"—Duuh, Eren, ngaku aja... kamu suka dia, 'kan?"

"E-eh? Ngga!"
"Kalau gitu, benci?"

. . . . . . .

"...Iya! Benci! Aku benci dia!"
"Tapi.. benci sama suka itu bedanya tipis, loh~"

"T-tapi 'kan.. umm.. itu..."
"—Eren. Ngapain kamu ngomong sendiri di depan kaca...?"

. . . . . . . .

"..Eh... tidak apa-apa kok, Armin."

.

.

.

Recon High School Host Club

Chapter 6: Suki Kirai

.

.

**Author: Nacchan Sakura**

**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**

**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**

(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)

.

.

.

Hari kedua festival Recon Academy.

Suasana semakin ramai, banyak murid sekolah lain dan juga pengunjung dari berbagai usia yang berdatangan hari ini—membuat sekolah orang kaya yang mewah di hari-hari festival ini menjadi tak ada bedanya dengan pasar di hari minggu.

Eren menghela nafas—entah untuk yang ke berapa kalinya. Cafe Host Club belum dibuka, masih menunggu persiapan untuk selesai dengan sempurna—dan hari ini juga, ada suatu 'pertunjukan' yang merupakan rencana Eren untuk membuat Sasha dan Connie berbaikan.

Tapi—Eren harus mengakui, moodnya untuk membuat mereka berbaikan sedikit memudar karena satu hal.

Dan hal itu, adalah..

"—Eren."

Eren menelan ludah—duh, orang yang paling ingin ia hindari malah menyapanya di pagi hari begini. Eren sedikit berdebar—ia rasanya tak sanggup melihat wajah seniornya yang satu itu.

Rivaille.

'Penyakit yang tidak diketahui', atau begitulah Eren menyebutnya—penyakit yang membuatnya tak bisa melihat Rivaille tepat di matanya, karena debaran jantungnya akan semakin kencang jika ia melakukan hal itu, karena wajahnya akan menjadi merah tanpa sebab, karena tiba-tiba tubuhnya akan jadi lemas dan keringat bercucuran—

"A—Apa?" jawab Eren, lemah. Rivaille menarik satu alisnya ke atas.

"..Kau kenapa? Demam?"
"Euh—tidak. Aku baik-baik saja. Aku sehat! Lihat otot-otot ini dan wajahku, bugar semua! Hahahaha—"

. . . . .

"..Haha."

KRIK. Eren memang tidak pandai berbohong—otot aja sebenarnya ga punya.

"..Oh. ya sudah—aku hanya mau memberitahumu bahwa kau bisa pakai kostum butler, hari ini. Kali ini giliran Armin yang memakai kostum maidnya."

..Eh.

Eh.

EHHHHH?!

"—SERIUS?!" Eren loncat kegirangan seraya tersenyum lebar—HORE! Ia tak perlu memakai baju renda mini terkutuk itu lagi!

PUJA KERANG AJAIB! PUJA POHON MANGGA YANG DICOLONG CONNIE!

Eren meninggalkan Rivaille dan bergegas ke ruang ganti—melihat sebuah kostum Butler sudah tergantung rapi khusus untuknya. Akhirnya, akhirnya—ia tak perlu crossdress! Ia bisa menjadi lelaki hari ini!

Eren menarik nafas—baiklah, saatnya untuk bekerja!

.

.

.

Sasha menoleh ke kiri dan ke kanan—ia datang lagi ke cafe Host Club karena permintaan Eren kemarin. Sebenarnya Sasha sedikit ragu dengan keputusan Eren untuk membuat ia dan Connie berbaikan—tapi, ya...

"Eh, Sasha..?"

Sasha menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya—matanya menangkap sosok gadis dengan rambut pendek dan syal merah. Sasha tersenyum lebar.

"Mikasa?!"

"Sedang apa kau disini..?"

"Harusnya aku yang bertanya! Mikasa 'kan menentang Host Club?"

Mikasa mengalihkan pandangannya—wajahnya disembunyikan di antara syal merahnya. "Y-yaa, aku.. sudah tak menentang mereka lagi, karena satu hal."

Sasha mengerutkan dahinya—tadi kalau ia tak salah lihat, wajah Mikasa sedikit merona.. "Oh, begitu ya? Ahaha..."
"—Lalu, kau disini untuk apa? Mau mendekati Jean, hmm?"

Kini giliran Sasha yang wajahnya merona.

"Bu—bukan! Aku kemari karena... Eren memintaku untuk datang,"

CTAK! Kini wajah Mikasa tak selembut asalnya—aura hitam tiba-tiba mengelilingi.

"..Oh.. kau punya.. hubungan khusus.. dengan Eren, hmm?"

"...EH?! BUKAN—BUKAN! Eren mau membantuku berbaikan dengan Connie!"

Mendengar hal tersebut, wajah Mikasa kembali pada asalnya dan aura hitam di sekelilingnya tiba-tiba menghilang. "Eh..? Kalian belum berbaikan?"

Sasha menggeleng lemah. Mikasa menghela nafas dan membelai lembut rambut temannya yang dikuncir kuda itu.

