Lentera di Atas Dahan

Summary: Ada sesuatu yang istimewa dari seorang Aladdin.

Warning: Horror and thrilling contains, AU.

Disclaimer: Magi © Shinobu Ohtaka.

Pairing: AliAla (Slight: AliMor, HakuMor)

Rate: T

..

..

Chapter 5

Awal dari Penyelamatan

..

..

Solomon telah berkali-kali memotret Sheba secara diam-diam. Di semua foto yang ia hasilkan selalu sosok berambut hitam legam, bermata ruby, dan mengenakan selendang putih di bahunya. Jika sosok itu adalah hantu, mengapa Solomon tidak bisa melihatnya kecuali di dalam foto? Bukankah ia bisa melihat dunia astral? Mungkinkah kemampuannya melihat dunia astral berkurang?

Lupakan itu. Yang lebih ia khawatirkan sekarang adalah keselamatan Sheba dan putranya. Ya, putra. Suami-istri itu memiliki anak bernama Aladdin. Bayi itu baru berusia dua bulan setelah lahir dari kandungan Sheba. Rambut dan matanya berwarna biru karena faktor genetik dari Solomon. Hanya saja lebih muda daripada milik ayahnya itu.

Solomon tidak menceritakan apa-apa tentang penampakan di foto itu kepada Sheba walau setahun sudah terlewati. Ia selalu menyangkal bahwa foto tersebut hanya khayalannya. Namun ayah Aladdin itu harus percaya karena buktinya ada pada 100 foto Sheba yang telah ia ambil selama setahun. Setelah itu, ia menghubungi Yunan untuk meminta penjelasan atas sosok ini.

Mendapat penjelasan dari Yunan, ia tak bisa mengelaknya lagi. Ia merasa harus memberitahu Sheba. Harus, karena Shebalah yang merupakan korbannya.

"Eh?" Sepatah kata yang menyiratkan kebingungan telah dilontarkan Sheba. Dalam keadaan duduk di ranjang, istri Solomon itu sedang menggendong Aladdin yang tertidur. Solomon menunggu reaksi Sheba selanjutnya.

"Kenapa baru kasih tahu sekarang?" tanyanya.

Solomon menghela napas dalam-dalam. "Selama ini aku percaya bahwa aku hanya berkhayal. Tapi, 100 foto yang kuambil itu sudah menjadi bukti yang cukup kuat bahwa kau sedang diincar oleh hantu yang bahkan aku sendiri tidak bisa melihatnya."

"Haah..? Bukankah kau sudah menerima kenyataan bahwa dunia astral itu ada dan bisa kau lihat? Nggak aneh, tuh? Kau menerimanya tetapi kau tidak memercayai hantu yang tidak bisa kau lihat."

"Oke, maaf, maaf... Aku hanya tidak mau menerima kenyataan bahwa kau diincar. Apalagi kalau hantu itu bisa membahayakanmu," ungkap Solomon. Sheba tersenyum mendengarnya seraya mendesah. Ia menidurkan Aladdin di ranjangnya.

"Egois."

Hati Solomon bagai ditusuk pedang tajam.

"Berani banget kau memotretku! Kau tahu aku sangat nggak suka difoto!" seru Sheba setengah berbisik, takut Aladdin terbangun. Ia melempar bantal besar ke arah Solomon.

"Maaf, maaf!" Solomon menggunakan tangannya sebagai tameng.

Mereka tidak menyadari bahwa Ugo mengintip di balik celah pintu kamar dengan ekspresi ingin tertawa. "Kalau Sheba melempar panci ke arah Solomon dan Solomon meneriakkan kata 'maaf' berkali-kali, jadilah suami takut istri sungguhan," gumamnya. "Padahal sudah tahu diikuti hantu, masih bisa main lempar-lemparan, ya. Harmonis banget." Ugo pergi meninggalkan suami-istri tersebut.

Saat Sheba dalam keadaan siap melempar bantal ke arah Solomon lagi, ia dikagetkan oleh sesosok figur yang berada di belakang suaminya. Rambut legam, matanya tidak kelihatan karena ia menunduk, dengan selendang satin putih di bahunya. Seringaiannya tampak tidak manusiawi. Sosok itu memegang pisau dan mengarahkannya kepada Solomon.

