"—RIVAILLE-SENPAI!"

Pagi yang tenang bagi Rivaille di hari itu menjadi sebuah pagi yang menghebohkan—dimana semua orang kini menatap dirinya yang dipanggil dengan suara lantang oleh seseorang. Rivaille menghela nafas panjang—ada apaan lagi, sih?

Oh—ada Eren Jaeger disana, dengan wajah setengah menangis seraya menatap tajam ke arah Rivaille. Drama apa lagi, kali ini?

"Eren, tak perlu teriak-ter—"

"SENPAI, KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRIKU!"

. . . . . .

...Ya?

.

.

.

Recon High School Host Club

Chapter 5: Watching you

.

.

**Author: Nacchan Sakura**

**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**

**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**

(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)

.

.

.

"—Jadi, apa masalahmu, Eren Jaeger?"

"—HMPPH HMPP HUMPUU HMP—"

"Hah? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu,"

"HMPP—"

"Bicara yang jelas, Eren."

"HMPPP!—"

. . . .

. . . . .

"...Jelas Eren ga bisa ngomong, senpai.. orang Eren digantung sambil dilakban mulutnya.."

Berthold hanya bisa menonton—tanpa ada niat untuk menolong teman satu anggota klubnya—yang saat ini—tengah digantung plus diikat terbalik di sebuah dahan pohon layaknya samsak tinju yang siap untuk dipukuli. Dan jangan lupa—satu buah lakban menempel di mulutnya, membuat Eren tak bisa berkata apa-apa.

Dan sedari tadi—semua anggota Host Club hanya menonton Eren yang terayun ke depan dan ke belakang, dengan tatapan yang sama sekali tak menunjukkan belas kasihan. Sementara yang bersangkutan—atau Eren—hanya menangis tanpa suara.

"Err—Rivaille, kurasa sudah cukup kau menghukumnya. Sebentar lagi bel masuk, 'kan?" Irvin—bagaikan malaikat, menyarankan Rivaille untuk melepaskan Eren dari hukumannya.

"Tch—baiklah. Jean, Armin, lepaskan dia."

Jean dan Armin pun melepaskan Eren—akhirnya.

"—Hah, hah—" Eren menghirup oksigen sebanyak-banyaknya—menikmati kebebasan setelah mulutnya harus terlakban selama beberapa jam tadi.

"Eren, kau baik-baik saja? Ini, minum dulu—" Armin memberikan Eren satu buah botol air mineral—aah, Armin memang sama seperti Irvin, baik hati bagaikan malaikat—

"Terima kasih, Armin!" Eren meneguk air mineral segar tersebut sampai tak tersisa—rasanya seperti hidup kembali!

"Pfft—hal bodoh apa sih yang kali ini kau lakukan? Sampai digantung seperti itu oleh Rivaille-senpai.." Jean geleng-geleng kepala—seharusnya semua orang tahu, tak ada siapapun yang boleh mencari perkara—sekecil apapun—dengan Rivaille.

Kecuali kalau kau seorang masochist menikmati rasa sakit dan mau menerima hukuman super kejam dari Rivaille—kau bebas berbuat semaumu di hadapan Rivaille.

"A-aku..." Eren terdiam—yah, dia sendiri juga bingung sih, kenapa dia bisa mendapatkan hukuman seperti ini—masa gara-gara ucapan dia tadi pagi, Rivaille sampai se-marah ini?

Padahal Eren hanya meminta pertanggung jawaban atas apa yang Rivaille lakukan kepadanya—itu saja. Apa karena ia mengatakan hal itu di depan banyak orang, makanya Rivaille menjadi marah seperti ini?

Yah—mungkin begitu. Tapi, tetap saja! Eren harus meminta tanggung jawab dari senior kontetnya itu! Apalagi, ini semua karena—

"—Eren, di lehermu ada sebuah tanda aneh... itu apa?"

—Uh, oh. Armin dan penglihatannya yang tajam.

"..Eeh... ini—"

Ya—tanda berwarna merah yang memiliki bercak warna biru di sekitarnya, tepat di sisi kanan leher Eren. Kalian pasti ingat, 'kan, itu tanda apa?

—Yap, sebuah bitemark penuh cinta dari Rivaille. ..Atau bukan. Rivaille menggigit sisi leher Eren hanya karena kesal, sebenarnya.

"Ini, kemarin—"

"—Eren." Rivaille memotong kata-kata Eren dan menarik lengan lelaki tersebut. "Kita perlu bicara."

"Eh—"

Jean dan Armin hanya saling pandang ketika Eren ditarik secara paksa oleh Rivaille—meninggalkan ruangan Host Club, entah kemana. Sementara Eren kebingungan sendiri—Rivaille mau membicarakan apa dengannya, coba?

Rivaille membawa Eren cukup jauh dari ruangan Host Club—ke ruang musik yang saat ini masih sepi—tak berpenghuni. Rivaille mendorong Eren untuk masuk ke dalam ruangan secara paksa, dan ketika Eren juga Rivaille sudah berada di ruangan tersebut—Rivaille menutup pintu.

Dan kini, hanya ada mereka berdua saja.

"...Err, senpai..?"

Rivaille tak langsung berbicara—keheningan sejenak menguasai seisi ruangan. Dengan satu helaan nafas—Rivaille berbalik dan kini, iris kelabunya menatap Eren dengan tajam dan menusuk—uh, Eren sudah bersiap untuk merasakan sakit—mengira bahwa seniornya ini akan main pukul tanpa ampun.

"—Jadi, tak bisa hilang, ya?"

"...Eh? Apanya?" Tanya Eren—dengan bodohnya.

"..Bitemark di sisi kanan lehermu, tolol. Coba kulihat sebentar,"

Rivaille menarik kerah dari kemeja Eren dengan kasar dan meneliti bekas berwarna merah kebiruan yang terlukis disana—ah, memang benar, tanda itu ternyata berbekas cukup dalam—Rivaille padahal merasa bahwa ia tak menggigit terlalu keras. Tapi—apapun jika dicampur dengan emosi, pasti jadinya akan tak terduga, bukan?

