Lentera Di Atas Dahan
Summary: Ada sesuatu yang istimewa dari seorang Aladdin.
Warning: Horror and thrilling contains, AU.
Disclaimer: Magi © Shinobu Ohtaka.
Pairing: AliAla (Slight: AliMor, HakuMor)
Rate: T
..
..
Chapter 2
Kerisauan yang Menjadi-jadi
..
..
Pagi ini bumi diguyur hujan deras. Alibaba menyantap sarapan paginya dengan keadaan setengah ngantuk, meski sudah mandi dan sikat gigi. Sarapan kali ini sedikit lebih spesial, yaitu semacam custard pudding versi asin yang di dalamnya terdapat potongan udang, wortel, kacang polong dan macam-macam bumbu. Ugo memberi tahu bahwa itu masakan khas Jepang, namanya chawanmushi. Rasanya gurih sekali, dan masih mengepul ketika disajikan. Aladdin makan sehati-hati mungkin, bahkan sampai mengipasi piringnya dengan serbet agar uap panasnya hilang. Alibaba tersenyum melihat tingkah polos bocah itu.
"Kau mau teh atau kopi, Alibaba-kun?" tanya Ugo lembut sambil membawakan Aladdin segelas susu murni segar.
"Ah? Kopi saja," balas Alibaba, agak terkejut.
"Kopi biasa? Biasanya Master Solomon meminum espresso double shot. Tapi itu agak keras."
"Apa kau bisa buat cappuchino yang berbuih seperti di cafe, Ugo-san?" tanya Alibaba penasaran. Ugo tersenyum lebar dan mengangguk.
"Aku mau kalau begitu."
Ugo kemudian kembali lagi ke dapur. Aladdin telah menyelesaikan makan paginya, kemudian melanjutkan menggambar di buku tebal kesayangannya itu. Aladdin mencatat apa saja di sana, kadang-kadang membubuhkan gambar. Alibaba tidak boleh tahu apa isinya. Katanya itu semacam 'buku prestasi' untuk diperiksa Master Solomon sewaktu-waktu ia pulang ke rumah.
"Alibaba-kun, bagaimana ejaan namamu?"
"Eh?" Alibaba mengerutkan keningnya. "Memang kenapa?"
Aladdin mengangkat bukunya, memamerkan ia menggambar seorang remaja pria dengan pakaian perawat dan kaus rangkap abu-abu. Tidak lupa rambut pirang dan sejumput ahoge yang membuatnya kelihatan jadi agak mirip siluman badak bercula satu. Alibaba yakin bahwa gambar itu adalah dirinya. Meskipun tidak mirip, gambar Aladdin bisa dibilang bagus untuk anak seusianya.
"A-L-I-B-A-B-A," Sang perawat berhenti sejenak. "Berikan spasi. S-A-L-U-J-A."
"Kalau Kassim?"
Alibaba mengulum sendoknya. "Kamu lagi buat cerita, ya?"
"Ngomong apa, sih?" Aladdin menatapnya dengan pandangan aneh. "Kassim itu temanmu, kan? Orang kulit hitam, berambut dreadlocks, beraksen Perancis bagian barat? Badannya bau tembakau. Tapi kelihatannya dia sayang padamu, Alibaba-kun."
Alibaba tersenyum getir. "Sesama anak jalanan. Kalau tidak saling sayang, ya saling bunuh."
"Kenapa dia meninggal?"
Alibaba menunduk. Ia tidak ingin menjawabnya.
"Kau bisa tanyakan sendiri, kan?" balas Alibaba agak getir. "Aladdin?"
"Kassim bahkan tidak tahu kenapa dia bisa meninggal." balas Aladdin, turun dari bangkunya dan mendekati Alibaba.
"Kau melihat Kassim seperti apa?" tanya Alibaba.
"Kerumunan rukh," balas Aladdin. Ia bergelung manja di pelukan perawatnya. "Banyak sekali rukh yang berkerumun di sekitarmu. Padahal Alibaba-kun cuma orang biasa."
"Apa maksudmu?" Alibaba mengusap-usap rambut anak asuhnya.
"Jarang sekali orang yang tidak bisa 'melihat' dikelilingi rukh. Dunia astral begitu mencintaimu, Alibaba-kun."
"Tahu dari mana?" Alibaba menaikkan Aladdin ke atas meja dan mendudukannya disana.
"Kau bisa menghidupkan orang-orang yang sudah mati." Aladdin menjelaskan. "Alibaba-kun bisa membuat rukh yang merupakan partikel astral yang cuma seonggok harapan jadi memiliki bentuk utuh, kerumunan rukh yang bisa memiliki wujud menyerupai manusia."
"Seperti ibuku dan... Kassim? Yang kau lihat?"
"Ada ayahmu juga. Tapi, beliau agak samar. Alibaba-kun tidak begitu dekat dengannya, ya?"
Alibaba mengangguk. "Tidak sempat. Aku cuma bersamanya beberapa tahun. Jadi aku tidak begitu mengenalnya."
"Tapi ayahmu juga sayang padamu." Aladdin mengusap-usapkan tangannya ke celananya. "Alibaba-kun memiliki hati yang begitu hangat dan tulus."
"Oh, iya. Tadi kau bilang, aku bisa menghidupkan orang mati. Maksudmu bagaimana?" tanya Alibaba lagi.
Aladdin mengambil buku tebalnya, membuka lembaran kosong dan dengan spidol kuning membuat banyak titik-titik.
"Ini rukh dari alam astral." jelas Aladdin. "Rukh bisa berbentuk apa saja, karena rukh adalah partikel dasar, seperti atom. Lalu..." Aladdin mengambil sebuah spidol merah dan menarik garis lurus, menghubungkan titik-titik kuning itu menjadi gambar sebatang pohon.
"Garis merah itu adalah Alibaba-kun. Kemurnian rukh-mu, kebaikan dan kehangatan hatimu. Tidak banyak orang yang sepertimu, Alibaba-kun. Bahkan kau baru yang kedua."
"Lalu siapa yang pertama?"
Aladdin tersenyum. "Ibuku. Tapi meskipun aku tidak bisa melihat wujudnya, rukh-nya berkerumun lebih kuat ke ayahku. Kadang bahkan aku tidak bisa melihat rukh-nya sama sekali."
"Kenapa?"
Aladdin menggeleng. "Mungkin ibuku sudah kembali ke sisi Tuhan. Maksudku, partikel rukh-nya kembali ke aliran rukh. Hal seperti itulah yang umumnya terjadi. Karena tidak semua rukh dapat berkerumun dan membentuk wujud yang nyata."