"Kalau Eren akan membantumu, pasti berhasil. Jadi, jangan pasang wajah sedih begitu."

Sebuah senyum perlahan menemukan jalannya menuju wajah Sasha—walau dingin dan terkadang menyeramkan, Sasha tahu bahwa Mikasa—yang merupakan sahabatnya di sekolah ini—adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati.

"Un.. terima kasih, Mikasa."

.

.

.

Kalung dengan liontin bergambar bunga matahari itu sudah ia putar berkali-kali.

Ia tahu apa yang ia lakukan itu tak berguna—lagipula, memutar liontin kalung ini berkali-kali tak akan membuatnya bisa berpikir jernih. Connie menghela nafas—kenapa mengambil keputusan itu sulit sekali?

Connie beranjak dari kursinya—kelasnya membuat suatu Fashion show kecil-kecilan dan juga sebuah butik, dan tugasnya sudah selesai semenjak tadi—mempersiapkan pakaian untuk dipajang. Kini, di tengah waktu senggangnya, Connie kembali larut di dalam kegalauan.

Matanya beralih dari liontin kalung milik Sasha kepada sebuah surat yang ia letakkan di atas meja—surat itu ia temukan di lokernya, tadi pagi. Dan surat itu ternyata dari Host Club, yang mengatakan bahwa ia diundang untuk pesta dansa sebagai puncak acara cafe Host Club di hari kedua.

Connie malas, sangat malas—mengingat ia tak bisa berdansa. Apalagi, ia takut Sasha ada disana—

"Tapi kalau kau tak datang, ada kemungkinan Sasha berdansa dengan Jean, loh.."

"..Aku tahu, tapi.. ya.. Sasha memang suka pada Jean, 'kan? Kalau itu membuatnya bahagia, ya sudahlah.."
"Benar, nih? Kau tidak akan menyesal?"
"Tidak, kok..."

"Beneeer?"

"Iya..."

...EH.

—Tunggu.

Connie perlahan menolehkan wajahnya—tadi ia berbicara dengan sia...

"—GYAAAAAAAAAAA!"

"—ADUH!" Seorang gadis terpental jauh ke belakang berkat Connie dan teriakan supernya yang feminin. Gadis dengan rambut hitam yang dikuncir pendek ke belakang itu mendecak kesal—temannya yang satu ini memang.. "Connie, tak usah berteriak!"

"KAU SENDIRI YANG BIKIN AKU KAGET, YMIR!" Connie mengatur nafasnya yang cepat—sial, ia benar-benar terkejut! Ymir memang hobi muncul tiba-tiba begitu saja seperti setan—

"AKU BUKAN SETAN, DASAR TUYUL!"

Kampret, masa Ymir bisa baca pikiran orang, pikir Connie. "YA TERUS APA, DONG? MAK LAMPIR?"

"DASAR LAMPU TAMAN!"

"NENEK SIHIR!"

"DEDI KOBUJIER—"

"—SUDAH CUKUP, KALIAN BERDUA!"

Gadis lain dengan rambut pirang dan tubuh mini menghentikan perdebatan antara Ymir dan Connie—dan dengan ajaibnya, mereka berdua benar-benar berhenti berdebat ketika gadis itu berbicara dengan suara lantang dan menghentikan perkelahian mereka.

"Loh, Christa?—kenapa kau disini?" Ymir mengerutkan dahinya—sahabatnya yang bermata biru itu harusnya 'kan bertugas di depan?

"Aku mau memberikan ini padamu, Ymir. Kita berdua diundang ke pesta dansa Host Club!" Christa tersenyum lembut. "Kalian datang, 'kan?"
"Kalau Christa datang, maka aku akan ikut." Ymir membelai lembut rambut Christa. "Tapi kalau Connie sih... ga tau, deh.."

Dan yang bersangkutan malah memalingkan wajah.

"Sasha juga diundang, loh! Masa Connie tidak datang?"
"Kalau ada dia, aku semakin tidak ingin datang.."

"E-eeh? Kok begitu?"

"Mereka belum berbaikan, Christa."

. . . .

...Hening.

"Aduh, maaf, Connie! Aku tidak tahu—"

"Sudahlah. Aku juga tidak berniat untuk datang, kok."

Connie meninggalkan Ymir dan Christa dan pergi dari dalam kelas—ia ingin menyegarkan pikirannya, kemanapun boleh. Lagipula, ia belum sempat berkeliling festival kemarin.

—Dan ia juga ingin menghindari Ymir dan Christa yang membicarakan soal Sasha.

.

.

.

"Eren-sama, hari ini kau tampan sekali dengan baju butler!"

Eren rasanya ingin mengibas rambut dengan fabulousnya, ditambah dengan efek kerlap-kerlip layaknya bintang iklan shampoo ternama. Tentu saja! Eren merasa ia jauh lebih baik memakai baju butler dibandingkan kostum maid kemarin. Dan pujian demi pujian yang diberikan oleh tamu-tamunya semakin membuat hidung Eren melayang jauh.

