"—Hey, kamu yang disana! Ya, ya, kamu yang botak!"
Connie menoleh ketika ada suara memanggil dirinya—atau tepatnya, menyebut kepalanya yang memang botak berkilau. Sedikit tersindir, sih, tapi—Connie tak bisa mengeluarkan protes apapun ketika melihat siapa yang memanggilnya ini.
..Ini perempuan? Atau—laki-laki? ...Atau jangan-jangan ini contoh hidup seorang hideyoshi?!
"—Kamu tahu tidak, ruangan Host Club ada dimana?"
.
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 7: Complicated
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
Pagi hari adalah waktu yang paling dibenci oleh Eren Jaeger.
Yah—kenapa tidak? Ia yakin semua orang membenci pagi hari—dimana kau harus bangun ketika masih mengantuk dan ingin kembali melanjutkan tidurmu, dimana kau harus meninggalkan kasur yang nyaman secara terpaksa—belum lagi cuaca dan angin yang masih dingin di jam itu, dan juga hari dimana kau harus menghadapi yang namanya 'sekolah'.
—Apalagi kalau sekolahmu adalah sekolah khusus orang kaya yang sangat mewah, dimana di dalamnya banyak anak-anak orang kaya yang elegan tapi norak, dan ditambah lagi kau adalah satu-satunya murid yang mereka sebut 'rakyat jelata' disana.
...Menurutmu, hal itu adalah hal yang tak begitu menyebalkan, bukan? Yah—berbeda kasusnya dengan Eren Jaeger.
—Karena disana..
Ia dipaksa untuk menjadi seorang anggota Host Club.
Karena memecahkan guci berharga yang harganya sangat mahal milik seniornya, Rivaille, Eren Jaeger harus bekerja menjadi host sampai ia lulus sekolah. Memang lebih baik daripada jadi budak, sih... tapi—
Terus-terusan tersenyum dan mengeluarkan kata-kata manis ketika sedang melayani tamu itu melelahkan, kau tahu? Ditambah lagi semua orang di dalam Host Club itu tidak waras, dan maji kampungan seribu persen. Pantas saja Eren merasa lelah.
Yah—tumpukan beban Eren belum cukup sampai situ saja. Selain soal sekolahnya dan juga soal Host Club, ia juga harus belajar dengan giat agar nilai dan rankingnya tidak turun—demi Tuhan, dia adalah seorang murid beasiswa! Yang berarti, semua biaya pendidikannya gratis—tapi, semua hal yang berlabel 'gratis' tersebut akan lenyap jika ia tak bisa mempertahankan prestasinya.
Berat, bukan, hidup menjadi seorang Eren Jaeger?
—Belum, belum selesai. Dari semua tumpukan beban itu—yang mengganggu Eren saat ini sebenarnya hanya ada satu saja.
...Dan satu hal itu adalah—
"—Urgh... Aku tak mau bertemu Rivaille-senpai hari ini, rasanya..."
.
.
.
—Aura gelap, kata-kata 'suram' yang bertebaran dari seluruh tubuh, wajah yang tak memiliki keinginan untuk hidup, dan juga bahu yang turun karena beban hidup tak terlihat.
—Ya, itu adalah gambaran Eren Jaeger saat ini—dengan tanpang madesunya yang sejak pagi sudah mengundang tanya dari beberapa gadis yang biasa menjadi tamu Host Club—pertanyaan semacam, 'Eren-sama, apakah anda baik-baik saja?', sudah berkali-kali ia dengar sampai bosan rasanya.
—Dan dengan cepatnya, Eren menjawab dengan senyum yang dipaksakan—'Aku baik-baik saja. Hanya lagi PMS, kok.'
. . . . .
Yah—baik para gadis yang bertanya ataupun orang yang melontarkan kalimat tersebut, tak ada yang sadar dengan kejanggalan dari jawaban yang Eren berikan—mungkin yang sadar hanya Author dan para pembaca di luar sana.
Masih dengan wajah yang lesu—Eren berjalan menuju ruang Host Club untuk mengikuti 'rapat'—entah rapat apa lagi yang Irvin maksud, mengingat festival sekolah sudah selesai dari tiga hari yang lalu.
—Dan Eren sebenarnya malas, sangat malas—untuk membawa tubuhnya sendiri menuju ruangan Host Club. Kenapa? —Pertama, disana banyak orang tidak waras. Kedua, disana banyak orang tidak waras. Ke tiga, disana banyak orang tidak waras—
Ke empat, di sana ada Rivaille.
Please, libur selama tiga hari yang diberikan sekolah rasanya tidak cukup—entah kenapa, Eren merasa... tidak ingin bertemu dengan Rivaille. Tidak—ia tidak yakin dengan perasaan yang ia miliki, entah benci, entah karena memang malas melihat wajah tembok seniornya itu,
Atau karena—
"—Kau sedang jatuh cinta?"
"—HWAAAAAAAAA!"
