Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha, PowerFX, Internet, et cetera. No commercial profit taken.
Warning very cliché, possibly typo(s), bahasa kasar, galau gagal, kinda messy writin', informasi yang tidak akurat mengenai kepolisian dan rumah sakit. Kesamaan ide harap dimaklumi.
So Goodbye
by datlostpanda—sekarang devsky
Di luar perkiraan, ruangan itu hening. Senyap. Tidak ada yang bicara ataupun bergerak.
Len berkedip dua kali, menanti reaksi Yuuma. Mungkin beberapa buah komentar, mungkin juga beberapa pertanyaan. Tapi dia tidak mendapat satu pun dari lelaki yang terbalut pakaian rumah sakit itu. Dia mengalihkan mata pada Tadayuki Yohio dan Shion Kaito. Jelas mengharapkan bantuan. Namun orang-orang yang diharapkan Len sama sekali tidak membantu dengan hanya melirik satu sama lain. Seperti sedang bertukar kode rahasia dan hanya mereka berdua yang tahu artinya.
Kebekuan baru hilang saat Yohio membuat gerakan meraba saku celana. Kelihatan seperti mencari sesuatu. Entah sengaja, entah sandiwara belaka.
"Ah! Sepertinya aku kehabisan rokok." Dia berkata sambil merogoh kantung celana. Yakin apa yang ia cari tidak ada, ia segera menatap Len. "Hei, Len, cepat pergi dan belikan aku beberapa bungkus rokok!"
Len sedikit kaget. Satu set manik biru itu berkedip cepat. "Eh?! Kenapa harus aku?"
Mudah saja. "Karena kau yang paling muda di sini."
"Apa hubungannya dengan usia?!"
"Peraturan Kepolisian Nomor Satu: Anggota paling muda harus tunduk pada perintah anggota yang lebih lama."
"..."
Len tidak tahu kepolisian juga kenal senioritas.
Wajah Len kelihatan tidak suka. Ia baru saja membuka mulut, kelihatan hendak protes, namun Yohio tidak membiarkannya. Laki-laki itu segera menarik kerah baju Len. Langsung menyeretnya menuju pintu.
"Hei! Tadayuki-san—!"
"Nah, Anak Bawang, cepat pergi dan belikan aku rokok!"
"Tapi, kita sedang di rumah sakit! Kau tidak boleh merokok di rumah sakit."
"Kalau begitu tunggu kami di tempat parkir setelah kau dapatkan rokoknya dan jangan pernah kembali ke sini!"
Setelah mengatakan itu, Yohio mendorong tubuh Len keluar dan segera menutup pintu. Dia bisa membayangkan ekspresi kesal yang melekat di wajah anak itu, tapi memutuskan untuk tidak peduli.
"Hei, kau terlalu berlebihan mengusirnya seperti itu," komentar Yuuma. Segera setelah Yohio menjauh dari pintu. "Lagi pula, memangnya ada peraturan seperti itu?"
Kaito mengedikkan bahu tak acuh. Senyum masih menempel di wajah. Yuuma mencium bau konspirasi dari dia dan Yohio. "Negara ini luas, Yuuma," kata Kaito. "Pasti ada salah satu tempat yang menerapkan peraturan itu."
"Tapi tetap saja keterlaluan," balas Yuuma.
"Ganjaran yang pantas untuknya, kupikir." Yohio menanggapi. Pemuda itu duduk di sofa yang bergeming di sudut ruangan. Samar-samar mengernyit, menyadari sofa itu tidak seempuk perkiraannya.
Yukio Yuuma menghela napas, tanda menyerah. Ia hanya menoleh pada Kaito yang masih bergeming tak jauh dari tempat tidurnya.
"Dari pada itu, apa berita yang Len bilang itu benar?"
"Berita apa?"
Yuuma mendengus. "Kau tahu apa maksudku, Kai—tentang Gakupo dan Luka? Itu benar?"
Kaito tidak langsung menjawab. Dia menatap Yuuma sejenak. Senyum yang tadi merekah telah hilang digusur ekspresi simpati.
"Sayangnya, itu memang benar." Kaito membiarkan sebuah jeda menyusup di tengah-tengah. "Acara pertunangan mereka akan digelar dua minggu dari sekarang."