"Terima kasih, tuan putri." Jawab Eren seraya tersenyum manis. Padahal di dalam hati, ia sudah berteriak dengan kencang—'IYA, GUE EMANG KECE! NOW, WORSHIP ME, YOU STUPID PEOPLE! OHOHOHOHO~'

—Itulah Eren Jaeger dalam mode 'sekai de ichiban ohime-sama'.

"Tapi—Eren-sama terlihat lebih manis dengan kostum maid..."

JDAK! Eren berhenti tertawa di dalam hati.

"Iya! Menyaingi kemanisan Armin-sama, ya!"

"Un! Tapi kalau Eren-sama pakai baju butler, akan lebih cocok kalau dipasangkan dengan Rivaille-sama, bukan?"

"Ah, benar! Nanti alur ceritanya jadi seperti doujinshi yang kubeli tempo hari—"
"Eeeh? Yang ukenya diserang di dalam lift itu?"
"Iya!"
"KYAAAAAA!"

STOP!

Eren pura-pura tidak mendengar apapun dan kini ia mengalihkan pandangannya—tidak, tidak, ia dan Rivaille—dalam hubungan seperti itu? TOLONG. Eren masih normal, ia masih menyukai wanita! Tuh, lihat, ia tersenyum ketika melihat gadis cantik nan bohai lewat mondar-mandir—

. . . . .

Dan matanya tiba-tiba bertemu dengan iris kelabu milik seseorang.

Rivaille, tepatnya.

. . . . .

Eren dengan cepat memalingkan wajah. Tidak, tidak—jantungnya tidak berdebar kencang. Ia tidak berkeringat. Ia tidak—

"Eren-sama, wajahmu merah.."

"Apa Eren-sama terkena demam?"

...Oh, sial.

"—Ehh, tidak, kok! Aku cuma merasa sedikit kepanasan—" Eren tanpa sadar membuka dasi yang mengikat di lehernya. "Uhh, ternyata memang panas.."

—Dan Eren tak tahu bahwa seluruh tamunya kini sedang berteriak bahagia—melihat Eren yang membuka dasinya dan dua kancing atas kemejanya, dengan alasan 'kepanasan'.

. . . . . .

Sementara Rivaille di jauh sana...

Ya—bilang saja kalau saat ini, aura hitam sudah menjalar dari dalam tubuhnya.

.

.

.

"Terima kasih atas kerjasamanya! Kau boleh istirahat dulu, Eren."

"Ah—iya, terima kasih, Irvin-senpai." Eren menarik nafas lega—akhirnya waktu istirahat ia telah tiba. Meski hanya diberi waktu tigapuluh menit, setidaknya ia diberi waktu untuk duduk santai dan mengistirahatkan wajahnya yang pegal karena terus tersenyum.

Menjadi Host itu merepotkan, pikir Eren.

"Terima kasih atas kerjasamanya, Rivaille! silahkan istirahat."

—Uh oh. Mungkin waktu istirahatnya tidak akan berjalan mulus sesuai dugaan...

Dan kenapa juga Irvin memberikan Rivaille istirahat di waktu yang sama dengannya?!

Eren menelan ludah. Mari berdo'a—semoga Rivaille tidak berbicara kepadanya, semoga Rivaille tidak berbicara kepadanya, semoga Rivaille tidak—

"Ah.. kau juga sedang istirahat, Eren?"

...Sial.

"..Uhm, iya."

"Oh, begitu." Rivaille meposisikan tubuhnya se-nyaman mungkin di tempat kosong sebelah sofa yang Eren duduki. Dari banyak sofa dan tempat lainnya—Rivaille memilih untuk duduk di sebelah Eren.

Terkutuklah dunia ini.

"U-Uhm... S-senpai,"

"..Apa?"

"Ruangan ini panas, jadi.. tak bisa ya senpai duduk sedikit... jauh dariku?"

. . . . . .

OHO. Suatu perkembangan—Eren berani memerintah—atau tepatnya, mengusir Rivaille secara terang-terangan.

Dan hal ini membuat Rivaille kesal dan senang dalam waktu yang bersamaan.

Kesal karena ia sadar bahwa Eren menghindari dirinya—dan bahkan, sudah berani untuk berkata bahwa Rivaille harus menjauh.

Dan senang karena—

Ia tahu, Eren selalu berdebar kencang dan wajahnya merona ketika Rivaille berada di dekatnya.

Hmm~ Lelaki ini masih berdiri di antara garis cinta dan benci, sepertinya.

"Hmm—? kau ingin aku menjauh?" Rivaille malah bergeser perlahan mendekati Eren—yang ikut bergeser jauh perlahan. Rivaille mendekat, Eren menjauh. Rivaille bergeser semakin dekat, Eren bergeser semakin jauh. Rivaille bergeser semakin dekat lagi—dan Eren tertahan ke sebuah dinding yang berada di samping sofa dan tak bisa bergeser lagi.

KAMPRET MEMANG, DUNIA INI.

"Katakan, Eren." Rivaille mengulurkan tangan kanannya perlahan—dan telapak tangannya kini menyentuh wajah Eren yang panas. "Kenapa kau menghindari aku?"

Deg, Deg—"Tidak ada yang menghindarimu, senpai.."

