Ki Bum masih saja enggan melangkah, padahal pintu keberangkatan telah di depan mata. Sang ibu mengusap punggungnya dan melangkah terlebih dahulu sambil menuntun adiknya.

"Oppa.."

Tangan mungil itu menggenggam tangannya. Ki Bum menunduk untuk menatap manik hitam adiknya. Anak itu mengerjap beberapa kali. Tidak mengatakan apapun.

"Sayang, kita harus segera masuk."

Ibunya berseru, tanpa melepaskan genggaman tangan pada tangan kanan adiknya, sedangkan tangan kiri adiknya itu masih menggenggam tangan Ki Bum dengan erat. Seperti tak ingin pergi.

Ki Bum tersenyum, jika saja benar adiknya ini tak ingin pergi. Maka mereka sama. Entah apa alasan dibalik keengganan adiknya ini, tapi Ki Bum tahu bahwa menurut mereka Seoul lebih menyenangkan daripada Ottawa.

"Kau masuk dulu, ya. Oppa harus ke toilet," bujuk Ki Bum. Matanya melirik sang ibu dan dibalas dengan anggukan. Ibunya menggendong perempuan kecil itu dan membiarkan Ki Bum pergi sebentar.

Ki Bum berjalan sebentar kearah deretan tempat duduk di sisi lain tempat itu. Ia mengambil ponsel dari saku jaket yang dikenakannya kemudian mencari kontak seseorang.

Setelah menekan tombol 'panggil' ia menempelakan ponsel ke telinga, dan senyum terukir begitu saja di bibirnya ketika seseorang diseberang line telepon menyapanya dengan seruan riang. Ya, Henry selalu menjadi siperiang.

"Kau dimana, mochi?" tanyanya dengan menggunakan nama panggilan andalannya itu.

Ia menduga, Henry disana pasti mengerucutkan bibir dengan pipi mengembung. Menunjukan kebenaran bahwa laki-laki itu memang pantas di panggil 'mochi' dengan pipi sebulat itu.

"Kau sudah tahu belum, Kyu Hyun masuk rumah sakit," ujarnya.

Henry berseru kaget. "Kenapa?" tanyanya cemas. "Kukira si evil itu tak bisa sakit," candanya, membuat Ki Bum terkekeh.

"Dia dirawat di Kyung Hee Hospital. Berkunjunglah jika sempat, Henry."

"Tentu saja aku harus menyempatkan diri. Dia sakit apa?"

Diam sesaat. Sakit apa? Apa yang harus Ki Bum katakan? Tidak mungkin ia menyebutkan yang sebenarnya. Kyu Hyun tak akan suka.

"Ki Bum-ie.." panggil Henry.

Otak Ki Bum berputar cepat, dan kemudian dia menemukan sesuatu. "Keracunan," katanya tanpa ragu. Dalam hati ia berkata, keracunan antidepresan.

"Mwo? Makan apa dia? Ck! Memilih makanan saja tak bisa, bagaimana mungkin dia ingin mengambil beasiswa dan hidup sendiri? Bodoh, kan?"

Ki Bum tertawa lepas sekarang. Tapi hatinya begitu sakit mendengar kalimat Henry. Ya, Kyu Hyun memang bodoh. Mana mungkin bisa hidup sendiri dengan keadaan seperti itu? Bagaimana mungkin bisa hidup sendiri dengan candu antidepresan seperti itu?

"Ki Bum-ie, aku tak tahu ada apa denganmu. Kau tertawa tapi seperti menangis, eh?"

"Mana bisa seperti itu!" bantah Ki Bum. "Menangis dan tertawa bersamaan?" gumamnya kemudian terkekeh lagi. Seolah mengejek apa yang Henry ucapkan. Tapi kemudian, tangannya mengusap pipinya yang basah. Matanya berair, dan ia biarkan seperti itu. Tak berniat sama sekali menghentikan tangisnya.

Ki Bum kemudian mematikan sambungan telepon dan mengirim pesan kepada Henry.

Aku harus segera masuk pesawat.

Kau dan Kyu Hyun harus berteman, arra?

Kejeniusannya tak berfungsi jika sendirian.

Selamat tinggal, Mochi!

Kemudian, mengetik pesan lain untuk orang yang lain.

Semoga berhasil mendekatinya. Kami akan hidup dengan baik, Appa.

.

Empty Heart

Cast:

Cho Kyu Hyun,

Lee Dong Hae,

Kim Ki Bum,

Lee Hyuk Jae,

Park Jung Soo

Henry

Brothership Fanfiction

By:

Khy13

.

Jam bundar yang tergantung di dinding tepat di hadapannya itu, ditatap Kyu Hyun dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak, Dong Hae berjanji akan datang setelah menyelesaikan tugasnya memeriksa pasien.

Tapi? Ini sudah satu jam dan Kyu Hyun rasa jam itu berjalan sangat lambat dan mungkin sebenarnya ia telah menunggu selama dua jam atau lebih? Ah, entah. Ini terasa sangat lama sekali.

