"IRVIN-SENPAI!"
Pintu yang berkilauan dan megah itu terbuka lebar dengan paksa—sosok seorang pemuda bernma Jean Kirschtein terlihat mengatur nafas dibaliknya. Sang senior yang dipanggil olehnya hanya bisa menarik satu alis ke atas—memasang tampang kebingungan yang begitu jelas. Mulutnya sudah terbuka, hendak bertanya 'ada apa'; namun pertanyaan itu terhenti ketika jawaban sudah dilontarkan terlebih dahulu oleh pemuda di ambang pintu,
"Eren selingkuh dengan gadis berambut pirang!"
. . . . . .
"—Eh?"
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 11: Drama
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
"No matter what happens, I'll be by your side.
No matter how much time passes, even if our situation changes.."
(Gilbert Nightray – Pandora Hearts)
.
.
"Kapan ya—aku terakhir bertemu denganmu?"
Tubuh gadis itu mengikuti irama ayunan yang sedang ia naiki—ke depan, ke belakang, ke depan lagi, dan terus berulang. Angin perlahan meniup beberapa helai rambutnya yang dihiasi warna kuning pucat—dan bayangannya di antara tanah yang terkena percikan warna langit sore menjadi fokus utama lawan bicaranya; lelaki bernama Eren Jaeger yang kini duduk santai di atas ayunan, tak berniat mengikuti gadis di sampingnya yang berayun ke depan dan belakang.
"Ah... entahlah, 5 tahun yang lalu, mungkin? Kau terlihat tua sekarang, Annie."
"Kurang ajar. Kau mau aku hajar seperti waktu dulu, eh?"
"—Aku bukan seorang masokis. Tapi kalau itu bisa membuatku bernostalgia pada masa-masa kecil kita yang indah, aku tidak keberatan." Eren tertawa kecil seraya mengalihkan pandangannya pada matahari yang hendak terbenam. "..Apa kabarmu?"
"Kelihatannya, bagaimana?"
"..Um, baik?"
"Hahaha—tidak. Kau salah."
Bunyi dari ayunan yang cukup berisik kini sudah menghilang—perlahan, tubuh Annie berhenti mengikuti gerakan ayunan yang membawanya bergerak semenjak tadi. Wajahnya yang sedikit terlihat cerah di awal—kini samar-samar mulai menunjukan emosi aslinya yang terpendam; kesedihan yang ditutupi oleh topeng yang sempurna.
"...Annie?"
"—Aku pindah kembali kesini, setelah lima tahun tinggal di New York dan meninggalkanmu begitu saja. Aku waktu itu diseret secara paksa oleh Ibuku yang hendak menikah lagi dengan pria asal sana—maafkan aku ya, Eren."
"Ah... aku sudah tidak begitu memikirkannya lagi," Eren menghela nafas. "Itu.. sudah menjadi masa lalu."
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah." Annie tertawa hampa dengan suara yang kecil, "Dan sekarang aku kembali membawamu kabar yang tak baik. Aku ini benar-benar teman yang jahat... ya?"
"Tidak! Itu tidak benar, Annie. Kau teman yang baik, kau—"
"—Eren." Annie menoleh—mengalihkan fokusnya dari arah matahari senja ke arah wajah sang pemuda di sampingnya; dengan sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya. "..Terima kasih."
Senyuman itu bukanlah sesuatu yang bisa Eren lupakan; bertahun-tahun ia selalu menyukai setiap senyuman yang gadis itu torehkan. Senyuman tersebut seolah menjadi satu-satunya semangat hidup yang selama ini Eren idamkan—satu-satunya hal yang selalu bisa membuatnya tegar.
—Dan meskipun itu hanyalah di masa lalu, entah kenapa...
Rasanya hal itu tak pernah berubah sampai detik ini tiba.
