Lentera Di Atas Dahan

Summary: Ada sesuatu yang istimewa dari seorang Aladdin.

Warning: Horror and thrilling contains, AU.

Disclaimer: Magi © Shinobu Ohtaka.

Pairing: AliAla (Slight: AliMor, HakuMor)

Rate: T


..

..

Chapter 4

Masa Lalu

..

..

Alibaba, Ugo dan Master Solomon melihat rekaman CCTV seluruh rumah semalam untuk menjawab pertanyaan mengapa sang majikan bisa ditemukan terlelap di pinggir danau sementara tidak ada satupun orang yang mengangkutnya kesana. Tayangan rekaman CCTV itu dibagi menjadi 4 gambar dalam satu layar, dan dalam ruang kendali ada 4 layar. Jadi totalnya ada 16 gambar.

"Ini Anda, kan?" Alibaba menunjuk salah satu gambar rekaman CCTV. Rekaman itu berasal dari CCTV di kamar Aladdin. Di kamar itu Aladdin tertidur di kasurnya, sementara Alibaba dan Master Solomon tidur di kasur yang digelar di lantai. Alibaba menunjuk seseorang yang tidur di sebelahnya dalam tayangan itu.

"Ya." Master Solomon mengangguk. "Sampai sini tidak ada yang aneh."

Tepat saat ayah Aladdin tersebut mengatakan hal itu, sosoknya dalam tayangan CCTV bergerak bangun, tangan kanannya melurus ke depan dan ia berjalan gontai meninggalkan kamar anaknya dalam keadaan tertidur.

"Anda mengalami sleepwalking." Alibaba mendesah lega. "Mungkin saking capeknya..."

Namun mata Master Solomon masih menatap tajam layar CCTV. Ugo juga terlihat terheran-heran. Setelah diamati baik-baik, Alibaba baru menyadari apa yang aneh. Master Solomon berjalan ke luar rumah, ke arah danau melalui pintu depan. Yang sudah jelasnya, pintu depan dikunci secara komputerisasi lengkap dengan alarm anti retas. Bahkan pintu tersebut berayun terbuka begitu saja ketika sang majikan melangkah keluar.

"Lihat," Ugo menunjuk lampu kecil merah pada serangkaian tombol di pintu depan pada tayangan tersebut. "Tombol ini jadi hijau saat Master Solomon melangkah keluar."

"Kau menguncinya, kan?" Master Solomon bertanya janggal.

"Tentu saja. Lihat!" Ugo menunjuk gambar Alibaba dan dirinya yang tertidur sampai jam 5 pagi, dan Alibaba terbangun sejam sesudahnya. "Tidak ada yang menyentuh pengaman pintu depan."

"Lihat ini!" Alibaba juga menunjuk rekaman CCTV di luar, di mana Master Solomon tiba-tiba terjengkang ke belakang, lalu terbaring di pinggir danau begitu saja. Dari cara jatuhnya, bukan disebabkan karena kehilangan keseimbangan, melainkan karena di dorong seseorang, atau sesuatu. Anehnya, dari cara jatuh yang kelihatan keras dan menyakitkan tersebut, Master Solomon tidak terbangun sampai pagi. Ia terus saja tidur di bawah pohon apel itu hingga Alibaba dan Ugo menemukannya.

"Mungkin hantu itu ingin membuat Anda percaya," kata Ugo dengan nada sarkastis.

"Tidak lucu," rutuk Master Solomon kesal. "Sudahlah, aku mau mandi. Dan Ugo, sarapan pagi ini aku mau sereal dan susu dingin."

"Segera, tuanku." ucap Ugo lembut. "Alibaba-kun, kau mau makan apa?"

"Ah? Apa saja. Aku juga mau mandi dulu." Alibaba berlari menuju kamar mandi, dan kemudian mulai membersihkan diri. Saat baru selesai mengenakkan pakaian, ia mendengar suara aneh yang langsung membuatnya lari seketika ke kamar Aladdin.

BEEEP!

Alibaba menjerit. Aladdin ditemukan sudah terkapar di lantai. Kabel kardiogramnya putus. Tiang infusnya terjatuh dan kamarnya dalam keadaan kacau balau. Alibaba langsung menempatkan kembali anak itu di kasurnya, menegakkan kembali tiang infusnya dan mengecek nadi dan detak jantungnya.

Masih ada. Namun detak jantungnya sedikit lebih cepat.

"Ada apa?" Master Solomon berlari dengan rambut yang masih basah, dan hanya mengenakkan celana jeans. Pupilnya mengecil dan ekspresinya menunjukkan ketakutan yang nyata ketika melihat keadaan kamar Aladdin.

"Dia tidak apa-apa." Alibaba berusaha membetulkan kabel kardiogramnya. "Cuma ini...putus."

"Coba kulihat." Master Solomon mengambil kabel kardiogram dari tangan Alibaba dan memasangkannya kembali ke dada putranya. "Ini lepas, bukan putus."

"Syukurlah." Alibaba melenguh lega, dan seketika kembali histeris ketika melihat robekan pada seprai dan bekas cakaran serta gigitan manusia baru di sekujur tubuh Aladdin. Kali ini lebih parah karena sampai meninggalkan banyak noda darah di pakaian dan seprainya. Terlebih, jejak kaki lengket yang berwarna merah gelap di seluruh kamar.

"Alibaba-kun..." Master Solomon menatapnya ganjil. "Perlihatkan kakimu."

Alibaba memperlihatkan sepasang kakinya yang terbalut sandal rumah, dan telapaknya yang bersih tanpa noda sedikitpun. Jejak kaki itu cukup besar, namun kakinya agak sedikit lebar. Mungkin sekitar ukuran 40.

"Ini bukan jejak kakiku," ucap Master Solomon sambil membandingkan kakinya dengan jejak kaki tersebut. "Terlalu kecil untukku. Kakiku lebih panjang dari ini."

Alibaba menatap majikannya dengan tatapan ngeri. Master Solomon yang membaca ekspresi Alibaba mengangguk pelan, berjalan keluar dan mencari-cari di mana ia menaruh ponselnya.

.

.

.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya pacaran di dunia lain."

Kouha cukup kaget mendengar cerita singkat dr. Solomon Abraham dan mendiang istrinya. Yunan sendiri awalnya mengenal Solomon saat pria itu masih kuliah di Harvard. Yunan mengisi waktu luangnya di Amerika mengajar di bidang Psikiatri selama beberapa semester. Saat itu seorang pemuda berusia 17 tahun dengan rambut biru gelap panjang, berdarah Uzbekistan-Maroko-Inggris, datang ke kantornya dengan wajah ketakutan dan mengatakan bahwa ia selalu melihat dunia sekitar dalam keadaan gelap dan melihat orang-orang yang tidak 'biasa' baik dalam keadaan sadar maupun saat tidur. Ya, pemuda itu adalah Solomon Jehoahaz Abraham.