Kadang, Kyu Hyun merasa lebih senang sendirian karena itu akan membuat pikirannya tenang. Ia akan mengerjakan tugas dengan tenang, bermain game dengan tenang, atau bahkan membaca majalah dengan tenang. Tapi sekarang? Kyu Hyun bosan setengah mati. Sejak tadi ia hanya bisa terlentang di atas tempat tidur dengan dua infus yang menghalangi geraknya. Ia bahkan tak bisa ke kamar mandi! Dan itu sangat tidak bisa membuatnya tenang. Terlebih, perutnya masih saja sakit, mual, dan ingin muntah. Disana memang telah disediakan wadah kecil di atas meja di samping tempat tidurnya jika ia ingin muntah. Tapi Kyu Hyun terlalu sungkan jika harus muntah disana dan membuat Dong Hae merasa jijik jika datang nanti.

Oh, astaga! Salahkan Kyu Hyun yang tidak terlalu dekat dengan Hyung-nya itu. Akibatnya adalah, sekarang ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan sakit di perutnya, keringat dingin membuat wajahnya basah dan terlihat lebih pucat. Tapi ia tak bisa bangkit, tubuhnya terlalu lemas walau hanya untuk duduk.

Beruntung!

Pintu terbuka. Dong Hae datang masih dengan setelah dokternya. Jas putih berlogo Kyung Hee Hospital di dada kiri, lengkap dengan stetoskop yang menyembul dari saku jas putih itu.

"Hyung! Bantu aku bangun.." pinta Kyu Hyun dengan lirih.

Dong Hae bergegas menghampirinya, menaikan tempat tidur sampai posisi Kyu Hyun setengah duduk.

"Tidak! Aku ingin ke kamar mandi!" protes Kyu Hyun. Jika saja tak sakit, mungkin itu sebuah teriakan. Tapi yang terdengar sekarang hanyalah desahan kesal dan…kesakitan?

"Apa perutmu masih sakit?" tanya Dong Hae tanpa basa-basi. Kyu Hyun hanya menganggukan kepala. Mulutnya terasa pahit dan perutnya terasa melilit, mungkin saja sebentar lagi ia akan benar-benar muntah.

Dong Hae membantu Kyu Hyun berdiri. Memapahnya sampai ke kamar mandi dan membiarkan anak itu memuntahkan isi perutnya.

Tangan Kyu Hyun mencengkram pinggiran westafel dengan sangat kuat. Membuat selang infus berubah warna menjadi merah karena darah yang berbalik masuk ke dalam selang. Dong Hae belum menyadarinya sampai Kyu Hyun mengerang kesakitan. Terlihatlah darah mengalir begitu saja dari tangan Kyu Hyun, membuat Dong Hae berdecak cemas.

"Kau tahu, selang infusnya lepas. Tanganmu harus di tusuk ulang!"

Kenapa Dong Hae memilih kalimat sekejam itu? Kyu Hyun seolah mendengar berita pembunuhan ketika Dong Hae berbicara mengenai "ditusuk" padahal ia tahu, ia hanya perlu menerima infusan baru.

"Perutku sakit sekali, Hyung.."

Kyu Hyun mulai merengek. Dong Hae menghela napas dan memapah Kyu Hyun kembali ke tempat tidurnya. Digantungkannya lagi dua tabung infus itu pada tempatnya. Kemudian berjalan ke sudut ruangan, mengambil jarum baru yang selalu tersedia di dalam laci lemari kecil itu dan segera membersihkan tangan Kyu Hyun untuk memasukan kembali selang infusnya.

"Hyung, tidak usah dipasang lagi saja, ya?" pinta Kyu Hyun dengan ekspressi memelas.

Helaan napas terdengar lagi. Sungguh, Dong Hae senang dengan perubahan Kyu Hyun kali ini. Anak itu mulai sering meminta, mulai sering merengek dan terlihat seperti remaja seusianya. Tapi, jika terus merengek ingin infusnya dilepas? Itu membuat Dong Hae kesal!

"Kyu Hyun-ie… kau ingin sembuh, kan?"

Kyu Hyun menganggukan kepala. "Tidak bisakah istirahat di rumah saja? Atau rawat jalan saja?" tanyanya, terlihat kesedihan dimatanya.

Dong Hae menggelengkan kepala. Ia memilih diam, meneruskan pekerjaannya untuk kembali memasang infus di tangan kiri Kyu Hyun. sedangkan tangan kanannya hanya dipasang plester sebagai penutup bekas infusan sebelumnya.

"Hyung pasang satu saja, ya? Asal kau makan yang cukup. Jangan menolak makan lagi, arrachi?"

Tangan Dong Hae mengusap kepala Kyu Hyun yang mengangguk. "Hye Hoon bilang, dia akan mengajak Henry kesini setelah pembagian kelulusan nanti. Dan Hyung akan mengambil PSP-mu di rumah. Kau jangan merengek ingin pulang lagi, Kyu Hyun-ie.."

"Harus berapa lama lagi aku disini?"

Dong Hae terlihat berpikir. Membuka data-data kesehatan di dalam ponsel canggihnya. Kyu Hyun masih menatapnya dengan penuh tanya.

"Masih lama?" tanya Kyu Hyun lagi.

"Tidak. Hanya beberapa hari saja sampai perutmu tidak sakit lagi dan kau tidak muntah-muntah lagi," papar Dong Hae. "Kau terlihat seperti wanita hamil, tahu?" ejeknya membuat Kyu Hyun merenggut sebal.

