Qtalita..

Wonkyu Story

A sekuel of CHOCO RAINING (Still Based on true Story)

Enjoy it..

.

.

.

.

.

03 December 2013

Tring..

Aku tersenyum sambil menyerahkan 2 lembar uang kertas dengan 1 struk kepada seorang yeoja paruh baya bersama anaknya yang kuperkirakan seumuran denganku.

"Kau bekerja disini nak?"

Aku menggeleng, masih dengan senyuman dibibir

"Tidak juga, hanya mengisi waktu luang, Oh anda ingin Cookies special café kami?"

Aku menawarkan selembar menu baru dari café, sebuah Cookies Coklat berukuran besar dengan taburan kacang mete di atasnya, ia menggeleng.

"Lain kali saja nak" Senyumnya, aku hanya mengangguk sopan. Mataku mengiringi langkahnya hingga ke pintu utama. Aku mendesah sedikit kecewa, Cookies yang aku perkirakan akan laris malah belum tersentuh pemesan sedikitpun.

"Sudahlah Kyu, tenang saja sebentar lagi Cookies kita pasti akan laris, kita baru buka setengah hari bukan? Masih ada beberapa jam hingga namja bodoh di depan pintu itu membalik kata 'open' menjadi 'closed' " Hyukkie salah satu sahabat sekaligus waiters menunjuk namja yang dengan polosnya melambai-lambai bahagia padanya. Lee Donghae, waiters yang hari ini bertugas sebagai 'penjaga' pintu.

Aku menggeleng-geleng bingung, bagaimana bisa seorang Lee Donghae jatuh pada pesona Lee Hyukjae yang terkenal cerewet dan sangat galak itu? Kasihan.

"Hai Kyu, bagaimana dengan Si penguntitmu yang kau ceritakan tadi malam?"

Aku mengernyit, Donghae berdiri di depan meja kasir sekarang, ya tepat di depanku.

"Oh ayolah Kyu, sedang tidak ada pelanggan kok, ceritakan" Donghae memohon, namja satu ini terlihat seperti anak kecil yang dibuang ibunya.

"Well, he's dissapear now, and i'm feel safe" Bohongku, Ya jika kata 'menghilang' bisa menjadi sebuah kebenaran untuk waktu ini, tapi kata 'aman' sangatlah bohong. Aku malah merasa semakin gelisah jika Si Penguntit itu tidak menampakkan batang hidungnya.

"Really?"

Aku hanya mengangguk pelan, tidak yakin Kyu? Eum mungkin.

"Tapi dia sangat tampan menurutku"

Hyukkie lewat di belakangku dengan sekeranjang buah-buahan segar bahan untuk membuat jus, aku tersenyum. Sementara Donghae menggerutu.

"Aku jauh lebih tampan Hyukkie chagi"

"Dalam mimpimu" Hyukkie menjawab lirih di telan dinding pemisah dapur.

"Aku mendengarnya, aku mendengarnya" Donghae berseru membuatku tertawa, pasangan aneh. Aku kembali focus pada tatapan Donghae yang meminta penjelasan.

"Apa?" Tanyaku, Donghae menyeringai

"Aku melihatmu sangat menikmati waktu bersamanya kemarin"

Aku terkesiap, Ugh. Aku harus menjawab apa? Kuakui aku memang cukup terkesan dengan sikap Siwon, hanya sedikit. Yah serius.

"Hhhh, kembalilah bekerja Hae hyung" Aku membalikkan badan, berpura-pura tengah sibuk dengan campuran kopi.

"Kau mengalihkan Kyu, ingat? Aku ini sahabat Yunho, kakakmu"

"Maaf Tuan Lee Donghae, aku hanya kasir disini" Aku menunjuk nametag ku, yang jelas-jelas tertulis CASHIER walaupun tanpa nama.

Ia menyeringai.

"kasir yang mempekerjakan kami begitu?"

Aku memutar bola mataku jengah.

"Hushh..hushhh.."

AKu mengusirnya layaknya mengusir anak anjing, ia cemberut tapi tetap melangkah juga. Mianhe.

…..

Aku masih berdiri di balik meja kasir, memandang keluar, hujan kembali jatuh. Kualihkan pandanganku ke ponsel sambil bersandar pada mesin pembuat kopi.

