut. Menunjukan kepada Kyu Hyun bahwa ia benar-benar tulus mengutarakan maaf.

"Kau boleh, marah. Hyung memang salah.. kau boleh membenci Hyung, kau boleh meninggalkan Hyung.. Pergilah, Kyu Hyun-ie, pergi saja jika kau sudah lelah dengan sikap Hyung. Hyung akan mendatangani surat izin beasiswa itu, kau boleh pergi jika memang benar-benar ingin. Tapi asal kau berjanji satu hal pada Hyung. Kau harus tetap sehat, jaga diri, dan kau harus benar-benar meraih mimpimu disana. Hyung menyayangimu. Mianhae..Mianhaeyo Dongsaengie.."

Mata Dong Hae mulai berkaca-kaca. Sekarang ia tak berani menatap Kyu Hyun. Pandangannya di alihkan ke samping, lebih memilih menatap pot bunga di sudut ruangan yang gelap itu.

"Hyung.." tangan Kyu Hyun mengepal ketika memanggil Dong Hae, tapi Dong Hae tak kunjung menatapnya. Dong Hae hanya melihat tangan Kyu Hyun yang terkepal erat dengan ujung matanya.

"Pukul saja Hyung, Kyu Hyun-ie.. Hyung memang pantas dipukul."

Kyu Hyun mengangkat tangannya, tidak untuk memukul.

Tetapi untuk menyerang Dong Hae dengan sebuah pelukan erat. Melingkarkan kedua tangannya di punggung kekar Dong Hae. "Hyung..Hyung..Dong Hae Hyung.." gumamnya berulang-ulang. Entah apa maksudnya. Ia hanya ingin mengucapkan kata itu, mengucapkan nama itu. Nama orang yang selalu disayanginya, tapi tak pernah disadarinya. Lee Dong Hae ini satu-satunya keluarga Kyu Hyun sekarang. Satu-satunya orang yang seharusnya paling mengerti Kyu Hyun. Kyu Hyun mengerti, sekarang..bagaimana rasanya disayangi.

Dong Hae merasa bahunya basah, tubuh Kyu Hyun sedikit bergetar. Anak ini menangis. Anak yang Dong Hae tahu tak pernah mengeluarkan air mata ini, menangis di pelukannya. Melepas semua sedihnya.

Dong Hae tak sadar, Kyu Hyun yang menangis itu tengah mengeluarkan semua rasa harunya. Hati Kyu Hyun yang selalu kosong itu, hari ini perlahan terisi dengan sebuah rasa hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Lembutnya perlakuan Jung Soo, sabarnya sikap Hye Hoon, dan juga Dong Hae yang telah berusaha memahaminya hari ini. Kyu Hyun merasa, telah menerima kekuatan lain untuknya, agar selalu tangguh menghadapi takdirnya yang menurutnya begitu kejam. Ia menjadi lebih tenang, masih ada Dong Hae disininya, masih ada Hye Hoon yang mendukungnya, dan Jung Soo juga mungkin akan selalu menjadi sosok yang dikaguminya. Biarlah Ki Bum pergi, Kyu Hyun akan membiarkan sahabatnya itu menerima kasih sayang lain, seperti yang ia rasakan sekarang.

"Kyu Hyun-ie..Dongsaengie.." ucap Dong Hae berulang, menirukan Kyu Hyun yang masih saja menggumamkan namanya. Tangannya terangkat mengusp kepala Kyu Hyun yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Lain kali, jangan malu untuk menangis didepan Hyung, arra?"

Kyu Hyun menganggukan kepalanya, Dong Hae-pun ikut menangis disana.

.

.

Dong Hae membuka matanya, Kyu Hyun tidak ada di sampingnya. Padahal, semalam ia tidur bersama Kyu Hyun di kamarnya karena anak itu tiba-tiba demam setelah beberapa menit menangis. Kemana dia sekarang?

Suara gemercik air terdengar oleh Dong Hae, ia segera bangkit dari tempat tidur dan membuka kamar mandi pribadinya dengan pelan. Terlihat Kyu Hyun di sana tengah berdiri dengan tangan tertumpu pada westafel. Wajah anak itu terlihat pucat dan berkeringat dingin.

"Kau muntah, Kyu Hyun-ie? Atau hanya mual?" tanya Dong Hae tenang. Ia tak boleh panik sekarang.