Rivaille menepuk jidat—benar, kemarin ia menggigit leher Eren karena emosi. Pantas saja bekasnya dalam. Masih untung kulit Eren tidak robek secara brutal—

"Untuk sementara, pakai ini." Rivaille menyerahkan satu buah perekat luka kepada Eren—yang diterima oleh sang bocah dengan penuh tanda tanya. Perekat luka—untuk menutupi bitemark?

"Err, kalau ada yang bertanya, bagaimana?"

"Itu sih, urusanmu. Kau punya otak, 'kan? Cari alasan sendiri."

'Urusan aku? Yang bikin ini tanda 'kan kamu!' Umpat Eren di dalam hati. Tapi ya—lebih baik daripada tidak diberi solusi sama sekali, bukan?

"—Dan, Eren, demi Tuhan—lain kali, jangan berteriak seperti tadi pagi. Kau membuat orang-orang salah paham."

"Eh? Salah paham kenapa?"

—Eren Jaeger dan otak lemotnya.

"...Kata-katamu tadi pagi itu ambigu, Eren."

"Eh?! Ambigu apanya?"

—Eren Jaeger dan kepolosannya.

"—Sudahlah. Pokoknya, tutupi bitemark itu, dan masuklah ke kelas."

Rivaille berbalik dan meninggalkan ruangan—meninggalkan Eren sendirian di tengah kesunyian. Apa-apaan—kenapa Rivaille jadi kesal tidak jelas seperti itu?

Eren hanya bisa menghela nafas—ya, sudahlah. Mungkin Rivaille sedang dalam masa PMSnya—jadi, emosinya sedikit labil.

—Eh tunggu—cowok mana bisa PMS?!

Eren geleng-geleng dramatis menanggapi kebodohannya sendiri—ia membuka bungkus perekat luka yang tadi diberikan oleh Rivaille, melakukan perintah pertama dari senior kontet itu untuk menutupi bitemark di lehernya. Eren membuka bungkus dari perekat luka itu sepenuhnya—kemudian ia cengo sesaat ketika melihat gambar apa yang tercetak di atas perekat luka tersebut.

"..Aku tak menyangka bahwa Rivaille-senpai mengoleksi perekat luka dengan gambar Disney Princess..."

. . . .

Ya, sekali lagi—lebih baik ada daripada tidak ada sama sekali, bukan?

Eren—dengan terpaksa—menempelkan perekat luka dengan gambar feminin tersebut di sisi kanan lehernya. Mungkin alasan 'tergores rak buku saat membersihkan kamar' bisa menjadi penambal, untuk saat ini. Trep—perekat luka tersebut sudah menempel secara utuh. Yap, semua sudah sempurna— Eren bersiap untuk menjalani kelas pertama.

SRAK!

...Eh?

Eren sedikit terkejut mendengar suara aneh tersebut—loh, itu suara apa? Eren menoleh ke kiri dan ke kanan—ia hanya sendirian, di ruangan ini. Dan dari mana asalnya suara tersebut?

SRAK! SRAK!

Eren menoleh sekali lagi—kini ia yakin, sumber suara berasal dari luar jendela—ugh, itu suara apa? Tidak mungkin ada kuntilanak di siang hari begini, 'kan—

Eren memutuskan untuk mengintip keluar jendela—ingin tahu apa penyebab suara-suara aneh yang tadi ia dengar.

—Oh, di bawah—di taman, tepatnya, Eren melihat seorang lelaki berkepala botak berkilau dengan seragam yang sama—sedang membawa sapu besar di tangan kirinya. Eren mengerutkan dahinya—sedang apa murid sekolah ini dengan sapu di tangannya? Mana mungkin 'kan, orang kaya di sekolah ini tahu caranya menyapu taman?

Atau—

...Oh.

OOOOH.

. . . .

"JANGAN-JANGAN, DIA PENYIHIR DAN ITU SAPU TERBANG MILIKNYA?!"

. . .

—Itulah kesimpulan absurd yang muncul di otak Eren—mengingat tak mungkin warga orang kaya di sekolahnya ini menyapu halaman, mungkin saja lelaki ini adalah penyihir seperti yang ada di film-film barat. Eren terus memperhatikan sosok lelaki tersebut—yang sedari tadi menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat waspada dan tak ingin ketahuan oleh orang lain.

Kemudian lelaki di bawah itu mengangkat sapu yang ia pegang sedari tadi—Eren memasang wajah bersinar-sinar. Apakah ia akan terbang?! Apakah ia akan terbang dengan sapu sihirnya?!

Lelaki dengan kepala botak bagaikan biksu tersebut mengayunkan sapu besar yang ia pegang dengan dramatisnya—dan Eren semakin berharap yang tidak-tidak.

Daan—

Plak!

BRUK!

DBUGH!

—Dan satu buah mangga jatuh dari atas pohon. Hore!

. . . . . . .

—Loh. Tunggu sebentar.

Kejadian itu dengan suksesnya membuat Eren cengo dengan mulut yang terbuka lebar kira-kira lima senti. Kemudian sosok yang sedari tadi ia perhatikan secara diam-diam—kini sudah berlari jauh dengan cepat, menggunakan kakinya—bukan dengan sapu terbang.

Kemudian Eren mulai mengulang-ulang kejadian fantastis yang tadi ia lihat—

Memang mustahil kalau anak orang kaya menyapu halaman,

—Tapi lebih mustahil lagi kalau anak orang kaya nyolong mangga dari pohon di taman sekolah, bukan?

"...Ahaha—hahaha... mungkin aku berhalusanusi—euh, halusinasi. Aku harus ke kelas sekarang."

Dan Eren pun memutuskan untuk melupakan kejadian tersebut.

.

.

.

"—Rapat Host Club, dimulai!"