Yuuma tidak merespon. Dia berusaha mendengarkan informasi yang diberikan Kaito sampai habis. Sekuat mungkin menjaga ekspresi agar tetap netral, tapi rahangnya perlahan mengencang.
"Yang kudengar dari Meiko, resepsi pernikahan Luka dan Gakupo akan menyusul beberapa bulan setelahnya. Hotel, gaun pengantin, cincin, semua sudah siap. Hanya kurang detil-detil kecil. Rencananya benar-benar sudah sangat matang."
Perut Yuuma seperti dihantam batu karang berukuran besar. Gelegak perasaan yang tak terdefinisi berturbulen dalam tubuhnya. Mungkin dia marah atau kecewa. Mungkin juga keduanya. Namun di matanya tak ditemukan luapan emosi. Hanya ada bola mata kuning yang digelayuti awan frustasi. Hampa.
Yuuma seperti menelan kembali gundukan emosinya dalam-dalam. Hal ini membuat Kaito dan Yohio otomatis mengernyit, membayangkan sesak yang menghimpit dada rekannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kaito cepat. Lebih seperti refleks karena rekannya tersebut tidak sedikit pun memberi tanggapan.
Yuuma menoleh pada Kaito. Wajahnya diusahakan datar seperti waktu-waktu biasa.
"Tentu saja," jawabnya. "Tidak pernah sebaik ini."
"Jangan bercanda," dari tempatnya duduk, Yohio mendengus jijik. "Kau pikir kami percaya ada orang yang baik-baik saja saat istrinya akan menikah dengan orang lain? Kau kira kami ini tolol apa?"
Desah lelah lolos dari Yuuma ketika temannya tersebut kembali mengungkit soal status mereka—Yuuma dan Luka.
Dia dan Luka memang pernah saling mengenal dan ... mungkin juga sedikit lebih dari itu. Mereka pernah bersatu dalam balutan janji. Dulu, lima tahun lalu. Kaito yang pertama mengenalkan Yuuma pada sosok Megurine Luka. Mereka adalah teman waktu SMP dulu. Luka juga adalah sahabat dari Sakine Meiko, notaris muda yang beberapa bulan terakhir ini telah menjadi istri sah Kaito.
Itu adalah hari-hari yang—entahlah, Yuuma sendiri bingung bagaimana harus menyebutnya. Menyenangkan? Surga? Valhala? Baiklah, mungkin sedikit berlebihan. Tapi, kurang lebih, semacam itulah.
Waktu itu, Yuuma seperti menemukan dunianya yang lain. Sebuah dunia yang nyaman dan damai dan menyenangkan. Bukan dunia yang berisi gedung-gedung tua, sekawanan mafia, serta bunyi peluru-peluru yang berjatuhan ke lantai. Dia seperti menemukan Valhala-nya sendiri.
Namun, sekali lagi, itu dulu. Masa-masa bahagia itu kini berakhir bersama diajukannya surat cerai dan ketukan palu hakim. Dan tentu saja, mengungkit-ungkit masa lalu bukan hal menyenangkan. Terlebih itu urusan pribadi. Karena itu, Yuuma segera angkat bicara.
"Kalian berdua, dengar dan perhatikan baik-baik." Yuuma mengangkat tangan ke udara. Mulai muak. Sudah puluhan kali mereka membahas masalah ini. "Luka bukan lagi istriku. Kami sudah resmi bercerai tiga tahun yang lalu, ingat?"
Yohio memutar bola mata. Tentu saja dia masih sangat ingat. Yohio bahkan hadir mendampingi Yuuma ketika itu. Dengan sedikit paksaan dan kekerasan, tentu saja—mana mau dia datang ke sidang perceraian teman dekatnya. Apalagi alasan perceraian yang mereka ajukan kelewat mengada-ada. Seperti disengaja. Seolah dibuat-buat. Mirip tayangan drama. Opera sabun paling klise.
"Ya, ya," pemilik mata sewarna batu mirah mendengus. "Aku sudah pernah dengar alasan seperti itu."
"Itu fakta, Hio."
