'Kau tidak tahu apa arti dari kata-katamu sendiri.'
.
.
"...Aku tahu.. apa arti dari kata-kataku sendiri.." Eren menatap refleksinya di cermin—sesekali menghela nafas. Sekali lagi ia menggosok matanya perlahan menggunakan punggung tangannya—dan sekali lagi juga, ia terkejut dan bertanya;
"—Tapi kenapa aku menangis terus, ya?"
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 8: Thank you, Good-bye.
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.
Dan ada sedikit Sadist!Rivaille di chapter ini tralalala~)
.
.
.
"—Selamat pagi!"
Suara yang kelewat lantang dan bernada riang gembira menggantikan suasana sepi ruang Host Club yang awalnya tak bersuara sama sekali. semua mata melihat ke arah yang sama—melihat lelaki dengan iris hijau terang dan juga surai coklat tua menebarkan senyuman lebarnya. Eren berjalan ke arah sofa dimana ia biasa duduk—menunggu di dalam ruangan klub sampai bel masuk berbunyi.
"Oh, Eren—selamat pagi. Tumben sekali kau datang cepat dan terlihat... ceria?"
Pertanyaan singkat dari Irvin itu membuat Eren melebarkan senyumannya. "Ah—tidak apa-apa! Aku hanya merasa semangat saja hari ini."
"Oh—begitu?"
Tanpa bertanya apa-apa lagi—Irvin kembali ke aktivitas awal; berkutat dengan laptop hitam kesayangannya. Sementara itu, anggota Host Club lainnya kini sedang menatap Eren dengan lekat—terutama Berthold dan Armin.
"Selamat pagi! Kenapa kalian menatapku seperti itu? dan—oh, selamat datang kembali, Reiner!"
"..Ah, euh, tidak—hanya saja... kau kelewat ceria, hari ini.." Reiner menarik satu alisnya ke atas—sambil masih menatap figur Eren dengan kedua bola matanya.
"Iya—apa ada hal bagus yang terjadi padamu, Eren?" Kali ini Berthold yang melempar pertanyaan.
"Tidak—aku hanya merasa senang, itu saja! Ah—aku ke kantin sebentar, ya! Aku belum sarapan, haha—"
"—Kau ada masalah, ya?"
—Hening.
Satu pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan dari Armin tersebut membuat Eren terdiam seketika—mulutnya tak lagi membentuk sebuah senyum dan ia berhenti tertawa seketika.
"Ma—masalah apa, maksudmu? Hahaha, aku tidak apa-apa, kok! Aku memang seperti in—"
"Oh, kalau kau memang sedang bahagia hari ini—kenapa matamu sembab seperti itu, Eren? Menangis semalaman, hmmm?"
—Jean dengan nada sarkastiknya, dan juga kata-katanya yang langsung menusuk tepat sasaran.
"I-ini bukan karena menangis, aku belajar semalaman sampai kurang tid—"
"—Tapi kau online di facebook semalaman."
"Y-yaa, aku online sampai mal—"
"Kau tidak membalas chatku sekitar jam sebelas-an."
"I-itu, koneksi internetku—"
"Sudahlah Eren, jangan mengelak lagi."
Eren mati kutu. Hore.
"—AKU TIDAK APA-APA!" Eren menjawab dengan suara lantangnya tanpa disadari. "Kalian—kalian hanya khawatir berlebihan, haha!"
"—Siapa juga yang khawatir? Kita cuma kepo, kok."
—Sialan.
"...Ya sudah, terserah kalian, deh."
"Ah, Eren—"
—Eren pun berbalik dan meninggalkan ruangan begitu saja. Dan hal ini membuat Armin memberikan Jean tatapan tajam—karena sudah berkata hal-hal aneh kepada Eren dengan sengaja.
"..Apa? Aku memang tidak khawatir, kok—"
"Aku tahu kau khawatir, kau hanya tidak mau menunjukkannya kepada Eren." Armin memotong kata-kata Jean dengan cepat. "—Tapi kau juga tidak perlu berkata begitu, Jean."