"Kau menyebalkan, Hyung!" teriak Kyu Hyun sebal. Dong Hae tertawa keras, sampai pintu kamar inap itu terbuka, ia menghentikan tawanya.

"Annyeong, Dong Hae-ya.."

Seorang laki-laki yang kira-kira usianya lebih tua dari Dong Hae datang dengan senyum manisnya, dengan mengenakan jas yang sama dengan yang Dong Hae gunakan. Kyu Hyun menatap laki-laki itu dengan bingung. Matanya kemudian beralih pada Dong Hae bermaksud menanyakan siapa laki-laki itu.

"Annyeong Cho Kyu Hyun.."

Laki-laki itu menghampirinya. Kemudian menarik kursi di samping kanannya dan duduk dengan tangan bertumpu pada kasur. "Dong Hae bilang adiknya sakit. Sebagai teman, aku harus menjenguk, bukan?" tanyanya dengan tampang sok ramah.

Siapa laki-laki ini? Sok kenal sekali! Kyu Hyun menatapnya dengan tatapan tak suka. Bahkan ia tak mengetahui nama laki-laki ini.

"Namaku, Lee Sung Min. Dong Hae memanggilku Sung Min Hyung," jelas laki-laki itu seolah tahu dengan apa yang ada dalam benak Kyu Hyun.

"Aku harus bekerja, Kyu Hyun-ie.. Sung Min Hyung akan menemanimu sementara aku bekerja. Kebetulan Sung Min Hyung tidak ada pasien."

Alis Kyu Hyun terangkat, tidak ada pasien? "Tidak laku?" cetusnya tiba-tiba.

Dong Hae menutup mulut menahan tawa dan Sung Min membelalakan matanya. Awalnya, Sung Min kira Kyu Hyun adalah anak manis seperti yang Dong Hae ceritakan, penurut dan jarang berbicara. Tapi? Astaga, ternyata menyebalkan!

"Aku lupa menjelaskan yang satu ini, Hyung," kata Dong Hae setelah meredakan keinginannya untuk tertawa. Ia kemudian pergi sebelum Sung Min menunjukan keahliannya di bidang martial arts.

Sekarang hanya ada Kyu Hyun dan Sung Min disana. Sung Min tidak terlalu memusingkan ejekan Kyu Hyun tadi. Lihat saja anak itu sekarang, ekspressi polosnya seoalah ia tak mengatakan apapun tadi membuat Sung Min gemas.

Ia sedikit ragu, apa benar anak ini mengalami depressi? Kenapa sama sekali tidak terlihat?

Sung Min kembali menatap Kyu Hyun. Ia tersenyum ramah dan perasaannya menjadi lebih nyaman setelah melihat Kyu Hyun juga balas tersenyum.

"Sebenarnya aku tidak apa jika harus sendiran. Kau boleh pergi kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Kyu Hyun ketus, tapi terlihat ragu.

Dari kalimat itu Sung Min tahu, Kyu Hyun pada dasarnya adalah anak yang sangat perhatian, tapi seperti sulit menunjukan itu dan orang disekelilingnya mungkin tidak dapat menemukan itu karena cara bicara Kyu Hyun yang ketus dan terkadang menyakiti orang lain membuat siapapun tak akan bercaya tentang sikap perhatian Kyu Hyun ini.

Sung Min mulai mengajak Kyu Hyun berbincang. Diawali dengan menanyakan keadaan Kyu Hyun dan berlanjut kepada alasan Kyu Hyun untuk tetap mengkonsumsi antidepressant bahkan secara berlebih.

Pada awalnya Kyu Hyun ragu untuk bercerita. Tapi Sung Min berhasil mengatasinya dan membuat anak itu bercerita banyak, bahkan hampir semuanya.

Selama proses tanya-jawab itu, tangan Kyu Hyun sesekali memainkan sujung selimut. Sung Min menatap wajah Kyu Hyun yang hanya menunjukan ekspressi yang itu-itu saja. Ekspressi polos, ekspressi sedih, dan sesekali sedikit tersenyum ketika Sung Min menanyakan seuatu yang mungkin membuat perasaan Kyu Hyun lebih baik.

Sampai Kyu Hyun selesai menceritakan semuanya, Sung Min mengambil kesimpulan. Children of Depressed Mothers.

.

.

Dong Hae berdiri dari duduknya ketika Sung Min memasuki ruangannya. Ia menghampiri Sung Min dengan antusias dan mengajak laki-laki yang lebih tua darinya itu untuk duduk di sofa tamu diruangan itu.

"Bagaimana, Hyung?" tanyanya tak sabaran.

Sung Min tersenyum menanggapi. "Children of Depressed Mothers," katanya. Tangannya meraih catatan kecil di dalam saku jas dokternya kemudian membaca isinya sambil menjelaskan beberapa hal kepada Dong Hae.

"Aku kira ibu Kyu Hyun juga mengalami depressi berat sampai bunuh diri, Dong Hae-ya. Dan kedekatan Kyu Hyun dengan ibunya membuat Kyu Hyun meniru beberapa persen sikap ibunya. Aku mendapat beberapa keterangan, tadi. Kyu Hyun bilang, ibunya adalah orang yang tertutup dan pendiam, benar?"

Dong Hae mengangguk. "Ya, memang seperti itu sampai tidak ada yang menyadari keadaan sebenarnya. Bahkan, sampai ia melakukan tindakan bunuh diri itu."