Eren otomatis mundur beberapa langkah dan berteriak dengan cukup lantang—ketika mendengar seseorang tiba-tiba hadir di sampingnya dan berbicara begitu saja. Eren disambut oleh sosok Berthold yang sedang melemparkan senyum tidak bersalah—dan Eren menelan ludah.
"B-Berthold! Setidaknya, kau 'kan bisa memberikan tanda kalau kau ada di sampingku—batuk, atau menepuk bahu, apapun!"
"Ahaha, maaf.. kau terkejut, ya?"
—YOU DON'T SAY? Bayangkan kalau di sebelah kalian tiba-tiba ada seseorang yang berbicara tepat di telinga, dan saat kalian menoleh—kalian menemukan sosok tidak terduga disana... yah, semacam The Conjuring atau Insidious—
Masa' iya, ada orang yang tidak terkejut?
"Tentu saja aku kaget! —lagipula, tumben sekali kau baru datang...? biasanya kau datang lebih pagi bersama Reiner?"
"Reiner tidak masuk hari ini," jawab Berthold singkat. "Ia ada urusan di rumah. Dan aku malas datang pagi-pagi kalau tidak ada Reiner."
—Hint banget, sih, pikir Eren. Reiner sama Berthold itu sudah seperti paket yang tidak bisa dipisahkan di mata Eren—jujur, Eren sampai berpikir kalau jangan-jangan, Reiner dan Berthold itu sebenarnya bukan sekedar teman sepermainan, tapi juga—
"Kita bukan homo, Eren."
'—Oh, sial. Dia bisa membaca pikiranku.'
"—O-oh, begitu ya..."
"—Lagipula, kalaupun aku tertarik pada laki-laki, Reiner itu bukan tipeku."
"...Eh.. jadi... tipemu itu yang seperti apa?" Tanya Eren—sekedar penasaran.
Berthold terdiam sejenak. "...Yang seperti kamu, mungkin?"
—Jder.
Senyum penuh arti yang dilemparkan oleh Berthold membuat bulu kuduk Eren merinding—jangan bilang...
Loh—tunggu, lagian... ini..
Eren merasakan sebuah tangan merangkul pundaknya tanpa disadari—ini tangan siapa—
"Ayo kita ke ruangan Host Club sekarang, nanti terlambat."
—Dan ia diseret oleh Berthold begitu saja, dengan tangan yang masih merangkul pundak miliknya.
. . . . .
—APA-APAAN?!
"B-Berthold, tangan—"
"Hmm? tanganku kenapa?"
"—NGAPAIN PEGANG-PEGANG?!"
"Eh... ga boleh, ya? Aku sudah cuci tangan, kok—"
"B-bukan ituuuu! Masalahnya—"
Kalau Rivaille melihat kejadian ini—
. . . .
—Reaksinya akan seperti apa, ya?
.
.
.
BRUGH!
—Kepulan asap yang cukup tebal membuat siluet seorang lelaki terlihat jelas—siluet lelaki yang mengepalkan satu tangannya erat, dengan tingginya yang minimalis dan juga—aura kemarahan yang menyebar sampai ke sudut sekolah.
Rivaille tidak peduli kalau tembok sekolahnya jadi hancur gara-gara satu tinju maut yang tadi ia berikan—meski ia sempat merasa sedikit bersalah karena sudah memukul tembok yang tidak tahu apa-apa, tapi tetap saja—
Melihat sosok Eren yang baru saja pergi bersama Berthold—membuat hatinya berkecamuk. Kesal, marah, iri—
...Cemburu?
—Tidak mungkin. Eren hanyalah satu dari anggota Host Club—yang entah kenapa—rasanya enak untuk dijahili. Tidak lebih, Rivaille hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa mengatasi rasa bosannya, dan bisa ia buang kapanpun ia mau—jika ia sudah tak membutuhkannya lagi.
Mainan memang selalu seperti itu, bukan? Tak masalah jika Rivaille merasa bosan—akan ada orang lain yang mengambil mainan tersebut dan memainkannya seperti ia dahulu.
...Tapi..
Tidak hanya Berthold—melihat Eren bersama Irvin, Sasha, Mikasa... bahkan melihat Eren dekat dengan anggota Host Club lain membuat Rivaille mengatakan hal yang berbeda.
—membuat Rivaille mengkhianati kata-katanya sendiri.
Ia tidak mau membagi Eren dengan siapapun.
Mainan yang satu itu—
Tidak ingin ia bagi dengan siapapun.
"—Rivaille?"
Tertegun beberapa saat—Rivaille kini sadar dari lamunannya yang berkepanjangan. Rivaille mendengar sebuah suara asing memanggil namanya—suara yang tidak ia biasa dengar setiap hari,
—suara yang membuat masa lalunya teringat kembali.
Menoleh perlahan—apa yang diduga oleh Rivaille ternyata benar. Disana—berdiri seseorang yang tak asing di dalam memorinya—tersenyum lebar dan menatap ke arahnya dengan sorot mata yang lembut.
Rivaille terdiam sejenak—
"..Pergi dariku sejauh mungkin, kacamata sialan."
