"—Eh, tidak ada kegiatan klub?"
"Benar," Jean menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal seraya melempar pandangan ke arah ruang Host Club yang masih terkunci walau sudah jam tujuh lewat tiga puluh menit. "Aneh, padahal... biasanya tak ada pemberitahuan mendadak begini, apalagi sampai anggota lain juga tidak tahu alasannya apa.."
Eren mengerutkan dahinya—memang aneh. Sedari kemarin juga, rasanya Irvin bersikap berbeda dari biasanya—dan..
"Eh.. Apa ini ada hubungannya dengan... Rivaille-senpai?"
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 9: Departures
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
"People sometimes lie to avoid hurting others."
(Miyako – Kamikaze Kaito Jeanne)
.
.
Daun berwarna coklat berguguran dari dahannya—angin menari di sekelilingnya perlahan. Iris Emerald milik seseorang tak meninggalkan fokusnya; sedari tadi, memperhatikan banyaknya daun yang berguguran dan akhirnya jatuh ke atas tanah.
Eren menghela nafas panjang—seperti aku, pikirnya. Daun-daun itu berguguran begitu saja; kehidupannya juga berubah begitu saja. Awalnya ia sudah cukup puas dengan hidup yang ia miliki—meski kesusahan, setidaknya ia tak harus mengalami banyak kejadian tak terduga seperti ini. Seperti dirinya—daun yang dulunya berwarna hijau itu perlahan menjadi kuning, kemudian berubah menjadi coklat. Ia menerima kehidupan yang jauh berbeda—memang lebih baik, tapi hanya untuk sesaat.
Dan ketika warna daun itu menjadi coklat seutuhnya; ia akan gugur, jatuh ke atas tanah begitu saja, kemudian hancur.
Hidupnya saat ini...
Mungkin akan berubah juga.
"—Perhatikan pelajaran, Eren. Nanti rankingmu turun, loh?"
"A-ah?" Eren menoleh dan membuat fokus matanya pergi dari daun-daun di musim gugur—kini ia melihat Armin yang duduk di sebelahnya sedang tersenyum tipis, menatap Eren dengan lembut.
"Kau memikirkan sesuatu?" Tanya Armin—yang sepertinya sudah selesai 'membaca' gerak gerik Eren layaknya buku yang terbuka.
"Ah.. um..." Eren mengalihkan bola matanya. "Tidak.."
"Kau itu mudah ditebak, loh. Aku tahu kau berbohong," Armin tertawa kecil. "Tapi, kalau kau tidak mau cerita juga tidak apa-apa."
Armin kembali menatap buku catatannya—ia menulis semua yang guru terangkan dan semua yang guru catat di papan tulis; Armin memang anak yang rajin. Kalau saja Eren tidak berusaha mati-matian, mungkin Eren bisa disusul olehnya.
Eren kemudian menghela nafas panjang—haruskah ia bercerita pada Armin? Sudah cukup kemarin ia membiarkan Jean melihat sisi memalukannya—ia sampai menangis di pundak lelaki itu. Dan Eren masih tak bisa percaya bahwa ia baru saja menangis. Menangis—tepatnya, di PUNDAK milik JEAN KIRSCHTEIN.
Malu sekali rasanya—setelah kejadian itu, berkali-kali Eren membenturkan kepalanya ke dinding—jika ada lubang, mungkin ia ingin 'memasukkan'—
...Eh, 'masuk', maksudnya..
—Tapi tak bisa Eren pungkiri, ia merasa lega setelah menangis di pundak Jean kemarin—tak ia sangka bahwa Jean bisa juga bersikap baik seperti itu. Terlebih lagi, Jean sama sekali tidak mengejeknya dan membahas soal ia yang menangis layaknya anak kecil—Jean bersikap seperti biasa setelahnya.
