Qtalita present
The days after Choco Raining
.
.
.
Wonkyu here.
.
.
21 December 2013
"Ouch..crap!"
Aku menjerit tertahan saat jariku teriris, aku menghela nafas. Konsentrasiku terpecah hari ini, entahlah.. hanya saja terasa sedikit, aneh.
Selesai membalut jariku aku memutuskan untuk duduk saja di deretan depan cafe, hari ini masih sama dengan hari sebelumnya, hujan dan hujan. Kecuali jika beberapa ornamen berwarna merah yang menghias beberapa sudut cafe ini bisa dikatakan hal berbeda, mengingat natal sisa seminggu lagi.
Aku kembali menghela nafas, sebuah beban sepertinya masih bersemayam di kepalaku, aku takut jika saja hal ini malah membuatku cepat tua.
Kualihkan fikiran burukku dengan memutar mata mengelilingi suasana cafe sore ini, cukup ramai, Ya, seberapa betahkah kau jika disuguhkan suasana Cozy ditambah dengan sapuan aroma kopi menyapa hidungmu? Bagiku, aku bisa menghabiskan seminggu penuh disini.
Eum, kembali ke situasi sekarang. Aku kembali terdiam, benar-benar diam hingga jika seseorang melihatku aku disangka hanya sebuah patung.
"Melamun lagi?"
Aku menengadah sebentar lalu kembali menatap kosong jendela besar di depanku saat Hyukkie menepuk bahuku lembut.
"Menurutmu"
"Kau membuatku takut Kyu"
Aku tertawa ringan, bagian mana dalam diriku yang membuatnya takut, bukankah aku hanya terdiam?
"Apa kau merasa tercekik olehku?"
Hyukkie menggeleng.
"Lalu?"
"Aku merasa lebih dari itu Kyu, ini tidak biasanya"
Aku menguap lebar, membuat dahi Hyukkie berkerut.
"Kau tidak tidur lagi semalam?"
Aku hanya mengangguk sambil mengucek mataku, lelah namun tidak mampu memejamkan mata itu sangat menyiksa.
"Kau sedang memikirkan sesuatu bukan?"
Aku menegakkan tubuhku,lalu menggeleng.
"Kau bohong, masih memikirkan Siwon?"
"Tidak"
Hyukkie terkekeh, ia mengambil bando hitam polos dari kantung depan apronnya lalu menggunakannya hingga poninya tertarik ke atas, namja itu semakin terlihat manis.
"Tertulis jelas di matamu"
Tukasnya lalu berdiri meninggalkanku yang masih menatap kosong sambil melipat tangan di depan dada.
Apa benar semuanya tertulis jelas dimataku? Sejelas apa? Siwon? Ugh, berbicara soal namja Choi rasanya aku ingin meledak, sesuai janjinya malam itu, aku menunggunya tepat pukul 3 sore bahkan sampai jam dinding menunjukkan pukul 6, namun batang hidungnya tidak nampak. Marah? Tentu saja, aku merasa dipermainkan. Tapi sisi lain aku merasa 'marah' bukanlah hak-ku, bukankah aku tidak pernah menganggap apa yang Siwon perbuat selama ini serius, aku hanya menganggap Siwon tengah bermain, lalu? Apa yang harus aku lakukan? Arrghhh entah, aku pusing.
"Kyu"
Aku berbalik, Hyukkie berdiri lagi dibelakangku.
"Ada yang memesan Choco Vintage Coffee" Bisiknya. Aku mendengus.
"Oke"
Aku beranjak dari tempat dudukku, sementara Hyukkie mengikuti dari belakang, menuju dapur, tempat kreatifitas Hyukkie menguar.
"Kyu, sebenarnya aku sudah berharap tidak ada yang memesan Coffee mu itu, ini menyebalkan"
Hyukkie menggumam jengkel saat kami sudah berada di dapur, ia melempar apron hitam ke arahku yang segera kuterima lalu mengenakannya.
"Ya, karena hanya Kyu yang bisa membuatnya" Jae noona membenarkan, ia sedang sibuk mengatur lembar-lembar menu di sebuah tali yang terentang membelah sisi dinding dapur hingga menembus meja kasir di depan. Unik? Ya, system order kami seperti sebuah katrol yang disambung kearah dapur, vintage style.