"Tak perlu dipikirkan, Annie. Kita ini teman, bukan?" Eren membalas senyuman tersebut dengan senyuman lebar khasnya, "Oh—tapi, apa yang kau maksud dengan... kabar buruk?"
"Ah.." Annie memudarkan bentuk senyum di wajahnya—kembali, paras penuh kesedihan itu muncul di wajahnya. "Itu..."
—Eren bersabar dan menunggu gadis itu untuk berbicara.
"Aku... dipaksa untuk menemani kakak tiriku pindah kesini. Dan ya—meskipun kakak tiriku itu baik, aku tidak suka dengan ayahnya—Ayah tiriku, maksudnya. Dia sepertinya selalu membenciku. Kakak tiriku pindah kesini untuk menemui calon tunangannya."
Eren menarik satu alisnya ke atas, "Kalau kakak tirimu itu baik—lalu kenapa kau bilang kabar buruk?"
"...Kabar buruknya adalah, jika kakak tiriku tidak berhasil menjalin hubungan baik dengan tunangannya—aku yang akan kena getahnya. Ayah akan marah besar—mungkin beberapa tamparan dan pukulan juga akan melayang."
"...Annie.."
"—Aku baik-baik saja, sungguh. Aku sudah terbiasa."
Tak mungkin ada orang yang terbiasa dengan hal seperti itu, pikir Eren. kini dirinyalah yang merasa bersalah—sudah berapa lama ia tak berdiri di samping gadis tersebut, untuk menjadi satu-satunya kekuatan dan pelindung di dalam hidupnya?
"—Bersemangatlah, Annie! Kau sekarang sudah ada disini, ada aku disini. Aku akan membantumu!"
"...Eh? Benarkah?"
"Iya! Ke sekolah apa kau dan kakakmu akan pindah nanti?"
"..Recon High School.."
"Nah! Itu sekolah yang sama denganku—kau beruntung!" Eren menepuk lembut bahu Annie seraya tersenyum lebar. "—Lalu, siapa nama kakakmu itu dan tunangannya?"
Annie tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Eren; setidaknya, Annie merasa beruntung karena disini, ia tidak sendirian.
—Namun..
Jawaban yang Annie berikan setelah ini, mungkin bukanlah sesuatu yang ingin Eren dengar.
"—Nama kakak tiriku Petra Ral," jawab Annie. "Dan tunangannya bernama Rivaille. Rivaille Bloodworth."
. . . . . .
—Seketika dunia berhenti bergerak untuknya.
"...Eh?"
.
.
.
"Bagaimana ini bagaimana ini bagaimana ini BAGAIMANA INI—"
"—Jean, demi Tuhan, diam atau aku akan membuatmu diam!"
"—Armin! Hanya tinggal hitungan hari sampai Rivaille-senpai kembali ke sekolah ini, kau ingat? Dan kau tahu apa yang akan terjadi kalau ia sampai melihat Eren jalan dengan gadis lain, hah?" Jean menjambak rambutnya frustasi, "DIA BISA MENGAMUK!"
"Sebenarnya, yang cemburu itu saat ini kau, bukan? Diamlah, kau berisik!"
"Ap—hey, enak saja! Aku tidak cemburu, oke? Aku TIDAK cemburu! Bukannya malah kau yang cemburu, eh, Armin?"
"...Ya, aku memang cemburu."
"Hah! Sudah kubil—"
"—Aku cemburu pada Eren, karena kau menyukai dia."
. . . . .
—Armin melempar buku yang sedari tadi ia baca ke atas sofa—beberapa saat setelah ia melontarkan kalimat tersebut dan membuat Jean terdiam seketika. Armin tak mengharapkan ada respon darinya; Armin langsung meninggalkan ruangan tanpa menatap Jean sebelum menghilang.
"...A...pa?"
.
.
.
"Aku merasa seperti menonton drama."
