Lentera Di Atas Dahan
Summary: Ada sesuatu yang istimewa dari seorang Aladdin.
Warning: Horror and thrilling contains.
Disclaimer: Magi © Shinobu Ohtaka.
Pairing: AliAla (Slight: AliMor, HakuMor)
Rate: T
..
..
Chapter 3
Ketidakpercayaan Terhadap Dunia Astral
..
..
Alibaba terbangun dengan wajah kusut karena tidak bisa tidur semalam suntuk. Halusinasi mengerikan kembali berputar di benaknya. Kemarin, sosok bermata ruby itu langsung menghilang ketika ia berbalik. Kembali melihat cermin, sosok itu tidak ada juga. Ajaib juga teriakannya tidak terdengar oleh Aladdin ataupun Ugo.
Tak biasanya pemuda pirang itu mengalami halusinasi beruntun seperti kemarin dalam satu hari. Apalagi halusinasi yang paling nyata adalah saat ia memuntahkan 'benda-benda' tidak wajar dari kerongkongannya. Jika melihat hantu tanpa menyentuhnya, masih bisa dicerna Alibaba bahwa ia berilusi. Tetapi, memuntahkan bulu burung beserta lendir-lendir berwarna hitam?
Dengan langkah gontai, Alibaba memaksakan diri untuk membangunkan Aladdin terlebih dulu. Ilusi di kamar mandinya kemarin membuatnya enggan kembali ke tempat itu.
"Aladdin.. Kau sudah bangun?" Alibaba membuka pintu kamar bocah yang diasuhnya. Ia mengucek-ngucek matanya sambil menutup pintu. Kini ia membelalakkan matanya saat menatap pemandangan yang tidak diduganya.
Banyak cakaran dari darah dan bekas gigitan manusia terdapat di sekitar kasur anak itu. Tenggorokan Alibaba yang ingin berteriak terasa kering. Ia langsung berlari menghampiri Aladdin yang sedang tidur. Ternyata cakaran darah dan bekas gigitan juga tampak di wajahnya. Perawat berambut pirang itu berkeringat dingin, dengan cepat melempar selimut Aladdin untuk memeriksa apa badannya juga terdapat cakaran darah dan bekas gigitan manusia itu.
Benar saja. Di sekujur tubuh Aladdin terdapat cakaran dan bekas gigitan. Kedua kaki Alibaba menjadi lemas dan membuatnya jatuh terduduk. Ia menatap Aladdin dan kasurnya dengan pandangan ngeri, lalu bangkit berlari mencari butler keluarga Abraham.
"UGO-SAN! UGO-SAN...!" Alibaba segera mengecek dapur dan menemukan orang yang ia cari di sana.
"Kenapa, Alibaba?" Ugo sedang memungut pisau dari lantai. Sepertinya ia sedang memotong bahan makanan dan dibuat kaget oleh teriakan Alibaba sehingga menjatuhkan pisau tersebut. Beruntung tangannya tidak apa-apa.
"A-ALADDIN..!"
"Tenanglah. Ada apa dengan Aladdin?" tanya Ugo seraya mengerutkan dahinya. Jawaban dari pertanyaannya menyebabkan pisau itu terjatuh ke lantai lagi.
.
.
.
Ugo mengguncang-guncang tubuh Aladdin yang tidak terbangun juga. Raut wajahnya memancarkan kepanikan yang luar biasa. Alibaba tidak sepanik dia karena sudah mengalami kejadian mengerikan seperti ini berkali-kali. Perawat itu sedang tidak tenang dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa ia harus memanggil dr. Sinbad? Tidak, tidak. Alibaba harus tenang. Ia adalah seorang perawat. Ia harus mengobati cakaran dan gigitan di tubuh Aladdin terlebih dulu.
"Alibaba, tolong cepat ambil kotak P3K!" seru Ugo.
"B-Baik!" Alibaba mengambil kotak P3K di dalam kamarnya dan segera kembali ke kamar Aladdin. Pendarahannya tidak cukup parah, namun cakaran dan gigitannya cukup banyak. Ugo membantunya memberi alkohol, bethadine, dan hansaplast pada luka-luka Aladdin.
"Alibaba.. Ketika kau masuk, kau sudah mendapati Aladdin dengan keadaan seperti ini?" tanya Ugo dengan suara bergetar.
"Iya.." lirih Alibaba. Apa Aladdin menjadi seperti ini karena dirinya?
"Maaf.. Tapi apa kau pernah mengalami kejadian seperti ini?" tanya Ugo lagi setelah selesai memberi pertolongan pertama.
Alibaba terdiam sebentar, kemudian menjawab, "Iya.."
"Kenapa tidak menceritakannya pada kami?"
"Untuk Aladdin, dia masih kecil. Dia tidak boleh mengetahui kejadian mengerikan seperti ini, kan? Aku sudah memberi tahu Master Solomon, tetapi dia mendorongku untuk tidak memercayai hal-hal berbau astral ini," ungkap Alibaba jujur. "Karena aku, ya, hingga Aladdin mengalami kejadian ini?"
Ugo menatap Alibaba. Bocah berambut pirang itu tampak merasa sangat bersalah. Merasa bersalah karena tidak dapat melakukan banyak hal saat Aladdin tidak bisa terbangun dengan keadaan yang mengerikan. Alibaba mengingat Kassim, menambah rasa bersalah dalam dirinya.
"Belum tentu karenamu. Beroptimislah. Aku tidak tahu apa kita bisa mengetahui penyebab hal ini, tetapi kita lakukan saja yang kita bisa lakukan terlebih dahulu. Sekarang kita ganti seprai kasur Aladdin, oke?" Ugo menyemangati Alibaba.
"B-Baik.." Raut wajah Alibaba menjadi lebih tenang. Mereka bersama-sama melepaskan seprai Aladdin dari kasurnya. Alibaba menggendong bocah itu dan Ugo pergi ke belakang rumah untuk mencuci seprai itu. Perawat berambut pirang itu membaringkan Aladdin kembali ke kasur yang sudah tidak ditutupi seprai. Ia baru menyadari air muka Aladdin sedari tadi tenang. Tidak tampak rasa sakit atau kegelisahan di wajah anak itu.
Alibaba mengusap kepala Aladdin dengan rasa cemas. Mengapa Aladdin tidak bisa bangun? Cakaran dan gigitan itu tidak begitu dalam sampai menyebabkannya pingsan. Apa ada sebab lain?
Tangan Alibaba sampai di dahi Aladdin. "Lho?" Alibaba terkejut ketika merasa dahi Aladdin agak lebih hangat daripada biasanya. Perawat itu baru saja ingat jika tubuh Aladdin terlalu lelah, ia bisa terkena demam.