"—GEEEEEEEH?! Apa-apaan sikapmu itu—apa itu caramu menyambut teman masa kecilmu, eh?!"
"Aku tidak peduli—dari semua orang yang ada di muka bumi ini, kamu ada di baris terakhir dalam daftar 'orang-yang-ingin-kutemui'."
"...Jahat sekali..."
—Ya, sosok manusia dengan rambut yang diikat bentuk ponytail dan juga kacamata nyentrik yang terpasang di wajahnya tersebut—ditolak mentah-mentah keberadaannya, oleh Rivaille. Meski ia memanggil dirinya sebagai teman masa kecil Rivaille, dan meski ia mengetahui banyak hal soal Rivaille—
"Hanji, aku tahu kau kesini karena diminta oleh ayah. Apa tujuan dia kali ini?"
—Rivaille tahu, pasti Hanji akan datang kepadanya jika ada maksud tertentu.
"E-eeh... kamu bicara apa, sih? Aku tidak tahu apa-apa, ah~"
—Dan maksud tertentu itu..
Tak pernah berakhir dengan satu kata 'baik'.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu," Rivaille menatap ke arah Hanji dengan tajam—"Katakan semuanya, atau aku akan membakar laboratorium eksperimen milikmu di Perancis—"
"—JANGAN! Baiklah, baiklah—aku akan bicara!"
Dan dengan satu ancaman yang ampuh—Rivaille berhasil mengalahkan Hanji dengan mudahnya. Sementara yang bersangkutan hanya bisa menjambak rambut frustasi—kenapa ia tidak bisa, ya, melawan Rivaille dan juga ancamannya?
"Sebenarnya—ini soal Petra..."
. . . .
—Rivaille tahu akan kemana ujung pembicaraan ini mengarah.
.
.
.
"Eh.. tumben sekali kalian datang bersama-sama?"
Irvin melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Eren dan Berthold yang memasuki ruangan Host Club bersama-sama—dan jangan lupa juga dengan fakta bahwa tangan Berthold masih merangkul pundak Eren dengan santainya. Sementara Eren—yang tadi sudah menyerah dan berhenti meminta Berthold untuk melepaskan tangannya, hanya bisa melempar senyum hampa.
—Sudah tidak bisa dimengerti lagi, anak-anak di klub ini..
"Kami hanya... kebetulan bertemu di lorong."
"...Hmmm... begitu, ya?"
"...Hentikan senyum itu, Irvin-senpai... aku tidak berbohong!"
"Hahaha! Iya, iya~ aku mengerti, Eren."
Membuat Eren marah seraya menggembungkan pipinya secara imut itu memang sudah menjadi hobi rahasia Irvin Smith. Beruntung—modusnya yang satu ini tidak diketahui oleh Rivaille.
—Karena Irvin tahu, bahwa Rivaille pasti akan memberikannya tatapan tajam yang dapat membuat punggungnya bolong, kalau sampai modusnya itu ketahuan.
Dan Eren yang akhirnya lepas dari tangan Berthold—kini berjalan menuju sofa dimana Jean dan Armin sedang duduk bersantai. Ia lelah—entah kenapa, padahal ini masih sangat pagi, dan ia belum menjalankan aktivitas apapun.
—Terlalu sering dekat-dekat dengan orang tidak waras itu... ternyata menguras energi, ya?
(—Kurang ajar? Ya, Eren memang sudah tidak peduli lagi jika orang-orang menganggapnya kurang ajar atau semacamnya.)
Mata Eren menjelajahi seisi ruangan—ia melihat Irvin yang masih berkutat dengan laptopnya, Berthold yang kini tengah mendengarkan musik di hadapannya, juga Jean dan Armin yang berbincang-bincang di sampingnya—rasanya... ada yang kurang?
Tinggi, tinggi, tinggi, sedikit pendek—oh. Yang paling cebol belum ada disini.
"Eh... Rivaille-senpai... belum datang, ya?"
Pertanyaan itu ia lontarkan begitu saja tanpa Eren sadari—tepat sedetik setelah ia sadar bahwa pertanyaannya itu berkesan seperti 'anak yang menanti kedatangan Rivaille', Eren menutup mulutnya dengan satu telapak tangan—dengan gestur yang seolah mengatakan, 'Ups! Keceplosan..'
—Dan seisi ruangan Host Club memberikan reaksi yang berbeda-beda. Irvin melemparkan senyum penuh arti, Berthold menghentikan musik yang bermain dan menatap Eren dengan kedua bola mata yang sedikit membesar, Jean melemparkan tatapan yang sama dengan Berthold, dan Armin hanya tersenyum simpul dengan wajah yang mengatakan, 'aku-tahu-kau-akan-bertanya'.
"...Kenapa pada... menatapku seperti itu?"
"—Aah, tidak, tidak apa-apa. Rivaille sedikit terlambat, tapi dia pasti akan datang kok, tidak lama—"
—BRAK!
"—Lagi..."