Dan saat itu Yunan berkesimpulan bahwa Solomon memiliki 'penglihatan' kepada dunia astral, namun ia tidak menyadari kemampuannya tersebut.

"Lalu? Apa yang dia lakukan?" tanya Kouha lagi.

"Wah, dia benar-benar luar biasa." Yunan sedikit terpental-pental ketika mobil yang mereka kendarai mulai melaju lebih cepat. "Hampir menjadi pecandu obat penenang sampai akhirnya ia bertemu dengan gadis kecil bernama Sheba. Aku tidak mengerti bagaimana prosesnya, saat Sheba lulus SMA, Solomon menikahinya. Lalu gadis itu ikut semacam yayasan sukarelawan guru. Mengajar anak-anak di Afrika untuk baca-tulis-hitung. Dan beberapa tahun yang lalu Sheba meninggal."

"Karena tidak bisa kembali?" tanya Ja'far menimbrung.

"Tidak. Malaria. Penyebab kematiannya adalah terlambat penanganan. Orang-orang sekitar menyembuhkan Sheba dengan ritual dan mantra. Sayangnya orang-orang lokal itu tidak mengerti kalau pohon quina bisa menyembuhkannya."

"Kurasa di tempat Sheba mengabdi tidak tumbuh pohon itu." Ja'far melirik rambu jalan dan mengambil jalur kiri untuk mempercepat jalur mereka ke London.

"Mungkin..." Yunan melirik jendela dan mendesah lelah. "Masih jauh, ya?"

"Paling cepat besok pagi, jika tanpa berhenti." Ja'far menerangkan. "Dan kurasa itu sedikit tidak mungkin."

.
.

Master Solomon kelihatan kesal di dalam kamar Aladdin. Raut wajahnya melukiskan perasaan seseorang yang dipermainkan, dan ia benar-benar tidak suka akan perlakuan itu. Alibaba hanya memakan yoghurt dengan madu dan tambahan kacang almond. Ia tidak bernafsu makan pagi ini. Terlalu banyak insiden memusingkan yang membawanya pada kesimpulan bahwa keberadaan Alibaba di rumah ini tidak terlalu berguna.

"Aku mau keluar sebentar." Master Solomon berjalan menuju pintu depan dan tidak kelihatan lagi.

"Dia mau ke mana?" tanya Alibaba penasaran. Dari balik kaca jendela, perawat berambut pirang itu melihat majikannya bersepeda keliling rumahnya. Itu bisa jadi olahraga yang cukup menyehatkan, mengingat luas tanah rumah ini mungkin kurang lebih 3.5 hektar.

"Mungkin kita harus setenang beliau." Ugo mendesah. "Dan insiden tadi pagi benar-benar membuatku tidak bisa tenang."

"Mungkin para hantu dunia astral mau mencopot jabatan Master Solomon sebagai orang paling berani di rumah ini," kata Alibaba sarkastis.

"Penolak alam gaib tingkat radikal," timpal Ugo. Mereka berdua tertawa karenanya.

"Kalian membicarakanku?" tanya Solomon tiba-tiba, melongok dari balik jendela yang terbuka dengan peluh yang membasahi wajahnya.

Ugo langsung meringkas peralatan makan yang tadi dipakai mereka untuk makan, dan Alibaba segera pergi ke kamar mandi sebagai bentuk pengalihan perhatian Master mereka itu.

Solomon mengangkat bahu, lalu melanjutkan aktivitas bersepedanya. Tak ada yang menyangka ia akan kembali ke pintu depan secepat itu. Biasanya saat itu Ugo mencuci peralatan makan sehingga tidak terlalu memerhatikan kecepatan Solomon bersepeda.

Awalnya pemuda berambut pirang itu ingin mandi, tapi langsung mengurungkan niatnya mengingat ia harus menjaga Aladdin. Mungkin jika ada orang yang menjaga anak itu, tak ada yang melukai Aladdin maupun meninggalkan bekas gigitan dan cakaran di sekitarnya. Ditambah jejak kaki lengket tadi. Aksi hantu-hantu itu selanjutnya bisa melukai Aladdin lebih parah lagi, entah apa tujuan mereka.

Mata Alibaba mencari Ugo. Tidak ada. Sepertinya butler itu telah pergi mencuci peralatan makan mereka. Sebagai gantinya, manik amber itu tertuju pada sebuah rak buku yang susunan bukunya agak berantakan. Karena sedang menganggur, ia mencoba merapikan buku-buku itu.

Kemudian, ada sebuah buku berwarna putih polos mengilat yang menarik perhatiannya. Buku itu telentang menempel di sisi dalam rak, sempat tidak kelihatan karena terhalang oleh buku-buku lain yang menghadap ke sisi samping rak. Tangan Alibaba menyingkirkan buku-buku yang menghalangi dan mengambil buku berwarna putih itu dari sana.

Di tengah sampul depannya, terdapat tulisan 'Photo Albums' berwarna hitam tebal dan mengilat juga. Karena posisi buku itu tadi, Alibaba merasa buku itu seperti disembunyikan. Ia sempat bertarung dengan hati naruninya untuk membukanya atau tidak. Bisa saja buku itu adalah benda privasi milik Solomon dan Aladdin. Akhirnya, ia merasa tidak masalah mengintip sedikit isi buku itu. Kelihatannya Solomon masih bersepeda. Ia harus mengambil kesempatan langka ini.

Alibaba membuka halaman buku itu secara acak. Ternyata isinya adalah foto-foto kenangan Solomon dengan mendiang istrinya, Sheba. Beberapa foto lainnya hanya ada Solomon sendiri berfoto dengan gaya yang percaya diri, dan ada yang bersama dengan teman-temannya. Di foto-foto itu, nama teman-teman Solomon ditulis. Wahid, Falan, Setta, Ithnan, Arba, bahkan Ugo. Hanya dari foto, kehangatan persahabatan mereka dapat dirasakan Alibaba. Ia menyunggingkan senyum tanpa sadar.

Setelah itu, Alibaba menyadari sesuatu yang janggal. Ada sosok berambut legam, mata berwarna ruby memakai baju hitam dengan lengan pendek dan berselendang satin putih. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Hantu itu, kenapa bisa selalu ada di dekat Nona Sheba? Apa dia hantu pencari tumbal atau semacamnya?