"Oke.. Mana termometernya, ya..?" gumam Alibaba sedang mencari termometer di kotak P3K.
.
.
.
Ugo menyandar pada dinding, merenung kejadian barusan. Matanya tertuju pada mesin cuci yang sedang bekerja. Ia—bukan, mereka harus menemukan cara untuk menyelesaikan mimpi buruk ini. Tetapi ia tidak tahu banyak tentang hal-hal berbau supranatural. Aladdin? Ia tahu kemampuan Aladdin yang tidak biasa. Tetapi anak itu sedang pingsan.
Tunggu.
Pingsan? Karena apa? Karena luka yang tidak dalam itu?
Pertanyaan yang sama di benak Alibaba sekarang. Namun, jawabannya langsung didapat Ugo seiring butler itu menepuk dahinya dengan sangat keras.
"Lentera itu..!" Kemarin lentera itu tidak dinyalakan. Padahal kemarin sedang tidak hujan dan tidak ada Solomon di rumah ini. Takut Alibaba dan Aladdin terjadi apa-apa lagi, Ugo berlari kembali ke kamar Aladdin. Ia harus memperingatkan Alibaba secepatnya agar lebih waspada.
Butler bersurai biru tua itu merasa menginjak sesuatu dan terpeleset ke depan. Ia menahan beban tubuhnya dengan tangan.
"Akh.. Apa, sih, tadi it-" Mata Ugo melebar ketika mengetahui benda apa yang diinjaknya. Sepotong tangan dari siku hingga ujung jari. Darah mengalir dari tangan itu. Ugo yakin tadi benda itu tidak ada. Tidak mau ambil pusing, ia segera berdiri dan berlari ke tempat tujuannya.
BRAK!
"Alibaba!" Ugo mendobrak pintunya. Alibaba langsung menoleh ke arah pintu.
"Y-Ya?"
"..Eh? Kenapa dengan Aladdin?" Butler keluarga Abraham menatap kompres di dahi Aladdin.
"Ah... Kelihatannya Aladdin demam. 38,4 C."
"Oh... Mungkin karena tubuhnya tidak bisa menahan luka-luka itu, ya.." lirih Ugo menutup pintu dan menghampiri Alibaba. "Aku ingin memberi tahu sesuatu tentang Aladdin. Sebenarnya.. Roh Aladdin akan pergi berjalan-jalan ke dunia astral ketika tidur di malam hari."
Dahi Alibaba berkerut. Ia mengingat perkataan Master Solomon mengenai ketidakpercayaan seorang dokter dan perawat medis pada hal-hal berbau supranatural. Tapi perkataannya tidak bisa perawat itu pegang lagi karena sikon saat ini bertentangan dengan ketidakpercayaan Master Solomon. "Kau tidak bercanda, Ugo-san?"
"Apa menurutmu ini muka bercanda?" Alibaba menggeleng merespon pertanyaan Ugo. "Baik, aku lanjutkan. Kau ingat aku berkata tidak perlu tahu alasan Aladdin menyalakan lentera setiap malam ketika tidak hujan dan tidak ada Solomon? Saat hujan, pintu menuju dunia astral tertutup. Otomatis roh Aladdin tidak akan bisa pergi ke dunia astral."
"Tunggu, kenapa kau tiba-tiba memberitahuku tentang hal ini?" sela Alibaba. Sepertinya ia belum siap dan tidak menyangka akan diberi tahu secara mendadak oleh Ugo.
"Kau penasaran dengan alasan kenapa Aladdin tidak bisa bangun, bukan? Sekaligus peringatan untuk berhati-hati, karena situasi sekarang ini mungkin akan memburuk," jelas butler itu. Perawat itu memang ingin tahu alasannya. Karena itu, ia terdiam sebagai isyarat untuk Ugo supaya melanjutkan penjelasannya.
"Sampai di mana aku tadi? Oh, ya.. Saat ada Solomon, sebenarnya saat itu pula ada yang menjaga roh Aladdin agar tidak pergi ke mana-mana. Nah.. Lentera di pohon apel itu adalah jalan pulang Aladdin jika rohnya pergi ke dunia astral. Lentera itu harus dinyalakan ketika tidak hujan dan tidak ada Solomon di rumah ini. Karena kemarin kita tidak menyalakan lenteranya..."
"Roh Aladdin tidak bisa kembali ke tubuhnya, begitu?!" tebak Alibaba.
"Ya. Betul."
Hening.
Alibaba masih terkejut dengan penjelasan Ugo yang menyangkut dunia astral dan mendadak ini. Ia tak mengira kehidupan Aladdin serumit itu. Bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang bisa melihat dunia astral dan bahkan pergi ke sana?
"Aladdin.. Dalam bahaya? Bagaimana ia bisa kembali ke tubuhnya kalau seperti itu?" lirih Alibaba.
"Entahlah. Tapi mungkin saat ini kita yang dalam bahaya."
"Eh?"
"Barusan aku terpeleset karena sepotong tangan yang tadinya tidak ada. Kau tahu? Mungkin... Aku juga akan dihantui sepertimu."
.
.
.
Master Solomon sedang dalam perjalanan menuju London menggunakan pesawat terbang. Ia duduk di kursi urutan ke-23 C. Di sebelah kanan dan kiri, wanita-wanita asing sedang mencuri-curi pandang terhadap pria itu. Solomon menyadarinya. Agak risih juga kalau situasinya seperti ini. Tapi ia sudah terbiasa, karena itu ia memutuskan untuk tidak menggubris pandangan-pandangan itu.
Sisa empat jam hingga sampai di London. Empat jam bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin tidur bisa mengusir rasa bosannya.
"Anda mau minum, Monsieur?" tawar seorang pramugari yang lewat.
"Boleh." Solomon terbangun, mengangguk seraya memberikan senyum ramah.
Di antara banyak pilihan minuman, sang dokter kaya itu menjatuhkan pilihannya kepada blood orange juice dingin. Pramugari tersebut memberikannya gelas. Cairan merah pekat berbau manis tersebut mengalir lembut menuju gelasnya. Namun entah apa yang terjadi dengan sistem syaraf Solomon, seketika ia tersentak, bagaikan tersengat listrik dan melepaskan genggamannya ke gelas tersebut. Cairan merah blood orange juice itu tumpah, membasahi pangkuan dan kemejanya.
"Ma-maafkan saya..." Sang pramugari memberikan sehelai serbet dan mengelap pangkuannya.
"Tidak apa. Tanganku licin." Solomon merebut serbet tersebut dan mengelap celana serta beberapa tetes blood orange juice yang terciprat ke dagunya. Kemudian dari koper kecilnya ia mengambil pakaian ganti dan berganti di toilet. Dalam bilik sempit itu, ia mengusap-usap dadanya berulang kali. Ada perasaan tak enak, seakan-akan bakal terjadi sesuatu yang buruk.