Suara pintu yang terbuka dengan keras dan kasar membuat fokus seluruh anggota klub kini beralih—yang menyambut pandangan mereka di ambang pintu adalah sosok Rivaille dengan aura gelap yang menyelimuti, dan wajah yang seolah siap untuk memakan orang yang ia anggap 'menyebalkan'. Atau kalau boleh disingkat; Rivaille saat ini seperti orang yang betul-betul sedang marah tingkat keripik pedas ma' ketjeh level sepuluh.
—Cocok bukan, dengan istilah 'kecil kecil cabe rawit'?
"Oh, Rivaille! baru saja kami membicarakanmu. Kau datang tepat waktu."
"—Hm. Maaf aku terlambat," Rivaille berjalan menuju sofa yang sudah menjadi singgasana tetapnya—masih dengan wajah menyeramkan yang sama. "Jadi, mau membahas apa rapat kita kali ini, Irvin?"
—Tak mau basa-basi dan ingin cepat masuk ke dalam topik masalah, itulah Rivaille. menyadari bahwa kini semua anggota—minus Reiner—sudah terkumpul lengkap, Rivaille membuka pembicaraan yang mengarah kepada dibukanya rapat dadakan yang Irvin umumkan kemarin malam. Dengan satu suara dehem dari suara rendahnya—Irvin kemudian beranjak dari kursinya.
"Aku mau membicarakan soal tema kita minggu ini," ujar Irvin. "Aku rasa—kalau hanya melayani tamu dengan seragam sekolah, itu rasanya.. membosankan. Dan beberapa fanservice juga rasanya jadi semakin terasa datar. Jadi kupikir—lebih baik kita selalu memakai tema yang berbeda, setiap minggunya."
—Udah berasa acara talk-show aja, tiap minggu ganti tema. Dan Eren yakin, kalau yang mencetuskan ide adalah Irvin—ia pasti akan mengeluarkan ide yang 'tidak-tidak'.
"—Dan tema kita minggu ini adalah, Vampire!"
—Tuh, 'kan? Eren menghela nafas panjang—dan satu lagi, kalau Irvin yang mencetuskan ide, biasanya...
"..Dan Eren, di tema kali ini juga—kau dipercayakan dengan peran seorang lelaki manusia biasa yang memasuki sebuah mansion vampire!"
—Eren pasti jadi tumbalnya.
Tidak setuju— Eren pun protes akan keputusan sepihak tersebut. "..KENAPA AKU LAGI, SIH?!"
"...Karena kau itu budak."
BEUH. Jawabannya super singkat—dan nancleb.
"Tapi—"
"Tidak ada 'tapi', bocah. Jangan protes lagi—suaramu mengganggu."
'...Eh?' Eren menatap ke arah Rivaille sejenak—entah kenapa, rasanya.. cara ia berbicara kepada Eren hari ini—sedikit berbeda. Memang, sih, biasanya juga Rivaille berbicara dengan kata-kata yang ketus dan nada bicara yang dingin, tapi—
Kenapa...
"..M-maaf..." Eren hanya bisa menggumamkan kata maaf seraya menundukkan kepalanya—wajah Rivaille juga sama sekali belum menatapnya, semenjak ia datang tadi. Ada apa, ya—
'—Uhh! Itu hanya perasaanmu, Eren.. perasaanmu saja... kau hanya berpikir berlebihan—lagipula, kenapa kau harus peduli dengan bagaimana perlakuan dia terhadapmu?!'
Eren menepis pikirannya soal sikap Rivaille jauh-jauh—tak masalah, bukan, jika Rivaille bersikap seperti itu kepadanya? Hak Rivaille mau mersikap seperti apapun juga—Eren bukan barang miliknya, kok.
. . . .
Iya—Eren bukan miliknya... sama sekali bukan.
"Kalau tidak ada yang tidak setuju—maka diputuskan bahwa tema minggu ini adalah Vampire!"
"—Tunggu, kostumnya.. jangan bilang, kau memesan kostum dari Connie lagi?"
"Benar sekali, Jean! Untuk hal yang jelas seperti itu, seharusnya kau tidak usah bertanya, bukan?"
Oh—Jean kini menatap Eren dengan tatapan yang memiliki banyak arti. Kostum buatan Connie berarti—
"..Yah, Eren... selamat. Dan—turut berduka cita."
—Eren hanya bisa menangis di dalam diam.
.
.
.
"—Eren, boleh aku duduk di sebelahmu?"
Berthold tersenyum tipis ke arah Eren dengan pertanyaan yang ia lontarkan—membuat Eren menatap kursi kosong di sebelahnya. Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran seni—biasanya, Eren hanya akan duduk dengan siapapun yang tak mendapatkan kursi, atau duduk sendiri saja. Tumben sekali Berthold meminta untuk duduk di sebelah Eren?
—Oh, benar, Reiner tidak ada ya, hari ini? ..Pantas saja.
"Silahkan, Berth." Eren menyingkirkan tas sekolah miliknya yang tersimpan di atas kursi kosong—mempersilahkan Berthold untuk duduk di atas kursi kosong tersebut.