Yohio bangkit dari sofa dalam sekali gerakan. Emosinya terpancing. "Oh, lihat ini! Kau mulai bicara tentang fakta. Baiklah, kuberitahu sebuah fakta tak terbantahkan: Kalian berdua tidak bercerai atas keinginan kalian sendiri. Itu faktanya, matey. Itu faktanya."
"Kau bicara seolah-olah tahu semua persoalan kami," protes Yuuma.
"Aku memang tidak tahu," dengan malas, Yohio melipat kedua tangannya, "tapi aku bisa berspekulasi. Jangan salahkan aku. Kalian berdua—kau dan Luka— terlalu mudah dibaca."
Jeda beberapa detik.
"Aku bahkan berani bertaruh, sampai detik ini pun, kalian sebenarnya masih ingin bersama."
"Kau mengada-ada."
Yohio melemparkan tatapan menantang. "Benarkah? Kalau begitu, sekarang jelaskan padaku, kenapa kau bisa ada di tempat ini?" Telunjuk itu menuding. "Kau, Yukio Yuuma, polisi berpengalaman dan naluri alami, bisa terluka dalam misi hingga empat kali dalam jangka waktu kurang dari dua bulan. Berikan aku penjelasan. Sekarang."
Tak ada lagi yang bicara setelah Yohio mengatakan itu. Semuanya diam. Yohio menunggu jawaban, Kaito mengawasi keadaan, sementara Yuuma sibuk menekuri pikiran.
Tentu saja, semua yang dikatakan Yohio benar. Semuanya. Dari A sampai Z. Siapa yang selama ini Yuuma coba bohongi di sini? Pandangan orang-orang atau dirinya sendiri?
Pernikahan Yuuma dan Luka pada dasarnya memang baik-baik saja. Tak ada masalah apalagi prahara. Tak pernah ada pertengkaran berarti karena mereka saling melengkapi dan saling mengisi, persis seperti potongan puzzle. Tak diragukan lagi, mereka teramat bahagia. Yohio bahkan pernah secara terang-terangan mengaku iri melihat betapa serasinya mereka. Seorang polisi dan seorang dokter—apa yang kurang dari mereka, omong-omong?
Satu-satunya masalah yang mereka hadapi hanyalah Luki, kakak laki-laki Luka. Satu-satunya keluarganya yang tersisa.
Luki tak pernah sekali pun menyukai keberadaan Yuuma. Entah karena alasan apa, ia sendiri tidak mengerti. Kalau saja Luka tidak benar-benar mencintai Yuuma, dia tidak akan pernah mengijinkan mereka berdua menikah. Di mata Luki, adik perempuannya pantas mendapat suami yang jauh lebih baik—si Kamui itu, misalnya.
Luki dan Gakupo sebetulnya sudah lama mengenal. Entah bagaimana mereka bertemu, tapi yang Yuuma tahu dia pernah bersekolah di tempat yang sama dengan Luka dan Kaito, sebelum akhirnya pindah ke kota ini.
Awalnya Yuuma tidak terlalu memikirkan Luki. Dia mencoba menganggap ketidaksukaan Luki terhadap dirinya sebagai hal wajar. Luka adalah satu-satunya adik perempuannya. Buah mata dari orangtua yang telah tiada. Wajar jika Luki bertindak sedikit terlalu protektif. Jika Yuuma memiliki adik, ia sudah pasti akan melakukan hal yang sama.
Karena itulah, waktu mendapati Luka terjaga di tengah tidur mereka dengan wajah carut-marut oleh kekhawatiran terhadap kakaknya, Yuuma akan merangkul wanita itu dari belakang dengan lengannya yang kokoh—sebuah gestur yang selalu ia lakukan sebagai pengganti kalimat, "Jangan khawatir" atau semacamnya yang selalu tidak pintar ia ucapkan. Bahkan di hadapan istrinya sendiri.
Tapi kemudian semuanya berjalan salah.
Berawal dari penugasannya ke sebuah gudang di tepi pelabuhan—tempat yang diduga menjadi sarang penyimpanan narkoba.
Malam itu cerah dan misi mereka berjalan dengan lancar. Puluhan kilo kokain dan morfin ditemukan dalam peti. Tak ada yang menderita cedera parah. Malam itu, mereka semua pulang dengan senyum lebar, sampai akhirnya sebuah panggilan darurat masuk.