"Apa kau bisa melihat rukh ibumu saat bersama ayahmu?" tanya Alibaba penasaran.
Aladdin menggeleng. "Hanya ada selaput cahaya yang melindunginya. Begitu juga aku. Ketika ayahku sedang menceritakan atau mengenang ibuku, sosoknya bisa kelihatan. Tapi samar sekali."
"Saat itu kau dapat teori bahwa rukh yang tidak berbentuk bisa membentuk wujud manusia?"
Aladdin mengangguk.
"Apa kau pernah menceritakan hal ini ke ayahmu?"
Aladdin menggeleng. "Ayahku tidak percaya hal-hal seperti ini. Ayahku itu orangnya rasional sekali, Alibaba-kun. Sebisa mungkin, katanya dia tidak mau berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia astral."
Alibaba mengangguk paham. Wajar saja Master Solomon beranggapan begitu. Beliau seorang dokter. Biasanya para dokter tidak memercayai hal-hal berbau supranatural. Alibaba jadi mengerti kenapa Aladdin tidak menyalakan lentera ketika ada ayahnya di rumah.
"Hujannya sudah berhenti!" seru Aladdin, berlari ke jendela dan melongok dunia luar yang basah dan lembab. Cahaya matahari menembus gumpalan awan tebal, menciptakan berkas-berkas keemasan pada bingkai jendela. Air danau bergelombang pelan, memantulkan kembali sinar mentari dan menciptakan pelangi tipis di atas permukaannya.
"Alibaba-kun, aku mau main keluar!" pinta Aladdin sambil menarik-narik pakaian perawat Alibaba.
"Eh? Mau main keluar?" Alibaba melihat jam. Masih jam 11 siang. Sebentar lagi jam makan siang. Apakah Ugo mau membiarkan mereka berdua main keluar rumah, ya?
"Ah, di depan Perpustakaan Balai Kota ada taman, kan? Mau main ke sana saja? Sekalian, sorenya bisa sekalian belajar dengan Myers-san," usul Alibaba.
"Maauu, maaaauuu!" Aladdin melompat-lompat kegirangan. "Aku bilang Ugo-kun dulu, ya?"
Bocah berusia 10 tahun itu berlari ke belakang rumah menemui butler keluarga Abraham tersebut. Sementara Alibaba menyiapkan tas ransel untuk perlengkapan Aladdin. Alat tulis dan buku tebal yang biasa dibawanya, sebuah kalkulator scientific, tisu kering dan tisu basah, sebuah kaus hijau lengan pendek bergaris hitam dan jeans tiga perempat sebagai pakaian ganti dan air minum.
Ave, ave verum corpus natum
De Maria virgine
Vere passum immolatum
In cruce pro homine
Alibaba menoleh. Ia merasa mendengar suatu lagu latin yang agak janggal. Ugo dan Master Solomon memang menyukai musik klasik yang beberapa lagunya memang berbahasa latin, tapi yang kali ini Alibaba belum pernah mendengarnya. Karena penasaran, Alibaba mengikuti dari mana suara tersebut berasal. Suara yang mendayu-dayu itu terdengar makin jelas saat Alibaba menaiki lantai dua. Bahkan kini denting piano terdengar juga. Alibaba ingat, Ugo pernah membersihkan sebuah piano di dekat ruang kerja Master Solomon. Piano besar itu diletakkan di semacam celah antara kamar tidur dan ruang kerja Master Solomon.
Cuius latus perforatum
Unda fluxit et sanguine
Esto nobis praegustatum
In mortis examine
Di lekukan tembok tiga dinding itu senar-senar piano bergetar. Tuts-tuts piano ditekan oleh sepuluh batang jemari yang kurus dan pucat milik seorang wanita dengan gaun krem lusuh. Rambutnya sewarna madu, disanggul namun sudah agak berantakan. Wanita itu berhenti bernyanyi, mengangkat muka dan menatap Alibaba dengan sepasang rongga mata yang kosong dan hampa.
In mortis examine
Piano itu menggelosor seketika kearah Alibaba.
"WUAAAAAA!"
.
.
.
"...-kun, Alibaba-kun?!"
Alibaba mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali hingga pandangannya jelas. Ia berada di kamarnya sendiri. Ugo memandangnya dengan tatapan khawatir. Sementara mata Aladdin basah dan sembab. Ia dengan penuh rasa bersyukur memeluk pengasuhnya yang terbaring dan tidak mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Syukurlah kau sadaaaar! Aku sudah minta Ugo-kun menelepon dokter untuk memeriksamu..." isak Aladdin.
"Aku... Kenapa?" lirih Alibaba.
"Pingsan," jelas Ugo. "Lalu darah keluar dari hidungmu, banyak sekali. Aku menggendongmu ke sini, lalu menelpon dr. Sinbad. Kartu namanya ada di saku pakaianmu."
Bel pagar terdengar berdering. Ugo pamit untuk membukakan pintu sebentar. Sementara Aladdin masih berusaha menghilangkan isak tangisnya. Di sekitar tubuh Alibaba banyak sekali buntalan tisu yang penuh dengan warna merah pekat yang kini berubah menjadi cokelat kehitaman. Sebanyak itukah ia mimisan?
"Aladdin..." bisik Alibaba.
"Alibaba-kun kenapa? Mau minum?"
Sebenarnya, ia hendak mengungkapkan apa yang tadi ia lihat. Namun pastinya, hal itu malah akan membuat Aladdin cemas. Tugasnya disini adalah merawat putra tunggal Master Solomon itu agar sehat—fisik dan mental. Alibaba meyakinkan dirinya sendiri untuk menganggap apa yang ia lihat tadi adalah halusinasi, meski hal itu tidak menjelaskan kenapa ia bisa terbaring dan mimisan seperti ini.
"...Tidak." Alibaba menolak halus.
"Ah? Ternyata anakku..."
Dr. Sinbad datang dengan wajah sumringah. Pria berbadan besar itu memeriksa Alibaba dengan seksama. Ia menyoroti mata, mulut, telinga, hidung sampai meraba-raba kepala Alibaba untuk memastikan apa yang salah dari kondisi perawat didikannya tersebut.
"Sejauh ini, dia cuma kena syok ringan," jelas Sinbad sambil membetulkan posisi stetoskopnya. "Keadaan jantung dan nafasnya oke."
"Syok ringan?" Ugo menaikkan sebelah alisnya.
"Di sini." Dr. Sinbad menunjuk bekas kehitaman di antara kedua alis Alibaba. "Terjadi pukulan benda tumpul yang cukup keras. Pembuluh darah di sekitar hidungnya pecah. Itu bisa menjelaskan kenapa ia bisa mimisan sebanyak ini. Aku tidak bisa memastikan separah apa jika tidak dilakukan CT-Scan. Kemungkinan paling ringan, saluran sinus frontalnya terluka."