Dan kali ini—Armin yang menunjukkan kebaikan hatinya. Ah, tidak—Armin memang yang paling baik dan waras dari semua anggota Host Club, sebenarnya. Dan Irvin ada di urutan kedua. Hanya saja, yang berbeda dari Armin adalah—
"—Kalau kau masih murung, Eren, aku akan pinjamkan kau buku yang menarik. Mungkin kau akan terhibur!"
"E-eh? Buku?" Eren menarik satu alisnya ke atas. "Buku apa..?"
Dengan senyum sejuta makna, Armin mengeluarkan sesuatu dari tasnya—bertepatan dengan bel tanda pelajaran yang sudah berakhir. Satu buah buku yang agak tebal ia keluarkan dari dalam tas—dan dengan bangga, ia menunjukkan buku tersebut kepada Eren.
—Buku dengan sampul nuansa biru muda. Dengan cover bergambar...
Seorang cowok.. dan cowok...
Yang sedang mesra...
Dan—
...Euh, Eren tak mau menjelaskannya.
"TIDAK USAH, TERIMA KASIH." Dengan tegas dan cepat Eren menolak 'tawaran' dari Armin tersebut—nah, inilah yang aneh dari Armin. Dia..
"Ah... sayang sekali, kupikir kau suka BL," Armin memasukkan buku tersebut kembali ke dalam tas. "Kalau begitu, kau mau cerita saja kepadaku? Mungkin kau akan merasa lega setelahnya."
Eren menatap Armin sejenak—lalu ia kembali menatap meja di hadapannya. Ia terdiam untuk sesaat—raut wajah yang menunjukkan keraguan ia tunjukkan dengan jelas.
Apakah bisa, ia mempercayai Armin...?
"...Armin, sebenarnya—"
.
.
.
"—Tas?"
"Sudah ada."
"Koper?"
"Ada."
"Humm—passport?"
"Sudah tersimpan rapi dan disiapkan sejak kemarin."
"Berarti semua sudah beres, ya?"
Hanji memberi tanda di buku catatannya—semua yang Rivaille butuhkan untuk dibawa ke Perancis sudah siap. Yang bersangkutan pun terlihat sudah siap untuk pergi kapanpun juga—ia bahkan sudah membereskan barang-barangnya dengan rapi.
Namun, entahlah—ada satu raut wajah yang Hanji rasa janggal; ia memang memasang raut wajahnya yang datar seperti biasa, tapi... kali ini..
Ia lebih tepat disebut 'kosong', daripada 'datar'.
"Hey.. Rivaille, kau yakin mau pergi ke Perancis?"
"Ah? Tentu saja. Kenapa kau bertanya?"
"Raut wajahmu seperti bilang 'tidak mau', loh." Hanji membetulkan letak posisi kacamatanya di tengah jeda, "Aku memang diminta Ayahmu untuk membawa kau pulang, tapi.. kalau kau sampai memaksakan diri dan tidak mengikuti kata hatimu, aku juga tidak mau. Aku tidak akan memaksamu; aku tidak mau kau.. seperti ini."
"—Keputusanku sudah bulat. Aku tak akan mundur," Rivaille berbalik dan berjalan meninggalkan Hanji yang masih terdiam di tempatnya, "Dan... Aku tidak memaksakan diri. Ah, omong-omong, besok jam berapa kita pergi?"
"Um, aku sudah memesan tiket untuk berangkat jam tujuh malam nanti."
"..Baiklah, terima kasih."
Rivaille menutup pintu perlahan—Hanji kini tinggal sendirian di dalam ruangan. Masih ia tunjukkan raut wajah yang menunjukkan bahwa ia khawatir akan Rivaille—ia tahu bahwa sahabatnya itu memaksakan diri.
"...Kenapa kau tidak pernah jujur kepada dirimu sendiri sih, Rivaille?"
.
.
.
"Aku rasa... Rivaille-senpai bukan tipe orang yang suka bermain-main, loh." Ucap Armin seraya menatap Eren dengan sorot matanya yang lembut, "Ia selalu serius. Hanya saja, ia tak pernah menunjukan keseriusan itu."