"Kau payah dalam berbohong. Berlatih lebih giat lagi kalau kau ingin membohongiku."

"T-tapi, aku tidak.."

"Tidak..?"

"Aku tidak.. menghindarimu.."

Suasana di dalam ruang istirahat kini menjadi hening—Eren menundukkan wajahnya dan Rivaille masih menatap wajah lelaki itu dengan lekat. Tak ada yang berbicara untuk beberapa detik—hanya suara gaduh dari luar ruangan dan juga suara nafas mereka saja yang menjadi melodi iringan di dalam keheningan.

Penyakit ini lagi, pikir Eren. Dimana jantungnya berdebar tak karuan, wajahnya menjadi merah tanpa sebab, dan juga tubuhnya yang gemetar kecil, entah kenapa.

Ini penyakit apa? Mana mungkin 'kan kalau ini—

"Cinta,"

—Eh?

Eren kini mengangkat wajahnya dan kembali menatap ke arah Rivaille yang jaraknya masih sangat dekat. Eren membuka sedikit mulutnya—hendak mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokannya tercekat—masih tak percaya dengan satu kata yang tadi baru saja keluar dari mulut senior di hadapannya.

"A-apa.. maksudnya?"

"Kau mencin—"

...OH.

"STOP! —Jangan dikatakan! Aku masih normal, normal! Walau masuk Homo Club, bukan berarti aku juga homo!"

. . . . . .

CTAK! Rivaille diam-diam sudah memutuskan urat kesabarannya—anak di hadapannya ini. Sudah menyebalkan, mulutnya tak bisa dijaga, kampungan—

Imut, lagi.

. . . . .

EHEM! —Rivaille menganggap bahwa dirinya tidak mengatakan hal yang terakhir.

"Er—"

"J-jangan dekat-dekat!"

"Eren, mencintai seseorang itu tidak memandang siapapun. Tak ada salahnya kalau kau mencintai a—"

"KALAUPUN GUE JADI HOMO, GUE GA SUDI JADI PASANGAN HOMO ELU!"

. . . . . .

...Oke. Tiket pertunjukan BDSM ala Rivaille dan Eren mungkin akan dibuka di loket terdekat... karena Rivaille benar-benar sudah habis dan kesabaran dan ia siap untuk—

"Naa, Eren..."

Rivaille menarik dasi yang sedikit longgar milik Eren—membuat wajahnya kini bertambah dekat dengan Rivaille yang masih menatapnya tajam. Sementara Eren—ya, anggap saja ia sedang berada di posisi 'ingin-kabur-tapi-tidak-bisa' saat ini, berhubung tubuhnya terkunci dan tidak memiliki celah untuk melepaskan diri.

Ditambah lagi, 'penyakit' anehnya ini malah tak memberi sinyal untuk kabur..

Tapi, memberi sinyal untuk tetap diam dan menunggu—juga pasrah untuk menerima perlakuan Rivaille, apapun itu.

"Kau tahu, dari semua hal yang aku benci dari dirimu—aku paling membenci mulutmu yang perkataannya tak bisa dijaga itu."

"A—aku tak menyuruhmu untuk menyukai mulutku, 'kan?!"

"Memang tidak. Tapi ingat—kau adalah budak disini. Kau memiliki hutang kepadaku. Dan itu berarti, kau harus mengikuti apa kata-kataku—setidaknya, itu pertanda kalau HARUSNYA kau tahu diri."

Eren menelan ludah—gawat, sepertinya ini akan berakhir buruk. Saaangaaat buruk...

"M-maaf...?"
"Terlambat untuk meminta maaf, Eren. Dan apa-apaan tanda tanya di akhir kalimat itu? Kau ragu untuk meminta maaf kepadaku, eh?"
"B-bukan! Aku, aku—"

Mati kutu, adalah istilah paling tepat yang cocok dengan keadaan Eren Jaeger saat ini.

"Dan mulut yang kotor dan tak bisa dijaga itu.." Rivaille membawa tubuhnya semakin dekat, perlahan—dan lembut. Matanya belum meninggalkan manik Emerald milik Eren—masih menatap dengan intens. "Harus kubersihkan agar tak mengatakan hal-hal buruk lagi."

—Kedua bola mata Eren membesar ketika ia sadar akan apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

.

.

Rivaille menciumnya.

Rivaille menciumnya.

. . . . .

Rivaille,

Menciumnya.

"—..Hnnh!" Eren berusaha mendorong Rivaille ketika sadar bahwa mulutnya sudah dilumat dengan lembut oleh sang ketua Host Club—namun tangannya terasa lemah, dan Rivaille jauh lebih kuat dari dirinya—sehingga usahanya sia-sia.

Layaknya mengunyah sebuah permen yang manis—Rivaille masih melumat bibir milik Eren—dari lembut, kemudian menjadi sedikit kasar. Kedua tangannya kini berpindah, menggenggam kedua pergelangan tangan Eren dan menahannya ke atas sofa agar tak bisa mendorongnya atau menghentikan aktivitasnya. Walau meronta kecil—Eren tahu, Rivaille tak akan melepaskannya dengan mudah. Jadi yang bisa Eren lakukan hanyalah mendesah—dari suaranya yang tertahan, karena tak bisa mengucapkan apapun.