Gemerincing lonceng tidak membuatku bergeming, toh ada Hae hyung disana, lagipula tugasku hanya sebagai kasir, tugas paling akhir. Aku kembali berkutat pada ponselku, membaca ulang pesan sahabatku.

"Selamat sore Sajangnim"

Deg

Suara itu, aku sontak menengadah, hal pertama yang aku lihat adalah sebuah senyuman tampan yang terpahat rahang tegas disana.

"Sore"

"Kau? Kasir?"

"Yeah, mengisi waktu luang, wae?"

Siwon, namja itu menggeleng, aku memperhatikan penampilannya kini, eh, ada yang berbeda, jika kemarin ia berpenampilan kasual layaknya namja muda, kini ia mengenakan setelan berwarna hitam dengan kemeja biru langit di dalamnya.

"Kau? Bekerja?"

Ia mengendikkan bahu, ikut masuk ke balik meja kasir dan sekarang berdiri di sampingku, ia melepas jas nya, menyampirkannya dan sebagai pengganti ia menarik sebuah apron hitam dengan sulaman benang emas berbentuk huruf TX di dada kirinya.

"Tadi, sekarang aku hanya kasir"

Aku terkekeh, namja Choi ini benar-benar aneh menurutku. Kini Siwon sibuk mengenakan apron hitamnya, lengan kemejanya ia tarik hingga siku, dasinya juga ia lepas beserta 2 kancing teratasnya. Cool? Yeah.. hanya orang yang tidak memiliki mata yang menganggap Siwon tidak memiliki kesan tersendiri, he's almost perfect!

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Kau.."

"Sejak kapan?"

"Sejak aku mengenakan apron bertanda TX ini dan kau hanya diam melamun memandangku"

Damn! Siwon selalu saja menang.

"Aku tidak memandangmu"

"Hu'uh dan kau bukan seorang pembohong Kyu"

"Kau tahu darimana?"

"A know everything"

Aku kembali bergidik, cara Siwon mengatakannya memang biasa hanya saja aku mengingat perkataan sahabatku untuk tetap waspada, kalau saja Namja Choi ini benar-benar seorang psicopath.

"Lalu, bagaimana harimu tuan Cho?"

Aku meletakkan ponselku di laci, lalu sibuk mencampur serbuk kopi dan kayu manis.

"Biasa saja, kau mau minum apa? Dan berhenti memanggilku 'Tuan Cho' it's disgusting" aku membuat mimik ingin muntah, Siwon malah tertawa.

"Coffee latte with mint ball.. eum sepertinya ini enak" Siwon sibuk memperhatikan deretan menu.

"Dan wow, menu baru? Cookies?" Lanjutnya, ia kini berdiri di sampingku yang sedang menyeduh kopi, asapnya mengepul dan aku selalu suka sensasinya.

"kau mau coba?"

"Kau yang buat?"

Aku menggeleng.

"Aku sedikit bodoh dalam meracik bahan, hanya saja ide awal dariku"

Siwon tampak menimbang sesuatu.

"Tidak ada racunnya bukan?"

AKu tertawa, wajah Siwon benar-benar serius saat mengatakan 'racun'

"Motif apa hingga aku meracuni pelangganku?"

"Pelangganmu mungkin tidak tapi aku?"

"Kau?"

"Aku seorang penguntit, mungkin kau masih dendam dan berniat membunuhku"

Aku semakin tertawa keras, Donghae yang sedari tadi berusaha menguping memicingkan matanya seakan mengatakan –kubilang juga apa kyu, kau menikmatinya-

"Aku tidak sebodoh itu tuan Choi"

"Lalu?"

"Pesanlah secepatnya, karena Ahli dapurku bisa membunuhmu lebih kejam dari sekedar diracuni"

Ia terkekeh, memunculkan dimple dipipinya.

"Baiklah, aku pesan 2"

"dua?"

"Aku tidak ingin mati sendirian, kau harus ikut"

Entah kenapa kata-kata terakhirnya yang terdengar menakutkan malah membuat pipiku merona, hell ada apa ini? Aku malah tersenyum tipis, Siwon memang seorang penguntit, penguntitku, tapi dia juga menampilkan kesan kekanakan dan romantic dalam waktu bersamaan.