"...Iya, iya. Maaf."
"...Tapi, Eren memang aneh ya, hari ini?" Berthold mengusap dagunya dengan ibu jari. "Seperti sedang.. menyembunyikan sesuatu?"
"Terlihat jelas kok, kalau dia habis menangis." Reiner geleng-geleng seraya menghela nafas panjang. "Kenapa tidak cerita saja sih, kalau memang ada masalah?"
"—Kalau Eren tidak mau cerita kepada kita, itu berarti..." Armin mengerutkan dahinya—berpikir akan kesimpulan dari sikap aneh Eren. "..Masalah dia ada sangkut pautnya dengan salah satu anggota Host Club."
—Hening lagi.
"..OOH..." Jean membuka mulutnya lebar. "Ternyata.."
"Sudah kuduga.." Berthold menghela nafas. "Pasti ada hubungannya dengan— "
"—Rivaille-senpai, ya?" Reiner melanjutkan kalimat Berthold.
Semuanya saling bertatapan—kalau sudah bersangkutan dengan Rivaille dan Eren, mereka tahu apa yang akan terjadi—drama komedi dimana-mana, yang bercampur dengan banyak adegan dramatis gagal yang tidak jelas dan juga komedi yang dipaksakan—
"...Ah, aku lupa bilang kepada kalian," Irvin yang sedari tadi hanya mendengarkan—kini angkat bicara, bergabung dengan perbincangan mereka tanpa diundang. "Rivaille sepertinya akan pindah ke Perancis."
. . . . . .
"—EEEEEH?!"
.
.
.
Menyusuri lorong yang akan membawanya menuju kantin—Eren berjalan dengan pikiran yang melayang ke arah tak pasti. Meski tubuhnya berjalan ke satu arah yang sudah ditentukan, pikirannya masih berpikir tentang banyak hal—soal Rivaille, soal Hanji, soal kepergiannya ke Perancis,dan juga—
Soal sikap Rivaille terhadapnya selama ini.
Eren tak tahu—di batas mana perlakuan Rivaille terhadapnya mendarat. Apa sudah masuk ke jalur 'serius', atau hanya 'main-main' semata?
Rivaille dan juga dirinya belum bertemu lama—mereka bahkan awalnya sama-sama sebal satu sama lain. Eren selalu berharap agar senior kontetnya itu mati saja, dan Rivaille selalu senang menyiksa Eren dan memerintah dirinya seperti pembantu.
—Tapi, sekarang..?
Perlahan langkah kakinya mulai melambat—tak sampai satu menit kemudian, Eren berhenti melangkah dan terdiam di tempat.
"..Sekarang..."
—Isi hati dan pikirannya sendiri tak bisa terbaca dengan baik.
"..Sekarang—aku jadi ingin roti isi melon. Ukh. Aku lapar."
Menepis isi benaknya tentang Rivaille jauh-jauh—Eren kembali berjalan dan mengalihkan pikirannya kepada hal lain. Berlari dari kenyataan atau bersembunyi sejenak—ia tidak peduli.
—Ia tak mau menerima kenyataan bahwa dirinya memang tidak membenci Rivaille.
—Ia tak mau menerima keyataan bahwa..
Membayangkan Rivaille yang akan pergi saja sudah membuat hatinya sakit.
.
.
.
"—Mendekatlah, Hanji."
"..T-tapi, t-tidak.. aku.."
"—Ayolah. Ini tidak akan sakit. Aku hanya ingin kau mendekat.. sebentar saja."
"Tidak.. Rivaille, hentikan—"
"—Hanji."
Hanji menelan ludah—keringatnya sudah menetes, mengalir dari dahi dan turun melalui pipi. Di hadapannya Rivaille menyeringai tipis ke arahnya—seiring dengan Hanji yang berjalan menjauh...
—Hanji tak pernah menyangka bahwa Rivaille akan melakukan sejauh ini terhadapnya.
. . . . .
.
.
.
.
