Recon High School Host Club

Chapter 2: Change!

.

.

**Author: Nacchan Sakura**

**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**

**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**

(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)

.

.

.

"...Menyebalkan."

Entah sudah berapa kali Eren Jaeger menggerutu semenjak pagi hari tiba—begitu terbangun, hari yang baru sudah menyambutnya di depan mata.

Tidak—yang dimaksud dengan 'hari yang baru' itu, adalah hari yang benar-benar... 'baru', untuknya.

Baru saja pagi hari—ia sudah diingatkan dengan fakta bahwa mulai hari ini, ia adalah budak resmi dari sebuah Host Club di sekolahnya. Dan kata-kata Rivaille—seniornya yang sekaligus ketua Host Club—kemarin sore, membuatnya tambah malas untuk menjalani hari ini.

'Besok kau harus datang jam tujuh tepat disini, bocah.'

Jam. Tujuh. Tepat. Dan kelas dimulai pukul delapan lewat tigapuluh menit. Ahaha.. inilah hidup seorang budak. Miris.

Dan kini—disinilah Eren Jaeger berdiri, di tengah mini market—tepat satu jam sebelum kelasnya dimulai.

Kenapa ia bisa berada disini?

Yah, mari kita lihat awal mulanya...

.

.

Flashback mode: on!

.

.

"Maaf, aku terlambat—!"

Eren membuka pintu ruangan Host Clubtanpa basa-basi, dan suara pintu yang terbuka dengan keras membuatnya dapat melihat keadaan di dalam ruangan—oh, semua anggota tengah duduk santai dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

"Oh, halo, budak."

"Kamu terlambat tiga menit."

"Pasti ke sekolahnya jalan kaki."

"YA IYALAH JALAN KAKI, EMANGNYA NGESOT?!" Eren naik darah seketika. Ternyata semua orang disini masih sama kampretnya. "Lalu.. euh, kenapa aku dipanggil sepagi ini?"

Semuanya terdiam. Kemudian semuanya serempak menoleh ke arah Rivaille—yang sedari tadi membaca buku dengan tenang.

"Kemari kau, Jaeger."

Eren mengikuti perintah dengan patuh—berjalan tanpa banyak protes ke arah Rivaille dan siap menerima permintaan aneh apapun. Sesampainya ia di hadapan seniornya ini—keadaan semakin hening. Rivaille hanya menatap Eren tepat di iris Emerald nya yang tertutupi kacamata tebal, dan yang lain hanya memandang mereka saling bertatapan satu sama lain.

"..."

"..."

"..."

"...Pada ngomong dong, awkward nih—"

"—Jaeger," Rivaille mengisi keheningan dengan suaranya yang membuat fokus Eren kembali padanya. Rivaille membalikkan buku yang sedang ia baca dan menunjukkan gambar di lembaran kertas itu kepada Eren dengan telunjuknya. "Ini apa?"

Kertas itu menunjukkan gambar iklan suatu produk—Noscafe, namanya. Oh, itu 'kan hanya selembar iklan kopi biasa?

"Itu... iklan kopi?"

"—Bukan itu, bodoh." Rivaille menatap Eren sinis—mirip ibu kost yang menagih uang bulanan sambil marah-marah. Eren bergidik ngeri. "Ini.. kopi apa?"

"..Euh, Kopi instan?"

"...Kopi Instan?"

Semua yang ada di dalam ruangan terdiam.

"Ooh, kopi instan tuh mungkin—kopi rakyat jelata, maksudnya!" celetuk Jean dengan watadosnya.

'...Kopi instan ya kopi aja, ga usah pake embel-embel 'rakyat jelata' juga, nyet.' Batin Eren—yang kesalnya sudah tingkat SMP kelas tiga.

"Ooh, kopi rakyat jelata, toh!" Reiner ikut-ikutan nyeletuk dengan polos.

"Rasanya gimana? Aman diminum, 'kan?" Irvin juga.

"Cara membuatnya bagaimana?" Ini pertanyaan paling normal—dari Armin.

"Kalau udah minum itu kopi, kita ga harus jalan kaki ke sekolah 'kan?" Yang ini entah pertanyaan polos entah sengaja nyindir—dan Berthold Fubar yang bertanya.

