Qtalita balik lagi

.

.

.

Sequel of sequel xD

.

.

15 januari 2014

Aku menerawang langit-langit kamarku, hujan diluar masih sangat basah, membuat telingaku bergemuruh dengan suara percikannya. Aku memejamkan mataku, sepertinya ada yang salah dengan retinaku ini, semua yang aku lihat menjadi banyak, lampu kamar yang menggantung di tengah ruangan tampak berjumlah 5 dengan bayangan-bayangan samar.

Aku mengerang, kepalaku berdentum kuat.

Pip

"Hhh, Demammu masih tinggi Kyu" Yunho Hyung menarik thermometer elektrik dari mulutku.

Ok, aku sadar, bukan retinaku yang bermasalah namun kondisiku yang memang tengah berada dalam masa terendah, aku terkena demam.

"Sebaiknya hari ini kau dirumah saja, akan aku siapkn bubur dan obat untukmu"

Aku hanya mengangguk saat Yunho Hyung beranjak keluar kamar, membiarkanku sendiri di ruangan pribadiku itu. Aku berusaha bangun, bersandar pada kepala ranjang.

Hidungku terasa tertutup membuat nafasku tersengal, kepalaku masih berdentum keras seakan tengah menabuh drum di dalam otak. Jemariku meraih ponsel hitam di atas meja nakas yang di penuhi gadget lainnya.

Aku menghela nafas, layar ponsel di depanku tampak buram, mataku dibuat semakin sakit jadinya.

Aku kembali menarik tubuhku untuk berbaring, meletakkan ponsel di sisi kepalaku.

Diluar sepertinya tengah hujan, terdengar dari deru suaranya yang menerjang atap rumah dan jalan di luar sana. Biasanya jika hujan turun tuxedo akan kedatangan banyak pengunjung, kenapa? Aroma coklat dan kopi adalah yang terbaik kala langit tengah memuntahkan airnya dan suhu menjadi sedikit dingin, tapi kali ini aku harus memendam keinginanku untuk bertempur dengan aroma kopi dan enaknya Croissant hangat buatan Hyukkie. Jangankan untuk melangkah, membuka mata saja rasanya seperti teraduk-aduk, mual.

Drrrttt..drrrttt..

Getar ponsel di sisi bantal membuatku mengerang, dilihat dari getarannya yang hanya sebentar aku pastikan itu hanya sebuah pesan, dan untuk sekarang pesan hanya hal yang tidak penting untukku, ugh, kepalaku..

Drrrttt...drrrtttt...

Lagi..

Drrrrttt...drrrtttt...

Dan lagi..

Kupastikan kali ini getaran itu bukanlah pertanda pesan tapi sebuah panggilan masuk, dan bolehkah aku menebak?

Siwon Is Calling

Yup, i know he will..

Kuletakkan ponsel tepat di telinga kiriku, tubuhku tidur menyamping dengan memeluk guling dan menghadap jendela besar dengan aliran air hujan membasahi permukaannya.

"Yeobseo.."

"Hai sayang bagaimana keadaanmu?"

"Menurutmu?"

"Eum, masih sakit"

"Baguslah kau tahu"

"Hhhh..."

Terdengar suara helaan nafas disana, aku diam. Ini lebih menyenangkan, suara hela nafas Siwon dan deru air hujan adalah perpaduan yang komplit sebagai pengantar tidurku. Andai saja dia tidak..

"Yak! Hyukkie, jangan letakkan disana!"

... Berteriak. Dan hei, apa yang ia katakan tadi?

"Siwon, apa yang kau letakkan di cafe milikku?"

"Eum, itu ah hanya sekedar benda kecil pemanis ruangan"

"Apa?"

"Benda kecil"

"Apa?"

"Rak sayang.. hanya rak.."

"Apa?"

"well, rak buku berukuran sedang dengan ukiran klasik di pinggirannya"

"Siwon..."

"..."

"..."

"Kau marah?"

"Menurutmu?"

Aku terdiam, Siwon juga, hanya terdengar suara Hyukkie yang berbisik 'Kyuhyun sepertinya tidak suka ide kekasihnya itu' dan bisikan lain yang aku kira berasal dari Donghae 'Aku sudah yakin, kekasihnya itu sedikit gila'

Aku setuju, Siwon memang gila.

"Baby, ini hanya rak, no problem bukan?"

"Siwon, kau tidak tahu"

"Aku berusaha tahu"

"Tapi kau tidak pernah berhasil"

Siwon menghela nafas lagi.