Kalau benar.. Apa targetnya sekarang.. Dirinya?

"Apa yang kau pegang, Alibaba-kun?"

Deg!

Lamunannya dibuyarkan oleh suara Master Solomon. Ia masuk ke dalam kamar Aladdin dengan wajah terkejut melihat buku yang dipegang perawat berambut pirang itu. Peluh masih membasahi wajahnya yang tampan, dengan handuk berwarna biru laut yang tergantung di lehernya.

"Ah... Anu... M-Maaf..." sesal Alibaba. Ia menyodorkan buku yang telah ia tutup itu kepada Solomon. Solomon menghampirinya dan mengambil benda yang telah ia sembunyikan di rak buku itu dalam waktu yang sangat lama dengan raut wajah kesal.

"Apa? Kau bingung dengan sosok berambut legam itu?"

Alibaba terdiam sebentar, lalu menjawab, "I-Iya.. Kenapa Anda tegas kepada kami bahwa Anda tidak percaya terhadap dunia astral? Buktinya sudah jelas di dalam foto itu, bukan?"

"Tidak perlu tahu."

Rasa menyesal Alibaba hilang dalam sekejap. Alasan Solomon yang dipertanyakan olehnya bisa saja berpengaruh terhadap teror yang mereka alami saat ini. Mungkin ada penyelesaian dibalik masa lalu Solomon itu.

Mereka perlu tahu.

"Kami perlu tahu. Anda memikirkan keselamatan Aladdin, bukan? Bagaimana kalau hantu ini juga bersangkutan dalam teror yang kita?! Kita perlu memikirkan hal ini bersama, Master Solomon!"

"..Kau berusaha memancingku dengan Aladdin? Dunia astral itu tidak ada!"

"Master! Bukti sudah ada di depan mata Anda bahkan sebelum hantu-hantu itu meneror kita sekarang! Dan Anda masih mau mengelak?! Ini demi keselamatan kita! Mereka bisa membunuh kita kapan saja!"

"Oke, oke! Aku ceritakan soal sosok itu, Sheba, dan diriku! Puas?!" Lagi, Solomon mengalah. Kalimat terakhir dari bentakan Alibaba itu memang tak bisa disangkal. Kemarin ia hampir mati kesulitan bernapas. Adakalanya Ugo, Alibaba, dan Solomon bersyukur karena mereka tidak diserang hantu lebih dari satu.

Alibaba tersenyum lega, meski ada sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. Ia tidak menyangka bisa reflek membentak Solomon seperti itu.

"Sebelumnya.. Maaf, aku membentak Anda seperti tadi.."

"Tak apa. Aku paham rasa takutmu akan keselamatanmu sendiri maupun Aladdin, Ugo, dan aku." Solomon menghela napas seraya duduk di ranjang Aladdin, mengelap keringat di wajahnya. Menenangkan dirinya, ia berencana setelah menceritakan masa lalunya itu, ia akan mandi lagi. Toh, tidak baik mandi saat berkeringat.

"Aku panggil Ugo dulu." Alibaba melangkah ke arah pintu kamar Aladdin dan membukanya. Ia sempat berhenti melangkah, dan menoleh ke arah Solomon dengan tatapan curiga. "Jangan kabur ke mana-mana."

Master Solomon tertawa. "Aku tidak seperti kucing yang mencari jalan keluar dari kurungan, Alibaba-kun."

Perawat bermata amber itu tersenyum simpul, percaya kepada Solomon. Ia pun menutup pintunya.

Setelah berdua dengan Aladdin, Solomon mengusap kepala anaknya. Ia memandang anak itu dengan hangat. Pasrah jika masa lalunya diketahui Alibaba mau pun Ugo (Solomon tidak pernah memberitahu apa-apa tentang sosok berambut legam itu kepada Ugo). Dalam sikon ini, mungkin masa lalunya akan berguna sekali.

Ayah Aladdin itu menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar, lalu memejamkan matanya. Bibirnya menggumamkan nama seseorang yang sangat ia cintai.

"...Sheba..."

.

.

.

"Psstt.. Jangan dekati dia... Ada gosip dia bisa melihat hantu.. Nanti kita bisa dikutuk olehnya.."

"Eeh?! Yang benar?! Bukankah dia orang yang terlalu muda untuk masuk ke Harvard?! Berarti dia cukup jenius, kan?!"

"Hei! Jangan keras-keras! Kalau kedengaran dia, gimana?!"

Sesosok figur yang berumur sekitar 17 tahun, melangkah sendirian menuju gedung Universitas Harvard. Ia tidak peduli dengan tatapan yang diberikan orang-orang di sekitarnya. Jujur saja, memang ia pernah—ralat, memang ia sering melihat hantu. Tetapi, selalu saja ia menganggap semua itu hanya halusinasi. Hanya halusinasi.

Masalah teman.. Ia memiliki teman.

"Solomon!"

"Aaah, dia baru datang!"

Lima orang menunggu di depan gedung Universitas Harvard. Mendengar namanya dipanggil, Solomon berlari menghampiri mereka.

"Kok, lama amat, sih?" tanya Arba. Ia adalah seorang wanita berambut cokelat panjang diikat pigtails dengan senyuman yang cerah.

"Maaf, tadi sempat macet di jalan raya."

"Pasti dia habis buat kecelakaan, deh," celetuk seorang laki-laki berambut pirang agak kehijauan panjang bermata ungu bernama Ithnan.

"Solomon nggak pernah bisa lancar nyetir mobil, ya!" Seorang pria dengan mata yang ditutupi eyepatch berambut putih panjang tertawa. Pria itu bernama Wahid.

"Kau sendiri, matanya hilang gara-gara tabrakan, aru," ketus seorang gadis berambut jingga tua dan bermata hijau, Falan.

"Kau blak-blakan sekali, Falan! Kita udah pacaran, kan?!" balas pria yang memakai eyepatch itu.

"Hahaha... Oh ya, Solomon. Mana Ugo?" tanya seorang laki-laki berambut ungu memakai kacamata dan bermata kuning. Ia adalah adik Ithnan, Setta.

"Eeh.." Solomon berhenti tertawa. "Dia mau ke sini sebentar lagi. Tadi dia memberhentikan mobil pas belum parkir betul. Ah, tuh, dia datang."

Seorang pria bersurai biru tua berlari membawa tasnya. Ia juga memakai kacamata sama seperti Setta, dan sebuah syal yang selalu melingkari bahu dan pundaknya.