"S-Solomon! Di belakangmu!" Sontak Sheba melempar bantalnya sekuat tenaga ke arah sosok itu. Tetapi sosok itu segera menghilang, dan Solomonlah yang tertimpa bantal besar dari Sheba. Lemparan istrinya yang cukup kuat itu sanggup membuat Solomon terpental sejauh dua langkah.

"Ukh.. Sheba, ada apa?" tanya Solomon. Saat diperingatkan Sheba, Solomon tidak sempat melirik ke belakang. Ia menyingkirkan bantal besar dari atas tubuhnya.

"Tadi..ada...orang yang...kayak tadi kau deskripsikan itu! Terus...menghilang...dengan pisau..." ucap Sheba. Bulu kuduknya berdiri. "Aku merasakan...firasat buruk..."

Solomon mendekap Sheba dengan lembut. Sheba sedikit terkejut, namun perlahan ia membalas dekapan Solomon yang hangat. Seketika itu, kegelisahannya mulai sirna. Firasat yang ia rasakan tadi sangatlah buruk. Ia takut firasatnya itu benar. Firasat bahwa mereka akan menempuh jalan bahaya yang sangat panjang. Haruskah Aladdin juga menempuhnya? Ia masih...bayi. Anak itu tidak diincar, bukan?

"Jangan khawatir. Aku akan melindungimu, juga Aladdin. Percayalah." Solomon mengusap kepala Sheba dengan pelan. "Aku berjanji."

Sheba merespon dengan anggukan. Ia membuka mulut, namun terdengar suara tangisan dari belakangnya.

"Ooeek!"

Sheba menoleh dan mendapati asal suara tangisan itu dari Aladdin. Ia sempat mengira sosok itu datang menyerang putranya, namun ternyata tidak. Sheba mendesah lega, segera merangkak di ranjang dan menggendong anaknya.

"Ooeek!"

"Perlu kubantu?" tanya Solomon.

"Nggak perlu. Kau fokus saja melindungi kami." Sheba tersenyum, mencoba menidurkan buah hatinya kembali.

"Oh ya, tadi kau mau bilang sesuatu?"

"Ooeek!"

Sheba membalas pertanyaan Solomon dengan senyuman terhangat yang hanya ia tunjukkan kepada suaminya itu. "Terima kasih. Aku mencintaimu."

.

.

.

Master Solomon, Alibaba, Ugo, dan Yunan beserta kedua asistennya kini duduk di sofa ruang tamu. Di atas meja yang dikelilingi sofa-sofa itu, terdapat 3 cangkir rosebud tea dan 3 roti berselai khusus untuk tamu rumah itu. Tampang mereka serius, namun Yunan sedikit santai. Ia menyeruput tehnya. Hujan gerimis mulai turun dari langit.

"Wah. Mewah sekali rumahmu ini, Solomon," ujar Yunan sembari tersenyum.

"Cukup basa-basinya. Langsung ke topik utama, Yunan," kata Solomon sarkastik, sambil melipat tangannya. Ia menatap tajam lawan bicaranya.

"Ucapanmu pedas, ya." Yunan tertawa, lalu air mukanya kembali menjadi serius. "Oke. Langsung ke topik utamanya."

Yunan menjelaskan bahwa Aladdin dibawa pergi ke bagian dunia astral yang terlalu jauh dari tempat ini, yaitu Benua Hitam. Di sana, Aladdin ditawan oleh iblis. Iblis ini sama dengan sosok yang selalu mengikuti Sheba. Mendengarnya, Solomon mengepalkan tangannya.

Alibaba teringat dengan cerita Master Solomon, bahwa ia berjanji akan melindungi istrinya dan anaknya. Tidak heran keadaan ayah Aladdin sekarang seperti itu. Ia tahu, Master Solomon akan menepati janjinya bagaimanapun caranya. Sekarang Sheba telah meninggal. Namun, melindungi orang yang telah meninggal tidak ada salahnya juga, bukan? Lagipula, Sheba tidak meninggalkan Solomon sepenuhnya.

Cerita Master Solomon sebenarnya tidak sampai usai Solomon menikahi Sheba. Sosok berambut legam itu selalu menghantui keluarga Abraham. Berkali-kali, kejadian janggal mengerikan terjadi, seperti yang dialami Alibaba. Karena Solomon telah putus asa, ia menghubungi Yunan kembali. Yunan yang saat itu sibuk hanya mengirim Ja'far ke rumah itu. Ja'far menyampaikan pesan dari Yunan untuk Sheba yang masih belum tahu penjelasan yang diterima Solomon. Ugo yang mendengarnya juga berusaha mencerna baik-baik penjelasan Ja'far.