Reiner membanting tubuhnya untuk duduk nyaman di atas sofa—membuat Berthold di sampingnya harus bergeser sedikit agar temannya tersebut bisa mendapat tempat. Lelaki yang jangkung tersebut memandang sahabatnya penuh tanya—kebingungan dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan.
"Drama?"
"Ya—begitulah. Rivaille-senpai menyukai Eren, Irvin-senpai, Jean, bahkan KAU, juga menyukai Eren—" Reiner menarik nafas panjang. "—Sementara Armin menyukai Jean, dan kemudian Jean bilang tadi siang bahwa Eren bersama gadis lain dan dia sebenarnya cemburu—oh, juga jangan lupakan si ketua OSIS bernama Mikasa Ackerman itu. Dia mungkin bisa gila kalau mendengar Eren jalan bersama gadis lain."
"Ah... ahahaha, rumit sekali, ya..."
"...Ya, dan akan semakin rumit lagi nanti, kalau Rivaille-senpai sudah kembali dari Paris."
"Eh? memangnya kenapa, Reiner? Bukannya kalau Rivaille-sen—" Berthold berhenti berbicara seketika; ia kini mengingat apa yang menjadi 'masalah besar' dari kembalinya Rivaille ke sekolah mereka. "...Oh."
"Kau ingat sekarang, Berth?" Reiner menghela nafas panjang. "Petra Ral—Petra-senpai. Dia juga akan pindah kesini."
"Dan kepindahan dia kesini berarti kesialan besar untuk Eren."
.
.
.
"—Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Eren." Annie menyibak beberapa helai rambut depannya yang menutupi pandangan, "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Ah.. iya, aku juga." Eren tersenyum tipis seraya melambaikan tangannya, "Hati-hati, Annie."
"Um. Sampai jumpa."
Annie semakin jauh dari pandangannya—Eren kemudian berbalik dan berjalan menuju apartemen sederhananya. Tak terhitung berapa kali ia menghela nafas di setiap langkahnya—banyak sekali hal yang masuk ke dalam benaknya dalam waktu yang bersamaan.
"Membantu Annie..." Eren bergumam di keheningan sore hari; tak ada orang di sekelilingnya yang mendengarkan. "...Agar pertunangan kakaknya lancar..."
Dan langkah kakinya terhenti seiring dengan pandangannya yang semakin kabur dan buram.
"...Pertunangan kakaknya dan Rivaille-senpai..."
Eren tak sadar aspal yang disinari matahari senja telah terkena tetes tetes air matanya yang jatuh begitu saja; beberapa isak tangis terdengar menggema di jalanan yang sepi tiada orang—saat ini, ia entah mengapa merasa begitu kesepian.
"Ahh—kenapa aku menangis... " Eren menyeka air matanya dengan punggung telapak tangan—kembali ia berjalan pulang menuju apartemennya, kali ini dengan langkah yang sedikit lebih cepat. "Masa bodoh kalau Rivaille-senpai bertunangan! Memangnya itu urusanku? Memangnya aku peduli?"
Langkah kakinya masih bergerak cepat; tinggal beberapa langkah lagi ia sampai di tempat tujuannya.
"Lagipula, aku tidak punya hak untuk melarang, bukan? Aah! Aku bahkan tidak menyukai dia! Iya, jadi kenapa juga aku harus merasa sakit seperti ini?"
Tinggal beberapa langkah lagi—
"...Aku 'kan... memang bukan siapa-siapa."
—Dan langkah kakinya kembali terhenti.
...Drama. Iya, memang, drama sekali kehidupan seorang lelaki bernama Eren Jaeger ini. oh, entahlah—padahal sampai beberapa bulan yang lalu, ia yakin ia menjalani hidup yang normal, biasa saja, dan tak ada konflik yang berarti.
Lalu kenapa sekarang hidupnya seperti ini?
