Kyu Hyun berjalan ke luar rumah dengan menghentakan kakinya. Ia begitu kesal pagi ini. Pasalnya, sang ibu yang tak juga keluar kamarnya, dan Dong Hae yang malah menyuruhnya berangkat naik taksi karena harus menyelesaikan tugas kampus.

Dong Hae menatap kepergian anak itu dengan senyum. Ia pikir Kyu Hyun begitu lucu dengan sikap kekanakannya itu.

Setelah memastikan Kyu Hyun naik ke dalam taksi, Dong Hae kembali masuk dan membereskan peralatan makan di meja makan. Kyu Hyun tak menghabiskan sarapannya. Mungkin karena tidak ditemani ibunya?

Mengingat itu, Dong Hae melirik pintu kamar kakaknya yang tak kunjung terbuka sejak semalam. Biasanya kakak sepupunya itu akan bangun paling awal dan menyiapkan sarapan untuk mereka.

"Noona!" teriaknya.

Tidak ada sahutan. Kemudian ia menyimpan piring kotor di dalam bak cuci piring dan berjalan tergesa menuju kamar kakak sepupunya.

"Kau belum bangun, Noona?!" kali ini ia berteriak sambil menggedor pintu.

Tetap tak ada sahutan.

Dong Hae mulai cemas. Ia menggedor pintu lebih keras lagi dan tetap tak mendapat respon apapun. Kemudian berinisiatif mendobrak pintu dengan sekuat tenaga, dan…

Sungguh! Dong Hae tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kakak sepupunya. Ibunya Kyu Hyun. Tergeletak di lantai dengan kedua tangan bersimbah darah. Matnya terpejam, kulit tubuhnya membiru, dan Dong Hae melihat sebuah pisau dengan darah yang telah mengering tergeletak di samping jasad itu.

Dong Hae ingin berteriak, tapi tak bisa! Suaranya hilang begitu saja, tenggorokannya panas dan pandangan matanya mulai mengabur karena air mata. Dong Hae rasa, ia akan terjatuh sebentar lagi, karena ia merasa tubuhnya seperti melayang, tak berpijak.

Tapi sebelum itu terjadi, ia segera mengambil ponsel kakaknya yang tersimpan di atas meja di kamar itu dan menghubungi ibunya. Dong Hae bahkan tak sadar dengan apa yang ia teriakan kepada ibunya hingga ia benar-benar merasa hidupnya berakhir saat itu juga, ketika pandangan matanya menggelap dan ia tak merasakan apapun.

Ketika membuka matanya kembali beberapa jam kemudian, Dong Hae melihat ibunya duduk di sampingnya dengan senyum. Tapi senyum itu terlihat begitu menyedihkan. Matanya bergerak, memandang setiap sudut kamarnya. Kemudian ia berlari keluar kamar dan mendapati rumah itu dalam keadaan ramai.

Banyak orang yang berkunjung. Semua orang yang datang mengenakan pakaian serba hitam, tanda berduka cita.

Lalu..dimana Kyu Hyun? Anak itu berangkat ke sekolah dengan perasaan kesal, tadi!

"Eomma, Kyu Hyun?" tanyanya pada sang ibu yang telah keluar dari kamar.

Ibunya menyerahkan ponsel kepada Dong Hae. "Dia tak mengangkat panggilan dari Eomma."

Dong Hae merebut ponsel itu dan segera menelepon Kyu Hyun.

Setelah nada sambung yang ke dua, barulah terdengar suara Kyu Hyun yang terdengar masih sangat kesal. "Ada apa, Paman?"

Tak memedulikan panggilan apapun dari Kyu Hyun, Dong Hae menginformasikan berita duka itu sambil terisak. Ia bahkan tak memedulikan usahanya belakangan ini, membujuk Kyu Hyun untuk memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'. Yang ia tahu hanyalah.. Noona-nya telah pergi, selamanya.

Setelah itu, ia tak mendengar apapun. Panggilan tak terputus, tapi Kyu Hyun hanya diam. Tak menyahut apapun sampai beberapa detik kemudian anak itu berkata dengan tergagap, menuduh Dong Hae mengerjainya. Ia bilang ia tak akan tertipu.

Dong Hae semakin keras menagis. Kyu Hyun bilang tak akan tertipu, tapi anak itu mengis, meraung keras, dan tak henti memanggil-manggil ibunya hingga ia bisa mendengar beberapa orang yang menenangkan Kyu Hyun disana, kemudian panggilan terputus.

Sekitar satu jam kemudian, Kyu Hyun datang dengan diantar oleh beberapa gurunya, yang juga hendak berbelasungkawa.

Anak itu masuk ke dalam rumah dengan mata sembab, hidungnya memerah, tapi tampangnya datar dan sorot matanya kosong.

Dong Hae tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Kyu Hyun. Adiknya itu berdiri berhadapan dengan peti jenazah ibunya, menatap foto besar yang menampilkan potret ibunya yang terlihat begitu cantik. Kemudian Kyu Hyun memejamkan mata, lama.. tetap berdiri disana dengan tangan terkepal kuat. Tak membiarkan siapapun mengambil alih posisinya. Anak itu tak ingin siapapun mendekat pada ibunya, hingga ia lelah dan jatuh tak sadarkan diri.

.

Empty Heart

Cast:

Cho Kyu Hyun,

Lee Dong Hae,

Kim Ki Bum,

Henry,

Lee Hyuk Jae,

Park Jung Soo

Brothership Fanfiction

By:

Khy13

.