Delapan jam perjalanan Solomon dari Demokratik Kongo hingga London akhirnya tuntas. Ketika turun dari pesawat, ia merasa relung hati terdalamnya memanggil, memberitahukan ada yang salah dengan putra tunggalnya di rumah. Tapi ada apa? Ia tidak pernah merasa seresah ini meninggalkan Aladdin sendirian. Apa anak itu demam lagi? Biasanya perasaannya jadi agak kacau kalau anak itu jatuh sakit. Kata orang, itulah yang namanya ikatan batin antara ayah dan anak. Tetapi menurut Solomon, itu cuma takhayul.
JDUK!
Solomon terkejut. Tangannya memegang pegangan tangga secara refleks sebelum tubuhnya jatuh dan terjungkal. Rupanya karena melamun, ia tidak sadar bahwa ternyata kakinya melangkahi dua anak tangga sekaligus. Seorang pramugari membantunya berdiri, dan menepuk-nepuk debu di celana jeans biru terangnya.
"Anda baik-baik saja?" tanya pramugari tersebut.
"Iya. Aku kepikiran anakku. Terima kasih."
Solomon bergegas mencari office boy kantornya yang sudah ia hubungi untuk membawakan mobilnya ke bandara. Setengah berlari, Solomon menghampiri pria yang membawa papan bertuliskan Solomon Abraham dan memberikannya dua lembar 50 pound.
"Pulang sendiri, ya! Aku buru-buru," ucapnya sambil tancap gas.
Sejujurnya, gaya dan cara menyetir Solomon bisa dibilang serampangan. Jika pada keadaan normal ia biasa menyetir pada kecepatan 80 km/jam, dan pada keadaan panik tak jelas seperti ini, terakhir kali ia melirik speedometer kecepatannya sudah melebihi 120 km/jam. Ada dorongan dari sudut terpojok otak kanannya untuk sampai lebih cepat ke rumah. Sambil tetap fokus menyetir, ia menyalakan ponsel pintarnya yang sempat dimatikannya saat penerbangan. Dan tiga menit kemudian masuklah sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Ya, dengan dr. Abraham," jawabnya sesantai yang ia bisa.
"Master Solomon?" Terdengar suara Alibaba yang bergetar di seberang telepon. "Aladdin demam. Dan kondisinya agak aneh. Jadi aku dan Ugo membawanya ke Rumah Sakit Saint Guineford. Anda masih di jalan?"
"Iya, aku ke sana," jawab Solomon singkat sambil menutup telepon. Solomon mencari putaran balik untuk menuju rumah sakit anak terbaik di London tersebut. Aladdin demam? Pasti karena makan terlalu banyak makanan manis dan terlalu banyak main. Sebenarnya apa yang dilakukan perawat berambut pirang itu sampai-sampai harus membawa Aladdin ke rumah sakit?
Sekonyong-konyong, Solomon menginjak rem ketika ada seorang gadis muda berambut merah berlari ke arah mobilnya. Dahinya terbentur setir, namun syukurlah mobilnya tidak menabrak gadis itu. Gadis muda itu mengenakan semacam pakaian tua dan membawa seikat bunga kering di tangannya. Ekspresinya datar, dan menyunggingkan senyum lebar yang tidak manusiawi kepadanya.
TIIIIIN!
Solomon terkesiap. Ia menoleh, dan menyadari bahwa ia nyaris saja menjadi korban sekaligus tersangka tabrakan beruntun di jalan raya hari ini. Mobil-mobil lain di belakangnya mulai menyalip ketika tahu tidak ada apa-apa di depan mobil Solomon. Seorang pemuda dengan seragam SMA Palo Verde mengetuk kaca mobil Solomon. Dokter muda itu membukakan kaca mobilnya. Wajah pemuda itu menyiratkan kebingungan dan curiga. Matanya menelaah, apakah yang menyebabkan Solomon berhenti mendadak itu karena ia menyetir sambil mabuk, mengantuk atau menelepon.
"Kau baik-baik saja, bung?" tanya anak muda itu.
Solomon mengucek-ucek matanya, menatap lama tempat gadis muda berambut merah itu berdiri. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya jalanan aspal yang lurus, dan 500 meter kemudian perempatan.
"Tidak apa-apa." Solomon mengelak. "Aku cuma menyetir dalam keadaan jetlag."
.
.
.
"Kondisinya baik-baik saja, Alibaba."
"Anda yakin, dr. Sinbad?"
Dr. Sinbad mengeluh frustasi. Alibaba menanyakan kondisi Aladdin sebanyak 20 kali dan masih mendapatkan jawaban yang sama. Aladdin tidak sadarkan diri. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Kondisinya stabil. Aladdin juga sudah menjalani visum untuk memastikan luka cakaran dan gigitan di sekujur badannya tersebut. Alibaba dan Ugo bukan pelakunya. Struktur gigi mereka tidak cocok dengan cetakan gigi pada luka Aladdin.
"Dengarkan aku." Dr. Sinbad menganalogikan kedua tangannya adalah rahang manusia. "Untuk membuat luka sedalam itu, dibutuhkan gaya lebih dari 150 newton. Artinya, gigimu harus benar-benar menembus daging tubuh anak itu. Dan dengan kekuatan gigitan manusia, jarang sekali ada yang kekuatan gigitannya sampai 100 newton sekalipun. Dan lagi, kau sendiri yang lihat aku sudah sampai melakukan CT-scan. Anak itu baik-baik saja. Hanya seperti... Tidur."
"Jadi apa yang akan Anda lakukan?" tanya Alibaba lagi.
"Aku berusaha melakukan semua yang aku bisa. Kau tinggal berdoa saja."
Dr. Sinbad meninggalkan Alibaba dan Ugo di depan ruang rawat Aladdin. Sang butler berjalan sampai pertigaan koridor dan kembali lagi membawa dua kaleng jus jeruk dingin yang satunya lagi diberikan kepada Alibaba. Ugo tersenyum lembut, membuka kaleng miliknya dan meneguk isinya.
"Minumlah, untuk mendinginkan kepalamu."
Alibaba menurutinya. Rasa dingin dan manis dari jus jeruk dingin itu perlahan-lahan meredam kepanikannya. Aladdin sudah berada di rumah sakit, setidaknya mendapat pertolongan medis pertama atas luka fisiknya. Namun bagaimana dengan jiwanya? Alibaba menggenggam gelasnya erat-erat, merasa kesal sekaligus benci kepada dirinya sendiri kenapa ia tidak bisa menolong Aladdin. Apakah meski dalam keadaan "tidur" seperti itu, Aladdin baik-baik saja? Sosok bocah 10 tahun yang terbaring itu mengingatkannya kepada Kassim. Kala itu usia mereka baru 17 tahun. Alibaba sendiri yang membopong Kassim ke rumah sakit setelah kolaps akibat overdosis kokkain di dalam bilik toilet sekolah.