"Hmn—s-sen—" Baru saja sepasang bibir itu terpisah beberapa detik, Eren baru bisa mengucapkan sedikit kata—dan Rivaille sudah kembali mencium Eren yang tak diberi kesempatan untuk protes. Dan kini Eren semakin kebingungan.

Ia seharusnya memiliki respon seperti apa? Ini salah, SALAH. Ia seharusnya tidak berciuman dengan seniornya ini. Ia seharusnya kabur dan melawan.

. . . . . .

...Tapi, debaran jantung dan rona di wajahnya mengkhianati.

...Tapi, suara desah dan erangan yang tanpa sadar ia keluarkan mengkhianati.

. . . . .

..Tapi—perasaan di hatinya mengkhianati.

Eren sedikit berhenti meronta—dan kini tubuhnya sudah lelah dan lemas, seakan protes dan meminta untuk tidak bergerak lagi, karena itu hanya akan menguras energi. Lagipula—Eren tak bisa menghentikan Rivaille; tidak selama ia sendiri sebenarnya tidak ingin menolak, jauh di lubuk hatinya.

"Uhn.." Eren tanpa sadar membuka sedikit mulutnya—membuat Rivaille, layaknya pemburu handal—menemukan celah diantara kesempitan. Ia memasukkan lidahnya—ingin menari dengan lidah kelu milik Eren di dalam.

Rivaille menelusuri isi rongga mulut Eren dengan lidahnya—panas. Rasanya panas, Eren merasa bahwa lidah itu bisa membuat rona wajahnya semakin merah—dan saliva milik Rivaille yang kini bercampur dengan miliknya, entah mengapa—rasanya aneh, namun memabukkan.

Tak bisa melawan—kenapa?

"Hmhn—!" Eren tak bisa menahan suara aneh dari mulutnya agar tidak keluar—karena Rivaille tiba-tiba menggigit kecil bagian bawah bibirnya, membuat Eren kembali fokus kepada apa yang sedang terjadi saat ini—Rivaille masih menciumnya. Dan bukannya memberi tanda untuk berhenti—Rivaille malah membuat ciumannya semakin kasar.

Tak bisa mengerti perasaan sendiri—

Kenapa?

'...Tidak boleh, tidak boleh—tidak boleh ada yang terjadi lebih jauh. Aku harus menghentikan Rivaille-senpai!'

Bukankah itu semua...

Karena kau—

Eren melupakan kedua kakinya yang masih bebas, tak terkunci ataupun terhalang oleh apapun—dan ya, dengan penuh keberanian dan dengan penuh pengertian akan resiko yang akan ia dapatkan nanti...

Eren menendang perut Rivaille.

Tidak begitu keras, sih—tapi, ya.. namanya juga ditendang di perut, walaupun tidak keras, pasti sakit... 'kan?

"OUCH!" Rivaille dengan cepat menjauhkan diri—ciuman mereka terlepas, dan tangannya tanpa sadar mendorong Eren sedikit menjauh. Sial, bocah rakyat jelata ini menendangnya di perut—memang tak begitu sakit, bagi Rivaille. tapi usaha Eren berhasil kali ini—ia bisa membuat Rivaille berhenti.

Uh-oh—Eren tahu bahwa Rivaille saat ini sudah kesal pangkat tiga. Aura hitamnya menyebar ke seluruh ruangan—bahkan sampai terasa oleh Irvin dan tamu-tamu di luar.

Ada monster yang hendak mengamuk~ dan tiket pertunjukkan Eren Jaeger as ultraman versus monster kontet pun dibuka di loket dua.

"...M-maaf, senpai! Tapi jam istirahatku sudah habis, jadi, anu—aku harus menghentikanmu, dan—"

"Tch, terserahlah." Rivaille beranjak dan melangkahkan kakinya—meninggalkan Eren begitu saja. Dahinya sudah berkerut layaknya biskuit dengan coklat ratusan lapis, dan moodnya tiba-tiba hancur. "Yang penting aku sudah.. 'membersihkan' mulutmu. Tapi itu belum bersih sepenuhnya, Eren. Ingat itu."

Wajah Eren yang asalnya sudah mendingin—kini kembali menjadi panas. Rivaille dan kata-katanya yang mudah ditangkap dan dimengerti, dengan suksesnya membuat Eren menelan ludah dan bersiap akan hal-hal lain yang akan Rivaille lakukan kepadanya di masa depan nanti.

Eren menggeleng—tidak, tidak boleh! Kalau hal seperti itu akan terjadi lagi, Eren sudah memantapkan diri bahwa ia harus melawan dan kabur.

Karena ini—bukanlah cinta,

. . . . .

Ini benci.

Benci yang sangat mendalam..

Sampai-sampai Eren tak tahu apa perbedaan diantara keduanya.

.

.

.

Hari kedua festival sekolah Recon Academy, pukul tujuh malam.