Kemarin Henry tak datang mengunjunginya. Hanya Hye Hoon yang datang, itupun ketika malam telah larut dan Kyu Hyun sudah tak ingin menerima tamu lagi. Yah, Hye Hoon memang bukan tamu dan tentu saja tak menuruti kata-kata Kyu Hyun. wanita itu tetap datang dan menunggui Kyu Hyun yang terlelap ditemani oleh calon suaminya, Lee Dong Hae.

Kyu Hyun sempat membuka matanya ketika Hye Hoon datang, dan yang dikatakan anak itu adalah, "Pulang lagi saja Noona. Besok pagi kau juga akan pergi lagi, kan?"

Hei, apa itu sebuah permintaan untuk tetap disini sampai besok? Ya, setidaknya Hye Hoon memahaminya seperti itu. Ia sempat tertawa melihat ekspressi Kyu Hyun yang kekanakan, sebelum anak itu kembali memejamkan matanya yang sudah sangat memerah.

Sekarang, ia duduk bersebelahan dengan Dong Hae yang masih memeriksa beberapa catatan kesehatan pasien-pasiennya. Setelah pembicaraan serius mengenai rencana pernikahan, tengah malam tadi, Dong Hae mengantar Nyonya Lee untuk tidur di rumahnya saja. Dan sekarang Dong Hae tak melakukan apapun untuk mengusir rasa bosan yang sejak tadi dirasakan Hye Hoon.

Wanita itu menguap beberapa kali, ia ngantuk dan benar-benar bosan, tapi Dong Hae mengacuhkannya. Ia bangkit berdiri dan mengambil tas tangannya yang tergeletak di atas meja, disamping berkas-berkas kesehatan yang sedang Dong Hae baca.

"Sebaiknya aku pulang. Kaupun tak memperdulikanku."

Dong Hae mengangkat kepala, menatap kekasihnya itu dengan datar. "Kau hanya perlu duduk dan menunggu Kyu Hyun bangun beberapa jam lagi. Aku sudah menyuruhmu tidur, dan kau tak mau. Lalu aku harus apa?" Dong Hae berkata pelan, nyaris berbisik. Ia tak ingin membangunkan Kyu Hyun.

"Kau marah padaku karena aku ikut menghadiri perayaan kelulusan di sekolah?" tanya Hye Hoon, beralih topik. Ia ingat, ekspressi Dong Hae ketika ia datang tengah malam tadi. Terlihat begitu kesal, dan ia baru sempat bertanya mengenai hal itu sekarang karena sejak tadi Nyonya Lee berada di antara mereka.

"Bukan karena menghadiri acara itu. Tapi kau melupakan Kyu Hyun, Hye-ya!" desis Dong Hae, tajam.

Hye Hoon melirik Kyu Hyun yang menggeliat sesaat. Ia menghela napas kasar lalu kembali duduk. "Acara itu bukan hanya hura-hura saja. Kami memiliki acara resmi dan aku tidak bisa pulang begitu saja, tadi. Lagi pula, aku harus memberikan pidato penutupan sebagai wali kelas akselerasi terbaik Kyung Hee High School," jelas Hye Hoon. Masih dengan suara rendahnya yang tajam. Ia tak habis pikir, kenapa Dong Hae tak mengerti posisinya.

"Seharusnya kau tak menjanjikan apapun pada Kyu Hyun. Kau tak tahu, Hye-ya betapa kecewanya dia seharian ini!" Dong Hae menutup bukunya, merapikan berkas yang berserakan di atas meja dan menumpuknya begitu saja. "Sung Min Hyung melakukan interview dengan Kyu Hyun tadi. Dan Kyu Hyun masih saja sulit mempercayai orang lain, terlebih setelah Ki Bum pergi. Hari ini, mungkin kau menambah alasan, mengapa Kyu Hyun tak bisa menerima siapapun lagi di hidupnya."

Hye Hoon terhenyak mendengar penjelasan Dong Hae. Ia tahu, kekasihnya ini begitu kecewa karena janjinya untuk datang berkunjung bersama Henry tidak ditepati. Tapi kenapa sampai sejauh ini? Kenapa Dong Hae seperti memberikan alasan bahwa ia tak bisa masuk kedalam kehidupan Dong Hae karena Kyu Hyun tak bisa menerimanya. Kenapa seperti sebuah ajakan perpisahan dari mulut Dong Hae?

"Aku memang berencana mengajak Henry. Kukira tak akan langsung diadakan acara kelulusan. Biasanya acara akan diadakan keesokan harinya, dan aku tak tahu mengenai kepindahan jadwal acara. Seharusnya kau mengerti, Hae-ya.. aku—"

"Hyung.."

Panggilan dari Kyu Hyun menghentikan kaliamat Hye Hoon. Kedua orang dewasa itu terkejut karena Kyu Hyun yang terbangun tiba-tiba. Terutama Dong Hae, ia segera menghampiri Kyu Hyun dan menanyakan apakah anak itu terganggu dengan percakapan mereka atau tidak. Tapi Kyu Hyun malah menangis tanpa suara, membuat Dong Hae panik dan Hye Hoon pun segera menghampirinya.

"Perutmu sakit lagi?" Dong Hae menyentuh perut Kyu Hyun dan ditepis begitu saja.

"Kau mimpi buruk, Kyu Hyun-ie?" giliran Hye Hoon yang bertanya. Tapi Kyu Hyun tak menjawab.