Kyu Hyun menatap Dong Hae sekilas kemudian mencuci mulutnya. "Perutku sakit, Hyung. Ingin muntah tapi tak bisa. Dan rasanya lemas sekali," Katanya dengan tampang memelas, meminta pertolongan kepada Dong Hae agar sakitnya segera dihilangkan.

"Kemari, Hyung bantu berbaring," Dong Hae mengulurkan tangannya, kemudian membantu Kyu Hyun berjalan hingga ke tempat tidur. Membantunya berbaring dan kemudian pergi ke luar.

Semalam, Dong Hae sengaja menyuruh Kyu Hyun untuk tidur di kamarnya. Kamar Dong Hae dulunya adalah kamar ibu Kyu Hyun. Kamar utama di rumah itu, dan satu-satunya kamar yang memiliki kamar mandi pribadi. Sehingga Kyu Hyun tidak perlu repot berjalan jauh ke kamar mandi di luar kamar jika sedang sakit.

Dulupun seperti itu. Ibu Kyu Hyun akan mengajak Kyu Hyun tidur bersama jika sedang sakit. Tapi bukan hanya karena alasan kamar mandi, juga karena ingin merawat Kyu Hyun.

Sejak pindah ke rumah ini, Kyu Hyun dan ibunya hanya tinggal berdua. Kebetulan Dong Hae ingin kuliah di Seoul, sehingga kamar tamu di rumah ini di tempati Dong Hae. Sampai ketika ibu Kyu Hyun meninggal, Dong Hae dipersilahkan Kyu Hyun untuk menempati kamar ibunya. Ia bilang, tak ingin melihat kamar ibunya kosong tak berpenghuni. Ia hanya ingin melupakan sedikit kejadian pahit dimana ibunya memilih mengakhiri hidup di kamar itu. Mungkin dengan ditempati Dong Hae, kamar itu bisa terasa lebih hangat. Benar saja, sekarang Kyu Hyun sudah jarang mengingat lagi kejadian pahit itu hanya karena masuk ke dalam kamar ibunya.

Sudah hampir setengah jam Dong Hae keluar kamar. Dong Hae tak tahu, Kyu Hyun tengah mengaduh kesakitan di dalam kamar. Anak itu memegangi perutnya yang terasa melilit. Dadanya terasa sesak, sekujur tubuhnya sakit dan kepalanya pusing luar biasa. Sudah dua kali ia berjalan terhuyung ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Tapi yang keluar hanya cairan yang membuat mulutnya terasa pahit, dan itu menambah rasa mual yang sejak tadi dirasakannya.

Kyu Hyun rasa, ia ingin pingsan saja daripada merasakan semua itu. Atau mungkin mati bisa lebih baik? Ah, tidak! Kyu Hyun masih bisa berpikiran sedikit jernih. Sakit saja sudah membuatnya tersiksa seperti ini, apa lagi sekarat kemudian mati? Mengerikan!

Apa ia mengalami efek putus obat lagi? Apa ini akibat ia menghentikan konsumsi obat antidepresannya setelah menghabisakan banyak pil dengan dosis yang sangat tinggi itu?

Kemudian Kyu Hyun pergi ke kamarnya. Dikamarnya, masih ada beberapa pil itu. Kyu Hyun pikir, dengan melanjutkan konsumsi obat itu, rasa sakitnya akan hilang.

Tapi tidak! Tidak ada yang berubah setelah ia menelan dua butir pil itu. Malah sakitnya bertambah parah dan ia sudah tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya lagi. Seperti pil yang masuk ke dalam mulutnya itu telah menghilangkan fungsi tulang dalam tubuhnya. Ia berbaring lemas di lantai kamar yang dingin, berharap Dong Hae segera datang dan menolongnya.

.

.

TBC

.

Chapter ini membongkar semuanya, kan?

Obat apa itu? Kyu Hyun bener-bener menderita SPD gak? Kenapa Dong Hae gak bolehin Kyu main sama Ki Bum?

Udah kejawab kan? aku baik kan gak bikin kalian penasaran terlalu lama? Hehe

Oh ya, aku sempet gak dapet feel sama sekali buat nulis chapter ini.