Sosok bermata ruby itu adalah semacam iblis parasit yang tercipta dari rukh hitam yang ingin mempunyai raga manusia sehingga kekuatannya menjadi lebih besar. Rukh hitam terlahir dari jiwa yang meninggalkan tubuh dengan perasaan kebencian, dendam, dan perasaan negatif lainnya. Iblis itu mengikuti Sheba karena Sheba adalah orang yang dapat masuk maupun keluar dari dunia astral dengan bebas. Istri Solomon itu merupakan manusia yang paling mudah diambil raganya.

Ja'far mengucapkan pemberkatan dan beberapa ritual eksorsisme setelah mendapat izin dari Solomon dan Sheba. Hal itu menghilangkan kemampuan Sheba yang bisa menjelajah dunia astral juga kemampuan Solomon yang bisa melihat dunia astral. Kemampuan langka itu dihilangkan demi keselamatan mereka. Jika mereka tidak selamat, siapakah yang melindungi Aladdin? (Ugo di luar perhitungan karena ia tak bisa melakukan apa-apa terhadap mahkluk dunia astral)

Tunggu. Mengapa kemampuan Aladdin yang dapat menjelajah dan melihat dunia astral tidak dihilangkan?

Alibaba mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mungkin pertanyaan itu sudah telat untuk ditanyakan, karena yang terpenting sekarang ini adalah Aladdin harus kembali ke dunia nyata. Mereka tidak mungkin mengucapkan mantera supaya kemampuan Aladdin menjelajah dan melihat dunia astral dihapuskan saat jiwanya tidak ada di dalam tubuh jasmaninya, bukan?

"Jadi, cara untuk menolong Aladdin hanya pergi ke dunia astral." Yunan menyelesaikan penjelasannya.

"Kalau menyalakan lentera lagi, apa Aladdin tetap tidak bisa kembali?" tanya Alibaba.

"Tidak, baka. Dia ditawan iblis. Kau tahu iblis? Iblis parasit macam begitu nggak mungkin membiarkan mangsanya pergi kalau sudah mendapatkannya, apalagi kalau jalan dunia nyata ke dunia astral sudah terbuka. Malah tambah nggak dibiarin pergi," ketus Ren Kouha.

"Ah, maaf.." lirih Alibaba. Ia tampak menyadari sesuatu. "Ren...Kouha.. Ren? Anda satu keluarga dengan Hakuryuu?"

"Eh? Kenal Hakuryuu, ya? Kami sepupu kandung," jawab Kouha. "Meski aku tidak mau jadi sepupu si cengeng itu."

Master Solomon yang serius itu menajamkan tatapannya kepada Kouha. Kouha yang menyadarinya ikut menajamkan tatapannya terhadap lawannya. Kemudian mata Solomon tertuju kepada Alibaba.

"Jangan mengalihkan pembicaraan."

"I-Iya.." Alibaba menunduk, sedikit merinding.

"Jadi, bagaimana caranya kita pergi ke dunia astral?" tanya Solomon.

"Buru-buru sekali. Ini lagi hujan, lho." Yunan menunjuk ke arah jendela yang tirainya terbuka dengan jempolnya. "Akses ke dunia astral tertutup."

"Aku tahu. Kau pikir aku tidak punya mata? Cepat beri tahu, biar jadi persiapan kita saat hujannya telah berhenti."

"Bahasnya nanti saja."

"Yunan!"

"Anda harus menenangkan diri, Tuan," tutur Ja'far. "Kegelisahan Anda bisa mengganggu siapa saja dalam upaya kita menyelamatkan putra Anda."

"Dia benar, Master Solomon." Ugo mengiyakan. "Sampai kau tenang, Yunan-sensei tidak akan bisa melanjutkan penjelasannya."

"..Tsk! Aku mau istirahat." Solomon beranjak dari sofanya dan naik ke lantai dua.

"Dia bilang mau istirahat, tapi kayaknya pergi ke kamar Aladdin, ya.." gumam Alibaba.

"Yap. Dari dulu ia mudah khawatir kalau urusan keluarga dan ingin masalah cepat selesai," ucap Ugo.