Waktu berjalan dengan cepat—setelah semua kelas siang hari usai, Eren kembali ke ruangan Host Club dan mengikuti rapat mengenai festival sekolah dan juga Cosplay Cafe yang mereka rencanakan. Sejujurnya, Eren masih sangat, sangat malas untuk berpasitipasi dalam acara yang menurutnya tak berguna ini—tapi.. apa boleh buat.

"Tahun ini diputuskan bahwa tema cosplay cafe kita adalah—Butler and Maid cafe!"

Sorak sorai tepuk tangan mengiringi pernyataan Irvin—sayangnya semua orang bertepuk tangan dengan wajah sedatar tembok yang baru saja dilapisi semen. Sungguh sangat kontras.

"Ayolah, semangat! Aku sudah memutuskan desain seragamnya dan tugas kalian masing-masing. Festival tahun ini pasti menyenangkan!"

—Menyenangkan kepalamu.

"..Tunggu, Irvin-senpai... kalau temanya Maid and Butler, berarti ada yang memakai kostum Maid...?"

Pertanyaan yang menyadarkan Eren dari lamunannya—dilontarkan oleh Berthold Fubar.

"Benar sekali, Berthold! Jadi tahun ini, satu orang memakai kostum Maid, dan sisanya memakai kostum Butler!"

—Oh, tidak. Eren tahu rapat ini akan berujung pada satu hal yang tak beres—

"Dan—Selamat, Eren! Kaulah yang berhak mengenakan kostum Maid spesial rancangan Irvin Smith!"

. . . .

"OGAAAAH!" Eren menjerit dengan suara ala Godzilla yang sedang mengamuk—tuh, 'kan! Apa yang ia prediksi benar terjadi, ia menjadi kacung di dalam rencana mereka kali ini—lagi-lagi.

"Berisik.." Rivaille memutuskan untuk menutup telinganya dengan sepasang earphone—dan kembali menikmati buku novelnya.

"Ayolah, Eren—pasti kau manis dengan baju Maid." Reiner—berusaha menghibur dan meyakinkan Eren. Sementara yang bersangkutan malah menatapnya dengan tatapan membunuh.

"KENAPA HARUS AKU?! BUKANNYA ARMIN LEBIH COCOK?!" Eren menunjuk Armin yang kini memiringkan kepala dengan polosnya—oh, Eren mulai main 'lempar batu sembunyi tangan'.

"Armin sudah sering kami minta crossdress, kasihan dia. Sekali-kali giliranmu, lah." timpal Jean dengan santainya.

"—KALAU KAMU BISA NGOMONG BEGITU, KENAPA TIDAK KAMU SAJA YANG PAKAI BAJU MAID, HAH?!"

"AKU JUGA OGAH! LAGIPULA, KAMU 'KAN LEBIH COCOK JADI KACUNG!"

"DASAR MUKA KUDA—"

Brak!

—Perdebatan coretmesracoret sengit antara Jean dan Eren tersebut harus terhenti karena pintu ruangan Host Club yang terbuka begitu saja—oh, di ambang pintu ada seorang lelaki yang membawa tumpukan kardus—entah apa isinya. Tapi kardus-kardus itu memang bertuliskan 'Untuk Host Club', yang berarti isinya memang ditujukan untuk orang-orang di klub ini.

"—Oh, Connie! Terima kasih sudah capek-capek mengantarkan pesananku!" Irvin tersenyum lebar seraya menghampiri lelaki yang wujudnya masih tertutupi tumpukan kardus—sementara Eren masih penasaran akan isi dari kardus-kardus tersebut.

"Tidak apa-apa, Irvin-senpai. Terima kasih sudah memakai jasa orangtuaku untuk membuat baju-baju ini—hanya ini tanda terima kasih yang bisa kuberikan,"

Lelaki bernama Connie itu menurunkan kardus-kardus tersebut dari tangannya—membuat sosoknya yang tadi tertutupi, kini terlihat jelas oleh semua anggota klub—termasuk Eren.

..Yang kini, tengah membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.

"—KAU!"

Suara lantang Eren disertai dengan telunjuknya yang mengarah pada Connie—membuat Connie dan anggota yang lain menatap keheranan. Eren dan Connie berada di kelas yang berbeda—dan Eren bukan tipe orang yang bersosialisasi dengan anak kelas lain. Lalu—

"KAU 'KAN, ANAK YANG TADI PAGI NYOLONG MANGGA MEMAKAI SAPU!"

. . . .

...Oh.

"...TUNG—" Connie memasang wajah yang sedikit panik—yah, ia terkena dampak dari 'Eren Jaeger-dan-mulutnya-yang-tak-bisa-dijaga.'. Semua anggota Host Club kini memasang mata mereka ke arah Connie.

"Connie... apa benar kau mengambil mangga tanpa izin seperti itu?" Tanya Armin

"Apakah perusahaan ayahmu bangkrut? Sampai kau tak mampu membeli mangga dan akhirnya mencuri seperti itu..." Berthold kini memasang wajah iba—ditemani Reiner yang mengangguk-angguk dramatis.

"Connie, kau—"

"—KALIAN SALAH PAHAM!" jerit Connie—oke, klub ini memang— "Dengarkan dulu penjelasanku!"

Semua anggota Host Club terdiam di tempat—tiba-tiba ruangan menjadi hening seketika.

"...Aku bukan mengambil mangga—sebenarnya, aku mau mengambil sesuatu yang lain—"

"Sesuatu yang lain?" Reiner mengerutkan dahinya. "Dan.. sesuatu itu, apa?"

"...Itu—"

.

.

.

"...Sebuah kalung, ya?"

Jean mengandalkan penglihatannya yang tajam dan melihat di antara dedaunan pohon yang cukup tinggi—terlihat kilauan dari suatu benda yang terkena sinar matahari. Connie mengangguk seraya mengatupkan mulutnya rapat-rapat—ia tidak berbohong.