Mengkonversi air matanya yang tadi mengalir menjadi emosi yang meluap-luap—Eren menghentakkan kakinya dengan kencang seraya membuka pintu apartemennya dengan brutal. Menggunakan tenaga yang masih tersisa, dengan lantang ia berteriak seraya memasuki kamar apartemennya—
"DAN INI SEMUA GARA-GARA BEDEBAH BERNAMA RIVAILLE ITU!"
.
.
.
"—Oh. Jadi setelah lama tidak bertemu, sekarang ini aku bedebah di matamu eh, bocah?"
.
.
.
.
.
Hening sesaat menguasai seisi ruangan—Eren perlahan menutup mulutnya yang tadi terbuka lebar. Otot-otot yang awalnya berkontraksi perlahan kini terjatuh lemas—membuat tenaganya perlahan memudar dari dalam tubuh. Dan kesadarannya yang berkadar 100 persen di awal tadi harus turun menjadi 0 persen untuk mencerna beberapa hal terlebih dahulu—
Di hadapannya—tepatnya, di dalam kamar apartemennya.
Ada orang asing sedang duduk santai; sosok itu diidentifikasi sebagai lelaki dengan tinggi badan dibawah rata-rata, rambut berwarna hitam pekat dengan belah tengah, dan juga, uhuk, wajah tam—
"—RIVAILLE-SENPAI?!"
...Oh, lupakan semua deskripsi di atas. Eren tak habis pikir lagi kenapa Rivaille bisa tiba-tiba ada di dalam kamarnya.
"Apa-apaan penyambutanmu itu? Kau tidak terlihat senang sama seka—"
"SEDANG APA KAU DI KAMARKU? Dan—KENAPA BISA KAU MASUK KE DALAM KAMARKU?!"
"Oh, pemilik apartemen yang bernama Hanness membiarkan aku masuk setelah aku berkata bahwa aku adalah lelaki yang memiliki hubungan spesial denganm—"
"HAH?!"
"Bercanda, bercanda. Aku hanya bilang bahwa aku seniormu di sekolah. Kau harus sedikit lebih tenang, bocah—kau mau mengidap penyakit darah tinggi di masa tua nanti?"
Eren mengatur nafasnya yang terputus-putus—ugh, kapan ia terakhir kali berteriak seperti ini? ooh, dua minggu yang lalu—ketika ada kecoak merayap santai di atas tubuh kinclongnya saat ia tidur.
Mari kita memainkan premis disini; Eren berteriak karena kecoak. Eren berteriak karena Rivaille. Premis ketiga; berarti Rivaille itu kecoak.
"Kau menyamakan aku dengan serangga kotor itu?!"
"...Ya—Eh...AKU BAHKAN TIDAK MENYUARAKAN PIKIRANKU!"
"Kau itu terbaca jelas, bocah!"
"Aaaah, sudahlah! Kau ini baru saja kembali—kenapa kita langsung berantem tidak jelas begini?!"
"Ini semua salahmu, bocah!" Rivaille beranjak dari posisi awalnya—kemudian menepuk-nepuk debu dari celana jeans nya yang mahal sebelum berjalan mendekat ke arah Eren yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kenapa jadi menyalahkan aku?!" Eren menutup pintu apartemennya yang masih terbuka seraya membuang nafas panjang, "Aku terkejut karena kau tiba-tiba muncul begitu saja, di dalam kamarku yang seharusnya terkunci! Kau ini apa, stalker?!"
—Dan pertengkaran ini lama-lama mirip dengan suami-istri yang sedang 'ribut sayang'.
"Stalker, eh? jadi ini kata-kata yang aku terima setelah 6 bulan terpisah denganmu. Benar-benar romantis."
"...Lagipula..." Eren menarik nafas singkat, "...Untuk apa kau kembali?"
"...Dingin sekali pertanyaanmu itu, bocah. Apa kau mengharapkan aku tidak kemb—"
"Petra Ral. Apa nama itu tidak asing untukmu, eh, senpai?"
Rivaille terdiam di tempat—dengan mulut yang terkatup rapat dan dua mata yang sedikit membulat.