"Kami memaklumi itu." Yunan tersenyum. "Kouha, kau juga, kan?"

"Iya, iya!" Kouha melipat tangan di belakang kepala dan memposisikan punggung kakinya di lutut kaki lainnya.

"Anu.. Kalian yakin kita tidak terlalu santai?" tanya Alibaba. Ia ragu, apa tidak apa-apa santai seperti ini.

"Tidak terlalu santai, kok. Sikap santai itu penting, agar tidak kaget dengan apapun yang terjadi," kata Yunan.

Alibaba mengangguk pelan. Dinasihati seperti itu, tetap saja ia merasa sulit untuk santai. Kekhawatiran Master Solomon seakan adalah kesalahannya. Ia tidak dapat menjaga Aladdin dengan baik. Ayah Aladdin menjadi khawatir seperti ini karenanya.

Bukan begitu?

Tanpa disadarinya Ugo mengusap kepala Alibaba pelan."Alibaba-kun, kau sudah berusaha yang kau bisa. Kekhawatiran Solomon itu bukan salahmu. Santai saja, oke?"

"Iya.." lirih perawat berambut pirang itu.

"Nah, Yunan-sensei, Kouha-san, Ja'far-san... Saya antar ke kamar yang telah kami sediakan." Ugo mengantar ketiga tamu itu ke dalam kamar mereka yang tidak jauh dari ruang tamu. Kamar tersebut tidak jauh beda dengan kamar Alibaba, hanya saja ranjangnya lebih besar.

Alibaba masih bergeming dalam posisinya. Ia merenung kembali semua kejadian yang ia alami setelah tiba di rumah keluarga Abraham. Tak ada yang menyangka ia akan terlibat dalam masalah gaib seperti ini. Ia hanya perawat di Saint Guineford. Hanya perawat. Tidak ada yang mengira seorang perawat akan menghadapi hal yang tidak bisa disembuhkan dengan obat dan perawatan seperti peristiwa ini.

Tiba-tiba ponsel Alibaba berdering di dalam sakunya. Pemilik ponsel tersebut segera merogoh sakunya dan melihat layarnya.

Dari Morgiana. Alibaba mengangkatnya.

"Halo, Mor?"

"Alibaba-san! Terdengar suara dari speaker. "Aah..anu-"

"GYAAAAAA!" Perawat itu menjerit ketika menyadari ada sepotong kepala manusia yang jatuh dari langit-langit. Disusul mayat-mayat yang telah kehilangan salah satu anggota tubuh bergelimpangan di sekitar ruang tamu. Asalnya mendadak muncul dari langit-langit. Ada seseorang membawa kapak dengan jubah kelabu lusuh, menebas kepala salah satu mayat menjadi dua secara asimetris. Saat ia menoleh ke arah Alibaba, terlihat sebuah wajah. Di mata hantu itu, pupilnya tidak tampak. Bibirnya menyunggingkan seringaian haus darah, seakan mengatakan 'Kau selanjutnya.'

Perawat itu menjatuhkan ponselnya ketika merasa ada yang mencengkeram kaki Alibaba hingga berdarah. Alibaba menoleh ke bawah, mendapati mayatlah yang mencengkeram kakinya. Mayat tersebut kehilangan kakinya, mungkin karena tebasan. Hantu yang membawa kapak perlahan mendekati Alibaba dengan terhuyung-huyung.

Mayat-mayat lain merayap ke arah Alibaba, meninggalkan bekas darah di lantai. Pemuda berambut pirang itu mencoba melepas kakinya, tetapi percuma saja. Cengkeramannya terlalu kuat. Saat Alibaba ingin menginjak tangan mayat itu dengan kaki yang masih terbebas, kepala mayat itu menggigit Alibaba hingga menembus kulitnya. Alibaba berteriak keras seiring datangnya mayat-mayat lain menggigit dan mencakar Alibaba.

"TOLOONG! YUNAN-SENSEI, MASTER SOLOMON! SIAPA SAJA!"

Hantu yang membawa kapak kini berada di hadapan Alibaba dan mengarahkan senjatanya ke arah perawat berambut pirang itu. Kapak itu mengenai lengan Alibaba, namun tidak sampai menebas putus lengannya. Ia mengangkat kembali kapaknya dan tampaklah luka yang mirip luka goresan dalam. Hantu tersebut melakukannya berulang-ulang.