"Kau salah, Hae-ya. Kyu Hyun menyadari itu semua."

Dong Hae mengerutkan kening. "Menyadari keadaan ibunya?"

"Ya," jawab Sung Min langsung. "Dia anak yang pintar, kau tahu? Ketika aku melakukan interview dengannya. Dia bertanya padaku, apakah aku seorang psikiatris dan aku diminta olehmu untuk berbicara dengannya."

Kali ini Dong Hae membelalakan matanya. "Lalu kau menjawab apa?"

"Aku jawab, iya," jawab Sung Min acuh tak acuh. Dong Hae berdecak sebal melihatnya. Psikiatris yang satu ini sedikit menyebalkan. "Tapi kau tak perlu cemas, dia tidak mempermasalahkan hal itu."

"Lalu? Lanjutkan saja penjelasanmu mengenai keadaannya, Hyung!"

"Ck! Kau tidak sabaran sekali!" gerutu Sung Min. "Dia menyadari semuanya. Dia tahu ada hal aneh pada ibunya, tapi dia tak bisa menceritakan itu kepada siapapun karena seperti yang aku katakan tadi. Dia mewarisi sebagian sifat ibunya. Dia terlalu takut untuk memercayai orang lain lagi setelah melihat ibunya ditinggalkan oleh sang ayah yang ia tahu sangat disayangi ibunya." Sung Min menghela napas sebentar, kemudian melanjutkan. "Kemudian kau datang. Dia tidak suka dengan kehadiranmu karena dia berpikir bahwa kau hanya orang lain yang datang begitu saja seperti tidak mengerti keadaan mereka. Dia bilang, 'setelah beberapa hari tinggal bersamaku dan ibu, kegiatan Dong Hae Hyung hanya kuliah dan belajar saja. Dan dia begitu memaksaku untuk memanggilanya dengan sebutan Hyung. Lalu dia juga memaksa ibu untuk membujukku memanggilnya seperti itu. Dia sangat menyebalkan!' Aku tidak mengada-ngada Dong Hae-ya. Dia benar-benar berkata seperti itu. Mungkin kau berpikir bahwa itu hanya persoalan kecil. Apa sulitnya memanggilmu dengan Hyung, kan?"

Pandangan Dong Hae lurus kedepan, ia tidak menanggapi pertanyaan Sung Min. ia hanya berpikir. Kyu Hyun benar-benar mempermasalhakan hal itu?

"Kala itu Kyu Hyun masih kecil, Dong Hae-ya. Jadi masalah seperti itupun akan dipikirkan lain olehnya. Dia pikir kau tipe orang pemaksa dan tak mau mengalah, dan dia tak suka dengan sikapmu dirumahnya. Katanya, kau seperti anak kost yang menumpang di rumahanya. Hanya makan, tidur, belajar, dan kulain. Kau seperti itu?"

"Ya," jawab Dong Hae ragu. "Noona memiliki asisten ruamah tangga yang akan datang setiap pagi dan sore untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi tidak ada yang aku lalukan disana selalin belajar."

"Sampai ibunya meninggal, kau baru menyadari bahwa Kyu Hyun tak memiliki orang lain selain ibunya, begitu?"

Dong Hae menganggukan kepala.

"Lau kau berjanji kepada noona-mu itu untuk menjaga Kyu Hyun. dan kau sudah tahu belum, Kyu Hyun tak suka kau mengungkit janji itu?"

"Aku sudah tahu. Aku tak pernah lagi mengungkitnya. Tapi Hyung, walaupun aku berjanji seperti itu kepada noona aku benar-benar menyayangi Kyu Hyun. Bukan karena janji itu."

"Ya, Kyu Hyun sudah tahu itu sekarang. Tapi dulu tidak begitu. Sekarang semuanya telah membaik, Dong Hae-ya. Kyu Hyun tidak perlu pengobatan khusus dariku. Lagipula, aku tidak bisa memberikannya obat-obatan, dia sudah overdosis. Kita hanya perlu melakukan langkah terakhir."

"Apa itu?"

"Terapi kognitif-perilaku, dengan cara role-playing," Sung Min measukan catatannya kembali ke dalam saku. Ia duduk tegak dan memerhatikan raut bingung Dong Hae. "Yaitu, mengajarkan diri anak mengenai hubungan interpersonal dengan menjalin hubungan dalam keluarga dan teman-teman yang baik dan teknik dalam menyelesaikan masalah. Menghilangkan perasaan sedih, kesepian, putus asa, atau keinginan untuk bunuh diri, kognitif yang positif dibangun kembali untuk menjawab pemikiran yang salah pada benaknya bahwa tidak ada yang dapat ia percaya, bawa tidak ada yang bisa memahaminya dengan baik, dan bahwa tidak ada ketulusan dari orang lain untuk dirinya."

"Bagaimana caranya?"