..Dasar orang-orang kaya yang tidak punya otak ini.

"Dengar ya, teman-temanku tercinta yang elit, kopi instan itu seperti kopi pada umumnya—tapi cara membuatnya mudah dan kalian hanya perlu menuangkan air panas saja." Eren—dengan sengaja—menekankan kata 'tercinta' dan 'elit'. Peduli amat kalau dibilang kurang ajar.

"Wah?! Itu pakai semacam ilmu hitam atau bagaimana—"

"PAKAI TERMOS, DIISI AIR, TERUS DIPANASIN. Tolong—kalian itu memang otaknya tumpul atau..." Eren geleng-geleng dramatis—sungguh, ia tidak mengerti lagi akan isi otak orang kaya di sekolah ini.

"Kalau begitu—ini tugas pertamamu, Eren Jaeger," Rivaille menunjuk Eren seenaknya dengan telunjuk jari lentiknya—membuat Eren tak tahan ingin menggigit jari itu hingga putus. "Belikan kami kopi rakyat jelata ini!"

.

.

.

Flashback selesai.

.

.

.

Dan—kembali ke scene awal, dimana ia berdiri di tengah mini market seraya menghela nafas super panjang berkali-kali.

"Noscafe, Noscafe..." Eren melihat ke kiri dan ke kanan—rak-rak berisi banyak produk makanan terpampang rapi di atasnya, dan Eren akhirnya menemukan apa yang ia cari—kopi instan pesanan anggota Host Club.

Tch, untuk mencicipi kopi instan saja ia harus repot-repot begini—pikir Eren. Lagipula kalau semua anggota Host Club selama ini tak pernah minum kopi instan, mereka minum kopi apa, coba?

...Masa iya mereka benar-benar minum kopi elit yang proses pembuatannya lama dan apik itu—

"Maaf, antriannya sudah panjang, anda mau bayar apa tidak?"

Pertanyaan dari penjaga kasir—yang sepertinya—sudah menahan emosi karena Eren semenjak tadi terdiam, membuat Eren tersadar dari lamunan panjang nan tak berguna di benaknya. Eren pun membayar kopi instan tersebut—dengan terpaksa, karena ia harus memakai uang hasil kerja sambilannya—dan keluar dengan segera.

Kemudian Eren terdiam sejenak.

"..Mungkin bukan ide buruk kalau aku memasukkan racun tikus ke dalam kopi mereka. Apa aku beli saja racun tikusnya, ya?"

..Iblis memang, tokoh utama cerita kita yang satu ini.

"Ah, jangan deh.."

Oh—dia masih memiliki hati, rupanya.

"...Sayang uang."

..Bah.

Dan Eren pun memutuskan untuk langsung kembali ke sekolah.

.

.

.

"Tadaima." Eren membuka pintu ruangan Host Club—untuk yang kedua kalinya—seraya membawa kopi instan di dalam bungkusan tangan kanannya.

. . .

. . .

'...Loh, kok sepi? Hmm—aneh, bel masuk belum berbunyi, 'kan?' tanya Eren di dalam hati.

"..Perm—"

"Eren!"Kemudian empat anggota Host Club—alias Reiner, Berthold, Jean dan Irvin—muncul di hadapannya dengan sejuta senyum penuh makna, sementara Rivaille hanya diam saja dan Armin menatap Eren seraya melemparkan senyum manis. Eren menarik satu halisnya ke atas.

"Aah, Okaeri, Eren~"

"Kau mau apa dulu, mandi di ofuro?"

"Umm, Makan malam dulu?"
"...Atau mungkin kau mau,"
"A—ku~?"

. . . . .

. . . . .

BLAM! Eren menutup pintu seketika.

"...Aku pasti salah masuk ruangan. Pasti. Pasti."

Eren membuka pintu sekali lagi—kali ini perlahan, dan ia mengintip dahulu dari celah kecil pintu yang terbuka sebelum masuk ke dalam ruangan begitu saja.

"Aneh, di manga ini ditulisnya cara menyambut orang kalau pulang itu seperti tadi, bukan?" Jean, Reiner, Berthold dan Irvin berkumpul dalam bentuk lingkaran seraya memandangi sebuah buku di tengah-tengah mereka. Tiga dari yang lainnya mengangguk setuju.