Saat Kassim dinyatakan meninggal karena overdosis, hanya Alibaba yang peduli pada keadaannya kala itu. Orang tua Kassim, saking malunya bahkan tidak mau mengurus pemakaman anaknya—sehingga biaya kepengurusan jenazah sahabat terbaik Alibaba itu diurus oleh uang sumbangan dari pihak sekolah. Kematian Kassim menjadi tamparan keras bagi Alibaba. Bahwa ia harus bisa menjadi orang yang mampu menyelamatkan, merawat dan membawa kembali kesembuhan bagi siapapun yang sakit. Kematian Kassim menjadi panggilan pertama Alibaba untuk menjadi seorang perawat. Rumah Sakit Saint Guineford adalah rumah sakit pertama yang membuka lowongan untuk relawan bagi siapa yang mau menjadi perawat anak.
Pemuda berambut pirang itu kembali menatap Aladdin yang terbaring.
"Tuhan sayang padamu, Aladdin," bisiknya. "Cepatlah sembuh."
"Minggir!"
Dengan sekali dorongan, Alibaba terjungkal masuk ke dalam ruang rawat Aladdin. Solomon masuk dengan tergopoh-gopoh, tidak sadar melangkahi tubuh perawat berambut merah itu dan memeluk serta menciumi Aladdin dengan ekspresi yang tidak bisa Alibaba uraikan. Ugo membantunya berdiri, dan memeriksa apakah ada bagian yang terluka.
"Apa kata dokter, Alibaba-kun?" tanya Solomon.
"Baik. Hanya luka itu yang masih belum diketahui. Sudah di visum. Cetakan gigiku dan gigi Ugo tidak cocok. Tidak ada orang lain lagi di rumah. Meskipun keadaannya stabil, ia belum bangun sampai sekarang," jelas Alibaba.
"Begitu..." Solomon mengusap rambut Aladdin. "Ugo, urus administrasinya. Aladdin biar dirawat dirumah saja."
"Anda yakin?" pekik Alibaba terkejut. "Maksudku... Di sini lebih aman dengan pengawasan dokter!"
"Maaf?" Solomon menaikkan sebelah alisnya. "Aku mendapat gelar dokterku di Harvard University. Dan meski aku tidak suka hal ini dibicarakan—enam bulan yang lalu aku baru saja di wisuda sebagai dokter spesialis Patologi Anatomi. Untuk menangani anakku seorang tentu saja aku sanggup. Apalagi yang kau ragukan dariku, Alibaba-kun?"
"Anda tidak ingin memanggil... Semacam paranormal?" tanya Alibaba. "Maksudku, bahkan Anda sendiri paham kalau apa yang diderita Aladdin bukanlah penyakit medis."
"Tidak perlu," tegas Solomon, kali ini merasa agak kesal dengan sikap Alibaba.
"Setidaknya, kurasa Anda tidak bisa mengobati seseorang yang jiwanya kesasar di alam gaib atau kesurupan," sembur Alibaba.
"Karena kesurupan bukanlah penyakit medis!" bentak Solomon.
Alibaba tergugu. Ayah Aladdin tersebut menghampirinya dengan perasaan bersalah. Ia menepuk-nepuk kepala Alibaba lembut.
"Maaf tadi aku membentakmu. Kau tidak usah khawatir." Solomon mendesah. "Kalau memang kondisinya tidak apa-apa, dokter pasti membolehkannya pulang, kan?"
Dan di luar dugaan, dr. Sinbad membolehkan Aladdin pulang karena sebenarnya kondisi anak itu normal, seperti sedang tertidur saja. Ambulans membawa Aladdin dan Ugo sementara Solomon bersikeras menyetir sendiri dan Alibaba duduk di jok depan menemaninya. Perawat berambut pirang itu penasaran mengapa Solomon tidak ingin menemani anaknya, dan akhirnya ia menanyakannya.
"Aku takut tidak bisa berpikir jernih jika bersama Aladdin yang dalam kondisi begitu. Dan mungkin, sampai Aladdin sadar kita berdua akan bergantian menjaganya," ucap Solomon.
"Kita berdua?" Alibaba mengerutkan keningnya.
"Ugo disibukkan dengan mengurus rumah. Mungkin ia juga akan membantu sedikit. Yang bisa mengawasinya secara full time hanyalah kita berdua."
"Anda tidak pergi ke kantor?" tanya Alibaba lagi.
Solomon tertawa mengejek. "Aku hanya ke kantor sebagai formalitas. Meskipun jabatanku di IFRC British adalah International Director, pada kenyataannya aku praktek sebagai dokter umum di Royal London Hospital setiap hari Rabu dari jam 10 pagi sampai 7 malam."
"Jadi sebenarnya Anda hanya bekerja seminggu sekali?" tanya Alibaba, dijawab anggukan mantap Solomon.
"Kalau cuma laporan dan dokumen bisa kukerjakan di rumah. Bisa sekalian dikerjakan bersama beberapa proyek sahamku. Mungkin aku harus menulis surat izin agar tidak harus terbang kemana-mana sementara ini."
.
.
.
Para staff membaringkan Aladdin di kamarnya secara hati-hari. Tabung oksigen, kantung infus, kardiogram dan alat lain juga disediakan di sana. Kondisinya masih stabil, terpantau pada kardiogram. Setelah para staff rumah sakit pulang, Ugo mengetuk dua kali dan kemudian masuk. Baik Alibaba maupun Solomon yang tengah menjaga Aladdin menoleh.
"Kalian berdua, lebih baik makan dulu," ujar Ugo. "Mau kubawakan kemari?"
"Terima kasih, Ugo-san," tutur Alibaba mengiyakan.
Makan siang yang disediakan Ugo hanya sandwich roti gandum dengan smoked chicken, acar ketimun dan tambahan saus tomat serta segelas es teh. Mereka bertiga makan di sekitar meja belajar Aladdin. Mata Solomon tidak lepas dari putranya yang masih terbaring, ketika Alibaba tidak sengaja melihat buku tebal kesayangan Aladdin tergeletak begitu saja di meja. Ada beberapa pulpen warna terselip di sana. Mungkin ia habis memakainya semalam.
"Master Solomon, boleh aku lihat ini?" Alibaba menunjukkan buku tebal itu kepada majikannya, dan dijawab dengan anggukan setuju.
