Sebuah tangan lembut mengusap kepala Kyu Hyun yang tertidur di pangkuannya, sehingga Kyu Hyun memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang selalu diberikan ibunya.
Wanita dengan senyum manis itu menyenandungkan nada-nada indah hanya dengan gumaman. Tidak benar-benar bernyanyi, tapi Kyu Hyun tahu bahwa ibunya itu pemilik suara terindah di dunia ini. Terutama baginya. Tidak ada suara lain yang dapat menenangkannya selain suara ibunya.
"Suara eomma indah.." gumam Kyu Hyun tanpa membuka matanya. Ingin sekali ibunya tahu bahwa ia benar-benar mengidolakan ibunya itu.
Sang ibu tersenyum lagi. Ia menghentikan usapan tangannya di rambut Kyu Hyun dan seketika anak itu membuka matanya. "Kenapa berhenti?" tanyanya heran, ia sangat menyukai tangan lembut itu menyentuh rambutnya.
"Suara Kyu Hyun-ie lebih indah, tahu?" puji sang ibu.
Kyu Hyun bangkit kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Eomma yang mengajarkanku."
"Tidak, kau yang selalu ingin belajar. Kau harus tetap seperti itu, arraseo? Jangan menjadi sombong dengan berhenti mempelajari hal yang baru."
Kyu Hyun menganggukan kepalanya. "Eomma akan selalu mengajariku semua hal, bukan?"
"Siapapun di sekitarmu akan mengajarimu apapun. Mulai dari hal terkecil sampai hal terpenting di dunia ini."
"Eomma tak mau mengajariku?"
"Bukan begitu, Kyu Hyun-ie.. hanya saja kau harus menerima orang lain selain Eomma. Termasuk Dong Hae."
Kyu Hyun merengut kesal. Ia tak suka dengan kedatangan Dong Hae ke rumahnya dan ibunya malah membahas masalah itu.
"Paman Lee Dong Hae menyebalkan," ketusnya, acuh tak acuh membuat ibunya tertawa.
"Pamanmu itu ingin kau memanggilnya dengan kata "Hyung". Ayolah Kyu Hyun-ie—"
"Ck, dia sudah tua. Mengapa ingin di panggil Hyung?" potong Kyu Hyun tiba-tiba.
"Kau selalu mengatainya pendek."
"Dia memang pendek. Tapi tua!"
Kim Ha Na tertawa lagi. "Dengarkan Eomma, Kyu Hyun-ie.. Dong Hae Hyung-mu itu satu-satunya saudaramu disini. Kau tidak boleh membuatnya sedih, mengerti?"
Bibir Kyu Hyun mengerucut karena kesal. "Lalu Eomma bagaimana? Eomma berbicara seperti kau tak akan ada disini lagi."
"Tentu saja Eomma selalu ada disini Kyu Hyun-ie.. Eomma selalu ada dihatimu, bukan?"
"Ya, tentu saja Eomma selalu tersimpan di hatiku.."
.
Empty Heart
Cast:
Cho Kyu Hyun,
Lee Dong Hae,
Kim Ki Bum,
Lee Hyuk Jae,
Park Jung Soo
Henry
Brothership Fanfiction
By:
Khy13
.
Dong Hae membuka pintu kamarnya dengan semangkuk bubur dan beberapa butir obat di atas nampan. Kyu Hyun harus sarapan dan minum obat.
Tapi..
Dimana Kyu Hyun?
Kemudian Dong Hae menyimpan nampan yang dibawanya di atas meja samping tempat tidur, lalu berlari ke kamar Kyu Hyun.
Kamar itu gelap, tirai masih menutupi jendela. Ia menyalakan lampu sebagai pencahayaan dan matanya terbebelalak sempurna ketika melihat seseorang tergeletak sedemikian rupa di lantai.
Itu Kyu Hyun! Cho Kyu Hyun-nya!
Jantung Dong Hae seakan berhenti seketika, ia segera menghampiri Kyu Hyun dan mengguncang bahu anak itu beberapa kali. Tidak ada respon!
Tangannya yang bergetar terpakasa harus bergerak cepat, meraih pergelangan tangan Kyu Hyun dan meraba nadinya. Astaga, tidak teraba! Jempol tangannya sama sekali tidak merasakan ada denyutan di nadi Kyu Hyun.
"Kyu Hyun! Cho Kyu Hyun!"
Dong Hae kalap. Tak segan ia meneriakan nama Kyu Hyun, membentak anak itu seolah Kyu Hyun telah melakukan kesalahan terbesar baginya. Ia terus menepuk pipi Kyu Hyun, semakin keras sampai pipi anak itu memerah.
Bibir Kyu Hyun terlihat membiru. Dong Hae yang kuliah di jurusan kedokteran dan bekerja sebagai asisten Dokter sama sekali tidak mengingat satupun materi mengenai kasus seperti ini. Seolah ia hanya masyarakat umum yang tidak mengenal dunia medis. Kyu Hyun ini, orang yang ia anggap adik ini membuatnya kacau seketika.
Segera Dong Hae meraih ponsel di saku piamanya, menelepon Jung Soo dengan tangan bergetar sampai-sampai ponsel di tangannya ia genggam erat agar tidak jatuh.
"Hyung! Kyu Hyun, Hyung! Dia, dia, tidak bernapas! Tidak ada denyutan, Hyung!"
Jung Soo tidak segera menjawab, Dong Hae menjadi kesal karenanya. "Kau mendengarku, Hyung? Kyu Hyun tidak sadarkan diri!" teriaknya keras-keras.
"Astaga, Dong Hae! Kenapa malah meneleponku? Lakukan CPR! Aku akan mengirim ambulance kesana sekarang!"
CPR? cardiopulmonary resuscitation? Ya Tuhan, kenapa Dong Hae tidak melakukannya sejak tadi?!
Dong Hae kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Ia menghampiri Kyu Hyun, membuka kancing piama yang digunakan Kyu Hyun dan menekan-nekan dada anak itu dengan kedua tangannya yang bertumpu. Pertama ia menekan dua kali dalan satu detik, empat kali dalam dua detik, sampai hitungan kedelapan tidak ada respon. Ia membuka mulut Kyu Hyun hendak memberikan napas buatan. Tapi ada sesuatu disana, seperti sisa-sisa obat yang tidak sempat tertelan. Dong Hae segera mengorek mulut Kyu Hyun dengan jarinya hingga sisa-sisa obat itu terlihat menggumpal di tangannya.