Merekapun terdiam. Memikirkan alasan apa yang membuat Kyu Hyun meneteskan air mata seperti itu.

"Kenapa kalian selalu menempatkanku di posisi yang sulit?" dengan suara serak, Kyu Hyun berujar. Matanya menatap Dong Hae dan Hye Hoon bergantian. "Atau aku yang selalu menyulitkanmu, Hyung?"

Dong Hae menegang ketika Kyu Hyun menatapnya dengan sendu. Mata anak itu berair dan Dong Hae sama sekali tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Benar kata Hye Hoon, mungkin Kyu Hyun mimpi buruk?

"Kyu Hyun-ie, mungkin kau—"

"Aku tak mimpi buruk dan tidak mengigau!" teriak Kyu Hyun, seolah tahu apa yang akan dituduhkan Dong Hae selanjutnya. "Aku memang sulit menerima siapapun, aku juga tak bisa mempercayai orang lain begitu saja. Tapi aku sedang berusha, Hyung! Tapi kalian semua menyulitkanku!" lanjutnya. Nada suaranya sedikit merendah.

Hye Hoon yang selalu lebih peka, menyadari hal ini terlebih dahulu. Suatu kesimpulan muncul begitu saja di benak Hye Hoon. Kyu Hyun mendengar pembicaraannya bersama Dong Hae.

"Kyu, kau mendengar percakapan kita tadi? Mianhae, eoh? Kami hanya lelah, jadi sedikit emosi, kau mengerti, kan?" tanya Hye Hoon hati-hati, wanita itu mengusap telapak tangan Kyu Hyun yang berkeringat.

"Tapi kalian bertengkar karenaku!" sahut Kyu Hyun pelan, ia melepaskan genggaman tangan Hye Hoon. "Bisakah kalian menjalani hubungan kalian seperti biasa? Anggap saja tak ada aku diantara kalian. Jangan jadikan aku alasan untuk apapun jika kalian tengah berdebat atau memutuskan sesuatu. Aku tak mau jadi penghalang, dan aku tak mau lagi sakit hanya karena merasa bersalah."

Tangan Kyu Hyun mengusap matanya dengan kasar. Ia mencoba menghentikan tangisnya. Ia benci jika harus menangis seperti ini, terbiasa dengan didikan sang ayah ketika kecil yang katanya anak laki-laki tidak boleh menangis.

Dong Hae memegang tangan Kyu Hyun. menghentikan kegiatan anak itu yang masih saja ingin menghentikan air mata yang terus jatuh. "Sudah, jangan seperti itu. Matamu akan sakit, Kyu Hyun-ie.."

"Appa bilang, anak laki-laki tak boleh menangis," lirih Kyu Hyun dengan suara terbata. Anak itu tidak sadar telah melafalkan kata "Appa" yang selama ini dihindarinya. Biasanya Kyu Hyun tak pernah sekalipun mengungkit apapun yang berhungungan dengan ayahnya.

Dua orang dewasa itu terdiam mendengarnya. Lain dengan Hye Hoon yang tertegun, Dong Hae tersenyum mendengarnya. Dong Hae yakin, Kyu Hyun sebenarnya tidak benar-benar membenci ayahnya. Mungkin, keadaanlah yang memaksa anak itu untuk membenci ayahnya.

"Siapapun boleh menangis, Kyu Hyun-ie. Kalau kau sedih, kau boleh menangis. Itu wajar, sayang.." dengan lembut, Hye Hoon mengelus rambut Kyu Hyun. Ia kemudian duduk di sisi tempat tidur Kyu Hyun dan mengusap pipi Kyu Hyun yang basah oleh air mata.

Dong Hae duduk di hadapan Hye Hoon dengan posisi menyamping, Laki-laki itu menyandarkan kepala Kyu Hyun di bahunya dan menggantikan usapan tangan Hye Rin di kepala Kyu Hyun dengan tangannya.

"Tidurlah lagi. Maafkan Hyung, eoh? Hyung tidak bermaksud menempatkanmu diposisi yang sulit, kau mengerti, kan?"

Kyu Hyun tak menyahut, ia masih berusaha meredakan tangisnya. Dong Hae dan Hye Hoon, terdiam memerhatikan adik mereka yang masih tersedu tanpa suara itu. Sebelah tangan Dong Hae merangkul Kyu Hyun dari belakang dan mengusap sebelah lengan Kyu Hyun, membuat anak itu sedikit tenang, dan Hye Hoon menggenggam kedua tangan Kyu Hyun dengan lembut.

"Kalian jangan berpisah," mata Kyu Hyun yang masih basah, menatap Hye Hoon dengan tatapan memohon. Hye Hoon melirik Dong Hae dan dibalas senyum manis laki-laki itu.

"Kenapa?" tanya Dong Hae.

Pertanyaan tak terduga itu membuat Kyu Hyun diam. Anak itu memejamkan matanya sesaat dan kemudian bergumam, "Tak ada yang menemanimu kalau aku pergi, Hyung."

Pergi? Dong Hae mengerutkan kening, bingung. "Pergi kemana?"

"Beasiswa kuliah itu kah, Kyu?" Hye Hoon mencoba berpikir positif. "Belum tarlambat kok, masih ada satu minggu lagi sebelum tutup pendaftaran," tambahnya.

Kyu Hyun tersenyum samar dan bergumam, "Seharusnya, Ki Bum-ie mengambil kesempatan itu," kemudian tak ada suara apapun lagi disana. Kyu Hyun tertidur. Sampai akhirnya Dong Hae merebahkan tubuh anak itu di atas kasur dan menyelimutinya. Ia kemudian berdiri tegak dan memeluk Hye Hoon.