"—JANGAN MENDEKAT! AMPUN, RIVAILLE, AMPUN! SIMPAN KAPAK ITUUU!"
"—Heh, kemari kau, kacamata sialan. Aku akan memotong dagingmu sampai jadi daging cincang dan aku akan membuatnya jadi Hamburger—"
"AMPUUUUN!"
"Ayolah, tidak akan sakit. Kau akan mati dengan cepat."
"IRVIN, TOLONG AKUUUUU!"
"—Baiklah, baiklah. Rivaille, cukup. Kasihan Hanji—kau sampai membuatnya kabur ke atas pohon."
"—Masa bodoh, aku akan tebang pohon ini kalau dia tidak mau turun—"
"MAAFKAN AKUUU! A-aku tidak punya pilihan lain, Rivaille! aku disuruh ayahmu!"
Rivaille mempererat genggaman tangannya pada tangkai kapak yang ia bawa—mendengar jawaban Hanji malah membuatnya semakin naik darah.
"—Aku akan menebang pohon ini kalau kau tidak turun dalam hitungan lima."
"J-Jangan, dong! Pohon 'kan sumber oksigen, masa kau tega—"
"Lima."
"R-rivaille—"
"Empat."
"Rivaille, kau serius?!"
"Tiga. Dua. Sa—"
"BAIKLAH, BAIKLAH, AKU TURUN!"
Hanji pun menerima kematiannya sendiri—turun atau tidak turun dari pohon, ia memang sudah yakin bahwa nyawanya akan melayang hari ini. Dan yang mengambil nyawa miliknya itu bukanlah seorang Shinigami atau dewa lainnya—melainkan diambil oleh iblis kontet bernama Rivaille.
"—Aku tahu kau mengataiku iblis kontet dan aku akan menjadikan kepalamu pajangan di rumah—"
"Rivaille, cukup. Biarkan Hanji berbicara." Irvin menghentikan ayunan kapak yang sudah Rivaille angkat beberapa senti dan mengambil benda tersebut dari tangannya. "..Lagipula, kau dapat benda ini dari mana, sih.."
"Bukan urusanmu, Irvin." Rivaille menatap Irvin tajam. "Nah, Hanji. Jelaskan. Kau mengatakan apa kepada Eren, hah?"
"A.. Aku tidak mengatakan apa-ap—"
"Irvin, berikan kapaknya."
"—AKU HANYA MENGIKUTI PERINTAH AYAHMU!" Hanji langsung menjawab dengan nada panik dari suaranya. "Ayahmu menyuruhku agar melenyapkan semua halangan yang membuatmu tak mau pulang ke Perancis.."
'Halangan'—satu mata Rivaille berkedut ketika mendengar kata-kata Hanji yang satu ini.
"Halangan... katamu?" Rivaille mendengus perlahan. "KAU PIKIR HALANGANKU HANYA EREN, HAH?! KENAPA DARI SEMUA 'HALANGAN' YANG ADA, KAU CUMA MENGHADAPI EREN, BODOH?!"
"H-habis, habis—"
"—Pokoknya, aku tidak akan pulang ke Perancis— dan itu keputusan akhir."
"E-EEEEEEEH?! T-tapi, kalau kau tidak pulang—"
"Aku akan mencari jalan lain," Rivaille membalikkan tubuhnya dan perlahan meninggalkan Hanji dan Irvin yang masih menatapnya. "...Untuk mengurusi masalah Petra."
—Dan dengan satu kalimat itu diucapkan, Rivaille pergi meninggalkan mereka entah kemana.
.
.
.
"—Sudah memutuskan mau memesan apa?"
"..Belum.."
"—Nak, kamu sudah berdiri disini sekitar dua puluh menit—dan kamu belum memutuskan mau memesan makanan apa?!"
"..Makanan yang bisa sembuhin patah hati ada ga, bu?"
"Pergi sana."
Eren menghela nafas panjang setelah sang penjaga kantin mengusir dirinya—baiklah, sudah jatuh, tertimpa tangga—kecebur got, pula. Sudah galau tidak jelas karena memikirkan soal Rivaille, ia kini tidak bisa sarapan karena sudah membuat penjaga kantin kesal terhadapnya.