"Dimulai dari dirimu sendiri, Dong Hae-ya. Kyu Hyun bilang kau selalu melarangnya berteman dengan seseorang yang bernama Kim Ki Bum. Aku tak tau seperti apa Kim Ki Bum itu, tapi yang dapat aku simpulakan dari cerita Kyu Hyun adalah Kim Ki Bum itu adalah satu-satunya orang yang yang bisa ia percayai bahkan ketika ia tahu ayahnya sekarang milik Kim Ki Bum itu." Sung Min melipat tangannya di depan dada sambil berdecak kesal. "Bagaimana bisa ia memercayai orang lain sedangkan kau sebagai satu-satunya keluarganyapun tak bisa memercayai dirinya? Dia bahakan tak mempermasalahkan mengenai hubungan Ki Bum dengan ayahnya. Masalahnya sekarang adalah, dia hanya sangat membenci ayahnya karena dibenaknya sudah terpatri bahwa ayahnyalah penyebab semua kekacauan ini!" suara Sung Min mulai meninggi. "Tugasmu sekarang adalah, meyakinkan dirimu sendiri dan juga Kyu Hyun bahwa kesalahan tidak sepenuhnya dilakukan oleh Tuan Cho."

Mereka terdiam beberapa saat. Dong Hae tidak tahu harus berkata apa, dan Sung Min masih menunggu respon Dong Hae, ia membiarkan anak itu berpikir dan menyadari bahwa semua orang pasti memiliki kesalahan dan tugasnya adalah mencoba memaafkan.

Suara pintu terbuka, memecahkan keheningan diantara mereka. Jung Soo masuk dengan seseorang yang sedang dipikirkan Dong Hae. Ayah Kyu Hyun.

Tuan Cho menghampiri Dong Hae dan duduk di samping Sung Min, tepat dihadapan Dong Hae. Sedangkan Jung soo duduk di samping Dong Hae. Tangan Dokter yang terkenal dengan sikap lembutnya itu merangkul bahu Dong Hae dan menepuknya beberapa kali, memberikian sedikit ketenangan.

"Kami mendengar semuanya," Tuan Cho buka suara. Semua yang ada disana menatapnya, menunggu kalimat berikutnya. "Aku memang salah, setelah pergi dan menikah dengan ibu Ki Bum aku tak pernah datang untuk menjelaskan semuanya. Mungkin, jika aku tidak menjadi seorang yang pengecut, Ha Na akan mengerti dan tidak mengalami depressi seperti yang Lee Seonsaeng-nim katakan."

Pandangan Tuan Cho beralih pada Dong Hae. "Mungkin Lee seonsaeng-nim dan Park seonsaeng-nim juga harus mengetahui semuanya agar dapat membantu Kyu Hyun untuk mengerti. Aku menikahi ibu Ki Bum memang karena kesalahanku. Waktu itu perusahaan yang aku pegang sedang mengalami masalah besar dan bodohnya aku adalah dengan menghabisakan waktu dengan minuman keras, bukannya mengajak isteri untuk berbincang dan mencari jalan keluar." Tuan Cho mulai menceritakan semuanya, mengenai kehamilan ibu Ki Bum akibat ulahnya sampai pernikahan mereka karena alasan perusahaan.

Tak ada yang mengomentari. Semua masih saja diam sampai Tuan Cho menyelesaikan penjelasannya. Sung Min yang pertama kali menyadari suasana kaku diantara mereka. Ia bangkit menghela napas keras dan menarik perhatian semuanya. Kemudian tersenyum manis, memerlihatkan deretan gigi kelincinya yang membuat orang lain ikut tersenyum.

"Semuanya sudah jelas, bukan? Lee Dong Hae, bagaimana menurutmu, hm?"

Dong Hae menatap mantan suami kakak sepupunya itu dengan tatapan datar. Tapi kemudian ia berdiri dan menghampiri Tuan Cho, duduk disampingnya dan memeluk laki-laki itu erat. "Aku memercayaimu, Hyung," ujarnya setengah berbisik.

Tuan Cho mengaggukan kepala, kemudian menggumamkan kata terima kasih beberapa kali. "Bantu aku, Dong Hae-ya.. Bantu aku menjadi ayah yang baik untuk Kyu Hyun," pintanya setulus hati.

"Tentu saja kau harus membantunya, Dong Hae-ya." Sung Min angkat bicara, Dong Hae melepaskan pelukannya pada ayah Kyu Hyun. "Semua pihak keluarga harus membantu langkah terakhir untuk mendapatkan Kyu Hyun yang baru. Kyu Hyun yang tidak lagi merasa dirinya sendiri, Kyu Hyun yang akan menerima orang lain, dan Kyu Hyun yang bisa lebih menerima ketulusan orang lain untuknya."

Sekarang, apa lagi yang perlu dipusingkan? Dari diskusi dadakan ini, Dong Hae menyadari satu hal, bahwa masalah tak akan selesai hanya dengan diam atau hanya dengan melihat dari satu sisi saja. Sudut pandang kita tak selamanya adalah suatu kebenaran, bukan begitu?

.

.

Ruang rawat itu sedah sepi sejak beberapa menit yang lalu setelah Sung Min pergi. Televisi dihadapan Kyu Hyun menyala, menampilkan berita kelulusan yang dilakukan serempak di negaranya. Kyu Hyun hanya diam, ia tidak khawatir mengenai kelulusannya karena Kang Seonsaeng telah mewakilkannya untuk menerima kelulusan dan beberapa saat lalu wali kelasnya itu telah memberikan informasi bahwa seratus persen siswa tingat akhir kelas regular dan akselerasi lulus. Yah, Kyu Hyun tak pernah meragukan keberhasilan sekolahnya dalam mendidik siswa.

