Lentera Di Atas Dahan

Summary: Ada sesuatu yang istimewa dari seorang Aladdin.

Rate: T

Disclaimer: Magi © Shinobu Ohtaka.

Pairing: AliAla (Slight: AliMor, HakuMor)

Warning: Horror and thrilling contains.

..

..

Chapter 1

Kesan Pertama

..

..

Alibaba Saluja menganga menatap pagar tembok kokoh setinggi milik Kastil Buckingham dalam skala 100 kali lebih kecil di hadapannya. Menurut Dr. Sinbad, alamatnya benar di sini. Solomon J. Abraham membayar Rumah Sakit Anak Saint Guineford untuk mempekerjakan seorang perawat di rumah saja, Alibaba tahu bahwa orang yang menyewa 'perawat' sungguhan pasti orang kaya. Namun tidak dalam taraf yang seperti ini juga.

Tahap pertama adalah menekan bel. Alibaba melakukannya dengan mulus. Namun sepertinya pagar rumah tersebut masih diam. Sepuluh menit kemudian, sebuah celah sebesar kepala terbuka dari sudut kanan pagar besar itu.

"Ya?" Seorang pria melongo, tersenyum ramah. "Ada yang bisa dibantu?"

"Anu... Ngg..."Alibaba memberikan surat pengantar dari rumah sakit tempatnya bekerja. "Rumah Sakit Saint Guineford mengirimkan saya."

Laki-laki itu membaca surat tersebut dan mengangguk. "Alibaba Saluja? Ya, ya. Kupikir perawat yang akan datang adalah wanita."

"Tidak semua perawat wanita, kan?" balas Alibaba, sedikit tersinggung.

Laki-laki itu tertawa, kemudian membukakan gerbang dengan menggunakan remote. Alibaba dipersilakan masuk, dan pria itu kembali menatapnya dari atas sampai bawah, lalu dari bawah ke atas lagi. Alibaba mengenakan celana dan luaran berwarna putih dengan kaos rangkap abu-abu. Ditambah sepatu sneaker dan sebuah koper kecil.

"Nama saya Uraltugo Noi Nueph. Mohon panggil saja saya Ugo." Laki-laki itu mengangkatkan koper Alibaba. "Saya butler. Dan hanya saya seorang pegawai di rumah ini. Dan sekarang berdua dengan Anda, Tuan Saluja."

"Alibaba saja," balas Alibaba. "Anda hanya sendiri?"

Ugo mengangguk. "Sebagian besar rumah ini sudah terkomputerisasi. Jadi semuanya lebih mudah."

"Keren." Alibaba terus mengikuti Ugo menuju dalam rumah melalui pintu samping. "Oh, iya. Ngomong-ngomong, anak Tuan Abraham sakit apa?"

Ugo menggeleng. "Aladdin tidak mengidap penyakit serius. Akhir-akhir ini ia sering sakit. Master Solomon berkata kalau menyewa dokter mungkin terlalu mubazir, sehingga adanya perawat dari rumah sakit anak mungkin bisa menjadi teman main Aladdin juga."

Ugo membuka sebuah pintu kamar yang bisa dibilang (sangat) luas. Interiornya sederhana, futuristik. Pria berwajah tampan itu memberikan kunci kamar berupa sebuah kartu.

"Ini kamarmu. Jangan sungkan." jelas Ugo. "Tapi, tolong jangan merokok di dalam rumah dan dilarang membawa tamu tanpa seizinku."

Lalu setelah itu Ugo meninggalkan Alibaba. Kamarnya bisa dibilang mewah untuk seorang 'pekerja'. Meskipun tidak ada bathtub, shower yang digunakan sudah dilengkapi water heater.

Di seluruh rumah ini, lampu dan pendingin ruangan bekerja dengan sensor, jika didapati ada orang maka baru akan menyala. Alibaba bolak-balik keluar masuk ruangan untuk membuktikannya, dan cahayanya menyesuaikan kondisi waktu. Ketika mulai sore, lampu mulai lebih terang. Alibaba melihat dari jendela ruang tengah ada sebuah pohon besar yang hampir tidak ada daunnya. Pohon besar itu cabang dan dahannya banyak sekali, tumbuh menjorok ke arah danau kecil di halaman belakang. Iya, danau. Alibaba sudah tidak paham lagi sekaya apa majikan Ugo yang juga mempekerjakannya.

"Ada apa, Alibaba?" tanya Ugo ketika mengantarkan Alibaba berjalan-jalan keliling rumah.

"Pohon itu..." Alibaba menunjuk pohon yang ia perhatikan tadi.

"Oh, itu. Itu pohon apel, sudah ada semenjak Master Solomon membeli tanah ini, kemudian dibangun rumah. Kira-kira saat Aladdin berusia 4 tahun, terjadi badai besar dan pohon itu tersambar petir. Awalnya aku berniat menebangnya, namun karena Master Solomon masih mendapati pohon itu berbuah, ya tidak jadi."

"Anda dekat sekali dengan Master Solomon, Ugo-san?"

"Aku?" Ugo tertawa lembut, kemudian memandang potret besar keluarga penghuni rumah ini. Solomon J. Abraham yang kelihatan begitu berwibawa, Nyonya Sheba Abraham yang manis dan ceria lalu putra tunggal mereka, Aladdin Jehoahaz Abraham. Aladdin kelihatan agak berbeda dengan anak-anak lainnya. Tidak, bukan perbedaan fisik yang mencolok. Ada aura bijaksana yang terpancar padanya meski hanya dari foto.