Obat? Dong Hae memang heran, tapi ia tak sempat berpikir. Ia hanya melanjutkan pertolongan pertamanya sampai terlihat respon pada anak itu. Setelah melakukan tekanan di dada beberapa kali dalam waktu cepat, ditambah dengan napas buatan, Kyu Hyun sedikit melenguh. Dong Hae segera membawa Kyu Hyun ke atas tempat tidur, menumpuk bantal di atas tempat tidur, dan membaringkan Kyu Hyun dengan posisi agak tegak agar jalan pernapasannya terjaga.
Dong Hae terisak, ia sangat panik tadi, dan sekarang ia harus melihat Kyu Hyun kesakitan? Ia benar-benar cemas.
Ambulance belum sampai juga, dan Dong Hae tidak berani membawa Kyu Hyun dengan mobilnya karena untuk berdiri saja rasanya ia tak bisa. Tetapi terpaksa ia berdiri, untuk mengambil handuk yang dibasahi air hangat. Setelah itu, dengan perlahan mengusap wajah Kyu Hyun sampai ke leher dan dada, berusaha membuat anak itu sedikit nyaman.
Anak itu bergumam, mengeluhkan pernapasannya yang sangat sesak dan juga merintih kesakitan, tangannya mencengkram sprei dan rahangnya mengeras, seperti tengah berusaha melawan sakit. Entah apa yang dirasakan Kyu Hyun sampai merintih kesakitan dengan airmata yang menetes, dan keringat dingin mulai terlihat.
Perasaan Dong Hae tidak enak, Kyu Hyun terlihat mengatupkan mulutnya rapat –rapat. Ia segera membuka mulut Kyu Hyun dan melihat anak itu menggigit lidah. Jari tangan Dong Hae bergerak kasar, mencoba membuat gigitan itu melonggar.
Darah mulai terlihat, Dong Hae mendekatkan mulutnya ke telinga Kyu Hyun dan berkata, "Kyu Hyun-ie, jangan gigit lidahmu. Kau mendengar Hyung? Lepaskan gigitanmu, Kyu Hyun-ie.."
Ketika gigitan itu melonggar, Dong Hae segera menyelipkan jarinya. Jempol tangan kanannya, ia biarkan menjadi mengganti pelampiasan rasa sakit adiknya.
"Kyu Hyun-ie.. pertahankan kesadaranmu, Dongsaeng.. kau akan baik-baik saja. Kyu Hyun-ie, kau mendengar Hyung, kan? kau harus bertahan, Kyu Hyun-ie…"
Sambil tetap menyeka wajah Kyu Hyun dengan handuk basah hangat, Dong Hae tetap membisikan kata-kata menenangkan. Mencoba mempertahankan kesadaran Kyu Hyun yang bahkan tidak membuka mata sama sekali. Tapi Dong Hae tahu, Kyu Hyun masih bertahan. Terasa dari gigitan Kyu Hyun yang semakin mengeras dan jempol tangannya semakin terasa sakit.
Sirine Ambulance yang ditunggu Dong Hae akhirnya terdengar sangat nyaring, sangat yakin kalau ambulance itu telah sampai di depan rumahnya. Setelah itu, terdengar suara gedoran pintu dan beberapa detik kemudian pintu kamar Kyu Hyun terbuka dengan keras. Jung Soo telah menemukannya.
"Bagaimana responnya, Dong Hae-ya?" Jung So bertanya dengan panik, ia melepaskan gigitan Kyu Hyun pada jari Dong Hae dan menggantinya dengan sapu tangan yang selalu ada di sakunya. Kemudian ia memeriksa Kyu Hyun sebentar dan mendesah lega. "Andai kau terlambat sedetik saja, Dong Hae-ya.."
"Jangan lanjutkan, Hyung! Dia akan baik-baik saja!" Teriak Dong Hae dengan sangat tegas. Mencoba menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa anak itu memang baik-baik saja.
Ia juga tahu, ia sadar sepenuhnya sekarang walaupun masih terlihat syok berat, ia sangat tahu bahwa andai saja tadi ia terlambat menangani Kyu Hyun, mungkin anak itu tidak akan bernapas selamanya.
Beberapa petugas medis masuk membawa blankar. Kemudian memindahkan Kyu Hyun ke atasnya dan segera membawanya menuju ambulance diikuti Dong Hae dan Jung Soo di belakangnya.
"Tekanan darahnya tinggi, Seonsaeng-nim! Kita harus bertindak sebelum terjadi masalah di otak!"
Salah satu petugas medis yang telah memasangkan beberapa alat di tubuh Kyu Hyun berteriak panik. Jung Soo melihat Dong Hae yang kembali syok. Ia kemudian merangkul Dong Hae dan membawanya masuk ke dalam ambulance.
"Jangan khawatir, Dong Hae-ya.. Kyu Hyun akan baik baik saja," bisiknya. Dong Hae mengangguk, walaupun ragu.
Jung Soo mengambil posisi duduk di samping kanan kepala Kyu Hyun. Ia mencoba menangani Kyu Hyun sebisanya, dengan alat seadanya, dan dengan keadaan ambulance yang melaju dengan kecepatan penuh. Mencoba berkejaran dengan waktu agar segera sampai di rumah sakit, sesuai perintah Jung Soo.
"Dia demam, Seonsaeng-nim. Tapi kita tidak bisa memberi suntikan penurun demam, tekanan darahnya tinggi."
Jung Soo merebut thermometer di tangan bawahannya itu. Ia mendesah, dan menyimpan thermometer itu sembarangan.
"Kyu Hyun-ah, kau dengar aku? Kau akan baik-baik saja, kau tidak boleh tegang.." Jung Soo berbisik dengan lembut di telinga Kyu Hyun.
Dong Hae yang mulai tanggap segera mendekat, ikut menenangkan Kyu Hyun yang sepertinya takut dan panik sehingga demam dan tekanan darahnya naik.
Tapi tidak ada yang terjadi, Kyu Hyun tetap seperti itu dan membuat para medis hanya diam sampai mereka tiba di rumah sakit. Alat bantu pernapasan telah di pasangkkan, setidaknya itu membuat mereka sedikit bisa bernapas lega.