Naik dan turun.

Naik dan turun.

Goresan yang tercipta makin banyak beriring dengan mayat-mayat yang menggigiti dan mencakari tubuh Alibaba.

Semuanya berlangsung begitu cepat hingga Alibaba tak sadarkan diri lagi.

.

.

.

Alibaba merasa pusing. Semuanya gelap.

Ia teringat kejadian tadi. Mengerikan. Mayat-mayat itu ada yang kehilangan salah satu matanya. Ada juga yang kelihatan organ dalam tubuhnya. Ada yang tidak lagi berbentuk manusia, melainkan cuma seonggok tangan atau gigi yang menggeliut-geliut mencari otot hidup dan darah yang masih berdenyar.

Alibaba mencoba menggerakkan tangannya, namun tidak bisa. Ia sama sekali tidak merasakan satu anggota tubuh pun. Ia tidak dapat merasakan matanya, napasnya, kakinya, semuanya.

Apakah ia sudah meninggal?

Saat Alibaba ingin memikirkan apa saja yang ia belum lakukan saat ia masih hidup, mendadak ia mendengar suara seseorang.

"..ba-kun!"

"Aliba-"

"Alibaba-kun!"

Suara Aladdin. Aladdin memanggil Alibaba.

"Alibaba-kun! Bangun!"

Alibaba bertanya-tanya dalam dirinya. Apa itu suara Aladdin yang berasal dari dunia astral atau ia sudah kembali ke dunia nyata? Ia ingin mengeluarkan suara, tetapi tidak bisa.

"Bangun!"

Alibaba mendadak mampu membuka matanya. Sinar lampu yang mendadak masuk ke dalam mata memaksa Alibaba untuk menutup matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah terbiasa dengan sinar itu, perawat itu melihat ke arah lain.

Krieet!

Alibaba mendengar suara pintu terbuka. Kepalanya agak sulit digerakkan.

"Alibaba Saluja-san, jangan paksakan diri untuk bergerak.." Itu suara Yunan. Alibaba tak dapat menjawabnya. Suaranya sulit untuk dikeluarkan.

"..Atau bersuara. Kami menemukanmu di ruang tamu dalam keadaan banyak luka goresan, cakaran, dan gigitan manusia. Banyak bekas darah di sana." Suara Yunan terasa semakin dekat. Manik amber Alibaba akhirnya dapat melihat Yunan berdiri di sebelahnya.

"Kau pingsan selama satu hari. Solomon dan Ugo juga sempat diteror hantu-hantu, tapi tidak separah kau. Anehnya, kami sama sekali tidak diteror, bukan? ..Untuk saat ini."

Hening sesaat. Alibaba ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa. Tiba-tiba, pintu terbuka lagi.

"Nih, ponselmu, Pirang. Kau dicariin yang namanya Morgiana, tuh." Suara Ren Kouha.

"Alibaba-san! Alibaba-san..!" Terdengar suara Morgiana berteriak cemas. Sepertinya Kouha telah menyalakan loud speaker.

"Tenang, Nona. Ia tidak dapat mengeluarkan suaranya," jawab Yunan.

"Eeh?!" Setelah itu, tidak lagi terdengar suara dari ponsel Alibaba, menandakan teleponnya telah terputus.

Tak lama kemudian, ponsel Alibaba berdering. Kouha langsung mematikannya.

"Nona itu menggunakan video call?"

"Iya. Aku nggak mau dia lihat keadaan si Pirang dalam keadaan seperti ini."

Alibaba terbaring di ranjang dalam keadaan banyak perban di sekujur tubuhnya. Bahkan di sekitar leher dan dahinya juga tertempel perban.

"Mengenaskan!" komentar Kouha sambil tersenyum jahat. Posisi wajahnya agak diangkat ke atas dan matanya memandang rendah Alibaba.

"..Jahat."

Ketiganya tertegun. Alibaba dapat mengeluarkan suaranya.

Yunan menatap Kouha. "Kau menyembuhkannya?"

Lawan bicaranya menggeleng dengan cepat. "Yah, biarlah.. Hanya saja, Aku tak menduga 'jahat' adalah kata yang pertama kali keluar dari Alibaba setelah sakit parah."

Ponsel Alibaba berdering lagi. Kali ini Kouha mengangkatnya dan langsung menyalakan loud speaker. "Maaf, kenapa tadi dimatikan?"