"Ugo-san?" panggil Alibaba.

"Sudah lebih dari 20 tahun," ucap Ugo lembut, lebih kepada dirinya sendiri. "Master Solomon memungutku dari ladang kapas, mengajakku bermain, mengajarkan aku membaca dan menulis. Beliau juga memaksa orangtuanya mengikut-sertakan aku dalam beberapa acara. Ia bilang bahwa aku sudah seperti saudara baginya, namun aku merasa tidak pantas untuk itu."

"Bagaimana pribadi Master Solomon di rumah? Dan Nyonya... Sheba?"

"Nyonya Sheba meninggal ketika mengemban misi kemanusiaan di Uganda, terkena malaria. Sementara Master Solomon agak rumit. Beliau adalah seorang pengusaha, sekaligus aktivis medis dan sering sekali terbang keliling dunia. Gelarnya dokter umum. Saat Nyonya Sheba meninggal, beliau merasa terpanggil untuk melanjutkan misi kemanusiaan yang diemban Nyonya Sheba."

"Jadi dia salah satu petinggi Palang Merah Internasional, kurasa?" tanya Alibaba.

"Ya..." Ugo mengelap setitik airmata di pipinya. "Maaf, kalau masalah Master Solomon dan keluarganya, aku agak sensitif."

"Ngomong-ngomong..." Alibaba menimpali. "Apa aku bisa bertemu Aladdin?"

"Ya," jawab Ugo. "Bahkan dengan Master Solomon sekalipun."

.

.

.

"Kau tahu, kalau semua fungsi tubuh berhenti ketika bersin termasuk jantung, selama sekitar satu detik?"

"Sungguh? Bagaimana cara kerjanya? Apakah Ayah mengira akan ada semacam timer atau stop kontak di dalam otak kita?" Aladdin mengambil pena biru dan menulisnya di buku tebal kesayangannya.

"Entahlah. Ayah rasa Tuhan lebih tahu, sayang."

"Ayah tidak tahu?"

Solomon mengerlingkan bola matanya nakal. "Sedikit. Mungkin... Seperti satu banding seratus juta triliun."

"Jadi dokter itu tidak enak, ih," keluh Aladdin. "Aku merasa sangat terbatas."

"Memang," Solomon memeluk dan menciumi wajah putranya penuh sayang. "Tapi pergunakanlah terus keterbatasan itu untuk terus belajar. Bayangkan..." Solomon menggamit dua belah tangan mungil Aladdin. "Seperti Tuhan memberikan satu banding seratus juta triliun kepercayaan-Nya kepada kita untuk menyelamatkan setiap nyawa yang bisa kita tolong."

Alibaba merasa tidak enak mengganggu momen istimewa antara Solomon dan putranya yang langka tersebut. Ugo menginterupsi, memperkenalkan Alibaba Saluja sebagai perawat untuk Aladdin. Solomon menatap cowok pirang itu dalam-dalam.

"Berapa usiamu?" tanya sang Master datar.

"Sa... Saya, 19 tahun." jawab Alibaba apa adanya.

"Ikut Akademi Perawat?"

Alibaba menggeleng. "Dr. Sinbad yang mengajariku segalanya. Aku cuma seorang sukarelawan."

Solomon mengangguk, berdiri dan kemudian mengusap rambut Alibaba penuh sayang. Bahkan Alibaba sendiri merasa sangat terharu, aura kebapakan Solomon benar-benar menyentuh hatinya.

"Kau berhati besar, anak muda. Dengan nama apa aku harus memanggilmu?" tanyanya sambil tersenyum.

"Alibaba, Alibaba Saluja." jawab Alibaba malu-malu.

Solomon memanggil Aladdin dan berjongkok di dekat putranya agar tinggi mereka lebih sejajar.

"Ayo, beri salam pada Alibaba-kun." kata Solomon pada Aladdin.

Aladdin terpaku, menatap Alibaba dengan pandangan kosong selama dua menit kemudian tersenyum. Kedua tangan mungil itu terentang dan memeluk Alibaba dengan hangat. Meski terkejut, cowok pirang itu membalas pelukan Aladdin.

"Apa Alibaba-kun mau jadi teman tidurku juga? Kita bisa main perang bantal, buat tenda pakai selimut dan senter sebagai api unggunnya. Atau membacakan aku cerita sebelum tidur?" tanya Aladdin.

Alibaba menatap Aladdin, kemudian Ugo dan Solomon. Sang Master hanya tertawa dan memasang ekspresi yang lebih dari sekadar rendah hati, yang ditunjukkannya kepada Alibaba Saluja.

"Jika kau tidak keberatan, Alibaba-kun," ucapnya.

"Tidak," jawab Alibaba. "Aku terbiasa tidur menemani anak-anak di rumah sakit."

"Tapi tidak setiap hari, sayangku." Solomon mengucek-ngucek kepala Aladdin gemas. "Kau harus belajar mandiri. Dan Alibaba-kun, kau bisa ikut aku sebentar?"

Alibaba mengikuti Solomon, dan disuruh menunggu di depan ruang kerjanya. Pria itu memberikan catatan mengenai kondisi fisik putranya kepada Alibaba.

"Vaksin campak, polio dan tetanus. Mudah demam jika terlalu lelah. Sisanya normal?" tanya Alibaba setelah membaca laporan singkat itu.