Dari rumah sakit.
Luka mengalami kecelakaan. Taksi yang ia tumpangi ketika akan pulang menabrak pembatas jalan. Tapi berita yang membuat Yuuma kehilangan seluruh senyumnya bukan itu, melainkan berita yang mengikuti sesudahnya: Luka mengalami keguguran.
Dia tak pernah tahu Luka tengah mengandung. Dia bahkan tak ingat Luka pernah mengatakan sesuatu mengenai itu. Tak pernah ada pembicaraan. Tak pernah ada pembahasan. Hal ini kemudian dimaklumi oleh dokter yang merawat Luka karena usia kandungannya memang masih teramat muda.
"Mungkin dia sendiri juga belum tahu."
Penjelasan masuk akal. Karena itu Yuuma tak mengatakan apa pun.
Malam itu, Yuuma menunggui Luka. Dari mulai waktu ia tertidur di bawah pengaruh bius, hingga akhirnya sadar.
Dia merasakan perasaan bersalah muncul bersamaan dengan nyeri di dada, seperti ada ribuan panah yang menancap di tubuhnya dalam sekali waktu, ketika melihat betapa menyedihkan kondisi Luka. Wajah wanita itu, yang biasanya cerah merona, kini pucat pasi. Dia juga bisa melihat awan depresi menggelayut di kedua mata biru istrinya, tapi Yuuma tetap memilih tak mengatakan apa pun. Karena ia tidak pandai bicara dan jika memaksa, ia yakin malah akan mengatakan sesuatu yang tolol.
Yuuma duduk di samping tempat tidur Luka. Jemari mereka saling menjalin satu sama lain.
Beberapa kali Yuuma mencoba berkelakar tentang betapa lucu melihat seorang dokter, yang seharusnya menyembuhkan pasien, justru dirawat oleh dokter lain. Luka tertawa—sebuah tawa hambar yang terdengar menyedihkan. Tawa yang membuat Yuuma langsung tahu, sebanyak apa kesedihan Luka.
Bagaimana pun, Luka adalah seorang dokter sekaligus wanita. Dia sudah tahu—atau minimal bisa menebak-nebak— seburuk apa kondisinya saat ini. Dan Yuuma tak dapat menolong. Dia hanya akan berusaha menjauhkan mereka dari konversasi mengenai kehilangan yang baru mereka alami dan menggenggam erat jemari Luka—sebuah gestur pengganti kata, "Aku ada di sini." Dan Luka akan membalas genggaman itu sama eratnya, membiarkan keheningan menelan mereka berdua.
(Di saat itu, Yuuma langsung merasa jadi makhluk paling tolol karena tak dapat memberi bahkan satu kalimat hiburan pun.)
Kecelakaan itu sebetulnya hanyalah awal dari segalanya.
Di hari ketiga Luka berada di rumah sakit, Luki mengetahui segalanya. Murkanya ia tumpahkan pada Yuuma—meski secara teknis tak ada satu pun yang dapat benar-benar disalahkan di sini, tapi Luki tak peduli. Baginya, jika adiknya sampai terluka maka harus ada yang disalahkan. Kali ini, sasarannya adalah Yuuma: karena dialah suami Luka; orang yang berkewajiban menjaganya. Luki bahkan mengungkit-ungkit bahwa mengijinkan mereka menikah adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah ia perbuat.
Seharusnya Yuuma menjaga adiknya baik-baik. Seharusnya Luka tidak memilih dengan Yuuma. Seharusnya mereka berdua tidak pernah bertemu. Dan ada banyak lagi seharusnya yang Luki tujukan pada Yuuma.
"Mungkin seharusnya kau tutup mulut besarmu itu dan mulai membiarkan Luka membuat pilihan untuk hidupnya sendiri," Yuuma, secara tidak terduga, membalas pria itu. Nadanya keras dan menantang. Ia memutuskan sudah terlalu muak bersabar. Persetan pria di hadapannya kakak iparnya atau bukan. Bagaimana pun Yuuma punya harga diri untuk dijaga. Harga diri yang sangat tinggi.