"Mianhae.." gumamnya dengan lemut, Hye Hoon menepuk punggung Dong Hae pelan dan menggerutu panjang lebar karena sikap gegabah Dong Hae tadi.

"Tidak akan kuulangi lagi," ujar Dong Hae, tulus. "Dan kau harus tahu, aku belum menyetujui beasiswa untuk Kyu Hyun itu."

Hye Hoon mengangkat alis, menatap Dong Hae tajam. "Egois!"

.

.

Suara pintu terbuka kemudian tertutup samar-samar terdengar oleh Dong Hae yang masih terlelap di atas tempat tidur bertingkat dua di ruangan istirahat Kyung Hee Hospital. Dong Hae mengerang, tidak suka dengan seseorang yang mengusik tidurnya yang lelap itu. Ia baru saja memejamkan mata beberapa jam yang lalu setelah ibunya datang untuk menggantikannya menjaga Kyu Hyun. Dan sekarang, tidurnya terusik hanya dengan suara pintu. Matanya terbuka dan mencoba meraih penglihatannya yang samar itu kembali fokus. Ia bangkit, turun dari tempat tidur teratas itu tanpa menggunakan tangga, hanya dengan menggantungkan kedua kakinya di sisi tempat tidur kemudian melompat turun membuat Hyuk Jae, orang yang baru saja masuk itu menggelengkan kepalanya.

"Kau seperti anak kecil saja," komentarnya dengan nada datar. Sepertinya laki-laki itu lelah. Setelah melepas seragam dokternya, Hyuk Jae merebahkan diri di atas kasur yang bawah.

Tak peduli dengan komentar sahabatnya itu, Dong Hae duduk di atas kursi di sudut ruangan, kursi itu terbuat dari kayu dan berhadapan dengan sebuah meja belajar yang fungsinya berubah menjadi tempat penyimpanan barang. Disana ia menemukan sebuah kado kecil dengan hiasan pita berwarna pink, membuat tawa Dong Hae meledak begitu saja.

"Kau tidak bisa diam? Aku ingin tidur!" dengus Hyuk Jae kesal.

"Oh, Hyuk! Seleramu manis," ejek Dong Hae, ia mengangkat kado kecil itu dan membuka pitanya. "Kubuka saja, ya." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan karena tangannya telah terlebih dahulu membuka pita itu dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk boneka kelinci yang juga berwarna pink. Dong Hae tertawa lebih keras sambil menggantung benda itu di jari telunjuknya.

Hyuk Jae bangkit, merebut gantungan itu dan memasukannya kedalam saku kemeja hijau polos yang dipakainya. "Ini hadiah dari pasien. Kau tahu, kan, pasienku semuanya anak-anak."

Seharusnya Dong Hae tahu itu kan? Tapi Dong Hae seperti baru menyadarinya. Ia menghentikan tawa dan menganggukan kepala. "Aku lupa," ujarnya acuh.

Hening sejenak, sebelum Hyuk Jae memulai percakapan lagi. "Anak yang memberikan kado itu, kau ingat anak perempuan yang ditangani Sung Min Hyung? Schizoid Personality Disorder?"

Dong Hae mengangguk

"Dia baru saja meninggal."

"Mwo?"

Hyuk Jae mengangguk dan kemudian menundukan kepalanya. Dong Hae masih tercengang mendengar berita duka itu. Ingatannya kembali ke awal pertemuannya dengan anak perempuan itu. Anak itu selalu mencoba bunuh diri, mungkin karena stress dan tertekan.

"Apa, bunuh diri?" tanya Dong Hae hati-hati. Ia sangat tahu bagaimana terlukanya ketika pasien yang ditangani meninggal dunia.

"Dia beberapa kali menolak berobat. Bahkan orang tuanya menelepon pihak rumah sakit meminta Sung Min Hyung datang," Hyuk Jae mengangkat kepalanya, menatap Dong Hae dengan sorot terluka. "Tapi dia memilih untuk menyerah. Dia menusuk jantungnya sendiri," katanya, dengan lirih. Matanya mulai berkaca-kaca dan beberapa detik kemudian dua bulir air bening itu jatuh membiarkan bulir-bulir lainnya mengikuti, membasahi pipinya yang putih.

"Memang terlihat seperti, dia telah menyerah. Tapi sebenarnya, bagaimanapun caranya dia memang hanya memiliki sisa usia sampai di situ saja, Hyuk. Dengan atau tanpa mengakhiri hidupnya sendiri," Dong Hae bangkit dari duduknya dan duduk bersila di atas kasur, berhadapan dengan Hyuk Jae. "Aku selalu ingat kata-kata Appa yang satu itu. Dulu, aku sempat takut untuk menjadi seorang dokter. Aku takut tidak bisa menyembuhkan kembali orang yang sakit. Tapi Appa meyakinkanku bahwa sebenarnya usia manusia itu telah ditentukan, jika Tuhan menginginkan hidup manusia tersebut berakhir sampai di sana, kita bisa apa?"

Hyuk Jae tetap diam, memilih untuk tetap melanjutkan tangisnya. Dalam hati, ia membenarkan perkataan Dong Hae, dan Dong Hae pun tahu itu karena ia bisa melihat bibir Hyuk jae yang sedikit melengkung ke atas membentuk sebuah senyum samar.