"...Tapi, dia sendiri yang bilang begitu kepadaku, Armin." Eren tertawa pahit. "Pikirkan lagi—selama ini ia selalu seperti itu, datang dan pergi secara tiba-tiba, membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat, memperlakukan aku tanpa kepastian.. kalau itu bukan main-main; lantas aku harus menyebutnya apa?"
"..Eren.."
"Aku tak meminta apapun—aku tak meminta lebih," Eren menarik nafas panjang—yang ia minta hanyalah.. "..Aku hanya ingin Rivaille-senpai jujur kepadaku."
Seperti daun yang berguguran—
Mengucapkan selamat tinggal kepada sang dahan; harus dengan pahitnya melihat daun yang baru akan menggantikannya sampai musim gugur tahun depan tiba..
Dan itu akan terus berulang, seperti lingkaran tanpa akhir.
.
Apa aku juga,
Harus diam dan mengucapkan selamat tinggal..
Sementara aku nantinya akan melihat—
Seseorang menggantikan posisiku di sampingnya,
Untuk selamanya?
.
"...Kau tahu, Eren? Terkadang.. orang berbohong untuk melindungi orang lain—agar seseorang tidak tersakiti. Mungkin.. Rivaille hanya tidak ingin jujur kepadamu kalau dia serius—karena pada akhirnya, ia akan pergi meninggalkanmu ke Perancis."
"...Eh?" Eren membuka kecil mulutnya—apa yang Armin katakan rasanya mengetuk isi benaknya. Benar—ia tak penah berpikir akan hal itu. Ia dengan egoisnya selalu berpikir bahwa Rivaille memang menyebalkan dan ternyata, ia memang hanya bermain-main dengannya—tak sekalipun Eren berpikir bahwa mungkin Rivaille memiliki alasan tersendiri di balik semua tindakannya.
"Ia mengatakan hal itu agar kau membencinya, melupakannya, dan kemudian—kau bisa kembali melangkah maju melanjutkan hidupmu. Agar kau tak merasa terpuruk meski ia harus pergi dari sisimu."
Melangkah maju, menjadi daun baru yang akan tumbuh di dahan yang masih setia menunggumu—
Ia melakukan semua itu demi diriku?
.
.
.
"Libur? Haha, kalian bercanda? Kegiatan klub tetap akan dilaksanakan!"
—Hening.
"...Aku kira hari ini libur?" Reiner menatap Irvin yang masih berpose dengan bangganya dengan tatapan malas—wakil ketua Host Club yang satu ini memang.. "Lagipula, Rivaille-senpai tidak ada hari ini. Kita masih tetap akan bertugas?"
"Ada Rivaille ataupun tidak—kegiatan klub harus tetap berjalan." Irvin menjawab dengan nada yang berbeda; kali ini lebih tegas dan penuh penekanan. "Lagipula, Rivaille.."
—Eren menyadari raut wajah Irvin yang sesaat terlihat sedih—sangat cepat dan lewat begitu saja, karena dengan cepat Irvin kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Yah, kalau memang harus bertugas, apa boleh buat..." Berthold menghela nafas panjang. "Jean, bisa tolong kau cabut papan pemberitahuan bahwa Host Club libur hari ini dari depan pintu? Aku akan membereskan ruangan."
"Ah.. iya, baiklah."
Dan semuanya kini bersiap-siap untuk membuka Host Club seperti biasanya—bahkan walaupun tanpa Rivaille, rasanya tak ada yang berubah di mata mereka.
Tapi.. Eren dapat merasakannya. Ada yang hilang—ada yang kosong.
..Kursi paling mewah dan paling bagus di ruangan itu tak ada yang menempati.
"Eren, kenapa bengong saja? Ayo bersiap-siap!"
"A-Ah, iya!"
Ada satu sosok—yang kehadirannya tak bisa digantikan, meski beribu musim gugur akan ia lewati di masa depan.
.
.
.