"Haha, maaf, ya.. aku biasanya duduk bersama Reiner, sih. Aku tidak suka duduk sendiri, jadi—"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tidak masalah kok—mau duduk sendirian atau bersama siapapun."
Seketika, perbincangan kecil itu berkembang menjadi percakapan yang hanya melibatkan mereka berdua—perbincangan yang terlihat seru dan membahas berbagai hal. Eren sama sekali tak sadar akan hal ini—ia hanya merasa berbicara dengan Berthold ternyata cukup menyenangkan.
—Tapi, Jean dan Armin yang duduk di belakang mereka...
"...Apa kau tidak berpikir bahwa Berthold... jadi sedikit aneh?"
"Eh?" Armin menarik satu alisnya ke atas—"Maksudmu..?"
"Tidak, tidak—biasanya, ia tidak... se-akrab ini dengan Eren. Tapi kenapa sekarang..." Jean mengerutkan dahinya—masih mengamati Berthold dan Eren dengan seksama.
"Ah.. Jean sih, tidak pernah sadar, ya?"
"—Eh, apanya...?"
"Aku selalu memperhatikan kalian semua, loh, walau hanya diam-diam." Armin tertawa kecil seraya merapikan buku-buku yang menumpuk di atas mejanya. "Bukan hanya Rivaille-senpai yang berubah—kita semua sudah berubah semenjak Eren datang. Dan soal Berthold.. yah, kalau ada Reiner, biasanya ia akan lebih fokus kepada Reiner karena dia adalah sahabat baiknya. Tapi, kau tahu, Jean? Kalau ada kesempatan—Berthold akan melihat ke arah orang yang lain."
"...Dan orang itu—jangan bilang.."
Armin mengangguk. "Berthold memiliki perasaan kepada Eren, bukankah itu jelas?"
.
.
.
Hanji tidak pernah menyangka—bahwa kali ini, Rivaille benar-benar akan marah... atau bisa dikatakan, marah besar.
Yah—semuanya bukan salah Hanji, ia hanya dipercayakan oleh ayah Rivaille untuk membawa pesan—dan juga diberikan tugas oleh ayah Rivaille untuk bisa meyakinkan anaknya itu dengan keputusan mutlak yang tak bisa diubah lagi.
—Tapi, sedari awal, Hanji sudah tahu bahwa usahanya akan gagal—apalagi, Rivaille memang tak pernah punya niat untuk kembali ke Perancis. Ia lebih suka disini—dengan teman-temannya, dengan Ibunya..
—Dan juga... dengan seseorang spesial yang kini telah menempati ruang hatinya.
...Jangan salah, Hanji tidak main-main ketika ia berkata bahwa ia tahu segala hal tentang Rivaille—ia bahkan tahu jika Rivaille sedang menyukai seseorang, meski Rivaille tidak menunjukkan hal tersebut di dalam sikap ataupun raut wajahnya.
Hal ini membuat alasan Rivaille untuk tidak pulang ke Perancis semakin besar—dan berarti, tugas Hanji juga semakin berat.
Tapi, Hanji tidak akan menyerah—ia sudah diberi tugas penting, dan ia mau tak mau harus melaksanakannya. Hanji mulai mengambil langkah—mencari info soal siapa orang yang Rivaille sukai saat ini—dengan kemampuannya mengumpulkan informasi secara cepat, dan juga dengan berbagai sumber rahasia yang entah ia dapatkan dari mana.
Eren Jaeger, laki-laki, kelas 2-A.
. . . . .
—Laki-laki.
Jujur saja—Hanji sebenarnya tidak begitu terkejut begitu mendapatkan data 'orang yang diduga sebagai orang yang Rivaille sukai'. Rivaille tak mengatakan dengan jelas soal seperti apa tipe orang yang ia sukai—dan Hanji sendiri tak mau mengejek jika Rivaille ternyata menyukai sesama jenis.
...Kenapa?
Yah—Karena dia sendiri saja... tidak jelas, mau menentukan gendernya sendiri menjadi apa.
—STOP! Hanji berhenti dan menepis pikiran-pikiran tidak penting dari otaknya dan kembali fokus ke tujuan awal—menemui lelaki yang menjadi penghalang bagi tugasnya; menemui lelaki yang membuat Rivaille semakin tidak ingin pulang ke negeri asalnya.
—Seragam yang rapi, rambut berwarna coklat tua yang menarik, dan bola mata berwarna hijau yang memikat.
Sejenak Hanji dapat mengerti, apa alasan Rivaille menyukai lelaki yang sedang ia amati ini—jika dari luar memang tak ada yang spesial, tapi jika diperhatikan lebih dalam—lelaki ini...
Memiliki sesuatu yang membuat orang lain tertarik kepadanya.
Entahlah apa itu, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang pasti—tak akan menjadi suatu hal yang aneh jika banyak orang tertarik dengan oknum bernama Eren Jaeger ini.
—HEY! Hanji kembali menepis jauh pikirannya—tuh, 'kan? Efeknya sudah terlihat—ia jadi sulit untuk fokus kepada tujuan hanya karena melihat anak itu untuk beberapa detik.