"Dan aku juga yakin kau tidak asing dengan kata 'tunangan'." Eren tertawa pahit; dengan raut wajah yang ia buat terlihat mengejek, sesadis mungkin. "Senang untuk tahu bahwa selama ini ucapanmu hanya omong kosong, senior Rivaille. Dan aku rasa, perlakuanmu selama ini juga hanya untuk melampiaskan nafsu semata?"
Tak ada jawaban keluar dari mulutnya; Rivaille masih terdiam dan hanya menatap Eren tanpa emosi yang bisa terbaca—oh, memancing kesabaran Eren memang hal yang mudah untuknya.
"...Kau tidak menjawab, itu berarti aku benar, bukan?" Dengusan mengejek Eren lemparkan—tangannya yang masih memegang gagang pintu bersiap untuk membukanya kembali, "Jika kau kesini untuk melampiaskan nafsumu—maaf saja, tapi silahkan keluar."
Masih menatapnya tanpa ekspresi yang bisa ditebak—Rivaille memberikan jeda sesaat sebelum ia berjalan lebih dekat ke arah Eren. Eren bersiap untuk membuka pintu lebih lebar—membiarkan sosok seniornya pergi dan menghilang dari dalam ruangannya.
—Namun Rivaille tidak memiliki niat untuk keluar dari ruangan milik Eren, saat ini; ketika jaraknya dengan Eren sudah semakin mendekat, ia mendorong pintu yang hendak Eren buka dengan satu telapak tangan—tepat di belakang bahu Eren yang terkejut karena tindakannya.
"Apa-apaan—"
"Jangan buka pintunya. Tutup pintunya—serapat mungkin. Kalau bisa, kunci pintu apartemenmu. Sekarang."
"Kau tidak punya hak untuk memberi aku perintah, konte—"
"Ucapkan kata-kata itu dan aku akan membuatmu tak bisa berjalan selama tiga hari karena nyeri luar biasa di bokongmu."
"—Oke maaf." Eren langsung menutup pintu dan menguncinya tanpa protes—rasa takut mengalahkan emosi dan keberaniannya beberapa menit yang lalu. "Tapi, kenapa.."
"Aku kabur, kabur dari orang tuaku. Dan aku hanya bisa bersembunyi disini saat ini. Pesta pertunangan itu merepotkan, kau tahu? Apalagi kalau itu adalah perjodohan yang dipaksakan."
Eren seketika mengosongkan pikirannya; begitu mendengar pernyataan Rivaille tepat di hadapan wajahnya. "...Eh?"
"Kau pikir aku bertunangan dengan Petra karena aku mau? Hah, sayangnya—aku sudah memilih orang lain, Eren."
Ketika kata 'memilih orang lain' sampai di pendengarannya—Eren tak bisa mengelak; entah mengapa ada rasa sakit menusuk di dadanya.
"O.. oh, begitu?" Eren menyandarkan tubuh jangkungnya kepada pintu yang sudah tertutup rapat kembali—ia menundukan wajahnya; lebih memilih untuk menatap tatami di kamarnya yang sempit, dibanding menatap Rivaille yang kini masih berdiri dengan jarak dekat di hadapannya.
—Sial, kenapa jaraknya terlalu dekat, sih?
"...Eren," Rivaille mengangkat lengannya—membawa ibu jari dan telunjuknya untuk meraih dagu Eren dan dengan lembut mengangkat wajahnya. "Kau habis menangis, ya?"
"...Tidak, aku tidak menangis."
"Benar kau tidak menangis?" Rivaille mengusap lembut sisi mata Eren yang kini terasa sedikit kering; terasa ada jejak air mata di kulitnya. "...Kalau begitu, mungkin kata-kataku selanjutnya bisa membuatmu menangis, Eren. Entah karena kau senang mendengarnya, atau karena kau tak suka mendengarkanya. Kau mau mendengarnya sekarang?"