Dong Hae berteriak panik. Ketika sampai di Unit Gawat Darurat, Kyu Hyun kehilangan kesadarannya dan selang oksigen yang ada di hidungnya seolah tidak berguna. Anak itu mengejang sedemikian rupa, membuat Dong Hae cemas luar biasa. Jung Soo harus menyuntikan obat penenang, dan yang terjadi malah lebih parah dari itu. Kyu Hyun muntah, mulutnya berbusa.
"Kyu Hyun! Cho Kyu Hyun!"
"Dong Hae-ya! Berhenti berteriak! Kau membuatku panik!" Jung Soo meneriaki Dong Hae yang tengah mengguncang tubuh Kyu Hyun.
"Tapi Hyung, dia.."
"Obati luka di jarimu. Biar aku yang mengurus Kyu Hyun!" teriak Jung Soo tegas. Tak dapat di bantah.
Dong Hae mundur. Keluar dari ruangan itu dan kemudian seorang perawat menghampirinya, mengajaknya untuk segera mengobati luka pada jarinya. Ia bahkan tak merasa sakit apapun dengan jarinya yang terus mengeluarkan darah segar ini, ia yakin Kyu Hyun yang tadi menggigit jarinya ini beribu kali lipat lebih sakit.
Tangan perawat yang sedang membersihkan luka Dong Hae terhenti ketika pintu tiba-tiba terbuka. Disana, ada Hyuk Jae yang masih berusaha menetralkan pernapasannya yang sedikit tersenggal setelah berlari. Kemudian menghampiri mereka dan mengambil alih pekerjaan perawat itu.
"Kau bisa kembali ke pekerjaanmu," usir Hyuk Jae, dengan halus tentu saja.
"Kenapa kau juga terluka, hm?" tanya Hyuk Jae, seleah duduk di hadapan Dong Hae dan mulai mengobati.
"Aku membiarkannya menggigit jariku," gumam Dong Hae dengan tatapan kosong.
"Sampai seperti ini?" tanya Hyuk Jae lagi.
"Dia sangat kesakitan, kau tahu? Aku seperti menemukan kiamatku, tadi. Kau sudah melihat keadaannya? Apa Jung Soo Hyung menanganinya dengan baik?" Masih dengan tatapan kosong, Dong Hae bertanya tanpa memikirkan apapun. Sepertinya yang ada di kepalanya hanya Kyu Hyun. ia bahkan tak mengingat bahwa Jung Soo adalah dokter terhebat disini dan yang terpenting adalah Jung Soo-pun menyayangi Kyu Hyun.
Hyuk Jae tersenyum miris. Ia juga mengkhawatirkan keadaan Kyu Hyun, ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana keadaan Kyu Hyun tadi. sekarang, ia memilih menenangkan sahabatnya ini. Ia yakin, Jung Soo akan berusaha maksimal.
"Dia begitu membenciku, Hyuk-ie.. Dia bahkan tak mau mendengarkan apa kataku. Sepanjang perjalanan aku menyuruhnya untuk bertahan, aku bilang dia harus tetap sadar. Tapi dia tak mau mendengarkanku." Setetes air mata jatuh begitu saja, Dong hae mengusap pipinya kemudian melanjutkan, "Aku takut dia benar-benar membenciku dan pergi.. Apa aku benar-benar Hyung yang tidak bergunan, Hyuk-ie? Sejak pertama aku datang ke Seoul, dia tak bisa menerimaku. Sampai sekarangpun begitu, dia selalu saja ingin mendebatku. Tapi aku benar-benar ingin dia mengabulkan permintaanku satu saja, aku ingin dia bertahan.."
Hyuk Jae membiarkan Dong hae meracau tak jelas seperti ini, ia sangat tahu kebiasaan Dong Hae yang satu ini. Dong Hae akan berbicara aneh-aneh jika sedang panik.
"Hyuk, apa kau bisa membantuku menyampaikannya kepada Kyu Hyun?"
Hyuk Jae menyelesaikan pekerjaannya. Membereskan obat-obatan dan perban. Kemudian berdiri. "Kau harus percaya. Kyu Hyun menyanyangimu dan dia akan bertahan. Dia lebih kuat dari yang kau kira, tahu?"
Dong Hae mendongak menatap Hyuk jae yang tengah berdiri, mencoba mencari keraguan dimata sahabatnya itu. Tapi tidak ada! Hyuk Jae benar-benar yakin, dan itu sepeti ada sesuata yang membuat senyum tiba-tiba terukir di bibirnya.
"Gomawo, Hyuk-ie.." katanya tulus. Hyuk Jae balas tersenyum.
"Itu gunanya teman, kan?" tangan Hyuk jae menepuk bahu Dong Hae. "Kaja, Kyu Hyun pasti ingin kau ada di sisinya."
"Hm," Dong Hae mengangguk. "Tentu saja aku harus menemaninya."
.
.
Sekarang Dong Hae hanya bisa diam. Sebenarnya hari ini adalah jadwalnya untuk memeriksa paisen, tapi ia terpaksa izin karena memang tak ada yang bisa ia lakukan dengan benar sekarang. Pikirannya terlalu penuh dengan kecemasan akan keadaan Kyu Hyun. Apalagi baru saja ia mendapatkan informasi bahwa Kyu Hyun tengah ditangani Jung Soo di ruang operasi. Apa benar-benar parah sampai harus operasi? Ia bahkan tidak menerima surat persetujuan untuk melakukan operasi pada pasien.
Sejak beberapa menit yang lalu, Hyuk Jae kembali pada pekerjaannya. Kali ini ia harus benar-benar sendiri menerima apapun yang dikatakan Jung Soo nanti setelah keluar dari ruang operasi. Ia jadi berpikir, beginikah perasaan wali pasien ketika sang pasien dalam keadaan tidak baik? Jika sejak dulu Dong Hae tahu, Dong Hae tak akan pernah menyebutkan secara lugas bahwa pasiennya dalam keadaan yang buruk, kritis ataupun koma. Pasti selama ini ia telah menyakiti banyak orang dengan berita buruk darinya.
Ya Tuhan.. aku merasa berdosa..
Kedua telapak tangan Dong Hae saling menggenggam di depan dadanya, matanya terpejam, dalam hati ia memanjatkan doa permohonan ampun dan juga doa demi kesembuhan Kyu Hyun. Ia berharap. Tuhan akan mengabulkan doanya langsung kali ini.
"Dong Hae-ya.."
Dong Hae membuka mata. Jung Soo berdiri di hadapannya tanpa senyum. Kenapa?