"Eren, kenapa hari ini kau terlihat sedih?"
"E-eh?"
Eren menatap Mikasa dan Sasha yang hari ini datang berkunjung ke Host Club dan berbincang dengannya sebagai tamu—dan ini yang ketiga kalinya, orang-orang bisa menebak isi hati Eren meski dirinya sudah susah payah tersenyum. Apa ia memang terlihat jelas seperti itu—layaknya buku yang mudah dibaca karena sudah terbuka?
"Eh.. Aku baik-baik saja! Aku hanya memikirkan soal ulangan fisika tadi, aku kurang begitu yakin dengan jawabanku, ahaha.."
"...Tapi—tadi di kelasmu 'kan bagian pelajaran biologi?"
. . . .Hening lagi.
"Pfft, Eren memang tidak pandai berbohong, ya~" Sasha tertawa kecil. "Kenapa, kenapa? Cerita saja kepada kami!"
"Iya, Eren. Kalau kau memang ada masalah... mungkin kami bisa membantu."
"Ah... tidak, tidak apa-apa kok! Terima kasih, ya.. maaf karena kalian sebagai tamu jadi harus melihat aku yang tidak melayani sepenuh hati."
"Tidak masalah."
"Tenang saja! Kami bukan hanya tamu—kami juga temanmu, loh!"
Eren tersenyum tipis—kedua gadis di hadapannya ini memang baik hati. Sayang saja—kebaikan hati mereka itu tak dapat menghilangkan perasaan mengganggu yang ada di hatinya saat ini.
"Ah! Ngomong-ngomong, kalian sudah dengar belum? Tadi aku mendapatkan berita mengejutkan dari ruang guru!"
"Berita mengejutkan?" Mikasa menatap ke arah Sasha, "Berita apa?"
"Katanya.. Rivaille-senpai hari ini akan pergi ke Perancis!"
...Dan Eren tak bisa lagi tersenyum ketika hal itu sampai di indra pendengarannya.
.
—Dan ia selalu berharap..
Waktu itu terhenti sebelum musim gugur tiba.
Ia tak mau terjatuh dan hancur begitu saja;
Ia tak mau menggantikan atau tergantikan oleh kehidupan yang lainnya..
.
"Oh—pantas saja si kontet itu tidak ada hari ini."
"Hehe, Mikasa, kau pasti senang ya?"
Eren tak menyimak perbincangan kedua gadis di hadapannya—pikirannya menutup dunia dan suara lain, yang berputar di benaknya hanya..
"Yah—kalau dia pergi, memang aku akan senang sih. Dia itu Rivalku.. dalam berbagai macam hal."
"Hihi, sudah kuduga!"
Rivaille, Rivaille—
Rivaille yang..
Akan pergi.
"—Tapi... tetap saja... Host Club itu seharusnya ada dia, bukan? Kalau dia tak ada, rasanya aneh."
'Eh?' Eren mengangkat wajahnya—terlihat Mikasa menimbun wajahnya diantara syal merah yang ia kenakan.
"Host Club bukanlah Host Club kalau dia tidak ada. Dia tak bisa tergantikan, menurutku."
.
—Tak bisa tergantikan.
Daun itu akan tetap menjadi sebuah eksistensi yang selalu dikenang;
Meski kehadirannya sudah digantikan oleh daun yang lainnya.
.
Kenapa ia hanya diam saja, saat ini?
Bukankah—
Bukankah masih ada waktu sampai musim gugur tahun depan tiba?
Bukankah—
...Saat ini, ia masih bertahan pada sang dahan agar tak jatuh sia-sia?
"..Terima kasih, Mikasa!"
Eren beranjak dan memberikan Mikasa senyuman lebar sebelum ia pergi begitu saja—meninggalkan Sasha yang kebingungan dan Mikasa yang tersenyum kecil di balik syalnya.
"Mikasa, yang tadi itu..."