Semua kelas yang membuka cafe atau toko lainnya kini sudah bersiap untuk mengakhiri kegiatan mereka—dan beberapa bersiap untuk datang ke pesta dansa Host Club yang dibuka khusus dan hanya untuk beberapa orang tertentu saja.

Banyak siswa dan siswi yang sudah berdandan rapi dengan pakaian pesta terbaik milik mereka—dan semua yang hadir memakai topeng di wajah, karena tema dari pesta ini adalah sebuah Masquerade Ball. Semua orang nampak antusias dan tak sabar dengan pesta ini—pasti menyenangkan dan meriah.

—Dan sayangnya, mereka tidak tahu bahwa pesta ini hanyalah 'sampul' dari rencana Eren untuk membuat Connie dan Sasha berbaikan. Ironis..

"—Dan... kalian berdua, bisa tolong jelaskan padaku... apa ini?"

"Hmm? Ya, ini... gaun untukmu, ...Connie."

Oke—kepala yang botak berkilau itu kini menunjukkan urat-urat yang sedikit menonjol karena kesal.

"...AKU INI COWOK! BUAT APA KALIAN MENYIAPKAN GAUN, HAH?!"

"—Karena itu adalah dresscode milikmu...? itu tertera di undangan, loh... Ymir juga memakai tuxedo, lihat!" Christa menunjuk ke arah Ymir seraya tersenyum lebar. Satu mata Connie berkedut kesal.

"AKU. TIDAK. MAU. PAKAI. GAUN. TITIK!"

"Aah, dasar si tuyul bawel ini.." Ymir mengangkat tubuh Connie yang memang lebih pendek darinya—dan melempar Connie ke dalam ruang ganti. "Dengar, Connie. Baju ini sudah dipersiapkan khusus oleh Christa, kau tahu? Jadi..."

Wajah Ymir perlahan berubah di mata Connie—dari wajah manusia, berganti jadi wajah seorang medusa yang siap melahap manusia hidup-hidup.

"—Aku mengerti, aku mengerti! Aku akan memakainya!"

Connie menutup tirai ruang ganti seraya menghela nafas—tanpa mengetahui bahwa Ymir dan Christa kini saling melempar senyum penuh arti.

Oh—banyak orang bisa bermain dalam permainan ini.

.

.

.

"Sasha, kau sudah siap?"

Sasha menoleh ke arah suara yang memanggilnya—disana, ia menemukan Mikasa dengan balutan gaun berwarna merah marun yang cantik. Sasha mengangguk pelan—mengagumi kencantikan sahabatnya diam-diam.

"Kau keren dengan tuxedo itu, Sasha. Dan wig dengan rambut pendek itu juga pantas. Walau aku tidak mengerti kenapa beberapa orang mendapatkan dresscode khusus.."

"Entahlah... aku rasa ini bukan bagian dari rencana Eren dan hanya kebetulan saja. Tadi aku juga lihat Ymir pakai tuxedo.."

Mikasa mengangkat bahu, seolah berkata bahwa ia juga tak tahu apa-apa dalam pertunjukan ini. Ia hanya pemain figuran, sepertinya.

"Ya, sudahlah. Ayo kita masuk.. pestanya akan dimulai."

"U-um.."

.

.

.

"Ladies and Gentleman,

Selamat datang di Host Club Masquerade Ball!"

Suara tepuk tangan yang ramai memenuhi ruangan—di atas panggung sana, terlihat Berthold dengan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu yang menghiasi, sedang memberikan sambutan kepada seluruh tamu yang hadir.

"Sebagai pembukaan Masquerade Ball malam ini—kami, dari Host Club, akan melakukan beberapa proses—"

Eren tanpa sadar menguap cukup lebar—kata sambutan dan semacamnya memang bukan bagian favoritnya. Ia hanya ingin agar mereka cepat masuk ke dalam inti acara, dan menjalankan rencana jeniusnya dengan lancar.

Eren melihat ke sekeliling ruangan—ia menangkap sosok gadis yang memakai tuxedo dan wig pendek dengan warna coklat tua, juga topeng berwarna oranye yang terpasang di wajahnya. Ia tahu bahwa itu Sasha—pakaian dan rambut palsu itu sudah dipersiapkan oleh Eren semenjak kemarin, sebetulnya.

Kemudian Eren kembali mengitari ruangan dengan bola matanya—ah, ketemu. Target rencananya malam ini, dengan wig panjang berwarna hitam dan juga gaun berwarna biru pucat—dan jangan lupa, polesan make-up tipis dan juga topeng berwarna hitam di wajahnya. Ymir dan Christa sepertinya berhasil menjalankan peran mereka yang diberikan secara dadakan oleh Reiner tadi pagi.

...Eren sebenarnya ingin tertawa, melihat Connie dengan balutan gaun seperti itu—sungguh pemandangan yang 'sesuatu' sekali.

"Dan—dengan ini, pesta dansa sudah dimulai!"

Oh—Eren kini tersadar dari lamunannya, dan acara sudah dimulai—dengan tepukan tangan ramai yang kedua kali dari para tamu.

Game Start.

.

.

.

.