"Kau nggak akan rela melihat pacarmu dalam keadaan seperti ini, Non. Suaranya bisa keluar sudah, tuh."

"Mor..." lirih Alibaba. Kouha mendekatkan ponsel ke pemiliknya.

"Alibaba-san! Kau tidak apa-apa?!"

"...Aku tidak bisa bilang aku tidak apa-apa.." jawab Alibaba jujur.

"Alibaba-san, kau terlibat apa hingga kau terluka parah?"

"..Ceritanya panjang..."

"Baiklah, Alibaba-san. Tolong hubungi aku segera setelah sembuh total... Cepat sembuh, ya." Terdengar suara Morgiana yang lega. "Setidaknya suaramu masih ada."

"I..ya..." Sambungan telepon terputus. Meskipun Alibaba dapat mendengar suara Morgiana yang menunjukkan kelegaan, ia percaya kekasihnya itu tetap khawatir. Terakhir kali Morgiana mendengar suaranya kemarin, suara yang didengar adalah teriakan. Pacar mana yang tidak panik mendengar teriakan mendadak seperti itu?

"Keputusan yang baik. Ia mendahulukan kau beristirahat daripada meminta dirimu memberi kabar," kata Kouha.

Alibaba merasa mendengar suara hujan dari luar. Hujan gerimis. Ia mengernyitkan alisnya. "Masih hujan?"

"Iya, sampai sekarang. Aku tidak tahu kenapa," jawab Yunan. "Tapi ini memang pengaruh alam, kok. Bukan hantu yang membuat hujan."

"..Master Solomon... Bagaimana?"

"Iya. Kemarin malam sudah agak tenang." Yunan menjawab lagi. "Sekarang sudah sore. Tubuhmu masih sulit digerakkan. Kau tidak keberatan untuk tidak makan dulu?"

"...Iya." Alibaba mendesah pasrah.

.

.

.

Solomon hanya memerhatikan dari balkon lantai dua apa yang dilakukan dua tamu yang tidak diundangnya secara langsung itu. Yunan masih memeriksa keadaan Alibaba sementara Ugo menjaga Aladdin. Solomon menatap bosan Ren Kouha yang mondar-mandir memotret setiap sudut rumahnya dengan kamera digital rakitan. Sang tuan rumah hanya duduk bersila di atas sofa sambil menopang dagu. Ja'far melakukan sesuatu yang lebih waras meski tetap tidak kelihatan masuk akal: ia berkomat-kamit dalam bahasa yang tidak dimengerti Solomon, lebih kepada dirinya dan Tuhan. Hujan sudah mulai reda, dan insiden dimana Alibaba diserang oleh makhluk astral tempo hari lalu seakan menampar Yunan akan suatu fakta yang jarang sekali ia temukan kasusnya.

"Besar kemungkinan, iblis itu ada dirumah ini. Jika ia sudah bisa menembus batas antara alam kita dan alam astral, hujan sudah tidak berpengaruh lagi." Yunan berkata dengan resah kepada Solomon. "Akan sangat berbahaya jika ada sesosok makhluk astral yang bisa menembus alam kita. Cepat atau lambat, batas itu akan didatangi makhluk lain dan keadaan akan semakin tidak terkendali."

Solomon hanya bisa mendengus kesal. Kesal karena Yunan tidak membolehkannya pergi ke alam astral untuk menolong Aladdin. Kesal karena Yunan tidak mau membagi informasi apa-apa, kecuali pada Alibaba dan Ugo. Kesal karena...

...sesosok anak perempuan kecil berlarian di hadapannya. Rambutnya merah sebahu, kedua matanya berbinar bahagia. Solomon terperanjat melihat sosok itu. Itu adalah...

"Sheba?!"

Anak perempuan itu menoleh. Namun, ia kembali berlari menaiki tangga dan kemudian hilang. Solomon menggosok-gosokkan matanya berulang kali. Tetapi kali ini sosok Ja'far-lah yang datang menghampirinya.

"Ada masalah, dokter Abraham?" tanyanya.

"Barusan..."

"Anda melihat sosok istri Anda...ketika kecil?"

Solomon mengangguk. Ja'far duduk di sebelah Solomon sambil mendesah lelah.