"Sinus frontal..." Aladdin meraba-raba bagian di atas kedua alisnya. "Di sini, ya?"
Dr. Sinbad mengangguk, kemudian menaruh tangannya di kepala Alibaba. "Kepalanya berdenyut cukup keras. Kau pusing sekali, ya?"
Alibaba mengangguk.
"Keseimbangannya belum pulih. Kau harus istirahat. Jangan paksakan dirimu bangun. Hingga setidaknya, kau sudah bisa berpindah posisi tidur," jelas dr. Sinbad lagi.
"Ada obat yang harus ia minum?" Ugo tersenyum, sedikit lega mengetahui bahwa kondisi Alibaba tidak seburuk dugaannya.
"Mungkin sedikit. Penghilang sakit dan asupan vitamin B kompleks. Juga vitamin K. Yang itu diminum saat kau mimisan saja." Dr. Sinbad menuliskan resep obat dan memberikannya kepada Ugo.
Kemudian kedua pria itu keluar dari kamar Alibaba. Aladdin mengulurkan tangan mungilnya untuk mengusap-usap kepala Alibaba. Sang perawat merasakan sakit kepalanya sedikit berkurang.
"Main keluarnya jadi batal. Maaf, ya," bisik Alibaba sambil meraih tangan Aladdin lembut.
"Kita bisa main lain kali," jawab Aladdin bijak. "Alibaba-kun mau tidur?"
Alibaba menggeleng. "Kau mau temani aku disini?"
"Mau." Aladdin mengangguk. Ia merangkak naik ke ranjang Alibaba. "Kalau butuh apa-apa, bilang aku, ya?"
Alibaba mengangguk lemah. Ia mendengar ponsel di sakunya berbunyi. Namun tangan mungil Aladdin mengambil ponsel Alibaba lebih dulu. Ternyata sebuah panggilan masuk, dan Aladdin memilih menjawabnya.
"Halo? Ah, bukan. Ini Aladdin Abraham. Anak yang dirawat Alibaba-kun. Dia sedang kurang enak badan. Baik. Akan kusampaikan salammu, Morgiana-san."
"Mor..."Alibaba menggapai-gapai ponselnya. "Berikan..., Aladdin..."
Aladdin menempelkan ponsel Alibaba ke telinga pemiliknya.
"Alibaba-san? Kau baik-baik saja?" suara super manis itu terdengar kalut di seberang sana.
"Yeah. Aku oke." lirih Alibaba.
"Yokatta... Alibaba-san, Hakuryuu-san memberikan aku hari libur di hari selasa. Apa kau bisa minta libur juga? Kalau tidak sama, aku akan minta ganti."
"Aku belum membicarakannya. Akan kukabari lagi setelah aku sembuh, ya?"
"Lekaslah sembuh..." Morgiana terdiam sebentar. "Aku mencintaimu, Alibaba-san."
"Aku juga."
BEEP!
.
.
.
Setelah lima hari, kondisi Alibaba sudah hampir pulih. Ia tidak begitu ingat penyebab pingsannya tempo hari. Apa dia benar-benar terbentur sebuah piano? Ia bersyukur karena dr. Sinbad menglarifikasi bahwa bagian terparah dari kejadian itu hanya saluran sinus frontalisnya yang terluka. Pemuda itu bertekad untuk lebih berhati-hati saat (sesuatu yang menurutnya) halusinasi itu datang lagi. Ia harus memiliki pola pikir seperti Master Solomon yang logis dan rasional. Alibaba meyakinkan dalam dirinya sendiri bahwa halusinasi itu hanyalah bagian dari imajinasinya saja—atau sebuah bukti kalau ia tidak cukup fokus pada pekerjaannya. Tidak ada penjelasan yang bisa ia percaya mengenai halusinasinya tempo hari. Sang perawat belum—dan tidak akan membicarakan hal ini kepada Aladdin. Mungkin ini masalah sepele yang bisa ia atasi sendiri.
Karena perawat itu tidak tahu cara menyelesaikan halusinasi ini, maka ia harus mencoba berbagai cara terlebih dahulu. Cara yang nekat sekalipun.
"Alibaba-kun, sudah baikan?" Aladdin membuyarkan lamunan Alibaba. Sedari tadi, bocah berambut biru itu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Alibaba. Anak itu melipat kedua tangannya dan meletakkannya di atas ranjang sebagai tumpuan untuk kepalanya. Atensinya kepada Alibaba tak lepas dari anak itu.
"Kau menanyakan itu 5 menit yang lalu, Aladdin." Sebulir keringat mengalir di pelipis Alibaba yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Matanya tertuju pada jam dinding yang terletak atas pintu kamar Alibaba. Pintu tersebut berada lurus di depan ranjang Alibaba, sehingga untuk melihat jam tidak perlu repot-repot menengok sana-sini.
Jam yang menunjukkan pukul 6 lewat 13 menit itu berbentuk belah ketupat dengan sisi yang lebih melengkung ke dalam berwarna cokelat tua. Bagian mahkota dan bingkai bagian bawah terbuat dari bahan kuningan dengan ornamen yang sangat indah. Bak penunjuk angka jam—jika mata perawat itu tidak salah lihat, terbuat dari bahan kuningan.
Sebenarnya sudah lewat 50 menit sejak ia terbangun dan mendapati Aladdin tertidur di samping ranjangnya dengan posisi yang sama hingga sekarang. Barulah anak berkepang itu bangun selang 30 menit kemudian. Alibaba tidak tahu sejak kapan bocah yang ia rawat itu masuk ke dalam kamarnya.
"Jadi Alibaba-kun baik-baik saja?" Aladdin bertanya lagi.
"Iya. Jangan mengkhawatirkanku terus. Oh ya, hari ini mau main?" tanya Alibaba. Daripada Aladdin terus mencemaskan dirinya, ada baiknya mereka pergi main sambil mengambil kesempatan bagi Alibaba untuk menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.
"Eh? Tapi Alibaba-kun masih sakit, kan?"
"Nggak apa. Sudah mau sembuh, kok. Lihat, nih!" Alibaba berdiri di atas ranjang dan mengambil bantalnya. Bantal itu ia lempar dengan sekuat tenaga ke atas jam dinding yang bisa dibilang cukup tinggi dari dasar lantai. Bantal itu sukses mengenai sudut antara langit-langit dan dinding. Cara yang konyol, tetapi ia berhasil membuat Aladdin yang polos itu percaya.