"—Aku tahu kalau Eren berpikir seperti itu," Ucap Mikasa, "Itu bukan isi hatiku—aku hanya mengucapkan isi hati Eren yang tak bisa ia sadari dan ucapkan."
"..Ehehe, Mikasa tidak berubah, ya? Kau selalu baik hati~"
"Berisik..."
Masih ada kesempatan, bukan?
.
.
.
"—Jam tujuh malam?!"
"Iya, jam tujuh." Mike-sensei menatap Eren seraya memainkan dagunya dengan telunjuk—sesekali mencium bau kekhawatiran dari bocah di hadapannya. "Memangnya kenapa?"
"Ah—itu.." Eren menundukkan wajahnya—terlalu cepat, ini semua terlalu cepat. Ia menatap ke arah jam dinding ruang guru—jam lima sore. Terlalu cepat, dan..
Tidak akan sempat.
"..Baumu bercampur aduk sekali."
"Ah... maaf, aku berkeringat karena lari-lari tadi—"
"Bukan aroma tubuhmu. Tapi aroma dari isi hatimu."
—hah?
Eren menatap Mike kebingungan—aroma dari isi hati? Memangnya isi hati punya bau tersendiri?
"Kekhawatiran, rasa pesimis, kesedihan, merasa dikhianati, takut ditinggalkan.." Mike kembali mengendus sejenak , "Semuanya bercampur aduk dan menjadi 'ketakutan'."
"Ah.." Eren merasa tertusuk tepat di hatinya—benar. Ia yang saat ini..
Memang takut jika kesempatan itu hilang,
Dan pada akhirnya—ia harus menerima daun baru yang akan menggantikannya.
"...Aku akan memberikanmu alamat Rivaille." Mike mengambil secarik kertas dan sebuah pena hitam—menggoreskan ujung penanya dan membentuk sebuah tulisan. "Semoga baumu itu berubah sesudah kau menemuinya."
"..Eh.. Tapi—" Tidak akan sempat. "Jam lima.."
"—Di antara semua baumu yang bercampur aduk itu," Mike melipat kertas tersebut dan memberikannya kepada Eren. "Ada bau dari 'harapan'."
...Kenapa harus menyerah,
Jika kau bahkan belum mencoba sama sekali?
"..Terima kasih, sensei!"
Apa yang akan terjadi selanjutnya, semua diputuskan dari secarik kertas yang ia genggam.
.
.
.
Secarik kertas ia genggam erat—kini benda itu sudah tidak lagi kaku mengikuti bentuk awalnya; garis-garis kusut mulai terbentuk karena tekanan yang telapak tangannya berikan. Tertulis sebuah alamat yang dihiasi tinta biru di atasnya—sesekali tertiup angin karena seseorang yang membawanya kini sedang berlari dengan kencang.
Eren menelusuri jalan panjang yang asing di matanya—namun ia tak akan menoleh ke belakang ataupun berhenti begitu saja. Ia mengabaikan rasa lelahnya; jika ia berhenti, kesempatan itu akan menghilang.
Sesekali ia melihat ke arah jam tangannya—setiap menit yang terlewati membuat dirinya semakin ragu. Namun langkah kakinya tak sekalipun mengikuti keraguan hatinya; terus melangkah meskipun tahu bahwa bisa saja, yang ia harapkan tak akan terjadi sesuai dugaan..
Pukul lima sore lewat tiga puluh lima menit. Jika akan pergi ke bandara jam tujuh malam—Rivaille pasti akan pergi dari rumahnya pukul enam sore tepat. Dan itu hanya lima belas menit dari sekarang.
Warna oranye mulai mewarnai aspal jalan—matahari akan digantikan oleh rembulan tak lama lagi. Seperti jam pasir yang pasirnya hampir habis—Eren merasa waktunya tak akan menunggu.
Namun ia tak ingin menyerah.
.
.
.
Rivaille menatap semua barang bawaannya yang dimasukkan rapi ke dalam bagasi mobil—semuanya sudah lengkap, tak ada yang tertinggal. Ia sudah siap pergi kapanpun juga—ia tak usah lagi menunggu terlalu lama.