"Hyukkie chagi pernah membuatnya, namun rasanya sungguh berantakan" Hae hyung setengah berlari saat dihadiahi deathglare oleh kekasihnya itu.
Aku tersenyum, paling tidak ini sisi café yang membuatku nyaman, mereka selalu membuatku tersenyum walau begitu banyak fikiran di kepalaku.
"Berapa banyak yang harus kubuat?"
"Tiga"
"Wow"
Aku kembali berkutat dengan beberapa cangkir ukuran sedang, kopi, coklat leleh dan kayu manis. Segera setelah semua bahan siap aku meminta tolong Hyukkie untuk membantuku membawa semuanya ke meja depan, meja di belakang kasir yang memang kami sediakan untuk membuat kopi, coffee machine kami ada disitu, dapur hanya di khususkan untuk membuat dessert saja. Dan itu khusus untuk Hyukkie.
"Kutinggalkan kau sendiri Kyu"
Aku mengangkat bahuku. Memulai meracik bahan, tentu saja dengan senyuman tulus, aku tidak pernah mencampurkan masalah di kepalaku jika sudah berhubungan dengan kopi.
Tidak cukup 10 menit, dan 3 cangkir Choco vintage coffee siap dihidangkan, aku menatap puas nampan yang telah terisi kopi buatanku. Jae noona menepuk bahuku sebelum ia mengantarkan nampan itu ke meja yang terisi 3 yeoja remaja.
Senyuman puas mengembang di bibirku.
…
Tuk tuk tuk
Aku mengetuk bosan coffee machine di depanku, Hae hyung yang sedari tadi menghitung uang dengan memisahkan nominalnya terdengar mendecih lalu menepuk bahuku.
"kau mengganggu konsentrasiku"
Aku tidak bergeming masih mengetuk-ngetuk dengan menggunakan sendok. Hae hyung kembali mendecih.
"Kyu.."
"Tunda saja dulu"
Tidak ada jawaban dari Hae hyung, ia sepertinya kembali menghitung uang, berusaha konsentrasi. Aku merogoh ponsel di saku apronku, paling tidak keluh kesahku ini harus kubagi, siapa lagi jika bukan pada Changmin.
Siang Minnie, apa kau sibuk? aku sedang di café, he's not come
Aku mengirim pesan singkat ke nomor Changmin, semoga ia tidak sibuk dan membalas pesanku.
Hai Kyu, What? He lie?
Aku menarik nafas panjang, kulihat bayangan Hae hyung yang menggeleng-geleng dibelakangku.
Aku tidak tahu, well kemarin aku disini hingga menjelang malam. Dan Siwon tidak datang. Sounds funny? Haha, I'm trapped
Aku menertawai diriku sendiri. Bodoh.
It's okay, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu Kyu, apapun itu, aku tetap mendukungmu, tetap semangat!
Aku memasukkan kembali ponselku, kembali mengulang kegiatanku 'mengetuk coffee machine dengan sendok'.
Hingga seseorang menepuk bahuku lagi, aku memejamkan mataku jengah.
"Hae hyung, ini nyaman untukku, biarkan saja untuk sementara"
Tepukan itu tidak berhenti malah sekarang seperti sebuah remasan di bahuku, aku melempar asal sendokku hingga berdenting kuat lalu berbalik.
Sedikit terkejut lalu kembali datar.
"Hai Kyu.."
"Oh hai"
Aku berusaha mati-matian untuk tidak mengamuk di depan namja yang sudah membuatku menunggu hampir 3 jam kemarin.
"Sibuk? Aku butuh bicara"
Aku menaikkan alisku, tanganku terlipat di depan dada. Seakan menunggu penjelasan, ia menatapku dengan alis berkerut, lalu ia menepuk dahinya cukup keras.
"Oh okay, I'm sorry, kemarin aku tidak datang"
Bagus, kau menyadarinya bukan, Tuan sok sempurna? Damn!
"Bukan masalahku, aku sibuk. Maaf"
Acuhku, mataku mencari yang lainnya namun entah kenapa café ini tiba-tiba menjadi sunyi, hanya ada beberapa pelanggan dan 2 waiters disana.
"Kau marah? Tentu saja"
Aku mendengus, Siwon menyandarkan tubuhnya. Hingga memberiku sedikit spasi untuk melewatinya.