"Kapan-kapan bisa ajarkan aku cara melemparnya?" Aladdin membuka buku kesayangannya dan menggambar Alibaba yang sedang melempar bantal dengan pulpen bertinta biru tua.
"Anu.. Itu.. Mungkin tidak usah.." Alibaba harus mengingat posisinya sekarang. Namun entahlah apa reaksi Master Solomon dan dr. Sinbad jika mereka tahu ia mengajari Aladdin bagaimana cara melempar bantal setinggi mungkin. Itu ajaran yang tidak perlu.
"Jadi, nanti kita mau main ke mana?" tanya Aladdin bersemangat. Alibaba masih belum menentukan jawaban sampai terdengar ketukan yang berasal dari pintu kamarnya. Ketukan itu berhenti diikuti dengan masuknya seseorang bersurai biru tua yang sedang tersenyum. Tampaknya ajakan Alibaba kepada Aladdin untuk bermain terdengar olehnya.
"Mau main? Apa kondisimu memungkinkan, Alibaba?" tanya Ugo memastikan.
"Ya, Ugo-san." Alibaba membalas dengan senyum seraya mengangguk.
"Baiklah. Jam 4 hari ini kalau mataharinya sudah tidak terlalu panas, kita ke taman kota. Nanti kuantar, oke?"
"Ya!" sahut Alibaba dan Aladdin bersamaan. Keduanya saling berpandang-pandang, lalu tertawa.
Ugo masih tersenyum sambil sedikit menoleh ke belakang untuk melihat mereka. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu itu dengan rapat. Penasaran, apa tingkah Alibaba memang kekanak-kanakan seperti itu atau karena pengaruh Aladdin?
.
.
.
"Sudah bawa bekal?"
"Iyaaa~"
"Minuman?"
"Iyaa~"
"Susu?"
"Iya- Eh? Alibaba-kun, aku sudah nggak bawa susu lagi!" Raut wajah Aladdin menjadi cemberut.
"Hahaha.. Sudah, sudah, kalian berdua. Ayo pergi." Ugo tertawa dari dalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka. Dengan segera, kedua bocah yang membawa tas masing-masing itu masuk ke dalam mobil. Butler Aladdin memencet sebuah tombol di remote untuk membuka pagar rumah. Ia mengendarai mobil hingga keluar pagar, dan menutupnya kembali menggunakan remote. Remote itu disimpannya di remote holder. Ugo mengecek arlojinya. Pukul 5 lewat 17 menit. Pukul 4 tadi masih panas, sehingga terpaksa mereka menunggu lagi.
Pria bersurai biru tua itu mulai menginjak pedal gas. Mobil itu melaju ke taman kota.
"Aladdin bawa tisu?" tanya Ugo membuka pembicaraan.
"Alibaba-kun yang bawa. Perban juga," jawab Aladdin. Hanya untuk berjaga-jaga jika ada yang terluka. Tapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Alibaba tadi seolah-olah mereka akan pergi Perpustakaan Balai Kota, menemui Myers-san seperti biasanya.
"Hati-hati, Alibaba. Tak ada yang ingin kau pingsan lagi seperti 5 hari yang lalu." Sebelum memberi nasihat, Ugo menghela napas khawatir.
"I-Iya, Ugo-san.." sahut Alibaba sedikit menunduk.
"Kita ke taman kota yang mana, Ugo-kun?" Aladdin bertanya.
"Taman kota yang banyak bunganya itu, lho."
"Eh? Yang mana?"
"Maksudmu, taman yang dibuat mirip dengan taman-taman kota di Sefton Park itu? Namanya Taman Bloomsdale kalau tidak salah." tebak Alibaba.
"Ya, yang itu. Yang di Liverpool itu, kan? Tapi kalau menurutku, Bloomsdale masih skala satu banding seratus dari taman-taman di Sefton Park. " Mendengar Ugo mengiyakan, bocah berambut biru itu langsung mengeluarkan buku dan pulpen bertinta cokelat tua dari dalam tasnya. Ia sudah siap untuk mencatat nama bunga-bunga di taman itu. Kalau perlu, menggambarnya.
"Kau tahu semua nama bunga dari Bloomsdale, tidak?" tanya Alibaba.
"Entahlah. Aku belum melihatnya, kan? Aku pernah belajar tentang bunga-bunga, sih."
"Ooh.. Kau tahu ba-" Alibaba tercengang menahan napas ketika melihat menembus kaca mobil. Wanita berambut madu disanggul, dengan rongga mata yang kosong dan hampa melihatnya sambil tersenyum di pinggir jalan. Badan dan mukanya yang begitu kurus membuat sedikit tonjolan-tonjolan tulang dapat dilihat pemuda pirang itu. Wanita itu terlihat marah dan liar, sontak berlari ke arah Alibaba dengan kedua tangan yang di arahkannya lurus ke depan, seakan hendak mencekik Alibaba.
Alibaba menatap pandangan itu dengan ngeri, teringat piano yang menggelosornya tempo hari. Ia bergeming di posisinya tatkala saraf menegang karena ketakutan datang menyergap. Ketika sebuah mobil lewat di depan wanita itu, ia menghilang entah ke mana. Jantung perawat itu berdegup kencang. Mukanya mendadak pucat.
"Alibaba-kun kenapa? Kok pucat begitu mukanya?"
"Ah, Aladdin.. Tidak, Tiba-tiba aku teringat salah satu adegan di film horror yang kutonton bersama Morgiana. Sampai terbayang-bayang saking seramnya." Alibaba terpaksa berbohong karena tidak ingin mengkhawatirkan Aladdin maupun butler-nya.
"Kalau begitu Alibaba-kun lebih baik tidak usah nonton film-film yang seperti itu lagi."
"Eh..? Iya.." lirih si perawat.
Alibaba tidak menyadari bahwa perasaan skeptis telah hinggap di hati Ugo dan Aladdin. Sejak saat pemuda pirang itu pingsan, Aladdin sempat menceritakan Alibaba yang mendadak menutup bukunya di Perpustakaan Balai Kota kepada Ugo. Mereka mengurungkan niat untuk bertanya sampai bocah pirang itu jujur atau kejadian—yang tidak mereka ketahui—sudah kelewatan bagi Alibaba.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di area parkiran, tanda mereka telah tiba di tempat tujuan. Aladdin lebih dulu turun dari mobil dan berlari ke dalam taman dengan bersemangat. Melihat anak itu, Alibaba segera menyusul Aladdin. Ugo tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Ada apa dengan anak itu, ya..?" gumam pria bersurai biru tua itu.
.
.
.