"Kau meragukan 2 tahunku?"

"Tidak"

"Lalu?"

Aku bangkit sambil memegangi kepalaku, berjalan menuju jendela dan duduk di depannya, kakiku terlipat, menekuk di depan dada.

"Siwon, kau tahu aku bukan?"

"Sudah aku bilang, aku selalu berusaha"

"Dan kau tidak pernah berhasil menurutku"

"jangan mengulang pembicaraan"

"..."

Diam.

"..."

Dan diam.

"Berapa harga rak yang kau beli?" aku mengurut pelipisku.

"..."

Lagi lagi diam.

"..."

Masih terdiam.

"Apa? Aku tidak meminta ganti rugi sayang" Siwon terdengar membuka keran air, sepertinya ia tengah membasuh wajahnya, yang aku tahu pasti kini berkeringat hebat.

"Aku tidak pernah ingin berhutang"

"Bahkan padaku?"

"Ya"

"Kau sudah berhutang banyak"

Aku mengernyit, selama ini aku tidak pernah meminta apapun darinya, bahkan memintanya untuk menemaniku berbelanja pun tidak.

"Apa?"

"Well, kau berhutang sangat banyak"

"Ya, sebutkan saja"

"Kau berhutang pada perasaan"

Aku memutar bola mataku malas, Siwon dalam mode menggombal bahkan saat aku tidak ada dihadapannya.

"Eum, tunggu sebentar ne.."

Aku menunggu, sambil memainkan jariku dipermukaan kaca yang berembun, menulis namaku, namaku dan namaku, hehehehe nama Siwon juga, tapi hanya tulisan kecil.

"Ne, secangkir avocado blast dan ginger cookies, eum ada yang lain?"

Aku tersenyum, mau tidak mau Siwon benar-benar mengabdikan dirinya menjadi salah satu staf kepercayaan Tuxedos, padahal saat itu Hyukkie hanya bergurau dengan menunjuk Siwon sebagai kasir.

"Semuanya 9.200 won , selamat menikmati hari nona"

Aku menggaruk alisku, sudah kubayangkan bagaimana tingkah Siwon didepan meja kasirnya, menebar senyum, dan kata-kata Cheese khas nya.

"Jangan melamun dear"

"I'm not" Aku menyeka keringat di dahiku.

"Aku yakin kau membayangkanku bukan?"

"Tidak"

"Kau bukan pembohong"

"Whatever, jangan mengalihkan pembicaraan"

Siwon tertawa, terdengar gemerincing pintu cafe, sepertinya hujan membawa berkah tersendiri untuk Tuxedos.

"well, honey sepertinya aku harus mematikan teleponnya sekarang, cafe sedang ramai, bolehkah?"

"kau yang menelpon aku tidak punya hak melarang, dan ingat kau berhutang penjelasan"

"Aku menganggap itu sebagai larangan"

"Yeah, larangan meletakkan apapun di dalam cafe milikku"

"Hahaha, sudahlah sayang, istirahatlah, sepulang nanti aku akan berkunjung, katakan pada Yunho hyung untuk tidak mengganggu kita"

"Siwon!"

"Okay okay dont be mad dear"

Klik.

Sambungan mati, well dimatikan sebelah pihak sebenarnya, Siwon selalu seperti itu, alasannya klasik,

'ia tidak ingin mendengar aku marah-marah tanpa melihat mimik wajahku'

Aneh.

...

Aku terbangun dengan selimut menutupi dada dan keadaan kamar yang sudah temaram, aku terduduk, melirik jam digital di meja nakas, sudah pukul 8 malam, kuletakkan telapak tangan kananku di dahi, demamku sudah berangsur-angsur pulih.

Kutarik kakiku untuk bangkit namun sesuatu seakan menahan selimutku, aku bergidik ngeri namun berubah terkejut, seseorang tidur di bawah kakiku, masih dengan kemeja yang lengannya tergulung hingga siku dan wajah berminyak. Siwon.

Mau tidak mau aku kembali tersenyum, ia pasti lelah. Kutepuk lengannya pelan.

"Siwon, hei.. bangun"

Siwon hanya mengerang lalu merubah posisi tidurnya, aku tidak kehabisan akal, kupencet hidungnya hingga Siwon terlihat kehabisan nafas dan akhirnya terbangun, meski dengan terbatuk.

"Uhuk..uhuk.. kau mau membunuhku?"