"Well, aku menunggu selama 3 jam Tuan, lucu bukan?"
Aku menyibukkan diriku memasukkan bubuk kopi ke dalam coffee machine, menambahkan air lalu menekan tombol ON. Coffee machine berputar pelan. Menyisakan suara mendengung kecil diantara keheningan.
"Aku minta maaf"
Aku tersenyum kecut, mencuci tanganku di wastafel kecil samping Coffee machine.
"Kau tidak salah "
"Yeah, setidaknya aku menyesal"
"Baguslah.."
Aku mengendikkan bahu tidak peduli, berjalan kearah depan, meninggalkan Coffee machine berputar sendiri dan Siwon disana.
"Eommaku sakit"
Langkahku terhenti. Melirik Siwon dengan ekor mataku, ia menunduk menggigit bibir bawahnya. Aku menghela nafas panjang, aku berbalik kembali masuk ke meja kasir, berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
Siwon mengangkat wajahnya, sedikit merapikan rambutnya yang mulai memanjang, jemarinya telaten melipat lengan kaos putihnya sampai siku, ia tersenyum sambil mengenakan apron hitam.
"Jadi, siap menerima kasir Tuan Cho?"
aku memutar bola mataku malas, untuk sementara biarkan saja seperti ini. Ugh walaupun aku ingin tahu lebih banyak, ia masih punya hutang penjelasan padaku bukan?
"Maaf tidak ada lowongan"
"Oh ayolah, eommaku sakit dan aku membutuhkan uang tambahan"
Aku mengernyit bingung, hei bukankah Siwon seorang.. ah, sudahlah toh ia sekarang tengah menahan tawanya, aku yakin ia hanya sekedar bercanda untuk masalah financial yang mungkin melebihi kata cukup.
"Kerjakan apa yang kau bisa"
Dan Siwon tersenyum lebar.
...
Aku mengibaskan tangan kananku, sedikit perih di beberapa jari yang tadi pagi sempat terluka, aku meringis saat meletakkan beberapa cangkir untuk kopi.
"Are you okay?"
Aku berbalik, Siwon mengernyitkan dahinya dibelakangku.
"Yeah" Singkatku.
Aku kembali meracik ramuan khusus untuk kopi-kopiku, sesekali menyeka peluh diwajahku dan kembali sibuk.
"Mungkin aku harus pergi beberapa hari ini"
Aktifitasku terhenti sejenak. Kurapikan apronku lalu berbalik menghadapnya.
"Huh?"
"Aku harus pergi, tapi aku takut"
"Takut?"
"AKu takut kau merindukanku"
Aku tertawa keras, Siwon menggaruk tengkuknya melihatku tertawa. Selain seorang penguntit, namja Choi ini juga seorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi.
"Kau terlalu percaya diri, dan itu menggelikan"
Aku masih tertawa, sungguh sulit buatku menghentikan bibirku untuk melengkung. Siwon menyipitkan matanya, dengan bibir bawah tergigit.
"Ugh, aku sangat mengagumi tawamu"
"Jangan menggombal"
"Tidak, serius."
Aku mengangkat dua tanganku ke depannya, menyuruhnya untuk berhenti berbicara, aku berbalik menyeduh kopi ke dalam 2 buah cangkir ukuran medium, meletakkannya di samping Siwon.
"Minumlah, anggap saja itu gaji untukmu. Oh, dan berhentilah menggombal, kita masih punya urusan"
Ia terkekeh, menyeruput kopi panasnya pelan.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Maaf tidak. Aku tidak akan memberi jawaban"
Siwon tersenyum samar, ia kembali menyesap kopinya.
"Eum, enak"
"terima kasih"
…
Siwon melepas apronnya, mengikutiku yang tengah duduk di sofa dekat jendela. Pelanggan sudah tidak sebanyak beberapa jam yang lalu, kini pekerjaan sudah diambil alih oleh waiters lainnya hingga aku memutuskan untuk beristirahat sejenak.
"Hujan lagi?"
"Hm"
Aku menjawab tanpa berbalik, ia duduk di sampingku, memainkan jari yang ada di pangkuannya, satu hal yang aku dapat dari sosok Siwon, namja itu selalu memainkan jarinya saat tengah duduk dengan posisi seperti ini. Aku tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak boleh?"
