Memang manis, sih. Ditambah juga dramatis.
Eren masih menatap ke arah kotak kecil berwarna merah di telapak tangan Rivaille—melihat ke arah cincin yang tersimpan disana, lalu ke arah Rivaille. kembali melihat ke arah cincin, lalu ke arah Rivaille—terus berulang.
..Iya, memang manis, sih..
Tapi, kalau dilihat dari sisi lain, ini artinya...
"...KAU MENGAJAK AKU KAWIN LARI?!"
.
.
Recon High School Host Club
Chapter 12: Let me be with you
.
.
**Author: Nacchan Sakura**
**Shingeki no Kyojin (c) Isayama hajime**
**Ouran High School Host Club (c) Bisco Hatori**
(Warning—pemakaian bahasa agak kasar karena sifat pemeran yang mengikuti alur cerita, tak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Cerita tak mengikuti Ouran, hanya mengambil dasarnya saja.)
.
.
.
"If you put your feelings into words, they're sure to get through. But it's not just the words, it's the heart behind them."
(Amu Hinamori – Shugo Chara!)
.
.
.
"...Apa, kau tidak mau? Kenapa reaksimu seperti itu, bocah?" lapisan kerutan bagaikan wafer renyah kini terlukis di dahi Rivaille—dengan tampang super menyeramkan andalannya, ia berhasil membuat Eren mundur lima langkah.
"Bu—bu, bukan begitu—" Eren menelan ludah. "Tapi, tidak boleh seperti itu! Kabur begitu saja dan membuat khawatir banyak orang—"
"Peduli amat."
"Bagaimana dengan orang tuamu, senior Rivaille?! lalu orang-orang di Host Club juga, lalu—ya Tuhan, kita akan pergi kemana, tinggal dimana, lalu bagaimana dengan sekolah kita?!"
"Aku tidak peduli dengan orang tuaku. Aku bisa mengabari Irvin kapanpun aku mau. Kita akan pergi ke Jerman dan tinggal disana, kurasa?"
"—KENAPA KAU BISA MENJAWAB DENGAN ENTENG BEGITUUUU?!"
"Karena aku tidak peduli akan apapun, asal bisa bersamamu, Eren. Jadi—BERHENTILAH BERTERIAK DAN TERIMA SAJA CINCIN INI, BOCAH! SUARAMU MENYEBALKAN DAN MENUSUK TELINGAKU, BERISIK!"
—Lah, belum nikah aja udah berantem kaya pasangan suami istri kebanyakan hutang.
Eren menarik nafas seraya mengalihkan pandangan—lantai apartemennya yang bobrok rasanya menjadi lebih menarik dibandingkan cincin di dalam kotak. "Aku..."
[[Hey, Rivaille, kau tahu tidak? Terkadang, untuk mengetahui arti dari 'kebahagiaan'..]]
"...Kau?"
"..Aku.. tidak bisa menerima cincin itu, Rivaille. Maaf."
[[Kau harus melepaskan apa yang betul-betul kau cintai.]]
—Dan petir di siang bolong pun terdengar.
[[Kau terkadang harus menerima kenyataan dan menyerah, pergi begitu saja.]]
.
.
.
"Lama tidak bertemu, Irvin. Apa kabar?"
Irvin memasang senyum sejuta dolar miliknya—meski jika diperhatikan baik-baik, satu matanya sedikit berkedut dan ada pertigaan urat yang muncul di ujung dahinya. Irvin menatap ke arah gadis dengan surai berwarna oranye di hadapannya—begitu manis dan juga elegan.
...Tetapi juga menyebalkan.
"Oh, Aku baik-baik saja, Petra. Apa yang membawamu kesini, ke Recon High School?"
"Ah, bukan sesuatu yang besar, Irvin. Hanya bosan dengan Paris, itu saja."
'—Bedebah, tak masalah sih kau bosan atau apa, tapi gara-gara kau, klub ini jadi penuh drama.' Umpat Irvin di dalam hati.