Melihat berita sekolah, Kyu Hyun jadi mengingat Henry dan Kang seonsaeng. Dong Hae bilang mereka akan kesini. Tapi kenapa lama sekali. Kyu Hyun kira acara kelulusan hanya sebentar, dan yang membuat kelulusan menjadi lama adalah acara perayaannya.

Ish! Pasti mereka menghadiri perayaan kelulusan!

Kyu Hyun mengumpat dalam hati. Ia menarik kakinya menjadi tertekuk, kemuidan memeluk kakinya dan menumpukan dagu di atas lutut. Gerakannya sekarang sudah mulai bebas, tidak seperti ketika kedua tangannya dipasangi selang infus, tapi tetap saja satu infus ini membuatnya sedikit tidak nyaman.

"Kenapa lama sekali?" gumamnya, matanya menap punggung kakinya yang begitu putih dan terasa dingin. Kemudian ekspressinya berubah kesal. Dong Hae Hyung melupakan kaos kaki-ku.

"Sedang memikirkan apa, hm?"

Kyu Hyun mendongak, menatap seseorang yang baru saja datang. Itu Lee Dong Hae, Hyung-nya yang menyebalkan.

"Kau melupakan kaos kaki-ku, Hyung?" tanya Kyu Hyun sambil meluruskan kakinya lagi.

Dong Hae menghampirinya dan menyelimuti kaki Kyu Hyun. "Ah, ya. Aku lupa mengambilnya, tapi tenang saja Eomma datang membawa kaos kaki dan juga PSP milikmu."

Alis Kyu Hyun terangkat. "Eomma-mu? Halmeoni?" tanyanya tak percaya.

Dong Hae mengangguk. "Ya, dia sedang membicarakan keadaanmu di ruangan Jung Soo Hyung."

Kyu Hyun tersenyum senang. Kekecewaannya karena Kang seonsaeng dan Henry yang tak kunjung datang hilang begitu saja. Ia begitu merindukan Halmeoni-nya. Wanita yang sudah Eomma-nya anggap sebagai seorang ibu setelah neneknya meninggal.

Melihat senyum itu, Dong Hae ikut tersenyum. Kyu Hyun begitu jarang memperlihatkan senyum terbaiknya itu. Ia menjadi lebih lega sekarang, ia yakin kedatangan ibunya akan memperbaiki keadaan.

Dong Hae duduk di tempat biasa, di samping kiri Kyu Hyun. sesekali ia menatap pintu yang tertutup. Ibunya lama sekali datang, apa Tuan Cho begitu sulit menjelaskan semuanya pada ibunya.

Tadi, ibunya datang tepat ketika ia membuka pintu ruangan Jung Soo, setelah sepakat untuk tidak mempertemukan Kyu Hyun dan ayahnya selama beberapa hari agar membuat Kyu Hyun lebih tenang, mereka mengakhiri diskusi itu. Mata ibunya itu terbelalak ketika mendapati dia berjalan bersama seseorang yang selama ini dianggap sebagai penyebab terjadinya masalah pada keluarga Kyu Hyun. sehingga ia harus membujuk ibunya untuk mendengar penjelasan dari ayah Kyu Hyun dan membiarkan mereka berbincang di ruangan Jung Soo.

Sekarang Dong Hae begitu khawatir, apa ibunya bisa menerima penjelasan ayah Kyu Hyun atau tidak. Ia harap ibunya bisa mengerti dan membantunya menyelesaikan semua kekacauan ini.

"Apa yang dibicarakan Park seonsaeng-nim? Kenapa lama sekali?"

Dong Hae tertawa melihat kekesalan Kyu Hyun. "Kau merindukan eomma, eoh?"

"Tentu saja!" teriak Kyu Hyun bersemangat. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka.

Disana berdiri seorang wanita yang telah menua yang begitu dirindukannya. "Halmeoni!" teriak Kyu Hyun. ia merentangkan tangannya, kemudian membalas pelukan dari neneknya itu dengan begitu erat. "Bogoshipeosoyo.." gumamnya pelan.

Ibu Dong Hae menganggukkan kepala, melepaskan pelukan Kyu Hyun dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Nado." Jawabnya. "Kenapa kau samapai sakit seperti ini, eoh?" tanyanya sedikit membentak.

Tapi Kyu Hyun malah tersenyum senang. "Jika aku sakit Halmeoni akan datang, aku mau sakit terus!" ujarnya dengan ekspressi tak berdosa.

"Yak!" teriak Dong Hae dan ibunya bersamaan. Kyu Hyun tertawa mendengarnya.

"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, Kyu Hyun-ie.." ibu Dong hae mengingatkan dengan sabar, tangannya terangkat mengusap kepala Kyu Hyun dengan lembut.

Kyu Hyun tersenyum. "Mianhaeyo.." katanya, dibalas jitakan dari Dong Hae.

"Ish! Hyung! Sakit, tahu!" protesnya.

"Kau berbicara seperti itu sekarang. Kau tak ingat, tadi kau merengek ingin pulang," ujar Dong Hae. Sedikit mengejek dengan kata "merengek"

"Aku tidak merengek, Halmeoni. Dong Hae Hyung berbohong!" bisik Kyu Hyun kepada neneknya. Dong Hae hanya mencibir tak jelas. "Hyung jangan mencibir seperti itu!" protesnya pada Dong Hae.