"Aku jamin kau tidak akan mati karena Cookies ku"

Aku melayang-layangkan lembar menu pesanannya dan berlalu masuk kea rah dapur, dimana Seorang Hyukkie tengah sibuk dengan eksperimen-eksperimen barunya, Hyukkie sempat menodongku dengan ribuan pertanyaan, namun hanya kujawab sekilas dengan senyuman dan isyarat agar bisa kuceritakan nanti.

"Voila, ini pesananmu tuan" Aku emnyodorkan secangkir coffe latte di hadapannya.

"Cookies ku?"

"Tidak ada sim salabim yang bisa memunculkannya secepat yang kau mau Siwon"

Siwon mendengus dan menyeruput Coffee latte dengan aroma mint, ia tampak menikmati dengan memejamkan matanya.

"Kau tahu, aku coffee addict"

"Dan kau tahu, aku tidak terlalu mengenalmu"

Siwon terkekeh, meletakkan coffee lattenya saat seorang yeoja berdiri manis di depannya. Siwon bergerak cepat, menekan pesanan dan menghitung jumlahnya.

"Wow, selamat menikmati akhir harimu manis"

Yeoja yang sedari tadi hanya memandangi Siwon sedikit tersentak lalu tersipu malu.

"Kau bekerja disini? Hm, seharusnya aku tahu dari awal jadi aku bisa sering datang"

Siwon tersenyum, dan membuat sang yeoja semakin tersipu.

"Namjachinguku pemilik café ini"

"Yak!"

Aku mengerang, memukul bahunya.

"Oh ya? Kalau begitu selamat ne, dan sampai jumpa lain waktu" Yeoja berambut sebahu itu mengernyitkan dahinya, ia tampak kecewa meninggalkan aku yang menyumpah serapahi Siwon.

"Hei, waeyo? Aku hanya menyelamatkan diri dari amukan yeoja tadi" Siwon membela sambil mengusap bahunya yang terkena pukulanku.

"Dan pukulanmu sangat keras" Lanjutnya.

"Tapi kau juga tidak perlu menyeretku"

"Lalu aku harus menyebut nama siapa? Penjaga pintu itu?"

Donghae sontak berbalik dengan mata melotot saat suara Siwon terdengar sedikit keras.

"Ck, kau membuatku bermasalah"

"AKu suka itu"

"Mwo?"

"Aku suka Coffee lattee"

Sisa 2 jam sebelum café ditutup, pengunjung berada dalam puncak ramainya, Hae hyung nyaris tidak berhenti tersenyum saat pelanggan keluar masuk café, Hyukkie juga sedang sangat sibuk dibantu 2 waiters ahli dapur lainnya, sementara aku berjalan mondar mandir dari meja satu ke meja yang lain membantu Jae noona, tunangan Yunho hyung yang juga bekerja di café ini menawarkan menu, Kasir? Ya tentu saja Namja Choi itu menebar pesonanya disana, keringat terlihat membanjiri dahinya. Hahaha

"Menyerah Choi?"

Aku meletakkan nampan di sebuah board khusus, memasukkan pulpen dan note kecil ke dalam saku apron. Tugasku selesai untuk sementara waktu

"Apa kau melihat bendera putih diatas kepalaku?"

Aku menggeleng. Ia mengedipkan sebelah matanya

"Kau tahu jawabannya"

Siwon kembali bergerak lincah dengan mesin penghitung di depannya, menarik struk lalu menyerahkan kembalian dengan senyum menawan plus kata-kata cheese untuk pelanggan mengakhiri harinya.

"Selamat malam dan selamat beristirahat cantik.."

"Terima kasih sudah berkunjung noona manis.."

"Wah, harimu pasti berat, kau mengingatkanku pada appaku, hati-hati dijalan"

Dan sederetan kata-kata lainnya, aku mendengus.

"Sehebat itukah kau menggombal choi?"

Siwon memutar tubuhnya menghadapku yang kini menyeduh kopi, lagi. Kupijat bahuku yang terasa kaku.

"Kau lelah?"

