"Karena mulai hari ini kamu adalah anggota Host Club—kamu diwajibkan untuk selalu tampil rapi seperti ini, setiap hari."

"E-eh.. harus?" Eren menggerutu—duh, merepotkan saja.

"Iya. Dan jangan lupa mandi, Eren—demi Tuhan, kau tak tahu betapa kotornya dirimu, hah?" Rivaille memasang wajah 'jijik'—membayangkan penampilan Eren beberapa hari lalu yang begitu menakjubkan.

...Menakjubkan kotornya.

"Mandi...?"
"..Iya, mandi, Eren. Jangan bilang kau sudah lama tidak mandi, hah?"

"Ya... mungkin?"

"...Berapa lama kamu tidak mandi, bocah?"

. . .Eren terdiam.

Kemudian—Eren mengangkat satu telapak tangannya. Ia mulai menghitung— satu jari terangkat, dua jari terangkat, tiga jari terangkat—

Tiga.

"..Kau menghitung apa? Detik? Jam? Hari?"

"...Tahun."

"..MENJAUH DARIKU, BOCAH!"

.

.

.

Recon High School Host Club

Chapter 3: Lucky or Unlucky?

.

.

**Author: Nacchan Sakura**

**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**

**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**

(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)

.

.

.

~Host Club dibuka!~

.

.

"Tuan putri, bagaimana liburanmu kemarin?"

Senyum sejuta warna tersebar di seisi ruangan Host Club—ditambah dengan kata-kata manis yang bertebaran dari mulut para Host yang mengatakan bahwa ini adalah 'pekerjaan rutin' mereka. Sementara Irvin bertanya tentang liburan para tamu dan bagaimana pengalaman mereka, Host lainnya mengambil peran yang berbeda-beda.

"Eeh~ Jean-sama, jangan dekat-dekat, ah!"

Suara tawa yang feminin terdengar dari kejauhan—Eren menoleh ke belakang sesaat. Oh, Jean dan Armin berada di satu meja yang sama—bersama tamu-tamu yang minta untuk 'dilayani' oleh mereka. Eren menyipitkan matanya—apa-apaan ini. Ini semua..

"Tuan putri," Eren dapat melihat Jean meraih dagu gadis yang menjadi tamunya dengan lembut, dengan senyum tipis yang ia pancarkan—gadis itu seketika merona. "Aku tak bisa menahan diri untuk tidak berada dekat denganmu. Kau tahu itu, bukan?"

..Halah, gombal.

"Armin-sama~! Lihat ini, lihat ini!"

"Hmm?" Armin tersenyum seraya mendekati beberapa gadis yang membawa setumpuk buku di tangan mereka—mereka menunjukkan sesuatu kepada Armin dengan tawa kecil mereka yang khas. "Ah, itu.."
"Iya! Ini—ini—Doujin yang kemarin aku beli di komike, loh! Ini rekomendasi Armin-sama, dan ternyata ceritanya bagus, loh~"
"Ah, syukurlah kalau tuan putri menyukai rekomendasiku," Armin tersenyum lembut. "Bilang saja padaku kalau tuan putri butuh rekomendasi doujinshi lain, ya."

Dafuk—Eren menarik satu halisnya ke atas. Doujin? Itu bukannya sebutan untuk manga berbahaya yang kemarin Eren lihat? Kenapa Armin bisa memberikan rekomendasi manga seperti itu? –Terlebih, kenapa para tamu menyukai dan membaca buku seperti itu!?

Ini klub sudah tidak benar, sepertinya.

Eren kini mengalihkan pandangan ke arah Reiner dan Berthold—yang berada di meja samping. Reiner dan Berthold pun sama—berbincang dengan tamu-tamu mereka seraya tertawa, membuat beberapa gadis di hadapan mereka tertawa kecil dan merona.

"Reiner-sama, liburan kemarin, aku mengikuti saranmu untuk ke Paris, loh!"

"Ooh? Dan bagaimana pengalamanmu disana—tuan putri?"

"Disana menyenangkan, sungguh kota yang romantis. Tapi..."

"Tapi..?"
"R-rasanya aku ingin kalau ditemani Reiner-sama, disana.."

...Eren mulai geleng-geleng kepala sendirian. Ini klub apa—klub Host, 'kan. Bukan klub gombal... 'kan?

Apa sebelas duabelas, perbedaannya?