"Sesekali ajak dia olahraga juga bagus." Solomon mengangguk. "Jangan kasih dia makan makanan manis terlalu banyak. Aladdin sedikit tidak toleran dengan gula pasir."

"Madu atau pemanis lain aman?"

Solomon menatap Alibaba, kemudian tertawa. "Kau ini benar-benar perawat anak, ya?"

Alibaba menunduk malu.

"Aman. Asalkan jangan terlalu banyak. Kalau ada apa-apa, kau bisa beritahu Ugo. Jangan sungkan-sungkan di rumah ini."

"Siap," jawab Alibaba mantap. "Terima kasih."

Solomon mengangguk dan mengajak Alibaba kembali ke ruang dimana mereka bertemu. Tetapi tak lama, Solomon berbalik.

"Aku lupa..." ucapnya. "Jangan lupa antar Aladdin ke Perpustakaan Balai Kota setiap hari Senin sampai Jumat."

"Untuk apa?" tanya Alibaba.

"Anak itu les bersama seorang dosen. Kurasa bosmu, Dr. Sinbad juga mengenalnya."

"Home schooling, ya?" Alibaba mengangguk-angguk. "Jika tidak keberatan, boleh saya tahu kenapa Anda memberlakukan home schooling kepada Aladdin, Master Solomon?"

Solomon tersenyum lebar.

"Kau harus tahu betapa istimewanya anakku, Alibaba-kun."

.

.

.

Sebelum makan malam, Dr. Solomon Abraham mengambil penerbangan ke Demokratik Kongo, mendapat panggilan untuk bergabung dalam tim riset penanggulangan wabah penyakit Ebola. Aladdin mendekap ayahnya erat-erat dan berpesan agar tetap menjaga diri. Solomon memeluk Aladdin, dan juga Alibaba seakan perawat itu kini sudah menjadi anaknya sendiri. Ugo mengantarkan sampai garasi mobil dan Solomon menyetir sendiri menuju bandara.

"Mobilnya bagaimana?" tanya Alibaba dengan polosnya.

"Dititip di kantornya beliau," kata Ugo. "Ayo, lebih baik kalian makan malam dulu."

Makan malam yang dihidangkan Ugo adalah semacam tumis daging sapi yang dimakan dengan nasi putih dan acar lobak. Meskipun dalam menu makanannya terdapat sayuran, Aladdin tetap makan dengan lahap. Padahal kebanyakan anak-anak tidak suka sayuran. Masakan Ugo enak sekali. Alibaba membulatkan tekad untuk olahraga, agar beratnya tidak naik drastis selama merawat Aladdin disini.

"Alibaba-kun, habis ini kita main di luar ya?"

Alibaba meneguk air di gelasnya. "Eh? Tapi kan sudah malam. Nanti kalau masuk angin gimana?"

"Yaaah..." Aladdin mendesah kecewa. "Sebentar saja. Ok?"

Alibaba mendesah, tak mampu melarang juga. Ia mengikuti Aladdin keluar ruangan. Bocah kecil itu menunjuk-nunjuk pohon apel besar di pinggir danau. Batangnya sudah menghitam, namun tetap berdiri kokoh. Pohon itu besar dan tinggi sekali. Mungkin butuh usaha besar untuk menebangnya. Pohon apel itu juga memiliki banyak dahan dan cabang. Aladdin menunjuk-nunjuk sebuah dahan dan dengan tangan satunya menarik-narik lengan baju Alibaba.

"Aku tidak sampai. Alibaba-kun, bisa minta tolong ambilkan?"

Benda yang ditunjuk Aladdin adalah sebuah lentera, tergantung di cabang paling rendah. Alibaba berjinjit, menjulurkan lengannya dan dengan susah payah mengambil lentera tersebut. Benda itu terbuat dari rangka kuningan, berbentuk prisma segi lima dengan puncak berlubang-lubang kecil dan sekeliling bidangnya dipasangi kaca. Sebuah pintu kecil pada bidangnya bisa dibuka. Di dalam lentera itu ada sebuah lilin.

"Aku selalu minta Ugo-kun menyalakan lenteranya. Danaunya jadi kelihatan kalau malam," jelas Aladdin.

"Kenapa tidak pakai lampu saja?" Alibaba berjongkok, mengeluarkan korek gas dari sakunya dan menyalakan lentera tersebut.

"Lihat saja perbedaannya."

Alibaba menggantung kembali lentera tersebut pada paku di dahan tempatnya berada. Nyala pendar lentera itu seketika menghidupkan kerlap keemasan yang menari-nari. Alibaba bahkan bisa melihat beberapa semak belukar di sebrang danau. Aladdin tersenyum, menarik lengan Alibaba dan mengajaknya masuk.

"Sudah mulai dingin," katanya.

"Duluan saja. Aku... Mau menelepon seseorang."

"Pacarmu?"

"Bukan, Dr. Sinbad. Dia bos semua perawat di Saint Guineford." Alibaba tertawa, kemudian pergi ke samping rumah.

.

.

.

"Aku juga nggak tahu. Tapi Dr. Sinbad bilang aku bisa minta libur. Kau juga sedang merawat seseorang? Ah, iya, iya. Parah juga sepertinya. Ya sudah, jaga dirimu, Mor. Malam."