"Ini benar-benar buku yang tepat, 'kan? Apa ini bukan manga rakyat jelata? Makanya caranya salah."

"Entahlah, lagipula kenapa di manga ini banyak adegan sesama lelaki bermesraan, ya?"

Dafukitu manga apaan?! Pikir Eren

"Ooh, mungkin kita harus mempraktekan isi buku in—"
"TIDAK PERLU!" Eren menyamber buku berbahaya itu sebelum hal buruk dan tidak diinginkan terjadi padanya—Eren bersumpah akan membakar buku ini sepulang sekolah. "LAGIAN—KALIAN DAPAT BUKU INI DARI MANA?!"

"...Dari Armin." Jawab Reiner, kalem.

. . . . Hening.

Armin memasang wajah polosnya—sementara Eren memandang Armin dengan tatapan paling horror yang ia punya.

Ternyata benar, jangan menilai buku dari sampulnya semata—Armin yang kalem begitu saja ternyata diam-diam menyeramkan. Dan Eren bersumpah—ia tidak akan mencari masalah dengan Armin, apapun yang terjadi.

Eren menghela nafas. "Sudahlah—ini kopi instan pesanan kalian. Mau diapakan sekarang?"

"Buatkan aku kopi itu—tanpa gula." Rivaille kembali memerintah—setelah sedari tadi diam tanpa suara. Eren menghela nafas—ya, namanya juga budak. Ia pun mengikuti kata-kata Rivaille.

"Jadi begini cara membuatnya.."

Dan entah sejak kapan—semua anggota Host Club sudah memperhatikan Eren dengan seksama, membuat kopi instan di atas meja dengan tahap-tahap simple yang membuat seluruh anggota Host Club takjub—karena ternyata, segelas kopi tak perlu menunggu lama.

"A-apa ini aman untuk diminum?" Berthold menoel-noel cangkir berisi kopi instan tersebut dengan jarinya—membuat Eren menepuk jidat. Please, itu isinya kopi instan—bukan minyak tanah. Ya aman di minum, lah.

"Mundur, kalian semua! Biar aku yang mencoba kopi itu."

Semua anggota Host Club menoleh ke arah Rivaille yang dengan gagah berani—di dalam pandangan mereka—menawarkan diri untuk mencoba kopi tersebut tanpa ragu-ragu. Sementara semuanya memasang tampang dengan mulut terbuka layaknya ikan emas, Eren hanya bisa mendumel dengan suara pelan—mengatakan bahwa orang-orang kaya ini bodoh, atau tidak punya otak.

Gulp, Gulp, Gulp—Rivaille meneguk kopi instan itu dengan cepat—kemudian dengan dramatisnya ia meletakkan kembali cangkir kopi itu ke atas meja, seolah-olah ia telah berhasil melakukan tantangan meminum spirtus tanpa masalah sama sekali.

...Satu detik—

Dua detik—

Tiga detik—

"Oh, rasanya enak—tapi berbeda dengan kopi yang biasanya aku konsumsi."

"Beda apanya, Rivaille?" Tanya Irvin –yang ikut penasaran.

"Rasanya lebih.. murahan. Itu saja."

...Sialan, kopi ya kopi aja—mau murahan mau apa toh sama-sama buat di minum.

"Ooh, jadi terbukti—kopi rakyat jelata itu aman!"
"Dan harganya murah!"

"Dibuatnya juga ga repot dan cepat!"

"Kampungan." Lagi-lagi Eren OOT sendirian—ah, peduli amat.

Kelas dimulai tigapuluh menit lagi—Eren tak tahu harus berbuat apa setelah ini. Apa ia masih harus menjadi budak sampai kelas benar-benar akan dimulai?

Karena Eren sungguh, sungguh sangat ingin keluar dari ruangan ini—sekarang juga.

"..Aku boleh keluar, tidak?"
"Bel masuk belum berbunyi, jadi kau harus tetap disini, Eren.." Irvin menjawab dengan tenang—oh. Eren menghela nafas pasrah.