Lagipula, ia tidak tahu harus makan apa—ia memang merasa lapar, tapi ia tak memiliki nafsu makan ketika melihat berbagai macam makanan yang tersedia di kantin sekolahnya. Benaknya tak memikirkan makanan sedikitpun—benaknya masih berpusat pada satu hal yang sama.
Rivaille.
"..Lama-lama, aku merasa seperti jadi tokoh utama Shoujo manga..." gumam Eren seraya berjalan dengan lesu. "Aah, kalau saja, aku tidak masuk sekolah ini.."
Tap, Tap, Tap—
"Kalau saja—"
Tap, Tap, Tap.
"Aku tidak bertemu dengan orang yang bernama Rivaille..."
—Tap.
'—Karena bertemu dengannya,
Membuat aku tak mengerti akan perasaanku sendiri.'
.
.
.
Rivaille berhenti melangkah dan terdiam di posisi awalnya—menyembunyikan sosoknya di balik sebuah tembok yang tak jauh dari seorang lelaki yang tengah bergumam di tengah kesunyian.
Jarak aman—tak terlalu jauh ataupun dekat, namun Rivaille masih bisa mendengar jelas apa yang lelaki itu katakan.
"Kalau saja, aku tidak bertemu dengan orang yang bernama Rivaille..."
—Dan satu kalimat itu,
Membuat matanya kini menatap ke arah yang tak tentu—mengharapkan udara hampa akan menunjukkan sosoknya, menemani sorot matanya yang saat ini terlihat..
Kosong.
"...Ah, begitu, ya?"
—Untuk apa aku dari awal berharap?
"...Bukan. Aku bukannya berharap—"
Sedari awal, aku memang hanya ingin 'bermain-main' dengannya.
"..Tapi—"
Kenapa jadi aku yang—
Terjebak di dalam permainanku sendiri?
"...Tch."
—Jangan kalah.
Ini permainan yang sudah aku buat.
Aku tak boleh kalah di dalam permainanku sendiri.
"—EREN JAEGER!"
"..H-hah?"
.
.
.
Aku harus—
Menang.
.
.
.
Dengan kecepatan layaknya cahaya—Eren tak bisa menghindar ketika Rivaille dengan cepatnya berlari tepat ke arah dimana ia berdiri. Dan Eren juga butuh waktu lebih dari lima detik untuk sadar bahwa saat ini, yang sedang menerjang dirinya adalah Rivaille; dan saat ini juga, yang telah mendorong tubuhnya secara kasar kepada tembok terdekat juga orang yang sama—
Rivaille.
Baru saja, ia berpikir soal Rivaille dan keinginannya untuk tidak bertemu dengan iblis kurcaci yang satu ini. Daaaaan, sekarang—
"Bocah sial, aku bukan iblis kurcaci!"
—Oh, dia bisa membaca pikiran Eren.
"S-s-senpai?!" Eren kembali ke alam nyata—tersadar bahwa posisinya sekali lagi tertahan dan tak bisa kabur kemana-mana, rasa panik kembali muncul di dalam dadanya. "Kau mau ap—"
"Dengar, bocah." Rivaille menatap Eren tanpa memberikan lelaki di hadapannya kesempatan untuk berbicara—tatapan mata itu masuk ke dalam terangnya warna hijau dan tak memberikan celah. "Kalau aku disuruh memilih antara menikahi sebatang sapu atau menikahi dirimu, aku akan memilih untuk menikah dengan sapu."
"...Maaf?"
"—Jadi, jangan merasa besar kepala karena perlakuanku selama ini, bodoh." Rivaille kini membuat tatapan matanya semakin dingin dan tajam. "Aku hanya bermain-main denganmu."
.
.
.
—Oh.
..Benarkah?
..Apa benar,
Aku ingin mengatakan ini semua?
.
.