"Tuan putri," Reiner meraih telapak tangan gadis dengan surai hitam pekat di hadapannya—senyum sejuta makna mulai terlukis di wajahnya. "Suatu hari—aku akan membawamu kesana, pasti. Ini adalah janji, ya?"

Halah—palingan nanti juga lupa sama janjinya, batin Eren.

"Berthold-sama, aku tidak mengerti soal matematika yang ini..."

"Uhmm? Yang mana, tuan putri?"

Oh—Eren sedikit bernafas lega, melihat ada satu kegiatan yang normal di dalam Host Club ini. Kini matanya beralih pada Berthold yang sedang serius mengajari salah satu tamunya soal matematika yang tidak dimengerti. Ternyata Host Club bukan hanya pamer kata-kata gombal, toh.

"Ooh—begitu, terima kasih banyak ya, Berthold-sama! A-aku berhutang budi padamu," Gadis itu berkata malu-malu—membuat Berthold yang ada di hadapannya tersenyum tipis. "Apa ada yang bisa aku lakukan untukmu?"

"Tidak ada yang perlu kau lakukan, tuan putri." Berthold mengayunkan telapak tangannya—membelai lembut surai merah muda milik gadis di hadapannya, merasakan tiap helai rambut yang halus itu dengan jemarinya. "Tetaplah menjadi dirimu apa adanya dan tersenyum. Itu akan menjadi bayaran yang sangat memuaskan bagiku."

...Bah, sama aja ternyata—Eren menghela nafas. Sepertinya tidak ada bedanya—mau siapapun dan apapun yang terjadi, di Host Club ini.

"Oi, Eren. Jangan banyak menoleh kalau sedang bekerja, bocah."
"Ah—maaf!"

Eren disadarkan oleh suara Rivaille—yang kebetulan berada di dalam satu meja yang sama dengannya. Rivaille duduk di samping Eren, sementara di hadapan mereka ada banyak gadis yang menjadi 'jatah' tamu mereka untuk hari ini. Semua gadis jelas—menatap Rivaille dengan mata yang betul-betul penuh dengan rasa kagum, dan rona wajah mereka juga terlihat jelas.

"R-Rivaille-sama, anggota Host Club yang baru ini belum diperkenalkan, ya?"

"Oh. Ya.. begitulah." Rivaille menjawab singkat—dan Eren hanya bisa merasa heran, kenapa dengan jawaban singkat nan dingin itu gadis-gadis di hadapannya bisa berteriak 'kyaaa!' layaknya Fangirl yang hobi menghabiskan waktunya dengan website bernama Tumblr.

"Hey, hey, namamu siapa?" Salah seorang dari tamu itu akhirnya bertanya kepada Eren—yang masih belum berbicara sedari tadi.

Eren menelan ludah—ia harus jawab dengan nada bicara seperti apa? Ia harus memakai kalimat seperti apa?

"Eren, jawab. Jangan lupa tersenyum." Rivaille berbisik ke arahnya—oh, oke. Eren mengangguk mantap setelah mendapat pencerahan dari Rivaille—ia pun mulai membuka mulut.

"Namaku Eren Jaeger, tuan put—putri,"

Eren harus menahan diri untuk tidak muntah di tempat—sekarang ia juga sama saja seperti anggota Host Club lainnya... gombal.

"Ooh, Eren-sama yang anak beasiswa itu, ya?"
"Hebat, loh! Kamu selalu ranking satu di angkatan kami. Kamu sama pintarnya dengan Rivaille-sama!"

Hah—si senior kontet ini juga ranking satu, toh—pikir Eren.

"Ahaha.. a-aku hanya menghabiskan waktu luang dengan belajar, itu saja."

BOHONG, saudara-saudara. Dari semua sekolah yang ada, hanya Recon High School yang menyediakan pendidikan sampai lulus gratis jika mendapatkan beasiswa—maka dari itu Eren belajar mati-matian sampai rambutnya rontok setengah, agar bisa ranking satu dan masuk ke sekolah ini.

"Waah, elit sekali, ya.."
"Tapi gosipnya—Eren-sama jalan kaki ke sekolah, apa itu benar?"

...Sialan. Jalan kaki ke sekolah itu—disamain kaya' digendong Gorilla ke sekolah, apa gimana? Kenapa mereka seperti memandang aneh orang yang jalan kaki ke sekolah?!