"Jangan tegang begitu ah, Eren! Kau itu harus lebih rileks sedikit. Kita semua tidak akan menggigit, kok." Reiner menepuk bahu Eren perlahan seraya tersenyum lebar. "..Yah, kecuali kalau kau memang minta digigit."

—Eren mundur teratur sejauh mungkin. Dasar kumpulan orang kaya yang kampungan—dan homo. Eren mulai bergidik ngeri—apa ia akan bisa mempertahankan kesuciannya di dalam klub ini?

"Eren, minus matamu memangnya parah.. ya?"

"..Hah?" Eren ceming ketika Armin—yang sedari tadi hanya memperhatikan—tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang melenceng dari topik. Kenapa tiba-tiba jadi bahas kacamata? "Uh.. ya—begitulah."
"Ooh, pantas kacamata milikmu tebal, sampai matamu jadi tak terlihat begitu." Armin tertawa kecil. "Coba buka kacamata itu."

"...Maaf?"
"Buka kacamata milikmu, Eren." Armin meminta kepada Eren—dengan wajahnya yang sedikit terlihat memohon dengan imut. Err—anggap saja Eren tak berpikir seperti tadi. "Sebentaaar saja, ya?"

Eren menelan ludah—bukannya tidak mau, tapi... buat apa?

"Ah, aku juga penasaran sama matamu! Habis rambutmu sudah menutupi mata, pakai kacamata tebal lagi!" Berthold mendekati Eren—dan Eren reflek berjalan mundur teratur, lagi.

"E-eeh... buat.. apa?"

Sebuah seringai menjawab seribu pertanyaan.

"Sudahlah..."
"Pokoknya.."

"..IKUTI SAJA KATA-KATA KAMI!"

"—GYAAAAAAAAA!"

Duh, Eren.. mau dibuka kacamata saja kaya mau di raep.

. . .

. . . . .

Srat! Kacamata dengan suksesnya berhasil dilepas—dan tanpa Eren sadari, semua mata kini sudah memandang ke arahnya.

..Tidak bisa dipercaya. Semua anggota Host Club tak bisa percaya—mereka mengira wajah dibalik kacamata ini adalah wajah murid culun yang kebanyakan belajar sampai jadi gila. Tapi mereka tak pernah menyangka bahwa dibalik kacamata itu—

Terdapat wajah seorang lelaki yang terlihat polos—dengan iris mata Emerald yang menarik perhatian dan juga wajah yang bersih dan halus. Tak seperti bayangan mereka akan Eren sebelumnya—sudah kutu buku, mulut dan tempramennya tak bisa dijaga, lagi.

"..Euh... udah selesai 'kan, lihatnya?" Eren bertanya setelah beberapa detik kebingungan karena semua orang menjadi diam tanpa suara. "Aku tidak bisa melihat, nih—"
"IRVIN," Rivaille memotong kalimat Eren dengan cepat—membuat Eren ingin rasanya melempar sebuah jojodog ke arah seniornya tersebut. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Roger!"

"Apa-apaan—HWAAA!"

Dan sedetik kemudian—Eren merasakan tubuhnya diangkat dan dibawa lari—entah kemana.

Kampret—ini Klub mungkin memang tidak waras, pikir Eren. Sudah semua anggotanya ber-otak dengkul, sekarang mereka melakukan penculikan dan pemaksaan terhadap anak dibawah umur—

"Eren, buka matamu."

"Euh... Irvin-senpai, anda mau ap—"
"Aku hanya akan memasangkan contact lens, Eren. Jangan banyak berkedip atau nanti akan terasa perih."

Kalimat Irvin terdengar meyakinkan—membuat Eren akhirnya menuruti apa kata-kata Irvin. Eren merasakan suatu benda tipis menyentuh bola matanya—ini untuk apa? Tanya Eren di dalam hatinya.

"Nah, selesai. Eren, coba kau buka matamu."

Eren membuka mata—woah.

"A... AKU BISA MELIHAT TANPA KACAMATA!"

"Karena kau pakai contact lens," Irvin menjawab pertanyaan Eren—oh, benda tipis yang tadi dipasang di kedua bola matanya itu seperti pengganti kacamata, kini Eren mengerti. "Rivaille, tugasku sudah beres!"

"Bagus. Sekarang.. Jean, Armin!"