"Luka sudah dewasa, kautahu," lanjutnya. "Dia sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya."
"Ya, tadinya aku berpikir seperti itu. Sampai akhirnya dia memilih pria sepertimu. Sekarang lihat apa yang terjadi?" Mata biru itu menatap Yuuma dalam kegusaran. Adik perempuan satu-satunya nyaris mati. Tentu saja yang harus disalahkan hanya dua: Yuuma, atau pilihan Luka untuk hidup bersama Yuuma. Keduanya sama saja.
Malam itu, Luki meledak dalam emosi hingga telunjuk itu akhirnya menuding Yuuma dengan sebuah titah mutlak:
"Ceraikan adiku sekarang juga."
Yuuma langsung merasa telinganya tuli.
"Aku benar, 'kan, matey? Kalian tidak benar-benar ingin berpisah. Luki yang menginginkan kalian berpisah."
Yuuma kembali dari nostalgia. Terlempar ke realita; sebuah titik waktu yang bernama Sekarang. Tatapannya terangkat, mengarah pada Kaito dan Yohio.
Yohio masih berdiri, matanya merah dan menyalang. Gusar dan tak sabar—memang sudah tabiatnya begitu. Kaito menatap Yuuma dan Yohio bergantian. Wajahnya waspada. Yohio bukan tipe yang senang menahan diri, meski hal-hal yang ia komentari kerap kali adalah ranah privasi dan bukan pada porsinya untuk dicampuri. Sementara Yuuma, dia lebih senang menutup diri. Meski pada dasarnya ia adalah tipe yang mudah terbaca, ia tidak pernah mengatakan apa pun. Segalanya ia simpan seorang diri. Keduanya komplamentar.
Karena itu, sebagai satu-satunya orang yang paling bisa membaca kondisi, kini Kaito tengah bersiap-siap memainkan peran jadi penengah. Jaga-jaga jika pembicaraan ini berlangsung semakin lebar dan berat. Dua orang kepala batu dengan perspektif berbeda tidak seharusnya terlibat dalam argumentasi.
Dua menit berlalu dalam keheningan, dan Yuuma memecahkannya begitu saja dengan sebuah kalimat sarat sarkasme; "Pergi dan urus masalahmu sendiri."
Yohio memicingkan mata, sementara Kaito mengedip cepat. Keringat mengalir dari pelipis, jatuh ke lantai. Oh, tidak. Tidak, tidak, tidak. Jangan berkelahi di rumah sakit. Kecuali kalian berdua mau masuk daftar hitam, maka terserah.
"H-hei, kalian berdua," Kaito merangsek maju, menengahi. "Kalian tahu, tidak semestinya pembicaraan ini berakhir dengan adu sikut atau apa pun yang berkaitan dengan kekerasan—"
"Oh, ya. Tentu saja. Ini yang kudapatkan setelah berusaha membuat temanku kembali ke realita." Yohio balas menyindir. Telak mengabaikan keberadaan Kaito. "Kau tidak bisa terus-terusan lari. Kalian berdua tidak bisa."
Yuuma menggeretakkan giginya. Kenapa selama ini dia bisa berteman dengan orang yang senang ikut campur seperti Yohio? "Lebih baik kaukatakan itu pada tembok di belakang."
"Tentu saja! Setidaknya, mereka pendengar yang baik."
Brengsek.
Setelah mengatakan itu, Yohio berbalik, membuka pintu untuk hengkang dari sana. Tapi sosok Len terlihat tepat setelah Yohio membuka benda itu. Wajah Len merah dan tampak kikuk. Seperti seorang bocah yang tertangkap tangan mencuri cokelat di supermarket. Tak sulit bagi semua pria dewasa yang ada di sana untuk mengambil kesimpulan bahwa Len telah menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
Yohio sepertinya tidak ambil peduli pada Len. Atau mungkin dia sudah terlalu emosi. Karena selanjutnya, ia tetap melangkah keluar. Mendorong tubuh Len agar menyingkir. Membiarkan Yuuma, Kaito, dan Len terjebak dalam keheningan canggung.
To be Continued
Maaf banget baru update. Saya semacam lupa pernah publish cerita ini. Hahahaha.
Review is love.
Sign,
devsky