Eren siap untuk mengumpat—namun Death Glare yang Rivaille kirimkan kepadanya dengan penuh cinta berhasil membuat Eren menutup mulut. Eren menelan ludah—nah loh, sekarang ia harus menjawab apa?

Eren terdiam dulu sejenak—aha! Satu ide muncul di otaknya—mumpung ia sekarang adalah seorang Host, ia mungkin bisa memperbaiki cara berpikir orang-orang kaya yang agak es-we-te ini.

"Tuan putri, berjalan kaki semenjak usia dini itu—baik untuk mencegah osteoporosis!"

. . .

Rivaille menepuk jidat.

"Eeh—iya sih, tapi.."

"Kalau sudah tua Osteoporosis 'kan, berbahaya.." Eren menangkis tatapan tajam dari samping kirinya—yang dikirim oleh Rivaille yang sebenarnya memberikan kode agar Eren tak berbicara yang aneh-aneh lagi.

Tapi—entah karena Eren memang sedang blo'on saat ini—jadi ia tak mengerti arti dari tatapan tajam Rivaille, atau karena ia memang sengaja ingin membuat Rivaille marah—jadi ia melanjutkan ceramahnya soal osteoporosis.

Dan Eren mulai beraksi—ia mengeluarkan senyumnya yang paling lembut dan menawan, dengan wajah polosnya yang alami memancarkan sejuta pesona.

"Kalau tuan putri yang cantik seperti kalian ini terkena osteoporosis, sangat disayangkan.. bukan?"

. . . .

Itulah gombal ala Eren Jaeger.

"...A-aku akan mencoba jalan kaki ke sekolah mulai besok!"

"A-aku juga!"
"Aku akan mengikuti saran Eren-sama, mulai besok!"

. . .

Dan gombalan itu ternyata ampuh.

Anggota Host Club yang lain terdiam total. Mereka memandang Eren dengan tatapan horror—karena ternyata, kalimat singkat seperti itu bisa membuat tamu-tamu yakin dan percaya akan teori Eren yang entah sudah terbukti atau hanya asal jeplak.

Mereka mulai sadar bahwa—Eren bukan tipe orang yang bisa dianggap remeh, sepertinya.

.

.

.

"Ah, terima kasih atas kerja samanya, Eren. Menikmati pekerjaanmu?"

Eren akhirnya mendapatkan giliran istirahat—ia duduk di meja pojok bersama Irvin yang tengah santai membaca buku seraya menikmati teh herbal. Eren menghela nafas—menikmati? Yang benar saja—berbicara manis secara terpaksa itu sulit.

"Yah.. begitulah." Jawaban singkat itu muncul dari Eren yang sudah terlalu lelah—dan ini baru hari pertama ia bekerja.

"Ahaha, bersabarlah, Eren. Pekerjaan seperti ini walau melelahkan dan terlihat tidak berguna—bisa membuat para tamu semangat, loh."

"Yaa, yaa.."

"Apa kamu menemukan kesulitan?"

"Sulit untuk berbicara manis dan harus selalu tersenyum.." Eren memijit-mijit wajahnya yang pegal—sudah berapa lama ia tersenyum secara paksa semenjak Host Club dibuka?

"Kalau begitu kau tidak perlu tersenyum—seperti Rivaille."

...Mana mungkin bisa, pikir Eren.

"Euh.. lagipula.. tujuan Club ini sebenarnya.. apa?"

Eren sebenarnya ingin menanyakan soal itu dari kemarin—namun kebodohan orang-orang di klub ini sepertinya membuat ia sedikit lupa ingatan. Yang benar saja—sekolah memperbolehkan Host Club di dalamnya, tujuannya apa?

"Untuk memberi semangat kepada para siswi, tentu saja."

'..Semangat kepalamu.' Batin Eren. "Oh, begitu... jadi kata-kata manis itu bisa menghibur para siswi?"
"Bukan hanya kata-kata manis saja. Mau kutunjukkan hal lain?"

"..Hal lain?"

Eren mendapatkan firasat buruk, sebenarnya—tapi ia ingin tahu apa saja yang dilakukan anggota klub ini selain mengeluarkan kata-kata manis atau memberikan rekomendasi Doujinshi.

"Kemarilah, Eren." Irvin menarik lengan Eren dan menyeret Eren kembali ke tempat Rivaille berada—loh, mau apa? "Hey, Rivaille."

"..Apa?"

"Lakukan 'itu'."

