"—Libur musim panaaas!" Eren beranjak dari kasurnya seraya meregangkan otot tubuhnya yang terasa lemas—senyum lebar terlukis di wajahnya. Perlahan, langkah kakinya membawa Eren berhadapan dengan tirai yang masih tertutup—membuat sinar matahari tak bisa masuk; hanya bisa mengintip dari celah kecil yang tersedia.
Dengan kedua tangannya, ia meyibak tirai hijau tersebut—membuat matahari kemudian masuk dan memancarkan sinar cerahnya ke dalam ruangan.
"...Hari ini juga, aku harus semangat!"
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 10: First Love
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
"Aku selalu ingin tahu—sejak kapan perasaan 'suka' bisa berubah menjadi 'cinta'?"
(Nagihiko Fujisaki - Shugo Chara!)
.
.
Liburan musim panas itu bagaikan surga bagi Eren.
Tak ada sekolah. Ia bisa bangun siang sesuka hatinya—ia bisa bersantai dan berguling di atas kasur sesuka hatinya; membiarkan Air Conditioner kunoyang disediakan apartemen bobroknya berhembus nyaman ke arah tubuhnya.
Tak ada pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah setumpuk yang diberikan gurunya untuk menjadi teman saat liburan sudah ia lahap habis di hari pertama libur musim panas—agar ia bisa bersantai lebih lama di waktu liburan; dan ia tak harus terganggu dengan pikiran bahwa pekerjaan rumahnya belum selesai.
...Tapi, yang terpenting—
TAK ADA KEGIATAN HOST CLUB. Tuh, Eren sampai menulisnya dengan huruf kapital yang ditebalkan—Eren paling bahagia karena libur musim panas menandakan bahwa kegiatan klub juga diliburkan selama satu bulan penuh; dan meski hanya dalam waktu yang singkat, itu cukup untuk membuat wajah Eren beristirahat dari kegiatan 'senyum terpaksa'nya yang rutin.
Dan juga untuk mengistirahatkan diri dari orang-orang kaya yang tak tahu diri tersebut.
"..Yah, tidak semuanya, sih... Rivaille-senpai tidak ada disini soalnya."
Masih teringat jelas di benak Eren—hari ini tepat satu bulan Rivaille pergi ke Paris. Ia masih mengingat bagaimana Rivaille berjanji untuk pulang—ia juga masih mengingat bagaimana ia menangis di hari perpisahan itu. Senyum kecil menemukan jalannya di wajah Eren; sampai detik ini, Eren masih setia menunggu Rivaille untuk kembali.
Terdengar bodoh, memang—orang waras mana yang mau menunggu tanpa kepastian? Apalagi, orang yang ditunggu olehnya tidak memberi kabar sama sekali.
"Che, aku jadi terdengar seperti tokoh utama wanita di shoujo manga—" Eren tertawa kecil seraya mengacak-acak rambutnya sendiri, "Ini semua salahmu, Rivaille.."
.
.
.
"...Jadi," Eren menarik nafas sedalam mungkin— "Tadi sepertinya terakhir kali aku mengingat, aku sedang ada di rumah dan sedang bersantai di depan Air Conditioner setelah mandi.."
Kemudian iris Emerald nya menatap tajam beberapa objek di sekitarnya saat ini; beberapa orang, tepatnya. Yang dilempari tatapan tajam hanya tersenyum lebar tanpa dosa—membuat Eren ingin sekali rasanya menonjok gigi mereka sampai habis semua.
"—LALU KENAPA TIBA-TIBA AKU ADA DI TENGAH-TENGAH MALL BERSAMA ORANG-ORANG TIDAK WARAS INI?!"
((Perhatian: orang-orang tidak waras dibaca "Anggota Host Club".))
Reiner tertawa lantang seraya menepuk-nepuk bahu Eren, "Oh, ayolah Eren~ kami menyeretmu kesini untuk bermain! Refreshing, refreshing! Kami merasa miris melihatmu tidak punya kerjaan di rumah, kasihan sekali."
"Heh, ucap orang yang bahkan pekerjaan rumah liburan musim panasnya belum disentuh sama sekali."
"Eh, bagaimana kau tahu kalau aku belum mengerjakan PR?"
"—Tidak usah dipikirkan. Sekarang tolong katakan padaku kenapa kalian harus membuat aku pingsan kemudian menyeretku secara paksa seperti ini?!"
"Aah, ini ide dariku... karena aku yakin kau pasti menolak untuk ikut kalau kami ajak secara langsung."
Oh, jadi Irvin toh dalang dibalik semuanya.
"Kalian sadar tidak sih—kalau ini termasuk tindakan penculikan anak dibawah umur?"