"Bagaimana Kyu Hyun, Hyung?" tanyanya terbata. Air mata tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk matanya bersiap untuk jatuh.
"Jaringan epitel endodermal-nya belum sembuh benar akibat keracunan alcohol, dulu. Jadi perutnya pasti akan terasa sakit, dan lagi…dia…overdosis antidepressant—"
"Apa?!" teriak Dong Hae tiba-tiba. Jung Soo hanya menghela napas.
"Antidepressant?" ulang Dong Hae.
Jung Soo mengangguk pasti. "Ya, aku sudah melalukan bilas lambung tadi, sekarang dia belum sadarkan diri. Jangan tanyakan apapun ketika keadaannya belum stabil, Hae-ya.. sebentar lagi dia akan dipindahkan ke kamar inap. Jaga dia."
Kaliamat tenang itu menunjukan betapa kecewanya Jung Soo. Entatah kecewa karena Kyu Hyun mengkonsumsi obat seperti itu, atau mungkin kecewa dengan keadaan yang membuat Kyu Hyun seperti itu.
Jung Soo berlalu. Dong Hae terpaku di tempatnya. Overdosis antidepressant? Apa Jung Soo tengah bergurau?
.
.
Bel rumah berkali-kali berbunyi, tanda seseorang di luar sana ingin agar sipemilik rumah segerea membuka pintu.
Tapi tak ada yang berubah. Ki Bum dan Tuan Cho berniat kembali pulang ketika pintu gerbang rumah itu terbuka dari luar dan kemudian terlihat Dong Hae yang datang dengan penampilan luar biasa kacau. Ki Bum kira Dong Hae telah menyelesaikan sebuah operasi, sampai tidak membawa mobil saking lelahnya.
"Annyeong, Dong Hae Hyung," sapa Ki Bum ramah membuat Dong Hae mendongak dan sontak membelalakan mata ketika pandangannya beradu dengan laki-laki yang berdiri di samping Ki Bum.
Ki Bum mengerti sekarang. Kenapa Dong Hae selalu tidak setuju dengan pertemanan dirinya dan Kyu Hyun. ternyata mengenai ayah barunya ini. Sekarang apa yang harus ia lakukan dihadapan Dong Hae? Meminta maaf? Apa yang harus dimaafkan Dong Hae darinya yang sekarang telah benar-benar memiliki ayah Kyu Hyun.
"Lee Dong Hae, tunggu sebentar!"
Tangan Tuan Cho menghalangi langkah Dong Hae yang berjalan tergesa untuk masuk ke dalam rumah.
"Aku sibuk, kalian bisa pergi," usir Dong Hae.
"Hyung, kami akan pindah hari ini," kata Ki Bum langsung. Dong Hae menghentikan langkah, lalu bergumam "Lantas?"
"Aku ingin bertemu Kyu Hyun sebelum pergi, dan Appa juga."
"Kyu Hyun tidak ada," ketus Dong Hae.
"Jangan berbohong Hyung. Kyu Hyun kan tidak pernah pergi di jam seperti ini," keukeuh Ki Bum, iya yakin Kyu Hyun akan lebih senang berkutat dengan game daripada harus di ke luar di hari libur.
Dong Hae mengangkat kepala. Rahangnya mengeras, ia marah.
"Kau kira aku berbohong? Kyu Hyun sakit! Dia tak ada disini!" teriak Dong Hae. Kemudian tatapannya beralih pada Tuan Cho. "Dan ini semua gara-gara kau! Kau membuatnya menanggung semua ini!" teriaknya lagi. Tanpa memedulikan kenyataan bahwa orang yang diteriakinya itu adalah orang yang lebih tua darinya. Ia tak peduli, setelah aksi berteriak itu ia melangkah masuk kedalam rumahnya. Membanting pintu dan tidak ada yang terjadi setelah itu.
Ki Bum masih terpaku di tempatnya. Satu kalimat yang berputar di kepalanya. Kyu Hyun sakit? Tidak ada disini?
"Kita harus ke rumah sakit, Appa," ajaknya kemudian berlari menuju mobil yang terparkir di dekat gerbang rumah itu.
.
.
Suasana rumah terang benderang, walaupun dengan tirai-tirai yang masih menutupi jendela, tapi lampu tidak ada yang dimatikan. Dong Hae segera mengurus semua itu dan kemudian suasana rumah telah kembali menjadi seperti siang hari.
Telepon rumah tiba-tiba berdering, padahal Dong Hae baru saja akan masuk ke dalam kamar Kyu Hyun untuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke rumah sakit. Terpaksa Dong Hae berbalik dan mengangkat telepon.
"Yeoboseyo," sapanya mencoba untuk ramah.
"Ada apa dengan suaramu?" tanya seseorang di seberang line telepon. Dong Hae langsung tersenyum. Wanita ini.. Kang Hye Hoon, kekasihnya.
"Kau tak keberatan jika memiliki namja yang cengeng?" tanyanya sedikit bergurau. Sepertinya mendengar suara Hye Hoon membuat perasaannya menjadi sedikit lebih baik.
"Sebenarnya itu menyebalkan, tapi selalu ada alasan untuk apapun, bukan?"
"Ya, Tentu saja…Kyu Hyu sakit. Tadi pagi dia dilarikan ke ruamh sakit."
"Pantas saja ponselmu tidak bisa dihubungi. Seberapa parah dia, Hae?" tanya Hye Hoon antusias. "Dan buka pintunya, Dong Hae. Aku ingin bertemu denganmu."
Buka pintu?
Dong Hae menutup panggilan dan segera berlari untuk membuka pintu.
"Hai," sapa Hye Hoon, lebih seperti gumaman.
"Ya, hai. Kau datang?" Dong Hae bertanya dengan raut kosong. Sedikit terkejut dengan kedatangan kekasihya ini.
"Kau tidak mengangkat telepon sejak tadi pagi, membuatku cemas. Semalam kau berjanji akan mengganti makan siang kita yang gagal. Tapi sekarang, aku tak keberatan jika mengganti makan siang dengan menemani Kyu Hyun di rumah sakit."
Hye Hoon merentangkan tangannya, dan Dong Hae otomatis memelukanya erat. Hye Hoon mengerti dengan keadaan Dong Hae sekarang. Namja-nya itu bahkan berdiri dengan tangan yang bertumpu pada kusen pintu tadi.
"Semua akan baik-baik saja, Hae-ya.." katanya menenangkan.