"...Kau mau pergi sekarang, Rivaille?"
"Boleh saja. Lebih cepat lebih baik, bukan?" Rivaille membuka pintu belakang mobil dan memposisikan dirinya di atas kursi senyaman mungkin—terlihat dari balik kaca gelap mobil, wajah Hanji yang tak terlihat senang sama sekali. Ia mengalihkan pandangannya dari Hanji dan menutup pintu mobil tersebut.
—Rivaille menghela nafas. Ia bahkan tak berpamitan kepada anggota Host Club selain Irvin; ia bahkan tak peduli. Ia ingin mengosongkan pikirannya, fokusnya saat ini hanyalah pergi ke Perancis, dan menemui ayahnya.
..Dan membereskan masalahnya dengan Petra.
Rivaille menghela nafas panjang—tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya untuk kembali; entahlah, setelah semua masalahnya selesai di Perancis, Rivaille bahkan tak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Tetap tinggal, atau..
Kembali ke Jepang, dan—
"—RIVAILLE-SENPAI!"
Suara mesin mobil yang dihidupkan mulai terdengar; bersamaan dengan suara nyaring yang memanggil namanya. Rivaille sesekali menoleh—apa, jadi ia berdelusi sekarang? Ia mungkin sudah mulai gila, berhalusinasi dan seolah-olah mendengar suara Eren memanggilnya—
"R-Rivaille, lihat ke belakang!"
Menatap Hanji penuh tanya untuk sesaat—Rivaille kemudian menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok seseorang berlari di kejauhan—awalnya kecil. Namun, semakin lama..
Sosok itu semakin jelas. Berlari dengan raut wajah yang tak bisa dimengerti; menyayat hati, dan..
"Eren?!" Rivaille membuka kaca mobilnya dan memandang ke arah Eren—ia tak peduli kalau tindakannya yang mengeluarkan kepala melalui jendela ini berbahaya. "Apa yang kau lakukan, bodoh?!"
Eren tahu bahwa kecepatan berlarinya tak sebanding dengan mobil yang melaju kencang dengan empat rodanya—Eren juga tahu bahwa staminanya tak akan bertahan lama. Namun melihat sosok Rivaille yang kini berada ada di depannya, tak jauh..
"Jangan pergi seenaknya, senpai! —Kau, kaulah yang bodoh!"
.
Mungkin aku memang merasa takut.
.
"Selama ini, kau egois dan bersikap seenaknya terhadapku, kau tahu? Lalu kau mau meninggalkan aku begitu saja, sekarang? Jangan mimpi!"
.
Membayangkan bahwa nanti..
Tak akan ada pertemuan kedua.
.
"—Dengar baik-baik, senpai! Kali ini, akulah yang akan menjadi egois—"
.
Padahal..
.
"Kau harus kembali! Aku tak peduli—pokoknya, kau harus kembali!"
Rivaille menatap Eren dengan kedua bola matanya yang membesar—mulutnya terbuka namun tak ada satu patah katapun ia ucapkan. "Eren—"
"Aku akan menunggumu—" Eren merasa nafasnya kini terasa berat, namun ia melanjutkan kata-katanya, "Meski harus menunggu sampai musim gugur terlewati seribu kali—aku akan menunggumu!"
Menunggu adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan.
—Dan itu bukanlah hal yang sia-sia.
"...Aku akan kembali!" Rivaille membalas dengan suara yang lantang—dan dari dalam mobil, Hanji yang memperhatikan semenjak tadi tanpa sadar menorehkan senyum di wajahnya—perlahan. "Aku akan kembali, pasti akan kembali. Tapi, kau harus menungguku, bocah!"
"Aku akan menunggumu!" Eren kini berjarak cukup dekat dengan mobil yang masih melaju—"Dan begitu kau kembali, berjanjilah,"
.
Tak harus bersedih karena musim gugur;
Musim semi akan membuatmu kembali bersinar.