"Oh, Eren, jadi kamu mengaku kalau kamu bocah?" Jean tersenyum lebar—terlalu lebar sampai-sampai Eren ingin menyikat giginya dengan sikat kuda.
"...Terserahlah..."
Eren menghela nafas yang panjang seraya melemparkan fokus matanya ke arah lain—aah, padahal dia sudah berencana untuk santai seharian di rumah sambil nonton televisi hari ini. Tapi—semua rencananya hancur seketika.
"Jangan pasang wajah kecewa begitu dong, Eren! kita hari ini ke mall itu untuk membelikan Eren sesuatu, loh.." ucap Armin dengan senyum manisnya; senyum yang begitu polos bagaikan malaikat..
"—Jangan bilang kalau kamu mau membelikan aku Doujin BL."
"...Yah, ketahuan~"
—'Senyum manis bagaikan malaikat'-nenek moyang mu. Biarpun polos dan manis di luar, Armin itu yang paling berbahaya diantara semuanya.
"Tidak, tidak, selain mengantar Armin untuk berburu Doujin—kami memang membawamu kesini untuk sesuatu, Eren." Irvin menepuk bahu Eren seraya tersenyum—senyumnya yang biasa ditunjukkan setiap hari. "Kami akan membelikanmu beberapa pakaian dan menata ulang rambut dan wajahmu."
Eren sempat bergidik ngeri sesaat—MENATA ULANG?! Emang bagaimana caranya menata ulang wajah?! "Maaf—maksudnya apa, ya? eh—tidak, tepatnya—untuk apa?"
"—Nanti juga kamu akan tahu." Hanya jawaban penuh misteri itu yang Irvin lemparkan; membuat Eren semakin bertanya-tanya.
"Err... tapi aku tidak punya uang, loh. Dan aku tidak mau kalau biaya baju yang aku pilih nanti masuk ke daftar hutang."
"Tidak masalah; aku yang menanggung biayanya."
...Dasar orang kaya menyebalkan yang memiliki uang banyak tapi malah dihamburkan untuk sesuatu yang tidak perl—
—Ah, singkatnya, 'dasar orang kaya bedebah'.
"Terserah, deh..."
.
.
.
"Kau tidak berencana untuk memberitahu Eren, Irvin-senpai?"
Jean menatap Eren yang saat ini sedang disodorkan banyak pakaian oleh Armin, Reiner dan Berthold; sementara Jean dan Irvin hanya duduk santai di kursi tunggu dan memperhatikan dari kejauhan. Lucu juga melihat Eren yang marah setiap berapa menit sekali karena ia diberi terlalu banyak pakaian sampai-sampai tidak bisa memilih—dan tak ada satu orangpun yang mendengarkan protesnya.
"Yah—sulit juga untuk memberitahukan hal itu kepada Eren; bagaimanapun juga, ini tentang Rivaille.."
"Pfft—dasar, padahal pertemuan mereka singkat, ya... tapi mereka berdua bisa jadi sepasang yang rasanya sulit sekali untuk dipisahkan. Cepat sekali perkembangannya."
"—Jean juga sama, bukan?" Irvin tersenyum kecil—memberi jeda sesaat untuk kalimatnya. "Kau juga sebenarnya... memiliki perasaan untuk Eren, bukan?"
. . . .
—Butuh waktu sekitar tiga detik untuk Jean memberikan reaksi. Dan ketika ia sudah mencerna arti ucapan Irvin sepenuhnya; semburat merah muncul di wajahnya perlahan.
"—A—A—AP—SIAPA YANG BILANG?! TIDAK SAMA SEKALI, KOK!"
"Yah—bukan hanya Jean, loh." Irvin mengalihkan pandangannya dari Jean dan menatap empat orang yang masih berkutat dengan beberapa tumpukan baju, "Berthold, Armin... dan Reiner, ya.. kalau Reiner, aku kurang tahu. Tapi kalau Berthold, entah kenapa, aku rasa dia terang-terangan menunjukkan ketertarikannya kepada Eren."
"...Darimana kau tahu soal itu?"
"—Armin mungkin hanya tertarik kepada Eren karena lelaki itu lucu, dan enak diajak berteman. Mungkin Reiner juga. Tetapi kau dan Berthold berbeda; meski tidak se-agresif Rivaille, kalian diam-diam memperhatikan Eren dengan sorot mata yang lembut."
Jean menatap Irvin sesaat; kemudian dengan wajah yang masih merona, ia menoleh ke arah lain—menghindari tatapan Irvin yang seolah mengatakan bahwa 'prediksiku benar, 'kan?'.
"..Lalu bagaimana denganmu, Irvin-senpai?"
"—Hmm?"
"Apa kau juga.. memiliki perasaan seperti itu.." Jean menelan ludah, "..Kepada Eren?"