"Tidak juga, hanya sedikit keram"

Siwon merebut cangkir kopiku, dahinya mengernyit, ia berjalan ke wastafel lalu membuang cairan hitam pekat itu.

"Hei.." Protesku

"Kopi bisa membuat kepalamu meledak jika sudah kecanduan"

"Terlalu hiperbola"

"Hanya untukmu"

"Cheese.."

"Belajar darimu"

"Aku?"

Aku menunjuk diriku sendiri, sementara Siwon berjalan meletakkan cangkir kosong dibelakangku. Ia terkekeh sebentar.

"Fur elise halaman 145, paragraph 2 baris 4"

Wow, aku terkejut, se fanatic inikah Siwon padaku?

"Kau menghafalnya?"

Siwon menggeleng.

"Otakku tidak cukup besar untuk memasukkan ratusan halaman Kyu, aku hanya menyimpan sebaris kalimat dari buku itu"

Aku memiringkan kepalaku bingung.

"Nine out of ten people like chocolate. The tenth person always lies"

Aku terdiam, aku memang memasukkan kata-kata dari seorang yang hebat dalam tulisanku itu, tapi apa yang ia ambil dari kalimat itu?

"Aku orang kesepuluh"

Eh? Apa maksudnya.

"Semua orang membicarakan cokelat dimanapun aku berada, aku selalu berontak mengatakan 'tidak' tapi disaat sendiri aku selalu memakannya diam-diam"

"…"

"Memakannya diam-diam selama dua tahun ini" matanya mengerling dalam tepat di kedua mataku.

Deg. Aku terdiam, cokelat yang ia maksud itu aku? Lalu sebenarnya ia berusaha untuk tidak mengenalku terlebih dahulu namun ia lelah dan malah menjadi suatu candu? Apa maksudnya.

Siwon tertawa santai, ia memakan Cookies nya yang sisa separuh.

"Anyway, Cookies nya enak"

Aku menggantung apronku lalu mengenakan jaket, hujan masih mengguyur di depan sana. Hae serta Hyukkie sudah pulang, dan sebentar lagi Jae Noona juga memasuki mobilnya. Aku? Aku masih menunggu Yunho hyung menjemputku, salahkan saja mobil bodoh itu yang sempat-sempatnya mogok di saat yang tidak tepat.

"Hei, aku bisa mengantarmu pulang jika kau mau kyu"

Siwon menepuk bahuku, aku berbalik dan menemukan Siwon dengan senyumnya.

"Tidak, terima kasih, hyungku dalam perjalanan menjemput"

Aku berjalan keluar, meninggalkan 2 waiters lainnya yang bertugas sebagai pemegang kunci. Siwon mengikutiku, jasnya ia lampirkan pada lengannya yang kokoh.

"Kau pulanglah lebih dulu" ucapku. Siwon menggeleng.

"Aku takut seseorang yang bernama 'Yunho' itu berubah menjadi 'yunho' lain"

Aku menghela nafas, Siwon seakan memiliki hak sepenuhnya atas diriku, sangat mengganggu.

"Pulanglah"

Siwon menggeleng.

"Tak ada lagi Cookies untuk esok"

Siwon memandangku curiga.

"Dan esoknya lagi" Lanjutku. Siwon memicingkan matanya

"Kau mengancamku?"

Aku mengendikkan bahu.

"Tidak ada jalan lain"

Siwon menggerutu, alis tebalnya menyatu.

"Arraseo, aku pulang"

Aku terkekeh pelan, Siwon memunculkan sifat kekanakannya dibalik setelan formal? Jangan bercanda, itu terlihat konyol.

Setengah jalan Siwon berbalik, ia menghampiriku lagi, meraih tangan kiriku lalu mengecupnya. Kejaadiannya sungguh cepat tanpa sanggup ku tepis.

"Selamat malam Babykyu, sweet dream"

Aku berdiri mematung, mataku nyaris lupa untuk berkedip bahkan saat Siwon sudah pergi dari pelataran parkir sekalipun. Siwon mencium tanganku? Selayaknya aku seorang yeoja? Hei apa-apaan ini? Awas saja kau Choi, akan kuberi pelajaran.

"Kyu.."