"Ngomong-ngomong, aku sebenarnya kemari untuk menanyakan sesuatu kepadamu, Irvin."
"...Hmm?"
"Kau kenal dengan lelaki bernama Eren Jaeger?"
Irvin berusaha keras untuk tidak menyemburkan teh di dalam mulutnya ataupun tersedak.
"..Yaa—bisa dibilang dia adalah salah satu anggota klub disini. Ada apa?"
"Ah.. tidak, tidak ada apa-apa." Petra tersenyum kecil; senyum yang tak terlihat memiliki maksud jahat ataupun licik. "Hanya ingin bertemu dengan dia saja. Aku penasaran."
"...Petra, aku dengar kau akan tunangan dengan Rivaille. Apa itu benar?"
"Um, begitulah." Petra tertawa kecil. "Tetapi kau tahu, bukan, kalau aku tidak bisa melawan?"
"...Ternyata benar, kau memang bukan tokoh antagonisnya."
"Eh?"
"Eren Jaeger," Irvin menarik nafas panjang. "Ia adalah orang yang Rivaille cintai. Bukan sekedar anggota klub ini saja."
"...Ah."
"Lalu? Kau mau merusak hubungan mereka? Kau terkejut karena Rivaille menyukai sesama lelaki?"
"Ah, Ayolah Irvin! Kau tahu aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Petra menggembungkan pipinya. "Kau pikir aku ini apa.."
Irvin mengerutkan dahinya—di dalam hati kecilnya, ia berharap, sedikit berharap—bahwa Petra memiliki niatan untuk menghancurkan hubungan mereka. Supaya mendapat kesempatan mengambil Eren, pikirnya.
"..Jadi, apa maumu?"
"Bantu aku, Irvin." Petra kembali memasang paras yang serius—ia menatap tanpa ragu ke dalam iris biru milik sang wakil ketua Host Club di hadapannya. "Aku..."
.
.
.
Pernah merasakan rasanya ditendang tepat di muka?
Oh, rasanya begitu menakjubkan, percayalah. Apalagi jika kau ditendang sebanyak dua kali sampai terpental jauh, dengan kekuatan yang setara dengan Hulk.
Eren terbaring lemah di pojokan—sial. Ia tak menyangka bahwa menolak Rivaille sama dengan membuat permohonan untuk mati lebih awal. Wajahnya besok pasti akan memiliki memar—dan besok ia masih harus pergi ke sekolah.
Kurang ajar, dasar makhluk cebol tak berperasaan.
"AKU MENDENGARMU, BOCAH!"
"ADUH! TIDAK USAH MENENDANGKU LAGI, SENIOR!"
"BOCAH SEPERTIMU ITU HARUS DIBERI PELAJARAN. Kau tahu betapa aku sudah susah payah berangkat dari Perancis langsung kesini untuk menemuimu?! Kau tahu betapa aku menghabiskan waktu 5 jam di toko perhiasan untuk mencarikan cincin yang cocok untukmu?!"
"LAH?! AKU 'KAN GA MINTA—"
"JANGAN POTONG PEMBICARAAN ORANG!" Satu tendangan lagi.
Belum menikah saja sudah ada kekerasan dalam rumah tangga, bagaimana kalau sudah menikah nanti, coba? Mungkin setiap hari perang dan bom atom akan menjadi hal yang biasa.
"Berikan aku alasan yang logis. Dalam maksimal 100 kata. Kenapa kau menolakku?!"
"Memangnya ini ujian?!"
"JAWAB!"
Tidak mau kena bogem atau tendang lagi, Eren pun duduk manis seraya mengikuti perintah Rivaille. Tetapi tidak lupa juga ia mengutuk si senior kerdil di dalam hatinya—ia berharap setiap hari tubuh seniornya bertambah pendek satu centimeter, agar si seniornya itu bisa menghilang di hari ke seratus enam puluh dua.
...Eh, tapi kalau begitu, nanti aku kesepian, dong—pikir Eren, malu-malu.