Eren yang baru saja keluar dari ruang ganti diberi tepuk tangan oleh trio Armin, Reiner dan Berthold; dan Eren hanya bisa menghela nafas panjang dan mengatakan bahwa baju ini tidak disukainya—sementara Jean dan Irvin masih memperhatikan dari kejauhan. Jean bahkan tanpa sadar sedikit tersenyum melihat Eren yang memaksa untuk mengganti bajunya kembali karena bahan yang tidak nyaman dan sebagainya.
"—Yah, itulah alasan kenapa aku sulit mengatakan kepada Eren soal Rivaille, Jean.."
—Dan Jean terputus dari fokusnya terhadap Eren; satu kalimat singkat itu membuatnya menoleh dengan cepat ke arah Irvin—dengan kedua mata yang membesar dan mulut yang terbuka; meski tidak mengatakan apa-apa.
"—Kau mengerti maksudku bukan, Jean?"
.
.
.
Lima kantong tebal berukuran cukup besar ditenteng di kedua tangan—Eren menatap banyaknya baju yang hari ini 'dibelikan' oleh Irvin dan anggota host club lainnya di butik. Ia bahkan bisa merasakan betapa wangi semerbak sesekali tercium karena rambutnya yang baru saja di cuci sekaligus creambath; dan juga kulitnya yang terasa begitu bersih dan halus karena perawatan. sungguh—ia merasa jadi seperti anak perempuan. Jijik sekali—laki-laki 'kan seharusnya tidak perawatan atau belanja seperti ini.
Eren kembali menghela nafas panjang dan memasang wajah masam; ia sekarang memikirkan dimana ia harus menaruh semua baju-baju ini—mengingat lemari baju di apartemennya hanyalah lemari kecil setinggi 45 centi meter dan sudah penuh dengan kaos juga celana jeans.
Berjalan dengan sedikit ogah-ogahan dan langkah kaki yang tidak teratur karena lelah—tanpa sadar Eren menubruk tubuh seseorang dengan cukup keras; beruntung Eren tak terjatuh ke aspal yang keras.
—Namun tubuh lebih kecil yang bertabrakan dengannya harus mendarat di atas aspal seraya mengaduh kesakitan; dengan suara yang halus. Menyadari bahwa yang ditubruknya adalah seorang wanita—Eren dengan cepat menaruh kantong belanjaan yang dibawa oleh tangan kanannya; menggunakan tangan tersebut untuk menolong sang gadis yang terjatuh.
"Ah—maaf, kau tidak apa-apa?" Eren mengulurkan tangan kanannya dan menatap ke arah gadis yang terjatuh; gadis dengan rambut pirang.
"—Aku tidak apa-apa." Gadis itu tidak menerima uluran tangan Eren; ia berdiri kembali seraya menepuk-nepuk bagian bawah bajunya yang sedikit kotor. "Lain kali lihat-lihat kalau sedang berjalan, bodoh."
—Oh, baiklah... sepertinya gadis yang ini tidak begitu ramah.
"..Maaf..." Eren menundukkan wajahnya dalam-dalam—sudah tidak ramah, ia malah balik dimarahi dan dikatai bodoh pula—sial sekali hari ini.
"Yah, tidak apa-apa, sih." Gadis itu membuka kedua matanya dan kini menatap ke arah manik Emerald lawan bicaranya, "Tapi, lain kal—"
Gadis itu berhenti dari kalimatnya—kedua iris biru langitnya kini membulat; nafasnya seperti tercekat ketika melihat sosok lelaki yang baru saja menabraknya.
"...Eren?"
Dan yang dipanggil kini mengangkat wajahnya—ketika mendengar gadis itu entah mengapa bisa mengetahui namanya. Namun kedua mata Eren pun sama; membesar karena terkejut melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya—
—Dan ingatan masa lalu muncul di benaknya.
.
"Eren, kau tidak sendirian. Aku selalu bersamamu disini."
.
Gadis kecil yang dulu memancarkan senyumnya—kini berdiri di hadapan Eren dengan wajah yang terlihat tak pernah tersenyum kembali; dengan kedua mata yang masih menatapnya seolah tidak percaya..
"...Annie?!"
.
.
.
—Sedari dulu, Eren memang selalu sendirian. Maka dari itu, ia tak pernah berniat untuk mencari teman ketika diterima masuk ke sekolah khusus orang-orang kaya—di awal cerita.
Semenjak dulu ia memang tidak pandai berteman—karena alisnya yang selalu berkerut seperti orang marah; teman-temannya menjadi takut untuk mendekati Eren.
Padahal—Eren bukannya marah; ia menyembunyikan rasa gugup dan malunya. Ia tak tahu cara bicara di depan banyak orang—apalagi berteman.