"A-Ap—"
"—Dan kau mengira aku ini serius, sampai-sampai kau kebingungan seperti itu? Hah, kau membuatku tertawa, Eren." Rivaille menyeringai tipis—satu telapak tangannya ia bawa untuk menyentuh ujung kepala Eren. "Kau itu naif, ya?"
Rivaille menjambak beratus helai rambut coklat milik Eren—tangannya menarik helaian surai coklat dalam jumlah banyak itu secara paksa, membuat Eren meringis kesakitan.
"Aw! Senpai, s-sakit— Apa yang mau kau lakukan, sih?!"
Rivaille mengabaikan Eren yang merintih kesakitan— ia malah membuat jarak wajahnya mendekat dengan Eren yang masih menutup kedua matanya, menahan sakit di ubun-ubun kepalanya. "—Anak naif sepertimu.."
...Katakan—
Tidak, jangan katakan—
"Memang seharusnya diperlakukan seperti ini, bukan?"
.
.
.
PLAK!
—Rasa sakit yang tiba-tiba mendarat di sisi kanan wajahnya terasa seperti sengatan listrik yang membuat tubuh seketika menjadi kaku.
Rivaille melepas tangannya yang tadi menjambak rambut Eren dan membuat lelaki di hadapannya itu memiliki kesempatan untuk kabur—dan ya, Eren memakai kesempatan itu dengan baik dan pergi meninggalkan Rivaille begitu saja, tanpa mengatakan apapun.
Lagi-lagi, wajahnya terasa panas—
Ia ingin menangis rasanya.
.
.
.
"Ukh.."
Menyendiri di taman belakang mungkin bukan pilihan yang tepat—niat awal Eren adalah menenangkan diri dan berharap ia akan bisa berhenti menangis jika ia diberi waktu untuk berpikir sendirian. Tapi entah kenapa—ketika kesunyian mulai menghampiri dirinya, Eren malah merasa sakit yang semakin mendalam.
"Sial, aku benar-benar seperti tokoh utama Shoujo manga..." Eren menggosok air mata yang turun di wajahnya dengan lengan yang tertutupi bahan kain mahal seragam sekolahnya—membuat wajahnya sedikit merasa perih dan membuat bekas tanda berwarna merah. "Dan lagi, kenapa aku tak bisa berhenti menangis, sih—"
"Kalau kau menghapus air matamu dengan baju seragam, nanti seragammu jadi kotor, bodoh."
Eren berhenti menghapus air matanya dan kini terdiam—ada suara baru yang menyapa dirinya dari depan, dan ia kenal dengan suara tersebut. Suara yang dalam namun nyaring dan lantang—
"—Jean..?"
"Heh, lelaki macam apa kau ini, Eren? Menangis seperti gadis yang baru ditolak—"
"Berisik. Biarkan aku sendiri."
"Hee~ kalau diusir, aku malah jadi semakin ingin mengganggumu, bodoh."
"Ugh.."
Tanpa meminta izin, Jean duduk di samping Eren dengan santainya—dan Eren tak mau repot-repot mengeluarkan kata protes ataupun pindah dari tempatnya. Ia terlalu lelah dan malas—biarlah lelaki di sampingnya ini berbuat sesuka hati.
"..Kau masih menangis?"
"..Mau bagaimana lagi, air matanya tidak bisa berhenti. Aku sendiri sebenarnya tidak mau menangis lagi, asal kau tahu. Tapi—"
"—Ini."
Jean mengulurkan tangannya, dengan sebuah sapu tangan berwarna putih di telapak tangannya—diberikan untuk Eren yang masih menatapnya kebingungan.
"...Eh?"
"Hapus air matamu dengan ini—kalau pakai seragam, nanti kotor." Jean mengulang kalimatnya untuk dijadikan jawaban. "Cepat, sebelum aku berubah pikiran dan menarik kembali sapu tangan ini."
"Eh—ah.. iya, terima kasih, Jean. Tumben sekali kau baik." Eren menghapus air matanya dengan kain lembut pemberian Jean—merasakan air matanya yang perlahan mulai menghilang dan kering di permukaan kulit.