"Aku datang!" seru pria tersebut. Mereka bertujuh berjalan bersama-sama menuju kelas mereka.

"Heee... Solomon digantiin butler-nya ya, aru..." ejek Falan.

"Iya, iya. Diam ajaa..! Aku tahu, kok, aku payah ngendarain mobil," kata Solomon sambil cemberut.

"Oi, penindasan terhadap anak kecil itu namanya!" canda Ithnan.

Mereka bertujuh sempat ditatap heran oleh banyak mahasiswa di sana karena keakraban mereka. Ada yang menjadi penggemar rahasia mereka itu, tak peduli betapa seram gosip tentang Solomon. Mereka itu memiliki aura persahabatan yang sangat kental. Justru karena itu, pandangan mereka terhadap Solomon sedikit berubah.

Saat jam istirahat kuliah, mereka bertujuh berkumpul di halaman belakang sekolah yang biasa menjadi tempat para mahasiswa berkumpul untuk makan bersama dan berdiskusi. Setta tampak berlari kelelahan ke arah teman-temannya yang duduk di bawah pohon rindang sambil membawa lima bungkus onigiri. Satu bungkus berisi lima onigiri. Jadi, totalnya ada dua puluh lima onigiri.

"Sudah giliranku..." lirih Setta setelah ngos-ngosan. Mereka biasanya bergantian membawakan makanan dari kantin. "Hhh.. Besok giliran Wahid."

"Sesak, kan, di sana? Jarang lihat Setta yang sering serius kecapekan begini." Ithnan menyunggingkan cengiran tanpa dosa.

"Eh? Padahal kalian satu atap, masih jarang lihat ketidakseriusan Setta? Waah, berarti Setta memang sering pasang muka serius..." kata Solomon, menerima bungkusan onigiri yang diberikan Setta. Yang dibicarakan hanya bisa ber-sweatdrop ria.

"Penindasan terhadap anak kecil itu namanya, aru!" seru Falan, membalas candaan Ithnan tadi pagi.

"Kena telak! Wahaha!" Wahid mendukung Falan.

"Aduh! Falan pendendam!" balas Ithnan. Mereka semua tertawa lepas, tanpa memedulikan pandangan dari mahasiswa di sekitar mereka.

Solomon, Setta, Ithnan, Ugo, dan Wahid membuka bungkusan onigiri tersebut. Mereka bertujuh memakannya dengan lahap setelah menyerukan 'Itadakimasu!' secara bersamaan.

"Eh.. Aku mau cerita.." ujar Solomon mendadak, selesai melahap onigiri-nya.

"Tentang cewek?" goda Arba.

"Bukan!" bantah Solomon segera, dengan semburat merah yang terpancar jelas di wajahnya.

"Ahaha.. Oke, oke. Maaf. Lanjutkan." Mereka berenam menatap Solomon, menunggunya berbicara.

Solomon terdiam sebentar, merasa ragu apa ia harus menceritakan masalahnya saat ini. Dalam sekejap, keraguan itu sirna. Mereka adalah temannya. Menceritakannya bukan masalah. Mereka berenam tidak mempermasalahkan gosipnya bisa melihat hantu. Mereka percaya, ia bisa melihat hantu—tapi tidak diambil pusing.

"Akhir-akhir ini aku terus bermimpi tentang seorang gadis kecil yang dikelilingi oleh burung-burung kecil bersinar berwarna putih... Sudah seminggu aku tidak berhenti memimpikannya. Menurut kalian.. Apa aku terjangkit penyakit atau semacamnya?"

Mereka berenam terdiam. Ugo membuka mulutnya terlebih dulu, "Kau kuliah di bidang kedokteran kan? Kau sendiri tidak tahu apa itu penyakit sungguhan, ya?"

"..Tidak.."

"Mungkin jodohmu?" tebak Ithnan, dengan nada bercanda.

"D-Diam! Itu tidak mungkin! Jodoh muncul dalam mimpi... Cuma takhayul!" seru Solomon, dengan semburat merah yang kembali menjalar di wajahnya.

"Suit suiit!" Wahid bersiul.

"Solomon, itu tentang cewek, kan? Kok tadi bilang bukan?" tanya Arba seraya tertawa.

"Aah, sudahlah! Serius, dong! Aku takut aku ada apa-apa, nih!" Solomon berupaya mengembalikan pembicaraan ke topik semula. Matanya tertuju kepada Setta, yang biasanya serius itu.

Setta yang tidak bisa menahan harapan yang terpancar dari mata Solomon, berpendapat, "Sudah seminggu, ya.. Coba dibiarin dulu. Kalau sudah terlalu lama, coba ceritakan ke psikiater."

"Setuju, aru."

"Ho'oh." Yang lain mengangguk setuju.

Hening.

"..Jadi, maksud kalian, aku gila, begitu?"

"Bukan, bukan!" Ithnan mengibaskan tangannya. "Jangan salah paham. Kau sendiri bisa melihat hantu, kan? Mungkin itu bukan hal yang aneh buat orang yang bisa melihat hantu."

"Oi, oi.. Hantu itu nggak ada, oke?" Solomon tidak memercayai hantu dan sejenisnya. Memang, biasanya dokter seperti itu. "Dan lagi, nggak ada juga dokter spesialis alam gaib."

"Ya sudah, kalau nggak percaya, Solomon. Kita lihat jawaban psikiater nanti," ucap Ugo.

"Iya..."

Setelah tiga bulan berturut-turut, Solomon tetap tidak berhenti bermimpi gadis itu. Bahkan terkadang ia melihat penampakannya di berbagai tempat. Teman-temannya yang khawatir memaksa Solomon untuk segera mengadu kepada psikiater Universitas Harvard tersebut. Namun Solomon selalu menolaknya. Sampai pada akhirnya, laki-laki bersurai biru tua itu dipaksa oleh keenam temannya secara bersamaan. Ia diseret mereka ke depan ruangan dosen psikiatri.

"Ketuk!" bisik Arba.

"Iya, iya!" balas Solomon dengan berbisik juga.

Tok! Tok! Tok!

"Ya, silakan masuk." Suara ramah dari dalam ruangan itulah yang membuat mereka mendesah lega. Solomon menekan gagang pintu ruangan itu, dan membuka pintunya. Ia masuk ke dalam, melihat seorang pria yang berambut pirang dan bertampang ramah duduk di kursi di belakang mejanya. Di atas mejanya, tersedia dua buah cangkir berisi teh oolong hangat.

Solomon perlahan masuk dan menutup pintu. Ia melangkah ke arah kursi yang berseberangan dengan kursi psikiater tersebut dan duduk di sana.