"Eh hyung, kau sudah datang"

Yunho membangunkanku dari khayalan bodoh, ia memperhatikanku.

"Kau sakit? Wajahmu memerah"

Aku menggeleng cepat

"Mungkin karena hujan dan angin" elakku. Yunho hyung hanya mendengus.

"Jae sudah pulang?"

AKu mengangguk, Yunho melangkah pelan masuk ke mobil, diikuti langkahku.

"Kalian bertengkar?"

Yunho tidak menjawab, ia hanya menstarter mobil dan menginjak gas pelan, meninggalkan area parkir.

"Kalian sebentar lagi menikah, apa akan baik-baik saja jika kalian seperti ini terus?"

"Jae terlalu keras kyu"

"Kau juga"

Setelah mengatakan itu kami terdiam, menikmati jalan malam yang masih terguyur hujan gerimis. Kuperhatikan Yunho, semakin hari hyungku ini terlihat semakin kurus dan sedikit tidak terawat, tanggung jawab perusahaan terpatri jelas di bahunya, sebagai tangan kanan CEO, Yunho terlihat lebih sibuk dibanding CEO nya sendiri.

"Mianhe.."

Yunho menatapku sekilas lalu kembali focus pada jalan.

"Karena aku, hyung bahkan tidak sempat mencukur"

Yunho tertawa, ia melirik kaca depan, memperhatikan janggut dan kumis yang sedikit tumbuh bernatakan di wajah maskulinnya.

"Yeah kyu, tapi aku terlihat keren bukan?"

Aku memukul bahunya pelan.

"Sudahlah kyu, jangan memikirkan hyung, sekarang lebih baik kau ceritakan namja penguntitmu itu, tadi ia datang lagi kan?"

"Kau tahu?"

"Hae menelfonku tadi"

Sepertinya aku punya masalah sendiri dengan hae hyung besok pagi.

"Well, dia datang lagi, sebagai kasir"

Yunho tersenyum sekilas.

"Sepertinya dia benar-benar menyukaimu kyu"

"entahlah, aku masih sedikit takut"

"Apa kata Changmin?"

Aku membuka ponselku, menatap semua percakapanku dengan Changmin, sahabatku.

"Anak itu menyuruhku tetap waspada" kekehku. Yunho mengangguk.

"Dia sahabat yang baik untukmu"

Aku mengangguk, ya Changmin satu-satunya sahabat yang selalu ada untukku berbagi masalah. Setiap hari akan ada sesuatu yang berbeda jika tidak mengobrol dengannya.

"Changmin benar, kau harus tetap waspada Kyu, bisa saja namja itu psicopath bukan?"

Aku kembali mengangguk, mengalihkan pandanganku kearah jalan. Entah kenapa aku malah merasa nyaman dengan namja bermarga Choi itu. Sadar atau tidak.

"Hyung, kau suka coklat bukan?"

Yunho mengernyitkan dahinya bingung. Namun Ia mengangguk juga akhirnya.

"ada 10 orang terdekat dalam hidupku.. Appa, eomma, kakek, nenek, kau, Jae Noona, Hae hyung, Hyukkie dan Changmin"

Yunho masih focus menyetir namun telinganya juga mendengarkanku.

"Dan kalian semua suka coklat" AKu tersenyum. Yunho ikut terkekeh

"Aku menyukai orang kesepuluh"

Yunho menatapku bingung,

"Kau hanya menyebut 9 orang kyu"

"Well, yang kesepuluh tidak menyukai coklat"

Yunho mendengus, wajahnya tampak berfikir.

"Hanya saja dia sering memakan coklat diam-diam"

Aku tersenyum, tidak menghiraukan pandangan Yunho yang masih menyiratkan kebingungan.

Yah, Seseorang yang memakan coklat diam-diam 2 tahun belakangan ini.

FIN

INI SEKUEL,BENERAN SEKUEL. HAHAHAHAHA

CUMA LUBERAN UNEK-UNEK JUGA, DARI SEKIAN BANYAK PERISTIWA HEHE

THANKS FOR READING N REVIEW, I LOVE U SO MUCH GUYS..

AKHIR KATA *BOW*

#MAAF CAPSLOCK RUSAK