Buku tebal itu merupakan binder dengan ukuran kertas A5. Terdapat beberapa holder dan sticky note yang menandai macam-macam hal. Seperti materi sekolah, pengetahuan yang ia dapat, nomor telepon dan alamat (kebanyakan semacam restoran keluarga), beberapa foto Aladdin dengan ayahnya—satu atau dua dengan ibunya, dan gambar. Gambar Aladdin bisa dibilang cukup detail. Ada gambar Aladdin dengan Ugo yang pergi ke Perpustakaan Balai Kota. Gambar Alibaba yang dibelakangnya terdapat gambar orang lain lagi. Masing-masing orang tersebut diberi nama dengan gaya Aladdin tersendiri. Alibaba Saluja-kun, Kassim-kun, Anise Saluja-san, dan ayahnya Alibaba-kun. Gambar lain mengisahkan Alibaba yang menyalakan lentera untuk Aladdin, perjalanan mereka ke taman bunga Bloomsdale, kembang api dan lain-lain. Gambarnya terlihat begitu bagus, hingga Alibaba menemukan gambar sebuah pintu elevator abad 19 yang digambar dengan sangat baik. Lalu kemudian ruang makan gaya Victoria yang diisi dua kurus pucat dengan rambut panjang dan kepala yang sudah botak atasnya. Mereka menyantap seekor babi panggang utuh. Kemudian gambar perempuan berambut madu yang disanggul, bermain piano di ruangan yang berbeda dengan wajah tidak bahagia. Di pekarangan istana yang sudah lapuk dimakan usia, gadis bergaun lusuh dan berambut merah terang memetik bunga-bunga liar yang sudah mengering. Alibaba tidak mengerti gambar apa ini. Apakah selama ini Aladdin pergi ke dunia astral dengan bebasnya?
"Kau baca apa?" Solomon menempelkan dagunya ke pundak Alibaba, dan ikut mengintip apa yang dibacanya di buku tebal Aladdin.
"Ini." Alibaba menunjukkan gambar-gambar tersebut kepada Solomon. "Apakah Aladdin menggambar apa yang dia lihat selama di dunia astral?"
"Alibaba-kun, sudah kubilang kalau dunia astral itu tidak ada," tegas Solomon. Ia beranjak menjauh sambil meneguk es tehnya. "Kalian ini cuma terlalu banyak mengkha-"
"GYAAAA!"
Alibaba dan Ugo menjerit histeris. Di balik punggung Solomon berdiri sosok berambut panjang dengan kulit kuning gading, mengenakan pakaian hitam lengan pendek dan selendang satin putih menyelimuti bahunya. Kedua mata rubinya berkilat, dan ekspresinya terlihat begitu dikuasai ketamakan. Sosok yang sama yang dilihat Alibaba di bawah pohon apel, di balik bayangan pepohonan Bloomsdale dan pantulan kaca kamar mandinya semalam.
Solomon berbalik. Ia bahkan sampai berputar-putar, memeriksa apa yang membuat Alibaba dan Ugo berteriak. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang aneh. Hanya ada mereka berempat di kamar Aladdin.
"Apa?" tanyanya bingung. "Kenapa kalian teriak?"
"Ugo-san lihat?!" pekik Alibaba tidak karuan. "Ugo-san lihat, kan?!"
"Aku lihat! Aku lihat sosok berambut hitam panjang itu!" Ugo bersikeras. "Kau tidak melihatnya, Master Solomon?"
"Lihat apa?!" Nada suara Solomon meninggi.
"Sosok berambut hitam panjang, bermata merah dengan selendang satin putih!" Alibaba menggerak-gerakkan tangannya, mendeskripsikan sebuah selendang.
Solomon mengerutkan dahinya. Matanya memicing melihat tingkah Alibaba dan Ugo. Ia mengambil iPhone dari sakunya dan bercermin. Matanya memang memerah, efek kurang tidur dan lelah akibat jetlag. Tampangnya yang agak lusuh mungkin terlihat mengerikan, namun Solomon masih tidak bisa menerima deskripsi tentang selendang satin putih. Ia tidak mengenakan jas dokter ataupun pakaian yang mengandung unsur putih. Solomon mengenakan polo shirt hijau dengan denim jeans biru terang. Begitu juga dengan deskripsi rambut hitam. Rambutnya itu berwarna biru tua.
"Kalian..." Solomon menatap Ugo dan Alibaba. "Ini mulai tidak lucu."
"Tidak ada yang melucu, Master Solomon." Ugo membalas dengan perasaan mencekam. "Sumpah."
"Oh, ayolah! Panggil paranormal, Master Solomon!" bujuk Alibaba frustasi.
"Oke! Oke!" Solomon menyerah. "Aku akan memanggil paranormal... Jika apapun yang kalian lihat itu... Mulai semakin intens. Deal?"
Alibaba dan Ugo mengangguk. Solomon beranjak keluar kamar Aladdin, dan tak lama terdengar suara keran air menyala. Mungkin sang majikan mandi. Alibaba dan Ugo masih saling bertatapan dengan pandangan mengerti.
"Ugo-san, punya kenalan yang bisa mengurus beginian?" tanya Alibaba.
Ugo mengangguk pelan. "Aku akan menghubunginya nanti sore."
.
.
.
"Kenapa? Ya, tidak apa-apa. Mungkin Master Solomon juga akan dihantui. Untuk jaga-jaga, kami segera menelepon Anda. Ah, terima kasih."
"Jadi dia akan datang dari Liverpool?"
"Ya, mereka akan datang lusa pagi. Aku tak menyangka Myers-san juga mengenal mereka. Ternyata dia telah menceritakan kejadian halusinasimu di Perpustakaan Balai Kota waktu itu. Jadi, mereka sudah siap kalau-kalau dihubungi kita. Kau sudah meminta izin libur untuk Aladdin kepada Myers-san?"
"Sudah."
Ugo meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Ia tahu apa yang ia lakukan ini melanggar perjanjian mereka dengan Master Solomon; untuk memanggil paranormal setelah keadaan semakin memburuk. Tetapi mereka harus bertindak cepat sebelum terjadi sesuatu yang paling parah.
Meninggal diburu hantu, misalnya.
Sempat terlintas di benak Alibaba untuk menakut-nakuti Solomon dengan caranya sendiri, tanpa menggunakan hantu sungguhan supaya ia lebih cepat percaya terhadap dunia astral. Dengan segera ia mengurung niatnya karena jika ia terpergok sebagai orang yang menakut-nakuti Solomon, dan bukan hantu sungguhan, Master-nya itu akan semakin tidak memercayai dunia astral.
Ugo mendesah, harus melanjutkan pekerjaan di rumah Master Solomon sendirian. Ia harus siap menghadapi hantu-hantu itu.