Ibu Dong Hae tertawa dengan sikap anak cucu nya. Ia berjalan mengambil barang-barang yang ia bawa. Mengeluarkan beberapa makanan dan menyimpannya di atas meja. Kemudian menyodorka benda kesayangan Kyu Hyun. PSP! Kyu Hyun menerimanya, dan mengucapkan terima kasih. Ia melihat neneknya mengangguk dan kemudian berjalan kearah kakinya. Membuka selimut yang menutupi kakinya dan memasangkan kaos kaki, membuat kakinya terasa lebih hangat.

"Dong Hae bilang, dia melupakan kaos kakimu. Jadi aku mampir ke rumahmu untuk mengambilnya. Kenapa rumahmu berantakan sekali, hm?"

Kyu Hyun masih menatap wanita itu lekat, ia begitu menikmati sentuhan wanita itu di kakinya. Mengusap kakinya dengan lembut dan sesekali memberi pijatan. Membuatnya lebih nyaman.

"Kalau pendidikan kalian sudah selesai, sebaikanya kalian pindah saja ke mokpo. Disana, aku bisa lebih memerhatikan kalian."

Dong Hae menganggukan kepalanya setuju. "Setelah wisuda beberapa minggu lagi, aku akan menikahi Hye Hoon dan mengajaknya pindah ke Mokpo."

"Hye Hoon?" Nyonya Lee mengingat sesuatu. "Ah, kekasihmu itu? Kau tahu tidak, Eomma sangat senang ketika kau menelepon dan membawa kabar mengenai calon isteri. Oh ya, bagaimana kalau dia tak mau tinggal di Mokpo? Kau tahu, kan, Mokpo itu hanya kota kecil saja. Lagi pula, kau sendiri yang bilang kalau dia adalah seorang pengajar di sekolah Kyu Hyun?"

Dong Hae terlihat berpikir. Benar, bagaimana kalau Hye Hoon tak mau. "Bagaimana kalau Eomma saja yang pindah ke Seoul?"

"Tidak," toloak Nyonya Lee. "Ayahmu tinggal di Mokpo sampai ia menghembuskan napas terakhir. Akupun ingin sepertinga. Aku tak ingin meninggalakan rumah peninggalan ayahmu, Hae-ya.."

Mereka kemudian diam. Mungkin memikirkan lebih lanjut mengenai tempat tinggal. Mereka tak memerhatikan Kyu Hyun yang sudah merebahkan dirinya di kasur, memejamkan mata dan berusaha menghilangkan sesak yang tiba-tiba saja datang.

Eomma…bogoshipeo..

Hatinya berteriak. Kerinduan kepada ibunya tiba tiba saja datang. Melihat kedekatan Dong Hae dan ibunya, melihat perhatian ibu Dong Hae, membuatnya begitu rindu kasih sayang ibunya. Dan juga, mendengar percakapan mereka mengenai tempat tinggal, dan mengenai Dong Hae yang akan segera menikah, Kyu Hyun merasa seperti orang lain disini.

Dong Hae tentu saja tidak mungkin selamanya menjaganya, Dong Hae harus memiliki masa depan bersama isterinya, dan neneknya akan tetap di Mokpo.

Lalu, bagaimana dengan aku?

.

.

Jauh di tempat lain. Di Negara yang lain. Ki Bum tengah memandang lurus keluar jendela, dari kamar hotelnya. Matanya begitu menikmati pemandangan indah di hadapannya bersama dengan kesendiriannya.

Tadi pagi, ketika mereka baru saja sampai di kamar hotel, adiknya mengalami demam tinggi dan ibunya segera membawa adik perempuannya itu ke ruamh sakit.

Entah Ki Bum harus senang atau sedih, ia senang karena dengan keadaan adiknya yang seperti itu, ibunya bisa lebih memerhatikan adiknya. Tapi Ki Bum begitu kecewa, kenapa ibunya tak juga mengerti dengan keinginan mereka. Adiknya demam karena menangis selama di pesawat. Kenapa ibunya selalu saja egois dan mementingkan diri sendiri. Demi menemui mantan suaminya, ia tega membuat kedua anaknya sedih dan mereka dari keluarga baru di Seoul.

Ki Bum menggelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan pikiran negative mengenai ibunya. Ia sekarang hanya bisa berharap, kehidupan keluarganya menjadi lebih baik setelah pindah.

Ki Bum berjalan, memasuki area balkon kamar itu dan ia tersenyum ketika pemandangan dihadapannya terlihat lebih indah. Dari sana, ia bisa melihat kanal air yang terkenal itu. Rideau Canal Skateway, sebuah kanal air sepanjang 200 km yang dibangun dulu untuk menghadapi kemungkinan perang antara Kanada dan Amerika serikat. Yang Ki Bum tahu, kanal ini merangkap fungsi dengan skating rink dengan panjang 7,8 km ketika musim salju tiba. Sementara orang orang bermain ice skating di atasnya, di bawahnya air masih mengalir.

Ah, Ki Bum jadi mengingat Kyu Hyun. sahabatnya itu begitu menyukai semua hal yang berhubungan dengan musim dingin dan salju. Suatu saat nanti ia ingin mengajak Kyu Hyun bermain ice skating disana.