"Menangislah sepuasmu disini, tapi ingat, jangan menangis di hadapannya. Dia tak akan suka itu, Hyuk."

Hyuk Jae mengangguk, kemudian menghapus air matanya. "Menemaniku menemuinya, mau tidak?"

Dong Hae menganggukan kepalanya, kantuk yang sejak tadi dirasakannya hilang begitu saja. Ia ingin menemui anak itu, memberikan penghormatan terakhir pada jasad anak kecil yang sempat membuatnya sadar mengenai keberadaan Kyu Hyun disisinya.

.

.

Siang ini, suasana di kamar rawat Kyu Hyun menjadi sedikit hangat. Disana ada Henry, Nyonya Lee dan juga Park Jung Soo yang tengah membujuk Kyu Hyun untuk makan.

Kyu Hyun duduk dengan kaki bersila di atas tempat tidur, dihadapannya telah ditempatan sebuah overbed table yang menjadi tempat tersajinya beberapa makanan dan satu mug Yuja Cha untuk Kyu Hyun.

Sejak kemarin, selera makan Kyu Hyun kurang baik dan sekarang bertambah buruk karena dihadapannya tersaji semangkuk seolleongtang, sup berkuah putih buram dari tulang daging sapi yang telah direbus berjam-jam lengkap dengan irisan daging sapi dan beberapa lembar tipis lobak dan bawang di atasnya, juga semangkuk nasi menyertai makanan itu. Aroma kuah kaldu itu memenuhi ruangan dan membuat perutnya terasa mual. Ia masih enggan memakan makanan apapun selain buah-buahan segar. Padahal Nyonya Lee telah membuatkan semua makanan itu agar Kyu Hyun lekas sembuh dengan semua gizi yang terkandung dalam makanannya.

"Kau payah, Kyu. Seperti anak kecil saja," ejek Henry, ia kemudian iseng mengambil PSP milik Kyu Hyun yang ada di samping bantal. Sebelum sempat menyalakan benda itu, Kyu Hyun sudah terlebih dahulu berteriak, membuatnya kaget dan ia segera menyimpan PSP itu di tempatnya tadi. Takut-takut Kyu Hyun melemparinya dengan sebuah mug keramik yang telah dipegang laki-laki itu.

"Berani kau memainkannya?" desis Kyu Hyun tajam. Henry mengernyit ngeri dan menggelengkan kepalanya cepat. "Bagus," balas Kyu Hyun dengan sebuah senyum manis. Lalu meminum Yuja Cha-nya dan terlihat sangat menikmati minuman itu. Teh yang dibuat dengan tambahan sitrun dan madu itu, membuat perutnya nyaman. Apalagi dengan air yang maih panas, membuat tenggorokannya hangat.

Jung Soo dan Nyonya Lee hanya tertawa melihat tingkah keduanya.

Nyonya Lee mengusap bahu Kyu Hyun, kemudian beralih menatap Henry. "Kau ingin makan Juga, Henry?"

Mata Henry berbinar. Anak itu menganggukan kepala dengan penuh semangat. Tapi kemudian merengut ketika Kyu Hyun menatapnya lagi. "Bolehkah?" tanyanya ragu. Nyonya Lee tersenyum dan mengangguk.

"Kau boleh memakan ini, Mochi. Boleh semuanya!" seru Kyu Hyun senang. Ia sedikit mendorong overbed table dihadapannya. Tapi Jung Soo menghentikannya. Dokter itu menatap Kyu Hyun sambil menggelengkan kepalanya.

"Yang ini jatahmu, Kyu Hyun-ah. Untuk Henry, masih ada yang lain."

Kali ini Kyu Hyun yang merengut karenanya, bibir anak itu sedikit mengerucut karena kesal. Ia melirik neneknya yang mengeluarkan Jajangmyeon dari dalam lemari makanan disana dan memberikannya kepada Henry.

Henry menerimanya, kemudian segera duduk di sofa dengan nyaman, siap menyantap makanan yang ia simpan di meja. Baru saja ia hendak menelan suapan pertamanya, Kyu Hyun memanggilnya dan menyuruhnya untuk makan di atas kasur.

"Aku tak suka makan sendiri," Kyu Hyun melirik Henry dengan tatapan memohon. Henry mengangguk dan membawa makanannya, menyimpannya di atas overbed table dan kemudian naik ke atas tempat tidur. Duduk bersila dihadapan Kyu Hyun.

"Selamat makan!" seru Henry sambil mengangkat sumpit di tangannya.

"Yak!" Kyu Hyun menghentikan suapan pertama Henry lagi. Laki-laki yang di panggil mochi itu menghela napas kesal dan menatap Kyu Hyun seolah tatapannya itu berkata 'ada apa lagi?'

"Boleh bertukar makanan?" pinta Kyu Hyun. matanya tak lepas dari semangkuk jajangmyeon yang tersaji di hadapannya. Mi dengan saus pasta kedelai hitam kesukaannya itu seolah memanggilnya untuk segera dimasukan kedalam mulut.

Henry menatap Jung Soo dan Nyonya Lee bergantian, tapi tak ada respon. Kemudian menatap Kyu Hyun lagi. "Tapi kau harus memakan seolleongtang itu, agar lekas sembuh."

Tatapan Kyu Hyun berubah sendu. "Ya sudah, selamat makan," tukas Kyu Hyun pelan, kemudian mulai menyeruput kuah sup dihadapannya.