"Oi, Aladdin! Uh, taman ini luas sekali.." keluh perawat berambut pirang itu. Saat ia masuk ke dalam taman, sosok Aladdin tidak terlihat lagi. Alibaba melangkah, sekali-kali menengok ke kanan dan ke kiri.
Selang beberapa menit, akhirnya anak itu berhasil ditemukan. Peluh sedikit menutupi badan Alibaba. Ia panik saat anak yang diasuhnya itu tidak ketemu-ketemu. Sekarang, anak itu sedang duduk di rerumputan sembari mencatat di buku tebal. Di hadapannya, ada semak-semak berbunga yang melambai-lambai ketika ditiup angin.
"Ah, Alibaba-kun! Mencariku, ya? Maaf, tadi aku terlalu bersemangat."
Yah, perawat itu tidak bisa menyalahkan Aladdin. Bunga-bunga di taman itu indah dan harum. Taman kota ini juga bersih dan terawat. Angin sejuk tak jarang meniup taman itu. Suasana tenang dan asri yang begitu kondusif untuk dijadikan tempat melepas penat. Cocok untuk tempat keluarga berkumpul. Itulah yang ada di pikiran Alibaba.
"Keluarga, ya..?" Pemuda berambut pirang itu tersenyum pahit.
"Ya? Alibaba-kun ngomong apa tadi?"
"Eh? B-Bukan apa-apa, tadi aku bicara sendiri." Alibaba heran sendiri kenapa ia bisa bergumam tanpa sadar.
"Lho? Alibaba-san?" Terdengar suara manis yang sangat dikenal Alibaba. Suara... Morgiana? Yang dipanggil langsung menoleh ke asal suara.
"Mo.. Mo... Mo-Morgiana?! Kok..?" Alibaba terperangah dengan reaksi yang agak berlebihan, lalu seketika terpaku saat melihat seorang laki-laki berambut hitam dengan luka bakar di sekitar matanya berada di belakang Morgiana. Aladdin ikut menoleh ke arah Morgiana.
"Alibaba-san, ini Hakuryuu-san. Dia adalah orang yang terkena kecelakaan berat itu," jelas Morgiana.
"O-Oh.. Salam kenal, Hakuryuu-san." Alibaba mengulurkan tangannya dengan agak canggung.
"Salam kenal, Alibaba. Tidak perlu segugup itu." Hakuryuu menjabat tangan Alibaba dengan senyuman yang hangat.
"Morgiana banyak bercerita tentangmu. Kau pacarnya, kan?" Pertanyaan itu membuat wajah Alibaba dan Morgiana bersemu merah.
"I-Iya.." jawab Alibaba pelan, mengalihkan pandangan pada rerumputan yang ia injak. Morgiana menatap ke arah kiri dengan wajah yang masih tidak berubah posisinya.
"Itu anak yang kau asuh?" Hakuryuu bertanya lagi sambil menunjuk ke arah bocah berambut dikepang yang masih bergeming di posisinya. Alibaba mengangguk pelan, wajahnya masih bersemu merah. Baiklah, sepertinya Morgiana memang menceritakan banyak hal tentang dirinya.
"Eeh.. Kak Morgiana dan Kak... Um..." Aladdin berdiri dan melangkah maju sampai berhenti di samping Alibaba. Ia tidak menyelesaikan kalimatnya karena tak tahu dengan nama apa ia harus memanggil remaja yang tengah dalam perawatan Morgiana tersebut.
Hakuryuu membungkuk, masih dengan senyuman yang tak terlepas dari wajahnya. "Salam kenal. Namaku Ren Hakuryuu."
Aladdin menatap Morgiana dengan pandangan ingin tahu. Senyum lebarnya terpasang di wajahnya dan dengan polosnya berkata, "Pacar Alibaba-kun cantik, ya~"
Semburat merah di wajah pasangan itu semakin terlihat jelas. Hakuryuu tertawa melihat reaksi manis mereka berdua.
"Berapa umurmu, Dik?" tanya Hakuryuu lagi.
"10 Tahun."
"A-Aladdin, kau masih belum cukup umur membicarakan tentang pacar-pacaran ini.." Pemuda berambut pirang itu memukul pelan kepala Aladdin.
"Tapi dia memang cantik, kan?"
Aladdin yang polos itu sukses membuat wajah kedua sejoli itu makin memang jarang berkomunikasi, karena itu tidak terbiasa dengan situasi ini. Apalagi ditambah dengan kondisi tidak sengaja bertemu di tempat seperti ini. Keadaan Aladdin dan Hakuryuu membuat baik Alibaba maupun Morgiana jadi merasa serba salah.
"I..ya.." sahut Alibaba tersipu.
Namun semburat merah yang ada di wajah pemuda berambut pirang kini memudar ketika melihat seseorang di bawah bayangan pohon rindang menatapnya dengan tajam, penuh rasa ingin tahu. Matanya berwarna ruby berkilau. Sehelai satin putih di pundaknya melambai anggun tertiup angin. Ia mengenakkan semacam sweater hitam yang terlihat bagaikan menyatu dengan bayangan pepohonan. Rasanya Alibaba pernah melihat sosok yang kelihatan fiktif tersebut.
Itu sosok yang ia lihat di bawah pohon apel saat malam di rumah Master Solomon. Tepat saat Alibaba mendapatkan jawabannya, sosok itu menghilang entah ke mana. Seakan bayangan menyelimuti eksistensinya.
"Alibaba, ada apa?" tanya Hakuryuu sambil melihat ke arah yang sama dengan tujan pandangan Alibaba.
"Erm.. Tidak ada apa-apa, Hakuryuu." Alibaba menggelengkan kepalanya.
"Ah.. Hakuryuu-san, Kouen-san sudah bersiap untuk ke mobil," kata Morgiana sambil membaca pesan di HP-nya.
"Oke, oke. Sampai jumpa lagi, Alibaba." Hakuryuu melambaikan tangannya, dibalas dengan lambaian Alibaba dan Aladdin. Tiba-tiba Morgiana menoleh ke arah pemuda berambut pirang itu, dan melambai pelan tangannya. Alibaba membalasnya sambil tersenyum. Sesaat, senyuman putra Solomon itu menghilang karena cemas. Cemas dengan perilaku pengasuhnya selama ini.
"Ibumu juga bilang pacar Alibaba-kun manis, kok. Kenapa malu?" Alibaba bertanya lagi dengan polosnya.
"Aah, sudah, sudah! Jangan tanya itu lagi!" Wajah Alibaba kembali memerah.
"Kok muka Alibaba-kun jadi merah?"
"Sudah, Aladdin!"