"Itu kalung yang aku lempar karena emosi.. milik teman masa kecilku. Aku merasa bersalah, jadi... aku berusaha mengambilnya. Tapi yang jatuh bukan kalung, melainkan buah—dan karena tak mau ada yang curiga karena ada buah yang jatuh secara tiba-tiba, aku mengambilnya.."

Oh—sekarang, semua kesalahpahaman yang Eren lihat menjadi jelas, Connie memang tak ada niat untuk mencuri buah mangga dari taman sekolah—ia ingin mengambil kalung yang tersangkut di atas sana.

"Kenapa tidak memanjat saja?" tanya Eren dengan polosnya. "Bukankah mudah kalau kau memanjat ke atas pohon dan mengambilnya?"

"—Mana bisa! Aku tidak bisa memanjat!"

"Oh—bilang dong, kalau tidak bisa." Eren tertawa garing. "Kalau begitu, biar kuambilkan!"

Dengan cekatan—Eren mengangkat tubuhnya dengan bantuan batang pohon yang cukup lebar dan kuat—ia memanjat tanpa masalah, membuat Armin, Jean, Reiner, Berthold dan Connie—terkejut karena Eren memanjat tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

"Eren! Jangan melakukan hal berbahaya, cepat turun—"

"Hahaha, tenang saja, Armin! Aku sudah biasa manjat pohon seperti ini~" Eren melanjutkan aksinya—sampai ia berhasil berada di titik paling tinggi. Eren mencari-cari dimana benda yang berkilau itu berada—dan matanya menangkap sebuah perhiasan perak dengan liontin berbentuk bunga matahari di ujungnya, tersangkut di antara ranting.

"Aku dapat kalungnya!" Eren mengambil kalung tersebut dan turun dari atas pohon dengan cepat—tanpa masalah sama sekali. "Ini, kembalikan ke temanmu dan minta maaf kepadanya, ya!"

Eren mengulurkan tangannya yang menggenggam kalung perak tersebut kepada Connie—namun yang bersangkutan yang menatap kalung itu dengan tatapan sendu.

"—Boleh aku minta tolong? Tolong berikan kalung itu padanya, dan jangan bilang kalau kalian tahu soal kalung itu dari aku, ya?" Connie menatap Eren seraya tersenyum lirih. "Kalung itu milik Sasha Braus, anak kelas B."

"..Loh? memangnya kenapa—kamu 'kan yang melemparkan kalung ini, kamu juga yang harus berani bertanggung jawab!" Eren secara paksa memindahkan kalung tersebut dari telapak tangannya—kepada telapak tangan Connie. "Sana, berikan!"

"..Tapi..." Connie menatap kalung tersebut ragu—kemudian ia menghela nafas. "Baiklah. Terima kasih.. aku ke kelas dulu, ya."

—Dan Connie Springer pun pergi begitu saja.

.

.

.

"Oh, isi dari kardus yang Connie bawa tadi itu ternyata kostum untuk festival sekolah nanti.."

"Iya, keluarganya memang pembuat baju terkenal—ooh, lihat kostum Maid rancanganku! Dijahit dengan begitu rapi dan manis—hey, Eren—"

"—MANA? AKU MAU BAKAR KOSTUMNYA." Eren merebut kostum tersebut secara paksa dari tangan Irvin—hendak membakar kostum berenda-renda tersebut dengan sebuah korek api yang entah dari mana datangnya.

Pokoknya—sampai Titan bisa beranak ultraman sekalipun—Eren tidak mau memakai kostum tersebut. Tidak.

"—Kalau kau membakar kostum itu, Eren.. hutangmu akan bertambah."

. . . .

Eren terdiam.

"Dan kalau kau masih tak mau memakai kostum itu," Rivaille melemparkan satu tatapan mencekamnya ke arah Eren. "Kau akan tahu akibatnya."

Eren tiba-tiba merasa merinding disko—buset, ada mahluk ghaib lewat apa gimana?!

"B-Baiklah, aku akan pakai... bajunya."

Eren Jaeger: 0

Rivaille: 1

Pemenang sudah ditentukan!

Eren menghela nafas—pertanda bahwa ia menerima kekalahan. Suara Armin yang memanggil Eren dari kejauhan membuat lelaki dengan surai coklat itu pergi menjauh dari Rivaille yang masih menatapnya—dan juga Irvin yang tersenyum penuh arti.

"Modus sekali, Rivaille. Bilang saja kau mau melihat Eren memakai kostum Maid."

"BAWEL."

.

.

.

Dan setelah mempersiapkan beberapa hal..

Akhirnya, Festival sekolah dimulai.

~Recon High School Cosplay-Host Cafe, dibuka!~

"Selamat datang, tuan muda dan tuan putri!"

Suasana di dalam ruangan Host Club—yang kini beralih fungsi menjadi Cosplay Cafe untuk sementara, benar-benar ramai tak terkira. Tamu-tamu berdatangan seperti biasa, namun jumlahnya lebih banyak dari biasanya—mengingat festival ini terbuka untuk umum, yang berarti—banyak murid sekolah lain yang juga datang ke Cosplay Cafe ini.

"Waah! Armin-sama, tahun ini kau menjadi Butler? Keren sekali!"

"Terima kasih, tuan putri." Armin tersenyum lembut ke arah seorang tamu yang kini mendapat giliran untuk dilayani olehnya. "Tuan putri juga terlihat cantik, hari ini. Mau tambahan satu cangkir teh, tuan putri?"
"T-tentu saja aku mau!"

—Dan pemandangan seperti itu tetap sama, tak berubah—selain memberikan sajian makanan manis dan teh lezat, Host Club tetap melayani tamunya seperti biasa. Jean dan Berthold, seperti biasa, mengeluarkan senyum berkilaunya kepada seluruh tamu. Reiner, seperti biasa—mengeluarkan kata-kata manisnya yang ampuh, bersama Irvin. Sementara Rivaille dikerubungi oleh fangirlnya yang berjibun. Tentu saja, Rivaille dengan baju Butler itu merupakan pemandangan indah—Eren diam-diam mengakui hal tersebut.