"Minumlah." Laki-laki bersurai biru tua itu menurut dan meminum teh secara perlahan. Hangat dan menyegarkan. Pikirannya menjadi tenang.

"Anda... Yunan-sensei? Guru yang mengajar di jurusan psikiatri?"

"Iya. Ada masalah apa?"

Bingung bagaimana cara menyampaikannya, Solomon langsung menjelaskan poin utamanya dengan takut-taku, "Begini... Biasanya saya selama ini melihat dunia sekitar dalam keadaan gelap, juga orang-orang tidak biasa dalam keadaan sadar maupun tidur.. Lalu, selama tiga bulan berturut-turut, saya terus bermimpi seorang gadis kecil yang sama..."

"..Lalu gadis itu dikelilingi sesuatu yang berbentuk seperti burung kecil berwarna putih?"

"..Eh? Bagaimana bisa-"

"Tentu saja aku tahu. Gampangnya, kau bisa melihat dunia astral."

Hening.

"Maaf?" Solomon mengoreksi pendengarannya.

"Kau bisa melihat dunia astral."

"Tunggu.. Dunia astral itu tidak ada, kan?" Pertanyaan itu hanya dibalas dengan senyuman Yunan.

"Tergantung dirimu ingin percaya atau tidak... Tapi kalau kau percaya, kau akan mengerti mimpimu itu." Yunan menuang lagi teh di cangkir Solomon.

"...Bagaimana Anda bisa tahu?" Lagi, pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman yang ditanya.

Ralat. Yunan membuka mulutnya. "Sesuatu yang kau lihat seperti burung kecil putih itu disebut rukh. Orang yang dikelilingi rukh adalah orang yang bisa pergi ke dunia astral. Sebenarnya, gadis itu adalah manusia. Kau bisa mengajaknya bicara meski saat itu ia di dalam dunia astral."

Solomon terdiam. Bingung harus memercayainya atau tidak.

Selama ini, ia selalu dihantui makhluk-makhluk aneh yang hanya bisa dilihat olehnya sejak kecil. Orang tuanya tidak tahu ke mana dan selalu memberinya uang lewat ATM tanpa memberitahu lokasi mereka. Hanya Ugo yang selalu bersamanya dari kecil. Ia dijauhi semua orang, sampai ia bertemu dengan Ugo, Arba, Ithnan, Setta, Falan, dan Wahid. Meski sering melihat hantu-hantu yang mengerikan, ia tidak takut lagi setelah mendapatkan sahabat yang berharga seperti mereka.

Mereka selalu ada untuk membantu. Mereka tidak mempermasalahkan Solomon yang dapat melihat hantu itu. Malahan mereka memercayai Solomon bisa melihat hantu.

Alasan apa lagi yang bisa digunakannya untuk menolak kenyataan bahwa ia bisa melihat dunia astral?

"Apa anak itu.. Sendirian di dalam dunia astral?" tanya Solomon menundukkan kepala, mencengkeram celananya.

"Tanyakan sendiri kepadanya," jawab Yunan bijak.

Solomon beranjak dari kursinya setelah mengucapkan terima kasih kepada psikiater tersebut, lalu keluar dari ruangan itu.

"Kalian nguping, ya?" tanya Solomon, saat melihat Ithnan, Ugo, Wahid, dan Falan terjatuh karena terdorong pintu itu. Arba dan Setta menyandar di dinding, tetapi juga dapat mendengar percakapan antara Solomon dan Yunan.

"Hee.. Penjelasannya rumit, ya.." komentar Arba.

"Eh? Tu-Tunggu, jangan pergi!" seru Solomon, entah kepada siapa. Mereka berenam menatap teman berambut biru tua itu dengan heran.

"Kau bicara sama siapa, sih?" tanya Wahid.

"Gadis kecil yang kubicarakan tadi." Teman-teman Solomon saling memandang satu sama lain.

"Bagaimana rupanya, aru?"

"Diam dulu! Nanti dia kabur... Umm... Namamu siapa? Sheba? Nama yang bagus. Artinya 'janji,' lho. Umurmu berapa? 12 tahun, ya.. Kok bisa ke dunia astral? Hee.." Solomon berjongkok, melipat kedua tangannya. Di mata teman-temannya, ia tampak aneh karena seolah-olah bicara sendiri. Namun, ia tampak lebih aneh lagi di mata mahasiswa lain.

"Dia bisa dengar suara kita dari dunia astral?" tanya Setta.

"Iya. Dia bilang dia ke dunia astral saat tertidur. Dia harus menyalakan lentera di rumahnya karena itu jalan pulang saat ia pergi ke dunia astral. Kalau tidak dinyalakan, nanti dia tidak akan bisa kembali ke dunia nyata."

"Eh.. Ini lagi jam sekolah, kan? Karena sekarang dia di dunia astral, berarti dia tertidur dan tidak sekolah, ya?" tebak Ithnan.

"..Iya. Dia nggak sekolah. Kita nggak boleh tahu alasannya."

Tanpa diberi tahu alasannya, sebenarnya mereka telah mengerti mengapa ia tidak bisa ke sekolah. Anak itu bisa pergi ke dunia astral, berarti bisa melihat dunia astral. Sheba pasti dijauhi oleh semua orang karena kemampuannya itu.

Solomon juga sering tidak sekolah dulu karena tidak tahan dijauhi oleh orang-orang.

"Kalau begitu, kau bisa bermain dengan kami," ucap Solomon dengan pandangan hangat. "Aah, sudah mau bangun di sana, ya? Oke, kapan-kapan kita ketemu lagi."

Berakhirlah percakapan pertama dengan anak berambut merah muda dan bermata merah yang bersama Sheba.

Setelah itu, Sheba sering bertemu Solomon dan terkadang Solomon kesal karena selalu menjadi perantara tanya-jawab antara anak itu dan teman-temannya. Biasanya Solomon saja yang bermain dengan Sheba. Tetapi, mereka akhirnya mencoba permainan yang bisa dimainkan bersama dengan teman-teman Solomon.

Hari demi hari mereka semakin jarang bertemu dengan Sheba. Menurut Solomon, anak itu mengaku ingin lulus SMP dan masuk SMA. Pada saat itu, ia akan memperbolehkan Solomon dan kawan-kawannya untuk bertemu dengan dirinya.

Solomon sempat mengumumkan bahwa ia dan Sheba telah memiliki status sebagai 'pacar.' Sejak saat itu, kawan-kawannya sering menggoda laki-laki itu dengan sebutan 'lolicon.' Candaan Ithnan waktu itu karena tak bisa ia elak lagi, karena anak itu akhirnya menjadi jodohnya.