Musik klasik sudah diputar—dan semua orang mulai bergerak lembut, menyamai irama langkah kaki dengan pasangannya masing-masing—mengikuti melodi yang mengiring dengan indah, menari di antara lampu yang bersinar.

Hanya saja—semua itu tak menarik minat Sasha yang saat ini tak tahu harus berbuat apa. Sasha lebih memilih untuk diam di tempat makanan dan makan semua menu yang berbahan dasar kentang sampai puas.

Mumpung gratis—buatan chef paling mahal, pula. Sasha pun sedikit berpikir untuk membawa rantang atau sejenisnya untuk membawa pulang makanan-makanan ini—

"Sst, Sasha!"

Sasha berhenti mengunyah pastel kentang miliknya, dan menoleh ke arah seorang lelaki yang memakai tuxedo berwarna putih dan sebuah topeng berwarna hijau. Sasha menarik satu alisnya ke atas—siapa?

"Ini aku, Eren!"

—Oh.

"Oh, hai, Eren—"

"Bukan waktunya bilang 'hai' kepadaku! Itu, Connie ada disana!"

Eren mengarahkan telunjuknya ke arah sosok manusia yang sedang bersender kepada dinding—kedua bola mata Sasha membesar. Itu—

"—Connie memakai gaun!?"

"Sst, itu rencanaku! Sekarang, hampiri dia! Cepat!"

"T-tapi—"

"Kau masih ingat skenarionya, 'kan? Jangan mengulur waktu!"

Eren mendorong Sasha dengan pelan, membuat gadis itu mendekati Connie beberapa langkah. Sasha menelan ludah—kemudian ia menarik nafas. Baiklah, semoga Connie tak tahu bahwa ini adalah dirinya..

"Maaf, maukah kau.. berdansa denganku?"

Connie kembali dari alam lamunannya yang tak begitu indah, ketika ia mendengar suara yang sedikit familiar menyapa. Connie bertemu dengan sosok manusia dan tuxedo juga topeng oranye yang berkilau. Suaranya tadi sedikit mirip dengan seseorang, namun Connie menepis jauh pikirannya.

"...Aku ini lelaki, loh."

"—Uhm, iya, aku tahu. Tapi aku tak punya pasangan dansa, jadi..."

Sasha terpaksa improvisasi—karena ia tak menduga bahwa Connie akan datang dengan gaun, hari ini.

Dan Connie kini sedang membuat keputusan—berdansa dengan lelaki, apa dia gila? Tapi—dia juga bosan dan tak tahu mau melakukan apa. Jadi..

"Aku tak pandai berdansa, loh. Jadi aku tak tanggung jawab kalau kakimu aku injak, ya."

Sasha tersenyum dan mengulurkan tangannya, dan uluran tangan itu disambut Connie dengan lembut. Mereka berjalan menuju lantai dansa—ingin mengikuti iringan lembut itu seperti yang lainnya.

Sasha tahu Connie tak bisa berdansa—maka dari itu, ia bergerak secara perlahan. Sasha selalu mengajari Connie caranya berdansa semenjak kecil, tapi ia tahu—dansa bukanlah keahliannya, sehingga Connie selalu gagal.

Dan Connie, saat ini—tak bisa membantah bahwa sentuhan dan gerakan tangan orang di hadapannya ini serasa tidak asing.

"Kau.. bergerak perlahan dan begitu hati-hati, mirip seseorang."

Sasha terdiam.

"..Eh? begitu, ya? Memangnya.. aku mirip siapa?"

"Kalau kau tahu orangnya, jangan bilang-bilang, ya. Sasha Braus—anak kelas B. Kau tahu dia?"

Sasha kembali terdiam sejenak. "O-oh, iya.. aku tahu dia. Dia sahabatmu, bukan? Kalian terlihat dekat."

"Hm, begitulah."
"Tapi—kelihatannya kalian sedikit.. menjauh.. beberapa hari ini. Kenapa?"

Sasha melontarkan pertanyaan itu secara tiba-tiba—itu bahan tak tertera dalam skenario.

"Aku.. hanya sedikit kesal dan tanpa sadar membentaknya, karena ia terus-terusan membahas orang yang ia suka. Itu saja. Aku tidak cemburu, aku hanya.. merasa sedih, dan takut—kalau ia suatu hari nanti memiliki lelaki yang dia suka, dan dia akan pergi dariku."

Sasha membuka mulutnya kecil—apa?

"Aku menyayangi Sasha, dan aku senang bersama dengan dia. Aku hanya tak mau Sasha jadi menjauh karena ia sudah punya kekasih.."

. . . . .

Bodohnya.

"..K-kalau begitu, minta maaf saja kepada dia?"
"Ahaha, aku ini pengecut—aku tak bisa minta maaf semudah itu."

Sasha menelan ludah—Improvisasi lagi. Sebuah ide muncul di benaknya. "Kalau begitu... bagaimana kalau kita latihan?"

"—Eh?"
"Anggap aku ini Sasha," Sasha menarik nafas sejenak. "Dan.. ucapkanlah permohonan maafmu."

"Eh..."

"Ayo, dicoba saja! Jangan ragu!"

"Ladies and Gentleman,

Kita sudah ada di puncak acara pesta dansa!"