Semua anggota Host Club begitu mempesona dengan seragam Butler mereka yang elegan dan keren, dibalut oleh warna hitam dan juga kemeja putih di dalamnya.

..Terkecuali, untuk satu orang.

"—EREN-SAMA, ANDA MANIS SEKALI!"

Eren berusaha menutupi wajahnya dengan sebuah nampan—sial, orang-orang di klub ini pada akhirnya benar-benar membuat Eren memakai baju laknat yang penuh renda dan sedikit pendek tersebut—jangan lupa wig rambut panjang dengan warna yang senada dengan rambut aslinya—membuat Eren terlihat seperti perempuan yang manis, sekarang.

"...Eren, kau memakai kostum Maid?"

"Ah—Eh, Mikasa-san?" kedua alis Eren terangkat sedikit ke atas—"Kau ternyata datang!"

Ya—pemandangan aneh, ketua OSIS yang menentang Host Club mati-matian kini mengunjungi Host Club sebagai tamu.

"..Y-ya, aku sudah tidak menentang klub ini lagi, jadi—"

"—BAIKLAH. Ackerman, sekarang giliranmu—kau boleh duduk. Kau akan dilayani oleh Jean dan Berthold. Silahkan duduk dan tulis pesananmu."

—Rivaille dan perasaan cemburu terselubung miliknya. Memotong kata-kata Mikasa dengan santainya dan menyuruh Eren kembali bekerja. Dan untuk beberapa saat—terjadi adu Death glare diantara Mikasa dan Rivaille.

Dan semua anggota klub—minus Eren dan Rivaille—menyadari akan satu hal disini.

'Oh, cinta segitiga.'

Eren pun mengikuti perintah Rivaille untuk kembali bekerja—kini ia menghampiri satu meja yang diisi oleh seorang gadis dengan rambut coklat kemerahan yang diikat bentuk ponytail. Eren memasang senyum sejuta watt andalannya—dan dengan suara paling lembut yang ia miliki, Eren menyapa gadis tersebut.

"Selamat siang, tuan putri. Mau memesan sesuatu?"

Gadis itu mengangkat wajahnya—ia menatap Eren sesaat, kemudian matanya kembali menatap buku menu. "Tidak ada Mashed Potato, ya?"

"—Tidak ada, tuan putri."

"..Kue kentang juga tidak ada?"

"..Tidak ada."

"Yaah..."

Satu mata Eren berkedut—sudah tahu cafe ini hanya menyajikan dessert dan teh, kenapa gadis itu malah meminta makanan dengan bahan dasar kentang?

"Ya sudah, Strawberry Shortcake satu, deh..."

"Baiklah, tuan putri—"
"Sasha, Sasha Braus. Aku tidak suka dipanggil tuan putri." Gadis itu tersenyum simpul—melirik ke arah nametag yang tertempel di saku kanan pakaian Eren. "Salam kenal, Eren Jaeger."

Sasha Braus—rasanya nama itu tidak asing, pikir Eren. Kemudian Eren teringat akan Connie dan kalung perak—oh!

"Oh—kau temannya Connie, ya?"

Sasha terdiam.

"...Um, ya.."

"Ah, pantas saja aku tidak asing dengan namamu! Ah, aku akan membawakan pesananmu sebentar lagi, mohon tunggu sebentar, ya."

Eren segera pergi ke bagian belakang ruang Host Club, mengambil satu potong Strawberry Shortcake yang sudah siap saji dan meletakannya di atas piring. Kemudian Eren membawa sepotong kue creamy tersebut di atas nampan—siap disajikan untuk gadis bernama Sasha Braus.

"Silahkan!" Eren meletakkan kue tersebut di atas meja. "Aku yang akan melayanimu sampai jam tamu berikutnya tiba, jadi, ayo kita berbincang!"

"—Un," jawab Sasha singkat—Sasha mengambil garpu kecil yang tersimpan di samping piring, dan mulai memotong kecil kue miliknya.

"Jadi, Sasha—kau temannya Connie, bukan?"

"—Jangan bicarakan dia. Kumohon.."

—Eh? Eren terdiam seketika. Eren melihat ke arah leher Sasha—oh, ia masih belum memakai kalung perak yang Connie buang beberapa hari lalu—yang berarti, Connie belum mengembalikannya kepada Sasha.

Dan itu berarti—mereka belum berbaikan.

"Kau bertengkar dengannya, ya?" Eren dan sisi keponya kembali bertanya. "Kalian kenapa bertengkar, memangnya?"

"..Itu..."
"Aku tak akan bilang siapa-siapa, aku janji!"

Eren tersenyum penuh keyakinan—sementara Sasha menatapnya ragu untuk sesaat. Sasha menundukkan wajahnya.

"Aku hanya bilang kalau aku menyukai... Jean... lalu Connie marah dan melempar kalung kesayanganku.."

—Oh, masalah cemburu ternyata. Jelas, mungkin Connie memiliki perasaan untuk Sasha, dan ia—

..Tunggu.

"—KAU MENYUKAI SIAPA?!"

"Ssst! Jangan keras-keras—"
"—Oh, maaf." Eren berdehem pelan. "Kau.. menyukai Jean? Serius?"

"I-iya, aku serius. Apa ada yang aneh?"

Eren ingin rasanya tertawa sekencang mungkin—ternyata lelaki dengan muka kuda itu bisa juga ada yang naksir. Coba saja Jean tahu soal hal ini—ia pasti sudah memasang tampang sok keren, merasa bangga karena ada gadis yang menyukainya—

"Tapi, sainganku banyak... fans Jean 'kan memang banyak."

—Oh, Eren lupa. Jean itu anggota Host Club—dan semua anggota Host Club memiliki banyak fans wanita.

..Cinta itu buta, ya—pikir Eren.