"Mianhae… aku bahkan terlihat sangat buruk dihadapanmu," lirih Dong Hae. Air matanya menetes, tapi kali ini tak terisak membuat dadanya terasa sangat sesak.
"Gwaencana, menangis saja jika kau ingin. Aku tahu kau itu cengeng Dong Hae-ya.."
Alih-alih menangis Dong Hae malah tertawa, ia melepaskan pelukannya pada Hye Hoon dan mengusap pipinya yang basah. "Kau persis seperti Kyu Hyun, tahu? Mulutmu itu terlalu tajam untuk ukuran seorang guru."
Hye Hoon tertawa, tangannya menepuk pipi Dong Hae perlahan memberi kelembutan disana. "Bagaimanapun, aku lebih tua daripada kau. Aku harus tahu bagainmana caranya membuatmu tersenyum. Seperti sekarang."
"Apa aku harus berterima kasih? Lagipula kita hanya berbeda satu tahun, sayang," goda Dong Hae. Hye Hoon tertawa lepas dan mengusap rambut Dong Hae.
"Yah, setidak nya aku unggul satu tahun," ujar Hye Hoon bangga. "Khaja, Kyu Hyun pasti sudah menunggmu!" ajaknya kemudian.
Dong Hae mengangguk. "Tunggu, aku akan membawa beberapa keperluan Kyu Hyun."
Tapi tangan Hye Hoon menahan Dong Hae. Dong Hae berbalik dan menatap Hye Hoon "Sebentar saja, sayang..hanya mengambil keperluan Kyu Hyun. Oh, dan juga aku harus membuang bubur yang aku acuhkan di kamarku tadi pagi," papar Dong Hae.
Tangan Hye Hoon menunjuk pakaian yang dikenakan Dong Hae. Lalu dia berbisik. "Jangan lupa mandi dan ganti baju. Aku tak mau jalan dengan namja yang masih mengenakan piama di siang bolong seperti ini."
Dan saat itu Dong Hae sadar. Hari ini ia begitu memalukan, bahakan ia naik bus dengan mengenakan piama? Astaga!
.
.
Ki Bum masih diam, duduk di salah satu sofa di sudut ruang inap itu dan memerhatika ayahnya yang menggenggam tangan Kyu Hyun di samping ranjang rawat sambil menangis. Menggumamkan kata maaf berpuluh-puluh kali tanpa melepas genggaman tangannya. Sebenarnya ia ingin melakukan hal yang sama pada Kyu Hyun. tapi ia tak tega bila harus memisahkan mereka.
Kyu Hyun masih tak sadarkan diri. Menurut perawat yang baru saja datang utuk pemeriksaan rutin, Kyu Hyun masih di bawah pengaruh pembiusan setelah melakukan bilas lambung. Sedikit mengenang pelajaran semasa junior school, bahwa bilas lambung dilakukan jika seseorang keracunan. Tapi ternyata sekarang ia mendapat pelajaran baru. Overdosis obat-obatan yang parahpun harus ditangani dengan bilas lambung agar perut pasien bersih dari zat kimia yang berbahaya. Itu semua yang dikatakan perawat tadi. Ki Bum cukup puas mendengar informasi lengkap itu.
Ia menatap Kyu Hyun lagi. Sebuah tube terpasang di mulut Kyu Hyun. Ki Bum yakin, itu adalah selang pernapasan yang dimasukan secara paksa agar tubuh Kyu Hyun tetap menerima oksigen walaupun tak sadarkan diri seperti ini. Lalu, kedua pergelangan tangan Kyu Hyun di infus dan lengan kiri bagian atasnya dipasang alat pengecek tekanan darah. Ki Bum tak begitu tahu fungsi alat-alat lain, yang pasti ia yakini adalah keadaan Kyu Hyun cukup parah kali ini. Pantas saja ia melihat Dong Hae begitu kacau tadi.
"Ki Bum-ie.."
Ki Bum terperannjat. Tatapannya ia alihkan kepada ayahnya. Laki-laki paruh baya itu mulai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kyu Hyun dan bangkit berdiri.
"Kau ingin berbicara dengan Kyu Hyun? Appa sudah selesai," Tuan Cho bangkit berdiri dan berjalan keluar. "Ibumu akan marah-marah kalau kita terlalu lama menghilang. Appa tunggu di luar."
Tak ada yang dilakukan Ki Bum setalah duduk di kursi yang tadi ditempati ayahnya. Ia hanya diam disana, tangannya yang bergetar terkepal di atas pangkuannya. Melihat Kyu Hyun dari dekat seperti ini membuatnya menyadari satu hal. Ia tak pernah bisa menjangkau Kyu Hyun walau mereka begitu dekat. Kyu Hyun menyembunyikan semuanya, Kyu Hyun yang nakal di sekolah, Kyu Hyun yang tukang bolos, Kyu Hyun yang tak pernah memerhatikan guru yang tengah mengajar, Kyu Hyun yang tiba-tiba berubah, dan Kyu Hyun yang tiba-tiba sakit seperti ini, menjawab pertanyaan Ki Bum mengenai mengapa selalu ada yang lain ketika ia berbicara dengan Kyu Hyun, mengapa selalu ada hal lain yang tak terlihat ketika Kyu Hyun tangah berbicara dengan nada riang. Tutur kata ketus dan cenderung kasar itu ternyata berhasil menutupi semua yang tersimpan rapi di hatinya. Kyu Hyun ini, penuh kejutan. Bahkan Ki Bum yang terkenal dengan sikap dinginnyapun tak pernah berhasil membunuh semua sakitnya. Ia selalu ingin melampiaskan semuanya walau hanya dengan bermain basket dan melempar bola ke dalam ring dengan kasar.
Tapi Kyu Hyun? apa yang dipikirkan Kyu Hyun dengan mengkonsumsi obat antidepresan seperti yang dikatakan perawat tadi. Jika sampai terjadi overdosis seperti ini berarti Kyu Hyun mengkonsumsi dalam jangka panjang dengan dosis yang tinggi.
"Kyu Hyun-ah.. mulai sekarang aku tak peduli lagi apapun yang terjadi padamu. Kau juga begitu kan? kau tak peduli padaku yang akan pergi hari ini. Seharusnya hari ini aku memaksamu untuk memaafkan ayahmu dan aku. Lalu aku dapat pergi setidaknya dengan perasaan lega. Tapi kau malah sakit. Dasar bodoh! Kau juga tak memedulikan perasaanku ketika tahu bahwa sahabatnya overdosis antidepresan. Itu berarti aku tak berguna, kan?"