Alibaba menutup teleponnya. Setelah melaporkan keadaan Aladdin yang 100% sehat, ia menelpon Morgiana. Cewek berambut merah itu sama-sama perawat sepertinya di RS Anak Saint Guineford. Bisa dibilang mereka pacaran, namun Alibaba tidak bisa menegaskan hubungan samar mereka. Sekarang Morgiana dipekerjakan oleh keluarga Ren untuk mengawasi seorang remaja kaya yang mengalami kecelakaan berat. Karena anak itu butuh perawatan intensif, mungkin untuk beberapa lama mereka tidak akan bertemu.

Cowok pirang itu mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Kemudian ia melepas pakaian perawatnya, dan tak lama mengepulkan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Seorang perawat anak seharusnya tidak boleh merokok. Tapi tidak ada yang bisa melarangnya di sini.

"Lho? Sudah nyala?"

Alibaba tersedak segumpal asap di tenggorokannya. Ugo melirik, memungut pakaian perawat Alibaba Saluja dan menyampirkannya di lengannya.

"Ini kan putih. Nanti kotor kalau digeletakkan begitu saja," ucapnya.

"Ah? Makasih..." Alibaba bersemu.

"Anda merokok?"

Alibaba mengangguk canggung. Ugo dengan sopan mengeluarkan bungkusan rokok dari saku pakaian perawat Alibaba.

"Setahuku, perawat anak tidak boleh merokok, kan?" tanyanya.

"Hanya pada lingkungan rumah sakit dan perawatan. Tidak dibilang tidak boleh kalau diluar semua itu."

"Kalau boleh saran, lebih baik Anda berhenti." Ugo menyelipkan satu pak permen karet mint bebas gula ke saku di mana tadi berisi rokok. "Ini, kalau-kalau mulutmu terasa tidak nyaman."

"Terima kasih," balas Alibaba. "Ugo-san tidak merokok juga, kan?

Ugo menggeleng.

"Tadi... Kau bilang sudah menyala. Apanya?" tanya Alibaba.

"Lentera itu." Ugo menunjuk lentera yang berpendar hangat di dahan pohon apel tersebut.

"Kenapa Aladdin selalu menyalakan lampu itu?" tanya Alibaba.

"Saat Master Solomon tak ada, dan tidak saat hujan dia akan menyalakan lentera itu," jelas Ugo. "Dengan alasan yang tidak perlu kuceritakan."

Meski kesal dengan alasan tersebut, nyatanya Alibaba menerimanya dengan besar hati. Sebelum tidur, Alibaba mandi dan kemudian mengenakan kaus putih longgar dan celana piyama, lalu pergi ke kamar Aladdin. Anak itu belum ganti pakaian. Ia masih asyik menggambar dengan pensil 60 warna miliknya di atas ranjang.

"Kok belum ganti?" tegur Alibaba halus. "Ganti piyama, gosok gigi, terus tidur."

"Iyaaaaa." Aladdin menutup buku tebalnya dan berganti pakaian dengan piyama biru bergambar penguin. Untuk ukuran anak 10 tahun, dia tidak nakal sama sekali. Padahal Alibaba mengira bahwa Aladdin adalah tipe anak hiperaktif yang selalu koprol guling-guling saat disuruh ganti baju atau sikat gigi atau makan dulu. Alibaba pernah menghadapi anak paling nakal sekalipun. Dan Aladdin tidak seperti itu.

Malah berkesan ia terlalu penurut.

"Alibaba-kun, tidur disini, ya!" Aladdin memeluknya. "Aku takut tidur sendiri."

"Biasanya berani, kan?" tanya Alibaba sambil mengantarkan bocah manis itu ke kamar mandi untuk sikat gigi.

Aladdin menyikat giginya. Sesekali Alibaba mengajarkan bagaimana menyikat gigi yang baik dan benar. Setelah selesai, mereka naik ke ranjang seukuran queen size dengan seprai sewarna pasir laut dan bed cover tebal gradasi biru. Aladdin mengambil senter dan bolak-balik memainkan tombol nyalanya. Sinar keemasan berkedap-kedip di bawah wajahnya. Naluri membuat Alibaba mengulurkan tangannya dan mencubit pipi gembil Aladdin lembut.

"Jadi Ugo-kun tidak pernah menemanimu tidur?"

Aladdin menggeleng. "Aku tidak pernah memintanya."

"Kenapa kau memintaku?"

"Habis Alibaba katanya baik. Lalu sayang dengan anak-anak."

"Siapa yang bilang?"

"Ibumu."

Alibaba menggaruk kepalanya. "Bagaimana, sih? Ibumu sudah meninggal, kan?"

"Bukan ibuku. Ibumu." Aladdin membenarkan. "Rambutnya panjang sebahu. Senyumannya manis dan tubuhnya kecil." Aladdin mencolek bahu Alibaba sebagai penanda setinggi apa orang yang dimaksudkan.

"Kau bohong." Alibaba tertawa renyah.

"Namanya Anise."

Alibaba tertohok. Mendengar nama wanita yang paling dikasihinya itu disebut, napasnya tercekat. Matanya terasa panas dan bibirnya terbuka-tertutup namun tak ada kata yang terucap. Butuh waktu bagi Alibaba untuk menguasai dirinya. Anise Saluja, ibunya, meninggal pada saat Alibaba berusia 15 tahun. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya menghadapi sakaratul maut. Bagaimana bisa Aladdin tahu hal-hal seperti itu? Bahkan Alibaba belum menceritakan apa-apa tentang dirinya kepada Aladdin.

"Kau... Bisa melihat hantu?" tanya Alibaba begitu sudah agak tenang.