"Euh... baiklah. Lalu.. soal Connie.."

"Dia marah begitu saja, tanpa alasan. Kira-kira kenapa, ya..."

Sudah jelas Connie cemburu, bukan?

"Uhm—mungkin Connie saat itu sedang banyak pikiran saja, jadi dia sedang emosi... dan kau dijadikan pelampiasan. Tapi Connie merasa bersalah, kau tahu? Kemarin ia sampai memanjat pohon untuk mengambil kalung milikmu."

"—Eh, sungguh? Connie 'kan tidak bisa memanjat!"

Tentu saja—orang yang manjat dan ambil kalung itu Eren.

"Connie mungkin hanya mencari waktu untuk minta maaf kepadamu, Sasha. Kau mau memaafkan Connie, kalau ia meminta maaf?"

"—Tentu saja, Connie itu teman terbaikku semenjak kecil—aku sedih kalau ia membenciku,"

Eren tersenyum simpul—ya, hubungan pertemanan memang tak sepantasnya dirusak hanya karena masalah sepele seperti itu. Walau Eren juga harus sedikit merasa kasihan pada Connie yang sepertinya masuk ke dalam lingkaran 'Friendzoned'.

"Aku juga ingin meminta maaf pada Connie, mungkin karena aku ini cerewet dan selalu mengoceh soal Jean kepadanya, ia mulai bosan dan kesal.. tapi, aku tak tahu caranya meminta maaf kepada dia bagaimana."

Sasha kembali menundukkan wajahnya—oh, Eren mulai merasa iba. Sasha hanya memasang senyum yang terlihat sendu dan kembali bermain dengan krim dan juga Strawberry yang ada pada kue miliknya—namun pikiran Sasha pasti sudah melayang, memikirkan hal lain.

"—Aku akan membantumu!" ujar Eren secara tiba-tiba. "Aku akan membantumu berbaikan dengan Connie! Aku punya rencana!"

"E-Eh?" Sasha menatap Eren dengan tatapan kebingungan. "Rencana?"

"Iya!" Eren tersenyum mantap. Ia yakin—ia akan berhasil. "Percaya saja kepadaku!"

—Rencananya yang akan membawa suatu hasil yang tak terduga.

.

.

.

"Terima kasih atas kerjasamanya! Ini baru hari pertama, kawan-kawan. Festival berlangsung selama tiga hari—jadi, berusahalah lebih baik esok hari!"

Irvin memberi semua anggota klub ucapan terimakasih dengan penuh senyum—sementara anggota klub yang kelelahan hanya merespon secukupnya.

"Ah... Irvin-senpai, boleh aku berbicara sebentar?"

Rivaille menatap sosok Eren—yang menghampiri Irvin, dari kejauhan. Tanpa sadar, satu matanya berkedut karena kesal.

—Oh. Ada yang sadar kalau Rivaille cemburu?

"Hmm?" Irvin menoleh ke arah Eren dengan senyumnya, seperti biasa. "Ada apa, Eren?"
"Uhm.. itu—sebenarnya, besok..."

"..Besok?"

"Aku.. mau minta tolong Irvin-senpai.. dan yang lainnya,"

"Untuk?"
"Membuat Connie dan Sasha berbaikan.."

—Hening.

Dan tanpa disadari siapapun, mata Rivaille berkedut kesal—lagi.

"..Alasanmu membantu mereka?"

"..Eh—alasan?"
"Ya—kalau kau mau membantu mereka, pasti ada alasannya, bukan? Kau baru bertemu Connie kemarin, dan bertemu Sasha tadi. Mereka melakukan apa kepadamu—sampai kau mau membantu mereka?"

Eren terdiam—sementara Irvin dan juga anggota klub yang lain hanya menatap Eren intens. Eren sedikit kebingungan—memangnya harus ada alasan, ya?

"..Aku rasa, menolong seseorang itu tak perlu alasan... bukan?"

Jawaban sederhana dari Eren Jaeger tersebut—cukup untuk membuat Irvin tersenyum.

"Baiklah, kami akan membantu. Kau punya rencana?"

"Ada! Um—tapi, aku butuh bantuan kalian semua—"
"Aku menolak. Aku tak mau berpasitipasi."

Eren tak sempat bertanya ketika Rivaille tiba-tiba memotong pembicaraan—dan meninggalkan ruangan begitu saja. Loh—lagi-lagi, Rivaille marah tanpa sebab.

Tapi—Eren membutuhkan semua orang, termasuk Rivaille—untuk rencananya kali ini. Jadi yang Eren lakukan selanjutnya adalah—mengejar Rivaille yang sudah meninggalkan ruangan.

"Tung—Tunggu, senpai!"

Rivaille tak menjawab—ia bahkan tak mau repot-repot untuk berbalik dan berhenti berjalan. Sial—walau kakinya pendek, Rivaille berjalan dengan sangat cepat.

Tapi Eren Jaeger tak mau menyerah—ia tetap mengejar Rivaille, menyamakan kecepatan langkah kakinya dengan senior bersurai hitam pekat tersebut.

"Senpai!" Eren menarik lengan Rivaille—yang akhirnya—berhasil terkejar olehnya. "Ada apa, sih? Kenapa tiba-tiba marah dan tak mau ikut rencanaku begitu saja? Apa kau—"
"—Kau memiliki perasaan apa," Rivaille memotong kalimat Eren. "Kepada Braus?"

—Hening.

"...Maaf?"

"Kau memiliki perasaan khusus kepada Sasha Braus?"

"..H-HAH?! Apa yang membuatmu berpikir begitu?!" Eren mengerutkan dahinya—apa yang dipikirkan oleh Rivaille, sih?!

"Kau menolongnya.. benar-benar tanpa alasan?"

"—Sudah kubilang, menolong orang itu tak perlu alasan, bukan?" Eren menghela nafas. "Senpai ini kenapa, sih?"