Mampus—ko perasaan aku makin ngga enak, ya...—batin Eren.

"I-'itu' maksudnya apa—Hwaa!"

...Loh?

Bruk! Eren merasakan tubuhnya terbanting ke atas sofa empuk—loh? Loh? ..LOH!?

"Reaksimu lambat."

"Eh.. EEEHHH—" Eren baru sadar nol koma nol nol lima detik kemudian bahwa Rivaille kini telah ada di atasnya—menahan pergerakan tubuhnya yang terbaring nyaman di atas sofa, dengan kedua pergelangan tangan Eren yang digenggam oleh tangan Rivaille dengan erat. Jarak wajah mereka dekat—ralat, sangat dekat—membuat Eren dapat merasakan napasnya yang saling bersahutan dengan Rivaille, seirama dengan mengalun dengan harmonis.

Kemudian Eren merasakan sesuatu masuk ke dalam baju seragamnya—eh, tunggu—ini tangan siapa—

...Oh my god.

Tangan Rivaille dengan santainya menemukan jalan di balik kemeja seragam sekolah Eren—dan tangan itu kini berkeliaran di bagian perut Eren dengan lihainya. Rasa geli mulai terasa oleh Eren—rasanya seperti ada kupu-kupu berkumpul di tubuhnya, antara ingin menikmati tapi juga merasa bahwa ini semua salah untuk dilakukan. Eh sebentar, kenapa bahasa Author jadi ambigu ya—

Tunggu—bukan saatnya memikirkan hal itu! Ini—ini—

"K-KAMU MAU APAAA?!"
"Tch, bawel... ini hal biasa di Host Club, bocah. Fanservice untuk para tamu."

"KYAA! E-Eren-sama ternyata tsundere uke!"

"R-Rivaille-sama terlihat jadi possesive seme!"

"KYAAA!"

Dafuk—Seme? Uke? Artinya apaan, tuh? Eren malah menatap horror tamu-tamunya yang sedari tadi berteriak tidak jelas dengan wajah merah—bah, beberapa dari mereka bahkan mimisan—

"I-INI MAKSUDNYA APAAN, WOI?!"

"...Irvin, anak ini masih polos." Rivaille berhenti menggerakkan tangannya—ia menoleh ke arah Irvin. "Kasihan dia."
"Ya sudah, hari ini bebaskan saja dulu." Jawab Irvin dengan enteng. "Tapi nanti akan kita ajari dia agar terbiasa dengan hal ini."

... TERBIASA? TERBIASA?!

Eren mencari-cari pisau atau benda tajam lainnya di ruangan—ia lebih memilih untuk bunuh diri saja, sekarang juga.

Rivaille beranjak dari posisinya—meninggalkan Eren dalam keadaan Shock, masih terbaring di atas sofa. Telah dinodai, tubuhnya telah disentuh, telah disentuh—

"Jangan lebay, Eren. Ini masih tahap awal, belum apa-apa. Nanti kalau levelmu sudah tinggi, kamu akan melakukan hal yang lebih daripada ini."

Jean yang nyeletuk dengan polosnya membuat Eren memasang tampang horror level Ifrit. Apa-apaan—jadi maksudnya, mereka sengaja membuat adegan seperti itu—bahkan lebih parah—di depan para tamu mereka?!

Eren menelan ludah. "..I-ini Host Club, 'kan?!"
"..Iya."

"Bukan Homo Club, 'kan?!"

Satu buah panci melayang dan mengenai Eren tepat di kepala.

.

.

.

.

~Saatnya hukuman!~

"Hen.. hentikan.."
"Eren, kau sudah menyerah?" Rivaille mengeluarkan seringainya—oh, Eren benar-benar polos dan masih belum tahu apa-apa. Semakin menyenangkan saja mengerjai anak ini—apalagi dia memang bukan tipe anak yang sepertinya bisa melawan.

"A-Ahh.. T-Tapi, sakit... aku lelah... kumohon, hentikan..." Eren menarik nafas—nafasnya sudah tidak teratur, keringat bercucuran tak terhenti dari dahinya—mengalir menuju wajahnya yang merona.

"Berhenti, katamu?" Rivaille mendengus—tertawa dari napasnya tersebut. "Ini masih ronde pertama, Eren. Baru dimulai."

Eren menelan ludah.

. . .

Oke, Eren sudah habis kesabaran.