Aladdin mengangkat bahu. "Saat manusia mati, jiwanya akan lepas dari tubuhnya. Tubuh itu kembali ke bumi pada saat dimakamkan. Sementara jiwanya akan kembali ke dalam bentuk rukh, dan kembali dalam damai ke sisi Tuhan. Rukh adalah partikel astral yang merupakan bentuk murni dari seluruh jiwa-mau itu manusia, hewan, bahkan tumbuhan sekalipun."

Aladdin menaruh senternya, kemudian menyusup masuk ke dalam selimutnya. Alibaba berbaring di sebelahnya, mengusap-ngusap kepala anak itu penuh kasih sayang.

"Kalau kau punya ikatan batin dengan seseorang, secara tak langsung kau memberikan sebagian kecil rukh yang kau punya padanya." jelas Aladdin lagi. "Yang aku lihat tadi adalah kerumunan kecil rukh ibumu."

Alibaba tidak mengerti. Namun ia memutuskan untuk percaya. Aladdin menyebutkan nama dan ciri fisik ibunya tanpa seorang pun memberitahunya.

"Tidurlah," bisik Alibaba. "Besok aku akan mengantarkanmu ke Perpustakaan Balai Kota."

Aladdin mengangguk. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya ia terlelap. Alibaba menaikkan selimut hingga sebatas hidung Aladdin, lalu ia mencari posisi yang tepat. Tempat tidur Aladdin lebih empuk dari kasur di kamarnya. Jadi bisa dibilang ia mengambil kesempatan.

Alibaba melihat anak itu sekali lagi. Tidak ada yang aneh. Hanya rambutnya panjang sekali, seperti anak perempuan. Tapi, toh Dr. Sinbad dan Master Solomon saja berambut panjang, dan tetap terkesan macho. Ini negara bebas. Jadi sepertinya memanjangkan rambut diluar urusan Alibaba.

.

.

.

Matahari menampakkan dirinya sedikit, menandakan pagi hari telah tiba. Kodok-kodok di danau masih bernyanyi ria sejak malam untuk memperoleh udara yang lancar melalui permukaan kulit setelah gerimis yang turun dari langit sejak subuh.

Terdengar suara ketukan pintu. Karena merasa tidak ada jawaban, yang mengetuk membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Aladdin. Ugo mendapati Alibaba tertidur di samping Aladdin. Pria tampan itu sempat memeriksa kamar Alibaba. Tidak ada si pemilik kamar di sana. Ia tersenyum tipis melihat kedua anak tersebut berada di atas ranjang yang sama. Ugo merasa lega mereka menjadi teman baik dalam waktu yang singkat.

"Mmhh..."

"Ah, maaf, Aladdin. Aku membangunkanmu?" Ugo melihat anak berambut biru panjang itu mengucek-ngucek kedua matanya dengan tangan kanan. Aladdin mendudukkan posisinya, dan melihat cowok pirang di sampingnya.

"Hihi.. Alibaba-kun, bangun!" Aladdin mengguncang-guncang badan Alibaba. Tak butuh waktu yang lama untuk menunggunya bangun, juga untuk membuatnya sadar bahwa ia telah tertidur di tempat yang salah.

"Ah, maaf, Aladdin! Aku tidak sadar.."

"Tidak apa-apa. Itu juga keinginanku, kok." Aladdin tersenyum lebar, lega mendapati Alibaba tidur bersamanya.

"Aku permisi dulu. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian, oke?" pamit Ugo. Masakan Ugo merupakan yang paling ditunggu-tunggu oleh Aladdin dan Alibaba.

"Nah, Aladdin. Kau mandi dulu." Aladdin menurut saja. Ia turun dari ranjang dan lekas ke kamar mandi. Cowok pirang itu tersenyum simpul melihat punggung anak itu. Memang penurut. Ia yakin Master Solomon dan istrinya sangat bangga memiliki anak 'sempurna' seperti dia. Rasa menyesal sempat meliputinya karena bangun setelah bocah yang diasuhnya itu bangun lebih dulu.

"Alibaba-kun tidak mandi?"

"Nanti saja. Aku harus menjagamu. Tidak ada yang tahu jika kau terpeleset hingga terluka, bukan? Sudah, aku tunggu di luar kamar mandi." Alibaba perlu menjaga jarak demi kemandirian anak itu.

.

.

.

Alibaba terpana dan menganga lebar saat menyadari ajaran-ajaran dari seorang dosen bernama Myers seperti transpos matriks, tekanan hidrostastik, vektor, dan lainnya—seakan 'disikat rata' oleh Aladdin. Ya. Seorang dosen mengajar seorang anak berumur 10 tahun dengan materi-materi yang bahkan Alibaba saja tidak memahaminya. Benar yang dikatakan oleh Master Solomon. Anaknya itu sangat istimewa. Tangan anak itu terus saja menulis di buku tebal yang tampaknya selalu ia bawa ke mana-mana.

Awalnya Alibaba tidak tahu jam home schooling Aladdin. Setelah sarapan, cowok pirang itu menanyakan jadwal home schooling anak berambut biru itu kepada Ugo. "Jam 4 sore sampai jam 8 malam." Itulah jawaban yang ia terima.

Alibaba bukan seorang instruktur olahraga, dan bukan pula tipe cowok atletis yang mengerti seluk beluk dunia olahraga. Maka, olahraga yang disuguhkan Alibaba hanya melakukan jumping jacks dengan Aladdin sebanyak dua puluh kali dan olahraga selesai. Selanjutnya, kegiatan yang mereka berdua lakukan cuma nonton TV, semacam acara kontes masak di TV cable lalu makan siang. Saat Ugo sudah meneriaki mereka waktunya berangkat, mereka bertiga lalu pergi ke Perpustakaan Balai Kota.