Rivaille membuang pandangannya—entahlah, ia sendiri bingung—hanya dengan melihat Eren yang dikerubungi oleh banyak tamu saja, Rivaille sebenarnya sudah kesal—tanpa sebab. Rivaille juga merasa sedikit kesal ketika melihat Eren berbicara akrab dengan Sasha—dan kekesalannya semakin menjadi ketika lelaki itu bilang mau membantu Sasha dan Connie untuk berbaikan.

Ini.. sebenarnya, perasaan apa?

"—Sudahlah, lupakan." Rivaille melepaskan lengannya yang sedari tadi masih digenggam oleh Eren—dengan kasar. Eren menggembungkan pipinya—sama keras kepalanya, Eren tak mau menyerah.

"Kumohon!" Eren meraih lengan Rivaille—sekali lagi. "Aku betul-betul butuh bantuan semuanya—termasuk senpai. Aku akan melakukan apapun agar kau mau bergabung—tapi aku membutuhkanmu untuk ikut dalam rencanaku!"

Oh—sebuah kalimat yang membuat sifat keras kepala Rivaille mencair. Di tengah kesempitan tersebut—Rivaille menemukan sebuah celah; sebuah kesempatan.

Kerutan di dahinya perlahan menghilang—digantikan oleh seringai yang tertutup oleh bayangan. Rivaille akhirnya berbalik—menghadap Eren yang masih memejamkan matanya seraya memohon.

"—Apapun?"

"..Eh?"
"Kau benar-benar akan melakukan—" Rivaille balas menarik lengan Eren yang tadi menahannya untuk melangkah—membawa wajah Eren turun sejajar dengan sorot matanya, mendekatkan jarak di antara mereka. "...Apapun?"

Deg! Eren merasakan jantungnya berdebar kencang—dan wajahnya merona. Kejadian ini rasanya seperti deja-vu, baru saja ia mengalami hal serupa beberapa hari yang lalu—dan kini, terulang kembali.

"S-Senpai, wajahmu terlalu—"
"Jawab pertanyaanku, Eren." Rivaille mengangkat lengan kirinya yang bebas—kini menyentuh sisi wajah Eren yang terasa hangat dengan telapak tangannya. "Kau akan melakukan... apapun?"

Eren menelan ludah—debaran jantungnya makin kencang, dan ia yakin, rona wajahnya juga—

"A... Aku..."

Eren harus menjawab apa?

Kalau ia meng-iyakan pertanyaan tersebut—Eren tahu apa yang akan Rivaille lakukan selanjutnya. Dan Eren bimbang—bukannya salah, jika ia yang membenci Rivaille membiarkan Rivaille melakukan hal tersebut?

Tapi—Eren juga tidak menolak, dan Eren juga harus mengakui—ia tak akan membencinya jika Rivaille melakukan hal seperti itu terhadapnya.

Dan ia juga sudah berjanji kepada Sasha, bukan?

Jadi—

"..Aku.. akan melakukan apapun."

Eren tak tahu bahwa seringai di wajah Rivaille kini semakin lebar.

Rivaille menarik lengan Eren dan memutar tubuhnya—kini berbalik dan bersandar pada tembok lorong sekolah yang sudah sepi di sore hari. Eren merasa sedikit kesakitan—tentu saja, siapa yang tidak merasa sakit jika dibanting secara tiba-tiba seperti itu?!

Kemudian Eren merasakan tubuhnya terjatuh ke atas lantai dengan cepat—kali ini, apa lagi? Eren membuka matanya—oh, kini Rivaille berada di hadapannya, dengan kedua tangannya yang mengunci pergerakan Eren dan wajah mereka yang sangat dekat—

"Kau bilang kau akan melakukan apapun, bukan?"

Suara yang rendah itu berbisik dekat di telinga Eren—membuat Eren menelan ludah dan tak dapat berkata apapun. Hanya sebuah anggukan kecil yang menjadi jawaban Eren—dan itu sudah cukup.

"Kalau begitu, aku memintamu untuk.. diam, tidak berusaha untuk kabur, dan tidak protes."

"..Eh? memangnya kau mau ap—"
"Dan jangan bertanya apapun, Eren."

"..Eh—"

Nafas yang panas itu berhembus dari sisi wajahnya—dan kini berpindah, dekat dengan telinga Eren yang sudah sangat merah. Eren menelan ludah—ia tak boleh berkata apapun, dan mungkin ini hanya latihan—latihan antara sesama anggota klub. Benar begitu... 'kan?

"—Akh!" Sebuah desahan yang tertahan keluar dari mulut Eren begitu saja—ketika ia merasakan sesuatu menggigit lembut daun telinganya. Hangat—oh, mungkin Rivaille memutuskan untuk mulai bermain dari sana—menjilati daun telinga Eren dengan lembut dan menggigitnya sesekali.

"—Hn.."

Eren menutup mulutnya rapat-rapat—ia tidak boleh protes, bukan?

Hangatnya hembusan nafas itu kini berpindah lagi—kali ini ke tempat yang sama dengan dua hari yang lalu, sisi kanan leher Eren. Betul-betul seperti sejarah yang terulang—apa kali ini, Rivaille juga akan membuat tanda baru di sisi leher tersebut?

"Ukh—S-Senpai—"

"Aku menyuruhmu untuk diam, Eren."
"—Kh.."

Eren benar-benar menutup rapat mulutnya kali ini—perintah Rivaille adalah sesuatu yang tak bisa kau lawan.

"Katakan, Eren—apa sakit, ketika aku menggigit lehermu dua hari yang lalu?"

"E-eh?"

"—Apa kau membencinya, kalau aku melakukan hal yang sama—sekali lagi?"

Benci ataupun tidak—

Terpaksa ataupun tidak—

Eren memang tak akan bisa, dan tak mau menolak.

Itulah hal pasti yang Rivaille tak ketahui—suatu hal yang tak pernah Eren Jaeger katakan.