Kyu Hyun-ah, baru satu hari saja aku sudah merindukanmu!

Bel pintu kamar berbunyi. Ki Bum mengalihkan tatapannya kearah pintu dan segera berjalan untuk membukanya. Apa ibunya sudah pulang?

Pintu terbuka. Benar saja, ibunya berdiri dengan menjinjing sebuah paper bag di tangan kanannya, dan seorang laki-laki di belakangnya tengah menggendong adiknya.

"Appa?" gumam Ki Bum tak percaya.

Ayah kandungnya, mantan suami ibunya itu tersenyum pada Ki Bum. Mereka segera masuk, ayahnya itu menidurkan adiknya di kasur dan kemudian menghampirinya.

"Bagaimana kabarmu, sayang?"

Ki Bum menyambut pelukan ayahnya dengan hati berdesir. Ia baru menyadari hal ini sekarang, ia ternyata begitu merindukan ayahnya. Keberadaan ayah Kyu Hyun di rumahnya membuatnya sedikit melupakan ayah kandungnya ini.

"Appa..Bogoshipeoyo.." ujar Ki Bum. Mengutarakan isi hatinya. Ibunya tersenyum di hadapannya, sambil menyelimuti adiknya yang tengah tertidur.

"Nado, Ki Bum-ie.. ayah juga sangat merindukanmu."

Ki Bum melepas pelukan ayahnya, ia menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan senyum. "Apa kalian akan kembali?"

Mendengar pertanyaan Ki Bum, ibunya tersenyum dan mengangguk.

"Aku berencana mengajak ayah Cho-mu itu kesini untuk kuperkenalkan kepadanya. Kita harus menyelesaikan masalah, bukan? Tapi, usulmu agar ayah Cho-mu itu kembali dekat dengan Kyu Hyun bukan ide yang buruk. Aku setuju meninggalkannya disana. Dan sekedar informasi saja, Kami sudah menyelesaikan masalah perceraian di Seoul, dan ayahmu ini telah ditinggalkan isteri barunya."

"Ditinggalakan?"

Ayahnya mengagguk. "Kau tahu, aku begitu tampan. Orang tua wanita itu menikahkanku dengannya sebagai permintaan terakhir sebelum dia meninggal karena kankernya."

Ki Bum terhenyak. Kemudian tertawa lepas. "Kau? Tampan?" tanyanya tak percaya, masih dengan tawa. Hei! Ternyata ayahnya memiliki tingkat percaya diri yang tinggi!

"Ya, tentu saja. Kita sangat tampan, bukan?"

Ki Bum menganggukan kepala, tawanya belum berhenti. "Kau benar, Appa. Kita memang tampan."

Sementara mereka berdua tertawa, dan membanggakan ketampanan yang memang kenyataan itu. Ibunya tersenyum, yah.. kepercayaan diri berlebih itu mungkin sudah turun temurun.

Satu masalah terselesaikan lagi. Membuktikan betapa penting kesabaran dan kelapangan hati untuk saling memaafkan dalam menyelesaikan masalah

Sekarang Ki Bum tahu, mengapa ibunya ini begitu ingin meninggalkan Seoul dan pindah ke sini. Ternyata, ayahnya ini telah menanti kedatangan mereka untuk kembali membangun keluarga utuh, dengan tambahan bonus seorang anak perempuan yang juga akan disayangi mereka sepenuh hati.

"Besok kita akan pindah, aku sudah menyiapkan semuanya. Termasuk pernikahan kita, sayang."

Ibu Ki Bum mengangguk, kemudian menatap Ki Bum. "Kau mau mengundang keluarga Kyu Hyun? aku akan menyiapkan undangannya. Dan jangan lupa mengirimkan alamat rumah baru kita kepada ayah Cho. Dia pasti akan sering merindukan anak bungsunya."

"Kalian akan menikah lagi?" tanya Ki Bum bingung.

"Tentu saja, Ki Bum-ie.. kita kan sudah pernah bercerai," jawab sang ayah. Ki Bum hanya ber 'oh' ria.

"Bagaimana dengan berita di Seoul?" Ki Bum bertanya dengan ragu. Ia baru saja ingat mengenai gossip menyebalkan di Seoul tentang ibunya dan ayah Kyu Hyun.

"Kau tenang saja, aku sudah menyelesaikan semuanya. Tidak akan ada lagi media yang berani menyebarkan berita murahan seperti itu." Ayahnya yang menjawab.

Ki Bum tersenyum senang. Ternyata kekuasaan ayahnya itu memang berguna.

.

.

END? kkk~~

pertama-tama, mau minta maaf karena chapter 5 nya ada kesalahan penulisan nama. aku terbiasa pake namaku sendiri di ff jadi keenakan deh nulis 'Hye Rin' hehe, tapi udah aku edit kok, dan aku usahakan gak terulang lagi.

lalu, mau minta maaf juga kalau banyak typo di chapter ini karena aku cuma ngedit satu kali aja. soalnya aku ngejar update malam ini. dan juga, jadi gak bisa balas review chapter 5.. gak papa kan?

mungkin lain kali aku perbaiki typo-nya dan aku balas reviewnya.. mianhaeyo #bow

dan seperti biasa, Gomawo buat semua yang udah review!