Aladdin memang tak mengerti kenapa wajah Alibaba bersemu dan malu saat berbicara tentang pacar berambut merahnya itu. Ia hanya berharap, jika ia bertanya terus seperti ini, kegelisahan dalam hati Alibaba dapat berkurang, dan beban pikirannya terhadap kejadian aneh akhir-akhir ini menjadi sedikit terangkat.
Benar saja yang diharapkan bocah polos itu. Sekarang perawat itu merasakan perasaan malu meliputinya karena dia berhasil digoda oleh anak berumur 10 tahun, walau anak itu tidak sadar. Alibaba kemudian mendapat ide jenius untuk membuat acara 'main keluar' mereka semakin seru. Ia mendorong pelan pundak Aladdin.
"Kena! Aladdin jaga!" teriaknya sambil berlari menjauhi Aladdin, berharap bocah itu berusaha mengejar dan mengenainya juga. Benar saja, bocah berusia 10 tahun itu akhirnya mengejarnya.
Mereka saling kejar-kejaran, saling mengenai satu sama lain. Meski sedikit terengah-engah, Aladdin kelihatan senang sekali. Ia mempercepat larinya dan berusaha menangkap Alibaba dengan cara memeluknya. Namun naas, hal tersebut malah membuat Alibaba terdorong sehingga terjungkal, terguling-guling dan tersuruk ke semak-semak.
"Aduh.." rintihnya kesakitan.
"Alibaba-kun! M-Maaf!" Aladdin menghampiri Alibaba dan mencoba menarik tangannya.
"Tak usah ditarik, Ala-" Alibaba mengangkat badannya sedikit dengan tangan yang lain sebagai penopang. Pandangannya agak tertutupi daun dari semak-semak, tetapi pemuda pirang itu dapat melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya sekarang.
Seorang pria tinggi, lebih tinggi dari Ugo. Kurus, berkulit keriput berwarna abu-abu pucat. Rambut hitamnya tumbuh jarang di kulit kepalanya yang sudah ditumbuhi kudis. Mulutnya menganga lebar. Dari rongga hidung, mulut dan telinganya keluar ratusan tawon dan belatung, serta cairan coklat yang lebih pekat dari sekedar lendir.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar dan mata yang seluruh bola matanya berwarna kelam itu mengalirkan darah. Jantung Alibaba seakan mau lompat keluar dari mulutnya, ia langsung beringsut-ingsut panik menyingkir dari semak itu hingga terjatuh. Wajah pemuda berambut pirang itu sangat pucat, napasnya memburu. Aladdin terkejut melihat keadaan Alibaba yang seperti itu.
"Alibaba-kun?! Alibaba-kun kenapa?!" Aladdin berseru panik.
"I-Itu..!" Alibaba menunjuk semak-semak tempat ia jatuh. Aladdin memeriksa ada apa di sana, namun nihil. Yang ada hanya daun semak-semak dan bunga.
"A-Alibaba-kun?! Tidak ada apa-apa di sana.."
"Aku yakin, aku melihatnya tadi!"
"Melihat apa?!"
"Ah.. Uh.. Itu..!" Alibaba berbicara dengan tak lancar. Aladdin berhenti bertanya. Yang terpenting sekarang adalah menenangkan Alibaba. Anak itu mengambil botol minum dari tas pemuda berambut pirang itu dan memberikannya kepada pemiliknya.
"Minumlah dulu.." lirih Aladdin. Alibaba mengambilnya dengan cepat dan meneguknya. Selesai meminumnya, Alibaba menutup botol tersebut.
"Sudah mulai tenang?"
"Iya.."
"Nah, apa yang terjadi tadi?"
"..." Yang ditanya tidak menjawab. Ia berada dalam posisi dilema, haruskah dia menjelaskannya atau tidak membuat orang lain khawatir?
"Ilusi.."
"Ya?"
"Aku berhalusinasi.. Itu saja.." Alibaba tak bisa mengatakan lebih jauh. Ia sudah tenang. Kejadiannya tidak terjadi di malam hari. Ya, saat ini dia bersyukur karena sekarang bukan malam hari.
"Sungguh?" Aladdin ingin memastikan. Usianya masih muda, tapi ia tak akan tertipu semudah itu.
"Iya." Alibaba mengucapkannya sambil tersenyum. "Kau tidak percaya padaku?"
"Tidak sepenuhnya." Aladdin menjawab dengan terus terang. Alibaba tertawa mendengarnya.
"Sudahlah. Aku nggak apa, kok. Kita mau main, kan?" tanya Alibaba mengusap kepala Aladdin. "Pikiranku lebih tenang kalau kita main."
"..Oke." jawab Aladdin polos.
Alibaba sadar ia seolah-olah memanfaatkan rasa cemas Aladdin. Tetapi anak seumurannya tidak boleh tahu. Biarpun bocah itu bisa melihat hantu, hantu yang ia lihat berbeda. Hantu yang Alibaba lihat itu mengerikan. Apa jadinya bocah polos ini melihat hantu mengerikan itu?
"Alibaba-kun lagi sakit, nggak?"
"Nggak, tuh."
"Terus kenapa bisa berhalusinasi terus? Saat di Perpustakaan Balai Kota dan di mobil tadi juga, kan? Penyebab kecelakaan di rumah juga gara-gara halusinasi, ya?" Apa pemuda pirang itu tahu betapa cemasnya Aladdin?
"Yah.. Aku juga tidak tahu.."
"Kalau berhalusinasi lagi, harus kasih tahu aku. Oke?"
"Aladdin, tingkahmu seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya." Alibaba tertawa. Ia tidak ingin menjawab 'oke' karena tidak tahu apa dia bisa menepati janjinya.
"Yosh! Kudengar malam ini ada kembang api. Tidak tahu, ya, jam berapa. Mau nunggu?" usul Alibaba. Sebaiknya ia tanyakan hal ini pada Ugo.
Aladdin tersenyum bersemangat dan mengangguk cepat. "Nanti lihatnya di tempat yang terang, ya. Aku mau menggambarnya."
Pengasuhnya mencubit pipi gembul Aladdin. "Kalau begitu, kembang apinya jadi tidak terlalu menarik. Gambar saja setelah selesai. Kau tidak akan melupakan kembang api semudah itu, kan?"
"Okee~" Bocah berambut biru itu menurut.
"Mau makan dulu, nggak? Sekalian ngajak Ugo."
"Boleh! Piknik aja sekalian di sini!"
"Bagusan piknik itu pagi atau siang, lho. Ini sudah sore."
"Yaah.. Jadi nggak bisa, nih?" Aladdin memasang tampang memelas. Alibaba mengusap-usap kepala bocah itu.