"Perlu kubantu?" tawar Alibaba. Saat ini Solomon sedang menjaga putra satu-satunya itu. Karena sedang menganggur, ada baiknya ia membantu Ugo.
"Terima kasih." Alibaba dan Ugo bersama-sama mencuci piring yang tadi digunakan untuk makan siang.
"Anu.. Kau pernah melihat isi buku Aladdin?" tanya Alibaba.
"Tidak. Kenapa memangnya?"
"Aku lihat salah satu gambarnya ada hantu yang pernah.. Menghantuiku. Hantu itu mendorong piano ke arahku dan menyebabkanku pingsan."
"Eh?! Hantu mendorong piano?!"
Alibaba menautkan kedua alisnya. Sepertinya hantu berambut madu itu tidak mendorong piano. Tunggu, berarti piano itu juga hantu karena menggelosor ke arahnya tanpa ada yang mendorong? Atau kekuatan supranatural hantu itu sendiri? Ia tidak mengerti dunia astral.
"Ah, maaf... Aku tidak yakin... Pokoknya aku pernah melihatnya dua kali." Alibaba menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Terus, kau ada melihat gambar sepotong tangan di buku Aladdin?"
"Yang kau injak beberapa jam yang lalu, ya? Tidak.." Kemudian mata Alibaba tertuju pada sepotong tangan yang tiba-tiba sudah ada di tangannya. Spontan perawat itu melempar tangan itu keluar jendela rangkap dua yang sedang terbuka.
"Baru saja.. Dibicarakan.." Keringat dingin sedikit membasahi Ugo karena terkejut.
Alibaba menoleh menatap butler bersurai biru tua itu sembari tersenyum aneh. "Aku tidak yakin hantu bisa panjang umur, Ugo-san."
Saat itu, Solomon duduk di atas ranjang Aladdin, sedang membaca buku kesayangan anak itu. Ia menutup buku itu dan menghela napas. Rasanya semua ini tidak masuk akal. Dunia astral itu tidak ada. Walau ia menyadari jika dunia astral itu tidak ada, siapa wanita berambut merah terang yang tadi ia lihat di buku Aladdin dan di jalan itu? Kebetulan sama?
Bagaimanapun juga, ia tak akan memercayai adanya dunia astral. Ugo dan Alibaba mungkin juga sedang sakit atau kurang istirahat, sehingga terlalu banyak mengkhayal.
Seketika itu juga, muncul wanita berambut terang agak berantakan berpakaian lusuh sedang memegang seikat bunga kering di depan ranjang Aladdin. Ia tersenyum, namun ekspresinya tetap datar. Solomon sedikit terkejut, mencoba mempertahankan ketidakpercayaannya terhadap dunia astral.
"A-Apa? Alibaba? Ugo? Kalian sedang mempermainkanku?" Wanita itu tetap diam, tak mengubah ekspresinya.
Wanita itu mendadak menerjang Solomon. Mulut ayah Aladdin itu terbuka hampir berteriak, kemudian tertahan oleh bunga kering. Hantu itu mencekik Solomon dan memaksa bunganya memasuki kerongkongannya dengan ekspresi yang tidak berubah. Reflek, Solomon menendang wanita itu dan berhasil mengakibatkannya terpental ke lantai sambil tetap menggenggam ikatan bunga kering. Solomon terbatuk-batuk, memuntahkan sisa-sisa bunga kering yang masuk ke dalam mulutnya seraya menghampiri wanita itu.
Namun, hantu berpakaian tua itu sudah tidak ada saat Solomon menengok ke arah wanita itu terpental. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke belakang. Tidak ada.
Solomon menjatuhkan dirinya di samping Aladdin. Jantungnya berdenyut kencang. Ia bisa mati tercekik jika tidak melakukan apa-apa.
"Master Solomon? Ada apa? Tadi aku dengar suara benda yang terjatuh.." tanya Alibaba, membuka pintu kamar dengan cepat, sedang membawa sapu. Mungkin pemuda berambut pirang itu sedang menyapu di depan kamar Aladdin.
"Ah, tidak. Tadi aku berhalusinasi saja," jawab Solomon. "Hanya berhalusinasi. Jangan berpikir aku melihat hantu sungguhan. Mungkin karena aku masih jetlag."
Alibaba mengambil kesimpulan, yang terjatuh adalah Solomon itu sendiri atau hantu yang ia bicarakan. "B-Baik.." Bocah berambut pirang itu menutup pintu kembali.
Solomon tahu, jika yang ia lihat hanya halusinasi, lalu bukti sisa bunga kering itu apa? Ia tak peduli jika pemikirannya logis atau tidak.
"Dunia astral itu tidak ada..." gumam Solomon tanpa sadar sambil mengusap kepala Aladdin. Lalu ia mengambil tisu dan membersihkan sisa-sisa bunga kering di pakaiannya dan di lantai. Setelah selesai, tisu itu ia buang ke tong sampah di sudut kamar.
.
.
.
"Hah? Solomon juga melihat hantu?!"
"Iya. Aku yakin."
"..Kita bertiga bisa melihatnya? Apa hanya kita yang mengalami ini?"
"Mungkin.."
Alibaba menjelaskan apa yang ia dengar tadi dari depan kamar Aladdin kepada Ugo yang sedang mengepel lantai. Mendadak di bagian yang bekas dipel Ugo timbul genangan besar berwarna merah. Baunya sama persis dengan darah. Mereka berdua tidak terlalu terkejut. Ugo mengepel bagian yang berwarna merah darah itu, dan tidak ada lagi darah di sana.
"Dua kali kita mengalami hal aneh seperti ini setelah Solomon datang ke rumah. Tidak ada penampakan hantu yang bentuknya aneh. Kok bisa, ya?" tanya Alibaba.
"Apa biasanya kau melihat hantu yang memiliki bentuk aneh seperti monster?" Ugo bertanya balik.
"Tidak. Penampakan yang pertama kali tidak ada wajah hantu, sih. Lebih kayak manusia. Lebih sering kayak yang tadi kita lihat dibalik punggungnya Master Solomon."
"Mungkin mereka sekarang lebih memusatkan perhatian kepada Master Solomon yang paling tidak memercayai keberadaan dunia astral?" tebak Ugo. Butler keluarga Abraham itu hanya berniat bercanda. Tetapi jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. Status Solomon sebagai orang paling berani di rumah ini tidak terbantahkan lagi.
"Berarti penampakan yang ditunjukkan kepadaku yang paling tidak mengerikan?" tanya Ugo. Alibaba merespon dengan setengah mendorong bahunya, tanda bahwa ia sedikit iri.
"Tapi, hati-hati, lho. Siapa tahu ujung-ujungnya kau mendapatkan jatah penampakan yang paling mengerikan, Ugo."