"Aye Aye, sir!"

"Kalian tahu tugas kalian."

"Apaan lagi—KYAAAAAAAAAA!"

Kedua kalinya Eren dibawa lari secara paksa—oleh anggota klub sinting ini.

"Nah Eren—duduk dan jangan banyak bergerak, ya." Jean memposisikan Eren di atas sebuah kursi yang cukup nyaman—dan sebuah kain besar direntangkan di sekeliling tubuhnya. Eren menarik halisnya ke atas.

"Kalian mau apa? Dan—Armin, gunting itu untuk apa—"

"Perintah Rivaille-senpai, Eren. Kami akan membuat penampilanmu berubah!"

"Maksudnya ap—JANGAAAN!"

Duh, Eren. Memang sikap alamimu seperti itu, atau setiap teriak kau itu memang seperti anak yang akan di raep?

"Rivaille-senpai, kami sudah selesai~" Armin dan Jean membawa—atau tepatnya, menyeret Eren ke hadapan Rivaille. Kini penampilan Eren sudah berubah seratus delapan puluh derajat—rambut yang rapi, dan tak ada kacamata tebal yang mengganggu.

"..Tinggal satu lagi." Rivaille menatap Eren dari atas sampai bawah— "Reiner, Berthold!"

"Yo!"

"Kalian tahu apa tugas kalian."

The Heck, mereka ini agen rahasia atau apa?! Tanpa Rivaille beri perintah yang spesifik pun, mereka mengerti dan tahu apa maksud kata-katanya.

Entah kenapa—sedikit menyeramkan.

"YOOSH, IKUT KAMI, EREN!"

"..Iya, iya..." Eren sudah tahu ia akan dibawa lari—lagi, makanya ia tidak berteriak seperti tadi.

"..Yah, kok ga teriak?"

"..Kalian mau aku teriak?"
"Iya, suaranya ambigu sih."

Sialan.

"Ta-daa!" Eren melihat sebuah seragam—yang masih baru dan rapi, terpampang di hadapan matanya. Seragam ini—adalah seragam Recon High School yang tak bisa dibeli oleh murid sepertinya, seragam yang dipakai oleh murid lain—sementara tidak dipakai olehnya. Eren membuka mulutnya lebar.

"..Ini.."
"Seragam milikmu, tentu saja! Ayo pakai!" Berthold mendorong Eren masuk ke dalam ruang ganti—bersama seragam barunya. Eren masih ragu-ragu—seragam? Ia diberi seragam..?

"..Cepat ganti, Eren. Atau kau mau kami membuka bajumu secara paksa?"

"TIDAK, TERIMA KASIH." Eren menutup—tidak, membanting pintu dengan cepat.

Aah—Eren merasakan betapa nyamannya kain berkualitas itu menyentuh tubuhnya, membuatnya tampak 'sama' dengan murid lainnya di sekolah ini. Ia memandangi tubuhnya di cermin dari atas sampai bawah—wow. Apa ini benar-benar dirinya?

Blazer berwarna coklat terang dengan lambang sekolah yang terbordir rapi di saku kanan, kemeja putih yang benar-benar masih baru, celana panjang hitam yang halus—dan dasi hitam yang tersimpul rapi. Ia benar-benar tidak menyangka—bahwa hari dimana ia akan memakai seragam ini akan tiba.

Eren menarik nafas—dan ia membuka pintu ruang ganti, memberikan pertanda bahwa ia sudah selesai mengganti seragamnya.

.

.

.

Sekali lagi—seluruh anggota Host Club dibuat ceming.

Bagaimana tidak—sosok Eren Jaeger yang kemarin muncul betul-betul kacau, berantakan, dan parah tak terkira—bahkan kemunculan Eren seperti membawa aura hitam yang mengundang banyak kecoak ke dalam ruangan, saking kotornya.

Dan kini—berdiri di hadapan mereka, sosok Eren Jaeger—dengan rambut coklat tua yang tersisir rapi dan halus, bola mata Emerald yang bersinar, seragam yang rapi dan baru—

Mereka seperti melihat sosok yang berbeda. Ini adalah Eren Jaeger yang—sudah terlahir kembali.

"..Sudah kuduga, anak ini berguna." Gumam Rivaille—masih memperhatikan Eren dengan seksama.