"Tidak usah piknik. Makan bersama aja sudah cukup. Rumputnya juga bersih, kok. Nggak usah pake karpet piknik itu."
Senyuman Aladdin kembali mengembang. "Okee, panggil Ugo dulu, yuk!"
.
.
.
Butler keluarga Abraham memeriksa pukul berapa sekarang melalui jam tangannya seraya menyantap bekalnya. Pukul 7 kurang seperempat. Ia sudah memberi tahu Alibaba dan Aladdin bahwa kembang apinya akan mulai pada pukul 8 malam. Biasanya pada pukul 8 malam langitnya cukup cerah, namun ramalan cuaca hari ini mengatakan bahwa pada malam hari langit akan mendung.
Sisa 1 jam 15 menit sebelum kembang api. Waktu yang cukup lama. Kedua bocah yang telah selesai memakan bekal itu sedang bermain tebak-tebakan bidang kedokteran. Pilihan permainan yang bagus.
"Mau mengelilingi taman ini?" tanya Ugo. Yang ditanya bersama-sama menoleh.
"Eh.. Bukannya taman ini luas sekali?"
"Karena luas, bisa dipakai untuk waktu luang sambil menunggu kembang api, Alibaba," jelas Ugo setelah selesai menyimpan bekalnya.
"Aku mau! Aku mau!" seru Aladdin kegirangan. Anak itu mengambil buku kesayangan dan pulpennya yang tadi tergeletak di rerumputan. Alibaba tersenyum serta menggelengkan kepalanya. Bocah itu suka bersemangat kalau merasa akan menemukan hal baru.
"Nah, selesai!"
Ugo berseru riang di ruang makan setelah mengobati luka-luka lecet akibat Alibaba jatuh di taman Bloomsdale tadi. Aladdin sudah tertidur sejak di mobil, ia kelihatan begitu senang hari ini setelah main, sempat piknik, melihat kembang api kemudian menggambarnya di mobil. Untuk kali ini Alibaba mengizinkannya tidak cuci kaki, cuci tangan, cuci muka dan sikat gigi terlebih dahulu seperti biasanya. Ugo juga menghidangkan teh manis panas untuk Alibaba. Tehnya saja jenis English breakfast tea¸ meski yang diseduhkan untuk perawat berambut pirang kali ini tidak dibubuhkan susu. Alibaba meminum teh tersebut, sementara Ugo mengoperasikan laptop dengan sangat mahir—bahkan gayanya lebih mirip para online gamers. Di dapur dan bagian belakang rumah adalah daerah 'kekuasaan' Ugo. Sang butler bahkan bercerita kadang ia tidak mengizinkan majikannya masuk ke daerah ini karena banyak sekali sistem operasi yang suka diotak-atik oleh Master Solomon.
"Master Solomon suka agak usil. Sebenarnya ia cuma ingin tahu, sih." Ugo tertawa pelan ketika menjelaskan hal itu.
"Tapi Master Solomon itu agak... Gimana, gitu." Alibaba menggenggam gelasnya. "Kalau bahasa kerennya lively youth banget."
"Maksudmu berjiwa muda?" tanya Ugo. "Memang. Semenjak Nyonya Sheba meninggal, banyak sekali perempuan yang mendekati Master Solomon. Mulai dari yang seusiamu hingga 20 tahun diatas usia beliau. Kebanyakan dari mereka hanya melihat Master Solomon sebagai dokter hebat, tampangnya oke, uangnya banyak. Lalu semuanya mundur ketika ia mulai mengungkapkan kalau dirinya adalah duda beranak satu, berusia 34 tahun dan tidak akan menikah lagi seumur hidupnya."
"Itu sih, jelas." Alibaba tertawa. Namun Ugo tidak menjawab. Sebuah suara dari dunia maya membuat Alibaba menarik kursi mendekati Ugo dan laptop-nya.
"Bonjour!" Solomon menyapa mereka berdua lewat Skype. "Aw man, disini panas banget! 43 derajat Celsius!"
"Eh? Disana pakai bahasa Perancis?" celetuk Alibaba kaget.
"Iya," balas Solomon. Kedua belah pipinya memerah terbakar matahari. Di dalam kamar hotel yang ia tempati, ayah Aladdin tersebut hanya mengenakkan sehelai kaus putih oversized dengan celana pendek. "Risetnya sudah selesai. Intinya, kami cuma bisa melakukan pengobatan dan sterilisasi. Jenazah yang meninggal karena Ebola dibakar di sebuah lubang sedalam 100 meter, sejauh 100 mil dari pemukiman. Jumlah korban meninggalnya diatas 800 jiwa. Angka kematiannya sangat tinggi, mungkin diatas 90%. Jadi hal terbaik yang kami bisa lakukan adalah menyediakan fasilitas dan mengadakan penyuluhan tentang sanitasi dan hygiene."
"Kami?" Ugo menaikkan sebelah alisnya. "Jujurlah, berapa uang yang kau keluarkan kali ini, Solomon?"
"Nggak banyaaaaak~" Solomon berkilah dengan gaya super tengil. Ia menaikkan sebelah kakinya ke kursi dan bergaya like a boss.
"Iya, nggak banyaknya berapa?" tanya Ugo ketus. Sepertinya mereka membahas sesuatu yang merupakan kebiasaan buruk si majikan.
"Hhh..." Solomon membongkar-bongkar dompetnya dan menemukan semacam struk transaksi bank. "3.75...aduh...ini nolnya banyak banget! Oh, cuma , kok. Satu Franc Demokratik Kongo itu berapa Pound?"
Dengan jengkel, Ugo membuka currency converter online dan melenguh kesal sambil ber-facepalm ria. "Sekitar 2,4 juta Poundsterling, Solomon Jehoahaz Abraham... memangnya tidak dipikir dulu apa sebelum keluar uang sebanyak itu?! Kau ini sakit jiwa atau nggak tahu uang?!"
Lalu mereka berdua berdebat singkat yang didominasi rengekan Solomon bahwa ia hanya berniat tulus ingin membantu orang-orang di Demokratik Kongo. Sikap mereka sudah tidak lagi seperti butler dan majikannya, melainkan seperti sesama teman sebaya yang begitu akrab. Melihat sikap kontras dari kedua pria tersebut, Alibaba hanya tersenyum geli.
"Oi, Alibaba-kun! Kelihatannya pipimu gendutan. Padahal sebulan dirumahku saja belum ada. Ugo memberimu banyak makan, ya?" Solomon tertawa. Sikap dan cara bicaranya kembali berubah saat menghadapi Alibaba. Meski hanya lewat webcam, Alibaba tetap bisa merasakan keramahan dan kehangatan hati Solomon saat berbicara padanya.