"Kau ingin aku mati bersamamu?"

Siwon tertawa, ia duduk bersila di depanku, menempelkan telapak tangannya di dahiku, seperti yang kulakukan beberapa saat lalu.

"Sudah tidak demam"

"Bisa kau jelaskan?" Tanyaku straight to the point. Ia menyilangkan lengannya di depan dada dengan alis bergerak naik turun.

"Jangan melucu" Ujarku, ia berhenti lalu memasang wajah serius.

"Well sayang, aku hanya membantumu mendekorasi cafe, yeah walau aku akui cafe milikmu sudah sempurna"

"..."

"Tapi, aku hanya ingin berarti"

"Kau sudah"

"Belum sayang"

Aku menarik selimutku, menutupi kaki dan sebagian tubuhku, Siwon menunduk memainkan jarinya yang tertutupi plester obat.

"kenapa jari-jarimu?"

"Hanya terkena pisau"

"Kau tidak bisa memasak Siwon"

"Pisau tidak hanya untuk memasak sayang"

"lalu?"

"Aku.. aku.. "

"Apa?"

"Ah! Okay okay aku jujur, jari-jariku terkena pisau pahat dan sedikit palu, dan bor.."

Aku mengernyitkan dahiku, kuletakkan tangan Siwon di pangkuanku, mengusapnya lembut, telapak tangannya terasa sedikit kasar, banyak luka goresan disana, ada luka yang sudah mengering dan ada juga yang masih memerah.

"Pahat?"

Siwon menggenggam jemariku, satu tangannya meraih sesuatu dari saku celananya, selembar foto.

Lidahku kelu ketika gambar itu nampak di depanku, sebuah rak berukuran sedang berwarna hitam dengan pahatan halus di sisinya, serta 2 huruf di sudut bawahnya 'WK' dengan aksen Monotype Corsiva tebal. Lengkungan dan rinci pahatannya sangat detail seakan menggambarkan sesuatu, sebuah cerita.

"Dua tahun yang kau ragukan ada disitu baby"

"..."

"..Dan ini" Siwon membuka kedua telapak tangannya yang masih merah, penuh luka. Aku menggigit bibir bawahku kuat, aku tidak boleh menangis.

"Jangan menangis, jemariku pasti perih jika harus menyeka airmatamu sayang"

Aku tertawa, dan memukul pelan kepalanya.

"Aku bercanda, jangan pernah menangis"

"Aku tidak menangis"

"Hampir"

"Yeah"

Siwon tertawa, ia menarik tubuhku ke pelukannya, namun sebelum tubuhku menyentuh lengannya, ia mundur lalu menatapku.

"Bolehkah?"

"Apa?"

"Memelukmu, ini yang pertama untuk hubungan kita"

Aku mengangguk, Siwon namja terlalu sopan yang pernah kutemui.

Aku menghela nafas di bahunya, wangi maskulin parfum playboy menguar dari perpotongan lehernya walaupun ia sudah beraktifitas seharian penuh.

"Sayang?"

"Hm?"

"I Love you"

Aku tertawa, ini pertama kalinya ia mengucapkan kata cinta untukku, tanpa menatap wajahku.

"Lihat aku"

Siwon menggeleng.

"Wae?"

"Aku malu"

Kini aku semakin tertawa, Beginilah Siwonku, namja riang, penggombal namu pemalu? Hahahahaha.

"Kau sudah tidak meragukan 2 tahunku bukan?"

"Tidak, hanya saja seharusnya kau mengatakannya"

"Ini surprise"

"Aku sama sekali tidak terkejut"

Siwon melepas pelukannya, ia mengetuk dahiku lembut.

"Tapi kau khawatir"

"Tidak"

"Well kalau begitu jawab pernyataanku tadi" Siwon mencubit hidungku gemas.

"Apa?"

"Kyuhyun" Siwon menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas ranjang.

"..."

"..."

"Love you too Siwon"

...

END

Hehehehehe, Choco Raining edisi lama tapi baru di share xD

Ini masih g tahu pengen dilanjut atau nggak, karena aslinya udah yaaaa u know lah :D

But, tetep terima masukan lah dari teman-teman semua

Okay, ini mungkin ff yang qai terakhir update sampai qai benar-benar udah fit dan udah bisa keluar dari rumah sakit, soalnya tadi dokternya udah marah-marah, qai puyeng mulu tiap pagi hahahaha

Ya udah salam sayang n cinta yeeeee

Qai