"Um..."
"—Itu sudah dihitung satu kata, ya. Lanjutkan!"
Kampret. "...Kita masih harus sekolah, dan aku masih memiliki cita-cita. Bukannya aku... tidak mau... tetapi, aku hanya belum bisa kalau menikah sekarang."
Hening seketika menguasai ruangan—Eren kini menundukkan kepalanya. Levi masih menatap bocah tersebut dari atas; fokusnya berusaha untuk mengerti akan keadaan Eren yang masih ingin menggapai cita-citanya, namun keadaan Eren saat ini membuat pikirannya kacau.
Wajah tertunduk yang malu-malu, dihiasi sedikit rona merah dan juga bekas luka karena tendangan spesialnya—tentu saja terlihat imut, dan Rivaille sebenarnya ingin menyerangnya sekarang juga.
Sial, harusnya tadi aku membawa tali tambang, pikir Rivaille.
Eh, tapi, ia harus menahan diri untuk kali ini. Mari kembali ke topik awal.
"...Jadi, kau tidak menerimanya bukan karena kau tidak menyukaiku?"
"...Ya, begitulah, aku sebenarnya—tunggu, apa? KAPAN AKU BILANG KALAU AKU SUKA PADAMU?!"
"YA MANA ADA JUGA ORANG YANG NIKAH SAMA ORANG YANG TIDAK DIA SUKA?!"
"T-T-TAPI BUKAN BERARTI AKU SUKA PADAMU, SENIOR! AKU HANYA TIDAK MAU KAU PERGI JAUH-JAUH DAN TIDAK MAU KAU MENIKAHI ORANG LAIN, OKE? BUKAN SUKA! BUKAN!"
Ternyata Tsundere dan bodoh itu beda tipis.
"Sudahlah," Rivaille mulai lelah berdebat. "Intinya. Kau hanya belum siap, begitu?"
"...Iya."
"Kalau begitu, aku mengerti." Rivaille berjalan mendekati kotak berisi cincin yang terjatuh entah sejak kapan; kemudian ia kembali memasukan kotak tersebut ke dalam kantung celana panjangnya. "Aku akan kembali lagi dengan kotak ini suatu hari nanti; jika kau sudah siap."
"Eh..." Eren mengangkat wajahnya—kini kembali menatap ke arah Rivaille dengan manik Emeraldnya. "Kau... akan pergi lagi?"
"Hah? Tentu saja, aku hanya ada disini satu hari, dan tadinya, untuk menemui kau dan membawa kau pergi—itupun kalau kau setuju dengan lamaranku. Tetapi karena kau menolak, kurasa ini perpisahan sampai kau siap untuk menerima aku nanti."
"E—Eh...?" Eren seketika terdiam—ah, rasa sakit di dadanya terasa lagi; padahal, dengan kembalinya Rivaille beberapa jam yang lalu sudah bisa membuat rasa sakit yang aneh itu hilang—dan sekarang..
"T—tunggu. Jadi kalau aku menerima cincin itu, kau akan tetap ada disini?"
"Hmm, itu bisa kupertimbangkan. Kalaupun aku tidak berada disini, kau akan ikut bersamaku. Kita tidak akan terpisah."
"EH?!"
"Ah, aku lupa bilang, padahal tidak apa-apa kalau kau menerima cincinnya terlebih dahulu, namun kita tidak usah menikah sekarang. Ini hanya untuk memberikan tanda bahwa kau itu milikku, itu saja."
"...KENAPA BARU BILANG SEKARANG?!"
"..Apa, jadi kau mau menerima cincinnya?"
"...BAIKLAH, AKU MAU!"
...Rencana berhasil, Rivaille tertawa licik di dalam hati. Dasar setan kerdil...
"Kalau begitu kemas semua barangmu, Eren." Rivaille mengeluarkan senyum kecilnya; senyum yang tidak pernah dilihat oleh banyak orang. "Kita akan pergi ke Jerman."