"Kau mau bicara dengan beliau, Alibaba?" tanya Ugo.
"Apa tidak mengganggu pekerjaan beliau?" tanya Alibaba skeptis.
"Dari penampilannya saja sudah kelihatan kalau dia nganggur," celetuk Ugo pedas. "Sudah, ah. Aku mau siap-siap untuk besok."
Lalu Ugo meninggalkan Alibaba yang masih menatap layar laptop, tidak tahu enaknya apa yang harus dibicarakannya dengan sang majikan. Lalu kemudian ia berpikir, apakah menceritakan kejadian aneh yang ia alami tempo hari kepada Master Solomon adalah hal yang tepat? Master Solomon adalah orang medis. Beliau pasti tahu solusi yang tepat untuk kejadian ini.
"Alibaba-kun?" panggil Solomon.
"Ah, itu... Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan," ungkap Alibaba. Maka, dengan jujur ia menceritakan segala kejadian mulai dari yang dialaminya di Perpustakaan Balai Kota, perihal menyalakan lentera, teori Aladdin tentang rukh dan deskripsinya mengenai orang-orang tersayang Alibaba yang telah meninggal, tragedinya mimisan hingga sosok berambut panjang, bermata rubi yang pundaknya berselimut sehelai kain satin putih. Master Solomon yang awalnya tersenyum ramah dan mendengarkan, raut mukanya mendadak berubah. Setelah Alibaba selesai bercerita, Master Solomon terdiam sebentar.
"Alibaba-kun..." ucapnya. "Dengar, ya. Kita ini orang medis. Dan orang medis tidak sepatutnya percaya pada sesuatu yang berbau supranatural."
Alibaba terdiam, antara lega dan malu mendapat teguran begitu.
"Maksudku, tidak masalah kau mau beragama atau tidak. Tapi hal-hal yang kau ceritakan itu tidak ada kaitannya dengan konsep ketuhanan dari agama manapun. Jadi, hal paling baik yang bisa kau lakukan sekarang adalah tidak usah kau pikirkan."
"Baiklah," balas Alibaba pelan. "Maafkan aku sudah berkata yang tidak-tidak."
"Iya." Solomon tersenyum. "Butuh sekitar 8 jam terbang dari Kongo ke London. Setelah aku sampai, mungkin kita bisa banyak mengobrol. Kau anak yang menyenangkan, Alibaba."
Alibaba tersenyum.
"Sudah dulu, ya. Aku mau packing." Solomon meninggalkan posisinya begitu saja, lalu tiga detik kemudian berbalik lagi. "Sampaikan peluk, cium dan salamku untuk Aladdin. Bye!"
Setelah sang majikan benar-benar offline, Alibaba mematikan laptop dan memilih memasuki kamarnya. Ia terus memikirkan kata-kata Master Solomon tadi. Pikiran yang sungguh praktis, bahwa sesungguhnya orang-orang medis tidak sepantasnya percaya pada hal-hal berbau supranatural. Itu adalah logika yang benar, dan Alibaba memutuskan percaya. Dengan segenap hati ia mempercayai ucapan Master Solomon dan mengangguk yakin.
Lalu sang perawat berambut pirang itu mengganti pakaiannya, pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Saat tengah meludahkan busa pasta gigi, ia merasa perutnya agak mual. Seperti ada sesuatu yang menggantung di kerongkongannya. Maka, seperti yang biasa ia lakukan, Alibaba menekuk lidahnya kearah dalam dan memuntahkannya—apapun itu. Namun ketika benda tersebut sampai di mulutnya, Alibaba merasa janggal. Ia memuntahkan benda tersebut ke wastafel dan betapa terkejutnya ia ketika melihat benda apa yang keluar dari kerongkongannya tersebut.
Segumpal bulu burung hitam.
Alibaba merasa pandangannya berputar. Perutnya sakit dan begitu mual. Ia memaksakan diri untuk muntah, dan enggan mempercayai benda apa yang keluar dari kerongkongannya tersebut. Namun, semakin banyak benda yang ia muntahkan, semakin banyak pula gumpalan bulu burung hitam itu keluar bersamaan dengan isi perut, kemudian lendir kehitaman yang terasa pekat sekali di mulutnya. Setelah merasa benda-benda tidak wajar itu tidak ada lagi di dalam mulut dan kerongkongannya, Alibaba berkumur banyak-banyak sambil menyalakan keran air, berharap bekas muntahannya tersapu bersih oleh air. Sang perawat melenguh lega, kemudian mengangkat muka.
Sosok berambut legam dan berselendangkan kain satin putih itu berdiri di belakangnya. Kedua matanya yang merah berkilat bagaikan batu rubi menatap pantulan wajah Alibaba di cermin dengan hasrat tamak. Di bibirnya tersungging seringaian yang terlalu tidak manusiawi untuk bisa dideskripsikan.
"GYAAAAAA!"
..
..
Bersambung..
..
..
A/N: Ave verum corpus (music composing by Mozart).
Yo! Jumpa lagi di chapter kedua! Bilang ke aku kalau horror-nya sudah menjurus ke rate M, soalnya aku sendiri nggak tahu horror rate M kayak mana xD (#lah). Ada yang bilang belum cukup ngeri, jadi kuurung niatku untuk naikkin level (?) fic ini. Daaan, sudah ada romance service AliMor~
Gimana? Adegannya kurang ngeri? Coba baca sendirian di kamar dengan cahaya remang-remang (Nggak baik buat mata deh =w=). Kalau gelap total nggak seru. #yee, author-nya sendiri nggak berani
Oh ya, jam dinding di kamar Alibaba yang kudeskripsiin (Iya, aku yang deskripsiin) itu diambil dari internet. Habis kalo sudah benda-benda furnitur gini aku suka nanya om Google. Jadi jangan pikir author kreatif, tapi suka nyari wawasan (#digepengin). Err, nama jamnya itu Jam Dinding Antik Seiko, made in Jepang tahun 1970-an. Jarang-jarang nemu jam belah ketupat kuno gini, sekalian deskripsiin aja xD #deskripsinya pun dicontek dari situsnya :p #geplak
Terus.. Chapter sebelumnya ada typo, Sinbad sama Solomon itu dokter (dr.), bukan doktor (Dr.). Maaf atas kesalahan ini, ya~ :3
Udah yaa! Kritik, saran, flame, pujian (?), dan pendapatnya kami terima dengan senang hati (Untuk flame, mungkin tergantung flame-nya kayak mana baru terima dengan senang hati (?)). Makasih yang udah follow, fav, meluangkan waktu untuk review~ Bye-bee! #cemplung ke sungai