Hening sesaat. Selang beberapa detik, pintu terbuka dan disana ada Dong Hae dan Guru Kang.
"Annyeong Dong Hae Hyung, annyeong Kang seonsaengnim," sapa Ki Bum sambil berdiri dan membungkuk hormat. Ia kemudian menyingkir dan membiarkan Dong Hae dan Guru Kang mendekat pada Kyu Hyun.
"Penerbanganku kurang dari satu jam lagi. Dong Hae Hyung.. Kang Seonsaengnim…aku..aku..emm..akan merindukan kalian." Ki Bum mebungkuk lagi. "Selamat Tinggal!" serunya sambil berlari pergi. Terlalu malu jika dua orang dewasa itu harus melihat matanya yang mulai berair.
.
.
"Ada yang ingin aku bicarakan padanya sebentar, ya?"
Dong Hae mengangguk dan membiarkan Hye Hoon pergi. Wanita itu berlari kecil sampai ke basement rumah sakit dan menemukan Ki Bum tengah menangis di pelukan ayahnya.
Ia menghampiri Ki Bum tanpa suara, sampai anak itu menyadari keberadaannya dan melepaskan pelukan ayahnya secara-tiba-tiba.
"Kang Seonsaengnim," gumamnya sambil menghapus jejak air mata di pipinya yang sedikit mengembung.
"Kalau masih ingin menangis, tak apa. aku akan menunggu," Hye Hoon berkata dengan tulus, tapi Ki Bum malah memicingkan matanya dan berdecak sebal.
"Aku hanya sedih dengan keadaan Kyu Hyun," jelasnya. Hye Hoon tahu, laki-laki memang selalu malu menunjukan kelemahannya.
"Baiklah, apapun itu terserah kau saja. Tapi bisakah kau tunda kepindahanmu, Ki Bum?" pandangan Hye Hoon beralih pada Tuan Cho. "Maaf Tuan, saya wali kelas Ki Bum di sekolah. Dan saya hanya mengkhawatirkan keadaan Kyu Hyun jika Ki Bum benar-benar pergi. Terlebih, anda juga pergi bersama Ki Bum."
Mereka terdiam sesaat. Diantara Tuan Cho dan Ki Bum, tak ada yang berani mengambil keputusan atas permintaan Hye Hoon.
"Bukan bermaksud mencampuri urusan keluarga, hanya saja..ah, mungkin aku hanya terlalu khawatir dengan keadaan Kyu Hyun." Hye Hoon tersenyum. "Lupakan saja permintaanku tadi. Semoga perjalanan kalian menyenagkan," pungkas Hye Hoon kemudian berlalu.
"Tunggu!"
Teriakan Tuan Cho menghentikan langkah Hye Hoon, ia berbalik dan mendapati Tuan Cho berteriak. "Kyu Hyun akan merasa lebih baik jika aku pergi. Dia tak suka dengan keberadaanku, dan mungkin karena bertemu denganku dia menjadi seperti itu. Jika dia telah sadar, tolong katakan; Benci saja aku jika memang itulah yang bisa membuatnya hidup lebih baik. Aku selalu menyayanginya."
.
.
Ruangan serba putih itu menemani kebisuan Dong Hae yang tengah menggenggam tangan Kyu Hyun begitu erat. Beberapa kali ia menyeka airmatanya yang terus saja mengalir.
Bukan hanya karena keadaan Kyu Hyun ia menangis, ia tengah menangisi semua kebodohannya. Kebodohannya karena terlalu mementingkan semua pasiennya di rumah sakit dan menelantarkan Kyu Hyun yang ternyata memerlukan beribu kali lipat perhatiannya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, bukan? Dong Hae tahu itu dan ia mengalaminya sekarang.
Tangisan Dong Hae terhenti. Tangan Kyu Hyun membalas genggaman tanganya. Dong Hae segera menekan tombol darurat ketika Kyu Hyun mulai membuka kelopak matanya. Ia tahu betul, akan terasa sangat sakit jika tube itu masih terpasang di saluran pernapasan Kyu Hyun saat anak itu sadar sepenuhnya dan tubuhnya akan berontak untuk kembali berfungsi normal dengan menghirup oksigen melalui hidung.
Jung Soo datang tak lama kemudian bersama dua orang perawat, ia berdidi di seberang Dong Hae, di samping kiri Kyu Hyun dan menunggu anak itu samapi tersadar sempurna agar bisa menentukan apakah tube itu harus tetap dipasang atau tidak.
Kyu Hyun meringis ketika kesadaran berangsur menguasainya. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Lepaskan saja tube-nya, gantikan dengan selang oksigen biasa," titah Jung Soo. Kedua perawat itu mengangguk dan segera memenuhi perintah Jung Soo.
"Pernapasannya sudah normal," jelas Jung Soo kepada Dong Hae yang masih berdiri di tempatnya.
"Gomawo, Hyung.."
Jung Soo mengagguk, dan kembali memeriksa Kyu Hyun. "Ada yang ingin kau katakana, Kyu Hyun-ie?" tanyanya setelah tube itu terlepas. Kyu Hyun mengangguk pelan dan menggumamkan sesuatu. Jung Soo harus mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang diucapkan Kyu Hyun.
"Ki Bum?" Jung Soo mengulang gumaman Kyu Hyun. "Mungkin Kyu Hyun ingin bertemu Ki Bum, Dong Hae-ya.. Ki Bum itu sahabatnya, bukan?" tanya Jung Soo beralih pada Dong Hae.
"Semoga aku sempat mengejarnya, Hyung."
Dong Hae berlari meninggalakan ruangan. Bermaksud mencari keberadaan Ki Bum. Tadi Hye Hoon bilang ingin berbicara dengan Ki Bum. Tapi langkahnya terhenti ketika ia baru saja akan menuju lift. Disana ada Hye Hoon yang berjalan lunglai. Apa Ki Bum benar-benar pergi?
"Mana Ki Bum?" tanyanya dengan panik. "Hye Hoon heran melihatnya.
"Ia pergi beberapa saat yang lalu. Akupun hanya berbicara sebentar dengannya, waeyo?"