"..Jadi, Rivaille.. apa rencanamu?" Tanya Irvin seraya melemparkan pandangan ke arah Rivaille. Irvin melihat teman dekatnya itu memejamkan mata sesaat—sedang mengambil keputusan dengan matang.

"...Eren Jaeger."
"I-Iya?" Eren entah kenapa membuat sikap tegak secara otomatis—melihat Rivaille dan juga anggota Host Club lainnya menatap ke arahnya dengan senyum yang berbeda.

"Dibandingkan menjadi budak—kami telah menemukan cara lain, dimana cara itu keduanya menguntungkan kami dan juga dirimu."

Eren mendapatkan secercah harapan di dalam hatinya—oh, ia berarti boleh berhenti menjadi budak?!

Tuhan, takdir, aku cinta pada kali—

"—Maka dari itu diputuskan, bahwa mulai hari ini, kau adalah anggota Host Club!"

. . . . .

"—APA?!"

Tidak—Eren sama sekali tidak mau berterimakasih. Ia menarik kembali semua kata-katanya beberapa detik yang lalu.

"Selamat ya, Eren~"

"Yah, setidaknya, ini suasana baru. Belum ada anggota Host Club yang jalan kaki ke sekolah, loh!"

"Eren—"

"TIDAAAAAAK!"

—Hari yang benar-benar 'baru', untuk seorang Eren Jaeger.

Dimana siswa miskin seperti dirinya,

Tiba-tiba menjadi seorang anggota Host Club di sekolah aneh—khusus orang kaya raya.

Dan mungkin..

Akan ada perubahan pada perasaan seseorang, dari pertemuan kecil ini.

"—Iya 'kan, Rivaille?"

"..Hah? Apanya?" Rivaille menatap Irvin kebingungan—karena tiba-tiba melemparkan pertanyaan aneh seperti itu.

"Hahaha! Maka dari itu—guci murahan seperti itu saja kau jadikan alasan untuk menjadi budak. Tidak bisa jujur, seperti dulu."

"...Jangan sok tahu."

Eren Jaeger, enam belas tahun.

Adalah anggota resmi dari Host Club,

Mulai hari ini..

"—IBU, TOLONG, BAWA AKU PERGI BERSAMAMUUU!"

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N:

HALOHAAAA *berguling*

Ini bisa dibilang fast update, ngga? www mumpung ada ide, Author iseng nulis _(:'3

Dan—uhuhu, terima kasih banyak kepada yang sudah review chapter kemarin! Jujur, awalnya Author takut cerita ini ga banyak peminat (Karena cerita ini ga murni ori—dan ngambil base dari ouran, dan karena cerita sebelumnya galau gitu *le lirik Pierrot* terus tiba-tiba Authornya bikin cerita kacau ga jelas =')) )

Author ga pinter bikin humor, jujur aja (spesialis cerita galau sih huehue) makanya kalau semisal cerita ini garing, maaf banget ;;A;; author akan cari referensi sebanyak-banyaknya deh- *le cari manga humor

Dan buat yang udah review di chapter kemarin:

Kunougi Haruka, Rouvrir Fleur, Kim Victoria, Yami-chan Kagami, Kim Arlein, chun . is . haru, JackFrost14, Roya Chan, Ookami-Utsugi, Darkness Maiden, Persephone, Lightmaycry, Rikkagii Fujiyama, AyakLein24, RaniMario, widi orihara, Azure'czar, saerusa, Rivaille Jaegar, OurieChrome, Fujoshi Ren, Hasegawa Nanaho, rivaillexeren, Lonceng Angin, dira andriani, Kyo Kyoya, Unknownwers, NatureMature, reincanz anquezz dan para silent reader semuanya~!

Terima kasih banyaaaaaaaak *peluk satu-satu* uhuhu Author cinta kalian~ *blush* *ea* sini Author nikahin satu-satu mau ngga? *kedip kedip genit najis* *kemudian diusir dari Ffn*

Sampai jumpa di chapter depan, semoga Author dapat pencerahan buat chapter depan,

Dan semoga author masih bisa nulis cerita di chapter depan. –laughs-

With Love,

Nacchan Sakura.