.
"—Kau harus jujur kepadaku!"
Kini langkah kaki Eren terhenti—dirinya sudah tak kuat berlari lagi. Perlahan jarak dekat yang ia ciptakan kembali menjauh—membuat Rivaille kembali memudar dari visinya.
"...Aku berjanji aku akan kembali, dan aku berjanji, bahwa aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu ketika aku kembali, Eren!"
—Itu saja sudah cukup.
Meski jarak mereka kini terpisah semakin jauh; meski Eren tahu bahwa jika dirinya berhenti lebih lama lagi, mereka akan berpisah..
Musim gugur akan kembali tahun depan.
Eren tersenyum—ia melambaikan tangannya, dan ia dapat melihat Rivaille membalas lambaian tangan tersebut dari kejauhan.
"Sampai jumpa, senpai."
.
—Daun baru mulai tumbuh di dahan yang sama.
Bersiap untuk mekar dan bersinar dalam warna hijaunya..
.
.
To be Continued
.
.
A/N Corner:
HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHALO— *ngumpet di belakang tembok*
Jadi berapa bulan saya ga update ya... ada yang inget? Yang inget saya kasih nanas lima karung.
Oke—jadi, pertama, maaf seeeebaaaaanyaaaaak-banyaknya atas update yang telat super telat ini. curhat nih ya—tugas Author itu ga ada abisnya. Bayangin, tiap hari ada tugas, begitu tugas beres, dikasih tugas baru lagi... kaya lingkaran setan tanpa akhir... *tertawa hampa*
Dan kebetulan tugas bikin 101 ide dari buah nanas baru aja selesai sebagian tadi. Jadi Author bisa nyantai dikit dan bisa update huehue (melupakan UAS)
Ada yang bisa nebak ga, adegan Eren ngejar Rivaille yang naik mobil itu nyomot dari manga apa? Yang bisa nebak saya kasih nanas dua puluh karung. #ngga
Oke~ itu adegan nyomot dari chapter terakhir manga Cardcaptor Sakura (CLAMP). Ada yang masih inget sama manga jaman jebot itu? Itu salah satu manga kesukaan Author, sampe sekarang ga ada matinya dan masih berkutat di fandomnya heuheu
((btw ada yang ngeship SyaoranxSakura? *nyari temen*))
Oke—jadi OOT nih. Nah, sekarang saya mau ngucapin terima kasih buat:
Hasegawa Nanaho, Adelia-chan, Mizuki Rae Sichi, Kiyomi Hikari, dame dame no ko dame ku chan, Yano Akiga, Azure'czar, Miracle-ren, Allen Scarlet, RieRei-09, akihiko . fukuda . 71, Yamazaki Koharu, chun, ChickenKID, feby . shecupesz, Harukaze Sora, Lightmaycry, nyi siti, Harumi Ryosei, ikizakura, MitsuKouFudo Arikuchiki, Michiyo Yumi, Tsumiki-nyan, huangangelin, Rikkagii Fujiyama, Kim arlein 17, tsunayoshi yuzuru, Yami-chan Kagami, Hydracialous, elfri, Kujo Kasuza, BakaFujo, Rei Ichihara, Kagamine miCha, Shiori Kagome, devilojoshi, SeraphelArchangelaClaudia, Rei2501, ryuusei-gemini, Cherry's, rururei, Ryuuki Ukara, Yui Sakamaki,
Dan
Para Silent reader sekalian!
Kalian semua itu bener-bener... penyemangat nomor satu. Author sayaaang banget sama kalian. Sini Author kasih nanas satu-satu *loh*
Jangan capek ya nungguin author yang lelet update. Jangan capek ya baca cerita yang kebanyakan galau ga jelas :'D
Karena kalau kalian ga ada, fanfic ini ga bakalan ada.
Akhir kata—sampai jumpa di chapter depan!
Author yang sedang mabuk nanas,
Nacchan Sakura.