"...SEKARANG?!"
.
.
.
Jean Kirschtein menganggap bahwa langit-langit kamarnya sungguh menarik, saat ini.
Ditambah dengan tubuhnya yang dimanjakan kasur empuk berukuran Raja, dan juga kegiatan klub yang diliburkan dan juga pekerjaan rumah yang sudah selesai. Hidupnya tidak memiliki masalah dan saat ini ia betul-betul santai.
... Kelihatannya sih, seperti itu. Tetapi sebenarnya—di dalam benaknya, kumpulan benang kusut sudah berkumpul dan membuat otaknya tak bisa beristirahat; sesekali gambar dari sosok Eren terlukis disana, kemudian digantikan dengan wajah Armin. Kembali ke Eren—lalu Armin lagi. Terus saja seperti itu.
Perlu ditambahkan Background Music lagu galau? Ya, kalau bisa, silahkan tambahkan. Mungkin nanti kita bisa buat video klip tentang cinta segitiga.
Memakai lengannya untuk menutupi pandangan—Jean menghela nafas panjang. Apa-apaan? Baru saja ia pusing dengan kenyataan bahwa ternyata, ia menyukai si rakyat jelata bernama Eren Jaeger. Tetapi tiba-tiba, Armin bilang kalau ia menyukai Jean—wtf, sejak kapan?! Mereka sudah bersama-sama di Host Club sejak lama—tidak, bahkan lebih lama dari itu. Mereka berada di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang sama juga. Namun kenapa Jean tidak pernah sadar?
Kembali Jean mengingat banyak hal yang sudah ia lalui bersama Armin—che, Jean ingat betapa Armin dulu begitu lemah dan sering ditindas oleh teman-temannya; dan Jean sebenarnya tidak berniat untuk menolong Armin atau semacamnya. Jean kebetulan menyukai perkelahian; untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Dan saat itu, kebetulan Armin yang menjadi korban.
Sejak saat itu mereka menjadi dua orang yang tidak terpisahkan—Armin akan mengikuti Jean kemanapun dengan wajah yang riang dan senyum lebar. Menyebalkan, sih, tetapi karena Armin pintar dan Jean bodoh—Jean memanfaatkan Armin agar nilai sekolahnya bisa bertambah.
Tetapi dari hubungan yang awalnya aneh seperti itu, mereka menjadi sedekat ini. dan tanpa disadari—Armin sudah memiliki perasaan suka yang lebih dari sekedar teman untuk Jean.
Sementara Eren—ah, Jean bahkan bingung kenapa ia bisa menyukai rakyat jelata itu. Padahal berbicara banyak saja juga tidak, tetapi... yah, Eren memang imut sekali, sih. Terlalu imut sampai-sampai ia bisa berhenti nge-fans dengan Mikasa Ackerman yang menjadi idola sekolah.
Oke. Yang namanya jatuh cinta itu ternyata membingungkan; dan Jean memutuskan untuk tidur dan melupakan semuanya—untuk saat ini saja.
[[Terkadang untuk mengetahui arti dari 'kebahagiaan'..
Yang bisa kau lakukan adalah menyerah.]]
.
.
.
To be Continued
.
A/N:
Halo, silahkan timpuk saya kalau mau...
Maaf karena updatenya terlambat :'D dan terima kasih banyak yang sudah review di chapter kemarin! Maaf tidak bisa disebut satu-satu huehuehue, semoga kalian senang dengan chapter ini (meskipun pendek dan kesannya buru-buru ya) (maaf)
FYI buat yang orang Bandung (sekalian promosi), sekarang author kerja part-time di maid cafe di Bandung hehe, ada yang mau mampir? Kunjungi fanpagenya ya namanya Indonesian Maid Cafe. Alamat cafenya ada di FP juga, jadi yang mau mampir, silahkan~ saya ada setiap hari kecuali hari Rabu.
Sampai chapter selanjutnya!
With Love,
Nacchan Sakura.