"—BARU DIMULAI APANYA, NYET!" Eren melempar satu sandal besinya ke arah Rivaille—sial, dia bisa menghindar. "Kira-kira dong kalau kasih hukuman! MASA IYA AKU HARUS NARIK ROLLER SAMBIL PAKAI SENDAL BESI?!"

"Itu hukuman karena sudah bilang klub kami ini klub homo."

Kampret—bukannya ini klub emang isinya orang homo semua? Eren hanya berkata jujur—masa ia dihukum karena ia berbicara apa adanya?!

Homo. Homo. Homo. Dasar orang-orang kaya yang homo dan ga punya otak—

"Eren, aku tahu kau mengatai kami orang kaya yang homo dan tidak punya otak. Sekarang tambah tiga keliling."

...Sialan.

.

.

.

~Hukuman selesai!~

Eren tergeletak lemas di atas lantai—ugh. Ini baru hari pertama, dan ia sudah capek lima kali lipat dari biasanya. Tamu-tamu ternyata menyukai Eren yang mereka anggap tsundere uke atau semacamnya—membuat Eren mendapatkan banyak antrian tamu selama tiga jam tadi. Dan hukuman dari Rivaille yang memakan waktu satu jam membuatnya tambah lelah dan tak bisa bergerak.

"Oi, bocah, jangan mengotori lantai dengan keringat busukmu itu. Bangun."

Si kontet ini lagi, pikir Eren.

"Nnn..." jawab Eren, lemah.

"Kalau kau lemah begini, aku bisa menyerangmu kapan saja."

Eren langsung bangkit dari posisinya dan memasang pose siaga. Satu detik lengah—berarti kamu akan 'diserang', itulah yang Eren pelajari setelah mengalami kejadian.. 'sentuh-sentuh' dari Rivaille, tadi.

"Jadi, Eren.. bagaimana kesan hari pertamamu bekerja menjadi Host?" Irvin meletakkan satu cangkir teh herbal di atas meja—dibuat untuk Eren yang kelelahan. Harus Eren akui, Irvin bagaikan permata di tengah sampah—bagaikan malaikat di tengah iblis, di dalam Host Club ini. Sama seperti Armin, Irvin baik dan juga pengertian—dibandingkan dengan anggota Host Club lainnya yang memang sinting inalillahi.

"Ya... begitulah."
"Menyenangkan bukan, menjadi Host?"

MENYENANGKAN KEPALAMU.

"Haha... hahaha..." Tawa hampa keluar dari mulut Eren yang kemudian menyeruput teh herbal buatan Irvin—recharge energy, pikirnya.

"Kalau kau sudah habiskan tehnya, kau boleh pulang." Irvin tersenyum ke arah Eren seraya menepuk pelan kepala Eren dengan lembut. "Terima kasih atas kerja kerasnya!"

Iya—benar-benar kerja keras.

"Kalau begitu.. aku pulang dulu." Eren buru-buru menghabiskan teh herbalnya—kemudian ia mengambil tas ranselnya dan hendak keluar dari ruangan. Sudah cukup—ia terlalu lelah.

"Sampai besok, Eren~"

"Jangan lupa mandi, bocah."
"Selamat jalan kaki!"

"BAWEL."

Dan Eren pun menutup pintu—meninggalkan anggota Host Club lainnya di dalam keheningan.

"..Eh?" Armin menemukan benda yang asing tergeletak di atas meja—sebuah buku. Armin mengambil buku kecil tersebut—oh, ini adalah buku data siswa. Armin melihat-lihat isi buku tersebut—mencari tahu siapa pemilik dari benda yang tertinggal ini.

"Ah... Eren meninggalkan buku data siswa miliknya," Armin menoleh ke arah teman-temannya. "Mungkin dia belum jauh, aku akan mengantarkannya."

"Armin," Rivaille memanggil nama Armin tepat ketika lelaki itu hendak mengejar Eren. "Kemarikan bukunya."
"Eh? Tapi—"
"Kemarikan."

Armin tak bisa melawan—kalimat Rivaille seperti perintah yang tak dapat ditolak.

"Alamat rumahnya... tidak jauh dari sekolah." Rivaille beranjak dari kursinya—ia menghela nafas. "Biar aku yang mengantarnya."

"Eh? Ri—"

Blam!—pintu itu sudah tertutup, pertanda bahwa Rivaille sudah pergi dan meninggalkan yang lain begitu saja.