Henry memerhatikan Kyu Hyun yang makan tanpa selera, membuatnya iba. Ia mengambil jajangmyun dengan sumpit kemudian menyodorkannya ke hadapan Kyu Hyun sehingga Kyu Hyun menghentikan makannya dan mengangkat kepala.

"Tapi aku bisa berbagi," ujarnya dengan Ramah. Kyu Hyun tersenyum dan membuka mulut, membiarkan Henry memasukan jajangmyeon itu ke dalam mulutnya, kemudian mengucapkan terima kasih tanpa menghilangkan senyumnya.

"Anda ingin ini juga, Park seonsaeng-nim?" Henry bertanya pada Jung soo yang sejak tadi jarang berbicara. Tapi Jung Soo menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

Jung Soo berdiri dari duduknya dan mengatur tetesan cairan infus dalam selang agar berhenti untuk sementara. Membiarkan Kyu Hyun leluasa menggerakan tangannya tanpa takut darahnya yang berbalik naik masuk ke dalam selang.

Nyonya Lee membiarkan mereka makan. Ia memilih duduk di atas sofa, dan membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya dengan perasaan was-was.

Eomma, dia akan segera kesana. Aku harus mengunjungi orang tua pasien yang meninggal. Kutitip Kyu Hyun, ya.

Sekarang? Hari ini?

Nyonya Lee memejamkan matanya sesaat, hatinya begitu khawatir saat ini.

Tuhan..semoga semuanya baik-baik saja..

Jung Soo menghampiri Nyonya Lee dengan ponsel di genggaman tangannya. Ia juga baru saja mendapatkan pesan sejenis dari Dong Hae, mungkin Dong Hae begitu khawatir dengan Kyu Hyun hingga menitipkannya pada semua orang.

"Dia berteriak histeris ketika melihat ayahnya itu pada saat ibunya meninggal," Nyonya Lee memulai. "Kukira itu akan terjadi lagi, Kyu Hyun bilang ia tak akan pernah ingin bertemu lagi dengan ayahnya."

"Pasti ada yang berubah, Nyonya. Termasuk diri Kyu Hyun."

Nyonya Lee terdiam sesaat, kemudian bergumam, "Ya, semoga saja."

.

.

Isak tangis memenuhi rumah duka, Hyuk Jae dan Dong Hae menyelesaikan penghormatan terakhirnya ketika seseorang masuk dan berteriak histerias meneriakan nama seorang anak yang kini telah tiada. Itu ibunya. Hyuk Jae bilang, ibunya adalah orang pertama yang menemukan anak ini di kamarnya dalam keadaan tak bernyawa dengan pisau yang masih menancap di dada kirinya.

Dong Hae mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Ketika ia menemukan Kim Ha Na, kakak sepupunya yang juga mengakhiri hidupnya sendiri di dalam kamar. Terasa sangat sakit ketika mengingatnya, seperti baru saja terjadi kemarin, tak pernah bisa ia lupakan.

Hyuk Jae menghampiri wanita itu, mungkin untuk menyampaikan bela sungkawa. Sedangkan Dong Hae memilih mengalihkan pandangannya, menatap foto berbingkai kayu di hadapannya dengan senyum miris.

Foto itu seolah mengolok-olok siapapun yang melihatnya. Gadis kecil itu ternyenyum manis, dengan raut muka segar dan tampak begitu bahagia. Tapi Dong Hae berpikiran lain, ia pikir bagaimana mungkin gadis itu dapat tersenyum sebahagia itu jika ia melihat keadaan ibunya yang seperti ini?

Tapi kemudian ia memejamkan matanya. Mengenyahkan semua pikiran aneh itu dan berdoa untuk gadis kecil yang pernah menjadi pasiennya itu.

Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, semoga kau bahagia dengan takdirmu berikutnya, dan semoga Tuhan bisa membantu keluargamu untuk merelakan kepergianmu.

Ketika membuka matanya, Dong Hae melihat Hyuk Jae tersenyum di sampingnya. Sahabatnya itu juga mungkin baru saja berdoa.

"Bisakah kau berdoa satu hal yang sama denganku?" tanya Dong Hae. Hyuk Jae menatapnya bingung.

"Bisakah kita sama-sama berdoa agar tak ada seorangpun di kehidupan kita setelah ini, yang melakukan tindakan sama seperti ini?"

Hyuk Jae tersenyum, ia mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Tangannya tertangkup di atas dada dan dia benar-benar meminta hal yang sama dengan Dong Hae.

Tuhan.. Jika saja memang akan ada lagi kepergian seseorang di hidupku, jangan biarkan orang itu memilih cara seperti ini untuk pergi.. dan jika telah tiba saatnya aku pergi, jangan biarkan orang yang kutinggalkan merasakan sakit ini, sakit ditinggalkan seperti ini.

.

.

Cho Kyu Hyun menatap laki-laki di hadapannya tanpa berkedip. Ia baru saja menyelesaikan makannya dan hendak minum obat, tapi ia urungkan ketika laki-laki itu masuk begitu saja kedalam kamar rawatnya. Henry yang sudah turun dari kasurnya menatap Kyu Hyun dan laki-laki yang baru saja masuk itu bergantian, ia tak tahu siapa laki-laki itu dan kenapa Kyu Hyun memasang ekspresi seperti itu. Seperti kemarahan, atau ketakutan? Entah, yang Henry tahu adalah Kyu Hyun sangat terkejut.