Sang perawat sebenarnya cukup was-was dengan kondisi Aladdin. Suhu tubuhnya agak rendah, 36.4 derajat Celcius ketika pertama kali Alibaba mengukurnya. Berdasarkan catatan dari Master Solomon, Aladdin bisa kena demam jika terlalu lelah. Alibaba menangangi satu-dua kasus seperti itu di rumah sakit. Namun tampaknya Master Solomon cukup waspada dengan keadaan ini. Seluruh vaksin mulai dari campak, polio hingga tetanus. Yang Alibaba harus ingat, Aladdin tidak boleh makan gula terlalu banyak. Sisanya aman.

Aladdin selalu berwaspada ketika ditanya Myers. Jika jawabannya salah, ia harus dicambuk ditambah aliran listrik di dalam cambukan itu. Namun, pikiran wanita berambut ungu itu masih normal. Dia tidak akan mengenai Aladdin yang sedang sakit itu.

Sudah hampir 4 jam Alibaba menunggu anak itu di Perpustakaan Balai Kota. Ugo masih setia menunggu di tempat parkiran, di dalam mobil. Mobil tersebut tentu milik Master Solomon, tetapi tidak sama dengan yang dititipkan di kantornya.

Sambil menunggu, cowok pirang itu membaca buku yang diambil asal-asalan dari sembarang rak di Perpustakaan Balai Kota. Salah satu buku menarik perhatian Alibaba. Buku itu berwarna hitam, dan jika Alibaba lebih teliti, di tepinya ada noda merah yang bentuknya seperti.. Noda darah. Ia membuka buku itu tanpa memeriksa judulnya.

Lembar-lembar buku itu berwarna kuning kecoklatan. Seratnya halus namun terasa begitu lengket. Tulisannya timbul, berwarna perunggu sehingga Alibaba bisa membacanya dalam keadaan gelap sekali pun karena tulisan itu memantulkan cahaya. Tulisannya singkat, sambung indah seperti pada abad pertengahan.

Kala itu langit malam musim gugur berwarna tembaga.

Bulan purnama mengunyah daging anak-anak yang mengendap-endap keluar dari rumah orangtua mereka.

Kegelapan menyergap, tercipta dari rasa takut dalam dasar hati manusia dan bergentayangan dengan perut yang kelaparan. Berjaga di batas-batas bibir sungai dan mengunyah jiwa-jiwa yang tersesat.

Perempuan tua mengayunkan kapak tumpulnya naik dan turun, naik dan turun sampai sebilah sayap merpati putih itu terlepas dari tubuhnya. Kuali besar berisi minyak dan ular-ular berbisa yang mendesis mendidih.

Tubuh-tubuh mati berserakan di sekitar alun-alun. Mereka menggeliat, merangkak dan mencari-cari engkau...

Alibaba reflek menutupnya dengan cepat dan keras. Cukup keras untuk mengagetkan orang-orang yang mendengarnya. Tentu saja, saat itu suasana sedang sunyi dan Alibaba merusak kesunyian itu. Beberapa orang bahkan mendesis marah kepada perawat itu.

Saat itu juga Alibaba merasa ada seseorang berbicara kalimat yang ia baca di telinganya. Suara itu seperti merintih dan bercerita kepadanya, dan terdengar jauh sekali. Untungnya, suasana sedang tidak mendukung buku itu untuk menakut-nakutinya.

Seorang anak berambut biru panjang berlari-lari mendekatinya. "Alibaba-kun, ada apa?"

"B-Buku ini.." Alibaba melirik Aladdin, dan kembali pada buku itu. Ia membuka kembali halaman yang ia dapati tulisan tersebut. "T-Tadi ada sesuatu yang membuatku kaget.."

Namun, nihil. Halaman itu tidak ada di mana-mana. Buku itu juga, yang awalnya hitam, menjadi berwarna putih kusam, cenderung gading kecoklatan. Warna yang berlawanan.

"Aneh.." Alibaba menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aladdin tertunduk, ingin mengatakan sesuatu.

"Apa yang membuatmu takut, Alibaba-kun?"

Alibaba segera menyela, "Tidak ada, Aladdin! Yang tadi itu hanya perasaanku. Tidak perlu khawatir!" Perawat itu memegang erat kedua bahu Aladdin. Ia tersenyum, mencoba meyakinkan anak itu.

"..Alibaba-kun yakin?"

"Ya!"

Benar. Semua itu hanya halusinasinya saja meski terasa sangat nyata. Alibaba sama sekali tidak meragukan spekulasinya. Jika dipikir-pikir, ia tidak merasa kepalanya pusing atau kelelahan. Lalu, halusinasi tersebut disebabkan oleh apa? Alibaba tak mau ambil pusing. Ia membuang pertanyaan itu jauh-jauh. Entah karena memang tidak peduli atau takut memikirkannya lebih jauh.

Sejenak, Aladdin merasa skeptis. Tetapi, setelah melihat senyuman Alibaba, rasa skeptis itu hilang. Ia tahu ekspresi seseorang jika 100% yakin.