Ia menggeleng.
"Tidak mengapa, lagipula aku suka melihatmu tertawa"
Aku memutar mataku jengah, sekali lagi Siwon menggombal, akan aku sumpal mulutnya dengan apron hitam.
"Maaf soal kemarin"
"Kau memikirkannya?"
"Semalaman penuh hingga membuatku tidak bisa tidur dan nyaris menabrak pejalan kaki tadi pagi"
Aku terkekeh. Ia mengerling padaku, ugh aku suka tatapan matanya saat ia mengerling, terlihat sedikit menggoda, ok bukan sedikit tapi memang sangat menggoda.
"Kau suka?"
"Apa?"
"Melihatku tersiksa"
Siwon mengerucutkan bibirnya dan itu membuatku tidak tahan meledakkan tawaku, ia mendecih lirih namun ikut tertawa.
"Well, aku menunggu Tuan Choi"
Ia berhenti tertawa, menggeser duduknya hingga menghadapku, ia menatapku intens.
"Apa?"
"Kau berhutang penjelasan ingat?"
"Kau penasaran?"
"Hingga aku nyaris memotong 3 jariku pagi ini"
Siwon mengernyitkan dahinya, ia menunduk menatap 3 jariku yang tertutup plester obat, satu alisnya terangkat.
"Kau tahu, kita diciptakan benar-benar saling melengkapi"
Aku memiringkan kepalaku bingung.
"Kita saling memikirkan satu sama lain"
"Errr, kau terlalu besar kepala"
"Aku tersanjung atas pujianmu"
"Besar kepala bukan pujian"
"Bagiku iya, hanya jika kau yang mengatakannya"
Aku menepuk dahiku, lalu menggeleng-geleng. Siwon terkekeh, ia kembali ke posisinya, menghadap jalan sama sepertiku.
"Hhh, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun Kyu, kau bukannya sudah tahu semuanya. Tentu saja, aku masih mengingat kau menguntitku"
Aku mendelik kearahnya, mencubit lengannya dengan penuh perasaan, ia mengaduh tertahan lalu tertawa.
"Jangan mengingatkanku"
"Kau meminta penjelasan, dan aku memberikannya"
"Bukan itu yang aku mau"
"Kalau begitu bicaralah dengan jelas Kyu kau membuatku bingung"
Aku bersorak, akhirnya aku memiliki sisi yang membuat Siwon bingung, aku menyeringai, namun ia malah terlihat menahan tawa.
"Kau berbohong lagi?"
Siwon menggeleng.
"Aku serius, kau membuatku bingung"
"Dalam hal?"
"Kau seakan membuka dan menutup dalam satu waktu"
Aku mengernyit dihadapannya, ia menghela nafas, kembali memainkan jarinya. Aku mengerti sekarang, ia akan bertingkah seperti itu jika ia sedang gugup. Huh? Gugup? Choi Siwon gugup? Namja yang penuh percaya diri itu gugup? Hahaha, berbanggalah Kyu.
"Hari ini kau terlihat marah namun tertawa juga padaku"
"…"
"Kau membuat dirimu tidak terbaca lagi, dan itu menjengkelkan"
Aku tertawa.
"Aku belajar darimu"
"Kau tidak belajar, kau mencuri dariku"
"Mencuri?"
"Yeah, kau mencuri waktuku, kemampuanku, semuanya"
"Semuanya?"
"Well, tidak semuanya, ada satu hal yang tidak kau curi dariku"
"Apa?"
"Kyu, bisakah kau berhenti bertanya? Kau bisa membuatku membuka rahasiaku"
Aku tertawa lagi, ia terlihat kesal, ia terlihat lucu jika digoda seperti ini, wajahnya berubah tegang dengan rahang yang kaku, hidung mancungnya kembang kempis, dan matanya membulat.
"Okay, anyway kau akan pergi kemana?"
Aku memutuskan mengalihkan pembicaraan. Siwon menepuk pahanya seperti seorang anak kecil.
"Adelaide"
"Huh? Orang tuaku disana"
"Aku ingin melamarmu"
"MWO?"
"Hei Kyu, sudah kubilang jangan berteriak"
Siwon mengusap-usap telinganya.