'Kenapa—bukannya aku ini membenci Rivaille-senpai, ya?' Tanya Eren di dalam hati. 'Tapi, kenapa...'

Di tengah-tengah cinta dan benci, ada garis pembatas yang bisa kau lewati.

"Aku—"

Di tengah-tengah garis itu, Eren berdiri.

"Aku..."

Ke arah mana ia akan melangkah?

Cinta,

Atau—

...Benci?

"Aku..."

Deg, Deg, Deg—

"Aku—"

"—Eren, Rivaille-senpai, kalian dimana?"

...Oh no.

Sebuah suara membuat Rivaille dan Eren dengan cepat—menjauhkan diri dan kembali pada posisi mereka semula secara otomatis. Rivaille berdehem pelan—sementara Eren masih menundukkan wajahnya, karena rona wajah yang masih belum menghilang—

Dan Rivaille diam-diam mengumpat di dalam hati. Tch—siapapun yang sudah mengganggunya dalam mengambil kesempatan—Rivaille benar-benar bersumpah akan memberi pelajaran kepada orang itu.

"Oh, disini toh!" Jean—dengan watadosnya—menghampiri Eren dan Rivaille yang masih berada dalam jarak aman. "Aku diminta Irvin-senpai mencari kalian—"

"Bilang pada Irvin bahwa aku pulang duluan." Rivaille—tak mau ambil pusing karena sudah kesal pangkat dua—berbalik dan berjalan meninggalkan Eren dan Jean. "..Dan bilang pada Irvin, aku mengikuti rencana Eren."

Perlahan—Eren yang tadi menundukkan wajahnya, kini tersenyum lebar—akhirnya! Eren sempat mengira bahwa Rivaille masih akan menolak—karena aktivitas mereka terhenti begitu saja tadi. Tapi Rivaille masih mau membuka hatinya—dan memutuskan untuk membantu Eren dan rencananya.

"—Tapi jangan berbahagia dulu, Eren. Urusanmu denganku belum selesai, mengerti?"

Eren dapat merasakan Rivaille menyeringai licik, dari nada bicaranya—dan semburat merah kembali muncul di wajah sang lelaki beriris Emerald. Ugh—ternyata memang—ia membenci seniornya yang satu itu.

Ia benci karena..

Karena ia tak bisa membenci Rivaille seperti apa yang ia inginkan.

—Karena ia tak bisa membenci Rivaille walau seniornya itu melakukan hal-hal yang tak sewajarnya kepada Eren.

"B-berisik! Aku mengerti, kok!" Respon yang Eren berikan hanya membuat Rivaille semakin tertarik—lelaki polos itu dengan perasaannya yang masih samar, sedikit manis di pandangannya.

"...Err, memangnya kau dan Rivaille-senpai.. ngapain?" Tanya Jean, penasaran.

"...Tidak, tidak ada apa-apa..."

—Dan kebohongan itu menjadi penutup festival sekolah di hari pertama—dengan hari esok yang menunggu di depan mata, bersiap untuk rencana yang Eren Jaeger susun untuk membuat Connie dan Sasha berbaikan.

...Dan juga untuk kejutan lain yang Rivaille persiapkan untuknya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N Corner:

HALO DISINI JAM 12 MALAM.

Nacchan kembali dengan rutinitas update tengah malamnya.

Jangan anggap saya mahluk ghaib—saya sebenernya ga bermaksud atau merencanakan buat update tiap tengah malem, tapi apa daya... ngetik jam berapapun pasti selesainya jam segini. Maklum, susah cari inspirasi :')

(BOHONG. Padahal sepanjang ngetik Nacchan kadang-kadang procrastinate dulu—atau selingkuh sama osu!...)

OKE. Dan hari selasa saya sudah mulai kuliah. HORE. SELAMAT DATANG KEHIDUPAN. SELAMAT DATANG TUGAS. *pasang tampang stress ala squidward*

Dan Nacchan disini sedang ngiri super kuadrat dengan kalian yang bisa pergi ke AFA. Dan kalian yang pergi ke AFA menerima death glare penuh cinta dari saya. Muach.

Tapi seengganya Author dapet barang gratis dari boot SnK *pamer* karena dikasih sama temen sebagai oleh-oleh hore *disambit*

OKE STAHP! Author mau mengucapkan terima kasih kepada:

Chun . is . haru, TakaneMemori, Keikoku Yuki, aitamicchi, SeraphelArchangelaClaudia, Rivaille Jaegar, Ookami-Utsugi, Yami-chan Kagami, JackFrost14, Harumi Ryosei, Kim Arlein 17, tsunayoshi yuzuru, Black Roses 00 (maaf jadinya saya pake konsep butler maid huehue maaf ;A;), Azure'czar, Roya Chan, ayakLein24, reicanz anquezz, LinLinOrange, LunaArcelEolia, mager, Hasegawa Nanaho, Fujoshi Ren, Rikkagii Fujiyama, akechii yoshioka, luffy niar, Darkness Maiden, Carmelina, saerusa (Reviewmu bikin ngakak pls), Rei Ichihara, Kyo Kyoya, AlstroemeriaSBT8, Shigure Haruki, dame dame no ko dame ku chan, Kazu Fuyuki, AkakoNichiya, Sonoyuki Rizuki, Kyu Zora, ryuusei-gemini dan Para silent reader sekalian!

Tanpa kalian, Author ini hanyalah butiran debu yang sekali pites langsung ancur... tanpa kalian, author hanyalah keset welkom yang diinjek-injek di depan pintu... (HALAH LEBE

Yak untuk tanda terima kasih... silahkan menikmati waktu kalian bersama para anggota Host Club! Mau dilayani sama siapa, ga usah milih~ ambil aja sesuka hati! *seenaknya*

Dan Nacchan izin undur diri~ mengingat besok /seharusnya/ bangun pagi karena harus ke kampus... (nyatanya masih OL tapinya)

Sampai jumpa di chapter depan!

Author yang hobi menggalau,

Nacchan Sakura.