"Ya Tuhan!" teriak Dong Hae. Hari ini ia merasakan dua penyesalan yang berbeda, termasuk kali ini. Ia menyesal karena sejak dulu ia tak mengizinkan Kyu Hyun berteman dengan Ki Bum. Dan sekarang ketika Kyu Hyun benar-benar membutuhkan Ki Bum, anak itu pergi.
"Ada apa dengan Kyu Hyun?" tanya Hye Hoon, ikut panik dengan tingkah Dong Hae.
"Kyu Hyun ingin bertemu Ki Bum," jawab Dong Hae singkat. Kemudian tangannya merangkul bahu Hye Hoon dan mereka kembali ke ruang inap bersamaan. Sepanjang perjalanan, Dong Hae menceritakan keadaan Kyu Hyun, termasuk mengenai overdosis antidepresan itu.
Hye Rin mengingat kejadia di rumahnya siang kemarin, ketika Kyu Hyun minum obat yang katanya adalah obat tidur. Apa mungkin itu adalah obat antidepresan? Jika iya, ia benar-benar menjadi orang dewasa yang tidak peka dan membiarkan anak itu tetap menelan pil itu.
.
.
Jung Soo menarik kursi dan duduk di sisi kanan Kyu Hyun, dua perawat yang menemaninya tadi telah pergi dan sekarang ia hanya berdua dengan Kyu Hyun disana. Dengan Kyu Hyun yang masih dalam keadaan sangat lemah.
Kyu Hyun masih saja memejamkan matanya sesekali ketika rasa sakit itu menyerang perutnya, rasa mualpun masih saja datang. Apalagi dengan kedua pergelangan tangannya yang dipasang infus. Membuatnya benar-benar tidak nyaman. Padahal, hanya infus dan selang oksigen di depan lubang hidung saja yang masih terpasang. Kyu Hyun tak tahu seberapa banyak alat yang dipasang di tubuhnya saat ia tak sadarkan diri tadi.
"Kenapa Dong Hae Hyung lama sekali?"
Pandangan Kyu Hyun beralih pada Jung Soo, yang ditatap hanya diam dan sekilas melirik pintu yang masih tertutup rapat.
"Mungkin dia sedang ke rumah Ki Bum?" Jung Soo menjawab dengan sebuah pertanyaan lagi, membuat Kyu Hyun menghela napas sebal.
"Tadi aku mendengar suara Ki Bum. Kukira dia datang."
Tadi? Jung Soo bertanya dalam hati. Mungkinkah Ki Bum benar-benar datang, tadi?
"Park seonsaeng…" gumam Kyu Hyun. Jung Soo menatap anak itu lagi. "Aku sakit apa? Rasanya perutku masih saja terasa sakit, dan kenapa infusnya dua?"
Jung Soo tersenyum mendengar pertanyaan dari Kyu Hyun. ekspresi anak ini benar-benar polos, siapapun tak akan menyangka bahwa Kyu Hyun sakit karena overdosis antidepresan. Tidak terlihat sama sekali jika anak ini tengah memikirkan hal berat atau apapun yang mengganggu pikirannya.
"Kau mau menebak?" pancing Jung Soo. Kyu Hyun terlihat mengerutkan keningnya dan berpikir. Benar-benar seperti anak-anak.
"Apa ini efek putus obat?" tanya Kyu Hyun setelah beberapa detik terdiam. Jung Soo terhenyak. Efek putus obat? Jadi Kyu Hyun sempat berhenti mengkonsumsi obat itu?
"Apa benar Park seonsaeng-nim?" tanya Kyu Hyun lagi.
Jung Soo menggelengkan kepalanya. "Kau tak keberatan menceritakan mengenai obat itu padaku?" tanyanya ragu. Kebanyakan orang akan menyembunyikan hal itu, tapi Kyu Hyun bertanya dengan mudahnya kepada Jung Soo mengenai efek putus obat.
"Tidak," jawab Kyu Hyun tanpa ragu. "Park seonsaeng-nim seorang dokter, tentu saja akan tahu walaupun aku tak memberi tahu."
Jung Soo terkekeh, anak ini pintar. "Kau benar, kau sudah melakukan tes kesehatan. Hasilnya adalah semuanya turun. Jadi aku memasang dua infus agar imunitas tubuhmu kembali dengan cepat. Aku mencoba mengejar kebutuhan tubuhmu dengan dua infus itu, dan kau juga harus cukup makan dan tentu saja bergizi, arrachi?"
Kepala Kyu Hyun mengangguk dengan semangat. "Aku memang sangat lapar," ujarnya cuek. "Jadi, aku sakit apa?"
"Kau tidak mengalami putus obat, Kyu Hyun-ie..tapi overdosis obat."
"Mwo?"
Jung Soo mengangguk. "Siapa yang mengenalkanmu dengan obat seperti itu?" tuntutnya.
Kyu Hyun menceritakan semuanya. Mengenai asal mula ia mendapatkan obat itu dari dokter sekolah. Jung Soo hanya mengangguk-anggukan kepala. Ia membiarkan Kyu Hyun menceritakan semuanya sampai ia tahu bahwa Kyu Hyun mulai lega setelah menceritakan salah satu yang membebani pikirannya itu.
"Apa Dong Hae hyung tahu?" tanya Kyu Hyun. sedikit ketakutan, sepertinya.
"Ya, dia tahu."
Kyu Hyun menjadi cemas setelahnya. Jung Soo mengusap rambut Kyu Hyun dengan lembut. "Dia tak akan menanyakan apapun padamu, kau tenang saja. Kau tahu tidak, aku sudah memarahinya karena dia terlalu menyulitkanmu?"
Kyu Hyun menggelengkan kepala.
"Kau harus berterimakasih padaku, Kyu Hyun-ie.. mulai sekarang Dong Hae tak akan lagi menekanmu."
"Gomawoyo, Park seonsaeng-nim."
Jung Soo tersenyum. "Tapi kau tidak boleh bersembunyi darinya lagi, mengerti? Dia menyayangimu, tahu?"
"Aku tahu," cetus Kyu Hyun. Jung Soo menatapnya bingung. Tapi anak itu malah diam. Kyu Hyun tiba-tiba mengingat mimpinya tadi. Mimpinya bertemu sang ibu. Ah, tidak! Itu adalah kenyataan, kejadian beberapa tahun lalu saat Dong Hae pertama kali datang ke Seoul.