"Aku bercanda, aku menemani perawatan eomma disana"
"Oh"
"Wae? Kau terlihat kecewa? Ingin aku benar-benar melamarmu eoh?"
Aku melempar deathglare, namun Siwon malah tertawa keras dengan memegang perutnya. Ia berdehem pelan lalu kembali menatapku.
"Besok aku berangkat. Aku tidak akan lama, jangan merindukanku"
"Dalam mimpimu"
"Wow, kau membuatku kembali tersanjung"
"Huh?"
"Kau sudah hadir dalam kehidupan nyataku dan kini kau mau masuk kedalam mimpiku"
Aku kembali menepuk dahiku, kali ini agak keras. Ia tersenyum samar.
"Walaupun tanpa izin aku sudah menempatkanmu dalam mimpi-mimpiku" Lirihnya yang masih sempat kudengar.
"Apa?"
"Ani, hujannya sudah mulai reda, aku harus pulang"
Siwon berdiri, menurunkan lengan kaosnya lalu memasukkan tangannya kedalam saku celana.
"Tidak mengantarku kedepan?"
"Silahkan"
Ia tertawa saat aku mengikuti langkahnya dari belakang, aku memperhatikan mobilnya yang kini sudah terparkir di depan café.
"Wow, kau pensiun James Bond?"
Aku menunjuk mobilnya dengan dagu, ia tersenyum.
"Yeah, aku memutuskan berhenti jadi penguntit"
Aku mengangguk lemah, hei apa ini? Aku sedih? Tidak, tapi aku memang merasa sedikit kehilangan seorang penggemar? Hehehe
"Wae?"
"Apa?"
"Kau tampak berfikir"
"Aku hanya berfikir alasan kau berhenti"
Ia mengangkat bahunya tidak peduli, ia bersandar di depan mobilnya dengan tangan terlipat di depan dadanya.
"Aku merasa ini sia-sia saja"
"..."
"Jangan merasa kehilangan, aku tidak akan hilang"
Aku merengut. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas permukaan bibirnya. Menarik nafas panjang lau menatapku intens, namun tetap berdiri di tempat awalnya.
"Aku ingin menjadi nyata"
"Huh?"
"Menjadi salah satu penyuka coklat"
"Mwo?"
"Yang tidak meletakkan pesan lagi di bawah sebuah cangkir klasik"
"Apa?"
"Kyu! Aku mengutarakan perasaanku, berhentilah berpura-pura tidak mengerti"
Aku tersentak, ia merengut kesal dengan wajah terlipat jengkel. Aku menahan tawaku. Siwon menghela nafas seolah sebuah beban berat telah terangkat dari bahunya.
"Aku tahu"
Ia mengangkat wajahnya yang tertunduk, ia kembali memainkan jarinya. Lucu
"Aku sudah tahu dari awal"
"Lalu?"
"Apa?"
"Kyu..
"Hehehehe"
Aku terkekeh, lalu diam. Kami terdiam. Keheningan yang mencekat. Aku benci seperti ini, Siwon masih saja menatapku lekat, membuat pipiku mau tidak mau mengeluarkan semburat merahnya. Aku menarik nafas panjang.
"Aku membiarkan seseorang menguntitku, memaksanya menyukai coklat, dan menukar pesan cangkirnya dengan luka 3 jari"
"Huh?"
Aku nyaris berteriak saat Siwon mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.
"Siwon!"
"Apa?"
"Aku sudah menjawabnya"
Ia terdiam dengan alis mengerut, namun kemudian tertawa lepas, ia tampak mengulum senyumnya sekarang sementara aku menggigit bibir bawahku.
"Aku tahu"
Aku merengut kesal namun malu dalam satu waktu. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya, sebuah kertas note sama yang ia selipkan malam itu. Aku menerimanya dengan wajah bertanya.
"Nomor teleponku"
"Seharusnya.."
"Seharusnya kau yang memberi nomormu, tapi aku yakin kau tidak akan memberikannya"
Aku mengangguk membenarkan, ia mendecih sebal.
"kau akan menghubungiku bukan?"
Aku tersenyum. Lalu mengangguk.
"Akan aku usahakan"
Dahinya berkerut.
"Aku bercanda"
Siwon berdehem, mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah kaku, ia kembali memasukkan tangannya ke masing-masing saku celananya.