Target mulai berjalan menjauh—Hanji pun mengikuti secara diam-diam dan berusaha agar tidak diketahui keberadaannya oleh Eren sang target. Eren berjalan ke arah ruangan Host Club—arahnya sama dengan jalan yang Hanji lalui tadi pagi.
"—Jadi, Tuan stalker yang ada disana... ada yang bisa aku bantu?"
...Eh?
"H—HIEEEEEEE!" Hanji menggunakan kain kamuflase dengan motif tembok marmer yang ia bawa—niatnya, sih, dipakai untuk bersembunyi diantara dinding ala ninja, tapi—usahanya gagal, karena Eren sudah mengetahui keberadaannya terlebih dahulu. "K-k-kenapa kau tahu kalau aku mengikutimu?!"
"...Bukannya sudah jelas? Lorong ini sepi, dan yang berjalan hanya kau dan.. aku, dan kita berjalan ke arah yang sama semenjak tadi, dan kau memberikan gerak-gerik yang aneh selama berjalan ke arah yang sama denganku."
—Oh, salah juga sih... memilih sekolah ini untuk menjadi tempat menguntit seseorang. Dimana-mana hanya ada lorong luas, jendela yang besar, dan juga tanaman hias yang terlihat mahal—minim tempat bersembunyi dan juga sepi.
Hanji menelan ludah seraya memikirkan rencana B di dalam benaknya—improvisasi. Kalau sudah ketahuan—sudah tak ada gunanya lagi, bukan, mengikuti target seraya mengambil info sebanyak-banyaknya untuk dijadikan bahan penelitian?
—Hanji memutuskan untuk bermain tembak langsung. Berbicara ke inti masalah dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan buat tugasnya selesai dengan sukses.
Hanji menarik nafas—"Umm, Eren Jaeger... ya?"
"Yah—itu aku." Eren mengangguk kecil seraya menatap Hanji tepat di kedua matanya. "Dan kau..?"
"Aku Hanji—Hanji Zoe!" Hanji tersenyum lebar seraya menjabat tangan Eren dengan ramah. "Salam kenal!"
"Salam kenal—Hanji-san. Atau harus aku panggil, stalker-san...?"
"—EEH! Jangan, jangan! Aku bukan seorang penguntit! A-aku memiliki alasan untuk mengikutimu—"
"Alasan?"
—Yah, keceplosan, deh.
"AH—uhm—iya, ehehe... aku hanya ingin meneliti.. seperti apa orang yang membuat Rivaille enggan pulang ke Perancis—"
Deg! —Kedua bola mata Eren membesar seiring dengan jantungnya yang tadi berdegup kencang. Rivaille—
"...Rivaille-senpai akan pulang ke Perancis?!"
"Uhm—Tidak, tidak~" Hanji tertawa kecil seraya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal—kehabisan kata-kata. "Atau lebih tepatnya.. belum."
—Perlakuan seenaknya, ciuman pertama yang direbut tanpa izin, dan sikap dingin yang tiba-tiba ia berikan...
Eren mulai bertanya-tanya—apa maksud dan tujuan Rivaille sebenarnya? —kenapa semua mengarah kepada sebuah jawaban yang mengatakan bahwa ia akan pergi?
"—Ia belum bisa pulang, Eren."
Rivaille akan pergi, Rivaille akan pergi—
"Tidak akan pernah bisa pulang—"
Rivaille akan pergi, Rivaille akan pergi—
"—Selama kamu masih ada di dekatnya."
. . . .
"..Eh?"
"—Eren, kau... peduli tidak, kepada Rivaille?"
—Peduli?
Dikatakan peduli juga—Eren tidak yakin. Ia berkali-kali sudah mengutuk seniornya tersebut dan ia yakin bahwa rasa benci dan sebalnya terhadap Rivaille itu sudah bagaikan gunung api yang siap meletus—meluap-luap dan tiada batas.
...Tapi—dikatakan tidak peduli juga... ia tidak yakin.
Karena memikirkan bahwa Rivaille akan pergi saja—
Membuat ia merasa tidak tenang.
"...Entahlah."
"Masih bingung, ya?" Hanji tertawa kecil. "—Aku tidak akan basa-basi.. aku hanya ingin melaksanakan tugasku dengan baik. Jadi, tolong.. jangan anggap aku orang yang jahat ya, Eren?"
"Eh—memangnya kenapa?"
Harus siap—harus siap. Hanji harus siap menerima reaksi apapun yang akan diberikan oleh lelaki di hadapannya ini.
Hanji menarik nafas panjang. "—Aku ingin..."
"Agar kau menjauhi Rivaille."
.
.
.
—Hampa. Kosong. Ringan. Bolong—ada bagian yang diambil dan tak terisi kembali, disana.
Semua orang melemparkan tatapan penuh tanya—melihat sosoknya berjalan dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apapun, hanya dengan kedua bola mata yang terbuka lebar dan mulut yang sedikit terbuka. Satu tangannya meremas bagian kiri atas baju seragamnya—seperti merasakan sakit hati yang mendalam.