"Alam astral itu luas sekali, dokter Abraham. Anda hanya bisa melihat, tetapi tidak bisa menjelajahi. Sebenarnya, isi dari dunia astral itu tidak hanya makhluk ghaib atau rukh, atau iblis yang sedang kita cari."

Solomon berjalan menuju kamar Aladdin. Ja'far masih mengikutinya.

"Ada suatu istilah, yang dinamakan 'memori benda mati'. Istilah untuk suatu paham yang mengatakan kalau sebuah benda mati bisa menyimpan memori kejadian dengan baik, seperti layaknya otak manusia."

Solomon mengusap rambut Aladdin. Bocah itu kelihatan seperti terlelap dengan pulas.

"Terkadang, memori benda mati juga tersimpan di sini." Ja'far mengetuk kepalanya sendiri. "Orang hipnoterapi seperti dokter Yunan menyebutnya 'alam bawah sadar'. Itulah batas sesungguhnya antara alam astral dan alam dunia nyata."

Solomon menatap Ja'far dengan pandangan bingung. "Ocehanmu tidak menjelaskan kenapa Aladdin tidak kembali."

"Dokter Abraham..." Ja'far tersenyum. "Terkadang, untuk menghadapi dunia astral kita harus tabah dan rendah hati. Benar-benar tabah dan rendah hati."

Solomon mendengus.

"...Payah..."

Pupil mata Solomon menyempit. Di pinggir jendela, ia bisa melihat sosok Sheba, dalam seragam SMA-nya yang selalu membuatnya kelihatan manis. Kedua bola matanya menatap Solomon dengan pandangan marah.

"Kenapa kau malah cuma bengong-bengong saja melihat anakmu diculik di alam lain!?"

"Aku..." gumam Solomon. Ja'far langsung duduk menegak.

"Selamatkan anak kita, Solomon! Buktikan kalau kau sanggup melindungiku dan anak kita!"

Lalu sosok Sheba menghilang. Solomon berdiri, mencari ke setiap sudut seakan Sheba sedang bersembunyi. Namun hasilnya nihil. Solomon hanya menemukan Ja'far dan Aladdin. Tidak ada sosok lain.

"Tabah dan rendah hati..." ujar Solomon. "Tunjukkan apa yang bisa aku lakukan!"

.

.

.

"Mediator?"

Alibaba, Ugo dan Solomon saling bertatapan. Yunan tersenyum tipis dan menyiapkan sebuah metronom dan sebuah senter. Juga tak lupa sebuah telepon benang yang dibuat dari dua buah kaleng dan seutas benang. Ja'far dan Ren Kouha berjaga di bawah.

"Iya. Salah satu di antara kalian akan pergi ke dunia astral. Yang pergi ke sana akan kita sebut mediator. Sementara, kita butuh seseorang yang menjadi instructor. Tugasnya membimbing mediator. Sisanya akan berjaga." Yunan menjelaskan.

"Aku akan pergi!" kata Solomon mantap.

"Yakin?" tanya Yunan bimbang.

"Aku saja." Alibaba mengajukan diri. "Aku pengasuhnya. Aku yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini."

"Tapi aku ayahnya!" bantah Solomon. "Biar aku yang pergi, Yunan."

"Tidak bisa kalau mereka berdua?" tanya Ugo.

"Aku hanya bisa mengirim satu." keluh Yunan. "Dan yang bisa menjadi mediator harus orang yang mampu melawan keinginan untuk bangun."

Baik Solomon maupun Alibaba saling menatap.

"Karena, proses menjadi mediator agak sedikit tidak nyaman." jelas Yunan lagi. "Dan dalam setiap proses itu, sebagian besar orang pasti akan terbangun, baik sengaja atau tidak."

"Biar kucoba." Solomon bersikeras. Alibaba mengalah.

Yunan memberikan sebuah senter, dan ujung telepon benang kepada Solomon. Sang dokter tampan itu didudukkan dengan nyaman di sofa panjang kamar Aladdin, hampir setengah berbaring dan Yunan mulai menyalakan metronom.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

"Pejamkan matamu. Dengarkan terus metronomnya. Buat dirimu senyaman dan sedamai mungkin."

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Solomon mulai merasa mengantuk. Ia melihat kabut di sekitarnya. Dan hawa gelap yang tidak nyaman.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak.

DUEEESSHH!