"—Hahaha! Aku memang baik, Eren. Oh, dan asal kau tahu—sapu tangan itu biasanya kupakai untuk melap ingus."
. . . . . .
BREK! —sapu tangan yang digenggam Eren sobek seketika menjadi dua bagian. sialan—baru saja ia berpikir bahwa Jean itu ternyata baik, ternyata—
"KAMPRET—BERARTI TADI AKU NGELAP WAJAHKU DENGAN INGUS NISTAMU?!"
"Ingusku elit kok, Eren. Tenang saja."
"APANYA YANG 'TENANG SAJA', HAH?!" Eren membuang sapu tangan itu ke atas tanah—kemudian ia pergi ke kran air terdekat dan membasuh wajahnya. Ugh, sudah wajahnya lengket karena air mata, masa ia wajahnya juga habis terkena sapu tangan bekas ingus Jean Kirschtein?!
Sementara Eren membasuh wajahnya berkali-kali agar bersih, Jean tertawa puas dari tempat duduknya—lelaki itu tak bisa memungkiri bahwa kali ini, ia sepertinya mengerti kenapa Rivaille senang mengerjai dan menggoda bocah rakyat jelata yang satu ini. Ia terlalu naif dan polos—sasaran empuk.
Ah, tapi—Rivaille sih, beda soal. Jean tahu bahwa seniornya yang satu itu tidak sekedar 'main-main', ia serius—
"—Dasar.. tidak kau, tidak Rivaille-senpai.. kenapa kalian semua.. senang sekali.. mempermainkan aku?"
—...Bukan?
"Hah?" Jean berhenti tertawa dan kini menatap ke arah Eren yang menundukkan wajahnya. "Kalau aku sih, memang senang menjahili orang. Tapi kalau Rivaille-senpai, rasanya ia bukan tipe orang yang—"
"Jangan berbohong. Rivaille-senpai sendiri yang mengatakannya—ia hanya bermain-main denganku," Eren tertawa pahit. "..Dan ia bilang.. aku hanya mainan.. yang pantas diperlakukan seperti ini—"
.
—Padahal, walau sedikit saja..
Aku sudah berharap.
.
"..Eren—"
"Ukh—sial, aku jadi menangis lagi, 'kan.." Eren kembali menyalakan kran air dan membasuh mukanya yang kini kembali basah dengan air mata. "Sudahlah, aku ingin sendirian, untuk saat ini. Kau pergi saja, Jean—"
"—Kau itu bukan mainan."
—Eren merasakan tangan yang hangat menepuk kepalanya.
Berbeda dengan tangan kasar dan dingin Rivaille yang tadi menjambak rambutnya hingga terasa sakit—
Tangan yang kali ini membelai lembut kepalanya dengan hangat, membuatnya merasa nyaman dan tenang walau untuk sesaat.
..Dan tangan tersebut adalah—
"—Menangis saja, bodoh. Tidak ada yang melarangmu, bukan?" Jean mengacak-acak rambut Eren dengan telapak tangannya perlahan. "Aku tidak akan bilang siapa-siapa soal kau menangis, kok."
.
Walau sedikit saja—
.
"Ukh.. Bo—BODOOOOOH!"
"—EH?!" Jean melepaskan tangannya ketika mendengar Eren berteriak dengan lantang—"HEY, AKU SUDAH BERBAIK HATI MAU MENDENGARKANMU MENANGIS, KENAPA KAU MALAH MENGATAIKU BOD—"
..Bukan.
—Yang Eren inginkan,
Hanyalah bukti bahwa ia tidak diperlakukan sebagai sebuah 'mainan'.
Maka dari itu, mungkin alasan mengapa dirinya tanpa sadar meraih tubuh jangkung di hadapannya dan menangis sekencang mungkin adalah...
"...Oi, kalau sampai seragamku jadi kotor karena air matamu, kau harus tanggung jawab."
"—Berisik.."
.
Sedikit saja—
Aku ingin agar kau mengerti.