"Ok, sampai jumpa nanti"
"Bye"
Siwon membalikkan tubuhnya begitupun denganku. Namun aku kembali berbalik, mengingat suatu hal.
"Siwon"
Siwon berbalik, ia menunjukkan wajah penuh tanda tanya.
"Kau mengatakan semuanya telah kucuri darimu, kecuali satu hal"
"Yup"
"Eum, apa itu?"
Siwon tersenyum menampilkan dua dimple di masing-masing pipinya, ia berbalik lalu menepuk saku belakangnya.
"Dompetku"
Aku tertawa, sementara Siwon sudah berlari masuk ke dalam mobilnya sebelum sepatu converse milikku mengenai kepalanya.
Siwon melambai pelan sebelum mobilnya perlahan meninggalkan parkiran. Aku masih berdiri di teras café, tersenyum sendiri.
Aku menengadah, menatap langit yang masih menyisakan rintik kecil hujan, pandanganku teralih ke papan besar di depan café lalu ke dinding café yang terbuat dari kaca.
Cinta tidak pernah terfikirkan bagaimana ia akan datang menyapa lalu membawamu terbang, jangan salahkan jika kau tidak akan mampu menepisnya. Aku katakan, kekuatannya sangat besar. Percayalah..
FIN
Hahahahahah, berakhir. Iya tamat kawan-kawan heheheh semoga suka yaaaa,
Akhirnya semua tahu kan jawabannya apa? xD
Oh iya, thanks buat udah review dan ikutin fic ini yaa, ff yang lain lagi on going, tenang saja..
Eum, btw. Sebenarnya aku pengen banget author lainnya share banyak ff wonkyu, pengen liat wonkyu kembali berjaya di kingdomnya *taelah bahasanya* beneran suerrrr.. hahahahahaha
Ok. Time to reply the reviewer..
FiWonKyu0201 : Kyumom kayak toserba hahahah, segala ada segala bisa xD
Kikikyujunmyun : *Serius chingu tadi sempat salah-salah nulis namanya xD* g kok, Siwon masih idup, nyata, asli, masih bernafas n bisa kentut..
Shakyu : pengennya sih ada skinship, apa kek ya *otak ngeres aku* tapi gimana lagi kawan, kejadian aslinya emang kayak gini L
Dee : ini udah lanjut, thanks udah baca and review yaaaaa
Shin min young : mommy kan manusia juga yaa, ada makhluk bening kaya raya kayak siwon mah klepek-klepek juga hahahahaha
Evil kyu : ternyata eh ternyata siwonnya g datang L tapi diganti dengan pernyataan yang wow amajing.. hahahahahah thanks udah review
Kayla Wonkyu : Aaaarrrggghhhhh *makin tersanjung* hahahahaha, ini udah dilanjut ya, makasih udah baca semua ff aku, terharuuuuu..
Everadit : pengalaman pribadi, Cuma udah ada tambahan dan pengurangan(?) disana-sini, merombak yang perlu dan tdk perlu, hahahahaha, makasih udah baca yaaa. Eum Btw, aku pengagum tulisan kamu, love of eden kapan lanjut? *nah lho..
Lovgravanime14 : makasih banyak udah suka sama bahasa aku yang menurutku masih pas-pasan *hiks terharu* ok, thanks udah review yaaa
Sparkyumihenecia *waduh susah namany :p* : hahahahahaha, bikin hal unik yang rada susah demi reader, apa sih yang g.. *gombal ini ceritanya* hahahaha, thanks udah baca n review
Vira : Naaaahhhh, tebakannya bener, mereka jadiaaaannn *tereak pake toa* yippiieee g jomblo lagiii hahahaha
Guest : based story artinya inti kisahnya berasal dari kisah nyata, hanya saja dalam ff ini diperanin sama wonkyu hehehehe, thanks yaa atas pujiannya *kembali terharu*
Augesteca : udah g penasaran kan? Hehehe thanks udah review..
Terakhir.. cipok semuanyaaaa
Makasih udah baca dan makasih buanyaaaaaakkk sudah review, author g ada apa-apanya tanpa reader *Hiks*
Tunggu ff lainnya yaaaa…
Bye bye..
With 'cangkir'
Qtalitazahra