Solomon terperanjat. Ia melihat Ugo memukul sebuah wajan dengan sudip kayu. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Solomon memelototinya dengan pandangan yang seakan mengatakan 'apa-yang-kau-perbuat?'

"Kau gagal, Solomon. Pada tahap akhir, konsentrasimu ter-distract. Padahal, kalau berhasil menjadi mediator kau tidak akan terbangun jika tanpa sugesti dariku." terang Yunan.

"Tapi...Ugo tadi..."

"Aku yang menyuruhnya," potong Yunan. "Maafkan aku, Solomon. Tetapi begitulah prosesnya. Mari kita coba dengan Alibaba."

Yunan melihat ke arah Alibaba. Pemuda pirang itu mengangguk, memposisikan dirinya setengah berbaring di sofa panjang tersebut. kemudian ia memejamkan mata, membiarkan dirinya dibuai rasa kantung yang cukup dalam.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

"...kun..."

Solomon menegakkan punggungnya. Yunan tersenyum kepada Solomon dan memberikan ujung telepon benang yang lain kepadanya. Alibaba semakin terlihat rileks dan tenang seiring dengan gerakan metronom yang teratur. Ugo melihat cairan infus Aladdin bergoyang sedikit, seakan ada getaran halus yang terjadi di ruangan tersebut. Yunan masih duduk dengan tenang, tidak berbicara ataupun bergerak. Suasana hening dengan suara ketukan metronom dan langkah kaki Solomon yang sesekali mondar-mandir untuk menghilangkan keresahan.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik. Tak. Tik.

Tak. Tik. Tak.

Tik.

Metronom itu berhenti dengan sendirinya. Solomon merasa ada semacam kejutan listrik di tulang punggungnya. Ia buru-buru memeriksa keadaan Alibaba. Mengecek nafas dan nadinya. Semuanya kelihatan sama. Ia seperti tertidur. Namun hati nurani Solomon berkata lain. Ia merasakan bahwa Alibaba tak lagi disana.

"Kau merasakannya?" tanya Yunan. "Alibaba-kun sudah meninggalkan raganya, menuju dunia astral. Ugo?"

DUESH!

Mata biru Solomon melebar. Alibaba tidak terbangung sama sekali. Ugo bahkan memukul wajan itu berkali-kali. Namun Alibaba tetap tidak terbangun.

"Selamat, instructor," kata Yunan singkat. Ia menyematkan sebuah senter di tangan Alibaba yang lain. "Kau bisa membantu Alibaba di alam astral dengan telingamu."

"Dan apa yang terjadi jika...kau tahu? Iblis itu tiba-tiba menyerang?" tanya Ugo frustasi.

"Oh, jangan takut." Yunan menggeleng bahagia. "Untuk itulah aku punya asisten.

.

.

.

Kouha berjalan perlahan. Membidik piano di dekat kamar tidur Solomon dalam fokus lensanya dan memotretnya mode pertama.

KLIK

Nihil. Hasilnya tetap sebuah piano.

Mode kedua. Layar merah.

KLIK.

Nihil.

Mode ketiga. Layar kuning.

KLIK.

...

Kouha menjerit kecil. Ia melihat seorang gadis muda berambut ikal madu yang duduk di sana. Rongga matanya kosong, menatap Kouha dengan pandangan tidak suka dalam foto tersebut. Namun ketika Kouha menatap piano itu dengan mata telanjang, tidak ada siapa-siapa di sana.

Kosong.

"Hey Ja'far...kurasa kau harus lihat ini...

Ren Kouha berlari turun ketika ia tidak mendapat jawaban apa-apa dari Ja'far. Detik berikutnya ia menjerit, kali ini lebih keras karena ia menemukan Ja'far tidak sadarkan diri dengan kepala berdarah.

..

..

Bersambung..

..

..


Yoo! xD Haai! Setelah sekian lama aku nggak update ini fic, akhirnya setelah selesai UAS...! Tapi maaf, kata-katanya lebih dikit dibandingkan yang chapter-chapter lalu ;w; Makasih review-review-nya, yaa!

Seperti biasa, terima kasih telah membaca fic ini hingga huruf terakhirnya. Tinggalkan pujian, saran, kritik, flame, atau pendapat, yee! We'll really appreciate it ^^ Bye-bee! Sampe jumpa di chappy selanjutnya, riders (bahasa rock-nya readers buatan author (?))! *matikan TV* #lho