"Syukurlah, Alibaba-kun. Tunggu 5 menit lagi, ya. Ada beberapa soal kimia yang perlu kujawab." Aladdin berlari kecil, kembali pada tempat duduknya yang berada di hadapan Myers. Myers tampak bertanya apa yang terjadi. Aladdin dengan senyum lebarnya menjawab dengan jujur bahwa Alibaba berhalusinasi.

Alibaba memutuskan untuk menunggu di luar, menduga mungkin saja dia akan berhalusinasi lagi di dalam Perpustakaan Balai Kota. Biasanya ruangan bersuasana sunyi bisa mengundang halusinasi. Matanya tertuju pada langit malam yang sedikit berbayang gumpalan awan. Bintang-bintang tidak terlalu kelihatan karena polusi cahaya kota itu. Sedangkan bulan sabit tidak terlalu nampak karena pada jam 8 malam saat itu, langit masih sedikit cerah.

"Baaa!" Alibaba terdorong, menerima pelukan dadakan dari seseorang yang bertubuh pendek.

"Haha, Aladdin! Jangan mengagetkanku! Aku tahu kau tidak ingin mengambil risiko terjatuh bersama-sama denganku!" Lawan bicaranya hanya tertawa. Tak terasa Alibaba sempat melamun.

Dari dalam perpustakaan, sesosok figur wanita keluar membawa shoulder bag yang cukup besar dan isinya kelihatan.. Cukup padat. Cambuk dengan aliran listrik itu mungkin sudah tersimpan di dalamnya.

"Ah, selamat malam. T-Terima kasih telah mengajar Aladdin.." Alibaba sedikit canggung. Myers tersenyum simpul.

"Malam. Memang sudah tugas saya sebagai gurunya. Tidak usah setegang itu. Saya tak akan mencambuk Anda selama Anda bukan murid saya yang susah diatur." Dosen berambut ungu itu tetap tersenyum sambil berlalu. Alibaba berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak boleh lupa melarang temannya jika ingin belajar dengan Myers.

Tanpa ada yang menyadari, Myers sedikit menoleh ke belakang. Raut wajahnya menjadi sangat serius dalam sedetik. Pandangannya tajam melirik Alibaba.. Atau Aladdin? Sesaat juga ia mengambil sapu tangannya dari saku untuk mengelap air mata terharu yang mulai berlinang di matanya (?).

"Ayo pulang, Aladdin."

"Iya."

.

.

.

"Nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Anda tersam-" Alibaba meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya. Morgiana tidak mengangkat teleponnya. Cowok pirang itu hanya bisa menghela napas pasrah. Sudahlah. Baru sehari yang lalu sejak terakhir kali ia berbicara dengan Morgiana.

"Pacarmu?" Pertanyaan itu pernah terlontar kemarin, namun hari ini suara yang melontarkannya lebih berat dan dewasa.

"Eh? I-Iya, Ugo-san.." Yang bertanya terkekeh pelan. Semburat merah tampak jelas di wajah si perawat.

"Pacaran jarak jauh sulit juga, ya. Apa pekerjaannya?"

"Perawat ju..ga.." Alibaba sedikit merinding saat mengetahui kepala Aladdin muncul dari balik punggung Ugo.

"Namanya siapa, Alibaba-kun?" Kali ini anak berambut biru dikepang itu bertanya.

"Morgiana.. Ah, kau belum cukup umur untuk mengetahui masalah seperti ini, Aladdin," tegas Alibaba sok bijak.

"Harus umur berapa, dong?"

"Pokoknya kau belum siap."

Ugo tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua. "Alibaba, kau sudah makan di Perpustakaan Balai Kota tadi?"

Aladdin biasa membawa bekalnya sendiri saat pergi home schooling, sedangkan Ugo makan malam di rumah Master Solomon. Cowok pirang itu menggelengkan kepalanya.

"Nyalakan lentera dulu, ya, Alibaba -kun?" pinta Aladdin dengan penuh harap. Alibaba sekali lagi tidak bisa menolaknya.

"Oke." Alibaba menggandeng tangan Aladdin keluar ruangan, meninggalkan Ugo yang akan memasak makan malam untuk dirinya sendiri dan Alibaba. Sebelum itu, telepon yang digunakan Alibaba tadi mendering. Ia mengangkatnya.

"Halo, dari kediaman keluarga Abraham." Terdengar tawa dari sang penelepon.

"Halo, Ugo. Bagaimana keadaan putraku dan Alibaba?" Ugo mengenal suara itu.

"Baik-baik saja, Solomon. Mereka akrab sekali. Tadi pagi kami sempat berolahraga. Seperti biasa, kami hari ini mengantar dan menemani Aladdin les di Perpustakaan Balai Kota. Tingkah bocah-bocah itu lucu sekali."

"Baguslah. Sudah, ya, Ugo. Aku menelepon di saat-saat sibuk. Malam."

"Ah, iya. Malam." Berakhirlah percakapan singkat itu. Master Solomon memang sosok ayah yang ideal. Pria bersurai biru tua itu berjalan ke dapur untuk memasak.

Saat itu, Alibaba baru saja menyalakan lentera dan meletakkannya kembali di dahan.

Rasa penasaran kembali meliputi perawat berambut pirang itu. Mengapa dia tidak boleh mengetahui alasan Aladdin selalu ingin menyalakan lentera ketika tidak hujan dan tidak ada Master Solomon?

Baik, tidak menyalakan lentera ketika tidak hujan mungkin alasan yang tidak perlu dipertanyakan. Lentera itu memiliki lubang. Tetesan air hujan bisa masuk lewat lubang itu dan memadamkan apinya. Tetapi, bagaimana dengan alasan menyalakan lentera saat tidak ada Master Solomon?