Namun ada satu orang gadis yang selalu mendekatinya meskipun Eren selalu di cap sebagai anak 'tidak ramah' dan 'menakutkan'. Gadis yang sama-sama selalu sendirian karena dikatai sebagai 'anak buangan' oleh teman-temannya—gadis yang tak pernah menyerah untuk bisa berteman dengannya.
Gadis itu terkadang omongannya tajam; bahkan tersenyum pun jarang. Namun sekalinya ia memberikan senyuman—siapapun yang melihatnya akan mengingat senyuman tulus itu sampai kapanpun juga.
Eren selalu sendirian—maka dari itu, ia merasa hanya Ibunya yang selalu setia dan selalu ada untuknya di dunia ini.
Eren selalu sendirian—maka dari itu, dunianya seperti hancur ketika Ibunya pergi untuk selamanya.
Eren selalu sendirian—
..Maka dari itu, Annie menemaninya untuk menangis di depan batu nisan seharian; seraya terus menggumam,
"Eren, kau tidak sendirian. Aku selalu bersamamu disini—aku tak akan pernah pergi.."
. . . .
...Maka dari itu—
Eren tak mempercayai siapapun lagi ketika Annie juga pergi meninggalkannya begitu saja.
Namun—gadis itu telah muncul kembali di hadapannya; dengan wajah yang yang sama seperti waktu kecil dulu; manis, namun terlihat sedikit mengintimidasi.
Walau tinggi dan tubuhnya sudah berubah total—Eren mengenal jelas sosok Annie Leonhart; gadis yang tak pernah menyerah untuk bisa berteman dengannya ketika masih kecil dulu; gadis yang tak pernah pergi meskipun orang-orang perlahan pergi menjauh meninggalkan dirinya.
Tidak, terlebih lagi...
Eren tak akan pernah lupa—
...Pada sosok cinta pertamanya.
. . . .
—Loh, tunggu! Ini masih fanfiction dengan pairing RivaillexEren, bukan..?
.
.
.
To be Continued
.
.
A/N:
...Halo.
Iya, saya pasrah ko kalau mau ditimpukin sama kalian atau mau dilemparin kertas :'D MAAF ATAS UPDATENYA YANG TELAT UHUHUHU
Jadi ceritanya kemarin-kemarin itu kepentok UAS... dan tugas nanas (yang akhirnya beres terus dapet nilai 85 alias A UHUHU HOREEE)...
Dan setelahnya, saya agak mentok dan abis ide untuk cerita yang satu ini... sungguh, ga ada alesan lain kenapa cerita ini lama banget updatenya—saya kemarin abis UAS langsung libur satu setengah bulan, dan waktu senggang ada banyak. Tapi jujur aja... kalau ide cerita mentok itu susah hilangnya...
Dan akhirnya chapter ini selesai juga setelah didiemin selama kurang lebih tiga minggu... UHUHU AKHIRNYAAA
Maaf kalau pendek banget buat cerita chapter ini; dan maaf kalau ga ada scene RivaiEren... karena ya, Rivaille memang absen dulu, ehehe~
Tapi ga lama ko, nanti juga ada lagi scene RivaiEren nya. Sekarang mari fokus ke Harem!Eren yang entah kenapa bisa jadi kacau begini...
Dan untuk Terima kasih banyak untuk yang kemarin memberikan review:
Kagamine Micha, digimonfan4ever101, Svezza Annashya, Azure'czar, Miracle-ren, IsLevi, Hasegawa Nanaho (aku ngakak baca review kamu plis :")) ), huangangelin, Adelia-chan, xenovia, kirscheichou, Chijou Akami, Harumi Ryosei, Nuvola Ral, yuzuru, Allen Scarlet, Ruby Laoro, Yamazaki Koharu, shiroyasha-dono ga suki, Tsumiki-nyan, Kujo Kazusa, ChickenKID, Yami-chan Kagami, Hydracialous, syalala uyee, AkakoNichiya (HELLO THERE SYAOSAKU SHIPPER *terjang*), Shiori Kagome, essne98, Carmelia Gabriella, Rei Ichihara, rururei, k, Lee Dong In, kouichi yamanishi, Hoshiko-na, UruRubaek, alwayztora, Angelic yet Demonic, ayulopetyas11, Jelly P, diandulac, Ichika07, Momoka Mayuyu, Rie Mikaze, Seijuurou Eisha,
Dan juga semua yang sudah baca, fave, dan follow cerita ini!
Kalian itu sumber semangat saya, review kalian semua sangatlah berarti. Saya bukan siapa-siapa kalau ga ada kalian :'D
Author sayang kalian semua. Sayang banget. :')
Semoga kalian suka dengan chapter ini!
With Love,
Nacchan Sakura.