"Ugo? Tanpa '-san'?" Ugo tertawa pelan. Alibaba menyadari apa yang ia ucapkan. Mungkin faktor keakraban dengan butler itu membuatnya menjadi seperti itu. Perawat itu tertunduk malu.
"Tak apa. Kau boleh terus memanggilku begi-" Ugo membungkam, menatap sesuatu di langit-langit. Pemuda berambut pirang yang bingung itu, mengikuti arah tujuan mata Ugo.
Seseorang yang lehernya digantung dengan tali. Rambutnya hitam panjang dan acak-acakan, dengan mata yang terbuka lebar. Tangan dan kakinya lemas ke bawah. Tidak tampak warna kulit orang itu karena ditutupi darah-darah dan bekas luka yang sudah mengering. Ujung tali itu menempel di langit-langit. Mereka tidak tahu apa itu orang atau.. Hantu. Bentuk wajahnya tidak mirip seperti manusia. Badannya sangat kurus.
Mulut hantu itu komat-kamit, namun tak mengeluarkan suara. Perlahan-lahan bola matanya bergerak melihat Ugo dan Alibaba. Spontan Ugo melempar pel ke arah orang itu. Namun, ia menghilang bersama dengan talinya seperti kabut.
DRAK!
KRANTANG! PRANG!
Pel itu menghantam dinding dan jatuh menimpa peralatan masak dan makan. Beberapa piring jatuh pecah. Bunyinya sangat nyaring. Solomon pasti bisa mendengarnya. Di luar dugaan, Solomon mengurung niatnya melihat apa yang terjadi karena prioritas utamanya adalah menjaga Aladdin.
"..Master Solomon benar-benar akan menyuruh kita mengganti semua ini, ya?" tanya Alibaba.
"Tidak tahu. Dari sifat yang kukenal darinya, dia orang yang kurang peduli nominal uang," ucap Ugo agak menyindir. "Kutarik ucapanku tentang mereka yang memusatkan perhatian kepada Solomon."
Pada saat makan malam, Alibaba terus saja membahas tentang penampakan yang dia dan Ugo lihat sepanjang hari. Solomon makan dengan tenang, terkesan tidak peduli atau pura-pura tidak dengar segala penjelasan Alibaba. Makan malam hari ini adalah fillet mignon steak. Alibaba sengaja memesan dagingnya dengan keadaan well done alias matang total karena tidak ingin melihat darah-darahan lagi—atau apapun yang mengingatkannya akan hal itu.
"Kalau memang kau setakut itu, malam ini kau tidur denganku saja, Alibaba-kun," ucap Solomon datar. "Di kamar depan."
"Nggak mau." Alibaba bergidik. Kamar Master Solomon ada di sebelah piano tempat Alibaba melihat wanita berambut pirang madu tempo hari.
"Dasar penakut," cibir Solomon dengan nada menggoda. "Waktu aku masih dinas di Afrika Selatan banyak sekali pantangan-pantangan gaib yang aku percayai. Misalkan seperti jangan pergi ke hutan atau padang rumput selepas matahari terbenam."
"Jelas saja." Alibaba mengambil sesendok mashed potato dari baskom kaca di depannya. "Mau dimakan singa memangnya?"
"Justru itu." Solomon tertawa keras. "Sudahlah. Mungkin karena efek kalian ketakutan, halusinasi yang kalian lihat semakin intens. Hantu dan dunia astral serta teman-temannya itu cuma cerita bohongan dari film-film. Hal-hal seperti itu cuma fiktif!"
PRANG!
Tepat saat Solomon mengatakan hal tersebut, gelas minumnya pecah. Alibaba dan Ugo juga menyaksikan gelas yang belum disentuh sama sekali itu pecah dengan sendirinya. Solomon cukup terkejut dengan bunyi pecahannya. Ia memandang Alibaba dan Ugo dengan pandangan yang seakan mengatakan 'mau buat lelucon apa lagi kalian?'
"Alibaba-kun..." geramnya. "Ini benar-benar tidak lucu!"
"Aku tidak melakukan apa-apa!" balas Alibaba dengan suara meninggi. "Sungguh!"
"Kalau sampai kalian membuat keisengan yang membuatku harus percaya dengan omong kosong ini..." Solomon menuding mereka berdua dengan garpu yang di ujungnya terdapat secuil daging, tanda bahwa ia benar-benar marah. "Kubuat kalian tidur di pinggir danau!"
Alibaba dan Ugo mengangguk. Setelah setelah makan malam, mereka memutuskan siapa yang harus menjaga Aladdin (yang otomatis, tidur di kamar Aladdin).
"Biar aku saja." Alibaba menyanggupi. "Aku kan perawatnya. Jadi secara tidak langsung... Aku bertanggung jawab atas Aladdin."
"Yakin berani?" Solomon menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menggoda. Alibaba langsung memucat dan dengan jujur menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, aku temani. Kau berani tidur sendiri kan, Ugo?"
Ugo tertawa hambar. "Biar aku juga takut, tapi aku masih lebih berani ketimbang Alibaba."
Alibaba dan Ugo menarik lapisan atas kasur di kamar Master Solomon dan memindahkannya dengan hati-hati ke kamar Aladdin , kemudian menggelarnya di lantai, di dekat meja belajar anak itu. Seprai dan bed cover dirapikan, bantal-bantal ditumpuk untuk mereka berdua. Selepas mengganti piyama, Alibaba memperhatikan postur dan perawakan majikannya tersebut. Tinggi semampai, rambut panjang biru gelap, kulit kuning langsat sedikit krem, tubuhnya ramping namun kokoh dengan lekukan otot yang cukup terbentuk. Mengenakan sehelai kaus oversized dan celana pendek. Memastikan bahwa sosok yang nanti tidur di sebelahnya tetap sosok dr. Solomon Abraham yang sama.
"Kenapa?" tanya Solomon sambil merebahkan dirinya di kasur.
"Ngg... Aku hanya memastikan kalau Anda bukan..."
"...Hantu?" tebak Solomon. "Gampang. Hantu kan tidak hidup. Coba saja kau gelitiki."
Alibaba dengan jahil menggelitik lekukan pinggang Solomon. Ayah Aladdin itu awalnya hanya tersentak lembut, tetapi lambat laun menggeliat-geliat diiringi tawa yang membuncah karena Alibaba tidak berhenti mengelitiki pinggangnya.
"Alibaba-kun... Gyahahaha... Hentikan!" Solomon menahan tangan Alibaba. "Cukup, hentikan! Aku ini mudah geli..."
"Anda sendiri yang bilang kalau hantu tidak geli." Alibaba tertawa kecil.