"Hah?" Eren kini menarik satu alisnya ke atas; penasaran. "—Memangnya kau mau bilang apa?"
Sebuah senyum tipis yang jarang sekali Rivaille tampilkan kini menjadi pemandangan indah gratis untuk Eren—di hadapannya, senior yang telah berhasil membuat hatinya kacau sedang memberikannya senyuman yang paling tulus; membuat Eren sesaat merasakan kekacauan hatinya hilang entah kemana.
Rivaille merogoh kantung jaket berwarna biru muda yang ia kenakan—dari telapak tangannya yang kini terbuka, ada satu buah kotak kecil yang dihiasi warna merah. Satu tangannya yang bebas membuka kotak—dan Eren dibuat takjub ketika melihat ada sepasang cincin sederhana tertata rapi di dalam kotak tersebut.
"Eren Jaeger," Rivaille menarik nafas—bersiap untuk melanjutkan kalimatnya tanpa harus memberi jeda, seolah apa yang akan ia ucapkan adalah kalimat pertama dan terakhir dalam hidupnya..
"—Maukah kau pergi jauh bersamaku—dan terus ada di sisiku... selamanya?"
Oh.
—Eren benar-benar dibuat menangis olehnya.
.
.
.
To be Continued
.
A/N:
Mari beri tepuk tangan untuk author yang lelet updatenya! Horeeeeeeee!
Aduh maaf saya stress tugas dan banyaknya hutang project saya untuk ini itu jadi saya seperti ini :")) maaf, maaf, maafffffff sekali atas updatenya yang ngaret dan nyaris berapa bulan ini fanfic diabaikan. Belum lagi fanfic lainnya. Aduh. Hampura pisan...
Jadi ceritanya author sedang dilanda tugas mahasiswa semester empat dan juga dilanda tagihan commision yang masih belum dikerjakan #curhat jadinya update ini itu agak lelet. Maaf ya tolong dimaklum, author bener-bener minta maaf uhuhuhuhuhu
Oh! Dan seperti biasa, terima kasih untuk kalian yang selalu setia menunggu fanfic ini! dan juga untuk pembaca baru, dan juga yang udah sudi menyimpan fanfic ini di list favoritenya, saya sayang kalian semua :"D
Dan spesial terima kasihnya untuk yang sudah review di chapter kemarin:
Djok, diandulac, aya -.- desu, Ri'llens Pavo, Shiori Kagome, Lightmaycry, Kusanagi Mikan, Eqa Skylight, Naru Frau Rivaille, ChickenKID, Kunougi Haruka, Rivaille Jaegar, Kujo Kasuza, Kiyomi Hikari, Kurogane Himiko, Kim Arlein 17, Miracle-ren, reikenshu, yuzuru (ini fanfic riren ko hehehe tapi ya ada harem!Eren nya juga.. *plak*), Yamazaki Koharu, Amach cuka'tomat-jeruk, rururei, Adelia-chan, Sonoyuki Rizuki, K, Momoka Mayuyu, Dark Flame, Fay-chi, Hasegawa Nanaho, Guest 1, tetsuya kurosaki, Guest 2, Guest 3, Mirei Amano, Lizz1792 (omg welcome! I don't mind if you give me a review with english, I hope you enjoy the story!), Rei Ichihara, Hoshiko-na, Titan Kece, shimakasa, Titan Kece, Cherry Raven Fyan, BellaJaegerRivaille, Adiknya Amyra (hayoloo bagian yang buat remaja keatasnya di skip ya sayang :'D), d'Rythem24, Naomi, siihat namikaze natsumi, Alra-AijoNSD, ReviewOnly-chan, OnixSafir1023, Lunette Athella, Beautiful Garnet, dan Nam Min Seul!
Sampai jumpa di chapter depan! Author selalu sayang kalian semua. :')
With Love,
Nacchan Sakura.