.

.

.

"Ciee, Solomon! Kayak mau pergi kencan aja!"

"Oi.. Kalian sudah umur berapa? Kenapa nggak ada berubah-berubahnya?" Solomon menggelengkan kepalanya sebagai respon terhadap godaan Ithnan dan Wahid yang gagal itu. Ithnan mungkin saja iri, mengingat ia sampai sekarang tidak pernah punya pacar.

Sudah 4 tahun sejak mereka berkenalan dengan Sheba. Kini, mereka bertujuh melangkah menuju SMA yang merupakan tempat pacar Solomon itu bersekolah.

"Tunjukkan sikap baik kalian. Itu dia." Solomon menunjuk Sheba yang tengah menunggu. Gadis itu menyandar pada tembok yang memagari sekolahnya, kedua tangannya menggenggam tote bag-nya. Ia mengenakan seragam SMA-nya. Kedua pipi Solomon merona, menjadi gugup melihat Sheba di dunia nyata untuk pertama kalinya. Padahal ia telah berkali-kali melihat gadis itu di dunia astral.

"Manis..." komentar Arba sedikit terkejut, menutup mulutnya yang tersenyum dengan tangan kanannya. Yang lainnya menatap Sheba dengan pipi yang agak merona juga.

"Kenapa tatapan kalian begitu?" tanya Solomon menyadari rukh di sekitar mereka menjadi berwarna merah muda.

"Tidak apa, jangan cemburu. Kita hanya kagum terhadap keimutan pacarmu yang satu ini," ucap Ugo, tak melepas pandangannya dari Sheba.

"Hei!" Solomon tersinggung.

"Itu kenyataan, kan, aru?"

"Apa nggak apa kita datang rame-rame begini?" tanya Setta.

"Ayo pergi, kita sudah melihat anak itu. Nanti kenalkan kepada kami, ya. Soalnya hanya Sheba yang mengenal kita, kita nggak mengenal dia," ujar Arba, sengaja memberikan waktu berduaan kepada Solomon dan Sheba. Mereka mengikuti Arba meninggalkan Solomon.

"Ah.. Tunggu du-"

"Solomon?"

Deg!

Suara manis yang sudah dikenal Solomon sejak 4 tahun yang lalu. Namun jika mendengarnya dari dunia nyata, rasanya... Beda.

"S-Sheba..." Yang dipanggil hanya tersenyum. Kedua pipi Sheba bersemu. Senang karena akhirnya mereka bisa bertemu di dunia nyata.

"Mana yang lain?"

"Pulang... Nggak tahu kenapa." Solomon mendesah pasrah. Suasananya sedikit berat. Ia memikirkan cara untuk mencairkannya.

"Kok, canggung gitu, sih?" tanya Sheba. "Padahal sering bertemu di dunia astral, kan?"

"..Rasanya beda, nggak tahu kenapa.." ungkap Solomon jujur.

"Nggak tahu kenapanya dua kali." Ia tertawa. "Aku boleh ke rumahmu? Sekalian, bantu aku kerja PR yang nggak kumengerti."

Solomon mengangguk. Mereka berdua berjalan sejajar ke arah rumah Solomon. Mendadak, Sheba menggenggam tangan Solomon. Solomon balas menggenggamnya dengan perasaan yang sedikit terkejut. Sepasang kekasih itu merona. Akhirnya mereka bisa saling menyentuh setelah sekian lama.

Solomon sedikit menyesali dirinya. Dulu, ia menjadi orang dewasa bagi Sheba. Sekarang... Shebalah yang kelihatannya lebih berani dan dewasa.

Sebagai orang yang lebih tua, Solomon merasa kalah.

.

.

.

"Rapetan dikit, dong! Wahid agak nunduk, kepalanya nggak kelihatan."

Setta berusaha mengatur angle yang tepat untuk foto kali ini. Setelah Sheba lulus SMA, Solomon datang ke rumah gadis itu dan melamarnya hanya dengan modal nekad. Karena orang tua Sheba tahu bahwa Solomon selain sudah berkarier (dan berasal dari keluarga konglomerat) serta wajahnya juga tampan, lamaran itu diterima begitu saja. Dan hari ini adalah upacara pernikahan mereka berdua, yang tidak begitu meriah karena nyatanya Solomon memiliki sedikit teman.

Jepret!

"Hasilnya bagus, nggak?" tanya Ithnan. Setta masih mengibas-ngibaskan kertas polaroid yang belum memunculkan gambar.

"Nggak nyangka, Solomon punya nyali juga ya, untuk melamar Sheba." Wahid menyikut Solomon sambil menyunggingkan seringaian. "Atau jangan-jangan udah indehoy duluan?"

"Heh, sembarangan!" Solomon merengut kesal dan memiting leher Wahid. "Aku ini bukan laki-laki mesum macam kau, Wahid."

"Bukan mesum, tapi lolicon, aru." celetuk Falan. Tawa meledak di antara mereka semua.

Setta melihat hasil fotonya. Seharusnya, tanpa dirinya orang dalam foto tersebut hanya tujuh. Namun tertangkap ada 8 orang dalam foto tersebut. Di celah antara Wahid dan Ithnan, yang tercipta karena perbedaan tinggi mereka terlihat sesosok wajah laki-laki dengan rambut legam dan mata merah ruby.

"Ada masalah, Setta?" Ithnan menghampiri saudaranya tersebut dan mengambil kamera polaroid-nya.

"Tidak." Setta menggeleng. Ia memasukkan foto tadi ke dalam saku jasnya. "Sekarang giliranku, ya?"

Pada pesta seusai resepsi, Solomon dan Sheba mencetuskan akan berbulan madu ke pantai tropis minggu depan. Lebih spesifiknya, mereka memilih Kepulauan Karibia yang memiliki pasir putih dan pantai yang masih alami. Kabar gembiranya bahkan tidak sampai sana.

"Sheba bilang, rasanya tidak seru kalau cuma berdua. Jadi... Yah..." Solomon mengeluarkan delapan buah tiket penerbangan ke Kepulauan Karibia. "Aku terpaksa keluar uang lagi untuk mengajak kalian."

"Woohoooo, liburan gratis!" seru mereka girang.