"Hee, tumben sekali ya Rivaille-senpai mau repot-repot melakukan hal seperti itu." Jean menatap pintu yang baru saja tertutup itu—mengingat sosok terakhir yang tadi berjalan ke arahnya. "Kenapa, ya?"

"Entahlah?" Irvin tertawa kecil penuh arti—membuat Jean menarik satu halisnya ke atas.

"Mungkin..." Reiner mulai mencari perkiraan jawaban—bersama dengan Berthold yang duduk di sampingnya. "Eren.."

"...Eren itu berbeda." Berthold menyambung kalimat Reiner. "Begitu, 'kan?"

"Ya.. Mungkin?"

Tidak ada yang tahu apa isi pikiran Rivaille, sepertinya.

.

.

.

Matematika, fisika, kimia. Eren rasanya ingin membuang buku pelajarannya satu per satu—di saat lelah begini, ia malah teringat akan kuis yang akan diadakan esok hari ketika sampai di apartemen bobroknya, tadi. Untung hari ini ia tak ada jadwal untuk kerja sambilan, kalau tidak... entahlah, Eren mungkin sudah frustasi dan bunuh diri dengan cara minum obat nyamuk.

Eren ingin rasanya menjerit dan menyalahkan seisi dunia karena sudah memberikannya hidup yang betul-betul luar biasa.

"...Ibu.." Eren menghela nafas sejenak—pikirannya kini sudah berganti fokus kepada hal lain. "Kenapa ibu meninggalkan aku dengan cepat?"

Eren mengingat-ingat lagi hal-hal menyenangkan yang ia lalui bersama ibunya—pergi ke pantai, main ayunan, makan es krim bersama saat musim panas..

Eren tak dapat melupakannya—saat-saat dimana ia dan Ibunya tertawa berdua, dimana ia dapat merasakan pelukan hangat ibunya itu dengan bebas, dimana ia merasakan kasih sayang ibunya yang tak akan pernah ada habisnya—

..Dan kemudian, hidup kembali berlaku kejam—mengambil satu-satunya yang Eren miliki dan Eren sayangi—ibunya.

Tetes air mata tak dapat Eren tahan—tanpa disadari, ia sudah mulai menangis—mengharapkan apa yang sudah pergi untuk kembali, mengharapkan nyawa yang sudah diambil untuk bisa menarik napas kembali di dunia.

"Ibu..."

.

.

.

Rivaille mengerutkan dahinya—apa-apaan ini.

Ia sudah berdiri di hadapan sebuah apartemen dua lantai yang bobrok dan betul-betul tak layak untuk ditempati—ew, ia bahkan melihat kecoak berjalan dimana-mana, dan juga debu yang lebarnya lebih dari lima senti hampir di seluruh bagian. Apa benar Eren tinggal di tempat seperti ini?

Rivaille tak mau tahu soal kenapa Eren bisa tinggal di tempat ini—ia langsung melihat ke daftar penghuni yang tertempel dengan asal di dekat tangga. Eren Jaeger, Eren Jaeger... kamar nomor delapan. Rivaille menaiki tangga dan mencari dimana kamar nomor delapan itu berada.

Ditemukan olehnya, sebuah pintu dengan angka delapan yang tertera di atasnya. Pintu kayu tua yang penuh goresan—ditambah dengan keadaan bangunan yang memang rapuh tak terkira. Rivaille berani bertaruh—bangunan ini pasti akan hancur, tak lama lagi.

Rivaille membawa tangannya untuk mengetuk pintu—sungguh, ia bingung kenapa ia mau repot-repot mengantarkan buku data siswa milik Eren. Padahal ia—seharusnya—tak peduli, meskipun bocah itu meninggalkan benda berharga miliknya di sekolah. Tapi.. entahlah,

Rivaille merasa bahwa ia harus mengantarkan buku ini.

"Ibu..."

Tangan Rivaille yang hendak mengetuk pintu kini terhenti—ia tak jadi mengetuk pintu.

Suara tangisan—itu.. suara Eren?

"Kalau saja ibu masih disini," Rivaille mendengar isak tangis menjadi jeda sesaat—"Aku tak akan menderita seperti ini."

Sakit—rasanya seperti melihat seorang anak kecil yang tak bisa apa-apa, lalu ditinggalkan sendirian begitu saja. Rivaille memang terlihat kejam dan tidak punya hati, siapapun akan berpikir begitu. Tapi—tidak, ia sama seperti manusia lainnya—ia memiliki hati dan bisa merasakan simpati.