Connie menarik nafas panjang. "...Sasha,"

"..Hmm..?"

"Dan di puncak acara ini,

Kalian bisa membuka topeng kalian di hadapan pasangan masing-masing!"

"—Maafkan aku, ya."

"Dalam hitungan mundur,

Tiga, dua.."

"...Aku memaafkanmu, kok."

"SATU!"

Kedua bola mata Connie membesar—ketika orang di hadapannya membuka topeng oranye yang menutupi wajah semenjak tadi, kini terlepas sepenuhnya. Di hadapannya kini, ada Sasha—yang tersenyum tipis dengan air mata di ujung mata, bersiap untuk menangis. Namun ia tidak menangis karena merasa sedih—

Ia merasa senang.

"...S-SASHA?!"

"Eehehee~ aku cocok 'kan, dengan tuxedo ini?"

"K-kenapa, kenapa—"
"Maaf, ya! Ini sebenarnya rencana Eren untuk membuat aku dan Connie berbaikan, itu—"

—Si bocah tukang tuduh itu, gerutu Connie di dalam hati. Connie tak tahu apakah ia harus berterimakasih, atau justru menjitak kepala Eren dengan sebuah galah.

"..Oh, begitu."

"..Uhm, begitu."

. . . . . .

"Hey, Connie, aku ingin memberitahumu satu hal."

"..Iya?"
"Mau aku punya orang yang aku sukai sekalipun, mau aku punya pacar sekalipun—mau aku sudah punya suami sekalipun, aku tetap sayang Connie."

"Dan di luar, kembang api sudah disiapkan untuk menjadi penghias acara puncak malam ini!"

"Connie adalah sahabatku yang berharga,"

"Semoga kalian semua berbahagia,"

"Aku tak akan pergi meninggalkanmu."

"Selamanya."

Warna-warni kembang api menghiasi ruangan, cahayanya yang terang di malam hari masuk melalui jendela besar yang tak ditutupi tirai—Connie menutup wajahnya dengan satu telapak tangan. Bodohnya, berpikir bahwa Sasha akan dengan egoisnya pergi meninggalkan Connie, ia tidak berpikir dua kali.

Sasha tulus menyayangi dirinya—seharusnya, ia mengerti soal itu.

"..Maaf ya, Sasha."

"Aku 'kan tadi sudah memaafkanmu!"

"Oh, iya. Jadi.. kita sudah berbaikan?"

"...Un!"

—Dan Eren melihat kedua insan yang kini saling tersenyum dari kejauhan, dengan rasa yang puas dan bahagia di dalam hati.

Game over.

Rencana berhasil dijalankan!

.

.

.

.

"T-tunggu, Hanji-san, anda tidak boleh kesana—"

"Loh, kenapa? Aku mau menemui sahabatku, masa tidak boleh?!"

"Bukan begitu, tapi disana, sedang ada pesta khusus—"

"Aku tidak peduli! Pokoknya—"

"Aku harus menemui Rivaille!"

.

.

.

.

To be continued

A/N Corner:

HALO DISINI JAM SETENGAH DUA BELAS.

HALO INI 4 RIBU WORDS.

HALO HARUSNYA AKU UDAH TIDUR KARENA BESOK KULIAH PAGI.

HALO AKU TELAT UPDATE.

HALO- *dibekep*

Oke, jadi jumlah words yang banyak ini dan juga fanservice sesaat di atas adalah permintaan maaf dari Nacchan yang lelet update karena tugas menyerang ;_;

Bener-bener maaf, ya! Uhuhuhu tugasnya ga main-main, baru masuk udah disuruh bikin 50 gambar buat asistensi... brb telen obeng

Uguuuu! Terima kasih banyak buat yang chapter kemarin udah review:

Macchatorte, Tsuna Yue Rebornshi, Hasegawa Nanaho, JackFrost14, SeraphelArchangelaClaudia, Ookami-Utsugi, Rivaille Jaegar, Kazu Fuyuki, Roya Chan, Kyu Zora, LinLinOrange, Sonoyuki Rizuki, Adelia-chan, Lavenz Aru, kim arlein 17, dame dame na ko dame ku chan, Nai-sama, Harumi Ryosei, Azure'czar, Rikkagii Fujiyama, Yano Akiga, Rei Ichihara, Yami-chan Kagami, kazeknight, sessho ryu, aitamicchi, Aomine Aoi, ryuusei-gemini, kamikura39, Kyo Kyoya, dan para silent reader sekalian!

Peluk cium dari Author yang kini sedang menahan kantuk lima watt, peluk cium dari author yang masih bingung harus ngapain sama tugasnya QuQ) *samperin semua reader satu-satu*

Nacchan selalu sayang sama kalian! Mau yang review ataupun ngga, kalian baca cerita ini aja udah seneng banget sjfahlsfas boleh ga aku beneran peluk kalian suatu hari nanti ;/ / / /; *mana bisa

Dan—oke. Tumpukan tugas dan kasur sudah menggoda aku untuk pergi.. *halah* jadi, sampai jumpa di chapter depan!

With Love,

Nacchan Sakura.