Waktu berlalu begitu cepat. Mereka berdelapan akhirnya menghabiskan 9 hari liburan di Kepulauan Karibia. Setelah itu, tak lama Solomon melakukan sumpah dokter dan lamarannya bekerja di Royal London Hospital diterima. Nilai saham yang ia mainkan sedang lumayan bagus, jadi hijrahnya bersama Sheba dan Ugo ke London. Kelima sahabatnya juga ikutan heboh soal kepindahan Solomon ke Inggris. Ithnan yang kebetulan lulusan arsitektur menyumbangkan jasanya untuk mendesain rumah Solomon dari nol di atas tanah seluas 3.5 hektar yang juga sudah memiliki danau tersebut. Setelah kepindahan Solomon, mereka semua mulai hidup masing-masing. Ithnan dan Arba tetap di Amerika, sementara Setta lebih sering melalang-buana. Wahid dan Falan akhirnya menikah dan memutuskan untuk hidup bahagia di Australia. Ugo kembali menjalankan tugasnya sebagai butler keluarga Abraham dan mempergunakan keahliannya dalam bidang elektro untuk menyusun sistem komputerisasi rumah baru Solomon.

"Nggak mau! Aku nggak mau ah, kalo difoto-foto terus!"

Sheba menggeleng-geleng keras. Ia terus-terusan menutup lensa kamera SLR Solomon dengan wajah merah padam. Solomon mendesah, mengalah untuk tidak memotret istrinya yang baru merekah menjadi wanita dewasa dan sangat cantik. Sheba melanjutkan acaranya berbenah. Solomon sudah menawarinya mau kuliah di mana, namun Sheba menolak. Ia ikut program I READ, semacam program penyaluran guru sukarelawan untuk baca-tulis-hitung yang akan ditempatkan di daerah-daerah tertinggal. Solomon menyetujui saja karena, toh, itu adalah pekerjaan mulia.

Saat wanita cantik itu lengah, Solomon memotretnya dalam pose candied. Sosoknya yang setengah membungkuk memperlihatkan lekuk dadanya sekilas. Solomon bersiul nakal.

"Heh! Nakal!" Sheba melempar Solomon dengan bantal kursi.

Solomon tertawa lepas, dan memperhatikan hasil foto dadakannya tadi. Sheba memang membelakangi jendela, yang memperlihatkan pohon apel besar dan danau yang memang sudah ada sejak Solomon membeli tanah itu. Di dalam foto itu, ada seseorang yang berdiri di bawah pohon apel tersebut. Rambutnya hitam legam, dengan selendang putih di bahunya. Solomon bahkan sampai melongok keluar jendela dan tidak menemukan siapa-siapa di bawah pohon apel.

"Apa?" tanya Sheba. "Kau melihat apa?"

Solomon menggeleng. "Tidak. Kurasa aku agak ngantuk."

.

.

.

"Nasi ayam?!"

Alibaba berseru bahagia melihat menu makan malam yang disajikan Ugo. Sang butler hanya tertawa, dan mempersilakan majikannya makan lebih dulu. Solomon memang tidak memedulikan status sosial. Ia, Alibaba dan Ugo makan bersama dalam satu meja. Dan juga, hal ini mengurangi rasa takut diantara mereka berdua. Solomon menatap gelas minumnya. Kali ini semua gelas dan peralatan makan diganti dengan melamin, seakan Ugo mengantisipasi alat makan lain yang bisa pecah dengan sendirinya lagi. Seusai mendengar cerita masa lalu Master Solomon dan mendiang istrinya, Alibaba menjaga Aladdin dan ketiduran di pinggir ranjang anak itu. Ugo membangunkannya untuk makan malam.

"Duh, bawel banget! Nggak bisa apa sehari aja di kantor tanpa aku?" Solomon merutuki ponsel pintarnya. Mungkin orang-orang kantor banyak yang mengadukan ini-itu.

"Aladdin gimana, Ugo?" tanya Alibaba sambil makan daging kaki ayam yang sengaja disiapkan Ugo untuknya.

"Masih stabil. Aku baru lima menit yang lalu mengeceknya. Tidak ada yang aneh-aneh." Ugo tertawa.

"Syukurlah." Alibaba mendesah lega.

Solomon menghabiskan makan malamnya lebih lama dibanding yang lain. Ia bolak-balik menerima pesan dari berbagai group sosial media. Royal Hospital London mendapat protes keras karena dokter yang menjadi pengganti Solomon di poli dokter umum tidak bekerja secara professional, sering telat dan banyak pasien yang terlantar. Meskipun begitu, Solomon tetap bersikeras untuk tidak bekerja sampai Aladdin mencapai kondisi yang memungkinkan untuk ditinggal.

"Sudahlah, Master." Ugo tersenyum, mengambil ponsel pintar Solomon dan menaruhnya di meja. "Makan dulu."

Sang majikan tersenyum. Ia kembali memakan menu makan malamnya dengan tenang.

DRUK!

"Suara apa itu?!" tanya Alibaba was-was. Kedengarannya dari lantai atas. Seperti suara debam keras.

"Aku tidak dengar apa-apa." Ugo berusaha fokus dan menajamkan pendengarannya.

DRUK! DRUK! SRAAAAKKSSH!

Tanpa banyak bicara, Solomon langsung berlari ke kamar Aladdin. Alibaba dan Ugo mengikuti di belakangnya. Di dalam kamar besar itu, tubuh kecil Aladdin terbaring di lantai dengan tubuh terluka dan bersimba darah. Ranjangnya terbalik. Keadaan kamarnya sangat kacau-balau. Rak bukunya jatuh. Gorden dan seprai koyak-koyak dengan bekas panjang dan noda merah gelap. Wallpaper dinding terkelupas oleh bekas parut panjang dimana-mana—bahkan di langit-langit kamar seakan ada seratus ekor harimau yang mengamuk di sana. Kaca jendelanya pecah. Lampu kamar remang dan redup. Solomon dan Alibaba langsung sigap mengecek keadaan Aladdin, sementara Ugo memberdirikan rak buku dan menyingkirkan pecahan kaca. Solomon menelentangkan posisi putranya, lalu mengecek keadaannya.

"Nadinya ada. Tapi dia tidak bernafas," ucapnya tersengal-sengal.

"Ti-tidak mungkin! Kita harus pang-"

Belum selesai kalimat Alibaba, Solomon menempelkan telinganya di dada Aladdin. Wajahnya memucat setelah sepuluh detik berlalu. Alibaba mengambil inisiatif untuk menaruh tangan kirinya di dahi Aladdin lalu menarik dagunya ke bawah dengan lembut menggunakan tangan satunya. Solomon menutup hidung Aladdin dan meniupkan nafas buatan selama dua detik. Lalu dengan satu tangan ditekan-tekannya dada bagian tengah Aladdin sebanyak 30 kali nonstop. Setelah hampir 10 menit melakukan tindakan yang disebut Cardio Pulmo Resuscitation (CPR) tersebut, Alibaba bisa mendengar hembusan nafas bocah 10 tahun itu lagi.