Mungkin hal itu bukan urusannya dan dia tidak memiliki hak untuk tahu. Mungkin hal itu terlalu personal untuk diketahui orang lain. Hanya saja, bagaimana alasan itu bisa membantu Alibaba untuk membuat Aladdin lebih bahagia? Bocah itu sedang sakit, meski tidak terlalu parah, bukan? Apalagi ibunya telah meninggal. Jumlah temannya juga masih bisa dihitung dengan jari.

Alibaba mengumpulkan keberanian untuk bertanya.

"Umm.. Aladdin.. Kenapa kau selalu menyalakan lentera ketika tidak ada ayahmu?"

"Biar danaunya kelihatan," tutur Aladdin. "Ayahku suka mengarangkan cerita tentang danau ini dan sebuah lentera. Jadi aku bisa sedikit mengobati rasa kangen."

"Begitu?" Alibaba mengambil selembar permen karet dan mengunyahnya. Ia merasa menyia-nyiakan pertanyaan tadi. Rasa penasarannya mungkin berlebihan. Kekecewaann Alibaba menghilang saat bocah yang ia rawat mulai menggigil. Ia mengajaknya masuk ke dalam rumah. Lupakan saja lentera itu. Yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan dan kesehatan Aladdin.

Cerita, ya? Aladdin ternyata punya Ayah yang kreatif. Anak itu mengisahkan beberapa cerita karangan ayahnya. Seperti Putri Bermata Emas atau Kapten Sinbad (yang ini jelas-jelas diambil dari kisah seribu satu malam, tapi ternyata kisah yang diceritakan Aladdin agak berbeda). Alibaba mendengarkan sekelebat sambil menyantap roti isi irisan tuna yang diasinkan, tomat, dan acar zaitun.

"Apa Alibaba mau membuatkan cerita untukku?" tanya Aladdin dengan mata berbinar.

"Mau," balas Alibaba singkat sambil meneguk segelas air. "Ceritanya tentang Tiga Ekor Kalkun."

"Bagaimana?" Aladdin buru-buru mencari buku tebalnya dan sebuah pulpen warna. Kali ini pilihannya jatuh pada warna kelabu.

"Madame Rosette memelihara tiga ekor kalkun besar. Semua kalkunnya jantan. Setiap Thanksgiving, ia menyembelih satu untuk dimakan setiap tahun bersama keluarga besar. Pada tahun ketika tidak ada lagi yang bisa disembelih. Tamat."

Aladdin langsung merengut, "Iiiih, cerita macam apa, itu?!"

"Ya sudah, besok kucarikan cerita anak-anak yang lebih bagus buatmu." Alibaba mengusap-usap rambut Aladdin penuh sayang, lalu mencubit pipi gembul anak itu gemas. "Ganti piyama, cuci kaki, dan jangan lupa gosok gigi."

"Iyaaaa~"

Aladdin berlari-lari kecil menuju kamarnya. Alibaba mengikuti dari belakang, memasang kewaspadaan tinggi jangan sampai anak yang dirawatnya itu kenapa-kenapa. Sepasang manik emas itu tidak sengaja melirik ke arah jendela. Pohon apel hitam itu mengeluarkan pendar hangat dari cahaya lentera. Dibawah cahaya hangat itu berteduh sesosok... Atau seseorang? Alibaba tertegun dan berlari mendekati jendela. Sosok itu berambut panjang terurai selegam kegelapan hingga mata kakinya. Sosok itu memiliki kulit sewarna mentega. Dibahunya tersampir sehelai kain satin putih.

Sang perawat berambut pirang bolak-balik menampari mukanya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Sosok itu tidak ada lagi. Alibaba melenguh lega. Mungkin hari ini ia mengalami sedikit culture shock dari keluarga Jehoahaz Abraham sehingga mengalami halusinasi ringan. Alibaba memutuskan untuk tidak peduli dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Aladdin.

..

..

Bersambung

..

..


A/N: Penyakit Ebola: Virus, juga nama dari penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Gejala-gejalanya adalah muntah, diare, sakit badan, pendarahan dalam dan luar, dan demam. Asal katanya dari Sungai Ebola di Kongo.

Halo, minna! Ini fic pertamaku di fandom Magi dan pertama kalinya aku kolab dengan seseorang (thanks to Kak fajrikyoya). Yoroshiku onegaishimasu! #bow :D

Fic ini merupakan inspirasi dari film Insidious. Ada yang udah pernah nonton? Aku nggak nonton, lho (#lha). Sempat cek cover-nya di google, ada cover berupa hantu wanita (punya gender, nggak, tuh?) berambut panjang dan berwarna abu-abu yang bikin aku tolak film ini untuk ditonton. Apalagi di wiki-nya tertulis di Fright Meter Awards kategori Best Horror Film, film Insidous dicantumin kata 'won.' Gimana nggak bikin aku merinding? Aku pernah baca novel horror dan sukses bikin aku dua hari susah tidur (?), trauma, lah.. Itu cuma tulisan bikin aku takut, apalagi film? Film World War Z aja sampai terbawa mimpi ;w; Ya sudah, aku baca plotnya doang. #curhat #dilempar

Terima kasih yang mau membaca fic ini, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya! xD Ninggalin kritik, saran, flame (?), pendapat, atau pujian (?) juga boleh. Kami akan sangat menghargainya. Bye-bee! #wuush (?)