Kala itu, Kyu Hyun tak menyukai kedatangan Dong Hae karena ia pikir Dong Hae telah mengganggu ketenangannya bersama sang ibu. Tapi ibunya selalu meyakinkan bahwa Dong Hae menyayangi mereka, dan Dong Hae akan sangat menyayangi Kyu Hyun sampai kapanpun. Tapi, mengapa begitu sulit memercayai itu semua? Seolah kepercayaan Kyu Hyun hanya untuk ibunya seorang.
Tapi sekarang Kyu Hyun tahu. Ya, walaupun hanya tahu dan belum menjadi yakin. Kyu Hyun tahu, Dong Hae menyeyanginya dan iapun harus berusaha menerima Dong Hae. Sebagai Hyung-nya.
Cklek!
Pintu terbuka. Kyu Hyun kembali dari pikirannya. Ia menatap Dong Hae dan kekasihnya itu datang dengan wajah murung.
Dihembuskannya napas lelah dan kepalanya ia hadapkan kearah Jung Soo kemudian memejamkan matanya. "Jangan katakana apapun, Hyung.." ujar Kyu Hyun dingin. Ia tahu, Ki Bum telah pergi.
Lihat? Sekarang, orang lain yang sudah mulai dipercayainya itu telah menibggalkannya.
Kim Ki Bum bodoh! Kau benar-benar tak punya hati!
Sebuah tangan mengelus rambutnya lagi. Ketika membuka mata, Kyu Hyun mendapati Dong Hae menggantikan posisi Jung Soo.
"Dia akan terlambat jika terus menunggumu bangun, tadi," ucap Dong Hae denga suara yang serak.
Kyu Hyun menggelengkan kepala. Ia ingin egois sekarang. Ia ingin memaki Ki Bum yang telah meninggalkannya begitu saja. "Dia tak punya hati! Dia bodoh! Dia tak mau lagi berteman dneganku, kan? samar, aku mendengar dia bilang tak akan peduli lagi padaku. Setelah itu mana dia? Dia benar-benar pergi, kan? hyung.. aku tak punya teman lagi setelah ini. Lalu aku harus bagaiman?"
Kyu Hyun mulai menangis, donghae membungkukan wajahnya dan memeluk Kyu Hyun. Ia pikir, Kyu Hyun menjadi orang yang sensitive jika itu mengenai Ki Bum. Kyu Hyun tak pernanh menangis sekeras ini setelah ibunya meninggal.
"Kau pikir aku apa, huh? Cko Kyu Hyu, sudah kukatakan kita akan berteman!"
Seseorang yang baru saja datang itu membentak Kyu Hyun. anak itu melepas tangan Dong Hae dari Kyu Hyun dan kemudian berkacak pinggang dihadapan Kyu Hyun.
"Henry?" gumam Kyu Hyun tak percaya. Henry berdecak sebal.
"Aku memang Henry. Ki Bum tadi meneleponku dan berkata bahwa kau hanya keracunan. Bukan amnesia!"
Hye Hoon dan Dong Hae tertawa mendengar celotehan Henry, Kyu Hyun juga tersenyum.
Keracunan? Kim Ki Bum memang bisa diandalkan.
.
TBC
.
Catatan:
CPR = Resusitasi jantung paru-paru, yaitu tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali.
Epitel = Jaringan yang melapisi atau menutup permukaan tubuh, organ tubuh, rongga tubuh, atau permukaan saluran tubuh
Epitel endodermal = Epitel yang melapisi system respirasi beserta saluran pencernaan.
Bilas lambung = Prosedur yang dilakukan untuk membersihkan isi perut dengan cara mengurasnya, yaitu dengan memasukan air dan kemudian mengeluarkannya dari lambung menggunakan selang lambung.
.
Update cepet kan?
kalau masih ada typo tolong kasih tau saya ya, chingudeul..
dan, ini balasan review chapter sebelumnya:
Kyuli 99
Sama! Aku juga sempet gak bisa buka. Semoga gak gitu-gitu lagi ya..
Kyu: update kilat jngn lma lama ne author *puppyeyes
Author: asal kamu nemenin aku nulis, kyu. *kedip-kedip mata
13kyusa
Pertanyaannya udah kejawab di chapter ini. .Semangat juga 13kyusa-ssi!
shinta lang
Penyakit kyu cuma keras kepala aja kok, hehe
Yaudah jangan jadi orang terbuka. Kalau terbuka terus, nanti masuk angin. Hehe
nopiefa
Aku ngalamin juga kok, dan gak tau kenapa ffn waktu itu.
sfsclouds
Udah kejawab ya disini^^ semangat juga sfsclouds-ssi!
oracle88
ah,,kirain akunya yang cantik *digampar .hehe
gomawo, reader-nim jjang!
mifta cinya
udah kejawab ya disini^^
kyu sedih banget saat ki bum pergi.. aku juga T_T
gomawo udah nunggu..
kim min soo
teka tekinya juga udah kejawab disini kan.. aku baik kan gak bikin penasaran, hehe
indahesterlita
masalahnya pasti diberesin kok!
Gomawo udah nunggu..
Fitripratyy
Gomawo^^ ini update cepet kan? semangat juga!
Desviana407
Hae Cuma ke dapur aja kok..
lerian
gomawo udah nunggu^^
Sparkyubum
Annyeong Sparkyubum-ssi! Fighting!
erka
5 hari lebih dikit lah, kk~~
d5
kyu gak dimatiin kok, aku gak tega..
iya, perempuan yang ketemu kyu di café emang ibunya Ki Bum. Kenapa Ki Bum gak belain ibunya? Ki Bum terlalu malas, kk~~
salam kenal juga^^
kyukyu88
gomawo^^
SuJuELF
Ini udah update xD
aichan14
disini ada lumayan lah Jung Soo ama Kyu nya, nanti di tambah lagi ke depannya.
sparkyuNee13
udah kejawab ya di sini.. dan ibu Ki Bum gak jahat kok, cuma egois aja.
Gomawo udah nunggu^^
chairun
gomawo udah nunggu^^ semangat juga ya bacanya..
dyayudya
kirain puas dengan teknik tulisannya T_T
semangat juga buat bacanya!
.
mianhae kalau ada yang terlewat. pokoknya neomu khamsahamnida buat semua yang udah review atau bahkan cuma lihat ff ini.. #bow
oh ya, kalau ada reader-nim yang mengerti tentang kesehatan. tolong dikoreksi ya istilah kesehatan di ff ini..
sampai jumpa di chapter 6~~