Tuan Cho. Laki-laki yang ditatap Kyu Hyun itu menyunggingkan senyum canggung. Mungkin ia mencoba menghilangkan rasa gugup yang sejak tadi dirasakannya. Ia membuka mulut ragu dan belum sempat ia berucap, Kyu Hyun bergerak mundur di atas tempat tidurnya.

Jung Soo dan Nyonya Lee yang masih duduk di sofa beranjak berdiri dan menghampiri Kyu Hyun. Jung Soo kembali mengatur cairan infus agar kembali menetes, sedangkan Nyonya Lee menggenggam tangan kanan Kyu Hyun, seperti memberi sedikit kekuatan untuknya.

"Henry," Nyonya Lee beralih menatap Henry. "Kau bisa tunggu di luar bersama Park seonsaengnim?"

Henry menganggukan kepala dan segera pergi dari sana, diikuti oleh Jung Soo yang memberikan seulas senyum kepada Kyu Hyun sebelum ia menutup pintu dari luar.

"Kyu Hyun-ah.." Kalimat pertama dari mulut Tuan Cho, terdengar sangat lirih.

"Untuk apa dia kesini, Halmeoni?" tanya Kyu Hyun tanpa mengalihkan tatapan awas-nya pada Tuan Cho. Nyonya Lee menghela napas, ia pikir ini akan sedikit sulit.

"Dia—"

"Pergi!"

Ya Tuhan! Kyu Hyun berteriak, Nyonya Lee merasa seperti ia kembali ke beberapa tahun lalu diamana Tuan Cho hadir di pemakaman ibunya Kyu Hyun dan anak itu berteriak keras-keras mengusir ayahnya.

"Aku ingin dia pergi, Halmeoni! Kau mendengarkanku, kan? kubilang dia harus pergi!" teriak Kyu Hyun lagi, matanya bergerak gelisah, bergantian menatap Tuan Cho dan Nyonya Lee tanpa fokus.

"Tidak Kyu Hyun-ah, kau harus mendengarkanku!" Tuan Cho bersikeras. Kakinya melangkah perlahan mendekati Kyu Hyun dan anak itu mundur lebih jauh lagi, merapatkan punggungnya pada kepala tempat tidur, selang infus di tangannya hampir terlepas karena gerakan yang tiba-tiba itu. Ia benar-benar tak senang dengan kedatangan Tuan Cho.

"Kenapa kau mendekat?! Kubilang, pergi! Kau harus pergi!" teriakan Kyu Hyun berubah menjadi desisan tajam, matanya tak lepas dari sosok sang ayah di hadapannya, tangan kanannya menggenggam erat tangan Nyonya Lee sampai Nyonya Lee mengernyit kaget.

Segera Nyonya Lee berdiri. "Sebaiknya kau pergi," ujarnya dingin. Tuan Cho menatapnya tak percaya. Tapi ia enggan membalas tatapan itu, ia memilih menatap Kyu Hyun dan mengusap rambut Kyu Hyun, memberi sedikit ketenangan. "Kyu Hyun tak ingin menemuimu dulu," lanjutnya.

Tuan Cho menghela napas. Menyerah untuk mendekati anaknya itu, ia mundur selangkah dan bergeming di tempatnya sampai beberapa detik kemudian ia mulai bisa membuka mulut untuk berbicara.

"Pernahkah kau merindukanku?" mulainya, "Ah tidak, pernahkah sekali saja kau mengingatku? Atau setidaknya pernahkah kau ingat bahwa aku pernah menjadi ayahmu?"

Tak ada sahutan, Tuan Cho melanjutkan, "Jika tidak pernah, tak apa. Tapi Kyu Hyun-ah, aku tak pernah berhenti memikirkanmu," Tuan Cho menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak, maksudku memikirkan kalian sejak aku keluar dari rumah. Kupikir aku telah melakukan kesalahan terbesar ketika aku memilih untuk—"

"Kau memang melakukan kesalahan besar! Kau meninggalakan eomma!" teriakan Kyu Hyun menggema lagi di ruangan itu, mungkin Jung Soo dan Henry yang duduk di kursi tunggu di luar kamar dapat mendengar teriakan Kyu Hyun.

"Aku tahu! Tolong dengarkan aku, Kyu," pintanya dengan nada melemah. Ia mengambil napas banyak-banyak kemudian melanjutkan. "Aku sangat tahu, aku salah dan mungkin tidak ada cara untuk memperbaiki kesalahanku. Bahkan orang yang harus memaafkankupun telah tiada! Aku harus apa, Kyu Hyun-ah? Kau tak tahu, betapa sakitnya merasa bersalah itu!"

Setetes air mata mulai jatuh, Tuan Cho yang tak pernah menangis itu kini tak malu menampakkan betapa tertekannya ia kali ini, betapa sakitnya ketika anaknya sendiri tak ingin menerimanya.

"Kau tak suka melihatku, aku tahu. Tapi kau harus tahu, aku meninggalkan kalian bukan tanpa alasan. Bukan karena aku tak mencintai ibumu lagi, bukan karena aku memiliki wanita lain atau jika kau berpikir aku memilih wanita kaya sebagai pengganti ibumu, kau salah besar. Aku tahu, alasan apapun yang kukatakan tak akan mengembalikan ibumu. Kau bilang, kau akan memaafkanku jika aku mengembalikan ibumu?"

Hening sejenak. Tuan Cho masih menunggu jawaban Kyu Hyun.

Nyonya Lee juga ikut menatap Kyu Hyun, tak mengerti maksud dari pembicaraan satu pihak ini.

"Benar begitu, Kyu Hyun-ah?" tanya Tuan Cho, lagi.