"Ibu..."

Haruskah ia mengetuk pintu?

"Ibu—"

Rivaille membuka pintu—tanpa mengetuknya. Di hadapannya—sosok Eren yang sedang menangis seraya meringkuk di atas kasur menjadi pemandangan yang menyambut. Eren bahkan tak sadar bahwa Rivaille telah membuka pintu dan masuk ke kamarnya.

Ingin rasanya membelai lembut kepala lelaki itu—mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi—imej Rivaille bisa hancur jika ia melakukan hal itu, bukan?

"...Oi, bocah."

"E-eh?" Eren—yang akhirnya sadar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam apartemennya—perlahan mengangkat wajahnya. "Loh.. Rivaille-senpai..? k-kenapa senpai bisa ada disini?"

Rivaille menghela nafas. "Buku data siswa milikmu tertinggal."
"O-oh." Eren beranjak dari posisinya dan mengambil buku berwarna biru muda yang diulurkan oleh Rivaille. "Terima kasih, maaf sudah membuatmu repot. Ak—"

"Bocah," Rivaille memotong kata-kata Eren. "Orang yang berani mengataiku kontet dan bersikap seenaknya kepada semua anggota Host Club—tak seharusnya menangis."

Eren terdiam. "..Eum, maksudnya?"

"Kalau menangis, kau terlihat bodoh." Rivaille berbalik dan berjalan keluar dari ruangan sempit dimana Eren tinggal. "Jadi.. jangan membuat wajah seperti itu lagi."

Tanpa mengucapkan 'selamat malam' atau 'sampai besok', Rivaille pergi begitu saja—meninggalkan Eren yang masih sedikit kebingungan di tempat. Namun Eren dapat melihatnya—samar, samar sekali—ada warna merah yang menghiasi di telinga Rivaille ketika sosok itu berbalik.

Apa Rivaille bermaksud menyemangati Eren?

"Ternyata—orang yang seperti itu juga punya sisi baik, ya." Eren tertawa kecil seraya menyeka air mata yang tersisa. Ia menatap sosok Rivaille yang memasuki mobil mewah dari ruangannya—ia tak dapat menahan senyum untuk tidak muncul di wajahnya. "Terima kasih."

Kemudian Eren kembali pada kenyataan—loh, tadi, dia berterimakasih kepada Rivaille—yang paling ia benci dari seluruh anggota Host Club? Eh—dan kenapa Eren masih senyum-senyum sendirian?

"Duh—kenapa aku jadi senyum sendirian, sih. Fokus, fokus! Host Club tetap harus diwaspadai!"

Walau berbicara begitu—tetap saja kau tak bisa berhenti tersenyum, 'kan, Eren?

Karena pertemuan kecil bisa membuat perubahan besar—pada perasaan seseorang.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

A/N:

HALO DISINI JAM SATU PAGI.

Kembali bersama Nacchan dan hobi 'update-tengah-malam-sampai-diceramahi-gara-gara-b elum-tidur' nya, dengan chapter tiga dari fanfic yang penuh orang-orang aneh ini! *tebar confetti*

(percaya ga percaya saya ngetik A/N sama nyelesein ini fanfic dalam keadaan setengah tumbang)

Oke... yang udah review kemarin:

Kunougi Haruka, Neete si Curut, Keikoku Yuki, Roya Chan, , akechii yoshioka, Guest, ayakLein24, JackFrost14, Kim Arlein 17, Darkness Maiden, F-Kondios, Ookami-Utsugi, Black roses 00, Rivaille Jaegar, Earl Louisia vi Duivel, Shigure Haruki, Azure'czar, Yami-chan Kagami, Fujoshi Ren, mager, NatureMature, Hasegawa Nanaho, kinana (HALOOO HAHAHA iya NaF kapan-kapan (?) aku update ya.. /dezigh), Kyo Kyoya, aitamicchi, reincanz anquezz, dan AutumnLee13!

Terima kasih sudah Review, kalian resmi jadi tamu Host Club mulai saat ini. Ayo dipilih, mau 'dilayani' sama siapa? *giggles*

Oke—maaf aku udah tumbang abis orz tidur, nach, tidur... jadi.. semoga kalian suka sama chapter ini, ya~ xD

Selalu dengan penuh cinta (ea),

Nacchan Sakura