.
"Bodoh—"
...Rivaille memang bodoh.
.
.
.
"H-hey, Rivaille! tunggu aku—"
"Ck, kau berisik, Hanji. Kalau mau pergi duluan, ya pergi saja."
"—Bukan itu! Rivaille, apa kau serius—"
"Aku serius, Hanji." Rivaille memotong kata-kata Hanji dan menoleh ke arah manusia berkacamata tersebut dengan tajam. "—Aku akan pergi."
"..Lalu, bagaimana dengan lelaki bernama Eren itu?"
"—Apa hubungannya? Semenjak awal aku emang tidak peduli kepadanya."
Hanji mengatupkan mulutnya serapat mungkin—ia tahu bahwa sahabatnya tersebut baru saja berbohong, dan ia tahu bahwa Rivaille baru saja berbicara dengan nada yang entah kenapa menunjukan sedikit rasa sakit di dalam suaranya.
Dia..
"Kau tidak.. memaksakan diri, bukan, Rivaille..?"
Rivaille berhenti melangkah.
"..Kau ini bodoh, atau apa? Yang awalnya menyuruhku untuk pulang terus-terusan siapa, hah?"
"A—Aku 'kan hanya disuruh oleh ayahmu! T-tapi, kalau kau memang tidak ingin pulang, aku berencana untuk membiarkanmu disini dan tak akan mengganggumu lagi.."
—Karena Hanji tahu bahwa Rivaille tak bisa dan tak mau meninggalkan lelaki bernama Eren Jaeger.
"..Sudahlah, Hanji. Sudah.. tidak masalah lagi." Rivaille menghela nafas panjang seraya membalikan tubuhnya—kembali berjalan meninggalkan Hanji di belakangnya.
"Aku akan pulang ke Perancis dan menemui ayah.. juga Petra."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N:
Huahuahuahauahuahauaha halooo~~~
Udah berapa minggu aku ga update ya... *itung kalender* hum... baiklah, silahkan salahkan tugas dan UTS yang menumpuk~ *dilempar*
Jadi... pertama, maaf karena updatenya telat. Super. Telat. Dan lagi bukan karena tugas dan UTS aja—Author juga kena writerblock kemarin-kemarin ihiks
Dan Author mau berterima kasih kepada yang sudah review di chapter kemarin:
Azure'czar, lupalogin, elfri, Adelia-chan, Ookami-Utsugi, Macchatorte, dame dame no ko dame ku chan, AriaFriends24, Yami-chan Kagami, Yano Akiga, DeLoAniMan U-know, Clover letter, Mii-Chan18, ikizakura, Annisong, Lightmaycry, alwayztorad, huangangelin, Kiyomi Hikari, Nai-sama, Hasegawa Nanaho, Kunougi Haruka, Mir-acleKim, minerva, tsunayoshi yuzuru, JackFrost14, ChickenKID, sessho ryu, Harumi Ryosei, Carmelina Gabriella, Kyo Kyoya, sonoyuki rizuki, KurosawaAlice, Heixarn Mizu, Shiori Kagome, Kim Arlein 17, Guest, Rei Ichihara, Fay-ssu, ryuusei-gemini, Harukaze Sora, dan Allen Scarlet!
TAPIIII~ ga lupa, nih, Author juga mau bilang makasih sama para silent reader, dan juga yang udah fave atau follow fanfic ini! XD kalian semua luar biasaa~ Author seneng banget dapet dukungan dari kalian! Dari awal fanfic ini ada sampe sekarang, uuuh~ sini peluk!
..Ah, jadi inget—besok ada yang ke HelloFest? Ayo ketemuan! Seengganya Author pengen meluk reader yang udah setia ngikutin cerita ini XD dan ada gathering Author fandom Shingekyo Indonesia juga disana, yuk yang mau ikutan jangan segan-segan toel saya di FB. Link FB ada di profile!
Jaa, sampai ketemu besok di HelloFest dan di chapter selanjutnya!
With Love,
Nacchan Sakura.