Semua udah tersusun. FF ini alurnya mau gimana, endingnya mau gimana. Termasuk chapter inipun udah aku rencanain mau kayak gimana. Tapi tingkah Kyu-Line di panggung SMTOWN dengan gaun-gaun merah dan betis seksi berbulunya bikin otak aku blank seketika, Aiggoo..parah,kan? tapi gak papa deh yang penting udah jadi ^_^

Ini dia, balasan review chapter 3.. (untuk chapter 2 dan 1, mianhae gak sempat balas)

chairun chapter 3

Kyu minum obat antidepresan.

Ok! Aku selalu semangat kalau urusan tulis-menulis. Gomawo udah review^^

kim min soo chapter 3

Annyeong, gomawo udah baca dan review^^ Kyu pasti kuat kok! Ditunggu ya lanjutannya..

septi chapter 3

Gomawo udah review.. di chapter ini Kyu nya udah di-menderitain lagi kok chapter depan juga pasti dilanjut deritanya, sesuai permintaan kamu dan ucapan terimakasih karena ff ini udah dikasih label MR, kkk~~

Evilkyu Vee chapter 3

Annyeong Evilkyu Vee-ssi, salam kenal juga.. gomawo udah jadi readerku^^ tepat sekali tebakannya, Kyu emang minum obat penenag tuh.

Oh ya, aku gak kuliah di jurusan kesehatan, aku malah kuliah di jurusan yang sangkut pautnya sama bangunan dan konstruksi. Semua istilah kesehatan di dalam ff cuma hasil browsing aja. Aku malah berharap ada reader yang ngerti tentang kesehatan atau kedokteran gitu biar ada yang komentarin tentang istilah kesehatannya. Tapi gak ada T_T

Ok, sarannya sangat diterima. Di chapter selanjutnya bakalan dikasih penjelasan tentang istilah asingnya.

silent reader chapter 3

Gomawo^^ dan mianhae tawarannya di tolak, gak bisa setengah minggu updatenya. Tapi ini juga kan gak tiga minggu, jadi gak lumutan kan?

Penyakit yang kata kamu blablabla itu gak jadi hinggap di tubuh kyu, hehe. Tapi kamu bener, kyu emang minum pil penenang.

aichan14 chapter 3

iya emang berat banget chingu.. udah di next ini^^

Indahesterlita chapter 3

Gomawo udah nunggu.. happy ending atau tidak, gak papa kan chingu?

Erka chapter 3

Apa menurut Erka-ssi alurnya susah dimengerti dan kecepetan? Mianhae.. semoga chapter selanjutnya gak gitu lagi..

SuJuELF chapter 3

Jadi dua-duanya ksian dong chingu? Biar gak terlalu kesian, aku bikin sedikit bahagia nih di chapter ini..

Chapter 4 gak jadi 3 minggu, kan? tapi kalau di suruh langsung update aku gak bisa..

nopiefa chapter 3

bukan narkoba, chingu.. dan Kyu Hyun gak gila^^ ini udah cepet, kan?

Desviana407 chapter 3

Baby kyu memang tertekan T_T

Ini udah 2 minggu kok, chingu

mifta cinya chapter 3

udah terjawab di atas, dan udah di lanjut^^

dyayudya chapter 3

gak aneh-aneh kok! xD

kyuli 99 chapter 3

tenang aja, aku gak bakalan bikin penasaran lama-lama.

*Puppyeyes*-nya gak ngaruh, kk~~

rara chapter 3

pasti dikurangin kok penderitaannya..

ini juga update 2 minggu-an kan?

dewiangel chapter 3

gak jadi 3 minggu deng xD

yang dibicarain Sungmin itu di chapter 3 yang di italic+bold

shinta chapter 3

Mwo? Chingu menderita SPD? Jangan kebanyakan memenadam masalah sendiri, chingu^^

phiexphiexnophiex chapter 3

*sodorintissue* cup cup.. jangan nangis, eoh! Ini kan gak lama-lama.. xD

Awaelfkyu13 chapter 3

Gomawo udah mau nunggu..

13kyusa chapter 3

Salam kenal juga 13kyusa-ssi, kyu gak kena SPD kok!

Haebaragi86 chapter 3

Enggak sampai kok chingu^^

Rahma94 chapter 3

Gak 3 minggu, kan..

.

Akhir kata, terima kasih banyak buat yang udah review/follow

Semoga gak ada typo lagi, dan semoga gak mengecewakan lagi^^