"Syukurlah..." Solomon melenguh lega. Ia menggendong Aladdin dengan lembut ke dalam pelukannya, dan ditidurkannya di kamar lain.

"Apa Aladdin punya riwayat penyakit jantung?" tanya Alibaba bingung.

Solomon menggeleng. "Penyebabnya mungkin syok berat, terhambatnya jalan napas dan lain sebagainya. Yang jelas, kita harus cari tahu siapa yang masuk ke dalam kamar Aladdin tadi."

"Lewat CCTV lagi?"

Solomon mengangguk. Alibaba membantu mengangkutkan kardiogram, infus beserta tiangnya dan tabung oksigen ke dalam kamar baru tersebut. Setelah alat-alat tersebut selesai dipakaikan kembali ke tubuh Aladdin, Alibaba berlutut di sebelah ranjang Aladdin. Ia menatap wajah bocah asuhannya lekat-lekat dan menggenggam tangannya.

"Aladdin, ini aku. Kau bisa dengar aku? Aku dan ayahmu akan mencari cara bagaimana bisa menyembuhkanmu atau—mungkin, mengembalikanmu. Bertahanlah."

Dengan kain lap basah mereka membasuh tubuh Aladdin dan kembali mengobati bekas luka cakar-gigit baru yang kembali muncul tersebut. Saat mengoleskan salep anti infeksi ke tubuh Aladdin, Alibaba melihat bulir-bulir air mata jatuh dari sepasang manik safir Solomon. Tentu saja, orang tua mana yang tidak frustasi melihat keadaan anaknya yang tidak jelas seperti ini. Alibaba melanjutkan pekerjaannya dengan memakaikan Aladdin perban dan mengganti tabung infusnya.

"Apa salahku...?" ratap Solomon. "Kenapa harus Aladdin...?"

Alibaba yang tidak tega mendengar kalimat itu menghampiri majikannya dan mengusap-usap pundak sang dokter spesialis patologi anatomi tersebut. Solomon menatap Alibaba sambil mengulum senyum, dan menghapus air matanya.

"Anda harus kuat..." ucap Alibaba. "Kita akan menyelamatkannya."

"Terima kasih," ucap Solomon sambil memeluk Alibaba singkat. "Kau bisa istirahat. Biar aku yang jaga Aladdin."

TOK! TOK!

Ugo berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang agak aneh. Antara tidak enak hati dan benci. Solomon menghampirinya dan Ugo berbisik satu-dua patah kata.

"Mau bagaimana lagi..." ucap Solomon rendah hati. "Suruh dia masuk."

Alibaba yang penasaran mengikuti langkah Ugo menuju pintu depan. Pria tampan itu membukakan pintu depan dan masuklah seorang pria tinggi dengan rambut pirang panjang berkepang dan ekspresi yang ramah. Disusul dua pria lain yang auranya tidak menyenangkan. Yang satu tinggi kurus dengan rambut keperakan dan sebuah buku besar di tangannya, serta yang satu lagi bertubuh lebih pendek, berambut merah dan memegang alat-alat elektronik yang bentuknya tidak jelas—seperti dirakit sendiri.

"Ah..." Pria pirang berkepang itu menujukan matanya kepada Alibaba. "Tenanglah, aku datang membantu."

"Hah?!" Alibaba terkesiap bingung.

Laki-laki itu menghampirinya dan menempelkan ujung jarinya ke dahi Alibaba. Ia menengadah, seperti menerawang sesuatu yang tidak bisa dilihat. Satu menit kemudian ia melepaskan Alibaba dan mengangguk paham.

"Ini bakal sulit sekali," keluhnya.

"Yunan!"

Solomon berjalan cepat menuruni tangga. Namun, sebelum ayah Aladdin itu mencapai pria yang dipanggilnya Yunan itu, si pria tinggi kurus mencegatnya dan merentangkan tangannya di hadapan Solomon. Ia berkomat-kamit sambil sesekali melirik buku besarnya. Apa yang diucapkannya agak sedikit janggal. Kalimat-kalimat itu bagaikan berasal dari belasan abad yang lalu. Pria itu menurunkan tangannya perlahan dan mundur kembali. Solomon mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap murka pria itu.

"Tahan, Solomon!" Pria pirang berkepang itu menahan Solomon untuk tidak menghajar anak buahnya. "Ja'far hanya membacakan pemberkatan!"

"Persetan! Mau pemberkatan ataupun dunia astral, yang penting anakku kembali!" geramnya.

"Ya, iya... Akan aku usahakan." Pria pirang berkepang tersebut menatap cemas. "Dan sayangnya, akan amat...sangat...sulit..."

"Tunggu!" Alibaba menyela. Seluruh mata tertuju padanya. "Anda siapa? Dan...apakah kalian sudah saling kenal?!"

Pria pirang berkepang itu mendekati Alibaba kembali. Ia merentangkan telapak tangannya di depan Alibaba dan mengatupkannya kembali.

"Namaku dokter Yunan, Alibaba Saluja-san. Doktor ilmu psikiatri, metafisika dan..." Lalu pria itu berjalan mengitari Alibaba. "Spesialis supranatural. Yang disana adalah asistenku, Pastor Ja'far."

Yunan menunjuk pria tinggi kurus dengan buku besar itu. Pastor Ja'far hanya mengangguk pelan. Lalu ia menunjuk asistennya yang lain, pria berambut merah dengan alat elektronik rakitan.

"Dan yang satu lagi adalah mahasiswa jurusan Ilmu Fisika Universitas Harvard, Ren Kouha."

"Anda akan menolong Aladdin?!" tanya Alibaba antusias.

Yunan mengangguk pelan. Lalu memejamkan matanya. "Aku harap aku mampu... Tetapi tidak ada salahnya dicoba."

..

..

Bersambung..

..

..


A/N: Halo... Maaf, semingguan nggak update =w= Ini aku update ulang gegara ada beberapa kata yang lupa ku-edit.. Maaf kalo masih ada yang salaaaah _ _)/

Yaak, di sini nggak tampilan ada muka hantu kecuali si rambut legam ituuu... Mungkin di chap selanjutnya bakalan diungkap namanya. Mungkin kebanyakan sudah tahu siapa, ye (?). Daaan.. Semoga suka slight romance mendadak di sini (?)..

Yoosh, sampe jumpa di chap selanjutnyaaa! *Tutup laptop* #singkat amat A/N-nya!