Solomon tersenyum lembut. Ia menepuk-nepuk kepala Alibaba dan membelai surai pirangnya penuh kasih sayang. Alibaba yang cukup terkejut menerima perlakuan tersebut, hanya bisa menunduk malu. Bahkan dr. Sinbad yang dianggapnya sebagai 'ayah' sendiri tidak pernah memberikan perhatian sebesar ini.
"Aku senang kau sudah tidak terlalu takut, Alibaba-kun," tutur Solomon. "Tidurlah. Kau pasti lelah hari ini."
"Anda juga." Alibaba mengangguk.
Sebelum tidur, Alibaba menatap ranjang Aladdin dan memastikan tidak ada hal buruk yang akan terjadi kepadanya. Perawat berambut pirang itu berdoa dengan segala doa yang bisa ia panjatkan semoga teror mengerikan ini cepat berakhir. Sementara ayah Aladdin sudah terlelap. Dengkur halusnya mulai terdengar dengan tenang. Alibaba mendesah lega, membaringkan tubuhnya di sebelah Master Solomon dan memejamkan mata.
.
.
.
DOK! DOK!
Alibaba terkesiap. Ia melompat bangun dan mendapati majikannya tidak lagi di sebelahnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Alibaba mengecek keadaan Aladdin. Denyut jantungnya sedikit meningkat secara bertahap, tidak selemah kemarin. Alibaba mengusap rambut Aladdin dan tersenyum.
"Selamat pagi, Aladdin," ucapnya.
"Alibaba-kun, kau lihat Master Solomon?" tanya Ugo. Ia kelihatan berkeringat. Tampaknya ia tidak bisa menemukan majikannya di seluruh ruangan dan kamar.
"Tidak. Kau membangunkanku, tadi?" tanya Alibaba. Ugo menjawab dengan anggukan. Sang butler keluarga Abraham itu membereskan kasur tempat Alibaba tidur dan menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Aladdin.
"Kau cari Master Solomon saja, Ugo. Biar aku yang memandikan Aladdin," ucap Alibaba lembut.
Ia mulai membuka pakaian Aladdin dengan hati-hati. Alibaba membasuhkan kain yang telah dicelupkan air hangat dan sabun ke kulit Aladdin. Setelah tubuhnya bersih, tak lupa Alibaba menyisir rambut panjang Aladdin agar tidak kusut dan tetap terawat. Dari koridor terdengar suara tergopoh-gopoh Ugo yang berlari, dan tanpa berkata apa-apa menarik Alibaba keluar, menuju halaman belakang. Halaman belakang memiliki ilalang tinggi, tempat danau dan pohon apel hitam itu berada. Dan dibawah pohon apel itu ada sesosok tubuh manusia yang terbaring di sana. Alibaba dan Ugo berlari menghampiri sosok yang dari tadi dicari-cari itu dan berusaha membangunkannya.
Solomon ditemukan tertidur di bawah pohon apel, di pinggir danau.
"Master Solomon! Bangun!" Ugo mengguncang-guncangkan tubuh majikannya. Bagaikan dibius, Solomon tidak terbangun. Sang butler mengambil inisiatif menyiramkan wajah Master Solomon dengan air danau. Dinginnya air danau langsung membuat ayah Aladdin itu terkesiap bangun.
"Hah?!" pekiknya. "Apa...? Kenapa aku ada di sini? Kalian mau mengerjaiku?!"
"Harusnya kami yang tanya..." Alibaba mengusap tengkuknya ngeri. "Kenapa Anda bisa tidur di pinggir danau?"
"Tidak tahu... Aku..." Solomon terdiam, kemudian melirik Ugo. "Cek CCTV. Sekarang!"
.
.
.
Di sebuah gerai kopi, Kouha menatap daftar menu dan menimbang-nimbang apa yang harus ia belikan untuk dirinya, Yunan dan Ja'far. Sang kasir menatapnya dengan ramah dan menyapanya dengan penuh kehangatan.
"Mau pesan apa?"
"Hot chocolate satu, green tea frappuchino satu, dan... Apa kau punya teh panas?" kata Kouha.
"Kami punya thai thea. Ada English Breakfast dan matcha juga."
"English Breakfast satu." Kouha tersenyum kecil.
"Atas nama siapa?"
"Kouha."
Setelah menyerahkan selembar sepuluh pound dan menerima kembaliannya, Kouha kembali ke meja dimana Yunan dan Ja'far duduk. Ja'far sedang tidak mau diajak bicara. Mungkin ia lelah menyetir semalaman tanpa istirahat. Yunan kelihatan masih mengantuk, namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.
"Aku nggak yakin..." gumam Yunan. "Dokter keras kepala itu akan mengusir kita atau tidak?"
"Dia menelepon kita tempo hari agar datang, bukan?" tanya Kouha.
"Bukan, itu butler-nya." Yunan tersenyum. "Dr. Abraham mungkin lebih memilih mati karena overdosis obat penghilang halusinasi ketimbang memanggilku."
"Kenapa dia sebegitu menolaknya, sih?"
Yunan mengangkat bahu. Saat pesanannya datang, Yunan menyeruput teh panasnya perlahan dan membayangkan bagaimana wajah seorang Solomon Jehoahaz Abraham versi 22 tahun yang diingatnya kala itu.
"Entahlah. Padahal dr. Abraham dan istrinya bertemu lewat dunia astral."
..
..
Bersambung..
..
..
A/N: IFRC: International Federation of Red Cross and Red Crescent (Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Badan yang mendukung aktivitas kemanusiaan yang dilaksanakan oleh perhimpunan nasional atas nama kelompok-kelompok rentan dan bertindak sebagai juru bicara dan sebagai wakil Internasional mereka. Setiap negara punya wakil masing-masing. IFRC British berarti IFRC punya U.K. alias Inggris).
Err, ada kesalahan di chapter sebelumnya..
"Hhh..." Solomon membongkar-bongkar dompetnya dan menemukan semacam struk transaksi bank. "3.75...aduh...ini nolnya banyak banget! Oh, cuma 3.75 miliar, kok. Satu Franc Demokratik Kongo itu berapa Pound?"
Yah, sebenarnya yang di-bold ditulis 3.75 digabung dengan angka nol yang jumlahnya ada tujuh buah. Biasa, lah, FFN yang hapusin itu. Terus... Jangan bingung sama Ugo yang kadang nggak pake 'Master' kalo nyebut Solomon, ya. Udah tahu kan, mereka teman sejak lama (?). :3
Seperti biasa, kami menerima flame, pujian (#masih), kritik, saran, dan pendapat dari pembaca sekalian dengan senang hati~ Sampai jumpa di chapter berikutnya! Ah, dan kasih tahu kalo udah menjurus ke rate M~ xD #terjun payung