Hampa. Kosong. Ringan. Tak terisi—
Eren tak tahu harus melakukan apa.
Perasaannya seperti satu buah panci yang diisi dengan berbagai macam sayuran—yang kemudian dicampurkan dengan banyak bumbu dan diaduk-aduk sampai berantakan. Tak beraturan, tidak tentu, kacau—
Ada rasa sakit yang tak bisa didefinisikan.
Eren tidak ingin—bukan, ia tidak bisa menangis. Ia bahkan tidak tahu, apa benar, yang ada di hatinya ini perasaan sedih?
Eren juga tidak bisa merasa marah—ini memang mirip dengan rasa kesal, tapi... tidak tepat juga rasanya, jika ia marah.
—Sakit. Rasanya.. sakit sekali, hanya itu yang Eren mengerti.
"—Eren?"
Eren berhenti melangkah dan sesaat nafasnya tercekat—ia merasakan dua tangan yang hangat menyentuh pundaknya, membuat Eren menoleh ke arah sumber suara.
"Kau kenapa? Wajahmu pucat—kau baik-baik saja?"
Dengan sorot mata yang lembut dan mencerimnkan rasa khawatir—layaknya teman yang selalu peduli, Berthold ingin memastikan bahwa Eren baik-baik saja. Teman satu klubnya ini terlihat berjalan tanpa arah, dan begitu lemas.
—Oh, Berthold dan sifat ramahnya yang alami.
"...Aku... baik-baik saja.."
"—Kau yakin? Kau tidak perlu pergi ke ruang kesehatan?"
"..Tidak, aku—"
"—EREN!"
Baik Eren maupun Berthold kini menoleh ke arah sumber suara ketika mendengar seseorang memanggil nama Eren dengan lantang—dengan nada yang tak menunjukkan sedikit pun keramahan...
Dan Rivaille yang berdiri disana.
.
.
.
Cukup. Sudah.
Rivaille memang merasa ada yang aneh—bukan karena Reiner tidak masuk, bukan hanya karena itu saja—Rivaille dari lama sekali sudah merasa bahwa.. tatapan yang terkadang Berthold berikan kepada Eren itu mengganggu. Sangat mengganggu, kalau boleh ia katakan.
Dan hari ini adalah puncaknya—dimana Berthold mendekati Eren hanya karena Reiner tidak hadir, mengambil kesempatan di banyaknya celah yang terbuka—
Dan melihat Berthold mencengkeram kedua bahu Eren seperti itu—membuat Rivaille berdiri di atas batasnya.
"Eren—ikut denganku." Rivaille meraih lengan Eren dan menariknya pergi secara paksa—tak mau mendengarkan dan memberikan kesempatan kepada Berthold ataupun Eren untuk memberikan kalimat protes.
Dan Eren juga tidak bisa melawan—jantungnya berdegup kencang. Kehadiran Rivaille membuatnya mengulang kembali setiap kata yang Hanji ucapkan—
.
"Kau harus menjauhi Rivaille."
.
"Senpai—"
.
"Ini demi kebaikan Rivaille—ia harus kembali ke Perancis, Eren. Tapi—di antara banyaknya alasan yang membuat ia tak ingin kembali,"
.
"Rivaille-senpai—"
.
"Kini muncul alasan baru yang membuatnya semakin tidak bisa untuk pergi."
.
"Senpai, lepaskan tanganku—"
.
"—Dan alasan itu adalah dirimu."
.
"—LEPASKAN AKU!"
Eren melepaskan tangan Rivaille yang tadi menggenggam erat lengan miliknya—menepis tangan itu dengan kasar dengan wajah yang tertunduk karena menyembunyikan merah yang tampak.
—Pandangannya tiba-tiba menjadi buram. Ah—air mata sudah menumpuk, sepertinya.
"...Eren?"
Eren harus bertanya—Eren harus bertanya tentang semuanya. Kebenaran dibalik semua perlakuan Rivaille terhadapnya, kebenaran dibalik semua kata-kata yang Hanji katakan—
..Kebenaran dibalik perasaannya yang tak bisa didefinisikan.
Katakan, Eren, katakan.
"—Kau itu.. selalu seenaknya." Eren mengepalkan kedua tangannya—"Mencium leherku, mencuri ciuman pertamaku, menciumku secara kasar dengan tiba-tiba, menjadikan aku anggota Host Club—maumu itu sebenarnya apa?!"
—Tidak, bukan itu yang ingin ia katakan—kenapa? Mulutnya bergerak sendiri—bukan itu yang sebenarnya ada di dalam benaknya!
.
"Aku ingin kau menjauhi Rivaille,
Karena kau sudah menjadi penghalang baginya."
.
"Aku—benar-benar benci... kau yang seperti itu,"
—Jangan katakan, Eren, jangan katakan—
"—AKU INGIN KAU MENJAUH SAJA DARIKU!"
.
"Eren, kau peduli terhadap Rivaille, bukan?