Kyu Hyun mengangguk ragu, ia sedikit mengingat tentang pertemuannya dengan Tuan Cho ketika ia berkunjung ke makam ibunya.

"Bisakah kau ganti syaratnya? Bagaimana kalau… kalau.. aku akan menemani ibumu? Kau bisa memaafkanku?"

Pertanyyan itu sukses membuat Kyu Hyun dan Nyonya Lee membelalakan matanya. Jantung Kyu Hyun berdegup kencang, apalagi dengan senyum milik Tuan Cho itu. Seolah dia tak mengatakan apapun, seolah kalimat terakhir itu hanya bualan saja. Tapi Kyu Hyun tahu, ayahnya ini tak pernah sembarangan berbicara, tak pernah sekedar menggertak atau menakut-nakuti. apa maksudanya ini?

"Terima kasih telah bersedia mendengarkanku," Tuan Cho membungkukan badan dan berlalu dari ruangan itu.

Kyu Hyun tak bergerak sama sekali setelah pintu tertutup sempurna. Ia menatap pintu itu dengan tatapan kosong.

Jung Soo, Henry dan juga Dong Hae yang telah selesai dengan urusannya, menyerbu masuk dan mengerubuni Kyu Hyun yang tak bergerak seinchipun.

Mereka semua menjadi khawatir, Henry yang sudah mendengar semua permasalahannya dari Jung Soo dan Dong Hae tadi, Hanya bisa menatap Kyu Hyun dengan mata berkaca-kaca.

"Kyu Hyun-ah, gwaenchana?" tanyanya tergagap, suaranya bergetar dan air mata menetes begitu saja ketika Kyu Hyun tak menyahutnya sama sekali.

Dong Hae menepuk pipi Kyu Hyun, Jung Soo mengambil stetoskopnya dan segera memeriksa anak itu. Ia bisa mendengar, jantung Kyu Hyun yang berdetak cepat tak beraturan, napas anak itu tersenggal dan tubuhnya berkeringat dingin.

"Pasangkan selang oksigennya Dong Hae-ya!" titah Jung Soo dengan panik. "Aku akan mengambil obat!" kemudian Jung Soo menghilang di balik pintu.

Dong Hae mengambil selang oksigen yang tergantung di belakan Kyu Hyun dengan tangan bergetar, kemudian memasangkannya pada hidung Kyu Hyun dibantu oleh Henry.

"Kyu Hyun-ie, kau dengar Hyung?" Dong Hae berteriak frustasi. "Kyu! Ikuti Hyung, tarik napas perlahan saja, kau jangan seperti ini!"

Mata Kyu Hyun bergerak-gerak gelisah, tangan Nyonya Lee yang masih menggenggamnya di cengkram erat menyalurkan apapun yang berkecamuk dalam hatinya. Kyu Hyun merasa dadanya sangat sakit, kedua matanya panas, seperti hendak menangis, tapi tak bisa!

"Kyu Hyun-ie, sayang.. sayang.. kau dengar Halmeoni?"

"Bisakah kau ganti syaratnya? Bagaimana kalau… kalau.. aku akan menemani ibumu? Kau bisa memaafkanku?"

Kalimat itu terus berputar dikepala Kyu Hyun. Tidak! Bukan ini yang Kyu Hyun inginkan, tidak seperti ini!

Bagaimana kalau… kalau.. aku akan menemani ibumu?

Aku akan menemani ibumu?

Aku akan menemani ibumu!

Berulang.. terus berulang, hingga Kyu Hyun merasa kepalanya penuh dan sebentar lagi akan meledak. Ia sangat takut sekarang, kalimat itu begitu mengerikan untuknya. Napasnya semakin tercekat, tubuhnya menggigil, dan bibirnya bergetar. Dadanya yang sejak tadi sakit, kini terasa seperti terbakar dan seperti tak ada sedikitpun oksigen yang berhasil di hirupnya. Selang oksigen itu seolah tak berguna. Hingga ia menyerah, dan menutup matanya.

"Kyu.. Hei, Cho Kyu Hyun! Kyu! KYU!"

.

.

-END-

Ini beneran end, loh!

Semuanya sudah selesai, kan? Gak ada yang gantung kagi, kan?

Kata "End" di chapter sebelumnya cuma becanda aja kok, hehehe kirain gak bakalan ada yang percaya

Dan tentang endingnya ini, jangan serang author, eoh! Kk~~

Mianhae kalau ada yang merasa tidak puas dengan endingnya #bow

.

Untuk FF berikutnya, aku mau bikin yang romance-romance gitu dan tentu dengan main cast Kyu Hyun. Tapi karena aku bingung mau dipasangin sama siapa Kyu nya.. Kalian harus ngasih saran, ya..dan alasan kenapa aku harus milih dia.

Rencananya mau GS, terserah kalian mau nyaranin GS di Kyu atau di yang lain.

Gomawo sebelumnya.. dan Gamawo udah bersedia baca FF ini sampai nemu ending yang absurd ini..

Oh ya satu lagi permintaanku, mau gak kalian kasih tau aku apa aja pelajaran yang bisa di tangkap dari cerita ini.. aku lg belajar masukin banyak pembelajaran dalam cerita, tapi gak tau berhasil apa enggak.

Untuk semua yang udah review.. ucapan terimakasih buat kalian gak terbatas loh.. kalau aku tulisin disini pasti gak muat.. sangat-sangat-sangat terimakasih!

-Khy13-