Kalau kau memang peduli—
Tolong buat dia lepas dari ikatan yang tak terlihat itu,
Ikatan yang tersambung kepadamu."
.
.
.
—Waktu terhenti, dunia sudah tidak mengerti akan rotasi dan revolusi.
Rivaille merasakan tiap kata-kata tersebut membuat detak jantungnya perlahan mengecil—setiap kata, setiap kalimat, rasanya seperti sebotol racun yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya—dan siap untuk mematikan tiap fungsi tubuh yang ada di dalam dirinya.
—Tidak pernah terpikirkan, bahwa Eren berpikir seperti ini tentang dirinya.
—Tidak pernah terpikirkan, bahwa Eren... bisa mengatakan hal seperti ini.. kepada dirinya.
Tak ada satupun kecurigaan terhadap Hanji—Rivaille benar-benar berpikir bahwa Eren begitu membencinya.
Benci, benci, benci—
"Tapi..."
Aku—
"Tapi.."
—Kata-kata tidak pernah menjadi keahlian yang masuk ke dalam daftar hidupnya. Nilai bahasanya memang bagus—tapi jika sudah masuk ke dalam urusan merangkai kata, ia seperti anak kecil yang kehilangan jejak.
Ia tak pernah bisa mengungkapkan apa yang ia inginkan, apa yang ia ingin ucapkan—
Maka dari itu, ia mengatakannya dengan tindakan.
Rivaille menarik satu lengan Eren dan membuat tubuh lelaki yang lebih jangkung tersebut untuk mendekat ke arahnya—menangkap bibir lembut milik Eren ke dalam satu kecupan singkat. Rivaille melumat bibir tersebut dengan lembut—dalam waktu yang tak memakan satu menit, hanya ingin merasakan hangatnya jika bibir mereka saling bersentuhan—
Tindakan selalu berbicara lebih lantang dibandingkan kata-kata.
"—Bocah sial, kau tidak tahu—apa arti dari kata-katamu sendiri."
—Dan dengan satu kalimat samar itu, Rivaille melepaskan ciumannya dan pergi meninggalkan Eren sendirian.
.
.
.
"Hey, Eren...
Kau peduli terhadap Rivaille, bukan?"
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N Corner:
HAHAHAHAHAHALOOOOOOOOOOOOOOO DISINI JAM SETENGAH SATU MALEM.
Hobi ya saya update tengah malem? Iya, hobi banget. Saking hobinya, walau mata udah setengah nutup, jari masih tetep aja ngetik... serasa ada mesin otomatis yang ngegerakin tangan gitu biar bisa ngetik sendiri (?)
DAN HALO LAGIIII, MAAF SAYA TELAT UPDATE OTL
Anda tahu tugas? Nah iya, itu, tugas itu... sangat posesif ya, ternyata. Dan anda tahu writerblock? Nah, iya, itu... ternyata writerblock itu kampret sekali ya.
DAN TERIMA KASIH UNTUK GATHERING ANAK-ANAK AUTHOR FANDOM SHINGEKI NO KYOJIN INDONESIA DAERAH BANDUNG KEMARIN! Saya jadi dapet semangat buat ngetik lagi X'D GATHNYA SERU~ kapan-kapan reader yang anak Bandung, ayo ikut gathering!
OH! Dan Terima kasih banyak banyak banyaaaaaaaaaaaak banget untuk yang udah Review di chapter lalu;
Kunougi Haruka, Adelia-chan, Ookami-Utsugi, ikizakura, Lightmaycry, JackFrost14, Macchatorte, dame dame no ko dame ku chan, Zora Fujoshi, Azure'czar, SeraphelArchangelaClaudia, Nai-sama, elfri, Rivaille Jaegar, AlstroemeriaSBT8, Yami-chan Kagami, Yano Akiga, Hasegawa Nanaho, Kim Arlein 17, Harumi Ryosei, BlueBubbleBoom, lin gx bisa login, Ferishia09, saerusa, mager, Roya chan, namikaze natsumi, ChickenID, MitsuKouFudo Arikuchiki, Kyo Kyoya, ismipurisa, ryuusei-gemini, DeLoAniMan U-know, Shigure Haruki, fuyu no yukishiro,
Dan jangan lupa juga, untuk para silent reader!
Peluk cium dari Author yang sebenarnya udah setengah tidur pas nulis A/N ini, peluk cium dari Author yang baru saja ingat kalau tugasnya belum diapa-apain hari ini :'* uguuuu sini peluk satu-satu! *hugs*
Review kalian selalu berarti, dan Author seneng banget liat banyak orang baru yang ngereview di setiap chapternya ;A; aaaaaah terima kasih sudah membaca, bener-bener terima kasih banyak! Author sayang banget sama kalian semua :')
Dan—doakan saja author bisa update cepet, ya *sobs* bentar lagi masa UTS, jadi... *sobs*
Oke.. berhubung mata udah mau nutup gini.. Author pamit undur diri X'D terima kasih sudah membaca!
With Love,
Nacchan Sakura.
